if99.net

IF99 ITB

Archive for January, 2021

Kenangan pada Sriwijaya Air

without comments

Awal tahun 202, tepatnya tanggal 9 Januari 2021, bangsa Indonesia dikejutkan oleh kecelakaan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan kode SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Baru mengudara 4 menit setelah take off dari Bandara Soekarno Hatta, pesawat itu jatuh menghunjam laut. Hingga hari ini pencarian korban (yang kemungkinan besar tewas semua) masih berlangsung di tengah hujan yang selalu mengguyur setiap hari. Duka mendalam bagi para keluarga korban, insya Allah penumpang yang tewas itu mati dalam keadaan syahid.

Inilah salah satu dari lima kecelakaan pesawat terburuk di Indonesia (Baca: Sriwijaya Air Jatuh, Ini 5 Kecelakaan Pesawat Terburuk di Indonesia). Saya yang sudah 10 bulan lebih tidak pernah terbang lagi karena pandemi corona, sehingga tidak bisa (dan tidak mau) pergi ke mana-mana, tetap ada perasaan bergidik setiap kali mendengar ada pesawat terbang jatuh. Namun seperti yang pernah saya tulis dulu, kalau sudah berada di atas pesawat, maka seluruhnya total saya berserah diri dan memasrahkan diri kepada Allah SWT semata, memohon keselamatan dan perlindungan di dalam perjalanan. Hidup dan mati sudah ditentukan waktunya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Saya kutip quote dari foto profil pilot SJ-182 yang jatuh itu, Captain Afwan, yang menginspirasi:

“Setinggi apapun aku terbang, tidak akan mencapai surga bisa tidak shalat lima waktu”

Gambar dan kutipan diambil dari sini. Artikel lainnya bisa dibaca di sini.

sriwijaya0
Tulisan pada foto profil akun whatsapp kapten pilot Afwan. Sumber gambar dari sini

Saya terkenang naik pesawat ini. Dulu sebelum pandemi saya cukup sering naik pesawat Sriwijaya Air, baik kalau pulang kampung ke Padang, atau jalan-jalan bersama keluarga ke tempat wisata yang penerbangan ke kota tujuan dilayanai oleh Sriwjaya Air (antara lain ke Malang dan Tanjungpandan, Belitung), atau kalau transit ke Jakarta dari Bandar Lampung. Saya mengajar menjadi dosen terbang di ITERA Lampung.  Saat balik, jika tidak naik pesawat Wings Air yang ke Bandung, biasanya saya naik Garuda atau Sriwijaya ke Jakarta. Barulah dari Jakarta saya naik travel ke Bandung.  

sriwijaya1

sriwijaya3

Dibanding Lion Air, pelayanan Sriwijaya Air menurut saya jauh lebih baik meski keduanya sesama low cost carrier.  Dari pengalaman saya terbang, Sriwijaya delay-nya tidak sesering/selama Lion, kita pun dapat makanan ringan dan minum di dalam pesawat (layanan ini tidak ada pada maskapai low cost carrier lainnya), pramugarinya pun ramah-ramah. 

Namun satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kebijakan maskapai ini yang  membuat saya simpati. Pemilik Sriwijaya Air (seorang Tionghoa dermawan asal Pulau Bangka) membebaskan pramugarinya memakai seragam sesuai keyakinan agamanya, yaitu memakai busana muslimah (jilbab).

Kebijakan ini menurut saya sesuatu yang mungkin agak sulit terjadi di maskapai lain. Ketika saya naik Sriwijaya Air dari Bandar Lampung, beberapa orang pramugarinya tampak mengenakan jilbab. Mereka terlihat charming, rapi, cantik, dan elegan memakai seragam pramugari Sriwijaya dalam balutan jilbabnya. Memakai busana muslimah tidak menghalanginya untuk tetap gesit membantu penumpang mengangkat koper ke dalam kabin, menutup bagasi kabin, membagikan snack, dan melayani  permintaan penumpang.

sriwijaya2

Saya mengapresiasi kebijakan maskapai ini yang memperbolehkan pramugarinya memakai busana muslimah. Menurut saya pemilik dan manajemen Sriwijaya Air memiliki jiwa yang bhinneka tunggal ika dan menghayati betul Pasal 29 UUD yang menghormati setiap orang memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Semoga musibah yang baru terjadi tidak menyurutkan orang untuk naik pesawat. Pesawat terbang merupakan mode tranportasi yang paling aman dari segi keselamatan. Kecelakaan yang terjadi pada pesawat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mode transportasi darat (bus, mobil, kereta api) dan laut (kapal penumpang, ferry, perahu). Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, setiap kali kita bepergian, pasrahkan diri dan serahkan diri kepada Allah SWT saja.

