if99.net

IF99 ITB

Archive for May, 2019

Puasa Makan Gorengan

without comments

Pada bulan Ramadhan ini camilan yang sangat menggoda untuk buka puasa adalah gorengan (bakwan, bala-bala, gehu, comro, tempe mendoan, goreng pisang, dll). Sepanjang jalan menuju rumah di Antapani bertebaran penjual gorengan. Pada bulan puasa orang-orang tampaknya lebih suka berbuka dengan makanan yang asin-asin daripada yang manis-manis.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Saya sangat suka- makan bala-bala (bakwan khas di Bandung). Bala-bala adalah jajanan gorengan yang terbuat dari tepung terigu dengan campuran kol, wortel, dan bumbu-bumbu. Bala-bala dimakan dengan cabe rawit dalam keadaan masih panas, hmmm… nyam… nyam. Saya bisa makan sampai 4 buah bala-bala.

Tapi, kesenangan makan gorengan itu adalah riwayat tahun lalu. Tahun ini saya “puasa” makan gorengan semacam bala-bala dan sejenisnya. Akibat sering makan gorengan kolesterol saya naik. Sekarang saya lagi diet makanan berminyak terutama gorengan itu. Gorengan memang enak, tetapi dampak negatifnya juga besar. Di dalam gorengan tersimpan senyawa lemak trans yang memicu kolesterol jahat (LDL). Kita tahu sendiri minyak goreng dipakai oleh pedagang berkali-kali untuk menggoreng. Dikutip dari sini, minyak goreng jika dipanaskan pada suhu tinggi akan mengubah struktur kimiawi lemak, sehingga nantinya akan lebih sulit untuk dicerna oleh tubuh. Alhasil, akan timbul berbagai efek buruk bagi kesehatan akibat kandugan lemak trans. Mulai dari meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, hingga obesitas (Lebih lengkap baca: Hati-Hati, Ini 5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Akibat Sering Makan Gorengan).

Oleh karena itu, saya sekarang menghindari makanan yang digoreng, Kalaupun terpaksa ya sekali-sekali saja. Kalau ingin menggoreng sendiri saya beli minyak goreng dengan kadar asam lemak jenuh yang rendah, misalnya minyak dari biji bunga matahari (canola), minyak kedele, atau minyak jagung.

Pada bulan puasa ini saya juga berhenti membeli camilan gorengan yang menggoda itu. Setiap pulang ke rumah saya pasti melewati banyak pedagang kaki lima yang menjajakan hidangan buka puasa, antara lain gorengan. Menggoda selera, tetapi kesehatan adalah nomor satu.

Written by rinaldimunir

May 10th, 2019 at 3:06 pm

Posted in Makanan enak

Membiasakan Sejak Kecil

without comments

Sudah puluhan tahun saya menjalani ibadah puasa Ramadhan setiap tahun, alhamdulillah selalu lancar, tidak pernah batal kecuali sakit. Menjalani puasa sebulan penuh tidak ada rasa berat, malah sudah terbiasa. Hanya hari pertama dan kedua saja tubuh memerlukan penyesuaian, selebihnya biasa saja.

Sejak kecil kebanyakan orangtua (muslim) sudah mendidik anak-anaknya untuk berlatih berpuasa. Mula-mula puasa setengah hari, lalu kalau sudah kuat puasa seharian penuh. Setiap tahun demikian hingga tumbuh dewasa, maka berpuasa menjadi hal yang terbiasa, tidak lagi ibadah yang berat.

Membiasakan anak-anak melakukan hal-hal yang berulang-ulang sejak kecil adalah metode pendidikan karakter yang baik. Karakter itu akan melekat hingga dewasa dan menjadi sebuah habit (kebiasaan). Contoh sederhana saja misalnya menyuruh anak gosok gigi dua kali sehari, setiap pagi dan setiap akan tidur, melipat selimut setiap bangun tidur, berdoa sebelum makan, mengucapkan salam setiap masuk rumah, membaca buku, dan sebagainya.  Jika kebiasaan ini sudah dilakukan sejak kecil, maka lama-lama akan menjadi kebiasaan dan terbawa hingga besar. Semua kegiatan yang berulang-ulang akan menjadi program yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar dan akan berjalan secara otomatis.

