if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2018

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 3): Di Kota Nabi, Madinah nan Barokah

without comments

Selamat datang di kota Nabi, Madinah yang penuh barokah, ahlan wa sahlan. Ya Rasulullah, saya sampai ke kota yang warganya dulu menyambutmu dan kaum muhajrin lainnya dengan ramah dan tangan terbuka.

Inilah Madinah, kota yang tenteram dan damai. Tidak perlu menempuh waktu lama dari bandara Madinah menuju hotel, dua puluh menit dengan bus sampailah kami di hotel  Taiba Arac Suites. Hotel Taiba terletak persis di samping Masjid Nabani, yaitu di balik pagar hotel, tepatnya antara pintu gerbang 16 dan pintu gerbang 17.   Sangat dekat sekali, hanya sepelemparan batu saja.

Hotel Taiba Arkac Suites, tempat kami menginap, terletak antara Gate 16 dan Gate 17

Pemerintah RI telah menyewa puluhan hotel di sekitar Masjid Nabawi. Hotel-hotel untuk pemondokan jamaah haji Indonesia di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi, paling dekat 50 meter dan paling jauh adalah 500 m. Kondisi ini sangat berbeda ketika di Mekah, hotel pemondokan jamaah haji Indonesia letaknya cukup jauh dari Masjidil Haram, paling dekat 1 km, paling jauh 7 km dari Haram (sebutan untuk masjidil haram).

Hotel-hotel di sekitar Taiba Arkac Suites.

Sesampai jamaah di hotel, petugas kloter dan ketua rombongan  langsung melakukan pembagian kamar. Satu kamar bisa diisi dengan empat hingga enam orang. Hotel Taiba sangat besar, terdiri dari 15 lantai, kamar-kamarnya sangat banyak. Hotel ini dapat menampung 15.000 jamaah haji. Hotel Taiba menjadi pemondokan jamaah dari berbagai kloter dan daerah di tanah air. Jamaah haji yang menempati hotel ini yang saya ketahui datang dari Garut, Jember, Kabupaten Musi Rawas, Tegal, Palembang, Bandung, dan lain-lain.

Satu kamar dengan empat tempat tidur

Satu persoalan di hotel di Madinah adalah tidak ada tempat untuk menjemur pakaian, padahal kita cukup lama di Madinah yaitu selama sembilan hari. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa laundry di hotel atau laundry di luar, tetapi tentu harganya cukup mahal. Alternatifnya adalah menjemur pakaian di dalam kamar mandi. Namun saya melihat jendela di sebelah tempat tidur saya bisa digeser sedikit jendelanya. Lubang-lubang jeruji di balik jendela itu ternyata bisa digunakan untuk mengaitkan gantungan jemuran. Saya membawa beberapa gantungan jemuran dari rumah. Jadilah saya dan teman sekamar bergantian menjemur pakaian di balik jendela itu. Menjemur pakaian di Madinah tidak perlu menunggu waktu lama untuk kering. Udara yang panas membuat pakaian basah cepat kering. Tiga sampai empat jam saya jemur pada siang hari sudah kering.

Karena hotel ini menampung belasan ribu jamaah haji, maka kejadian yang sering menjengkelkan adalah saat naik lift menuju lantai kamar. Usai sholat di Masjid Nabawi, ratusan jamaah haji kembali ke hotel  untuk beristirahat dan makan. Lift yang tersedia di berbagai sisi di hotel jumlahnya terbatas sementara yang mau naik ratusan orang. Maka yang terjadi adalah tumpukan jamaah yang tidak sabar untuk antri naik lift. Usai sholat Dzuhur dan Isya di Masjid Nabawi adalah saat-saat rush hour di depan lift hotel.

