if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2017

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

without comments

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.


Written by rinaldimunir

September 22nd, 2017 at 4:01 pm

Keluar dari Grup Whatsapp

without comments

Berbincang-bincang melalui aplikasi whatsapp (WA) di dalam sebuah grup diskusi memang mengasyikkan. Pada era smartphone saat ini hampir semua pemilik gawai (gadget) memiliki aplikasi whatsapp. Perbincangan di dalam grup bisa membahas masalah serius, tapi bisa pula hanya berisi senda gurau belaka yang dapat melenakan penggunanya sehingga keasyikan  chatting berjam-jam.

Setiap orang mungkin tergabung dalam beberapa grup di WA. Grup WA yang banyak  jumlahnya adalah grup alumni, baik alumni SD, SMP, SMA, kuliah, alumni prajabatan CPNS, alumni umroh dan haji, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk grup komunitas, grup pegawai di kantor, grup RT, grup arisan, dan sebagainya. Memori ponsel bisa-bisa penuh dengan pesan-pesan yang terkirim di WA. Jika dilayani semua, chatting melalui WA dapat melalaikan pekerjaan kita atau tugas utama kita sehari-hari. Sikap yang paling bijak adalah berkomunikasi melalui WA seperlunya saja.

Pesan atau informasi apa saja dapat dikirim melalui WA. Tidak hanya pesan teks, tetapi juga dokumen (Word, Excell, PPT, pdf, dll), gambar, video, animasi, tautan ke situs berita daring dan sebagainya. Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena terlalu bersemangat, anggota grup WA seringkali kebablasan. Humor-humor yang berbau pornografi sering kali melintas. Namun yang lebih parah adalah gambar-gambar mesum atau video mesum yang dikirim anggota grup.

Saya yang menerima gambar-gambar atau video mesum tersebut masih dapat bersabar. Gambar dan video tersebut saya hapus dari memori ponsel. Tetapi gambar-gambar mesum lain masih saja terus lalu lalang yang dikirim oleh anggota grup. Default-nya adalah gambar-gambar yang dikirim melalui WA akan tersimpan secara otomatis kecuali kalau kita men-seting perlu persetujuan user.

Pengirim gambar-gambar mesum sering berkilah, tujuannya hanya untuk sekedar fun, biar nggak stres, atau hanya sekedar iseng mencari perhatian anggota grup. Namun, pengirim gambar tidak sadar, bahwa tidak semua anggota grup mempunyai pola pikir seperti dia. Tidak semua anggota suka dengan gambar-gambar mesum tersebut.

Saya sering komplain pada beberapa grup, mempertanyakan anggota grup yang suka mengirim gambar-gambar yang tidak pantas ke jalur umum. Jika ingin menikmati gambar-gambar koleksi mesum tersebut, nikmati saja sendiri, tanggung jawab sendiri, itu urusan Anda, dosanya dosa anda, kenapa harus disebar ke dalam grup yang anggotanya beragam?

Saya punya alasan mengapa saya harus “marah”. Anak saya di rumah suka meminjam ponsel saya, sekedar main game atau mengakses video di Youtube. Kadang-kadang dia juga suka melihat koleksi gambar di Gallery ponsel.  Nah, inilah yang saya takutkan. Setiap kali saya menerima kiriman gambar mesum dari grup WA, saya dengan sigap selalu menghapusnya. Saya khawatir anak-anak saya melihatnya dan mengira saya mengkoleksi gambar-gambar mesum tersebut. Namun, ada kalanya saya lupa menghapusnya. Kecepatan saya menghapus juga tidak selalu secepat anak saya melihatnya. Bisa saja ketika dia menggunakan ponsel saya, gambar-gambar tersebut masuk dan saya belum menghapusnya. Itulah yang saya takutkan, dia melihat gambar-gamba pornografi kiriman anggota grup.  Saya membenarkan pendapat Bu Elly Risman yang menyatakan kalau peredaran pornografi secara masif adalah melalui ponsel.

