if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘beda sistem nilai’ Category

Beda Sistem Nilai

without comments

Beda sistem nilai
Terkait dengan international semester yang sudah saya ceritakan disini, maka teman-teman sekelas saya saat ini terpencar-pencar sesuai dengan universitas yang dipilih atau sesuai dengan tempat mereka lolos seleksi. Ada yang sedang di Carnegie Mellon, Pittsburgh US, ada yang di Pretoria South Africa, ada yang di Swedia, di Italy, Spain, Singapore. Mereka yang dulunya tidak mempunyai akun fesbuk, sekarang pada borongan membuat akun fesbuk untuk tetap saling berkirim kabar dengan teman lainnya.  Maklum, sebagian besar mereka telah bersama sejak Bachelor, jadi ya temannya itu-itu lagi.  Memang disini tidak mudah juga mencari teman, disamping secara kultur individualist, juga tidak mudah beramah-ramah seperti kebanyakan orang Indonesia, ya memang bukan caranya/adatnya.
Biasanya orang Indonesia suka diolok-olok (oleh orang Indo sendiri juga loh he..he..), katanya kita teh norak, kalau kemana gitu suka foto-foto, lahhh belum liat orang bule ya.. mereka juga gitu :D :D:D Lah itu temen-temen saya, begitu bisa keluar dari Belanda, langsung deh sama noraknya dengan kita, podo ae xixixixii, foto sana foto sini, party sana party sini, bikin video khusus mengabadikan kegiatannya, tiba-tiba jadi artis blog dadakan.
Dari itu, saya bisa mengenal aktifitas mereka lebih jauh. Sebelumnya, karena saya tinggal di Delft dan kuliah di Eindhoven (2 jam perjalanan pergi, dan 2 jam perjalanan pulang), maka saya memang tidak banyak menghabiskan waktu di Eindhoven. Tujuan saya ke Eindhoven adalah mengikuti kelas (yang sudah saya pilih-pilih layak atau tidak didatangi he..he.. ongkos keretanya muahalll sebulan bisa habis 5 juta klo di rupiahin), selesai kuliah langsung pulang. Jadi tidak ikut hangout bersama teman-teman (lagipula juga ngapain, sudah bukan jamannya gitchu loch, inget suami & anak di rumah :D ).  Jadi saya mengenal teman-teman saya relatif aktifitas di kelas, puinter puinter memang mereka (walopun saya juga ga mau kalah weeekkssss), kelas kecil 10 – 15 orang, kadang di kuliah elektif juga cuman 5 orang, sehingga modusnya sering konferensi meja bundar, kelas isinya diskusi dan ngobrol, makanya jadi terpaksa memaksakan diri untuk ikut aktif ngomong (daripada tengsin, sudah dari developing countries, muslimah pake jilbab, kalau diem saja nanti disangka minus).
Balik lagi, nah karena teman yang sedang di luar negeri  mulai ngartis di fesbuk, saya jadi tahu sisi lain kehidupannya, wadezighhhh party en party en party, dengah house music, gadis-gadis, dan tentu saja bir atau wine.  Aneka tema party-nya, yang di Italy ada tomato party hihihi, ada juga yang tema kolam renang, wah syerem ya.. dengan gadis-gadis berbikini, aduh itu teh kumaha, jadi geli… pesta, kehidupan bebas, bir dan anggur… hemmm.. katanya secara umum memang begitulah cara bersosialisasi, begitu cara mendapatkan teman atau pasangan, kebayang ya.. kalau kurang cantik, kegendutan, atau punya hal-hal fisik yang tidak populer, bisa terlempar dari kehidupan sosial :( ( duh aduh aduh aduh… kehidupan seperti apa ini?
Pada akhirnya, seperti yang ditatarkan di kedutaan Belanda waktu itu, seperti kucing dan ikan dalam toples, kalau kucingnya dimasukin dalam air di toples bisa mati kedinginan, atau ikannya dikeluarkan di toples bisa mati juga. Beda sistem nilai cing, kumaha deui…

