if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Agama’ Category

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 12 – HABIS): Hari-hari Terakhir di Mekkah, Selamat Tinggal Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah

without comments

Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Ka’bah yang selalu dirindukan

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.

Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).

Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau anda sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkn tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.

Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 07 JKS akan pulang tanggal 29 Agustus 2018 melalui bandara Jeddah. Jamaah haji gelombang kedua masih tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.

Dua hari sebelum pulang ke tanah air, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari tasyrik. Masjidil Haram sudah mulai agak longgar karena jamaah hai dari berbagai negara sudah mulai pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan yang sangat mengharukan. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah.  Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah meninggalkan Masjidil Haram, kecuali saya. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya mengambil tempat menyendiri di depan Ka’bah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak-anak saya, terutama si sulung yang matanya selalu sendu. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar si sulung diberi kesembuhan.  Lama sekali saya menangis di depan Ka’bah. Kira-kira setengah jam saya menangis tersedu-sedu sendirian, sementara di depan saya lalu lalang orang-orang yang melaksanakan tawaf. Saya tidak peduli, saya terus menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.

Setelah tangisan saya berhenti, saya duduk menjauh, tetap masih menghadap Ka’bah. Setelah sholat sunat Dhuha, saya selesaikan khatam Quran saya di depan Ka’bah. Ada beebrapa surat di dalam Juz 30 yang belum selesai saya baca, saya tamatkan di depan Ka’bah hari ini, hari terakhir saya mengunjungi Baitullah. Alhamdulillah, niat saya dari tanah air untuk mengkkhatamkan Al-Quran akhirnya tuntas sudah.

Saya isi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Saya berjalan ke arah pintu keluar Haram melalui jalus sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang di pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~

Sehari sebelum kepulangan, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dibawa ke bandara Jeddah. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Jeddah untuk mengeluarkannya.

Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Jeddah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Perjalanan ke Jeddah menempuh waktu dua jam. Selepas kota Mekkah, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan bukit batu yang tandus.

Di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah menunggu untuk masuk melalui pintu keberangkatan. Di sini kita mendapat catering makan siang. Inilah catering terakhir dari Kemenag RI.

Di pintu keberangkatan, petugas haji Arab Saudi membagikan Al-Quran gratis dan keping DVD. Banyak sekali pemberian yang diperoleh di bandara ini. Sudah tidak muat lagi tas tenteng untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sebelum masuk ke gate keberangkatan, semua barang bawaan jamaah diperiksa lagi. Sangat lelet sekali pemeriksaannya. Pemeriksaan terhadapa jamaah perempuan lebih lama dibandingkan jamaah pria. Saya antri kira-kira dua jam untuk sampai ke alat pemindai X-ray. Saya lihat banyak jamaah yang menggantungkan di lehernya tabung air dari tembaga yang berisi air zam-zam. Saya pikir tabung air zam-zam maupun botol-botol air zam-zam akan disita, eh, ternyata boleh lewat. Jadi, membawa air zam-zam ke atas pesawat tidak dilarang oleh petugas Arab Saudi, asalkan botol air zam-zam itu ditenteng, tidak dimasukkan ke dalam tas. Jadi, yang tidak boleh itu adalah memasukkan zamzam ke dalam tas, sebab jika tumpah maka dapat berbahaya jika di atas pesawat (korsleting mislanya). Saya yang hanya membawa tiga botol air-zam “sedikit menyesal” kenapa hanya membawa tiga botol saja, padahal kalau saya bawa lebih banyak lagi tidak apa-apa. Tapi ya sudahlah, mungkin rezekis aya segitus aja.

Jam 14.00 siang akhirnya kami bisa boarding ke atas pesawat Saudi Arabian. Pesawat berbadan lebar ini akan mengangkut sekitar 400-an jamaah haji Kloter 07 ke Jakarta. Jamah yang pulang telah berkurang satu karena wafat di Mekkah.

Pulang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, pada hari Kamis pukul 03.00 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke tanah aii tercinta. Dari landasan Bandara, bus-bus menjemput kami untuk dibawa ke Embarkasi Haji di Bekasi. Di sana setiap jamaah mendapat jerigen berisi 5 liter air zam-zam. Koper-koper bagasi dikembalikan lagi kepada jamaah.

Setelah seremoni singkat serah terima jamaah haji dari Embarkasi Bekasi ke PPIH Kota Bandung, berangkatlah bus-bus rombongan jamaah haji Klotyer 07 JKS menuju kota Bandung.

Selama di dalam perjalanan ke Bandung, saya melakukan kials balik dan merenung. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke tanah air. Menjadi jamaah haji Indonesia, khususnya yang berangkat melalui Embarkasi Jakarta/Bekasi, mendapat banyak sekali kebajikan dan keistmewaan dari berbagai pihak sebagai berikut:

Di tanah air:
1. Kami mendaat berbagai souvenir dari Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung antara lain  tikar mendong, tempat air minum, payung, tas sandal, dll. Itu belum termasuk souvernir dari bank penerima setoran ONH berupa kain ihram, buku, tas sandal. Khusus kami jamaah haji dari ITB, dilepas oleh pak rektor di rumah dinasnya dan mendapat lagi seabreg souvernir.

2. Makan gratis oleh Pemkot di perjalanan ke Embarkasi waktu pergi dan pulang.

3. Bus rombongan haji dikawal oleh mobil Patwal polisi dari Mapolda Jabar hingga Embarkasi sehingga mendapat prioritas jalan. Bahkan ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT, khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP. Hal yang sama ketika pulang ke Bandung.

4. Dari Embarkasi Bekasi hingga bandara Cengkareng dikawal lagi oleh patwal.

5. Di Embarkasi mendapat souvernir lagi dari Kemenkes berupa obat2an, payung, masker, tabung semprot, dll. Sudah tidak muat lagi tas dengan berbagai pemberian.

6. Naik ke pesawat tidak melalui gate atau terminal keberangkatan, bus rombongan langsung mengantar jamaah haji dari Embarkasi hingga ke tangga pesawat. Hal yang sama ketika pulang.

7. Pengambilan data biometrik tidak lagi di bandara Saudi, tetapi di Embarkasi Bekasi sehingga mempercepat proses keluar bandara.

8. Pemeriksaan imigrasi di bandara Saudi dipindahkan ke bandara Cengkareng, sehingga tiba di Saudi tidak perlu ke imigrasi lagi, langsung keluar bandara.

9. Mendapat uang living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Sejak dulu hingga sekarang, hanya jamaah haji Indonesia yang mendapat uang living cost selama di Saudi. Pernah tanya ke jamaah negara tetangga, mereka tidak pernah dapat bekal uang.
10. Tidak terhitung doa dari para sejawat, teman, tetangga, handai tolan, hingga dilepas oleh ribuan orang.

Di Saudi:
1. Ada perbaikan menu catering yang tadinya 25 kali menjadi 40 kali.

2. Masuk di perbatasan kota Mekah disambut oleh petugas Saudi dengan mengantarkan makanan dan air zamzam ke dalam bus.

3. Banyak orang Saudi memberi makanan dan minuman gratis kepada jamaah haji di Madinah dan Mekah. Itu mulai dari kurma, air mineral, hingga makanan berat.

4. Tanggal 1 hingga 8 Zulhijjah adalah puncak murah hatinya para dermawan Saudi kepada para jamaah haji. Hampir tiap hari mobil2 dermawan datang ke pemondokan mengantarkan nasi kotak berupa nasi briyani, nasi bukhori, nasi mandhi. Sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana menghabiskannya karena baru dapat nasi kotak, tiba lagi nasi kotak baru.

5. Macam-macam souvernir datang lagi ke pemondokan berupa payung, Al-Qur’an, dll.

6. Tim kesehatan (dokter dan perawat) dari Kemenkes siap siaga di maktab jika ada jamaah haji yang sakit. Semua obat dan pelayanan gratis.

7. Pulang lewat bandara Jeddah disambut khusus oleh petugas Saudi dan mendapat lagi paket Qur’an, buku, dan DVD. Tas sudah tidak muat lagi.

Semua keistimewaan tadi sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun kita sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Least but not least: untuk semua kebajikan di atas maka saya teringat ayat ini : “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (TAMAT)

Written by rinaldimunir

December 21st, 2018 at 5:00 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 11): Melempar Jumrah pada Hari-hari Tasyrik dan Tawaf Ifadah

without comments

Siang hari setelah aktivitas melempar jumrah Aqabah selesai, jamaah yang sudah bangun dari tidurnya memulai aktivitas di dalam dan di sekita tenda. Tidak ada yang dapat dilakukan selain hanya membaca, mengaji, duduk-duduk, ngobrol, tiduran, dan sebagainya. Pasokan catering untuk makan siang dan makan malam tetap datang. Catering makan siang datang pada pukul 10 pagi, sedangkan catering makan malam datang pada sore hari. Di sekitar juga tersedia air panas untuk memasak mie instan, teh, atau kopi.

Saya berjalan-jalan ke luar tenda, karena saya belum melihat suasana perkampungan tenda pada siang hari. Jamaah yang sudah berpakaian biasa terlihat bercengkerama di luar.

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Aktivitas yang paling ramai adalah di sekitar toilet merangkap kamar mandi. Puluhan orang antri untuk mandi atau membuang hajat. Jika terlalu lama anda di dalam, seseorang di luar mungkin menggedor-gedor pintu toilet. Ya, harap bertoleransi saja dan menenggang rasa dengan jamaah haji orang lain. Harap dimaklumi juga orang Indoensia tidak bisa menjaga kebersihan. Bungkus shampo, sabun mandi, dan yang paling mengenaskan adalah ceceran BAB orang-orang tua yang tidak bersih membersihkan diri. Oh ya, di dalam toliet ini tersedia selang air panas dan air dingin.

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Saya melihat ke arah jalan di sekitar tenda. Jamaah haji yang tidak punya kegiatan menghabiskan waktu di luar, sembari melihat-lihat dagangan PKL yang juga berjualan secara sembunyi-sembunyi.

Pintu masuk ke perkampungan tenda. Jamaah haji mengerumuni PKL

Saya melongok ke arah jalan. Masih banyak rombongan jamaah haji yang baru pulang melempar jumrah Aqabah. Mereka tetap melempar jumrah pada siang hari. Setiap KBIH memang berbeda-beda dalam  menentukan waktu untuk melempar jumrah. Menurut saya semuanya sah saja karena ada dalilnya masing-masing dan tidka perlu dipersoalkan.

Pulang dari melempar jumrah Aqabah

Adzan Maghrib di Mina menandakan waktu pun berganti hari menjadi tanggal 11 Zulhijjah. Ini berarti hari-hari Tasyrik pun dimulai. Selama hari-hari Tasyrik jamaah haji melempar 3 jumrah, yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Batu-batu di dalam kantong kecil yang berawran biru masih cukup untuk melempar ketiga jumrah itu. Ustad pembimbing haji mengatakan bahwa kita akan melempar tiga buah jumrah pada pukul 2 dinihari nanti. Jadi, sama seperti tanggal 10 Zulhijjah, kita akan melempar jumrah pada waktu dinihari. Oke, jadi jamaah haji tidur dulu dan bangun lagi pukul 12 malam.

Jam 12 malam kami dibangunkan. Pak Ustad menyuruh kita membawa semua barang bawaan. Lho, mau ke mana, kata saya? Ternyata, setelah melempar tiga buah jumrah nanti, kita langsung kembali ke hotel di Mekkah, tidak kembali lagi ke tenda di Mina. Saya baru paham, berada siang hari di Mina tidak diwajibkan, sebab yang wajib itu adalah mabit (bermalam) di Mina. Barang siapa yang berada siang hari di Mina, maka dia wajib bermalam di Mina. Sementara, kami tidak akan di Mina pada siang hari, tetapi istirahat di hotel saja. Nanti setelah Maghrib kami akan kembali ke Mina untuk mabit. Kebetulan hotel kami di daerah Syisyah 2 tidak jauh dari jamarat, yaitu dibalik bukit batu. Tenda-tenda yang sempit di Mina dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai memang kurang nyaman bagi jamaah haji, jadi kalau bisa istirahat di hotel kenapa tidak.

Jam 2 malam sampailah kami di jamarat. Mula-mula kami melempar jumrah Ula yang berukuran kecil sebanyak tujuh kali, selanjutnya jumrah Wustha sebanyak tujuh kali, dan terakhir melempar  jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Jamaah haji tidak terlalu padat malam itu sehingga melempar jumrah dapat dilakukan dengan mudah.

Selesai melempar tiga buah jumrah kami meninggalkan jamarat, berjalan kaki menyusuri jalan menuju hotel Syisyah 2. Setelah melewati beberapa bukit batu, jalanan yang padat dengan bus-bus rombongan jamaah haji, sampailah kami ke hotel pukul 4 pagi. Jarak dari jamarat ke hotel kira-kira 3 km. Berjalan kaki adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama berhaji, jadi fisik harus kuat, badan harus sehat.

Jamarat tidak terlalu jauh dari hotelami Syisyah 2, letaknya di balik bukit batu itu (di kejauhan)

Sesampai di hotel, lega rasanya bertemu dengan kasur dan kamar mandi dengan air yang deras. Setelah sholat Shubuh, maka apalagi yang dilakukan selain tidur. Sungguh melelahkan tetapi menyenangkan sekali pengalaman melempar jumrah pada hari tasyrik pertama.

Sore hari kami berjalan kaki kembali dari hotel ke jamarat. Ya, kami akan melempar tiga buah jumrah pada hari  Tasyrik kedua (12 Zulhijjah). Kita harus berada di Mina sore itu, yang berarti harus bermalam di Mina. Dalam perjalanan dari Syisah 2 ke jamarat, kami melewati ujung terowongan. Itulah terowongan Mina, terowongan yang punya sejarah monumental bagi jamaah haji Indonesia. Di dalam terowongan inilah terjadi tragedi Mina tahun 1990, yaitu bertemunya arus manusia yang mau melontar jumrah dengan arus manusia yg baru pulang melontar jumrah. Tubrukan tidak terhindarkan dan ribuan jamaah mati syahid terinjak-injak. Ada 600 lebih jamaah haji Indonesia yang jadi korban.  Tapi itu dulu. Sekarang sudah dibangun dua terowongan, satu untuk pergi dan satu untuk pulang.

Terowongan Mina

Sore hari sebelum Maghrib kami sudah sampai ke areal jamarat, tapi belum masuk gedung jamarat. Kami akan melempar jumrah setelah lepas tengah malam. Di areal jamarat ini saya menyaksikan ratusan ribu jamaah haji datang dan pergi pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) untuk melaksanakan lempar jumrah. Semakin sore semakin padat karena cuaca sudah berkurang kegarangan panasnya. Mungkin mereka sama seperti kami, pada siang hari pulang ke Mekkah, lalu sore hari kembali ke Mina untuk mabit. Saya merinding melihat ratusan ribu jamaah yang mengalir seperti air bah.

Ratusan ribu jamaah bagai air bah mengalir ke jamarat.

Karena hari masih sore, jadi kami duduk-duduk dulu di sini. Ternyata para askar mengusir  jamaah yang duduk-duduk maupun berdiri dalam kelompok-kelompok. Hajj..hajj, teriak mereka mengusir jamaah haji yang berdiri. Ya, jamaah yang duduk atau berdiri (tidak berjalan) dianggap oleh askar menghalanagi pergerakan jamaah haji lainnnya. Askar-askar itu sih inginnya kami terus berjalan kaki ke arah gedung jamarat, tapi kan kami baru akan melempar jumrah pada pukul 2 dinihari nanti.

Berfoto di area jamarat

Sambil menunggu waktu Maghrib, kami mulai membentangkan sajadah di aspal, lalu sholat sunnat. Nah, kalau sedang sholat, maka askar tidak akan berani mengusir orang yang sholat. Sholat Maghrib dan Isya dilakukan dengan niat jamak.

Selesai sholat Maghrib, kami berjalan kaki menuju gdung jamarat. Jalan kakinya pelan-pelan saja, tidak buru-buru, karena waktu melempar jumrah masih lama. Selama dalam perjalanan kami menemui jamaah haji berbagai bangsa dalam kelompok-kelompoknya. Jamaah haji dari Indonesia tampil dengan busana batik yang khas dan membawa bendera yang melambangkab KBIH atau daerah mereka. Sebagian jamaah haji Indonesia sangat unik, mereka berjalan kaki dengan semangat sambil menyanyikan shalawat. Pastilah itu jamaah haji dari kalangan nahdliyin (NU).

Sambil menunggu waktu untuk melempar jumrah, kami duduk-duduk di jembatan lalu  di dekat gedung jamarat. Dari atas jembatan terlihatlah Mina pada waktu malam dibalut cahaya lampu. Ribuan orang ramai berjalan kaki. Di kejauhan juga terlihat restoran ayam goreng yang terkenal di Saudi, yaiyu Al-Baik.

Mina pada waktu malam

Mina pada waktu malam, sangat ramai.

