if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2019

Toleransi yang Hanya Kosmetik

without comments

Beberapa tahun belakangan ini saya melihat fenomena toleransi yang rancu setiap hari Natal. Acara misa Natal di dalam gereja, yang sejatinya merupakan rangkaian ibadah saudara-saudara kita kaum kristiani,  juga diisi oleh partisipan kaum santri yang memainkan rebana, melantunkan shalawat, atau menari sufi (Baca Natal di Semarang, Diiringi Rebana hingga Gotong Royong Warga Muslim, Tari Sufi Iringi Misa Natal di Kota Malang, Pengurus Gereja: Terimakasih Telah Membangun Toleransi). Meskipun rebana atau tarian sufi tidak punya agama, namun keduanya sudah terlanjur identik dengan tradisi keislaman.

Dikutip dari siniSuara rebana mengiringi perarakan misa di permulaan rangkaian acara. Pemuda Muslim bersarung dan berkopiah berjalan bersama-sama anak-anak altar memasuki gereja. Setelah sampai di gereja, musik pun berganti dengan lagu gerejawi.

Sebelum misa ditutup, tarian sufi khas Turki kembali hadir bersama dengan lantunan kidung Syi’ir Tanpo Waton. Syi’ir Tanpo Waton adalah rangkaian bacaan istigfar (bacaan minta ampunan), shalawat Nabi Muhammad SAW, dan syair berbahasa Jawa. ”Sungguh luar bisa. Ini kado natal terindah bagi kami,” kata Anton, umat setempat.

Saya tidak habis pikir dengan mereka yang mencampuradukkan kedua hal ini (kekristenan dan keislaman) dengan dalih toleransi. Apakah untuk mendukung keragaman atau toleransi antar umat beragama kita sampai perlu mengikuti acara ibadah agama orang lain? Apakah pada tempatnya melantunkan shalawat di dalam geraja?  Bukankah hal-hal seperti ini berlebihan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman?

Sebaliknya saya tidak pernah mendengar ketika pada hari raya Iedul  Fitri kaum kristiani datang ke dalam masjid atau lapangan sholat Ied menyanyikan paduan suara gerejawi, atau ikut pula melantunkan takbir bersama-sama sebagai wujud toleransi.

Saya khawatir toleransi yang dipraktekkan oleh sekelompok orang dengan menghadiri acara misa Natal itu hanya kosmetik belaka, baru sebatas kulit. Itu  adalah toleransi yang rancu. Menurut saya toleransi beragama yang sesungguhnya adalah membiarkan saudara-saudara kita yang berbeda agama menjalankan ibadahnya dengan tenang dan nyaman. Biarkanlah saudara-saudara kita kaum kristiani dapat melaksanakan ibadah misa Natal dengan penuh kedamaian, memastikan ibadah mereka tidak terganggu, tanpa kita perlu ikut campur pula di dalam rangkaian ibadah mereka.

Membantu kelancaran lalu lintas di depan gereja, membantu mengatur perparkiran kendaraan jemaat yang akan ibadah, tidak menyetel musik keras-keras saat ibadah misa berlangsung, merupakan contoh-contoh sikap yang menunjukkan toleransi beragama.

Begitu juga sebaliknya toleransi yang dilakukan dari kaum kristiani ke kaum muslimin dengan memberi rasa aman dan nyaman kaum muslim melakukan ibadahnya. Tepa salira, bertenggang rasa, dan berempati, itulah makna hakiki toleransi.

Saya yakin saudara-saudara kita kaum kristiani tidak memerlukan kehadiran kita dalam pelaksanaan ibadah Natal. Sebaliknya kaum muslim juga tidak memerlukan kehadiran kaum kristiani dalam sholat Idul Fitri. Biarlah masing-masing umat beragama menjalankan ibadahnya dengan tenang dan damai tanpa gangguan. Itu sudah bertoleransi namanya.

Semoga kita semua bangsa Indonesia tetap hidup rukun dan damai tanpa memandang perbedaan suku dan agama. Toleransi menyangkut hubungan horizontal sesama umat manusia, sedangkan ibadah mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Janganlah keduanya dicampuradukkan. Insya Allah, hidup ini akan indah jika kita dapat
menghargai perbedaan tanpa kita perlu masuk ke dalamnya.

Written by rinaldimunir

December 31st, 2019 at 8:28 am

Posted in Indonesiaku

Bangkok Halal 4D3N

without comments

Bangkok adalah tujuan wisata yang sudah mainstream. Wisata belanja, wisata kuliner, atau menyusuri sungai Chao Praya, adalah beberapa tujuan orang berwisata ke Bangkok. Saya sendiri sudah pernah sekali pergi ke kota Bangkok dalam rangka mengikuti konferensi ilmiah. Tahun ini saya kembali mengunjungi Bangkok dalam perhelatan yang serupa, yaitu mempresentaskan paper hasil penelitian di sebuah konferensi di kampus Thai-Nichi Institute of Technology (TNI), sebuah perguruan tinggi swasta di Thailand. Selama 4 hari 3 malam (4D3N) saya berada di Bangkok.

Gerbang kampus Thai-Nichi Institute of Technology

Kota Bangkok tidak jauh beda dengan kota Jakarta dalam hal juara macet dan keramaian pedagang kaki lima. Bedanya, kota Bangkok lebih teratur dan lebih tertib daripada Jakarta. Baik siang maupun malam lalu lintas di pusat kota Bangkok sangat padat, apaklagi saat jam pulang kerja adalah saat rush hour, bisa berjam-jam terjebak kemacetan.

Rush hour di kota Bangkok

Thailand adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Budha.  Orang Thai sangat menghormati para bhiksu, sama seperti orang kita yang sangat menghormati ulama, kyai atau ajengan. Setiap pagi terlihat bhiksu berjalan kaki di kota Bangkok. Warga memberikan sedekah makanan kepada bhiksu yang lewat, memasukkannya ke dalam panci yang dililit di pinggang bhiksu. Bhiksu kemudian menuangkan air suci ke dalam wadah yang disediakan di atas tanah, lalu mendoakan umatnya. Warga berlutut, melepaskan alas kaki, lalu mensedekapkan kedua tangan, ikut berdoa.  Sebuah harmoni pagi di kota Bangkok yang saya saksikan di dekat hotel tempat saya menginap.

