if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2019

Ketika Menjadi Sholeh Menimbulkan Kecurigaan

without comments

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada kepada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul adalah radikal adalah sikap kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menyediakan mimbar akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable. Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Mengerikan!

Written by rinaldimunir

October 11th, 2019 at 1:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Pengemudi Gojek Perempuan itu Ternyata…

without comments

Sore hari saat jam pulang kantor saya memesan gojek motor dari sebuah rumah makan di Jalan Katamso. Saya mau pesan gojek ke rumah saya di Antapani. Di layar aplikasi ternyata yang mengambil order adalah seorang driver wanita.  Hmmm…batalkan nggak ya? Ini kedua kalinya saya mendapat pengemudi perempuan (pengalaman pertama mendapat pengemudi perempuan saya tulis di sini:  Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya).

Sebenarnya saya risih jika memboncengi motor yang dikemudikan perempuan bukan mahram. Perasaan risih ini sudah saya ceritakan pada tulisan pertama tadi. Tapi lagi-lagi rasa kasihan saya mengalahkan perasaan risih. Baiklah, saya  OK-kan saja.  Pengemudi perempuan itu mengatakan bahwa dia sudah biasa mendapat penumpang laki-laki.  Di dalam hati saya berkata, jika perempuan sampai terjun menjadi tukang ojek atau gojek pastilah karena alasan yang sangat mendesak atau alasan-alasan yang luar biasa.


Dia mengemudikan motor dengan tenang. Tidak mengebut dan selalu hati-hati. Saya duduk sedikit agak menjauh dari punggungnya.

Tiba di Antapani. Sayapun turun. Lalu saya tanya:
+ Dari jam berapa nge-gojek, Teh?  (Saya memanggil dia “teteh”, panggilan kepada  perempuan Sunda)
– Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, Pak.
+ Punya anak?
– Punya
+ Suami?
– Sudah enggak.

Oh, berarti dia single parent, dia mencari nafkah untuk menghidupi anaknya. Kasihan ya. Dari pagi sampai malam. Untung tadi tidak jadi saya batalkan. Ternyata dia perempuan perkasa. Di akhir perjalanan saya tambahkan bonus kepadanya.

~~~~~~

Saya kagum pada perjuangan pengemudi gojek perempuan. Mereka melakukan pekerjaan yang halal. Soal mahram dan hijab dapat saya atur, saya duduk tidak terlalu merapat ke badannya, ada ruang kosong. Membatalkan pesanan gojek  kalau tidak terpaksa sekali jangan  dilakukan, karena berpengaruh pada performa driver. Kalo performa turun, mereka susah mendapat order.

Seorang teman memberi saran, jika mendapat pengemudi perempuan, maka dia tukaran tempat. Dia yang mengemudi motor, sedangkan si perempuan yang menjadi penumpang. Menurut saya cara ini pun kurang sopan, sebab seolah-olah merendahkan perempuan karena dianggap tidak mampu menjadi driver.

Paa perempuan tukang ojek adalah perempuan perkasa. Banyak perempuan perkasa di sekitar kita. Mereka terjun mencari nafkah karena alasan yang terpaksa. Mungkin suami sudah tidak ada, atau ada suami tetapi penghasilan suami jauh dari mencukupi. Menjadi tukang ojek atau gojek mungkin adalah  pilihan yang cukup realistis saat ini. Mengapresiasi pekerjaan mereka adalah dengan menghargai mereka dan tidak melecehkannya.

Written by rinaldimunir

October 7th, 2019 at 4:47 pm

Generasi Milenial Ternyata tidak Apatis Sosial Politik

without comments

Aksi demo besar-besaran mahasiswa di berbagai kota di Indonesia yang meminta pencabutan revisi RUU KPK dan beberapa RUU lainnya telah membuat tercengang berbagai kalangan. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa yang berdemo ini merupakan generasi milenial, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 2000. Generasi mileneal sering dianggap apatis, cuek, atau kurang peduli  terhadap kondisi sosial politik di tanah air. Mereka dibesarkan oleh gawai dan sangat aktif ber-sosmed ketimbang memikirkan urusan perpolitikan.

Namun, tanpa diduga, ternyata masih ada dan masih banyak mahasiswa yang peduli tentang negeri ini dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka menyuarakan keresahan di tengah masyarakat terkait dengan revisi UU KPK yang dianggap mengkerdilkan lembaga anti rasuah tersebut serta bebrbagai RUU yang dianggap kontroversial. Surprise karena di tengah kondisi mahasiswa kita yang umumnya  lebih mementingkan urusan kuliah, gawai, medsos, dan juga asmara rupanya masih ada sebagian mahasiswa yang tergerak hati nuraninya menyuarakan keprihatinan masyarakat. Ketika tidak ada lagi yang mampu menyuarakan keprihatinan, maka harapan masyarakat disandangkan ke pundak para mahasiswa itu.

Aksi demo berlangsung masif dan brhari-hari. Dimulai dari aksi  #GejayanMemanggil Yogyakarta, dengan cepat aksi mahasiswa di Yogya menular ke berbagai kota di Indonesia. Mereka turun ke jalan. Mahasiswa yang selama ini diam akhirya terpanggil bergerak. Aksi demo semakin dramatis dengan kehadiran pelajar-pelajar STM (sebutan SMK untuk jurusan teknik) yang membantu kakak-kakaknya berdemo. Sejak aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa tahun 1998, barangkali inilah aksi demo yang terbesar sesudah tahun 1998.

Namun ingat, mereka berdemo bukanlah untuk menurunkan presiden. Bukan. Pemilu dan Pilpres sudah selesai. Mereka menyuarakan keprihatinan dan kekecewaan masyarakat terhadap berbagai UU dan RUU yang dibuat kejar tayang oleh DPR dan Pemerintah. Naif juga mengaitkan aksi mereka dengan radikalisme dan isu-isu seperti khilafah dan sebagainya. Saya melihat aksi demo mereka murni dan tidak ditunggangi.

Selama aksi-aksi mahasiswa itu murni, konstitusional, dan tidak anarkis, tentu akan  didukung oleh masyarakat. Menyuarakan pendapat dijamin oleh UU. Tentu saja aksi demo mereka berhadapan dengan aparat keamanan yang menjaga ketertiban. Hanya saja kalau ada mahasiswa yang terluka, terkena gas air mata, apalagi sampai ada yang mati, saya merasa sangat sedih. Tidak seharusnya aksi damai berubah menjadi “pertarungan” antara anak-anak muda harapan bangsa itu dengan polisi dan berakhir dengan kesedihan.

Generasi milenial ternyata tidak identik dengan anak manja, apatis, cuek, kurang peduli, dan stereotip lainnya. Mereka akan “bangun” pada waktunya, sekali mereka bangun bergemuruhlah seluruh negeri.

Written by rinaldimunir

October 3rd, 2019 at 3:35 pm

Posted in Indonesiaku