if99.net

IF99 ITB

Archive for August, 2017

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 3)

without comments

Setelah menikmati Pulau Samosir, maka saatnya melihat Danau Toba dari ketinggian dengan pemandangan jauh lebih indah dan sangat mengagumkan.  Dari Parapat hendaknya Anda mengelilingi Danau Toba melalui jalan-jalan di sekitarnya yang mendaki. Dari daerah ketinggian itu terlihatlah keindahan Danau Toba yang luar biasa dan tidak bsia dilukiskn dengan kata-kata. Dalam perjalanan kami dari Parapat menuju Medan, kami melewati sebuah tempat di Kabupaten Karo yang bernama  Simarajunjung.  Di daerah ini terdapat sebuah resort yang dikelola oleh pihak swasta, bernama Taman Simalem.

Di Taman Simalem ini terdapat hotel, restoran, amphiteather, taman-taman yang indah, toko souvenir dan lain-lain. Sangat luas sekali resort ini, kabarnya milik seorang pengusaha Medan. Dari taman Simalem yang terletak di Dataran Tinggi Karo kita dapat menyaksikan pemandangan Danau Toba yang sungguh mempesona, seperti foto-foto di bawah ini. Kita dapat melihat betapa Danau Toba itu laksana lautan luas sahaja.

Setelah makan dan sholat di kawasan Taman Simalem (di dalamnya ada mushola dan di depannya gereja), kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan. Kami melewati kota-kota seperti  Kabanjahe, Berastagi, Sibolangit, dan lain-lain. Sepanjang jalan kita melihat penduduk yang mengelola perkebunan. Daerah Dataran Tinggi Karo memang sangat subur. Beberapa komoditas pertanaian seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Kebun buah yang utama adalah jeruk. Jeruk Medan yang kita kenal itu sebenarnya berasal dari Berastagi. D

Kami mampir di pasar buah Berastagi. Di pasar buah ini kita dapat melihat dan membeli buah-buah segar yang berwarna-warni damn sangat menawan hati. Ada jeruk, terong belanda, mangga udang yang kecil-kecil tapi manis, salak side,puan, buah kesemek, dan lain-lain. Melihat buah-buahan yang beraneka ragam itu, sadarkah kita kalau negara kita ini sebenarnya penghasil buahan-buahan yang menarik dan segar?

Demikianlah perjalanan saya mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir. Sebenarnya masih kurang puas hanya sebentar di sana. Jika ada kesempatan, saya ingin lebih lama lagi menjelajahi keindahan danau ini.

(TAMAT)

 


Written by rinaldimunir

August 29th, 2017 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 2)

without comments

Jalan-jalan ke Danau Toba tanpa mengunjungi Pulau Samosir sama seperti makan nasi tanpa sayur, nggak lengkap rasanya. Danau Toba dan Pulau Samosir adalah satu kesatuan geografis. Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba besarnya kira-kira seluas negara Singapura (lihat gambar di bawah, sumber dari sini). Oh ya, Danau Toba yang luas ini dikelililing oleh tujuh  kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tobasa (Toba Samosir), Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupatyen Karo, dan Kabupaten Samosir. (Baca:  7 Kabupaten yang mendiami kawasan Danau Toba).

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Setelah sarapan dan check-out dari Hotel Inna Parapat, kami rombongan Garuda menyeberang ke Pulau Samosir menaiki perahu wisata. Dari dermaga di dekat Hotel Inna Parapat menuju ke Pulau Samosir membutuhkan waktu berlayar kira-kira 40 menit.

Perahu wisata menuju Pulau Samosir

Air Danau Toba cukup tenang, tidak berombak seperti lautan. Membayangkan diri kita berlayar di Danau Toba sebenarnya kita mengarungi kaldera bekas letusan supervalcano ribuan tahun yang lalu. Saya sempat berpikiran nakal, jika tiba-tiba supervolcano Toba ini meletus kembali, habislah diri kami di sini.