Pemandangan padatnya jamaah menunggu naik lift saat rush hour 

Tipikal orang Indonesia adalah  tidak mau antri atau membentuk barisan yang tertib. Mereka saling dorong untuk masuk lift terlebih dahulu. Lift bergerak menuju setiap lantai untuk menurunkan jamaah sampai lantai teratas, lalu kembali ke bawah. Terbayang kan lama sekali menunggu lift itu turun kembali ke lantai dasar. Oleh karena itu, banyak jaamah haji menunggu dulu di masjid sampai merasa antrian di lift sudah mulai berkurang, baru kemudian pulang.

Antri naik lift

Masjid Nabawi yang terletak persis disamping hotel memudahkan saya dan jamaah lain untuk setiap waktu ke sana. Cukup berjalan kaki selama 5 menit sampailah kita ke pintu masjid.  Masjid Nabawi sangat luas. Kata ustad pembimbing haji kami, dulu luas kota Yastrib (Madinah sekarang) adalah seluas masjid Nabawi sekarang. Berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi melalui pelatarannya memakan waktu setengah jam. Waktu yang cocok untuk berjalan mengelilingi  Masjid Nabawi adalah seusai sholat subuh, sore hari menjelang Maghrib, atau malam selepas Isya. Saat itu udara kota Madinah sudah mulai sejuk. Payung-payung raksasa di pelataran masjid sudah menguncup. Ketika siang hari, payung-payung itu dikembangkan agar jamaah terlindung dari panas menyengat. Payung-payung dikembangkan secara otomatis dari sentralnya usai sholat Subuh dan dikuncupkan lagi menjelang sholat Mahgrib. Sangat menarik menyaksikan detik-detik payung itu mengembang atau menguncup saat bersamaan. Jika pada siang hari kita datang ke masjid,  kita tidak dapat melihat rupa masjid secara utuh karena tertutup oleh payung-payung itu. Jadi waktu terbaik memotret masjid adalah saat payung itu menguncup.

Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.

Jamaah haji harus menghafal nomor-nomor pintu masjid dan nomor pintu gerbang agar tidak kesasar. Pintu masuk masjid banyak sekali, jadi jangan sampai lupa nomornya. Masuk dari pintu berapa dan keluar lagi melalui pintu yang sama. Jangan sekali-sekali merasa takabur “ah, gampang kok“, seringkali saya mendengar cerita jamaah yang tidak tahu arah pulang krena merasa takabur. Jadi, hati kita harus dibersihkan ya, jangan sombong atau takabur.  Dulu waktu saya umrah pintu gerbang tidak diberi nomor, hanya bangunan toilet yang diberi nomor, sekarang setiap pintu gerbang sudah diberi nomor. Hotel saya terletak di antara gerbang nomor 16 dan 17.

Saat malam hari usai sholat Isya atau sholat Subuh adalah saat yang cukup syahdu untuk  berjalan-jalan di pelataran masjid menikmati rupa Masjid Nabawi. Langit malam di atas masjid Nabawi tampak bersih tanpa awan. Tidak terlihat bintang-bintang, tetapi sepotong bulan sabit terlihat begitu indahnya.

Sepotong bulan di atas langit Madinah.

Suasana di dalam Masjid Nabawi akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri sesudah tulisan ini.

Jamaah haji berada di Madinah selama sembilan hari untuk dapat melaksanakan arbain, yaitu sholat 40 kali di Masjid Nabawi. Karena pemondokan jamaah haji hampir seluruhnya sangat dekat dengan masjid Nabawi, maka jamaah haji insya Allah dapat melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali di sana. Saya sudah menghitung sejak  check-in hotel di Madinah hingga check-out hotel, memang pas waktunya untuk 40 kali sholat wajib di Masjid Nabawi. Sholat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunnah, jadi jamaah haji tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan. Tapi kalau badan sehat usahakanlah karena kesempatan sholat di Masjid Nabawi adalah langka, tidak akan kita dapatkan kalau kita sudah pulang ke tanah air.

