if99.net

IF99 ITB

Archive for January, 2016

(Tersangka) koruptor masih bisa ketawa-ketiwi

without comments

Lihatlah foto di bawah ini (saya peroleh dari jejaring sosial). Tersangka korupsi masih bisa ketawa-ketiwi, senyum-senyum, dan memberi salam dua jari. Setelah disarungi dengan jaket oranye khas KPK, mereka sama sekali tidak terlihat khawatir, seolah-olah hukuman penjara yang akan menanti mereka bukanlah tempat yang menakutkan. Hai…, tidakkah takut dengan pengadilan yang lebih besar di akhirat nanti, yaitu pengadilan di hadapan Allah?

koruptor

Pemandangan tersangka korupsi atau sudah menjadi terpidana korupsi yang kita lihat di televisi umumnya begitu. Di hadapan para wartawan mereka melambaikan tangan, tersenyum lebar, dan terlihat seperti bercanda. Apakah wajah tersenyum itu hanya sekedar menyembunyikan rasa takut di dalam dirinya? Entahlah, tetapi sudah tidak seharusnya mereka bersikap demikian. Di tengah kemiskinan dan kehidupan susah yang dihadapi kebayakan rakyat, sikap tetawa terhadap kejahatan yang mereka lakukan sungguh sebuah ironi.

Beda benar dengan maling ayam kampung, jangankan ketawa-ketiwi, bisa lolos dari maut saja sudah sukur. Kalau tidak berhasil lolos atau diamankan polisi, mungkin si maling ayam sudah habis dihakimi massa. Padahal ayam yang dicurinya berapalah harganya, cuma lima puluh ribu saja, bandingkan dengan dengan koruptor yang mencuri milyaran.

Satu lagi bedanya. Tersangka koruptor dijemput dengan mobil mewah, sedangkan maling ayam diseret dengan motor. Benar-benar timpang perlakuan hukum kepada dua jenis pencuri ini. Rasa keadilan pun terusik melihat pemandangan yang tidak lucu itu.


Written by rinaldimunir

January 26th, 2016 at 10:52 am

Posted in Indonesiaku

Ketika tangan kita ditarik ke surga

without comments

Muhaimin Zubair

Makjleb sekali pesan K.H Maimun Zubair seperti pada gambar di atas.

Amin…ya Allah, semoga amal jariyah kita sebagai pendidik nanti dibalas dengan syurga oleh Alah SWT.

Sumber gambar: kiriman seorang teman.


Written by rinaldimunir

January 22nd, 2016 at 10:29 am

Posted in Agama,Pendidikan

Tiga anak kecil peminta-minta

without comments

Kemarin pagi ketika saya akan bersiap berangkat ke kampus, dua orang anak perempuan kecil – satu berusia sekitar 8 tahun dan satu lagi berusia sekitar 5 tahun- berdiri di depan pagar rumah sambil menengadahkan tangan. “Pak, minta sedekahnya”, katanya dengan suara memelas. Minggu lalu mereka juga datang ke rumah saya namun bertiga, satu lagi bocah laki-laki. Masing-masingnya mendatangi rumah tetangga meminta sedekah.

Biasanya saya menjawab: “Maaf, Dik!”, lalu mereka pun pergi. Saya memang kurang suka dan kurang setuju memberi pengemis yang  masih anak-anak itu uang. Kecil-kecil kok sudah diajar mengemis oleh orangtuanya. Tidak baik, nanti malah menjadi kebiasaan dan pemalas, begitu pikiran saya.

Namun kedatangan anak-anak itu kemarin pagi membuat saya beristighfar, tidak seharusnya saya memukul rata sikap menolak memberi sedekah kepada pengemis yang masih anak-anak.

Setelah saya mengucapkan “maaf, Dik” seperti biasanya, kedua anak itu pergi menjauh. Disitulah rasa iba saya muncul. Sungguh terlalu saya ini. Rasa ingin tahu saya pun muncul, mengapa mereka sering datang meminta-minta. Saya panggil kembali anak perempuan yang paling besar dan memberi kode akan memberinya uang. Dia pun mendekat, lalu saya bertanya kepadanya.

“Tinggal di mana, Dik?”, tanya saya.

“Di Kiaracondong”, jawabnya. Kiaraconcong adalah wilayah pemukiman padat dekat stasiun kereta api, tidak jauh dari rumah saya. Penduduk yang tinggal di dekat stasiun kereta api itu umumnya bekerja pada sektor informal, seperti buruh pabrik, tukang beca, buruh bangunan, kuli angkut, pedagang kecil, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

“Kenapa kok kecil-kecil sudah mengemis?”, tanya saya ingin tahu.

“Bapak saya stroke di rumah, tidak bisa mencari uang. Dulu kerjanya tukang rongsok”, jawabnya lirih.Tukang rongsok adalah sebutan orang Bandung untuk orang-orang  yang kerjanya berkeliling membeli barang rongsokan ke rumah-rumah atau memulung barang rongsokan dari tempat sampah, lalu dijual lagi ke pengepul. Barang rongsokan yang dicari umumnya koran bekas, buku bekas, karung semen, besi-besi bekas bangunan,  atau barang-barang lain yang tidak terpakai lagi.

“Kalau ibu tidak kerja?”, tanya saya lagi. Saya pikir mungkin ibunya bekerja si sektor informal juga, seperti buruh pabrik, buruh cuci, atau pembantu rumah tangga.

