if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2018

Koran Bekas “Penglarisan” si Mamang

without comments

Mamang-mamang pembeli barang rongsokan setiap hari selalu lewat di depan rumah saya  sambil menanyakan apakah mau jual koran bekas. Mamang-mamang itu sepertinya tahu saja kalau saya masih berlangganan koran, padahal dalam era digital sekarang orang lebih banyak membaca berita di internet ketimbang media cetak. Media cetak pun satu per satu sudah mulai kolaps karena ditinggalkan pembaca.

Langganan koran di rumah tetap saya lanjutkan karena anak saya suka membaca koran, yach minimal untuk tetap terus menumbuhkan minat baca selain baca buku tentunya. Sejak kecil di Padang saya penyuka baca koran, karena itulah saya banyak tahu tentang sitauasi politik negara ini, kejadian di luar negeri, dan lainnya. Hobi membaca koran itu diwariskan ke anak saya.

Kembali ke cerita si Mamang pembeli koran bekas. Dengan setengah berharap dia meminta saya menjual koran bekas. Buat penglarisan, katanya. Dari tadi belum dapat barang, lanjutnya. Pedagang Sunda memang paling suka menyebut kata “penglaris” sebagai cara berharap agar dagangannya laku. Jika dagangan sedang sepi, lalu ada pembeli pertama datang, maka tawar menawar harga tidak akan sulit. Pedagang merelakan dagangannya dibeli dengan harga yang ditawar. Setingkali uang yang diterima dari pembeli dikibas-kibaskan ke barang dagangannya. Buat penglarisan, katanya, sebuah kepercayaan yang sudah turun temurun di Tatar Sunda sejak dulu kala.

Mamang sedang menimbang koran bekas

Saya lihat ke dapur, memang sudah banyak tumpukan koran bekas. Berapa sekilo mang, tanya saya. Tiga ribu, jawabnya. Sekarang harga koran bekas lagi bagus, Pak, lanjutnya. Iya, kata saya dalam hati, biasanya pedagang koran bekas membeli 2000/kg. Koran-koran bekas itu dijual ke pengepul. Biasanya koran bekas dijadikan pembungkus, misalnya pembungkus ikan asin atau buat tanaman. Si Mamang juga menanyakan apakah saya punya kertas HVS bekas kalau ada. Kertas HVS bekas biaanya didaur ulang menjadi kertas lagi. Harganya 1500/kg, lebih murah daripada koran bekas. Selain koran, si mamang juga sering menanyakan apakah ada aki bekas, besi bekas, dan sebagainya. Wah, mana ada barang itu di rumah saya.

Oke, transaksi pun berlanjut. Setelah ditimbang, ternyata ada 11 kg. Lumayan, tiga puluh tiga ribu. Uang penjualan koran bekas buat si bibi pembantu di rumah saja, yang selama ini selalu membereskan koran yang berantakan di lantai setelah dibaca. Si Mamang pun pergi dengan hati yang girang membawa barang.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2018 at 11:15 am

Posted in Gado-gado

Adegan Kurang Nyaman di dalam Film “Dilan 1990”

without comments

Terpengaruh oleh promosi dan meme-meme yang lucu di media sosial tentang film Dilan 1990 membuat saya dan istri ikut tertarik menonton film remaja ini. Ini film yang sedang poluler di tanah air dan sudah mencapai jumlah penonton mendekati 5 juta orang.  Katanya, film yang diadopsi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul sama ini, ceritanya tidak berat, banyak adegan kocak, dan yang paling penting banyak kalimat puitis yang bikin baper banyak orang.  Salah satu kalimat yang favorit di film itu dan bikin baper anak muda adalah Jangan rindu. Berat. Kamu tidak kuat. Biar aku saja. ?

Saya tertarik menonton film ini bukan karena kalimat-kalimat puitis yang bikin baper itu. Bukan. Tetapi karena film ini menggambarkan suasana kota Bandung tahun 1990. Singkatnya, tokoh Dilan dan Milea di dalam di film tersebut bersekolah di SMA di daerah Buahbatu (tahu sendirilah, pasti SMAN 8 Bandung), jadi tentu shooting film mengambil setting kota Bandung tahun 1990. Tahun 1990 itu saya masih kuliah di ITB, belum lulus, dan kesibukan saya lebih banyak menjadi pengajar di Bimbel Karisma Salman ITB. Di Bimbel itu saya bertemu banyak anak SMA dari berbagai sekolah di Bandung. Jadi, ini semacam nostalgia saja. Bagi saya, kota Bandung adalah kota kecintaan saya yang kedua setelah kota Padang tempat kelahiran saya. Saya kuliah di sini, di ITB,  dan akhirnya bekerja menjadi dosen di almamater saya hingga sekarang.

dilan-film

Menurut saya setelah menonton film Dilan, jujur saja filmnya memang bagus, jalan ceritanya menarik. Ini memang kisah cinta remaja. Saya jadi teringat masa-masa remaja di SMA, tetapi memang jalan cerita saya tidak sama dengan Dilan, he..he.