Selama di Madinah jamaah haji mendapat makan setiap hari dua kali sehari (makan siang dan makan malam). Pemerintah Indonesia menyediakan layangan catering haji tahun ini sebanyak 40 kali, lebih banyak daripada tahun lalu yang hanya 25 kali. Perusahaan catering haji di Maidnah dan Makkah wajib menyediakan makanan dengan menu Indonesia. Bumbu-bumbu masakan didatangkan dari Indonesia. Koki yang memasak makanan sudah dilatih oleh tim dari NHI,  sebuah perguruan tinggi bidang perhotelan di Bandung, agar bsia memasak masakan dengan menu Indonesia.

Catering haji di Madinah (nasi kotak untuk makan siang)

Catering haji diantar ke hotel tempat jamaah menginap dua kali sehari. Satu paket catering terdiri dari nasi kotak, buah segar (bervariasi, kadang apel, pir, atau jeruk), dan satu botol air mineral. Biasanya paket catering sudah sampai di hotel pukul 10 pagi untuk makan siang dan pukul 16 sore untuk makan malam. Jadi, sebelum sholat Dzuhur dan sebelum sholat Maghrib kita sudah bisa makan. Kalau jamaah ingin di tetap berada di Masjid Nabawi dari Maghrib hingga sampai sholat Isya, maka makan malam sebelum berangkat sholat maghrib ke Masjdi Nabawi sudah bisa dilakukan di hotel. Jadi, pulang dari sholat Isya dari Masjid Nabawi tinggal beristirahat (tidur) saja lagi.

Menurut saya yang merasakan catering di Madinah dan Makkah, menu catering di Madinah cenderung enak rasanya dan lebih variatif dibandingkan menu catering di Makkah. Memang soal rasa sangat subyektif pada setiap orang. Menu catering di Makkah cenderung membosankan dan kurang ada rasa (bumbu), sedangkan menu catering di Madinah lebih kaya bumbu. Menu catering di Madinah cenderung pedas, sedangkan di Makkah rasanya manis. Bagi saya yang orang Minang, saya merasa cocok dengan catering di Madinah, tetapi kurang cocok dengan catering di Makkah. Untunglah saya membawa bekal rendang dari Bandung, sehingga kalau menu cateringnya kurang cocok dengan lidah saya, maka rendang iniah sang “penyelamat” makan, he..he. Rendang padang merek Asese dikrim kakak saya dari Padang sebagai bekal haji. Saya rasa hampir setiap jamaah haji dari  setiap daerah membawa masakan khas mereka sendiri  ke Tanah Suci untuk mengantisipasi masakan yang kurang sesuai selera.

Menu makan siang dari catering haji

Untuk sarapan pagi jamaah haji harus mencari sendiri. Bekal mie instan seperti Indomie dari tanah air cukup membantu untuk sarapan pagi. Sebenarnya kita tidak perlu membawa banyak mie instan dari tanah air, sebab di Makkah dan Madinah mie instan Indomie dalam kemasan bahasa Arab banyak dijual di supermarket maupun toko-toko kelontong di sana, harganya 2 riyal (1 riyal sekiytar 4000 rupiah).

Tentu bosan dan kurang menyehatkan jika sarapan pagi selalu dengan mie instan terus. Di sekitar hotel banyak gerai yang menjual kentang goreng dan kebab khas Arab bernama shawarma. Kentang goreng dan shawarma harganya sama yaitu 5 riyal. Shawarma  isinya potongan daging ayam panggang yang dicampur dengan sayur kol yang sudah disiram dengan saus, lalu dibungkus dnegan lapisan roti tipis seperti kebab umumnya. Rasanya segar dan gurih, lebih enak jika ditambahkan saus cabe.

Pedagang shawarma (kebab Arab). Sarapan pagi dengan kebab.

Usai sholat Subuh di Masjid Nabawi jamaah haji kembali ke hotel, sebagian lagi jalan-jalan di pertokoan yang banyak terdapat di lantai dasar dan lantai basement setiap hotel, apalagi kalau bukan untuk  berbelanja. Oh iya, hampir setiap hotel di sekitar masjid Nabawi memiliki pertokoan di lantai dasar dan basement. Antara satu hotel dan hotel lain sering ada jalur bawah tanah yang menghubungkan pertokoan itu. Paling banyak toko yang menjual perhiasan emas, sajadah, peci haji, dan jam tangan. Ibu-ibu sangat senang mengunjungi toko emas, sebab emas di Madinah dan Makkah kualitasnya bagus-bagus.