Warga Thai sedang berdoa dengan dibimbing oleh bhiksu

Meski Thailand adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Budha, lalu apakah sulit mencari makanan halal di Bangkok? Ternyata mencari makanan halal di Bangkok  tidak sulit. Makanan jalanan (street food) di kota Bangkok tersedia beraneka ragam, ada yang halal dan tidak halal.

Untuk memastikan anda membeli makanan yang halal, maka kedai-kedai makanan halal memasang tulisan Halal Food, Muslim Food, atau kata halal dalam aksara Arab. Pedagangnya adalah orang Pattani dari Thailand Selatan. Pattani adalah wilayah muslim di perbatasan Thailand dengan Malaysia, penduduknya beretnis melayu. Kota Bangkok sendiri banyak terdapat kantong-kantong pemukiman muslim dari Pattani, perkampungan Jawa, dan etnis muslim lain yang telah berasimilasi menjadi warga Thailand. Saya menemukan cukup banyak masjid di pinggir jalan. Perempuan berkerudunng mudah ditemui lalu lalang di keramaian. Di kampus Tha-Nichi saya melihat mahasiswi yang memakai jilbab, begitu juga anak-anak sekolah yang memakai busana muslimah berbau dengan siswa lainnya.

Label halal di sebuah kedai makanan di kawasan Ratchathewi

Muslim food

Jika sudah ada tulisan halal di kedai makanan, maka tenanglah kita makan di sana. Bermacam-macam kuliner yang menggugah selera ada kedai itu, misalnya nasi goreng tom yam, phad thai, som tam, dan lain-lain. Makanan-makanan itu bisa dikombinasikan, misalnya som tam dengan nasi goreng, mie rebus dengan tom yam, dan sebagainya. Pedagan langsung memasaknya di depan kita.

Seafood dan nasi goreng tom yam

Terbit air liur dibuatnya

Di kawasan Pratunam, kira-kira 500 meter dari Kedubes RI di Bangkok, ada sebuah rumah makan melayu Pattani dengan nama restoran MAKAN. Ya Makan. Pemiliknya orang Pattani.  Saya diajak oleh Abdullah Zulkifli,  alumni Informatika ITB angkatan 1990 yang sekarang menjadi diplomat di Kedubes RI di Bangkok, makan malam di resoran Makan.  Cukup berbicara dengan bahasa Indonesia, karena pemilik dan pelayannnya mengerti bahasa Melayu. Kami memesan som tam, pad thai, ayam kukus daun pandan, dan ikan kembung bakar tetapi tanpa kulit.  Phad thai adalah semacam kwetiau namun terbuat dari tepung beras, sedangkan som tam adalah sayuran pedas dari pepaya muda. Ini favorit saya yang suka makanan pedas.

Phad thai

Som tam

Ayam dikukus dengan daun pandan

Saya bersama Abdullah Zulkifli di restoran Makan, Pratunam, Bangkok

Tentu saja menikmati makanan halal di Bangkok tidak lengkap tanpa menikmati jajanan yang sudah beken, yaitu makan nasi ketan dengan buah mangga manis (sticky rice mango), ketannya disiram kuah santan. Rasanya? Bukan enak lagi, sangat enak. Jenis mangganya juga beda. Kalau di kampung saya makan ketan itu dengan durian. Di Bandung sudah banyak yang menjual dessert ini, tetapi mangganya diganti dengan mangga harum manis.

Nasi ketan buah mangga

Jenis mangga yang digunakan

Saya menikmati nasi ketan mangga di kedai pinggir jalan, pedagangnya orang Pattani. Ada logo halal di gerobaknya. Saya merasa nyaman saja jika membeli makanan di kedai orang Pattani. Makanan halal itu selain sehat juga barokah.

Gerobak pedagang nasi ketan mangga

Thailand memang sangat peduli dengan konsep wisata halal. Pariwisata adalah industri yang menopang ekonomi Thailand. Mereka sadar wisatawan yang datang ke negaranya banyak berasal dari berbagai negara berpenduduk muslim, oleh karena itu mereka menyediakan tempat-tempat yang menjual makanan halal lengkap dengan label halalnya. Bahkan, industri makanan kemasan pun mendapat sertifikasi halal dari MUI Thailand. Jika kita berbelanja makanan kemasan di minimarket, maka untuk memastikan halal tidaknya makanan itu  cukup lihat label tulisan halal yang tertera di bagian belakang kemasan.

Tidak hanya makanan, Thailand pun menyediakan mushola di tempat-tempat umum, misalnya mushola di bandara Suvarnabhumi. Saat waktu maghrib datang, saya sholat di sebuah mushola di mal Platinum. Di mal Platinum yang megah ini terdapat mushola buat sholat, mushola terpisah untuk mushola pria dan mushola untuk wanita. Bangkok lho ini, bukan di Jakarta atau di tanah air. Saya teringat mal megah di Bandung yang musholanya terletak di basement yang pengap dan bersebelahan dengan toilet dan tempat parkir.

Mushoal untuk laki-laki di mal Platinum

Interior di dalam mushola

Thailand memang serius menggarap pangsa wisata dari negara-negara berpenduduk muslim. Mereka sediakan segalanya, termasuk wisata halal, tanpa menghilangkan identitas dan ciri khas mereka.

