if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Agama’ Category

Kapan Hukuman Pembunuhan adalah Dibunuh?

without comments

Judul tulisan saya di atas mungkin menyeramkan. Menyebut kata “dibunuh” saja sudah membuat mulut bergetar, apalagi bila tangan melakukannya. Tapi, jika membaca berita di bawah ini, masihkah kita bertoleransi kepada pembunuh?

“Jangan bunuh saya. Kalau mau ambil uang, mobil dan harta ambillah. Tetapi tolong jangan bunuh saya. Saya masih ada anak dan istri,” kata Tyas menirukan perkataan terakhir korban saat dalam kondisi dijerat.

Tyas adalah seorang supir Go-Car di Palembang. Dia mendapat order dari empat pemuda, salah seorang diantaranya adalah mahasiswa. Keempatnya sudah merencanakan untuk menggasak mobil korban. Ketika sedang membawa keempat pemuda tadi, lehernya dijerat dengan tali dari belakang. Dia masih sempat melawan, tapi jeratan tali sangatlah erat. Saat sudah tidak berdaya lagi, dia memohon belas kasihan kepada keempat penjahat tadi agar jangan membunuhnya. Silakan ambil mobil dan uangnya, tapi jangan bunuh dirinya, sebab dia masih punya anak dan istri, katanya,  seperti penggalan kalimat yang saya tulis di atas. Tetapi ucapan memohon belas kasihan dari dirinya tidak mampu meluluhkan hati kempat penjahat tadi. Nyawanya lepas dari badannya, lalu tubuhnya dibuang ke rawa. Jenazahnya yang sudah membusuk baru ditemukan 40 hari kemudian. Baca beritanya di sini:  Saat Sopir Go-Car Dihabisi Tyas Dkk: Jangan Bunuh Saya.

Astaghfirullah. Sungguh sadis. Insya Allah korban mati dalam keaadaan syahid karena ia mati ketika sedang mencari nafkah buat anak istrinya. Pembunuhnya sudah membuat seorang anak menjadi yatim dan istri menjadi janda.

Apa hukuman yang pantas bagi keempat pembunuh tadi? Jawabnya adalah hukuman mati. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. Kalau sudah begitu, saya rindu dengan hukum Islam, sebab di dalam hukum Islam pembunuh harus mendapat hukuman yang sama, yaitu harus dimatikan juga.

Sayangnya hukum di negara kita bukan hukum Islam, meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. Negara kita memakai hukum peninggalan Belanda. Di dalam hukum positif yang berlaku sekarang, hukuman bagi pelaku pembunuhan paling tinggi adalah hukuman mati, tetapi itu paling tinggi. Kenyataannya tidaklah demikian, hukuman bagi pelaku pembunuhan biasanya beberapa tahun sampai belasan tahun. Hanya kasus pembunuhan yang sangat berat saja yang mendapat hukuman mati, itupun tidak langsung dilaksanakan, tetapi ditunda beberapa tahun hingga puluhan. Pelaku pembunuhan mendekam dulu di dalam penjara. Eksekusi sering ditunda karena berbagai alasan, lalu yang terjadilah adalah sikap mendua dan akhirnya menjadi pro kontra di tengah masyarakat.

Sebagian orang, termasuk pegiat HAM, beranggapan hukuman mati melanggar HAM. Janganlah menambah korban lagi dengan melakukan hukuman mati, katanya. Mereka tidak memikirkan HAM orang yang mati dan keluarganya. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi pada dirinya atau keluarganya? Apakah mereka akan memikirkan HAM juga?

Pada kasus-kasus pembunuhan yang berlangsung di pengadilan, sering kita baca atau lihat di TV  keluarga korban tidak kuasa menahan amarahnya melihat pelaku pembunuhan dihadirkan di ruang pengadilan. Mereka merangsek maju untuk melakukan pembalasan yang setimpal  kepada pelaku. Kalau perlu pelaku pembunuhan itu dibunuh saat itu juga. Jika pelampiasan amarah itu tidak berhasil dilakukan, keluarga korban berteriak-teriak kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku.

Yang paling merasakan duka kehilangan akibat pembunuhan adalah keluarga korban. Kita yang bukan bagian dari keluarga itu mungkin bersikap biasa saja karena kita tidak merasakan kepedihan mereka. Nyawa keluarga mereka yang menjadi korban tidak bisa diganti lagi. Rasa kasihan kepada pelaku, kasihan jika dihukum mati, tidak mampu menggantikan nyawa korban.

Hukum Islam tentang pembunuhan sungguh adil. Pelaku pembunuhan tidak langsung dijatuhi hukuman mati. Mereka menjalani sidang pengadilan terlebih dahulu. Jika dari proses pengadilan memang terbukti pelaku melakukan pembunuhan, maka hukumannya adalah hukuman mati (entah dengan cara ditembak, dipancung, atau dihukum gantung). Tujuannya adalah untuk membuat efek jera. Namun, ada kemungkinan pelaku bisa lolos dari jerat hukuman mati. Jika keluarga korban memaafkan pelaku, maka pupuslah hukuman mati. Pelaku pembunuhan cukup membayar diyat (atau uang denda) kepada keluarga korban yang besarnya ditentukan oleh keluarga korban.

Kembali ke kasus pembunuhan supir Go-Car di atas, dapatkah anda mengerti kenapa hukuman bagi pelaku pembunuh Tyas seharusnya juga dihukum mati dengan mengesampingkan perasaan belas kasihan?

