if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2018

Mengapa terpikir bumi itu datar?

without comments

Dalam sebuah acara keagamaan, seorang ustad bercerita di depan jamaah bahwa dia sudah tidak percaya lagi bumi itu bulat seperti bola. Dia menyitir beberapa ayat di dalam Al-quran untuk mendukung argumentasinya bumi itu. Allah mengatakan dalam salah sebuah ayat yang artinya begini: “Dan bagaimana bumi itu dihamparkan” (Al-Ghasyiyah (88): 20), atau  “Dan bumi itu Kami hamparkan (farasynaha), maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)” Adz-Dzariyat (51): 48) . Masih banyak lagi kata-kata “menghamparkan” disebut di dalam Al-Quran (Baca: Benarkah Al Qur’an Menyatakan Bentuk Bumi Datar?). Kata “menghamparkan” mengesankan tempat yang datar, oleh karena itu tidaklah mungkin bumi itu bulat, demikian kata Pak Ustad. Beliau meneruskan lagi kata-katanya, jadi, selama ini kita telah dibohong oleh ilmuwan xxxxx dan xxxxxx (xxxxx yang dia sebut itu adalah nama dua agama).

Saya yang mendengarkan kajian Pak Ustad hanya bisa manggut-manggut saja.  Saya tidak ingin mendebatnya karena tidak ingin mempermalukannya di depan jamaah. Menurut saya, Pak Ustad ini sudah termakan kampanye komunitas flat earth (bumi datar) yaitu kelompok orang yang menolak pendapat bahwa bumi itu bulat dan lebih mempercayai bumi itu datar.  Sungguh saya sedih mendengarnya, apalagi kelompok ini sering menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk mendukung argumentasinya. Bukti-bukti imiah dari sains dan teknologi tidak mampu menggoyahkan keyakinan mereka. Mindset mereka tidak bisa lagi diubah, tetap bergeming dengan keyakinannya. Padahal  ijma’ (kesepakatan) para ulama sudah meyakini bahwa bumi itu bulat (baca ini: Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?).

Dogma bumi itu datar telah “memakan” banyak “korban”, termasuk orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.  Logika ilmu dijungkirbalikkan, ayat suci dimaknai secara letterlux. Padahal kata “menghamparkan” itu untuk memaknai bumi itu adalah tempat yang sangat luas, sangat luas dibandingkan diri manusia yang kecil. Karena luasnya itu, maka bumi tampak seperti hamparan.

Andaikan kaum yang mengklaim bumi itu datar mau lebih berpikir lebih jauh lagi, maka sesungguhnya bumi itu bulat sudah terbukti dengan jelas. Pergantian siang dan malam pada bagian bumi adalah contohnya. Keadaan siang terjadi karena bagian bumi disinari matahari, sebaliknya pada waktu yang bersamaan bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari mengalami gelap yang kita sebut malam. Andaikan bumi itu datar, pastilah seluruh bagian bumi mendapat sinar matahari sehingga tidak ada bagian bumi yang mengalami kegelapan. Ukuran matahari jauh lebih besar dari ukuran bumi, ribuan kali besarnya. Maka, tidak mungkin ada bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari jika bumi itu dianggap datar. Adanya bagian bumi yang mengalami siang dan bagian bumi lain mengalami  malam hari pada waktu yang sama hanya mungkin jika bumi itu bulat, tidak mungkin terjadi kalau bumi itu datar. Misalnya di Indonesia saat ini siang hari, sementara di Eropa dan Amerika pada saat yang sama sedang malam hari.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. ‘Ali `Imran [3] : 190)

Jika bumi itu memang datar lalu ada bagian bumi yang mengalami siang dan saat yang sama ada bagian bumi yang mengalami malam, maka hal itu hanya mungkin jika matahari itu sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan bumi. Karena kecilnya, maka saat matahari berada pada sebuah sisi, maka  pada sisi yang lain bagian bumi itu mengalami malam. Menganggap matahari berukuran jauh lebih kecil dari bumi jelas tidak masuk akal.

