if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2019

Bapak Penjual Ember Keliling

without comments

Seorang penjual ember dan baskom keliling lewat di dekat rumah saya di Antapani.  Penampilannya menarik perhatian saya. Hanya bersendal jepit, baju kaos yang sudah baah dengan keringat, dia membawa begitu banyak ember dan baskom berukuran besar-besar. Dua buah baskom dipegang pada masing-masing tangannya, tujuh  buah ember berukuran besar ditumpuk menjadi “topi” menutupi kepalanya, dan beberapa ember serta keranjang plastik diselempangkan di belakang punggungnya.

Berat sekali beban yang dipikulnya. Sambil berjalan kaki, dua ember di tangannya saling diadunya menghasilkan bunyi gaduh untuk menarik perhatian orang. Dia berharap ada orang yang membeli ember atau baskom itu. Dia berkeliling perumahan di Antapani menawarkan embernya.

Saya dulu pernah membeli ember besar dari mamang seperti ini. Harganya sekiitar 60 ribu. Menurut saya ember yang dijualnya sangat kuat, terbuat dari bahan karet yang kenyal. Bahkan diinjak-injak oleh anak kecilpun tidak akan pecah.

Saya tanya ini produksi ember dari mana. Penjual itu mengatatakan pabriknya di Tangerang. Dia hanya menjajakan secara keliling.

Kasihan bapak itu. Sedari tadi dia berkeliling belum ada yang laku. Ketika saya keluar rumah lagi, saya menemukannya berjalan di pinggir jalan besar, masih dengan jumlah ember yang sama.

Bapak penjual ember keliling terus mencoba peruntungan nasib. Mudah-mudahan ada orang yang mau membeli embernya sehingga dia pulang tanpa tangan hampa.  Anak istrinya tentu menunggu jerih payahnya di rumah.

Semoga lelahnya menjadi pahala, berkah dan penghapus dosanya karena mencari rezeki secara halal.

Written by rinaldimunir

February 14th, 2019 at 11:37 am

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Kebiasaanku Bila Bepergian

without comments

Saya punya beberapa kebiasaan jika bepergian ke luar kota.  Kebiasaan ini saya lakukan adalah hasil lesson learned dari kejadian apes  yang dialami orang kain, Agar kejadian yang sama tidak menimpa saya, maka saya selalu mengamalkan tiga kebiasaan di bawah ini.

Kebiasaan 1.

Kebiasaan saya kalau pergi ke luar kota adalah selalu meninggalkan SIM, STNK, dll di rumah. Saya cukup membawa KTP dan beberapa ATM. Ini untuk mengantisipasi kalau dompet hilang maka tidak seluruh kartu penting hilang.

Sabtu kemarin ketika pergi tugas mengajar ke Lampung saya tinggalkan lagi SIM dan STNK di rumah. Tapi hari Senin saya lupa memasukkannya ke dalam dompet. Alhasil, ketika bawa motor saya baru sadar ketinggalan di rumah. Sudah tangung mau balik lagi ke rumah. Sudah setengah perjalanan. Saya khawatir saja ada polisi yang razia. Jadilah saya celingak-celinguk dan waspada. Lewat jalan alternatif yang tidak ada polisinya. Nakal.

Ketika pulang kantor kekhawatiran yang sama kena razia terulang lagi. Tapi alhamdulilah tidak ada. Polisinya sibuk mengatur kemacetan saat jam pulang kerja.

Sekarang kalau pergi ke luar kota lagi saya harus pasang alarm di HP: ingat, SIM dan STNK di lemari!!! Alarm itu akan berbunyi pada hari Senin pagi.

Kebiasaan 2

Selain meninggalkan SIM dan STNK di rumah, saya juga punya kebiasaan memasukkan dua kartu ATM di dalam tas ransel setiap pergi ke luar kota (saya backpackeran). Saya punya tiga kartu ATM dari tiga bank berbeda: BNI, Muamalat, dan BSM. BNI buat penampungan gaji PNS, Muamalat dan BSM buat masa depan .

Nah, kartu ATM dan Muamalat saya selipkan di dalam tas ransel. Kartu BNI di dalam dompet. Jadi, jika dompet saya hilang atau ketinggalan, saya tidak panik kehabisaan uang buat makan atau beli tiket bus. Masih ada dua kartu ATM di dalam tas ransel. Bayangkan jika kita berada pada situasi dimana tidak kenal seorang pun di sebuah tempat, kemana mau minta uang? Oh ya, saya juga menyelipkan dua atau tiga lembar uang 10.000-an di dalam tas.

Kebiasaan ini saya lakukan berkaca dari pengalaman seorang teman, rekan saya, yang ketinggalan dompet di tempat penginapan. Dia sudah sampai di bandara tujuan, tetapi mau pulang ke rumah tidak punya uang. Setelah dia bongkar semua sudut di dalam tas ranselnya, alhamdulillah nyelip uang 3000.  Dia akhirnya bisa pulang ke rumah naik angkot.  Dia mengatakan sering memasukkan uang receh ke dalam tasnya, siapa tahu nanti diperlukan saat dibutuhkan. Ternyata memang sangat dibutuhkan saat terjepit seperti itu.

Sebuah peribahasa mengatakan jangan simpan semua telur di dalam satu keranjang. Jatuh keranjang, pecah semua telur. Simpanlah telur di dalam beberapa keranjang.

Kebiasaan 3

Kalau berada di bandara lalu KTP ketinggalan atau hilang, bagaimana? Tentuk kita akan kesulitan melakukan check-in, apalagi SIM juga sudah disimpan di rumah.

Kalau berada diluar negeri lalu paspor hilang, bagaimana? Tidak kita tidak bisa melewati imigrasi. Kepulangan tertunda, harus lapor dulu ke Kedubes.

Saya selalu memfoto semua identitas dan kartu penting: KTP, paspor, kartu NPWP, bahkan halaman pertama buku tabungan. Semua foto ada di dalam memori hp. Bukan apa-apa, jaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Memang foto KTP atau paspor tidak bisa dijadikan bukti identitas diri di bandara, tetapi sering berguna jika dianggap “pendatang haram” atau orang tidak jelas. Tunjukkan saja foto identitas tersebut bersama tiket pesawat.

Namun ada sisi praktisnya punya foto identitas penting tersebut. Seringkali pihak pengundang meminta foto kartu NPWP, halaman pertama buku tabungan, dan KTP. Buat bukti potongan pajak katanya. Atau minta foto paspor. Buat dibelikan tiket, katanya. Nah, kita kan tidak selalu bawa paspor , NPWP, buku tabungan. Tapi karena fotonya ada di hp, tinggal kirim saja pakai WA atau email via hp. Tidak repot buka laci lemari mencari dan memfotonya lagi.

Dengan teknologi internet yang sangat mudah saat ini, kita pun dapat menyimpan foto-foto itu secara otomatis di private cloud., misalnya di  onedrive atau dropbox. Kita pun dapat mensinkronkan ponsel dengan Google Photo sehingga setiap kali memotret foto langsung terunggah ke onedrive.

Written by rinaldimunir

February 7th, 2019 at 7:10 am

Posted in Pengalamanku