if99.net

IF99 ITB

Archive for May, 2016

Kritik itu ternyata (tidak) perlu

without comments

Pada dasarnya setiap orang tidak suka dikritik. Meskipun sering dikatakan “silakan kritik saya, tidak apa-apa, tidak masalah bagi saya”, seolah-olah diucapkan dengan ikhlas, namun sebenarnya di dalam hatinya tidak mengharapkan untuk dikritik. Kritikan bagi seseorang adalah bentuk sebuah pamaparan kelemahannya, padahal manusia tidak suka kelemahannya ditunjukkan, apalagi di depan umum.

Pemimpin pun tidak selalu suka dikritik. Pada zaman Orde Baru, mengkritik Presiden artinya anda harus berhadapan dengan aparat, dan anda harus siap-siap masuk bui. Pada zaman reformasi sekarang, tidak semua pemimpin suka dikritik, ada yang siap menerima kritikan, ada  yang alergi dengan kritikan, dan ada pula yang bertahan (defensif) dengan melakukan pembelaan maupun serangan balik. Memang tidak ada orang yang masuk bui karena mengkritik pemimpin saat ini, kecuali kritikan yang menyerang pribadi atau mencemarkan nama baik (ini sudah banyak kasusnya).

Saya menerima kiriman dari grup WA di bawah ini, apakah anda setuju dengan yang disampaikan oleh penulisnya? Saya perbaiki sedikit ejaanya agar enak dibaca.

Seseorang bertutur tentang pengalaman hidupnya:

Saya dulu sering mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut saya, saya sendiri sudah merasa benar dan orang yang saya kritik salah.

Mengapa dulu saya sering mengkritik orang lain? Karena saya percaya dan banyak orang percaya bahwa kritik itu membangun.

Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak apa asalkan “kritik membangun”.

Setelah usia semakin bertambah, dan saya mulai tertarik untuk belajar tentang buku-buku kebijaksanaan, saya terbelalak bahwa sebagian besar buku-buku Wisdom mengatakan bahwa sesungguhnya TIDAK ADA kritik yang MEMBANGUN, semua kritik itu bersifat menghancurkan, merusak dan menekan perasaan orang yang dikritiknya.

Sampai suatu ketika saya membaca buku hasil eksperimen Masaru Emoto dari Jepang, yang melakukan uji coba nasi yang kemudian diletakkan di dalam toples yang berbeda.

Toples yang pertama setiap hari diberikan kritikan terus dan ditempel kertas bertulisan kata yang mengkritik, kemudian toples yang kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.

Dan hasilnya dalam 2-3 minggu, toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman sedangkan toples kedua dengan isi yang sama masih berwarna putih bersih tak membusuk.

Penasaran pada penjelasan di buku ini, akhirnya saya meminta para guru di sekolah kami utuk melakukan eksperimen ini bersama para murid di sekolah. Ternyata benar hasilnya lebih kurang serupa.

Toples yang setiap hari diberikan keritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk. Dan di sekolah kami mengajarkan para siswa melalui eksperimen ini agar tidak mengejek, menhujat atau mengkritik sesama teman, dan melatih mereka untuk bicara baik-baik yang tidak mengkritik.

Dan sejak itulah saya belajar untuk tidak mekritik orang lain, terutama anak dan istri saya.

Dan percaya atau tidak hasilnya di luar dugaan, Istri saya jadi jauh lebih perhatian dan wajahnya lebih berbinar dan anak-anak saya jauh lebih baik, ganteng, kooperatif dan sayang pada ayahnya.

Apa yang saya ubah dari diri saya sehingga anak dan istri saya berubah?

Saya ganti kalimat saya yang mengkritik istri dan anak saya dengan ucapan terimakasih padanya setiap kali mereka berbuat kebaikan.

Saya berterimakasih pada istri dan anak saya dan memujinya dan sering kali sambil memeluknya, saat mereka berhasil berhenti dari kebiasaan yang kurang baik.

Yuk mari kita renungkan, malah kalau perlu kita coba melakukan experiment yang sama bersama anak-anak dirumah atau murid-murid kita di sekolah.

So….. masihkah kita percaya bahwa KRITIK ITU MEMBANGUN ?

Masihkah kita percaya ada KRITIK YANG MEMBANGUN?

Masihkah kita mau mengkritik orang lain, terutama suami, istri dan anak-anak kita..?

Tentu saja pilihan itu terserah pada diri kita masing-masing karena hidup ini adalah pilihan bebas berikut konsekuensinya masing-masing.

