if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Budi Pekerti’ Category

Milenial yang Berbahasa Santun

without comments

Beberapa waktu yang lalu di dunia maya (khususnya twitter) sempat trending berita tentang chat mahasiswa kepada dosenya yang dianggap oleh dosen tersebut kurang sopan (baca: Membaca Lagi Chat Dosen ‘Kok Kamu Atur Saya’ yang Heboh di Twitter). Meskipun saya tidak  mengerti dimana letak kesalahan kata-kata si mahasiswi, biasa saja kalimatnya, wajar dan sopan, tapi mungkin saja saat itu sang dosen sedang tidak berada dalam kondisi mood yang baik sehingga emosinya kurang stabil. Wallahu alam.

Itulah bedanya bahasa lisan dengan bahasa tulisan, bisa berbeda-beda penafsiran. Bahasa tulisan (seperti SMS, surel, chat dengan whatsapp, dll) tidak mengandung ekspresi dan intonasi yang rentan menimbulkan salah paham.

Anak muda generasi milenial sering dipersepsikan tidak tahu sopan santun berbahasa. Benarkah demikian? Pengalaman saya mengajar mahasiswa milenial beberapa tahun terakhir ternyata sebaliknya.

Mahasiswa milenial menurut saya sopan-sopan saja kok kalau menghubungi dosen via surel (e-mail) atau WA. Saya belum pernah mendapat pesan dengan bahasa yang kurang santun, baik dari mahasiswa di kampus sendiri, maupun mahasiswa dari kampus lain. Di awal atau di akhir surel mereka sering ada kalimat begini:

Mohon maaf apabila mengganggu waktu Bapak

Mohon maaf bila ada salah kata

Mohon maaf bila ada kata-kata atau kalimat saya yang kurang sopan

Menurut saya itu kalimat-kalimat yang baik. Malah saya sendiri kalau menyurati orang lain jarang menulis  kalimat-kalimat di atas.

Terima kasih anak-anaku, saya tidak pernah merasa terganggu membaca surel kalian, karena kebiasaan saya setiap (pagi) hari adalah mengecek semua surel yang masuk dan selalu membacanya (dan membalasnya jika pengirim menunggu jawaban).

Dulu sebelum pandemi corona, setiap kali masuk kantor dan menyalakan komputer desktop, maka aktivitas yang pertama kali saya lakukan adalah membaca semua surel yang masuk ke dalam inbox. Sekarang, ketika harus WFH, membaca surel dari orang lain bisa dilakukan kapan saja, di rumah, di perjalanan, di kantor, dan sebagainya. Ada smartphone, dan yang terpenting ada akses internet.

Sebagai dosen dan pendidik, kita tidak perlu menjadi orang yang gila hormat. Kalau kita ramah, rendah hati, selalu menyempatkan diri membalas surel/WA mahasiswa, tidak mempersulit mahasiswa, maka mahasiswa kita pun akan hormat dan segan. Mereka tidak pernah mengirim pesan dengan bahasa yang tidak sopan kepada kita. Seperti bunyi sebuah slogan pada sebuah stiker: anda sopan, kami segan.

Written by rinaldimunir

August 29th, 2020 at 11:43 am

Ayah dan Ibu Tidak Dapat Dibandingkan

without comments

Ayah dan Ibu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Kita ada di dunia ini karena ada mereka. Satu orang saja di antara mereka tidak cukup untuk menghadirkan kita ke dunia.

Ayah dan ibu adalah dua orang manusia unik. Ayah dan ibu masing-masing punya peran berbeda.  Keduanya bukan untuk diperbandingkan, tetapi saling melengkapi dalam kehidupan seorang anak manusia.

Sebuah gambar di bawah ini memaparkan mengapa kita tidak perlu membandingkan keduanya. Sungguh dalam maknanya.

father-mother

Orang yang mencintai sampai kamu menutupkan mata adalah Ibu.
Orang yang mencintai tanpa ekspresi di matanya adalah Ayah

Ibu memperkenalkanmu kepada dunia
Ayah mengenalkan dunia kepadamu

Ibu memberimu kehidupan
Ayah memberimu penghidupan

Ibu memastikanmu tidak kelaparan
Ayah memastikanmu tahu nilai-nilai lapar

Ibu melambangkan perawatan
Ayah melambangkan tanggung jawab

Ibu melindungimu dari kejatuhan
Ayah mengajarkanmu untuk bangkit dari kejatuhan

Ibu mengajarkanmu berjalan
Ayah mengajarkanmu perjalanan hidup

Ibu mengajarmu dari pengalamannya
Ayah mengajarkanmu untuk belajar dari pengalamanmu

