if99.net

IF99 ITB

Archive for January, 2020

Naik LRT di Palembang

without comments

LRT (light rapid tranport) di Indonesia baru ada di kota Palembang. Jakarta saja belum punya LRT, masih sedang dibangun, meski MRT (mass rapid transport) sudah ada namun baru terbatas saja jalurnya dan tidak semua di bawah tanah. Tentang transportasi cepat memang negara kita terlambat dibandingkan negara tetangga. Tidak usah bandingkan dengan Singapura, dengan Thailand dan Malaysia saja kita masih tertinggal dalam hal transportasi cepat (LRT dan MRT).

Kalau Anda mampir ke Palembang jangan lupa mencoba LRT. Saya beberapa bulan lalu berkunjung ke Palembang. Dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II saya sudah meniatkan mau mencoba naik LRT ke hotel tempat saya menginap. LRT di Palembang haya satu jalur saja, yaitu dari bandara SMD ke kompleks stadion olahraga Jakabaring. Kebetulan hotel saya terletak di Jalan Sudirman. Jalur LRT melalui depan hotel. Di depan hotel terletak stasiun Cinde, jadi saya bisa turun di situ.

Dari terminal kedatangan kita berjalan ke luar ke arah kanan menaiki stasiun LRT yang terletak di depan bandara.

Kereta belum datang.Saya beli tiket loket di stasiun bandara.  Harga tiket ke stasiun Cinde hanya Rp10.000 saja. Sangat murah ya, jauh lebih murah daripada kita naik taksi dari bandara. Di depan loket tertera rute yang dilalui LRT.  Nah, stasiun Cinde itu sebelum stasiun Ampera. Stasiun Ampera terletak di dekat jembatan Ampera yang terkenal di atas Sungai Musi.

Lima belas menit menunggu akhirnya kereta pun datang. Gerbong kereta ada tiga buah. Saya naik gerbong yang pertama.

Penumpang tidak banyak saat itu. Memang saya dengar okupansi LRT masih rendah sehingga pemasukan LRT dari penumpang belum mampu menutupi biaya operasional. LRT masih disubsidi oleh Pemerintah.

Kereta LRT berangkat tepat waktu. Hmm…omong-omong tentang kereta bandara, kita sudah memiliki beberapa bandara yang terhubung dengan kereta api. Bandara pertama yang memiliki kereta bandara adalah Bandara Kualanamu, kedua Bandara Minangkabau (baca: Mencoba Kereta Bandara Minangkabau, Padang), baru kemudian bandara SMD Palembang. Bandara lain yang sudah memiliki kereta bandara adalah Bandara Soekarno-Hatta dan bandara YIA Yogyakarta.

Kereta melewati beberapa stasiun seperti stasiun Asrama Haji, stasiun Punti Kayu, RSUD, Garuda Dempo, Demang, Bumi Sriwijaya, Dishub, dan stasiun Cinde. Laju kereta memang tidak terlalu cepat. Setiap stasiun memiliki bentuk bangunan yang mirip. Karena jalur LRT adalah jalur layang, maka kita perlu naik turun lift atau eskalator ke atas stasiun.

Sayang sekali stasiun Cinde terletak sebelum jembatan Ampera. Kalau nggak, saya kan bisa merasakan LRT yang melewati jalur di atas Sungai Musi seperti foto di bawah ini. Jalur LRT di atas Sungai Musi berdampingan dengan Jembatan Ampera.

Mungkin pemandangan yang sangat menarik melihat kesibukan Pasdar 16 Ilir yang terletak di pinggir Sungai Musi dari atas LRT.  Ya, hampir semua aktivitas kota Palembang memang terpusat di sekitar Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

Bersukurlah warga Palembang memiliki sarana transportasi modern yang tidak dimiliki kota-kota lain di Indonesia. Berkah Asian Games tahun 2018.

Written by rinaldimunir

January 9th, 2020 at 4:56 pm

Posted in Cerita perjalanan

Dimana Rasa Empati? (dan Sakit Hati)

without comments

Banjir besar dan sangat parah di Jadebotabek pada awal tahun 2020 meninggalkan cerita sedih dan pilu. Ribuan rumah tenggelam oleh banjir yang tingginya sampai ke atap rumah, bahkan ada yang tingginya sampai delapan meter. Mirip tsunami kecil saja karena aliran air banjir sangat deras akibat bobolnya tanggul.  Puluhan orang meninggal dunia karena tenggelam, hanyut, atau tertimpa tanah longsor. Mobil-mobil hanyut. Tentu tidak terhitung kerugian harta benda akibat banjir hebat ini. Banjir sangat masif dengan cakupan wilayah yang luas. Benar-benar banjir yang paling besar dalam sejarah di kawasan itu.

