if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2016

Merasakan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang Baru

without comments

Akhirnya kita punya juga bandara yang megah yang bisa dibanggakan, tidak kalah dengan bandara megah di leuar negeri. Ya, bandara itu adalah etelase sebuah negara, orang asing yang datang ke suatu negara maka yang dilihatnay pertama kali adalah bandara. Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta yang baru saja diresmikan beberapa bulan yang lalu sudah beroperasi melayani penerbangan dengan Garuda. Baru Garuda lho, itupun untuk rute domestik, sementara untuk penerbangan internasional masih di Terminal 2F yang lama.  Ke depan nanti Terminal 3 Ultimate ini akan melayani penerbangan internasional.

Minggu lalu saya pertama kali mencoba merasakan Terminal 3 Ultimate ini untuk terbang ke Semarang. Turun dari bus Primajasa dari Bandung kaki saya langsung menginjak lantai terminal keberangkatan. Wow, keren, terasa megah sekali. Maklum masih baru, he..he. Sebagai seorang yang suka mengamati bandara di mana-mana, saya merasa penasaran untuk mencicipi bandara yang baru ini.

terminal-1

Terminal keberangkatan berada di lantai 2. Dari sini saya bisa melihat pemandangan ke bawah, ke arah terminal kedatangan. Pemandangannya membuat decak kagum, keren sekali.

terminal-2

terminal-3

OK, selanjutnuya saya masuk ke dalam untuk chek-in. Ruangan di dalamnya sangat lapang, terang, bergaya lux dan modern. Benar-benar menunjukkan bandara kelas satu, tidak kalah dengan bandara Svarnabhumi di Bangkok nih, kata saya dalam hati (saya pernah ke bandara Svarnabhumi ini).

terminal-4

Toilet ada di mana-mana dengan petugas cleaning service yang selalu stand-by. Jadi, tidak usah khawatir jika kebelet dan antri seperti di Terminal 1 dan 2.

terminal-8

Tersedia kursi-kursi buat duduk jika anda lelah berdiri sebelum masuk ke ruang tunggu. Karpet hijau yang elegan membuat suasana di dalamnya teduh.

terminal-5

Supaya tidak bete, di beberapa tempat dipajang  berbagai lukisan dan foto-foto dokumentasi negara. Kita merasa berada di sebuah galeri saja. Konsep bandara dengan pajangan karya seni sudah lama diterapkan di bandara Ngurah Rai. Di Bandara Husein Sastranegara Bandung  yang baru juga ada tapi jumlahnya sedikit, maklum bandaranya kecil. Bandara saat ini memang tidak hanya sekedar tempat mampir, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup dengan memasukkan aneka fasilitas yang memanjakan pengunjung.

terminal-9

terminal-7

Selanjutnya saya berjalan menuju ruangan tunggu. Kalau tidak salah gate (pintu keberangkatan) di ruang tunggu ini mencapai 17 buah. Jumlah ini mennjukkan Terminal 3 Ultimate ini panjang sekali, capek juga kaki berjalan dari ujung ke ujung.

terminal-6

Di ruang tunggu keberangkatan ini berjejer restoran, toko-toko, dan lounge yang semuanya dikelola oleh perusahaan Saphire. Harga makanan di restoran ini lumayan mahal, tapi dimaklumi saja karena pasti sewa tempatnya juga sangat mahal. Lounge-nya menggunakan konsep terbuka, jadi siapa saja yang lewat bisa melihat orang di dalam lounge mengambil makanan, makan, duduk-duduk. Hmmm…kurang privasi sekali nih.

Pulang dari Semarang saya naik Garuda lagi ke Jakarta dan turun di Terminal 3 Ultimate lagi. Kali ini saya perlu berjalan kaki lumayan jauh dari pintu kedatangan ke tempat pengambilan bagasi. Bisa gempor nih kaki berjalan sejauh ratusan meter, maklum Terminal ini panjang sekali. Kebayang kalau yang berjalan itu para manula atau orangtua yang tidak kuat berjalan jauh. Tidak tersedia kursi roda bagi mereka yang tidak kuat jalan.Kalau mau ya naik ban berjalan di beberapa bagian lantai.

terminal-10

terminal-12

Begitulah pengalaman saya merasakan Terminal 3 Ultimate yang bau ini. Kesannya memang megah, tapi seperti ada sesuatu yang kurang. Apa ya? Saya merasakan Terminal 3 ini seperti tidak punya “ruh” atau tidak memiliki karakter yang kuat seperti Terminal 1 dan 2. Ah, mungkin saya terlalu berlebihan menilai ya.


Written by rinaldimunir

November 30th, 2016 at 5:03 pm

Posted in Cerita perjalanan

Sekarang Semua Orang adalah Guruku

without comments

Pada Hari Guru yang jatuh tanggal 25 November, saya menampilkan quote dari Jet Li, seorang aktor laga Mandarin yang terkenal.

jet-li

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

Ketika saya berusia:
SEPULUH tahun, saya takut pada guru saya
DUA PULUH tahun, saya mulai memahami guru adalah orang biasa seperti orang lain
TIGA PULUH tahun, saya mulai berpikir pentingnya kehadiran seorang guru
EMPAT PULUH tahun, saya menghargai setiap guru yang saya jumpai
Sekarang saya berusia LIMA PULUH tahun, setiap orang adalah guruku

Dan…untuk saya sendiri, sekarang semua orang adalah guru saya, guru dalam kehidupan yang tidak pernah diam. Karena, sekarang  I’m fifty seperti Jet Li.


