if99.net

IF99 ITB

Archive for June, 2019

Cara Menghilangkan Ujub dan Riya saat Sholat ke Masjid

without comments

Seorang teman pernah mengatakan bahwa tantangan sholat ke masjid itu cuma dua. Tantangan pertama adalah mengalahkan rasa malas. Tantangan kedua adalah mengalahkan rasa ujub dan riya . Ujub artinya merasa lebih baik dari orang lain, termasuk juga  merendahkan orang lain yang tidak pergi sholat ke masjid. Riya artinya mengharapkan dipuji oleh orang lain.

Bagi laki-laki muslim, sholat fardhu wajib dilakukan di masjid secara berjamaah.  Meskipun demikian, sholat fardhu yang dilakukan di rumah tetap sah (Baca: Laki-Laki Wajib Shalat Berjamaah di Masjid, Benarkah?).

Saya pribadi selalu mengusahakan sholat fardhu di masjid, meskipun beberapa kali sering timbul rasa malas (seharusnya tidak boleh ya).

Kembali ke tantangan yang ditulis oleh teman saya tadi. Dia mengatakan bahwa kebanyakan dari kita mampu mengatasi tantangan nomor  satu. Rasa malas bisa dibuang dengan memotivasi diri. Ayo, jangan malas

Tetapi, katanya, tidak banyak orang yang mampu melewati tantangan nomor dua.  Perasaan ujub dan riya jika muncul di dalam hati dapat membuat amalan kita sia-sia, karena tidak diterima oleh Allah SWT.

Perasan ujub sering timbul pada manusia, termasuk ahli ibadah. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, merasa lebih sholeh, lebih alim, lebih islami, dan sebagainya. Orang lain yang tidak berbuat seperti dia dipandangnya kurang sholeh, kurang taat, dan lebih rendah dari dirinya. Orang muslim yang tidak sholat ke masjid dianggapnya lebih rendah dari dirinya yang rajin sholat ke masjid.

Perasaan ujub membuat manusia tinggi hati, lama-lama menjadi angkuh dan sombong. Merasa Allah menilainya lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak sholat ke masjid.

Perasaan riya adalah ingin dipuji dan disanjung. Sholat ke masjid dipamer-pamerkan supaya orang lain menilai dirinya ahli ibadah, orang sholeh, orang paling taat agama, dan sebagainya.

Kalau rasa malas bisa dikalahkan, tidak demikian dengan rasa ujub dan riya. Saya punya dua cara menghilangkan ujub dan riya itu. Jika anda pergi sholat ke masjid, maka  janganlah menengok kiri kanan ke arah tetangga supaya ingin dilihat,  terus saja jalan ke depan ke arah masjid. Konsentrasikan saja pikiran ke masjid.  Cara kedua adalah tidak perlu memakai asesoris seperti peci, sarung, kupiah, jika pergi ke masjid. Berpakaian biasa saja sehingga orang lain tidak tahu kalau kita mau ke masjid. Insya Allah dengan kedua cara tersebut kita dijauhi darai rasa ujub dan riya sehingga amalan kita menjadi tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT.

Saya teringat sebuah pepatah yang menyatakan  penyakit ahli ilmu adalah sombong dan penyakit ahli ibadah adalah riya. Semoga kita dijauhkan dari keduanya. Amiin.

Written by rinaldimunir

June 11th, 2019 at 3:32 pm

Posted in Agama,Renunganku

THR. Berterimakasihlah kepada Gerakan Kaum Buruh

without comments

Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang segera tiba, kata apa yang paling sering disebut oleh kaum pekerja? Ya, THR, atau Tunjangan Hari Raya. THR adalah kebahagiaan tersendiri bagi seluruh pekerja di tanah air. Kaum pekerja itu adalah PNS, pegawai swasta, buruh, satpam, supir perusahaan, bahkan pembantu rumah tangga.

THR merupakan rezeki tambahan para pekerja di tengah himpitan ekonomi menjelang hari raya. Menjelang lebaran kebutuhan masyarakat umumnya bertambah untuk membeli berbagai kebutuhan lebaran, termasuk biaya buat mudik. Maka, THR selalu didamba menjelang lebaran. Saat ini THR wajib diberikan oleh Pemerintah, perusahaan, atau institusi yang mempekerjakan orang. Besar THR bervariasi, minimal satu bulan  gaji. Beberapa perusahaan ada yang memberikan kurang dari satu bulan gaji tergantung kemampuan perusahaan tersebut.

Ketahuilah, THR hanya ada di Indonesia, kita tidak menjumpai pemberian THR di negara lain, apalagi di negara-negara non-muslim sekalipun yang masyarakatnya merayakan hari raya agama seperti Natal, Dipawali, Waisyak, dan sebagainya. Tidak ada THR di sana.

Menurut cerita seorang teman, para ekspatriat yang bekerja di Indonesia sering terheran-heran dengan THR buat pegawai lokal, karena di negara mereka tidak ada THR. Memang di negaranya ada bentuk hadiah saat Natal, tetapi dalam bentuk barang, dan nilainya tidak sebesar gaji satu bulan. Tidak ada THR di negara asing karena mereka menerima gaji tidak hanya 12 kali selama satu tahun, tetapi bisa lebih dari 12 kali. Di Indonesia, beberapa perusahaan swasta dan BUMN memberi gaji pegawainya juga lebih dari 12 kali dalam satu tahun dalam bentuk bonus atau insentif. Sedangkan di lingkungan pegawai negeri sipil dikenal pula gaji ke-13 menjelang tahun ajaran baru. Jika ditambah dengan THR maka PNS mendapat 14 kali gaji dalam satu tahun.

