if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Agama’ Category

Ketika Menjadi Sholeh Menimbulkan Kecurigaan

without comments

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada kepada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul adalah radikal adalah sikap kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menyediakan mimbar akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable. Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Mengerikan!

Written by rinaldimunir

October 11th, 2019 at 1:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Sedekah, Amalan yang Dahsyat

without comments

Kemarin, tiba-tiba saja seorang teman menghampiri saya lalu menyerahkan amplop berisi uang. Buat anak saya yang sekolah/kuliah, katanya. Ambillah, katanya lagi.

Saya pun terbingung-bingung bin terheran-heran. Lho, kok saya dikasih uang? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja saya diberi uang yang cukup besar. Teman saya itu memang tahu dua anak saya masuk sekolah tahun ini, satu di SMP dan satu lagi di perguruan tinggi lewat jalur seleksi mandiri. Oh, mungkin dipikirnya saya membutuhkan biaya besar untuk biaya sekolah/kuliah anak sehingga dia memberi saya uang?, pikir saya. Sudah saya tolak berkali-kali pemberiannya, merasa tidak enak menerimanya, itu tetapi tetap saja ia memaksa saya untuk menerimanya. Akhirnya saya menyerah dan menerima juga pemberiannya.

Saya pun berbaik sangka saja. Mungkin inikah cara Allah SWT mengganti uang yang saya sedekahkan dua hari yang lalu? Ada teman saya semasa SMP yang hidupnya susah. Dia selalu minta tolong dikirimkan uang. Tidak banyak yang dia minta, hanya seratus ribu saja, buat membayar kontrakannya. Sering begitu, dia selalu menelpon memohon dikirimkan uang karena hidupnya yang memang berkesusahan.

Ya Allah, Engkau baik sekali. Engkau ganti berlipat ganda dari yang saya beri. Yang saya berikan hanya receh saja, tetapi Engkau balas dengan tak terduga.

Saya semakin yakin saja bahwasanya bersedekah atau membelanjakan uang di jalan Allah tidak akan membuat harta kita berkurang, malah bertambah-tambah. Tidak akan menjadi miskin kita karena bersedekah. Benar yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah. “Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).

Rajin bersedekah dapat membuat rezeki datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka, seperti yang sering saya alami.

Sahabat, jangan ragu untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Jangan berat tangan merogeh kocek untuk sekedar memberi kepada orang yang yang mengalami kesulitan hidup.

Sedekah adalah amalan yang yang dirindukan oleh orang yang sudah mati. Orang yang sudah tiada dan sudah berada di alam barzah, sekiranya ia bisa dikembalikan ke dunia, maka amalan apakah yang akan dilakukannya? Jawabnya adalah sedekah. Di dalam Surat Al-Munafiqun ayat 11 Allah SWT berfirman

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun: 11).

Saya kutip tulisan dari sini:

Mengapa ia (si mayat. Red) menyebut bersedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunah, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci. Mengapa ia memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.

Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).

Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga, ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).

Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).

***********************

Begitulah dahsyatnya amalan sedekah. Sedekah  juga membuat hati kita tenteram dan bahagia. Tak percaya? Setiap kali kita telah melepaskan kesulitan orang lain, entah mengapa hati kita merasa senang dan bahagia. Bersedekah adalah salah satu cara melepaskan orang lain dari kesusahan hidup.

Janganlah kita enggan memberi sedekah kepada orang lain yang hidupnya berkesusahan. Orang yang pelit dan kikir digambarkan oleh Allah sebagai tangan terbelenggu. Tangan yang terbelenggu mengakibatkan keinginan untuk merogoh kocek dengan uang receh pun tidak bisa dilakukan. Padahal harta yang kita peroleh hanyalah titipan sementara di dunia, tidak akan dibawa mati. Justru yang dibawa mati adalah amalan sholeh kita sebagai teman kita di akhirat kelak.

Mohon ampuni kami, Ya Allah, jauhkan kami dari sifat kikir.

Written by rinaldimunir

August 13th, 2019 at 10:19 am

Posted in Agama,Renunganku

Shalat Ashar di Masjid PDAM Bandung

without comments

Setiap pulang kantor dari kampus ITB ke rumah, saya selalu melewati Jalan Ciung Wanar. Suaru kali saat pulang pas menjelang shlat Asha, adzan menggema dari masjid PDAM yang terletak persis di pinggir jalan Ciung Wanara. Kompleks PDAM Tirtawening Kota Bandung sangat luas, dikelilingi oleh Jalan Badak Singa, Jalan Tamansari, dan Jalan Ciung Wanara. Mendengar adzan saya pun singgah sejenak untuk menunakan sholat di  Masjid Maaimaaskuub, demikian nama masjid yang terletak di halaman kantor PDAM itu.

Masjid ini dibangun baru menggantikan bangunan masjid yang lama di lokasi yang sama. Saya belum pernah sholat di masjid yang baru ini, hanya selalu melewatinya setiap hari.

Setelah masuk ke masjid ini, saya terpesona. Ini masjid yang unik. Dikelilingi oleh air yang mengalir, kolam-kolam, dan air mancur. Bahkan di mihrab tempat imam pun ada kolam air.  Wajar bertema air karena ia terletak di kantor perusahaan air minum.

Nama Maaimaskuub artinya air yang terus mengalir dari surga. Suara gemercik air di dalam masjid membuat suasana hati jadi tenteram. Air memang menyejukkan jiwa. Mihrabnya pun tidak berdinding sehingga udara segar selalu keluar masuk masjid. Nyaman. Mirip seperti masjid di Kotabaru Parahyangan.

Selama ini masjid di PDAM Bandung adalah pilihan warga ganesha dan sekitarnya yang ingin sholat Jumat tidak lama-lama. Kalau ibadah sholat jumat di Masjid Salman memang cenderung lama, terutama khutbah jumatnya. Kalau di masjid PDAM sudah terkenal khutbah Jumatnya singkat sehingga secara berkelakar disebut sholat Jumat turbo. Entah kalau sekarang, karena saya baru satu kali sholat Jumat di sini. Tentang hal ini pernah aya tulis pada tulisan tahun 2013,  Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung. Pada tulisan tersebut juga ada foto masjid yang lama. Jauh berbeda dengan masjid yang baru ini.

