if99.net

IF99 ITB

Archive for April, 2016

Ketika Anak Merengek Ikut ke Masjid

without comments

Sebuah gambar di bawah ini saya peroleh dari akun Facebook ini. Isinya cukup menohok, khususnya bagi bapak-bapak yang punya anak masih kecil. Ketika sang anak berumur dua tahun dia merengek-rengek untuk ikut bapaknya ke masjid. Namun si bapak mengatakan tidak usah ikut sebab dia masih terlalu kecil. Hal yang sama juga dia katakan ketika anaknya sudah berumur empat tahun dan delapan tahun. Istrinya meminta untuk menunggu sebentar sebab anaknya ingin ikut ke masjid. Namun apa jawab si bapak? Dia masih terlalu kecil untuk ikut, masih anak-anak.

Ketika anaknya sudah berusia remaja dia sudah sulit diajak ke masjid. Bapaknya mengeluh  karena sudah berulangkali mengajak anaknya ke masjid tetapi dia tidak mau mendengar. Sudah terlambat, jawab istrinya, sebab putra mereka sudah bukan anak-anak lagi.

sholat-ke-masjid

Menyesal setelah anak yang sudah besar tidak mau ke masjid?

Apakah anda mempunyai pengalaman yang sama seperti cerita di dalam gambar di atas? Usia anak-anak adalah usia emas, pada usia itu segala ajaran mudah ditanamkan, apapun ajaran itu, ajaran baik maupun ajaran buruk. Anak-anak pada dasarnya meniru apa yang dilakukan orang-orang terdekatnya.

Mengajak anak sholat maupun ke masjid adalah pada usia masih dini, yaitu dibiasakan sejak kecil. Sebuah peribahasa berbunyi: kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua berubah tidak, yang artinya kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan sukar diubah pada masa dewasa.  Jika sejak kecil anak sudah diajak sholat ke masjid, maka kebiasaan itu akan terbawa sampai dewasa. Jika sholat ke masjid tidak pernah ditanamkan sejak kecil, maka jangan harap jika sudah besar nanti mereka menjadi orang yang cinta ke masjid.

Jadi, mengapa harus merasa repot ketika anakmu yang masih balita merengek-rengek ikut kamu ke masjid? Kerepotan itu akan berbuah manis ketika dia dewasa kelak. Mumpung anakmu masih kecil dan sebelum ada rasa penyesalan pada kemudian hari.


Written by rinaldimunir

April 25th, 2016 at 11:18 am

Posted in Agama

Google Doodle hari ini: Prof Samaun Samadikun

without comments

Hari ini gambar doodle di laman utama Google ada yang istimewa. Jika anda membuka laman Google hari ini (www.google.co.id atau www.google.com), maka tampaklah gambar karikatur seorang laki-laki dengan latar belakang kabel-kabel. yang membentuk tulisan google. Siapakah dia?

samaun

(Alm) Prof. Samaun Samadikun menjadi gambar Google hari ini

Dia adalah (alm) Prof. Samaun Samadikun. Beliau dulu adalah gurubesar dalam bidang mikroelektronika di ITB. Pak Samaun bukan orang sembarangan, beliau adalah bapak mikroelektronika Indonesia. Pada hari lahirnya yang bertepatan pada hari ini, Google menjadikannya sebagai doodle pada laman utamanya.

Saya pribadi tidak mengenal beliau, meski sama-sama di ITB. Beliau adalah seorang dosen di Jurusan Teknik Elektro ITB, jurusan yang berbeda dengan saya di Informatika ITB. Jadi saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun. Meskipun saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun, namun saya sudah sering mendengar nama besar beliau melalui karya-karyanya dalam bidang bidang elektronika.