Semoga hukum Islam tentang pembunuhan diadopsi menjadi hukum positif di negara kita supaya memenuhi rasa keadilan.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2018 at 5:12 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Menuju Haji 2018

without comments

Alhamdulillah, jika tidak ada halangan, saya mendapat undangan menjadi tamu Allah di Tanah Suci Mekkah dan Madinah pada tahun 2018 ini. Setelah menunggu selama enam tahun, akhirnya saya mendapat porsi haji tahun ini. Seperti yang saya tulis pada tulisan tahun 2012 (Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci), saya mendaftar haji pada awal tahun 2012 dan diperkirakan berangkat pada tahun 2018. Jadi, ada masa enam tahun bagi saya menunggu dapat porsi haji. Saya masih “beruntung” enam tahun, pendaftar sesudah saya beberapa bulan kemudian ada yang harus menunggu 10 tahun. Saya ikut ONH biasa, bukan ONH plus yang waktu tunggunya setahun.

Sekarang ini rata-rata waktu tunggu calon jamaah haji asal Jawa Barat untuk mendapat porsi haji sudah berada di atas 10 tahun, bahkan ada yang 15 tahun. Makin lama Anda menunda mendaftar haji, makin lama pula mendapat porsi haji. Sebaiknya jika Anda mempunyai uang minimal 25 juta, segeralah mendaftar haji ke bank penerima ONH, agar mendapat perkiraan waktu berapa lama menunggu untuk mendapat porsi haji. Entah kalau umur nanti masih sampai…

haji kabah 1

Setelah mendapat kepastian berangkat pada tahun ini (bisa dilihat di website Kemenag Haji), maka langkah selanjutnya adalah memutuskan apakah akan ikut rombongan KBIH (Kelompok  Bimbingan Ibadah Haji) atau haji mandiri (non-KBIH). Ada plus dan minusnya jika ikut KBIH atau non-KBIH. Jika ikut KBIH kita memang harus mengeluarkan uang tambahan sekitar 3,5 juta rupiah (minimal) untuk bimbingan ibadah haji dan lain-lain, sedangkan kalau non-KBIH (istilahnya haji mandiri), tidak perlu keluar biaya lagi. Kelebihan ikut KBIH adalah urusan administrasi kita ke kantor Kemenag sudah diurus oleh KBIH, kita tinggal beres saja, sedangkan kalau non-KBIH maka semuanya harus diurus sendiri.

Bagi orang yang sibuk dan tidak punya banyak waktu, maka ikut KBIH adalah pilihan yang realistis. Selain itu, bimbingan ibadah haji di KBIH sudah dimulai sejak Februari, sedangkan kalau non-KBIH bimbingan haji dilakukan sesudah Idul Fitri sebanyak enam kali (empat kali di KUA kecamatan dan dua kali di tingkat kabupaten/kota). Selebihnya ketika akan berangkat ke embarkasi  haji dan selama di Tanah Suci sama saja antara jamaah KBIH dan non-KBIH, dalam arti konsumsi dan akomodasi diurus oleh Pemerintah, begitu juga jamaah mendapat pembimbing ibadah haji per kelompok (jika ikut KBIH maka pembimbing hajinya dari KBIH).

Setelah mempertimbangkan banyak hal, maka akhirnya saya memilih ikut KBIH. Saya memilih sebuah KBIH yang kantornya di sekitaran Gedung Sate – Masjid Istiqamah Bandung dan sudah saya kenal reputasinya. Saya berangkat haji sendiri, istri saya sudah haji pada tahun 2011. Oh iya, kita harus memastikan bahwa KBIH yang kita pilih adalah KBIH yang legal dan terdaftar di Kemenag serta sudah dikenal reputasinya. Reputasi ini bisa kita cari di Internet atau dari cerita orang lain. Sudah sering kita dengar kisah pilu jamaah haji yang ditelantarkan KBIH-nya di Tanah Suci, maka jangan sampai terulang lagi kisah sedih demikian.

Bimbingan ibadah haji di KBIH sudah dimulai sejak Februari, tetapi saya baru ikut pada bulan Maret. Agak terlambat juga saya ini, tetapi untunglah masih berupa materi teori dan belum praktek manasik haji. Praktek manasik haji akan dilakukan pada bulan Juli nanti dimana calon jamaah haji menginap selama dua hari satu malam di sebuah tempat.

Bulan-bulan sebelum keberangkatan, maka bebarapa tindakan yang harus kita lakukan sendiri (tidak diurus oleh KBIH) adalah medical check-up dan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas. Pemeriksaaan kesehatan di Puskesmas hanya bisa dilakukan jika kita sudah melakukan full medical check up di klinik kesehatan. Hasil medical check up inilah yang harus dibawa ke Puskesmas.  Pemeriksaan kesehatan di Puskemas diperlukan untuk memastikan apakah calon jamaah haji dinyatakan cukup sehat untuk berangkat haji. Hasil pemeriksaan kesehatan ini menjadi rujukan boleh tidaknya kita melunasi setoran haji. Seperti diketahui ibadah haji memakan waktu sekitar 40 hari dan memerlukan ketahanan fisik dan kesehatan yang baik. Jika mengidap penyakit beresiko tinggi (penyakit jantung, stroke, diabetes, ashtma, gagal ginjal, dll) maka kita tidak disarankan untuk berangkat haji sampai menunggu kita sudah sehat betul.

