if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Agama’ Category

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Embarkasi Haji

without comments

Pengantar: Selama satu bulan lebih, lebih tepatnya 41 hari, saya cuti menulis di dalam blog ini karena saya menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, Haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya sudah berniat untuk menuliskan perjalanan haji sepulang dari sana, sebagaimana dulu saya pernah menuliskan tulisan berseri catatan perjalanan Umrah tahun 2015. Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman haji sebagai tulisan berseri, dengan maksud berbagi pengalaman kepada pembaca yang belum pernah naik haji, atau sekedar bernostalgia merajut kenangan bagi pembaca yang sudah pernah menunaikan haji.

Sebelum menulis seri tulisan tentang haji, saya sudah menulis beberapa tulisan pendahuluan sebagai berikut:

  1.  Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci
  2.  Menuju Haji 2018
  3. Rindu dengan Rasulullah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu selama enam tahun pun tiba. Setelah mengikuti manasik selama tiga bulan di KBIH Mega Arafah (d/h Mega Citra), akhirnya kami diberitahu bahwa keberangkatan haji ke tanah suci adalah pada tanggal 19 Juli 2018. Saya dan jamaah lain di KBIH tersebut tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter 7), dengan kode JKS 07 embarkasi Bekasi.Saya pergi haji sendiri, tidak bersama istri. Istri saya sudah haji tahun 2011. Kami tidak bisa pergi haji berdua karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tanggal 18 Juli 2018 sebelum sholat subuh semua jamaah haji sudah berkumpul di KBIH sebelum berangkat ke Mapolda Jabar di Gedebage, Bandung. Semua jamaah haji kota Bandung berangkat ke embarkasi Bekasi dari Mapolda Jabar. Di kantor KBIH kami dilepas oleh keluarga. Di sana tidak tertahankan lagi isak tangis dan peluk cium yang mengharukan antara jamaah haji dengan keluarganya, seperti hendak pergi selama-lamanya dan tidak bertemu lagi. Pergi haji masih dianggap pergi ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama (40 hari). Belum tentu jamaah haji bisa pulang ke tanah air, mungkin saja ditakdirkan wafat di Tanah Suci. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan. Setiap tahun memang ratusan jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Faktor penyakit bawaan dari tanah air atau usia lanjut adalah faktor terbesar meninggalnya jamaah haji di sana.

Saya pun larut dalam kesedihan. Apalagi saya pergi haji sendiri, meninggalkan anak dan istri di rumah tanpa kehadiran saya. Namun, saya selalu teringat kata-kata ustadz pembimbing haji ketika manasik. Katanya, jika kita berangkat haji, maka pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT.  Kita pasrahkan keluarga kita dan harta yang kita tinggalkan kepada Allah. Biarlah Allah saja yang menjaganya. Insya Allah dengan memasrahkan diri kepada Allah kita dapat berangkat ke Tanah Suci dengan tenang.

Dari kantor KBIH di Jalan Cimandiri (belakang Gedung Sate), kami berangkat dalam rombongan satu bus ke Mapolda Jabar di Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Di sana semua rombongan jamaah haji Kloter 07 dari berbagai KBIH dikumpulkan.  Jamaah haji Kloter 7 semuanya 410 orang. Mereka berasal dari KBIH Maqdis, KBIH Mega Arafah, KBIH As-syakur, KBIH Al-Abror, KBIH Unisba, dan beberapa orang jamaah haji mandiri (tidak tergabung dalam KBIH manapun).

Di Mapolda Jabar jamaah haji Kloter 7 dikumpulkan di Masjid. Di sana jamaah masih diberi pengarahan dan kiat-kiat sehat di Tanah Suci. Setelah serangkaian seremoni, akhirnya jamaah haji masuk kembali ke dalam bus masing-masing, siap berangkat ke embarkasi Jawa Barat di Bekasi.

37340808_1956250637776285_8274474032997335040_n

Bersiap-siap memasuki bus

37252237_1956250557776293_6700607280540286976_n

Berfoto bersama di Mapolda Jabar sebelum berangkat ke Embarkasi

Satu persatu bus rombongan haji (10 bus) meninggalkan Mapolda Jabar. Para pengantar,  yang merupakan keluarga jamaah haji, yang menunggu di luar (tidak boleh masuk ke dalam Mapolda) menyemut memberikan lambaian tangan selamat jalan. Tak terasa air mata pun menetes. Sungguh mengharukan. Sepanjang jalan dari Mapolda Jabar hingga perempatan lampu merah di Gedebage para pengantar berbaris melambaikan tangan. Perjalanan haji adalah perjalanan jauh, mungkin juga perjalanan menuju kematian. Para pengantar itu datang beramai-ramai ke Mapolda. Ada yang menyewa angkot, minibus, atau membawa mobil pribadi.

37275248_1956250861109596_3640470458261831680_n

Lambaian tangan selamat jalan dari pengantar

37327764_1956251107776238_748762419173523456_n

Para keluarga pengantar jamah haji berbaris sepanjang jalan melambaikan tangan selamat jalan

Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikalaka labbaik. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Bus-bus rombongan jamaah haji selama perjalanan dari embarkasi menuju Embarkasi Haji di Bekasi dikawal oleh mobil Patwal polisi sehingga mendapat prioritas jalan. Bunyi sirine meraung-raung sepanjang jalan.  Bahkan, ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT,  khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP saja.

Di Kabupaten Purwakarta bus berhenti di RM Cibening Sari untuk makan siang. Pemkot Bandung mentraktir jamaah haji makan siang gratis di rumah makan tersebut. Memang selama mengikuti haji mulai berangkat dari Bandung hingga kembali ke Bandung jamaah haji mendapat banyak keistimewaan perlakuan. Mungkin sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun sebagai jamaah haji tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Oh iya, kloter saya, Kloter 7, termasuk dalam keberangkatan Gelombang pertama. Sebagaimana diketahui, pemberangkatan jamah haji dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dari tanggal 16 Juli – 30 Juli 2018, jamaah haji diterbangkan ke Madinah dulu. Gelombang kedua dari tanggal 31 Juli – 15 Agustus 2018, jamaah haji diterbangkan ke Mekah via Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jamaah haji gelombang satu akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari sebelum bertolak ke Mekah, sedangkan jamaah haji gelombang kedua tinggal di Mekah dulu selama 31 hari, baru kemudian pindah ke Madinah selama sembilan hari. Jadi, jamaah haji gelombang satu nantinya pulang ke tanah air melalui Jeddah, sedangkan jamah haji gelombang dua pulang melalui bandara Madinah.

Pembagian dua gelombang ini karena jamaah haji Indonesia sangat banyak jumlahnya tahun ini mencapai 220.000 orang, sehingga tidak mungkin diangkut semuanya secara serentak dalam satu periode. Mengangkut 220.000 orang dengan pesawat terbang sama dengan memindahkan penduduk sebuah kabupaten di Sumatera, dan ini adalah sebuah pekerjaan raksasa.