Ibu mencerminkan ideologi
Ayah mencerminkan realitas

Kamu mengenal cinta ibumu sejak lahir
Kamu mengenal cinta ayahmu ketika kamu menjadi seorang ayah

*******

Nikmatilah apa yang dikatakan ayahmu
Tetaplah mencintai ibumu

Written by rinaldimunir

February 21st, 2020 at 10:27 am

Ubuntu, Saya Ada karena Kita Ada

without comments

Bagi anda yang menekuni bidang komputer, tentu pernah mendengar nama Ubuntu. Ubuntu adalah nama sistem operasi keluarga Linux. lebih tepatnya, Ubuntu adalah sebuah sistem operasi distribusi Linux berbasis Debian yang gratis dan bersifat kode terbuka (open-source). Sistem operasi ini dirilis pada tahun 2004 dan dengan cepat menjadi populer karena mudah diinstalasi dan digunakan.

Logo Ubuntu

Tulisan saya ini tidak akan membahas spesifikasi Ubuntu, silakan baca informasinya yang banyak bertebaran di Internet. Saya akan menceritakan kisah yang sangat  menarik dari nama Ubuntu itu. Ternyata nama Ubuntu berasal dari filosofi dari Afrika Selatan yang bemakna kemanusiaan kepada sesama. Ada motivasi di balik budaya Ubuntu di Afrika.

Begini ceritanya.

Seorang antropologis mengajukan sebuah permainan kepada anak-anak suku Afrika.

Dia menempatkan sekeranjang permen di bawah sebuah pohon, lalu meminta kepada anak-anak itu untuk berdiri 100 meter dari keranjang itu. Dia mengumumkan bahwa siapa saja yang pertama kali mencapai keranjang, maka ia akan mendapatkan semua permen di dalam keranjang. Ketika dia mulai mengatakan ‘siaaapp…Go!’….

Tahukah anda apa yang dilakukan oleh anak-anak itu? Mereka saling bergandengan tangan, lari bersama-sama menuju keranjang di bawah pohon, membagi permen-permen itu sama banyak di antara mereka, memakan permen dan menikmatinya.

Ketika antropologis bertanya mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka menjawab…”Ubuntu“,  yang mana berarti “bagaimana bisa seseorang bahagia ketika yang lainnya merasa sedih?”

Ubuntu dalam bahasa mereka berarti:

“Saya ada karena kami ada” (I am because we are)

Ini adalah pesan yang sangat kuat  untuk semua generasi.

Marilah kita selalu memiliki perilaku ini dan menyebarkan kebahagiaan kemana saja kita pergi.

Marilah memiliki kehidupan “Ubuntu”…

SAYA ADA KARENA KITA ADA

(I AM BECAUSE WE ARE)

Kisah Ubuntu

Written by rinaldimunir

October 21st, 2019 at 3:04 pm

Motor, Trotoar, dan Kegagalan Pendidikan Karakter

without comments

Sore hari menjelang waktu buka puasa, lalu lintas menuju kawasan perumahan di Antapani sangat padat. Semua pengendara berpacu agar duluan sampai ke rumah. Berbuka puasa bersama keluarga tentu momen yang selalu dinantikan. Jam-jam rush hour adalah saat sore ketika pulang kantor, yaitu ketika secara bersamaan orang-orang pulang ke rumah. Ruas jalan sempit di samping Jembatan Pelangi Antapani itu disesaki mobil dan motor.  Ruas jalan itu tersendat dan sulit bergerak. Semua pengendara tidak mau mengalah, tidak mau antri.

Pengendara motor yang tidak sabaran akhirnya menjajal trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.  Satu memberi contoh, lalu diikuti oleh pengendara yang laindi belakangnya.

trotoar1

Tanpa merasa bersalah, pengendara motor – yang pasti orang berpendidikan- melaju di atas trotoar. Memang tidak ada pejalan kaki saat itu. Tapi, melaju di atas trotoar tetap saja salah, bukan?

trotoar2

Pemandangan seperti ini, pada saat lalu lintas padat, sering kita temui di mana-mana. Di bawah ini foto bersumberkan dari Antara. Ceritanya masih sama, pemotor yang tidak sabaran dan maunya menang sendiri.

Motor-Naik-Trotoar-020713-AGR-2

Pemgendara motor yang tidak sabaran (Sumber foto: Antara)

Beberapa tahun yang lalu pernah  ada berita yang menjadi viral di media sosial tentang bocah kecil bernama Daffa yang berani menghadang pengendara motor di atas trotoar. Hebatnya lagi, bocah kecil itu tidak takut dibentak pengendara motor.  Dia ingin menunjukkan keyakinannya bahwa berkendaraan di atas trotoar itu salah.

daffa

Daffa menghadang pengendara motor di atas trotoar (Sumber foto: Tribunnews.com)

Tapi, viralnya berita tentang Daffa tidak mampu mengubah perilaku pengendara motor. Dengan berlalunya waktu, orang pun melupakan kisah Daffa, pemotor yang menaiki trotoar pun mulai marak lagi.