Jamaah haji Indonesia dengan ciri khas kain sarungnya.

Jamah haji Indoensia mudah kita temukan di mana-mana di Madinah. Pertama jumlahnya paling banyak dibandingkan dari negara lain. Ciri khasnya adalah pakaian mereka. Jamaah haji Indonesia dikenali dari kopiahnya, baju batiknya, dan kain sarungnya.  Kebiasaan orang Indonesia, terutama kaum santri atau nahdliyin dari Jawa, yang selalu memakai sarung ketika ke masjid juga dibawa ke Tanah Suci.  Namun itulah kekhasan bangsa kita. Busana adalah salah satu ciri khas jamaah haji Indonesia (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

September 23rd, 2018 at 8:07 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 2): Dari Embarkasi Haji Bekasi Menuju Madinah

without comments

Setelah menempuh perjalanan 6 jam dari Bandung (termasuk istirahat dan makan di RM Cibening Sari, Purwakarta, akhirnya 10 rombongan bus Kloter 7 JKS sampai di Embarkasi Haji  Bekasi. Ini adalah embarkasi untuk jamaah haji dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Dulu embarkasi ini bernama Asrama Haji Pondok Gede. Kabarnya tahun depan embarkasi haji untuk jamaah haji Jawa Barat dipindahkan ke Bandara Kertajati, Majalengka. Tahun ini belum bisa di Kertajati karena belujm dibangun.

Di Embarkasi Haji Bekasi kami cukup lama menunggu untuk masuk aula dan belum bisa beristirahat di aarama. Kami harus menunggu selesainya pemrosesan kedatangan jamaah haji Kloter 6 dari Tasikmalaya. Sambil menunggu masuk aula, jamaah haji duduk-duduk saja di lorong asrama. Udara kota Bekasi saat itu terasa gerah, jamaah yang kelelahan selama perjalanan banyak yang duduk tertidur sambil terangguk-angguk. Semua jamaah haji memakai seragam batik nasional yang berwarna hijau. Seragam batik ini dipakai saat keberangkatan dan saat kepulangan. Tetapi, di Tanah Suci banyak juga jamaah haji Indonesia tetap memakai batik ini sehari-hari ketika ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Ia menjadi identitas jamaah haji Indonesia. Dengan melihat jamaah yang memakai seragam batik tersebut, maka tahulah kita jika mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air di Tanah Suci.

Duduk-duduk menunggu panggilan masuk aula

Kompleks embarkasi Haji Bekasi cukup luas. Di dalamnya terdapat asrama, masjid, aula, dan lapangan untuk manasik haji. Ada minatur ka’bah di tengahnya. Tetapi keberadaan kami di embarkasi ini hanya selama 12 jam, jadi mana sempat untuk latihan manasik haji. Jadilah ka’bah mini itu hanya untuk dipandang-pandang. Insya Allah kami akan melihat ka’bah yang sebenarnya dalam waktu beberapa hari lagi.

Embarkasi Haji Bekasi

Akhirnya, setelah rombongan Kloter 6 selesai diproses, rombongan jamaah haji Kloter 7 dipanggil untuk masuk ke dalam aula. Di dalam aula ini ada seremoni penyambutan jamaah haji, lalu serah terima jamaah haji hari PPIH Kota Bandung ke PPIH Pusat, dan beberapa pengarahan yang cukup lama. Tidak apa-apa, jamaah haji banyak yang berusia lanjut, jadi kepada mereka memang perlu pengarahan secara detil. Selain itu, jamaah haji juga diperiksa kembali kesehatannya. Khusus untuk jamaah haji perempuan yang masih usi produktif, ada lagi trs urin untuk memastikan sedang tidak hamil. Jika tenryata positif hamil, maka jamaah tersebut terpaksa dibatalkan kebeangkatannya.

