if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2016

Vitamin A itu Bernama “Ayah”

without comments

Saya mendapat kiriman yang bagus dari grup WA. Tulisan ini bersumber dari narasumber Elly Risman, Psi. Seperti kita ketahui, maraknya pornografi dan LGBT sekarang ini sudah mencemaskan banyak orangtua. Untunglah masih banyak orang yang peduli dengan pendidikan anak. Mereka tidak henti menyerukan untuk melindungi anak-anak kita dari derasnya pengaruh negatif yang dapat menjerumsukan anak kita pada perilaku buruk.

Menurut Bu Elly, peran seorang Ayah sangat besar menentukan arah perkembangan anak. Ayah yang sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk anak-anaknya sangat potensial memiliki anak dengan perkembangan yang kurang wajar. Perkembangan anak memerlukan asupan vitamin A yang baik, dan vitamin A itu adalah seorang Ayah.

Simaklah paparan Elly Risman di bawah ini.

VITAMIN A UNTUK ANAK KITA
Narasumber: Elly Risman, Psi.
(Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga, engkau yang menentukan kemana keluarga kita akan kau bawa.

Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkah, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat, bagi kami kau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.

Ayah…
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan, engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.

Ayah..
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami dan harta benda yang kau titipkan.

Ayah..
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya. Obrolan sederhana yang kau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
– Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur.
– Punya harga diri yang tinggi.
– Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
– Lebih pandai bergaul.

Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkrama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
– Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain.
– 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan.
– Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
– Cenderung lebih mudah bercerai.

Ternyata hal ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi apapun.

Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya:
– Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
– Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda.
– Cenderung join a gang, dan
– Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa.

Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure.

Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua; anak itu AMANAH; kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar. Sebab itu butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya).

Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu. Visi membuat Ayah dan Ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.

Keluarga Nabi Ibrahim (QS Ibrahim: 35-37) mempunyai misi:
– Penyelamatan aqidah.
– Pembiasaan ibadah.
– Pembentukan akhakul karimah dan
– Pengajaran lifeskill (entrepreneur).

Sedangkan Visi Keluarga Imran (QS Ali Imran: 35), yakni menciptakan hamba Allah yang taat.

Ayah…
Mari kita terus perbaiki pola pengasuhan selama ini. Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain. Ia membutuhkan 3P:
– Penerimaan.
– Penghargaan, dan
– Pujian.

Ayah..
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan kita, sebab:
– Otak mereka berbeda.
– Tugas dan tanggung jawab mereka kelak dewasa juga berbeda.
Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak mengemban tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba yang bertakwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menadi pendidik dan pengayom keluarga.

Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak; bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang. Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).

Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya, itu berarti kau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka. Ingat PERASAAN ya Yah…!

Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu, tempat mereka meluapkan perasaannya. Kalian bisa ngobrol tentang apa saja, tentang hal-hal yang pribadi, tentang hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak zaman sekarang.

Ayah…
Berikan pondasi bagi anak-anakmu agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.

Ayah..
Peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia, yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan Negara.

manusia yang baik adalah mereka yang paling baik kepada KELUARGAnya.

Save our children.

 


Written by rinaldimunir

February 29th, 2016 at 11:43 am

Posted in Pendidikan

Standard Ganda Facebook

without comments

Meskipun Facebook pusatnya berada di Amerika, dan kita tahu negara Amerika menjamin kebebasan berbicara dan berekspresi sepenuhnya, namun untuk posting tentang anti LGBT Facebook melakukan standard ganda. Pihak Facebook menghapus posting netizen yang berisi  penolakan terhadap LGBT. Penghapusan itu dilakukan atas laporan yang diberikan oleh pengguna Facebook lainnya yang  melaporkan adanya  posting yang anti-LGBT. Pihak Facebook menyebutnya sebagai posting yang menyebarkan kebencian (hate speech) sehingga melanggar standard komunitas mereka.

Beberapa fesbuker (sebutan buat pengguan Facebook) melaporkan posting-an mereka dihapus oleh admin Facebook, padahal isinya tidak seluruhnya berupa penolakan, tetapi banyak yang berupa argumentasi, pandangan, saran, dan lain-lain yang berkategori biasa saja. Tidak hanya menghapus posting-an, tetapi juga menonaktifkan akun secara temporer hingga ancaman untuk menutup akun selamanya (Baca: Facebook Ancam Tutup Permanen Akun Tere Liye).

Setahu saya Facebook memang terang-terangan mendukung LGBT, bahkan salah seorang pendiri Facebook adalah seorang gay.  Jadi, pembungkaman terhadap suara yang menolak LGBT mungkin bisa dipahami sebagai sebuah bentuk keberpihakan.

