if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Agama’ Category

George Floyd dan Teringat Khutbah Rasulullah di Arafah

without comments

Hari-hari ini negara Amerika Serikat dilanda aksi gelombang unjuk rasa besar-besaran di seluruh negara bagian setelah tewasnya warga kulit hitam bernama George Floyd. pada tanggal 25 Mei 2020. George Floyd, seorang lelaki Afrika-Amerika, tewas setelah seorang polisi Minneapolis berkulit putih Derek Chauvin menginjak dengan lutut di leher Floyd selama setidaknya tujuh menit.

74-persen-warga-as-nilai-kematian-george-floyd-berakar-masalah-ketidakadilan-rasial

Dalam video-video yang dikirim ke grup media sosial aksi runjuk berubah menjadi aksi kerusuhan, pembakaran, dan aksi penjarahan toko-toko dan supermarket. Situasi di Amerika berubah menjadi chaos.  Masyarakat Amerika menumpahkan kemarahannya atas aksi rasisme yang tidak pernah kunjung berhenti sejak negara itu berdiri, terutama menimpa warga kulit hitam dan kulit berwarna lainnya.

Rasisme  sudah lama berlangsung di banyak negara, tidak hanya di Amerika saja. Rasisme, terkadang disebut juga rasialisme, memandang ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Misalnya bangsa kulit putih memandang lebih superior dari bangsa kulit hitam, bangsa Yahudi merasa lebih unggul dari bangsa lain. Meskipun dunia sudah modern namun tindakan-tindakan merendahkan orang lain karena perbedaan biologis yang melekat pada diri orang lain masih berlangsung hingga saat ini.

Berkaca dari kasus George Floyd di AS, 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada ummat manusia bahwa kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT hanya dilihat dari ketaqwaannya, bukan dari sisi ras, warna kulit, suku, maupun atribut identitas lainnya seperti harta, kecantikan, dan sebagainya.

Dalam khutbah terakhir Rasulullah saat wukuf di Padang Arafah tanggal 9 Zulhijjah tahun 10 H (atau tahun 632 M), Rasulullah melarang keras segala bentuk rasisme. Beliau mengatakan bahwa semua manusia berasal dari Adam dan Hawa, orang Arab tidak memiliki keunggulan dibandingkan orang non-Arab, orang non-Arab tidak memiliki keunggulan dibandingkan orang Arab. Begitu pula orang kulit putih tidak memiliki kelebihan dibandingkan orang kulit hitam, demikian pula sebaiknya. Orang yang lebih mulia di sisi Allah dinilai adalah orang yang paling bertaqwa.

Berikut kutipan dari khutbah Rasulullah yang bunyinya kira-kira sebagai berikut:

Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik daripada yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia daripada yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia daripada orang Arab. Begitu pula orang kulit berwarna dengan orang kulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dengan orang kulit berwarna, kecuali karena takwanya.”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad:

Wahai sekalian umat manusia, ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu satu (esa). Nenek moyangmu juga satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa selain Arab (Ajam), dan tidak ada kelebihan bangsa lain (Ajam) terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah (puith) terhadap yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan yang berkulit hitam dengan yang berkulit merah (putih), kecuali dengan taqwanya”. (HR. Ahmad, 22978).

Dalam surat Al-Hujarat Allah SWT berfirman bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan untuk saling bermusuhan, tetapi untuk saling mengenal. Orang yang paling mulai di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang pria dan wanita, dan menjadikanmu berbagai bangsa dan suku agar saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Tahu lagi waspada” (QS. al-Hujarat,49: 13).

Malcolm X, seorang pemimpin warga kulit hitam Amerika yang berjuang melawan rasisme di Amerika pada tahun 1950-an dan 1960-an, pada bulan April 1964 menunaikan ibadah haji pada tahun 1964.  Malcolm X yang bernama asli Malik El-Shabazz berteman baik dengan pendeta Martin Luther King, Jr.  Di Tanah Suci Mekah dia mendapatkan pengalaman luar biasa yang belum pernah dia rasakan di Amerika.  Ia terkejut dengan kesetaraan manusia di Tanah Suci.  Jamaah haji dengan beragam warna kulit dan ras datang dari segala penjuru bumi. Mereka duduk, makan bersama-sama, dan beribadah bersama-sama tanpa ada perbedaan.