Di dalam aula , menerima berbagai pengarahan dan….uang riyal.

Tibalah pembagian yang ditunggu-tunggu, he..he. Setiap jamaah mendapat living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Living cost adalah tradisi Pemerintah RI sejak dulu. Living cost diberikan sebagai bekal jamaah selama di Tanah Suci. Di Tanah Suci jamaah haji mendapat 40 kali makan (siang dan malam) berupa layanan catering haji. Tidak setiap hari jamaah haji mendapat catering makan, ada sejumlah hari tidak mendapat catering, yaitu beberapa hari sebelum dan sesudah pelaksanaan wukuf. Selain itu, jamaah tidak mendapat sarapan pagi, sarapan pagi harus dibeli sendiri. Jadi, uang living cost itu tujuanya digunakan sebagai bekal membeli makanan selama tidak mendapat layanan catering, juga untuk membeli sarapan pagi, dan membeli barang kebutuhan lainnya. Namun dalam pengamatan saya di Tanah Suci, living cost yang dibagikan lebih banyak digunakan untuk membeli oleh-oleh di Madinah dan Mekah, he..he. Selain living cost, jamaah haji juga mendapat uang pengganti pembuatan paspor sejumlah Rp350.000. Dalam hati saya berkata, ini paspor sudah lama dibuat, tetapi tetap dapat penggantian biaya, ya diterima saja, anggap saja rezeki.

Umumnya jamaah haji juga telah membawa bekal uang sendiri dalam bentuk pecahan riyal. Ada yang banyak membawa riyal, tapi saya membawa secukupnya saja, hanya beberapa ratus riyal saja yang saya tukarkan di bank. Tidak perlu khawatir kekurangan uang riyal di Saudi. Asalkan punya kartu ATM dengan logo VISA, maka kita bisa menarik uang riyal di ATM mana saja di Saudi.

Nah, selain dapat uang di atas, jamaah haji mendapat lagi souveir dari Kemenkes RI, berupa obat-obatan (oralit, krim anti pegal-pegal, hansaplast), setumpuk masker, dan tabung air semprot. Walah, tas koper dan tas tentengan saya sudah penuh, mau ditaruh dimana lagi barang-barang souvenir tadi. Jamaah haji mendapat satu buah koper, satu tas tenteng, dan satu tas paspor yang digantung di leher. Hanya tiga tas itu saja yang boleh dibawa ke dalam pesawat. Koper sudah dibawa duluan dari Bandung oleh truk ke bandara, tas tenteng sudah penuh dan padat, akhirnya terpaksalah dicari-cari ruang untuk memasukkan souvenir dai Kemenkes.

Setelah dua jam di dalam aula, akhirnya jamaah haji mendapat pembagian kamar asrama untk beristirahat. Saya mendapat kamar di gedung yang lama, satu kamar berisi 10 tempat tidur dalam bentuk ranjang susun. Gedungnya kusam, kamar mandinya di luar, dan AC nya tidak jalan. Malam hari terasa gerah sekali, saya tidak bisa tidur. Ah, memang tidak akan bisa tidur, sebab jam 2 malam nanti harus siap-siap bangun lagi untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta.

Selama di embarkasi ada kegiatan yang baru dilakukan tahun ini, yaitu pengambilan data bieoemtrik (sidik jari dan foto wajah). Malam hari setelah Isya, jamaah dipanggil untuk pengambilan data biometrik. Biasanya kalau kita keluar negeri, pengambilan data biometrik ini dilakukan di bandara kedatangan (dalam hal ini bandara di Saudi), tetapi tahun ini ada inovasi baru, yaitu pengambilan data biometrik dilakukan di Embarkasi. Proses pengambilan data biometrik ini akan mempersingkat waktu tunggu jamaah di bandara Saudi nantinya. Pengambilan data biometrik dilakukan oleh petugas Indonesia namun di bawah pengawasam Imigrasi Saudi. Tahun ini pengambilan data biometrik hanya dilakukan di beberaopa embarkasi saja sebegai percontohan, tahun depan mungkin semua embarkasi.