Masjid Maaimaskuub tidak hanya digunakan oleh pegawai PDAM saja, tetapi juga oleh pelajar SMA dan masyarakat umum yang berada di sana. Semoga masjid ini selalu terawat dan menjadi berkah buat sekelilingnya.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2019 at 11:08 am

Cara Menghilangkan Ujub dan Riya saat Sholat ke Masjid

without comments

Seorang teman pernah mengatakan bahwa tantangan sholat ke masjid itu cuma dua. Tantangan pertama adalah mengalahkan rasa malas. Tantangan kedua adalah mengalahkan rasa ujub dan riya . Ujub artinya merasa lebih baik dari orang lain, termasuk juga  merendahkan orang lain yang tidak pergi sholat ke masjid. Riya artinya mengharapkan dipuji oleh orang lain.

Bagi laki-laki muslim, sholat fardhu wajib dilakukan di masjid secara berjamaah.  Meskipun demikian, sholat fardhu yang dilakukan di rumah tetap sah (Baca: Laki-Laki Wajib Shalat Berjamaah di Masjid, Benarkah?).

Saya pribadi selalu mengusahakan sholat fardhu di masjid, meskipun beberapa kali sering timbul rasa malas (seharusnya tidak boleh ya).

Kembali ke tantangan yang ditulis oleh teman saya tadi. Dia mengatakan bahwa kebanyakan dari kita mampu mengatasi tantangan nomor  satu. Rasa malas bisa dibuang dengan memotivasi diri. Ayo, jangan malas

Tetapi, katanya, tidak banyak orang yang mampu melewati tantangan nomor dua.  Perasaan ujub dan riya jika muncul di dalam hati dapat membuat amalan kita sia-sia, karena tidak diterima oleh Allah SWT.

Perasan ujub sering timbul pada manusia, termasuk ahli ibadah. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, merasa lebih sholeh, lebih alim, lebih islami, dan sebagainya. Orang lain yang tidak berbuat seperti dia dipandangnya kurang sholeh, kurang taat, dan lebih rendah dari dirinya. Orang muslim yang tidak sholat ke masjid dianggapnya lebih rendah dari dirinya yang rajin sholat ke masjid.

Perasaan ujub membuat manusia tinggi hati, lama-lama menjadi angkuh dan sombong. Merasa Allah menilainya lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak sholat ke masjid.

Perasaan riya adalah ingin dipuji dan disanjung. Sholat ke masjid dipamer-pamerkan supaya orang lain menilai dirinya ahli ibadah, orang sholeh, orang paling taat agama, dan sebagainya.

Kalau rasa malas bisa dikalahkan, tidak demikian dengan rasa ujub dan riya. Saya punya dua cara menghilangkan ujub dan riya itu. Jika anda pergi sholat ke masjid, maka  janganlah menengok kiri kanan ke arah tetangga supaya ingin dilihat,  terus saja jalan ke depan ke arah masjid. Konsentrasikan saja pikiran ke masjid.  Cara kedua adalah tidak perlu memakai asesoris seperti peci, sarung, kupiah, jika pergi ke masjid. Berpakaian biasa saja sehingga orang lain tidak tahu kalau kita mau ke masjid. Insya Allah dengan kedua cara tersebut kita dijauhi darai rasa ujub dan riya sehingga amalan kita menjadi tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT.

Saya teringat sebuah pepatah yang menyatakan  penyakit ahli ilmu adalah sombong dan penyakit ahli ibadah adalah riya. Semoga kita dijauhkan dari keduanya. Amiin.

Written by rinaldimunir

June 11th, 2019 at 3:32 pm

Posted in Agama,Renunganku

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

without comments

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” kepada nonmuslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Seperti dikutip dari sini ( NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim), “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, saya rasa hampir tidak pernah ada orang Islam Indonesia di dalam pergaulan sehari-hari menyebut saudaranya yang tidak seiman dengan sebutan kafir. Bangsa kita juga mempunyai tata krama dan sopan santun, mereka tidak mau menyakiti hati saudaranya sebangsa dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya. Tidak pernah, saya rasa.

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang nosmuslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam pengertian teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Tetapi ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Written by rinaldimunir

March 5th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Tidur Siang Sejenak di Kampus

without comments

Setelah jam 14.00 siang biasanya mata saya lelah setelah cukup lama berada di depan komputer atau mengajar. Selain lelah mata, juga lelah otak. Kalau sudah begitu, biasanya saya pergi menuju ruang rapat yang sepi, lalu menyusun kursi-kursi berjejer. Selanjutnya saya merebahkan badan di atas jejeran kursi itu, meletakkan ponsel dan kacamata di atas kursi di depan saya, lalu tiduranlah saya sekitar setengah jam hingga satu jam. Lumayan segar lagi setelah bangun. Otak dan matapun punya hak untuk istirahat.

Rupanya tidur siang adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda (sumber dari sini dan ini):

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)

Keberkahan tidur siang sejenak juga disebutkan di dalam Al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar-Ruum :23)

Jadi, tidur siang itu sunnah. Tidur siang yang dilarang adalah tidur setelah sholat Subuh dan setelah Sholat Ashar.

Tidur sejenak siang hari memiliki manfaat, antara lain membuat pikiran segar kembali untuk beraktivitas berikutnya. Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kebiasaan orang Italia dan Spanyol tidur siang. Lepas tengah hari mereka menutup pintu-pintu tokonya untuk tidur siang. Satu jam setelah tidur mereka membuka tokonya kembali.

Beberapa kantor perusahaan IT modern seperti Google menyediakan dipan untuk tidur siang. Karyawannya bisa relax sejenak sejenak dari aktivitas coding. Kantor Bukalapak di Bandung pun menyediakan ruangan tidur lengkap dengan dipannya.

Jadi, tidak salah juga saya tidur sejenak di kantor saat setelah lepas Dhuhur. Kalau saya agak cape, atau kepala berat dan pusing, saya pergi ke ruang rapat itu. Tidak ada kasur, kursi-kursipun jadilah. Tidur dulu ah…..