Saya melakukan  full medical check up di sebuah klinik medis yang terkenal di kota Bandung. Pemeriksaan meliputi darah, urin, paru-paru, dan jantung. Dari sampel darah dan urin akan diukur kadar gula darah, kolesterol (HDL dan LDL), trigliserida, HB, golongan darah, dan kadar asam urat. Untuk paru-paru maka kita difoto rontgen, sedangkan pemeriksaan jantung menggunakan tes EKG untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jantung. Biaya full medical check up ini sekitar 1,2 juta rupiah. Sempat terjadi “drama” yang membuat saya shock, yaitu hasil EKG jantung saya ternyata salah, yang seharusnya normal (insya Allah) tetapi ditulis “suspect OMI dan CLV” (lupa saya singkatannya). Saya sempat harus dirujuk ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut, tetapi sebelum saya ke RS, pihak klinik menelpon kalau hasil EKG saya tertukar dengan diagnosa pasien lain. Masya Allah, bagaimana bisa sebuah klinik medis besar dan terkenal sungguh teledor memberikan hasil tes yang bukan sebenarnya. Mereka beberapa kali minta maaf atas kesalahan tersebut, tetapi permintaan maaf tersebut tidak mampu menghilangkan rasa shock saya selama beberapa hari yang membuat saya tidak bisa tidur dan merasa cemas. Saya anggap kejadian ini ujian kesabaran sebelum menunaikan ibadah haji. Astaghfirullah.

Hasil pemeriksaan medical check up ini lalu saya ke Puskesmas di Jalan Salam. Karena saya ikut KBIH, maka Puskesmasnya sudah ditentukan, jadi tidak bisa di sembarang Puskesmas. Di Puskesmas itu hasil medical check up  itu dibaca oleh dokter. Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab, misalnya pernah mendapat sakit apa saja, pernah diopname, riwayat kesehatan keluarga (orangtua), selain itu juga diukur berat dan tinggi badan. Setelah dokter Puskesmas memastikan saya sehat, maka data saya dimasukkan ke Siskohat (betul namanya demikian?) secara daring. Data ini dikirim ke Dinas Kesehatan kota Bandung untuk disetujui. Kita mendapat surat yang disebut surat Istitoah yang menyatakan kita sehat dan boleh untuk beribadah haji.

Nah, langkah selanjutnya adalah tindakan vaksinasi meningitis. Calon jamaah haji harus disuntik meningitis di Puskesmas yang ditunjuk. Rencananya saya akan disuntik besok. Selanjutnya pada tanggal 28 April nanti semua calon jamaah haji dari beberapa KBIH yang bekerjasama dengan Puskesmas Salam harus ikut tes kebugaran, yaitu lari keliling lapangan di GOR Saparua di Jalan Banda. Mungkin tes ini untuk mengetahui kebugaran jamaah, sebab sebagian besar ibadah haji adalah berjalan kakid ari suatu tempat ke tempat lain.

Kewajiban lain yang harus diurus sendiri adalah melunasi setoran ONH di bank penerima yang ditunjuk. Tahun ini besaran ONH adalah sekitar 35 juta rupiah lebih dua ratus ribu. Pada waktu mendaftar pertama kali kita harus menyetor 25 juta rupiah, jadi kekurangannya sekitar 10 juta lagi. Pelunasan setoran ONH ini menjadi bukti bahwa kita jadi berangkat tahun ini, jika tidak melunasi maka tertunda pada tahun selanjutnya dan porsi kita diambil dari waiting list berikutnya. Pada saat pelunasan di bank kita harus  membawa buku tabungan, BPIH asli, pas foto yang cukup banyak (3 x 4 dan 4 x 6 masing-masing lima lembar), materai 6000, dan surat Istitoah dari Puskesmas.  Nantinya, bukti pelunasan setoran ONH kat bawa ke KBIH, lalu KBIH yang mengurus pendaftaran final ke kantor Kemenag. Disarankan Anda menyiapkan pas foto sebanyak mungkin (sdkeiatar 50 lembar) karena untuk pendaftran akhir di Kemenag kita diminta foto 25 lembar lagi.

Jika semua sudah beres, maka kita tinggal menunggu waktu keberangkatan, apakah pada gelombang pertama atau pada gelombang kedua. Jamaah haji gelombang pertama langsung menuju Madinah (umrah dulu baru haji), sedangkan jamaah haji gelombang kedua langsung ke Mekah (haji dulu baru umrah). Kepastian waktu berangkat baru nanti kita ketahui pada saat bulan Ramadhan. Diperkirakan jamaah haji mulai berangkat setelah tanggal 20 Juli 2018. Sambil menunggu waktu keberangkatan tiba, maka perbanyaklah membaca buku bimbingan ibadah haji, dan yang paling penting adalah selalu menjaga kesehatan fisik dan mental, menjaga agar tubuh selalu bugar, sebab ibadah haji itu adalah ibadah yang berat.

Insya Allah, aku akan datang memenuhi panggilan-Mu nanti ya, Allah.

Written by rinaldimunir

April 3rd, 2018 at 3:43 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Mengapa terpikir bumi itu datar?

without comments

Dalam sebuah acara keagamaan, seorang ustad bercerita di depan jamaah bahwa dia sudah tidak percaya lagi bumi itu bulat seperti bola. Dia menyitir beberapa ayat di dalam Al-quran untuk mendukung argumentasinya bumi itu. Allah mengatakan dalam salah sebuah ayat yang artinya begini: “Dan bagaimana bumi itu dihamparkan” (Al-Ghasyiyah (88): 20), atau  “Dan bumi itu Kami hamparkan (farasynaha), maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)” Adz-Dzariyat (51): 48) . Masih banyak lagi kata-kata “menghamparkan” disebut di dalam Al-Quran (Baca: Benarkah Al Qur’an Menyatakan Bentuk Bumi Datar?). Kata “menghamparkan” mengesankan tempat yang datar, oleh karena itu tidaklah mungkin bumi itu bulat, demikian kata Pak Ustad. Beliau meneruskan lagi kata-katanya, jadi, selama ini kita telah dibohong oleh ilmuwan xxxxx dan xxxxxx (xxxxx yang dia sebut itu adalah nama dua agama).

