if99.net

IF99 ITB

Archive for July, 2019

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 3 – Habis)

without comments

Woaaahhh….huff…selamat pagi Atambua! Pagi yang dingin sekali di Atambua. Setelah bermalam di hotel  (yang susah payah dicari semalaman untuk menemukan kamar yang kosong), saatnya sekarang berangkat ke Motaain. Jam 7 pagi kami memacu kendaraan kembali ke Motaain. Kenapa harus pagi-pagi, karena untuk urusan administrasi di perbatasan akan memakan waktu yang cukup lama, kira-kira satu jamlah, karena kita membawa kendaraan ke Timor Leste. Waktu satu jam itu sudah termasuk pemeriksaan di pintu perbatasan di sisi Timor Leste.

Di atas kendaraan yang dikendarai Daniel, saya mengamati lingkungan alam sekitar sepanjang perjalanan menuju Motaain. Adem sekali suasana di sisi kiri kanan jalan. Tidak banyak rumah saya lihat, hanya alam yang hening menyertai perjalanan. Satu hal yang paling menakjubkan bagi saya di tanah Timor adalah mataharinya. Matahari di sini bersinar sangat terang benderang bagaikan lampu sorot. Belum pernah saya lihat matahari seperti ini di Bandung atau di pulau Jawa. Begitu perkasa matahari di Pulau Timor. Matahari terlihat berukuran besar. Mungkin karena di Pulau Timor uap air sangat minim sehingga matahari bersinar tanpa ada penghalang. Langit terlihat super biru tanpa ada awan.

Kami berhenti sejenak di sebuah ketinggian. Dari sini tampakah negara Timor Leste. Itu negaranya, di balik bukit yang tampak di kejauhan. Tampak pula laut Timor secara samar-samar, seperti foto di bawah ini.

Dari kejauhan dibalik bukit itulah negara Timor Leste berada. Laut Timor tampak di kejauhan.

Jam 8.00 sampailah kami di pos perbatasan Motaain. Ternyata pintu pagar masih ditutup. Sebentar lagi kayaknya. Beberapa orang yang hendak menyeberang ke Timor Leste menunggu di luar seperti saya. Suasana di dekat pos perbatasan masih sepi.

Pintu perbatasan Motaain

Jalanan lengang di dekat pos perbatasan

Setelah menunggu selama setengah jam, pintu pagar pos perbatasanpun dibuka petugas. Kompleks pos perbatasan ini sangat luas. Di dalamnya banyak gedung baru dan terkesan megah.  Pemerintah Indonesia tampaknya membangun pos perbatasan laksana  bandara saja.

Berswafoto di dalam kompleks pos perbatasan

Bangunan di dalam kompleks pos perbatasan Motaain

Bagian informasi

Seperti halnya kalau kita mau pergi ke luar negeri, kita pun harus melewati pemeriksaan imgrasi. Dari Bandung saya memang sudah membawa paspor. Jadi, di sini kita mengisi kartu kedatangan lalu paspor kita dicap.

Pemeriksaan dokumen di imigrasi

Dalam sehari pos perbatasan Motaain melayani ratusan orang yang keluar masuk Indonesia dan Timor Leste. Mereka adalah para pelintas batas yang merupakan pedagang, pelajar, maupun penduduk lokal di kedua negara (maklum penduduk di masing-masing perbatasan masih bertalian darah). Untuk melintas batas kita harus membawa paspor dan membayar visa di pos Timor Leste.  Jenis visanya adalah Visa on Arrival yang biayanya  30 dollar. Sebaliknya, warga Timor Leste yang memasuki Indonesia tidak dikenai visa karena Indonesia menerapkan bebas visa untuk sejumlah negara termasuk Timor Leste.

Di ujung kompleks terdapat pos tentara Indonesia. Mereka berjaga-jaga di pintu keluar perbatasan mengamati orang-orang yang keluar masuk.

Pos tentara

Nah, di pintu keluar perbatasan terdapat sebuah jembatan. Jembatan ini menghubungkan tanah Timor Leste dan taah Indonesia. Sungai di bawah jembatan itulah yang memisahkan kedua negara. Uniknya, setengah dari jembatan itu dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itu terdapat  garis kuning yang menjadi batas kedua negara.

Jembatan yang menghubungkan tanah kedua negara

Setengah dari jembatan dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itulah garis batas kedua negara (garis kuning).

Saya melangkahkan kaki di garis kuning di atas jembatan ini. Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.  Wah, berati satu kaki saya sudah memasuki wilayah negara lain.

Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.

Setelah prosedur imigrasi dan bea cukai selesai, kendaraan kami melintasi jembatan itu. Akhirnya sampailah saya di negara Timor Leste meskipun baru di perbatasan saja. Selanjutnya kami memasuki pos perbatasan di sisi Timor Leste yang bernama Batugade. Tiba di sini semua tulisan sudah berganti dengan bahasa Porto, sudah hilang semua tulisan berbahasa Indonesia. Namun, sinyal Telkomsel masih terjangkau di sini, saya masih bisa berkirim kabar lewat Whatsapp dan meng-update status di Facebook.