Written by rinaldimunir

December 27th, 2019 at 4:23 pm

Tidak Pernah Bosan Mengasuh dan Mendidik Anak

without comments

Bagi saya pribadi Mengasuh dan mendidik anak itu tidak pernah mengenal kata bosan atau capek. Kuncinya adalah melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Biar badan kita sudah lelah dan pegal-pegal mengerjakan berbagai urusan pekerjaan, tetapi jika menyangkut urusan anak maka apapun akan dilakoni. Malam yang sepi dan dingin pun akan ditembus demi urusan anak, begitulah perumpamaannya. Apa yang mendorong banyak orangtua melakukan hal itu? Tidak lain karena rasa tanggung jawab.

Ketika anak saya masih kecil-kecil, setiap hari saya pontang-panting berbagi tugas dengan istri: memandikan, menyuapi makan, antar sekolah, beli berbagai keperluan anak, hingga menemaninya tidur sampai terlelap. Pak pik puk dan kerepotan setiap pagi sudah biasa itu. Rutinitas pagi. Sekali-sekali mengomel karena khawatir anak telat pergi ke sekolah dan kita pun telat pergi ke kantor itu lumrah saja.

Dulu, ketika saya mulai berkeluarga dan punya anak, maka waktu dan pikiran pun harus dibagi-bagi untuk urusan kampus, mahasiswa, orangtua, istri, tetangga, sekolah S2 dan S3, dan tentu saja urusan anak. Hidup kita di dunia ini benar-benar multitasking, multithreading, dan multiprogramming. Satu processor, yaitu otak, harus dibagi-bagi untuk mengerjakan banyak pekerjaan, task, thread, dan program. Itulah hebatnya otak manusia yang diciptakan Allah.

Orangtua di manapun di muka bumi ini pasti merasakan susah senangnya mengurus anak. Keluh kesah pasti adalah, namanya anak juga makhluk hidup, tidak selalu sesuai dengan maunya kita. Anak kita pernah bandel, itu biasa. Anak kita pernah nakal, itu bagian dari perkembangannya. Anak kita pernah tidak mau menurut, itu bagian dari proses kemandiriannya. Jangan pernah berprasangka anak kita tidak menyayangi kita. Itu sama sekali tidak benar. Anak manapun di dunia ini tidak akan pernah melupakan orangtuanya, apalagi tidak menyayanginya.

Jika dipikir-pikir anak-anaklah harta yang paling berharga di dunia ini. Iya, kan? Anak itu anugerah Ilahi. Tidak ada alasan untuk bosan dan capek mengurus anak. Mengasuh dan mendidik anak hanya sekali saja dalam hidup kita ini. Tidak akan terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 23rd, 2019 at 4:14 pm

Posted in Pendidikan

Ber-“lu gue” di Kampus

without comments

Ketika saya berada di kampus UKSW Salatiga mengisi sebuah seminar, terdengar mahasiswa ngobrol dengan sesamanya menggunakan kata “kau” dan “aku”.  Tampaknya mereka belum terkontaminasi pergaulan anak muda Jakarta yang pakai sapaan “elo”,”lo” “elu”, “lu”, “gua”, “gue, “gw”.

Di kampus saya di ITB  sudah jarang saya mendengar mahasiswa memakai kata “saya”, “kamu”, “kau”, “aku” ketika mengobrol sesamanya.  Sudah saling pakai kata  “elo”,”gua”, dan sejenisnya, meskipun mereka bukan dari Jakarta dan sekitarnya. Mahasiswa dari daerah Jawa dan luar Jawa pun sudah biasa saja bersaling sapa dengan kata elo gua tersebut. Enakan saja tampaknya. Saya kurang tahu apakah di kampus  lain di Bandung seperti UNPAD, UPI, Telkom University, Unpar, dan lain-lain juga seperti di ITB. ITB sebagai kampus nusantara, yang mana mahasiswanya berasal dari Sabang sampai Merauke, pergaulan mahasiswanya ternyata tidak dipengaruhi oleh kultur Sunda, malah budaya dan gaya pergaulan anak Jakarta, khususnya dalam bercakap-cakap.

Kota Bandung yang dekat dengan Jakarta sudah biasa terimbas style dan gaya pergaulan dari Jakarta, termasuk soal sapaan tadi. Mahasiswa-mahasiswa sesama anak muda, tidak peduli dari daerah mana, cenderung bertutur kata seperti gaya Betawi. Bahkan anak saya yang dibesarkan di tanah Parahyangan dan baru masuk ITB tahun ini pun sudah ber-elu gua kepada sesama temannya di kampus. Terdengar oleh saya dari kamarnya dia berbicara dengan temannya lewat hape memakai sapaan lu  gua. ?

Saya masih ingat dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, teman-teman saya sudah biasa memanggil dengan kata elo gua itu, saya saja yang masih polos sebagai mahasiswa asal daerah masih ber-saya kamu, he..he. Sampai sekarang pun begitu, merasa aneh saja kalau saya juga menggunakan sapaan lo gua itu kepada orang lain. Tetap ber-saya kamu, tetap dengan jatidiri saya sebagai orang rantau yang tidak terpengaruh gaya Jakarta.

Written by rinaldimunir

December 19th, 2019 at 4:55 pm

Posted in Seputar ITB

Menghafal itu Perlu, tetapi Mengamalkan yang Dihafal Jauh Lebih Perlu

without comments

Diskursus tentang hafal menghafal tidak perlu menjadi polemik (baca berita: Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal).  Menurut saya Pak Menteri tidak bermaksud merendahkan kemampuan menghafal, namun menafikan kemampuan hafalan juga tidak sepatutnya.

Menghafal adalah bagian dari proses belajar. Otak manusia memiliki kemampuan mengingat sesuatu. Di dalam Taksonomi Bloom dijelaskan bahwa “mengingat” atau “menghafal” adalah tingkatan terendah untuk mencapai tingkatan berikutnya. Tingkatan Taksonomi Bloom dari rendah ke tinggi adalah sebagai berikut:
1. Mengingat
2. Memahami
3. Menerapkan
4. Menganalisis
5. Mengevaluasi
6. Menciptakan

Menurut saya kemampuan menghafal itu perlu. Ketika saya masih di kecil, di sekolah guru menyuruh kami menghafal perkalian dari 1 sampai 10, sehingga ketika menyelesaikan soal perkalian dapat diselesaikan tanpa perlu banyak berpikir. Sampai sekarang pun saya kira guru2 SD masih mengajarkan murid untuk menghafal perkalian, namun dibarengi dengan menyelesaikan soal-soal matematika.