Written by rinaldimunir

February 18th, 2019 at 4:37 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 12 – HABIS): Hari-hari Terakhir di Mekkah, Selamat Tinggal Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah

without comments

Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Ka’bah yang selalu dirindukan

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.

Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).

Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau anda sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkn tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.

Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 07 JKS akan pulang tanggal 29 Agustus 2018 melalui bandara Jeddah. Jamaah haji gelombang kedua masih tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.

Dua hari sebelum pulang ke tanah air, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari tasyrik. Masjidil Haram sudah mulai agak longgar karena jamaah hai dari berbagai negara sudah mulai pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan yang sangat mengharukan. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah.  Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah meninggalkan Masjidil Haram, kecuali saya. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya mengambil tempat menyendiri di depan Ka’bah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak-anak saya, terutama si sulung yang matanya selalu sendu. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar si sulung diberi kesembuhan.  Lama sekali saya menangis di depan Ka’bah. Kira-kira setengah jam saya menangis tersedu-sedu sendirian, sementara di depan saya lalu lalang orang-orang yang melaksanakan tawaf. Saya tidak peduli, saya terus menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.

Setelah tangisan saya berhenti, saya duduk menjauh, tetap masih menghadap Ka’bah. Setelah sholat sunat Dhuha, saya selesaikan khatam Quran saya di depan Ka’bah. Ada beebrapa surat di dalam Juz 30 yang belum selesai saya baca, saya tamatkan di depan Ka’bah hari ini, hari terakhir saya mengunjungi Baitullah. Alhamdulillah, niat saya dari tanah air untuk mengkkhatamkan Al-Quran akhirnya tuntas sudah.

Saya isi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Saya berjalan ke arah pintu keluar Haram melalui jalus sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang di pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~

Sehari sebelum kepulangan, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dibawa ke bandara Jeddah. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Jeddah untuk mengeluarkannya.

Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Jeddah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Perjalanan ke Jeddah menempuh waktu dua jam. Selepas kota Mekkah, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan bukit batu yang tandus.

Di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah menunggu untuk masuk melalui pintu keberangkatan. Di sini kita mendapat catering makan siang. Inilah catering terakhir dari Kemenag RI.

Di pintu keberangkatan, petugas haji Arab Saudi membagikan Al-Quran gratis dan keping DVD. Banyak sekali pemberian yang diperoleh di bandara ini. Sudah tidak muat lagi tas tenteng untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sebelum masuk ke gate keberangkatan, semua barang bawaan jamaah diperiksa lagi. Sangat lelet sekali pemeriksaannya. Pemeriksaan terhadapa jamaah perempuan lebih lama dibandingkan jamaah pria. Saya antri kira-kira dua jam untuk sampai ke alat pemindai X-ray. Saya lihat banyak jamaah yang menggantungkan di lehernya tabung air dari tembaga yang berisi air zam-zam. Saya pikir tabung air zam-zam maupun botol-botol air zam-zam akan disita, eh, ternyata boleh lewat. Jadi, membawa air zam-zam ke atas pesawat tidak dilarang oleh petugas Arab Saudi, asalkan botol air zam-zam itu ditenteng, tidak dimasukkan ke dalam tas. Jadi, yang tidak boleh itu adalah memasukkan zamzam ke dalam tas, sebab jika tumpah maka dapat berbahaya jika di atas pesawat (korsleting mislanya). Saya yang hanya membawa tiga botol air-zam “sedikit menyesal” kenapa hanya membawa tiga botol saja, padahal kalau saya bawa lebih banyak lagi tidak apa-apa. Tapi ya sudahlah, mungkin rezekis aya segitus aja.

Jam 14.00 siang akhirnya kami bisa boarding ke atas pesawat Saudi Arabian. Pesawat berbadan lebar ini akan mengangkut sekitar 400-an jamaah haji Kloter 07 ke Jakarta. Jamah yang pulang telah berkurang satu karena wafat di Mekkah.

Pulang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, pada hari Kamis pukul 03.00 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke tanah aii tercinta. Dari landasan Bandara, bus-bus menjemput kami untuk dibawa ke Embarkasi Haji di Bekasi. Di sana setiap jamaah mendapat jerigen berisi 5 liter air zam-zam. Koper-koper bagasi dikembalikan lagi kepada jamaah.

Setelah seremoni singkat serah terima jamaah haji dari Embarkasi Bekasi ke PPIH Kota Bandung, berangkatlah bus-bus rombongan jamaah haji Klotyer 07 JKS menuju kota Bandung.

Selama di dalam perjalanan ke Bandung, saya melakukan kials balik dan merenung. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke tanah air. Menjadi jamaah haji Indonesia, khususnya yang berangkat melalui Embarkasi Jakarta/Bekasi, mendapat banyak sekali kebajikan dan keistmewaan dari berbagai pihak sebagai berikut:

Di tanah air:
1. Kami mendaat berbagai souvenir dari Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung antara lain  tikar mendong, tempat air minum, payung, tas sandal, dll. Itu belum termasuk souvernir dari bank penerima setoran ONH berupa kain ihram, buku, tas sandal. Khusus kami jamaah haji dari ITB, dilepas oleh pak rektor di rumah dinasnya dan mendapat lagi seabreg souvernir.

2. Makan gratis oleh Pemkot di perjalanan ke Embarkasi waktu pergi dan pulang.

3. Bus rombongan haji dikawal oleh mobil Patwal polisi dari Mapolda Jabar hingga Embarkasi sehingga mendapat prioritas jalan. Bahkan ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT, khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP. Hal yang sama ketika pulang ke Bandung.

4. Dari Embarkasi Bekasi hingga bandara Cengkareng dikawal lagi oleh patwal.

5. Di Embarkasi mendapat souvernir lagi dari Kemenkes berupa obat2an, payung, masker, tabung semprot, dll. Sudah tidak muat lagi tas dengan berbagai pemberian.