Dari tanah suci Makkah Malcolm X menulis sepucuk surat kepada para sahabatnya di Harlem, New York. Berikut ini adalah isi surat itu, seperti dikutip dari sini:

“Belum pernah saya menyaksikan keramahtamahan yang tulus dan semangat persaudaraan yang luar biasa seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang dari semua warna kulit dan ras di sini, di Tanah Suci ini yang merupakan rumah Abraham (‘alaihi salam), Muhammad (?) dan semua Nabi Suci lainnya. Selama sepekan ini, saya tak bisa berkata sepatah kata pun karena terpesona oleh keanggunan orang-orang dari semua warna kulit yang tampak di sekitar saya.”

“Saya telah diberkahi untuk mengunjungi Kota Suci Makkah. Saya mengelilingi Ka’bah (tujuh kali), dipimpin oleh seorang Mutawaf muda bernama Muhammad. Saya minum air dari sumur Zam Zam. Saya berlari tujuh kali antara bukit Al-Safa dan Al-Marwah. Saya berdoa di kota kuno Mina, dan saya berdoa di Gunung Arafat.”

“Ada puluhan ribu peziarah dari seluruh dunia. Mereka berasal dari semua warna kulit, dari yang pirang bermata biru hingga orang Afrika berkulit hitam. Tapi kami semua menunaikan ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan. Hal ini membuat saya percaya bahwa tidak akan pernah ada perbedaan antara yang putih dan yang bukan putih.”

“Amerika perlu memahami Islam, karena ia adalah satu-satunya agama yang menghapus masalah ras dari masyarakat. Sepanjang perjalanan saya di dunia Muslim, saya telah bertemu, berbicara, dan bahkan makan bersama orang-orang yang di Amerika dianggap kulit putih – namun perilaku kulit putih (yang biasanya terlihat di Amerika) terhapus dari pikiran mereka oleh ajaran Islam. Saya belum pernah melihat persaudaraan yang tulus dan sejati ditunjukkan oleh semua warna kulit seperti yang saya saksikan di Tanah Suci.”

“Anda mungkin terkejut dengan kata-kata yang datang dari saya. Namun selama perjalanan ini, apa yang saya lihat dan alami, membuat saya harus menata ulang banyak pola pikir yang sebelumnya saya pegang, dan membuang beberapa kesimpulan saya sebelumnya. Hal tidak terlalu sulit bagi saya. Terlepas dari keyakinan saya, saya selalu menjadi orang yang mencoba menghadapi fakta, dan menerima kenyataan hidup sebagai pengalaman dan pengetahuan baru. Saya selalu tetap berpikiran terbuka agar bisa mendapat kelenturan yang harus berjalan seiring dengan setiap bentuk pencarian demi kebenaran.”

“Selama sebelas hari di dunia Muslim ini, saya makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di alas yang sama – sembari berdoa kepada Tuhan yang sama – bersama dengan seluruh Muslim, yang matanya paling biru dari yang biru, yang rambutnya paling pirang dari yang pirang, dan yang kulitnya paling putih dari yang putih. Dalam setiap kata dan perbuatan Muslim kulit putih, saya merasakan ketulusan yang sama dengan apa yang saya rasakan di antara Muslim Afrika kulit hitam dari Nigeria, Sudan dan Ghana.”

“Kami benar-benar sama (bersaudara) – karena kepercayaan mereka pada satu Tuhan telah menghilangkan dominasi kulit putih dari pikiran mereka, perilaku mereka, dan dari sikap mereka.”

“Dari gambaran ini, saya pikir mungkin jika orang kulit putih Amerika dapat menerima Keesaan Tuhan, maka mungkin juga, mereka dapat menerima kenyataan bahwa manusia itu sama – sehingga mereka tidak akan lagi menilai, menghalangi dan menyakiti orang lain karena perbedaan warna kulit.”

“Dengan rasisme yang menjangkiti Amerika seperti kanker yang tidak dapat disembuhkan, hati orang kulit putih ‘Kristen’ harus lebih menerima solusi yang telah terbukti menyelesaikan masalah destruktif seperti itu. Mungkin ini saatnya menyelamatkan Amerika dari bencana yang akan segera terjadi – kehancuran yang disebabkan oleh rasisme yang digaungkan Jerman namun akhirnya meluluhlantakkan bangsa itu sendiri.”

“Setiap jam di sini, di Tanah Suci memungkinkan saya untuk mendapatkan wawasan spiritual yang lebih besar tentang apa yang terjadi di Amerika antara hitam dan putih. Negro Amerika tidak pernah dapat disalahkan karena permusuhan rasial – mereka hanya bereaksi terhadap empat ratus tahun rasisme kulit putih Amerika. Namun ketika rasisme mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya percaya, dari pengalaman yang saya miliki dengan mereka, bahwa kulit putih dari generasi muda, di perguruan tinggi dan universitas, akan melihat catatan di dinding dan banyak dari mereka akan beralih ke jalan spiritual kebenaran – satu-satunya cara yang tersisa bagi Amerika untuk mencegah bencana akibat rasisme.”

