if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2016

Kepala Benjol Malah Dibawakan Pisau

without comments

benjolDibesarkan di Makassar di dalam keluarga Bugis tahun 90-an memang penuh kenangan. Salah satunya adalah penggunaan pisau untuk kepala yang benjol.

Anak kecil rawan terjatuh dan terluka. Saat di Makassar dulu, bila kami mendapatkan luka berdarah, orang tua kami akan mengolesi madu pada bagian yang terluka untuk membersihkan dan menghentikan mengucurnya darah. Ternyata, madu memang dapat mencegah terjadinya infeksi.

Bila ada yang memar atau benjol, akan diambilkan pisau besar. Lalu bagian yang benjol akan ditekan dengan sisi logam lebar dari pisau tersebut. Fungsinya untuk mendinginkan, sebagai pengganti es batu.pisau

Anak yang belum mengerti cara menggunakan pisau untuk mendinginkan luka memar, ketika dibawakan pisau bisa jadi salah paham. Dikiranya lukanya akan dipotong. Yang tadinya menangis karena terjatuh, biasanya tangisnya semakin menjadi-jadi karena ingin melarikan diri…


Written by arifrahmat

October 31st, 2016 at 1:16 pm

Temanku Menuju Bombana 1

without comments

Musim Pilkada datang lagi. Ratusan Pilkada akan berlangsung di banyak daerah di tanah air untuk memiliki kepala daerah yang baru (bupati, walikota, gubernur). Sayangnya hampir semua berita tentang ratusan Pilkada itu tenggelam oleh pemberitaan tentang Pilkada DKI  Jakarta yang  gegap gempita dengan isu agama.  Berita Pilkada di daerah nyaris tidak terdengar gegap gempitanya.

kasra

Baiklah, kita tinggalkan hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta dulu. Salah satu temanku semasa kuliah di ITB dulu sekarang maju mencalonkan diri menjadi calon Bupati Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kasra Munara namanya, dia alumni ITB angkatan 1985, seangkatan dengan saya di ITB, tapi beda Jurusan. Saya dari Jurusan Informatika, sedangkan Kasra dari Jurusan Kimia. Kasra Munara diusung oleh empat Parpol yaitu PPP, PKS,PDIP dan PBB. Berpasangan dengan Man Arfah, pasangan calon Bupati-Wakil Bupati. Mereka mengusung tagline BERKAH, yaitu singkatan “Bombana Baru dan Maju Bersama Kasra dan Arfah”.

Sebelum Kasra, sudah ada teman seangkatanku tahun lalu ikut kompetisi Pilkada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Namanya Jaka Sumanta, teman kuliah di Jurusan Informatika ITB angkatan 1985. Namun sayang dia tidak menang dalam Piilkada Kabupaten Sragen tersebut.

Saya mengenal Kasra sejak tahun pertama di ITB. Waktu itu saya dan Kasra ikut pelatihan Panitia Pelaksana Program Pelaksana Ramadhan (P3R) 1405 H di Masjid Salman ITB tahun 1986. P3R itu seluruh anggota panitianya adalah mahasiswa tingkat 1 ITB dari berbagai Jurusan (sekarang Program Studi). Jumlah anggota P3R sekitar 200-an orang. Beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan datang, kami diberi pelatihan oleh kakak-kakak mentor selama dua hari dua malam di Masjid Salman. Di sanalah saya berkenalan dengan Kasra. Saya tanya dari mana asalnya, dia menjawab dari Pulau Buton. Wah, mendengar Pulau Buton saya teringat pelajaran Ilmu Bumi di Sekolah Dasar. Yang saya ingat tentang Pulau Buton adalah pulau penghasil aspal di Indonesia. Jadi jika ingat aspal maka pasti ingat Pulau Buton. Namun saya belum pernah pergi ke Pulau Buton. Yang saya tahu Pulau Buton itu di Sulawesi, tepatnya di Propinsi Sulawesi Tenggara.

pulau_buton

Saya sering terkesan dengan teman-teman mahasiswa ITB dari berbagai daerah di tanah air. Mahasiswa ITB berasal dari Sabang sampai Merauke. Pulau Buton menurut saya pulau yang sangat jauh karena terletak di kawasan Indonesia Timur. Perlu waktu tiga hari tiga malam untuk berlayar dengan kapal penumpang PELNI dari pelabuhan Bau-bau di Pulau Buton menuju Jakarta.