6. Naik ke pesawat tidak melalui gate atau terminal keberangkatan, bus rombongan langsung mengantar jamaah haji dari Embarkasi hingga ke tangga pesawat. Hal yang sama ketika pulang.

7. Pengambilan data biometrik tidak lagi di bandara Saudi, tetapi di Embarkasi Bekasi sehingga mempercepat proses keluar bandara.

8. Pemeriksaan imigrasi di bandara Saudi dipindahkan ke bandara Cengkareng, sehingga tiba di Saudi tidak perlu ke imigrasi lagi, langsung keluar bandara.

9. Mendapat uang living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Sejak dulu hingga sekarang, hanya jamaah haji Indonesia yang mendapat uang living cost selama di Saudi. Pernah tanya ke jamaah negara tetangga, mereka tidak pernah dapat bekal uang.
10. Tidak terhitung doa dari para sejawat, teman, tetangga, handai tolan, hingga dilepas oleh ribuan orang.

Di Saudi:
1. Ada perbaikan menu catering yang tadinya 25 kali menjadi 40 kali.

2. Masuk di perbatasan kota Mekah disambut oleh petugas Saudi dengan mengantarkan makanan dan air zamzam ke dalam bus.

3. Banyak orang Saudi memberi makanan dan minuman gratis kepada jamaah haji di Madinah dan Mekah. Itu mulai dari kurma, air mineral, hingga makanan berat.

4. Tanggal 1 hingga 8 Zulhijjah adalah puncak murah hatinya para dermawan Saudi kepada para jamaah haji. Hampir tiap hari mobil2 dermawan datang ke pemondokan mengantarkan nasi kotak berupa nasi briyani, nasi bukhori, nasi mandhi. Sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana menghabiskannya karena baru dapat nasi kotak, tiba lagi nasi kotak baru.

5. Macam-macam souvernir datang lagi ke pemondokan berupa payung, Al-Qur’an, dll.

6. Tim kesehatan (dokter dan perawat) dari Kemenkes siap siaga di maktab jika ada jamaah haji yang sakit. Semua obat dan pelayanan gratis.

7. Pulang lewat bandara Jeddah disambut khusus oleh petugas Saudi dan mendapat lagi paket Qur’an, buku, dan DVD. Tas sudah tidak muat lagi.

Semua keistimewaan tadi sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun kita sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Least but not least: untuk semua kebajikan di atas maka saya teringat ayat ini : “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (TAMAT)

Written by rinaldimunir

December 21st, 2018 at 5:00 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 11): Melempar Jumrah pada Hari-hari Tasyrik dan Tawaf Ifadah

without comments

Siang hari setelah aktivitas melempar jumrah Aqabah selesai, jamaah yang sudah bangun dari tidurnya memulai aktivitas di dalam dan di sekita tenda. Tidak ada yang dapat dilakukan selain hanya membaca, mengaji, duduk-duduk, ngobrol, tiduran, dan sebagainya. Pasokan catering untuk makan siang dan makan malam tetap datang. Catering makan siang datang pada pukul 10 pagi, sedangkan catering makan malam datang pada sore hari. Di sekitar juga tersedia air panas untuk memasak mie instan, teh, atau kopi.

Saya berjalan-jalan ke luar tenda, karena saya belum melihat suasana perkampungan tenda pada siang hari. Jamaah yang sudah berpakaian biasa terlihat bercengkerama di luar.

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Aktivitas yang paling ramai adalah di sekitar toilet merangkap kamar mandi. Puluhan orang antri untuk mandi atau membuang hajat. Jika terlalu lama anda di dalam, seseorang di luar mungkin menggedor-gedor pintu toilet. Ya, harap bertoleransi saja dan menenggang rasa dengan jamaah haji orang lain. Harap dimaklumi juga orang Indoensia tidak bisa menjaga kebersihan. Bungkus shampo, sabun mandi, dan yang paling mengenaskan adalah ceceran BAB orang-orang tua yang tidak bersih membersihkan diri. Oh ya, di dalam toliet ini tersedia selang air panas dan air dingin.

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Saya melihat ke arah jalan di sekitar tenda. Jamaah haji yang tidak punya kegiatan menghabiskan waktu di luar, sembari melihat-lihat dagangan PKL yang juga berjualan secara sembunyi-sembunyi.

Pintu masuk ke perkampungan tenda. Jamaah haji mengerumuni PKL

Saya melongok ke arah jalan. Masih banyak rombongan jamaah haji yang baru pulang melempar jumrah Aqabah. Mereka tetap melempar jumrah pada siang hari. Setiap KBIH memang berbeda-beda dalam  menentukan waktu untuk melempar jumrah. Menurut saya semuanya sah saja karena ada dalilnya masing-masing dan tidka perlu dipersoalkan.

Pulang dari melempar jumrah Aqabah

Adzan Maghrib di Mina menandakan waktu pun berganti hari menjadi tanggal 11 Zulhijjah. Ini berarti hari-hari Tasyrik pun dimulai. Selama hari-hari Tasyrik jamaah haji melempar 3 jumrah, yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Batu-batu di dalam kantong kecil yang berawran biru masih cukup untuk melempar ketiga jumrah itu. Ustad pembimbing haji mengatakan bahwa kita akan melempar tiga buah jumrah pada pukul 2 dinihari nanti. Jadi, sama seperti tanggal 10 Zulhijjah, kita akan melempar jumrah pada waktu dinihari. Oke, jadi jamaah haji tidur dulu dan bangun lagi pukul 12 malam.

Jam 12 malam kami dibangunkan. Pak Ustad menyuruh kita membawa semua barang bawaan. Lho, mau ke mana, kata saya? Ternyata, setelah melempar tiga buah jumrah nanti, kita langsung kembali ke hotel di Mekkah, tidak kembali lagi ke tenda di Mina. Saya baru paham, berada siang hari di Mina tidak diwajibkan, sebab yang wajib itu adalah mabit (bermalam) di Mina. Barang siapa yang berada siang hari di Mina, maka dia wajib bermalam di Mina. Sementara, kami tidak akan di Mina pada siang hari, tetapi istirahat di hotel saja. Nanti setelah Maghrib kami akan kembali ke Mina untuk mabit. Kebetulan hotel kami di daerah Syisyah 2 tidak jauh dari jamarat, yaitu dibalik bukit batu. Tenda-tenda yang sempit di Mina dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai memang kurang nyaman bagi jamaah haji, jadi kalau bisa istirahat di hotel kenapa tidak.