Written by rinaldimunir

November 25th, 2016 at 4:04 pm

Posted in Pendidikan

Ingatlah Umurmu

without comments

Sewaktu melewati sebuah jalan di kawasan Kiaracondong, mata saya tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpampang di tembok sebuah kantor biro perjalanan umrah dan haji. Isinya sebuah hadis Nabi, makjleb sekali maknanya.

spanduk

Spanduk tersebut mengingatkan kita akan usia yang selalu bertambah setiap tahun, tanpa  terasa ternyata sudah melewati usia Nabi. Nabi Muhammad SAW umurnya hanya 63 tahun. Banyak orang-orangtua berkata, ketika umur mereka sudah melewati 63  tahun, mereka sering menghibur diri dengan mengatakan  bahwa mereka mendapat bonus umur dari Tuhan, sambil membandingkan umur mereka dengan umur Rasulullah Muhammad SAW. Bagi orang Islam yang taat, semua hal dari Nabi adalah teladan, termasuk soal usia. Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah bagimu ya Rasulullah shalallahu wa alaihi wassalam.

Memang panggilan Malaikat Izrail tidak tergantung pada usia manusia. Kematian bisa datang kapan saja, baik kala berusia muda maupun sudah berusia senja. Hari ini seseorang terlihat ceria, besoknya tiba-tiba kita mendengar hanya tinggal namanya saja. Mungkin dia meninggal karena kecelakaan, mungkin karena serangan jantung, mungkin karena nasib apes dibunuh begal di tengah jalan. Wallahu alam, hanya Allah yang tahu kapan panggilan itu datang.

Sesuatu yang sudah menjadi hukum alam adalah manusia itu fana. Usia tua artinya sudah mendekati kematian. Alam ini selalu setia menjalani siklus hidup. Mulai  dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, lalu remaja, kemudian dewasa, lalu menjaid tua, dan akhirnya mati. Maka, hadis Riwayat At-Tarmidzi pada spanduk di atas adalah pengingat agar manusia selalu bersiap-siap.

Bukan berarti ketika masih muda maka manusia bisa berbuat apa saja, mumpung masih muda maka nikmatilah dunia, karena hidup hanya sekali. Begitu yang sering kita dengar. Namun bukan begitu maksudnya. Seperti yang saya tuliska di atas, kematian bisa datang kapan saja. Maka, yang perlu anda renungkan adalah: suidahkah kamu menyiapkan bekal untuk kampung akhirat kelak? Bekal itu adalah amal sholeh selama di dunia.


Written by rinaldimunir

November 21st, 2016 at 9:58 am

Posted in Renunganku

Menemukan Mushola di RS Santo Boromeus Bandung

without comments

Menemukan ruang tempat sholat (mushola) di tempat-tempat umum (bandara, stasiun, terminal, mal, dan sebagainya) sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi, menemukan mushola di sebuah rumah sakit Katolik adalah pengalaman yang luar biasa. Apalagi mushola itu berdampingan dengan kapel (gereja kecil) dan lambang-lambang salib yang bertebaran di dinding rumah sakit.

Pengalaman ini saya peroleh ketika membawa istri berobat ke dokter yang praktek di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung. Rumah sakit ini sangat dekat dengan kampus ITB, tempat kerja saya. Sambil menunggu hasil pemeriksaan radiologi, saya melihat ke jam tangan waktu sholat Ashar sudah masuk. Saya belum melaksanakan sholat Ashar. Masjid terdekat dengan rumah sakit St. Borromeus adalah Masjid Salman ITB. Dulu ketika kita berada di rumah sakit ini dan ingin melaksanakan kewajiban sholat, maka petugas Satpam rumah sakit memberi saran ke Masjid Salman. Tetapi sekarang tidak perlu jauh lagi, tenrnyata di dalam RS Boromeus sendiri tersedia mushola yang cukup representatif.

Agak kurang yakin juga saya apakah memang ada mushola di rumah sakit ini, mengingat ini rumah sakit Katolik. Namun saya beranikan diri bertanya kepada Satpam di sana di mana letak mushola. Dia memberi petunjuk mushola terletak di gedung Irene dekat tangga. Ternyata benar, ada sebuah mushola yang cukup nyaman di dekat tangga Gedung Irene.  Musholanya ada dua buah, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Tersedia juga tempat wudhu untuk masing-masing mushola. Mushola itu diberi nama Ruang Doa/Mushola seperti diperlihatkan pada foto-foto di bawah ini.

borrommeus2

borromeus1

borromeus3

Alhamdulillah, ternyata memang benar ada mushola di Rumah Sakit Santo Boromeus. Tidak jauh dari situ ada kapel (gereja kecil) bernama kapel Hati Kudus Yesus. Hmmm…sebuah bentuk kerukunan yang patut diapresiasi. Meskipun rumah sakit ini bernuansa Katolik, tetapi meraka menyediakan tempat ibadah bagi kaum muslim. Keberadaan mushola ini sangat wajar karena memang sangat dibutuhkan. Mayoritas pengunjung rumah sakit Santo Boromeus (pasien, keluarga pasien, pengunjung pasien, dan orang yang datang berobat) adalah kaum muslim, begitu juga pegawai rumah sakit ini banyak juga beragama Islam. Tentu mereka memerlukan tempat sholat untuk melaksanakan kewajiban agamanya.

Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada pengelola Rumah Sakit Santo Borromeus atas ketersediaan mushola ini. Terima kasih, semoga kerukunan antar umat beragama tetap terpelihara dengan baik.


Written by rinaldimunir

November 18th, 2016 at 12:49 pm

Posted in Seputar Bandung

Pengalaman Terbang dengan “Malaysia Airlines” – MH

without comments

Ketika terbang ke Yangon, Myanmar, dari Jakarta awal Oktober yang lalu, saya menggunakan pesawat Malaysia Airlines (MH) yang transit di Kuala Lumpur. Ini pertama kali saya naik maskapai negeri jiran tersebut. Semula saya agak ragu naik MH, karena musibah yang dialami pesawat MH sudah dua kali terjadi. Tapi, keraguan tersebut saya tepis, toh musibah bisa menimpa pesawat apa saja, kendaraan apa saja, baik di darat, laut, maupun udara. Kalau sudah di atas pesawat, maka saya hanya bisa memasrahkan diri saja kepada Allah saja. Hidup mati hanya Allah yang tahu.

malaysia2

Pesawat MH ketika memasuki wilayah Kuala Lumpur

Jujur saja, mendengar nama Malaysia Airlines maka yang teringat adalah tragedi hilangnya pesawat MH370 dalam penerbangan dari Kualulumpur ke Beijing tanggal 8-3-2014. Hingga saat ini keberadaan pesawat tersebut masih misteri. Ada teori yang mengatakan MH370 terjun ke Samudera Hindia, ada pula yang mengatakan terkena rudal, atau malah diculik Alien. Entahlah. Wallahu alam. Musibah yang menimpa MH370 tersebut sangat menggemparkan dunia dan menjadi musibah yang masih misteri hingga sekarang. Belum hilang ingatan dengan musibah MH370, lagi-lagi Malaysia Airlines mendapat musibah. Pesawat MH17 mengalami kecelakan akibat terkena tembakan peluru kendali Rusia di wilayah Ukraina pada pada 17 Juli 2014. Pesawat tersebut tengah dalam perjalanan dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Kedua musibah tersebut cukup menggoncang maskapai MH karena calon penumpang merasa trauma. MH pernah sepi penumpang pasca tragedi. Kerugian besar jelas  diderita oleh MH. Namun, dengan berjalannya waktu, orang mulai melupakan peristiwa tersebut. Lambat laun jumlah penumpangnya mulai naik lagi.

Saya pun memilih MH ketika pergi ke Yangon. Alasannya karena harga tiket pesawat MH yang ditawarkan (via Traveloka) mendapat diskon 30% jika kita pergi PP dengan pesawat ini. Karena penerbangan MH full service, maka saya putuskan pakai MH saja.

malaysia3

Pesawat MH di bandara KLIA

Bagaimana kesan naik pesawat Malaysia Airlines? Kalau soal kenyamanan di dalam pesawat ya sama saja dengan pesawat ke luar negeri lainnya, pesawatnya baru dan modern. Tersedia hiburan di dalam pesawat dengan film-film yang bervariasi. Namun, jika dinilai dari sisi keramahan, maka  pramugari dan pramugara Malaysia Airlines masih kalah ramah dengan pramugari Garuda Indonesia. Mereka jarang sekali memberi senyuman. Sepele memang, tapi keramahan dan senyuman dapat membuat penumpang merasa nyaman dan senang. Pengalaman saya ketika dilayani pramugari dari etnik Tamil/India mendapat kesan kaku dan sedikit bicara.

Bagaimana dengan kualitas makanan? Hi..hi.., lihat saja foto di bawah ini. Cara penyajiannya simpel, hanya ada tiga jenis: nasi ikan, air mineral berukuran kecil, dan sebungkus kacang asin. Itu saja. Rasa makanannya? Kurang memancing selera dan kurang rasa. Tapi karena lapar ya dimakan saja.

malaysia1

Begitulah pengalaman pertama saya naik pesawat Malaysia Airlines. Mungkin jika pilihan lain tidak lebih baik, dan harga tiketnya masih mendapat diskon cukup besar, saya akan naik pesawat ini lagi untuk terbang ke wilayah regional ASEAN. Mudah-mudahan pihak Malaysia Airlines membaca tulisan saya ini dan meningkatkan pelayanan kepada penumpangnya.


Written by rinaldimunir

November 12th, 2016 at 2:39 pm

Posted in Cerita perjalanan

Memindahkan Rumah Panggung ala Kampung

without comments

rumah-panggung-3 Bila Anda berkunjung ke kampung-kampung di wilayah pelosok Sulawesi Selatan, Anda akan menemukan banyak sekali rumah panggung. Rumah panggung masih digunakan sehari-hari, bukan hanya sebagai rumah adat, museum atau tempat kunjungan wisata. Model rumah ini adalah hasil kemajuan atau kesederhanaan arsitektur selama berabad-abad. Rumah panggung di Sulsel kami sebut sebagai rumah kayu, bahasa bugisnya “bola aju”.

rumah-panggung-2Rumah kayu ini anti banjir, anti gempa, modular, dan juga mudah dipindahkan (oleh puluhan atau ratusan orang tentunya). Biaya pembuatannya tak semahal rumah batu, istilah kami bagi rumah berpondasi dan berdinding bata, tanpa tiang dari kayu.