Selama perjalanan ke embarkasi saya lebih banyak duduk diam dan melamun. Melamun banyak hal :-). Akankah saya dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan lancar? Dapatkah saya melupakan sejenak urusan duniawi ini, fokus beribadah kepada Allah saja? Banyak lagi yang saya lamukan, namun sebagimana kata ustad pembimbing, pasrahkan semua urusan hidup ini hanya kepada Allah SWT saja. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

September 6th, 2018 at 2:47 pm

Manfaat Tidur Miring ala Rasulullah

without comments

Tidur dengan posisi manakah yang bagus buat kesehatan tubuh? Tidur telentang atau tidur miring? Para ahli tidur telah meneliti tentang hal ini, dan mereka menyimpulkan bahwa tidur dengan posisi miring memberi manfaat buat kesehatan. Saya baru saja membaca tulisan di Republika yang menceritakan Empat Manfaat Tidur dalam Posisi Miring. Dikutip dari artikel tersebut:

Menurut sejumlah ahli, tidur dalam posisi miring sangat disarankan demi alasan kesehatan. Dilansir dari Business Insider, inilah empat manfaat yang diperoleh dengan tidur miring:

1. Mengatasi dengkur

Orang-orang yang punya kebiasaan mendengkur saat tidur disarankan untuk tidur dalam posisi miring. Menurut Joachim Maurer selaku praktisi dari German Society of Otolaryngology, Head, and Neck Surgery, orang mendengkur karena memulai tidur dalam posisi terlentang.

“Hampir semua orang yang mendengkur mengawali tidurnya dalam posisi terlentang,” ungkap Maurer.

Alexander Blau, praktisi tidur dan pulmonologis di Berlin Sleep Academy juga merekomendasikan agar orang dengan problem pernafasan tidur dengan miring. “Paru-paru bekerja lebih baik dalam kondisi tegak,” ujar Blau.

2. Mengatasi masalah perut dan jantung

Maurer menyarakan memilih posisi tidur yang tepat tidak hanya membuat nyaman. Akan tetapi, bisa menjaga kesehatan jantung, otak, perut, dan sistem pernafasan.

Dietrich Andersen, kardiologis dan ahli fisiologi di Hubertus Protestant Hospital di Berlin menjelaskan orang dengan masalah jantung sebaiknya tidur menghadap kanan. Ini bertujuan agar jantung tidak menerima tekanan dari tubuh saat tidur.

3. Menyegarkan otak

Tahukah anda ternyata selama tidur otak kita mengalami proses ‘pencucian’. Oleh karena itu posisi tidur yang tepat bisa membuat kita bangun dengan pikiran yang segar. Kendati tidak memiliki masalah kesehatan apapun, tidur dengan posisi miring disebut lebih baik. Hans Forstl yang menjalankan klinik psikiatri dan psikoterapi di Munich mengatakan selama tidur otak mengalami penyegaran.

“Dengan tidur yang berkualitas, otak seperti dicuci ketika istirahat di malam hari,” jelasnya. Percobaan di laboratoruin dengan tikus putih menunjukkan apabila tikus tidur dalam posisi miring, maka zat-zat negatif akan luruh berkat kinerja sistem imun.