Tetapi masalahnya bukan itu. Jika memang ada posting-an yang menyebarkan kebencian, maka seharusnya Facebook juga melakukan hal yang sama apabila ada posting lain yang bukan membahas LGBT namun menghina suatu agama. Terhadap posting-an yang menghina Nabi Muhamammad  misalnya, sudah banyak yang melaporkan posting-an seperti ini kepada admin Facebook, namun Facebook menolak menghapusnya, malah membiarkannya. Inilah standard ganda itu.

Tindakan Facebook yang membungkam suara penggunanya yang kontra LGBT sangat kontras dengan posting-an Mark Zuckenberg tanggal 9 Januari 2015 tentang Facebook sebagai tempat orang-orang dapat  berbicara dengan bebas tanpa takut melanggar:

“I’m commited to building a service where you can speak freely without fear of violence.”

 

mark2

 

Facebook tidak perlu otoriter menghapus atau menutup akun seseorang hanya karena dia menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pendirinya. Lawanlah kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, pemikiran dengan pemikiran, itu baru intelek namanya, bukan dengan cara represif yang membungkam kebebasan berbicara yang diagung-agungkan pendirinya, Mark Zuckenberg. Itu hipokrit namanya.


Written by rinaldimunir

February 24th, 2016 at 4:57 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Bawa Kantong Plastikmu Sendiri!

without comments

Kemarin ketika berbelanja di minimarket Al*a Mart, saya ditanya oleh kasir: “Bawa kantung sendiri atau beli di sini? Kalau beli harganya Rp200”.

Oh, ternyata aturan penghematan penggunaan kantung plastik (Bahasa Sunda: keresek) di Bandung sudah berlaku sejak kemarin. Kantung plastik di pasar swalayan sudah tidak gratis lagi, jika mau harus tambah biaya Rp200, atau pakai kantung belanjaan sendiri yang dibawa dari rumah.

Saya setuju dan mendukung aturan ini. Sampah dari plastik sudah mencapai volume yang membahayakan. FYI, limbah plastik tidak akan hancur di tanah selama ratusan tahun. Plastik tidak bisa membusuk, tidak bisa diurai oleh bakteri. Semakin banyak sampah plastik, semakin tercemar lingkungan hidup di sekitar kita.

Orang Indonesia sangat royal dan terlalu ‘dimanjakan’ dengan kantung plastik, sedikit-sedikit pakai kantung plastik. Coba deh belanja apa saja, entah di pasar tradisionil, di pasar modern, di pedagang kaki lima, atau di warung-warung, pasti belanjaanmu dimasukkan ke dalam kantung plastik. Barang yang dibeli cuma satu, tetapi kasirnya tetap memasukkan barang belanjaan kita ke dalam keresek kecil. Saya cuma beli satu buah odol saja di minimarket, tetap dimasukkan ke dalam kantung plastik. Seakan-akan kalau tidak dimasukkan ke dalam kantung plastik maka dianggap tidak sopan. Mosok barang belajaan diserahkan begitu saja ke tangan pembeli tanpa kantung plastik? Tidak sopan! Mungkin begitu dalam pikiran kasir.

Okelah, masalah sopan atau pantas tidak pantas ditunda dulu perdebatannya. Ada masalah lain yang lebih krusial, yaitu peningkatan volume sampah plastik. Jika sampah plastik tidak direm, maka suatu saat kita menyaksikan limbah plastik di mana-mana.

Di dapur rumah saya, kantung-kantung plastik bekas belanja jumlahnya banyak sekali. Saya simpan dan tidak saya buang ke tempat sampah. Sedapat  mungkin saya menghindari membuang kantung keresek apapun ke dalam tong sampah.  Mencemari lingkungan saja.

Orang-orang di negara maju sudah lama menyadari bahaya sampah plastik. Toko-toko ritel di negara maju tidak memberikan kantung plastik. Konsumen harus membawa sendiri kantung belanja. Yang lebih ekstrim lagi, kasir tidak melayani pembungkusan atau memasukkan barang belanjaan ke dalam kantung, konsumen sendiri yang harus melakukannya. Pengalaman ini saya temui di sebuah toko peralatan rumah yang terkenal, IK*A, di Singapura. Selesai menghitung dan membayar barang belanjaan di kasir, maka barang belanjaan itu kita sendiri yang harus membungkusnya. Toko menyediakan banyak kertas koran bekas  dan kardus-kardus bekas di ujung meja kasir. Sama sekali tidak ada kantung plastik. Silakan anda bungkus sendiri barang belanjaan anda dengan koran bekas, atau masukkan ke dalam kardus-kardus yang tersedia, lalu bawa sendiri ke luar.