Beberapa profesi memerlukan daya ingat (CMIIW), misalnya dokter harus menghafal dan mengingat bagian-bagian anatomi manusia, ahli hukum perlu hafal pasal-pasal KUHP, biolog perlu hafal nama-nama latin makhluk hidup, dsb.

Di kelas kuliah saya pun saya menyuruh mahasiswa harus hafal hukum-hukum himpunan (set properties) dan hukum-hukum logika proposisi (law of logics), karena ketika menyelesaikan soal ujian untuk membuktikan sebuah kesamaan, mereka harus menuliskan nama-nama hukum yang dipakai. Bagaimana cara mengingatnya terserah mereka, yang penting selain hafal tapi tahu kapan menggunakannya. Jika tidak menyebutkan nama-nama hukumnya, maka nilainya tidak penuh, harusnya 10 maka dapat 8.

Saat ini, ketika dunia hanya dalam satu genggaman, menghafal itu tidak terlalu penting lagi. Cukup cari di Internet, pengetahuan apa yang kita inginkan dapat diperoleh dengan mudah  cepat. Dulu saat masih SD saya sangat rajin menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur, nama-nama ibukota negara, dan lain-lain. Sekarang buat apa menghafal nama-nama itu, tidak perlu.

Namun, menghafal pelajaran thok tanpa mengaplikasikannya jelas tidak berguna. Sangat disayangkan memori jangka panjang digunakan untuk menghafal pelajaran semata. Hidup itu memerlukan kemampuan untuk menerapkan ilmu yang dipelajari, bukan sekedar hafalan. Inilah yang dimaksudkan oleh Pak Menteri itu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, untuk konteks urusan duniawimu memang tidak dibutuhkan kemampuan hafalan, tetapi yang dibutuhkan adalah skill, kompetensi, dan kemampuan mengaplikasikan ilmu.  Ini juga maksud dan tujuan Pak Menteri berkata begitu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, tetapi untuk urusan akhiratmu perlu. Hidup kita kan tidak hanya untuk dunia saja. Bagi seorang muslim yang percaya ada kehidupan di akhirat, hidup itu juga persiapan untuk menuju akhirat kelak. Bagi seorang muslim, menghafal itu penting. Saya bisa membaca surat-surat pendek ketika sholat karena sejak kecil sudah dibiasakan menghafal juz Amma. Saat ini kemampuan saya menghafal surat selain juz Amma sudah sulit. Faktor U penyebabnya.

Karena kemampuan menghafal itulah maka Al-Quran terjamin kemurniannya hingga saat ini. Para sahabat Nabi menghafal Al-Quran sehingga bacaan Al-Quran tetap terjaga. Keberadaan hafidz dan hafidzah adalah dalam rangka melestarikan Al-Quran dan dalam rangka ibadah meraih pahala. Namun perlu diingat juga, Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk dihafal, tetapi diamalkan dalam kehidupan. Pintar menghafal tetapi tidak mengamalkannya sama seperti rangka tidak punya jiwa.

Jadi, marilah kita mendudukkan masalah hafal menghafal ini sesuai konteksnya. Menghafal bukan berarti tidak perlu. Perlu, namun lebih penting lagi mengamalkan (mempraktekkan) apa yang dihafal itu.

Selamat pagi.

Antapani, 17-12-2019.

Written by rinaldimunir

December 17th, 2019 at 11:45 am

Posted in Pendidikan

Kisah Hidup Berharga dari Tukang Becak di Malioboro

without comments

Semalam saya diantar seorang tukang becak dari hotel ke stasiun Tugu, Yogyakarta. Dia  adalah bagian tukang becak yang biasa mangkal di dekat hotel. Tarif becak ke berbagai tujuan sudah pasti harganya, sebagaimana tertulis di dekat gerbang hotel. Hotel-hotel di Yogya telah berkordinasi dengan tukang beca dalam bentuk “kerjasama” yang saling menguntungkan, antara lain penentuan tarif. Pengguna becak itu kebanyakan para tamu hotel, terutama turis-turis yang ingin keliling Yogya dengan kendaraan tradisional. Saat ini becak harus bersaing dengan gojek dan grab dalam meraih penumpang.

Dalam perjalanan menuju stasiun, bapak penarik becak, sebut saja Pak Sumarto namanya, menawarkan kepada saya apakah mau beli oleh-oleh bakpia dulu di Jalan Pathuk sebelum ke stasiun. Bolehlah, kata saya. Jadwal kereta saya toh masih dua jam lagi. Tapi ongkosnya tambah berapa?, tanya saya. Cuma tambah lima ribu saja, Mas, jawabnya.

Saya minta diantar oleh Pak Sumarto ke toko bakpia 25 di Jalan Pathuk. Memang saya lebih suka bakpia 25, menurut saya bakpia 25 ini yang paling enak diantara nomor-nomor bakpia yang puluhan jumlahnya (14, 27, 55, 99, dll).

+ Kok tidak ke pabriknya saja pak?, tanya saya. (Saya dulu pernah ke home industry bakpia 25, langsung melihat proses pembuatannya, melihat para pekerja membuat bakpia. Fresh from oven)
– Ini juga sama mas, pabriknya punya beberapa toko, jawabnya.

Setelah selesai membeli beberapa kotak bakpia, saya kembali naik becaknya menuju stasiun Tugu.

Selama perjalanan dari hotel melewati Jalan Malioboro terus ke Jalan Pathuk dan stasiun Tugu saya pun kepo bertanya tentang pengalaman hidupnya menarik becak di Yogya.