Seorang teman yang rumahnya (di Jatiasih Bekasi) digulung banjir tampak terpukul. Banjir setinggi atap rumah merendam semua barang di dalam rumahnya. Malangnya lagi, saat kejadian banjir tidak ada seorangpun di rumah, semua anggota keluarga sedang berada di luar kota. Kasur, perabot, TV, kulkas, sepeda motor, mobil di garasi, dan segala rupa barang rusak semua. Semua harta benda yang telah didapatkan selama bertahun-tahun musnah seketika. Yang paling dia sedihkan adalah kertas-kertas berharga iku hancur. Ya ijazah, sertifikat rumah, dan surat-surat berharga lainnya.

Saya menelpon dia tanggal 3 Januari pagi kemarin. Ketika saya telepon dia sedang membersihkan rumah dan semua barang yang berlumpur dengan air. Bayangkan, kemana pula mencari air bersih untuk menyemprot lumpur-lumpur itu. Pompa air pun rusak/korslet akibat terendam. Kalau tidak segera disemprot air dikhawatirkan lumpur-lumpur itu mengeras sehingga semakin sukar dibersihkan.

Saat itu yang pertama dibersihkannya dan coba dihidupkannya adalah sepeda motor agar bisa digunakan. Kalau mobil di garasi pastilah tidak akan bisa dihidupkan lagi, rusaklah. Tanpa kendaraan  tentu mobilitasnya sangat terbatas, sulit pergi ke mana-mana untuk membeli berbagai keperluan.

Saya dapat merasakan hancur dan sedih hatinya. Namun, di dunia netizen yang “kejam” yang terjadi bukannya memberikan rasa empati kepada korban, tetapi malah sibuk mencari-cari kesalahan dan membuli orang lain. Bukannya membantu para korban yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, tetapi membuat kegaduhan di dunia maya dengan komentar-komentar yang menyerang seorang pejabat. Sungguh terlalu.

banjir

Banjir kali ini sekaligus memperlihatkan bahwa efek Pilakda dan DKI dan Pilpres masih belum selesai rupanya, duel antara cebong dan kampret masih berlanjut di dunia maya. Padahal banjir  tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga di daerah Jawa Barat bagian barat dan Banten, tetapi semua kesalahan ditimpakan kepada Gubernur DKI Jakarta.  Tanpa bermaksud membela siapapun, banyak orang tidak bisa berlaku adil dalam hal ini.  Bukannya berempati kepada para korban, mereka malah lebih mengedepankan rasa kebencian dan sakit hati kepada gubernur DKI yang sekarang.

Ya begitulah politik, peristiwa bencana pun dipolitisasi dan dijadikan ajang balas dendam. Kekalahan akibat Pilkada DKI masih menyimpan rasa sakit hati bagi pendukung yang kalah. Rasa sakit hati bercampur dengan hasad dan dengki, kebaikan orang tidak dilihat, yang tampak hanya keburukan saja.

Membanding-bandingkan pemimpin yang sekarang dengan pemimpin sebelumnya dalam situasi prihatin seperti sekarang tidaklah pantas.  Tiap orang harus diperlakukan secara proporsional. Anak-anak kita saja harus diperlakukan adil, mereka pasti tidak suka kalau dibanding-bandingkan, bukan?  Semua pemimpin pasti sudah berupaya yang terbaik mereka lakukan untuk rakyatnya, cuma tidak bisa sempurna 100% karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Written by rinaldimunir

January 6th, 2020 at 2:19 pm

Posted in Indonesiaku

Sholat Jumat di Masjid Jogokariyan

without comments

Sewaktu berada di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk sholat Jumat di Masjid Jogokariyan, sebuah masjid bersejarah di Yogyakarta. Kebetulan saya check-out hotel jam 12.00, jadi waktunya pas dengan jadwal sholat Jumat. Dari hotel tempat saya menginap di Jalan Gowongan Kidul, Malioboro, saya naik Gojek ke masjid tersebut.