Orangtua sering mengeluh anaknya malas membaca buku, apalagi buku pelajaran, malas sholat, malas mengaji, malas membersihkan kamar tidur, dan sebagainya. Ya itulah karena tidak dilatih sejak kecil dan tidak menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Seperti sebuah peribahasa mengatakan, alah bisa karena biasa, yang artinya apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka tidak terasa lagi kesukarannya atau sudah memiliki pengalaman praktek yang lebih baik.

Masa kecil adalah masa emas untuk menanamkan pendidikan karakter. Saat kecil anak mudah dibentuk sesuai dengan keinginan orangtuanya. Otak anak-anak belum berkembang, maka saat itu otak anak bisa dilatih untuk menanamkan kebiasaan yang baik. Sebuah peribahasa mengatakan kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terubah tidak , yang artinya satu kebiasaan yang dilakukan sejak kecil akan menjadi tabiat yang sukar diubah.

Saya bersyukur orangtua saya sejak kecil sudah mendidik saya sholat, puasa, mengaji, jujur, berkata sopan, dan sebagainya. Sekarang semua didikannya membekas dan menjadi kebiasaan hingga sekarang. Kalau belum sholat saja di dalam perjalanan atau acara yang memakan waktu lama saya sudah resah dan gelisah, sepertinya ada yang kurang. Berkata kurang sopan saya merasa bersalah. Apalagi bulan puasa seperti sekarang, mana pula terpikir rasa berat menjalankannya.

Alhamdulillah semua pendidikan baik yang saya dapatkan dari orangtua saya wariskan pula ke anak-anak. Sejak kecil anak-anak saya sudah berpuasa, sholat lima waktu, mengaji setiap hari, dimasukkan ke sekolah mengaji (TPA), dan sebagainya. Tujuannya agar semua yang dilakukannya sejak kecil akan menjadi habit ketika dewasa.

Written by rinaldimunir

May 7th, 2019 at 10:23 am

Posted in Pendidikan

Kejutan PKS dan PSI pada Pemilu 2019

without comments

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 membawa berbagai kejutan kejutan. Beberapa partai naik suaranya (Nasdem, PKS, Gerindra), beberapa partai lagi turun (PPP, Demokrat, PBB), demikian menurut hasil hitung cepat (quick count). Satu kejutan yang masih menjadi perbincangan pengamat politik adalah naiknya perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan tidak lolosnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Senayan. Padahal PKS diprediksi oleh lembaga-lembaga survey tidak akan lolos ambang batas 4% akibat konflik internal dan berbagai kasus miring yang mendera kadernya. Sebaliknya, PSI dianggap oleh banyak orang sebagai partai harapan baru karena berisi anak-anak muda millenial sehingga punya kans besar untuk meraih suara dari kalangan anak muda.

Kenyataannya tidaklah demikian. PKS malah melejit raihan suaranya, dari semula sekitar 6% pada Pemilu 2014 menjadi sekitar 8% hingga 9% pada Pemilu tahun ini. Sebaliknya PSI malah hanya mendapat sekitar 2% suara nasional sehingga sangat sulit untuk lolos ke DPR.

Apa yang membuat kejutan ini terjadi? Saya akan membuat analisis amatiran di bawah ini.

PKS dan PSI dapat dianggap dua partai yang berbeda ideologi dan arah politik. PKS adalah partai Islam, tergabung ke dalam koalisi Capres-cawapres Prabowo-Sandi. PSI adalah partai nasionalis dan tergabung ke dalam koalisi Jokowi-Amin. Selama kampanye Pemilu sangat terihat kedua partai ini berbeda secara diametral. PSI sangat sering menyerang PKS terkait ideologinya itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan salah satu petinggi partainya pernah mengatakan “haram” berkoalisi dengan PKS baik di legislatif maupun di Pilkada kelak. Para petinggi PKS menanggapi serangan itu dengan kalem saja, mereka menyatakan buktikan dulu PSI masuk ke Senayan baru kemudian bermanuver.