Tanah Timor Leste diperbatasan

Selamat datang di Timor Leste

Pos perbatasan di Timor Leste bangunannya lebih sederhana dibandingkan pos di Motaain. Kesederhanaan itu mungkin mencerminkan negara Timor Leste yang taraf kehidupan rakyatnya yang masih bersahaja.

Tentara Timor Leste di depan pos perbatasan Batugade

Peta negara Timor Leste

Di pos Batugade kami melewati pemeriksaan imigrasi lagi dan membayar visa on arrival sebesar 30 dolar. Barang-barang kita diperiksa dan melewati detektor X-ray seperti halnya di bandara. Mobil dan isinya pun diperiksa.

Setelah beres pemeriksaan di pos Batugade, kendaraan kami meluncur keluar pos dan siap menuju kota Dili. Perjalanan dari pos perbatasan Batugade menuju kota Dili melewati pinggir pantai dengan pemandangan laut Timor yang indah. Perlu berhati-hati melewati ruas jalan karena di kirinya jurang yang dalam dengan laut di bawahnya. Hii..seram jika jatuh. Beberapa ruas jalan rusak parah, terutama beberapa ruas jalan peninggalan Indonesia, tetapi setelah melewati Liquica hingga Dili jalan aspal mulus. Dari pos perbatasan Baatugade kita akan melewati distrik Bobonaro dan Liquica sebelum sampai ke Dili.

Peta negara Timor Leste

Timor Leste adalah negara termiskin di dunia. Ngara ini tidak memiliki sumber daya alam kecuali hasil pertanian. Minyak di celah Timor belum dapat dinikmati negara Timor Leste.

Orang Timor Leste hidupnya sederhana, itu terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana, sebagian masih rumah tradisionil beratap daun gowang.

Rumah-rumah tradisional beratap daun gowang sepanjang jalan di Bobonaro

Laut Timor menemani perjalanan menuju Dili

Seperti halnya di Atambua, matahari bersinar garang di bumi Lorosae. Matahari terlihat begitu besar dengan pancaran sinarnya yang menyala. Kami harus memburu waktu ke Dili karena kami harus bisa kembali ke pos perbatasan sebelum pukul 16.00 WITA (atau pukul 17.00 waktu Timor Leste. Waktu di Timor Leste mengikuti waktu WIT). Untuk mencapai kota Dili dari pos Batugade diperlukan waktu 2 hingga 3 jam dengan kendaraan.

Melewati jalan-jalan di Timor Leste maka kita dapat menyaksikan kehidupan penduduknya yang bersahaja. Anak-anak sekolah terlihat berjalan bersama-sama di pinggir jalan dengan riang gembira. Bangunan sekoalahnya seperti bangunan sekolah di kabupaten-kabupaten di Indonesia berupa bangunan memanjang. Bendera Timor Leste berkibar di rumah-rumah maupun sekolah. Tulisan-tulisan yang saya baca di pinggir jalan semuanya berbahasa Tetun atau bahasa Porto. Meskipun demikian, warga Timor Leste masih bisa berbahasa Indonesia.

Mereka memang miskin, tetapi seperti kata Pak Agustinus, warga Timor Leste tetap merasa bahagia dengan negara mereka yang sudah merdeka, tidak lagi dijajah oleh Indonesia.

Dikutip dari siniTimor Timur dijajah oleh Portugal pada abad ke-16, dan dikenal sebagai Timor Portugis sampai 28 November 1975, ketika Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka (FRETILIN) mengumumkan kemerdekaan wilayah tersebut. Sembilan hari kemudian, Indonesia melakukan invasi dan aneksasi terhadap Timor Timur dan Timor Timur dinyatakan sebagai provinsi ke-27 oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Pendudukan Indonesia di Timor Timur ditandai oleh konflik yang sangat keras selama beberapa dasawarsa antara kelompok separatis (khususnya FRETILIN) dan militer Indonesia.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, dalam sebuah referendum yang disponsori PBB, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk lepas merdeka dari Indonesia. Segera setelah referendum, milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste – yang diorganisir dan didukung oleh militer Indonesia – memulai kampanye militer bumi hangus. Milisi membunuh sekitar 1.400 rakyat Timor Timur dan dengan paksa mendorong 300.000 rakyat mengungsi ke Timor Barat. Mayoritas infrastruktur hancur dalam gerakan militer ini. Pada tanggal 20 September 1999, Angkatan Udara Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) dikirim ke Timor Timur untuk mengakhiri kekerasan. Setelah masa transisi yang diorganisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi.

Memasuki pedalaman Bobonaro ada kejadian yang membuat muka kami agak  pucat dan berasa khawatir. Jalan-jalan di Timor Leste lengang dari kendaraan, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Justru yang sering melintas adalah ternak seperti kambing dan babi. Daniel mengemudikan mobil cukup ngebut karena mengejar waktu ke Dili. Tanpa disadari seekor babi melintas menyeberang jalan dan kecelakaan pun tidak terhindarkan. Mobil melindas babi itu. Mati. Warga sekitar berlarian ke arah babi untuk melihat babi yang sekarat.