Budaya bangsa kita harus diubah. Jangan lagi beranggapan bahwa jika tidak diberi kantung plastik maka dianggap tidak sopan. Bawa sendiri kantung plastik dari rumah, bungkus sendiri. Jika terpaksa, barulah beli Rp200 dari toko tersebut. Bahkan menurut saya, harga Rp200 itu terlalu murah, sebaiknya Rp2000 saja supaya lebih efektif menekan sampah plastik.


Written by rinaldimunir

February 22nd, 2016 at 11:55 am

Posted in Indonesiaku

LGBT adalah Gangguan Kejiwaan dan Bisa Menular

without comments

Tulisan saya masih tentang LGBT yang masih hangat diperbincangkan. Pada acara diskusi LGBT di Kompas TV pemirsa tidak mendapat penjelasan yang memuaskan, acaranya berat sebelah (terkesan stasiun TV ini memihak LGBT), tetapi pada acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TVOne pada malam tanggal 16 Februari 2016, diskusi LGBT lebih berbobot karena menghadirkan para pakar yang kompeten d bdiangnya (psikolog, psikiatri, dokter, ahli agama).

Judul tulisan di atas saya simpulkan dari ucapan wakil Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia (PDSKJI), Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ., M.P.H., pada acara. Pak Fidiansyah tidak asal bicara, dia berpedoman pada buku text-book PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa). Di dalam buku tersebut disebutkan (halaman 279, 280, dan 288) bahwa gangguan psikologis yang berhubungan dengan perilaku dan orientasi seksualitas adalah homoseksualitas, biseksualitas, dan transeksual. Silakan klik video berikut:

Karena LGBT adalah ganggua kejiwaan, maka ia adalah sebuah penyakit. Yang namanya penyakit bisa disembuhkan melalui konseling dan terapi yang tepat, sudah banyak kasusnya bisa disembuhkan.