Nggak. Ibu di rumah saja, merawat bapak. Di rumah juga ada adek bayi“, jawabnya lagi.

Astaghfirullah, ampuni saya ya Allah. Ternyata keluarganya sedang ditimpa musibah. Ayahnya sakit stroke sehingga tidak berdaya untuk mencari nafkah, sedangkan ibunya hanya bisa di rumah untuk merawat bayi sekaligus merawat suaminya yang sakit.

“Adik disuruh orangtua untuk mengemis?”, tanya saya agak menyelidik.

“Nggak pak. Saya juga kerja mencari barang rongsok, tapi dapatnya sedikit. Karena nggak cukup, saya meminta sedekah”, jawabnya polos.

Tenggorokan saya tercekat mendengar ceritanya. Saya yakin dia tidak berbohong. Sungguh malang nasib anak kecil yang terpaksa meminta-minta untuk menghidupi keluarganya yang tidak berdaya di rumah. Ayahnya stroke, ibunya merawat ayah yang stroke. Amanat mencari nafkah keluaga ada pada pundaknya. Dia seorang anak perempuan yang masih kecil, tapi harus berjuang di tengah penderitaan hidup. Anak-anak seusianya pada jam-jam pagi itu sedang belajar di kelas, atau sedang berlarian di halaman sekolah, bercanda ria dengan teman-teman sebaya, sedangkan dia harus berhenti sekolah untuk membantu keluarganya. Oh, malangnya kamu dik, lirih saya dalam hati. Terharu.

Saya lari ke dalam rumah, mengambil beberapa lembar uang, mencari makanan yang bisa diberikan.

“Ini untuk jajan kamu dan adik-adikmu. Ini kasih ke ibumu”, kata saya sambil memberinya uang.

Setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berlalu dengan adiknya. Saya memandang mereka sampai hilang di belokan. Anak-anak yang malang. Jika mereka datang lagi, saya ingin mencoba membantu lagi, sekedar meringankan beban keluarganya.


Written by rinaldimunir

January 21st, 2016 at 3:16 pm

Tulang Ikan untuk Kucing

without comments

Di rumah kami tidak memelihara kucing. Meskipun begitu, saya dan anak adalah penyayang kucing. Hampir setiap pagi kucing tetangga datang ke depan rumah mengeong-ngeong minta makan.  Biasanya jika ada sisa tulang ikan atau tulang ayam semalam, saya selalu memberikannya kepada kucing lapar tersebut. Karena setiap hari selalu diberi makan, kucing tersebut menjadi terbiasa datang ke rumah kami setiap pagi. Pagi-pagi dia sudah menunggu rezeki di depan pintu. Padahal pemiliknya ada, namun entah kenapa meminta makan ke rumah kami.

Setiap kali saya mau memberi sisa-sisa makanan kepada kucing, anak saya yang bungsu datang merebut. Dia ingin dirinya  yang memberi makan kepada kucing itu. Tulang ayam, tulang ikan, dan sisa makanan lain ditaruhnya di pinggir jalan di depan taman yang terletak di seberang rumah kami, Dengan lahap si kucing lapar menyantap makanan tersebut. Sebelum menyantapnya, si kucing mengeong-ngeong terlebih dahulu, mungkin dia ingin mengucapkan terima kasih :-).

Jika tidak ada sisa tulang ikan atau tulang ayam hari itu, tentu tidak ada yang dapat diberikan kepada si kucing. Ah, sebenarnya kucing bisa mencari makanannya sendiri, jadi tidak perlu khawatir dia akan kelaparan, kata saya kepada anak. Namun anak saya berpikirnya lain. Rasa iba membuatnya diam-diam membuka tudung saji di meja makan untuk mencari makanan yang bisa diberikan kepada kucing. Diambilnya beberapa rendang suwir yang saya beli ketika mudik ke Padang, lalu diberikannya kepada kucing tadi.

Mengetahui hal tersebut saya sedikit marah kepada anak saya. Rendang suwir itu untuk lauk bekal makan siang abangnya di sekolah, kenapa diberikan kepada si kucing? Sayang kan, kata saya menasehati. Anak saya menjawab, kasihan si kucing, meong-meong terus.

Tiba-tiba saja saya tersadar. Bukankah dulu waktu kecil saya juga diam-diam memberikan lauk di dapur kepada kucing tanpa sepengetahuan ibu? Alasan saya waktu itu karena kasihan melihat kucing yang terus minta makan. Jadi apa yang dilakukan anak saya sekarang sama seperti yang saya lakukan dulu. Saya tidak perlu marah, karena saya dan dia sama-sama memiliki rasa iba dan rasa sayang kepada binatang.

Apa yang dilakukan anak kita adalah representasi dari apa yang kita lakukan ketika kecil. Anak memiliki naluri dan rasa ingin tahu yang sama seperti kita. Anak juga punya rasa sayang dan kasihan seperti kita. Jadi, sebelum kita memarahi perbuatan anak, pernahkah kita memikirkan bahwa dulu kita juga berbuat yang sama?

Sejak itu, saya tidak memarahi anak lagi lagi bila mengambil lauk untuk kucing. Sedikit lauk yang diberikannya tidak ada artinya dibandingkan dengan kasih sayang yang dia tunjukkan kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Kecil-kecil saja sudah punya rasa sayang, bagaimana jika besar nanti?