Saya kutip dari sini:

Prof. Dr. Samaun Samadikun sendiri lahir di Magetan pada tanggal 15 April 1931. Ia pernah menjadi salah seorang dosen di ITB yang semasa hidupnya dikenal karena kepribadian dan sikapnya yang sangat sederhana dan bersahaja, namun tanpa mengurangi sedikit pun kewibawaannya sebagai salah seorang yang disegani.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun 1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun
1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari
Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya
itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang
teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil
menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in
silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Prof Samaun sendiri juga Pernah menjabat sebagai seorang direktur pertama
dari sebuah Pusat Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika di ITB pada
periode tahun 1984 hingga 1989. Ia pun juga sempat mengambil cuti dalam
mengajar di ITB karena ia mendapatkan jabatan sebagai Direktur Binsarak
DIKTI dari pemerintah pada tahun 1973 hingga 1978. serta pada tahun 1989
sampai 1995 Prof. Dr. Samaun Samadikun diangkat menjadi ketua Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Usai masa jabatan di LIPI berakhir, Prof Samaun Samadikun akhirnya
memutuskan untuk kembali lagi mengajar di ITB. ia pun mengabdikan dirinya
disana hingga akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 2006.

Tonton “Siapakah Samaun Samadikun ?” di YouTube

~~~~~~~~

Pak Samaun sudah tiada, tetapi karya-karyanya untuk dunia ilmu pengetahuan Indonesia dan dunia menjadi warisan bagi generasi penerus. Doa alfatihah buat Pak Samaun Samadikun.


Written by rinaldimunir

April 15th, 2016 at 3:24 pm

Menolak Lupa (Janji Penggusuran)

without comments

Hari Senin kemarin merupakan hari yang kelabu bagi warga kampung Luar Batang, Jakarta. Pemukiman mereka dihancurkan oleh puluhan buldoser. Warga Pasar Ikan yang sudah turun-temurun selama berabad-abad ada di sana harus digusur dengan alasan mereka mendiami tanah ilegal, tanah negara. Penggusuran itu dibeking penuh oleh aparat keamanan dari TNI dan Polri, demi titah dari penguasa DKI. Saya yang menyaksikan penggusuran itu melalui siaran live di TV tak kuasa menahan sedih dan pilu. Jeritan para wanita dan anak-anak yang tak rela rumahnya dihancurkan tidak mampu meluluhkan hati para petugas yang terus merangsek meratakan bangunan.

gusur

Menyaksikan kampungnya yang sudah rata

Satu persatu kampung-kampung orang miskin yang mendiami bantaran sungai, kawasan pantai, dan kawasan kumuh lainnya lainnya digusur dengan alasan mendiami tanah negara. Orang-orang miskin di Jakarta semakin terusir saja dari kampungnya, namun kali ini penggusuran menggunakan cara-cara pendekatan kekuasaan yang mirip gaya Orde Baru. Kehadiran aparat keamanan memberikan rasa takut kepada warga. Tidak mau pergi dari sana, maka mereka harus berhadapan dengan aparat untuk diusir paksa. Tidak adakah  cara-cara yang lebih manusiawi untuk memindahkan mereka?