Dari jembatan kami turun ke lantai dasar. Di area lantai dasar sudah penuh dengan jamaah haji dari berbagai bangsa yang juga menunggu waktu lepas tengah malam untuk melempar jumrah. Kami pun mencari tempat yang kosong di lantai aspal, beralaskan tikar atau sajadah untuk sekedar duduk atau tiduran. Sebenarnya tempat ini terlarang buat jamaah haji untuk duduk-duduk. Tiap sebentar datang mobil askar dengan sirinenya yang meraung-raung membubarkan jamaah yang berada di sana. Bandel ya para jamaah haji. Setelah mobil askar pergi, mereka kembali lagi duduk-duduk dan tiduran di sana. Ya mau kemana lagi, tidak ada tempat untuk beristirahat di jamarat.

Duduk-duduk di areal terlarang untuk menunggu waktu tengah malam.

Akhirnya setelah menunggu selama enam jam, waktu menunjukkan pukul 2 dinihari. Kami segera naik ke lantai satu untuk melempar tiga buah jumrah seperti kemarin. Tujuh lempana untuk jumrah Ula, tujuh lemparan untuk jumrah Wustha, dan tujuh lemparan untuk jumrah Aqabah. Berhubung kami mengambil nafar awal, kami tidak melakukan lempar jumrah pada hari tasyrik ketiga. Oleh karena itu, batu-batu yang tersisa di dalam kantung batu harus dibuang ke dasar jumrah. Batu-batu itu tidak boleh dibawa pulang ke tanah air sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Cerita dari ustad kami, pernah ada jamaah haji yang membawa pulang batu dari Mina sebagai oleh-oleh, tapi  di tanah air dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Percaya atau tidak, maka sebaiknya kita ikuti saja nasihat untuk tidak membawa pulang sisa batu pelepar jumrah ke tanah air supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Oh ya, tadi saya menyinggung tentang nafar awal. Selain nafar awal maka jamaah haji bisa memilih melakukan nafar tsani. Jika melakukan nafar awal, maka kita melempar jumrah hanya pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah saja. Jika melakukan nafar tsani, maka kita melempar jumrah sampai tanggal 13 Zulhijjah. Jika seseorang berada di Mina pada siang hari tanggal 12 Zulhijjah, maka dia harus mabit di Mina tanggal 13 Zulhijjah, dan wajib melempar jumrah pada tanggal 13 Zulhijjah. Kedua nafar ini sama sahnya.

Karena kami melakukan nafar awal, maka kami harus kembali ke Mekkah guna melakukan tawaf ifadah.  Dari jamarat kami berjalan kaki kembali keluar dari Mina. Kami sampai di luar kota Mekkah (saya lupa namanya, mungkin Aziziyah) yang dinihari itu sangat ramai. Ada beberapa hotel jamaah haji Indonesia di sini. Mungkin inilah hotel jamaah haji yang terdekat ke jamarat.

Dari sini perjalanan ke Masjidil Haram akan ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian jamaah yang tidak kuat lagi berjalan kaki memilih menyewa taksi ramai-ramai ke Masjidil Haram. Saya memilih berjalan kaki saja ke Haram bersama teman yang lain. Menurut saya ini perjalanan spiritual, jadi lebih baik berjalan kaki saja samil meresapi suasana batiniah yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Perjalanan ke Masjidil Haram kira-kira jauhnya 5 km. Saya dan beberapa jamaah lain berjalan kaki melewati jalanan kota Mekkah yang tetap ramai. Sesekali berhenti untuk istirahat dan minum teh yang dijual di pinggir jalan. Sungguh suasana dinihari itu sangat syahdu bagi saya. Alhamdulillah kaki saya masih kuat berjalan.

Kami pun sampai di mulut sebuah terowongan. Ini adalah terowongan yang sering saya lalui jika naik bus sholawat ke Haram. Ini berarti di ujung terowongan sana adalah terminal bus Syib Amir. Dengan kata lain sebentar lagi saya akan sampai di Masjidil Haram. Panjang terowongan ini 800 meter.

Terowongan ke arah terminal Syib Amir

Bejalan di dalam terowongan. JHarus hati-hati karena kendaraan melaju kencang. Tidak ada trotoar.

Di ujung terowongan terlihatlah Menara Zamzam beridiri dengan megah. Allahu Akbar, saya sudah sampai kembali ke Haram. Adzan Subuh berkumaandang tepat ketika kami sampai. Kami pun segera berlari untuk mengejar tempat buat sholat subuh. Masjidil Haram saat itu tidak ramai. Masih sepi saat itu karena sebagian besar jamaah masih berada di Mina. Tentu saja, karena sebagian besar jamaah haji masih berada di MinaMungkin setelah matahari sepenggalahan naik Masjidil Haram akan semakin ramai.

Selesai sholat subuh, kami turun ke mataf untuk melaksanakan tawaf ifadah. Karena jamaah tidak ramai, maka tawaf ifadah dapat dilakukan lebih cepat. Selesai tawaf ifadah, saya duduk di mataf setelah usai melaksanakan tawaf Ifadah usai sholat subuh. Duduk memandangi Baitullah, Ka’bah yang menjadi pusat kiblat ummat Islam sedunia.

Duduk memandangi Ka’bah usai tawaf ifadah

Tinggal menghitung hari lagi saya di sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Tawaf ifadah bukanlah tawaf wada’. Jadi, setelah melakukan tawaf ifadah, sholat di maqam Ibrahim, minum air zam-zam, lalu jamaah haji melakukan ibadah sa’i antara Safa dan Marwa. Dengan demikian tuntaslah rangkaian ibadah haji, sebelum nanti ditutup dengan tawaf Wada’ sebelum kembali ke tanah air. Kami kembali ke hotel dengan taksi, karena bus Sholawat belum beroperasi. Tarif taksi melambung tinggi pada hari-hari setelah melempar jumrah. Saya berlima dengan teman membayar 250 riyal, per orangnya 50 riyal.

Tiba di hotel, saya dan teman-teman menggunduli rambut. Ada teman yang membawa alat cukur dari Bandung, jadi kami tidak perlu pergi ke barber shop. Inilah sunnah yang dilakukan setelah rangkaian ibadah haji selesai. Ini pula pertama kali saya gundul, karena saya belum pernah botak, he..he..he. Huffff…mengantuk sekali, capai sekali selama tiga hari dua malam ini.  Waktunya membayar utang tidur dengan tidur pulas siang hari ini. (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

December 17th, 2018 at 3:23 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 10): Melempar Jumrah Aqabah di Mina (10 Zulhijjah)

without comments

Setelah Maghrib bus-bus yang mengangkut jamaah haji bergerak dari Arafah ke Mina. Lalu lintas ke Mina sangat padat dengan bus-bus jamaah haji dari negara lain, tidak hanya bus jamaah haji Indonesia saja. Mina adalah perkampungan tenda. Berbeda dengan tenda di Arafah yang bersifat bongkar pasang, tenda di Mina adalah tenda yang permanen. Tenda-tenda ini hanya terisi selama musim haji saja, di luar itu Mina bagaikan kota mati yang sepi. Ketika mengikuti city tour di kota Mekkah (baca tulisan Bagian 8), kami melewati Mina. Dari atas bus saya melihat bangunan jamarat yang digunakan untuk melempar jumrah.

39069505_2002012579866757_5922487033321750528_n

Melewati perkampungan tenda di Mina ketika city tour di Mekkah. Gedung yang terlihat di kejauhan adalah gedung jamarat untuk melempar jumrah.

Malam itu semua jamaah di atas bus masih berpakaian baju ihram. Baju ihram baru boleh diganti jika sudah melakukan tahalul, yaitu setelah melontar Jumrah Aqabah. Wajah-wajah jamaah yang kelelahan terlihat pada sebaian besar jamaah. Melintasi jalan-jalan di Mina yang padat merayap, semakin malam semakin banyak bus-bus yang berdatangan.

Seharusnya kami berhenti sebentar di Mudzdalifah untuk mengumpulkan batu-batu untuk melempar jumrah. Namun tempat kami mabit nanti di Mina adalah di Mina Jadid, atau Mina Baru, yang merupakan perluasan Mina. Jamaah haji yang setiap tahun semakin banyak tidak memungkinkan lagi tertampung di Mina, sehingga Pemerintah Saudi memperluas Mina hingga ke Mina Jadid. Mina Jadid ini sudah termasuk ke dalam wilayah Mudzdalifah. Jadi, bermalam di Mina Jadid pada hakikatnya adalah juga bermalam di Mudzdalifah. Dengan kata lain Mina Jadid itu di Mudzdalifah juga. Oleh karena itu, tujuan kami adalah langsung ke Mina Jadid.

Lalu, bagaimana dengan pengumpulan batu? Kami tidak perlu lagi mengumpulkan batu-batu, Pemerintah Saudi telah menyediakan kantung kecil yang berisi batu-batu kerikil untuk melempar jumrah. Kantung kecil itu dibagikan ketika kami masih berada di atas bus menuju Mina. Wah, semakin dimudahkan saja menjalankan haji oleh Pemerintah Saudi.

39939036_2018008001600548_4157742803129991168_o

Kantung kecil berisi batu pelontar jumrah yang dibagikan Pemerintah Saudi untuk jamaah haji Asia Tenggara

Jam 10 malam akhirnya bus sampai ke depan tenda untuk jamaah haji Kloter 07 JKS di Mina Jadid. Satu tenda diisi oleh beberapa KBIH. Tenda di Mina lebih sempit dibandingkan tenda di Arafah. Untuk tidur saja susah, berjejer seperti ikan pindang, ditambah dengan barang bawaan. Satu kepala menghadap ke utara, satu lagi ke selatan, lalu dua pasang kaki bertemu di tengah. Sebagian jamaah yang tidak tahan dengan suasana sempit di dalam tenda lebih memilih tidur di dalam gang antar tenda. Yang lebih menyedihkan adalah jamaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam KBIH manapun. Teman saya di kloter yang lain, jamaah haji mandiri, mengeluhkan dia dan istrinya tidak mendapat tempat di dalam tenda. Tenda-tenda itu sudah dikapling oleh KBIH-KBIH, jadi dia dan temannya yang lain yang tidak tergabung di dalam KBIH tidak kebagian tempat. Setelah diskusi yang alot akhirnya dia memilih di luar saja, sementara istrinya bisa masuk ke dalam tenda.  Persoalan ini terjadi karena pemetaan yang tidak cocok antara jumlah jamaah haji dengan jumlah tenda.

Untuk mengetahui seperti apa suasana tenda di Mina, di bawah ini saya perlihatkan beberapa foto keadaan tenda pada siang hari.

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

 

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Pintu masuk ke perkampungan tenda

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Kembali ke cerita ketika baru sampai di Mina dari Arafah. Setlah tiba di tenda Kloter 07 JKS, kami beristirahat sebentar. Catering makan malam yang terlambat dibagikan  kepada jamaah. Tenda penuh dengan tas dan aneka barang bawaan jamaah dari Arafah. Mau rebahan sebentar juga susah dan sempit.

Setelah beritirahat sebentar, jam 12 malam kami diinstruksikan oleh ustad pembimbing haji untuk bersiap-siap menuju jamarat. Ya, melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah (hari Idul Adha) akan akan segera dilakukan. Sebenarnya waktu yang afdhol untuk melempar jumrah Aqabah adalah pada pagi hari setelah matahari terbit. Namun, mungkin karena pertimbangan padatnya jamaah haji yang melempar jumrah secara bersamaan, maka  kami melempar jumrah Aqabah pada waktu dinihari tanggal 10 Zulhijjah. Begitu juga pada hari tasyrik 11, 12, dan 13 Zulhijjah, kami melempar jumarh selalu seelah lewat waktu tengah malam. Masalah waktu ini memang sering diperdebatkan, dan selalu ada sebagian ulama yang membolehkan maupun melarang dengan dalil masing-masing.  Soal pro dan kontra melempar jumrah Aqabah sebelum matahari terbit pada tanggal 10 Zulhijjah  tidak akan saya bahas di sini. Kalau saya baca berita ini dan ini memang Pemerintah Saudi telah mengatur waktu melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah bagi jamaah haji Asia Tenggara. Saya kutip dari berita tersebut, “pada tanggal 10 Zulhijjah dilarang melontar jamarat mulai pukul 06.00–10.30 waktu Arab Saudi (WAS), 11 Zulhijjah pada pukul 14.00–18.00 WAS dan 12 Zulhijjah larangan melontar jamarat pada pukul 10.30–14.00 WAS”.

Dari tenda, kami berjalan kaki menuju jamarat. Karena tenda kami di ujung Mina, yaitu di Mina Jadi, maka jaraknya ke jamarat cukup jauh, yaitu sekitar 5 km (saya tidak tahu persisnya), jarak yang sama untuk pulang kembali ke tenda.  Tidak ada kendaraan yang mengantar ke jamarat, semua ditempuh dengan berjalan kaki. Baik muda, tua, maupun yang berkursi roda semua berjalan menuju jamarat. Tidak ada jamaah yang mengeluh dengan kondisi yang jauh itu. Semua dijalani dengan penuh keikhlasan untuk mengharapkan ridho-Nya. Apalagikah yang kita cari selama hidup di dunia ini kalau bukan ridho Allah SWT?

Dari semua rangkaian ibadah haji, melontar jumrah adalah kegiatan yang paling krusial dan paling melelahkan. Jutaan jutaan jamaah bergerak ke tempat yang sama dengan berjalan kaki. Menempuh berjalan kaki sejauh 5 km insya Allah saya masih kuat. Saya membayangkan bagaimana dengan jamaah yang sudah tua, tentu tidak kuat berjalan sejauh itu. Tetapi…ya Allah, saya menemukan kebalikannya. Orang-orang tua yang sudah renta sekalipun sangat bersemangat berjalan kaki. Mereka tidak ada yang mengeluh. Perjalanan menuju jamarat dilakukan dengan ikhlas. Kalau hati sudah ikhlas, perjalanan seberat apapun akan dilalui tanpa beban.

Memperhatikan rombongan jamaah haji Indonesia yang berjalan kaki dari tenda ke Jamarat sungguh membuat hati siapa saja merasa terharu. Bapak – bapak dan ibu yang sudah sepuh, atau yang memakai kursi roda, atau memakai tongkat, berjalan kaki bersama-sama menembus terik matahari yang membara (kalau melontar jumrah pada siang hari), atau menembus malam yang gerah dan jalanan yang padat dengan bus dan manusia. Seorang anak mendorong kursi roda orangtuanya, suami mendorong kursi roda istrinya. Seorang ibu yang kakinya (maaf) pincang tetap berjalan dengan caranya yang khas. Sambil berjalan kaki mereka tetap bersemangat bertalbiyah atau bertakbir. Hati siapa yang tidak tergetar melihat semua ini secara langsung? Mereka menuju titik yang sama: Jamarat. Kalau Allah sudah memanggil hamba-Nya ke Baitullah, apapun akan dilakukan untuk memenuhi undangan-Nya.

Melontar jumrah adalah mengulangi peristiwa sejarah ketika Nabi Ibrahim dan Ismail digoda oleh setan untuk membatalkan niat menyembelih Ismail yang merupakan perintah Allah. Nabi Ibrahim melempari setan dengan batu, begitu pula Nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar. Ketiga peristiwa pelemparan batu itu diulang kembali oleh jamaah haji dengan melempar tiga jumrah (ulaa, wustha, dan aqabah). Makna pelemparan jumrah itu saat ini adalah melempari sifat buruk pada diri setiap manusia. Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan godaan setan dan mematuhi perintah Allah. Atas ketaatan Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah, maka sebagai gantinya Allah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih seekor domba sebagai ganti menyembelih Ismail. Ummat Islam yang tidak pergi haji mengulangi peristiwa Nabi Ibrahim itu dengan menyembelih hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha. Darah dan daging qurban itu tidak sampai kepada Allah SWT karena memang tidak diperuntukkan bagi-Nya, tetapi yang sampai adalah taqwa dari hamba-Nya karena telah menaati perintah-Nya.

Sepanjang perjalanan menuju jamarat kita melalui pinggir jalan raya yang padat dengan bus-bus yang membawa rombongan jamaah haji dari Arafah, Saya menemukan pemandangan yang menarik, yaitu jamaah haji dari Afrika bergelimpangan tidur di pingir jalan. Mereka tidak menginap di tenda, entah mereka tidak mendapat tenda atau memang mereka tidak terorganisir.

Setelah berjalan kaki selama dua jam, akhirnya sampailah kami di gedung jamarat. Gedung jamarat ini ada tiga lantai. Kita dapat melempar jumrah dari lantai  mana saja karena jumrah dibuat seperti tugu yang tingginya tiga lantai. Untuk naik ke setiap lantai tersedia eskalator.

Gedung jamarat

Rombongan kami melempar jumrah di lantai satu. Setelah masuk ke dalam, kita menemukan jumrah yang paling besar, itulah jumrah Aqabah. Dinihari saat itu tidak terlalu padat dengan jamah haji. Kami dapat melempar jumarh Aqabah dengan mudah. Ada tujuh kali lemparan. Setiap kali kita melempar batu ke jumrah, kita membaca bismillaahi allahu akbar.