Written by rinaldimunir

January 18th, 2016 at 1:35 pm

Posted in Gado-gado,Pendidikan

Orang Indonesia Tidak Takut

without comments

Serangkaian bom mengguncang kawasan Sarinah, Jakarta, hari Kamis siang. Aksi teror yang sangat mengagetkan itu memiliki pola yang sama seperti bom Paris tahun lalu. Teroris menyebar dan menyasar orang banyak. Tujuh orang tewas dalam aksi terorisme itu (lima teroris dan dua warga), belasan lainnya luka-luka berat dan ringan.

Yang namanya bom pasti menakutkan. Mendengar kata bom saja orang-orang sudah takut duluan. Sangat sensitif. Bahkan, calon penumpang pesawat di bandara akhir-akhir ini sering bercanda mengucapkan kata bom ketika barang bawaannya diperiksa oleh  petugas. Akibatnya berabe, penumpang itu ditangkap meskipun tidak terbukti ada bom di dalam bagasinya.

Bercanda dengan kata bom saja sudah membuat paranoid, apalagi bila benar-benar terjadi. Namun bom yang terjadi di Jakarta kemarin adalah anomali. Warga Jakarta tampak seperti orang yang berani, mereka sama sekali tidak takut. Ketika bom dan tembak menembak antara teroris dan polisi terjadi, warga malah berkerumun menonton. Bukannya lari menjauh, mereka menonton kejadian yang mengerikan itu seperti sedang ada syuting film.

selfi-sarinah 2

Aksi polisi mengejar teroris. Warga berkerumun di latar belakang

Yang lebih mencekam lagi ketika seorang teroris berjalan dengan tenang di tengah badan jalan sambil menyandang senjata AK, tampak warga masih berkeliaran di pinggir jalan menyaksikan si teroris siap-siap melakukan tembakan.

sarinah4

Seorang teroris dengan tenang berjalan membawa senjata AK, warga malah bukan lari menjauh tetapi memandangnya dengan heran.

Foto yang berhasil diabadikan oleh wartawan Tempo di bawah ini memperlihatkan perilaku warga yang berkerumun di lokasi TKP. Bukannya lari menyelamatkan diri, warga malah mendekat. Di luar negeri jika terjadi aksi terorisme, maka polisi mensterilkan TKP sekian ratus meter dari warga yang mendekat.

tempo1

Warga berkerumun di TKP bom bunuh diri. Orang yang diberi lingkaran merah adalah terduga teroris. Sumber: Tempo

 

Padahal bahaya sedang mengintai di belakang warga yang berkerumun. Seorang teroris yang berbaur dnegan warga tiba-tiba menembak dua orang polisi.

tempo3

Teroris menembak polisi, warga yang semula berkerumun tidak menyangka ada teroris di belakangnya. Sumber: Tempo

Dua gambar dari Tempo di atats diambil dari berita ini: Detik-detik Polisi Ditembak Dua Terduga Teroris Bom Sarinah.

Bukti bahwa orang Indonesia tidak takut dengan aksi bom kemarin dapat dilihat pada foto yang diunggah seorang netizen melalui Path. Seorang tukang sate yang berada 100 meter dari TKP tetap tenang mengipas-ngipas satenya dan  melayani pembeli, Pembeli sate pun tidak membatalkan pesanan satenya dan tetap makan dengan tenang, seakan-akan tidak tidak terpengaruh dengan peristiwa bom dan tembak menembak yang sedang berlangsung. Baca: Cerita Tukang Sate yang Tetap Mengipas Dagangan Saat Ledakan di Sarinah.

sate jamal

Tukang sate ini tetap tenang melayani pembeli, sementara warga lain berkerumun menonton kejadian

Setelah semua teroris mati ditembak (sebagian mati karena bom bunuh diri), warga Jakarta tetap berkerumun di lokasi kejadian. Mereka malah menjadikan lokasi ledakan sebagai ajang untuk swafoto (selfie). Sebuah wisata teror barus saja tercipta.

selfi-sarianh

Warga malah berswafoto di lokasi kejadian aksi terorisme.

Orang Indonesia tidak takut, orang Indonesia berani. Teroris mungkin kecele, mereka mengira dengan bom itu mereka dapat mengirimkan pesan ketakutan kepada masyarakat. Yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan di dunia maya kesadaran netizen pun  tumbuh dengan tidak menyebarkan foto-foto  kengerian bom bunuh diri. Menyebarkan foto-foto tersebut akan menjad viral ddi dunia maya, dan hal itu menandakan kesuksesan aksi para teroris. Di jejaring sosial beredar  pesan singkat yang salah satunya sebagai berikut:
“Mohon yg ada foto korban jgn d fwd atau re fwd…buat pelaku itu akan jd materi viral yg bs dijadiikan patokan kesuksesan sebuah aksi…mohon dipahami.”

Orang Indonesia hebat. Bravo orang Indonesia!

 

 


Written by rinaldimunir

January 15th, 2016 at 2:32 pm

Posted in Indonesiaku

Anak-anak Muda, Korban Organisasi Menyimpang

without comments

Hari-hari ini media di tanah air ramai sekali memberitakan tentang kasus orang hilang yang diduga tergabung dalam sebuah organisasi berpaham menyimpang, bernama Gafatar. Terakhir kasus menghilangnya dr. Rica dan anaknya yang pergi tanpa pamit kepada suaminya. Dr. Rica akhirnya ditemukan di bandara Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah). Selain dr. Rica, juga telah dilaporkan hilang orang-orang lainnya yang tergabung dengan Gafatar.  Apa itu Gafatar, silakan baca artikel ini:  10 Hal Tentang Gafatar Yang Penting Anda Ketahui .