Sepanjang perjalanan di danau yang sangat luas ini kita dapat melihat hamparan Pulau Samosir yang memanjang. Hotel dan vila berjejer di sepanjang pantai pulau. Pulau Samosir sekarang menjadi kabupaten sendiri, bernama Kabupaten Samosir dengan ibukotanya di Panguruan. Panguruan adalah kota kecil yang terletak pada posisi persambungan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Jadi, sebenarnya Pulau Samosir ini dahulu tidaklah terpisah seluruhnya dengan daratan Pulau Sumatera.  Ia belum menjadi pulau dalam arti sebenarnya, tapi masih merupakan bagian pulau Sumatera. Ada bagian tanjung yang sangat sempit yang tersambung dengan pulau Sumatera. Tetapi,  Belanda pada zaman penjajahan dulu memotong persambungan ini sehingga Pulau Samosir resmi terpisah dengan Pulau Sumatera, dipisahkan oleh sebuah kanal. Sekarang daratan antara Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera dihubungkan dengan sebuah jembatan sepanjang 20 meter (Baca tentang jembatan itu di sini:  Sejarah Pulau Samosir yang Banyak Orang Belum Tahu, dan Kisah Jembatan Satu-satunya dari Pulau Samosir ke Sumatera).

Pulau Samosir dari atas perahu

Setelah menempuh waktu 40 menit, sampailah kami di dermaga Pulau Samosir. Inilah titik singgah pertama wisatawan dari Parapat ke Samosir.  Dari dermaga ini kita berjalan melewati jalan setapak menuju sebuah kampung Ambarita, kampung marga Huta Siallagan. Di kampung ini terdapat situs bersejarah peninggalan masa lalu berupa beberapa rumah adat Batak Toba serta meja dan kursi dari batu tempat rapat marga Huta Siallagan. Menurut kepercayaan orang Batak, Pulau Samosir dianggap sebagai tempat asal-muasal suku Batak. Berikut foto-foto di kampung Ambarita.

Konon, di meja dan kursi batu inilah Raja Huta Siallagan melakukan sidang untuk mengadili orang yang dituduh melakukan tindak kejahatan atau mata-mata. Sebelum disidang, tersangka pelaku dipasung di dalam sebuah ruangan di depan rumah adat ini.

Tempat pemasungan pelaku (tersangka)

Tidak jauh darti meja batu tadi, terdapat meja batu lain sebaga tempat eksekusi pelaku yang sudah dijatuhi hukuman mati. Hukuman matinya adalah dengan cara memenggal kepala si tersangka. Hii…seram ya.

Meja batu tempat eksekusi

Batu tempat pemenggalan kepala

Kata pemandu kami, kepala yang sudah dipenggal kemudian dibuang ke Danau Toba. Menurut kepercayaan penduduk Samosir, Danau Toba setiap tahun meminta tumbal berupa kepala manusia. Hiiii….lagi-lagi seram ya.

Di kampung Ambarita ini wisatawan dapat menikmati paket wisata berupa menari tor-tor bersama-sama dengan pakaian ulos dan busana batak lainnya, serta melihat atraksi patung sigale-gale.

Sebenarnya masih banyak situs-situs yang perlu dikunjungi di Pulau Samosir ini, misalnya Tomok. Namun, karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat mengunjunginya. Untuk menjelajahi seluruh Pulau Samosir ini dibutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Jangan khawatir, di pulau ini banyak terdapat hotel dan penginapan.

Di kampung Ambarita, tempat meja batu tadi, kita dapat berbelanja souvenir khas Batak. Pedagang souvenir di sini sangat gigih merayu wisatawan untuk membeli dagangannya. Inang-inang (ibu-ibu suku Batak) menghiba-hiba untuk mampir ke kiosnya. Belilah satu, belilah satu pak, kata inang-inang itu setiap kali saya melewati satu kios.  Satu tips yang penting berbelanja souvenir di sini adalah pandai-pandai menawar. Jika beruntung dan deal, anda dapat setengah harga.

(BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

August 23rd, 2017 at 4:58 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba (Bagian 1)

without comments

Siapa yang tidak ingin melihat Danau Toba, danau yang terluas di Indonesia dan Asia Tenggara dan terletak di propinsi Sumatera Utara. Jangan heran, meskipun saya berasal dari Sumatera, namun saya belum pernah ke sana. Sumatera Utara adalah propinsi yang sangat luas, di sanalah Danau Toba berada. Pergi ke kota Medan pun saya baru sekali. Danau Toba sendiri sangat jauh dari kota Medan, memakan waktu perjalanan sekitar lima sampai enam jam lewat perjalanan darat. Namun sekarang akses ke Danau Toba menjadi lebih dekat sejak dibukanya Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, kabupaten  Tapanuli Utara. Dari Silangit ke kota Parapat di pinggir danau Toba sudah lebih dekat yaitu dua jam perjalanan darat.

Ada dua maskapai yang membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Silangit, yaitu Garuda Indonesia dan Sriwjaya Air. Garuda memiliki jadwal satu kali penerbangan dari Terminal 3 Bandara Soetta ke Silangit, sedangkan Sriwijaya Air ada dua kali penerbangan langsung ke sana. Selain dari Jakarta, Bandara Silangit juga dapat dicapai dengan penerbangan dari Batam da Kualanamu. Jika naik Sriwijaya, pesawatnya dari jenis Boeing, sedangkan bila memakai Garuda maka pesawatnya berukuran lebih kecil dari Boeing, yaitu pesawat berjenis Bombardier atau Explore Jet.

Minggu lalu fakultas saya mengadakan acara rapat kerja sekaligus rekreasi ke Danau Toba.  Kami berangkat dengan penerbangan pagi, rombongan pertama menggunakan Sriwijaya, sedangkan rombongan kedua menggunakan Garuda.  Saya berada dengan rombongan kedua, namun karena pesawat mengalami kerusakan, kami mengalami delay yang cukup lama, yaitu empat jam! Sebagai kompensasinya, kami mendapat makan gratis sepuasnya di Lounge Garuda Terminal 3, selanjutnya karena delay empat jam itu maka kami juga mendapat uang tunai Rp300.000 dari Garuda sesuai aturan Kementerian Perhubungan. Yah, berantakanlah rencana mengunjungi danau Toba pada siang hari itu, sebab pesawat baru berangkat pukul 13.00, padahal kami berangkat dari bandung pukul 12 malam untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol menuju Jakarta.

garuda

Uang kompensasi 300 ribu dari Garuda

Rombongan pertama dengan Sriwijaya berhasil mendarat di Silangit pada pukul semilan pagi, sedangkan kami yang di Garuda gagal mendarat di Silangit karena cuaca buruk. Selama dalam perjalanan kami sempat mengalami turbulensi di atas daratan Sumatera. Cukup mencekam juga  mengalami turbulensi yang membuat wajah pucat pasi. Kalau sudah berada di udara, maka saya hanya bisa berpasrah diri kepada Allah SWT.  La hawla walaa quwwata illa billah. Hidup dan mati ada ditangan-Nya.  Karena gagal mendarat di Bandara Silangit, pesawat akhirnya dialihkan mendarat di Bandara Kualanamu di Deli Serdang pada sore hari. Dari Kualanamu perjalanan diteruskan lewat darat melewati beberapa kota dan daerah menempuh waktu (termasuk makan dan istirahat di Perbaungan) enam jam. Jam 12 malam lebih sedikit akhirnya kami sampai di hotel Inna Parapat yang terletak persis di pinggir Danau Toba. Alhamdulillah, sampai jugalah saya di pinggir danau yang sudah lama ingin saya kunjungi.

Dari jendela hotel kita dapat melihat sebagian danau Toba. Saya sebut sebagian karena Danau Toba itu selain sangat luas juga sangat panjang.  Panjang danau Toba adalah 100 km, sedangkan lebarnya 30 km, kedalamannya saja 500 meter! Dalam sekali. Di bawah ini saya tampilkan tiga foto penampakan Danau Toba dari Hotel Inna Parapat yang terletak di kota Parapat di pinggir Danau Toba (Foto-foto lainnya akan saya tampilkan dalam tulisan selanjutnya.).  Di pinggir danau ini terdapat banyak sekali hotel dan tempat penginapan, mulai dari kelas melati hingga berbintang empat.