“Belum pernah saya merasa sangat terhormat. Tidak pernah saya dibuat merasa lebih rendah hati dan tak ada artinya. Siapa yang akan percaya pada keberkahan yang dianugerahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa malam yang lalu seorang pria – yang di Amerika disebut kulit putih – yang merupakan diplomat PBB, seorang duta besar dan pendamping raja, memberikan kamar hotel dan tempat tidurnya untukku. Saya bahkan tidak pernah terpikir untuk bermimpi akan menerima penghargaan seperti itu – penghargaan yang di Amerika hanya akan diberikan kepada seorang raja – bukan seorang Negro.”

“Segala puji bagi Allah (?), Tuhan semesta alam.”

“Salam hormat,”

“Haji Malik El-Shabazz (Malcolm X)”

Demikianlah, Nabi Muhammad mendorong manusia untuk berjuang melawan rasisme. Rasisme merupakan sumber penyebab kesombongan di dalam diri manusia. Saat dunia semakin beragam dan saling berhubungan, sangat penting bagi kita untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW tentang kesetaraan tentang kesetaraan dan keadilan di antara umat manusia. Tidak ada manusia yang merasa lebih baik dari manusia lainnya hanya karena perbedaan ras, etnik, maupun atribut fisik lainnya. Semua sama di hadapan Allah SWT, karena Allah yang menciptakan semua manusia. Yang membedakan manusia di hadapan Allahnya hanya dari segi iman taqwa saja.

 

Written by rinaldimunir

June 6th, 2020 at 2:47 pm

Posted in Agama,Dunia oh Dunia

Hadis Nabi tentang Isolasi Wilayah

without comments

Beberapa negara telah menerapkan lockdown di wilayahnya untuk membatasi penularan virus corona. China (khususnya di propinsi Hubei), Italia, Malaysia, India, Spanyol, dan beberapa negara lain melakukan lockdown.

Lockdown adalah istilah lain untuk isolasi wilayah. Sebuah wilayah di-lockdown artinya wilayah tersebut ditutup atau diisolasi dari akses keluar masuk orang ke atau dari wilayah tersebut.  Tidak hanya sekdar ditutup, warga di dalam wilayah lockdown tidak boleh keluar rumah, mereka harus tetap berada di dalam rumah di rumah, kecuali keluar rumah untuk urusan yang penting seperti membeli makanan dan obat-obatan.

Indonesia memang tidak menerapkan lockdown dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan utama adalah ekonomi, Intinya Pemerintah tidak siap bila melakukan lockdown, dengan kata lain tidak punya dana yang cukup, sebab pemberlakuan lockdown konsekuensinya Pemerintah harus menyediakan makanan untuk rakyanya yang harus tinggal di rumah. Menyediakan makanan untuk 270 juta rakyat Indonesia untuk jangka waktu yang tidak pasti darimana uangnya?

Selain itu, untuk menerapkan lockdown, perlu pengerahan pasukan keamanan untuk menjaga warga agar mematuhi aturan tidak berkeliaran di luar rumah. Jumlah polisi dan tentara di negara kita tidka sebanding dengan jumlah penduduk.

Hingga saat ini wabah virus corona di China sudah hampir berakhir, sebaliknya gelombang kedua virus ini berkembang dengan pesat di luar China, terutama di wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Benua Eropa dan Amerika menjadi pusat (episentrum) pandemi baru virus corona. Jumlah kasus positif corona (COVID-19) di Amerika saja sudah di atas 200 ribu, di Italia dan Spanyol sudah 119 ribu, jauh melebihi kasus posittif corona di negeri asalnya (China). Jumlah kematian pasien corona di negara-negara itu juga jauh melebihi jumlah kematian di China.

corona-4-April-2020

Jumlah kasus positif COVID-19 di sejumlah negara (data tanggal 4 April 2020). Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Beberapa negara berhasil melakukan lockdown, misalnya China.Beberapa lagi tidak terlalu berhasil seperti Italia. Penyebabnya adalah faktor kedisiplinan. Rakyat China cukup disiplin, mereka mematuhi aturan Pemerintahnya yang menerapkan lockdown. Sebaliknya di Italia, warganya menganggap enteng virus corona, mereka tetap berkeliaran di luar rumah, tidak memakai masker. Beberapa jam sebelum penerapan lockdown di Italia bagian utara (Lombardy dan sekitarnya), ribuan warganya keluar wilayah Italia utara, pergi ke selatan ke kampung halamannya atau ke tempat saudaranya. Akibatnya fatal, mereka bagaikan anak panah yang melesat membawa virus corona ke wilayah lainnya di Italia. Jadilah negara Italia sangat parah saat ini dilanda wabah virus.