Mengapa orang Sulawesi banyak yang mampu berhaji? Mungkin salah satu alasannya karena tak perlu banyak mengeluarkan banyak uang untuk membeli atau membangun rumah.

Kelemahan rumah kayu juga ada. Selain masalah rayap, usia kayunya hanya berkisar 20 hingga 30 tahun. Usia lebih lama dapat diperoleh dengan menggunakan bahan kayu yang lebih berkualitas, tapi tentu efeknya ke biaya.

Bagian paling depan dari rumah kayu adalah terasnya, dinamakan lego-lego. Di bagian ini terasa sejuk karena angin berhembus dari 3 sisi: dari depan, kiri dan kanan. Selain sebagai pos pengamatan ke jalan dan rumah tetangga, teras juga kadang menjadi tempat menjemur pakaian. Anak-anak juga dapat bermain meniup gelembung sabun di teras itu. Membersihkan lantai papannya juga mudah, cukup gunakan sapu, tanpa perlu pengki. Kotoran kecil akan jatuh terbuang di lubang sela-sela papan.

rumahbugis-1Bagian tengah rumah biasanya dijaga agar tetap luas. Ruang tamu dan ruang tengah menyatu. Jamuan makan dengan lesehan sering diadakan di ruang tengah. Kamar-kamar tidur akan diposisikan di bagian pinggir, dilengkapi dengan jendela. Tangga tersedia di depan dan belakang. Tempat mencuci piring biasanya di bagian belakang rumah, berdekatan dengan dapur sebagai tempat membuat makanan dan juga berdekatan dengan tangga belakang. Adapun kamar mandi, biasanya terpisah dari rumah utama, bangunannya terpisah, tersendiri.

Di antara langit-langit dan atap, ada rakkeang (Bugis) atau pammakkang (Makassar) sebagai gudang peralatan maupun tempat penyimpanan padi pasca panen. Tiang-tiang rumah tidak menyentuh tanah, tapi dialasi dengan batu atau cor semen, fungsinya seperti pondasi. Tiang dan balok dan disatukan dengan pasak, bukan dengan paku.

Memindahkan rumah panggung adalah hal yang sudah biasa di Sulawesi Selatan, tetapi tradisi ini sedikit memudar seiring merosotnya minat memiliki rumah panggung.  Jika sang pemilik rumah ingin pindah ke tempat lain yang tidak begitu jauh, biasanya rumah itu cukup diangkat oleh warga kampung. Rumah yang dipindahkan dengan diangkat juga bisa karena alasan terjadinya penjualan tanah saja, tanpa penjualan rumah. Inilah salah satu keistimewaan lain rumah panggung. Dengan cara diangkat, pekerjaan memindahkan rumah bisa berlangsung lebih cepat, lebih murah, dengan kemungkinan resiko kerusakan akibat membongkar yang lebih sedikit. Asal mengerti saja, sebaiknya ada konsumsinya.


Written by arifrahmat

November 9th, 2016 at 5:53 pm

Berkujung ke Yangon, Myanman (Bagian 3. Tamat)

without comments

Berkunjung ke Yangon tanpa mengunjungi Pagoda Shwedagon rasanya kurang lengkap. Pagoda Shwedagon merupakan ikon negara Myanmar. Ia juga merupakan tempat suci terbesar umat Budha di Myanmar. Pagoda Shwedagon menjadi  terkenal karena sejarahnya dan karena ia terbuat dari emas! Pagoda Shwedagon yang saya lihat dari jendela hotel  The Summitpark View (baca tulisan pertama) akan saya ceritakan pada seri tulisan terakhir ini.

Pagoda Shwedagon hanya berjarak 300 meter dari hotel The Summitpark View. Kami berjalan kaki melewati taman People’s Park dan People’s Square yang terletak di seberang kawasan pagoda.

shwedagon-pagoda-on-map-of-yangon

Peta lokasi Pagoda Shwedagon. Lokasi pagoda di peta ditandai dengan balon merah bertuliskan huruf A.

Di taman ini pada sore hari banyak orang Yangon berekreasi membawa keluarganya atau sekedar olahraga jogging. Tampak juga di sudut-sudut taman para muda-mudi Myanmar berpacaran tanpa malu-malu, sebagian lagi berpacaran dengan ditutupi payung????.

Dari People’s Park dan People’s Square tampaklah pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas. Kira-kira tingginya setinggi Monas di Jakarta. Semburat cahaya matahari sore membuat emas pagoda tampak berkilauan. Di plaza People’s Park  ini banyak masyarakat berkumpul menikmati air mancur yang dapat menari.

14495274_1221480184586671_8988938826990876280_n

Pagoda Shwedagon tampak dari People’s Square

14572215_1221479971253359_5730855434187182020_n

Penulis dengan teman berfoto di People’s Square dengan latar belakang Pagoda Shwedagon

Hari sudah menjelang Maghrib waktu Yangon. Malam segera datang. Sayang kalau tidak masuk ke dalam pagoda ini. Kami berjalan kaki dari People’s Square menuju kompleks pagoda.  Ternyata kompleks Pagoda Shwedagon sangat luas seperti yang ditunjukkan pada peta di bawah ini. Luasnya 46 hektar. Pagoda Shwedagon dikelilingi oleh bangunan-bangunan pendukung.