Toba1

Toba3

Toba2

Itu foto pada pagi hari. Cuaca di Parapat sering mendung dan berkabut, jadi mendapatkan foto yang sangat bersih agak sulit diperoleh saat musm hujan pada bulan Agustus di sana.

Danau Toba pada dasarnya adalah sebuah kawah hasil letusan  gunung api raksasa (supervolcano). Dikutip dari laman Wikipedia,  Gunung Toba meletus sekitar 75.000 tahun yang lalu. Hasil letusan menghasilkan kaldera yang kemudian terisi dengan air, itulah yang menjadi Danau Toba sekarang. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya pulau yang bernama Pulau Samosir. Pulau Samosir inilah yang menjadi keunikan Danau Toba, yaitu ada pulau besar di tengah danau yang sangat luas.

Tulisan tentang jalan-jalan ke Danau Toba akan saya teruskan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

August 14th, 2017 at 4:48 pm

Posted in Cerita perjalanan

Masyarakat Pemarah (2)

without comments

Masyaralat kita gampang sekali marah dan main hakim sendiri tanpa tahu duduk masalahnya.  Kasus yang memilukan baru-baru ini adalah tindakan main hakim sendiri hingga membakar hidup-hidup terduga pencuri amplifier mushola bernama Zoya (baca: Pria yang Dibakar Hidup-hidup di Bekasi Sempat Bilang “Saya Enggak Maling”, dan Ini Cerita Saksi Tentang Joya yang Dibakar Hidup-Hidup.)

Malang benar nasib Zoya. Dia tidak sempat membela diri, tapi hukuman jalanan sudah lebih dulu berbicara. Yang membuat hati tambah pilu adalah dia meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dan seorang anak balita.

Membakar hidup-hidup seorang yang diduga mencuri adalah tindakan yang sangat kejam. Kalau pun benar ia mencuri amplifier, hukuman membakar hidup-hidup itu sama sekali sangat tidak pantas di negara yang menjunjung tinggi hukum dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Harga amplifier tidak seberapa dibandingkan  dengan nyawa seorang anak manusia yang dibunuh dan dibakarnya.

Saya ingin bertanya kepada pelaku yang membakar Zoya, anda dibakar saja sedikit jari tangannya, minimal disentuh ke dalam api selama sepuluh detik saja, mau tidak? Sakit tidak? Itu baru jari tangan, bagaimana bila seluruh tubuh? Sungguh sakit yang tiada terperi. Begitu pula yang dirasakan Zoya yang, lebih mengerikan sakitna dai yang kita kira. Saya tidak bermaksud membela Zoya, tapi saya mempertanyakan aksi kejam yang dilakukan oleh orang-orang saat itu.

Aksi pembakaran terhadap terduga pelaku pejahatan sudah sering terjadi. Tahun 2006 saya sudah pernah menulis tentang kejadian serupa dalam tulisan berjudul sama: Masyarakat pemarah. Masyarakat kita sudah gelap mata sehingga orang yang belum tentu benar-benar mencuri sudah dihukum tanpa proses pengadilan.

Masyarakat kita memang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk main hakim sendiri terhadap terduga perilaku kriminal. Ingat lho, masih terduga, belum menjadi tersangka. Tindakan main hakim sendiri hingga hukuman yang sangat sadis mungkin dilatari oleh rasa kesal  masyarakat terhadap aksi pencurian (maupun  aksi kriminal lain seperti penculikan anak, pemerkosaan, dll)  yang membuat resah. Aparat keamanan dianggap gagal memberikan rasa aman, maka masyarakat sendiri yang memberikan hukuman jalanan. Namun, apapun alasannnya, tetap saja tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan.

Hukuman bakar hidup-hidup ini sangat ironis dibandingkan koruptor yang mencuri uang rakyat dalam jumlah yang tidak kira-kira. Koruptor saja hukumannya ringan, hanya dalam hitungan tahun. Bahkan ada koruptor yang masih bisa tersenyum dan melambaikan tangan.


Written by rinaldimunir

August 8th, 2017 at 4:41 pm

Posted in Indonesiaku