Mobil kami pun berhenti. Pak Agustinus dan Daniel berjalan menghampiri warga. Untungnya Pak Agustinus yang memang berasal dari Timor Leste dapat berbicara dengan bahasa Tetun. Dia berbicara kepada warga dan meminta maaf telah menabrak babi hingga tewas. Warga tampak mengerti karena babi memang sering lalu lalang menyeberang jalan. Kami mengganti harga babi yang mati itu dengan uang 100 dolar. Wah, menurut saya mereka “beruntung” sebab daging babi bisa mereka makan dan dapat uang 100 dolar pula. ?

Kami mengisi dulu di pom bensin di Bobonaro. Di pos bensin ini terdapat minimarket yang menjual berbagai makanan, sabun, sahampo, rokok, tidak ketinggalan bir dan wine. Ini wine impor dari Australia dan Portugis. Banyak dari barang yang dijual di sana berasal dari Indonesia. Timor Leste memang masih bergantung kepada Indonesia untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pom bensin di Bobonaro

Ups…rumah makan Jawa Timur di dalam pom bensin

Pukul 13.00 siang akhirnya kami memasuki kota Dili. Karena waktu yang terbatas, maka kami hanya mengunjungi istana Perdana Menteri yang dulu pernah menjadi Kantor Gubernur Timor Timur. Istana yang cantik bekas peninggalan Portugis.

Welfie di sini

Pelabuhan Dili terhampar di seberang istana Perdana Menteri. Sebuah plaza di pinggir pantai menjadi tempat yang bagus untuk berjalan kaki menikmati laut dan kal-kapal yang berlabuh. Hmmm…saya membayangkan sore hari waktu yang pas untuk duduk-duduk di sini. Dua orang anak menghampiri saya menawarkan buah mangga yang telah dipotong-potong. Satu dolar saja, kata anak-anak itu. Tetapi saya tidak membawa uang dolar, jadi saya tidak bisa membelinya. Rupiah tentu tidak laku di sana.

Pelabuhan Dili di seberang istana

Pelabuhan Dili

Anak penjual mangga di pantai Dili. Mau beli, tapi uang rupiah tidak laku. 
Mereka cuma bisa bertransaksi menggunakan USD (Credit photo by Tutun Juhana)

Kami tidak bisa berlama-lama di Dili karena harus mengejar waktu kembali ke pos perbatasan di Batugade. Jika kami terlambat sampai ke pos perbatasan, pintu ditutup sehingga kami tidak bisa kembali ke Atambua hari itu, terpaksa harus kembali lagi ke Dili. Jadi, rencana melihat patung Yesus raksasa, rumah uskup Bello, rumah Xanana Gusmao pun tidak kesampaian. Bahkan rencana saya untuk shlat Dhuhud di Masjid An-Nur Dili pun tidak sempat karena waktu yang kasip. Secara berkelakar teman saya berkata kita nanti melewati rumah Raul Lemos, suami penyanyi Krisdayanti.

Beberapa foto yang saya abadikan merekam suasana kota Dili dan aktivitas pasar yang masih tradisionil.

Pasar kakilima

Angkot

Universitas Nasional Timor Lorosae

Demikianlah kunjungan singkat saya yang hanya satu jam berada di kota Dili. Benar-benar singkat dan belum bisa mengeksplorasi lebih jauh tempat-tempat menarik di Dili. Mungkin nanti jika ada kesempatan saya kembali lagi ke Dili.

Written by rinaldimunir

July 26th, 2019 at 4:24 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 2)

without comments

Kami sampai pintu perbatasan di Motaain pukul 16.00. Yah, sudah tutup, tidak bisa menyeberang ke Timor Leste hari ini. Padahal kami ingin bermalam di kota Dili lalu melihat sunrise di Bumi Lorosae itu. Meskipun agak kecewa, kami berbalik kembali ke Atambua. Sebelum balik kami melapor terlebih dahulu di Polres Belu Sektor Motaain untuk menitipkan STNK mobil.

Perjalanan kembali ke Atambua tidak melewati jalan semula, tetapi melewati jalur jalan di pinggir pantai. Kami menikmati pantai Motaain di perbatasan Kabupaten  Belu dengan Timor Leste. Pantai yang sepi berpadu dengan langit biru yang super bersih tanpa awan dan polusi. Jika berjalan terus menyusuri pantai ke arah timur mungkin kita sampai ke kota Dili.

Pantai Motaain

Jalan aspal dari pinggir pantai menuju Atambua sepi dari kendaraan. Namun yang membanggakan adalah hampir semua jalan di Pulau Timor beraspal mulus. Melintasi jalan raya di sini kala sore dan pagi hari kita disuguhi pemandangan khas Pulau Timor yaitu bukit-bukit gersang berwarna kemerahan dengan tanaman perdu yang tumbuh di atasnya.

Jalan beraspal mulus di Kabupaten Belu

Setelah beristirahat di pantai Motaain, kami meneruskan perjalanan ke arah Atambua. Di tengah perjalanan kami melintasi pelabuhan Atapupu. Ini adalah pelabuhan antar pulau di Kabupaten Belu. Barang-barang kebutuhan di Atambua (termasuk untuk Timor Leste) diangkut dari Surabaya ke pelabuhan ini.