14517593_1221480521253304_3944578338574377242_n

Peta kompleks Pagoda Shwedagon

img_20161002_185850_hdr

Pintu masuk utama ke dalam pagoda. Dua patung raksasa berdiri menjaganya

Pagoda Shwedagon yang sudah berusia 2500 tahun itu berdiri di atas sebuah bukit yang tingginya 190 kaki atau sekitar 57 meter. Tinggi pagoda  sekitar 100 meter. Jadi, ketika kita masuk ke dalam, kita seolah-olah menaiki sebuah bukit. Untuk mencapai ke dalam pagoda, kita menaiki sejumlah tangga biasa dan tangga berjalan (elevator). Dari pintu masuk utama kita melewati koridor ruangan yang panjang dengan tiang-tiang besar di sepanjangnya. Seluruh dinding dan tiang dicat dengan warna kuning emas. Kuning merupakan warna khas negara Myanmar.

14502856_1221480224586667_5650132658458988178_n

Koridor panjang setelah melewati pintu masuk pagoda. Semua dinding dan tiang dicat dengan warna emas.

Ternyata koridor ini sangat panjang. Kita mulai menaiki  area yang lebih tinggi dengan menggunakan tangga berjalan. Oh iya, pengunjung tidak boleh menggunakan alas kaki, jadi kita harus melepas sepatu atau sandal. Petugas jaga menawarkan kantong plastik dengan membayar uang sekedarnya..

14519883_1221480291253327_487160647516539527_n

Tangga berjalan menuju area yang lebih tinggi

Akhirnya setelah melewati koridor yang panjang itu, sampailah kita ke lantai utama  pagoda. Bagi turis asing, untuk masuk ke dalam pagoda harus membayar 8000 kyat atau 80.000 rupiah. Perempuan yang sedang datang bulan tidak boleh memasuki pagoda.

Akhirnya saya melihat dari dekat Pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas itu. Warna kuning emas tampak di mana-mana, dan berbagai patung Budha mulai dari yang berukuran raksasa hingga berukuran kecil bertebaran di mana-mana. Ada juga patung Budha dalam posisi berbaring.

img_20161002_191750_hdr

Pagoda emas setinggi 100 m. Di puncaknya bertahtakan batu permata

14502834_1221480311253325_4052641537491872443_n

Vihara-vihara kecil di sekeliling pagoda dengan patung Budha di setiap vihara

Malam itu warga Myanmar tampak memadati pagoda sekedar berjalan-jalan atau memang untuk sembahyang. Mereka membungkukkan badan dan sujud di depan Budha,  sembari melafalkan doa  yang berisi permintaan kepada Sang Budha.

14463268_1221480361253320_1940862571744703443_n

Patung Budha dalam posisi rebahan

img_20161002_192411_hdr

Warga Myanmar berdoa di depan patung Budha

Hari sudah beranjak makin malam. Hujan gerimis membasahi pagoda. Kami segera kembali ke hotel. Di depan pintu masuk utama tadi sudah berjejer taksi. Kami menaiki taksi yang tanpa argometer itu, karena kalau berjalan kaki lagi nanti kehujanan. Supirnya sedikit bisa berbahasa Inggris standard. Setiba di hotel kami menanyakan berapa ongkosnya, ternyata cukup 2000 kyat saja atau 20.000 rupiah.Selamat malam, Yangon. (TAMAT)


Written by rinaldimunir

November 8th, 2016 at 6:10 pm

Posted in Uncategorized

Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 2)

without comments

Konferensi regional RCCIE 2016 diadakan di kampus Yangon Technological University YTU). YTU adalah perguruan tinggi teknik terkemuka di Myanmar, sekaligus perguruan tinggi teknik tertua dan terbesar. YTU berawal dari Departemen Teknik di Rangoon University pada tahun 1924, lalu kemudian populer dengan nama Rangoon Institute of Technology. Jadi boleh dikatakan YTU ini adalah ITB-nya Myanmar. Sebagai salah satu anggota perguruan tinggi di dalam jaringan AUN-SEED/Net, maka YTU menjadi tuan rumah konferensi Regional Conference on Computer and Information Engineering (RCCIE) tahun 2016. Ketika saya ikut RCCIE tahun 2013 di Bangkok pelaksanaannya diadakan di hotel bintang lima, tapi RCCIE tahun ini diselenggarakan di kampus.

Ketika bus peserta konferensi memasuki kampus YTU, saya membayangkan kampus ini luas seperti kampus perguruan tinggi ternama lainnya, ternyata dugaan saya meleset. Kampus utama YTU di daerah Gyogone ini tidak begitu luas. Bangunan utamanya yang terlihat dari depan tidak mengesankan bangunan khas Asia, tetapi sepintas mirip seperti bangunan berarsitektur Rusia. Dari laman Wikipedia saya memperoleh informasi kalau kampus utama YTU  (yang dibangun antara tahun  1958 – 1961) merupakan bantuan Pemerintah Uni Soviet  (sekarang Rusia).

img_20161004_075217_hdr

Bangunan utama kampus YTU. Tiang-tiangnya yang tinggi dan arsitekturnya mirip seperti bangunan Rusia

Pada salah satu tiang bangunan utama terdapat sebuat prasasti yang bertuliskan aksara Rusia. Saya tidak bisa membaca tulisan di prasasti itu, tetapi isinya mungkin berisi keterangan bahwa bangunan kampsu YTU ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Myanmar dengan Uni Soviet kala itu.

img_20161003_081023_hdr

Prasasti beraksara Rusia tahun 1958 di salah satu tuang bangunan utama.