Sudah lama saya mendengar cerita tentang manajemen masjid Jogokariyan, masjid kampung yang mendunia. Sejarah masjid ini dapat anda baca pada laman Wikipedia ini.  Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang luar biasa, sila baca pada situs webnya. Masjid Jogokariyan tidak hanya sekadar masjid tempat sholat, tetapi sekaligus menjadikannya sebagai pusat peradaban.

Deretan keistimewaan masjid Jogokariyan misalnya mengundang jamaah sholat ke masjid dengan cara berbeda, gerakan infak yag selalu tersisa nol rupiah, gerakan jamaah mandiri (selengkap baca di sini:  Deretan Keistimewaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta). Di masjid ini sandal hilang atau bahkan kendaraan yang hilang saja diganti. Banyak lagi deh cerita-cerita unik tentang masjid ini (Baca ini: 4 Alasan Mendatangi Masjid Jogokariyan Jogja Saat Ramadhan, yang ini:  Kisah Masjid dan Jamaah Jogokariyan Melayani Peserta Muslim United, atau yang ini:  Geliat dakwah Masjid Jogokariyan di kampung komunis).

Banyaknya cerita unik dan tayangan menarik tentang masjid ini membuat saya semakin penasaran. Oleh karena itulah ketika saya di Yogyakarta dan jadwal kereta saya ke Bandung waktunya masih lama (malam hari), maka saya sempatkan ke sana.

Setelah mutar-mutar naik Gojek, sampailah saya di kampung Jogokariyan. Kampung Jogokariyan terletak di arah Jalan Parangtritis, Nah, di perempatan kampung itulah terletak masjid Jogokariyan yang berwarna hijau. Waktu sholat Jumat lima bels menit lagi, saya berfoto dulu di depan masjid.

Di halaman masjid sudah teratata rapi ratusan nasi bungkus, gelas-gelas air minum dan botol-botol air minum mineral. Makanan dan minuman itu disediakan oleh masjid bagi jamaah usai sholat Jum’at nanti, atau bagi siapapun yang lewat di sana.

Semakin mendekati waktu sholat Jumat, masjid semakin ramai dengan jamaah hingga meluber ke halaman. Jamaah sholat Jumat tidak hanya warga sekitar, tetapi juga wisatawan atau pendatang seperti saya yang sama-sama ingin mencoba sholat di masjid yang terkenal ini. Saya tahu hal itu sebab setelah selesai sholat Jumat banyak orang berfoto-foto di depan nama masjid ini.

Sholat Jumat berlangsung seperti biasa. Khotib sholat Jumat mengangkat topik tentang makanan halal dan haram. Khatib menyoroti maraknya kedai-kedai makanan di Yogyakarta yang menjual menu daging anjing, jamaah diminta untuk mewaspadai makanan yang diharamkan agama itu (anjing adalah hewan carnivora sehingga termasuk makanan yang diharamkan di dalam Islam).

Usai sholat Jum’at nasi bungkus yang telah telah disediakan tadi dibagikan kepada para jamaah. Tidak usah khawatir, semua orang akan kebagian. Sayapun mendapat satu bungkus nasi. Ini nasi barokah, sebab ia adalah sedekah ikhlas dari hamba Allah. Jamaah termasuk saya makan bersama di teras masjid. Alangkah nikmatnya makan bersama-sama ya.

Nasi bungkus habis saya makan. Menunya sederhana saja. Nasi dan lauk berupa telur bacem dan bihun goreng bumbu kecap. Heran juga saya bisa menghabiskannya, sebab saya sangat sulit makan dengan lauk yang rasanya manis. Maklum selera saya masih selera Minang yang pedas, masih sukar menerima masakan yang manis meski sudah bertahun-tahun merantau di tanah Jawa.

Setiap orang makan dengan tertib, tidak ada makanan yang tersisa, tidak ada sampah-sampah bekas makanan yang terserak. Jamaah dengan tertib membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Sambil makan jamaah bercakap-cakap dengan jamaah lain. Ibu-ibu yang tidak ikut sholat Jumat datang belakangan lalu menunaikan sholat Dhuhur di masjid, selanjutnya ikut makan nasi bungkus. Nasi bungkus sepertinya tidak pernah kurang.

Alhamdulillah, akhirnya niat saya untuk sholat di Masjid Jogokariyan kesampaian juga. Terima kasih ya Allah.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2020 at 11:36 am