Kasus pemotor yang menaiki trotoar adalah salah satu contoh bahwa pendidikan katakter di negara kita belum berhasil. Contoh lainnya adalah budaya antri yang belum menjadi perilaku bangsa kita, orang-orang yang membuang sampah makanan dari atas mobil, merokok di sembarang tempat, meludah sembarangan, dan sebagainya.

Boleh saya katakan bahwa pendidikan di negara kita baru sebatas knowing, belum sampai menjadi doing. Murid-murid  memang diajarkan agar jangan membuang sampah di sembarang tempat, tapi itu baru sebatas pengetahuan saja. Dalam kesehariannya masih banyak anak-anak  bahkan orang dewasa dengan cuek membuang bungkus kemasan makanan dari dalam mobil di atas jalan tol. Makan kacang rebus memang asyik, tapi kulitnya berserakan di atas tanah. Makan permen itu simpel, tapi bungkusnya dibuang ke lantai.

Menyeberanglah di atas zebra cross atau di atas jembatan, tapi orang-orang tetap saja seenaknya menyeberang jalan di mana saja dia suka. Naiklah bus dari halte, tapi orang-orang malas pergi ke halte, mereka menyetop bus atau angkot dari posisi berdirinya sekarang. Supir-supir bus pun menuruti permintaan penumpang yang minta turun di mana saja yang diinginkan penumpang.

Antrilah masuk ke dalam pesawat, tapi orang-orang secara bergerombol berusaha duluan masuk melalui gate tempat pemeriksaan boarding pass. Kenapa mereka tidak mau antri dengan tertib, bukankah nanti semua penumpang akan masuk juga ke dalam pesawat, semuanya sudah mendapat nomor kursi, apa lagi yang dikhawatirkan?

Antrilah naik ke atas kereta, tapi orang-orang berebut naik dan turun kereta. Mungkin untuk kereta commuter yang karcisnya tanpa nomor kursi kita masih bisa agak maklum, mengapa orang-orang  adu cepat naik kereta agar dapat tempat duduk, tapi tetap saja fenomena ini menunjukan orang kita malas antri.

Ketika saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun lalu, saya kagum dengan budaya antri mereka. Kereta belum datang, tapi orang-orang sudah antri dengan tertib dalam satu line. Ini adalah antrian untuk masuk ke dalam kereta, padahal keretanya sendiri belum sampai ke stasiun. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada yang menyerobot antrian.

DSCF1019

Antri dengan tertib menunggu kereta.

DSCF1023

Antri dengan tertib menunggu kereta

Selama pola pendidikan di negara kita masih dalam sebatas knowing, maka sangat sulit mengubah karakter bangsa ini. Pendidikan karakter seharusnya sejak dini ditanamkan. Pendidikan karakter yang terbaik adalah by practicing, tidak hanya knowing. Saya dapat cerita dari teman, jika di negara kita anak TK diajarkan sebareg pelajaran mulai dari belajar membaca dan berhitung sederhana, maka di Jepang anak-anak TK diajarkan bagaimana naik kereta, bagaimana antri dan bertransaksi di minimarket atau di supermarket. Jadi, pendidikan dini di sana langsung praktek, yang diaharapkan terbawa jika mereka dewasa. Jika dari kecil sudah terbiasa belajar tertib dan sesuai aturan, maka kelak jika dewasa nanti sudah menjadi perilaku keseharian.


Written by rinaldimunir

June 12th, 2017 at 3:05 pm

Jika Anakmu Begini, itu Karena Begitu (Sebuah Nasehat)

without comments

Sebuah nasehat buat orangtua atau calon orangtua yang saya copas dari whatsapp. Bagus nasehatnya, mudah-mudahan menyadarkan kita yang mungkin sering salah dalam mendidik anak.