Berhubung komplain saya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka apa boleh buat, saya pun terpaksa left atau keluar dari grup. Daripada anak saya menjadi korban pornografi, biarlah saya rela tidak mengikuti grup diskusi yang ramai itu. Keluar dari grup WA tidak berarti memutus hubungan pertemanan di darat. Hubungan saya dengan teman di grup tetap baik-baik saja.


Written by rinaldimunir

September 19th, 2017 at 5:19 pm

Posted in Pengalamanku

Mendidik dengan Memberi Contoh

without comments

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.


Written by rinaldimunir

September 11th, 2017 at 2:49 pm

Posted in Pendidikan

Menangisi Nasib Etnik Rohingya yang Nestapa

without comments

Kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh tentara Myanmar dan massa Budha radikal mewarnai pemberitaan dunia hari-hari ini. Media setiap hari memberitakan pembunuhan keji yang dilakukan oleh tentara Myanmar kepada warga etnik Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan). Kaum lelaki dibunuh dan dibakar, anak-anak yang melindungi ibunya dipotong lehernya dengan pisau, rumah-rumah mereka dibakar. Puluhan ribu orang yang selamat melarikan diri ke perbatasan Bangladesh menyeberangi sungai Naf. Perahu yang sarat penumpang itu ada yang terbalik menghanyutkan penumpangnya, yang akhirnya menjadi mayat-mayat yang terdampar di pinggir sungai. Ethnic cleansing atau genosida sedang dilakukan oleh tentara dan Pemerintah Myanmar.

rohingya2

Sumber gambar: http://bdnews24.com/neighbours/2017/09/02/rohingya-muslims-flee-as-more-than-2600-houses-burned-in-myanmar-s-rakhine

Etnik Rohingya adalah etnik yang tidak diakui oleh negara Myanmar. Mereka dianggap imigran dari Bangladesh yang memasuki wilayah Rakhine, meskipun menurut sejarah mereka sudah tinggal di Rakhine beberapa generasi. Secara fisik mereka berbeda dengan orang Myanmar pada umumnya. Orang Rohingya berkulit gelap (hitam) dan, sedangkan orang Burma (suku terbesar di Myanmar) berkulit putih. Bahasa mereka juga berbeda dengan bahasa di Myanmar. Satu pembeda lain dengan warga Myanmar adalah agama. Penduduk Myanmar umumnya beragama Budha, sedangkan orang Rohingya ini beragama Islam. Kelak soal agama ini juga ikut memicu ketegangan rasial antara etnik Rohingya dengan kelompok Budha yang dipimpin oleh Bhiksu radikal.

Pemerintah dan warga Myanmar menyebut mereka Bengali ketimbang Rohingya. Jumlah mereka mencapai 1,1 jiwa yang sebagian besar hidup di Rakhine. Karena tidak diakui sebagai warganagera yang sah, maka warga etnik Rohingya tidak mendapat hak-hak seperti hak pendidikan, hak politik, kesehatan, hak mendapat pekerjaan formal, dan lainnya. Mereka didiskriminasi dalam segala bidang. Pemerintah dan warga Myanmar membenci etnik Rohingya dan menjadikan mereka sebagai musuh bersama yang harus dijauhi dan diusir dari Myanmar. Malangnya, Bangladesh pun tidak mengakui mereka sebagai warga Bangladesh. Jadilah orang Rohingya menjadi stateless, tidak memiliki kewarganegaraan apapun. Faktor stateless inilah yang menjadi pemicu awal diskriminasi terhadap etnik Rohingya.