4. Mengurangi risiko kematian bayi

Studi yang dimuat di British Medical Journal menyebut ibu hamil yang tidur miring akan lebih sedikit terkena risiko kematian bayi saat lahir. Ibu hamil yang tidur miring ke kiri risiko kematian bayinya lebih rendah 50 persen daripada mereka yang tidur menghadap ke kanan atau terlentang.

~~~~~~~~~~~~~~

Ternyata, ratusan abad sebelum para ahli kesehatan menemukan manfaat tidur dengan posisi miring,  Rasulullah Muhammad SAW sudah mencontohkan tidur dengan posisi miring. Rasulullah tidur dengan posisi miring ke kanan.

Rasulullah bersabda :

“Apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda;Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu,” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).

Dikutip dari artikel Rahasia Tidur Miring ke Kanan Anjuran Nabi, ternyata tidur dengan posisi miring ke kanan sangat baik untuk kesehtan. Dikuti dari artikel tersebut:

Berikut menfaat tidur dengan posisi miring ke kanan yang diambil dari berbagai sumber.

  • Tidur dalam posisi ke kanan dapat mengistirahatkan otak kiri. Dengan tidur miring ke kanan,  dapat menghindarkan dari bahaya yang timbul seperti pengendapan pembekuan darah, lemak, asam sisa oksidasi, dan penyempitan pembuluh darah.
  • Dapat mengurangi beban jantung. Dengan posisi miring ke kanan saat tidur dapat membuat darah terdistribusi secara merata dan terkonsentrasi ke tubuh bagian kanan, membuat aliran darah yang masuk dan keluar jantung lebih melambat sehingga denyut jantung lebih lambat dan tekanan darah akan menurun.
  • Mengistirahatkan lambung. Dengan tidur miring ke kanan menyebabkan aliran chiem lancar sehingga cairan empedu meningkat. Hal ini dapat mencegah batu kantung empedu.
  • Meningkatkan waktu penyerapan gizi. Dengan posisi tidur miring ke kanan membuat perjalan makanan yang tercerna lebih lama, sehingga penyerapan sari makanan lebih optimal.
  • Merangsang buang air besar. Dengan tidur miring ke kanan akan membuat proses pengisian usus besar lebih cepat penuh sehingga merangsang gerak usus besar dan relaksasi dari otot anus. Ini akan merangsang untuk buang air besar.
  • Mengistirahatkan kaki kiri. Dengan tidur miring ke kanan akan membantu pengosongan vena kaki kiri sehinnga rasa pegal lebih cepat hilang.
  • Menjaga kesehatan paru-paru. Paru-paru kanan lebih besar daripada paru-paru kiri. Saat tidur miring ke kanan, jantung juga akan condong ke kanan. Hal ini tak masalah karena jantung akan menekan paru-paru kanan yang ukurannya lebih besar.
    Menjaga saluran pernafasan. Dengan tidur miring ke kanan akan mencegah jatuhnya pangkal lidah yang dapat mengganggu saluran pernafasan.
  • Untuk sekarang apa salahnya kita membiasakan dengan tidur miring ke kanan untuk memperoleh posisi tidur yang sehat.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Saya akan mengikuti sunnah Nabi ini karena terbukti banyak manfaatnya.

Written by rinaldimunir

July 13th, 2018 at 1:14 pm

Rindu dengan Rasulullah

without comments

Insya Allah tinggal dua minggu lagi saya akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Berbagai perasaan tentu telah berkecamuk di dalam hati saya menjelang keberangkatan. Antara bahagia, sedih, dan gembira. Bahagia karena saya akan menjadi tamu Allah SWT di Rumah-Nya di Baitulah. Gembira karena saya akan bertemu kembali dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan saya akan berada di samping Rasulullah meskipun hanya maqamnya saja. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, terutama anak dan istri yang saya sayangi. Tetapi, saya telah memasrahkan diri kepada Allah SWT  sepenuh hati lahir dan batin agar perjalanan haji ini dilancarkan dan berharap mendapat haji yang mabrur.

Meskipun saya telah pernah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah tahun 2015, namun haji adalah puncak dari Rukun Islam. Haji itu adalah wukuf di Arafah, demikian kata Rasulullah, maka haji tanpa wukuf di Arah adalah tidak sah. Umrah yang saya lakukan hanya sebatas Thawaf dan Sa’i, maka itu bukanlah ibadah haji.

Orang yang pernah pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, baik untuk berumrah maupun berbadah haji, maka di dalam dirinya selalu muncul keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke Tanah Suci. Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah dua tempat yang selalu dirindukan untuk didatangi lagi, berkali-kali jika ada kesempatan (waktu dan biaya). Tidak heran banyak orang umrah berkali-kali meskipun tidak wajib, tetapi perasaan rindu itu telah mengikat batin untuk datang berkali-kali ke sana.

Sebuah tempat yang saya rindukan untuk selalu berada di sisinya adalah maqam Rasulullah. Maqam Rasulullah terdapat di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Saya pernah duduk di samping maqam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, ketika umrah tiga tahun lalu. Kisah ini saya ceritkan dalam tulisan berjudul Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi. Saya duduk di area Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Seperti diketahui, Nabi dimakamkan di dalam rumahnya, dan rumahnya kini sudah menyatu di dalam Masjid Nabawi.

DSC_0511

Jamaah menyesaki Raudhah. Di kejauhan tampak maqam Nabi yang berawarna hijau

Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

DSC_0525

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Sungguh saya tidak percaya, sedekat itu saya berada di samping Rasulullah, meskipun terpisah oleh waktu selama ribuan tahun. Tetapi saya saat itu duduk di dekatnya. Rasulullah Muhammad SAW, lelaki yang agung yang dicintai oleh ratusan juta ummat Islam di seluruh dunia. Namanya selalu diucapkan setiap hari, seluruh ummat mendambakan syafaatnya pada Hari Akhir nanti.

Ketika saya mendengarkan lagu dari penyanyi Maher Zain yang berjudul Ya Nabi Salam Alaika, tiba-tiba saja kerinduan saya kepada Rasulullah membuncah demikian hebatnya. Tidak terasa mata saya terasa basah, membayangkan lelaki yang telah membawa ummat manusia ke jalan keselamatan.

Lirik lagu Ya Nabi Salam Alaika:

Anta nurullahi fajran
Ji’ta ba’dal usri yusran
Rabbuna ‘alaka qadran
Ya imamal anbiya’i

Anta fil wujdani hayyun
Anta lil ainaini dhoyyun
Anta indal haudhiriyyun
Anta hadun wa shafiyyun
Ya habibi ya Muhammad

Ya nabi salam alaika
Ya rassul salam alaika
Ya habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Yartawi bil hubbi qalbi
Hubbi khairi rusli Rabbi
Man bihi abshortu darbi
Ya syafi’i ya Rasulallah

Ayyuhal mukhtaru fina
Zadanal hubbu haniina
Ji’tana bil khairidiina
Ya khitamal mursalina
Ya habibi ya Muhammad

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

 

Terjemahan:

Engkaulah cahaya pada waktu fajar
Engkau datang setelah kesulitan (dan menjadikannya) kemudahan
Tuhan kami telah mengangkat derajat atasmu
Wahai pemimpin para nabi

Engkau berada di dalam hati nurani yang hidup
Engkaulah cahaya untuk kedua mataku
Engkaulah aliran air pada sungai
Engkau adalah petunjuk yang sesungguhnya
Wahai kekasihku ya Muhammad

Wahai Nabi keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai Rasul keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai kekasih keselamatan (tercurah) atasmu
(semoga) shalawat (rahmat) Allah (tercurah atasmu

Cinta yang tak terpadamkan di dalam hatiku
Cinta(kepada) utusan terbaik dari Tuhanku
Barangsiapa yang bersama kulihat (berada) di jalan (Allah)
Wahai perantaraku wahai Rasululullah

Wahai yang terpilih diantara kami
Cinta kami mendorong rasa rindu kami
Engkau datang kepada kami dengan agamayang terbaik
Wahai penutup orang-orang yang diutus
Wahai kekasihku wahai Muhammad

~~~~~~~~~~~~

Ya Nabi salam ‘alaika shalawat dan salam tercurah untukmu.

Written by rinaldimunir

July 3rd, 2018 at 3:36 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Bahaya Melakukan Rampatan (Generalisasi): Kasus Cadar

without comments

Pasca teror bom bunuh diri yang menghebohkan tanah air, berseliweran ujaran kebencian dan sikip sinis kepada kelompok tertentu, salah satunya kepada wanita pemakai cadar. Salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja di Surabaya adalah seorang wanita yang memakai hijab (cadar?). Oleh karena itu, banyak wanita pemakai cadar merasa tidak nyaman karena mereka dianggap sebagai orang berpaham radikal.

Sebelumnya beberapa bulan yang lalu pernah ada polemik larangan penggunaan cadar bagi mahasiswa dan dosen di beberapa universitas. Lagi-lagi karena, meskipun tidak ditulis secara eksplisit, mengasosiasikan penggunaan cadar dengan radikalisme. Kasus teror bom bunuh diri kemaren semakin menguatkan sentimen sebagian kalangan kepada wanita yang bercadar.

Menurut pemahaman saya, cadar memang bukan keharusan bagi wanita muslimah. Di dalam agama hanya disebutkan kewajiban menutup aurat bagi wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, menggunakan jilbab atau kerudung yang menutup aurat saja sudah cukup. Tetapi, pemahaman agama setiap orang tidak selalu sama. Sebagian kalangan di dalam Islam memiliki keyakinan bahwa wajah wanita juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Kalangan ini mengatakan cadar termasuk keharusan.

Kita tidak memperdebatkan jika ada keyakinan orang Islam yang demikian. Silakan saja. Toh orang yang memakai cadar termasuk berbusana sopan,  jadi kenapa harus delarang. UUUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduk menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa menggunakan cadar termasuk kewajiban seorang muslimah. Istri saya snediri hanya memakai jilbab biasa, tidak bercadar. Mahasiswi saya di kampus juga kebanyakan memakai jilbab yang bermacam-macam bentuknya, jarang sekali saya melihat mahasiswi memakai cadar, tetapi kampus ITB tidak pernah melarang cadar sejauh yang saya ketahui.