Jam 2 malam sampailah kami di jamarat. Mula-mula kami melempar jumrah Ula yang berukuran kecil sebanyak tujuh kali, selanjutnya jumrah Wustha sebanyak tujuh kali, dan terakhir melempar  jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Jamaah haji tidak terlalu padat malam itu sehingga melempar jumrah dapat dilakukan dengan mudah.

Selesai melempar tiga buah jumrah kami meninggalkan jamarat, berjalan kaki menyusuri jalan menuju hotel Syisyah 2. Setelah melewati beberapa bukit batu, jalanan yang padat dengan bus-bus rombongan jamaah haji, sampailah kami ke hotel pukul 4 pagi. Jarak dari jamarat ke hotel kira-kira 3 km. Berjalan kaki adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama berhaji, jadi fisik harus kuat, badan harus sehat.

Jamarat tidak terlalu jauh dari hotelami Syisyah 2, letaknya di balik bukit batu itu (di kejauhan)

Sesampai di hotel, lega rasanya bertemu dengan kasur dan kamar mandi dengan air yang deras. Setelah sholat Shubuh, maka apalagi yang dilakukan selain tidur. Sungguh melelahkan tetapi menyenangkan sekali pengalaman melempar jumrah pada hari tasyrik pertama.

Sore hari kami berjalan kaki kembali dari hotel ke jamarat. Ya, kami akan melempar tiga buah jumrah pada hari  Tasyrik kedua (12 Zulhijjah). Kita harus berada di Mina sore itu, yang berarti harus bermalam di Mina. Dalam perjalanan dari Syisah 2 ke jamarat, kami melewati ujung terowongan. Itulah terowongan Mina, terowongan yang punya sejarah monumental bagi jamaah haji Indonesia. Di dalam terowongan inilah terjadi tragedi Mina tahun 1990, yaitu bertemunya arus manusia yang mau melontar jumrah dengan arus manusia yg baru pulang melontar jumrah. Tubrukan tidak terhindarkan dan ribuan jamaah mati syahid terinjak-injak. Ada 600 lebih jamaah haji Indonesia yang jadi korban.  Tapi itu dulu. Sekarang sudah dibangun dua terowongan, satu untuk pergi dan satu untuk pulang.

Terowongan Mina

Sore hari sebelum Maghrib kami sudah sampai ke areal jamarat, tapi belum masuk gedung jamarat. Kami akan melempar jumrah setelah lepas tengah malam. Di areal jamarat ini saya menyaksikan ratusan ribu jamaah haji datang dan pergi pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) untuk melaksanakan lempar jumrah. Semakin sore semakin padat karena cuaca sudah berkurang kegarangan panasnya. Mungkin mereka sama seperti kami, pada siang hari pulang ke Mekkah, lalu sore hari kembali ke Mina untuk mabit. Saya merinding melihat ratusan ribu jamaah yang mengalir seperti air bah.

Ratusan ribu jamaah bagai air bah mengalir ke jamarat.

Karena hari masih sore, jadi kami duduk-duduk dulu di sini. Ternyata para askar mengusir  jamaah yang duduk-duduk maupun berdiri dalam kelompok-kelompok. Hajj..hajj, teriak mereka mengusir jamaah haji yang berdiri. Ya, jamaah yang duduk atau berdiri (tidak berjalan) dianggap oleh askar menghalanagi pergerakan jamaah haji lainnnya. Askar-askar itu sih inginnya kami terus berjalan kaki ke arah gedung jamarat, tapi kan kami baru akan melempar jumrah pada pukul 2 dinihari nanti.

Berfoto di area jamarat

Sambil menunggu waktu Maghrib, kami mulai membentangkan sajadah di aspal, lalu sholat sunnat. Nah, kalau sedang sholat, maka askar tidak akan berani mengusir orang yang sholat. Sholat Maghrib dan Isya dilakukan dengan niat jamak.

Selesai sholat Maghrib, kami berjalan kaki menuju gdung jamarat. Jalan kakinya pelan-pelan saja, tidak buru-buru, karena waktu melempar jumrah masih lama. Selama dalam perjalanan kami menemui jamaah haji berbagai bangsa dalam kelompok-kelompoknya. Jamaah haji dari Indonesia tampil dengan busana batik yang khas dan membawa bendera yang melambangkab KBIH atau daerah mereka. Sebagian jamaah haji Indonesia sangat unik, mereka berjalan kaki dengan semangat sambil menyanyikan shalawat. Pastilah itu jamaah haji dari kalangan nahdliyin (NU).

Sambil menunggu waktu untuk melempar jumrah, kami duduk-duduk di jembatan lalu  di dekat gedung jamarat. Dari atas jembatan terlihatlah Mina pada waktu malam dibalut cahaya lampu. Ribuan orang ramai berjalan kaki. Di kejauhan juga terlihat restoran ayam goreng yang terkenal di Saudi, yaiyu Al-Baik.

Mina pada waktu malam

Mina pada waktu malam, sangat ramai.

Dari jembatan kami turun ke lantai dasar. Di area lantai dasar sudah penuh dengan jamaah haji dari berbagai bangsa yang juga menunggu waktu lepas tengah malam untuk melempar jumrah. Kami pun mencari tempat yang kosong di lantai aspal, beralaskan tikar atau sajadah untuk sekedar duduk atau tiduran. Sebenarnya tempat ini terlarang buat jamaah haji untuk duduk-duduk. Tiap sebentar datang mobil askar dengan sirinenya yang meraung-raung membubarkan jamaah yang berada di sana. Bandel ya para jamaah haji. Setelah mobil askar pergi, mereka kembali lagi duduk-duduk dan tiduran di sana. Ya mau kemana lagi, tidak ada tempat untuk beristirahat di jamarat.

Duduk-duduk di areal terlarang untuk menunggu waktu tengah malam.