Hampir setiap waktu terjadi aksi kekerasan terhadap orang Rohingya. Tak tahan dengan kekerasan yang terus menerus yang dialami etniknya, maka sekelompok kecil warga Rohingya akhirnya menjadi militan dan melakukan perlawanan mengangkat senjata. Mereka sudah putus asa dan sudah kehilangan harapan untuk hidup.  Dalam pikiran mereka, jika pun masih hidup, maka nanti aka mati juga di tangan tentara atau warga Myanmar. Satu-satunya jalan adalah melawan, mau mayti atau hidup sudah tidak ada harapan lagi, mungkin begitu yang terlintas di kepala mereka. Kelompok militan yang dinamakan ARSA ini  menyerang pos polisi dan tentara, membunuh target yang mereka temui. Rupanya, aksi kekerasan yang dilakukan oleh ARSA ini berimbas kepada warga Rohingya lain yang tidak berdosa. Mereka menjadi target tentara Myanmar untuk memburu kelompok militan itu, dengan alasan tidak bisa membedakan mana militan dan  mana warga biasa. Dengan keji tentara Mynamar membunuh warga Rohingya yang tidak bersalah, membakar rumah-rumah mereka, sehingga menghasilkan arus pengungsian seperti yang saya sebutkan di bagian awal.

Sesungguhnya pengusiran dan pembunuhan warga Rohingya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sekarang saja puncaknya karena ada momentum untuk menjadi alasan pembenaran aksi kekejaman itu, yaitu sebagian warga Rohingya dianggap teroris yang  harus dibasmi.

Kebetulan saja etnik Rohingya ini beragama Islam, maka solidaritas dan aksi demo di negara-negara muslim pun marak memprotes kekejaman tentara Myanmar. Di tanah air, solidaritas kepada etnik Rohingya memancing sekelompok orang lain untuk bersikap sebaliknya. Kelompok ini sepertinya tidak memiliki hati nurani. Aksi keji tentara dan warga Myanmar terhadap etnis Rohingya tidak mampu menumbuhkan empati pada diri mereka. Mereka menyalahkan etnik Rohingya sebagai pendatang dari Bangladesh yang tidak tahu diri. Sudahlah “mengambil” tanah orang, lalu membuat gaduh di sana, begitu kata mereka. Terhadap orang Indonesia yang ikut-ikutan membela Rohingya, kelompok ini berkata sinis sebagai berikut: tidak perlu jauh-jauh membantu orang Rohingya, masih banyak warga kita yang perlu dibantu itu urusan dalam negeri Mynamar, ngapain kita ikut campur; kalau mau berjihad, silakan saja pergi ke sana; ujung-ujungnya nanti yang disalahkan adalah Jokowi; dan sebagainya.  Perpecahan bangsa akibat Pilpres dan Pilkada masih berlanjut hingga ke masalah Rohingya ini. Astaghfirullah.

Padahal, tidak perlu menjadi muslim untuk ikut bersimpati kepada penderitaan warga Rohingya. Menjadi manusia saja sudah cukup untuk ikut merasakan nestapa etnik Rohingya yang teraniaya. Mereka terlahir menjadi Rohingya bukanlah keinginan mereka.  Meski mereka tidak memiliki kewarganegaraan, tapi bukan berarti manusia, dalam hal ini tentara Myanmar, boleh semena-mena memperlakukan mereka sebagai anjing kurap yang harus dibasmi. Siapapun manusia di dunia yang teraniaya karena nasibnya yang malang, apapun etnis dan agamanya, maka sebagai manusia lain yang lebih beruntung minimal kita berempati kepada nasib mereka ini.

Di sisi lain, meskipun kita warga muslim Indonesia berempati dan membela Rohingya, jangan sampai pula kita membuat fallacy yang membahayakan. Meskipun mayoritas warga Myanmar beragama Budha, tetapi warga Budha di Indonesia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan yang dilakukan warga Budha Myanmar terhadap warga Rohingya. Jadi, sungguh perbuatan salah jika vihara, bhiksu, dan warga Budha di tanah air menjadi sasaran kemarahan. Stop membuat kesimpulan ngawur dan sesat.


Written by rinaldimunir

September 6th, 2017 at 4:43 pm

Posted in Dunia oh Dunia