if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2020

Sudah Baca versus Belum Baca UU Omnibus Law

without comments

Sudah baca UU Omnibus Law (UU Cipta Kerja)? Belum. Saya belum membacanya. Pendukung UU Omnibus sering meledek kepada penolak UU dengan berkata: “sudah baca isinya belum? Kalau belum baca jangan asal komen”.

Hmmm…apakah yang mendukung UU tsb juga sudah membaca isinya dan paham? Saya kok kurang yakin mereka juga sudah membacanya.

Apa karena masih ada efek sentimen Pilpres sehingga asal dukung dan asal tolak saja? Wallahu alam, mungkin saja ada. Semua faktor ikut berpengaruh dalam cara pandang seseorang. Kabarnya UU itu setebal 900 halaman.

Membaca 900 halaman tentu pekerjaan yang tidak mudah. Anda harus sekalian membaca juga naskah akademisnya, lalu baca setumpuk UU lama yang berkaitan dengan UU baru tersebut. Puff…membaca laporan disertasi mahasiswa S3 yang tebalnya 100 halaman saja sudah bikin nyut-nyut kepala, apalagi membaca 900 halaman. Puyeng.

Lalu apakah harus membaca 900 halaman itu agar bisa paham lalu mengambil kesimpulan setuju atau tidak setuju dengan UU itu. Tentu tidak. Orang cukup membaca bagian UU yang memiliki kepentingan dengan dunianya saja. Orang lingkungan membaca bagian UU yang berkaitan dengan masalah lingkungan. Orang pendidikan membaca bagian UU yang berkaitan dengan pendidikan. Dan seterusnya.

Apakah buruh-buruh yang demo kemaren itu membaca UU Omnibus Law? Wallahualam, mungkin saja ada sebagian buruh yang membacanya. Tentu mereka hanya membaca bagian UU yang berkaitan dengan nasib tenaga kerja seperti mereka. Jadi kalau mereka demo sampai mengamuk-amuk tentu ada bunyi UU itu yang merugikan mereka.

Lalu kalau tidak sempat membacanya, bagaimana sikap kita? Kalau saya sih, cukup membaca pendapat pakar2 yang kompeten yang memberikan penilaian. Jika pakar hukum seperti prof-prof UGM saja menyebutkan UU tersebut bermasalah, maka saya juga sepakat bahwa UU tersebut memang mengandung masalah. (Baca: PUKAT UGM Sebut RUU Cipta Kerja Bermasalah dari Proses Hingga Substansi)

Sebaiknya UU tersebut ditunda saja dulu oleh Pemerintah. Perbaiki lagi bagian-bagian yang masih bermasalah tersebut, dengarkan aspirasi rakyat, dengarkan pendapat para ahli,  tidak perlu buru-buru mengesahkannya. Bikin Perpu.

Jika dengan pemberlakuan UU tersebut diharapkan memudahkan investor masuk ke dalam negeri sehingga dapat mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi corona, kok rasanya agak jauh. Investor tentu akan menunggu kondisi pulih dulu. Itu perlu waktu yang cukup lama. Jika kasus positif corona terus saja bertambah banyak setiap hari, investor tentu enggan untuk masuk.

Masyarakat kita saat ini sedang fokus pada masalah corona. Jangan sampai penderitaan masyarakat bertambah lagi dengan hal-hal yang bermasalah pada UU tersebut.

Written by rinaldimunir

October 9th, 2020 at 8:02 pm

Posted in Indonesiaku

Momen yang Hilang di Kelas Onlen

without comments

Setelah kuliah daring (online) selama beberapa bulan, apa yang dirasakan?

Seorang rekan menjawab, kita tidak bisa lagi merasakan momen celutukan “ohhh…gituu…” dari mahasiswa yang mengangguk-anggukkan kepala tanda paham setelah kita menyelesaikan soal sulit di papan tulis.

Kita tidak bisa melihat wajah-wajah terkesima, ketika mendemokan sesuatu, menurunkan sebuah rumus, atau ketika mereka diajarkan suatu metode/algoritma/teori yang sangat menarik perhatian, apalagi jika dibumbui cerita-cerita tentang latar belakang teori itu yang dramatis. Ada rasa yang hilang.

mhs

Mengajar tatap muka di kelas nyata dan di kelas maya beda nuansanya. Mengajar di kelas maya itu seperti berbicara sendiri dengan komputer. Ketika file PPT di-share screen, maka hilanglah wajah-wajah mahasiswa di layar komputer, lalu kita berbicara sendiri di depan monitor, berbicara seperti orang “kurang waras” karena tidak ada orang lain di dekat kita, hehe.

mhs2

Ada rasa yang hilang di kelas onlen. Sentuhan humanistik tidak tergantikan dengan mengajar secara onlen meskipun kita sudah membuat video kuliah semenarik dan sebagus apapun.