Di media sosial, riuh rendah penghuni jagad maya memberikan komentar yang beragam. Sebagian netizen mengecam penggusuran yang tidak manusiawi itu, namun sebagian lagi memberi dukungan kepada Gubernur yang mereka anggap tegas. Menurut kelompok pendukung Gubernur, warga miskin itu sudah seharusnya digusur  dari kampung mereka karena mereka mendiami tanah ilegal. Tidak perlu diberi uang kerahiman atau ganti rugi segala, toh itu bukan tanah mereka, tapi tanah milik Pemprov. Sudah bagus mau dipindahkan ke Rumah Susun, tapi masih mbalelo juga, demikian suara-suara netizen yang mendukung penggusuran. Rata-rata netizen ini adalah kelompok pendukung Gubernur DKI, Ahok,  yang akan mencalonkan diri lagi melalui jalur independen. Tidak ada lagi rasa empati dan simpati kepada warga miskin yang tergusur itu, suara hati telah dibutakan dengan dukungan yang membabi buta kepada sang Gubernur.

Sekilas tujuan penggusuran terdengar manusiawi, warga yang tinggal di pemukiman kumuh direlokasi ke Rumah Susun. Yang dilihat hanya aspek fisik semata, yaitu bangunan, tapi aspek sosial sama sekali terlupakan. Memindahkan ke rumah susun artinya menjauhkan mereka dari livehood mereka selama ini. Nelayan hidupnya di pantai, kalau di rumah susun bukan nelayan namanya. Menjauhkan nelayan dari pantai sama dengan membunuh mata pencaharian mereka.

Ya sudahlah, orang-orang miskin itu sudah tergusur dari kampungnya. Mereka sudah kenyang menjadi “permainan” calon pemimpin dan politisi. Orang miskin dia kampung-kampung kumuh hanya didekati ketika Pemilu atau Pilkada agar memilih pemimpin atau politisi tersebut. Setelah tercapai tujuannya, atau sudah mendapat jabatan empuk, orang-orang miskin itu dilupakan begitu saja, nasibnya tidak dipedulikan lagi. Ketika mereka harus enyah dan terusir dari kampungnya, suara pemimpin itu tidak terdengat lagi memberi pembelaan. Lupa dia dengan janji-janjinya dahulu kepada mereka.

Kita tidak boleh menolak lupa. Ketika Jokowi menjadi Calon Gubernur DKI, beliau menandatangani kontrak politik dengan warga pemukiman kumuh. Dia berjanji tidak akan menggusur pemukiman warga, melegalkan kampung ilegal, melindungi pelaku ekonomi lemah, dan lain-lain sebagainya.

kontrak

Kontrak politik Jokowi

Janji tinggal janji. Semua janji Pak Jokowi adalah bulshitt semata. Penerusnya di DKI, Ahok,  mungkin tidak terikat dengan janji tersebut sehingga tidak perlu merasa “berdosa” mengusir paksa warga pemukiman ilegal.  Namun kita tidak pernah mendengar suara Bapak Presiden memberi pembelaan atau minimal teringat dengan janji-janjinya dulu. Jika Presiden boleh (pura-pura) lupa,  namun Allah tidak akan pernah lupa. Gusti Allah ora sare, Allah tidak pernah tidur.


Written by rinaldimunir

April 12th, 2016 at 3:39 pm

Posted in Indonesiaku

Mencoba terminal baru bandara Husein Sastranegara, Bandung

without comments

Hari ini saya berkesempatan mencoba terminal penumpang baru Bandara Husein Bandung. Seperti biasa dalam kunjungan rutin saya mengajar di ITERA Lampung, saya naik pesawat dari Bandara Husein. Terminal baru itu baru beroperasi hari rabu yang lalu, jadi ini hari ketiga penggunaannya.

Terminal penumpang yang lama (untuk keberangkatan dan kedatangan) sangat kecil. Jumlah penumpang yang naik dan turun di Husein tumbuh luar biasa. Sungguh tidak nyaman menggunakan ruang tunggu yang sempit dan harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Sungguh malu membandingkan bandara Husein dengan bandara megah di kota lain. Padahal Bandung adalah kota wisata, maka bandara adalah etalase pertama yang dilihat orang.