Kasus hebohnya Gafatar mengingatkan kita pada kasus NII beberapa tahun lalu dulu. Saya sudah pernah menulis tentang mahasiswa saya di ITB yang menjadi korban NII ini (baca: Mahasiswa ITB Korban NII). Baik Gafatar maupun NII modus merekrut anggotanya memiliki kemiripan. Sasarannya adalah anak-anak muda yang masih lemah akidah namun memiliki keinginan yang kuat untuk belajar agama, atau anak muda yang sedang galau dan sedang mencari jawaban terhadap kegelisahan hidup. Ketika ada yang menawari untuk ikut pengajian, mereka tertarik, apalagi di pengajian itu mereka mendapat ‘ketenangan’ batin, dan mendapat pencerahan terhadap kegelisahan yang selama ini mereka  rasakan. Di dalam kelompok itu mereka merasa nyaman, merasa dilindungi, dan akhirnya kerasan.

Sekali ikut pengajian itu, lalu ikut lagi, ikut lagi, dan secara tidak sadar anak-anak muda itu mengalami indoktrinasi. Masuklah paham-paham yang menyimpang ke dalam kepala mereka. Dimulai dengan menanamkan pemahaman bahwa  kondisi saat ini tidak ideal, tidak sesuai dengan kaidah yang seharusnya. Lalu jamaah (anggotanya) diminta untuk  berjuang di jalan Allah (baca: Lengkap, Pesan Terakhir PNS Diduga Ikut Gafatar untuk Keluarganya). Sampai di sini tidak ada yang aneh. Keanehan mulai terjadi ketika  jamaahnya diajarkan tidak perlu sholat lima waktu, tidak perlu puasa, dan sebagainya. Orangtua juga boleh dilawan jika menghalangi perjuangan di jalan Allah. Para angota juga dibaiát atau diambil sumpah untuk setia kepada pemimpin dan organisasinya (baca: Ini Dia Sepenggal Janji Pengurus dan Naskah Persaksian Anggota Gafatar).

Untuk membiayai organisasinya, jamaah harus melakukan setoran uang rutin secara periodik (baca: Inilah Pengakuan Seorang Pengusaha Mantan Donatur Gafatar). Ajaran aneh lainnya adalah ajakan berhijrah karena tempat yang didiami sekarang sudah dikutuk dan dilaknat dan tidak lama lagi akan hancur, oleh karena itu para jamaahnya harus melakukan eksodus. Mungkin dr. Rica dan orang-orang lain yang dilaporkan hilang itu ikut eksodus ke suatu tempat yang dianggap aman (baca: Buku Harian Ungkap Menghilangnya Istri dan Anak Warga Garut).

Selain perekrutan anggota/jamaah organisasi melalui cara-cara klasikal (pengajian), juga ada kemungkinan modus lain dengan jalan hipnotis. Saya mendapat pesan dari jejaring sosial yang bersumber dari pengakuan orangtua yang anaknya kost di Yogyakarta. Begini isi pesan yang saya dapatkan (setelah saya edit tata bahasanya namun tidak mengurangi maknanya):

Hati-hati bagi siapapun yang mempunyai anak yangsedang kuliah dan kost di Jogja, bisa-bisa anak anda menjadi target perekrutan anggota aliran Gafatar. Anak perempuan saya hampir menjadi korban organisasi sesat ini

Kata anak saya , modusnya diajak sesama teman untuk pengajian, tetapi ajakan ini seperti ada unsur setengah paksaan.

Berkali-kali anak saya menjawab tidak mau, karena sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Tetapi, berkali kali pula ‘ajakan’ itu terus dilakukan tanpa henti.

Karena merasa ‘risih’ , sekali tempo anak saya menuruti ajakan pengajian itu .

Apa yang terjadi ?  Banyak sekali keanehan-keanehan yang terjadi dalam ‘pengajian’ itu .

Anak saya bilang, peristiwa dalam ‘pengajian’ itu lebih tepat kalau dikatakan sebagai indoktrinasi dan pemahaman dasar-dasar aliran itu.  Yang membuat anak saya masih dapat berfikir normal adalah menolak saat disuruh minum ‘cairan’ dalam jamuan ‘pengajian’ itu ,

Mungkin ‘minuman’ itu yg membuat sebagian calon anggota yang direkrut ‘gagal pulang’  dan berhasil ‘dicuci otaknya’, sehingga dengan ‘sukarela’ menjadi anggota sekte Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara).  Dan selanjutnya dengan kesadaran sendiri rela berpisah dari keluarganya dirumah .

Inilah yg kemudian dikatakan sbg ‘orang hilang’ .  Padahal , hilangnya itu karena kesadaran sendiri, yg memang sudah tidak mau berhubungan dengan keluarganya.

Sungguh mengerikan .. ‘

Masih beruntung anak saya menolak minuman itu , dengan alasan sedang berpuasa,
dan dengan keberanian yang dipaksakan, anak saya pura-pura ijin kencing ke belakang, lalu melarikan diri dan kabur .. ‘

Alhamdulillah anak saya selamat .. ‘

Semoga pengalaman ini akan membuat pemirsa lebih waspada dengan putra putrinya yg sedang menuntut ilmu di Jogja .

Wassalam

Terlepas dari benar tidaknya isi pesan yang saya terima, namun saya yakin sebagai organisasi yang memerlukan jamaah, organisasi tersebut melakukan berbagai cara untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya. Entah apa yang dicari pengurusnya dengan membuat organisasi yang menjerumuskan anak-anak muda itu. Uang?  Kekuasaan? Wallahualam.