Selanjutnya Dr. Fidiansyah menyatakan lagi bahwa LGBT itu bisa menular. Penularannya bukan disebabkan oleh virus atau kuman, tetapi dari perilaku. Di dalam teori perilaku ada yang namanya penularan dari konsep pembiasaan. Orang yang bukan LGBT tetapi karena mengikuti suatu pola maka akan lama-lama menjadi suatu karakter, selanjutnya menjadi kepribadian, membentuk kebiasaan, dan akhirnya menjadi penyakit. Menularnya dilihat dari konteks perubahan perilaku dan kebiasaan.

~~~~~~~~

Hmmm….sungguh mengerikan jika anak-anak kita menjadi LGBT karena pergaulan yang  salah. Mayoritas orang menjadi gay atau lesbian karena diajak masuk ke dalam dunia homoseksual. Berdasarkan paparan dr. Fidiansyah di atas, perilaku gay dan lesbian dari teman bisa menular kepada orang normal melalui proses pembiasaan. Karena terus didekati, diajak, dan ikut-ikutan masuk ke dalam aktivitas pelaku homoseksual, maka seorang yang bukan gay/lesbian akhirnya menjadi gay/lesbian.

Mari kita jaga dan lindungi anak-anak kita dari bahaya LGBT.


Written by rinaldimunir

February 18th, 2016 at 5:05 pm

Ulil, LGBT, dan Al-Quran

without comments

Isu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgeder) makin marak di media massa pekan-pekan belakangan ini. Isu ini sudah pernah heboh tahun lalu ketika Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis. Tahun ini isu LGBT mencuat kembali setelah ramai  pemberitaan kasus kematian perempuan bernama Mirna di sebuah cafe kopi di Jakarta yang diduga dibunuh karena  kecemburuan pasangan lesbian. Diskusi LGBT di media dan jagad maya semakin heboh dan ramai setelah dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdallah, mencuitkan tweet yang memicu kecaman dari netizen dan tokoh agama. Ulil adalah pembela terdepan LGBT, namun pembelaanya terkesan begitu ngotot sampai-sampai merendahkan agama dan meragukan isi Al-Quran. Lihatlah screenshot twit berikut ini:

ulil_twit1

Dengan twit tersebut, artinya Ulil meragukan kisah kaum Nabi Luth di dalam Al-Quran.  Kisah kaum Nabi Luth yang melakukan praktek homoseksual (lelaki dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan) tercatat dengan nyata di dalam kitab suci agama-agama samawi (Kitab Perjanjian Lama dan Al-Quran). Meragukan kebenaran kisah sodomi kaum Nabi Luth sama artinya meragukan kebenaran kitab suci. Allah berfirman:

“Kitab [Al Qur’an] ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 2)

Jika Ulil meragukan kebenaran Al-Quran, maka apakah masih bisa disebut dia seorang penganut agama Islam? Salah satu Rukun Iman di dalam Islam adalah percaya kepada kitab suci.

Selain meragukan kebenaran kisah Nabi Luth, di dalam twit di atas Ulil juga mengganggap bahwa Al-Quran adalah ‘oplosan’ dari kitab suci sebelumnya. Padahal Al-Quran, Taurat, Zabur, dan Injil sama-sama Firman Allah, maka jika Allah mengulang-ulang Firman-Nya  adalah hal yang wajar saja. Al-Quran sendiri membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya, sebagiamana Firman Allah dalam Surat Ali-Imran ayat 3:

Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil (Q.S. Ali Imran: 3).

Begitu juga Firman Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat 41:

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (Al-Baqarah:41)

Tidak berhenti sampai di situ, Ulil melontarkan cuitan yang menantang Allah SWT, seperti yang ditampilkan pada screenshot berikut:

ulil_twit

Allah bukannya tidak mengazab negeri-negeri yang membolehkan LGBT, tetapi “BELUM”. Soal kapan azab itu datang, itu hak Allah, rahasia Allah, Dia yang tahu. Banyak orang mengira ditundanya azab Allah itu menandakan ancaman azab tersebut sekadar gertak sambal saja.

Dalam kisah ummat Lutuh sendiri, umat Luth yang durhaka malah menantang diturunkan azab, seperti Firman Allah berikut:

Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: `Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar`.(QS. Al-Ankabut:29)

(Silakan  baca tafsir Surat Al-Ankabut ayat 21-30 pada laman ini)

Akhirnya Allah SWT benar-benar mendatangkan azab yang ditantang oleh umat Nabi Luth tersebut. Negeri Sodom diazab oleh Allah SWT ribuan tahun lalu, dan pada sejarah yang lebih belakangan kota Pompeii di Italia dihancurkan oleh Gunung Api Vesuvius pada tahun 79 M karena penduduknya begitu masif mempraktekkan pelacuran dan praktek homosexual.

Kalimat Ulil pada twit di atas hanyalah pengulangan dari tantangan yang pernah dilontarkan kaum terdahulu:

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik kafir Makkah) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. (QS Al-Anfal: 32).

