if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2020

Menanti Panggilan Kerja

without comments

Setiap pagi para pekerja serabutan duduk menanti di Jalan Indramayu, Antapani, Bandung. Mereka adalah buruh-buruh kuli yang umumnya berasal dari kampung yang sama di Majalengka, sebuah kabupaten di bagian timur Jawa Barat. Mereka datang ke Bandung jika di kampung tidak ada orderan menggarap sawah, karena mereka umumnya tidak memiliki sawah.

kuli
Saat musim panen dan awal musim tanam di kampung, mereka pulang kembali ke kampungnya menggarap sawah milik juragan. Setelah itu mereka balik lagi ke Bandung mencari penghasilan sebagai buruh serabutan.  Di Bandung buruh-buruh tersebut menginap di saung-saung, emperen kantor pos, atau mengontrak kamar ramai-ramai.

Sekali sebulan atau dua bulan sekali mereka pulang ke kampungnya mengantarkan hasil jerih payah untuk belanja anak dan istrinya. Hasil menguras tenaga selama menjadi kuli serabutan di Bandung diserahkan kepada istrinya. Pada umumnya mereka adalah para suami yang setia.

Modal kerja mereka hanyalah cangkul, parang, dan pikulan beban. Tiap pagi buruh-buruh ini menunggu panggilan warga yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, taman, halaman rumah, angkut-angkut bahan bangunan, angkut barang, angkut galian, dll. Jika tidak ada panggilan kerja, mereka berkeliling kompleks perumahan, berharap siapa tahu ada warga yang memerlukan tenaganya.

kuli2Tidak ada tarif yang pasti berapa bayaran untuk buruh kuli ini, tergantung kesepakatan pemberi kerja dengan mereka. Yang jelas kita harus dapat mengukur berapa volume kerjanya dana apa saja yang harus dikerjakan sehingga kita dapat memperkirakan ongkosnya.

Saya sendiri sering menggunakan buruh kuli ini untuk membersihkan halaman rumah dan kebun/taman di seberang rumah. Yah hitung-hitung membantu mereka dengan memberi kerjaan. Tidak hanya saya beri uang jasa, tetapi juga makan. Alangkah senangnya mereka mendapat kerjaan.

Mereka yang duduk-duduk pada pagi hari itu mungkin juga sedang menunggu orang-orang yang ingin memberi sedekah sarapan . Hampir setiap hari hari, khususnya pada hari Jumat, ada saja orang baik yang mendrop nasi bungkus buat mereka.

Semoga mendapat rezeki yang barokah untuk keluarganya.

Written by rinaldimunir

December 30th, 2020 at 11:54 am

Majalah Udaraku

without comments

Saya punya koleksi yang unik, yaitu koleksi majalah-majalah udara, majalah yang disediakan di atas pesawat selama penerbangan (inflight magazine). Majalah-majalah tersebut berasal dari berbagai maskapai penerbangan yang berbeda-beda yang pernah saya naiki, baik maskapai dalam negeri maupun maskapai luar negeri. Umumnya majalah-majalah tersebut terbit setiap bulan. Jadi setiap bulan ada edisi barunya.

Foto pertama adalah majalah “Colours” dari Garuda Indonesia, majalah “Linkers” dari Citilink (anak perusahaan Garuda). Lalu majalah dari Lion Group, yaitu “Lionmag” dari Lion Air, majalah “Batik” dari Batik Air, majalah “Wings” dari Wings Air. Kemudian majalah “Sriwijaya” dari Sriwijaya Air, dan majalah “Xpressair” dari Xpress Air.

Majalah1
Foto kedua adalah majalah-majalah yang maskapainya sekarang sudah tidak ada lagi atau tidak terbang lagi, yaitu majalah dari Batavia Air, Tiger Airways, dan Merpati Nusantara Airlines. Ada satu lagi maskapai yang pernah saya naiki tetapi tidak sempat mengkoleksi majalahnya yaitu Adam Air. Adam Air ini dihentikan operasinya tidak lama setelah pesawatnya jatuh di Selat Makassar ketika terbang dari Surabaya ke Manado.

