if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2018

Prodi-Prodi (Program Studi) Baru di ITB

without comments

FYI, di ITB sekarang banyak Program Studi baru atau relatif baru (S1) yang mungkin tidak banyak diketahui oleh umum. Prodi-Prodi baru itu sebagian merupakan pengembangan dari Prodi yang sudah mapan (mainstream), sebagian lagi memang baru sama sekali. Sebagian besar Prodi baru itu berkuliah di kampus ITB Jatinangor. Semoga info ini bermanfat buat anak/cucu/teman/saudara/keponakan yang mungkin hanya tahu Prodi-prodi klasik seperti Sipil, Mesin, Elektro, Arsitektur, Tambang, Kimia, dll.

Prodi-Prodi baru tersebut adalah (keterangan: seluruh teks diambil dari web Program Studi tersebut):

A. Di bawah Fakultas Tenologi Industri (FTI)
1. Program Studi Teknik Bio Energi dan Kemurgi
Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi merupakan program studi engineering yang serumpun dengan program studi Teknik Kimia. Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi hendak dikembangkan untuk ikut serta dalam menanggulangi isu – isu nasional dan mempersiapkan bangsa menghadapi persaingan global. Tenaga ahli yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berkompetensi dalam bidang teknologi, tetapi juga mampu untuk melakukan inovasi dalam pembaruan sistem pasca panen yang berdaya saing global dan mengikuti perkembangan keilmuan di dunia internasional.

Program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi ITB memiliki tujuan untuk menghasilkan sumber daya insani yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan di bidang pengolahan Teknologi Bioenergi dan Kemurgi sehingga dapat menformulasikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pemrosesan dan pengolahan bahan nabati menjadi bahan non-pangan pada skala industri, menemukan solusi permasalahan di bidang terkait, sehingga mewujudkan Indonesia menuju sistem Bio-Based Economy.

2. Program Studi Teknik Pangan
Program Studi (prodi) Teknik Pangan ITB merupakan program studi engineering yang serumpun dengan program studi Teknik Kimia ITB. Di mulai pada tahun 2003 sebagai sub prodi Teknologi Pangan pada prodi Teknik Kimia ITB, kini Program Studi Teknik
Pangan ITB hendak dikembangkan untuk ikut serta dalam menanggulangi isu – isu nasional bio-based economy dan mempersiapkan bangsa menghadapi persaingan global. Tenaga ahli yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berkompetensi dalam bidang teknologi, tetapi juga mampu untuk melakukan inovasi dalam pembaruan sistem pasca panen yang berdaya saing global dan mengikuti perkembangan keilmuan di dunia internasional.

Program studi Teknik Pangan ITB memiliki tujuan untuk menghasilkan sumber daya insani yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan di bidang teknologi pengolahan pangan, sehingga dapat memformulasikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pemrosesan dan pengolahan pangan pada skala industri serta menemukan solusinya, dapat menciptakan inovasi-inovasi di bidang industri proses pasca panen produk pertanian, khususnya pangan tandingan khas Indonesia, dan dapat mewujudkan Indonesia menuju sistem Bio-Base Economy yakni ekonomi yang berbasis bahan hayati yang baru dan terbarukan.

B. Di bawah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
1. Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air
Pengertian Sumber Daya Air (SDA) diberikan oleh UU No. 7 Tahun 2004 yaitu “air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya”, dimana air di sini adalah “semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air pemukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat”. Bidang Sumber Daya Air adalah bidang yang multidisiplin, untuk itu Body of Knowledge (BoK) Program Studi Sarjana Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA) harus mengakomodasi berbagai disiplin ilmu yang diperlukan dalam mengelola dan rekayasa sumber daya air, antara lain meliputi:

    1. Rekayasa
    2. System informasi, ekonomi dan manajemen
    3. Sumberdaya Air dan Ekosistem
    4. Masyarakat dan Budaya
    5. Integrated Water Resources Management (IWRM)

Program Studi Sarjana Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA) dikembangkan untuk dapat menjadi energi positif pada penanganan permasalahan keairan yang semakin lama semakin penting. Isu-su strategis yang terkait dengan permasalahan nasional dalam bidang keairan antara lain: ketahanan pangan, permasalahan banjir, sea water level (rob), kekeringan, degradasi lingkungan sungai dan danau, perubahan iklim, penurunan muka air tanah dan intrusi air laut, lahan kritis, dan pemanfaatan energi terbarukan. Selain isu strategis, ada juga isu-isu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang berupa partisipasi masyarakat, koordinasi perencanaan dan pembangunan, sifat multidisiplin-antar sektor, peran otonomi daerah, pengelolaan wilayah administrasi dan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Program studi ini memiliki empat tujuan yang ingin dicapai, yaitu:

  1. Menjadikan wahana pendidikan tinggi yang berkelanjutan dalam mewujudkan sarjana teknik dalam bidang Sumber Daya Air dalam era globalisasi, otonomi daerah, dan privatisasi/ korporasi serta tanggap dengan partisipatif masyarakat luas.
  2. Menjadikan wahana bagi pendidikan tinggi yang berkelanjutan dalam mewujudkan manusia yang berkarakter pribadi yang mandiri, mulia, disiplin dan tangguh serta berempati dan turut berpasipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan manusia dan kelestarian alam Indonesia dan permasalahan dunia pada umumnya.
  3. Menghasilkan lulusan sarjana teknik dengan kemampuan dasar meneliti dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan ingin dicapai yaitu pada kemampuan dan pemahaman perancangan sarana dan prasarana bidang Sumber Daya Air.
  4. Menghasilkan lulusan sarjana teknik di bidang Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan bangsa, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tenaga profesional dalam bidang Sumber Daya Air.

2. Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan
Outcome keprofesian Teknik Lingkungan (termasuk di dalamnya Rekayasa Infrastruktur Lingkungan) dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Kategori outcome fundamental: terkait dengan mata-ajar matematika, ilmu-ilmu alam, kemanusiaan, dan ilmu-ilmu sosial.
  2. Kategori outcome teknis: terkait dengan mata-ajar ilmu bahan, mekanika, ekperimen, pengenalan masalah dan pemecahannya, desain, perspektif isu kontemporer, risiko dan ketidakpastian, proyek manajemen, area terkait dengan bidang environmental engineering.
  3. Kategori outcome profesional: terkait dengan mata-ajar komunikasi, kebijakan public, business-public administration, globalisasi, kepemimpinan, kerjasama, perilaku, life long learning, profesional dan tangung jawab etika.

Program studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (RIL) diharapkan mampu menjawab kebutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan sumber daya manusia di bidang air bersih dan sanitasi. Program studi ini adalah sebagai sebuah disiplin ilmu teknik yang lebih banyak bergerak dalam:

  1. Penyediaan air bersih yang baik dan layak bagi kebutuhan aktivitas manusia ditinjau dari sudut kualitas, kuantitas maupun kontinuitas.
  2. Upaya pengendalian pencemaran akibat limbah cair dan padat hasil aktivitas manusia
  3. Penyaluran limbah dan buangan yang terjadi, termasuk air hujan dan buangan padat (sampah), agar tidak mengganggu lingkungan, serta agar dapat tertangani secara baik.
  4. Kontrol terhadap kemungkinan penyebaran penyakit dan pengelolaan kesehatan lingkungan terutama terkait sanitasi lingkungan.
  5. Kemampuan dasar seorang Engineer pada umumnya, antara lain penggunaan bahasa asing, penyusunan naskah atau dokumen teknis, penguasan IT dan aplikasi yang mendukung kompetensi secara spesifik.

 

C. Di bawah Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Program Studi Kewirausahaan

A comprehensive curriculum which includes studying, putting into practice and developing the science of the cycle of building a business enterprise,beginning with the identification of opportunities, devising creative concepts, planning the enterprise, and establishing it in its initial stages right up to the point of building upon innovative ideas having calculated the relevant risks.

Aim

To produce Graduates in Entrepreneurship who are able to apply their skills and knowledge to recognize and grasp business opportunities, and create and develop enterprises after assessing the business risks involved. Graduates are expected to be able to plan business models and procedures, which abide by ethical protocols in accordance with principles of business practice of universally acknowledged excellence and industrial standards of the highest quality.

Graduate Profile

  • Fledgling Entrepreneur
  • Business Planner
  • Business Developer
  • Business Consultant and Adviser

 

D. Di bawah Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)

1. Program Studi Rekayasa Hayati

Bio-engineering merupakan interdisiplin Ilmu Kehayatan (Bio-sciences) dan Teknik (Engineering)yang diaplikasikan dalam perekayasaan berbasis bio-sistem untuk meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem.

Perekayasaan biosistem disini mencakup pengertian, seperti perekayasaan proses biologis, pengoperasian agen hayati terekayasa, pembuatan peralatan baru berbasis biosistem atau teknologi untuk pengembangan biomaterial. Bio-engineering dapat diaplikasikan dalam perekayasaan sistem produksi untuk pengembangan industri.