Saya yang mendengarkan kajian Pak Ustad hanya bisa manggut-manggut saja.  Saya tidak ingin mendebatnya karena tidak ingin mempermalukannya di depan jamaah. Menurut saya, Pak Ustad ini sudah termakan kampanye komunitas flat earth (bumi datar) yaitu kelompok orang yang menolak pendapat bahwa bumi itu bulat dan lebih mempercayai bumi itu datar.  Sungguh saya sedih mendengarnya, apalagi kelompok ini sering menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk mendukung argumentasinya. Bukti-bukti imiah dari sains dan teknologi tidak mampu menggoyahkan keyakinan mereka. Mindset mereka tidak bisa lagi diubah, tetap bergeming dengan keyakinannya. Padahal  ijma’ (kesepakatan) para ulama sudah meyakini bahwa bumi itu bulat (baca ini: Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?).

Dogma bumi itu datar telah “memakan” banyak “korban”, termasuk orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.  Logika ilmu dijungkirbalikkan, ayat suci dimaknai secara letterlux. Padahal kata “menghamparkan” itu untuk memaknai bumi itu adalah tempat yang sangat luas, sangat luas dibandingkan diri manusia yang kecil. Karena luasnya itu, maka bumi tampak seperti hamparan.

Andaikan kaum yang mengklaim bumi itu datar mau lebih berpikir lebih jauh lagi, maka sesungguhnya bumi itu bulat sudah terbukti dengan jelas. Pergantian siang dan malam pada bagian bumi adalah contohnya. Keadaan siang terjadi karena bagian bumi disinari matahari, sebaliknya pada waktu yang bersamaan bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari mengalami gelap yang kita sebut malam. Andaikan bumi itu datar, pastilah seluruh bagian bumi mendapat sinar matahari sehingga tidak ada bagian bumi yang mengalami kegelapan. Ukuran matahari jauh lebih besar dari ukuran bumi, ribuan kali besarnya. Maka, tidak mungkin ada bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari jika bumi itu dianggap datar. Adanya bagian bumi yang mengalami siang dan bagian bumi lain mengalami  malam hari pada waktu yang sama hanya mungkin jika bumi itu bulat, tidak mungkin terjadi kalau bumi itu datar. Misalnya di Indonesia saat ini siang hari, sementara di Eropa dan Amerika pada saat yang sama sedang malam hari.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. ‘Ali `Imran [3] : 190)

Jika bumi itu memang datar lalu ada bagian bumi yang mengalami siang dan saat yang sama ada bagian bumi yang mengalami malam, maka hal itu hanya mungkin jika matahari itu sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan bumi. Karena kecilnya, maka saat matahari berada pada sebuah sisi, maka  pada sisi yang lain bagian bumi itu mengalami malam. Menganggap matahari berukuran jauh lebih kecil dari bumi jelas tidak masuk akal.

Saat ini, di tengah polarisasi bangsa yang terbelah akibat Pilpres dan Pilkada, istilah “kaum bumi datar” mengalami pergeseran makna. Istilah “kaum bumi datar” sering disematkan warganet kepada kelompok Islam yang kontra Ahok atau kepada orang-orang yang selalu mengkritik Pemerintah (Jokowi). Orang-orang yang kontra dengan Ahok atau Jokowi disebut “kaum bumi datar”  oleh para pendukung Jokowi/Ahok. Saya tidak tahu mengapa mereka disebut kaum bumi datar hanya karena memiliki pendapat  yang berseberangan dengan Pemerintah saat ini. Asal berseberangan, maka mereka dipukul rata sebaga kaum bumi datar.  Mendukung ustad A disebut kaum bumi datar, mendukung partai B disebut kaum bumi datar, mendukung tokoh ini atau tokoh itu disebut kaum bumi datar. Selama berbeda dengan Jokowi (atau Ahok) maka disebut kaum bumi datar.  Begitulah simplifikasinya.

Ditilik dari sejarah kelahirannya, kelompok flat earth sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Kelompok flat earth  lebih dulu muncul dari dunia barat. Silakan ketik “flat earth society” di Google, maka kita akan menemukan situs komunitas flat earth di luar negeri, misalnya  https://theflatearthsociety.org/home/. Dikutip dari laman Wikpedia,

Flat Earth Society (juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society) adalah sebuah organisasi yang memiliki keyakinan bahwa bumi berbentuk datar, bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Organisasi modernnya didirikan oleh seorang pria asal Inggris, Samuel Shenton pada 1956, dan kemudian dipimpin oleh Charles K. Johnson, yang menjadikan rumahnya di Lancaster, California, sebagai basis organisasi. Organisasi ini tidak lagi aktif semenjak kematian Johnson pada 2001, namun baru-baru ini organisasi Flat Earth Society dimunculkan kembali oleh presiden barunya, Daniel Shenton.

Karena itu, mengaitkan istilah kaum bumi datar kepada suatu agama atau kelompok agama jelaslah tindakan yang kebablasan bahkan keterlaluan. Menghubungkan kaum bumi datar dengan polarisasi politik juga adalah tindakan yang tidak semestinyqa dan hanya memperkeruh suasana saja.

Written by rinaldimunir

March 23rd, 2018 at 5:17 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Perihal Pemerintah Akan Menarik Zakat Gaji PNS

without comments

Menteri Agama baru-baru ini melontarkan wacana untuk mengeluarkan Peraturan Presiden tentang penarikan zakat 2,5 gaji ASN muslim. Dengan Perpres tersebut nanti zakat sebesar 2,5% langsung dipotong dari gaji ASN (Aparatur Sipil negara), termasuk PNS setiap bulan. Pemotongan zakat dari gaji bulanan tidak wajib, tetapi bersifat sukarela saja. Maksudnya, hanya bagi ASN yang bersedia saja dipotong zakat 2.5% dari gajinya, sementara bagi ASN tidak bersedia tidak akan dipotong. Kata Menag, zakat yang akan terkumpul dari gaji ASN jumlahnya mencapai triliunan.