+ Pak, bapak kan sering mengantar pembeli ke toko bakpia. Bapak nggak dapat komisi dari toko karena sudah mendatangkan pembeli ke tokonya?
– Oh, itu nanti. Nanti menjelang lebaran kami tukang becak dikasih THR berupa uang dan sembako dari toko.

Pak Sumarto bercerita, toko-toko bakpia, toko batik, dan toko kaos sudah punya data nama-nama tukang becak yang mangkal di hotel atau di jalan Malioboro. Tukang-tukang becak itulah yang mengantar tamu (lebih tepatnya mendatangkan) ke toko-toko tadi. Mereka tidak langsung dapat uang tips dari toko, tetapi nanti pada hari raya dalam bentuk THR dan sembako (beras, gula, minyak goreng, dll).

Jadi, di kota Yogyakarta sudah lama terjalin simbiosis mutualisma antara tukang becak dan toko oleh-oleh. Tukang-tukang becak bagaikan agen marketing toko-toko oleh-oleh. Kalau kita jalan-jalan di Malioboro, banyak tukang becak menyapa kita, menawarkan beli oleh-oleh ke bakpia pathuk. Misalnya sapaan begini: Mas, mbak, mau diantar naik becak beli bakpia ke Jalan Pathuk? Sepuluh ribu saja pulang pergi.

Biasanya tukang becak mengantar ke toko bakpia 25, karena bakpia 25 itu yang sudah punya nama. Tetapi mereka juga mau mengantar ke toko bakpia lain sesuai keinginan pelancong, misalnya bakpia tugu jogja, dan lain-lain.

Tidak hanya bakpia, simbiosis mutualisma juga terjadi dengan toko batik (misalnya rumah batik di gang-gang perumahan dekat keraton), toko kaos dll.

Setiap menjelang lebaran, demikian cerita Pak Sumarto, toko-toko itu membagikan THR dan sembako kepada tukang becak yang sudah mereka data. Pak Sumarto tidak hanya mendapat THR dari satu toko, tetapi juga dari toko-toko lain.

+ Pemilik toko bakpia itu baik orangnya. Kita juga boleh datang ke tokonya minta bantuan. Misalnya kalau becak saya rusak, perlu ongkos 200 ribu untuk memperbaikinya, tapi saya hanya punya uang 150 ribu, mereka mau membantu 50 ribu sisanya.
– Oh gitu ya pak. Memangnya pemilik toko bakpia itu orang Jawa?
+ Bukan. Semuanya orang cina, tetapi mereka baik kepada kami.

Yogyakarta adalah kota harmoni. Kehidupan di sini terasa tenang dan damai. Orang-orang kecil seperti tukang becak seperti Pak Sumarto ini tidak perlu khawatir tidak dapat rezeki. Simbiosis mutualisme dengan pihak hotel dan toko oleh-oleh adalah pengikatnya.

Tiba-tiba sejurus kemudian dia bertanya.

+ Mas orang cina ya?
– Bukan pak. Emang wajah saya mirip cina, gitu? (Saya pun terheran-heran).
+ Kulitnya mas
– Oh… (saya pun tertawa. Sudah sering saya dikira orang Cina atau orang Manado karena warna kulit)
+ Mantu saya orang cina, Mas, cina singapur. Anak saya perempuan kawin dengan cina singapur dan sekarang tinggal di Singapur.

Wah, menarik nih.

– Terus, bapak pernah diajak anak ke Singapur? Jalan2 gitu.
+ Sudah sering diajak, tapi saya nggak punya paspor. Repot mengurus paspor, harus banyak yang diisi, pakai akte kelahiran. Wong saya nggak punya akte.

Trus, bapak ketemu anak dan mantu bapak di mana?
+ Karena nggak punya paspor, kami hanya bisa ketemuan di Batam. Anak saya yang datang ke Batam sama suaminya. Sebulan saya di sana. Tapi nggak betah, balik lagi ke Yogya.
– Trus? (Saya semakin kepo saja )
+ Anak saya menyuruh saya berhenti ngebeca, tinggal di Batam saja. Saya mau dibelikan rumah 250 juta di Batam. Tapi saya nggak mau. Biarlah saya di Yogya saja menarik becak.

– Bapak asli mana?
+ Saya dari Wonogiri, Mas. Di sini saya merantau saja.
+ Ngontrak di sini?
– Ya nggak, tidur di atas becak saja.

Hmmm…meski sudah punya anak yang sudah hidup mapan di Singapur, namun Pak Marto tetap menarik becak.

– Pak, apakah anak bapak sering kirim uang ke Bapak? Bantu2 bapak dan ibunya,gitu.
+ Saya larang, Mas. Saya bilang ke dia, itu kan uang suamimu. Suamimu yang kerja,bukan kamu. Kamu harus minta izin ke suamimu jika menggunakan uang untuk keperluan keluarga di kampung. Kecuali memang suamimu yang kasih, ya saya terima.
+ Saya bilang ke anak saya. Bapak sudah cukup dengan penghasilan menarik becak.

Dalam hati saya berkata, sungguh Anda bapak yang rendah hati, tidak mau merepotkan anak atau meminta sesuatu kepada anaknya meski anaknya sudah hidup senang. Uang istri adalah dari suami. Istri harus minta izin suami jika menggunakan uang pemberian suami untuk membantu keluarganya. Ini sejalan dengan prinsip Islam.

– Menantu bapak muslim?
+ Iya. Masuk Islam. Saya suruh sunat dulu sebelum kawin dengan anak saya.
– Oh… (saya tertawa kecil)

Becakpun akhirnya sampai di stasiun Tugu. Saya pun turun. Tidak lupa ongkos becak saya lebihkan.

Bagi saya ini sebuah kisah hidup yang berharga. Meski anaknya sudah hidup mapan di negeri orang, tetapi dia tidak pernah mau meminta apapun dari anaknya. Dia melarang anaknya mengirim uang kepadanya . Membesarkan dan mendidik anak adalah pekerjaan penuh keikhlasan, tidak harap berbalas jasa. Hanya memberi, tak harap kembali.