Saya sendiri belum merasa menjadi orangtua yang baik, entah apakah yang saya lakukan selama ini sudah benar atau ternyata salah.

~~~~~~~~

DEAR PARA ORANG TUA…
ANAKMU MENGENALKAN SIAPA DIRIMU…
1. Jika anakmu BERBOHONG, 
itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT.

2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,
itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT

3. Jika anakmu KURANG BERBICARA,
itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA

4. Jika anakmu MENCURI,
itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.

5. Jika anakmu PENGECUT,
itu karena engkau selalu MEMBELANYA.

6. Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,
itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA.

7. Jika anakmu MARAH,
itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.

8. Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS,
itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.

9. Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,
itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.

10. Jika anakmu LEMAH,
itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.

11. Jika anakmu CEMBURU,
itu karena engkau MENELANTARKANNYA.

12. Jika anakmu MENGANGGUMU,
itu karena engkau KURANG MENCIUM & MEMELUKNYA

13. Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,
itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya.

14. Jika anakmu TERTUTUP,
itu karena engkau TERLALU SIBUK.


Written by rinaldimunir

November 18th, 2015 at 11:36 am

Logika Berpikir yang Menyesatkan

without comments

Kekisruhan antara DPRD DKI dan Gubernur DKI, Ahok, menarik perhatian saya. Bukan pada substansi yang diperselisihkan oleh mereka, tetapi bagaimana komentar dari netizen menanggapi “pertengkaran” antara kedua pihak tersebut. Ahok digambarkan sebagai tokoh yang anti korupsi, sedangkan DPRD -malangnya- digambarkan sebagai lembaga korup. Citra lembaga legislatif di negara kita memang sudah terlanjur buruk di mata rakyat, yaitu sarang KKN (Korupsi, Kolusi, damn Nepotisme) dan konkalingkong yang tidak berpihak kepada rakyat. Namun, saya yakin tidak semua anggota DPR/DPRD itu buruk, pasti lebih banyak orang baik di antara orang (oknum) yang berperilalku buruk. Yang baik itu banyak, yang buruk itu sedikit.

Saya tidak akan membahas siapa yang benar dan siapa yang salah dalam pertengkaran antara legislatif dan eksekutif di DKI. Meminjam hastag Presiden Jokowi, itu #bukanurusansaya, he..he. Biarkan mereka menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Yang saya amati adalah bahwa banyak netizen membela Ahok dan menyerang DPRD. Kita tentu tidak suka korupsi, namun di tengah arus pemberitaan yang berat sebelah yang cenderung membela Ahok dan memojokkan DPRD seperti saat ini, kita belum dapat menentukan siapa yang salah dan benar dalam kasus ini.

Ada yang menarik dari kisrih Ahok-DPRD. Selain dianggap melanggar undang-undang karena Ahok mengajukan RAPBD 2015 ke Kemendagri tanpa persetujuan DPRD, pihak DPRD juga mempersoalkan etika Ahok yang kasar, main labrak sana sini, temparemantal, ngomong asal njeplak, main tuduh, dan lain-lain. Semua orang tahu sifat Ahok yang demikian, namun nyatanya netizen tidak mempersoalkan cara komunikasi Ahok yang tidak santun tersebut. Muncullah ungkapan-ungkapan seperti “Buat apa santun tapi korupsi“, atau “Ahok memang kasar tetapi tidak mencuri“, “Ahok kasar tapi jujur, daripada alim tapi begal“, dan lain-lain.

Fenomena merendahkan perilaku yang baik (santun, alim, sholeh, beretika) dan membandingkannya dengan perilaku buruk (korupsi, mencuri, begal) menginghatkan saya pada situasi ketika Presiden Jokowi mengangkat Susi Pujiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan tahun lalu. Dengan cepat Bu Susi menjadi pusat perhatian media dan sosoknya menjadi terkenal karena perilakunya yang unik (bertato, suka merokok di depan umum, tampil adanya tanpa basa-basi). Ditunjang oleh reputasinya yang sukses membangun bisnis perikanan dan transportasi, masa lalunya yang tidak lulus SMP namujn bisa menjadi menteri, dan ketegasannya terhadap nelayan asing yang mencuri ikan di perairan negara kita, tiba-tiba Bu Susi menjadi idola baru. Media pun memberitakan sisi baik Bu Susi yang suka membantu orang miskin, bahkan fotonya yang menggendong ibunya yang sudah tua menjadi gambar yang banyak disebar melalui media sosial. Tentu saja ini berita yang bagus dan inspiratif, bukan?