Namun, ada beberapa adegan yang menurut saya cukup mengganggu dan kurang nyaman dilihat. Di dalam film ada adegan Dilan mengamuk, menyerang, dan memukul gurunya, Pak Suripto, pada saat upacara bendera. Memang Pak Suripto salah juga sih, dia menarik kerah baju Dilan lalu menamparnya di depan siswa lain. Itu memang sikap guru yang tidak pantas karena melakukan kekerasan kepada siswa. Tidak jelas juga apa kesalahan Dilan sehingga dia ditampar. Tapi menurut saya tidak selayaknya adegan guru menampar murid dan Dilan menghantam Pak Guru ditampilkan di dalam film tersebut mengingat banyaknya kasus kekerasan antara murid dan guru saat ini. Guru melakukan kekerasan kepada murid, murid membunuh gurunya. Hii….sungguh zaman sekarang makin kacau.

Saya khawatir adegan Dilan menyerang guru nanti jadi pembenaran bagi murid  lain untuk membalas dengan kekerasan pula jika guru memarahi murid dengan tangan. Heran saja adegan tersebut bisa  lolos sensor. Saya tidak tahu apakah di dalam novelnya ada alur cerita demikian (saya tidak membaca novel Pidi Baiq), tetapi ada atau tidak di dalam novel aslinya tidak perlulah ditampilkan adegan tersebut secara vulgar di dalam film. Saya sebagai guru (dosen) saja tidak nyaman melihat seorang guru diserang, dipukul, dan dihantam, apalagi Dilan memanggil gurunya dengan nama saja, Suripto, tanpa kata Pak di depannya. Itu saja tidak sopan menurut saya.

Selain adegan di atas, ada adegan lain yang saya juga kurang nyaman melihatnya, yaitu adegan romantis Milea memeluk Dilan yang boncengan di atas sepeda motor. Saya tidak tahu di dalam novel aslinya apa juga demikian, atau hanya kreativitas sutradara saja yang membuat visualisasinya demikian. Anak SMA lho itu, bukan cerita orang dewasa. Film ini menurut klasifikasinya untuk usia 13+, tetapi saya lihat banyak anak-anak juga ikut nonton bersama orangtuanya, dan petugas bioskop pun tidak melarangnya.

Saya khawatir saja adegan mesra tersebut ditiru remaja kita dan menganggapnya perbuatan biasa, padahal bisa mengarah ke perbuatan selanjutnya yang dilarang agama.  Penonton film Dilan kebanyakan remaja. Usia remaja belum bisa memfilter mana adegan yang baik dan mana yang kurang pantas. Untung anak saya yang duduk di SD batal ikut menonton, padahal tadinya dia ngotot mau ikut. Coba kalau ikut, tentu saya merasa jengah melihat dia menyaksikan kemesraan dua anak SMA yang berpacaran. Menurut saya sebuah film tidak hanya berisi tontonan, tetapi seharusnya  juga berisi tuntunan yang mendidik. Memang pada zaman sekarang sudah biasa kita lihat para remaja berpacaran seperti sudah menjadi suami istri saja, peluk-pelukan, pegangan tangan, ciuman, dan akhirnya berbuat zina yang lebih dalam lagi. Tapi yang sudah biasa itu tidak boleh kita anggap benar. Saya memang termasuk kolot dalam mendidik anak, wanti-wanti saya melarang ini itu, ini tak boleh itu tak boleh, bergaul sama siapa saja.  Boleh badung sepert Dilan, tetapi jangan mendekati zina yang dilarang agama. Itu saja.

Written by rinaldimunir

February 12th, 2018 at 11:44 am

Posted in Pendidikan

Perihal Pemerintah Akan Menarik Zakat Gaji PNS

without comments

Menteri Agama baru-baru ini melontarkan wacana untuk mengeluarkan Peraturan Presiden tentang penarikan zakat 2,5 gaji ASN muslim. Dengan Perpres tersebut nanti zakat sebesar 2,5% langsung dipotong dari gaji ASN (Aparatur Sipil negara), termasuk PNS setiap bulan. Pemotongan zakat dari gaji bulanan tidak wajib, tetapi bersifat sukarela saja. Maksudnya, hanya bagi ASN yang bersedia saja dipotong zakat 2.5% dari gajinya, sementara bagi ASN tidak bersedia tidak akan dipotong. Kata Menag, zakat yang akan terkumpul dari gaji ASN jumlahnya mencapai triliunan.