Pemotongan zakat 2,5% dari gaji PNS bukan hal yang baru, beberapa pemerintah daerah suah lebih dulu melaksanakannya (Baca:  Lazimkah Zakat dari Pemotongan Gaji ASN/PNS?). Penyaluran zakat adalah untuk kemaslahatan umat juga, yaitu untuk pengentasan kemiskinan.

Rencana Pemerintah tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Saya pribadi tidak keberatan dipotong gaji untuk zakat. Zakat adalah kewajiban agama bagi orang yang mampu. Selama ini saya membayar zakat pada akhir tahun, yaitu dari semua sisa uang penghasilan yang saya tabung, lalu dikeluarkan zakat mal sebesar 2,5%.  Meskipun tidak mengeluarkan zakat setiap bulan dari gaji, tetapi saya selalu mengeluarkan dan infaq sedekah hampir setiap bulan kepada anak yatim dan fakir miskin, yang jumlahnya kalau ditotal seringkali lebih besar dari 2,5%.

Barangkali yang dimaksud oleh Menteri Agama zakat 2,5% dari gaji bulanan adalah zakat profesi atau zakat penghasilan. Zakat profesi adalah ijtihad para ulama, karena pada masa Nabi Muhammad istilah zakat profesi itu tidak ada.  Jenis-jenis zakat di dalam Islam adalah zakat fitrah dan zakat mal. Zakat mal terdiri dari  zakat hasil pertanian/hasil bumi, zakat binatang ternak, zakat barang galian, zakat harta karun.  Setahu saya istilah zakat profesi baru muncul sekitar tahun 90-an bersamaan dengan banyaknya tumbuh lembaga amil zakat di tanah air.

Menurut yang saya baca, perhitungan zakat profesi ini ada dua pendekatan. Pertama, langsung dipotong 2,5% dari gaji kotor apabila nilainya sudah mencapai nisab. Kedua, dari gaji tersebut dikeluarkan dulu biaya operasional yang bersangkutan, seperti biaya untuk konsumsi, transportasi, biaya anak sekolah, dan sebagainya, barulah dari sisanya jika mencapai satu nisab dikeluarkan zakat 2,5%. Sebagai patokan, yang digunakan adalah nisab emas. Nisab emas adalah 90 gram. Jadi, jika memiliki uang gaji setara lebih dari 90 gram emas, atau setelah dikeluarkan seluruh biaya operasional masih bersisa  lebihd ari satu bisab, maka dikelaurkan zakatnya 2,5%.

Saya sendiri agak kurang sepakat dengan istilah zakat profesi, sebab menurut pemahaman saya, CMIIW, zakat itu dikeluarkan jika sudah mencapai satu nisab dan sudah semasa putaran satu tahun (haul). Kalau gaji bulanan memang mungkin bisa mencapai satu nisab, tetapi belum mencapai masa satu tahun. Maka, sebagai gantinya, saya mengeluarkan sedekah atau infaq saja setiap bulan dari penghasilan yang saya terima. Barulah setelah mencapai satu tahun (biasanya pada akhir tahun) saya hitung semua simpanan uang saya di dalam tabungan, dan dari simpanan tersebut dikeluarkan zakat 2,5%.

Ada juga suara-suara yang mengaitkan pemotongan zakat ini dengan pajak. Jika setiap ASN muslim dipotong gajinya untuk zakat, maka sudah selayaknya bukti zakat dijadikan sebagai bukti pembayaran pajak dan bukan pengurang pajak sebagaimana yang berlaku sekarang (Baca:  Zakat Gaji ASN, Lalu Bagaimana dengan Status Pajaknya?).  Selain itu umat juga mempertanyakan siapa yang mengelola zakat ini,  lalu untuk apa digunakan, dan sebagainya, karena ada kekhawatiran umat zakat yang terkumpul triliunan rupiah menjadi sumber korupsi baru.

Apapun itu, saya setuju dengan zakat. Harta perlu disucikan, caranya dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk kaum papa. Sesungguhnya di dalam harta yang kita peroleh ada hak untuk orang miskin dan fisabilillah. Yang paling penting adalah jangan sampai ada kesan Pemerintah kita begitu cepat memanfaatkan umat kalau sudah menyangkut soal duit (ingat wacana menggunakan dana simpanan haji untuk pembangunan infrastruktur, dan sekarang zakat), tetapi di sisi lain measih melakukan praktek-praktek yang melukai hati umat (ingat kasus penangkapan ulama).

Written by rinaldimunir

February 9th, 2018 at 3:16 pm

Posted in Agama

Ketika Mahasiswiku Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

without comments

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya. Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari ini adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini juga memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.


Written by rinaldimunir

June 5th, 2017 at 2:50 pm

Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

without comments

Sebagai orang Islam, saya merasa cukup sedih ketika umat Islam dituding intoleran, radikal, anti-kebhinnekaan, anti-NKRI, anarkis, dan sebagainya. Sebutan-sebutan negatif itu berlangsung selama Pilkada DKI berlangsung hingga Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tinggi Jakarta Utara baru-baru ini.

Pilkada DKI memang kental dengan nuansa SARA. Puncaknya ketika Ahok dianggap menistakan Al-Quran dengan kasus Al-Maidah 51 yang sama-sama kita ketahui. Pro kontra terhadap ucapan Ahok itu telah membangkitkan sentimen keagamaan yang meluas ke seluruh tanah air. Aksi-aksi Bela Islam yang bertubi-tubi yang diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan umat Islam di Jakarta,  demo di mana-mana di seluruh negeri, dan perang kata-kata di media sosial, telah membuat situasi negara ini menjadi tambah panas. Hampir-hampir saja negara ini diambang perpecahan. Peserta demo-demo itu dituding anti-kebhinnekaan, radikal, intoleran, dan anti NKRI. Saya tidak mengerti kenapa disebut demikian, mungkin karena yang demo itu memakai sorban, peci, berbaju putih-putih, menggemakan takbir, dan sasaran demo adalah Ahok yang kebetulan non-muslim dan beretnik Tionghoa. Padahal yang diperjuangkan oleh peserta demo adalah tindakan hukum, bukan agama orang lain atau etnik.