Mereka (orang kafir) mengatakan: “Bilakah [datangnya] ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?” (QS Yunus: 48).

Terakhir, Ulil membuat twit yang mengaitkan perilaku gay dengan sejarah pembuatan komputer (mungkin dia terinspirasi dari film Imitation Game yang menceritakan kisah hidup Alan Turing) seperti screenshot di bawah ini:

ulil

Orang yang kuliah di Informatika atau Ilmu Komputer tentu tahu bahwa Alan Turing bukanlah penemu komputer. Komputer adalah hasil penemuan yang memiliki sejarah yang panjang. Sulit mengatakan siapa orang yang pertama kali menemukan komputer, sebab komputer yang ada saat ini hasil kolaborasi secara sekuensial para ilmuwan terdahulu. Di dalam sejarah penemuan komputer ada nama-nama seperti Charles Babbage, John Von Neuman, Alan Turing, dan lain-lain. Beberapa ensiklopedi menuliskan Charles Babbage sebagai penemu komputer, karena mesin mekanik  yang dibuatnya (semacam kalukultor) lebih dekat dengan fungsi komputasi sebuah komputer. Alan Turing sendiri tidak membuat komputer, tetapi dia membuat model komputasi (model matematis) yang menjadi model komputer saat ini. Alan Turing adalah bapak ilmu komputer modern, tetapi bukan penemu komputer. Lagipula, apa hubungannya mengaitkan sejarah penemuan komputer dengan perilaku gay? Sama sekali tidak nyambung. Andaipun benar Alan Turing menemukan komputer, itu tentu bukan karena perilaku gay-nya bukan?

Kami tidak membenci manusia yang menderita LGBT, tetapi yang kita benci adalah perilaku atau ideologi LGBT-nya, karena tidak sesuai dengan fitrah manusia dan bertentangan dengan ajaran agama (manapun).

Na’udzubillahi min dzalik! Hanya itu yang bisa saya ucapkan menanggapi perilaku Ulil yang berbicara seenak perutnya tanpa takut dengan azab Allah SWT.


Written by rinaldimunir

February 15th, 2016 at 6:01 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Soto Padang yang Enak di Bandung

without comments

Sore dalam perjalanan pulang ke rumah ke kantor, saya singgah dulu di kedai soto padang masakan Uda Ujang di Jalan Singaperbangsa, dekat kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung. Suasana sore yang mendung dan dingin ini membuat saya agak lapar, jadi saya ingin makan soto padang yang hangat dan enak. Hmmm….

soto-pdg3

Menurut saya soto padang masakan Uda Ujang adalah soto padang yang terenak di kota Bandung. Mantap rasa, aroma, dan pedasnya. Orisinal, persis sama dengan soto yang saya makan  di Pasar Raya, Padang. Di Bandung ada beberapa rumah makan padang yang menyediakan soto, tetapi dari semua soto padang yang pernah saya coba, saya menempatkan soto padang yang terenak ya soto di kedai ini. Kedai Uda Ujang khusus hanya menjual masakan soto padang saja, tidak ada masakan lain.

soto-pdg1

Soto padang isinya antara lain irisan daging goreng atau daging dendeng yang dipotong kecil-kecil, perkedel kentang, bihun, seledri, bawang goreng, dan sama sekali tanpa MSG. Kelezatan soto padang terletak pada kuahnya. Kuah soto terbuat dari kaldu daging atau ulang sapi dengan ramuan rempah-rempah. Paduan rempah-rempah itulah yang membedakan soto padang yang satu dengan soto padang lainnya. Paduan mana yang menghasilkan rasa yang pas di lidah, itulah soto padang yang enak dan gurih. Soto padang akan lebih nikmat jika ditambah dengan sambal khas dan perasan jeruk nipis atau cuka. Sambalnya adalah cabe halus yang dimasak dengan tambahan asam cuka. Supaya lebih menarik, nasinya  ditaburi kerupuk merah. Mantap!

soto-pdg2

Saya suka mengajak teman makan di sini, kadang-kadang juga saya pesan untuk menu rapat di kantor. Kedainya buka dari pagi jam 8 hingga malam. Seporsi soto padang tanpa nasi Rp17.000, jika pakai nasi harganya Rp20.000. Kedai ini juga punya jongko kaki lima di depan kampus Unpad, tepatnya di pool bis Damri Dipati Ukur.

Mau coba? Silakan datang ke sana.


Written by rinaldimunir

February 13th, 2016 at 6:28 am

Pedestrian yang Ramah

without comments

Jika kita berjalan kaki melalui trotoar kota Bandung saat ini, ada banyak perubahan yang terlihat. Di beberapa tempat jalur pedestriannya (jalur pejalan kaki) dibuat lebih lapang dan nyaman. Memang belum semua jalan ada jalur pedestrian -sebagian besar masih berupa trotoar sempit atau bahkan tanpa trotoar- tetapi memiliki jalur pejalan kaki yang ramah, nyaman, dan aman, mungkin Bandung sudah mempeloporinya.

Ramah artinya jalur pedestrian tersebut tidak hanya untuk orang yang normal saja, tetapi penyandang cacat dan pengguna kursi roda juga dapat menikmatinya tanpa takut jatuh atau tergelincir.