Akhirnya setelah menunggu selama enam jam, waktu menunjukkan pukul 2 dinihari. Kami segera naik ke lantai satu untuk melempar tiga buah jumrah seperti kemarin. Tujuh lempana untuk jumrah Ula, tujuh lemparan untuk jumrah Wustha, dan tujuh lemparan untuk jumrah Aqabah. Berhubung kami mengambil nafar awal, kami tidak melakukan lempar jumrah pada hari tasyrik ketiga. Oleh karena itu, batu-batu yang tersisa di dalam kantung batu harus dibuang ke dasar jumrah. Batu-batu itu tidak boleh dibawa pulang ke tanah air sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Cerita dari ustad kami, pernah ada jamaah haji yang membawa pulang batu dari Mina sebagai oleh-oleh, tapi  di tanah air dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Percaya atau tidak, maka sebaiknya kita ikuti saja nasihat untuk tidak membawa pulang sisa batu pelepar jumrah ke tanah air supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Oh ya, tadi saya menyinggung tentang nafar awal. Selain nafar awal maka jamaah haji bisa memilih melakukan nafar tsani. Jika melakukan nafar awal, maka kita melempar jumrah hanya pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah saja. Jika melakukan nafar tsani, maka kita melempar jumrah sampai tanggal 13 Zulhijjah. Jika seseorang berada di Mina pada siang hari tanggal 12 Zulhijjah, maka dia harus mabit di Mina tanggal 13 Zulhijjah, dan wajib melempar jumrah pada tanggal 13 Zulhijjah. Kedua nafar ini sama sahnya.

Karena kami melakukan nafar awal, maka kami harus kembali ke Mekkah guna melakukan tawaf ifadah.  Dari jamarat kami berjalan kaki kembali keluar dari Mina. Kami sampai di luar kota Mekkah (saya lupa namanya, mungkin Aziziyah) yang dinihari itu sangat ramai. Ada beberapa hotel jamaah haji Indonesia di sini. Mungkin inilah hotel jamaah haji yang terdekat ke jamarat.

Dari sini perjalanan ke Masjidil Haram akan ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian jamaah yang tidak kuat lagi berjalan kaki memilih menyewa taksi ramai-ramai ke Masjidil Haram. Saya memilih berjalan kaki saja ke Haram bersama teman yang lain. Menurut saya ini perjalanan spiritual, jadi lebih baik berjalan kaki saja samil meresapi suasana batiniah yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Perjalanan ke Masjidil Haram kira-kira jauhnya 5 km. Saya dan beberapa jamaah lain berjalan kaki melewati jalanan kota Mekkah yang tetap ramai. Sesekali berhenti untuk istirahat dan minum teh yang dijual di pinggir jalan. Sungguh suasana dinihari itu sangat syahdu bagi saya. Alhamdulillah kaki saya masih kuat berjalan.

Kami pun sampai di mulut sebuah terowongan. Ini adalah terowongan yang sering saya lalui jika naik bus sholawat ke Haram. Ini berarti di ujung terowongan sana adalah terminal bus Syib Amir. Dengan kata lain sebentar lagi saya akan sampai di Masjidil Haram. Panjang terowongan ini 800 meter.

Terowongan ke arah terminal Syib Amir

Bejalan di dalam terowongan. JHarus hati-hati karena kendaraan melaju kencang. Tidak ada trotoar.

Di ujung terowongan terlihatlah Menara Zamzam beridiri dengan megah. Allahu Akbar, saya sudah sampai kembali ke Haram. Adzan Subuh berkumaandang tepat ketika kami sampai. Kami pun segera berlari untuk mengejar tempat buat sholat subuh. Masjidil Haram saat itu tidak ramai. Masih sepi saat itu karena sebagian besar jamaah masih berada di Mina. Tentu saja, karena sebagian besar jamaah haji masih berada di MinaMungkin setelah matahari sepenggalahan naik Masjidil Haram akan semakin ramai.

Selesai sholat subuh, kami turun ke mataf untuk melaksanakan tawaf ifadah. Karena jamaah tidak ramai, maka tawaf ifadah dapat dilakukan lebih cepat. Selesai tawaf ifadah, saya duduk di mataf setelah usai melaksanakan tawaf Ifadah usai sholat subuh. Duduk memandangi Baitullah, Ka’bah yang menjadi pusat kiblat ummat Islam sedunia.

Duduk memandangi Ka’bah usai tawaf ifadah

Tinggal menghitung hari lagi saya di sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Tawaf ifadah bukanlah tawaf wada’. Jadi, setelah melakukan tawaf ifadah, sholat di maqam Ibrahim, minum air zam-zam, lalu jamaah haji melakukan ibadah sa’i antara Safa dan Marwa. Dengan demikian tuntaslah rangkaian ibadah haji, sebelum nanti ditutup dengan tawaf Wada’ sebelum kembali ke tanah air. Kami kembali ke hotel dengan taksi, karena bus Sholawat belum beroperasi. Tarif taksi melambung tinggi pada hari-hari setelah melempar jumrah. Saya berlima dengan teman membayar 250 riyal, per orangnya 50 riyal.

Tiba di hotel, saya dan teman-teman menggunduli rambut. Ada teman yang membawa alat cukur dari Bandung, jadi kami tidak perlu pergi ke barber shop. Inilah sunnah yang dilakukan setelah rangkaian ibadah haji selesai. Ini pula pertama kali saya gundul, karena saya belum pernah botak, he..he..he. Huffff…mengantuk sekali, capai sekali selama tiga hari dua malam ini.  Waktunya membayar utang tidur dengan tidur pulas siang hari ini. (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

December 17th, 2018 at 3:23 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 10): Melempar Jumrah Aqabah di Mina (10 Zulhijjah)

without comments

Setelah Maghrib bus-bus yang mengangkut jamaah haji bergerak dari Arafah ke Mina. Lalu lintas ke Mina sangat padat dengan bus-bus jamaah haji dari negara lain, tidak hanya bus jamaah haji Indonesia saja. Mina adalah perkampungan tenda. Berbeda dengan tenda di Arafah yang bersifat bongkar pasang, tenda di Mina adalah tenda yang permanen. Tenda-tenda ini hanya terisi selama musim haji saja, di luar itu Mina bagaikan kota mati yang sepi. Ketika mengikuti city tour di kota Mekkah (baca tulisan Bagian 8), kami melewati Mina. Dari atas bus saya melihat bangunan jamarat yang digunakan untuk melempar jumrah.