Namun, entah siapa yang memulai, sosok Susi lantas dibandingkan dengan Ratu Atut (ex Gubernur Banten) yang terkena kasus korupsi dan sekarang mendekam di penjara. Bu Atut adalah sosok muslimah, dia memakai jilbab, dikenal santun, namun sayangnya dia dipidana korupsi. Lalu, bermunculanlah meme (gambar) yang membandingkan kedua perempuan ini dengan kata-kata yang bertolak belakang satu sama lain, serta ungkapan “lebih baik bertato dan merokok daripada berjilbab tapi korupsi”..

Meme Susi vs Atut

Meme Susi vs Atut

Berbagai meme lain tentang Susi dan Atut dapat anda lihat di sini.

Baiklah, Atut memang salah, tetapi kenapa jilbabnya yang dipersoalkan? Dalam kacamata ajaran agama, Ratu Atut sudah menjalankan perintah agama dengan menutup aurat. Perkara jilbabnya tidak sejalan dengan perilakunya yang berbuat korupsi itu hal yang lain lagi. Sedangkan dalam kacamata netizen, perempuan yang bertato, merokok, namun memiliki sikap tegas dan suka membantu orang lain dipandang lebih baik daripada perempuan berjilbab tapi korupsi.

Dalam konteks yang lain, kita sering pula mendengar ungkapan yang mirip seperti di atas, misalnya ungkapan biar tidak sholat tetapi tidak mencuri, lebih baik tidak berjilbab namun sopan, daripada berjilbab tetapi suka pelukan sama pacar, atau biar dicap sesat tetapi baik hati, dan sebagainya. Pada kasus Ahok, netizen mangatakan biar Ahok suka ngomong kasar tetapi jujur, daripada santun tetapi korupsi.

Tentu saja kita tidak bisa serta merta menyalahkan netizen yang membanding-bandingkan perilaku baik dan buruk dengan melihat contoh segelintir. Masyarakat kita sudah gemas dan muak dengan perilaku oknum manusia yang bak musang berbulu ayam, di depan tampak baik, tetapi di belakang menyambar. Di hadapan publik memperlihatkan perilaku alim, tetapi tidak tahunya diam-diam melakukan perbuatan tercela seperti korupsi. Masyarakat melihat atribut yang disandang (jilbab, simbol-simbol agama, kesalehan, dsb) bertolak belakang dengan perilaku seseorang. Akhirnya muncul ungkapan alim tidak penting, yang penting tidak korupsi. Buat apa santun, tetapi korupsi. Maka, dengan argumen seperti ini kita bisa memahami mengapa banyak netizen membela Ahok yang didentikkan kasar daripada DPRD DKI yang diidentikkan korup (meskipun belum dapat dibuktikan kebenarannya).

Namun, logika berpikir seperti ini menurut saya bisa menyesatkan jika lama-lama dianggap sebuah kebenaran. Keliru. Fenomena masyarakat yang memandang etika dan keberagamaan bukan hal yang penting ketimbang perbuatan korupsi dapat membuat orang menafikan etika dan ajaran agama. Kesalehan, kesantunan, kealiman tidak lebih berharga daripada perbuatan korupsi atau mencuri. Seakan-akan mengajarkan etika sudah tidak perlu lagi dengan melihat contoh Ahok. Berjilbab tidak perlu lagi dengan melihat kasus Ratu Atut. Sholeh dan alim tidak penting lagi dengan melihat kasus LHI. Untuk apa sholat tetapi nantinya mengambil uang rakyat. Dan sebagainya, dan sebagainya. Jika demikian logika berpikirnya, maka pelajaran budi pekerti mungkin perlu dihapus dari sekolah karena tidak ada gunanya lagi. Pendidikan agama pun tidak diperlukan lagi karena alim dan sholeh nanti toh dianggap tameng semata.

Saya katakan logika berpikir yang keliru dan menyesatkan karena perbuatan segelintir orang menjadi penghakiman bagi orang lain yang tidak terlibat. Kata orang Jawa itu namanya menggebyah ubyah. Kalau perempuan berjilbab korupsi, maka yang salah bukan jilbabnya, tetapi orangnya. Salah dia kenapa tidak menyesuaikan perilakunya dengan jilbabnya. Kalau orang yang dianggap sholeh dan alim (seperti kyai dan ustad) melakukan korupsi atau memperkosa santri, maka yang salah bukan sholatnya, bukan ajaran agamanya, tetapi yang salah orangnya karena tidak mengaktualisasikan ajaran agama dengan perilaku sehari-hari, tidak sinkron antara yang dibaca di dalam sholat dengan tindak-tanduk.