Kembali tentang topik saya di atas yang mengasosiasikan cadar dengan radikalisme. Melakukuan generalisasi ini berbahaya, karena menganggap semua wanita bercadar adalah radikal, ekstrimis, atau bahkan teroris. Jika ada yang berpendapat demikian, maka ia akan malu sendiri jika melihat foto di bawah ini. Ini foto yang bersumber dari sebuah akun Twitter  . Di dalam akunnya itu ia menulis sebagai berikut:

“Kapolri menjenguk polisi korban serangan teroris di Riau; AKBP Farid. Istri AKBP Farid mengenakan cadar. Maka, stop asosiasikan cadar dengan teroris. Justru mereka adalah korban dari teroris, jangan tambah lagi penderitaan mereka karena anggapan kita.”

AKBP Farid adalah salah satu korban luka pada aksi terorisme di Pekanbaru. Pasca teror bom di Surabaya, dua hari sesudahnya juga terjadi aksi teror ke Mapolrestabes Pekanbaru. Terduga teroris menggunakan pedang dan menghantam mobilnya ke polisi. Seorang polisi meninggal dunia, dan beberapa orang luka-luka, salah satunya adalah AKBP Farid. Istri AKBP Farid adalah seorang pengguna cadar. Nah, di internal keluarga polisi sendiri ada yang memakai cadar, maka apakah mereka ini pantas dicap berpaham radikal atau teroris sedangkan suaminya sendiri seorang polisi yang berhadapan dengan teroris.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa melakukan perampatan (meng-generalisasi) kepada suatu kelompok orang hanya karena ulah segelintir oknum di dalam kelompok tersebut sama sekali tidak tepat dan berbahaya. Berbahaya karena semua orang di dalam kelompok tersebut mendapat stigma negatif, yang dapat berlanjut kepada persekusi, pengusiran, bahkan pembunuhan.  Kita semua melawan terorisme, tetapi marilah kita obyektif menilai. Tidak semua orang memakai cadar adalah teroris, tetapi teroris memakai cadar bisa jadi.

Written by rinaldimunir

May 22nd, 2018 at 2:53 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Membajak Agama di Surabaya dan Racun Orangtua kepada Anak-anaknya

without comments

Memasuki awal bulan Ramadhan tahun ini terasa sumbing. Aksi terorisme yang sangat keji terjadi di Surabaya membuyarkan keceriaan menyambut Ramadhan. Lima aksi bom bunuh diri dalam dua hari menyasar orang-orang yang tidak bersalah. Tiga gereja menjadi sasaran kekejian teroris, lalu malam harinya bom meledak di sebuah rusun, dan keesokan paginya polisi di Polrestabes menjadi sasaran berikutnya. Puluhan jiwa tak bersalah menjadi korban terorisme.

Saya pribadi mengutuk aksi biadab itu. Melakukan aksi bunuh diri saja dilarang agama, apalagi membunuh orang lain yang tidak bersalah. Jika pelaku bom bunuh diri mengklaim bahwa aksinya termasuk jihad dan matinya adalah syahid, maka menurut saya hal itu salah besar. Indonesia tidak berada dalam kondisi perang, maka tidak ada musuh yang harus dimusnahkan. Mengapa pula sasarannya gereja dan jemaatnya. Apa kesalahan jemaat gereja itu sehingga mereka dibom?

Saya bisa memahami perasaan saudara-saudara sebangsa kita kaum kristiani. Mereka tentu trauma menjalankan ibadah, karena selalu diliputi rasa was-was. Aksi terorisme kemarin salah satu tujuiannya mungkin telah tercapai, yaitu membuat hubungan antar agama menjadi saling curiga atau bahkan saling membenci.

Sekali lagi aksi terorisme tersebut telah mencoreng wajah Islam yang damai karena pelaku terorisme di Surabaya kebetulan beragama Islam.  Sebagian kaum non-muslim yang selama ini memiliki persepsi negatif tentang agama Islam, karena  diidentikkan dengan aksi kekerasan di berbagai wilayah di muka bumi, semakin menambah persepsi buruk mereka tentang agama Islam. Memang tidak semua kaum non-muslim mempunyai persepsi demikian, karena sebagian mereka tetap beranggapan pelaku kekerasan tersebut hanyalah oknum yang berkedok agama dan tidak mewakili mayoritas penganut agama tersebut. Radikalisme ada pada penganut agama manapun.

Teroris telah membajak ajaran agama dengan melakukan penafsiran secara sempit.  Mereka bilang ini jihad, tetapi sesungguhnya perbuatan mereka adalah kejahatan yang mengerikan. Mereka bilang  ini mati syahid, tetapi sesungguhnya ini adalah mati konyol. Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh membunuh orang yang tidak bersalah atau menghancurakn rumah ibadah agama lain. Nabi saja melarang membunuh anak, anak, wanita, dan manula, baik dalam situasi perang maupun bukan. Dalam masa pemerintahan Nabi di Madinah, keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani dilindungi, termasuk rumah ibadah mereka.

Satu hal yang membuat miris dari aksi terorisme di Surabaya kemarin adalah pelakunya adalah tiga keluarga. Lima kali peristiwa bom di Surabaya melibatkan anak-anak dan istri  teroris. Saya bergidik mendengarnya. Sungguh, sampai saat ini saya antara percaya dan tidak percaya anak-anak tersebut melakukan aksi bom bunuh diri.  Saya melihat foto ibu dan keempat anaknya itu di akun fesbuk ibu mereka. Terlihat anak-anak itu masih dalam membutuhkan dunia bermain, sorot matanya mendambakan kasih sayang.  Anak-anak yang masih polos, lugu, dan mempunyai masa depan yang masih panjang diajak orangtuanya untuk melakukan bom bunuh diri. Membunuh orang lain yang tak berdosa dan membunuh darah dagingnya sendiri. Alangkah bejat dan biadabnya kelakuan teroris seperti itu, mencuci otak istri dan anaknya. Alangkah biadabnya si ayah, melilitkan bom ke pinggang anaknya, lalu menyuruh anaknya meledakkan diri di gereja. Oh…

Sampai sekarang saya masih syok kenapa ayah yang biadab ini mengajak anak-anak serta istrinya melakukan aksi bom bunuh diri.  Ajaran apa yang didoktrinasi kepada anak istrinya sehingga mereka tega melakukan aksi teror pembunuhan. Sungguh bejat ayah seperti itu, dan sungguh biadab orang yang mendoktrin mereka menjadi demikian (Baca: Peluk Tangis Anak-Anak Dita Maghrib Sebelum Aksi Bom). Saya tidak sanggup menuliskannya lagi.  Saya juga mempunyai anak-anak seusia mereka. Saya pulang dan saya cium anak-anak saya di rumah. Oh….

Written by rinaldimunir

May 15th, 2018 at 4:15 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Kapan Hukuman Pembunuhan adalah Dibunuh?

without comments

Judul tulisan saya di atas mungkin menyeramkan. Menyebut kata “dibunuh” saja sudah membuat mulut bergetar, apalagi bila tangan melakukannya. Tapi, jika membaca berita di bawah ini, masihkah kita bertoleransi kepada pembunuh?