Saya cepat akrab dengan Kasra karena kami sama-sama putra daerah di ITB (saya dari Padang). Selepas kepanitiaan di P3R saya masih sering bertemu dengan Kasra di dalam kampus (kampus ITB di Jalan Ganesha itu tidak luas, sehingga intensitas bertemu dengan teman-teman dari berbagai jurusan cukup sering). Meskipun berbeda Jurusan, saya dan Kasra tetap menjalin persahabatan. Saya sering mengunjunginya yang tinggal di Asrama Mahasiswa ITB  Rumah H di Jalan Sawunggaling (sekarang menjadi Hotel Sawunggaling). Di tahun terakhir kuliah saya juga tinggal di asrama mahasiswa ITB, tetapi di Rumah C di Jalan Skanda. Ketika liburan panjang tiba saya berkirim surat kepada Kasra yang waktu itu pulang kampung ke Buton. Saya mengutarakan keinginan untuk ikut dengannya pulang kampung berlayar ke Pulau Buton. Saya ingin sekali mengunjungi Pulau Buton itu dan ingin melihat kehidupan masyarakat di sana. Hingga sekarang keinginan ke Buton belum terlaksana meskipun tahun lalu Kasra pernah mengajak ke sana.

Setelah lulus dari ITB saya mendengar Kasra bekerja di luar negeri di perusahaan eksplorasi minyak Schlumburger. Selama bekerja di Schlumburger dia sudah sering berpindah-pindah kota di berbagai belahan dunia karena ditempatkan oleh perusahaaanya.

Setelah sekian lama bekerja di luar negeri, Kasra berniat untuk pulang kampung untuk membangun tanah kelahirannya di Bombana dengan melamar menjadi calon Kepala Daerah di sana. Setelah saya cari petanya di Google, Kabupaten Bombana itu sebagian berada dataran Pulau Sulawesi dan sebagian lagi di Pulau Kabaena (lihat peta di bawah, sumber peta dari sini). Mengapa bukan di Buton, mengapa di Bombana? Menurut Kasra dia  besar dan sekolah di Buton (karena ayahnya yang TNI ditugaskan di sana), namun kampung asalnya ya di Bombana ini.

sulawesi_tenggara_kabupaten_bombana

Sebagai seorang teman  seangkatan tentu saya mendukung langkahnya untuk menjadi Bombana 1. Saya mengenal Kasra sebagai orang yang baik dan humble.  Dia punya kapasitas menjadi pemimpin karena semasa mahasiswa aktif dalam kegiatan di Himpunan Mahasiswa Kimia. Pengalaman kerjanya yang melanglangbuana di luar negeri pasti berguna untuk membangun tanah kelahirannya. Meski saya tidak bisa memilih, karena bukan warga Bombana, namun saya berharap Kasra terpilih sebagai Bupati Bombana. Selamat dan sukses, kawan!


Written by rinaldimunir

October 29th, 2016 at 4:32 pm

Surat Al-Maidah 51 yang Dipermasalahkan

without comments

Perdebatan tentang kasus bermuatan agama  yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok, tentang  Surat Al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu akhir September yang lalu tampaknya belum akan selesai. Ahok memang sudah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan dari ucapannya itu (Ahok bersikukuh tak ada yang salah tentang ucapannya itu, tetapi hanya meminta maaf atas kegaduhan yang timbul), dan permintaan maafnya sudah diterima, namun kasus ini tetap diproses secara huku karena ormas-ormas Islam sudah membawa masalah ini ke ranah hukum. Kita tunggu keseriusan polisi dalam menangani kasus ini.