14495370_1222121237855899_4625753540946125699_n

Nampang di depan kampus YTU

Kampus utama YUT ini tampak sangat kokoh. Langit-langitnya tinggi, jendela dan pintunya besar-besar serta tinggi. Sepintas mirip seperti bangunan sekolah peninggalan Belanda di Indonesia yang langit-langitnya juga tinggi (seperti gedung SMAN 3 Bandung). Ada delapan bangunan dengan tiga lantai yang saling terhubung dengan koridor-koridor sehingga kita kita tidak akan kehujanan atau kepanasan jika berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya.

14572851_1222903471111009_3080403262616762791_n

Tampak belakang bangunan utama

14572901_1222902541111102_8031840206672547930_n

Ruang-ruang kuliah dan laboratorium

14469675_1222903691110987_7760929505663689794_n

Koridor

14570295_1222172644517425_4468419202682457844_n

Aula besar tempat pelaksanaan RCCIE 2006 di gedung utama kampus YTU

Kampus utama YTU ini tampak seperti kurang terawat. Cat temboknya sudah berjamur diterpa hujan. Di halaman depan bangunan utama rumput liar tumbuh meranggas. Saya sempat menengok sebuah lab kimia, peralatan labnya tampak sudah tua, kurang terlihat peralatan baru dan modern. Bahkan kursi di ruang kuliah terbuat dari plastik. Saya hampir tidak percaya sebuah perguruan tinggi terkemuka memiliki peralatan dan perabot sederhana seperti itu.

14572241_1222903864444303_5947471129567047399_n

Ruang kuliah dengan kursi dari plastik

Akhirnya saya baru bsia memahami setelah mendapat penjelasan dari seorang dosen di sana. Bahwa YTU sempat ditutup selama beberapa tahun oleh pemerintah junta militer Myanmar (sebelum akhirnya beralih ke pemerintahan sipil yang dimenangkan oleh partai yang dipimpin Aung San Su Kyi). Penyebabnya adalah banyak alumni kampus ini yang menjadi tokoh oposisi Pemerintah, sehingga pemerintah militer menutup kampus ini. Oleh karena itu selama ditutup kampus ini tidak terawat dan tidak memperoleh dana untuk pemeliharaan. Jadi wajar jika kampus YTU tampak kusam. Namun seperti halnya rakyat Myanmar yang tampak sederhana, justru dari kesederhanaan kampus inilah dihasilkan alumni yang hebat dan menjadi tokoh-tokoh penting di Myanmar.

Salah satu keunikan kampus YTU adalah para mahasiswa, dosen, dan pegawainya tidak ada yang memakai celana panjang. Seperti  umumnya rakyat Myanmar, mahasiswa dan dosen sehari-hari menggunakan sarung yang disebut longyi. Longyi untuk pria dan wanita pada prinsipnya sama, yang berbeda hanyalah motif dan warnanya. Longyi untuk laki-laki motifnya polos atau kotak-kotak, sedangkan longyi untuk perempuan lebih berwarna dan bermotif. Kemana-mana orang Myanmar memakai longyi, baik untuk bekerja, sekolah, kuliah, dan aktivitas sehari-hari. Mulai dari kuli bangunan, supir, pegawai kantor, dosen, pedagang, dan  lainnya  nyaman saja memakai longyi tanpa takut lepas atau kedodoran.

14522966_1222143867853636_9077164847632170167_n

Mahasiswa YTU sehari-hari ke kampus menggunakan longyi. Serasa berada di dalam pesantren saja, he..he

14517521_1222181421183214_1707404823421632660_n

Para mahasiswinya juga memakai longyi yang bermotif dan lebih berwarna

14522719_1221976414537048_7800389718333170378_n

Saya diantara dosen dan mahasiswi YTU yang memakai longyi. Berfoto di hotel sebelum berangkat ke tempat konferensi di kampus YTU

 

14591787_1222855581115798_7683174901749032920_n

Di sebelah kiri saya adalah Ketua Departemen Komputer dan Teknologi Informasi YTU, Dr. Win Zaw. Di sebelah kaan saya adalah dosen dan mahasiswa YTU. Semuanya tetap setia berbusana longyi

Cara menggunakan longyi agak berbeda dengan memakai sarung di negara kita. Jika di Indonesia sarung ditarik ke atas lalu digulung ke bawah, maka di Myanmar longyi diikat  ujung-ujungnya dan ditautkan di tengah sehinga tampak menjendol. Sedangkan untuk wanita longyi dililit ke pinggang (seperti memakai kain kebaya di Indonesia) lalu ditautkan di samping pinggang. Jadi longyi merupakan bawahan baik untuk busana pria maupun wanita, sedangkan atasannya bisa kemeja, kaos, atau blus. Memakai longyi membuat udara mengalir di antara dua kaki sehingga terasa sejuk. Tentu saja di dalamnya mereka masih menggunakan celana dalam, he..he. Longyi menjadi kenyamanan di Myanmar karena iklim di Myanmar umumnya panas, sehingga memakai longyi adalahs alahs atu cara untuk mengatasi gerah.

Melihat para mahasiswa, dosen,dan pegawai di YTU hilir mudik memakai longyi  di dalam kampus,  saya merasa seperti berada di dalam pesantren. Jika anda pergi mengunjungi pesantren-pesantren tradisionil di Pulau Jawa, anda melihat para santri dan kyainya memakai sarung sehingga kaum santri itu sering dinamakan jugakaum sarungan.