“Jangan bunuh saya. Kalau mau ambil uang, mobil dan harta ambillah. Tetapi tolong jangan bunuh saya. Saya masih ada anak dan istri,” kata Tyas menirukan perkataan terakhir korban saat dalam kondisi dijerat.

Tyas adalah seorang supir Go-Car di Palembang. Dia mendapat order dari empat pemuda, salah seorang diantaranya adalah mahasiswa. Keempatnya sudah merencanakan untuk menggasak mobil korban. Ketika sedang membawa keempat pemuda tadi, lehernya dijerat dengan tali dari belakang. Dia masih sempat melawan, tapi jeratan tali sangatlah erat. Saat sudah tidak berdaya lagi, dia memohon belas kasihan kepada keempat penjahat tadi agar jangan membunuhnya. Silakan ambil mobil dan uangnya, tapi jangan bunuh dirinya, sebab dia masih punya anak dan istri, katanya,  seperti penggalan kalimat yang saya tulis di atas. Tetapi ucapan memohon belas kasihan dari dirinya tidak mampu meluluhkan hati kempat penjahat tadi. Nyawanya lepas dari badannya, lalu tubuhnya dibuang ke rawa. Jenazahnya yang sudah membusuk baru ditemukan 40 hari kemudian. Baca beritanya di sini:  Saat Sopir Go-Car Dihabisi Tyas Dkk: Jangan Bunuh Saya.

Astaghfirullah. Sungguh sadis. Insya Allah korban mati dalam keaadaan syahid karena ia mati ketika sedang mencari nafkah buat anak istrinya. Pembunuhnya sudah membuat seorang anak menjadi yatim dan istri menjadi janda.

Apa hukuman yang pantas bagi keempat pembunuh tadi? Jawabnya adalah hukuman mati. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. Kalau sudah begitu, saya rindu dengan hukum Islam, sebab di dalam hukum Islam pembunuh harus mendapat hukuman yang sama, yaitu harus dimatikan juga.

Sayangnya hukum di negara kita bukan hukum Islam, meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. Negara kita memakai hukum peninggalan Belanda. Di dalam hukum positif yang berlaku sekarang, hukuman bagi pelaku pembunuhan paling tinggi adalah hukuman mati, tetapi itu paling tinggi. Kenyataannya tidaklah demikian, hukuman bagi pelaku pembunuhan biasanya beberapa tahun sampai belasan tahun. Hanya kasus pembunuhan yang sangat berat saja yang mendapat hukuman mati, itupun tidak langsung dilaksanakan, tetapi ditunda beberapa tahun hingga puluhan. Pelaku pembunuhan mendekam dulu di dalam penjara. Eksekusi sering ditunda karena berbagai alasan, lalu yang terjadilah adalah sikap mendua dan akhirnya menjadi pro kontra di tengah masyarakat.

Sebagian orang, termasuk pegiat HAM, beranggapan hukuman mati melanggar HAM. Janganlah menambah korban lagi dengan melakukan hukuman mati, katanya. Mereka tidak memikirkan HAM orang yang mati dan keluarganya. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi pada dirinya atau keluarganya? Apakah mereka akan memikirkan HAM juga?

Pada kasus-kasus pembunuhan yang berlangsung di pengadilan, sering kita baca atau lihat di TV  keluarga korban tidak kuasa menahan amarahnya melihat pelaku pembunuhan dihadirkan di ruang pengadilan. Mereka merangsek maju untuk melakukan pembalasan yang setimpal  kepada pelaku. Kalau perlu pelaku pembunuhan itu dibunuh saat itu juga. Jika pelampiasan amarah itu tidak berhasil dilakukan, keluarga korban berteriak-teriak kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku.

Yang paling merasakan duka kehilangan akibat pembunuhan adalah keluarga korban. Kita yang bukan bagian dari keluarga itu mungkin bersikap biasa saja karena kita tidak merasakan kepedihan mereka. Nyawa keluarga mereka yang menjadi korban tidak bisa diganti lagi. Rasa kasihan kepada pelaku, kasihan jika dihukum mati, tidak mampu menggantikan nyawa korban.

Hukum Islam tentang pembunuhan sungguh adil. Pelaku pembunuhan tidak langsung dijatuhi hukuman mati. Mereka menjalani sidang pengadilan terlebih dahulu. Jika dari proses pengadilan memang terbukti pelaku melakukan pembunuhan, maka hukumannya adalah hukuman mati (entah dengan cara ditembak, dipancung, atau dihukum gantung). Tujuannya adalah untuk membuat efek jera. Namun, ada kemungkinan pelaku bisa lolos dari jerat hukuman mati. Jika keluarga korban memaafkan pelaku, maka pupuslah hukuman mati. Pelaku pembunuhan cukup membayar diyat (atau uang denda) kepada keluarga korban yang besarnya ditentukan oleh keluarga korban.

Kembali ke kasus pembunuhan supir Go-Car di atas, dapatkah anda mengerti kenapa hukuman bagi pelaku pembunuh Tyas seharusnya juga dihukum mati dengan mengesampingkan perasaan belas kasihan?

Semoga hukum Islam tentang pembunuhan diadopsi menjadi hukum positif di negara kita supaya memenuhi rasa keadilan.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2018 at 5:12 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Menuju Haji 2018

without comments

Alhamdulillah, jika tidak ada halangan, saya mendapat undangan menjadi tamu Allah di Tanah Suci Mekkah dan Madinah pada tahun 2018 ini. Setelah menunggu selama enam tahun, akhirnya saya mendapat porsi haji tahun ini. Seperti yang saya tulis pada tulisan tahun 2012 (Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci), saya mendaftar haji pada awal tahun 2012 dan diperkirakan berangkat pada tahun 2018. Jadi, ada masa enam tahun bagi saya menunggu dapat porsi haji. Saya masih “beruntung” enam tahun, pendaftar sesudah saya beberapa bulan kemudian ada yang harus menunggu 10 tahun. Saya ikut ONH biasa, bukan ONH plus yang waktu tunggunya setahun.