Hal yang hampir mirip terjadi di negara kita. Himbauan untuk tetap tinggal di rumah (work from home), sekolah-sekolah diliburkan, pembatasan jarak (social distancing), matinya perekonomian, kehilangan mata pencaharian, dan menyebarnya isu bahwa Jakarta akan dikarantina, membuat para kaum migran mudik ke kampung halamannya. Padahal Jakarta adalah pusat pandemi corona, kasus positif corona sebagian besar ada di Jakarta. Warga Jakarta yang mudik ini dikhawatirkan  bagai anak panah yang membawa virus corona ke kampung halamannya. Terbukti kasus-kasus positif corona di berbagai daerah muncul setelah kepulangan warga Jakarta ke daerah asalnya.

Seharusnya jika di sebuah wilayah sedang menyebar wabah penyakit, warga di wilayah itu dilarang keluar wilayahnya, dan warga dari luar juga dilarang masuk ke wilayah itu. Apapunlah namanya, baik isolasi, karantina, atau lockdown, wilayah tersebut harus dikunci agar wabah tidak menyebar keluar.

Saya teringat sebuah hadis Rasulullah Muhammad SAW yang sangat pas dengan kondisi pandemi corona. Saat itu di wilayah Arab sedang berkembang wabah penyakit. Rasulullah pun memerintahkan ummat untuk menghindari wilayah yang terkena wabah.

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sudah benar yang dilakukan oleh Pemerintah China dengan mengisolasi kota Wuhan: melarang orang-orang masuk ke kota Wuhan dan melarang penduduk Wuhan meninggalkan kota.  Ini sesuai dengan hadis di atas meski China adalah negara komunis.

Meskipun karantina, isolasi, lockdown, atau apapun namanya, belum diberlan. Meskipun di negara kita, sebaiknya kita (khususnya kaum muslimin dan muslimat) mengikuti hadis Nabi tersebut. Tidak berpergian ke mana-mana, tidak masuk ke wilayah yang terpapar corona. Demi keselematan kita bersama. Amiin, ya rabbal alami.

Written by rinaldimunir

April 4th, 2020 at 1:34 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Ketika Menjadi Sholeh Menimbulkan Kecurigaan

without comments

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada kepada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul adalah radikal adalah sikap kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menyediakan mimbar akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable. Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Mengerikan!

Written by rinaldimunir

October 11th, 2019 at 1:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Sedekah, Amalan yang Dahsyat

without comments

Kemarin, tiba-tiba saja seorang teman menghampiri saya lalu menyerahkan amplop berisi uang. Buat anak saya yang sekolah/kuliah, katanya. Ambillah, katanya lagi.

Saya pun terbingung-bingung bin terheran-heran. Lho, kok saya dikasih uang? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja saya diberi uang yang cukup besar. Teman saya itu memang tahu dua anak saya masuk sekolah tahun ini, satu di SMP dan satu lagi di perguruan tinggi lewat jalur seleksi mandiri. Oh, mungkin dipikirnya saya membutuhkan biaya besar untuk biaya sekolah/kuliah anak sehingga dia memberi saya uang?, pikir saya. Sudah saya tolak berkali-kali pemberiannya, merasa tidak enak menerimanya, itu tetapi tetap saja ia memaksa saya untuk menerimanya. Akhirnya saya menyerah dan menerima juga pemberiannya.

Saya pun berbaik sangka saja. Mungkin inikah cara Allah SWT mengganti uang yang saya sedekahkan dua hari yang lalu? Ada teman saya semasa SMP yang hidupnya susah. Dia selalu minta tolong dikirimkan uang. Tidak banyak yang dia minta, hanya seratus ribu saja, buat membayar kontrakannya. Sering begitu, dia selalu menelpon memohon dikirimkan uang karena hidupnya yang memang berkesusahan.

Ya Allah, Engkau baik sekali. Engkau ganti berlipat ganda dari yang saya beri. Yang saya berikan hanya receh saja, tetapi Engkau balas dengan tak terduga.

Saya semakin yakin saja bahwasanya bersedekah atau membelanjakan uang di jalan Allah tidak akan membuat harta kita berkurang, malah bertambah-tambah. Tidak akan menjadi miskin kita karena bersedekah. Benar yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah. “Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).

Rajin bersedekah dapat membuat rezeki datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka, seperti yang sering saya alami.