Kewajiban memberi THR di Indonesia memiliki sejarah panjang. Sejarah THR dapat dibaca dari tulisan Sejarah Gerakan Buruh di Balik Kewajiban THR. Ternyata organisasi kaum buruhlah yang pertama kali menginisiasi kewajiban pemberian THR. Pada tahun 1950-an situasi ekonomi sangat sulit, harga barang kebutuhan sangat tinggi. Kaum buruh terjepit di tengah kemiskinan absolut dengan upah rendah tetapi kebutuhan hidup terasa mahal, apalagi menjelang lebaran.

Saya kutip tulisan dari artikel tersebut:

“Everett Hawkins, dalam artikelnya “Labour in Developing Economics” (1962), menggambarkan kemiskinan yang dialami para buruh pada dekade 1950an “[…] bukan hanya upah yang rendah tapi juga harga 19 bahan pokok di Jakarta naik 77 persen dari tingkat awal 100 persen pada 1953 menjadi 177 persen pada 1957, dan kemudian naik makin cepat, dari 258 pada 1958 menjadi 325 pada akhir 1959.”

Menurut Jafar, “Sepanjang 1951-1952 masih belum ada aturan atau keputusan resmi pemerintah menyangkut THR—baik soal kepastiannya sebagai salah satu hak buruh (bukan semata-mata hadiah) maupun soal isi besarannya.” Dengan mengutip artikel K. Gunadi, “Hadiah Lebaran Dalam Rangka Kebijaksanaan Pemerintah” (1957), Jafar menyebut THR di masa itu dipandang sebagai “pemberian yang bersifat sukarela dan yang tidak dapat dipaksakan”.

Sebagai organisasi buruh terbesar masa itu, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), tulis Jafar, “teguh dalam memimpin perjuangan gerakan buruh demi terpenuhinya tuntuan akan THR.” Dalam Sidang Dewan Nasional II di bulan Maret 1953 di Jakarta, SOBSI, organisasi buruh yang belakangan dicap PKI ini, mulai menyuarakan: “Pemberian tundjangan hari raya bagi semua buruh sebesar satu bulan gadji kotor.”

Karena THR kala itu hanya dianggap sukarela, organ buruh yang lain tak terlalu keras menuntut. Melihat sulitnya perekonomian pada era 1950an, keberadaan THR akan membuat hati buruh tentram. SOBSI tahu benar hal itu. Dan SOBSI, dari waktu ke waktu, terus mendesak pemerintah untuk mewujudkan THR.

Semuanya tidak serta merta terpenuhi seperti dituntut serikat buruh (termasuk SOBSI). “Apa yang terjadi muncul perlahan dan bertahap, sesuai dengan desakan tuntutan gerakan buruh dan kehati-hatian politik pemerintah dalam menghadapi kekuatan sosial gerakan buruh,” tulis Jafar.

Perlu juga dicatat, bahwa pada 1954, sudah ada “Persekot Hari Raja” yang kala itu hanya bisa dinikmati pegawai negeri. Persekot itu keluar dengan dalil Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1954, tanggal 19 Maret 1954, tentang Pemberian Persekot Hari Raja Kepada Pegawai Negeri.

Karena istilahnya persekot, uang itu hanya bersifat uang muka pinjaman kepada pegawai dan setelahnya harus dikembalikan. Menurut pasal 6 ayat 1 PP tersebut, pengembalian “dilakukan dalam enam angsuran dengan memotong gaji pegawai yang bersangkutan tiap-tiap bulannya.”

Sedangkan untuk para buruh, ada istilah “Hadiah Lebaran” berdasar Surat Edaran nomor 3676/54 yang dikeluarkan Menteri Perburuhan S.M. Abidin dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I yang berkuasa dari 1953 hingga 1955. Hal itu dilakukan guna meredam tuntutan buruh yang diberikan berdasarkan sukarela oleh pihak perusahaan. Besarannya, “seperduabelas dari upah yang diterima buruh dalam masa antara lebaran sebelumnya dan yang akan datang, sekurang-kurangnya 50 rupiah dan sebanyak-banyaknya 300 rupiah.”

Pada 1955, 1956, 1957, 1958, surat edaran itu sama isinya. Sayangnya surat edaran tidak punya kekuatan hukum. Surat itu hanya beredar saja dan sama sekali tidak menenangkan perut buruh di kala lebaran. Menurut Jafar, surat edaran hanyalah jalan tengah pemerintah saja. Untuk itulah serikat buruh, terutama SOBSI, terus bergerak.

Titik cerah makin terlihat ketika Ahem Erningpraja menjadi Menteri Perburuhan dalam Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 hingga 6 Maret 1962). Meski besarannya belum sebulan gaji kotor, THR wajib dibayarkan dan menjadi hak buruh dengan masa kerja sekurang-kurangnya 3 bulan kerja. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perburuhan nomor 1/1961 yang dikeluarkan oleh Ahem.”

*******************

Sekarang tidak hanya buruh saja yang mendapat THR, tetapi THR adalah hak semua pekerja tanpa terkecuali. Kepada kaum buruh kita perlu berterima aksih atas perjuangannya.

Meskipun pembantu rumah tangga (atau asisten rumah tangga) tidak termasuk pekerja di dalam perusahaan, namun majikan yang mempekerjakan pembantu, supir, satpam juga diminta memberikan THR bagi pekerja di rumahnya.

Saya pribadi sudah menyiapkan THR buat pembantu saya di rumah, termasuk juga buat pengemudi ojek yang selalu rutin antar jemput anak saya ke sekolah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Written by rinaldimunir

June 1st, 2019 at 10:33 am

Posted in Indonesiaku