Saat ini, di tengah polarisasi bangsa yang terbelah akibat Pilpres dan Pilkada, istilah “kaum bumi datar” mengalami pergeseran makna. Istilah “kaum bumi datar” sering disematkan warganet kepada kelompok Islam yang kontra Ahok atau kepada orang-orang yang selalu mengkritik Pemerintah (Jokowi). Orang-orang yang kontra dengan Ahok atau Jokowi disebut “kaum bumi datar”  oleh para pendukung Jokowi/Ahok. Saya tidak tahu mengapa mereka disebut kaum bumi datar hanya karena memiliki pendapat  yang berseberangan dengan Pemerintah saat ini. Asal berseberangan, maka mereka dipukul rata sebaga kaum bumi datar.  Mendukung ustad A disebut kaum bumi datar, mendukung partai B disebut kaum bumi datar, mendukung tokoh ini atau tokoh itu disebut kaum bumi datar. Selama berbeda dengan Jokowi (atau Ahok) maka disebut kaum bumi datar.  Begitulah simplifikasinya.

Ditilik dari sejarah kelahirannya, kelompok flat earth sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Kelompok flat earth  lebih dulu muncul dari dunia barat. Silakan ketik “flat earth society” di Google, maka kita akan menemukan situs komunitas flat earth di luar negeri, misalnya  https://theflatearthsociety.org/home/. Dikutip dari laman Wikpedia,

Flat Earth Society (juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society) adalah sebuah organisasi yang memiliki keyakinan bahwa bumi berbentuk datar, bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Organisasi modernnya didirikan oleh seorang pria asal Inggris, Samuel Shenton pada 1956, dan kemudian dipimpin oleh Charles K. Johnson, yang menjadikan rumahnya di Lancaster, California, sebagai basis organisasi. Organisasi ini tidak lagi aktif semenjak kematian Johnson pada 2001, namun baru-baru ini organisasi Flat Earth Society dimunculkan kembali oleh presiden barunya, Daniel Shenton.

Karena itu, mengaitkan istilah kaum bumi datar kepada suatu agama atau kelompok agama jelaslah tindakan yang kebablasan bahkan keterlaluan. Menghubungkan kaum bumi datar dengan polarisasi politik juga adalah tindakan yang tidak semestinyqa dan hanya memperkeruh suasana saja.

Written by rinaldimunir

March 23rd, 2018 at 5:17 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 3 – Tamat)

without comments

Pulau Bangka memiliki pantai yang indah dan menawan, tidak kalah dengan pantai di Pulau Bali. Pantainya landai dan berpasir putih. Yang menarik adalah hamparan batu-batu granit di sepanjang garis pantai seperti halnya pantai-pantai di Pulau Belitung. Batu-batu granit yang berukuran besar itu muncul ke permukaan bumi akibat tekanan dari dalam bumi (endogen) jutaan tahun yang lalu.

Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Tikus Emas. Pantai ini tidak jauh dari Puri Tri Agung yang kami kunjungi tadi. Nama tikus pada pantainya bukan berarti banyak tikus di sana, tetapi pantai ini dijadikan jalur tikus bagi penambang ilegal untuk menjual timah ke Singapura melalui jalur laut. Pantai Tikus menghadap ke sebelah timur Pulau Bangka dan dekat dengan Pulau Batam dan Singapura. Pulau Bangka adalah pulau penghasil timah yang berkualitas bagus. Secara resmi penambangan timah dilakukan oleh BNUMN PT Timah, tetapi sejak era reformasi masyarakat pun menambang timah secara sendiri atau berkelompok. Timah itu dijual ke pengepul atau dijual secara ilegak ke negara tetangga, Singapura. Mereka mengangkut timah ilegal melalui Pantai Tikus ini. Pantai Tikus Emas adalah bagian dari Pantai Tikus yang dikelola oleh pihak swasta dan untuk masuk ke sana kita harus membayar, namun fasilitas bermain dan pantainya yang landai serta rimbun dengan pohon cemara cocok untuk berkumpul atau sekedar jalan-jalan di pantai.

