if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2019

Jamu Tol*k An*in, Obat Sapu Jagat

without comments

Di rumah saya selalu menyediakan jamu Tol*k Ang*n (sengaja saya samarkan namanya supaya tidak dianggap iklan). Jika saya masuk angin, perut kembung, badan hangat, nggak enak badan, pusing, segera saya minum itu jamu. Alhamdulillah ampuh. Tidak lama kemudian badan saya enakan lagi. Obat sapu jagat, begitu sebutan untuk jamu itu, karena dapat digunakan untuk penyakit yang saya sebutkan di atas. Padahal bahan bakunya hanya jahe dan madu tetapi komposisinya pas. Memang jahe itulah zat aktifnya yang membuat badan terasa enak. Ditambah lagi dengan madu yang sudah disebutkan di dalam ASl-Quran sebagai obat  dari segala obat.

Saya punya pengalaman tidak terlupakan dengan jamu tersebut. Pernah waktu saya naik haji tahun lalu, dalam perjalanan dari Masjid Bir Ali menuju Mekah untuk umrah, saya masih berpakaian ihram, hanya itu yang saya pakai, badan dan perut sedikit terbuka. Bus pakai AC. Kalau sudah seperti itu kondisinya gampanglah saya masuk angin. Perut saya kembung dan keras. Masuk angin. Di dalam bus yg melaju di jalan tol perut saya melilit sakit. Mau berhenti tidak tahu kapan berhenti itu bus. Mekkah masih jauh. Lima jam lagi.

Bus akhirnya berhenti di sebuah rest area. Jangan bayangkan seperti rest area di Indonesia. Kecil. Saya cari warung atau toko yang menjual jamu Tol*k Ang*n di sana. Tidak ada. Saya lupa ini bukan di Indonesia yang segalanya ada. Melihat saya yang kebingungan, pak ustad pembimbing haji bertanya,mau beli apa. Saya jawab jamu tersebut. Oh, saya bawa, katanya. Diberinya saya satu. Segera saya minum. Beberapa menit kemudian saya mulai buang angin berturut-turut. Perut saya kempes dan enakan lagi.

Sejak kejadian di Mekkah tsb saya selalu sedia jamu Tol*k Ang*n di rumah maupun kalau bepergian ke luar kota. Di dalam tas saya selalu saya sediakan jamu tersebut. Pernah saya coba merek yang lain lagi karena di warung kosong, tetapi tidak cocok. Tadi siang anak saya masuk angin dan muntah, setelah minum jam Tol*k Ang*n jadi segar lagi.

Nenek moyang kita yang menemukan jamu memang hebat ya.

 

Written by rinaldimunir

March 26th, 2019 at 4:10 pm

Posted in Pengalamanku

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

2019, Tahun Hilangnya Akal Sehat

without comments

Tahun 2019 adalah tahun yang melelahkan pikiran anak bangsa. Sebentar lagi kita akan melaksanakan Pilpres dan Pileg secara serentak, tetapi pertentangan di tengah masyarakat mengenai Pilpres masuk hingga ke ranah privat. Banjir kiriman berita hoaks, kata-kata dan gambar hasutan, serta ujaran kebencian masuk ke ponsel kita. Pendukung kedua kubu 01 dan 02 perang kata-kata untuk membela jagoannya sambil mendegradasikan lawannya.

Memang pemilu kali ini ada pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg, meliputi anggota DPR, DPRD Propinsi, D{RD Kota/Kabupaten, dan DPD), tetapi Pileg tenggelam oleh hiruk pikuk Pilpres. Masyarakat lebih memperhatikan Pilpres ketimbang Pileg.  Hingga hari ini saya, dan mungkin juga publik seperti anda, tidak pernah tahu atau malas mencari tahu tentang calon legislatif yang akan dipilih. Jika sampai hari H demikian kondisinya, maka Pileg akan mundur seperti Pemilu dua periode sebelumnya, yaitu menusuk lambang partai ketimbang meusuk foto caleg.

Pilpres hanya diikuti oleh dua pasang calon (paslon), Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf, namun masyarakat sudah terlanjur terbelah karena mendukung salah satu paslon. Masalahnya dalam mendukung jagoannya, seringkali pendukung terlalu berlebihan alih-alih kebablasan. Sudah tidak rasional lagi bicaranya.