Coba lewati pedsterian di Jalan R.E Martadinata (meskipun berganti nama tetap dikenal dengan nama Jalan Riau). Jalurnya lebar-lebar dan nyaman. Setiap beberapa meter terdapat bangku antik  untuk duduk-duduk jika anda lelah berjalan kaki atau sekedar cuci mata. Bola-bola batu dari semen berukuran besar berjajar di depan untuk mempercantik pedestrian.

 

pedestrian

Pedesterian di Jalan Riau, Bandung

Jalur pedestrian ini ramah bagi penyandang tuna netra. Coba perhatikan jalur berwarna kuning di tengahnya, itu adalah jalur khusus bagi tuna netra untuk membantunya menentukan arah dan posisi. Dengan meraba jalur kuning menggunakan tongkatnya, penyandang tuna netra dapat berjalan sendiri tanpa perlu dipandu. Jalur kuning ini memanjang dari barat ke timur sepanjang pedestrian.

Jalur kuning  bagi tuna netra tidak hanya ada di pedestrian lebar seperti di atas, tetapi di berbagai sudut kota Bandung jalur kuning juga dipasang pada beberapa trotoar kecil hingga ke jalan-jalan di pemukiman. Di trotoar Jalan Ganesha di depan kampus ITB, anda akan menemukan jalur kuning tersebut. Di jalan-jalan di pemukiman Antapani saya juga menemukan jalur kuning itu pada beberapa trotoar (Jalan Cibatu Raya, Jalan di depan Lapangan Gasmin).

Saya belum menemukan jalur kuning itu di kota-kota lain, bahkan di Jakarta pun saya belum pernah melihatnya (CMIIW).

Selain ramah bagi tuna netra, jalur pedestrian pada gambar di atas juga aman dan ramah bagi pengguna kursi roda. Hal ini karena sepanjang jalur pedestrian itu relatif datar, tidak naik turun ketika bertemu dengan jalan menuju pintu masuk gedung atau rumah di sepanjang jalan itu. Bagian yang menghadap jalan menuju pintu rumah/gedung dibuat hampir sama tinggi dengan trotoar sehingga tidak menyulitkan pengguna kursi roda. Bagi anda yang membawa koper yang pakai roda juga tidak perlu naik turun. Saya ingat pengalaman menyeret koper sepanjang trotoar di kota Tokyo, sama sekali tidak perlu turun naik jika bertemu bagian jalan yang masuk gedung karena sama datarnya dengan trotoar.

Semoga jalur pedestrian yang ama, ramah, dan nyaman seperti gambar di atas dapat dibuat di seluruh jalan di kota Bandung.


Written by rinaldimunir

February 9th, 2016 at 2:23 pm

Posted in Seputar Bandung

Orang Minang yang Egaliter

without comments

Kesebelasan Semen Padang dikalahkan oleh Mitra Kukar pada pertandingan Piala Sudirman di Gelora Senayan tanggal 24 Januari 2016 yang lalu dengan skor 2-1. Penonton di Senayan mayoritas adalah pendukung Semen Padang. Mereka adalah pendukung yang sengaja datang dari kampung halaman, namun sebagian besar adalah para perantau yang tinggal di Jabodetabek. Mereka memberikan dukungan baik sebelum dan selama pertandingan. Namun ketika kesebelasan kesayangan mereka kalah, tidak ada aksi anarkis atau marah-marah melampiaskan kekesalan, baik kepada pelatih maupun kepada pemain. Mereka keluar dengan wajah muram sambil membicangkan kekalahan. Kecewa, sudah pasti. Namun seperti tipikial orang Minang yang egaliter dan rasional, tampaknya kekalahan itu tidak berlarut-larut. Besoknya para perantau yang umumnya pedagang di pasar-pasar Jabodetabek beraktivitas kembali seperti biasa. Bahkan, kalau pun Semen Padang menang, saya yakin euforia yang muncul tidak akan berlebihan. Menang atau kalah itu hal yang biasa.

Egaliter. Itu satu kata untuk menggambarkan bahwa orang Minang sejatinya tidak mengkultuskan apapun, baik orang maupun kelompok. Tidak ada pemujaan atau perlakuan istimewa terhadap seorang tokoh. Semua orang dianggap kedudukannya sama, sesuai dengan peribahasa yang berlaku di ranah Minangkabau, duduk sama rendah tegak sama tinggi. Anda tidak akan pernah melihat budaya cium tangan dari rakyat kecil kepada pemimpin seperti yang kita lihat di tanah Jawa, atau cium tangan dari para jamaah kepada tokoh agama, sebagaimana yang kita lihat pada budaya santri yang mencium tangan kyai di pesantren di tanah Jawa. Orang Minang mempertahankan egaliteriannya di hadapan orang lain.

Sifat egaliter ini dapat menjelaskan kenapa pada Pilpres 2014 kemarin Capres Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Capres Prabowo memenangkan pertarungan di Sumbar dengan angka yang cukup mencolok, 78% berbanding 22%. Orang Minang tampaknya tidak mempan dengan pencitraan yang dilakukan oleh Jokowi sebelum dan selama kampanye Pemilu dan Pilpres. Mereka tidak bisa ditipu dengan tayangan televisi. Jika di daerah lain Jokowi dielu-elukan dan dipuja-puji, di Ranah Minang adem ayem saja. Orang Minang adalah tipe orang yang tidak mengkultuskan atau mendewa-dewakan orang lain.  Pemilih di sana adalah pemilih yang rasional. Mereka menilai pada visi misi calon, bukan pada pencitraan yang dibuat-buat atau digadang-gadang oleh media. Meskipun Jusuf Kalla adalah sumando orang Minang (istri Jusuf Kalla berasal dari Minangkabau), namun sentimen kedaerahan tidak mampu mengangkat kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres (analisis lainnya baca ini: 4 Faktor Prabowo-Hatta Menang Telak di Tanah Minang).