Pelabuhan Atapupu

Sore itu tampak langit di Pulau Timor benar-benar biru bersih tanpa awan. Matahari bersinar dengan perkasa. Sebuah kapal sedang memuat sapi dan rumput. Sapi-api itu itu akan dikirim ke Kalimantan untuk Hari Raya Idul Adha nanti.

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Ataupu

Pelabuhan Atapupu yang hening dengan laut yang sangat bersih

Hari sudah benar-benar sore. Sebelum masuk ke Atambua, singgahlah kami terlebih dahulu di bendungan Rotiklot Kabupaten Belu yang diresmikan presiden beberapa waktu yg lalu. Bendungannya belum berisi air dan saat itu pengunjung masih dilarang masuk. Matahari terlihat menuju peraduannya dikala sunse. Benar-benar pemandangan sore yang menawan di negeri yang hening.

Pintu masuk ke bendungan Rotiklot

Akhirnya kami sampai kembali ke kota Atambua. Ada beberapa hotel di kota ini, baik kelas melati maupun hotel bintang dua. Kami agak kesulitan mencari kamar hotel yang kosong malam itu. Hampir semua hotel penuh. Maklum ini hari Sabtu. Pada akhir pekan banyak warga Timor Leste datang ke Atambua dan mereka menginap di hotel-hotel itu. Mereka pergi ke Atambua selain untuk menengok saudaranya (maklum orang Timor Leste masih bertalian darah dengan orang Timor bagian barat), mereka umumnya memborong barang kebutuhan sehari-hari di Atambua. Barang-barang di Atambua lebih murah dibandingkan dengan harga di Dili. Warga Timor Leste membawa uangnya dalam bentuk dollar Amerika (mata uang imor Leste adalah US $), ketika di-kurs ke rupiah di Atambua nilainya jadi besar. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 25th, 2019 at 2:03 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua (NTT) dan Dili (Timor Leste) – Bagian 1

without comments

Mengunjungi kota Dili di Timor Leste tidak pernah terpikirkan oleh saya. Mungkin Dili tidak termasuk dalam daftar kota yang akan saya kunjungi. Namun, ketika saya mengadakan kunjungan ke kota Kupang dalam rangka penelitian dengan Politeknik Negeri Kupang, teman di sana menawarkan jalan-jalan ke kota Dili. Wah, kenapa tidak, pikir saya. Kapan lagi punya kesempatan mengunjungi bekas ibukota Propinsi Timor Timur yang sekarang menjadi ibukota negara Timor Leste itu?

Perjalanan ke Dili dari Kupang melalui kota perbatasan di NTT yang bernama kota Atambua. Tulisan pertama ini menceritakan perjalanan saya dari kota Kupang menuju kota Atambua.

Saya tiba di kota Kupang pukul 21.30 WITA setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hatta dan transit di Surabaya. Daniel Bataona, dosen Poltek Kupang menjemput kami di Bandara Eltari. Bandara ini sedang dibangun bertingkat dan akan menjadi bandara yang megah. Kupang dan NTT mulai menjadi tujuan menarik wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Alam NTT yang unik adalah daya tarik tersendiri. Mengunjungi Kupang tahun ini adalah kunjungan saya kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada tahun yang lalu untuk urusan yang sama (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang).

Pagi hari pukul 7.00 setelah istirahat semalam di hotel Neo dekat bandara, kami memulai perjalanan menuju kota Atambua dan Dili. Seorang pegawai Poltek Kupang bernama Pak Agustinus akan ikut menemani kami hingga ke Dili. Pak Agustinus adalah orang asli Timor Leste. Dia termasuk warga Timor Timur yang pro integrasi saat jajak pendapat tahun 1999 dan memilih bergabung dengan Indonesia. Banyak juga orang Timor Timur yang tidak mau kembali ke kampung halamannya dan memilih tinggal di Pulau Timor bagian wilayah Indonesia.

Perjalanan dari Kupang ke Atambua menempuh waktu 6 jam dengan mobil. Wah, lama juga ya. Sebenarnya kita bisa pergi ke sana lewat udara. Dari Kupang ke Atambua ada dua kali penerbangan setiap hari yang dilayani oleh Wings Air. Tetapi saya memilih lewat darat supaya dapat melihat pemandangan alam Pulau Timor dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Bulan Juli hingga September adalah waktu yang tepat untuk mengunjung Pulau Timor karena cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang dan langit biru bersih tanpa awan.

Kami keluar kota Kupang dan sekarang memasuki Kabupaten Kupang.  Ketika sampai di Oesao, kami berhenti sebentar untuk membeli jajanan khas yaitu kue cucur. Sebenarnya ingin berhenti di kedai jagung pulut yang pernah saya singgahi tahun lalu (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang), tapi pagi itu mungkin jagung pulut yang khas Oesao belum tersedia. Di depan warung kue cucur berhenti sebuah minibus yang hendak menuju kota Kefamananu di pedalaman di Pulau Timor. Bus-bus antar kota di Kupang tidak ada yang besar, umumnya berukuran minibus.  Seorang pemuda Pulau Timor dan lelaki tua dengan kain tenun ikat berdiri di depan bus.  Wajah-wajah orang Timor itu umumnya khas seperti pada foto ini. Berambut ikal, hidung mancung, kulit agak kehitaman, dan mata agak ke dalam. Inilah Indonesia yang multi etnis dan multi kultural.

