if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘belanda’ Category

Monitoring tumbuh kembang bayi dan balita di Belanda

without comments

Pencatatan dan monitoring anak dilakukan oleh gementee/kecamatan. Yang jelas bagi pendatang, anak harus terdaftar di gementee/kecamatan, tidak hanya di imigrasi/IND,  untuk mendapatkan pelayanan tumbuh kembang.  Penanganan tumbuh kembang bayi dan balita (serta lebih jauh anak2 dan remaja) dibawah organisasi pemerintah yang beroperasi di tingkat kecamatan yang bernama CJG (Centrum voor Jeugd en Gezin) atau ´Centre for Youth and Family´.  Mungkin kalau di Ina karena skala penduduk yang besar bisa ditaruh di tingkat Posyandu.

Sesuai dengan usia bayi/balita, maka orang tua akan dikirimi surat oleh kecamatan berupa undangan untuk datang ke CJG baik karena sudah jadwalnya imunisasi ataupun untuk monitor tumbuh kembang.  Sehingga memang ibu tidak harus pusing mikirin kapan waktunya imunisasi, tidak harus mengeluarkan biaya imunisasi ke dokter (seingat saya di Ina harga imuniasasi di bidan dan dokter beda ya…). Kalau di Ina soal imunisasi ini juga mazhab2an, ada yang berkeyakinan tidak perlu imunisasi, atau sebaliknya, terserah saja. Kalau di sini kayaknya wajib, kalau orangtua tidak merespon surat2 panggilan untuk imunisasi/monitoring anak, kabarnya akan ada sanksi karena melalaikan kewajiban pengasuhan anak (entah saya tidak begitu tahu).

Undangan ke CJG bersifat individu, maksudnya orang tua satu dan lainnya beda-beda jadwal (bukan massal), sesuai usia anak dan prosedur monitoring apa yang harus dijalankan pemerintah.  Misalnya, panggilan ´Baby clinic´ di usia bayi 4 minggu, 3 bln, 6 bln, 7,5 bln, 9 bln, 14 bln, 18 bln, 2 tahun, 3 tahun, terakhir 3 tahun 9 bulan. Panggilan ini disesuaikan dengan monitoring milestone tumbuh kembang dan jadwal imunisasi. Orang tua diberikan buku ´growth book´ yang berisi catatan kesehatan anak dan juga milestone tumbuh kembang anak serta tips2 safety. Lumayan menolong bagi ibu2 dalam mengasuh buah hatinya. Selain standar pengukuran berat dan tinggi, riwayat sakit, orang tua juga ditanya apakah anak mengalami gangguan tidur, kendala makan, bicara, tantrum/ngamuk, biasanya petugas CJG memberi saran2.  Petugas CJG juga akan memonitor perkembangan motorik halus dan kasar anak.

Keseluruhan layanan tersebut menurut saya bukan sesuatu yang sangat canggih atau wouw untuk bisa diterapkan di Posyandu Indonesia, sangat mungkin, dengan dikoordinasi oleh institusi yang punya kapasitas dan kuat.  Posyandu ini saya pikir penting sekali, ini solusi komunal, bersama2 oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Asal yang ngatur (pemerentahnya) bener-bener.

Demikianlah kira2, saya tidak tahu dengan pemerintahan baru Belanda dan kabinetnya yang kelihatan kanan (lebih liberal dibanding tradisi Belanda yang sosialis/welfare state), pemotongan anggaran pendidikan dan kesehatan, akan seperti apa  masa depan Belanda ini.

Saya tetap optimis insyaAllah negara kita bisa maju dan lebih baik. Kalau Belanda (atau negara ´maju´ di Eropa) bisa seperti sekarang ini, mereka juga telah melewati ?ocial exercise´ yang berdarah-darah selama ratusan tahun. Jadi kalau negara kita sedang bergejolak, saya pikir itu juga bagian dari proses ´social exercise´, segala segi sedang ditata, untuk menemukan bentuk masyarakat Indonesia yang lebih adil sejahtera (yang wajahnya akan dibentuk oleh orang Indoensia sendiri). Cocok dengan syair H.Mutahar di Dirgahayu Indonesiaku (kado 50 tahun Indonesia merdeka), bahwa kita ini sedang ´ditempa Tuhan’ agar jadi bijak bestari.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:25 pm

Bagaimana jika hamil dan melahirkan di Belanda?

without comments

Lagi-lagi asuransi penting sekali di Belanda, kalau tidak bisa setres dengan biaya ini itu. Periksa manfaat asuransi yang kita daftarkan disini menanggung biaya hamil dan melahirkan atau tidak. Kalau asuransi student/expatriate yang saya ikuti,  asuransi menanggung biaya kehamilan dan persalinan apabila diketahui hamil sudah terdaftar asuransi, bukan baru daftar asuransi setelah kehamilan.