Sahabat, jangan ragu untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Jangan berat tangan merogeh kocek untuk sekedar memberi kepada orang yang yang mengalami kesulitan hidup.

Sedekah adalah amalan yang yang dirindukan oleh orang yang sudah mati. Orang yang sudah tiada dan sudah berada di alam barzah, sekiranya ia bisa dikembalikan ke dunia, maka amalan apakah yang akan dilakukannya? Jawabnya adalah sedekah. Di dalam Surat Al-Munafiqun ayat 11 Allah SWT berfirman

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun: 11).

Saya kutip tulisan dari sini:

Mengapa ia (si mayat. Red) menyebut bersedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunah, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci. Mengapa ia memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.

Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).

Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga, ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).

Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).

***********************

Begitulah dahsyatnya amalan sedekah. Sedekah  juga membuat hati kita tenteram dan bahagia. Tak percaya? Setiap kali kita telah melepaskan kesulitan orang lain, entah mengapa hati kita merasa senang dan bahagia. Bersedekah adalah salah satu cara melepaskan orang lain dari kesusahan hidup.

Janganlah kita enggan memberi sedekah kepada orang lain yang hidupnya berkesusahan. Orang yang pelit dan kikir digambarkan oleh Allah sebagai tangan terbelenggu. Tangan yang terbelenggu mengakibatkan keinginan untuk merogoh kocek dengan uang receh pun tidak bisa dilakukan. Padahal harta yang kita peroleh hanyalah titipan sementara di dunia, tidak akan dibawa mati. Justru yang dibawa mati adalah amalan sholeh kita sebagai teman kita di akhirat kelak.

Mohon ampuni kami, Ya Allah, jauhkan kami dari sifat kikir.

Written by rinaldimunir

August 13th, 2019 at 10:19 am

Posted in Agama,Renunganku

Shalat Ashar di Masjid PDAM Bandung

without comments

Setiap pulang kantor dari kampus ITB ke rumah, saya selalu melewati Jalan Ciung Wanar. Suaru kali saat pulang pas menjelang shlat Asha, adzan menggema dari masjid PDAM yang terletak persis di pinggir jalan Ciung Wanara. Kompleks PDAM Tirtawening Kota Bandung sangat luas, dikelilingi oleh Jalan Badak Singa, Jalan Tamansari, dan Jalan Ciung Wanara. Mendengar adzan saya pun singgah sejenak untuk menunakan sholat di  Masjid Maaimaaskuub, demikian nama masjid yang terletak di halaman kantor PDAM itu.

Masjid ini dibangun baru menggantikan bangunan masjid yang lama di lokasi yang sama. Saya belum pernah sholat di masjid yang baru ini, hanya selalu melewatinya setiap hari.

Setelah masuk ke masjid ini, saya terpesona. Ini masjid yang unik. Dikelilingi oleh air yang mengalir, kolam-kolam, dan air mancur. Bahkan di mihrab tempat imam pun ada kolam air.  Wajar bertema air karena ia terletak di kantor perusahaan air minum.

Nama Maaimaskuub artinya air yang terus mengalir dari surga. Suara gemercik air di dalam masjid membuat suasana hati jadi tenteram. Air memang menyejukkan jiwa. Mihrabnya pun tidak berdinding sehingga udara segar selalu keluar masuk masjid. Nyaman. Mirip seperti masjid di Kotabaru Parahyangan.

Selama ini masjid di PDAM Bandung adalah pilihan warga ganesha dan sekitarnya yang ingin sholat Jumat tidak lama-lama. Kalau ibadah sholat jumat di Masjid Salman memang cenderung lama, terutama khutbah jumatnya. Kalau di masjid PDAM sudah terkenal khutbah Jumatnya singkat sehingga secara berkelakar disebut sholat Jumat turbo. Entah kalau sekarang, karena saya baru satu kali sholat Jumat di sini. Tentang hal ini pernah aya tulis pada tulisan tahun 2013,  Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung. Pada tulisan tersebut juga ada foto masjid yang lama. Jauh berbeda dengan masjid yang baru ini.

Masjid Maaimaskuub tidak hanya digunakan oleh pegawai PDAM saja, tetapi juga oleh pelajar SMA dan masyarakat umum yang berada di sana. Semoga masjid ini selalu terawat dan menjadi berkah buat sekelilingnya.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2019 at 11:08 am

Cara Menghilangkan Ujub dan Riya saat Sholat ke Masjid

without comments

Seorang teman pernah mengatakan bahwa tantangan sholat ke masjid itu cuma dua. Tantangan pertama adalah mengalahkan rasa malas. Tantangan kedua adalah mengalahkan rasa ujub dan riya . Ujub artinya merasa lebih baik dari orang lain, termasuk juga  merendahkan orang lain yang tidak pergi sholat ke masjid. Riya artinya mengharapkan dipuji oleh orang lain.