Tapi coba rasakan dan ingat-ingat lagi apakah dengan sering mengkritik orang lain akan membuat orang yang kita kritik menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya balik mengkritik kita…?

Dan coba lihat apa yang ada rasakan di hati kita pada saat kita sedang dikritik oleh orang lain? Nah perasaan yang sama itulah yang juga akan dirasakan oleh orang lain yang kita kritik.

~~~~~~~~~~

Jadi bagaimana? Apakah kritikan itu perlu atau tidak? Mungkin yang lebih tepat istilahnya bukan mengkritik, tetapi mengkritisi. Keduanya memiliki makna berbeda. Mengkritisi artinya menilai secara obyektif baik kelebihan maupun kelemahan, sedangkan mengkritik cenderung menilai secara subyektif dan impulsif.  Mengkritik kurang tepat, mengkritisi lebih elegan.

Jika anda mengkritisi (atau dalam lain kesempatan mengkritik) seseorang, maka jalan tengah yang lebih moderat adalah menyeimbangkan antara mengkritisi dan memuji. Jika ada kelemahan maka kritisilah, tetapi jika tampak kelebihan maka tidak usah segan untuk memuji. Setuju?


Written by rinaldimunir

May 31st, 2016 at 5:00 pm

Posted in Gado-gado

Menilik Persyaratan Doktor Honoris Causa Bu Megawati

without comments

Kemarin mantan Presiden Indonesia, Megawati Sukarnoputeri, dianugerahi gelar Doktor kehormatan atau Doktor Honoris causa (Dr. Hc) dalam bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan oleh Universitas Padjadjaran Bandung (baca:Unpad Resmi Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa kepada Megawati).

Tokoh-tokoh politik diberi gelar Dr. Hc bukan hal yang baru. Sudah banyak perguruan tinggi menganugerahi gelar Dr. Hc kepada orang-orang yang dianggap memberikan kontribusi keilmuan di dalam masyarakat dan negara meskipun yang bersangkutan tidak menempuh pendidikan S3 di universitas tersebut. Tahun lalu ITB pun memberi gelar Dr. Hc kepada mantan presiden SBY setelah sempat tertunda beberapa tahun karena momennya tidak tepat (waktu itu masih menjadi Presiden RI). Tiap Perguruan Tinggi tentu mempunyai alasan dan pertimbangan sendiri dalam menganugerahi gelar Dr. Hc itu. Alasan Unpad memberikan gelar Dr. Hc kepaad Bu mega dapat dibaca di sini: Ini Alasan Unpad Berikan Doktor Honoris Causa Kepada Megawati Soekarnoputri.

Pemberian gelar Dr. Hc kepada tokoh-tokoh politik sudah sering menimbulkan pro dan kontra, baik dari pihak luar, pihak dalam kampus, maupun dari alumni perguruan tinggi tersebut. Ketika ITB memberi gelar Dr. Hc kepada Pak SBY juga sempat menimbulkan penolakan dari dalam dan luar kampus. Nah, untuk kasus Bu Mega ini, baru saja beliau diberi gelar Dr. Hc  ternyata hari itu sudah muncul penolakan dari  alumni Unpad sendiri, bahkan sampai membuat petisi daring segala (Baca: Petisi Online Tolak Gelar Doktor Honoris Causa Megawati dari Unpad dan Alumni Unpad Galang Petisi Tolak Pemberian Doktor Honoris Causa untuk Megawati).

Saya tidak hendak mengomentari penolakan alumni Unpad itu dan tidak ingin masuk sampai wilayah politik praktis. Saya hanya ingin menyoroti secara aturan legal formal bahwa pemberian gelar Dr. Hc kepada Bu Mega tidak memenuhi Permendikbud  No. 21 Tahun 2013. Di dalam Permindikbud itu diatur syarat dan tata cara pemberian gelar Doktor Kehormatan. Diinyatakan di dalam peraturan tersebut bahwa untuk memperoleh gelar Dr. Hc maka calon penerima  harus sudah memiliki gelar minimal sarja (S1) atau setara level 6 dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), seperti dikutip dari sini:

Perguruan tinggi dapat memberikan gelar Doktor Kehormatan tersebut kepada warga negara Indonesia maupun asing[3], yang:[4]

  1. luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, kemanusiaan dan/atau bidang kemasyarakatan;
  2. sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan;
  3. sangat bermanfaat bagi kemajuan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia atau umat manusia; atau