Pintu masuk ke Pantai Tikus Emas

Pantai Tikus Emas

Batu-batu granit berukuran besar di Pantai Tikus Emas

Tikus emas yang menjadi maskot pantai ini

Rimbunan pohon cemara di sepanjang pantai. Pasir pantainya bwrsih dan halus. Tempat ini cocok untuk berkemah sambil menikmati ombak di laut

Setelah menikmati Pantai Tikus Emas, tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Pantai Tongaci atau Pantai Kuala, masih di seputaran Sungailiat. Pantai ini dikelola oleh pengusaha bernama Tong Aci. Di pintu masuk pantai kita disambut deretan toko-toko suvenir, patung-patung binatang, batu-batu granit, dan sejumlah dekorasi lainnya. Ada juga replika patung tentra Teerracotta yang ditemukan di Tiongkok (peninggalan abad 1 M) di pantai ini.

Pintu masuk Pantai Tongaci

Asesori kereta api di Pantai Tongaci

Pantai Tongaci

Patung Tentara Terracotta di Pantai Tongaci

Tentara Terracotta

Di Pantai Tongaci juga terdapat tempat penangkaran penyu. Telur-telur penyu ditetaskan di sini, lalu anak-anak penyu (tukik) dibesarkan sebelum dilepas ke lautan bebas.

Penangkaran penyu

Pantai terakhir yang kami kunjungi adalah Pantai Parai. Jika di pantai sebelumnya tidak terdapat hotel dan penginapan, maka di Pantai Parai terdapat resort yang berisi cottage-cottage dalam jumlah banyak, cocok jika membawa keluarga.

Berfoto bersama peserta KNSI 2018 di Pantai Parai

Batu-batu granit

Batu-batu granit di sepanjang Pantai Parai

Demikianlah sekelumit cerita mengunjungi sejumlah pantai di Paulau Bangka. Negara kita memiliki banyak pantai yang indah. Semoga ada kesempatan melihat pantai-pantai lain yang belum dikunjungi di Pulau Bangka, misalnya Pantai Tanjung Pesona, Pantai Belinyu, dan lain-lain. (TAMAT)

Written by rinaldimunir

March 17th, 2018 at 10:32 am

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 2)

without comments

Setelah konferensi KNSI selesai dilaksanakan selama dua hari, maka keesokan harinya (Hari Sabtu) sebagian peserta konferensi berdarmawisata mengunjungi sejumlah tempat wisata di Pulau Bangka. Wisata di Pulau Bangka dapat dibagi menjadi tiga macam, pertama wisata alam, kedua wisata sejarah, dan ketiga wisata religi. Untuk wisata alam, objek wisata yang dominan adalah wisata pantai di pulau Bangka bagian timur. Wisata sejarah adalah mengunjungi tempat pembuangan Bung Karno di Mentok (Bangka bagian barat). Wisata religi adalah mengunjungi situs atau tempat ibadah agama Budha (kelenteng dan wihara), Katolik (goa Maria), dan Islam (maqam penyebar agama islam di Pulau Bangka). Berhubung tempat yang jauh dan waktu yang terbatas, kami memilih objek wisata alam saja plus sedikit wisata religi.

Tujuan utama wisata alam di di Pulau Bangka adalah di sekitar kota Sungailiat. Sungailiat adalah ibukota Kabupaten Bangka. Pulau Bangka terdiri atas empat kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Bangka dengan ibukota Sungailiat, Kabupaten Bangka Barat dengan ibukota Mentok, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Koba, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Toboali, dan satu kota yaitu Pangkalpinang.

Sungailiat merupakan kota tua, sudah berdiri sejak tambang timah dibuka pada zaman Belanda (tahun 1766). Kota Sungailiat tidak terllau jauh dari Pangkalpinang, kira-kira menempuh perjalanan 45 menit. Biro tur dan travel di Pangkalpinang menjadikan Sungailiat sebagai tujuan utama wisata. Dalam perjalanan ke Sungailiat, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jembatan EMAS atau Jembatan Baturusa II. Emas adalah singkatan nama mantan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang menggagas jembatan ini, yaitu Eko Maulana Ali-Syamsudin Basari (alm).  Jembatan Emas menghubungkan kota Pangkalpinang dengan Kabupatane Bangka. Keistmewaan jembatan ini adalah dapat membuka dan menutup jika ada kapal dari lautan lepas masuk atau keluar ke/dari pelabuhan Pangkal Balam.

