if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2018

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 9): Puncak Ibadah Haji, Wukuf di Arafah

without comments

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji. Berhaji tanpa wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah. Haji adalah wukuf di Arafah, dwmikian sabda Rasulullah. Oleh karena itu, menjaga kesehatan selama masa penantian wukuf adala hal yang mutlak. Sakit saat wukuf jelas merepotkan. Mungkin karena sakit yang cukup berat maka anda diangkut oleh ambulans ke Arafah, wukuf di dalam mobil ambulans. Atau, kalau pun tidak dibawa oleh mobil ambulans, mungkin anda di dalam tenda merasa sangat tidak nyaman karena badan sedang tidak fit.

Selama masa penantian di Mekkah, jamaah haji dihimbau tidak memforsir tenaga untuk beribadah ke Harom serta kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga. Satu tips kesehatan yang rutin saya lakukan adalah minum air putih sebanyak-banyaknya setiap hari. Terapi minum air putih terbukti mampu membuat badan tetap fit selama di Tanah Suci.

Tahun 2018 ini, Pemerintah Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah jatuh pada hari Senin tanggal 20 Agustus (9 Zulhijjah) dan Hari Raya Idul Adha hari Selasa  tanggal 21 Agustus 2018 (10 Zulhijjah). Ini berarti sehari lebih cepat daripada tanggal Idul Adha yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018. Perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan, karena bumi ini tidaklah datar, jadi lumrah saja terjadi perbedaan penetapan awal bulan Zulhijjah antara Saudi dan Indonesia. Tetapi, ada juga sebagian orang Indonesia yang menjadikan Saudi sebagai rujukan sehingga mereka melaksanakan puasa Arafah sama dengan waktu wukuf di Saudi. Artinya, dalam pandangan mereka, jika melaksanakan puasa Arafah pada hari Selasa maka hukumnya haram sebab hari itu sudah masuk Idul Adha. Ah, sudahlah, perdebatan semacam ini tidak perlu dibesar-besarkan.

Kembali ke cerita wukuf. Meskipun wukuf akan dilaksanakan pada hari Senin siang, namun jamaah haji Indonesia sudah berangkat ke Arafah sejak hari Minggu pagi. Hal ini dilakukan karena yang akan diangkut aalah 210.000 lebih jamaah haji, tentu tidak mungkin ke Arafah dalam waktu yang serempak apalagi jumlah bus juga terbatas. Setiap Kloter diangkut secara bergiliran.  Kloter kami, Kloter 07 JKS kebagian berangkat pada pkul 13.00 setelah Dhuhur.

Oh ya, ada juga KBIH tertentu yang tidak ikut pengaturan Pemerintah, mereka melaksanakan tarwiyah, yaitu mengikuti Sunnah Rasul dengan berangkat lebih dahulu ke Mina sebelum ke Arafah. Dikutip dari sini, Tarwiyah adalah melakukan napak tilas perjalanan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Jamaah Tarwiyah akan melakukan perjalanan dari Makkah ke Mina sejauh 14 kilometer. Lalu, setelah itu perjalanan berlanjut keesokan harinya dari Mina ke Arafah untuk bergabung dengan jamaah lainnya yang berangkat dari Makkah, langsung ke Arafah untuk menjalani wukuf.

Umumnya KBIH yang melaksanakan tarwiyah berangkat ke Mina satu hari lebih cepat daripada yang diatur oleh Pemerintah RI. Mereka berangkat tanggal 7 Zulhijjah sore ke Mina, bermalam di tenda-tenda di Mina, barulah tanggal 8 Zulhijjah sore mereka berangkat ke Arafah. Jika melaksanakan tarwiyah, maka Pemerintah RI tidak memfasilitasi transportasi dan akomodasi, semua biaya ditanggung oleh jamaah haji yang melaksankan tarwiyah, sebab mereka harus mengusahakan bus sendiri, menyiapkan catering sendiri, dll.  Selain itu, mereka harus menandatangani surat pernyataan untuk menanggung segala resiko dan bertanggung jawab atas kajadian apapun.

KBIH saya ikut pengaturan oleh Pemerintah RI saja. Dua jam sebelum waktu Dhuhur saya sudah melaksanakan mandi besar. Saya menyiapkan satu tas ransel yang akan dibawa yang berisi cadangan kain ihram, baju ganti, peralatan mandi, mie instan, dan camilan lain. Setelah sholat Dhuhur dan Ashar dijamak di mushola hotel, kami mulai memakai pakaian ihram. Selanjutnya berdiam di kamar menunggu instruksi dari Pak Ustad pembimbing untuk turun ke lobby. Duh,  perasaan saya bercampur aduk karena sebentar lagi kami akan ke Arafah. Niat harus diluruskan kembali, salah niat maka hajinya tidak mabrur. Jam 13.00 siang jamaah haji turun ke lobby hotel. Di sana ustad kembali memberikan bimbingan dan meluruskan niat berhaji. Kami jamaah haji saling berpelukan dan bahkan bertangisan meminta maaf jika selama bergaul di Mekkah dan Madinah melakukan perbuatan yang menyinggung perasaan jamaah lain. Lalu, mulailah kami bersama-sama mengucapkan doa niat haji, yaitu labbaikallah humma hajjan, yang artinya Ya Allah kupenuhi panggilan-Mu untuk berhaji. Sesaat sesudah mengucapkan niat haji itu, maka berlakulah larangan-larangan selama memakai pakaiaan ihram seperti yang pernah saya sebutkan pada tulisan tentang umrah.