  4. luar biasa mengembangkan hubungan baik bangsa dan negara Indonesia dengan bangsa dan negara lain di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan.

 Selain syarat di atas, calon penerima gelar Doktor Kehormatan juga harus:[5]

  1. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. memiliki gelar akademik paling rendah sarjana (S1) atau setara dengan level 6 (enam) dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)[6];
  3. memiliki moral, etika, dan kepribadian yang baik; dan
  4. berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung perdamaian dunia.

Nah, jika mengacu pada aturan Permendikbud tersebut maka syarat bergelar Sarjana tidak dipenuhi oleh Bu Megawati. Seperti kita ketahui Bu Megawati sendiri memang alumni Unpad (Fakultas Pertanian), tetapi tidak sampai tamat karena peristiwa politik pada tahun 1965 (Baca: Peristiwa Gestapu Buat Megawati tak Selesaikan Kuliah di Unpad dan Megawati: Di Unpad Mental Saya Ditempa). Dengan kata lain Bu Megawati tidak memiliki gelar sarjana S1.

Namun aturan Permendikbud memuat opsi lain meskipun tidak bergelar sarjana, yaitu “atau setara level 6 dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)”. Di dalam Permendikbud No 21 di atas dijelaskan “Berdasarkan Pasal 5 huruf f Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, yang setara dengan jenjang 6 adalah lulusan Diploma 4 atau Sarjana Terapan dan Sarjana.”. Jadi, yang disebut setara level 6 adalah lulusan Diploma IV atau Sarjana Terapan (Baca juga: Kurikulum Nasional Berbasis Kompetensi Mengacu pada KKNI).

Nah, lagi-lagi Bu Mega tidak memenuhi acuan KKNI level 6 tersebut karena Bu Mega bukan lulusan Diploma IV atau Sarjana Terapan. Jika dilihat dari masa tahun kuliah Bu Mega yang hanya selama dua sampai tiga tahun (1965-1967), maka hal itu baru setara dengan D3 (level 4 atau 5 KKNI).

 

Kesimpulannya, berdasarkan Permendikbud No. 21 Tahun 2013, pemberian gelar Dr. Hc. kepada Megawati Sukarnoputeri tidak sesuai peraturan. Namun, saya tidak tahu apa alasan dan pertimbangan Unpad tetap memberikan gelar Dr. Hc kepada Megawati meskipun beliau bukan sarjana S1 atau setara level 6 KKNI. Moral dari kisah ini adalah peraturan Permendikbud tidak boleh dilanggar. Aturan ini memberikan rambu-rambu kepada Perguruan Tinggi agar mengikuti segalar peraturan dan perundangan yang ada sebelum memberi gelar Dr. Hc.


Written by rinaldimunir

May 26th, 2016 at 11:54 am

Posted in Pendidikan

70% vs 30%

without comments

Ini masih saya copas dari grup WA, super sekali analisisnya. Saya simpan pada posting ini untuk dibagikan (terima kasih buat penulisnya, izin share di sini).

Riset Ilmiah membuktikan:
1. Smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai
2. Mobil mewah, 70% speednya mubazir
3. Villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong
4. Universitas, 70% materi kuliahnya tak dapat diterapkan
5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70%-nya iseng² tak bermakna
6. Pakaian & peralatan dalam suatu rumah, 70%-nya nganggur tak terpakai
7. Seumur hidup cari uang/harta, 70%-nya dinikmati ahli waris.

“Hidup seperti pertandingan bola”

Di babak pertama (masa muda) menanjak karena pengetahuan, kekuasaan, jabatan, usaha Bisnis, gaji dsb.

Namun di babak kedua (masa tua) menurun karena darah tinggi, trigliserida, gula darah, asam urat, kolestrol dsb.

Waspadalah dari awal hingga akhir, kita harus menang 2 babak !!!

– Tidak sakit, juga harus Medical Check Up.
– Tidak haus, tetap harus minum.
– Meski benar, juga harus mengalah
– Meski Powerfull, juga perlu merendah
– Tidak Lelah pun, perlu Istirahat
– Tidak Kaya pun, wajib bersyukur
– Sesibuk apapun, tetap perlu olahraga

Sadarlah, hidup itu pendek, pasti ada saatnya Finish

Jangan tertipu dg usia MUDA