Pemotongan zakat 2,5% dari gaji PNS bukan hal yang baru, beberapa pemerintah daerah suah lebih dulu melaksanakannya (Baca:  Lazimkah Zakat dari Pemotongan Gaji ASN/PNS?). Penyaluran zakat adalah untuk kemaslahatan umat juga, yaitu untuk pengentasan kemiskinan.

Rencana Pemerintah tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra. Saya pribadi tidak keberatan dipotong gaji untuk zakat. Zakat adalah kewajiban agama bagi orang yang mampu. Selama ini saya membayar zakat pada akhir tahun, yaitu dari semua sisa uang penghasilan yang saya tabung, lalu dikeluarkan zakat mal sebesar 2,5%.  Meskipun tidak mengeluarkan zakat setiap bulan dari gaji, tetapi saya selalu mengeluarkan dan infaq sedekah hampir setiap bulan kepada anak yatim dan fakir miskin, yang jumlahnya kalau ditotal seringkali lebih besar dari 2,5%.

Barangkali yang dimaksud oleh Menteri Agama zakat 2,5% dari gaji bulanan adalah zakat profesi atau zakat penghasilan. Zakat profesi adalah ijtihad para ulama, karena pada masa Nabi Muhammad istilah zakat profesi itu tidak ada.  Jenis-jenis zakat di dalam Islam adalah zakat fitrah dan zakat mal. Zakat mal terdiri dari  zakat hasil pertanian/hasil bumi, zakat binatang ternak, zakat barang galian, zakat harta karun.  Setahu saya istilah zakat profesi baru muncul sekitar tahun 90-an bersamaan dengan banyaknya tumbuh lembaga amil zakat di tanah air.

Menurut yang saya baca, perhitungan zakat profesi ini ada dua pendekatan. Pertama, langsung dipotong 2,5% dari gaji kotor apabila nilainya sudah mencapai nisab. Kedua, dari gaji tersebut dikeluarkan dulu biaya operasional yang bersangkutan, seperti biaya untuk konsumsi, transportasi, biaya anak sekolah, dan sebagainya, barulah dari sisanya jika mencapai satu nisab dikeluarkan zakat 2,5%. Sebagai patokan, yang digunakan adalah nisab emas. Nisab emas adalah 90 gram. Jadi, jika memiliki uang gaji setara lebih dari 90 gram emas, atau setelah dikeluarkan seluruh biaya operasional masih bersisa  lebihd ari satu bisab, maka dikelaurkan zakatnya 2,5%.

Saya sendiri agak kurang sepakat dengan istilah zakat profesi, sebab menurut pemahaman saya, CMIIW, zakat itu dikeluarkan jika sudah mencapai satu nisab dan sudah semasa putaran satu tahun (haul). Kalau gaji bulanan memang mungkin bisa mencapai satu nisab, tetapi belum mencapai masa satu tahun. Maka, sebagai gantinya, saya mengeluarkan sedekah atau infaq saja setiap bulan dari penghasilan yang saya terima. Barulah setelah mencapai satu tahun (biasanya pada akhir tahun) saya hitung semua simpanan uang saya di dalam tabungan, dan dari simpanan tersebut dikeluarkan zakat 2,5%.

Ada juga suara-suara yang mengaitkan pemotongan zakat ini dengan pajak. Jika setiap ASN muslim dipotong gajinya untuk zakat, maka sudah selayaknya bukti zakat dijadikan sebagai bukti pembayaran pajak dan bukan pengurang pajak sebagaimana yang berlaku sekarang (Baca:  Zakat Gaji ASN, Lalu Bagaimana dengan Status Pajaknya?).  Selain itu umat juga mempertanyakan siapa yang mengelola zakat ini,  lalu untuk apa digunakan, dan sebagainya, karena ada kekhawatiran umat zakat yang terkumpul triliunan rupiah menjadi sumber korupsi baru.

Apapun itu, saya setuju dengan zakat. Harta perlu disucikan, caranya dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk kaum papa. Sesungguhnya di dalam harta yang kita peroleh ada hak untuk orang miskin dan fisabilillah. Yang paling penting adalah jangan sampai ada kesan Pemerintah kita begitu cepat memanfaatkan umat kalau sudah menyangkut soal duit (ingat wacana menggunakan dana simpanan haji untuk pembangunan infrastruktur, dan sekarang zakat), tetapi di sisi lain measih melakukan praktek-praktek yang melukai hati umat (ingat kasus penangkapan ulama).