Minibus yang membawa sebuah sepeda motor di belakangnya.

Pemandangan sepanjang jalan sungguh indah. Pohon-pohon sepe dan pohon jati berbaris sepanjang jalan. Alam pulau Timor tidaklah segersang yang kita kira. Jalanan menaik dan menurun mendaki dan menuruni bukit.  Bukit-bukit hijau berdiri memagar.

Kami telah keluar Kabupaten Kupang dan sekarang akan memasuki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami berhenti di desa Takari. Di pinggir jalan terlihat sebuah pemandangan alam yang mempesona. Sebuah lembah dengan sungai yang  hampir mengering dan bukit kapur terlihat sangat mempesona. Swafoto dulu ah…

Numpang foto di Takari, Kab TTS.

Di Takari kita melewati sebuah jembatan yang panjang bernama jemnbatan Noelmina (saya kira jembatan Wilhelmina :-). Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebuah tugu dengan tiga jari tegak dan dua jari membentuk huruf O menyambut kami. Hmmm…apa ya makna susunan jari seperti itu?

Jembatan Noelmina

Tugu perbatasan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten TTS

Setelah dua jam perjalanan kami memasuki kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kota Kefamenanu, atau kota Kefa saja adalah ibukota Kabupaten TTU. Kami berhenti di sini untuk mengisi bensin. Sebuah gereja cantik bernama Gereja Masehi Injili di tanah Timor berdiri dengan megah. Penduduk Pulau Timor mayoritas beragama Katolik (55,39%) dan Kristen Protestan (34,32%). Penduduk beragama Islam sekitar 9.05%, sisanya agama lain dan kepercayaan lokal seperti Marapu (Sumber: NTT   di Wikipedia). NTT adalah propinsi dengan kerukunan beragama yang baik. Dua kali saya berkunjung ke Timor saya melihat masjid dan gereja mudah ditemukan. Perempuan berkerdudung banyak ditemukan di pasar-pasar bahkan hingga di kota pedalaman.

Jalanan di kota Kefamenanu

Gereja Masehi Injili di Timor

Kami memasuki hutan Jati di luar kota Kefa. Di pinggir hutan berdiri pondok-pondok yang menjual jambu biji dan jeruk lokal yang warnanya menggoda. Jeruk-jeruk diatur dalam tumpukan piring sehingga terlihat menarik. Rasa jeruknya agak asam, tapi lumayan memberikan kesegaran pada siang hari yang terik.

Jeruk lokal Kefa

Perjalanan ke Atambua masih jauh, sekitar 2 jam lagi. Terus terang saya merasa pusing dan mual selama perjalanan karena jalanan yang berbelok-belok. Ya, kita naik dan turun melingkar bukit sehingga isi perut serasa dikocok-kocok. Saya lebih banyak diam dan berbaring karena merasa mau muntah. Untung tidak jadi muntah karena makan jeruk lokal tadi. Nggak nyambung ya?

Pukul 13 siang kami memasuki kota Atambua. Gapura gerbang kota Atambua menyambut kami. Sepanjang jalan memasuki kota Atambua dipenuhi hutan jati. Pohon jati milik Pemerintah, sebagian lagi milik misi (organisisasi Katolik). Pohon jati di sini ditanam sejak zaman Belanda. Pohonnya tidak pernah ditebang-tebang, dibiarkan begitu saja. Pohon jatinya besar-beasar lho. Hmmmm…kalau dijual di Pulau Jawa harganya tentu selangit. Tapi pohon jati di sini tidak boleh ditebang, barang siapa yang menebang akan ditangkap polisi.

Gerbang kota Atambua. Ini difoto kala pulang dari sana (sore hari)

Hutan jati sepanjang jalan memasuki kota Atambua

Hutan jati

Berfoto bersama pak Agustinus, orang asli Timor Leste, yang menjadi guide kami ke Dili

Alhamdulillah, sampailah kami ke pusat kota Atambua. Perut sudah lapar nih. Kami pun berhenti di rumah makan padang.  Hehehe…kemanapun pergi, tetap makannya di rumah makan padang. Ada tiga sampai empat rumah makan Padang di kota Atambua. Ternyata cukup banyak juga perantau Minang di kota perbatasan dengan Timor Leste ini. Pemilik rumah makan yang saya singgahi ini adalah perantau dari Pariaman. Katanya ada sekitar 80 KK warga perantau Minang di sana. Banyak juga ya. Oh ya, selain rumah makanan padang, mencari makanan halal di Atambua  tidak sulit. Ada juga rumah makan Jawa Timur dengan soto ayamnya.

Rumah makan Padang Raya di tengah kota Atambua

atambua adalah ibukota Kabupaten Belu. Kota Atambua kecil saja. Tapi inilah kota perbatasan ke Timor Leste. Jam 19.00 malam kota ini udah sepi, toko-toko sudah tutup. Masjid dan gereja berdiri berdampingan. Di tengah kota terdapat gereja katedral dan masjid raya Al-Mujahidin. Saya sholat jamak Dhuhur dan Ashar di sana. Teman saya, Daniel dan Agustinus menunggu di halaman masjid.