Jembatan Emas sedang membuka karena ada kapal yang akan lewat

Sebuah kapal dari  Jakarta akan melewati jembatan yang sedang membuka

Tampak atas Jembatan Emas adalah seperti foto di bawah ini (Sumber foto dari sini). Cantik sekali jembatannya jika dilihat dari udara. Tidak salah jika Jembatan Emas menjadi ikon baru propinisi Kepulauan Bangka Belitung.

Jembatan Emas tampak dari atas.

Ketika jembatan sedang membuka, kendaraaan yang akan lewat harus berhenti sampai jembatan tersebut menutup kembali. Kami sebenarnya ingin menyaksikan dan merekam detik-detik jembatan itu menutup kembali, tetapi karena terlalu lama menunggu (masih ada kapal dari kejauhan di lautan lepas akan lewat), maka kami berbalik arah kembali menuju kota Sungailiat.

Dalam perjalanan menuju Pantai Tikus Emas di Sungailiat, kami melewati sebuah tempat ibadah suci tiga agama, bernama Puri Tri Agung. Disebut Tri Agung karena ia menjadi rumah ibadah tiga agama dan aliran kepercayaan, yaitu Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse.  Puri Tri Agung terletak di atas sebuah bukit. Dari tempat ibadah ini kita dapat melihat Pantai Tikus dari kejauhan.

Puri Tri Agung, Sungailiat

Di dalamnya terdapat patung Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse. Di dalam Puri banyak terdapat ornamen-ornamen cina berwarna merah seperti lampion dan tulisan Cina. Pengelola Puri Tri Agung umumnya adalah warga Keturunan Tionghoa yang memang cukup banyak mendiami Pulau Bangka sejak zaman dulu. Pengunjung boleh memasuki Puri ini tetapi harus melepas alas kaki. Jika ingin berfoto di dalamnya, pengunjung tidak boleh membelakangi ketiga patung. Foto menyamping boleh.

Seorang pemeluk agama Tridharma sedang menaruh hormat kepada salah satu (atau ketiga patung) yang diyakininya.

Langit-langit kubah Puri Tri Agung

Pada tulisan selanjutnya saya akan menceritakan pantai-pantai yang indah di Sungailiat. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

March 15th, 2018 at 5:25 pm

Posted in Cerita perjalanan

Sultan mosque is one of the historic mosque in Singapore….

without comments

Sultan mosque is one of the historic mosque in Singapore. Beautiful building and there’s always worshippers and tourists visiting this place. #singapore #mosque #masjid #architecture #historic (di Masjid Sultan) via http://ift.tt/2HBwbjJ

Written by Veriyanta Kusuma

March 15th, 2018 at 2:26 pm

Posted in Uncategorized

Sultan mosque is one of the historic mosque in Singapore….

without comments

Sultan mosque is one of the historic mosque in Singapore. Beautiful building and there’s always worshippers and tourists visiting this place. #singapore #mosque #masjid #architecture #historic (di Masjid Sultan) via http://ift.tt/2HBwbjJ

Written by Veriyanta Kusuma

March 15th, 2018 at 2:26 pm

Posted in Uncategorized

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 1)

without comments

Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) tahun 2018 kali ini diadakan di kota Pangkalpinang di Pulau Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Tuan rumah konferensi KNSI 2018 adalah STMIK Atma Luhur, Pangkalpinang. Sebagai salah seorang komite KNSI, saya diundang untuk hadir. Tentu saja kesempatan ini tidak saya sia-siakan, karena saya belum pernah mengunjungi kota Pangkalpinang khususnya dan Pulau Bangka umumnya. Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Saya sudah pernah ke pulau Belitung beberapa tahun yang lalu, tetapi ke Pulau Bangka ya baru kali.