Sebenarnya publik menaruh harapan kepada PSI sebagai pendatang baru. Ada harapan partai ini membawa angin baru di tengah kejenuhan terhadap partai-partai lama yang selalu terlilit kasus-kasus korupsi dan asusila. PSI diisi oleh anak-anak muda. Para calegnya bersih dari kasus korupsi. Anak-anak muda generasi milenial adalah kaum terpelajar, rasional, melek internet, dan aktif di media sosial. Merekalah pangsa potensial pemilih PSI.

Namun sayang seribu sayang, partai ini membuat posisitioning yang melahirkan resistensi dari mayoritas muslim di tanah air. Dalam berbagai kesempatan partai ini mewacanakan akan melarang poligami di Indonesia dengan alasan poligami lebih sering merugikan perempuan. Harapannyaadalah kaum perempuan akan simpati dengan wacana ini sehingga akan memilih PSI. Namun, partai ini lupa jika mereka hidup di Indonesia yang masih menjunjung tinggi ajaran agama. Publik mengaitkan larangan poligami dengan ajaran Islam. Di dalam agama Islam poligami itu dibolehkan tetapi dengan syarat-syarat yang ketat. Meskipun tidak semua laki-laki muslim setuju poligami, tetapi mewacanakan penentangan terhadap poligami dianggap menentang syariat Islam. Hal ini dipandang sebagai persoalan serius karena menyentuh ajaran agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia. Sudah dapat diduga publik pun mulai menentang partai baru ini.

Belum berhenti dengan isu poligami, PSI terus mewacanakan isu sensitif lainnya seperti menolak perda-perda yang mereka sebut Perda Syariah. Perda syariah dituding oleh PSI melahirkan diskriminasi terhadap minoritas. Meskipun soal diskriminasi ini masih dapat diperdebatkan, namun Perda-Perda yang dinilai berbau syariah itu sebenarnya adalah kearifan lokal di masyarakat setempat yang dijadikan undang-undang. Misalnya Perda yang mengatur penutupan rumah makan selama siang hari pada bulan puasa, Perda yang mengatur penggunaan busana muslimah bagi perempuan muslim di Aceh, dan sebagainya. Hal ini mirip seperti Perda di Bali yang melarang kegiatan selama Hari Raya Nyepi.

Namun, sikap penolakan PSI terhadap Perda Syariah itu diartikan oleh publik yang mayoritas muslim sebagai penolakan terhadap syariat Islam. PSI dipesepsikan sebagai partai anti-syariah, partai anti Islam, dan sebagainya. Cap sebagai partai anti-syariah semakin bertambah ketika publik mengaitkan partai ini dengan pendukung Ahok yang dianggap penista agama, karena memang para pendiri PSI dulunya adalah komunitas Teman Ahok. Jika potitioning PSI terus seperti itu, maka publik akan selalu mengingatnya sebagai partai anti-syariah.

Positioning yang salah tempat dan waktu itu akibatnya fatal. PSI mendapat penolakan oleh kaum mayoritas. Menariknya lagi, kaum minoritas pun tidak banyak yang memilih PSI, sebab mereka telah melabuhkan pilihannya kepada partai nasionalis lain seperti PDIP dan Nasdem. Maka, wajar saja raihan suara PSI pada Pemilu 2019 jebok. Hanya di kota-kota besar suaranya lumayan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Di kota-kota ini PSI dipilih oleh kelompok terpelajar seperti mahasiswa. Di kota Bandung suara PSI cukup lumayan di daerah kos mahasiswa seperti di kecamatan Coblong (Dago).