 

Masjid Raya Mujahidin di Atambua

Selesai makan kami mengejar waktu untuk memasuki pintu perbatasan ke Timor Leste di Motaain. Tapi karena kami membawa mobil selama di Timor Leste, maka kami harus mengurus surat izin bea cukai terlebih dahulu di kantor bea cukai Atambua. Kantor bea cukai ini terletak setelah bandara Atambua dan taman makam pahlawan Seroja. Di sini dimakamkan tentara dan pejuang RI yang gugur di Timor Timur.  Oh ya, di kantor bea cukai ini juga terdapat kantor imigrasi di lantai dua.

Nampang di taman makam pahlawan Seroja

Taman makam pahlawan Seroja

Petugas bea cukai masih muda-muda. Mereka umumnya adalah lulusan STAN di Jakarta. Mereka adalah pegawai Kementerian Keuangan RI. Pegawai bea cukai ramah-ramah. Mereka menanyakan surat-surat kendaraan, setelah itu dilanjutkan dengan memeriksa fisik kendaraan.

Mengurus surat izin kendaraan di kantor Bea Cukai

Kantor bea cukai

Cukup lama juga kami mengurus suart-surat kendaran di kantor bea cukai Atambua. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30, setengah jam lagi pintu perbatasan RI-Timor Leste di Motaain akan tutup. Pintu perbatasan dibuka pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 WITA, setelah itu tutup dan jika terlambat maka kita harus menunggu keesokan harinya. Hmmm…apakah kami bisa terkejar waktunya ke Motaain yang jaraknya 10 km dari kantor bea cukai? (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 23rd, 2019 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Mencoba Kereta Bandara Minangkabau, Padang

without comments

Dua minggu lalu saya pulang mudik ke Padang. Ketika sedang tidak ada kegiatan di kampus, saya sempatkan pulang ke kampung halaman dengan anak-anak meski hanya sebentar (tiga hari).  Saya memang tidak sempat mudik saat lebaran, maka mudiknya sesudah lebaran saja. Hehe, orang lain sudah balik ke rantau, saya malah pulang ke kampung. Ketika saya melihat harga tiket Xpress Air Bandung – Padang sempat turun, langsung saya ambil keputusan mendadak pulang ke Padang hari Jumat siang. Mumpung pesawat masih terbang dari Bandara Husein Sastranegara, belum dari Bandara Kertajati yang dimulai tanggal 1 Juli.

Setiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) terbersit keinginan saya mencoba kereta api bandara dari BIM ke Padang. Ini bandara kedua di Indonesia yang memiliki kereta bandara sesudah Bandara Kualanamu, Medan. Bandara berikutnya yang memiliki kereta bandara adalah Bandara Soekarno – Hatta dan bandara YIA Yogyakarta.

Keluar dari terminal kedatangan, ada petugas yang menginformasikan kepada penumpang pesawat bahwa kereta bandara akan berangkat pada pukul 16.50, itu artinya sekitar 15 menit lagi. Stasiun bandara letaknya kira-kira 200 meter dari terminal kedatangan tapi belum terintegrasi dengan bangunan bandara sehingga kalau hujan agak kesulitan ke sana. Namun, kita bisa naik bus shuttle yang mengantarkan kita ke stasiun kereta. Naik bus shuttle ini gratis. Bus shuttle sudah menunggu di depan kedatangan.

Bus shuttle membawa penumpang ke stasiun bandara. Kita diarahkan ke loket penjualan karcis kereta. Tidak banyak penumpang yang antri membeli karcis. Petugas melayani penumpang dengan ramah.

Konter penjualan tiket kereta bandara

Harga tiketnya sangat murah, hanya Rp 10.000 ke stasiun Simpang Haru Padang yang berjarak 22 km dari bandara. Kalau naik taksi bandara ke rumah orangtua saya di kawasan Sawahan tarifnya 10 kali lipat yaitu 110.000.

Karcis kereta bandara BIM, sangat murah hanya 10.000 saja

Selanjutnya kita masuk ke pintu keberangkatan. Sekarang ini naik dan turun kereta layanannya seperti naik pesawat saja. Petugas memeriksa karcis kereta dan kita dipersilahkan masuk.

Pintu keberangkatan

Memasuki hall kereta, terlihatlah kereta bandara yang menanti penumpang. Kereta terdiri dari tiga gerbong, warnanya dicat hijau. Terlihat kinclong. Ini kereta buatan PT INKA di Madiun.

Hall kereta bandara

Kereta bandara yang cantik

Padang berjarak 22 km dari Bandara BIM. Kereta akan berangkat 5 menit lagi.  Hanya satu kereta saja di sana. Kereta berwarna hijau dengan tiga buah gerbong.

Masuk ke dalam kereta kita sudah merasakan kenyamanan.  Sore itu kereta tidak penuh penumpang, mungkin karena penumpang pesawat saat ini sudah berkurang.  Namun ada teman yang mengatakan jadwal keberangkatan kereta tidak sinkron dengan jadwal kedatangan pesawat dan masyarakat belum menjadijan kereta untuk pilihan transportasi ke dan dai bandara. Entahlah. Yang jelas langit sore sudah mendung, sebentar lagi turun hujan.