Written by rinaldimunir

February 9th, 2018 at 3:16 pm

Posted in Agama

Going through time machine. This building looks super classic…

without comments

Going through time machine. This building looks super classic from outside, but it hosts a bunch of hip restaurants. #singapore #architecture #chijmes (at CHIJMES) via http://ift.tt/2EnIWQF

Written by Veriyanta Kusuma

February 7th, 2018 at 6:14 pm

Posted in Uncategorized

(via http://ift.tt/2ELYmw5)

without comments

(via https://open.spotify.com/track/4WPxDW0bwpbNOmMmaMr97G) via http://ift.tt/2E6QxQg

Written by Veriyanta Kusuma

February 7th, 2018 at 4:14 pm

Posted in Uncategorized

(via http://ift.tt/20R79EI)

without comments

(via https://open.spotify.com/track/5Sm1X46tna50RstHZvw072) via http://ift.tt/2BdWBrG

Written by Veriyanta Kusuma

February 7th, 2018 at 4:14 pm

Posted in Uncategorized

Pensiun (3)

without comments

Akhirnya satu persatu dosen senior saya memasuki masa purnabakti. Pensiun. Umur 65 tahun adalah batas usia seorang dosen mengabdi di almamaternya, kecuali profesor bisa sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun sebelumnya sudah enam orang yang purnabakti. Tahun 2018 ini dua orang lagi. Dari semua dosen senior pendiri Informatika ITB, maka akan tersisa tiga orang yang masih mengabdi di tempat kami. Namun dalam beberapa tahun ke depan, sekitar empat hingga enam tahun lagi, mereka pun akan memasuki masa purna bakti pula. Maka, akan habislah dosen senior di almamater saya. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Empat atau enam tahun itu tidak terasa lama.

Saya yang selama ini merasa masih tetap dosen yunior, karena merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, tiba-tiba harus merasa untuk bersiap-siap  menjadi dosen senior di almamater saya di Informatika ITB. Di bawah saya sudah banyak dosen muda yang berkiprah. Mereka menggantikan peran dosen yang telah pergi memasuki masa retired. Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. That”s life.  Pensiun adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak.

Tiba-tiba saja saya merasa diri ini sudah tua. Sebenarnya saya sudah menyadari hal itu sejak beberapa tahun lalu, ketika rambut putih sudah mulai banyak bertaburan di atas kepala. Tetapi, saya sering tidak sadar karena alasan di atas, yaitu merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, sehingga saya merasa masih muda saja, merasa masih perlu dibimbing oleh para senior. Tetapi dengan berlalunya waktu, mereka telah mulai meninggalkan kami. Itu artinya saya akan menggantikan peran mereka menjadi orang yang dituakan oleh para dosen yang lebih muda. Semoga saja saya bisa mengemban peran tersebut.

Suatu hari, saya pernah berjalan kaki bersama seorang dosen senior ketika kami mendapat tugas mengajar di Lampung. Satu tahun lagi dia akan memasuki masa purnabakti. Sembari kami berjalan kaki, saya menceritakan kesedihan saya yang akan merasa kehilangan setelah dia pensiun. Saya menceritakan saat saya diterima menjadi dosen ketika beliau menjabat Sekretaris Jurusan. Saya menceritakan wejangan yang dia berikan, nasehat yang dia berikan saat itu, tugas yang dia berikan kepada saya, lalu cerita masa-masa kami bersama menjalankan Jurusan (waktu itu masih bernama Jurusan Teknik Informatika). Entah kenapa saya merasa sentimentil.  Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia akan tetap sering ke kampus meskipun nanti sudah pensiun.

Ada satu hal yang membuat saya merasa betah berkiprah di kampus, yaitu keberadaan para mahasiswa. Itulah alasan mengapa saya tetap ada di sini. Mereka para anak muda yang haus ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan bimbingan dan panutan. Tiap hari saya masuk ke kampus, lalu pulang pada sore harinya. Terkadang, biarpun badan masih sakit saya paksakan juga ke kampus menemui mereka, mengajar di depan kelas, melayani bimbingan dan konsultasi. Tiba-tiba saja penyakit di badan terasa hilang, badan menjadi lebih ringan, tetapi di rumah badan mulai meriang lagi. Itulah kadang sukanya menjadi pengajar dan pendidik, rasa sakit lenyap ketika sudah berada di depan anak didik. Peran ini akan terus saya lanjutkan sampai tiba suatu masa saya mendapat giliran memasuki masa purnabakti pula, entah pada umur 65 atau umur 70. Wallahualam.

Written by rinaldimunir

February 2nd, 2018 at 3:45 pm