Kepulauan Bangka dan Belitung. Pulau Bangka di sebelah kiri dengan kota terbesar di sana adalah kota Pangkalpinang, sekaligus menjadi ibukota Propinsi Babel. (Sumber: https://contenttugas.wordpress.com/peta-wisata-pulau-bangka-belitung/)

Kota Pangkalpinang dapat dicapai dengan pesawat dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Palembang, dan Batam. Dari Bandung sebenarnya ada penerbangan langsung dengan maskapai NAM Air ke Pangkalpinang, tetapi tidak setiap hari ada. Seringkali penerbangan dibatalkan karena jumlah penumpang yang minim. Saya khawatir saja lama-lama penerbangan dari Bandung ke Pangkalpinang ditutup karena sepi penumpang.

Karena hari Rabu tidak ada flight ke Pangkalpinang dari Bandung, maka saya dan teman-teman “terpaksa” mengambil rute Bandung-Batam-Pangkalpinang. Memang agak lama karena kita transit di Batam selama 3,5 jam (itupun kalau tidak delay). Dari Bandung kami terbang ke Batam pada siang hari (pukul 11.30), lalu menunggu di Bandara Hang Nadim Batam  selama 4 jam lebih karena delay di Batam. Jam 17.30 barulah kita terang ke Pangkalpinang dari Batam. Melelahkan juga ya…

Penerbangan dari Batam ke Pangkalpinang memakan waktu 45 menit. Dari atas udara Pulau Bangka tampaklah kota Pangkalpinang yang berkerlap-kerlip lampunya di bawah. Semakin mendekati bandara semakin terlihat banyak bangunan hotel dan gedung bertingkat lainnya.  Kota Pangkalpinang tidaklah kota kecil seperti yang saya bayangkan, tetapi sudah seperti kota metropolis, maklumlah ini ibukota Propinsi Babel.

Kami mendarat di Bandara Depati Amir. Bandaranya masih baru, itu tampak dari bangunan terminalnya yang megah dan modern dan bergaya futuristik. Ada tiga buah garbarata untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Bagian dalam Bandara Depati Amir

Bagian luar bandara Depati Amir

Swafoto sejenak ?

Dari bandara kami diantar ke hotel. Tetapi sebelum sampai ke hotel, kami mampir dulu di sebuah restoran seafood dekat bandara. Sebagai propinsi yang dikelilingi oleh laut, hidangan laut tentu menjadi ciri khas propinsi ini.  Beberapa hidangan laut yang menggugah selera ada di restoran ini. Salah satu hidangan laut khas pulau Bangka bernama Lempah Kuning. Hidangan ini mirip pindang ikan di Palembang, tetapi berbumbu kuah kuning dari aneka rempah-rempah. Sajian ikan di dalam Lempah Kuning adalah ikan tenggiri. Rasanya asam segar dan pedas (pedas dari lada, bukan dari cabe merah). Rasa asam disebabkan oleh buah nanas di dalamnya. Hmmm…enak sekali. Selain Lempah Kuning yang khas, juga terdapat ikan tenggiri bakar bumbu kuning. Hmmm…serba kuning ya.

Lempah Kuning

Ikan bakar bumbu kuning

Bagaimana? Kulienrya saja sudah enak, apalagi nanti pemandangan alamnya yang akan saya ceritakan pada bagian kedau (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

March 13th, 2018 at 5:08 pm

Posted in Cerita perjalanan

Sedekah “Jumat Berkah”

without comments

Saya sering membeli nasi kuning di kedai pinggir jalan di dekat kompleks perumahan. Nasi kuningnya murah, hanya 7000 rupiah saja dan rasanyapun gurih enak. Pelanggannya banyak.  Pelanggannya pasangan suami istri. Mereka berjualan mulai jam 5.30 pagi dan selesai berdagang paling lama pukul 9 pagi.  Tapi hari Jumat kemarin pagi saya menemukan mereka sudah tutup lebih cepat daripada hari biasa, yaitu jam 8 pagi sudah tutup karena dagangannya habis dibeli pelanggan.