Karena syarat mati tak harus TUA

Jangan terpedaya dg badan SEHAT
Karena syarat mati tak harus SAKIT

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yg baik

Walaupun tak banyak orang yg memahamimu,

Jadilah seperti JANTUNG, yg tak terlihat tetapi terus berdenyut setiapv saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat

Ajal tak  mengenal waktu & usia,

Jadi teruslah berbuat baik, mengucap syukur atas apa yang sudah ada & menyampaikan kebenaran terhadap sesama.


Written by rinaldimunir

May 25th, 2016 at 4:10 pm

Posted in Gado-gado

Indahnya Matematika

without comments

Kiriman seorang teman dari grup WA. Saya simpan pada posting ini untuk dibagikan (terima kasih buat penulisnya, saya baru ngeh!):

Angka 1 sampai 9 dengan huruf Bahasa Indonesia (satu s/d sembilan) mengandung decak kagum. Jika kita menjumlahkan dua angka yg huruf awalnya sama, maka hasilnya selalu 10. Lihatah perhitungan di bawah ini:

Angka Berawalan S —> Satu + Sembilan = 10

Angka yg hurufnya Berawalan D —>  Dua + Delapan = 10

Berawalan T —> Tiga + Tujuh = 10

Berawalan E —> Empat + Enam = 10

Bahkan —> Lima + Lima = 10

Kok bisa begitu ya….
Hari ini adalah Hari Matematika Nasional (tanggal 14 Mei)

Lihatlah yang menakjubkan dalam Matematika berikut ini !

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant sekali ya? Dan lihat simetrinya yang berikut ini :

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321


Written by rinaldimunir

May 21st, 2016 at 4:05 pm

Posted in Gado-gado

Bakmi Jowo Gunung Kidul van Bandung

without comments

Sore hari sepulang dari kantor saya melewati jalan Dipati Ukur. Cuaca yang dingin karena mendung dan perut yang sedang lapar membuat saya berhenti dulu di sebauh kedai bakmi jowo di pertigaan Jalan Dipati Ukur – Jalan Multatuli, seberang kampus ITHB. Bakmi Jowo DU namanya, singkatan Dipati Ukur. Saya sering melintasi jalan itu, sering melihat beberapa orang koki memasak bakmi menggunakan anglo (tungku dengan bahan bakar berupa arang kayu). Dapurnya persis di pinggir jalan, jadi siapapun yang lewat pasti melihat para koki itu memasak. Bau harum bakmi menyebar ke hidung, membuat siapapun yang lewat untuk singgah makan di sana.

bakmijowo1

Juru masak bakmi jowo yang selalu menggunakan batik

Kata orang-orang yang pernah mencoba bakmi di sana rasanya enak. Favort, katanya. Jadi, singgahlah saya di kedai Bakmi Jowo DU untuk makan bakmi godhog panas-panas sepiring. Bakmi godhog adalah nama lain untuk mie berkuah. Selain bakmi godhog, ada bakmi goreng yang rasanya agak manis dan bakmi nyemek, yaitu bakmie goreng namun agak basah karena diberi kuah sedikit.

bakmijowo2

Bakmi nyemek

bakmijowo3

bakmi godhog

Setelah menunggu sekitar 10 menit, maka pesanan bakmi godhog saya pun terhidang di atas meja. Isinya mie (jelas dong), sayur, ayam suwir, telur, dan bahan yang agak kenyal-kenyal gitu. Silakan tambah dengan acar ketimun, sambal cabe rawit, dan saos tomat sesuai selera.

bakmijowo4

Sepiring mie godhog

Dari tampilannya saja sudah menggugah selera. Rasanya? Lumayanlah, agak kurang asin gitu. Mungkin anda perlu menambahkan garam sendiri yang tersedia di atas meja. Sepiring mie godhog itu harganya Rp25.000. Agak sedikit mahal ya, bagi mahasiwa kos mungkin berat makan di situ, karena seputar Jalan Dipati Ukur adalah kawasan mahasiswa.

Menurut asal-usul, bakmi jowo pada mulanya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sehingga diberi nama mie jowo. Orang Jawa dan orang Indonesia pada dasarnya suka makan mie. Mie jika diolah dengan bumbu lokal akan menghasilkan cita rasa yang khas. Di Aceh ada mie aceh yang kuahnya serasa bumbu kari, maka di Gunung Kidul ada mie jowo yang bumbunya sesuai dengan selera orang Jawa.