Written by rinaldimunir

January 13th, 2016 at 2:47 pm

Posted in Indonesiaku

Pengalaman Menginap di Hotel “BW Suite Belitung”

without comments

Tulisan saya ini masih satu rangkaian dengan cerita jalan-jalan ke Pulau Belitung. Jika anda jalan-jalan ke Belitung, tidak usah khawatir dengan fasilitas akomodasi. Di Pulau Belitung sekarang tumbuh menjamur hotel-hotel. Sejak Belitung populer menjadi tujuan wisata setelah meledaknya film Laskar Pelangi, hotel-hotel baru terus bermunculan, sebagian besar berada di Belitung bagian barat (Kabupaten Belitung).

Beragam hotel dengan tarif kamar per malam dari seratus ribu rupiah hingga jutaan rupiah tersedia di sana, dari hotel bintang satu hingga bintang lima. Liburan tahun baru kemarin saya menginap di hotel BW Suite Belitung. Hotel ini satu-satunya hotel bintang lima di Belitung, terketak di dalam kota Tanjungpandan. Lokasinya di pinggir pantai di Jalan Pattimura. Hotel BW Suite Belitung merupakan bangunan paling tinggi di seluruh pulau Belitung. Hotel ini terdiri dari 11 lantai. Dulunya bernama Hotel Aston Belitung dan tergabung dalam jaringan hotel Aston, namun sejak dua tahun lalu diambil alih oleh pemiliknya (pengusaha asal Belitung) dan diberi nama sesuai singkatan namanya, BW (Budiyono Widodo).

DSC_1325

Hotel BW Suite Belitung dengan pantai yang sedang surut airnya.

Memasuki lobby hotel ini kesan mewah sudah terasa. Lobby hotelnya sangat bagus dengan interior yang menyiratkan kemegahan. Pegawai resepsionisnya cukup ramah melayani tamu.  Oh ya, saya menemukan hotel ini lewat internet dan memesan kamar hotel via  Agoda, kebetulan usai tahun baru sehingga masih ada kamar untuk reservasi.

DSC_1395

Lobby hotel

Tarif kamar di hotel ini bervariasi, mulai dari 600 ribu rupiah (standard) hingga lebih dari satu juta rupiah (president suite room), belum termasuk pajak pelayanan. Saya memesan kamar via Agoda sehingga mendapat diskon (bukan harga publish rate). Lantai di kamarnya bukan keramik, tetapi dari bahan kayu jati.  Fasilitas yang didapat sebandinglah dengan harga tersebut.

Oh ya, yang menarik dari hotel ini adalah kolam renangnya dengan pemandangan lepas ke lautan, seolah-olah kita berada di atas tempat di pinggir laut. Cuaca hari itu agak mendung, jadi foto saya di bawah ini tdiak terlihat terlalu terang.

DSC_1391

Kolam renang hotel dengan pemandangan lepas ke laut

DSC_1384

Kolam renang dari sudut pandang yang lain

Saya mengambil kamar dengan pemandangan (view) lautan. Jika pada sore hari kita dapat memandang sunset dari atas kamar hotel. Oh ya, lautan yang kita lihat itu adalah selat yang memisahkan Pulau Belitung dengan Pulau Bangka, namanya Selat Gaspar.

DSC_1401

Pemandangan lautan dari atas kamar hotel lantai 9. Tampak kolam renang di bagian bawah.

Pada sore dan malam hari laut di depan itu surut, kita dapat berjalan-jalan di pantai yang airnya surut itu. Menurut saya pantainya kurang  begitu bagus, tidak cocok untuk beranang. Warna air lautnya terlihat seperti kotor, namun sebenarnya bukan karena sampah, tetapi di sekitar pantai itu banyak tanaman bakau, di samping itu tidak jauh dari sana ada muara sungai. Mungkin akar-akar tanaman bakau dan aliran sungai yang bermmuara di laut itulah yang membuat air laut berwarna agak kecoklatan.


Written by rinaldimunir

January 11th, 2016 at 1:40 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke SD Muhammadiyah Gantong (Sekolah Laskar Pelangi) di Belitung Timur

without comments

Liburan tahun baru yang lalu saya kembali mengunjungi Pulau Belitung. Obyek wisata Pantai Tanjungtinggi (tempat shooting film Laskar Pelangi) dan Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya tentu sudah biasa, namun satu lagi lokasi wisata yang sejak dulu ingin saya kunjungi adalah SD Muhammadiyah Gantong yang menjadi tempat belajar Ikal dan kawan-kawan.

SD Muhammadiyah Gantong

Para pemain film Laskar Pelangi di depan SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur

Tidak semua orang yang berwisata ke Belitung sempat mampir ke SD ini, sebnab lokasinya sangat jauh dari kota Tanjungpandan. Jika anda naik pesawat  dari Jakarta, maka anda mendarat di bandara kota Tanjungpandan. Kota Tanjungpandan adalah ibukota Kabupaten Belitung. FYI, Pulau Belitung dibagi menjadi dua kabupaten, yang pertama Kabupaten Belitung dengan ibukota Tanjungpandan, dan yang kedua Kabupaten Belitung Timur dengan ibukota Manggar. Kabupaten Belitung Timur adalah kampung halamannya Ahok yang menjadi Gubernur DKI sekarang.

belitung

Peta Pulau Belitung (Sumber: dika26putra.wordpress.com)

Nah, SD Muhammadiyah Gantong terletak di Kabupaten Belitung Timur. Dari Tanjungpandan ke daerah Gantong berjarak sekitar 100 km, lumayan jauh, namun waktu tempuh ke sana hanya sekitar satu jam saja dengan mobil. Kenapa waktu tempuhnya cepat, karena jalan-jalan di Pulau Belitung sangat sepi, selama melintasi jalan raya hanya satu dua kita berpapasan dengan mobil atau motor. Hal ini ditunjang pula dengan jalan raya yang beraspal mulus. Seperti apa sepinya jalan raya di Pulau Belitung, silakan lihat foto di bawah ini.