Untunglah walikota Bandung Ridwan Kamil cepat tanggap. Dia mendesain terminal penumpang yang baru di sebelah terminal yang lama. Setelah setahun lebih dikerjakan, akhirnya terminal yang baru selesai bulan ini.  Yang membedakan bandara ini dengan bandara lain adalah aksen seni di dalamnya. Ya, Bandung adalah kota seni, maka sangat wajar unsur seni mewarnai bandara. Di dalam bandara kita serasa berada di sebuah galeri lukisan, karena lukisan berukuran besar karya alumni FSRD ITB terpampang di dinding ruang tunggu.

Yuk lihat foto-foto yang saya jepret tadi siang.

Husein1

Terminal baru tampak dari luar, dengan atap bangunan khas adat Sunda.

Husein2

Terminal keberangkatan

Husein3

Ruang check-in

Husein4

Ruang check-in yang lapang

Husein5

Pemeriksaan X-ray

Husein6

Ruang tunggu keberangkatan. Lukisan besar tergantung di dinding

Husein8

Ruang tunggu yang lapang

Husein9

Kafe-kafe dan restoran di ruang tunggu

Husein10

Ruang tunggu yang nyaman. Penumpang tidak perlu lagi berdiri karena tidak kebagian kursi

Husein7

Tempat bermain anak di ruang tunggu

Yang masih perlu dibenahi di Bandara Husein adalah soal taksi yang dimonopoli oleh taksi Primkopau TNI-AU. Taksi ini tidak pakai argometer, sistem harganya borongan dan tawar menawar. Sungguh membuat penumpang yang baru datang sering kesal dengan layanan taksi bandara. Selain masalah taksi yang cukup klasik, masalah parkir yang sempit dan semrawut juga masalah yang belum terselesaikan. Oh iya, terminal yang baru ini tidak punya garbarata, jadi penumpang harus turun ke landasann untuk naik dan turun pesawat. Sangat sulit membangun garbarata karena bandara Husein lahannya sempit. Bandara Husein memang dari awal tidak dirancang untuk bandara komersil karena bandara ini adalah milik TNI AU sebagai pangkalan udara.

Selamat mencoba terminal Husein yang baru.


Written by rinaldimunir

April 8th, 2016 at 8:17 pm

Posted in Seputar Bandung

Miskin bukan berarti tidak punya APA-APA, kaya bukan berarti punya SEGALANYA

without comments

Ini cerita sederhana tentang seorang gadis yang mengontrak sebuah rumah, dia tinggal sendiri di sana. Di sebelah rumahnya tinggal sebuah keluarga miskin dengan dua orang anaknya yang masih kecil.

Suatu malam listrik mati di pemukiman mereka. Rumah-rumah menjadi gelap gulita, termasuk rumah yang disewa gadis dan rumah keluarga miskin tadi. Dengan bantuan cahaya dari ponsel, si gadis segera mencari lilin di dapur. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, suara seorang anak kecil  terdengar dari luar. “Kak, punya lilin tidak?”, tanya anak kecil tadi.  Itu adalah suara dari anak miskin, tetangga sebelah rumahnya.

Gadis itu terdiam, dia berpikir sejenak. Dia merasa tidak usah memberikan lilin kepada anak miskin tadi, sebab jika diberi nanti  menjadi kebiasaan untuk terus meminta. Lalu dia menjawab  dengan keras, “Tidak ada!”.

Anak miskin tadi berkata dengan riang. “Saya tahu kakak tidak punya lilin. Ibu menyuruh saya memberikan dua lilin ini kepada kakak, karena ibu khawatir kakak tinggal sendirian dan tidak punya lilin”.

Si gadis merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada keluarga miskin itu. Dengan air mata berlinang dia memeluk erat-erat anak miskin tadi…