39069505_2002012579866757_5922487033321750528_n

Melewati perkampungan tenda di Mina ketika city tour di Mekkah. Gedung yang terlihat di kejauhan adalah gedung jamarat untuk melempar jumrah.

Malam itu semua jamaah di atas bus masih berpakaian baju ihram. Baju ihram baru boleh diganti jika sudah melakukan tahalul, yaitu setelah melontar Jumrah Aqabah. Wajah-wajah jamaah yang kelelahan terlihat pada sebaian besar jamaah. Melintasi jalan-jalan di Mina yang padat merayap, semakin malam semakin banyak bus-bus yang berdatangan.

Seharusnya kami berhenti sebentar di Mudzdalifah untuk mengumpulkan batu-batu untuk melempar jumrah. Namun tempat kami mabit nanti di Mina adalah di Mina Jadid, atau Mina Baru, yang merupakan perluasan Mina. Jamaah haji yang setiap tahun semakin banyak tidak memungkinkan lagi tertampung di Mina, sehingga Pemerintah Saudi memperluas Mina hingga ke Mina Jadid. Mina Jadid ini sudah termasuk ke dalam wilayah Mudzdalifah. Jadi, bermalam di Mina Jadid pada hakikatnya adalah juga bermalam di Mudzdalifah. Dengan kata lain Mina Jadid itu di Mudzdalifah juga. Oleh karena itu, tujuan kami adalah langsung ke Mina Jadid.

Lalu, bagaimana dengan pengumpulan batu? Kami tidak perlu lagi mengumpulkan batu-batu, Pemerintah Saudi telah menyediakan kantung kecil yang berisi batu-batu kerikil untuk melempar jumrah. Kantung kecil itu dibagikan ketika kami masih berada di atas bus menuju Mina. Wah, semakin dimudahkan saja menjalankan haji oleh Pemerintah Saudi.

39939036_2018008001600548_4157742803129991168_o

Kantung kecil berisi batu pelontar jumrah yang dibagikan Pemerintah Saudi untuk jamaah haji Asia Tenggara

Jam 10 malam akhirnya bus sampai ke depan tenda untuk jamaah haji Kloter 07 JKS di Mina Jadid. Satu tenda diisi oleh beberapa KBIH. Tenda di Mina lebih sempit dibandingkan tenda di Arafah. Untuk tidur saja susah, berjejer seperti ikan pindang, ditambah dengan barang bawaan. Satu kepala menghadap ke utara, satu lagi ke selatan, lalu dua pasang kaki bertemu di tengah. Sebagian jamaah yang tidak tahan dengan suasana sempit di dalam tenda lebih memilih tidur di dalam gang antar tenda. Yang lebih menyedihkan adalah jamaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam KBIH manapun. Teman saya di kloter yang lain, jamaah haji mandiri, mengeluhkan dia dan istrinya tidak mendapat tempat di dalam tenda. Tenda-tenda itu sudah dikapling oleh KBIH-KBIH, jadi dia dan temannya yang lain yang tidak tergabung di dalam KBIH tidak kebagian tempat. Setelah diskusi yang alot akhirnya dia memilih di luar saja, sementara istrinya bisa masuk ke dalam tenda.  Persoalan ini terjadi karena pemetaan yang tidak cocok antara jumlah jamaah haji dengan jumlah tenda.

Untuk mengetahui seperti apa suasana tenda di Mina, di bawah ini saya perlihatkan beberapa foto keadaan tenda pada siang hari.

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

 

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Pintu masuk ke perkampungan tenda

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Kembali ke cerita ketika baru sampai di Mina dari Arafah. Setlah tiba di tenda Kloter 07 JKS, kami beristirahat sebentar. Catering makan malam yang terlambat dibagikan  kepada jamaah. Tenda penuh dengan tas dan aneka barang bawaan jamaah dari Arafah. Mau rebahan sebentar juga susah dan sempit.

Setelah beritirahat sebentar, jam 12 malam kami diinstruksikan oleh ustad pembimbing haji untuk bersiap-siap menuju jamarat. Ya, melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah (hari Idul Adha) akan akan segera dilakukan. Sebenarnya waktu yang afdhol untuk melempar jumrah Aqabah adalah pada pagi hari setelah matahari terbit. Namun, mungkin karena pertimbangan padatnya jamaah haji yang melempar jumrah secara bersamaan, maka  kami melempar jumrah Aqabah pada waktu dinihari tanggal 10 Zulhijjah. Begitu juga pada hari tasyrik 11, 12, dan 13 Zulhijjah, kami melempar jumarh selalu seelah lewat waktu tengah malam. Masalah waktu ini memang sering diperdebatkan, dan selalu ada sebagian ulama yang membolehkan maupun melarang dengan dalil masing-masing.  Soal pro dan kontra melempar jumrah Aqabah sebelum matahari terbit pada tanggal 10 Zulhijjah  tidak akan saya bahas di sini. Kalau saya baca berita ini dan ini memang Pemerintah Saudi telah mengatur waktu melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah bagi jamaah haji Asia Tenggara. Saya kutip dari berita tersebut, “pada tanggal 10 Zulhijjah dilarang melontar jamarat mulai pukul 06.00–10.30 waktu Arab Saudi (WAS), 11 Zulhijjah pada pukul 14.00–18.00 WAS dan 12 Zulhijjah larangan melontar jamarat pada pukul 10.30–14.00 WAS”.