Perlunya Bio-engineers

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang pesat selama beberapa dekade terakhir ini, dalam bidang pertanian, kesehatan, industri obat-obatan, makanan – pakan, menuntut pengembangan tahap hilir untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas agen hayati  dalam skala industri. Untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan penguasaan ilmu teknik yang terkait terutama dalam perancangan sistem produksi massal, perhitungan struktur, mekanisasi, labor/SDM dan teknologi proses hilir.

Karena itu, diperlukan Sarjana Bio-engineering (Bio-engineers) dengan kompetensi khusus dalam perekayasaan berbasis biosistem. Bio-engineers sangat dibutuhkan dalam perancangan sistem dan produksi massal dari biomaterial dan bioproduk, seperti misalnya enzim, therapeutic proteins, senyawa bioaktif, bioenergi, biomembran atau biodegradable plastics.

Tujuan Program Studi:

  1. Memberikan pemahaman dasar-dasar pengetahuan teknik dan ilmu kehayatan, serta pengaplikasian teknologi dalam perekayasaan sistem produksi berbasis produk tumbuhan,
  2. Mendidik mahasiswa agar mampu mendesain  sistem produksi dimana agen hayati tropika,    terutama tumbuhan merupakan komponen utama dalam pengembangan industri bioproduk,
  3. Mendidik mahasiswa agar mampu meningkatkan efisiensi sistem produksi dengan memahami bahwa tumbuhan merupakan bagian tidak terpisahkan dalam industri bioproduk,
  4. Mendidik mahasiswa agar mampu mendesain  sistem produksi, menguji dan mengoperasikan hasil perekayasaan sistem produksi dalam industri produk nabati,
  5. Mendidik mahasiswa dan melatih kemampuannya dalam system, quantitative, creative, dan critical thinking,
  6. Mempersiapkan mahasiswa agar mampu menyesuaikan diri terhadap perkembangan IPTEK dan masyarakat.

2. Program Studi Rekayasa Pertanian
Program Sarjana Rekayasa Pertanian SITH merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional agriculture engineers yang mampu menjawab tantangan masalah terkini di bidang pertanian. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Rekayasa Pertanian untuk menghasilkan profesional yang:

  1. handal dan tangguh untuk mengembangkan sumber daya hayati yang berkelanjutan (dengan Jawa barat sebagai model) demi memenuhi swasembada kebutuhan pokok dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat dan Indonesia umumnya; dan
  2. mampu merancang sistem produksi biomassa pertanian yang efisien secara biologis dan ekonomis pada berbagai kondisi lahan dan iklim.

3. Program Studi Rekayasa Kehutanan

Program Sarjana Rekayasa Kehutanan SITH merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional forest engineers yang mampu menjawab tantangan masalah kehutanan terkini. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Rekayasa Kehutanan sebagai berikut.

  1. Menghasilkan lulusan handal, tangguh dan kompeten dalam menghadapi tantangan bidang kehutanan.
  2. Mendidik dan melatih kemampuan aplikatif dalam merekayasa ekosistem untuk tujuan melindungi, memanipulasi, membangun dan mengelola hutan secara berkelanjutan berikut produk dan jasa yang terkandung di dalamnya.

4. Program Studi Sarjana Teknologi Pasca Panen

Program Sarjana Teknologi Pasca Panen SITH merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional post-harvest engineers yang mampu menjawab tantangan masalah terkini di bagian hilir bioindustri agro-silvo-fishery. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Teknologi Pasca Panen adalah untuk menghasilkan lulusan yang:

  • menguasai sains dan rekayasa sistem terpadu dan terapan di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan;
  • mampu membangun prosedur yang berkelanjutan dalam memperpanjang shelf-life (umur simpan, dan masa pakai) bioproduk berdasarkan pemahaman sains dan rekayasa;
  • mampu mempertahankan dan membuat nilai tambah dalam kualitas (daya guna/gizi, penampilan, dan ergonomic (bentuk, maupun rasa) dan kuantitas bioproduk;
  • menguasai teknologi informasi untuk memahami  distribusi dan jejaring pasar;
  • memiliki kemampuan merancang suatu sistem penanganan pasca panen terpadu.