~~~~~~~~~~

Moral dari cerita ini adalah hendaklah kita jangan mudah berprasangka. Jangan menilai  kelemahan orang lain dari penampilannya. Kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, tetapi seberapa mampu yang kita beri  kepada orang yang tidak berpunya. Miskin bukan berarti tidak punya APA-APA, kaya bukan berarti punya SEGALANYA.

(kisah terinspirasi dari kiriman seorang teman)


Written by rinaldimunir

April 6th, 2016 at 5:12 pm

Posted in Kisah Hikmah

Pembaca Berita TV-One yang Berjilbab

without comments

Ada pemandangan yang berbeda yang saya amati akhir-akhir ini pada stasiun televisi TV-One. Penyiar program beritanya beberapa kali adalah penyiar yang mengenakan hijab (jilbab). Tentu saja menurut saya hal ini menggembirakan, sebab itu artinya stasiun TV ini tidak melakukan diskriminasi kepada kaum perempuan yang ingin menjadi penyiar namun tetap menjalankan kewajiban agamanya dalam berbusana muslimah.

tvone

Penyiar berita TV-One yang mengenakan hijab dalam program berita pagi

Kita semua tahu dalam beberapa kasus, perempuan yang berbusana muslimah seringkali mengalami diskriminasi karena pakaiannya. Ia ditolak bekerja karena berjilbab, baik secara halus maupun terang-terangan. Yang dilihat adalah pakaiannya, bukan kemampuan orangnya. Saya masih ingat kasus seorang penyiar televisi bernama Sandrina Malakiano. Dia adalah penyiar cemerlang di sebuah stasiun televisi berita ternama (anda pasti tahu nama televisinya). Ketika dia memutuskan berjilbab, stasiun televisi tersebut tidak lagi membolehkan dia menjadi pembaca berita. Dia diberi tempat di belakang layar  saja, yang secara halus artinya ‘menghukumnya’ karena berjilbab.  Sampai akhirnya Sandrina keluar dari televisi tersebut, dia ditolak menjadi penyiar karena jilbabnya, padahal dia adalah penyiar yang cerdas dan piawai.  Sikap islamophobia  yang ditunjukkan  televisi berita tersebut sungguh tidak layak terjadi di negeri ini, apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Dalam pengamatan saya, fenomena host acara TV mengenakan hijab bukanlah hal yang baru. Beberapa stasiun TV juga memiliki program acara yang dipandu oleh host-nya yang berbusana muslimah. Reporter TV yang berjilbab juga sering saya lihat  melaporkan secara langsung suatu kejadian. Namun, melihat pembaca berita yang berjilbab sangat jarang ada, padahal program siaran hard news adalah acara andalan stasiun TV berita. Selain di TV-One, saya juga pernah melihat pembawa berita berjilbab pada stasisun Trans TV. Beberapa acara di Trans TV juga banyak bermuatan islami seperti Khasanah, kuliah subuh, dan lain-lain. Mungkin karena Chairul Tanjung  sebagai pemilik Trans TV adalah seorang yang cukup religius. Lihat saja di Trans Studio Mall Bandung, dia membangun masjid yang sangat bagus dan besar di kompleks mall terbesar di Bandung itu.

Kembali ke stasiun TV-One tadi. Terlepas dari orientasi politik pemilik stasiun TV ini (keluarga Aburizal Bakrie), saya menilai stasiun TV One ini memberikan porsi yang cukup banyak untuk siaran bermuatan Islami. Ada program dakwah Damai Indonesiaku pada setiap minggu siang yang menampilkan siaran langsung ceramah agama yang dipandu ustad kondang. Pada hari-hari khusus mereka mengadakan acara bertema keislaman. Bahkan, pada malam tahun baru yang lalu, ketika banyak orang Indonesia larut dengan perayaan hura-hura tahun baru, termasuk acara malam tahun baru di berbagai stasiun TV, stasiun TV-One malah menampilkan acara muhabsabah berupa pengajian yang disiarkan langsung.

Saya mengaspresiasi kebijakan stasiun TV One yang tidak melarang penyiar beritanya menggunakan hijab. Sudah tidak saatnya lagi perempuan didiskriminasi dan ditolak bekerja hanya karena menggunakan pakaian muslimah. Perempuan yang berbusana hijab atau yang tidak sama adalah haknya untuk mendapat porsi yang sama dalam bekerja. Selama mereka tetap sopan, bekerja profesional, maka mengapa harus ada diskriminasi karena pakaian yang dikenakannya?


Written by rinaldimunir

April 3rd, 2016 at 8:27 am

Posted in Indonesiaku