Orang Myanmar umumnya bertubuh kecil dan berpinggang ramping seperti yang anda lihat pada foto-foto di atas. Saya jarang menemukan orang Myanmar yang  bertubuh gemuk atau obesitas. Mungkin karena pola makan orang Myanmar yang tidak kaya lemak, mungkin juga karena orang-orangnya senang berjalan kaki.

Kembali ke kampus YTU di atas. Jika di negara kita program studi S1 apapun lamanya  empat tahun (atau delapan semester), maka di Myanmar program studi sains dan teknik berlangsung selama enam tahun. Wah lama sekali ya. Ternyata hal ini karena sistem pendidikan dasar dan menengah di Myanmar hanya berlangsung selama 10 tahun (SD enam tahun, sekolah menengah empat tahun). Jadi, selama dua tahun pertama di perguruan tinggi mahasiswa mendapat mata kuliah sains yang cukup  banyak sebagai penguatan. Meskipun S1 di YTU lamanya enam tahun, tetapi usia mereka tidak terlalu tua untuk lulus, karena di Myanmar usia wajib sekolah dimulai dari umur lima tahun.

Di YTU tidak hanya ada program S1 (bachelor), tetapi juga terdapat program magister (S2) dan doktoral (S3). Program magister lamanya dua tahun, sedangkan program doktoral antara tiga hingga lima tahun. Sebagai perguruan tinggi teknik terkemuka di Myanmar, seleksi mahasiswanya sangat ketat. Setiap tahun YTU hanya menerima 200 orang mahasiswa S1. Bandingkan di ITB setiap tahun menerima 3500 hingga 4000 orang mahasiswa baru S1. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

November 3rd, 2016 at 11:11 am

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 1)

without comments

Awal bulan Oktober yang lalu saya dan beberapa orang teman dari kampus melakukan perjalanan konferensi ke Yangon, Myanmar. Konferensi yang kami ikuti adalah Regional Conference on Computer and Information Engineering (RCCIE)  yang disponsori oleh AUN/SEED-Net. Konferensi RCCIE diselenggarakan di kampus Yangon Tecchological University (YTU) di kota Yangon. Yangon (dulu Rangon) dulunya adalah ibukota Myamar, sekarang ibukota Myanman pindah ke Naypyidaw. Saya sama sekali belum pernah ke Myanmar, bahkan tidak pernah membayangkan negara ini masuk dalam salah satu kunjungan saya. Ya, Myanmar memang bukan negara yang populer untuk tujuan wisata, apalagi untuk tujuan konferensi.

Sebelum berangkat ke Yangon, ada keraguan di dalam hati saya. Pertanyaan yang menggelayut di dalam pikiran saya adalah apakah aman ke sana, mengingat Myanmar  sering dilanda konflik etnik dan agama. Berita-berita tentang penderitaan etnik Rohingnya, etnik yang teraniaya dan tidak diakui oleh negara Myanmar, masih belum hilang dalam ingatan saya. Bahkan, saya tidak bisa mentransfer biaya registrasi konferensi dari bank BNI ke bank penerima di Myanmar, karena bagian kliring internasional Bank Indonesia menolak mentransfer uang dengan alasan Myanmar dikategorikan sebagai negara beresiko tinggi (high risk). Jadi, terpaksalah nanti saya membayar tunai di tempat konferensi di Yangon. Sebegitu mengkhawatirkankah kondisi di Myanmar sehingga bank di tanah air menolak transfer uang ke sana?

OK, kekhawatiran itu saya buang jauh-jauh. Di Yangon kan ada Kedubes Indoensia, itu berarti orang asing seperti saya amansaja  ke sana. Jikalau tidak aman, tentu Kedubes Indonesia di Yangon sudah tutup atau setidaknya ada travel warning ke sana. Dari Jakarta atau Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Yangon, jadi kami harus memakai pernerbangan transit. Kami naik pesawat Malaysian Airlines yang transit di Kuala Lumpur setengah jam, lalu berganti pesawat Malaysia Airlines lain ke Yangon. Total waktu tempuh dari Jakarta ke Yangon adalah 4 jam. Oh iya, saya membeli tiket Malaysia Airlines cukup murah lho, karena saya membelinya PP maka mendapat diskon 30% untuk sekali perjalanan. Jadi, harga tiket Malaysia Airlines sekali jalan hanya Rp 1,9 juta saja, cukup murah untuk perjalanan sejauh itu. Selain Malaysia Ailines, anda juga dapat menggunakan Air Asia atau Lion Air tetapi transit di Bandara Don Muang Bangkok. Harga tiketnya juga tidak jauh beda dengan Malaysia Airlines tadi.

Setelah menempuh penerbangan empat jam, sampailah kami di Bandara Yangon International Airport. Bandara ini tidak terlalu besar, agak mirip dengan bandara Halim Perdanakususmah di Jakarta.

14463087_1221336271267729_4655152163938694164_n

Bandara Yangon International Airport

14484627_1221336307934392_8556261210078546464_n

Terminal kedatangan internasional di Bandara Yangon

Tidak diperlukan visa dari Indonesia  ke Myanmar, karena sebagai sesama negara ASEAN tidak diberlakukan visa. Pemeriksaan imigrasi di Bandara Yangon tidak memerlukan waktu lama dan tidak terlalu ketat. Kita dapat keluar bandara dengan cepat. Sebelum keluar bandara, kita perlu menukar uang dolar dengan mata uang Myanmar, kyat, di kios money changer yang berjejer di dekat pintu keluar. Di Indonesia tidak ada money changer yang menyediakan mata uang Myanmar, jadi kita perlu mata uang kyat ini untuk berbelanja selama di negara ini.  Satu kyat sama dengan sepuluh rupiah, atau 1 US $ setara dengan Rp12.000 (tergantung kurs). Jika anda tidak membawa dolar, anda  tidak perlu khawatir, karena mesin ATM berlogo VISA dapat mengeluarkan lembaran uang kyat dengan menggunakan kartu ATM bank yang kita bawa dari tanah air.