DSC_1349

Jalan raya yang sangat sepi di Pulau Belitung. Jalannya beraspal mulus.

Di kiri kanan jalan yang ada hanyalah hutan semak belukar. Sesekali kita berpapasan dengan kebun-kebun sawit yang katanya dimiliki investor dari Malaysia. Selama perjalanan dari Tanjungpandan ke Gantong saya hanya mendapati satu dua rumah di pinggir jalan. Benar-benar sepi. Mobil dapat berlari kencang di sini seperti di jalan tol. Jalan-jalan yang sepi itu tidak punya lampu penerangan pada malam hari, jadi terbayang kondisi gelap gulita pada malam hari  dimana anda melaju sendiri pada malam yang sepi.

Asal tahu saja, pulau Belitung yang luas itu didiami penduduk yang jumlahnya tidak sampai 300.000 jiwa. Meskipun kondisinya sepi, namun pulau Belitung dikenal aman. Tingkat kriminalitas sangat rendah. Anda dapat meninggalkan motor atau mobil dalam keadaan tidak terkunci, tidak akan ada yang mengambil. Lha, mau lari kemana membawa motor atau mobil curian, karena sekeliling pulau adalah laut.

Mobil rental yang membawa saya ke Gantong disopiri oleh orang asli Belitung. Selama dalam perjalanan dia bercerita berbagai hal, termasuk kekalahan adik kandung Ahok pada Pilkada bulan 9 Desember 2015 yang lalu.  Seperti yang kita ketahuai, petahana Bupati Belitung Timur yang merupakan adik Ahok dikalahkan oleh kakak kandung Yusril Ihza Mahendra. Kata sopir rental, warga Belitung Timur tidak simpatik kepada adik Ahok tersebut karena dia sering mengatai-ngatai PNS di sana. Kelakuannya sama saja dengan Ahok, yaitu suka berkata kasar dan mengatai-ngatai orang. Mungkin karena itulah warga Belitung Timur tidak memilihnya lagi pada Pilkada. Akankah Ahok akan bernasib sama dengan adiknya pada Pilkada DKI tahun 2017 nanti, wallaualam. Apakah warga DKI sama seperti warga Belitung Timur yang mempertimbangkan sopan-santun dan akhlak calon pemimpin sebagai kriteria memilih, tidak tahulah awak. Kita tidak pernah tahu suara silent majority, yang kita tahu selama ini hanyalah penggalangan yang didukung media massa arus utama dan oleh orang-orang yang menamakan dirinya #kawanahok.

Huss.. saya ngelantur terlalu jauh membicarakan Pilkada DKI, padahal saya sedang berada di Belitung nih. Setelah perjalanan selama satu jam lebih, sampailah saya ke lokasi SD Muhammadiya Gantong yang menjadi lokasi shooting film Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Novel dan film Laskar Pelangi telah melambungkan nama Pulau Belitung sebagai daerah tujuan wisata alternatif. Saat ini semakin banyak penerbangan ke Belitung setiap hari yang dilayani oleh maskapai Sriwijaya Air, Nam Air, Citilink, Garuda Indonesia, dan Lion Air. Hampir semua kursi pesawat terisi penuh pada setiap penerbangan. Lama penerbangan dari Jakarta hanya satu jam saja dengan harga tiket berkisar 400-500 ribu rupiah.

Sampailah saya ke SD Muhammadiyah Gantong tempat sekolah Ikal dan kawan-kawan. Ini bukan SD Muhammadiyah yang sesungguhnya, tetapi hanyalah replika saja yang dijadikan lokasi shooting. SD Muhammadiyah Gantong yang sesungguhnya cukup jauh dari situ, lokasinya di pinggir pantai Belitung Timur. Sutradara Riri Riza membuat replika SD ini lengkap dengan pasir pantainya yang putih. Sekarang replika SD Muhammadiyah Gantong menjadi salah satu obyek wisata andalan di Belitung Timur, selain Museum Kata yang digagas oleh Andrea Hirata, pengarang novel Laskar Pelangi.

DSC_1368

Replika SD Muhammadiyah Gantong

DSC_1367

Gerbang halaman sekolah

DSC_1377

Dilihat dari samping

DSC_1380

Dari samping lagi, tapi agak kejauhan. Untuk masuk ke lokasi, adapetugas yang menjual karcis masuk Rp3000/orang. Resmi apa tidak tuh?

DSC_1374

Saya di depan papan nama sekolah

DSC_1372

Di halaman upacara bendara

Jika dibandingkan dengan foto sekolah  di dalam film Laskar pelangi (lihat foto pertama pada awal tulisan), bentuk banguna sekolah ini sedikit mengalami perubahan. Lantai sekolahnya dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, sedangkan di filmnya sama rata dengan tanah.