Setelah Pilkada diketahui hasilnya, yang ternyata Ahok kalah, maka media asing pun ramai memberitakannya. Media asing menuding kemenangan Anis-Sandi adalah kemenangan kaum radikal dan menunjukkan meningkatnya intoleransi. Publik di dalam negeri yang Pro Ahok ikut-ikutan mengamini tudingan media luar negeri tersebut.  Itu artinya 58% pemilih DKI yang memilih Anies-Sandi (sekitar 3,2  juta pemilih) seluruhnya dianggap kaum radikal dan intoleran, dan 42% yang memilih Ahok dianggap toleran dan tidak radikal. Kesimpulan yang sama sekali gegabah, sebab, meski ada yang memilih karena alasan agama, lebih banyak warga DKI tidak memilih Ahok bukan karena pertimbangan agama, tetapi karena faktor attitude Ahok dan serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa tenang yang telah menggerus elektabilitasnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti pembagian sembako, kasus Steven yang mendiskreditkan pribumi, dan iklan kampanye Ahok yang kontroversial.

Pasca Pilkada, ternyata kegaduhan di dalam negeri belum usai. Sidang Ahok berakhir klimaks dengan vonis hukuman penjara dua tahun yang diberikan oleh hakim. Hakim memerintahkan Ahok ditahan. Media luar negeri pun kembali nyinyir dengan menyebut hukuman kepada Ahok sebagai bukti intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Mereka menyebut vonis tersebut adalah hasil tekanan massa. Itu artinya media luar negeri meragukan independensi hakim Indonesia.

Para pendukung Ahok yang belum bisa move on tidak terima Ahok dipenjara. Mereka melakukan unjuk rasa dan menuntut Ahok dibebaskan. Dalam aksi unjuk rasanya mereka kembali menghina ulama dan menyebut vonis ini adalah akibat kaum radikal yang anarkis dan intoleran dan anti-NKRI.

Kawan. Umat Islam Indonesia sangat cinta NKRI. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangan dengan darah para syuhada dan ulama. Mana mungkin umat Islam mengkhianati hasil perjuangannya sendiri dengan mengancam NKRI?

Umat Islam tidak anti Pancasila. Sila-sila di dalam Pancasila itu adalah perwujudan ajaran Islam. Umat Islam tidak menuntut negara Islam. Soal dasar negara ini sudah selesai ketika para tokoh Islam pada tahun 1945 berbesar hati menghilangkan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemisahan oleh saudara sebangsa di kawasan Indonesia Timur.

Umat Islam tidak anti kebhinnekaan. Sudah lama umat Islam hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama berbeda. Di Indonesia tidak hanya hari penting agama Islam saja yang dijadikan hari libur nasional, semua agama mendapat hari libur untuk hari rayanya. Bahkan hari Jumat tidak dijadikan hari libur, justru hari minggu yang menjadi hari libur. Kita hampir tidak menemukan libur nasional untuk hari raya umat Islam di Amerika, Inggris, Jerman maupun Perancis, mereka adalah negara-negara yang dianggap mbah-nya demokrasi.

Umat Islam bukanlah orang radikal, ekstrimis, teroris. Perilaku radikal sekelompk orang tidak dapat digeneralisasi bahwa semua orang Islam adalah radikal, ekstrimis, dan teroris. Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik  lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tetib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.

Kawan. Jangan kau benturkan Islam dengan label-label yang menyesatkan itu.  Indonesia bukan hanya soal Ahok. Indonesia adalah negara besar. Terlalu habis energi bangasa kita ini hanya mengurus masalah satu orang, padahal masih banyak persoalan bangsa ini yang menuntut perhatian.


Written by rinaldimunir

May 12th, 2017 at 5:04 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Ajakan Sholat Subuh Berjamaah yang Simpatik

without comments

Suatu siang ketika melewati Jalan Jakarta di depan Rutan Kebonwaru Bandung, mata saya tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpasang pada sebuah papan billboard. Bunyi tulisan di dalam spanduk tersebut cukup simpatik. Mulai Hari Ini, Jangan Lewatkan Sholat Subuh Berjamaah di Masjid, begitu bunyinya. Beberapa spanduk yang sama juga terpasang di beberapa papan billboard di jalan-jalan utama kota kembang.

subuh

Tak penting siapa yang memasang  spanduk iklan tersebut, namun isinya menggugah kesadaran umat Islam untuk meramaikan masjid dengan sholat Subuh berjamaah. Gerakan sholat subuh berjamaah  di masjid cukup gencar didengungkan pasca aksi 212 tahun lalu. Secara bergilir para pemimpin ummat ini menghadiri sholat Subuh berjamaah di berbagai kota di tanah air. Hasilnya memang terlihat, masjid-masjid besar di berbagai kota diramaikan dengan umat Islam yang melaksanakan sholat Subuh berjamaah.

Secara kebetulan, Walikota Bandung Ridwan Kamil juga membuat gerakan sholat subuh berjamaah di kota Bandung (Baca: Ridwan Kamil Sasar Anak Muda Buat Gerakan Subuh Berjamaah). Mungkin saja spanduk pada billboard yang saya lihat di atas berhubungan  dengan gerakan yang dicanangkan Kang Emil.