Selama perjalanan dari bandara ke hotel saya melihat pemandangan yang tidak jauh beda dengan di Indonesia. Suasana perkotaan di Myanmar, sudut-sudut jalan, perumahan, dan lain-lain persis seperti di Indonesia. Kemacetan di jalan adalah hal yang biasa di Yangon. Suhu udara di Yangon seperti di Jakarta, lumayan panas. Kendaraan di Yangon mengambil rute di lajur kanan (bukan kiri seperti di negara kita), namun menariknya setir mobil ada yang di kanan dan sebagian mobil yang di kiri. Tidak ada motor di jalanan kota Yangon, karena motor dilarang digunakan di jalan raya. Seperti halnya d negaar kita, pedagang asongan memanfaatkan kemacetan untuk menjajakan barang.

Kami menginap di Hotel The Summitpark View yang terletak agak di pinggir kota Myanmar. Ini hotel bintang lima yang berusia sudah agak lama, lokasinya dekat dengan pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas. Dari atas lantai lima hotel saya dapat menyaksikan puncak pagoda Shwedagon yang merupakan wihara terbesar di Myanmar dan menjadi ikon negara Myanmar. Tentang pagoda ini akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

14570217_1221367301264626_4124758224948001496_n

Puncak pagoda Shwedagon yang terbuat tampak dari lantai lima hotel The Summitpark View

Orang Myanmar sedikit yang bisa berbahasa Inggris, jadi bahasa isyarat atau bahasa  tubuh cukup menolong selama di sini. Kebanyakan papan pengumuman ditulis dalam aksara Myanmar, seolah-olah seperti tulisan yang terenkripsi, he..he (jadi ingat kriptografi).

14568094_1221473964587293_8992220162112619834_n

Tulisan beraksara Myanmar di sebuah taman yang saya tidak mengerti.

Kota Yangon adalah kota yang padat penduduk. Di sepanjang jalan dari hotel ke kampus YTU saya menyaksikkan pemandangan yang mirip dengan suasana kota Jakarta tahun 1970-an, seakan-akan kita terlempar ke masa lalu ibukota Jakarta (seperti yang saya lihat di film-film lama). Bus-bus tua yang padat penumpang berseliweran di jalan. Benar-benar bus tua, sepertinya buatan India. Hilir mudik kaum laki-laki yang memakai sarung -yang disebut longyi– dan mereka yang berdiri di pinggir jalan. Lalu, ada pedagang kaki lima meramaikan pinggir jalan menjajakan makanan, mainan, dan barang-barang lainnya. Penduduk golongan menengah ke bawah tinggal di apartemen yang tampak kusam. Unit-unit apartemen itu terlihat sempit. Kabayang nggak, apakah untuk naik ke lantai atas menggunakan lift atau naik tangga saja?

14457485_1222365337831489_304060635408771773_n

Bus-bus yang padat penumpang

14519722_1222365244498165_2511217800201449755_n

Bus tua dan gedung-gedung tua di belakangnya

14595837_1222365461164810_3653263834140904795_n

Angkot?

14520410_1222365517831471_9212539844757672083_n

Apartemen tua yang menjadi tempat tinggal penduduk kota Yangon golongah menengah ke bawah

Meskipun mayoritas penduduk Myanmar beragama Budha, namun ada sedikit penduduk muslim di sana. Di kota Yangon saya menemukan beberapa masjid di beberapa ruas jalan. Masjidnya kecil, terjepit di antara banguan-banguan pertokoan. Masjid itu terlihat bergaya India, sepertinya merupakan masjid komunitas muslim India. Penduduk Mynamar terdiri dari lebih dari seratus etnis, salah satunya etnis India/Tamil yang beragama Hindu dan Islam. Etnis Rohingya yang tidak diakui juga adalah etnis bergama Islam, mereka mayoritas berada di bagian barat Myanmar.

14516475_1222271761174180_8237873791968825119_n

Masjid bergaya India yang terjepit di antara bangunan pertokoan dan apartemen

14563519_1222271827840840_7864695441899778715_n

Masjid lainnya di pinggir jalan

14448904_1222365657831457_9141506069297873220_n

Kuil Hindu. Burung gagak sangat banyak beterbangan di kota Yangon

Keberadaan masjid di Yangon menunjukkan bahwa penduduk kota Yangon umumnya lebih moderat dan lebih terbuka menerima perbedaan. Konflik berlatar belakang etnik dan agama tidak sampai ke kota Yangon. Konflik rasial itu mungkin lebih banyak terjadi di pedalaman Mynamar. Jadi, kekhawatiran saya tentang rasa aman berada di kota Yangon ternyata tidak terbukti. Nyatanya saya merasa biasa saja berada di sini, tidak ada yang perlu ditakutkan. Penduduk Yangon menurut saya adalah warga yang ramah. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

November 1st, 2016 at 5:16 pm

Posted in Uncategorized