Sedikit banyaknya sifat egaliter ortang Minang dipengaruhi oleh dua hal: pertama bahasa, kedua agama. Bahasa Minang termasuk ke dalam varian Bahasa Melayu.  Bahasa Melayu sejatinya tidak mengenal perbedaan hirarkhi. Tidak seperti bahasa daerah di Jawa yang memiliki tingkatan bahasa yang halus untuk orang yang lebih tua, dituakan, atau dihormati, dan  bahasa umum (kromo) untuk pergaulan setara, maka bahasa Melayu tidak demikian. Tidak ada perbedaan “kasta” dalam bahasa Melayu (termasuk bahasa Minang). Kepada orang yang lebih tua, lebih muda, tokoh terhormat, orang awam, bahasanya sama saja.

Faktor kedua adalah agama, dalam hal ini agama Islam. Orang Minang umumnya sangat taat menjalankan ajaran agama. Agama Islam mengajarkan kesetaraan, semua orang sama kedudukannya di mata Tuhan, yang membedakan hanya ketaqwaan tiap orang. Di dalam sholat berjamaah tidak ada tempat khusus buat pejabat atau tokoh penting. Siapa yang duluan datang, dia duduk di shaf depan, yang datang belakangan duduk di shaf belakang. Ajaran Islam sudah melekat erat dalam adat istiadat, sehingga timbullah pepatah yang populer di sana yaitu adat basandi syara’, syara’ basandikan kitabullah (adat bersendikan pada syariat Islam, syariat bersendikan pada Kitab Allah, yaitu ASl-Quran).

Jika anda datang ke Sumatera Barat, anda akan melihat sifat egaliter itu di lepau-lepau. Lepau atau lapau adalah kedai atau warung tempat para lelaki duduk maota (berbincang-bincang) sambil minum kopi atau makan gorengan, kadang-kadang juga sambil bermain domino. Di lepau itu apa saja dibincangkan, dari berita politik hingga berita kampung. Semua orang bebas bicara, bercanda (bagarah), atau mengolok-olok (mencemeeh). Tidak perlu ada yang marah atau tersinggung, karena di lepau itulah semua yang tersimpan di kepala ditumpahkan.

Saya belum melihat apa kelemahan sifat egeliter, yang saya lihat lebih banyak sisi positifnya. Bagi saya yang seratus persen berdarah Minang, sedikit banyaknya sifat egaliter ini membentuk saya untuk menempatan kesetaraan dalam kehidupan. Di kampus saya di ITB, mahasiswa dan dosen dapat berbaur tanpa sekat-sekat. Saya bisa duduk sejajar dengan rektor, mahasiswa bebas berdiri dan berbincang-bincang dengan profesornya di lorong gedung. Dosen dan mahasiswa bebas menyatakan pendapat di ruang-ruang kelas  tanpa takut.  Pendidikan tinggi di kampus memang seharusnya memperlihatkan egaliterian di antara civitas academica. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain, tidak ada yang merasa lebih hebat. Semuanya sama kedudukannya. Seseorang hanya dapat dinilai dari integritas akademik dan integritas moralnya. Selain itu, tidak ada perbedaan. Sebagai orang Minang, saya bangga dengan sifat egaliter itu.


Written by rinaldimunir

February 3rd, 2016 at 5:48 pm

Sony Sugema dan Fenomena SSC-nya

without comments

Hari minggu yang lalu ada berita duka yang cukup mengejutkan. Sony Sugema, pendiri bimbingan belajar SSC (Sony Sugema College) dan sekolah SMP/SMA Alfa Centauri dipanggil oleh Allah SWT karena penyakit jantung (Baca: Sony Sugema Wafat Saat Sholat Tahajud). Bagi orang Bandung dan kalangan pelajar SMA, nama Sony Sugema tidak asing lagi. Meskipun tidak mengenal orangnya, namun banyak pelajar mengenal nama Bimbel-nya. Dia adalah raja Bimbel, SSC mempunyai cabang di mana-mana di seluruh Indonesia, berkejar-kejaran dengan bimbingan belajar lain yang juga mendominasi, Ganesha Operation (GO).

Saya tidak mengenal almarhum secara pribadi, bahkan pernah bertemu muka juga tidak, namun saya punya cerita tentang almarhum. Pada tahun 90-an awal saya menjadi pengajar di  bimbingan belajar Karisma Salman ITB.  Waktu itu bimbel belum punya banyak saingan di Bandung. Murid-murid kami  cukup banyak waktu itu. Namun pada tahun 1991  saya mendengar cerita dari murid-murid bimbel kami tentang kehebatan bimbel baru bernama SSC. Memang tidak ada murid bimbel kami yang berpindah, namun teman-teman mereka yang tidak ikut bimbel akhirnya mendaftar ke bimbel SSC.