Menurut saya kesopanan itu penting, kesantunan itu penting, ajaran agama itu penting. Kita semua tentu anti terhadap perbuatan korupsi, anti terhadap perilaku mencuri, anti terhadap perilaku membegal. Salah besar jika menganggap kesantunan berkomunikasi itu tidak lebih penting daripada sikap anti korupsi. Etika dan sikap anti korupsi sama-sama pentingnya dan tidak bisa dipertentangkan.


Written by rinaldimunir

March 10th, 2015 at 6:16 pm

Tata Krama dan Etika itu Perlu Dipelajari

without comments

Keluhan yang sering dilontarkan orang-orang: anak-anak zaman sekarang kurang sekali dalam menjaga tata krama atau sopan santun. Cuek, kurang peduli aturan, kurang menghargai etika, dan kurang tahu berterima kasih.

Keluhan tersebut sudah biasa kita dengar, saya atau anda mungkin pernah merasakannya. Di negara Timur yang mengedepankan sopan santun, memang nilai-nilai etika adalah hal yang utama, sebelum menginjak ke substansi permasalahan. Sebab, seringkali tujuan atau maksud yang ingin diutarakan tidak tercapai karena ada etika yang dilabrak.

Dulu zaman saya sekolah dasar, pendidikan budi pekerti adalah bagian dari pelajaran wajib. Bagaimana menghormati guru, menghormati orang yang lebih tua, menghormati tamu, semua diajarkan dengan dengan detil. Murid-murud menyimak dengan seksama pelajaran dari guru. Kalau tidak mau mengikuti, hukuman dipukul dengan rotan pun siap menunggu.

Sekarang, dalam kurikulum pendidikan nasional, pelajaran budi pekerti tidak ada lagi, karena dianggap dapat dititipkan dalam pelajaran seperti Agama atau PKN. Tugas guru agama atau guru PKN lah yang mengajarkan murid budi pekerti, nilai-nilai moral, dan etika.

Tetapi, dengan pelajaran agama yang hanya 2 jam di sekolah umum (kecuali di sekolah bernuansa agama), menurut saya itu tidak cukup. Yang penting adalah prakteknya, memberi contoh langsung, tidak hanya sekadar pelajaran teori. Bagaimana anak didik bersikap sopan santun bila tidak dicontohkan sebagai sebuah aksi?

Namun, kita tidak boleh hanya menyalahkan anak-anak generasi sekarang dengan menuduh mereka tidak punya tata krama atau sopan santun, lalu membandingkannya dengan generasi zaman kita. Itu sungguh tidak fair. Anak-anak zaman sekarang tidak mengalami masa lalu kita sehingga mereka tidak mempunyai pembanding, sedangkan kita orang dewasa (baca: para orangtua) telah melewati dua zaman, yaitu masa lalu dan masa sekarang.

Kesalahan kita sebagai orang dewasa (atau orangtua) adalah tidak memberi contoh teladan kepada anak-anak generasi sekarang. Kita tidak memperagakan kepada anak bagaimana mengucapkan terima kasih, namun kita menuntut anak berterima kasih setiap ada pemberian. Orangtua meminta anak duduk sopan ketika makan, namun kita sendiri sering tidak sopan di hadapan mereka (misalnya makan atau minum sambil berdiri). Kita menuntut anak berpakaian sopan, tetapi kita sendiri sering hanya memakai singlet atau bertelanjang dada di rumah. Masih banyak contoh lainnya, semua itu karena kita alpa kepada anak sendiri tetapi lebih memperhatikan sikap di hadapan orang lain.

Jadi, yang utama dari semua pelajaran bukanlah aspek teoritis, tetapi prakteknya dalam kehidupan langsung. Teori hanya disimpan di dalam kepala, sedangkan praktek lebih riil dan aktual.


Written by rinaldimunir

February 18th, 2013 at 10:12 am

Posted in Budi Pekerti

Etika (Sebagian) Mahasiswa Kami

without comments

Ini kejadian di ITB tempat saya mengajar dan sempat ramai dibincangakn di milis dosen. Seorang dosen Fisika mempunyai pengalaman buruk dengan attitude (sebagian) mahasiswa kami. Ketika dia mengajar, di ruang kuliah sebelah sekelompok mahasiswa membuat ribut hingga mengganggu konsentrasinya mengajar. Dia pun keluar ruangan dan menegur para mahasiswa tersebut, tetapi mereka tetap ketawa-tawa dan bersorak. Hingga akhirnya dosen tersebut menulis e-mail di milis mengeluhkan kelakuan mahasiswa kami itu. Cerita selengkapnya dan komentar-komentar para mahasiswa dan alumni bisa dibaca di blog Pak Budi Rahardjo ini.