Bagi laki-laki muslim, sholat fardhu wajib dilakukan di masjid secara berjamaah.  Meskipun demikian, sholat fardhu yang dilakukan di rumah tetap sah (Baca: Laki-Laki Wajib Shalat Berjamaah di Masjid, Benarkah?).

Saya pribadi selalu mengusahakan sholat fardhu di masjid, meskipun beberapa kali sering timbul rasa malas (seharusnya tidak boleh ya).

Kembali ke tantangan yang ditulis oleh teman saya tadi. Dia mengatakan bahwa kebanyakan dari kita mampu mengatasi tantangan nomor  satu. Rasa malas bisa dibuang dengan memotivasi diri. Ayo, jangan malas

Tetapi, katanya, tidak banyak orang yang mampu melewati tantangan nomor dua.  Perasaan ujub dan riya jika muncul di dalam hati dapat membuat amalan kita sia-sia, karena tidak diterima oleh Allah SWT.

Perasan ujub sering timbul pada manusia, termasuk ahli ibadah. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, merasa lebih sholeh, lebih alim, lebih islami, dan sebagainya. Orang lain yang tidak berbuat seperti dia dipandangnya kurang sholeh, kurang taat, dan lebih rendah dari dirinya. Orang muslim yang tidak sholat ke masjid dianggapnya lebih rendah dari dirinya yang rajin sholat ke masjid.

Perasaan ujub membuat manusia tinggi hati, lama-lama menjadi angkuh dan sombong. Merasa Allah menilainya lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak sholat ke masjid.

Perasaan riya adalah ingin dipuji dan disanjung. Sholat ke masjid dipamer-pamerkan supaya orang lain menilai dirinya ahli ibadah, orang sholeh, orang paling taat agama, dan sebagainya.

Kalau rasa malas bisa dikalahkan, tidak demikian dengan rasa ujub dan riya. Saya punya dua cara menghilangkan ujub dan riya itu. Jika anda pergi sholat ke masjid, maka  janganlah menengok kiri kanan ke arah tetangga supaya ingin dilihat,  terus saja jalan ke depan ke arah masjid. Konsentrasikan saja pikiran ke masjid.  Cara kedua adalah tidak perlu memakai asesoris seperti peci, sarung, kupiah, jika pergi ke masjid. Berpakaian biasa saja sehingga orang lain tidak tahu kalau kita mau ke masjid. Insya Allah dengan kedua cara tersebut kita dijauhi darai rasa ujub dan riya sehingga amalan kita menjadi tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT.

Saya teringat sebuah pepatah yang menyatakan  penyakit ahli ilmu adalah sombong dan penyakit ahli ibadah adalah riya. Semoga kita dijauhkan dari keduanya. Amiin.

Written by rinaldimunir

June 11th, 2019 at 3:32 pm

Posted in Agama,Renunganku

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

without comments

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” kepada nonmuslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Seperti dikutip dari sini ( NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim), “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, saya rasa hampir tidak pernah ada orang Islam Indonesia di dalam pergaulan sehari-hari menyebut saudaranya yang tidak seiman dengan sebutan kafir. Bangsa kita juga mempunyai tata krama dan sopan santun, mereka tidak mau menyakiti hati saudaranya sebangsa dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya. Tidak pernah, saya rasa.

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang nosmuslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam pengertian teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Tetapi ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Written by rinaldimunir

March 5th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Tidur Siang Sejenak di Kampus

without comments

Setelah jam 14.00 siang biasanya mata saya lelah setelah cukup lama berada di depan komputer atau mengajar. Selain lelah mata, juga lelah otak. Kalau sudah begitu, biasanya saya pergi menuju ruang rapat yang sepi, lalu menyusun kursi-kursi berjejer. Selanjutnya saya merebahkan badan di atas jejeran kursi itu, meletakkan ponsel dan kacamata di atas kursi di depan saya, lalu tiduranlah saya sekitar setengah jam hingga satu jam. Lumayan segar lagi setelah bangun. Otak dan matapun punya hak untuk istirahat.

Rupanya tidur siang adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda (sumber dari sini dan ini):

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)

Keberkahan tidur siang sejenak juga disebutkan di dalam Al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar-Ruum :23)

Jadi, tidur siang itu sunnah. Tidur siang yang dilarang adalah tidur setelah sholat Subuh dan setelah Sholat Ashar.