Berangkatlah kami naik bus-bus yang sudah menunggu di depan hotel. Selama dalam perjalanan ke Arafah, kami tak putus-putusnya mengucapkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarika laka labbaik. Saya duduk sendiri pada kursi paling belakang.  Selama di dalam bus terbayang wajah anak dan istri di rumah. Bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk. Pada hari wukuf besok adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa kepada Allah. Saya sudah memendam doa yang akan saya sampaikan nanti di Arafah, salah satunya doa meminta kesembuhan untuk anak sulung saya.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 45 menit, sampailah rombongan bus kami di tenda yang akan menjadi penginapan kami satu hari satu malam di Arafah. Jamaah haji Indonesia di Arafah, di sektor South East Asian Pilgrims. Cuaca di Arafah sangatlah panasnya. Padang Arafah yang dulu gersang sekarang sudah mulai menghijau, banyak tumbuhan yang telah ditanam bertahun-tahun dan sudah meninggi. Lumayanlah untuk mengurangi kegerahan.

Tenda-tenda wukuf di Arafah

Jamaaah haji bergaya ketika difoto

Satu kloter menempati beberapa buah tenda. Satu tenda ukurannya cukup besar. Permadani sebagai alas duduk atau tidur terbentang di atas lantai tanah. Satu tenda ada empat kapling, dibagi untuk dua sampai tiga KBIH, atau satu tenda satu KBIH jika jamaahnya banyak. Satu kapling dapat menampung 20 orang jamaah jika tidur berjejer. Lumayan berdesak-desakan. Jamaah pria dan wanita berada di dalam satu tenda, namun jamaah wanita ditempatkan di susut agar tidak bercampur dengan jamaah haji pria. Di dalam tenda terdapat empat buah kipas angin besar yang juga menyemprotkan uap air. Namun kipas angin tersebut tidak cukup membantu menurunkan hawa yang gerah. Duh, panasnya. Apatah lagi panasnya nanti di Padang Mahsyar ya. Padang Aradah merupakan perumpamaan Padang Mahsyar, semua manusia berkumpul mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing di hadapan Allah SWT.

Suasana di dalam tenda kami

***********

Sehari sebelum wukuf terjadi peristiwa yang mencekam, yaitu badai pasir bercampur hujan yang sangat dahsyat.  Ini pertama kali saya merasakan badai pasir yang luar biasa besar di tengah gurun.

Jadi ceritanya begini. Hari Minggu sore waktu Saudi (sehari sebelum wukuf) jamaah haji Indonesia sudah berada di Arafah, sebagian juga sudah di Mina untuk mengikuti Tarwiyah.

Sore hari ketika saya akan berwudhu untuk sholat Maghrib langit di atas sana terlihat mendung. Mungkin akan hujan, pikir saya. Saat sholat Maghrib berjamaah berlangsung di dalam tenda (jam 18.30), di luar sana terdengar suara gemuruh. Angin bertiup menderu-deru seperti tornado. Listrik padam. Sholat pun menjadi tidak konsen lagi. Lama-lama kok makin keras dan mulai menggoyang-goyang tenda dan menarik-nariknya ke atas. Tenda seperti mau copot. Sangat menakutkan. Debu dan pasir berterbangan masuk ke dalam tenda. Badai pasir ini kira2 berlangsung selama 20 menit lalu berhenti. Ketika saya longok keluar, hampir semua benda sudah berantakan akibat beterbangan.

Saya kira badai pasir ini sudah berhenti. Eh, ternyata ia sedang mengumpulkan energi untuk kedua kalinya. Pukul 19.30 badai pasir datang lagi. Kali ini lebih keras dan lebih heboh lagi, lebih menakutkan daripada yang pertama. Jamaah mulai melantunkan talbiyah. Di tenda sebelah yang posisinya lebih tinggi saya dengar banyak jamaah yang menangis dan ketakutan. Listrik pun padam. Kedaaan gelap gulita dan sehingga tambah mencekam.

Tapi secara umum tidak ada jamaah yang terluka. Konstruksi tenda sepetinya dirancang tahan terhadap badai pasir yang sering melanda negara gurun. Namun merasakan sendiri berada di tengah badai pasir ini tentu pengalaman yang berbeda. Mungkin Tuhan punya cara menyambut kami dengan menunjukkan kuasanya melalui badai pasir itu. Wallahu alam.