Sistem untuk kehamilan disini, setelah mengetahui dari test pack (biasanya minggu ke-5 atau 6), maka segera cari praktek midwifes/verloskundigen, di Indonesia disebut bidan.  Disini biasanya grup beberapa bidan dalam satu lembaga, cari terdekat dari rumah (biar ga sulit transportasi/capek). Di Belanda tidak bisa hamil langsung pergi ke dokter kandungan (entah kenapa?), kecuali untuk kasus khusus, entah mungkin kehamilan sebelumnya bermasalah, atau masalah2 medis lainnya, biasanya langsung ditangani oleh dokter spesialis. Prosedurnya harus ke midwife dulu untuk membuat janji pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini membawa dokumen asuransi, pas foto, dan urin. Pertemuan pertama akan berlangsung cukup lama sekitar satu jam, sebab bidan akan mengisi ke database komputer berbagai pertanyaan standar yang sudah disiapkan/diprosedurkan oleh pemerintah. Mulai data diri, daftar riwayat penyakit diri dan saudara terdekat (mungkin hubungannya dengan faktor genetis), aspek psikologis (apakah korban kekerasan/korban perang), dan pertanyaan aneh2 yg menyeramkan (riwayat h*mo seksual, inc*st, dsj), apakah pernah melakukan terapi psikologi, kriminalitas, dst. Sebab mereka adalah negara multikultur, orang datang dari macem2 negara karena alasan macem2, dan melahirkan adalah proses klinis dan psikologi, jadi harus dipersiapkan dulu katanya.

Apabila segalanya normal hingga menjelang persalinan, maka melahirkan ditolong bidan tersebut, disarankan melahirkan di rumah masing2 (aneh ya, justru melahirkan di rumah umum di Belanda). Boleh juga melahirkan di rumah sakit, untuk persalinan normal tetap oleh bidan. Tetapi menurut beberapa ibu2, kalau normal mending di rumah saja, sebab kalau di rumah sakit, beberapa jam sesudah melahirkan sudah diusir/disuruh pulang (alasan efisiensi alias pelit tea). Tetapi apabila ada indikasi tidak normal, atau karena sebab tertentu dan harus dalam pengawasan dokter maka bidan akan merujuk ke rumah sakit bagian obgin. Untuk kehamilan normal dengan riwayat melahirkan sebelumnya operasi, maka baru pada minggu ke 34 dialihkan ke dokter obgin dan harus melahirkan di rumah sakit.  Setiap kunjungan ke bidan ditanggung asuransi.

Setelah kunjungan pertama, ibu hamil diharuskan melakukan tes darah, tinggal membawa rekomendasi bidan ke rumah sakit. Free of charge (ditanggung asuransi).  Tes yang dilakukan untuk mengetahui kandungan Hb, trombosit dan sejenisnya, kadar vitamin D (karena di negara semacam ini rawan defisiensi), kadar gula, infeksi hepatitis, infeksi HIV.

Pada minggu ke-20 (5 bulan) ibu hamil diminta melakukan USG (yang lebih detail dari USG di tempat bidan). Biasanya ke lembaga pemeriksaan yang satu jaringan dengan midwife kita.  Tujuan utama bukan untuk mengetahui gender (untuk gender orangtua ditanya mau tahu/tidak), tetapi tujuannya untuk melihat fungsi jantung, paru, organ perut, tangan-kaki, kepala. Calon orangtua harus menandatangani dokumen bahwa orangtua paham pemeriksaan ini tidak 100% akurat (takut dituntut mereun..).  Biayanya sekitar 150 ero/ 1,8 juta, tapi umumnya ditanggung asuransi.  Kalau ada indikasi abnormal, orangtua ditawari untuk melakukan riset lebih lanjut (yang biasanya tidak dicover asuransi), keputusan aborsi (yang disini legal..syeremmm) hanya boleh sampai usia janin 24 bulan.