Tidur sejenak siang hari memiliki manfaat, antara lain membuat pikiran segar kembali untuk beraktivitas berikutnya. Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kebiasaan orang Italia dan Spanyol tidur siang. Lepas tengah hari mereka menutup pintu-pintu tokonya untuk tidur siang. Satu jam setelah tidur mereka membuka tokonya kembali.

Beberapa kantor perusahaan IT modern seperti Google menyediakan dipan untuk tidur siang. Karyawannya bisa relax sejenak sejenak dari aktivitas coding. Kantor Bukalapak di Bandung pun menyediakan ruangan tidur lengkap dengan dipannya.

Jadi, tidak salah juga saya tidur sejenak di kantor saat setelah lepas Dhuhur. Kalau saya agak cape, atau kepala berat dan pusing, saya pergi ke ruang rapat itu. Tidak ada kasur, kursi-kursipun jadilah. Tidur dulu ah…..

Written by rinaldimunir

February 18th, 2019 at 4:37 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 12 – HABIS): Hari-hari Terakhir di Mekkah, Selamat Tinggal Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah

without comments

Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Ka’bah yang selalu dirindukan

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.

Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).

Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau anda sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkn tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.

Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 07 JKS akan pulang tanggal 29 Agustus 2018 melalui bandara Jeddah. Jamaah haji gelombang kedua masih tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.

Dua hari sebelum pulang ke tanah air, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari tasyrik. Masjidil Haram sudah mulai agak longgar karena jamaah hai dari berbagai negara sudah mulai pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan yang sangat mengharukan. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah.  Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah meninggalkan Masjidil Haram, kecuali saya. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya mengambil tempat menyendiri di depan Ka’bah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak-anak saya, terutama si sulung yang matanya selalu sendu. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar si sulung diberi kesembuhan.  Lama sekali saya menangis di depan Ka’bah. Kira-kira setengah jam saya menangis tersedu-sedu sendirian, sementara di depan saya lalu lalang orang-orang yang melaksanakan tawaf. Saya tidak peduli, saya terus menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.

Setelah tangisan saya berhenti, saya duduk menjauh, tetap masih menghadap Ka’bah. Setelah sholat sunat Dhuha, saya selesaikan khatam Quran saya di depan Ka’bah. Ada beebrapa surat di dalam Juz 30 yang belum selesai saya baca, saya tamatkan di depan Ka’bah hari ini, hari terakhir saya mengunjungi Baitullah. Alhamdulillah, niat saya dari tanah air untuk mengkkhatamkan Al-Quran akhirnya tuntas sudah.

Saya isi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Saya berjalan ke arah pintu keluar Haram melalui jalus sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang di pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~

Sehari sebelum kepulangan, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dibawa ke bandara Jeddah. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Jeddah untuk mengeluarkannya.

Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Jeddah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Perjalanan ke Jeddah menempuh waktu dua jam. Selepas kota Mekkah, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan bukit batu yang tandus.

Di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah menunggu untuk masuk melalui pintu keberangkatan. Di sini kita mendapat catering makan siang. Inilah catering terakhir dari Kemenag RI.

Di pintu keberangkatan, petugas haji Arab Saudi membagikan Al-Quran gratis dan keping DVD. Banyak sekali pemberian yang diperoleh di bandara ini. Sudah tidak muat lagi tas tenteng untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sebelum masuk ke gate keberangkatan, semua barang bawaan jamaah diperiksa lagi. Sangat lelet sekali pemeriksaannya. Pemeriksaan terhadapa jamaah perempuan lebih lama dibandingkan jamaah pria. Saya antri kira-kira dua jam untuk sampai ke alat pemindai X-ray. Saya lihat banyak jamaah yang menggantungkan di lehernya tabung air dari tembaga yang berisi air zam-zam. Saya pikir tabung air zam-zam maupun botol-botol air zam-zam akan disita, eh, ternyata boleh lewat. Jadi, membawa air zam-zam ke atas pesawat tidak dilarang oleh petugas Arab Saudi, asalkan botol air zam-zam itu ditenteng, tidak dimasukkan ke dalam tas. Jadi, yang tidak boleh itu adalah memasukkan zamzam ke dalam tas, sebab jika tumpah maka dapat berbahaya jika di atas pesawat (korsleting mislanya). Saya yang hanya membawa tiga botol air-zam “sedikit menyesal” kenapa hanya membawa tiga botol saja, padahal kalau saya bawa lebih banyak lagi tidak apa-apa. Tapi ya sudahlah, mungkin rezekis aya segitus aja.

Jam 14.00 siang akhirnya kami bisa boarding ke atas pesawat Saudi Arabian. Pesawat berbadan lebar ini akan mengangkut sekitar 400-an jamaah haji Kloter 07 ke Jakarta. Jamah yang pulang telah berkurang satu karena wafat di Mekkah.