Kehebatan bimbel SSC terletak pada dua pengajar mereka yang fenomenal. Pertama Sony Sugema itu sendiri, kedua Dimitri Mahayana. Sony saya tidak kenal, tetapi Dimitri adalah teman saya seangkatan di ITB. Dimitri saya kenal sebagai mahasiswa Teknik Elektro yang jenius (belakangan saya juga mendengar Sony juga mahasiswa Teknik Sipil yang jenius). Kedanya memiliki persamaan, Sony dan Dimitri menikah muda. Sony menikah kala tingkat satu, sedangkan Dimitri menikah pada tingkat dua. Istri mereka sama-sama berusia tiga tahun lebih tua dari usia mereka sendiri. Bedanya, Sony memilih mengundurkan diri dari mahasiswa ITB pada tahun pertama itu, sedangkan Dimitri tetap lanjut kuliah dan menjadi dosen ITB hingga sekarang (Baca: Obituari Sony Sugema, Raja Bimbel SSC.)

Dua orang ini membuat siswa-siswa SMA ternganga-nganga, karena keduanya menyelesaikan soal-soal Matematika, Fisika, Kimia, yang sulit-sulit itu dengan cara cepat yang dikenal dengan dengan nama the fastest solution. Mereka berdua menulis buku-buku penyelesaian soal-soal Sipenmaru (sekarang SBMPTN) dengan teknik cepat itu. Buku-buku tersebut laris bak kacang goreng. Banyak siswa SMA membelinya sebagai persiapan tes Sipenamru. Dimitri sendiri, selain sebagai pengajar idola di SSC, dia sering memberikan ceramah-ceramah futuristik yang memukau. Kloplah dua orang itu membesarkan SSC sehingga menjadi terkenal.

Saya sendiri kurang setuju mengajarkan teknik cepat menyelesaikan soal kepada murid-murid SMA. Kurang mendidik dan tidak memberikan pemahaman konsep, begitu alasan saya kepada murid-murid bimbel kami. Namun bagi kebanyakan murid SMA tentu berbeda paham dengan saya, yang penting bagi mereka adalah  dapat menjawab soal ujian dengan benar dan singkat, karena dengan waktu ujian yang hanya dua jam, puluhan soal Sipenmaru harus dilibas dengan cepat. Sebagian besar siswa SSC itu menargetkan masuk ITB, dan memang terbukti banyak dari siswa mereka lulus masuk ITB kala itu.

Nama SSC berkibar di kalangan siswa SMA di Indonesia. Waktu itu SSC hanya ada di Bandung. Bagi siswa yang menargetkan masuk ITB, mereka rela memesan tempat jauh-jauh hari untuk mendapatkan kursi bimbingan intensif di SSC (yang tentu saja dengan biaya mahal). Usai Ebtanas (sekarang UN), siswa-siswa dari seluruh Indonesia itu menyerbu Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar intensif di SSC selama dua bulan hingga tes Sipenmaru. Nama SSC seolah-olah menjadi jaminan mutu, sehingga bimbel lain tampaknya kurang terlalu dilirik. Ingat Sony Sugema, ingat SSC, begitu sebaliknya.

SSC berkembang pesat, tetapi di tengah jalan Dimitri keluar dari SSC. Saya mendengar alasan Dimitri keluar adalah karena SSC dikelola oleh keluarga Sony sehingga Dimitri merasa tidak nyaman di dalamnya. Namun, sepeninggal Dimitri, SSC tetap masih eksis, karena mereka merekrut pengajar dari mana-mana (ITB, Unpad, UPI). Sony tetap mengajar di sana.

Berkembangnya bisnis SSC membuat Sony Sugema mencoba membuat eksperimen lain. Dia mencoba mendirikan perguruan tinggi informatika yang bernama (kalau tidak salah) Sekolah Tinggi Informatika Sony Sugema (tetap memakai namanya sebagai brand). Namun dari pengamatan saya, sekolah tinggi ini tidak terlalu berhasil dan kurang peminat.

Selanjutnya dia mencoba misi yang lain. Sony mendirikan sekolah untuk kalangan dhuafa, bernama SMA Alfa Centauri. Sekolah di sini menerapkan sistem subsidi silang. Siswa yang mampu mensubsidi siswa dari kalangan miskin. Siswa dari kalangan miskin gratis sekolah di sana. Sony Sugema memang dikenal sebagai seorang dermawan, dia punya keinginan untuk mengangkat derajat siswa dhuafa dengan sekolah gratis di tempatnya. Saya tiap hari lewat sekolah itu di jalan Supratman. SMA Alfa Centauri sudah mulai dikenal elit, para siswanya bermobil, uang masuknya mahal, namun saya tetap berkeyakinan siswa-siswa miskin diakomodasi dengan sistem subsidi silang itu.

Tahun 2002, Sony bersama Pramnono Anung dan I Gde Wenten menerima ITB82 award, yang diserahkan langsung oleh Rektor ITB saat itu (Kusmayanto Kadiman) dan Rektor ITB tahun 80-an Pak Hariadi Soepangkat. Sony sengaja membawa ibunya saat itu, dan dalam pidatonya Sony berkata : “Bu, kalau dulu ibu kecewa karena saya tak jadi diwisuda di ITB, saat ini ada dua Rektor yang mewisuda saya”. Kontan saja hadirin bertepuk tangan standing applause untuk Sony.

Selamat jalan Sony. Meskipun saya tidak mengenal secara pribadi, namun kebajikan dan amal soleh yang sudah anda perbuat semoga mendapat balasan pahala dari Allah SWT dan selalu menginspirasi orang lain untuk berbuat amal soleh. Amin.


Written by rinaldimunir

February 1st, 2016 at 12:35 pm