Di Bandung banyak cabang bakmi jowo. Bakmi Jowo DU ini termasuk favorit penikmat kuliner di kawasan Bandung Utara. Selain Bakmi DU, bakmi jowo di Jalan Taman Pramuka (dekat Jalan R.E Martadinata) juga terkenal enak, tapi yang ini saya belum coba. Kapan-kapan deh makan bakmi jowo di sana.


Written by rinaldimunir

May 20th, 2016 at 2:05 pm

Iklan TV Penanda Bulan Puasa

without comments

Untuk mengetahui apakah bulan puasa Ramadhan sudah dekat kita tidak perlu lihat-lihat tanggal. Lihat saja di televisi, apakah sudah muncul dua iklan berikut: iklan sarung Atlas dan iklan sirup Marjan. Sejak dua minggu lalu iklan sarung Atlas dan iklan sirup Marjan sudah wara-wiri di televisi. Kedua iklan ini merupakan penanda bahwa bulan puasa akan segera tiba. Setiap kali jingle iklan ini muncul di TV maka segera terbayang suasana Ramdahan di Indonesia.

Sarung dan sirup adalah dua buah barang yang banyak beredar pada bulan puasa. Orang muslim Indonesia sudah terbiasa menggunakan kain sarung untuk sholat. Sarung sudah menjadi budaya khas orang Melayu. Kaum santri dan nahdliyin menjadikan sarung sebagai ikon sehingga mereka sering disebut kaum sarungan. Sebenarnya budaya sarung tidak hanya ada di tanah Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan), warga Myanmar menjadikan sarung sebagai busana resmi sehari-hari. Mereka menyebutnya longyi. Meskipun sarung sendiri bukan simbol agama (orang Arab sendiri tidak mengenal sarung), namun karena kegunaannya lebih banyak untuk sholat, maka sarung (dan juga peci) sudah terlanjur identik dengan alat perlengkapan sholat.

Maka, menjelang bulan puasa, produsen sarung jor-joran mengiklankan produknya di televisi. Dari sekian banyak merek sarung, maka sarung merek Atlas yang dibintangi Deddy Mizwar itu yang melekat dalam benak orang. Iklan sarung Atlas itu hanya muncul menjelang puasa, selama bulan puasa, dan hari-hari sesudah lebaran. Pada hari-hari biasa ia tidak pernah tampil di televisi.

Selain sarung, maka sirup menjadi produk yang paling laris selama bulan puasa, terutama pada Hari Raya Lebaran. Orang Indonesia senang berbuka dengan yang manis-manis. Minum sirup manis pada waktu berbuka atau pada hari raya menjadi hal yang umum Menjelang lebaran botol-botol sirup berjejer demikian banyak di supermarket dan pasar swalayan. Ia merupakan produk yang dicari untuk bingkisan dan parsel.

Dari sekian banyak produk sirup, maka sirup Marjan sudah punya nama tersendiri. Dari namanya yang terkesan kearab-arab, varian rasanya yang macam-macam, dan terutama iklannya di TV yang selalu muncul menjelang bulan puasa. Maka, jika iklan sirup Marjan sudah tayang di TV, itu artinya bulan puasa sebentar lagi tiba. Setelah lebaran iklan ini akan menghilang dan akan muncul lagi pada tahun depan.

Jadi, tidak  sulit mengetahui datangnya tanda-tanda bulan puasa. Lihat saja apakah iklan kedua produk itu sudah muncul di TV. Sederhana sekali.:-)


Written by rinaldimunir

May 19th, 2016 at 4:04 pm

Posted in Gado-gado

Indonesia Darurat Pornografi

without comments

Kejadian perkosaan yang memilukan dan berakhir dengan pembunuhan telah menggoncang negeri ini. Dua diantaranya adalah kematian Yuyun, pelajar SMP di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, dan yang kedua adalah kematian Eno, buruh pabrik di Tangerang. Yuyun diperkosa ramai-ramai oleh 14 pemuda dan remaja, setelah diperkosa lalu dibunuh dan mayatnya dibuang ke dalam jurang. Sedangkan Eno diperkosa oleh tiga pemuda dan remaja, setelah dinikmati tubuhnya lalu dia dibunuh seecara biadab dengan memasukkan gagang pacul ke dalam (maaf) kemaluan korban.

yuyun

Simpati buat Yuyun, siswi SMP yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 remaja (Sumber gambar: Internet)