Seorang dosen lain menulis di milis pengalamannya tentang sopan-santun mahasiswa. Ketika dia akan masuk kelas, sekelompok mahasiswa duduk-duduk tepat di depan pintu sehingga menghalanginya masuk. Dia pun menegur para mahasiswa tersebut dan menyuruh mereka duduk di teras samping pintu agar tidak mengganggu orang yang keluar masuk. Hanya ada dua-tiga orang yang duduk di mulut pintu yang bergeser. Yang lebih buruk, ketika dia baru masuk melewati pintu di belakangnya terdengar celetukan, “Lu yang ganggu kita!”.

Lu yang ganggu kita? Astaghfirullah, ditegur baik-baik malah mendapat celutukan asbun yang membuat sakit hati, pakai kata “lu” lagi.

Kalau dikumpulkan tentu banyak pengalaman dosen yang tidak berkenan dengan sikap mahasiswa. Saya juga mempunyai beberapa pengalaman yang tidak mengenakkan dengan mahasiswa. Ketika saya sedang berbicara dengan teman, datang seorang mahasiswa yang memotong pembicaraan tanpa permisi dan berkata:”Pak, minta tanda tangan”. Sopan nggak sih memotong pembicaraan orang lain? Atau pengalaman naik lift dengan seorang mahasiswa yang selama di dalam lift dia pura-pura seperti orang tidak kenal dan memasang wajah jutek tanpa sapaan sama sekali. Mahasiswa(i) kayak gini mungkin tidak diajar sopan santun oleh orangtuanya di rumah, tegur sapa dengan orang lain itu penting, apalagi kepada orangtua atau guru.

Sikap yang tidak sopan semacam cerita di atas tentu tidak bisa digeneralisasi kepada semua mahasiswa kami. Itu hanyalah ulah oknum saja, hanya sebagian mahasiswa saja yang begitu. Mungkin mereka ini yang EQ-nya di bawah IQ. Otak pintar tetapi kelakuan jelek jangan harap bisa sukses dalam hidup bermasyarakat.

Tentu saja — meminjam kata-kata Pak Budi — kami para dosen tidak gila hormat atau meminta penghormatan yang berlebihan seperti menunduk-nunduk atau cium tangan. Yang wajar-wajar saja sesuai dengan norma umum kesopanan yang berlaku. Zaman boleh semakin maju, kepintaran mahasiswa boleh semakin hebat, tetapi yang namanya tata krama, etika, budi pekerti, attitude atau apalah namanya tetap di atas semua hal itu.


Written by rinaldimunir

March 2nd, 2012 at 3:53 pm

“Mana Ada Jujur Itu Sekarang, Bang. Jujur Itu Hanya Ada Pada Zaman Nabi:

without comments

Ketika lagi menunggu boarding di ruang tunggu bandara, saya secara tidak sengaja “menguping” pembicaraan seorang ibu lewat ponsel dengan seseorang di seberang sana. Ya gimana nggak nguping, si ibu tadi duduk di belakang saya, praktis mau tidak mau saya mendengar apa yang dia omongkan. Dia berbicara dalam bahasa daerah yang saya tahu artinya.

Saya jadi serius mendengar pembicarannya karena dia berbicara tentang uang suap untuk memasukkan seorang anak dari kerabatnnya yang akan mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Apalagi dalam pembicaraanya itu menyebut-nyebut ITB segala, makin tegaklah telinga saya mendengarnya. Si anak yang bernama Adi tidak lulus SNMPTN, jadi pilihannya sekarang adalah ke PTS. Sekolah swasta itu dikelola oleh sebuah yayasan.

“Ikut sajalah si Adi tu mendaftar di sana, Bang. Universitas itu bagus juga tuh mutunya. Nanti kalau nilai tes masuknya jelek dan tidak lulus, kasih saja uang dua juta, taruh uangnya di bawah map. Yayasan itu kan lapar uang Bang, pasti dia butuh uanglah”

“Sekarang ini kalau jujur-jujur sudah tidak ada, Bang. Jujur itu ‘kan hanya ada pada zaman Nabi. Apa-apa sekarang ini pakai uang.”

“Nilai rapor saja bisa diminta tinggi supaya bisa lulus PMDK (Jalur undangan. Red). Si Nelly teman saya itu minta kepada guru kelas anaknya agar nilai pelajaran anaknya dikasih 9 di rapor. Nilai 8 saja sekarang tidak bisa PMDK masuk ITB (duh, kok nama institusi saya jadi disebut-sebut nih? Red). Kalau masuk U***d mungkin bisa”

“Makanya kalau urusan sekolah ini serahkan saja pada ibu-ibu, bapak-bapak mana ngerti urusan begini. Bapak-bapak bisanya cuma marah-marah dan main tempeleng saja kepada anak”

Masih banyak lagi cerocos ibu ini yang begitu semangat meminta saudaranya untuk pakai uang pelicin — atau apalah namanya– untuk memasukkan anak kuliah di sebuah sekolah. Baginya tidak masalah berbuat tidak jujur untuk memuluskan tujuan. Dengan asumsi bahwa zaman sekarang ini sogok menyogok itu adalah hal yang lumrah saja, kalau tidak begitu kita bisa kalah sama orang lain. Begitu banyak alasan untuk membenarkan (justifikasi) sikapnya dalam memandang persoalan kehidupan dengan cara meremehkan kejujuran.

