if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2019

Mengenang Habibie

without comments

Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tentang B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia yang wafat semalam. Habibie adalah orang yang sangat baik. Semua orang Indonesia pasti tahu tentang itu. Semua anak Indonesia dulu mengidolakan beliau. Kenapa tidak, Habibie adalah orang yang jenius, karya-karyanya dalam bidang aeronautika tersebar ke seluruh dunia. Banyak orangtua menamai anak lekakinya dengan nama Habibie. Di Prodi saya di Informatika ITB tidak terhitung jumlah mahasiswa bernama Habibi, baik sebagai kata did epan maupun di belakang. Orangtuanya tentu berharap anaknya kelak seperti B.J Habibie.

Tidak salah Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang dari Jerman dan mengangkatnya menjadi menteri. Takdir hidup pula yang menggariskan dia kelak menjadi presiden Indonesia berikutnya setelah Soeharto mengundurkan diri akibat tekanan politik, kerusuhan sosial, dan kejatuhan rupiah saat itu.

Saat saya masih mahasiswa di ITB, nama Habibie adalah jaminan untuk sekolah ke luar negeri. Pak Habibie saat itu sebagai Menristek sekaligus ketua BPPT mengirim banyak lulusan SMA untuk sekolah di luar negeri, khsusnya ke Eropa dan Amerika. Kami menyebutnya program Beasiswa Habibie.Tujuannya tidak lain untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang teknologi. Tidak hanya teknologi dirgantara seperti keahlian Habibie, tetapi teknologi lainnya yang dibutuhkan negara.

Habibie saat muda (Aachen, Jerman, 1954)

Banyak sekali teman saya yang sudah diterima di ITB akhirnya mengundurkan diri dari kampus karena mendapat beasiswa Habibie. Sebuah prestise saat itu mendapat beasiswa ke Eropa dan Amerika. Mereka sekolah dari S1 sampai S3. Sebagian ada yang pulang kembali ke tanah air, tapi sebagian lagi tidak balik dan bekerja sebagai ekspatriat di Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang Indonesia mencintai Habibie. Beliau Presiden Indonesia yang tidak meninggalkan masalah selepas turun tahta. Dari tujuh presiden Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi), saya paling berkesan dengan Habibie. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Cerdas. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang jenius. Ilmuwan hebat yang diakui dunia atas karya-karyanya dalam bidang aeronautika.
2. Rendah hati (humble). Tidak sombong, tidak suka berkoar-koar menebar janji-janji dan harapan palsu. Betapa presiden-presiden Indonesia terlalu sering membuat janji dan harapan semu sekedar gimmick atau lipstik. Tapi Habibie beda. Sekedar contoh saja, berkat tangan dinginnya dia mampu mengembalikan rupiah yang terpuruk saat kejatuhan Soeharto dari 17.000 menjadi 9000 per dollar. Saat ini kita tidak pernah melihat dollar bertengger di bawah sepuluh ribu rupiah.
3. Tidak menumpuk kekayaan selama berkuasa, karena memang pada dasarnya Habibie sudah kaya dari royalti yang diterimanya atas karya-karya pesawatnya. Habibie adalah sosok yang ikhlas. Kecintaannya pada tanah air jangan diragukan lagi.
4. Tidak punya kasus setelah tidak berkuasa.  Ini saya saya sebutkan tadi. Habibie bersih dari berbagai skandal, sepi dari segala rumor dan isu tidak sedap setelah turun tahta. Coba bandingkan dengan Soekarno, Soeharto, SBY, Megawati, masih saja diungkit-ungkit perbuatannya pada  masa lalu. Entah pula nanti Jokowi ketika nanti lengser, apa pula yang akan dipermasalahkan orang nanti.
5. Demokratis. Dialah yang membuka kran media massa sehingga puluhan media terbit. Media bebas bersuara, tidak takut lagi mengkritik penguasa. Pemilu multi partai pun dimulai pada era Habibie. Partai yang semula cuma 3 (Golkar, PPP, PDI) berkembang menjadi 48 partai. Luar biasa. Pantaslah Habibie disebuts ebagai Bapak Demokrasi.
6. Habibie mewakafkan hartanya untuk ilmu pengetahuan. Habibie Award adalah Nobel Price-nya Indonesia.
7. Habibie memadukan ilmu dengan agama. Salah satuwarisan yang dipopulerkan Habibie adalah frase “meningkatkan IMTAK dan IPTEK”. IMTAK = iman dan taqwa. IPTEK = ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Habibie menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis)

Memang semua presiden di repulik ini punya keunikan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun Habibie-lah yang paling berkesan di hati.

Habibie saat muda adalah pria yang ganteng. Kegantengannya dan budi pekertinya yang santun meluluhkan hati Ainun, seorang mojang priangan kota Kembang yang cantik, saat Habibi kuliah di ITB dulu. Foto-foto Habibie saat masih muda bertebaran di media sosial seperti foto-foto di bawah ini.

Berkat film Ainun dan Habibie, yang mengisahkan perjalanan Hbibibie dan istrinya, orang Indonesia pun tahu bahwa Habibie tidak hanya cerdas tetapi juga romantis. Kisah hidupnya dengan Ainun menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bacalah sebuah tulisan yang saya tidak tahu siapa penulisnya tetapi saya rasa sungguh tepat menggambarkan Habibie dan istrinya itu. Saya copas di sini ya.

SELAMAT JALAN, RUDY..
9 Maret 1962. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.
Rudy – panggilan BJ Habibie – mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah. Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?”
Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?”

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, “Tidak. Saya tidak punya kawan dekat..”

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

“Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana..” Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.
Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan. Tidak akan pernah…

Selamat jalan B.J Habibie. Anda akan dikenang sebagai seorang yang baik, malah sangat baik. Nama anda akan selalu ada di hati segenap bangsa Indonesia.

Written by rinaldimunir

September 12th, 2019 at 9:04 am

Posted in Indonesiaku

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am