Melempar jumrah Aqabah

Hanya jumrah Aqabah saja yang dilempar pada tanggal 10 Zulhijjah itu. Dua jumrah yang lain (jumrah Uula dan jumrah Wustha) akan dilempar pada hari-hari tasyrik. Selesai melempar jumrah Aqabah, maka kami pun melaksanakan tahalul, yaitu memotong tiga helai rambut. Alhamdulillah, dengan demikian rangkaian melempar jumrah tahap eprtama sudah selesai, kami sudah boleh memakai pakaian biasa lagi. Tetapi, karena pakaian ada di dalam tenda, maka berganti pakaian nanti saja di tenda.

Rombongan kami berjalan kaki kembali menempuh jalan yang sama menuju tenda. Itu artinya berjalan kaki sejauh 5 km. Bagi jamaah yang tidak kuat pulang berjalan kaki, ada orang Arab yang menyediakan kursi roda dan mendorongnya hingga ke tenda. Seorang ibu di rombongan kami yang tidak kuat lagi berjalan, memilih menggunakan jasa sewa akursi roda ini. Ongkosnya nego,  tercapai kesepakatan 200 riyal atau sekitar 800 ribu rupiah (jika 1 riyal = Rp 4000).

Sempat pula kami kesasar ketika kembali ke tenda. Rupanya kami tidak hafal lokasi tenda semula. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya sampai jugalah kami di tenda ketika adzan Subuh berkumandang. Setelah sholat Subuh, sebagian besar jamaah tertidur karena kelelahan. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

December 13th, 2018 at 5:04 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 9): Puncak Ibadah Haji, Wukuf di Arafah

without comments

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji. Berhaji tanpa wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah. Haji adalah wukuf di Arafah, dwmikian sabda Rasulullah. Oleh karena itu, menjaga kesehatan selama masa penantian wukuf adala hal yang mutlak. Sakit saat wukuf jelas merepotkan. Mungkin karena sakit yang cukup berat maka anda diangkut oleh ambulans ke Arafah, wukuf di dalam mobil ambulans. Atau, kalau pun tidak dibawa oleh mobil ambulans, mungkin anda di dalam tenda merasa sangat tidak nyaman karena badan sedang tidak fit.

Selama masa penantian di Mekkah, jamaah haji dihimbau tidak memforsir tenaga untuk beribadah ke Harom serta kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga. Satu tips kesehatan yang rutin saya lakukan adalah minum air putih sebanyak-banyaknya setiap hari. Terapi minum air putih terbukti mampu membuat badan tetap fit selama di Tanah Suci.

Tahun 2018 ini, Pemerintah Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah jatuh pada hari Senin tanggal 20 Agustus (9 Zulhijjah) dan Hari Raya Idul Adha hari Selasa  tanggal 21 Agustus 2018 (10 Zulhijjah). Ini berarti sehari lebih cepat daripada tanggal Idul Adha yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018. Perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan, karena bumi ini tidaklah datar, jadi lumrah saja terjadi perbedaan penetapan awal bulan Zulhijjah antara Saudi dan Indonesia. Tetapi, ada juga sebagian orang Indonesia yang menjadikan Saudi sebagai rujukan sehingga mereka melaksanakan puasa Arafah sama dengan waktu wukuf di Saudi. Artinya, dalam pandangan mereka, jika melaksanakan puasa Arafah pada hari Selasa maka hukumnya haram sebab hari itu sudah masuk Idul Adha. Ah, sudahlah, perdebatan semacam ini tidak perlu dibesar-besarkan.

Kembali ke cerita wukuf. Meskipun wukuf akan dilaksanakan pada hari Senin siang, namun jamaah haji Indonesia sudah berangkat ke Arafah sejak hari Minggu pagi. Hal ini dilakukan karena yang akan diangkut aalah 210.000 lebih jamaah haji, tentu tidak mungkin ke Arafah dalam waktu yang serempak apalagi jumlah bus juga terbatas. Setiap Kloter diangkut secara bergiliran.  Kloter kami, Kloter 07 JKS kebagian berangkat pada pkul 13.00 setelah Dhuhur.

Oh ya, ada juga KBIH tertentu yang tidak ikut pengaturan Pemerintah, mereka melaksanakan tarwiyah, yaitu mengikuti Sunnah Rasul dengan berangkat lebih dahulu ke Mina sebelum ke Arafah. Dikutip dari sini, Tarwiyah adalah melakukan napak tilas perjalanan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Jamaah Tarwiyah akan melakukan perjalanan dari Makkah ke Mina sejauh 14 kilometer. Lalu, setelah itu perjalanan berlanjut keesokan harinya dari Mina ke Arafah untuk bergabung dengan jamaah lainnya yang berangkat dari Makkah, langsung ke Arafah untuk menjalani wukuf.

Umumnya KBIH yang melaksanakan tarwiyah berangkat ke Mina satu hari lebih cepat daripada yang diatur oleh Pemerintah RI. Mereka berangkat tanggal 7 Zulhijjah sore ke Mina, bermalam di tenda-tenda di Mina, barulah tanggal 8 Zulhijjah sore mereka berangkat ke Arafah. Jika melaksanakan tarwiyah, maka Pemerintah RI tidak memfasilitasi transportasi dan akomodasi, semua biaya ditanggung oleh jamaah haji yang melaksankan tarwiyah, sebab mereka harus mengusahakan bus sendiri, menyiapkan catering sendiri, dll.  Selain itu, mereka harus menandatangani surat pernyataan untuk menanggung segala resiko dan bertanggung jawab atas kajadian apapun.

KBIH saya ikut pengaturan oleh Pemerintah RI saja. Dua jam sebelum waktu Dhuhur saya sudah melaksanakan mandi besar. Saya menyiapkan satu tas ransel yang akan dibawa yang berisi cadangan kain ihram, baju ganti, peralatan mandi, mie instan, dan camilan lain. Setelah sholat Dhuhur dan Ashar dijamak di mushola hotel, kami mulai memakai pakaian ihram. Selanjutnya berdiam di kamar menunggu instruksi dari Pak Ustad pembimbing untuk turun ke lobby. Duh,  perasaan saya bercampur aduk karena sebentar lagi kami akan ke Arafah. Niat harus diluruskan kembali, salah niat maka hajinya tidak mabrur. Jam 13.00 siang jamaah haji turun ke lobby hotel. Di sana ustad kembali memberikan bimbingan dan meluruskan niat berhaji. Kami jamaah haji saling berpelukan dan bahkan bertangisan meminta maaf jika selama bergaul di Mekkah dan Madinah melakukan perbuatan yang menyinggung perasaan jamaah lain. Lalu, mulailah kami bersama-sama mengucapkan doa niat haji, yaitu labbaikallah humma hajjan, yang artinya Ya Allah kupenuhi panggilan-Mu untuk berhaji. Sesaat sesudah mengucapkan niat haji itu, maka berlakulah larangan-larangan selama memakai pakaiaan ihram seperti yang pernah saya sebutkan pada tulisan tentang umrah.

Berangkatlah kami naik bus-bus yang sudah menunggu di depan hotel. Selama dalam perjalanan ke Arafah, kami tak putus-putusnya mengucapkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarika laka labbaik. Saya duduk sendiri pada kursi paling belakang.  Selama di dalam bus terbayang wajah anak dan istri di rumah. Bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk. Pada hari wukuf besok adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa kepada Allah. Saya sudah memendam doa yang akan saya sampaikan nanti di Arafah, salah satunya doa meminta kesembuhan untuk anak sulung saya.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 45 menit, sampailah rombongan bus kami di tenda yang akan menjadi penginapan kami satu hari satu malam di Arafah. Jamaah haji Indonesia di Arafah, di sektor South East Asian Pilgrims. Cuaca di Arafah sangatlah panasnya. Padang Arafah yang dulu gersang sekarang sudah mulai menghijau, banyak tumbuhan yang telah ditanam bertahun-tahun dan sudah meninggi. Lumayanlah untuk mengurangi kegerahan.

Tenda-tenda wukuf di Arafah

Jamaaah haji bergaya ketika difoto

Satu kloter menempati beberapa buah tenda. Satu tenda ukurannya cukup besar. Permadani sebagai alas duduk atau tidur terbentang di atas lantai tanah. Satu tenda ada empat kapling, dibagi untuk dua sampai tiga KBIH, atau satu tenda satu KBIH jika jamaahnya banyak. Satu kapling dapat menampung 20 orang jamaah jika tidur berjejer. Lumayan berdesak-desakan. Jamaah pria dan wanita berada di dalam satu tenda, namun jamaah wanita ditempatkan di susut agar tidak bercampur dengan jamaah haji pria. Di dalam tenda terdapat empat buah kipas angin besar yang juga menyemprotkan uap air. Namun kipas angin tersebut tidak cukup membantu menurunkan hawa yang gerah. Duh, panasnya. Apatah lagi panasnya nanti di Padang Mahsyar ya. Padang Aradah merupakan perumpamaan Padang Mahsyar, semua manusia berkumpul mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing di hadapan Allah SWT.

Suasana di dalam tenda kami

***********

Sehari sebelum wukuf terjadi peristiwa yang mencekam, yaitu badai pasir bercampur hujan yang sangat dahsyat.  Ini pertama kali saya merasakan badai pasir yang luar biasa besar di tengah gurun.

Jadi ceritanya begini. Hari Minggu sore waktu Saudi (sehari sebelum wukuf) jamaah haji Indonesia sudah berada di Arafah, sebagian juga sudah di Mina untuk mengikuti Tarwiyah.

Sore hari ketika saya akan berwudhu untuk sholat Maghrib langit di atas sana terlihat mendung. Mungkin akan hujan, pikir saya. Saat sholat Maghrib berjamaah berlangsung di dalam tenda (jam 18.30), di luar sana terdengar suara gemuruh. Angin bertiup menderu-deru seperti tornado. Listrik padam. Sholat pun menjadi tidak konsen lagi. Lama-lama kok makin keras dan mulai menggoyang-goyang tenda dan menarik-nariknya ke atas. Tenda seperti mau copot. Sangat menakutkan. Debu dan pasir berterbangan masuk ke dalam tenda. Badai pasir ini kira2 berlangsung selama 20 menit lalu berhenti. Ketika saya longok keluar, hampir semua benda sudah berantakan akibat beterbangan.

Saya kira badai pasir ini sudah berhenti. Eh, ternyata ia sedang mengumpulkan energi untuk kedua kalinya. Pukul 19.30 badai pasir datang lagi. Kali ini lebih keras dan lebih heboh lagi, lebih menakutkan daripada yang pertama. Jamaah mulai melantunkan talbiyah. Di tenda sebelah yang posisinya lebih tinggi saya dengar banyak jamaah yang menangis dan ketakutan. Listrik pun padam. Kedaaan gelap gulita dan sehingga tambah mencekam.

Tapi secara umum tidak ada jamaah yang terluka. Konstruksi tenda sepetinya dirancang tahan terhadap badai pasir yang sering melanda negara gurun. Namun merasakan sendiri berada di tengah badai pasir ini tentu pengalaman yang berbeda. Mungkin Tuhan punya cara menyambut kami dengan menunjukkan kuasanya melalui badai pasir itu. Wallahu alam.

Setelah badai behenti, saya keluar tenda untuk melihat keadaan sekitar. Olala, sandal dan bungkus makanan sudah berterbangan ke mana-mana. Pasir di mana-mana hingga masuk ke dalam tenda.  Beberapa foto setelah badai dapat dilihat di bawah ini (sumber: Okezone.com dan Viva.co.id). Badai tidak hanya di Arafah dan Mina, tetapi juga sampai ke kota Mekkah. Kiswah Ka’bah pun sampai terbuka ditiup angin yang kencang.

Foto tenda yang roboh setelah badai pasir (Sumber foto: Okezone.com)

Kondisi kiswah Kabah saat diterjang badai. (Sumber: Viva.co.id)

***********

Pagi hari tanggal 9 Zulhijjah  (20 Agutsus 2018), jamaah haji mulai bersiap-siap untuk melaksanakan wukuf. Waktu wukuf adalah  setelah adzan Dhuhur hingga terbenam matahari. Oh iya, sehari sebelum wukuf hingga hari wukuf, pasokan makanan tidak perna berhenti datang ke tenda-tenda. Catering dari Kemenag RI rutin datang untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Mie instan, biskuit, buah-buahan, air minum, yoghurt, dan lain-lain sangat berlimpah. Makanan tidak hanya datang dari Kemenag RI, tetapi juga dari dermawan kota Mekkah. Sungguh bingung menghabiskan makanan-makanan itu.

Sambil menunggu waktu wukuf tiba, jamaah haji duduk-duduk, sekedar mengobrol,  membaca Al-Quran, membaca doa, dan sebagainya. Tepat ketika waktu Dhuhur tiba, salah seorang jamaah di tenda mengumandangkan adzan. Ini berarti waktu  pelaksanaan wukuf sudah tiba. Inilah awal haji yang sesungguhnya. Kami mengatur shaf-shaf di dalam tenda untuk sholat jamak Dhuhur dan Ashar. Suasana di dalam tenda sangat syahdu dan khusu’. Selesai sholat, salah seorang ustad tampil ke depan shaf untuk mengisi khutbah wukuf. Isi khutbahnya mengingatkan tentang dosa-dosa yang telah kita perbuat, inilah saatnya kita meminta ampunan kepada Allah SWT. Diingatkan juga perumpamaan wukuf di Arafah dengan hari bekumpulnya manusia di Padang Mahsyar kelak. Saya dan jamaah lain ada yang menangis, mungkin teringatd engan banyaknya dosa yang pernah kita lakukan selama hidup ini. Seusai khutbah, jamaah haji saling berpelukan meminta maaf.

Sesudah sholat dan khutbah wukuf, masing-masing jamaah larut dengan dirinya sendiri. Waktu wukuf adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Di saat wukuf itu pintu langit terbuka, para malaikat turun ke bumi. Ada tiga tempat yang mustajab untuk berdoa, tempat di mana doa-doa dikabulkan. Yang pertama di Multazam (tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), kedua di Raudhah, dan ketiga di Arafah saat wukuf. Insya Allah doa-doa kita selama wukuf akan diijabah oleh Allah SWT. Mungkin diijabah sekarang, atau ditunda nanti. Wallahu alam. Saya  berdoa apa saja. Saya meminta apa saja. Semua doa dan permohonan yang sudah saya siapkan dari rumah saya tumpahkan di sana, terkhusus doa untuk kesembuhan anak saya yang sulung. Saya berdoa sampai menangis tersedu-sedu. Ya Allah, kabulkanlah doa-doa hamba, hamba datang ke tanah Arafah ini, memohon agar doa-doa yang saya panjatkan terbang memasuki pintu-pintu langit yang sedang membuka.

Selesai berdoa, saya habiskan waktu hingga matahari terbenam dengan membaca Al-Quran, membaca semua doa dan zikir yang tertera di dalam buku karangan K.H Miftah Farid. Janganlah abaikan masa-masa emas puncak haji ini dengan kesia-siaan. Belum tentu kita bisa datang lagi ke Arafah, karena haji hanya sekali seumur hidup. Mau berhaji lagi haru menunggu puluhan tahun. Niat saya untuk mengkhatamkan bacaan Quran selama berhahi saya teruskan di Arafah.

Menjelang sore, jamaah haji sudah berkemas-kemas untuk meninggalkan Arafah, menuju Mina sambil bermalam di Mudzdalifah. Bus-bus sudah siap menunggu di luar kampung tenda. Bus-bus ini akan akan bolak-balik dari Arafah ke Mina untuk menjemput jamaah haji. Jamaaah haji Indonesia sangat banyak, jadi tidak mungkin sekali angkut. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

December 6th, 2018 at 4:28 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 8): Jalan-jalan di Seputaran Kota Mekkah

without comments

Menghitung hari, demikian judul sebuah lagu pop. Begitulah, jamaah haji Gelombang 1 berada di Mekkah sambil menghitung hari menuju waktu puncak haji, yaitu saat wukuf di Arafah. Sambil menunggu datangnya waktu wukuf, mungkin tidak ada salahnya jalan-jalan di seputaran kota Mekkah, mengunjungi beberapa sudut kota, dan yang paling penting mengunjungi beberapa situs bersejarah seperti Gua Hira, Jabal Rahmah, Masjid Jin, dan sebagainya.

Seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, kota Mekkah adalah kota jasa dan perdagangan. Sebagai kota jasa, kota Mekah dipenuhi dengan hotel-hotel untuk menampung jamaah haji pada musim haji dan jamah umrah yang selalu datang setiap hari dari seluruh dunia. Bangunan apapun yang kita temui di Mekkah, kalau tidak hotel ya toko atau restoran. Penduduk Mekkah sendiri tinggal di pinggiran kota, di rumah-rumah yang beratap beton, atau di aprtemen. Rumah dan apartemen di sana tidak memiliki atap, karena hujan sangat jarang turun. Jangan bayangkan ada talang air atau selokan di kota ini.