fishandcatTerkait dengan international semester yang sudah saya ceritakan disini, maka teman-teman sekelas saya saat ini terpencar-pencar sesuai dengan universitas yang dipilih atau sesuai dengan tempat mereka lolos seleksi. Ada yang sedang di Carnegie Mellon, Pittsburgh US, ada yang di Pretoria South Africa, ada yang di Swedia, di Italy, Spain, Singapore. Mereka yang dulunya tidak mempunyai akun fesbuk, sekarang pada borongan membuat akun fesbuk untuk tetap saling berkirim kabar dengan teman lainnya.  Maklum, sebagian besar mereka telah bersama sejak Bachelor, jadi ya temannya itu-itu lagi.  Memang disini tidak mudah juga mencari teman, disamping secara kultur individualist, juga tidak mudah beramah-ramah seperti kebanyakan orang Indonesia, ya memang bukan caranya/adatnya.

Biasanya orang Indonesia suka diolok-olok (oleh orang Indo sendiri juga loh he..he..), katanya kita teh norak, kalau kemana gitu suka foto-foto, lahhh belum liat orang bule ya.. mereka juga gitu :D :D:D Lah itu temen-temen saya, begitu bisa keluar dari Belanda, langsung deh sama noraknya dengan kita, podo ae xixixixii, foto sana foto sini, party sana party sini, bikin video khusus mengabadikan kegiatannya, tiba-tiba jadi artis blog dadakan.

Dari itu, saya bisa mengenal aktifitas mereka lebih jauh. Sebelumnya, karena saya tinggal di Delft dan kuliah di Eindhoven (2 jam perjalanan pergi, dan 2 jam perjalanan pulang), maka saya memang tidak banyak menghabiskan waktu di Eindhoven. Tujuan saya ke Eindhoven adalah mengikuti kelas (yang sudah saya pilih-pilih layak atau tidak didatangi he..he.. ongkos keretanya muahalll sebulan bisa habis 5 juta klo di rupiahin), selesai kuliah langsung pulang. Jadi tidak ikut hangout bersama teman-teman (lagipula juga ngapain, sudah bukan jamannya gitchu loch, inget suami & anak di rumah :D ).  Jadi saya mengenal teman-teman saya relatif aktifitas di kelas, puinter puinter memang mereka (walopun saya juga ga mau kalah weeekkssss), kelas kecil 10 – 15 orang, kadang di kuliah elektif juga cuman 5 orang, sehingga modusnya sering konferensi meja bundar, kelas isinya diskusi dan ngobrol, makanya jadi terpaksa memaksakan diri untuk ikut aktif ngomong (daripada tengsin, sudah dari developing countries, muslimah pake jilbab, kalau diem saja nanti disangka minus).

Nah karena teman yang sedang di luar negeri  mulai ngartis di fesbuk, saya jadi tahu sisi lain kehidupannya, wadezighhhh party en party en party, dengah house music, gadis-gadis, dan tentu saja bir atau wine.  Waduh itu temen saya yang keliatan gagah, perlente, dan puinter di kelas, kalau sudah  mabok kok jadi keliatan berkurang sekian puluh persen yach he..he.. Aneka tema party-nya, yang di Italy ada tomato party hihihi, ada juga yang tema kolam renang, wah syerem ya.. dengan gadis-gadis berbikini, aduh itu teh kumaha, jadi geli… pesta, kehidupan bebas, bir dan anggur… hemmm.. katanya secara umum memang begitulah cara bersosialisasi, begitu cara mendapatkan teman atau pasangan, kebayang ya.. kalau kurang cantik, kegendutan, atau punya hal-hal fisik yang tidak populer, bisa terlempar dari kehidupan sosial :( ( duh aduh aduh aduh… kehidupan seperti apa ini?

Pada akhirnya, seperti yang ditatarkan di kedutaan Belanda waktu itu, seperti kucing dan ikan dalam toples, kalau kucingnya dimasukin dalam air di toples bisa mati kedinginan, atau ikannya dikeluarkan di toples bisa mati juga. Beda sistem nilai, kumaha deui… untuk saat ini, jangan dikriminalisasi.

Written by ibu didin

October 18th, 2010 at 12:59 pm