Keluarga ibu hamil diharuskan menghubungi/mendaftar untuk Kraamzorg (maternity care), yaitu ?erawatan’ ibu hamil setelah melahirkan oleh petugas Kraamzorg (perawat/bidan). Petugas ini akan visit ke rumah selama 3 jam dalam sehari selama 8 hari untuk mengajari ibu untuk memandikan bayi dan sejenisnya, serta melakukan monitoring ibu hamil pasca melahirkan (pendarahan atau tidak dan sejenisnya). Biaya petugas ini sekitar 125 euro/hari atau sekitar 1,5 jt/hari (makanya berabe kalau ga punya asuransi).
Sewaktu melahirkan anak pertama di desa (Kota Batu), saya juga ada petugas seperti Kraamzorg ini tapi namanya dukun bayi he..he..(tapi bersertifikat loh :D ), sepulang dari rumah sakit, ibu ini akan datang ke rumah pagi dan sore untuk merawat mba nana (mandiin, pijit, dan sejenisnya) sehingga darinya juga bisa belajar macam2, biasanya selama 40 hari atau terserah yang meminta. Jauh lebih murah dibanding biaya Kraamzorg di Belanda. Canggih kan, di desa tapi sistemnya kayak di Belanda :D
Yang rada bikin repot, dari awal-awal midwife sudah mengirim surat barang standar yang harus disiapkan di rumah, baik untuk melahirkan maupun untuk petugas Kraamzorg. Misalnya, bed tempat tidur harus setinggi 70 cm (biar bidannya ga sakit pinggang katanya), handuk2, lap, alkohol, tempat mengganti popok bayi, tempat menaruh bak mandi bayi dan tetek bengeknya.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:23 pm

Bagaimana jika sakit di Belanda?

without comments

Sanitasi dan lingkungan yang baik lebih memperkecil kemungkinan mudah terserang penyakit, daya tahan tubuh lebih kuat, ditambah pola makan/asupan yang baik. Tetapi bagaimana tata laksana untuk orang sakit di Belanda?

Asuransi adalah wajib, pendatang yang tidak memiliki asuransi dianggap ilegal, atau kalau tidak memperpanjang asuransi bisa berabe kalau ada apa2. Sebab serba mahal layanan disini. Enaknya dengan asuransi pula, pembayaran dokter juga bisa diatur terpusat, maka tidak ada perang tarif dokter, karena dokter digaji pemerintah (mungkin sudah cukup layak) dan mungkin pula telah ada rasio jumlah dokter dan pasien berdasarkan kepadatan populasi.  Pengalaman teman yang terdiagnosa kanker stadium lanjut dan dikemo mengatakan, untung saja kankernya disini ada asuransi, kalau di Ina mungkin harus jual rumah dan sawah. Teman saya yang kanker ini, sekarang dokter sudah tidak mau lagi menembak/menghancurkan sel kankernya, sudah maksimal selnya dibunuh. Jadi meski sekarang ada indikasi sel kanker tumbuh lagi, tidak bisa lagi dikemo, dan melakukan pengobatan tradisional plus menjaga pola makan (dia tidak makan daging dan banyak makan jus buah/detoks), kumaha deui ceunah.

Lebih baik jika telah mempunyai asuransi langsung mencari praktik dokter (huisartpraktijk ) terdekat dari rumah dan mendaftar kesana, apabila sudah penuh jumlah pasiennya biasanya dia tidak mau menerima dan menyaranakan untuk mencari praktek dokter umum lain. Biasanya kalau  mendaftarkan anak ke TK/sekolah salah satu yang harus diisi adalah siapakah dokternya anak (maksudnya anak terdaftar di praktek dokter umum mana), atau kalau beli obat di apotik ditanya nama dokternya. Karena saya di Indonesia tidak pernah seperti ini, maka sejak datang anteng2 saja ga daftar ke dokter mana2 juga, ini tidak baik katanya.