Setelah badai behenti, saya keluar tenda untuk melihat keadaan sekitar. Olala, sandal dan bungkus makanan sudah berterbangan ke mana-mana. Pasir di mana-mana hingga masuk ke dalam tenda.  Beberapa foto setelah badai dapat dilihat di bawah ini (sumber: Okezone.com dan Viva.co.id). Badai tidak hanya di Arafah dan Mina, tetapi juga sampai ke kota Mekkah. Kiswah Ka’bah pun sampai terbuka ditiup angin yang kencang.

Foto tenda yang roboh setelah badai pasir (Sumber foto: Okezone.com)

Kondisi kiswah Kabah saat diterjang badai. (Sumber: Viva.co.id)

***********

Pagi hari tanggal 9 Zulhijjah  (20 Agutsus 2018), jamaah haji mulai bersiap-siap untuk melaksanakan wukuf. Waktu wukuf adalah  setelah adzan Dhuhur hingga terbenam matahari. Oh iya, sehari sebelum wukuf hingga hari wukuf, pasokan makanan tidak perna berhenti datang ke tenda-tenda. Catering dari Kemenag RI rutin datang untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Mie instan, biskuit, buah-buahan, air minum, yoghurt, dan lain-lain sangat berlimpah. Makanan tidak hanya datang dari Kemenag RI, tetapi juga dari dermawan kota Mekkah. Sungguh bingung menghabiskan makanan-makanan itu.

Sambil menunggu waktu wukuf tiba, jamaah haji duduk-duduk, sekedar mengobrol,  membaca Al-Quran, membaca doa, dan sebagainya. Tepat ketika waktu Dhuhur tiba, salah seorang jamaah di tenda mengumandangkan adzan. Ini berarti waktu  pelaksanaan wukuf sudah tiba. Inilah awal haji yang sesungguhnya. Kami mengatur shaf-shaf di dalam tenda untuk sholat jamak Dhuhur dan Ashar. Suasana di dalam tenda sangat syahdu dan khusu’. Selesai sholat, salah seorang ustad tampil ke depan shaf untuk mengisi khutbah wukuf. Isi khutbahnya mengingatkan tentang dosa-dosa yang telah kita perbuat, inilah saatnya kita meminta ampunan kepada Allah SWT. Diingatkan juga perumpamaan wukuf di Arafah dengan hari bekumpulnya manusia di Padang Mahsyar kelak. Saya dan jamaah lain ada yang menangis, mungkin teringatd engan banyaknya dosa yang pernah kita lakukan selama hidup ini. Seusai khutbah, jamaah haji saling berpelukan meminta maaf.

Sesudah sholat dan khutbah wukuf, masing-masing jamaah larut dengan dirinya sendiri. Waktu wukuf adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Di saat wukuf itu pintu langit terbuka, para malaikat turun ke bumi. Ada tiga tempat yang mustajab untuk berdoa, tempat di mana doa-doa dikabulkan. Yang pertama di Multazam (tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), kedua di Raudhah, dan ketiga di Arafah saat wukuf. Insya Allah doa-doa kita selama wukuf akan diijabah oleh Allah SWT. Mungkin diijabah sekarang, atau ditunda nanti. Wallahu alam. Saya  berdoa apa saja. Saya meminta apa saja. Semua doa dan permohonan yang sudah saya siapkan dari rumah saya tumpahkan di sana, terkhusus doa untuk kesembuhan anak saya yang sulung. Saya berdoa sampai menangis tersedu-sedu. Ya Allah, kabulkanlah doa-doa hamba, hamba datang ke tanah Arafah ini, memohon agar doa-doa yang saya panjatkan terbang memasuki pintu-pintu langit yang sedang membuka.

Selesai berdoa, saya habiskan waktu hingga matahari terbenam dengan membaca Al-Quran, membaca semua doa dan zikir yang tertera di dalam buku karangan K.H Miftah Farid. Janganlah abaikan masa-masa emas puncak haji ini dengan kesia-siaan. Belum tentu kita bisa datang lagi ke Arafah, karena haji hanya sekali seumur hidup. Mau berhaji lagi haru menunggu puluhan tahun. Niat saya untuk mengkhatamkan bacaan Quran selama berhahi saya teruskan di Arafah.

Menjelang sore, jamaah haji sudah berkemas-kemas untuk meninggalkan Arafah, menuju Mina sambil bermalam di Mudzdalifah. Bus-bus sudah siap menunggu di luar kampung tenda. Bus-bus ini akan akan bolak-balik dari Arafah ke Mina untuk menjemput jamaah haji. Jamaaah haji Indonesia sangat banyak, jadi tidak mungkin sekali angkut. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

December 6th, 2018 at 4:28 pm