Marilah kita lihat dua kasus berbeda, masing-masing pada setiap kubu 01 dan 02. Pendukung 01 (Jokowi-Ma’ruf) terlalu jumawa dalam membanggakan keberhasilan Jokowi membangun proyek infrastruktur seperti jalan tol. Saking jumawanya mereka mengancam masyarakat yang tidak memilih Jokowi dilarang lewat jalan tol yang dibangun oleh Jokowi. Menurut saya ini pikiran kekanak-kanakan, Kenapa pakai larang melarang segala? Jalan tol itu dibangun dengan uang rakyat, bukan dibangun oleh uang pribadi Jokowi. Maka, siapapun rakyat boleh melewatinya. Membangun proyek infrastruktur adalah kewajiban pemerintah, siapapun presidennya. Jika sampai larang melarang begitu, nanti akan ada serangan balasan dari kubu 02 yang melarang pendukung 01 melewati jalan tol yang dibangun pada era Soeharto atau era SBY. Kacau bukan?

Sekarang kita lihat pula kasus yang irasional pada pendukung 02 (Prabowo-Sandi). Baru-baru ini beredar video viral tiga orang ibu-ibu di Karawang yang mengatakan jika Jokowi menang maka adzan akan dilarang. Lalu video yang sejenis di tempat lain mengatakan jika Jokowi menang maka pernikahan sejenis akan diizinkan. Menurut saya pernyataaan pendukung 02 ini jelas tidak masuk akal. Mana mungkin adzan akan dilarang di negara yang penduduknya mayoritas muslim? Cari mati itu namanya, sebab presiden yang demikian akan berhadapan dengan ratusan juta umat Islam. Tidak mungkinlah Jokowi melarang adzan jika dia menang. Begitu pula, tidak akan mungkin pernikahan sejenis akan dilegalkan di Indonesia yang masyarakatnya masih menjadikan agama sebagai pegangan hidup. Agama manapun melarang pernikahan sejenis. Indonesia tidak akan seperti Eropa yang mengizinkan pernikahan sesama lelaki atau sesama perempuan. Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia adalah tameng terkuat yang akan menentangpernikahan sejenis maupun  LGBT sampai kapanpun karena haram hukumnya.

Masih banyak lagi berita hoaks yang beredar di ruang privat kita dari kedua pendukung capres. Tujuannya satu, menjatuhkan citra lawan dengan fitnah yang keji atau memberi ancaman jika tidak memilih paslon tertentu. Inilah yang saya sebut sudah tidak rasional lagi aksi dukungan dari kedua kubu. Sudah hilang tingkat kewarasannya demi membela jagoannya. Fanatisme yang berlebihan dari pendukung capres telah melunturkan akal sehat. Apa saja mereka sampaikan untuk memanipulasi keadaan. Banyak orang yang gerah dan tidak nyaman dengan kondisi panas seperti ini. Mereka berharap Pilpres cepatlah berlalu. Sudah tidak sehat lagi . Sudah hilang akal sehat.

Written by rinaldimunir

March 15th, 2019 at 2:45 pm

Posted in Indonesiaku

Pentingnya Sering Minum Air Putih

without comments

Saya mendapat kiriman dari seorang teman sebuah berita tentang wafatnya salah satu ahli geologi Indonesia, Rovicky Dwi Putrohari (Alumni Fisika UI). Beliau meninggal dunia karena ada masalah dengan ususnya. Tahun 2016 berliau pernah menulis tentang penyakit ususnya itu, yang disebabkan oleh kurang minum air putih. Berikut tulisannya yang berjudul Allah mengingatkan saya tentang air.

Saya menuliskan tentang air tapi saya malas minum *air putih.* Akibatnya saya ditegur untuk mengamalkan ilmu tidak hanya dibagi tapi juga dipakai sendiri.

Saat ini saya baru saja operasi menyambung usus besar akibat _*”sigmoid diverticulosis”*_ salah satu akibat kurang bagusnya mekanisme pembersihan usus.

Memang benar makanan berserat itu sangat diperlukan untuk mengikat sisa makanan dan mengantarkan ke pembuangan. Namun *air putih* sangat diperlukan sehingga membuat pup itu tidak mengeras, abrasif dan menggelontor seluruh permukaan usus dengan baik.

Penyakit _Diverticulosis_ memang tidak diketahui ahli kesehatan secara pasti penyebabnya. Namun salah satu yg terkena pada saya adalah kurangnya minum air putih. Saya cukup minum (teh tawar, jus dll) hanya menjaga utk tidak dehidrasi tapi semestinya memang harus dibarengi “air putih” utk pembersihan sisa makanan ini.

*Usus itu memang unik*

Usus tersusun dari otot yg tidak sadar, artinya usus itu berkontraksi karena sinkronisasi dengan gerakan otot lainnya. Jadi kalau anda ingin pencernaannya sehat, maka anda WAJIB berolah raga. Otot usus akan bekerja saat otot lain bekerja.

*Usus juga tidak memiliki syaraf perasa* , sehinggga ketika usus terganggu kita sepertinya tidak merasakan apapun. Dan itu yang terjadi pada saya empat bulan lalu.