Sekarang ini rata-rata waktu tunggu calon jamaah haji asal Jawa Barat untuk mendapat porsi haji sudah berada di atas 10 tahun, bahkan ada yang 15 tahun. Makin lama Anda menunda mendaftar haji, makin lama pula mendapat porsi haji. Sebaiknya jika Anda mempunyai uang minimal 25 juta, segeralah mendaftar haji ke bank penerima ONH, agar mendapat perkiraan waktu berapa lama menunggu untuk mendapat porsi haji. Entah kalau umur nanti masih sampai…

haji kabah 1

Setelah mendapat kepastian berangkat pada tahun ini (bisa dilihat di website Kemenag Haji), maka langkah selanjutnya adalah memutuskan apakah akan ikut rombongan KBIH (Kelompok  Bimbingan Ibadah Haji) atau haji mandiri (non-KBIH). Ada plus dan minusnya jika ikut KBIH atau non-KBIH. Jika ikut KBIH kita memang harus mengeluarkan uang tambahan sekitar 3,5 juta rupiah (minimal) untuk bimbingan ibadah haji dan lain-lain, sedangkan kalau non-KBIH (istilahnya haji mandiri), tidak perlu keluar biaya lagi. Kelebihan ikut KBIH adalah urusan administrasi kita ke kantor Kemenag sudah diurus oleh KBIH, kita tinggal beres saja, sedangkan kalau non-KBIH maka semuanya harus diurus sendiri.

Bagi orang yang sibuk dan tidak punya banyak waktu, maka ikut KBIH adalah pilihan yang realistis. Selain itu, bimbingan ibadah haji di KBIH sudah dimulai sejak Februari, sedangkan kalau non-KBIH bimbingan haji dilakukan sesudah Idul Fitri sebanyak enam kali (empat kali di KUA kecamatan dan dua kali di tingkat kabupaten/kota). Selebihnya ketika akan berangkat ke embarkasi  haji dan selama di Tanah Suci sama saja antara jamaah KBIH dan non-KBIH, dalam arti konsumsi dan akomodasi diurus oleh Pemerintah, begitu juga jamaah mendapat pembimbing ibadah haji per kelompok (jika ikut KBIH maka pembimbing hajinya dari KBIH).

Setelah mempertimbangkan banyak hal, maka akhirnya saya memilih ikut KBIH. Saya memilih sebuah KBIH yang kantornya di sekitaran Gedung Sate – Masjid Istiqamah Bandung dan sudah saya kenal reputasinya. Saya berangkat haji sendiri, istri saya sudah haji pada tahun 2011. Oh iya, kita harus memastikan bahwa KBIH yang kita pilih adalah KBIH yang legal dan terdaftar di Kemenag serta sudah dikenal reputasinya. Reputasi ini bisa kita cari di Internet atau dari cerita orang lain. Sudah sering kita dengar kisah pilu jamaah haji yang ditelantarkan KBIH-nya di Tanah Suci, maka jangan sampai terulang lagi kisah sedih demikian.

Bimbingan ibadah haji di KBIH sudah dimulai sejak Februari, tetapi saya baru ikut pada bulan Maret. Agak terlambat juga saya ini, tetapi untunglah masih berupa materi teori dan belum praktek manasik haji. Praktek manasik haji akan dilakukan pada bulan Juli nanti dimana calon jamaah haji menginap selama dua hari satu malam di sebuah tempat.

Bulan-bulan sebelum keberangkatan, maka bebarapa tindakan yang harus kita lakukan sendiri (tidak diurus oleh KBIH) adalah medical check-up dan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas. Pemeriksaaan kesehatan di Puskesmas hanya bisa dilakukan jika kita sudah melakukan full medical check up di klinik kesehatan. Hasil medical check up inilah yang harus dibawa ke Puskesmas.  Pemeriksaan kesehatan di Puskemas diperlukan untuk memastikan apakah calon jamaah haji dinyatakan cukup sehat untuk berangkat haji. Hasil pemeriksaan kesehatan ini menjadi rujukan boleh tidaknya kita melunasi setoran haji. Seperti diketahui ibadah haji memakan waktu sekitar 40 hari dan memerlukan ketahanan fisik dan kesehatan yang baik. Jika mengidap penyakit beresiko tinggi (penyakit jantung, stroke, diabetes, ashtma, gagal ginjal, dll) maka kita tidak disarankan untuk berangkat haji sampai menunggu kita sudah sehat betul.

Saya melakukan  full medical check up di sebuah klinik medis yang terkenal di kota Bandung. Pemeriksaan meliputi darah, urin, paru-paru, dan jantung. Dari sampel darah dan urin akan diukur kadar gula darah, kolesterol (HDL dan LDL), trigliserida, HB, golongan darah, dan kadar asam urat. Untuk paru-paru maka kita difoto rontgen, sedangkan pemeriksaan jantung menggunakan tes EKG untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jantung. Biaya full medical check up ini sekitar 1,2 juta rupiah. Sempat terjadi “drama” yang membuat saya shock, yaitu hasil EKG jantung saya ternyata salah, yang seharusnya normal (insya Allah) tetapi ditulis “suspect OMI dan CLV” (lupa saya singkatannya). Saya sempat harus dirujuk ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut, tetapi sebelum saya ke RS, pihak klinik menelpon kalau hasil EKG saya tertukar dengan diagnosa pasien lain. Masya Allah, bagaimana bisa sebuah klinik medis besar dan terkenal sungguh teledor memberikan hasil tes yang bukan sebenarnya. Mereka beberapa kali minta maaf atas kesalahan tersebut, tetapi permintaan maaf tersebut tidak mampu menghilangkan rasa shock saya selama beberapa hari yang membuat saya tidak bisa tidur dan merasa cemas. Saya anggap kejadian ini ujian kesabaran sebelum menunaikan ibadah haji. Astaghfirullah.

Hasil pemeriksaan medical check up ini lalu saya ke Puskesmas di Jalan Salam. Karena saya ikut KBIH, maka Puskesmasnya sudah ditentukan, jadi tidak bisa di sembarang Puskesmas. Di Puskesmas itu hasil medical check up  itu dibaca oleh dokter. Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab, misalnya pernah mendapat sakit apa saja, pernah diopname, riwayat kesehatan keluarga (orangtua), selain itu juga diukur berat dan tinggi badan. Setelah dokter Puskesmas memastikan saya sehat, maka data saya dimasukkan ke Siskohat (betul namanya demikian?) secara daring. Data ini dikirim ke Dinas Kesehatan kota Bandung untuk disetujui. Kita mendapat surat yang disebut surat Istitoah yang menyatakan kita sehat dan boleh untuk beribadah haji.

Nah, langkah selanjutnya adalah tindakan vaksinasi meningitis. Calon jamaah haji harus disuntik meningitis di Puskesmas yang ditunjuk. Rencananya saya akan disuntik besok. Selanjutnya pada tanggal 28 April nanti semua calon jamaah haji dari beberapa KBIH yang bekerjasama dengan Puskesmas Salam harus ikut tes kebugaran, yaitu lari keliling lapangan di GOR Saparua di Jalan Banda. Mungkin tes ini untuk mengetahui kebugaran jamaah, sebab sebagian besar ibadah haji adalah berjalan kakid ari suatu tempat ke tempat lain.