Bagaimana dengan PKS? PKS mendapat “rezeki” peningkatan suara karena lima faktor. Faktor pertama adalah PKS tidak lagi mengangkat isu-isu keislaman dalam kampanyenya. Tetapi mereka “menjual” isu-isu populis seperti SIM seumur hidup dan penghapusan pajak motor. Isu-isu ini meskipun sangat sulit direalisasikan kelak, namun kalangan menengah ke bawah yang menempati porsi terbesar pemilih tertarik dengan isu ini. Motor identik dengan rakyat kecil. Kader-kader PKS yang terkenal militan berhasil mensosialisasikan isu-isu ini ke tengah masyarakt melalui baliho-balihonya yang hamoir semuanya bertuliskan SIM seumur hidup dan pajak motor dihapuskan.

Faktor kedua adalah dampak isu-isu besar nasional yang lahir selama dan pasca Pilkada DKI, yang dianggap tidak memberi keadilan bagi ummat Islam. Aksi-aksi massa spektakuler di Monas, yang dikenal sebagai aksi 212 dan demo berjilid-jilid sesudahnya mempengaruhi persepsi umat Islam terhadap pemerintah. Isu-isu pun berkembang di tengah masyarakat seperti Pemerintah  mengkriminalisasi ulama,  menangkap para tokoh dan aktivis Islam, dan lain-lain.

Sejak aksi 212 hingga sekarang bermunculan tokoh-tokoh medsos yang sering mengeluarkan postingan kontroversial dan melecehkan rasa keberagamaan umat Islam, antara lain Ade Armando, Abu Janda, Deny Siregar, dll.  Hal itu ditambah lagi dengan kasus-kasus seperti pembakaran bendera tauhid dan ormas tertentu yang mempersekusi ustad beken. Muara dari kekecewaan itu adalah partai-partai pendukung Pemerintah pun dijauhi. Pemilih muslim yang kecewa dengan Pemerintahan Jokowi kemudian melihat PKS adalah partai yang paling dekat dengan sisi emosional mereka. Memang ada partai-partai Islam lain seperti PPP, PKB, dan PBB, namun pemilih muslim ini melihat ketiga partai ini bagian dari koalisi Jokwowi sehingga mereka tidak mau memilihnya. PKS-lah yang mendapat berkah dari kekecewaan pemilih muslim ini.

Faktor ketiga yang meningkatkan suara PKS adalah kasus hukum yang menimpa Ketum PPP, Rommaharmuzzy alias Rommi. Rommy ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap pengaturan jabatan di Kemenag. Kasus Rommy ibarat tsunami politik bagi PPP karena terjadi sebulan sebelum Pemilu. Sebagian pemilih PPP yang kecewa dengan aib yang mencoreng nama partainya mengalihkan dukungannya kepada partai Islam lain seperti PKB, PAN, dan PKS. Jadi, PKS ikut mendapat limpahan suara dari pemilih PPP yang kecewa itu.

Faktor keempat adalah limpahan suara dari pemilih loyal PBB. Semula ada harapan PBB yang dinakhodai oleh Yusril sebagai harapan baru umat Islam. Namun, tindakan Yusril yang membawa PBB mendukung capres Jokowi berseberangan dengan suara akar rumput kader partainya yang sebagian besar mendukung Prabowo. Pertentangan antara elit PBB dengan kaum akar rumput menghasilkan penolakan terhadap PBB. Akar rumput PBB yang kecewa kemudian mengalihkan suaranya ke partai Islam pendukung Prabowo, yaitu PKS dan PAN.

Faktor kelima adalah video Ustad Abdul Somad (UAS) yang viral menyatakan hanya ada dua partai yang masih konsisten menolak legalisasi miras dan LGBT, yaitu PKS dan PAN. Seperti diketahui, Abdul Somad adalah ustad paling populer saat ini.  UAS mempunyai jutaan jamaah pengajian di seluruh tanah air. Kata-katanya selalu didengar orang. Peredaran video yang viral itu ikut andil menaikkan suara PKS dan PAN. Menurut hasil hitung cepat malah PKS adalah peraih suara terbanyak di propinsi Riau.

Begitulah analisis pengamat amatir terhadap kejuatan kedua partai ini, PKS dan PSI. Boleh setuju atau tidak. Namanya juga orang Informatika merangkap pengamat amatiran politik. ?

Written by rinaldimunir

May 3rd, 2019 at 2:16 pm

Posted in Indonesiaku