Akupun nanti juga akan begitu. Jika anak-anakku sudah berkerja dan berkeluarga, akupun tidak akan mau meminta apapun darinya, tidak akan mau merepotkan anakku. Biarlah masa tua nanti dijalani dengan kesederhanaan di rumah sendiri. Sebagai orangtua kita sudah cukup bahagia jika anak kita sukses dan bahagia dengan hidupnya. Cukuplah kita mendoakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak sholeh dan berhasil di dalam hidupnya.

Written by rinaldimunir

December 15th, 2019 at 9:13 pm

Review Nissan Livina 2019 Setelah 6 Bulan Pemakaian, Komparasi dengan 16 Mobil Lainnya

without comments

Sebagai pengguna aktif KIA All New Sportage, Nissan Livina 2019 tidak cuma punya keunggulan, tapi juga punya kekurangan. Apa saja ya plus minusnya? Simak lebih lanjut ya.

Tak terasa 6 bulan telah berlalu, kami menggunakan Livina 2019 VL AT. Sudah 2 kali servis berkala, odometer menunjukkan angka 13.000 km. Sebelum memutuskan untuk mengambilnya, kami sudah test drive CRV, Fortuner, Pajero Sport, KIA Sedona bahkan juga DFSK Glory 580.

  1. Livina 2019 vs Honda CRV -> Suspensi CRV kalah nyaman, harga ketinggian untuk mesin yang “biasa aja”
  2. Livina 2019 vs Toyota Fortuner -> Fortuner kalah senyap, wong mesinnya diesel, di trek lurus Tol Cipali bisa susul-susulan kok dengan Livina 2019
  3. Livina 2019 vs Pajero Sport -> Walaupun tenaga alias horsepowernya besar, Pajero Sport kurang nyaman di bagian armrest kanan (pintu driver)
  4. Livina 2019 vs KIA Grand Sedona -> Sedona V6 cakep dan luas sih, mesin gahar body berat, muat 11 orang, boros BBM, lagian budgetnya gak nyampe ?
  5. Livina 2019 vs DFSK Glory 580 -> DFSK Glory 580 malas berhenti saat pengereman, terasa nge-lag nunggu turbonya aktif saat gaspol
  6. Walaupun gak diizinin isteri untuk testdrive Almaz, ada hipotesis dari lihat-lihat video reviewnya.
    Livina 2019 vs Wuling Almaz -> Almaz kurang cocok untuk malam hari, pengaturan AC harus dari layar, pasti silau bagi driver.
  7. Kalau yang ini hanya lihat-lihat di dealer Mitsubishi sebelum test drive Pajero Sport
    Livina 2019 vs Mitsubishi Xpander -> Xpander tipe tertinggi saat awal 2019 interiornya warna beige, bukan hitam dan belum ada sensor mundur, tapi Xpander menang cruise control
  8. Kami juga sering nyetir pinjaman Ertiga, Terios, Xenia/Avanza, Agya, Innova, Sienta, dan di tahun-tahun sebelumnya punya KIA Picanto dan KIA Carens II. Livina 2019 vs Suzuki Ertiga 2013 -> Kirain Ertiga udak paling empuk, ternyata kalah empuk. Luas kabinnya juga menang Livina. Mending dijual nih Ertiga kantor, japri ya.
  9. Livina 2019 vs Daihatsu Terios 2012 konde -> Tampangnya menang Livina, empuknya juga, transmisi maticnya juga lebih enak Livina.
  10. Livina 2019 vs Xenia/Avanza -> Kualitas cat body Livina menang lho, suspensinya juga menang jauh banget, kelas harga dan fiturnya cukup bersaing.
  11. Livina 2019 vs Agya -> Agya menang irit dong, lha 1000cc, andalan sopir gocar dan grabcar nih, sehari uang bensin 100 ribu doang.
  12. Livina 2019 vs Toyota Innova -> Innova itu body berat, mesin gede, tapi kurang tenaga, value for money dan empuknya masih menang Livina, ini kata saya lho ya, dilarang protes.
  13. Livina 2019 vs Toyota Sienta -> Sienta itu parah desain spion kiri kanannya, dua jengkal, sering nyangkut kalau papasan, menang pintu geser sih, tapi yg minat beli tinggal dikit.
  14. Livina 2019 vs KIA Picanto -> Picanto jauh kalah suspensinya, dibilang irit juga nggak.
  15. Livina 2019 vs KIA Carens II-> Carens body-nya lebih tebal, tapi masih kalah empuk sama Livina.
  16. Kembali ke Livina 2019 vs KIA All New Sportage 2012
    Setelah setengah tahun bergantian pakai Livina dan Sportage sehari-hari gara-gara aturan ganjil genap kalau ke Jakarta, ada beberapa hal yang kerasa banget.

Kalau habis pakai Sportage lalu pakai Livina 2019, empuknya suspensi betul-betul terasa. Kalau lagi nganter jemput anak ke sekolah, sehari bisa ngelewatin 20-an polisi tidur plus jalan berlubang. Makanya bagi penulis, suspensi itu penting.

Jalan berlubang maupun polisi tidur, bablas aja pakai Livina 2019, tetap nyaman kok. Tapi kalau high speed di tikungan jalan tol, jangan coba-coba, body roll-nya kerasa banget. Kalau maksa gak pakai pelan di tikungan tajam, atau dikit-dikit pindah lajur dengan nakal di tol, anak kecil yang jadi penumpang bisa mual dan muntah.

Suara mesin di rpm idle nyaris tidak kedengaran, kesenyapan kabin juga sangat bagus, suara dari luar dapat diredam dengan baik. Tapi sayang, tenaga di tanjakan tol saat high speed kurang besar, jadi tidak PD-lah nyalip di tanjakan tol Purbaleunyi dari Jakarta ke arah Bandung. Sekali lagi, feel ini sangat tergantung, kita sebelumnya baru saja bawa mobil apa. Kalau tiap hari sudah pakai Livina 2019, akan ketemu jurusnya, bagaimana cara bawa Livina 2019 di tanjakan tanpa perlu takut kehabisan tenaga.