Yang memprihatinkan adalah pelaku perkosaan sekaligus pembunuhan itu ada yang masih di bawah umur. Umurnya masih 12 hingga 15 tahun. What? Dulu usia tersebut masih dianggap cukup kecil untuk mengenal (maaf lagi) hubungan seks, tetapi sekarang zaman sudah berubah. Anak-anak lelaki sekarang cepat sekali matang, mereka sudah mengenal hal yang dulu dianggap tabu itu dari berbagai sumber yang mudah ditemukan (internet, CD/DVD, komik, game, TV, majalah, gawai, dll).  Saya jadi ingat paparan Bu Elly Risman, seorang psikolog, tentang anak-anak zaman sekarang yang sudah mengenal istilah-istilah seksual dari berbagai media (Baca:Sulitnya Menjadi Orangtua Zaman Sekarang (Tentang Pornografi pada Anak dan Remaja))

Saya menduga, maraknya perkosaan yang dilakukan anak-anak di bawah umur adalah akibat sudah kecanduan yang begitu akut dengan pornografi. Salah seorang pelaku pemerkosa dan pembunuh Yuyun mengakui bahwa dia sering menonton video porno dari ponsel. Ketahuilah bahwa kecanduan pornografi pada anak dapat membuat otaknya rusak. Karena sering menonton, maka adegan-adegan di dalam video itu terbawa ke alam khayalan. Ketika syahwat sudah memuncak (anak-anak itu sudah akil baligh lho), maka ketika ada kesempatan untuk melakukannya, maka sasarannya adalah orang-orang terdekat (teman, tetangga, anak-anak, pacar). Minuman keras menambah pemicu untuk melakukan perkosaan (dan juga pembunuhan), karena orang yang sudah mabuk akibat miras maka otaknya sudah terganggu dan tidak bisa membedakan lagi perbuatan yang baik atau buruk.

Sayangnya hukuman terhadap pelaku perkosaan, apalagi sampai membunuh, tidak sebanding dengan perbuatannya. Hukumannya hanya beberapa tahun, apalagi terhadap pelaku yang masih di bawah umur sangat ringan karena ada UU Peradilan anak. Hukum kebiri seperti yang diusulkan berbagai kalangan tidak akan membuat pelaku perkosaan jera. Kejadian ini akan terus berulang terus selama hukuman terhadap pelaku masih ringan.

Hukuman yang adil untuk pelaku perkosaan dan pembunuan itu  adalah hukuman mati seperti hukuman rajam, tetapi karena negara kita bukan negara Islam, maka hukuman tersebut tidak (mungkin) diterapkan.  Menurut saya,  pelaku pemerkosa dan pembunuh Yuyun dan Eno tidak usah dipenjara, langsung lempar saja ke kandang buaya atau kandang singa. Sebelum dilempar ke kandang, dicangkul dulu anunya biar tahu sakitnya kayak apa. Sadis? Kelakuan mereka jauh lebih sadis dan sangat biadab. Mereka manusia-manusia yang tidak berguna.


Written by rinaldimunir

May 18th, 2016 at 2:01 pm

Posted in Indonesiaku

Nasehat-nasehat dari K.H Maimoen Zubair untuk para pendidik

without comments

K.H Maimoen Zubair adalah ulama kharismatis dari Rembang, Jawa Tengah. Selain  memimpin Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang, beliau juga adalah seorang politisi dari Partai Persatuan Pembangunan.

Meskipun sudah berusia sepuh (88 tahun), namun beliau masih tampak kuat. Pak kyai sering didatangi mulai dari orang biasa maupun para tokoh untuk meminta nasehat. Sebagai seorang yang sudah makan asam garam kehidupan, kata-kata yang terlontar dari K.H Maimoen Zubair sarat makna. Kata-kata mutiara dari Pak Maimun banyak dibagikan oleh netizen dalam bentuk meme melalui media dan jejaring sosial. Salah satunya pernah saya posting pada tulisan ini: Ketika tangan kita ditarik ke surga. Saya suka dengan kata-kata Pak Kyai, meskipun saya sendiri bukan dari kalangan kaum nahdliyin.

Beberapa  meme berisi nasihat yang lain dari K.H Maimoen Zubair saya kumpulkan dari Internet. Nasehat itu ditujukan bagi kami kalangan pendidik (guru, dosen, ustyad/ustadzah). Berikut ini beberapa nasehat dari Pak Kyai, yang meskipun bernuansa islami namun bersifat universal.

1) Jadi guru tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah. Sumber gambar dari sini.

Maemun1

2) Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka akan menarik tanganmu ke surga. Sumber gambar dari sini.

Muhaimin Zubair