Sesudut kota Mekkah

Beberapa hari setelah berada di Mekkah, rombongan KBIH kami mengadakan city tour di kota Mekkah. Kunjungan pertama adalah pergi ke pasar kambing Al Kakiyah di kota Mekah. Di pasar ini ada tempat pemotongan hewan (TPH). Jamaah haji akan menyaksikan pemotongan hewan qurban sebagai denda (dam) karena jamaah haji Indonesia umumnya melaksanakan Haji Tamatu‘ (melaksanakan umrah pada musim haji sebelum melaksanakan haji) . Dendanya adalah satu ekor kambing. Biayanya diambil dari living cost 500 riyal yang telah dibagikan di embarkasi.

Sebenarnya membeli dan menyaksikan sendiri pemotongan hewan dam bukan keharusan. Ada cara yang lebih praktis. Pemerintah Saudi sudah menunjuk Bank Al-Rajhi sebagai perwakilan. Jamaah haji tinggal mentranfer uang pembelian kambing ke bank al Rajhi dan pemotongan hewan dam dilakukan oleh Pemerintah Saudi. Namun KBIH kami memilih untuk membeli dan menyaksikan sendiri pemotongan hewan dam. Di dalam buku manasik haji dan umrah dari Kemenag disebutkan pada halaman 239 bahwa bagi haji Tamatu’ hewan dam boleh disembelih setelah selesai melaksanakan umrah. Jadi, apa yang dipandukan oleh ustad Pembimbing kami saya kira sudah sesuai dgn tuntunan karena kami melakukannya setelah umrah.

Pasar kambing di kota Mekkah

Kambing-kambing dam yang akan disembelih telah dibeli oleh perwakilan KBIH di Mekkah, jamaah tinggal menyaksikan pemotongan saja. Walah, baru saja sampai di pasar kambing ini tercium bau yang khas. Wuihhhh…baunya sangat menyengat, wajib pakai masker. Masuklah kami ke TPH. Kambing-kambing yang akan disembelih terlihat berbaris. Mereka terlihat begitu tenang seakan ikhlas dan pasrah untuk dijadikan hewan qurban. Kelak daging hewan qurban tsb dibagikan ke fakir miskin baik di Arab Saudi maupun ke negara lain sebagai daging beku.

Kambing-kambing yang siap dijual

Tukang jagal yang orang Arab itu melakukan penyembelihan begitu cepat. Setiap nama jamaah haji sebutkan namanya, lalu tidak sampai dua detik untuk menyembelih seekor kambing. Kalau di negara kita untuk menyembelih kambing saat hari raya Idul Adha maka si kambing harus diikat kakinya terlebih dahulu, digulingkan, baru disembelih. Nah, di sini keempat kakinya cukup dipegang, lalu diletakkan di lantai dan cresss…pisau yang sangat tajam begitu cepat menyembelih lehernya.

Berbaris dengan pasrah menuju penyembelihan.

Saya yang sejak dulu tidak tega dan tidak berani melihat ayam dipotong saja, apalagi kambing dan sapi, hanya memalingkan muka ketika kambing dam saya disembelih.

Selepas dari pasar kambing, rombongan jamaah haji selanjutnya mengunjungi padang Arafah dan Mina untuk melihat tempat wukuf dan tenda-tenda tempat mabit. Jadi, istilahnya jmaah haji mengenal medan terlebih dahulu. Padang Arafah tidak lagi gersang, banyak pepohonan yang tumbuh di sana. Kami ditunjukkan tempat wukuf jamaah haji Indonesia.

Di tengah Padang Arafah terdapat sbuah bukit batu yang tidak terlalu tinggi, dan selalu menjadi sasaran jamaah untuk mendakinya meskipun tidak ada sunnahnya. Bukit itu bernama Jabal Rahmah. Jabal Rahmah adalah bukit batu tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah selama jangka waktu yang sangat lama. FYI, Adam dan Hawa diusir dari surga dan diturunkan ke bumi pada dua tempat berbeda setelah mereka tergoda oleh iblis untuk memakan buah larangan. Mereka bertemu kembali di bukit ini.

Jabal Rahmah

Pemandangan dari atas Jabal Rahmah

Pemerintah Saudi membangun tugu di atas bukit ini. Untuk mendaki bukit ini tidak sulit. Ada tangga batu yang disediakan. Bukitnya tidak terlalu tinggi. Tapi lihatlah apa yang dilakukan beberapa jamaah di atas bukit ini. Mereka sholat dan berdoa menghadap ke arah tugu, padahal seharusnya ke arah kiblat. Aksi vandalisme pun tak luput dilakukan sebagian jamaah. Tulisan grafiti pada batu dan tugu merusak lingkungan Jabal Rahmah. Suasana yang ramai dimanfaatkan pula oleh PKL dan pengemis untuk mencari rezeki.

Tugu di puncak Jabal Rahmah

Aksi vandalisme di Jabal Rahmah

Di mana ada keramaian, dis situ ada PKL, termasuk di Jabal Rahmah sekalipun

Pengemis di Jabal Rahmah

Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan menuju Mina. Mina adalah perkampungan tenda. Nanti setelah wukuf di Arafah, jamaah haji melontar jumrah di Mina. Saat kami kunjungi Mina sangat sepi. Hanya tenda-tenda yang tegak membisu. Sesekali kereta LRT yang berwarna melintas dari Mudzdalifah ke Mina. Oh Mina, tunggulah kedatangan kami tanggal 10 Zulhijjah nanti.

Kereta komuter mlintasi Mina

Salah satu situs bersejarah yang patut dikunjungi jamaah haji di Mekkah adalah bukit batu bernama Jabal Nur. Di puncak Jabal Nur inilah terdapat Gua Hira, gua di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk pertama kali, yaitu surat Al-Alaq. Setiap hari Jabal Nur ramai didaki oleh jamaah haji. Mengunjungi Jabal Nur tidak disunnahkan dan bukan bagian dari ibadah haji. Tetapi, mumpung masih berada di Mekkah kapan lagi ke sana, mungkin demikian di dalam pikiran jamaah haji. Kata ustad pembimbing, untuk mendaki jabal Nur ini hingga ke Gua Hira dibutuhkan fisik yang kuat karena bukitnya terjal (kemiringan 60 derajat). Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncaknya. Insya Allah saya sanggup mendaki Jabal Nur.

Dari pemondokan haji kami di Syisyah jarak ke Jabal Nur kira-kira 5 km saja, jadi tidak perlu naik taksi ke sana. Pagi hari setelah sarapan, saya dan beberapa jamaah di KBIH berjalan kaki dari hotel menuju Jabal Nur. Cuaca cukup adem pada pagi hari. Dalam waktu satu jam saja kami sudah dapat melihat Jabal Nur dari dekat. Dari kejauan tampak garis putih berherak-gerak, itulah jamaah haji yang sedang mendaki ke puncaknuya.

Jabal Nur

Kemiringan Jabal Nur adalah 45 sampai 60 derajat. Mendaki Jabal Nur membuat nafas saya ngos-ngosan. Untunglah jalurnya sudah dibuat bertangga batu. Tiap berjalan 5 meter saya berhenti dulu buat istirahat untuk atur pernapasan. Hampir saja saya menyerah ketika sudah sampai 2/3 perjalanan. Tidak kuat. Maklum saya sudah tidak muda lagi, padahal dulu saya cukup rajin mendaki gunung. Tetapi seorang bapak dari Madura berkata kapan lagi ke sini, mumpung sedang haji. Saya jadi bersemangat lagi, masa saya harus menyerah, padahal sduah dua pertiga jalan. Akhirnya dengan menahan haus yang amat sangat (saya hanya membawa satu botol aiar mineral), sampai jua saya ke puncak bukit. Alhamdulillah. Perlu waktu satu jam lebih untuk sampai ke puncak bukit Jabal Nur. Di puncak itulah terdapat Gua Hira, tempat pertama kali wahyu diturunkan dengan perantaraan Malaikat Jibril (Surat Al-alaq ayat 1-5).

Jalur yang masih landai. Tiap berjalan lima menit saya berhenti sejenak.

Terbayang ya, bagaimana dulu Siti Khadijah naik turun bukit ini mengantarkan makanan setiap hari kepada suaminya, Muhammad, yang mengasingkan diri ke Gua Hira. Dulu tentu tidak ada jalur tangga batu seperti sekarang.

Untuk mencapai lokasi Gua Hira, kita harus melewati celah sempit yang diapit oleh batu-batu besar. Menurut perkiraan saya hanay orang yang berbadan kurus yang bisa melewatinya. Namun ajaibnya, orang-orang India dan Turi yang berbadan gemuk pun bisa melintir masuk ke dalam celah tersebut.

Celah batu sempit menuju lokasi Gua Hira

Setelah berjuang melewati celah sempit, ahirnya sampailah saya di depan pintu Gua Hira. Masya Allah, banyak sekali orang antri untuk masuk ke dala,nya. Gua Hira itu ukurannya kecil, untuk masuk ke dalamnya orang harus merunduk. Yang menyedihkan adalah aksi vandalisme (coret-coretan grafiti) di bukit ini, termasuk di pintu gua Hira. Sampah botol plastik bertebaran sepanjang jalur pendakian. Pengunjung tidak mengamalkan hadis bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Surprise ternyata banyak babon (monyet tak berekor) di dekat gua Hira. Kalau tidak hati-hati mereka merebut tas kita, dikira isinya makanan.

Massa menyemut untuk masuk ke dalam Gua Hira

Pintu Gua Hira. Tulisan grafiti pada batu merusak situs sejarah.

Orang-orang salin dorong ingin masuk ke dalam Gu Hira. Ada yang terjepit dan berteriak kesakitan. Saya teringat perjuangan untuk mencium Hajar Aswad, kira-kira perjuangannya sama dengan rebutan untuk masuk ke Gua Hira ini. Saya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam Gua Hirta. Saya merasa sudah cukup puas bisa sampai ke lokasi Gua Hira. Terbayang oleh saya dulu Rasulullah berkhalwat di gua ini. Kaum kafir Quraisy melewati gua ini. Namun mereka tidak yakin ada orang di dalamnya, pasalnya mulut gua tertutup oleh jaring laba-laba. Seekor burung pun sedang mengerami telur di mulut gua, mana mungkinlah ada orang yang masuk ke dalamnya. Demikianlah pertolongan Allah SWT sehingga Rasulullah selamat dari kejaran kaum Quraisy. Di Gua inilah Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad dan menyampiakn wahyu pertama ari Allah SWT.

Saya melihat ke sekeliling. Pemandangan dari atas Jabal Nur luar biasa. Tampaklah dari kejauhan Menara Zamzam, kota Mekah, dan pemukiman penduduk. Semua bangunan di Mekah setipe yaitu berbentuk kotak dan tanpa atap miring (genteng atau seng), karena jarang turun hujan sehingga tidak perlu atap dan talang air.

Pemandangan Kota Mekkah dari puncak Jabal Nur.

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Semua pemandangan terlihat tandus. Di tengahnya berdiri bukit2 batu yang gersang. Tidak ada satupun pepohonan di bukit2 itu. Bagaimana mau tumbuh pohon karena semua bukit adalah batu, tidak ada tanahnya. Justru di daerah tandus yang keras inilah Tuhan mengutus Nabi Muhammad ke tengah bangsa Quraisy yang jahiliyah. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

November 30th, 2018 at 1:17 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 8): Jalan-jalan di Seputaran Kota Mekkah

without comments

Menghitung hari, demikian judul sebuah lagu pop. Begitulah, jamaah haji Gelombang 1 berada di Mekkah sambil menghitung hari menuju waktu puncak haji, yaitu saat wukuf di Arafah. Sambil menunggu datangnya waktu wukuf, mungkin tidak ada salahnya jalan-jalan di seputaran kota Mekkah, mengunjungi beberapa sudut kota, dan yang paling penting mengunjungi beberapa situs bersejarah seperti Gua Hira, Jabal Rahmah, Masjid Jin, dan sebagainya.

Seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, kota Mekkah adalah kota jasa dan perdagangan. Sebagai kota jasa, kota Mekah dipenuhi dengan hotel-hotel untuk menampung jamaah haji pada musim haji dan jamah umrah yang selalu datang setiap hari dari seluruh dunia. Bangunan apapun yang kita temui di Mekkah, kalau tidak hotel ya toko atau restoran. Penduduk Mekkah sendiri tinggal di pinggiran kota, di rumah-rumah yang beratap beton, atau di aprtemen. Rumah dan apartemen di sana tidak memiliki atap, karena hujan sangat jarang turun. Jangan bayangkan ada talang air atau selokan di kota ini.

Sesudut kota Mekkah

Beberapa hari setelah berada di Mekkah, rombongan KBIH kami mengadakan city tour di kota Mekkah. Kunjungan pertama adalah pergi ke pasar kambing Al Kakiyah di kota Mekah. Di pasar ini ada tempat pemotongan hewan (TPH). Jamaah haji akan menyaksikan pemotongan hewan qurban sebagai denda (dam) karena jamaah haji Indonesia umumnya melaksanakan Haji Tamatu‘ (melaksanakan umrah pada musim haji sebelum melaksanakan haji) . Dendanya adalah satu ekor kambing. Biayanya diambil dari living cost 500 riyal yang telah dibagikan di embarkasi.

Sebenarnya membeli dan menyaksikan sendiri pemotongan hewan dam bukan keharusan. Ada cara yang lebih praktis. Pemerintah Saudi sudah menunjuk Bank Al-Rajhi sebagai perwakilan. Jamaah haji tinggal mentranfer uang pembelian kambing ke bank al Rajhi dan pemotongan hewan dam dilakukan oleh Pemerintah Saudi. Namun KBIH kami memilih untuk membeli dan menyaksikan sendiri pemotongan hewan dam. Di dalam buku manasik haji dan umrah dari Kemenag disebutkan pada halaman 239 bahwa bagi haji Tamatu’ hewan dam boleh disembelih setelah selesai melaksanakan umrah. Jadi, apa yang dipandukan oleh ustad Pembimbing kami saya kira sudah sesuai dgn tuntunan karena kami melakukannya setelah umrah.

Pasar kambing di kota Mekkah

Kambing-kambing dam yang akan disembelih telah dibeli oleh perwakilan KBIH di Mekkah, jamaah tinggal menyaksikan pemotongan saja. Walah, baru saja sampai di pasar kambing ini tercium bau yang khas. Wuihhhh…baunya sangat menyengat, wajib pakai masker. Masuklah kami ke TPH. Kambing-kambing yang akan disembelih terlihat berbaris. Mereka terlihat begitu tenang seakan ikhlas dan pasrah untuk dijadikan hewan qurban. Kelak daging hewan qurban tsb dibagikan ke fakir miskin baik di Arab Saudi maupun ke negara lain sebagai daging beku.

Kambing-kambing yang siap dijual

Tukang jagal yang orang Arab itu melakukan penyembelihan begitu cepat. Setiap nama jamaah haji sebutkan namanya, lalu tidak sampai dua detik untuk menyembelih seekor kambing. Kalau di negara kita untuk menyembelih kambing saat hari raya Idul Adha maka si kambing harus diikat kakinya terlebih dahulu, digulingkan, baru disembelih. Nah, di sini keempat kakinya cukup dipegang, lalu diletakkan di lantai dan cresss…pisau yang sangat tajam begitu cepat menyembelih lehernya.

Berbaris dengan pasrah menuju penyembelihan.

Saya yang sejak dulu tidak tega dan tidak berani melihat ayam dipotong saja, apalagi kambing dan sapi, hanya memalingkan muka ketika kambing dam saya disembelih.

Selepas dari pasar kambing, rombongan jamaah haji selanjutnya mengunjungi padang Arafah dan Mina untuk melihat tempat wukuf dan tenda-tenda tempat mabit. Jadi, istilahnya jmaah haji mengenal medan terlebih dahulu. Padang Arafah tidak lagi gersang, banyak pepohonan yang tumbuh di sana. Kami ditunjukkan tempat wukuf jamaah haji Indonesia.

Di tengah Padang Arafah terdapat sbuah bukit batu yang tidak terlalu tinggi, dan selalu menjadi sasaran jamaah untuk mendakinya meskipun tidak ada sunnahnya. Bukit itu bernama Jabal Rahmah. Jabal Rahmah adalah bukit batu tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah selama jangka waktu yang sangat lama. FYI, Adam dan Hawa diusir dari surga dan diturunkan ke bumi pada dua tempat berbeda setelah mereka tergoda oleh iblis untuk memakan buah larangan. Mereka bertemu kembali di bukit ini.

Jabal Rahmah

Pemandangan dari atas Jabal Rahmah

Pemerintah Saudi membangun tugu di atas bukit ini. Untuk mendaki bukit ini tidak sulit. Ada tangga batu yang disediakan. Bukitnya tidak terlalu tinggi. Tapi lihatlah apa yang dilakukan beberapa jamaah di atas bukit ini. Mereka sholat dan berdoa menghadap ke arah tugu, padahal seharusnya ke arah kiblat. Aksi vandalisme pun tak luput dilakukan sebagian jamaah. Tulisan grafiti pada batu dan tugu merusak lingkungan Jabal Rahmah. Suasana yang ramai dimanfaatkan pula oleh PKL dan pengemis untuk mencari rezeki.