Hematnya BBM juga beda jauh . Wajar sih, Sportage kan 2000cc, Livina 2019 hanya 1500cc dengan mesin disuplai dari Mitsubishi Xpander. Kalau Agya sekali ngisi bensin cukup 100rb, Livina tiap ngisi 200 ribu, kalau Sportage 300rb untuk jarak tempuh yang kira-kira sama.

Kalau habis pakai Livina 2019 lalu pindah ke Sportage lagi, empuknya jok mobil di semua baris kerasa banget, badan serasa dipeluk dari belakang. Perjalanan jarak jauh sampai 400-an km Bandung-Semarang pun gak akan bikin pegel di badan, baik sopir maupun penumpang. Jok driver bisa elektrik, body tebal, lebih safety aja rasanya. Maklum, pernah ada 2 kali insiden nyium pantat bus dan pantat Serena saat macet-macetan di tol Jkt gara-gara microsleep ?

Kekuatan mesin Sportage untuk nyalip di tanjakan sangat dapat diandalkan. Beranilah ngelawan Pajero Sport di Cipali. High speed di tikungan sama sekali tidak membuat body-nya kebanting, mungkin kebantu sama Prime Suspension Active Stabilizator. Walaupun Sportage-nya sudah tahun ke-7, tidak terasa ada penurunan performa dari segi kemampuan engine saat full throttle alias gaspol. Kulit joknya juga masih awet, tidak mengelupas.

Mari kita kembali bahas Nissan Livina VL 2019. Saat mulai berjalan, autodoorlock-nya tidak aktif, demikian juga dengan fitur autounlock. Fitur-fitur itu sebenarnya sudah ada di dalam komputernya, sama dengan Xpander. Tetapi entah mengapa dari pabrik hal itu tidak dianggap penting sehingga tidak diaktifkan. Kalah dong sama Toyota Agya, hihi. Di Youtube ada yang ngasih triknya sih.

Ganti Oli Gratis, Sekalian Olinya Juga Gratis

Kalau kelebihan lain Nissan Livina 2019 VL, sudah ada keyless entry, start stop button, jok kulit bawaan pabrik, kaca film, plus gratis servis termasuk oli sampai 50.000 km. Wah, ini benar-benar asyik bagi yang udah merasakan tingginya harga oli di setiap kali servis rutin. Jadi pikirannya ya tinggal isi bensin aja, pakai tiap hari, sampai saatnya servis, masuk bengkel, gak pake bayar. Cost of ownership-nya benar-benar rendah. Tidak perlu diongkosin lagi setelah beli, kecuali untuk menambahkan asesoris lain seperti karpet dari bahan karet, pengharum, audio, dll.

BTW audionya cukup enak kok, pas lah, ini pendapat telinga yang standarnya suka dengar suara speaker JBL. Luas bagasi, lega. Mengatur konfigurasi sandaran jok cukup mudah, melipatnya juga tidak sulit. Keliling kota Jogja masih enak banget walaupun bawa full 8 orang dewasa. AC juga awalnya bagus, cuman gak tahu kenapa kok sekarang suka ada bau gak enak pas baru dinyalakan, jadi harus buka jendela tiap akan menyalakan mesin. Ada yang tahu solusinya? Tolong tulis di komen ya!

Garasi sempit? Hati-hati, hitung dulu dengan seksama. Panjang body-nya lumayan lho, cek di brosur ya. Atau pinjam test drive dari dealer, coba masukkan ke garasi. Sudah 2 orang yang juga beli Livina 2019 hasil rekomendasi dari kami, salah satunya petinggi Brother di Jakarta ( http://scannerbrother.com )

Akhir kata, alhamdulillah penulis beli mobil Nissan Livina 2019 ini secara cash keras dari hasil project scanning ( http://ayoscan.com ) plus Jual Scanner ( http://jualscanner.com ) dan jualan aplikasi scan LJK ujian bernama DMR-Digital Mark Reader ( http://dmr.co.id )

Arif Rahmat
arifrahmat.com

Written by arifrahmat

December 13th, 2019 at 5:58 pm

Jalan-jalan ke Pulau Ayer

without comments

Mau jalan-jalan jauh ke tempat wisata di luar pulau saat ini terasa mahal akibat tiket pesawat yang naiknya nggak karu-karuan. Apa boleh buat, jalan-jalan ke tempat yang dekat saja. Kenapa tidak ke Kepulauan Seribu di DKI Jakarta? Dari Bandung cukup naik kereta api ke Jakarta, lalu dari Gambir bersambung naik bus ke Ancol. Tinggal menyeberang ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu, maka nikmatilah pulau yang indah dengan pemandangan laut yang jernih dan udara yang masih bersih.

Fakultas saya mengadakan tur rekreasi ke Pulau Ayer di Kepulauan Seribu. Pulau Ayer adalah salah pulau tujuan wisata yang populer. Di pulau ini terdapat sebuah resort wisata yang dikelola oleh sebuah perusahaan swasta. Cottage-cottage bergaya etnik Papua terhampar di atas permukaan laut

69488552_2613851398682869_8861211929075515392_n

Pulau Ayer, foto dari atas drone (Credit photo by Arry Ahmad Arman)

Cottage-cottage apung bergaya etnik Papua di atas permukaan laut ((Credit photo by Arry Ahmad Arman)

Untuk pergi ke pulau ini kita dapat berangkat dari  Marina Ancol dengan waktu tempuh 30 menit menggunakan speedboat. Untunglah saat itu cuaca sangat bagus sehingga laut tidak terlalu bergelombang. Perjalanan ke Pulau Ayer berlangsung tanpa hambatan.