Kesalahan Ahok menurut saya bukan pada surat Al-Maidah yang dia permasalahkan itu, tetapi karena penggunaan kata “bohong” yang disambungkannya dengan surat Al-Maidah 51. “Ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, kalau tidak mau pilih saya karena dibohongin dengan memakai Al-Maidah ayat 51 dan macam-macam.“, katanya. Memang Ahok tidak mengatakan Surat Al-Maidah itu bohong, atau Al-Quran itu bohong. Tidak. Tetapi, menyandingkan  kata “bohong” dengan ayat suci dampaknya sangat besar. Kata “bohong” adalah kata yang negatif. Kalimat Ahok ini bisa ditafsirkan dua macam:

(1) Para ulama yang mengajarkan ayat tersebut di dalam ceramah agama berarti telah melakukan kebohongan. Jadi jika ulama membahas Surat Al-Maidah 51 di dalam pengajian kepada ummat berarti mereka telah mengajarkan kebohongan.

(2) Kata “memakai” biasanya diikuti dengan kata objek. Misalnya “dipotong dengan memakai pisau”, maka pisau adalah alat untuk memotong. Pada pernyataan Ahok di atas berarti Surat Al-Maidah 51 adalah alat untuk melakukan kebohongan.

Andaikan Ahok tidak menyebut kata “bohong” sehingga kalimatnya menjadi begini:

Ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, kalau tidak mau pilih saya karena memakai Al-Maidah ayat 51 dan macam-macam.

maka tidak akan ada kegaduhan yang timbul. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata yang terucap tidak dapat ditarik lagi. Forgiven but not forgotten.

Dalam pandangan saya, Surat Al-Maidah ayat 51 itu tidak ada yang salah. Ia merupakan Wahyu Allah SWT yang dijadikan tuntutan bagi orang Islam dalam memilih wali, pemimpin, atau teman dekat (kata awliya di dalam ayat tersebut bisa diartikan wali,  pemimpin, atau teman dekat). Karena merupakan tutunan agama, maka siapapun yang mengimani Kitab Suci maka ia wajib mematuhinya, namun jika anda tidak mau mempercayainya juga terserah anda, karena pertanggungjawaban setiap individu adalah pada Hari Akhir nanti.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2016 at 8:23 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Ahok yang Kontroversial

without comments

Hiruk pikuk Pilkada DKI (Pemilihan Gubernur DKI Jakarta) telah menyita perhatian penduduk Indonesia. Meskipun Pilkada tersebut di lingkup DKI Jakarta, tetapi orang-orang di wilayah lain di Nusantara ikut membicarakannya, juga ikut terbawa emosi dan perasaanya. Jakarta adalah barometer perpolitikan di tanah air, apa yang terjadi di Jakarta akan mempengaruhi konstelasi politik di tanah air. Pilkada DKI menjadi seksi karena Gubernur DKI menjadi batu loncatan meraih kekuasan lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden.

Pilkada DKI tidak akan menjadi “heboh” nasional jika calon gubernur yang bertarung adalah petahana (incumbent) Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Selain Ahok-Jarot, ada dua pasangan calon gubernur lain yang maju adalah Anies Baswedan – Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylvi. Mengapa Ahok menjadi sosok kontroversi, tidak lain karena tabiatnya yang temparemantal dan kata-katanya yang membuat orang-orang bereaksi dengan keras. Ahok terkenal ceplas ceplos berbicara dan suka memarahi bawahannya di depan publik.