Siapapun yang mempelopori gerakan sholat Subuh berjamaah di masjid, itu adalah ajakan yang sangat baik. Masjid adalah pusat berkumpulnya ummat Islam. Kecuali sholat Jumat, selama ini di kebanyakan masjid sepi dari shalat berjamaah, hanya satu sampai dua shaf saja yang terisi. Dengan memulai hari melalui sholat berjamaah di masjid, diharapkan lahir generasi muda yang mencintai masjid dan menegakkan sholat.

Oh ya, seortang teman berkomentar tentang spanduk pada papan billboard di atas. Rasanya adem melihat spanduk tersebut, ketimbang diisi dengan iklan rokok atau minuman.


Written by rinaldimunir

February 3rd, 2017 at 3:14 pm

Posted in Agama

ATM Beras dari Masjid Salman ITB

without comments

Ada yang baru di Masjid Salman ITB, yaitu keberadaan sebuah ATM beras di pojok kantor masjid (depan kantor satpam). Biasanya ATM mengeluarkan uang, tapi ATM yang satu ini dapat mengeluarkan beras! Dengan menempelkan kartu elektronik RFID (Radio Frequency Identification) di bagiancard reader, maka ATM akan mengeluarkan beras dalam jumlah tertentu secara otomatis. Sewaktu makan di kantin Salman kemarin saya melihat ATM beras ini, gambar di bawah ini wujudnya, mirip seperti ATM biasa, namun isinya beras.

atmberas1

Tidak semua orang dapat mengambil beras dari ATM beras (disingkat ATMB), tetapi beras yang ada di dalamnya hanya untuk kaum dhuafa saja, dan tentu saja dibagikan secara gratis. Jadi ATM ini bersifat sosial, karena tujuannya untuk membantu kaum fakir miskin yang karena kemiskinannya tidak mampu membeli beras. Kaum dhuafa (fakir dan miskin) yang berhak diseleksi terlebih dahulu lalu dibagikan kartu elektronik yang mirip seperti kartu ATM biasa.

atmberas2

Pencipta ATMB ini adalah alumni Salman bernama Budiaji.Budiaji sendiri adalah alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1980.  Dikutip dalam laman http://kabar.salmanitb.com, Budiaji mengatakan:

ATMB ini bisa ditempatkan di masjid-masjid, kantor kelurahan, kantor-kantor BUMN, sekolah,  kampus atau di lokasi kantong-kantong kemiskinan lainnya.  Bahkan bisa jadi di area rumah orang kaya untuk menyantuni fakir miskin di sekelilingnya. “Bisa juga temporary ditempatkan di area bencana. Sumber berasnya bisa dari pemerintah (raskin), CSR (Corporate Social Responsibility), zakat, atau masyarakat yang peduli lainnya,” tutur alumni Asrama Masjid Salman ITB ini,

Secara fisik, perangkat ini berukuran 60 cm x 60 cm x 160 cm, berbentuk kotak/lemari, mirip mesin ATM biasa berkapasitas sekitar seperempat ton beras. Mesin ini juga dilengkapi dengan perangkat elektroniknya, modem hybrid untuk network GSM/satelit untuk daerah terpencil, serta sistem kontrol dan pemantauan berbasis  M2M (machine to machine) / IoT (Internet of Things).

Budiaji pun memaparkan, sistem pengelolaan dan pengawasan dibuat secara transparan sehingga masyarakat luas bisa mengakses via internet tentang data orang miskin yang disantuni, jumlah beras yang dibagikan, dan rincian pendistribusiannya. Selain itu, sistem juga akan memantau status level beras yg tersedia di tiap-tiap ATMB.

“Ditargetkan ke depan bahwa tidak boleh ada lagi rakyat yang lapar di negeri ini yang terpaksa mengemis di mana-mana. Lebih jauh lagi dari itu, ATMB ini bisa dikembangkan dan diproduksi lebih luas untuk penjualan beras secara otomatis melalui transaksi kartu elektronis,” katanya. Budiaji berharap, umat Muslim bisa lebih mengembangkan nilai-nilai kesalehan sosial melalui ATMB.

Hingga saat ini kaum dhuafa yang berhak mendapatkan beras dari ATMBN bejumlah 49 orang. Dikutip dari laman Antara,

Mekanisme penarikan beras dari mesin tersebut diatur berdasarkan jenis kartu yang dimiliki warga yakni bagi warga yang memiliki kartu kategori A bisa mengambil beras pada hari Selasa dan Jumat, bagi warga pemilik kartu kategori B mengambil beras pada hari Rabu dan Sabtu dan warga pemilik kartu kategori C bisa mengambil beras pada hari Kamis dan Minggu. Satu kali transaksi warga bisa menarik beras dari ATM Beras ini sebanyak 1,65 kg atau sekitar dua lite.

Semoga keberadaan ATMB dapat diproduksi secara massal dan dapat dijadikan ladang amal sholeh untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan. Saya mengapresiasi Mas Budiaji yang telah menemukan ATMB dan kepada Masjid Salman ITB yang mempelopori pemanfaatan ATMB untuk membantu mengentaskan kebutuhan pokok kaum dhuafa. Jazakallah.


Written by rinaldimunir

December 7th, 2016 at 4:25 pm

Posted in Agama,Seputar ITB

Surat Al-Maidah 51 yang Dipermasalahkan

without comments

Perdebatan tentang kasus bermuatan agama  yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok, tentang  Surat Al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu akhir September yang lalu tampaknya belum akan selesai. Ahok memang sudah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan dari ucapannya itu (Ahok bersikukuh tak ada yang salah tentang ucapannya itu, tetapi hanya meminta maaf atas kegaduhan yang timbul), dan permintaan maafnya sudah diterima, namun kasus ini tetap diproses secara huku karena ormas-ormas Islam sudah membawa masalah ini ke ranah hukum. Kita tunggu keseriusan polisi dalam menangani kasus ini.