Tugu di puncak Jabal Rahmah

Aksi vandalisme di Jabal Rahmah

Di mana ada keramaian, dis situ ada PKL, termasuk di Jabal Rahmah sekalipun

Pengemis di Jabal Rahmah

Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan menuju Mina. Mina adalah perkampungan tenda. Nanti setelah wukuf di Arafah, jamaah haji melontar jumrah di Mina. Saat kami kunjungi Mina sangat sepi. Hanya tenda-tenda yang tegak membisu. Sesekali kereta LRT yang berwarna melintas dari Mudzdalifah ke Mina. Oh Mina, tunggulah kedatangan kami tanggal 10 Zulhijjah nanti.

Kereta komuter mlintasi Mina

Salah satu situs bersejarah yang patut dikunjungi jamaah haji di Mekkah adalah bukit batu bernama Jabal Nur. Di puncak Jabal Nur inilah terdapat Gua Hira, gua di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk pertama kali, yaitu surat Al-Alaq. Setiap hari Jabal Nur ramai didaki oleh jamaah haji. Mengunjungi Jabal Nur tidak disunnahkan dan bukan bagian dari ibadah haji. Tetapi, mumpung masih berada di Mekkah kapan lagi ke sana, mungkin demikian di dalam pikiran jamaah haji. Kata ustad pembimbing, untuk mendaki jabal Nur ini hingga ke Gua Hira dibutuhkan fisik yang kuat karena bukitnya terjal (kemiringan 60 derajat). Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncaknya. Insya Allah saya sanggup mendaki Jabal Nur.

Dari pemondokan haji kami di Syisyah jarak ke Jabal Nur kira-kira 5 km saja, jadi tidak perlu naik taksi ke sana. Pagi hari setelah sarapan, saya dan beberapa jamaah di KBIH berjalan kaki dari hotel menuju Jabal Nur. Cuaca cukup adem pada pagi hari. Dalam waktu satu jam saja kami sudah dapat melihat Jabal Nur dari dekat. Dari kejauan tampak garis putih berherak-gerak, itulah jamaah haji yang sedang mendaki ke puncaknuya.

Jabal Nur

Kemiringan Jabal Nur adalah 45 sampai 60 derajat. Mendaki Jabal Nur membuat nafas saya ngos-ngosan. Untunglah jalurnya sudah dibuat bertangga batu. Tiap berjalan 5 meter saya berhenti dulu buat istirahat untuk atur pernapasan. Hampir saja saya menyerah ketika sudah sampai 2/3 perjalanan. Tidak kuat. Maklum saya sudah tidak muda lagi, padahal dulu saya cukup rajin mendaki gunung. Tetapi seorang bapak dari Madura berkata kapan lagi ke sini, mumpung sedang haji. Saya jadi bersemangat lagi, masa saya harus menyerah, padahal sduah dua pertiga jalan. Akhirnya dengan menahan haus yang amat sangat (saya hanya membawa satu botol aiar mineral), sampai jua saya ke puncak bukit. Alhamdulillah. Perlu waktu satu jam lebih untuk sampai ke puncak bukit Jabal Nur. Di puncak itulah terdapat Gua Hira, tempat pertama kali wahyu diturunkan dengan perantaraan Malaikat Jibril (Surat Al-alaq ayat 1-5).

Jalur yang masih landai. Tiap berjalan lima menit saya berhenti sejenak.

Terbayang ya, bagaimana dulu Siti Khadijah naik turun bukit ini mengantarkan makanan setiap hari kepada suaminya, Muhammad, yang mengasingkan diri ke Gua Hira. Dulu tentu tidak ada jalur tangga batu seperti sekarang.

Untuk mencapai lokasi Gua Hira, kita harus melewati celah sempit yang diapit oleh batu-batu besar. Menurut perkiraan saya hanay orang yang berbadan kurus yang bisa melewatinya. Namun ajaibnya, orang-orang India dan Turi yang berbadan gemuk pun bisa melintir masuk ke dalam celah tersebut.

Celah batu sempit menuju lokasi Gua Hira

Setelah berjuang melewati celah sempit, ahirnya sampailah saya di depan pintu Gua Hira. Masya Allah, banyak sekali orang antri untuk masuk ke dala,nya. Gua Hira itu ukurannya kecil, untuk masuk ke dalamnya orang harus merunduk. Yang menyedihkan adalah aksi vandalisme (coret-coretan grafiti) di bukit ini, termasuk di pintu gua Hira. Sampah botol plastik bertebaran sepanjang jalur pendakian. Pengunjung tidak mengamalkan hadis bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Surprise ternyata banyak babon (monyet tak berekor) di dekat gua Hira. Kalau tidak hati-hati mereka merebut tas kita, dikira isinya makanan.

Massa menyemut untuk masuk ke dalam Gua Hira

Pintu Gua Hira. Tulisan grafiti pada batu merusak situs sejarah.

Orang-orang salin dorong ingin masuk ke dalam Gu Hira. Ada yang terjepit dan berteriak kesakitan. Saya teringat perjuangan untuk mencium Hajar Aswad, kira-kira perjuangannya sama dengan rebutan untuk masuk ke Gua Hira ini. Saya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam Gua Hirta. Saya merasa sudah cukup puas bisa sampai ke lokasi Gua Hira. Terbayang oleh saya dulu Rasulullah berkhalwat di gua ini. Kaum kafir Quraisy melewati gua ini. Namun mereka tidak yakin ada orang di dalamnya, pasalnya mulut gua tertutup oleh jaring laba-laba. Seekor burung pun sedang mengerami telur di mulut gua, mana mungkinlah ada orang yang masuk ke dalamnya. Demikianlah pertolongan Allah SWT sehingga Rasulullah selamat dari kejaran kaum Quraisy. Di Gua inilah Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad dan menyampiakn wahyu pertama ari Allah SWT.

Saya melihat ke sekeliling. Pemandangan dari atas Jabal Nur luar biasa. Tampaklah dari kejauhan Menara Zamzam, kota Mekah, dan pemukiman penduduk. Semua bangunan di Mekah setipe yaitu berbentuk kotak dan tanpa atap miring (genteng atau seng), karena jarang turun hujan sehingga tidak perlu atap dan talang air.

Pemandangan Kota Mekkah dari puncak Jabal Nur.

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Semua pemandangan terlihat tandus. Di tengahnya berdiri bukit2 batu yang gersang. Tidak ada satupun pepohonan di bukit2 itu. Bagaimana mau tumbuh pohon karena semua bukit adalah batu, tidak ada tanahnya. Justru di daerah tandus yang keras inilah Tuhan mengutus Nabi Muhammad ke tengah bangsa Quraisy yang jahiliyah. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

November 30th, 2018 at 1:17 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 7): Hari-hari di Kota Mekkah

without comments

Jamaah haji reguler tinggal di kota Mekkah selama satu bulan (30 hari). Kloter kami masuk pemondokan di Mekkah tanggl 28 Juli 2018, sedangkan wukuf di Arafah (puncak haji) adalah tanggal 20 Agustus (9 Zulhijjah). Jadi, waktu menunggu wukuf masih lama, masih tiga minggu lagi. Sambil menghitung hari menunggu wukuf, jamaah haji mengisi hari-harinya di pemondokan dengan beraktivitas seperti pergi ke Masjidl Haram untuk sholat atau tawaf,  pengajian, berbelanja, tur mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Mekkah, dan lain-lain.

Inilah foto suasana pemondokan haji di kawasan Syisyah 2. Syisyah 2 jaraknya 7,5 km dari Hara, lumayan jauh ya, tapi alhamdulillah ada bus sholawat yang mengantarkan jamaah ke Haram setiap waktu. Kloter kami ditempatkan di salah satu hotel di kawasan ini. Ada puluhan hotel di Syisyah 2, yang mayoritas dihuni oleh jamaah haji Indonesia. Ada juga sih dua hotel yang ditempati oleh  jamaah haji dari Turki. Karena mayoritas dihuni oleh jamaah haji Indoensia dari ebrbagai daerah, maka pemondokan Syisyah 2 menjadi perkampungan Indonesia. Bahkan Menteri Agama Indonesia yang menjadi Amirul Hajj juga menginap di salah satu hotel di Syisyah 2.

Hotel-hotel pemondokan haji di kawasan Syisyah 2

Kesibukan pagi hari di Syisyah 2

Seperti yang sering diceritakan orang-orang yang sudah pergi naik haji, kita tidak usah khawatir soal makan di Saudi. Banyak orang Indonesia mukimin di Mekkah, umumnya para TKI, berjualan sarapan pagi di dekat pemondokan, seperti nasi kuning, nasi uduk, nasi goreng, nasi kuning, nasi lauk pauk, bakso, soto, dsb. Nasi kuning atau nasi goreng harganya 3 riyal, bakso 5 riyal, gorengan 1 riyal.

Penjual sarapan pagi di pemondokan

Aneka sarapan pagi bisa dibeli di sekitar pemondokan

Kehadiran mereka berjualan sebenarnya sangat membantu jamaah haii Indonesia, karena sarapan pagi tidak disediakan oleh Kemenag. Jamaah haji harus mencari sarapan sendiri. Tentu bosan juga kalau setiap pagi makan mie instan terus. Orang Indonesia belum merasa sarapan jika belum makan nasi. Jadi, pedagang sarapan pagi itu selalu ditunggu. Tetapi di sisi lain, berjualan di pinggir jalan sebagai pedagang kaki lima di Saudi adalah terlarang. Para wanita yang berjualan sarapan pagi tersebut dagang Indonesia  yang berjualan, mereka harus kucing-kucingan dengan Satpol PP Saudi yang berpatroli. Jika tertangkap basah, maka ibu-ibu pedagang kaki lima itu dimasukkan ke dalam penjara.  Antara rasa kasihan dan melanggar aturan Pemerintah setempat.

Di sekitar pemondokan bertebaran toko-toko yang berlabel Indonesia yang berjualan kebutuhan sehari-hari jamah haji Indonesia, seperti makanan, bumbu dapur, ikan asin,  sabun, pakaian, ember, sajadah, oleh-oleh haji, hati onta, buah hawa, kurma, dan lain-lain. Pedagangnya (atau pelayannya) kebanyakan orang Bangladesh yang dapat mengerti Bahasa Indoensia.

Toko berlabel Indonesia yang berjualan kebutuhan sehari-hari jamaah haji.

Pedagang dari Bangladesh yang berualan aneka kebutuhan jamaah di toko-toko berlabel Indonesia.

Buah hawa (kanan) untuk wanita yang susah hamil dan hati unta (kiri) untuk penderita darah tinggi, sesak napas, lemah jantung, dll. Ada saja jamaah yang membelinya untuk oleh-oleh.

Yang menarik perhatian saya adalah beberapa toko di pemondokan juga menjual barang elektronik seperti kompor listrik, pemanas air, rice cooker, magic com, dan lain-lain. Saya perhatikan banyak jamaah haji yang membeli rice cooker dan peralatan listrik lainnya untuk memasak, menyetrika pakaian, dan lain-lain. Memasak di dalam kamar hotel sebenarnya dilarang karena dapat menyebabkan bahaya kebakaran. Tetapi orang Indonesia pada dasarnya tidak taat aturan, mereka tetap saja memasak dengan peralatan listrik tersebut di dalam kamar. Magic com adalah peralatan serba guna, ia bisa digunakan untuk memasak nasi, memasak air, menumis sayuran, menggoreng ikan, dan membuat masakan apa saja. Ibu-ibu jamaah haji sangat kreatif memasak, meski Kemenag RI selalu menyediakan catering untuk makan sang dan malam.  Ibu-ibu itu patungan memasak dan membeli bahan masakan. Pagi hari mereka berbelanja, siangnya memasak. Menjelang sore terciumlah bau masakan dari kamar-kamar yang dihuni ibu-ibu yang sedang memasak.  Hmmm…wanginya sangat menggoda.

Sayur mayur dan bumbu-bumbu pun lengkap tersedia di toko-toko tersebut.

Aktivitas lain yang dilakukan di pemondokan adalah mencuci pakaian. Kebetulan hotel-hotel di pemondokan menyediakan tempat menjemur pakaian di roof top, jadi kesulitan menjemur pakaian speerti di Madinah teratasi di Mekkah. Tersedia juga mesin cuci di setiap lantai yang dapat digunakan jamaah secara bergantian. Yang perlu dibawa dari tanah air adalah hanger untuk menggantung pakaian yang dijemur, namun sebenarnya di toko-toko berlabel Indonesia itu juga menjual hanger untuk jemuran.

Mencuci dan menjemur pakaian adalah aktivitas rutin jamaah haji di pemondokan.

Selama tinggal di pemondokan tentu ada saja jamaah haji yang sakit. Tidak usah terlalu khawatir kalau sakit saat berhaji. Tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) dari Dinas Kesehatan masing-masing kota/kabupaten selalu mendampingi. Setiap kloter didampingi oleh satu orang dokter dan dua orang perawat. Sakit pusing, demam, flu, panas, luka, dsb langsung ke dokter di maktab. Semuanya gratis.

Jamaah yang sakit sedang berobat kepada dokter di maktab.

Saat pagi hari pemondokan terlihat ramai dengan jamaah yang berbelanja atau sekadar jalan-jalan mengusir kejemuan. Siang hari setelah sholat Dhuhur suasana hotel mulai sepi, jaamah haji lebih memilih istirahat di kamar masing-masing. Sore hari setelah Ashar suasana kembali ramai dengan jamaah yang akan berangkat naik bus Shalawat ke Haram untuk sholat Maghrib dan Isya di sana.

Waktu berjalan terasa lambat di pemondokan. Puncak haji masih tiga minggu lagi. Kegiatan jamaah haji di pemondokan kalau tidak tiduran, duduk-duduk, mengaji, atau membunuh waktu dengan internetan. Ustad pembimbing mengatakan agar selalu menjaga kondisi badan karena puncak haji di Armina memerlukan fisik yang sehat dan kuat. Kegiatan sunnah ke Masjidil Haram dilakukan sesuai dengan kemampuan fisik dan tidak memaksakan diri.

Ber-internet ria melalui HP masing-masing.

Tentu sayang rasanya jika jamaah haji hanya duduk-duduk atau tiduran di pemondokan. Saatnyalah menggunakan waktu yang berharga selama di Mekkah untuk sholat di Haram atau melakukan tawaf. Pemandangan yang selalu terkenang oleh saya hingga hari ini adalah antrian jamaah haji yang menunggu bus Shalawat pada sore hari  untuk berangkat ke Haram.  Sore hari setelah Ashar cuaca mulai teduh. Inilah waktu yang banyak digunakan jamaah haji ke Haram guna menunaikan sholat Maghrib sampai Isya di Haram. Setelah Isya, jamaah haji kembali memadati terminal bus untuk pulang ke pemondokan masing-masing. Suasana seperti itu tidak akan terulang lagi dan selalu terkenang-kenang oleh saya.  Hiks…

Menunggu bus Shawalat ke Haram

Bus Shalawat dalam perjalanan ke Haram menembus terowongan-terowongan  di bukit-bukit batu. Di ujung terowongan yang terakhir sampailah kita ke kompleks Masjidil Haram dengan Menara Zamzam yang menyambut kedatangan kita. Memang, di kota Mekah bukit-bukit batu bertebaran di mana-mana. Bukit-bukit ini menghambat akses jalan dan memperjauh jarak tempuh. Pemerintah Saudi menggali terowonganterowongan menembus bukit-bukit batu itu. Terowongan ada di mana-mana. Satu terowongan panjangnya ada yang mencapai 500 m.

Terowongan yang menembus bukit batu

Di dalam terowongan

Jika kita datang pas-pasan menjelang waktu sholat Maghrib, maka cukup merasa puas saja jika hanya bisa sholat di pelataran luar masjid Haram saja. Di Haram kita bertemu jamaah haji dari berbagai bangsa dan negara. Rasa persatuan karena seaqidah membuat kita merasa nyaman bersama mereka meskipun tidak saling mengenal. Saling bertanya asal negara, mengucap salam, atau berbagi sedikit makanan adalah hal yang umum kita lihat di Haram.

Sholat di pelataran luar Masjidil Haram

Di daerah Syisyah 2 ini tidak terdapat masjid. Jadi, kalau mau sholat berjamaah di hotel, maka pihak hotel disediakan mushola di lantai basement hotel. Kebetulan di dalam kloter 7 ikut ustad Saiful Islam Mubarak, salah seorang ustad kondang di Bandung, pembimbing KBIH Maqdis.  Alhasil, setiap usai sholat Dhuhur selalu ada tausiyah selama setengah jam dari pak ustad.

Pengajian dari ustad pembimbing haji setiap selesai sholat fardhu.

Hari-hari di Mekkah meski lama namun terasa begitu singkat. Perlahan-lahan hari berganti demi hari mendekati waktu wukuf. Berhaji dengan program haji reguler, meskipun waktunya lebih lama, namun sangat nikmat sekali. Banyak pengalaman selama tinggal di Mekkah yang akan selalu terkenang-kenang sepanjang masa. Kota Mekkah selalu membawa rasa rindu. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

November 16th, 2018 at 4:31 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 6): Di Masjidil Haram, Mekkah

without comments

Masjidil Haram, atau sering disingkat Haram (atau Harom) ssaja, tidak pernah sepi, baik pada musim haji maupun diluar musim haji. Di dalamnya ada “magnet” yang membuat Islam di seluruh duni selalu ingin mengunjunginya, yaitu Ka’bah, Baitullah, yang menjadi kiblat ummat Islam dalam menunaikan sholat.