 

E. Di bawah Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
Program Studi Teknik Biomedis

Biomedical Engineering is a multi/trans-disciplinary engineering approach aiming to bridge the traditional disciplines of engineering, biology, and medicine. Engineering approach has played an increasing role in the advances of life science and healthcare. Future breakthroughs on these fields are expected to be more and more technology-driven. Biomedical engineering expertise undoubtedly becomes the critical component of such advances, since best engineering practice in this particular setting demands comprehensive understanding of the biological and medical aspects. It essentially applies well-known principles in engineering and physical sciences to study and solve problems in biology and medicine. SEEI ITB foresees the increasing relevancy of educating future engineers with strong affinity to biology and medicine; hence a specialized program in Biomedical Engineering within SEEI is established.

The Biomedical Engineering Program at SEEI ITB is made up of faculty members who are well respected in their areas of research and education. They engage in research activities encompassing a wide range of areas such as electronics and instrumentation, signal processing, computer networks, intelligent system and robotics, machine vision, and biomedical system modeling. The multi/trans-disciplinary nature of the program is demonstrated through the active participation of different faculty and schools at ITB; among others the School of Life Science and Technology, School of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and the Faculty of Industrial Technology.

Written by rinaldimunir

February 27th, 2018 at 1:27 pm

Posted in Seputar ITB

I was invited to join Chingay Parade 2018 full rehearsal night….

without comments

I was invited to join Chingay Parade 2018 full rehearsal night. It’s part of Chinese New Year celebration showing the multicultural Singapore. Seeing this festive part of Singapore was something new to me. Thanks @phonenomenon for the invitation. ?? #singapore #chingay2018 #parade #carnival (at F1 Pit Building) via http://ift.tt/2sNKsHc

Written by Veriyanta Kusuma

February 23rd, 2018 at 10:34 pm

Posted in Uncategorized

I was invited to join Chingay Parade 2018 full rehearsal night….

without comments

I was invited to join Chingay Parade 2018 full rehearsal night. It’s part of Chinese New Year celebration showing the multicultural Singapore. Seeing this festive part of Singapore was something new to me. Thanks @phonenomenon for the invitation. ?? #singapore #chingay2018 #parade #carnival (at F1 Pit Building) via http://ift.tt/2sNKsHc

Written by Veriyanta Kusuma

February 23rd, 2018 at 10:34 pm

Posted in Uncategorized

Memasangkan Jokowi dengan Prabowo

without comments

Pemilu dan Pilpres 2019 sudah dekat. Politikus di tanah air sudah mulai kasak-kusuk memikirkan Capres dan Cawapres. Sementara ini Jokowi diprediksi memiliki peluang paling besar untuk menang lagi menjadi Presiden periode kedua. Jokowi belum punya lawan tangguh. Survey-survey menunjukkan elektabilitasnya paling tinggi, jauh meninggalkan kandidat-kandidat yang digadang-gadang menjadi Capres. Sebut saja Prabowo, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, dan lain-lain. Hanya Prabowo yang elektablitasnya agak bagus, yang lain-lain masih di bawah dua digit.

Dari media kita membaca bahwa Prabowo mungkin akan maju lagi menjadi Capres. Jika ini terjadi, maka saya memprediksi dia akan kalah lagi. Sulit bagi Prabowo untuk menang, karena media daring dan media sosial di negara kita sangat garang untuk membunuh karakter seseorang. Kita sebaiknya berkaca pada Pilpres 2014 yang lalu, bagaimana bangsa kita terbelah dua menyikapi perbedaan dalam mendukung seorang Capres. Meskipun Pilpres sudah berlalu, tetapi keterbelahan itu masih terus kita rasakan hingga sekarang. Efek keterbelahan akibat Pilpres merembet sampai Pilkada DKI tahun yang lalu. Kelompok-kelompok yang saling bertentangan ini memiliki julukan nama seperti  jokower, wowoer, ahoker, cebong, hater, panasbung, dan lain-lain.

Media massa di negara kita sebagian besar dikuasai kelompok tertentu. Dengan dukungan media massa (daring maupun konvensional) dan media sosial yang tak bertuan, opini masyarakat sangat mudah dibentuk untuk membunuh karakter seorang calon pemimpin yang dianggap pesaing rezim saat ini. Karena itu, sangat sulit bagi calon lawan Jokowi untuk muncul, karena deklarasi saja belum tapi yang bersangkutan sudah dibantai dengan sejumlah isu untuk menggiring opini masyarakat. Pasukan cyber army, buzzer, dan bot siap untuk menyebarkan berbagai posting (termasuk yang hoax) untuk menjatuhkan lawan.