Memang kereta tidak bisa berjalan terlalu cepat, tetapi karena ini perjalanan santai maka tidak masalah bagi saya, yah sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan.

Bagi saya, memilih naik kereta bandara karena stasiun Simpang Haru tidak jauh dari rumah orangtua saya di Sawahan.  Jika naik taksi, selain ongkosnya lumayan mahal (Rp110.000), kita melewati titik-titik macet seperti di depan Minang Plaza di Air Tawar dan di depan Transmart di Jalan Khatib Sulaiman.

Kereta bandara di Padang tidak memerlukan pembangunan infrastruktur jalur kereta baru. Jalur kereta api sudah tersedia sejak zaman Belanda. Rel kereta api jalur Padang ke Pariaman melewati daerah dekat bandara. Tinggal menambahkan jalur rel dari dalam bandara ke luar bandara maka tersambunglah jalur rel kereta api dari bandara BIM ke Padang.

Kereta melewati stasiun Duku, Lubuk Buaya, Tabing, belakang hotel Basko, dan tujuan akhirnya di stasiun Simpang Haru Padang. Lima puluh menit waktu yang dibutuhkan dari bandara Minangkabau ke Padang. Jadi kalau kita naik kereta dari Padang ke bandara Minangkabau kita sudah dapat memprediksi waktu kedatangan sehingga tidak akan ketinggalan pesawat.

Stasiun Simpang Haru, Padang

Stasiun Simpang Haru, Padang

Stasiun Simpang Haru adalah kenangan saya kala kecil. Di sini saya waktu kanak-kanak naik kereta api ke Pariaman atau ke Teluk Bayur. Jadi, naik kereta bandara ini sebenarnya mengenang nostalgia saat masa kecil dulu di Padang. Sumatera Barat adalah salah satu dari empat propinsi di Sumatera yang memiliki jalur kereta api sejak zaman Belanda (propinsi lainnya adalah Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara). Dulu kereta api digunakan untuk membawa batubara dari Ombilin di Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang. Sekarang tidak ada lagi batubara di Ombilin sehingga kereta api pun dihentikan. Satu-satunya jalur kereta api yang masih aktif adalah jalur Padang ke Pariaman yang rutin tiga kali sehari membawa penumpang, yang umumnya pegawai yang bekerja di Padang (baca: Naik Kereta Api dari Padang ke Pariaman).

Jadwal kereta bandara Minangkabau yang terbaru adalah sebagai berikut:

Demikianlah pengalaman saya mencoba kereta bandara di kampung halaman. Naik kereta sambil bernostalgia. Mungkin kalau pulang ke Padang lagi saya memilih naik kereta ini lagi.

Written by rinaldimunir

July 3rd, 2019 at 3:15 pm

Uneg-Uneg PPDB Sistem Zonasi (lagi)

without comments

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk sekolah negeri SMP dan SMA di kota Bandung dan Jawa Barat umumnya sudah selesai. Hasil-hasilnya sudah diumumkan. Tentu ada yang sedih dan gembira dengan hasilnya. Diantara banyak kesedihan tersimpan kekecewaan mendalam dari sebagian orangtua yang merasa “dizalimi” dengan sistem penerimaan siswa berdasarkan jarak rumah. Dengan persentase kuota yang besar untuk jalur domisili berdasarkan jarak rumah ke sekolah (90%, termasuk kombinasi jarak dan NEM) dan hanya menyisakan 2,5% kuota untuk jalur berdasarkan nilai NEM dan 2,5% untuk prestasi perlombaan, PPDB sistem zonasi meninggalkan cerita pedih. Kekisruhan selama 1 bulan ini selama proses PPDB akhirnya membuat presiden turun tangan.

Menurut saya PPDB sistem zonasi merupakan kebijakan Mendikbud yang paling “konyol” dari seorang menteri miskin prestasi. Di akhir masa jabatannya ia membuat aturan zonasi 90% dalam PPDB. Setelah disentil oleh Pak Jokowi, akhirnya beliau mengubah kuota jalur prestasi dari 5% menjadi 15% dan menurunkan kuota jarak domisili menjadi 80%. Diubahnya hari Jumat sore, sedangkan di Jabar pendaftaran PPDB SMA terakhir hari Sabtu. Mana pula bisa formulir yang sudah dimasukin dicabut kembali? Sudah telat. Tidak dipikir dulu matang-matang sebelum bikin aturan, bisa diubah seenaknya di tengah jalan saat PPDB sedang injury time. Anak-anak sekolah jadi kelinci percobaan setiap tahun dengan aturan PPDB yang selalu berubah-ubah.

Untuk PPDB SMP di kota Bandung perubahan kuota jalur prestasi menjadi 15% bagaikan nasi sudah menjadi bubur. PPDB SMP di Bandung sudah tuntas sebelum lebaran dengan kuota jalur prestasi berdasarkan nilai USBN hanya 2,5% atau sama dg 8 orang siswa. Tentu penambahan kuota sampai 15% sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sudah selesai. Andai waktu itu kuotanya 15%, tentu anak bungsuku bisa masuk ke SMP …., tapi ya sudahlah.