Selama musim haji ini, semakin hari Haram semakin padat dengan calon jamaah haji. Jangan datang ke Haram mendekati waktu sholat, pasti tidak akan mendapat tempat di dalam, paling-paling mendapat tempat di pelataran masjid. Ya, Haram sudah penuh setengah jam sebelum waktu sholat. Jadi, kalau mau ke Haram sebaiknya satu jam sebelum waktu sholat tiba. Rata-rata jamaah ingin sholat di plaza (pelataran Ka’bah), tetapi pelataran ini sudah penuh sesak satu jam sebelum sholat. Para askar pun sudah menutup akses ke plaza satu jam sebelum waktu sholat karena sudah penuh dengan jamaah yang tawaf maupun yang menunggu sholat. Jadi, kalau anda ingin sholat di dalam Haram, maka sebaiknya datanglah minimal satu jam sebelum waktu sholat. Dari pemondokan naik bus Shalawat satu jam sebelumnya, karena satu jam sebelum waktu sholat bus Shalawat penuh dengan jamaah yang akan ke Haram.

Masjidil haram tampak dari menara zamzam. Saat waktu sholat Maghrib dan Isya, pelataran di depan menara ini penuh sesak dengan jamaah yang sholat.

Meskipun waktu sholat masih lama, biasanya jamaah haji mengisi waktu dengan tadarus (membaca Al-Quran). Dari tanah air saya sudah memasang niat akan mengkhatamkan Al-Quran selama di Tanah Suci (Madinah dan Mekkah). Sejak di Madinah saya sudah memulai membaca Quran, dari awal lagi, dan  di Mekkah saya melanjutkan hingga alhamdulillah  tamat dua hari sebelum kepulangan ke tanah air. Membaca Quran di Haram terasa lebih berkesan, karena saya membaca Quran sambil menghadap ke Ka’bah. Di depan saya Ka’bah, meskipun tidak persis di depannya, sekali-sekali ketika jeda membaca Quran mata saya menatap ke Ka’bah. Oh Ka’bah yang selalu saya rindukan, dan juga dirindukan oleh jutaan ummat Islam di seluruh dunia, sekarang ada di depan mata saya.

Jika saya tidak mendapat tempat di mataf, maka biasanya saya mengambil tempat di lantai dua yang pemandangan menghadap ke ka’bah. Pemandangan dari lantai dua justru sangat menggetarkan hati. Di bawah sana terlihat lautan manusia berputar bersama-sama mengelingi Ka’bah, melaksanakan tawaf secara berlawanan arah jarum jam sebanyak 7 putaran. Saya merekam momen yang menggetarkan hati tersebut dengan kamera ini seperti pada foto di bawah ini.

Plaza tempat Ka’bah berada dipenuhi oleh lautan jamaah haji yang sedang tawaf maupun sholat

Di lantai dua ini (dan juga di lantai tiga) juga terdapat area mataf (area untuk tawaf). Tawaf di lantai dua ini radius lingkarannya lebih panjang daripada di plaza sehingga tawaf membutuhkan waktu satu jam untuk menyelesaikannya, dan bisa lebih lama lagi jika jamaah sangat padat. Tawaf di lantai dua cocok bagi jamaah yang menggunakan kursi roda karena tidak berdesak-desakan seperti di plaza. Kursi roda tersedia secara terbatas dan gratis. Jika keluarga atau kerabat jamaah tidak sanggup mendorongnya, maka banyak tenaga kerja lokal yang bersedia membantu mendorong kursi roda menyelesaikan tawaf tujuh putaran asal bayarannya cocok.

Jamaah yang menggunakan kursi roda tawaf di lantai dua mataf

Selain untuk melaksanakan sholat fardhu, jamaah haji datang ke Haram untuk melaksanakan tawaf. Tawaf dapat dilakukan kapan saja, siang atau malam. Selagi masih punya tenaga, maka kenapa tidak memanfaatkan waktu untuk melaksanakan tawaf. Namun, semakin hari jamaah haji semakin hari semakin banyak berdatangan ke kota Mekkah dari seluruh penjuru dunia. Masjidil Haram semakin bertambah padat. Untuk tawaf di mataf (lantai di depan Ka’bah ) semakin sulit, sangat padat dan berdesak-desakan.

Baik di lantai atas  maupun di lantai bawah, jamaah yang melakukan tawaf mengalir tanpa henti. Merinding melihatnya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Semuanya bertasbih memuji-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, berdoa meminta ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Tawaf bukanlah sekedar mengelilingi kiblat ummat Islam itu. Tetapi, tawaf hakekatnya adalah mengelilingi Sang Empunya Ka’bah, yaitu Allah SWT. Selain itu, tawaf juga menghormati orang yang pertama kali membangun Ka’bah, yaitu Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Di depan Ka’bah terdapat maqam Ibrahim, yaitu tempat berdiri Nabi Ibrahim. Saya belum berhasil sholat perrsis di belaksng maqam itu karena sungguh padatnya manusia.

Tawaf juga merefleksikan pergerakan alam semesta. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron di dalam atom berputar mengelilingi inti atom. Sungguh semua itu terdapat pelajaran dan hikmah bagi manusia.

Waktu favorit untuk melaksanakan tawaf adalah malam hari setelah sholat Isya, dinihari sebelum subuh, dan pagi hari setelah matahari terbit. Saat itu suhu udara sejuk, tidak panas seperti siang hari. Selain itu, setelah sholat Isyadan seetlah sholat Subuh biasanya jamaah pulang ke hotel masing-masing untuk beristirahat sehingga Haram tidak terlalu padat sehingga kita bisa tawaf di plaza. Jamaah yang  hoteknya jauh dari Haram sudah siap-siap berangkat ke Haram pukul dua atau pukul tiga dinihari dengan niat untuk tawaf sembari menunggu waktu sholat Subuh di Haram. Bus Shalawat yang mengangkut jamaah selalu tersedia jam berapa saja, jadi mau ke Haram bisa kapan saja.

Namun, tawaf pada siang hari bolong yang sangat terik tetap saja banyak jamaah yang melakukannya meskipun sangat beresiko terkena stroke panas (heat stroke). Jamaah haji Indonesia sudah diingatkan agar tidak mengambil resiko berada di luar ruangan tanpa pelindung kepala. Suhu di Mekkah saat musim haji tahun 2018 adalah 44 – 50 derajat Celcius. Teman saya bercerita, dia melihat dari lantai dua  ada beberapa orang yang digotong dari lautan manusia yang tawaf, mungkin pingsan atau wafat terkena serangan heat stroke.

Banyak jamaah haji yang wafat di Mekkah. Seperti halnya di Masjid Nabawi, setiap usai sholat lima waktu selalu ada sholat jenazah. Begitu juga di Masjidil Haram di Mekah. Jenazah-jenazah ditaruh di sisi lantai mataf, selanjutnya dibawa ke sisi Ka’bah untuk disholatkan, disholatkan oleh ratusan ribu jamaah haji. Jamaah haji yang wafat dimakamkan di pemakaman Ma’la (jika di Madinah di pemakaman Baqi). Di Ma’la juga terbaring jasad Siti Khodijah, istri Rasulullah.

Semua jamaah haji yang wafat di tanah suci biasanya dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi untuk diketahui penyebab wafatnya. Selanjutnya jenazah dimandikan, dikafani, dan dibawa ke Masjidil Haram. Sebagian jamah haji mungkin ada menginginkan wafat di Tanah Suci. Walahu alam. Kita memang tidak pernah tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan.

Jenazah siap umtuk disholatkan di depan Ka’bah

Saat kami di Mekkah, kloter kami JKS 07 berduka. Salah seorang jamaah dari KBIH Ar-Rahmah, seorang ibu, wafat di hotel 215 di pemondokan Syisyah 2. Tinggallah suaminya sendiri duduk menatap jenazah almarhumah istri tercintanya. Dari 402 jamaah haji kloter JKS 7 sekarang berkurang menjadi 401 orang. Umur dan ajal memang di Tangan Allah SWT. Inna lillaahi wa Inna ilaihi raajiun.

Selesai tawaf di Ka’bah, sambil menunggu waktu sholat dhuhur tiba, banyak juga jamaah  “tawaf” di Zamzam Tower. Menara zamzam sudah menjadi landmark kota Mekah. Di menara ini terdapat puluhan hotel berbintang dan mal/pusat perbelanjaan. Jamaah haji khusus (plus) biasanya menginap di hotel-hotel di menara ini.

Bubaran sholat jalan-jalan ke Zamzam Tower

Mal di Menara Zamzam diisi oleh toko-toko dan supermarket (Bin Dawood) yang berjualan barang bermerek. Mal kelas elitlah. Berbagai jamaah haji dari berbagai penjuru dunia ramai mendatangi mal ini sekedar cuci mata atau memang untuk berbelanja. Puluhan  restoran baik restoran waralaba barat maupun restoran dengan menu lokal berjejer di setiap lantai. Menariknya, setiap waktu sholat tiba, seluruh toko di mal ini tutup. Para pegawai toko dan pengunjung yang terjebak  di dalam mal (tidak bisa keluar mal karena pelataran di depan Menara Zamzam sudah penuh dengan jamaah yang akan sholat) menjadikan lantai mal menjadi shaf-shaf untuk sholat. Mal pun berubah menjadi mushola besar saat waktu sholat tiba. Sungguh pemandangan yang mengharukan, hanya bisa kita temukan di sini saja.

Mal di Menara zamzam

Bin Dawood mungkin merupakan jaringan supermarket terkenal dan terbesar di Saudi. Sejak di Madinah dan di Mekah hanya menemukan supermarket ini saja.

Untuk mencari makanan di sekitar Masjidil Haram tidaklah sulit. Selain di Menara Zamzam, puluhan restoran di sekitar Haram berebaran menawarkan menu nasi kebuli, nasi mandhi, kebab, shawarma, martabak, ayam bakar (broast chicken), dan lain-lain. Saya sempat membeli nasi kebuli Arab, yang kemudian saya ketahui bernama nasi bukhori,  di luar Haram. Ini pertama kali saya makan nasi kebuli. Ya ampun, dikasih nasi porsinya segede gaban, ayamnya juga besar. Bagaimana menghabiskannya ya? Biasanya saya makan separo dan sisanya buat sarapan pagi besok. Nasinya enak, banyak mengandung rempah. Ada cengkeh, pala, jinten, dll di dalam nasi. Nasi bukhori dengan ayam panggang harganya 20 riyal. Kalau nasinya saja harganya 5 riyal. Martabak dan shawarma juga 5 riyal.

Restoran di luar Haram

Ayam panggang yang menggoda.

Nasi bukhori. Lalapannya adalah cabe hijau besar.

Tidak jauh dari Haram, yaitu di dekat bukit batu, tidak jauh dari terminal Syib Amir, ada sebuah perpustakaan yang dulunya tempat ini adalah tempat bersejarah. Ya, di lokasi tempat perpustakaan inilah dulunya terdapat rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad. Banyak jamaah haji yang mengunjungi tempat ini, sebagian jamaah saya lihat sholat di sini meskipun sudah ada larangan untuk tidak sholat di sana. Pemerimtah Saudi memang banyak menghancurkan  situs-situs bersejarah, misalnya rumah Siti Khadijah menjadi lokasi toilet, rumah kelahiran Nabi menjadi gedung perpustakaan. Mungkin maksudnya supaya jamaah tidak melakukan bid’ah, yaitu melakukan perbuatan yang mengarah syirik dengan melakukan ritual-ritual yang tidak diajarkan oleh agama. Hal ini mungkin debatable.

Perpustakaan Mekkah Al-Mukaramah. Di lokasi inilah dulu terdapat rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad.

Seperti halnya di Masjid Nabawi, di setiap sudut Masjidil Haram terdapat banyak gentong yang berisi air zam-zam. Jamaah haji dapat minum air zamzam sepuasnya atau membawanya pulang. Biasanya jamaah haji sudah membawa botol-botol air mineral  dari pemondokan. Ketika pulang dari Haram, mereka mengisi botol-botol itu dengan air zamzam untuk diminum di hotel. Di luar Masjidil Haram juga terdapat keran-keran air zamzam. Jamaah dari India, Afghanistan, Mesir, dan lain-lain biasanya mengisi air zamzam ke dalam jerigen-jerigen.

Depot air zamzam di luar Haram.

Masjidil Haram di Mekkah memang selalu dirindukan. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

November 4th, 2018 at 2:01 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 5): Umrah ke Mekkah

without comments

Setelah berada delapan hari Madinah, maka pada hari kesembilan kami bersiap-siap melaksanakan umrah ke Mekkah. Ibadah umrah terdiri dari ihram, tawaf, dan sa’i. Selama umrah kita akan berpakaian ihram, yaiu bagi laki-laki menggunakan hanya dua lembar kain tidak berjahit. Untuk pembaca ketahui, rukun haji itu ada enam yaitu ihram, wukuf, tawaf ifadah, sa’i, tahalul, dan tertib.

Sehari sebelum berangkat umrah, kami semua diwajibkan mengemasi semua barang ke dalam koper besar, koper besar akan dikumpulkan keesokan paginya di depan kamar masing-masing untuk diangkut dengan bus ke Mekkah. Koper kecil berisi pakaian ganti, kain ihram, peralatan mandi, dan barang pribadi lainnya.

Hari itu Hari Jumat tanggal 27 Juli 2018, kami jamaah haji Kloter 7 JKS akan berangkat umrah ke Mekkah setelah sholat Ashar. Pagi hari sebelum sholat Jumat saya ke Raudhah terlebih dahulu (seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, “pamitan” ke Rasulullah). Setelah sholat Jumat (yang dijamak dengan sholat Ashar), kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap memakai kain ihram. Pakaian ihram hanya dua lembar kain berjahit, tidak boleh pakai pakaian apapun lagi seperti pakaian dalam. Boleh memakai sabuk agar kain ihram tidak lepas. Di situs Youtube banyak sekali video yang memperagakan cara memakai kain misalnya ini, ini, dan ini.

Setelah waktu Ashar, kami diperintahkan turun ke lantai dasar hotel untuk bersiap masuk bus. Kami hanya membawa tas kecil dan tas paspor saja. Setiap rombongan sudah tahu busnya masing-masing, nomor bus sama sejak dari Bandung. Saya dan jamaah dari KBIH saya menempati bus nomor 1.

Jam 16.30 bus bergerak meninggalkan Madinah. Ada perasaan sedih meninggalkan kota Madinah disaat lagi betah-betahnya disini. Jamaah haji tidak kembali lagi ke Madinah setelah puncak haji di Arafah. Di masjid inilah terdapat maqam Rasulullah. Jutaan jamaah haji berziarah ke maqam Rasul sambil mengenang perjuangannya di masa lalu. Memang bermukim di Madinah tidak termasuk ke dalam rukun haji. Sunnah saja. Di Madinah jamaah haji berziarah ke berbagai tempat peninggalan sejarah Nabi Muhammad, termasuk shalat arbain (40 kali) di Masjid Nabawi. Selamat tinggal kota Nabi. Mudah-mudahan saya bisa kembali lagi ke sini kalau ada kesempatan melaksanakan umrah suatu hari nanti.

37835726_1971859286215420_332718386138054656_o

Hotel-hotel pemondokan jamaah haji di sekitar Masjid Nabawi, Madinah.

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam dari hotel, sampailah jamaah haji ke Masjid Bir Ali. Jamaah haji yang datang  dari Madinah mengambil miqat di Masjid Bir Ali ini. Bir dalam bahasa Arab artinya sumur, dulu di tempat ini Ali bin Abi Thalib membangun sumur sehingga diberi nama Bir Ali. Di Masjid Bir Ali jamaah haji melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, setelah itu melafalkan niat ihram: Labbaika Allahumma umratan, yang artinya Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berumroh. Sesaat setelah mengucapkan niat umrah tersebut, maka berlakulah larangan-larangan ihram seperti tidak boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting kuku dan rabut, tidak boleh memperlihatkan aurat, tidak boleh berhubungan suami-istri, dan masih banyak lagi larangan yang harus dipatuhi. Jika dilanggar, maka jamaah haji terkena dam atau denda yang besarnya seharga satu ekor kambing.

Setelah melafalkan niat ihram, kami masuk kembali ke dalam bus. Sepuluh bus rombongan jamaah haji Kloter 07 JKS bergerak menuju kota Mekkah. Perjalanan dari Masjid Bir Ali ke kota Mekkah akan memakan waktu enam jam. Pada sore hari itu terlihat di kiri kanan jalan pemandangan yang tandus dan gersang. Bukit batu dan tanah berpasir, hanya itu saja yang terlihat. Sekali-sekali tanpak perumahan penduduk dan bangunan-bangunan yang seperti tidak berpenghuni. Di dalam bus jamaah banyak lebih banyak duduk berdiam diri saja, atau mengikuti Pak ustad pembimbing melantunkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik. Labbaikalaa syarikalaka labbaik. Innal hamda, wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikalak. Sebenar lagi saya akan berjumpa dengan Baitullah di tanah suci Mekkah. Perasaan saya bercampur aduk.