Setiap sakit (apapun) tata laksananya adalah ke dokter umum dulu, jangan coba2 langsung ke rumah sakit/nyari dokter spesialis, alamat tidak akan dilayani. Umumnya harus bikin janji dulu, kalau memang sakit banget bisa telepon gawat darurat atau dokter yang diminta datang ke rumah, tapi biayanya tentu lebih mahal :D
Dokter umum inilah yang akan menyarankan tindakan lebih lanjut. Apakah istirahat saja (biasanya ini saran umum kalau batuk pilek demam), apakah disuruh membeli obat di apotik, atau disuruh check up, atau di rujuk ke dokter spesialis, atau ke tempat terapi. Pengalaman yang pernah saya punya adalah lage rugpijn (low backpain/sakit pinggang bagian bawah), tata laksananya harus ke dokter umum dulu, dia kemudian memberikan surat rekomendasi untuk mendatangi terapis yang paling dekat jangkauan dari rumah. Terapis ini harus teregistrasi dan bisa dilacak pihak asuransi. Surat rekomendasi ini juga saya perlukan untuk dikirim ke pihak asuransi, karena mereka yang akan membayar biaya terapi tiap minggunya sekitar 30 ero (360 ribuan), kalau dipikir2 terapinya ´cuman´ dicontohin senam2 ringan untuk memperkuat otot pinggang, panggul, kaki. Profesi terapis menghasilkan juga ya disini. Oh iya, akupuntur telah diterima luas di kedokteran Barat, meski mahzabnya beda, sudah bisa masuk list asuransi.

Karena biasanya sakit demam batpil itu2 juga tata laksananya, saya jadi terpaksa malas sering2 visit dokter, paling disuruh banyak minum, banyak tidur, klo perlu minum paracetamol. Sepertinya orang-orang sudah tahu sama tahu tata laksana ini. Efek baiknya, lebih tenang ataukah rasional? ketika sakit (kok bisa ya?), masih mau bersabar menunggu dulu perkembangan.
Negatifnya, dengan sistem maka harus aware juga jika memang benar2 kesakitan, kata orang-orang kadang harus ngotot dan rewel, bahwa kondisi sedang gawat. Misalnya ada kasus dokter ?enyepelekan’ seorang mahasiswa yang demam dan sakit perut, disuruh balik pulang lagi pulang lagi, akhirnya gawat darurat usus buntunya harus segera dioperasi, itu ketahuan setelah dia ngotot masuk UGD karena nyeri yang tidak tertahan.  Atau anak teman demam terus disuruh balik pulang lagi pulang lagi, setelah rewel dan memaksa akhirnya di rumah sakit ketahuan infeksi saluran kencing. Jadi memang mau tidak mau kita harus pandai mengukur kekuatan/daya tahan diri.

Obat? farmacist di apotheek biasanya sudah tahu mana obat bebas mana obat harus dengan rekomendasi ataupun resep. Dan mereka galak/ketat soal ini, padahal kalau menurut saya yang di Indonesia dulu bisa beli bebas, kok disini ga bisa. Apalagi obat untuk anak mereka lebih ketat, mungkin karena prosedurnya begitu, atau mereka juga takut dituntut pasien kalau terjadi apa2. Biasanya yang jamak tersedia di rumah2 adalah paracetamol dewasa, paracetamol anak, vitamin D tetes untuk anak sampai usia 4 tahun (kasian ya…jarang terkena matahari), dan kotak P3K. Antibiotik saya belum pernah dikasih resep ini baik untuk saya maupun anak, antibiotik ada pula gunanya bukan? tapi bukan untuk virus katanya.

Jika harus operasi atau opname di rumah sakit, lebih tenang soal biaya karena ada asuransi tea. Jadi ingat waktu opname DB di Bandung dulu, alih2 mengkhawatirkan sakitnya, lebih setres ini bakal habis berapa karena belum punya asuransi hihihihi.
Tapi soal makanan teteup botterham met kaas (roti dan keju), sup instan, wah engga (niat) banget deh. Cerita teman, kamar juga kadang campur laki-perempuan, yang tentunya tidak mengenakkan buat orang Timur. Dan kayaknya tidak umum kelas 1, VIP, VVIP. Biasanya digolongkan berdasarkan penyakit (di Indonesia juga begini bukan?), penempatan tergantung ketersediaan kamar. Dan yang ga enaknya, disini efisien sekali (atau kata saya mah pelit :D ), kalau bisa orang segera pulang dari rumah sakit untuk menekan biaya yang harus asuransi/pemerintah keluarkan, tenaga medis dan perawat memang dihargai mahal. Jadi kadang masih lemes gitu ya disuruh pulang :(

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:22 pm

Yuk, ada yang mau gabung tebar jilbab cilik ?

without comments

Written by ibu didin

May 25th, 2010 at 3:04 pm