Hmmm…malam yang melelahkan. Saya tidak bisa memejamkan mata sepicingnpun di dalam kamar asrama. Selain gerah, juga banyak nyamuk. Jamaah haji yang mendapat kamar di gedung yang baru mungkin lebih beruntung, karena kamarnya seperti kamar di hotel bintang tiga. Tapi saya tetap mensyukuri apapun yang saya terima.

Jam dua malam jamaah harus bangun dan siap-siap untuk berangkat ke bandara. Jamaah melewati proses pemindain X-ray, semua bawaan jamaah berupa tas tenteng dan tas paspor diperiksa dengan sinar X untuk memastikan tidak ada benda-benda terlarang dan ciaran yang melebihi 100 ml. Jadi, nanti di bandara kita tidak melewati pemeriksaan X-raya lagi, sebab jamaah haji langsung diantar ke tangga pesawat.

Jam empat pagi akhirnya jamaah haji masuk ke dalam bus-bus untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Bus-bus dilawal kembvali oleh mobil patwal dari embarkasi menuju bandara. Sesampai di bandara, mula-mula kita dibawa ke bagian imigrasi bandara. Saya kira kita akan diperiksa lagi oleh imigrasi Indonesia, ternyata bukan. Di bandara Soekarno-Hatta kita melewati imigrasi Saudi! Ya, untuk mempersingkat pemeriksaan imigrasi di Saudi, petugas imigrasi dari Saudi didatangkan ke Jakarta. Di sini paspor dan data biometrik kita dicocokkan kembali. Proses ini menurut saya akan mempersingkat antrian jamaah di bandara kedatangan, sebab di bandra Saudi tidak perlu pemeriksaaan imigrasi lagi, jamaah haji bisa langsung keluar bandara seturun dari pesawat.

Tepat jam tuu pagi jamaah mulai memasuki pesawat. Jam delapan tepat pesawat pun take-off. Pesawat yang membawa jamaah haji Kloter 7 adalah dari maskapai Saudia. Pesawatnya sama dengan pesawat ketika saya umrah tahun 2015 yang lalu. Garuda Indonesia hanya membawa jamaah haji dari beberapa bandara saja, yaitu Padang, Batam, Solo, Banda Aceh, Makassar, dan Banjarmasin, selebihnya diangkut oleh maskapai Saudi. Menurut saya maskapai Saudia ini bagus, pesawatnya lebar dan besar. Susunan kursinya dalam satu baris 3, 4, 3. Sajian makanannya juga enak. Selama dalam penerbangan penumpang mendapat dua kali makan (meal), dan berbagai sncak serta minuman. Pramugarinay selain orang Arab juga ada orang Indonesia. Pengumuman disampaikan dalam bahasa Srab dan dalam Bahasa Indonesia.

Sepuluh jam di dalam pesawat cukup menjemukan. Kita dapat mengisi waku dengan tidur, membaca Quran, atau menikmati hiburan melalui layar  TV di depan kita. Di luar sana hanya terlihat awan dan cahaya terang (kami berangkat pagi hari).

Memasuki wilayah daratan Saudi terlihatlah pemandangan yang tandus. Bukit batu dan gurun pasir yang tandus teerlihat di bawah sana. Masya Allah, si negeri yang tandus inolah Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT kepada kaum yang jahiliyah.

Bukit-bukit batu yang tandus terlihat dari atas pesawat.

Tepat pukul 14.0o waktu Madinah, pesawat mendarat di Bandara Madinah. Alhamdulillah, perjalanan sangat lancar. Tiba di bandara Madinah kami disambut dengan suhu udara 44 derajat Celcius!