Pulang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, pada hari Kamis pukul 03.00 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke tanah aii tercinta. Dari landasan Bandara, bus-bus menjemput kami untuk dibawa ke Embarkasi Haji di Bekasi. Di sana setiap jamaah mendapat jerigen berisi 5 liter air zam-zam. Koper-koper bagasi dikembalikan lagi kepada jamaah.

Setelah seremoni singkat serah terima jamaah haji dari Embarkasi Bekasi ke PPIH Kota Bandung, berangkatlah bus-bus rombongan jamaah haji Klotyer 07 JKS menuju kota Bandung.

Selama di dalam perjalanan ke Bandung, saya melakukan kials balik dan merenung. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke tanah air. Menjadi jamaah haji Indonesia, khususnya yang berangkat melalui Embarkasi Jakarta/Bekasi, mendapat banyak sekali kebajikan dan keistmewaan dari berbagai pihak sebagai berikut:

Di tanah air:
1. Kami mendaat berbagai souvenir dari Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung antara lain  tikar mendong, tempat air minum, payung, tas sandal, dll. Itu belum termasuk souvernir dari bank penerima setoran ONH berupa kain ihram, buku, tas sandal. Khusus kami jamaah haji dari ITB, dilepas oleh pak rektor di rumah dinasnya dan mendapat lagi seabreg souvernir.

2. Makan gratis oleh Pemkot di perjalanan ke Embarkasi waktu pergi dan pulang.

3. Bus rombongan haji dikawal oleh mobil Patwal polisi dari Mapolda Jabar hingga Embarkasi sehingga mendapat prioritas jalan. Bahkan ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT, khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP. Hal yang sama ketika pulang ke Bandung.

4. Dari Embarkasi Bekasi hingga bandara Cengkareng dikawal lagi oleh patwal.

5. Di Embarkasi mendapat souvernir lagi dari Kemenkes berupa obat2an, payung, masker, tabung semprot, dll. Sudah tidak muat lagi tas dengan berbagai pemberian.

6. Naik ke pesawat tidak melalui gate atau terminal keberangkatan, bus rombongan langsung mengantar jamaah haji dari Embarkasi hingga ke tangga pesawat. Hal yang sama ketika pulang.

7. Pengambilan data biometrik tidak lagi di bandara Saudi, tetapi di Embarkasi Bekasi sehingga mempercepat proses keluar bandara.

8. Pemeriksaan imigrasi di bandara Saudi dipindahkan ke bandara Cengkareng, sehingga tiba di Saudi tidak perlu ke imigrasi lagi, langsung keluar bandara.

9. Mendapat uang living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Sejak dulu hingga sekarang, hanya jamaah haji Indonesia yang mendapat uang living cost selama di Saudi. Pernah tanya ke jamaah negara tetangga, mereka tidak pernah dapat bekal uang.
10. Tidak terhitung doa dari para sejawat, teman, tetangga, handai tolan, hingga dilepas oleh ribuan orang.

Di Saudi:
1. Ada perbaikan menu catering yang tadinya 25 kali menjadi 40 kali.

2. Masuk di perbatasan kota Mekah disambut oleh petugas Saudi dengan mengantarkan makanan dan air zamzam ke dalam bus.

3. Banyak orang Saudi memberi makanan dan minuman gratis kepada jamaah haji di Madinah dan Mekah. Itu mulai dari kurma, air mineral, hingga makanan berat.

4. Tanggal 1 hingga 8 Zulhijjah adalah puncak murah hatinya para dermawan Saudi kepada para jamaah haji. Hampir tiap hari mobil2 dermawan datang ke pemondokan mengantarkan nasi kotak berupa nasi briyani, nasi bukhori, nasi mandhi. Sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana menghabiskannya karena baru dapat nasi kotak, tiba lagi nasi kotak baru.

5. Macam-macam souvernir datang lagi ke pemondokan berupa payung, Al-Qur’an, dll.

6. Tim kesehatan (dokter dan perawat) dari Kemenkes siap siaga di maktab jika ada jamaah haji yang sakit. Semua obat dan pelayanan gratis.

7. Pulang lewat bandara Jeddah disambut khusus oleh petugas Saudi dan mendapat lagi paket Qur’an, buku, dan DVD. Tas sudah tidak muat lagi.

Semua keistimewaan tadi sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun kita sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Least but not least: untuk semua kebajikan di atas maka saya teringat ayat ini : “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (TAMAT)

Written by rinaldimunir

December 21st, 2018 at 5:00 pm