Jika Capres itu dari kelompok Islam, maka sejumlah isu sensitif sangat mudah untuk dimainkan media massa maupun media sosial, sebut saja isu syariah, anti NKRI, anti bhinneka tunggal ika, anti Pancasila, anti pluralisme, intoleran, dan sebagainya. Isu semacam itu akan membuat alergi masyarakat non-muslim (terutama di kawasan Indonesia Timur) maupun masyarakat yang sekuler (tidak suka agama ikut masuk urusan politik).  Jika Capres itu dari kelompok militer, maka isu yang digunakan untuk menghantamnya adalah isu pelanggaran HAM pada masa lalu.  Jika Capres itu anak tokoh politik, maka isu yang digunakan untuk menjatuhkannya adalah masa lalu orangtuanya. Politik menanamkan kebencian sudah menjadi hal lazim untuk menjatuhkan citra seorang lawan.

Bangsa kita yang sudah terlanjur terbelah sejak Pilpres 014 dan Pilkada DKI 2017 membutuhkan ketenangan. Mereka mungkin sudah tidak suka melihat perang urat syaraf dan perang kata antara pendukung Jokowi dan pendukung non-Jokowi.

Jika Prabowo direpresentasikan sebagai penantang kuat Jokowi nanti, maka saya punya saran untuk mengobati “luka” masyarakat kita akibat keterbelahan. Dari pengamatan saya, perpolitikan di negara kita ditentukan oleh empat king maker: Megawati, Prabowo, SBY, dan satu lagi mungkin kamu tidak sepakat dengan saya, yaitu Habib Rizieq Syihab. Jangan salah, pengikut HRS sangat banyak jumlahnya dan kenyataan itu tidak bisa dinafikan. Maka, saya menyarankan semua pertentangan itu disatukan saja dalam satu wadah.  Saya usul Jokowi sebagai Capres dan Prabowo sebagai Cawapres. Lalu, tokoh-tokoh lain nanti menjabat sebagai menteri atau setingkat menteri. Mas AHY, Ahok, Anies Baswedan, bahkan Habib Rizieq Syihab, menjadi menteri atau kordinator menteri. Bukan tidak mungkin pula tokoh politik yang garang di DPR seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon menjadi menteri kabinet. Lengkaplah sudah semua tokoh yang berseberangan ini terkumpul menjadi satu, semuanya memikirkan bangsa ini, tidak ada lagi gontok-gontokan. Negara dan masyarakat ini akan tenang, riuh rendah media sosial akan berhenti berperang menyikat lawan (seng tak ada lawan).

Ide saya ini mungkin ide yang konyol. Mimpi kalee.

Written by rinaldimunir

February 23rd, 2018 at 2:48 pm

Posted in Gado-gado

Koran Bekas “Penglarisan” si Mamang

without comments

Mamang-mamang pembeli barang rongsokan setiap hari selalu lewat di depan rumah saya  sambil menanyakan apakah mau jual koran bekas. Mamang-mamang itu sepertinya tahu saja kalau saya masih berlangganan koran, padahal dalam era digital sekarang orang lebih banyak membaca berita di internet ketimbang media cetak. Media cetak pun satu per satu sudah mulai kolaps karena ditinggalkan pembaca.

Langganan koran di rumah tetap saya lanjutkan karena anak saya suka membaca koran, yach minimal untuk tetap terus menumbuhkan minat baca selain baca buku tentunya. Sejak kecil di Padang saya penyuka baca koran, karena itulah saya banyak tahu tentang sitauasi politik negara ini, kejadian di luar negeri, dan lainnya. Hobi membaca koran itu diwariskan ke anak saya.

Kembali ke cerita si Mamang pembeli koran bekas. Dengan setengah berharap dia meminta saya menjual koran bekas. Buat penglarisan, katanya. Dari tadi belum dapat barang, lanjutnya. Pedagang Sunda memang paling suka menyebut kata “penglaris” sebagai cara berharap agar dagangannya laku. Jika dagangan sedang sepi, lalu ada pembeli pertama datang, maka tawar menawar harga tidak akan sulit. Pedagang merelakan dagangannya dibeli dengan harga yang ditawar. Setingkali uang yang diterima dari pembeli dikibas-kibaskan ke barang dagangannya. Buat penglarisan, katanya, sebuah kepercayaan yang sudah turun temurun di Tatar Sunda sejak dulu kala.