Pak menteri membuat aturan PPDB salah satu tujuannya adalah menghapus label sekolah favorit dan tidak favorit. Baiklah, saya tidak keberatan dengan maksud ini, labelisasi favorit dan tidak favorit telah mengkastakan sekolah negeri.  Dilanjutkan olehnya, bersekolah di mana saja sama.  Untuk pernyatan kedua ini saya tidak setuju. Jelas tidak sama, pak menteri. Bersekolah di SMP 2 Bandung dengan fasilitas sarana lengkap dan wah tentu tidak sama dengan bersekolah di SMP 5x yang sarana dan prasarananya memprihatinkan. Sekedar contoh, toilet di SMP 2 saja sekelas toilet hotel, sedangkan toilet di SMP xx jorok dan bau pesing. Itu baru toilet. Wajar orangtua mencari sekolah negeri yang berkualitas bua putra-putrinya.

Pak menteri lupa. PPDB sistem zonasi itu memiliki dua syarat sebelum dilaksanakan. Syarat pertama adalah penyebaran sekolah negeri harus merata di setiap kecamatan dan proporsional dengan jumlah penduduk. Ada kecamatan yang sama sekali tidak memiliki sekolah negeri. Jika mereka mendaftar ke sekolah negeri di kecamatan tetangga jelas mereka akan tersingkir karena kalah oleh faktor jarak rumah yang jauh. Padahal ketika belum ada sistem zonasi mereka seharusnya bisa bersaing masuk sekolah negeri berdasarkan NEM. Memang solusi untuk masalah ini adalah perlu ditambah jumlah sekolah negeri, tetapi itu kan perlu waktu beberapa tahun lagi, sekarang mereka mau sekolah di mana?

Syarat kedua adalah kualitas setiap sekolah -baik sarana dan prasaran maupun kualitas guru-  sudah sama atau setara. Jika kedua syarat itu sudah dipenuhi, barulah bisa dikatakan bersekolah di mana saja sama. Barulah PPDB sistem zonasi bisa diterapkan. Bukan seperti sekarang yang sangat jomplang. Faktanya saat ini penyebaran sekolah negeri belum merata dan kualitasnya satu sama lain jauh berbeda. Butuh waktu untuk menyamakan dan meratakan.

Selama penyebaran sekolah belum merata dan kualitasnya belum sama atau setara, maka PPDB sistem zonasi dilakukan secara bertahap dulu,  jangan langsung memaksakan full seperti sekarang. Artinya seleksi berdasarkan NEM tetap diadakan selain faktor jarak juga dipertimbangkan.  Jika tidak, maka yang terjadi adalah gejolak di tengah masyarakat.

Sistem zonasi telah membuat sekolah-sekolah negeri yang selama ini punya nama turun reputasinya. Sekolah-sekolah itu menerima siswa dengan NEM yang kecil-kecil. Padahal reputasi sekolah unggulan dicapai selama puluhan tahun. Tidak ada yang salah memiliki sekolah negeri favorit sebab sekolah itu terbentuk secara alami. Bahkan putri Gubernur Jabar pun mendaftar ke sekolah favorit (SMAN 3 Bandung) yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, padahal Pak Gub sendiri dalam beberapa kesempatan berkoar-koar agar masyarakat memilih sekolah yang dekat rumah saja demi mengurangi kemacetan.

Memiliki sekolah negeri unggulan (baca: favorit) sepertinya “tidak diizinkan” dengan sistem zonasi. Semua sekolah harus sama rasa dan sama rata. Semua sekolah harus unggulan. Namun dengan kondisi yang jomplang saat ini, seperti yang diungkapkan di atas, jelas belum bisa.

PPDB sistem zonasi seakan-akan mempersulit siswa-siswa pintar masuk sekolah negeri idamannya karena kuota yang tersedia sangat sedikit (2,5%). Hasil kerja keras mereka belajar kurang diapresiasi dengan proporsional. Mereka kalah dengan seleksi berdasarkan meteran. Orangtua mereka mungkin telah “salah” memilih lokasi rumah di pinggiran kota atau di luar zona sehingga gagal masuk sekolah yang diinginkan.

Dalam pandangan saya, aturan PPDB zonasi memang terlihat adil bagi siswa yang rumahnya dekat sekolah, tetapi zalim bagi siswa berprestasi yang rumahnya di luar zona atau jauh dari sekolah negeri. Impiannya untuk masuk sekolah yang diidamkannya pupus karena tidak bisa mendaftar ke sana. Jika tidak lolos ke sekolah negeri, ya ke sekolah swasta saja, kata pak menteri. Dikiranya ke sekolah swasta itu bisa pakai uang pangkal kayak mengeruk uang di selokan depan rumah saja.

Sekarang bagaimana tanggung jawab menteri terhadap anak-anak yang tidak diterima di mana-mana dan tidak memiliki uang untuk masuk ke sekolah swasta?

 

Written by rinaldimunir

July 1st, 2019 at 1:54 pm