Saya yang duduk sendirian paling belakang mulai merasakan perut tidak enak. Sakit melilit-lilit, perut ditekan terasa keras. Rupanya perut saya kembung masuk angin. Saya memang rentan masuk angin jika tidak memakai pakaian. Kain ihram yang dua lembar  membuat sebagian badan saya terbuka sehingga gampang masuk angin. Saya menyesal tidak minum jamu tolak angin sebelum berangkat tadi. Saya sarankan jamaah haji membawa cukup banyak jamu tolak angin dari tanah air karena sangat bermanfat sekali di sana ketika badan terasa kurang enak.

Ketika bus berhenti di rest area saya mencari apakah ada pedagan yang menjua jamu tersebut, ternyata tidak ada. He…he, ini bukan di Indonesia, tetapi di jalur yang sepi di Arab audi, mana ada yang menjual. Untunglah Pak Ustad Pembimbing Haji membawa jamu tolak angin. Setelah meminum jamu itu saya kentut berkali-kali (maaf), alhamdulillah perut saya sekali.

Memasuki perbatasan kota Mekkah, bus harus melapor ke pos perbatasan (check point). Di sini petugas Arab Saudi naik ke atas bus untuk memeriksa penumpang bus guna memastikan bahwa semuanya adalah jamaah haji yang legal. Oleh karena itu, kartu identitas haji kita harus selalu dibawa. Pemeriksaaan itu bertujuan untuk mencegah masuknya pendatang ilegal ke kota Mekkah. Selama musim haji, Arab Saudi memang sangat ketat memeriksa setiap orang yang masuk ke kota Mekkah. Hanya jamaah haji dan orang-orang yang punya izin khusus yang boleh masuk ke Tanah Haram. Hal ini bisa dimaklumi karena selama musim haji kota Mekkah akan sangat padat dengan jamaah haji dari seluruh dunia. Masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan dengan urusan haji dapat membuat kota Mekkah akan macet total.

Setelah pemeriksaan beres, jamaah haji mendapat sambutan selamat datang berupa paket makanan ringan dan sebotol air zam-zam dari Kerajaan Arab Saudi. Wah, bahagia rasanya diperlakukan sebagai tamu yang dihormati.  Pemerintah Arab Saudi sebagai pengayom dua tanah suci (Mekkah dan Madinah) memang melayani tamu-tamu Allah yang datang ke negara itu. Berbagai infrastruktur dibangun besar-besaran di kedua tanah haram tersebut demi kenyamanan jamaah haji.

Dari titik check point, bus memasuki kota Mekkah. Dari atas bus tampaklah Menara Zamzam di kejauhan. Menara zamzam adalah bangunan tertinggi di kota Mekah, ia selalu tampak di mana saja kita berada.

Tepat jam 1 malam bus sampai di pemondokan haji di wilayah Syisyah 2. Karena sudah malam, kami tidak dapat melihat bangunan hotel yang akan kami tempati selama satu bulan di kota Mekkah. Kloter 07 JKS ditempatkan di dua buah hotel yang bersebelahan, yang diberi nama Hotel Indonesia 214 dan Hotel Indonesia 215. Foto di bawah ini adalah rupa hotel 215 tempat kami menginap jika dilihat pada siang hari. Hotel ini nantinya juga menjadi tempat pemnodan jamaah haji dari Kebumen (embarkasi Solo), dan jamaah haji dari Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Muaro Jambi (embarkasi Batam).

Hotel dengan nomor 215 tempat pemondokan haji Kloter 07 JKS

Setelah selesai pembagian kamar dan penyerahan koper, kami disuruh istirahat selama satu jam di kamar masing-masing. Saya satu kamar bertiga (tiga bed), dicampur dengan jamaah haji dari KBIH Maqdis. Kamarnya tidak lebih bagus daripada kamar hotel di Madinah. Mirip kamar kos. Sepertinya bangunan hotel ini masih baru, itu terlihat dari cat dan furniturnya. Pemiliknya membangun banyak hotel di kawasan Syisyah 2, terlihat dari arsitektur bangunan di sini mirip-mirip semua.

Kamar hotel tempat saya menginap di Hotel 215. Maaf ya kamarnya berantakan. Ini foto pagi hari setelah bangun tidur.

Saya mencoba beristirahat di kamar, namun saya tidak bisa tidur, hanya tidur-tiduran saja. Ingat ya, jamaah haji yang laki-laki masih dalam berpakaian ihram,. Selama istirahat di dalam kamar kita tidak boleh mengganti pakaian, harus tetap memakai dua lembar kain tidak berjahit. Pakaian ihram tidak boleh dibuka di hadapan jamaah haji yang lainnya meskipun sesama laki-laki, sebab aurat tidak boleh kelihatan oleh orang lain. Jika terbuka, batal ihramnya. Kita boleh membuka pakaian ihram di dalam toilet jika ingin BAK atau BAB. Selama tidur-tiduran di atas kasur, saya juga tidak berani memakai selimut, karena khawatir membatalkan ihram.

Jam dua malam kami bersiap untuk melaksanakan umrah ke Masjidil Haram. Kawasan Sysisyah 2 lumayan jauh dari Masjidil Haram, yaitu sekitar 7 km. Untunglah Pemerintah RI menyediakan layanan bus-bus yang selalu beredar dari pemondokan haji ke Masjidil Haram. Bus-bus tersebut diberi nama bus Shalawat yang merupakan singkatan dari Shalat Lima Waktu. Jamaah haji Indonesia gratis naik bus tersebut. Kapan saja jamaah haji ingin pergi ke Haram untuk sholat maka tunggulah bus tersebut lewat di depan hotel. Nanti jika pulang dari Masjidil Haram ke hotel, jamaah dapat naik bus itu kembali dari terminal di dekat Haram (terminal untuk bus kami bernama Syib Amir).

Penampakan bus Shalawat pada siang hari

Perjalanan dengan bus Shalawat pada dinihari dari hotel ke Masjidil Haram memakan waktu 20 menit saja. Bus Shalawat bernomor 8 berhenti di terminal Syib Amir. Dari terminal Syib Amir kami berjalan kaki menuju kompleks Masjidil Haram. Sepanjang jalur dari terminal Syib Amir ke pintu Masjidil Haram dipenuhi toko-toko dan restoran yang berjualan kebutuhan jamaah haji (makanan, buah-buahan, kurma, pakaian, asesori, dan sebagainya). Berbagai restoran cepat saji khas Arab berderet menawarkan makanan yang menggoda (restoran broast).

Terminal Syib Amir pada siang hari

Restoran dan toko-toko di Terminal Syib Amir

Sambil berjalan menuju Masjidil Haram, saya memandang menara Zamzam.  Menara Zamzam berdiri dengan gagahnya di beranda Masjidil Haram, tampak dari arah terminal bus. Di menara ini terdapat puluhan hotel dan mal. Jamaah haji ONH plus (sekarang bernama program Haji Khusus untuk membedakannya dengan program haji reguler) biasanya menginap di hotel2 di Menara Zamzam, bukan di pemondokan seperti yang kami tempati. Cukup berjalan 50 meter dari Menara Zamzam langsung masuk Masjidil Haram.

Masjidil Haram dan Menara Zamzam pada siang hari

Menara Zamzam adalah bangunan paling tinggi di Kota Mekah. Dimana pun kita berada di Mekah pasti dapat melihat menara ini dari kejauhan. Di puncaknya berdiri bangunan bulan sabit dari emas murni yang beratnya berton-ton. Lalu sebuah jam besar yang menjadi patokan waktu di Mekah.

Crane-crane yang terlihat di dalam foto di atas menunjukkan bahwa pembangunan perluasan Masjidil Haram masih terus berlangsung. Sejak saya umrtah tahun 2015 hingga naik haji tahun ini, tampaknya perluasan Masidil Haram belum selesai-selsesai juga.

Kami memasuki Haram dari pintu Marwah. Ini adalah pintu tempat keluar jika sudah selesai sa’i. Dari pintu ini kami berjalan kaki ke arah ka’bah melewati jalur sa’i. Meski waktu saat itu dinihari, jamaah haji yang melakukan sa’i ramai sekali. Oh iya, rangkaian ibadah umrah terdiri dari thawaf, sa’i, dan ditutup dengan tahalul. Suhu udara di linatsan sa’i ini lumayan dingin karena banyak sekali dipasang kipas angin yang meniupkan udara dingin di dalam ruangan. Brrr….

Jalur melakukan sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Shhafa dan bukit Marwah

Setelah berjalan kaki melalui lintasan sa’i sampailah kami ke mataf, yaitu tempat melakukan thawaf. Allahu Akbar, tampaklah di depan kami ka’bah, Baitullah, Rumah Allah, yang selama ini hanya dapat dilihat gambarnya saja. Kami ingin thawaf di plaza, yaitu lantai dasar yang langsung berhadapan dengan ka’bah. Dari lantai dua kami turun ke lantai dasar. Suasana plaza di depan ka’bah saat dinihari itu sangat ramai dengan jamaah haji yang thawaf maupun yang sholat. Jamaah haji dari seluruh dunia sudah berdatangan ke Mekkah, jadi wajar saja Masjidil Haram saat itu sudah padat.

Ka’bah, kiblat ummat Islam sedunia. Sepoton bulan menggantung di atas kota Mekkah. Sungguh indah sekali malam itu.

Rombongan KBIH kami thawaf dalam satu kelompok. Jamaaah perempuan berada di tengah, lalu dibentengi di kiri kanannya dengan jamaah laki-laki. Pembimbing haji berada di depan memimpin thawaf. Agar suara pembimbing dapat didengar oleh jamaah, maka masing-masing kami dilengkapi dengan perangkat radio dan kabel earphone. Earphone dipasang ke telinga, dihubungkan dengan perangkat radio yang ditaruh di dalam tas paspor (tas paspor digantung ke leher). Setiap memutar ka’bah ustad pembimbing memandu bacaan doa, kami mendengarnya melalui perangkat earphone tadi, lalu melafalkan doa yang dibaca Pak Ustad.  Menurut saya cara ini lebih efektif daripada pembimbing haji mbaa doa keras-keras agar didengar jamaahnya.

Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari sudut ka’bah yang terdapat hajarul aswad (batu hitam) dan setiap putaran berakhir di sudut itu juga. Untuk mengetahui letak hajarul aswad dari kejauhan, tedapat lampu berwarna hijau di sudut dinding masjid. Jamaah haji melihat ke lampu hijau itu untuk memulai putaran berikutnya. Bacaan yang dibaca ketika memulai putaran dari hajarul aswad adalah bismillahi allahu akbar sambil mengangkat tangan kanan dan mengecupnya (sebagai simbol mencium hajarul aswad).  Ketika melewati sudut ka’bah yang bernama sudut Yamani, jamaah juga melafalkan bacaan yang sama tatapi tanpa mengecup tangan.

Sebenarnya pada setiap putaran kita bebas membaca doa apa saja, namun Kemenag RI  telah meyediakan buku kecil yang berisi kumpulan doa selama thawaf dan sa’i. Jamaah yang melakukan thawaf sendiri dapt membaca doa di buku itu sembari memutar ka’bah.

Selama thawaf kita dapat menyaksikan gaya masing-masing jamaah berbagai negara dalam membaca doa. Ada yang berjalan sambil membaca buku doa, atau membaca doa dari layar ponsel. Rombongan jamaah haji Indonesia dari berbagai daerah dapat mudah dikenali. Jamaah haji Indonesia tubuhnya kecil-kecil namun tertib, kontras dengan jamaah haji dari Turki, India, Mesir, Asia Tengah, yang bertubuh besar-besar dan berjalan dengan sangat cepat. Selama thawaf kami sering tergencet tubuh-tubuh jamaah haji yang besar-besar itu, beberapa kali kami terdorong ke kiri dan ke kanan. Hampir saja rombongan kami terpecah, tetapi dapat bersatu kembali. Ibadah thawaf memang memerlukan fisik yang kuat karena selain berjalan sebanyak tujuh putaran kita juga harus mengantisipasi tergencet atau terdorong oleh jamaah haji lainnya dalam suana yang padat dna berdesak-desakan.

Kurang dari satu jam akhirnya kami selesai melaksanakan thawaf, lalu kami keluar dari putaran. Selanjutnya kami mencari tempat di dekat maqam Ibahim untuk melaksanakan sholat sunnat dua rakaat. Rakaat pertama membaca surat Al-kafirun, sedangkan rakaat kedua membaca surat Al-ikhlas. Selesai sholat sunnat, selanjutnya meminum air zamzam dari gentong-gentong yang banyak terdapat di sudut-sudut Masjidil Haram.

Selanjutnya jamaah haji menuju masa’a untuk melaksanakan sa’i. Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Setiap kali dari Safa ke Marwa dihitung satu kali, begitu pula dari Marwa ke Safa. Sa’i merupakan pengulangan sejarah Siti Hajar yang mencari air untuk minum bayinya (Ismail) yang kehausan. Ismail terus menangis karena haus, sementara ASI Siti Hajar sudah kering. Saya mengenang ribuan tahun yang lalu kisah Siti Hajar dan putranya Ismail. Dia melihat dari bukit Safa sekiranya ada air di sekeliling padang yang tandus. Dia melihat ada bayangan air di bukit Marwah, lalu dia berlari ke bukit Marwah. Ternyata yang dia temukan adalah fatamorgana belaka. Kemudian dia balik lagi ke bukit Safa. Begitu seterusnya sebanyak tujuh kali.

Sekarang bukit Safa dan bukit Marwah sudah tidak ada lagi seperti zaman dulu. Pembangunan perluasan Masjidil Haram mengakibatkan kedua bukit itu telah dipapas. Yang tersisa adalah sebagian potongannya yang dijadikan memorabilia sebagai tanda di situ terdapat kedua bukit tersebut. Saat ini tempat sa’i sudah sangat nyaman dan terdiri dari tiga lantai.

Awal sa’i adalah dari bukit Safa ini.

Bukit Marwa

Sa’i dimulai dari Safa dan setelah tujuh kali berlari maka akan berakhir di Marwa. Pada  lintasan dari Safa ke Marwa maupun sebaliknya ada bagian lintasan yang ditandai dengan lampu berwarna hijau. Jamaah laki-laki berlari-lari ekcil pada bagian lintasan ini, sedangkan jamaah perempuan cukup berjalan cepat atau berjalan biasa saja. Di sepanjang lintasan sa’i terdapat kran air zamzam. Jamaah yang lelah dapat berhenti dulu untuk minum air zamzam lalu menersukan sa’inya.

Ibadah sa’i kami terpotong dengan sholat Subuh. Setelah berlari sebanyak lima kali, adzan Subuh berkumandang. Sa’i pun dihentikan sementara. Kami mencari  tempat di lintasan sa’i untuk bersiap-siap sholat Subuh berjamaah. Selesai sholat Subuh, ritual sa’i yang tersisa pun dituntaskan. Alhamdulillah, pukul 6 pagi kami sudah selesai menuntaskan sa’i. Ibadah umrah diakhiri dengan tahalul, yaitu memotong sedikit rambut sebagai simbol halal melakukan apa-apa yang dilarang selama berihram. Kami sudah boleh memakai pakaian baisa, namun pakaian biasa ada di kamar hotel, jadi nanti di sana saja.

Tuntas sudah ibadah umrah. Kami berjalan keluar Haram menuju terminal Syib Amir. Kami menaiki bus shalawat kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebelum pulang, saya singgah dulu ke restoran Ayam Broast yang tadi saya lewati. Kayaknya makanannya enak juga, maklum perut sudah lapar. Saya membeli kentang goreng untuk sarapan nanti di hotel. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

October 19th, 2018 at 2:44 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 4): Masjid Nabawi dan Sekitarnya

without comments

Masjid Nabawi sangatlah besar dan interior di dalamnya sangat indah. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya pasti akan merasa terkaum-kagum melihat keindahannya. Lengkung-lengkung di dalamnya dipengaruhi gaya masjid di Turki dan Cordoba (Spanyol). Karpet merah terbentang hampir di seluruh lantainya. Lampu-lampu kristal bergelantungan di langit-langit.  Pintu-pintunya sangat banyak. Jamaah haji harus mengingat di pintu mana ia masuk agar tahu kalau nanti kalau keluar supaya tidak tersesat.

Interior yang cantik di dalam Masjid Nabawi

Di dalam masjid Nabawi jamaah haji dari berbagai bangsa berkumpul untuk melaksanakan sholat maupun mengaji Al-Quran. Jika ingin mendapatkan shaf di dalam masjid, maka datanglah setengah jam sebelum sholat dimulai. Jika datang pas mendekati waktu sholat, maka mungkin jamah mendapat shaf paling belakang atau di luar masjid. Selama di Madinah jamaah haji memperbanyak sholat di Madjid Nabawi, karena sholat di Masjid Nabawi 1000 kali pahalanya dibandingkan sholat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram.

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.).