Mamang sedang menimbang koran bekas

Saya lihat ke dapur, memang sudah banyak tumpukan koran bekas. Berapa sekilo mang, tanya saya. Tiga ribu, jawabnya. Sekarang harga koran bekas lagi bagus, Pak, lanjutnya. Iya, kata saya dalam hati, biasanya pedagang koran bekas membeli 2000/kg. Koran-koran bekas itu dijual ke pengepul. Biasanya koran bekas dijadikan pembungkus, misalnya pembungkus ikan asin atau buat tanaman. Si Mamang juga menanyakan apakah saya punya kertas HVS bekas kalau ada. Kertas HVS bekas biaanya didaur ulang menjadi kertas lagi. Harganya 1500/kg, lebih murah daripada koran bekas. Selain koran, si mamang juga sering menanyakan apakah ada aki bekas, besi bekas, dan sebagainya. Wah, mana ada barang itu di rumah saya.

Oke, transaksi pun berlanjut. Setelah ditimbang, ternyata ada 11 kg. Lumayan, tiga puluh tiga ribu. Uang penjualan koran bekas buat si bibi pembantu di rumah saja, yang selama ini selalu membereskan koran yang berantakan di lantai setelah dibaca. Si Mamang pun pergi dengan hati yang girang membawa barang.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2018 at 11:15 am

Posted in Gado-gado

Adegan Kurang Nyaman di dalam Film “Dilan 1990”

without comments

Terpengaruh oleh promosi dan meme-meme yang lucu di media sosial tentang film Dilan 1990 membuat saya dan istri ikut tertarik menonton film remaja ini. Ini film yang sedang poluler di tanah air dan sudah mencapai jumlah penonton mendekati 5 juta orang.  Katanya, film yang diadopsi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul sama ini, ceritanya tidak berat, banyak adegan kocak, dan yang paling penting banyak kalimat puitis yang bikin baper banyak orang.  Salah satu kalimat yang favorit di film itu dan bikin baper anak muda adalah Jangan rindu. Berat. Kamu tidak kuat. Biar aku saja. ?

Saya tertarik menonton film ini bukan karena kalimat-kalimat puitis yang bikin baper itu. Bukan. Tetapi karena film ini menggambarkan suasana kota Bandung tahun 1990. Singkatnya, tokoh Dilan dan Milea di dalam di film tersebut bersekolah di SMA di daerah Buahbatu (tahu sendirilah, pasti SMAN 8 Bandung), jadi tentu shooting film mengambil setting kota Bandung tahun 1990. Tahun 1990 itu saya masih kuliah di ITB, belum lulus, dan kesibukan saya lebih banyak menjadi pengajar di Bimbel Karisma Salman ITB. Di Bimbel itu saya bertemu banyak anak SMA dari berbagai sekolah di Bandung. Jadi, ini semacam nostalgia saja. Bagi saya, kota Bandung adalah kota kecintaan saya yang kedua setelah kota Padang tempat kelahiran saya. Saya kuliah di sini, di ITB,  dan akhirnya bekerja menjadi dosen di almamater saya hingga sekarang.

dilan-film

Menurut saya setelah menonton film Dilan, jujur saja filmnya memang bagus, jalan ceritanya menarik. Ini memang kisah cinta remaja. Saya jadi teringat masa-masa remaja di SMA, tetapi memang jalan cerita saya tidak sama dengan Dilan, he..he.

Namun, ada beberapa adegan yang menurut saya cukup mengganggu dan kurang nyaman dilihat. Di dalam film ada adegan Dilan mengamuk, menyerang, dan memukul gurunya, Pak Suripto, pada saat upacara bendera. Memang Pak Suripto salah juga sih, dia menarik kerah baju Dilan lalu menamparnya di depan siswa lain. Itu memang sikap guru yang tidak pantas karena melakukan kekerasan kepada siswa. Tidak jelas juga apa kesalahan Dilan sehingga dia ditampar. Tapi menurut saya tidak selayaknya adegan guru menampar murid dan Dilan menghantam Pak Guru ditampilkan di dalam film tersebut mengingat banyaknya kasus kekerasan antara murid dan guru saat ini. Guru melakukan kekerasan kepada murid, murid membunuh gurunya. Hii….sungguh zaman sekarang makin kacau.