Apakah sikap si ibu dalam menganggap enteng persoalan suap menyuap ini mewakili masyarakat kita? Saya tidak berani menggeneralisasi. Namun saya yakin cukup banyak orang yang mempunyai pandangan serupa dimana untuk memudahkan urusan pakai cara-cara suap. Pakai uang suap adalah hal yang dianggap biasa pada zaman sekarang, kalau tidak begitu mana bisa berhasil. Mau masuk sekolah favorit pakai suap, mau jadi PNS pakai uang pelicin, mau lulus ujian pakai uang sogok, mau cepat selesai urusan pakai uang rokok, dan sebagainya.

Kalau ada peluang untuk melakukan suap dan uangnya ada, maka jalan pintas dengan cara-cara tidak terpuji itu mungkin dengan enteng akan dilakukan. Untuk membenarkan perbuatannya maka dipakailah asumsi-asumsi bahwa zaman sekarang mana bisa hidup jujur, jujur hanya ada pada zaman Nabi. Duh!


Written by rinaldimunir

July 9th, 2011 at 10:42 pm

Posted in Budi Pekerti

Efek Kebebasan yang Kebablasan

without comments

Seorang artis yang baru menikah 1 bulan lalu dengan seorang pengusaha negara seberang mengakui bahwa dia sudah hamil 4 bulan. Lho? Kaget? Tidak perlu heran, kata orang minang: lah dulu bajak daripado jawi.

Di Palembang, beberapa orang anak-anak SD melakukan pesta se*s dengan teman-temannya yang perempuan. Anak-anak itu mengakui bahwa mereka melakukan perbuatan terlarang itu karena terobsesi sering melihat video por*o.

Seorang produser film dengan bangga mengatakan dia berhasil mendatangkan artis por*o dari luar negeri untuk membintangi film dedemit murahan yang diproduksinya. Bayarannya sangat mahal, kata produser tersebut.

Di dalam gedung wakil rakyat, anggota dewan yang terhormat kepergok memutar video por*o. Parahnya lagi, anggota dewan itu berasal dari partai yang mengusung kesalehan dan kesucian.

Teman saya yang menjadi guru di daerah mengeluhkan perilaku para siswa-siswinya. Siswa-siswi yang saling pacaran memanggil pasangannya dengan sebutan “mami” atau “papi”, seperti sudah menjadi pasangan suami-istri saja. Wallahualam, mungkin saja mereka telah terlalu jauh melakukan perbuatan suami dan istri sungguhan. Sementara pada waktu yang lain, ketika sekolah melakukan razia ponsel, guru-guru menemukan foto-foto dan video por*o di dalam ponsel para siswa. Bergidik bulu roma melihat kelakuan para siswa-siswi itu, mau muntah rasanya, kata teman saya itu. Padahal sehari-hari para siswa itu terlihat alim, eh tidak tahunya kelakuan mereka di belakang guru sangat “mengerikan”.

Begitulah potret suram kebobrokan moral di negeri kita. Liberalisasi dalam berbagai bidang kehidupan sudah mencapai taraf yang kebablasan, kondisinya sudah lampu merah.

Suara kaum moralis seperti para agamawan dan pendidik tidak terlalu dipedulikan. Mereka dianggap sebagai kaum konservatif yang menghambat kebebasan berekspresi. Setiap orang bebas untuk berbuat apa saja, asalkan tidak merugikan atau mengganggu orang lain, begitu suara pembelaan dari kelompok liberal yang tidak suka terlalu diatur dengan berbagai aturan yang mereka anggap mengekang. Membatasi kebebasan manusia dalam berekspresi dianggap melanggar HAM. Saat ini HAM sudah menjadi ideologi yang berada di atas segala-galanya.

Maka, jika suara kaum agamawan dan pendidik saja sudah tidak didengar lagi, maka benteng terakhir untuk melindungi generasi penerus bangsa dari kerusakan moral ada di dalam keluarga. Pendidikan di dalam keluarga adalah sarana efektif untuk melindungi anak-anak kita dari degradasi dan dekandensi moral. Di luar rumah tidak ada lagi lagi tokoh yang bisa dijadikan teladan, maka ayah dan ibulah yang menjadi panutan bagi anak-anak. Ayah dan ibu yang baik, yang mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan anak-anak yang berakhlaq baik pula.

Wahai para bapak dan ibu, jangan terlalu sibuk mencari harta di luar rumah, ingatlah anak-anak di rumah yang bisa terabaikan dari perhatian dan pendidikan akhlaq, sebelum mereka menjadi korban paham kebebasan yang kebablasan.

Ya Allah, bimbinglah kami untuk mendidik generasi penerus dengan akhlaqul karimah.


Written by rinaldimunir

April 27th, 2011 at 4:27 pm

Posted in Budi Pekerti