Majalah2
Foto ketiga adalah majalah dari maskapai asing yaitu majalah “going places” dari Malaysia Airlines, majalah “3sixty” dari Air Asia, majalah “Heritage” dari Vietnam Airlines, majalah “Morningcalm” dari Korean Air, majalah “Ahlan Wasahlan” dari Saudi Arabia Airlines (Saudia), dan majalah “Sawasdee” dari maskapai Thai Airways yang baru-baru ini mengalami kebangkrutan akibat pandemi corona.

Majalah3
Majalah2 tersebut ada yang gratis (dapat dibawa pulang) seperti majalah Colours dari Garuda Indonesia, ada pula yang hanya untuk dibaca di tempat. Untuk kategori yang terakhir biasanya saya minta izin kepada pramugari saat akan turun dari pesawat. “Mbak,minta satu majalahnya ya untuk dibaca-baca“, pinta saya saat keluar pintu pesawat. “Oh, silakan, Pak“, kata pramugari tersebut ramah.

Ada cerita yang menarik saat saya lupa minta izin kepada pramugari ketika membawa majalah turun dari pesawat (lupa minta ? ). Tiba di darat lalu saya kirim surel kepada redaksinya dan minta izin sudah membawa majalah udaranya. Apa jawabnya? Eh, malah saya dikirimi via pos setumpuk majalah udara maskapainya edisi 6 bulan berturut-turut. Itu dari Xpress Air. Tampaknya mereka senang dengan perhatian saya pada majalah udaranya.

Berhubung dulu saya sangat sering naik pesawat, maka jadilah di rumah saya koleksi majalah2 tersebut memenuhi lemari buku. Di lemari buku majalah2 tersebut menempati satu baris lemari besar dan tersusun dengan rapi (foto keempat), disusun rapi oleh istri saya.

Majalah4
Kenapa saya tertarik mengkoleksi majalah-majalah udara ini? Itu karena majalahnya banyak berisi foto-foto nan rancak, yaitu foto-foto tempat wisata dan budaya di tanah air maupun di luar negeri. Fotografernya sangat pandai memotret sehingga menghasilkan foto-foto yang bagus.

Apalagi kertas majalahnya terbuat dari kertas lux sehingga foto-foto itu tampak cerah dan menawan. Sedikit banyaknya kegemaran saya pada foto-foto (meskipun saya tidak mahir fotografi) adalah karena salah satu minat saya di Informatika adalah bidang image processing.

Saat ini sudah sembilan bulan lebih saya tidak pernah terbang lagi. Akibat pandemi corona maka saya tidak bisa pergi kemana-mana. Masih takut bepergian, apalagi memang tidak ada keperluan ke luar kota naik pesawat. Jadilah saya baca2 majalah udara ini saja. Majalah2 tersebut merupakan saksi bisu saya pernah ke mana-mana. ?

Written by rinaldimunir

December 28th, 2020 at 8:39 pm

Posted in Gado-gado

Sepenggal Dialog Siang

without comments

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?
+ Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.
Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.
+ Nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)
(Ya iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)
Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.
Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)
+ Terimakasih banyak ya pak (dengan nada gembira).
Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

Written by rinaldimunir

December 24th, 2020 at 10:22 am

Usai Kuliah Onlen Semester Ganjil 2020

without comments

Alhamdulillah, tuntas sudah perkuliahan onlen (daring) selama semester pertama (semester ganjil) tahun 2020. Dua pekan ke depan mahasiswa di kampus ITB memasuki masa Ujian Akhir Semester (UAS).

Capek? Ya, kuliah onlen ini sungguh melelahkan bagi saya. Meskipun kita tinggal di rumah, namun bekerja menyiapkan bahan kuliah menyita banyak waktu. Sebagian besar waktu di rumah habis untuk membuat video kuliah. Saya memegang tiga mata kuliah semester ini, dua mata kuliah berbagi tugas dengan rekan dosen satu tim membuat video kuliah secara bergantian, sedangkan satu mata kuliah lagi berupa kuliah pilihan, saya sendiri yang membuat seluruh videonya.