Written by rinaldimunir

January 16th, 2021 at 5:49 pm

Posted in Indonesiaku

Bapak Penjual Tahu Sumedang (2)

without comments

Tahuuu…..

Setiap pagi bapak penjual tahu sumedang lewat di depan rumah saya. Dia memikul dua buah ketiding bambu (apa ya Bahasa Indonesianya?). Satu ketiding berisi penuh tahu goreng, satu ketiding lagi berisi lontong. Di kota besar seperti Bandung masih cukup banyak pedagang yang berjualan makanan dengan cara dipikul secara tradisionil pada bahu seperti itu.

tahu1

Selain tahu dan lontong, dia juga menambah jualannya dengan membawa telur asin, kerupuk-keripik, dan camilan-camilan lain dari Sumedang. Sesak sekali pikulannya. Tentu berat sekali.

+ Wah, berat sekali ini, Pak. Berapa kilo berat semuanya?
Awalnya 40 kg, tapi berkurang terus setiap ada yang beli.
Sudah berapa tahun jualan seperti ini, Pak?
+ Sudah 30 tahun lebih pak, sejak Antapani ini masih sawah-sawah, belum perumahan seperti sekarang.

Tahu yang dijualnya didatangkan langsung dari Sumedang. Sumedang terkenal dengan tahunya yang khas. Tahu-tahu itu dipasok dari juragan tahu di Sumedang. Dia hanya menjualkan saja secara keliling, masuk kampung keluar kampung. Tapi dia memang tinggal di Sumedang, bolak balik ke Bandung.

+ Dari Sumedang ke Bandung naik apa, Pak?
Naik colt buntung, Pak
+ Kalau tahunya tidak habis bagaimana?
Kalau tidak habis saya menginap dulu di mess yang disediakan juragan.

Juragan tahu menyediakan mess bagi penjual tahunya di daerah Bandung Timur. Para penjual tahu menginap di sana. Setiap pagi pasokan tahu goreng datang langsung dari Sumedang. Seminggu sekali mereka pulang ke Sumedang membawa penghasilan berjualan tahu, kemudian kembali lagi ke Bandung. Profesi ini sudah dilakoninya selama 30 tahun! Itu artinya sejak saya datang ke kota Bandung ini.

Saya sampai hampir lupa membeli tahunya karena asyik mengobrol.

+ Berapa harga tahunya, Pak?
Biasa, sepuluh lima ribu.
+ Saya beli dua puluh ya

Tahu Sumedang dan uang sepuluh ribu berpindah tangan. Cocok untuk teman sarapan pagi dengan nasi hangat.

tahu2

Saya selalu bersimpati kepada orang-orang kecil yang gigih mencari nafkah secara halal. Betapa berat beban yang dia pikul, tetapi keikhlasan tampak di matanya. Orang-orang seperti ini berjuang mencari rezeki untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat almarhum ayah saya. Setiap hari, usai sholat Subuh, ia berjalan kaki menuju terminal bus. Bapak saya adalah penjual daging sapi. Daging sapi itu dibeli di luar kota, awalnya di Lubuk Alung, lalu di Padangpanjang, kemudian di Bukittinggi. Daging-daging segar itu dibeli di sana, lalu dibawa lagi ke Padang sebelum siang dengan menggunakan bus umum. Di Padang daging sapi itu dijual ke pedagang sate atau dijual ke pedagang daging di los  Pasar Raya Padang. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk nafkah keluarga kami. Dari perbedaan harga beli dan harga jual itulah ayah saya mendapat sedikit keuntungan membiayai sekolah saya dan kakak-kakak saya, hingga saya bisa berkuliah di Bandung. Saya bisa seperti sekarang adalah karena perjuangan ayah saya yang rela berjualan setiap hari. Alfatihah buat almarhum ayah dna ibu saya. Amiin.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2021 at 5:00 pm