Pulau Ayer kecil saja. Meskipun demikian, pulau ini telah lama dijadikan tempat wisata dan rehat dari kesibukan ibukota. Dikutip dari laman Wikipedia, Pulau ini mulai dikunjungi sejak tahun 1950. Bahkan semasa hidupnya, mantan Presiden Sukarno menjadikan Pulau Ayer ini sebagai tempat peristirahatannya. Mantan Presiden Sukarno juga pernah mengajak mantan Presiden Tito dari Yugoslavia dan mantan Sekretaris Jenderal PBB, U Nu, berkunjung ke pulau ini. Meski pulau kecil, namun di sini terdapat sumber air tawar.

Pulau Ayer berpasir putih

Baru saja mendarat di Pulau Ayer, kita seakan-akan disambut oleh sekumpulan hewan baiawak. Biawak mirip dengan komodo, namun sebenarnya mereka spesies yang berbeda. Biawak di Pulau Ayer hidup di kolong-kolong dermaga. Petugas di Pulau Ayer menjaga biawak ini agar tidak berkeliaran ke tengah pulau. Hati-hati jangan terlalu mendekat ke biawak sebab jika terancam mereka melecutkan ekornya. Kata petugas pulau, lecutan ekor biawak  sangat pedih dan bisa menimbulkan luka yang dalam.

Biawak di Pulau Ayer

Mencoba berteman dengan biawak

Semua pantai di Pulau Ayer berpasir putih, namun butiran pasirnya tidak terlalu halus. Pohon-pohon besar nan rindang bertebaran di seluruh pulau. Beberapa pohon tergolong langka, seperti pohon beringin, pohon asam jawa, dan lain-lain. Angin sepoi-sepoi dari laut membuat kita terkantuk-kantuk saat tidur bermalas-malasan di tepi pantai. Sejenak melupakan rutinitas di kampus, merenung di pulau. Hmmm…sekarang ada program Dosen Merenung lho yang diluncurkan oleh Dikti. Namun bukan sembarang merenung atau melamun, tetapi dari merenung itu  harus bisa menghasilkan paper atau jurnal. Ah, nggaklah, saya ke sini bukan mau menulis paper, tetapi mau jalan-jalan saja bersama istri menikmati jauh dari keramaian, sekalian bulan madu kedua, hehehe.

Pantai Andoi

Santai sejenak di Pantai Andoi, Pulau Ayer

Tempat yang instagrammable untuk berfoto

Seperti yang saya ceritakan di atas, cottage-cottage di Pulau Ayer terletak di atas laut. Saat malam hari, terasa sekali ombak kecil beriak-riak di bawah kolong cottage. Ada sensasi tersendiri tidur di atas laut. Sekali-sekali saya terbangun dari tidur mendengar riak-riak ombak di kolong, seolah-olah ombak menggulung cottage. Ah, itu hanya pikiran aneh-aneh saja.

Cottage apung. Setiap cottage terhubung dengan jembatan

Pemandangan salah satu cottage

Saat malam hari

Andalan Pulau Ayer adalah pantainya dan cottage-cottage di atas laut. Bagi wisatawan yang senang memancing, pulau ini menyediakan tempat untuk memancing. Pulau Ayer dapat dikelilingi dalam waktu lima belas menit saja dengan berjalan kaki. Benar-benar pulau yang kecil ya. Tidak ada dataran tinggi atau bukit, datar saja.

Semalam di Pulau Ayer sudah cukuplah. Saatnya kembali ke keramaian dunia, kembali ke rutinitas harian di kampus Ganesha.

Written by rinaldimunir

December 12th, 2019 at 9:31 am

Posted in Cerita perjalanan

Beli Meski Tidak Butuh

without comments

Seorang bapak duduk termenung di pinggir jalan di seberang Toserba Griya menjelang senja. Lelah dia berjalan setelah berkeliling menjajakan jualannya berupa barang remeh temeh seperti tisu, peniti, spon cuci piring, gunting kuku, jepit rambut, dll. Matanya nanar menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang lewat, berharap ada yang membeli dagangannya.

Saya beli saja tisu, spon, dan gunting kuku, yang sebenarnya barang2 itu sudah ada di rumah.

#suatusenjadiAntapani

Written by rinaldimunir

December 5th, 2019 at 4:56 pm

Masa-masa Mengantar Anak ke Sekolah yang Tidak akan Pernah Terulang

without comments

Seorang teman di kantor minta izin sebentar karena mau menjemput anaknya dari sekolah (masih SD). Setiap pagi dia selalu mengantar anaknya ke sekolah, pun pulang sekolah juga selalu dijemput.

Saya katakan kepada teman saya itu (sambil menyemangatinya): Benar, masa-masa mengantar jemput  anak ke sekolah  tidak akan pernah terulang. Hanya sekali saja dalam hidup kita ini sebagai orangtua. Kalau anak sudah besar, mereka mungkin tidak mau diantar lagi. Mumpung masih bisa antar jemput, lakukan saja dengan senang hati. Nikmati masa-masa itu.

Saya jadi teringat posting-an seorang warganet di Facebook yang baper melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. Dia merasa sangat sedih karena tidak pernah mengantar anaknya ke sekolah. Bukan dia tidak mau, tetapi tidak punya kesempatan.

antar

Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah (sumber foto dari sini)

Saya sih sudah selesai menjalani masa antar anak-anak ke sekolah saat mereka SD (baca: Berakahir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak). Anak-anakku kini sudah beranjak besar, dua orang yang besar sudah kuliah. Anak yang bungsu masih SMP kelas 7, dia pergi dan pulang sekolah sendiri, naik gojek, kadang naik angkot/bis. Dulu dari TK sampai SD saya yang rutin antar setiap anak ke sekolahnya setiap pagi dengan motor yang kupakai hingga kini ke kampus. Sekarang masa itu sudah lewat dengan setumpuk kenangan yang tidak akan terlupakan.

Mumpung kalian masih punya anak masih kecil, nikmati masa-masa mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Masa-masa seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 3rd, 2019 at 9:11 am