Tidak mudah lho membuat video kuliah, seringkali harus diulang-ulang untuk merekamnya karena banyak kesalahan. Video kuliah sekali selesai dibuat dan diunggah ke platform Youtube kan tidak bisa diubah lagi. Malu-maluin saja jika di tengah video ada materi yang salah, heheh…

Saya memang tidak terampil membuat video kuliah yang bagus, tidak nyeni, tidak pakai animasi, tidak gebyar-gebyar dan tidak memakai musik. Video kuliah saya baru sebatas materi presentasi PPT bersuara. Saya membuat video kuliah seakan-akan saya mempresentasikan file PPT di kelas. Semangatnya cuma satu, jika mahasiswa ingin mengulang-ulang kembali paparan materi kuliah saya, cukup putar ulang videonya di Youtube. Ada tiga kanal kuliah di Youtube yang saya buat, yang pertama ini, kedua ini, dan ketiga ini. Siapapun bebas mengakses, mengunduh, dan menggunakannya di kampus lain.

Semester lalu dan semester ini berjalan bersamaan dengan pandemi corona yang masih terus mewabah di Indonesia. Belum terlihat ujung pandemi ini akan berakhir kapan. Pendidikan pun terganggu akibat pandemi ini, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Namun “untungnya” pandemi berlangsung pada saat kondisi teknologi pembelajaran dan komunikasi (internet) sudah maju. Berbagai paltform video conference untuk mendukung proses belajar-mengajar jarak jauh sudah tersedia, seperti Zoom, Google Meet, Micosoft Teams, dan lain-lain. Kelas-kelas perkuliahan berlangsung secara virtual, seminar pun secara virtual. Komunikasi dan diskusi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari WA, email, hingga fasilitas video conference yang disebutkan di atas.

Foto bersama setelah kuliah onlen dengan menggunakan Microsoft Teams
Seminar dan sidang Tugas Akhir pun dilakukan secara onlen dengan fasilitas Google Meet

Bagaimana dengan ujian-ujian? Karena ujian dilakukan di rumah mahasiswa masing-masing, maka ujian pun dilakukan secara onlen juga. Soal ujian didistribusikan dapat didistribusikan dengan fasilitas email, WA, Google Form, atau menggunakan platform ujian yaitu exam.net dan sebagainya. Mahasiswa mengerjakannya di rumah masing-masing secara bersamaan, kamera di komputer diaktifkan, dosen dan asisten pengawas memantau ujian melalui kamera. Ujian di rumah namun serasa ujian di kelas saja.

daring4

Ujian secara onlen dan dipantau dengan menggunakan Google Meet

Salah satu hal yang menarik bagi saya selama kuliah onlen ini adalah memberi soal latihan, PR, kuis, UTS/UAS dengan menggunakan Google Form. Soal-soal bertipe hitungan/algoritma saya tulis di Google Form, lalu tautan Google Form- nya dikirim ke setiap mahasiswa via gmail. Mahasiswa menjawab setiap soal di Google Form pada kertas biasa di rumahnya, lalu memfoto lembar jawabannya, kemudian mengunggah (upload) fotonya dalam format JPG atau PDF ke Google Form.

daring1

Soal latihan menggunakan Goog


File-file foto jawaban masuk ke dalam akun Google Drive saya. Tinggal dibaca lalu dinilai. Praktis, hemat (tidak butuh kertas), dan mangkus. Kelemahannya adalah mata mudah lelah dan cape membaca lembar jawaban di layar komputer (ada 56 mahasiswa per kelas, dan ada 4 kelas). Bagi saya tetap lebih nyaman memeriksa lembar jawaban dalam bentuk kertas daripada bentuk digital.

Kalaupun nanti kuliah tatap muka sudah bisa dimulai pada semester depan (wallahu alam), cara pemberian soal latihan dan kuis menggunakan Google Form ini tampaknya akan saya lanjutkan.

Moral dari cerita di atas, pandemi corona tidak menghalangi proses belajar mengajar. Semua berjalan seperti biasa, hanya bertemu muka secara fisik yang tidak ada. Untung ada internet sehingga proses pendidikan saat ini agak tertolong. Jika tidak ada, sulit membayangkan apa yang harus dilakukan.

Written by rinaldimunir

December 5th, 2020 at 4:31 pm

Posted in Pendidikan