Alhamdulillah, pesawat yang membawa Kloter 7 JKS mendarat di bandara Madinah

Tidak perlu berlama-lama di bandara ini. Tidak ada pemeriksaan imigrasi lagi. Jamaah haji dapat langsung keluar bandara. Koper-koper dan tas tenteng sudah diurus oleh porter dan dimasukkan ke dalam bus. Jamaah haji segera menuju hotel tempat pemondokan selama berada di Madinah. Kami adalah jamaah haji Gelombang 1, jadi akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari, baru kemudian pindah ke Mekah (BERSAMBUNG)

 

 

 

 

Written by rinaldimunir

September 10th, 2018 at 2:35 pm

Posted in Cerita perjalanan

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Embarkasi Haji

without comments

Pengantar: Selama satu bulan lebih, lebih tepatnya 41 hari, saya cuti menulis di dalam blog ini karena saya menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, Haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya sudah berniat untuk menuliskan perjalanan haji sepulang dari sana, sebagaimana dulu saya pernah menuliskan tulisan berseri catatan perjalanan Umrah tahun 2015. Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman haji sebagai tulisan berseri, dengan maksud berbagi pengalaman kepada pembaca yang belum pernah naik haji, atau sekedar bernostalgia merajut kenangan bagi pembaca yang sudah pernah menunaikan haji.

Sebelum menulis seri tulisan tentang haji, saya sudah menulis beberapa tulisan pendahuluan sebagai berikut:

  1.  Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci
  2.  Menuju Haji 2018
  3. Rindu dengan Rasulullah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu selama enam tahun pun tiba. Setelah mengikuti manasik selama tiga bulan di KBIH Mega Arafah (d/h Mega Citra), akhirnya kami diberitahu bahwa keberangkatan haji ke tanah suci adalah pada tanggal 19 Juli 2018. Saya dan jamaah lain di KBIH tersebut tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter 7), dengan kode JKS 07 embarkasi Bekasi.Saya pergi haji sendiri, tidak bersama istri. Istri saya sudah haji tahun 2011. Kami tidak bisa pergi haji berdua karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tanggal 18 Juli 2018 sebelum sholat subuh semua jamaah haji sudah berkumpul di KBIH sebelum berangkat ke Mapolda Jabar di Gedebage, Bandung. Semua jamaah haji kota Bandung berangkat ke embarkasi Bekasi dari Mapolda Jabar. Di kantor KBIH kami dilepas oleh keluarga. Di sana tidak tertahankan lagi isak tangis dan peluk cium yang mengharukan antara jamaah haji dengan keluarganya, seperti hendak pergi selama-lamanya dan tidak bertemu lagi. Pergi haji masih dianggap pergi ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama (40 hari). Belum tentu jamaah haji bisa pulang ke tanah air, mungkin saja ditakdirkan wafat di Tanah Suci. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan. Setiap tahun memang ratusan jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Faktor penyakit bawaan dari tanah air atau usia lanjut adalah faktor terbesar meninggalnya jamaah haji di sana.

Saya pun larut dalam kesedihan. Apalagi saya pergi haji sendiri, meninggalkan anak dan istri di rumah tanpa kehadiran saya. Namun, saya selalu teringat kata-kata ustadz pembimbing haji ketika manasik. Katanya, jika kita berangkat haji, maka pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT.  Kita pasrahkan keluarga kita dan harta yang kita tinggalkan kepada Allah. Biarlah Allah saja yang menjaganya. Insya Allah dengan memasrahkan diri kepada Allah kita dapat berangkat ke Tanah Suci dengan tenang.

Dari kantor KBIH di Jalan Cimandiri (belakang Gedung Sate), kami berangkat dalam rombongan satu bus ke Mapolda Jabar di Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Di sana semua rombongan jamaah haji Kloter 07 dari berbagai KBIH dikumpulkan.  Jamaah haji Kloter 7 semuanya 410 orang. Mereka berasal dari KBIH Maqdis, KBIH Mega Arafah, KBIH As-syakur, KBIH Al-Abror, KBIH Unisba, dan beberapa orang jamaah haji mandiri (tidak tergabung dalam KBIH manapun).