Kesalahan Ahok menurut saya bukan pada surat Al-Maidah yang dia permasalahkan itu, tetapi karena penggunaan kata “bohong” yang disambungkannya dengan surat Al-Maidah 51. “Ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, kalau tidak mau pilih saya karena dibohongin dengan memakai Al-Maidah ayat 51 dan macam-macam.“, katanya. Memang Ahok tidak mengatakan Surat Al-Maidah itu bohong, atau Al-Quran itu bohong. Tidak. Tetapi, menyandingkan  kata “bohong” dengan ayat suci dampaknya sangat besar. Kata “bohong” adalah kata yang negatif. Kalimat Ahok ini bisa ditafsirkan dua macam:

(1) Para ulama yang mengajarkan ayat tersebut di dalam ceramah agama berarti telah melakukan kebohongan. Jadi jika ulama membahas Surat Al-Maidah 51 di dalam pengajian kepada ummat berarti mereka telah mengajarkan kebohongan.

(2) Kata “memakai” biasanya diikuti dengan kata objek. Misalnya “dipotong dengan memakai pisau”, maka pisau adalah alat untuk memotong. Pada pernyataan Ahok di atas berarti Surat Al-Maidah 51 adalah alat untuk melakukan kebohongan.

Andaikan Ahok tidak menyebut kata “bohong” sehingga kalimatnya menjadi begini:

Ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, kalau tidak mau pilih saya karena memakai Al-Maidah ayat 51 dan macam-macam.

maka tidak akan ada kegaduhan yang timbul. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata yang terucap tidak dapat ditarik lagi. Forgiven but not forgotten.

Dalam pandangan saya, Surat Al-Maidah ayat 51 itu tidak ada yang salah. Ia merupakan Wahyu Allah SWT yang dijadikan tuntutan bagi orang Islam dalam memilih wali, pemimpin, atau teman dekat (kata awliya di dalam ayat tersebut bisa diartikan wali,  pemimpin, atau teman dekat). Karena merupakan tutunan agama, maka siapapun yang mengimani Kitab Suci maka ia wajib mematuhinya, namun jika anda tidak mau mempercayainya juga terserah anda, karena pertanggungjawaban setiap individu adalah pada Hari Akhir nanti.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2016 at 8:23 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Rasulullah Sudah Mengajarkan Cara Mandi yang Benar dan Sehat

without comments

Sebuah artikel yang saya kutip dari laman web ini tampaknya masuk akal, meskipun secara medis perlu mendapat penjelasan yang lebih ilmiah. Saya akan mengulasnya di bawah ini:

Sering kita dengar banyak orang jatuh dan terkena stroke di dalam kamar mandi. Yang jadi pertanyaan mengapa tidak di tempat lain? Perlu untuk direnungkan mengapa kita selalu mendengar kabar orang jatuh di kamar mandi akibat serangan stroke. Mengapa kita jarang mendengar orang jatuh akibat serangan strok ditempat tempat lain?

Seorang penceramah professor di universitas di Malaysia, UITM,  yang juga terlibat dengan kegiatan olah raga negara menasihatkan supaya pada waktu mandi jangan membasahi kepala dulu, namun basahi bagian badan lainnya.

Ini karena apabila kepala basah dan dingin, secara tiba-tiba darah akan dipompa mengalir ke kepala untuk menghangatkan kepala, logika ‘warm blooded human’. Dan jika ada saluran pembuluh darah di daerah kepala yang mengalami penyempitan akibat kolesterol atau lainnya maka dapat terjadi kondisi pecahnya pembuluh darah akibat derasnya aliran darah yang tiba-tiba di kepala. Ini kerapkali berlaku di kamar mandi.

Berikut cara mandi yang benar :

1. Pertama siramkan air di telapak kaki.
2. Kemudian dilanjutkan dengan segayung di betis.
3. Segayung di paha.
4. Segayung di perut.
5. Segayung di bahu.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik

Kita akan merasakan seperti uap/ angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan meremang, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.

Ini ibarat sebuah gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas akan retak,  bahkan pecah!

Jika perubahan suhu yang tiba-tiba ini terjadi pada tubuh kita apa yang retak dan pecah?

Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau kepala, uap yang harusnya keluar jadi terperangkap dan dapat membawa maut karena pecahnya pembuluh darah.

Maka sebab itu kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba kena ‘stroke’. Boleh jadi kita sering masuk angin karena cara mandi kita yang salah. Boleh jadi kita sering migrain kerana cara mandi yang salah.

Cara mandi ini baik bagi semua umur terutama yang memunyai sakit diabetes, darah tinggi, kolesterol dan migrain/ sakit kepala sebelah.

~~~~~~~~

Cara mandi seperti yang dituliskan dalam artikel di atas sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah mengajarkan kita tatacara mandi besar  atau mandi wajib (misalnya karena junub, mimpi basah, selepas haid, dsb). Mandi besar dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan, mencuci kemaluan, lalu berwudhu.  Ini adalah sebuah cara adaptasi agar tubuh tidak kaget dengan air (dingin). Selanjutnya, setelah berwudhu, mulailah menyiram kepala sehingga  seluruh tubuh basah dengan air (baca: Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah).

Tidak hanya ketika mandi besar, untuk mandi yang lain pun kita disunnahkan berwudhu terlebih dahulu. Maknanya selain untuk menyucikan, juga agar tubuh beradaptasi dengan air, sehingga terhindar dari stroke  karena mendapat kejuatan dingin tiba-tiba.

Demikianlah, Rasulullah sudah mencontohkan mandi yang benar dan sehat sejak 15 abad yang silam, sebelum ilmu pengetahuan kemudian menemukan kebenarannya. Shalawat dan salam teercurah padamu ya Rasulullah.


Written by rinaldimunir

September 27th, 2016 at 6:24 pm

Posted in Agama,Gado-gado