Saya masuk ke dalam ruang kelas. Hanya ada dua ruang kelas. Kondisi ruang kelas sangat memprihatinkan. Lantainya tanah, dindingnya papan yang sudah kusam, mengingatkan kita pada kondisi sekolah di daerah pedalaman yang kurang mendapat perhatian Pemirintah. Dinding kelas dihiasi foto para pahlawan Indonesia. Di sinilah Bu Muslimah (di dalam film itu) mengajar. Di sini pulalah kepala sekolah (diperankan oleh Ikranegara) bercerita kepada murid-muridnya yang menyimak dengan tekun.

DSC_1361

Suasana kelas yang sangat memprihatinkan. Di sinilah mimpi masa depan dibangun oleh murid-murid Laskar Pelangi.

DSC_1355

Saya merenung di dalam kelas ini.

muslimah

Bu Muslimah sedang mengajar di ruang kelas yang saya masuki (sumber: screenshot film Laskar Pelangi)

Lokasi replika SD Muhammadiyah Gantong sudah berkembang menjadi obyek wisata. Di sekitar SD ini terdapat bangunan baru yang berupa toko-toko cendermata dan warung makanan.

DSC_1379

Bangunan-banunan baru yang tumbuh di sekitar replika SD Muhammadiyah Gantong

Begitulah kunjungan saya ke replika SD Muhamamadiyah Gantong di Belitung Timur. Entah sampai kapan replika ini bisa bertahan lama mengingat ia dibuat dari bahan-bahan sederhana. Ia menjadi museum pendidikan yang mengingatkan orang pada perjuangan guru-guru dan anak-anak yang ingin belajar meraih mimpi-mimpi mereka di masa depan.

 

 

 

 

 


Written by rinaldimunir

January 8th, 2016 at 4:20 pm

Posted in Cerita perjalanan

Toleransi yang Salah Kaprah

without comments

Sebenarnya tulisan saya ini sudah tidak up-to-date lagi, karena kejadiannya sudah berlangsung dua minggu yang lampau. Namun saya tergelitik untuk mengomentarinya karena masalah ini berkaitan dengan akidah. Yang namanya akidah atau keyakinan tidak boleh dianggap main-main. Ia merupakan hal fundamental dalam beragama.

Pada Perayaan Natal tingkat nasional tahun 2015 di kota Kupang (NTT) yang dihadiri oleh Presiden Jokowi, ada kejadian yang cukup mengagetkan banyak pihak, khususnya bagi kaum muslimin. Pada acara itu, seorang biduan menyanyikan lagu merdu berjudul Ave Maria karya Franz Schubert. Ini adalah lagu rohani saudara-saudara kita kaum kristiani. Yang mengagetkan, lagu tersebut diiringi dengan suara adzan yang dilantunkan oleh Imam Masjid Oepura, Ustad Umarba (Baca: Dengarkan Lagu “Ave Maria” dan Adzan Berkumandang, Gubernur NTT Menangis dan  Ketika Ave Maria dan Adzan Mengalun Bersama, Oh Indahnya… ).

Maksud hati Panitia Natal 2015 adalah untuk menunjukkan bahwa agama Kristen dan Islam dapat hidup berdampingan dengan damai dengan menampilkan lagu dan adzan tersebut pada perayaan Natal. Di Propinsi NTT, seperti cerita seorang teman, toleransi antar umat beragama di sana memang terjalin dengan baik. Silakan baca komposisi demografi penduduk di NTT dari laman Wikipedia ini.

Dalam kacamata keislaman, apa yang dilakukan oleh Panitia Natal di Kupang itu bukanlah suatu bentuk toleransi beragama yang benar. Itu sama sekali tidak indah, tetapi benar-benar salah. Menurut saya, kejadian ini sudah termasuk sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ibadah kedua agama. Mungkin bagi saudara-suadara kita kaum kristiani hal ini tidak menjadi persoalan (CMIIW), namun dalam akidah Islam hal ini adalah suatu masalah besar. Adzan adalah panggilan untuk menyatakan telah masuk waktu ibadah sholat bagi umat Islam, sedangkan menyanyikan lagu Ave Maria adalah bagian dari ibadah umat kristiani. Tentu tidak pantas kedua ibadah itu dicampurkan. Tidaklah layak suara adzan dilantunkan pada ibadah Natal, sebagaimana tidaklah layak menyanyikan  lagu rohani kristiani pada ibadah umat Islam.

Toleransi  antar umat beragama yang terjadi pada perayaan Natal di Kupang itu sudah salah kaprah. Toleransi beragama yang benar adalah dengan tidak mengganggu ibadah umat agama lain, memberikan rasa tenang dan nyaman buat mereka yang beribadah itu.  Orang Islam tidak diganggu ibadahnya, begitu juga orang Kristen tidak diganggu ibadahnya. Itulah wujud toleransi yang indah.

Toleransi bergama cukup dalam dalam ranah sosial, bukan dalam ranah  peribadatan. Orang Islam tidak perlu ikut ibadah orang Kristen, begitu juga orang Kristen tidak perlu ikut ibadah orang Islam. Orang Islam tidak perlu ikut misa Natal di gereja, begitu juga orang Kristen tidak perlu ikut pengajian di masjid. Orang Islam tidak perlu qasidahan pada acara misa di gereja, begitu juga paduan suara orang Kristen tidak perlu menyanyikan shalawat di dalam masjid.

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi pada masa yang akan datang. Biarlah masing-masing umat beragama berjalan sesuai dengan agamanya masing-masing.