Mengajar tatap muka secara langsung di kelas nyata tetaplah yang terbaik. Pandemi corona di satu sisi telah menghapus aneka rencana dan kegiatan berjumpa dengan anak didik di kampus. Di sisi lain masa pandemi membuat kita merenung kembali pentingnya hubungan antar manusia, betapa hubungan antar manusia secara langsung tetap tidak tergantikan dengan teknologi.

Ah, kangen suasana kelas lagi, bertatap muka dengan para mahasiswaku. Miss you my students. ?

Written by rinaldimunir

October 6th, 2020 at 9:32 am

Empat Amalan Sebelum Tidur

without comments

Ini merupakan tulisan untuk pengingat diri. Tidur adalah nikmat Allah yang tidak terganti. Beberapa orang, termasuk saya sendiri, pernah sulit tidur.  Saya pernah tidak memicingkan mata selama dua hari malam. Insomnia (baca: Pengalaman Minum Obat Tidur). Cukup sering seperti ini, terutama jika ada masalah yang dipikirkan, atau badan lagi ada yang tidak beres (sakit). Saat kita tidur Allah sebenarnya mengambil ruh kita, lalu mengembalikannya lagi saat terbangun pagi hari. Banyak pula orang yang wafat saat sedang tidur.

Maka, lakukanlah empat amalan sebelum kita tidur. Sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Durratun Nashihin karya Syaikh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al- yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah RA : “Wahai Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu:

1. Sebelum khatam Al Qur’an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu
4. Sebelum kau melaksanakan haji dan umroh

” Bertanya Aisyah: “Ya Rasulullah.. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasulullah tersenyum dan bersabda:

1. “Jika engkau tidur bacalah surat Al- Ikhlas sebanyak tiga kali maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Qur’an.”:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Qulhuallahu ahad’ Allahushshomad’ lam yalid’ walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ (3x)

2. “Membaca sholawat untuk ku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafa’at di hari kiamat“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Allahumma shollii ‘alaa Muhammad wa’alaa alii Muhammad (3x)“

3. “Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu”:
Astaghfirullahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x)

4. “Perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan – akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Subhanallahi Walhamdulillaahi walaailaaha Illallahu Allahu akbar (3x).

Meskipun Rasulullah berkata kepada Aisyah R.A, tetapi karena Rasulullah adalah suri teladan, maka apa yang dikatakannya juga patut kita teladani.

Kutipan asli dari buku tersebut dikutip dari sini:

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau berkata kepada Sayidah Aisyah, ‘Wahai Aisyah, janganlah kamu tidur sebelum melakukan empat hal; sebelum mengkhatamkan Alquran, sebelum membuat para nabi memberi syafaat kepadamu kelak di hari kiamat, sebelum membuat seluruh kaum muslimin ridha kepadamu dan sebelum melakukan ibadah haji dan umrah.’

Setelah berkata demikian, Nabi kemudian melanjutkan sholat malamnya dan Sayidah Aisyah sendiri berada di tempat tidur seraya menunggu Nabi menyempurnakan sholatnya. Setelah Nabi Saw menyempurnakan sholatnya, Sayidah Aisyah langsung bertanya, ‘Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku, engkau perintahkan aku melakukan empat perkara yang saat ini tidak mampu aku melakukannya.’

Mendengar pertanyaan Aisyah ini, Nabi lalu tersenyum dan beliau menjelaskan, ‘Jika kamu membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Jika kamu membaca sholawat kepadaku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberikan syafaat kepadamu di hari kiamat kelak. Jika kamu memohonkan ampunan untuk seluruh kaum muslimin, maka mereka semua akan ridha kepadamu.

Dan jika kamu membaca ‘Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illahu wallahu akbar,’ maka kamu telah melakukan haji dan umrah,”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.

Written by rinaldimunir

October 3rd, 2020 at 12:50 pm

Posted in Agama