Duduk-duduk di dalam masjid membuat kita betah dan tidak ingin untuk pulang. Udara yang sejuk di dalam masjid yang berasal dari pendingin udara membuat mata terkantuk-kantuk. Memang banyak jamaah haji menunggu waktu sholat berikutnya di dalam masjid. Setelah sholat maghrib, sebagian jamaah haji tetap berada di dalam Masjid Nabawi menunggu sholat Isya. Begitu juga setelah sholat Dhuhur, tetap berada di dalam masjid sambil menunggu waktu sholat Ashar.

Sambil menunggu waktu sholat berikutnya, sebagian jamaah menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Quran. Kitab Al-Quran tersebar di berbagai rak yang bertebaran di dalam masjid. Sebagian lagi saya lihat banyak jamaah haji tidur-tiduran di dalam masjid. Ternyata tidak di Indonesia saja jamaah tidur di dalam masjiid, di Saudi juga sama ya. Nah, kalau anda tidur di dalam masjid Nabawi, sebaiknya perhatikan  etika ini. Jangan tidur dengan menjulurkan kaki anda ke arah kiblat atau ke arah maqam Nabi (maqam nabi berada di bagian depan Masjid Nabawi). Jadi, kepala anda berada di sebelah barat dan kaki anda ke arah timur. Saya pernah ditegur oleh jamaah haji dari Bangladesh karena kaki saya menghadap ke arah maqam Nabi. Tidak menghormati Nabi, katanya.

Setiap hari Senin dan Kamis sore menjelang sholat Maghrib saya melihat  pemandangan yang unik.  Di atas karpet tempat sholat terbentang kain putih. Di atasnya ditata hidangan seperti roti Arab, kurma, dan air zam-zam (kadang-kadang yoghurt). Di ujung kain putih seorang pemuda Madinah  memohon-mohon kepada jamaah yang lewat di dalam di masjid Nabawi untuk singgah mencicipi hidangan yang mereka sediakan secara gratis. Halal, halal, katanya. Kalau kita tidak singgah mereka sedikit kecewa.  Hidangan ini sebenarnya ditujukan bagi jamaah yang akan berbuka puasa sunat, tetapi jamaah yang tidak puasa juga boleh makan.

Pemuda ini menawarkan hidangan kepada setiap jamaah yang lewat.

Sampai kenyang perut saya karena makan hidangan tsb di dekat pintu masuk, tapi ketika berjalan ke arah depan semakin banyak saja yang menawarkan dan sudah tidak sanggup lagi saya. Syukran, syukran, kata saya.

Kebiasaan menjamu jamaah biasanya saya dengar pada saat bulan Ramadhan. Saat itu banyak penduduk Makkah dan Madinah berlomba-lomba menyediakan hidangan gratis bagi orang yang berpuasa, mereka memohon agar orang yang lewat mencicipi takjil untuk berbuka puasa. Setelah Ramadhan, kata pemuda itu menjelaskan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, kebiasaan itu berlanjut setiap hari Senin dan Kamis.

Jamaah sedang mencicipi hidangan dari penduduk Madinah yang dermawan.

Saat musim haji seperti sekarang sekitar 2 juta jamaah datang dari berbagai penjuru dunia memenuhi kota Madinah. Tentu penduduk kota Madinah akan semakin berlomba meraih pahala dengan menjamu jamaah haji yang menjadi tamu-tamu Allah itu. Penduduk Madinah memang orang yang ramah, jadi teringat ketika Rasulullah dan kaum Muhajirin disambut dengan suka cita oleh kaum Anshar di Madinah. Allahumma shalli ala Muhammad.

Pemandangan lain yang saya lihat di dalam Masjid Nabawi adalah pemuda dan anak-anak kota Madinah sedang setor hafalan ayat Al-Quran kepada gurunya usai sholat Ashar. Mereka menghadap ke guru, lalu membacakan hafalan. Jika bacaannya salah maka dikoreksi oleh guru. Metode ini mirip dengan metode tahfidz di tanah air kita, atau mungkin yang metode di tanah air mengadopsi sistem di Madinah.

Anak-anak sedang setor hafalan Al-Quran

Seorang pemuda sedang setor hafalan Quran. Gurunya mendengarkan dengan seksama.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebiuah tempat yang selalu menjadi incaran jamaah, apalagi kalau bukan Raudhah. Raudhah adalah sebuah area yan luasnya 100 meter persegi yang terletak di antara maqam Nabi dan mimbar Nabi. Dahulunya Raudhah adalah tempat yang terletak antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Masjid Nabawi dulu kecil adanya, sedangkan rumah Rasululllah terletak di luarnya. Rasulullah berkata:

Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Ummat Islam meyakini bahwa Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Tempat itu menyebabkan masuk surga dan bahwa doa serta shalat di dalamnya layak mendapatkan balasan seperi itu, demikan tafsir para ulama.

Sholat di Raudhah. Dibalik teralis berwarna hijau itulah terdapat makam Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, dan Umar bin Khatab

Untuk bisa memasuki Raudhah perjuangannya sangat luar biasa. Ribuan orang berdesak-desakan antri untuk memasuki Raudhah. Untuk jamaah wanita disediakan jalur khusus dan hanya dibuka setelah sholat Subuh dan Ashar, sedangkan untuk jamaah laki-laki dapat ke Raudhah waktu kapan saja.

Setiap usai sholat lima waktu jamaah haji berlomba mendekati Raudhah. Para askar dan petugas cleaning service sudah membuat barikade dengan memblok jalur ke Raudhah. Mereka mengatur jamaah yang berdesak-desakan untuk memasuki Raudhah. Setiap kali masuk Raudhah dibatasi sekitar seratus orang. Jamaah yang tidak tahan terjepit biasanya keluar dari antrian. Untuk bisa memasuki Raudhah diperlukan waktu sekitar satu jam, yang penting sabar  saja. Sebaiknya jamah membekali dirinya dengan air minum karena antri di dalam keumunan yang sangat padat dan berdesak-desakan memerlukan stamina kuat. Waktu terbaik ke Raudhah adalah siang hari jam 10 pagi dan malam hari setelah jam 22.00. Saat itu antrian tidak terlalu padat karena jamaah sudah banyak yang pulang ke pemondokan.

Area Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau

Sholat dan berdoa di Raudah tidak bisa berlama-lama, karena jamaah yang lain juga antri untuk masuk ke dalamnya. Para askar meemberi waktu kira-kira 10 menit kepada jamaah berada di dalam Raudhah, lalu menyuruh jamaah segera keluar. Askar tidak berani mengusir jamaah yang sedang sholat di Raudhah, tetapi mereka “mengusir” jamaah yang terlalu lama berdoa. Padahal, setiap jamaah yang memasuki Raudhah sudah memiliki rencana sejumlah doa dan permohonan yang akan disampaikan di Raudhah. Jika dilakukan dalam keadaan terburu-buru karena kasip waktu tentu tidak akan kesampaian semua doa tersebut. Satu tips agar bisa berdoa agak sedikit lama di Raudhah adalah jangan berdoa sambil duduk menengadahkan kedua tangan sebegaimana kita berdoa pada umumnya, tetapi berdoalah sambil bersujud. Maksudnya, anda mengambil posisi sujud lalu berdoalah dalam keadaan sujud tersebut, askar menyangka anda sedang melaksanakan sholat. Seperti yang saya katakan tadi, askar tidak akan berani mengusir jamaah yang sedang sholat,  he..he..

Di Raudhah perasaan saya pun mellow-mellow. Saya hampir tidak percaya bisa duduk sebegitu dekat dengan Rasulullah, di sebelah maqamnya. Yang memisahkan saya dengan Rasulullah hanyalah waktu sejarak 1500 tahun. Lima belas abad yang lalu lelaki mulia itu tinggal dan dimakamkan di sini. Sekarang saya ada di sampingnya, jarak kami berdua hanya beberapa meter saja. Meski hanya berada disamping jasadnya yang sudah di dalam tanah, itu sudah membuat saya merasa terharu. Saya bayangkan dulu beliau bolak-balik dari rumahnya (yang sekarang menjadi maqamnya) ke mimbarnya melewati tempat yang saya duduki ini.

Ya Nabi salam alayka, ya Rasul salam alayka. ya habib salam alayka, shalawatullah alayka. Shalawat dan salam tercurah untukmu. Begitu besar kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia kepadamu. Namamu selalu disebut setiap sholat, shalawat dan salam selalu dikirim kepadamu. Hanya engkau yang bisa memberi syafaat kepada umat di Hari Akhir nanti. Sekarang saya datang berziarah ke maqammu.

Selama di Madinah saya sudah beberapa kali bisa berhasil memasuki Raudhah. Beberapa kali gagal karena saking padatnya antrian yang berdesak-desakan. Pada hari terakhir saya meninggalkan Madinah sebelum berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umrah, saya sempatkan datang ke Raudhah lagi sekitar jam 10 pagi. Saya akan “berpamitan” dengan Rasulullah. Disitulah saya sholat sunnah dua kali, dan pada shalat sunnat yang terakhir saya menangis sejadi-jadinya. Teringat perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, teringat anak saya yang saya tinggalkan,teringat dosa-dosa saya. Saya berdoa dalam keadaan sujud, dan saya menangis lagi tidak terbendung.

Selesai sholat di Raudhah, jamaah keluar masjid dan melewati melalui maqam Rasulullah dan para sahabatnya (Abubakar Siddiq dan Umar bin Khatab). Di sini kita melakukan ziarah ke maqam Rasulullah. Jamaah biasanya berjalan pelan sambil mengintip ke dalam melalui celah-celah yang agak terbuka. Saya melihat ke dalam seperti ada cungkup yang ditutupi dengan kain hijau. Mungkin itulah maqam Rasulullah atau sahabatnya. Saya melihat berbagai kelakuan jamaah di depan maqam Nabi. Ada jamaah yang mengusap-ngusapkan tangannya ke pintu maqam, mengibas-ngibaskan kain atau pecinya ke pintu maqam, mungkin mereka ngalap berkah. Askar yang berjaga di sana selalu memperingatkan jamaah agar tidak melakukan perbuatan yang dianggap syirik atau bidáh. Hajj..haj..la..la, kata akar memperingatkan jamaah.

Berziarah ke maqam Rasulullah

Selama di Madinah jamah haji memaksimalkan sholat lima waktu di Masjid Nabawi. Pemerintah Indonesia memberikan waktu sembilan hari (termasuk hari kedatangan dan hari meninggalkan Madinah) kepada jamaah haji berada di Madinah untuk melakukan arbain, yaitu sholat wajib sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Alhamdulillah, saya bisa melaksanakan arbain di Masjid Nabawi. Kalau saya hitung sejak waktu kedatangan di Madinah dan pergi meninggalkan Madinah, memang pas melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali (kira-kira 8 hari, yaitu 8 x 5) di Masjid Nabawi. Kami sampai di Madinah pada waktu sore hari menjelang Ashar, dan pergi dari Madinah setelah sholat Ashar.

Sholat di Masjid Nabawi maupun mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Madinah tidaklah termasuk Rukun dan Wajib Haji. Jadi, sebenarnya tidak ada keharusan bagi jamaah haji untuk ke Madinah. Haji itu adalah wukuf d Arafah. Namun, jamaah haji berada di Madinah tujuannya adalah untuk berziarah dan tentu saja menikmati sholat di Masjid Nabawi.

Setelah dua hari berada di Madinah, Panitia Haji Indonesia memfasilitasi jamaah haji untuk mengunjungi dua tempat bersejarah, yaitu Masjid Quba dan Bukit (Jabal) Uhud, serta agenda tambahan mengunjungi kebun kurma. Masjid Quba adalah masjid yang pertama dibanun oleh Rasulullah, letaknya di luar kota Madinah. Jabal Uhud adalah tempat lokasi peperangan antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan nama Perang Uhud.

Pemerintah RI menyediakan 10 bis untuk setiap kloter melakukan ziarah ke sana. Pagi hari setelah sholat Subuh jamaah haji sudah bersiap menunggu di depan hotel untuk berangkat tur. Kunjungan pertama adalah ke Masjid Quba. Di sini jamaah haji melakukan sholat sunnah. Hanya sebentar di sini, karena masih ada kunjungan ke tempat lainnya.  Tur harus selesai sebelum waktu Dhuhur agar jamaah bisa sholat wajib di Masjid Nawabi.

Masjid Quba tampak dari luar

Mihrab Masjid Quba

Menara Masjid Quba

Setelah berfoto-foto di sini, dari Masjid Quba tur dilanjutkan ke Bukit Uhud. Pada siang hari Bukit Uhud tampak berwarna kemerah-merahan. Kita bisa membayangkan disinilah Rasulullah dan kaum muslimin Madinah berperang dengan kaum Quraisy. Pada Perang Uhud ini kaum muslimin menderita kekalahan akibat tidak mau menuruti perintah Rasulullah, mereka lebih tergoda dengan harta pampasan perang yang ditinggalkan kaum Quraisy.

Bukit Uhud

Bukit Uhud yang berwarna merah

Di kompleks Bukit Uhud ini terdapat makam para syuhada yang gugur dalam peperangan, termasuk Hamzah, Paman Nabi Muhammad, yang juga gugur. Kita dapat melihat kompleks pemakaman itu, tetapi karena ditutup dengan plastik putih sehingga kurang terlihat dengan jelas. Tidak terlihat seperti kuburan, tidak ada batu-batu nisan seperti makam di Tanah Air, karena begitulah kebiasaan di Arab Saudi dalam menguburkan jenazah.

Kompleks makam para syhada

Dari Bukit Uhud, tur dilanjutkan ke kebun kurma. Di kebun kurma ini terdapat toko yang menjual bermacam-macam jenis kurma dari yang berwarna kuning, merah, hingga hitam, salah satunya kurma ajwa, yang disebut juga kurma Rasul, karena Rasulullah menyunnahkan makan kurma ini. Kurma ajwa adalah kurma favorit dan selalu menjadi buruan jamaah haji. Menurut saya harga kurma di kebun kurma mahal-mahal, saya tidak menganjurkan jamaah membeli kurma buat oleh-oleh di sini. Lebih baik membeli kurma di Pasar Kurma di Madinah (Pasar Kurma terletak setelah Gate 7 dari Masjid Nabawi). Sebagai perbandingan, satu kg kurma ajwa di kebun kurma dijual 60 riyal, sedangkan di Pasar Kurma dengan kualitas yang sama harganya 40 hingga 50 riyal, bahkan bisa 30 riyal asal pandai menawar. Jamaah haji umumnya membeli kurma dalam jumlah yang banyak, mereka mengirimkannya melalui cargo ke tanah air, sebab ada batasan membawa barang ke dalam pesawat ketika pulang (hanya boleh membawa satu koper besar, satu ts tenteng, dan satu tas paspor).

Selesai tur, jamaah haji kembali ke hotel untuk mengejar sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Nabawi.

Sebenarnya ada satu tempat lain yang juga menjadi keinginan jamah haji untuk mengunjunginyam di luar kota Madinah yaitu jabal magnit. Disebut demikian karena tempat ini dianggap memiliki pengauh medan magnet. Mobil dapat melaju kencang dalam posisi netral, bahkan bisa mencapai kecepatan 120km/jam padahal mobil lumayan besar 3500 cc. Supir bus kami membawa mobil dalam posisi kopling netral. Mobil melaju kencang namun mesin tetap hidup dan rem tetap dipakai sebagai pengendali.

Jabal magnet

Kawasan jabal manet

Jabal magnet tidak termasuk ke dalam paket tur yang saya ceritakan di atas. Jika berminat ke sana, jamaah haji dapat urunan menyewa bus. Rombongan KBIH kami menyewa satu bus ke sana, setiap kami urunan 30 riyal.

Ada beberapa masjid yang bisa diziarahi di sekitar Masjid Nabawi, yaitu tiga buah masjid bersejarah. Masjid pertama adalah Masjid Ali bin Abi Thalib, masjid kedua adalah Masjid Abu Bakar, dan masjid ketiga adalah Masjid Ghamammah. Sesuai namanya, Masjid Ali dan Masjid Abu Bakar memang dibangun oleh kedua khalifah tersebut. Masjid Ghamammah adalah masjid di mana Nabi melakukan sholat istisqa‘untuk meminta turun hujan.

Ketiga masjid tersebut tidak jauh dari Masjid Nabawi, namun tidak digunakan lagi untuk sholat. Pintu masjid terlihat dalam keadaan tertutup. Namun saya perhatikan banyak juga jamaah haji yang melakukan sholat sunnat di luar masjid tersebut, padahal sudah ada larangan untuk tidak melakukan sholat di sana.

Masjid Ali

Masjid Abu Bakar

Masjid Ghamammah

Seperti yang saya tulis di atas, rangkaian kegiatan di Madinah memang tidak masuk ke dalam Rukun Haji. Selama 9 hari jamaah haji Indonesia gelombang satu tinggal di Madinah sebelum bertolak menunaikan rukun haji di Mekah. Selama di Madinah jamaah sholat arbain di Masjid Nabawi dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Bukit Uhud, masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan tiga madjid di atas. Masih ada lagi yang ingin dikunjungi yaitupercetakan Al-Qur’an, tetapi karena tidak punay waktu yang cukup maka kunjungan ke percetakan Al-Quran tidak jadi dilakukan. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

October 12th, 2018 at 1:29 pm