Written by rinaldimunir

January 7th, 2016 at 2:20 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Pramugari Sriwijaya Air yang Berjilbab

without comments

Ketika terbang dengan pesawat Sriwijaya Air dari Tanjungpandan (Belitung) ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, saya menemukan pemandangan yang belum pernah saya temukan. Surprise! Baru kali ini saya menemukan pramugari pesawat domestik memakai busana muslimah berupa  kerudung atau jilbab, dan pramugari itu ada di pesawat Sriwijaya Air yang saya naiki.

sriwijaya1

Pramugari Sriwijaya Air yang memakai jilbab

Saya sebut surprise kenapa, karena selama ini belum pernah ada pramugari di dalam pesawat memakai jilbab.  Menjadi pramugari tampaknya tertutup bagi wanita yang menggunakan busana muslimah. Iklan lowongan kerja pramugari secara eksplisit mensyaratkan si pelamar harus tampil menarik, cantik, dan enak dipandang, dan secara implisit tentu tidak boleh menggunakan kerudung atau jilbab.  Foto si pelamar harus memperlihatkan pose setengah badan dan pose penuh untuk memperlihatkan kecantikan dan proporsional tubuhnya.

Oh ya, tadi saya sebut selama ini belum pernah ada pramugari di dalam pesawat memakai jilbab, namun ada beberapa pengecualian. Pramugari yang melayani penerbangan haji atau umrah umumnya menggunakan kerudung, tetapi pramugari tersebut menggunakannya hanya selama penerbangan haji/umrah saja, setelah itu mereka tampil seperti biasa (tanpa jilbab) pada penerbangan lainnya.

Nah, pramugari Sriwijaya Air yang ini tampaknya memang sehari-harinya memakai jilbab, dan dia tetap berjilbab ketika melaksanakan tugasnya di dalam pesawat. Dari nametag-nya saya mengetahui nama pramugari itu  Kiki Seftika. Dia tampak begitu cekatan dan ramah melayani penumpang pesawat, begitu juga ketika memperagakan penggunaan alat keselamatan.

sriwijaya3

Kiki Seftika sedang menutup kabin penumpang

Jilbab yang digunakannya sama sekali tidak menghalanginya untuk menjalankan tugasnya di atas pesawat, tidak ada bedanya dengan pramugari lain yang kebetulan tidak berkerudung. Dia mondar-mandir di dalam pesawat sambil memastikan semua penumpang sudah memasang  sabuk keselamatan, memperagalan pemakaian alat keselamatan, dan melayani penjualan barang.

sriwijaya2

Kiki Seftika sedang melayani penumpang

Saya mengapresiasi manajemen dan pemilik maskapai Sriwijaya Air  yang menerima pramugari berjilbab. Rasa salut saya buat mereka. Mereka terbuka terhadap wanita berjilbab yang ingin menjadi pramugari pesawatnya. Yang dinilai dari pramugari adalah kemampuan profesionalnya, bukan busana yang dikenakannya. Busana pramugari asalkan sopan tidak masalah, yang penting profesionalitasnya dalam menjalankan tugasnya selama di atas pesawat.

Keberadaan pramugari yang memakai busana muslimah di dalam pesawat menurut saya adalah pilihan yang baik dan bijak karena berkaitan dengan rasa nyaman.  Penumpang pesawat dari kalangan yang bermacam-macam status sosial, kepercayaan, dan kebiasaan. Ada penumpang yang merasa nyaman jika dilayani pramugari berjilbab, ada yang risih jika dilayani pramugari dengan pakaian ketat, sebaliknya ada juga yang senang dilayani pramugari yang berbusana biasa saja. Ibarat supermarket, penumpang diberikan banyak pilihan, mana yang menurut anda nyaman.

Dalam beberapa kasus, perempuan yang berbusana muslimah seringkali mengalami diskriminasi karena pakaiannya. Ia ditolak bekerja karena berjilbab. Saya masih ingat kasus seorang penyiar televisi bernama Sandrina Malakiano. Dia adalah penyiar cemerlang di sebuah stasiun televisi berita ternama (anda pasti tahu nama televisinya). Namanya identik dengan nama stasiun televisi tempatnya bekerja. Ketika dia memutuskan berjilbab, stasiun televisi tersebut tidak lagi membolehkan dia menjadi host atau pembaca berita. Dia diberi tempat di belakang layar  saja, yang secara halus artinya ‘menghukumnya’ karena berjilbab.  Sampai akhirnya Sandrina keluar dari televisi tersebut, dia ditolak menjadi penyiar karena jilbabnya, padahal dia adalah penyiar yang cerdas dan piawai.  Peristiwa ini adalah awal terungkapnya islamophobia yang dilakukan oleh stasiun televisi berita tersebut, yang hingga kini semakin terlihat dari arah pemberitaannya yang cenderung mendiskreditkan kaum muslimin.

Kembali ke pramugari berjilbab tadi. Mudah-mudahan keberadaannya di maskapai Sriwijaya Air terus dipertahankan. Mudah-mudahan semakin banyak maskapai yang menerima pramugarai yang tetap berjilbab. Mudah-mudahan semakin banyak perusahaan yang berhubungan dengan publik seperti media, hotel, dan lain-lain yang tidak melarang pegawainya memakai busana muslimah.  Jazakallah.

 

 

 

 

 

 

 

 


Written by rinaldimunir

January 5th, 2016 at 5:49 pm

Posted in Agama,Gado-gado