Saya pun maklum kenapa hari Jumat lebih cepat tutup. Saya pun teringat kembali kata-kata pedagangnya kemarin lusa. “Kalau hari Jumat cepat habis, Pak”, katanya.  “Kenapa?”, tanya saya lagi. “Kalau hari Jumat sering ada orang yang membeli 30 bungkus sampai 40 bungkus, katanya buat disedekahkan kepada orang lain (mamang beca, buruh gali, tukang sol keliling, fakir miskin, anak yatim, dll. Red)”, jawabnya.

Saya kagum mendengarnya. Ini adalah amal sholeh yang sangat baik, memberi sedekah kaum dhuafa pada hari Jumat. Bagi ummat Islam hari Jumat adalah hari raya. Memang bersedekah tidak harus menunggu hari Jumat, hari apapun bisa, tetapi membeli puluhan bungkus nasi buat kaum dhuafa pada hari Jumat tentu karena pertimbangan bahwa hari Jumat adalah hari yang penuh berkah.

Saya teringat kisah yang pernah viral beberapa tahun lalu, yaitu kisah  Mbah Asrori, kakek 92 tahun, yang bersedekah 150 bungkus nasi setiap Jumat. Seperti dikutip dari berita ini, kakek warga asli Semarang tersebut setiap hari Jumat selalu bersedekah nasi bungkus lengkap dengan lauk pauknya kepada orang-orang yang membutuhkan seperti pemulung, tukang becak atau siapa pun yang membutuhkan makanan. Dengan sepeda ontel kesayangannya, Mbah Asrori berkeliling untuk membagikan nasi bungkus tersebut.

Mbah Asrori, kakek 92 tahun bersedekah 150 bungkus nasi setiap Jumat (Sumber foto: https://www.brilio.net)

Di kota Bandung ada sebuah komunitas yang menyediakan makan gratis bagi jamaah sholat Jumat, namanya Komunitas Nasi Jum’at – SiJum Bandung. Mereka punya akun di Facebook, yaitu https://www.facebook.com/sijumbandung/?pnref=story. Jamaah yang selesai bubaran sholat Jumat disuguhi hidangan nasi gratis. Siapapun boleh ikut makan. Niatnya satu, yaitu mengharapkan ridho Allah semata (tentu saja balasan dari Allah adalah pahala yang berlipat ganda).  Komunitas ini menghimpun dana shadaqah untuk membeli makanan, lalu dari dana itu dibelikan makanan yang sudah jadi atau dimasak sendiri. Terkadang mereka tidak hanya membagikan makanan untuk jamah sholat Jumat, tetapi juga berkeliling jalanan kota Bandung untuk membagikan makanan gratis kepada kaum dhuafa (mamang becak, kuli, dll) pada hari Jumat, seperti yang dapat kita lihat pada foto-foto kegiatannya pada akun di atas.

Komunitas Nasi Jumat (Sumber foto dari akun Facebook #SiJum Bandung)

Di Kota Kendal juga terdapat komuntas bernama Sedekaholic yang membagi-bagikan puluhan bungkus sarapan pagi buat orang-orang kecil pada Hari Jumat (Baca: Kisah Mereka yang Menularkan Hobi Sedekah Tiap Jumat). Gerakan berbagi sedekah pada hari Jumat itu menyebar bagaikan virus dan makin lama makin banyak orang bergabung. Masya Allah.

Di kota-kota besar sudah banyak masjid yang menyediakan minuman dan makanan bagi jamaah yang selesai sholat Jumat, baik makanan kecil (snack) ataupun makanan berat. Saya sering sholat Jumat di sebuah masjid kecil di dalam gang pemukiman di dekat bandara Husein Sastranegara Bandung. Selesai sholat, para ibu-ibu sudah siap sedia menyediakan baskom berisi aneka juadah makanan, siapapun boleh mengambilnya gratis.

Saya pun ingin meniru amal sholeh seperti itu pada hari Jumat berkah.