Di Mapolda Jabar jamaah haji Kloter 7 dikumpulkan di Masjid. Di sana jamaah masih diberi pengarahan dan kiat-kiat sehat di Tanah Suci. Setelah serangkaian seremoni, akhirnya jamaah haji masuk kembali ke dalam bus masing-masing, siap berangkat ke embarkasi Jawa Barat di Bekasi.

37340808_1956250637776285_8274474032997335040_n

Bersiap-siap memasuki bus

37252237_1956250557776293_6700607280540286976_n

Berfoto bersama di Mapolda Jabar sebelum berangkat ke Embarkasi

Satu persatu bus rombongan haji (10 bus) meninggalkan Mapolda Jabar. Para pengantar,  yang merupakan keluarga jamaah haji, yang menunggu di luar (tidak boleh masuk ke dalam Mapolda) menyemut memberikan lambaian tangan selamat jalan. Tak terasa air mata pun menetes. Sungguh mengharukan. Sepanjang jalan dari Mapolda Jabar hingga perempatan lampu merah di Gedebage para pengantar berbaris melambaikan tangan. Perjalanan haji adalah perjalanan jauh, mungkin juga perjalanan menuju kematian. Para pengantar itu datang beramai-ramai ke Mapolda. Ada yang menyewa angkot, minibus, atau membawa mobil pribadi.

37275248_1956250861109596_3640470458261831680_n

Lambaian tangan selamat jalan dari pengantar

37327764_1956251107776238_748762419173523456_n

Para keluarga pengantar jamah haji berbaris sepanjang jalan melambaikan tangan selamat jalan

Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikalaka labbaik. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Bus-bus rombongan jamaah haji selama perjalanan dari embarkasi menuju Embarkasi Haji di Bekasi dikawal oleh mobil Patwal polisi sehingga mendapat prioritas jalan. Bunyi sirine meraung-raung sepanjang jalan.  Bahkan, ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT,  khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP saja.

Di Kabupaten Purwakarta bus berhenti di RM Cibening Sari untuk makan siang. Pemkot Bandung mentraktir jamaah haji makan siang gratis di rumah makan tersebut. Memang selama mengikuti haji mulai berangkat dari Bandung hingga kembali ke Bandung jamaah haji mendapat banyak keistimewaan perlakuan. Mungkin sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun sebagai jamaah haji tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Oh iya, kloter saya, Kloter 7, termasuk dalam keberangkatan Gelombang pertama. Sebagaimana diketahui, pemberangkatan jamah haji dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dari tanggal 16 Juli – 30 Juli 2018, jamaah haji diterbangkan ke Madinah dulu. Gelombang kedua dari tanggal 31 Juli – 15 Agustus 2018, jamaah haji diterbangkan ke Mekah via Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jamaah haji gelombang satu akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari sebelum bertolak ke Mekah, sedangkan jamaah haji gelombang kedua tinggal di Mekah dulu selama 31 hari, baru kemudian pindah ke Madinah selama sembilan hari. Jadi, jamaah haji gelombang satu nantinya pulang ke tanah air melalui Jeddah, sedangkan jamah haji gelombang dua pulang melalui bandara Madinah.

Pembagian dua gelombang ini karena jamaah haji Indonesia sangat banyak jumlahnya tahun ini mencapai 220.000 orang, sehingga tidak mungkin diangkut semuanya secara serentak dalam satu periode. Mengangkut 220.000 orang dengan pesawat terbang sama dengan memindahkan penduduk sebuah kabupaten di Sumatera, dan ini adalah sebuah pekerjaan raksasa.

Selama perjalanan ke embarkasi saya lebih banyak duduk diam dan melamun. Melamun banyak hal :-). Akankah saya dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan lancar? Dapatkah saya melupakan sejenak urusan duniawi ini, fokus beribadah kepada Allah saja? Banyak lagi yang saya lamukan, namun sebagimana kata ustad pembimbing, pasrahkan semua urusan hidup ini hanya kepada Allah SWT saja. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

September 6th, 2018 at 2:47 pm