Siang itu, empat bulan lalu, saya tidak merasakan apapun, namun sorenya saya sama sekali tidak dapat berdiri tegak karena sakit bagian bawah perut. Dan ketika esoknya ke dokter diperiksa memakai CT Scan saya disarankan untuk operasi esok paginya !!

Akhirnya usus saya dipotong 8cm esok harinya. Ususnya juga *belum dapat disambung*. Dan saya harus memakai “stoma”. Pembuangan pup lewat samping.

Barangkali penyakit ini salah satu *”silent killer”* yang harus kita waspadai secara serius, karena bisa muncul tanpa peringatan dini.

Saya menjalani sebagai ostomed selama 4 bulan. Nanti kapan” saya mendongeng ttg ostomed.

Empat hari lalu saya menjalani operasi kedua utk menutup “stoma” yg sudah menemani saya selama 4 bulan sebelumnya. Dan sekarang masih menjalani recovery.

Allah mengingatkan saya tentang manfaat *air putih*.

Saya pernah menulis beberapa artikel tehnis ilmiah populer dongeng geologi tentang Sumur Zam-Zam ini sudah hampir sepuluh tahun lalu. Tapi saya masih diberi peringatan Allah utk mengerti khasiat *air putih*.

Alhamdulillah,
Semoga teguran ini pertanda cintaNya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengalaman sakit (alm) Rovicky menyadarkan kita pentingnya sering minum air putih. Banyak orang yang menganggap remeh soal minuma air, jarang minum, dan setelah sakit barulah sadar telah lalai kurang minum.

Bahwa kita harus sering minum air putih untuk menjaga  badan tetap sehat sudah saya buktikan sendiri khasiatnya. Kalau saya merasa agak pusing (saya kadang-kadang memiliki tekanan darah rendah), saya langsung minum banyak air putih, beberapa saat kemudian saya merasa segar kembali. Minum air putih adalah terapi yang ampuh untuk menjaga kestabilan tekanan darah, kesehatan jantung, saluran pencernaan, dan menjaga tubuh agar tetap fit.

Sewaktu menunaikan ibadah haji tahun lalu, ustad pembimbing haji selalu mengingatkan jamaah haji agar sering minum air putih selama di Mekkah dan  Madinah. Tidak hanya untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca panas (40-50 derajat celcisu), tetapi untuk menjaga agar tubuh selalu sehat dan tidak gampang sakit.

Sejak tahun lalu sepulang haji saya selalu membiasakan diri sering minum air putih  meskipun sedang tidak haus. Pusing sedikit, langsung minum air putih. Tidak pusingpun selalu minum. Saya sudah kapok sudah tiga kali terkena penyakit ISK (Infeksi Saluran Kemih) yang sakitnya luar biasa, sampai-sampai saya berguling-guling menahan sakit yang tidak terperi di perut bagan bawah. Salah satu cara pencegahan ISK adalah rajin minum air putih untuk membuang bakteri yang menginfeksi saluran kemih. Jika ingin ginjal kita tetap sehat, banyaklah minum air pada siang hari, sedikit minum pada malam hari, dan kosongkan kandung kemih sebelum tidur, demikian tips sehat yang saya baca.

Saya menerima kiriman gambar yang sangat bagus untuk mengingatkan kita agar selalu minum pada waktu-waktu berikut: setelah bangun tidur, sebelum makan, sebelum mandi, dan sebelum pergi tidur.

Minum setelah bangun tidur berfungsi untuk membersihkan organ di dalam tubuh dengan air, lalu kotoran dan kuman di dalam organ itu akan keluar ketika kita buang air kecil.

Minum segelas air sebelum makan bertujuan untuk mengencerkan cairan di dalam saluran pencernaan sehingga makanan yang masuk menjadi lebih mudah untuk dicerna.

Minum  air sebelum mandi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah sehingga tubuh tidak kaget ketika menerima guyuran air.

Minum air sebelum tidur bertujuan untuk menjaga tubuh tetap terhidarsi, tidak kekurangan cairan selama tidur.

Semoga kita tidak lalai untuk menyuskuri nikmat Allah SWT ini berupa khasat air.

Written by rinaldimunir

March 12th, 2019 at 4:44 pm

Posted in Pengalamanku

Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

without comments

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” kepada nonmuslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Seperti dikutip dari sini ( NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim), “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, saya rasa hampir tidak pernah ada orang Islam Indonesia di dalam pergaulan sehari-hari menyebut saudaranya yang tidak seiman dengan sebutan kafir. Bangsa kita juga mempunyai tata krama dan sopan santun, mereka tidak mau menyakiti hati saudaranya sebangsa dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya. Tidak pernah, saya rasa.

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang nosmuslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam pengertian teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Tetapi ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Written by rinaldimunir

March 5th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Agama,Indonesiaku