Dari tenda, kami berjalan kaki menuju jamarat. Karena tenda kami di ujung Mina, yaitu di Mina Jadi, maka jaraknya ke jamarat cukup jauh, yaitu sekitar 5 km (saya tidak tahu persisnya), jarak yang sama untuk pulang kembali ke tenda.  Tidak ada kendaraan yang mengantar ke jamarat, semua ditempuh dengan berjalan kaki. Baik muda, tua, maupun yang berkursi roda semua berjalan menuju jamarat. Tidak ada jamaah yang mengeluh dengan kondisi yang jauh itu. Semua dijalani dengan penuh keikhlasan untuk mengharapkan ridho-Nya. Apalagikah yang kita cari selama hidup di dunia ini kalau bukan ridho Allah SWT?

Dari semua rangkaian ibadah haji, melontar jumrah adalah kegiatan yang paling krusial dan paling melelahkan. Jutaan jutaan jamaah bergerak ke tempat yang sama dengan berjalan kaki. Menempuh berjalan kaki sejauh 5 km insya Allah saya masih kuat. Saya membayangkan bagaimana dengan jamaah yang sudah tua, tentu tidak kuat berjalan sejauh itu. Tetapi…ya Allah, saya menemukan kebalikannya. Orang-orang tua yang sudah renta sekalipun sangat bersemangat berjalan kaki. Mereka tidak ada yang mengeluh. Perjalanan menuju jamarat dilakukan dengan ikhlas. Kalau hati sudah ikhlas, perjalanan seberat apapun akan dilalui tanpa beban.

Memperhatikan rombongan jamaah haji Indonesia yang berjalan kaki dari tenda ke Jamarat sungguh membuat hati siapa saja merasa terharu. Bapak – bapak dan ibu yang sudah sepuh, atau yang memakai kursi roda, atau memakai tongkat, berjalan kaki bersama-sama menembus terik matahari yang membara (kalau melontar jumrah pada siang hari), atau menembus malam yang gerah dan jalanan yang padat dengan bus dan manusia. Seorang anak mendorong kursi roda orangtuanya, suami mendorong kursi roda istrinya. Seorang ibu yang kakinya (maaf) pincang tetap berjalan dengan caranya yang khas. Sambil berjalan kaki mereka tetap bersemangat bertalbiyah atau bertakbir. Hati siapa yang tidak tergetar melihat semua ini secara langsung? Mereka menuju titik yang sama: Jamarat. Kalau Allah sudah memanggil hamba-Nya ke Baitullah, apapun akan dilakukan untuk memenuhi undangan-Nya.

Melontar jumrah adalah mengulangi peristiwa sejarah ketika Nabi Ibrahim dan Ismail digoda oleh setan untuk membatalkan niat menyembelih Ismail yang merupakan perintah Allah. Nabi Ibrahim melempari setan dengan batu, begitu pula Nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar. Ketiga peristiwa pelemparan batu itu diulang kembali oleh jamaah haji dengan melempar tiga jumrah (ulaa, wustha, dan aqabah). Makna pelemparan jumrah itu saat ini adalah melempari sifat buruk pada diri setiap manusia. Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan godaan setan dan mematuhi perintah Allah. Atas ketaatan Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah, maka sebagai gantinya Allah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih seekor domba sebagai ganti menyembelih Ismail. Ummat Islam yang tidak pergi haji mengulangi peristiwa Nabi Ibrahim itu dengan menyembelih hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha. Darah dan daging qurban itu tidak sampai kepada Allah SWT karena memang tidak diperuntukkan bagi-Nya, tetapi yang sampai adalah taqwa dari hamba-Nya karena telah menaati perintah-Nya.

Sepanjang perjalanan menuju jamarat kita melalui pinggir jalan raya yang padat dengan bus-bus yang membawa rombongan jamaah haji dari Arafah, Saya menemukan pemandangan yang menarik, yaitu jamaah haji dari Afrika bergelimpangan tidur di pingir jalan. Mereka tidak menginap di tenda, entah mereka tidak mendapat tenda atau memang mereka tidak terorganisir.

Setelah berjalan kaki selama dua jam, akhirnya sampailah kami di gedung jamarat. Gedung jamarat ini ada tiga lantai. Kita dapat melempar jumrah dari lantai  mana saja karena jumrah dibuat seperti tugu yang tingginya tiga lantai. Untuk naik ke setiap lantai tersedia eskalator.

Gedung jamarat

Rombongan kami melempar jumrah di lantai satu. Setelah masuk ke dalam, kita menemukan jumrah yang paling besar, itulah jumrah Aqabah. Dinihari saat itu tidak terlalu padat dengan jamah haji. Kami dapat melempar jumarh Aqabah dengan mudah. Ada tujuh kali lemparan. Setiap kali kita melempar batu ke jumrah, kita membaca bismillaahi allahu akbar.

Melempar jumrah Aqabah

Hanya jumrah Aqabah saja yang dilempar pada tanggal 10 Zulhijjah itu. Dua jumrah yang lain (jumrah Uula dan jumrah Wustha) akan dilempar pada hari-hari tasyrik. Selesai melempar jumrah Aqabah, maka kami pun melaksanakan tahalul, yaitu memotong tiga helai rambut. Alhamdulillah, dengan demikian rangkaian melempar jumrah tahap eprtama sudah selesai, kami sudah boleh memakai pakaian biasa lagi. Tetapi, karena pakaian ada di dalam tenda, maka berganti pakaian nanti saja di tenda.

Rombongan kami berjalan kaki kembali menempuh jalan yang sama menuju tenda. Itu artinya berjalan kaki sejauh 5 km. Bagi jamaah yang tidak kuat pulang berjalan kaki, ada orang Arab yang menyediakan kursi roda dan mendorongnya hingga ke tenda. Seorang ibu di rombongan kami yang tidak kuat lagi berjalan, memilih menggunakan jasa sewa akursi roda ini. Ongkosnya nego,  tercapai kesepakatan 200 riyal atau sekitar 800 ribu rupiah (jika 1 riyal = Rp 4000).

Sempat pula kami kesasar ketika kembali ke tenda. Rupanya kami tidak hafal lokasi tenda semula. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya sampai jugalah kami di tenda ketika adzan Subuh berkumandang. Setelah sholat Subuh, sebagian besar jamaah tertidur karena kelelahan. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

December 13th, 2018 at 5:04 pm