Kewajiban lain yang harus diurus sendiri adalah melunasi setoran ONH di bank penerima yang ditunjuk. Tahun ini besaran ONH adalah sekitar 35 juta rupiah lebih dua ratus ribu. Pada waktu mendaftar pertama kali kita harus menyetor 25 juta rupiah, jadi kekurangannya sekitar 10 juta lagi. Pelunasan setoran ONH ini menjadi bukti bahwa kita jadi berangkat tahun ini, jika tidak melunasi maka tertunda pada tahun selanjutnya dan porsi kita diambil dari waiting list berikutnya. Pada saat pelunasan di bank kita harus  membawa buku tabungan, BPIH asli, pas foto yang cukup banyak (3 x 4 dan 4 x 6 masing-masing lima lembar), materai 6000, dan surat Istitoah dari Puskesmas.  Nantinya, bukti pelunasan setoran ONH kat bawa ke KBIH, lalu KBIH yang mengurus pendaftaran final ke kantor Kemenag. Disarankan Anda menyiapkan pas foto sebanyak mungkin (sdkeiatar 50 lembar) karena untuk pendaftran akhir di Kemenag kita diminta foto 25 lembar lagi.

Jika semua sudah beres, maka kita tinggal menunggu waktu keberangkatan, apakah pada gelombang pertama atau pada gelombang kedua. Jamaah haji gelombang pertama langsung menuju Madinah (umrah dulu baru haji), sedangkan jamaah haji gelombang kedua langsung ke Mekah (haji dulu baru umrah). Kepastian waktu berangkat baru nanti kita ketahui pada saat bulan Ramadhan. Diperkirakan jamaah haji mulai berangkat setelah tanggal 20 Juli 2018. Sambil menunggu waktu keberangkatan tiba, maka perbanyaklah membaca buku bimbingan ibadah haji, dan yang paling penting adalah selalu menjaga kesehatan fisik dan mental, menjaga agar tubuh selalu bugar, sebab ibadah haji itu adalah ibadah yang berat.

Insya Allah, aku akan datang memenuhi panggilan-Mu nanti ya, Allah.

Written by rinaldimunir

April 3rd, 2018 at 3:43 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Mengapa terpikir bumi itu datar?

without comments

Dalam sebuah acara keagamaan, seorang ustad bercerita di depan jamaah bahwa dia sudah tidak percaya lagi bumi itu bulat seperti bola. Dia menyitir beberapa ayat di dalam Al-quran untuk mendukung argumentasinya bumi itu. Allah mengatakan dalam salah sebuah ayat yang artinya begini: “Dan bagaimana bumi itu dihamparkan” (Al-Ghasyiyah (88): 20), atau  “Dan bumi itu Kami hamparkan (farasynaha), maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)” Adz-Dzariyat (51): 48) . Masih banyak lagi kata-kata “menghamparkan” disebut di dalam Al-Quran (Baca: Benarkah Al Qur’an Menyatakan Bentuk Bumi Datar?). Kata “menghamparkan” mengesankan tempat yang datar, oleh karena itu tidaklah mungkin bumi itu bulat, demikian kata Pak Ustad. Beliau meneruskan lagi kata-katanya, jadi, selama ini kita telah dibohong oleh ilmuwan xxxxx dan xxxxxx (xxxxx yang dia sebut itu adalah nama dua agama).

Saya yang mendengarkan kajian Pak Ustad hanya bisa manggut-manggut saja.  Saya tidak ingin mendebatnya karena tidak ingin mempermalukannya di depan jamaah. Menurut saya, Pak Ustad ini sudah termakan kampanye komunitas flat earth (bumi datar) yaitu kelompok orang yang menolak pendapat bahwa bumi itu bulat dan lebih mempercayai bumi itu datar.  Sungguh saya sedih mendengarnya, apalagi kelompok ini sering menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk mendukung argumentasinya. Bukti-bukti imiah dari sains dan teknologi tidak mampu menggoyahkan keyakinan mereka. Mindset mereka tidak bisa lagi diubah, tetap bergeming dengan keyakinannya. Padahal  ijma’ (kesepakatan) para ulama sudah meyakini bahwa bumi itu bulat (baca ini: Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?).

Dogma bumi itu datar telah “memakan” banyak “korban”, termasuk orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.  Logika ilmu dijungkirbalikkan, ayat suci dimaknai secara letterlux. Padahal kata “menghamparkan” itu untuk memaknai bumi itu adalah tempat yang sangat luas, sangat luas dibandingkan diri manusia yang kecil. Karena luasnya itu, maka bumi tampak seperti hamparan.

Andaikan kaum yang mengklaim bumi itu datar mau lebih berpikir lebih jauh lagi, maka sesungguhnya bumi itu bulat sudah terbukti dengan jelas. Pergantian siang dan malam pada bagian bumi adalah contohnya. Keadaan siang terjadi karena bagian bumi disinari matahari, sebaliknya pada waktu yang bersamaan bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari mengalami gelap yang kita sebut malam. Andaikan bumi itu datar, pastilah seluruh bagian bumi mendapat sinar matahari sehingga tidak ada bagian bumi yang mengalami kegelapan. Ukuran matahari jauh lebih besar dari ukuran bumi, ribuan kali besarnya. Maka, tidak mungkin ada bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari jika bumi itu dianggap datar. Adanya bagian bumi yang mengalami siang dan bagian bumi lain mengalami  malam hari pada waktu yang sama hanya mungkin jika bumi itu bulat, tidak mungkin terjadi kalau bumi itu datar. Misalnya di Indonesia saat ini siang hari, sementara di Eropa dan Amerika pada saat yang sama sedang malam hari.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. ‘Ali `Imran [3] : 190)

Jika bumi itu memang datar lalu ada bagian bumi yang mengalami siang dan saat yang sama ada bagian bumi yang mengalami malam, maka hal itu hanya mungkin jika matahari itu sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan bumi. Karena kecilnya, maka saat matahari berada pada sebuah sisi, maka  pada sisi yang lain bagian bumi itu mengalami malam. Menganggap matahari berukuran jauh lebih kecil dari bumi jelas tidak masuk akal.

Saat ini, di tengah polarisasi bangsa yang terbelah akibat Pilpres dan Pilkada, istilah “kaum bumi datar” mengalami pergeseran makna. Istilah “kaum bumi datar” sering disematkan warganet kepada kelompok Islam yang kontra Ahok atau kepada orang-orang yang selalu mengkritik Pemerintah (Jokowi). Orang-orang yang kontra dengan Ahok atau Jokowi disebut “kaum bumi datar”  oleh para pendukung Jokowi/Ahok. Saya tidak tahu mengapa mereka disebut kaum bumi datar hanya karena memiliki pendapat  yang berseberangan dengan Pemerintah saat ini. Asal berseberangan, maka mereka dipukul rata sebaga kaum bumi datar.  Mendukung ustad A disebut kaum bumi datar, mendukung partai B disebut kaum bumi datar, mendukung tokoh ini atau tokoh itu disebut kaum bumi datar. Selama berbeda dengan Jokowi (atau Ahok) maka disebut kaum bumi datar.  Begitulah simplifikasinya.