3) Nak, kamu kalau jadi guru, dosen, atau kiyai kamu harus tetep usaha, harus punya sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian atau bayaran orang lain, karena usaha dari jasil keringatmu sendiri itu barokah. Sumber gambar dari sini.

maemun3

Selain nasehat untuk kalangan pendidik, Pak Kyai pernah melontarkan kata-kata mutiara lain yang menuntun kita agar selalu taat adab, seperti meme-meme berikut:

4) Adab berdoa kepada Allah SWT. (Sumber gambar dari sini)

maemun4

5) Jangan mudah berburuk sangka. Sumber gambar dari sini.

maemun5


Written by rinaldimunir

May 16th, 2016 at 4:04 pm

Posted in Pendidikan

“Memburu” SD swasta favorit di Bandung

without comments

Tahun ajaran baru tahun 2016/2017 akan segera datang. Bagi orangtua yang memiliki anak yang siap masuk SD tahun ini pasti sudah mencari-cari info pendaftaran sekolah sejak tahun lalu. Jauh-jauh hari mereka sudah berburu informasi tentang SD yang akan  menjadi pilihan untuk anaknya nanti. Orangtua yang baru pertama kali memasukkan anaknya ke SD (anak pertama) pasti sudah bertanya ke sana sini, SD apa yang bagus, berapa biayanya, dan sebagainya.

Bagi orangtua kelas menengah ke atas di Bandung, SD yang disasar adalah SD swasta. SD negeri tidak terlalu menjadi pilihan, kecuali beberapa SD yang dilabeli masyarakat sebagai SD favorit karena terletak di tengah kota, diantaranya SD negeri di Jalan Merdeka dan SD negeri di Jalan Sabang.

Fenomena yang menarik dalam dekade terakhir ini adalah kesadaran para orangtua kelas menengah ke atas menyekolahkan anaknya di SD berbasis keagamaan, baik SD Islam maupun SD Kristen/Katolik. Khusus bagi orangtua beragama Islam, menyekolahkan anak ke SD Islam didasarkan pada pertimbangan untuk memberikan lebih banyak pendidikan agama Islam sejak dini kepada anak-anaknya. Masa kecil adalah masa yang sangat cocok untuk menanamkan pendidikan agama  kepada anak. Pendidikan agama sejak kecil diharapkan menjadi bekal menghadapi kehidupan pada masa dewasa yang sarat dengan godaan yang menjerumuskan. Tantangan hidup pada era globalisasi ini sangat besar, jika tidak memiliki  dasar agama yang kuat maka dikhawatirkan hanya menghasilkan generasi yang rusak.

Orangtua pasangan muda yang memilih sekolah dasar Islam adalah orang-orang yang sibuk, mereka mungkin tidak punya banyak waktu untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya, maka dengan menyekolahkan di SD Islam mereka berharap anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sholeh selain cerdas tentunya. Mereka menaruh harapan kepada SD Islam tersebut untuk membekali anaknya dengan pendidikan agama selain pendidikan umum tentunya.

Di Bandung terdapat beberapa SD Islam yang dilabeli favorit oleh orang-orang. Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah SD Salman Al-Farisi di kawasan Tubagus Ismail, SD Mutiara Bunda dan SD Cendekia Muda di kawasan Arcamanik, SD Ar-Rafi di Kiaracondong, SD Muhammadiyah 7 di Antapani, SD Cendekia Leadership School di Bukit Ligar, SD Tunas Unggul di Pasir Impun Cicaheum, SD Mutiara Hati di Antapani, SD Al-Biruni di Panyileukan. Selain SD Islam yang disebut di atas, beberapa SD swasta lain yang favorit (meski tidak berlabel Islam) yaitu SD Gagas Ceria di Jalan Malabar, SD Alam di Dago, SD Bianglala di Gegerkalong, SD Sembilan Mutiara di Kopo, , dan lain-lain.

Umumnya SD swasta yang saya sebutkan SD di atas memiliki jam belajar full-day school  atau semi full-day. Jika di SD negeri anak-anak hanya bersekolah tiga jam sampai lima jam sehari, maka di SD swasta tersebut  belajar tujuh jam hingga delapan jam sehari. Rata-rata pulang sekolah pukul dua siang hingga pukul empat sore, dari Senin sampai Jumat (Sabtu libur).  Lamanya jam belajar di sekolah karena banyak muatan tambahan seperti pendidikan agama yang saya ceritakan di atas. Sholat Dhuhur berjamaah di masjid sekolah, pelajaran Al-Quran seperti tahsin dan tahfidz, dan lain-lain.