Puncak kontroversi Ahok adalah ketika baru-baru ini dia mengeluarkan kalimat yang menyinggung kitab suci Al-Quran terkait surat Al-Maidah ayat 51. Blunder memang, karena menurut saya tidak sepantasnya Ahok menyinggung ayat-ayat dari kitab suci agama lain di ruang publik. Ini adalah hal sangat sensitif. Meskipun dia berdalih tidak bermaksud melecehkan, namun kata-kata yang diucapkannya itu sudah terlanjur memancing kemarahan sebagian umat Islam. Sekarang proses hukum sedang bergulir di kepolisian, dan kita tidak tahu bagaimana akhir kisah yang menghebohkan ini.

Menurut saya, meskipun Ahok itu beretnis Tionghoa dan beragama Kristen, sebenarnya kedua hal ini tidaklah terlalu dipersoalkan orang. Gubernur Jakarta dulu pun pernah dari kalalngan non-muslim (Henk Nagntung). Sudah ada contoh-contoh Kepala Daerah lain yang berbeda agama yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur di daerah yang penduduknya mayoritas Islam, misalnya Walikota Solo sekarang, Gubernur Kalimantan Tengah yang bernama Teras Narang, Gubernur Kalimantan Barat, Gubernur Maluku, dan lain-lain. Meskipun ada hal-hal yang menyinggung soal SARA dalam masa Pilkada, namun skalanya kecil dan tidak menimbulkan gesekan yang berarti. Karakteristik mayoritas orang Islam di Indonesia adalah Islam kebanyakan yang tidak terlalu kuat agamanya, tidak menjalankan sepenuhnya ajaran agama, namun mudah terprovokasi jika ada provokator menyusup.

Sayangnya, Ahok tidak membangun empati dari kalangan mayoritas sejak dia menggantikan Jokowi. Alih-alih meraih simpati, Ahok malah mencari “musuh” dengan melontarkan kata-kata yang bersifat menyerang, kata-kata kasar dan kotor, mempermalukan orang lain, menunjukkan emosi yang meledak-ledak di depan umum, dan menyingggung hal-hal yang berbau SARA, sesuatu yang sangat sensitif bagi penduduk Indonesia. Ketidaksukaan sebagian masyarakat kepada sifat Ahok ini diperparah lagi dengan kebijakannya yang menggusur pemukiman kumuh dan ilegal dengan pendekatan kekuasaan dan kekuatan. Meskipun penggusuran dan relokasi merupakan program yang sah, namun karena dilakukan dengan cara yang kurang manusiawi, maka yang dihasilkan adalah antipati.

Namun, Ahok tetaplah memmpunyai pendukung setia dan militan. Sebagian masyarakat menilai Ahok adalah sosok yang tegas. Gaya kepemimpinannya dianggap anti mainstream karena mendobrak kemapanan para pemimpin yang selama ini dianggap terlalu protokoler dan birokratis. Mereka menyukai gaya Ahok yang ceplas ceplos dan apa adanya. Bagi pendukung setia Ahok, sifat Ahok yang kasar dan temparemantal tidaklah mereka persoalkan. Pendukung Ahok yang militan sekalipun selalu berusaha mencari pembenaran apapun yang dilakukan oleh Ahok.

Namun kita tetap harus adil juga menilai Ahok. Kinerja Ahok membenahi Jakarta tidak boleh dinafikan begitu saja. Program-programnya tentu ada yang berhasil dan ada yang masih dalam penyelesaian. Sayangnya, prestasinya ini tertutup oleh attitude-nya yang kontroversi itu.

Saya berandai-andai, andai saja Ahok sejak awal membangun empati dan mencuri hati rakyat Jakarta maupun rakyat Indonesia, mungkin jalannya untuk kembali menjadi Gubernur akan mulus. Pasti banyak orang atau partai yang mendukungnya. Namun sayang nasi sudah menjadi bubur, terlanjur rusak karena Ahok tidak mampu menjaga lisan maupun sikap. Sekarang tinggal bagi rakyat Jakarta untuk menentukan pilihan di bilik suara, siapa yang akan menjadi pemimpin mereka lima tahun yang akan datang.


Written by rinaldimunir

October 12th, 2016 at 2:27 pm

Posted in Indonesiaku