Saya khawatir adegan Dilan menyerang guru nanti jadi pembenaran bagi murid  lain untuk membalas dengan kekerasan pula jika guru memarahi murid dengan tangan. Heran saja adegan tersebut bisa  lolos sensor. Saya tidak tahu apakah di dalam novelnya ada alur cerita demikian (saya tidak membaca novel Pidi Baiq), tetapi ada atau tidak di dalam novel aslinya tidak perlulah ditampilkan adegan tersebut secara vulgar di dalam film. Saya sebagai guru (dosen) saja tidak nyaman melihat seorang guru diserang, dipukul, dan dihantam, apalagi Dilan memanggil gurunya dengan nama saja, Suripto, tanpa kata Pak di depannya. Itu saja tidak sopan menurut saya.

Selain adegan di atas, ada adegan lain yang saya juga kurang nyaman melihatnya, yaitu adegan romantis Milea memeluk Dilan yang boncengan di atas sepeda motor. Saya tidak tahu di dalam novel aslinya apa juga demikian, atau hanya kreativitas sutradara saja yang membuat visualisasinya demikian. Anak SMA lho itu, bukan cerita orang dewasa. Film ini menurut klasifikasinya untuk usia 13+, tetapi saya lihat banyak anak-anak juga ikut nonton bersama orangtuanya, dan petugas bioskop pun tidak melarangnya.

Saya khawatir saja adegan mesra tersebut ditiru remaja kita dan menganggapnya perbuatan biasa, padahal bisa mengarah ke perbuatan selanjutnya yang dilarang agama.  Penonton film Dilan kebanyakan remaja. Usia remaja belum bisa memfilter mana adegan yang baik dan mana yang kurang pantas. Untung anak saya yang duduk di SD batal ikut menonton, padahal tadinya dia ngotot mau ikut. Coba kalau ikut, tentu saya merasa jengah melihat dia menyaksikan kemesraan dua anak SMA yang berpacaran. Menurut saya sebuah film tidak hanya berisi tontonan, tetapi seharusnya  juga berisi tuntunan yang mendidik. Memang pada zaman sekarang sudah biasa kita lihat para remaja berpacaran seperti sudah menjadi suami istri saja, peluk-pelukan, pegangan tangan, ciuman, dan akhirnya berbuat zina yang lebih dalam lagi. Tapi yang sudah biasa itu tidak boleh kita anggap benar. Saya memang termasuk kolot dalam mendidik anak, wanti-wanti saya melarang ini itu, ini tak boleh itu tak boleh, bergaul sama siapa saja.  Boleh badung sepert Dilan, tetapi jangan mendekati zina yang dilarang agama. Itu saja.

Written by rinaldimunir

February 12th, 2018 at 11:44 am

Posted in Pendidikan

Perihal Pemerintah Akan Menarik Zakat Gaji PNS

without comments

Menteri Agama baru-baru ini melontarkan wacana untuk mengeluarkan Peraturan Presiden tentang penarikan zakat 2,5 gaji ASN muslim. Dengan Perpres tersebut nanti zakat sebesar 2,5% langsung dipotong dari gaji ASN (Aparatur Sipil negara), termasuk PNS setiap bulan. Pemotongan zakat dari gaji bulanan tidak wajib, tetapi bersifat sukarela saja. Maksudnya, hanya bagi ASN yang bersedia saja dipotong zakat 2.5% dari gajinya, sementara bagi ASN tidak bersedia tidak akan dipotong. Kata Menag, zakat yang akan terkumpul dari gaji ASN jumlahnya mencapai triliunan.

Pemotongan zakat 2,5% dari gaji PNS bukan hal yang baru, beberapa pemerintah daerah suah lebih dulu melaksanakannya (Baca:  Lazimkah Zakat dari Pemotongan Gaji ASN/PNS?). Penyaluran zakat adalah untuk kemaslahatan umat juga, yaitu untuk pengentasan kemiskinan.

Rencana Pemerintah tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Saya pribadi tidak keberatan dipotong gaji untuk zakat. Zakat adalah kewajiban agama bagi orang yang mampu. Selama ini saya membayar zakat pada akhir tahun, yaitu dari semua sisa uang penghasilan yang saya tabung, lalu dikeluarkan zakat mal sebesar 2,5%.  Meskipun tidak mengeluarkan zakat setiap bulan dari gaji, tetapi saya selalu mengeluarkan dan infaq sedekah hampir setiap bulan kepada anak yatim dan fakir miskin, yang jumlahnya kalau ditotal seringkali lebih besar dari 2,5%.