Written by rinaldimunir

March 5th, 2018 at 5:15 pm

Posted in Uncategorized

Suatu Malam dengan Pedagang Sate Ayam

without comments

Malam itu, di tengah hujan yang mengguyur deras, terdengarlah suara teriakan dari luar rumah. Sateee… Saya yang mendengarnya dari dalam rumah tertegun sejenak. Oh, siapa yg berjualan malam-malam dan hujan begini? Kasihan, kata saya dalam hati. Saya menyuruh anak saya untuk memanggil pedagang sate itu. Ternyata dia seorang ibu berjilbab yang berdagang sate keliling. Dia berjalan kaki menjajakan sate ayam. Sebuah payung besar yang sudah kusam di tangan kanan melindungi dirinya dari hujan. Saya minta dia menepi di depan rumah saya, di bawah balkon yang tidak terkena hujan.

Saya memesan sepuluh tusuk sate ayam yang harganya delapan belas ribu rupiah. Saya dan anak saya memperhatikannya membakar sate dan menyiapkan bumbu. Sambil menunggu sate matang, saya tidak tahan untuk tidak mengobrol dengan ibu itu sembari menggali kehidupannya. Rasa ingin tahu saya muncul.  Menurut saya ini cukup unik, yakni ada seorang perempuan di tengah malam berkeliling jualan sate, berjalan kaki lagi.  Apa dia tidak khawatir dengan keselamatannya.

Lalu, terjadilah dialog di bawah ini (keterangan: + saya, – ibu pedagang sate).

+ Tinggal di mana, Mbak?
– Antapani Lama, Mas
+ Darimana asalnya?
– Dari Kedu, Blora, Mas
+ Di sini tinggal sama siapa?
– Sama suami saya. Dia juga jualan sate keliling, tapi ke Arcamanik pakai sepeda.
(Ooo, jadi keduanya berjualan sate)

+ Trus, anaknya sama siapa?
– Anaknya nggak mau ikut ke Bandung, maunya mondok (pesantren) di Tuban. Masih SMP. Senangnya mondok daripada ikut ke sini. Ya udah kalau senangnya begitu.
+ Berapa orang anaknya, Mbak?
– Cuma satu
+ Udah lama di Bandung?
– Udah 18 tahun. Kalau jualan sate ini ya 10 tahun.
(Hmmm..tipikal perempuan Jawa yang gigih dan ulet mencari nafkah membantu suami)

+ Keluar rumah untuk jualan jam berapa,Mmbak?
– Nggak tentu, kadang jam 4 atau jam 5 (sore).
+ Pulangnya jam berapa?
– Jam 9 (malam)
(Wah, berani sekali, perempuan malam-malam keliling berjualan sate dengan berjalan kaki. Salut saya. Resikonya besar. Diganggu laki-laki, dibegal, dsb. Mungkin rasa takutnya dikalahkan oleh semangat mencari nafkah membantu suaminya dan untuk biaya anaknya mondok)

+ Sering pulang ke Jawa, Mbak?
– Satu semester sekali. Kalau mau bulan puasa saya pulang sampai lebaran.

+ Di Antapani Lama banyak orang Jawa ya?
( Antapani Lama itu sebuah kawasan di Antapani yang padat dan banyak gang sempit. Di sana banyak bermukim pendatang dari Jawa yang bekerja di sektor informal, pedagang jamu, bakso, dan lain-lain. Mereka  mengontrak rumah atau kamar dari warga lokal/Sunda. )

– Iya, Mas. Kami punya arisan satu bulan sekali, anggotanya orang Jawa semua. Senang kalau kumpul2 sesama orang Jawa, mengobati rasa kangen ke kampung.

Sate pun selesai dibakar. Sepiring sate ayam dan dua puluh ribu rupiah pun berpindah tangan. Lumayan enak satenya.

Selesai makan sate saya masih teringat dialog percakapan tadi. Hmmm…dia dan suaminya meninggalkan anaknya mondok di pesantren di Jawa, sementara mereka berdua berjuang mencari nafkah di Tanah Sunda untuk membiayai anak satu-satunya itu. Semoga saja anaknya nanti menjadi ulama, amin. Semoga rezekinya lancar dan selalu diberi keselamatan dalam mencari nafkah.

Written by rinaldimunir

March 1st, 2018 at 4:47 pm