SD swasta favorit yang saya sebutkan di atas tentu tidak murah uang masuk maupun SPP nya. Uang masuknya saja dari belasan juta hingga puluhan juta. SD Mutiara Bunda misalnya, uang masuknya tahun 2016 ini total (bersama uang lain-lain) berjumlah 42 juta, SD Salman Al-Farisi 21 juta, SD Gagas Ceria 31 juta, SD Cendekia Leadership School 36 juta (Sumber:Biaya Masuk Beberapa SD Swasta Favorit di Bandung). Itu baru uang masuknya, sementara SPP per bulan bisa mencapai lebih dari satu juta per tahun. Seorang teman berseloroh, biaya masuk SD saja lebih mahal daripadfa biaya masuk kuliah di Perguruan Tinggi.

Meskipun mahal, namun SD-SD swasta favorit tersebut tetap menjadi buruan orangtua. Mahal tidak menjadi alasan, sebab pendidikan adalah investasi masa depan. Beberapa SD favorit tersebut sudah menutup pendaftaran pada akhir tahun. Mereka sudah menerima pendaftaran jauh-jauh hari sejak bulan Oktober hingga Desember. Praktis pada awal tahun baru tidak ada lagi tempat yang bersisa, sudah habis, padahal tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli. Karena permintaan banyak sementara tempat terbatas, maka kadang-kadang diberlakukan waiting list segala.

Di satu sisi keinginan orangtua memberi pendidikan yang berkualitas (termasuk pendidikan agama) untuk anak-anaknya merupakan satu bentuk kesadaran pentingnya pendidikan untuk membentuk karakter anak. Di sisi lain terjadi kesenjangan yang lebar dengan pendidikan di SD lain yang tidak favorit, termasuk di SD negeri. Pemerintah belum mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi warganya. Karena Pemerintah belum mampu, maka pihak swasta mengambil alih peran itu.


Written by rinaldimunir

May 14th, 2016 at 4:23 pm

Makan Siang di RM Padang Bu Mus, Buah Batu Bandung

without comments

Di Jalan Buah Batu  Bandung ada sebuah rumah makan padang yang sangat enak rasanya. Namanya Rumah Makan Padang Bu Mus. Kalau lewat jalan Buah Batu, saya selalu singgah di sini untuk makan siang atau sekedar dibungkus saja. Rumah makan ini dulu dikenal dengan nama rumah makan kapau, ada yang mengatakan Bu Mus ini masih punya hubungan saudara dengan Uni Lis yang berjualan nasi kapau di Pasar Bawah, Bukittingi.

bumus1

Apa yang menarik dari rumah makan padang Bu Mus ini? Bukankah rumah makan padang ada di mana-mana dan menunya hampir seragam? Yang membedakan setiap rumah makan padang adalah rasanya dan variasi masakannya. Di RM Bu Mus kita menemukan masakan rumahan yang jarang ditemukan di rumah padang lain, misalnya sayur anyang, goreng teri kentang balado, goreng jengkol, goreng terung cabe hijau, dan masih banyak lagi. Tentu saja masakan wajib seperti rendang, ayam goreng, gulai kepala ikan kakap, gulai nangka, gulai hati,  goreng ikan balado pasti ada. Begini penampakan masakan di RM Bu Mus itu. Hmmmslurp… masakannya yang berwarna-warni sangat menggugah selera.

bumus5

bumus3

bumus4

Menurut saya yang beberapa kali makan di sana, masakan khas RM Bu Mus adalah gulai ikan tauco. Gulai ikan tauco ini berupa goreng ikan tenggiri di dalam kuah santan berisi irisan cabe hijau dengan saus tauco. Masakan kampung seperti ini sangat jarang ditemukan di rumah makan lain. Saya sangat menggemarinya karena sejak kecil memang suka dengan gulai tauco masakan almarthum ibu.

Soal harga di rumah makan ini memang relatif agak mahal. Sebagai perbandingan, saya membeli nasi bungkus dengan gulai ikan tauco ini harganya Rp22.000. Meski agak mahal, tetapi rumah makan ini banyak pelanggannya, tadi siang ketika membeli di sini seluruh meja makan penuh dengan pengunjung yang sedang makan. Masakan padang (lebih tepatnya masakan minang) memang sudah terkenal enak sejak dulu kala. Mau coba?


Written by rinaldimunir

May 12th, 2016 at 3:58 pm

Posted in Makanan enak