Barangkali yang dimaksud oleh Menteri Agama zakat 2,5% dari gaji bulanan adalah zakat profesi atau zakat penghasilan. Zakat profesi adalah ijtihad para ulama, karena pada masa Nabi Muhammad istilah zakat profesi itu tidak ada.  Jenis-jenis zakat di dalam Islam adalah zakat fitrah dan zakat mal. Zakat mal terdiri dari  zakat hasil pertanian/hasil bumi, zakat binatang ternak, zakat barang galian, zakat harta karun.  Setahu saya istilah zakat profesi baru muncul sekitar tahun 90-an bersamaan dengan banyaknya tumbuh lembaga amil zakat di tanah air.

Menurut yang saya baca, perhitungan zakat profesi ini ada dua pendekatan. Pertama, langsung dipotong 2,5% dari gaji kotor apabila nilainya sudah mencapai nisab. Kedua, dari gaji tersebut dikeluarkan dulu biaya operasional yang bersangkutan, seperti biaya untuk konsumsi, transportasi, biaya anak sekolah, dan sebagainya, barulah dari sisanya jika mencapai satu nisab dikeluarkan zakat 2,5%. Sebagai patokan, yang digunakan adalah nisab emas. Nisab emas adalah 90 gram. Jadi, jika memiliki uang gaji setara lebih dari 90 gram emas, atau setelah dikeluarkan seluruh biaya operasional masih bersisa  lebihd ari satu bisab, maka dikelaurkan zakatnya 2,5%.

Saya sendiri agak kurang sepakat dengan istilah zakat profesi, sebab menurut pemahaman saya, CMIIW, zakat itu dikeluarkan jika sudah mencapai satu nisab dan sudah semasa putaran satu tahun (haul). Kalau gaji bulanan memang mungkin bisa mencapai satu nisab, tetapi belum mencapai masa satu tahun. Maka, sebagai gantinya, saya mengeluarkan sedekah atau infaq saja setiap bulan dari penghasilan yang saya terima. Barulah setelah mencapai satu tahun (biasanya pada akhir tahun) saya hitung semua simpanan uang saya di dalam tabungan, dan dari simpanan tersebut dikeluarkan zakat 2,5%.

Ada juga suara-suara yang mengaitkan pemotongan zakat ini dengan pajak. Jika setiap ASN muslim dipotong gajinya untuk zakat, maka sudah selayaknya bukti zakat dijadikan sebagai bukti pembayaran pajak dan bukan pengurang pajak sebagaimana yang berlaku sekarang (Baca:  Zakat Gaji ASN, Lalu Bagaimana dengan Status Pajaknya?).  Selain itu umat juga mempertanyakan siapa yang mengelola zakat ini,  lalu untuk apa digunakan, dan sebagainya, karena ada kekhawatiran umat zakat yang terkumpul triliunan rupiah menjadi sumber korupsi baru.

Apapun itu, saya setuju dengan zakat. Harta perlu disucikan, caranya dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk kaum papa. Sesungguhnya di dalam harta yang kita peroleh ada hak untuk orang miskin dan fisabilillah. Yang paling penting adalah jangan sampai ada kesan Pemerintah kita begitu cepat memanfaatkan umat kalau sudah menyangkut soal duit (ingat wacana menggunakan dana simpanan haji untuk pembangunan infrastruktur, dan sekarang zakat), tetapi di sisi lain measih melakukan praktek-praktek yang melukai hati umat (ingat kasus penangkapan ulama).

Written by rinaldimunir

February 9th, 2018 at 3:16 pm

Posted in Agama

Going through time machine. This building looks super classic…

without comments

Going through time machine. This building looks super classic from outside, but it hosts a bunch of hip restaurants. #singapore #architecture #chijmes (at CHIJMES) via http://ift.tt/2EnIWQF

Written by Veriyanta Kusuma

February 7th, 2018 at 6:14 pm

Posted in Uncategorized

Going through time machine. This building looks super classic…

without comments

Going through time machine. This building looks super classic from outside, but it hosts a bunch of hip restaurants. #singapore #architecture #chijmes (at CHIJMES) via http://ift.tt/2EnIWQF

Written by Veriyanta Kusuma

February 7th, 2018 at 6:14 pm

Posted in Uncategorized

(via http://ift.tt/20R79EI)

without comments

(via https://open.spotify.com/track/5Sm1X46tna50RstHZvw072) via http://ift.tt/2BdWBrG

Written by Veriyanta Kusuma

February 7th, 2018 at 4:14 pm

Posted in Uncategorized