Ditilik dari sejarah kelahirannya, kelompok flat earth sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Kelompok flat earth  lebih dulu muncul dari dunia barat. Silakan ketik “flat earth society” di Google, maka kita akan menemukan situs komunitas flat earth di luar negeri, misalnya  https://theflatearthsociety.org/home/. Dikutip dari laman Wikpedia,

Flat Earth Society (juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society) adalah sebuah organisasi yang memiliki keyakinan bahwa bumi berbentuk datar, bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Organisasi modernnya didirikan oleh seorang pria asal Inggris, Samuel Shenton pada 1956, dan kemudian dipimpin oleh Charles K. Johnson, yang menjadikan rumahnya di Lancaster, California, sebagai basis organisasi. Organisasi ini tidak lagi aktif semenjak kematian Johnson pada 2001, namun baru-baru ini organisasi Flat Earth Society dimunculkan kembali oleh presiden barunya, Daniel Shenton.

Karena itu, mengaitkan istilah kaum bumi datar kepada suatu agama atau kelompok agama jelaslah tindakan yang kebablasan bahkan keterlaluan. Menghubungkan kaum bumi datar dengan polarisasi politik juga adalah tindakan yang tidak semestinyqa dan hanya memperkeruh suasana saja.

Written by rinaldimunir

March 23rd, 2018 at 5:17 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Perihal Pemerintah Akan Menarik Zakat Gaji PNS

without comments

Menteri Agama baru-baru ini melontarkan wacana untuk mengeluarkan Peraturan Presiden tentang penarikan zakat 2,5 gaji ASN muslim. Dengan Perpres tersebut nanti zakat sebesar 2,5% langsung dipotong dari gaji ASN (Aparatur Sipil negara), termasuk PNS setiap bulan. Pemotongan zakat dari gaji bulanan tidak wajib, tetapi bersifat sukarela saja. Maksudnya, hanya bagi ASN yang bersedia saja dipotong zakat 2.5% dari gajinya, sementara bagi ASN tidak bersedia tidak akan dipotong. Kata Menag, zakat yang akan terkumpul dari gaji ASN jumlahnya mencapai triliunan.

Pemotongan zakat 2,5% dari gaji PNS bukan hal yang baru, beberapa pemerintah daerah suah lebih dulu melaksanakannya (Baca:  Lazimkah Zakat dari Pemotongan Gaji ASN/PNS?). Penyaluran zakat adalah untuk kemaslahatan umat juga, yaitu untuk pengentasan kemiskinan.

Rencana Pemerintah tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Saya pribadi tidak keberatan dipotong gaji untuk zakat. Zakat adalah kewajiban agama bagi orang yang mampu. Selama ini saya membayar zakat pada akhir tahun, yaitu dari semua sisa uang penghasilan yang saya tabung, lalu dikeluarkan zakat mal sebesar 2,5%.  Meskipun tidak mengeluarkan zakat setiap bulan dari gaji, tetapi saya selalu mengeluarkan dan infaq sedekah hampir setiap bulan kepada anak yatim dan fakir miskin, yang jumlahnya kalau ditotal seringkali lebih besar dari 2,5%.

Barangkali yang dimaksud oleh Menteri Agama zakat 2,5% dari gaji bulanan adalah zakat profesi atau zakat penghasilan. Zakat profesi adalah ijtihad para ulama, karena pada masa Nabi Muhammad istilah zakat profesi itu tidak ada.  Jenis-jenis zakat di dalam Islam adalah zakat fitrah dan zakat mal. Zakat mal terdiri dari  zakat hasil pertanian/hasil bumi, zakat binatang ternak, zakat barang galian, zakat harta karun.  Setahu saya istilah zakat profesi baru muncul sekitar tahun 90-an bersamaan dengan banyaknya tumbuh lembaga amil zakat di tanah air.

Menurut yang saya baca, perhitungan zakat profesi ini ada dua pendekatan. Pertama, langsung dipotong 2,5% dari gaji kotor apabila nilainya sudah mencapai nisab. Kedua, dari gaji tersebut dikeluarkan dulu biaya operasional yang bersangkutan, seperti biaya untuk konsumsi, transportasi, biaya anak sekolah, dan sebagainya, barulah dari sisanya jika mencapai satu nisab dikeluarkan zakat 2,5%. Sebagai patokan, yang digunakan adalah nisab emas. Nisab emas adalah 90 gram. Jadi, jika memiliki uang gaji setara lebih dari 90 gram emas, atau setelah dikeluarkan seluruh biaya operasional masih bersisa  lebihd ari satu bisab, maka dikelaurkan zakatnya 2,5%.

Saya sendiri agak kurang sepakat dengan istilah zakat profesi, sebab menurut pemahaman saya, CMIIW, zakat itu dikeluarkan jika sudah mencapai satu nisab dan sudah semasa putaran satu tahun (haul). Kalau gaji bulanan memang mungkin bisa mencapai satu nisab, tetapi belum mencapai masa satu tahun. Maka, sebagai gantinya, saya mengeluarkan sedekah atau infaq saja setiap bulan dari penghasilan yang saya terima. Barulah setelah mencapai satu tahun (biasanya pada akhir tahun) saya hitung semua simpanan uang saya di dalam tabungan, dan dari simpanan tersebut dikeluarkan zakat 2,5%.

Ada juga suara-suara yang mengaitkan pemotongan zakat ini dengan pajak. Jika setiap ASN muslim dipotong gajinya untuk zakat, maka sudah selayaknya bukti zakat dijadikan sebagai bukti pembayaran pajak dan bukan pengurang pajak sebagaimana yang berlaku sekarang (Baca:  Zakat Gaji ASN, Lalu Bagaimana dengan Status Pajaknya?).  Selain itu umat juga mempertanyakan siapa yang mengelola zakat ini,  lalu untuk apa digunakan, dan sebagainya, karena ada kekhawatiran umat zakat yang terkumpul triliunan rupiah menjadi sumber korupsi baru.

Apapun itu, saya setuju dengan zakat. Harta perlu disucikan, caranya dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk kaum papa. Sesungguhnya di dalam harta yang kita peroleh ada hak untuk orang miskin dan fisabilillah. Yang paling penting adalah jangan sampai ada kesan Pemerintah kita begitu cepat memanfaatkan umat kalau sudah menyangkut soal duit (ingat wacana menggunakan dana simpanan haji untuk pembangunan infrastruktur, dan sekarang zakat), tetapi di sisi lain measih melakukan praktek-praktek yang melukai hati umat (ingat kasus penangkapan ulama).

Written by rinaldimunir

February 9th, 2018 at 3:16 pm

Posted in Agama

Ketika Mahasiswiku Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

without comments

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya. Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari ini adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini juga memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.


Written by rinaldimunir

June 5th, 2017 at 2:50 pm