if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2015

Saran Buat Para “Jelita”

without comments

Seorang teman di grup angkatan mengirimkan pesan berisi nasehat via whatsapp. Nasehatnya ditujukan kepada kami-kami yang “jelita”. Kami di grup angkatan tidak lama lagi memasuki usia lima puluh tahun, sehingga dijuluki “jelita” alias jelang lima puluh tahun :-). Tidak terasa usia saya sendiri akan beranjak setengah abad dalam waktu yang tidak lama lagi. Waktu terasa begitu cepat sekali berjalan.

Nasehatnya cukup bijak. Intinya, bagi orang yang berusia lima puluh tahun ke atas, bukan saatnya lagi menghabiskan waktunya untuk menumpuk harta kekayaan. Bukan saatnya lagi menghabiskan sisa umurnya untuk mencari sesuap emas dan sepiring berlian. Kini saatnya untuk lebih bijak dalam hidup. Gunakan waktu yang tersisa untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik sembari mepersiapkan diri untuk hari esok yang abadi.

Begini bunyi nasehatnya:

SEPULUH SARAN BAGI USIA 50 TH KE ATAS

1. FOKUS: menyenangkan diri sendiri dan orang lain, bukan saatnya mengejar dan menumpuk harta/materi lagi.

2. BIJAK menggunakan tabungan. Jalan2/wisata bila masih ada kesempatan dan kuat.

3. IBADAH dan amalan baik diperbanyak. Hiduplah di sini dan sekarang, bukan besok/kemarin. Besok belum tentu ada kesempatan,
kemarin sudah lewat.

4. CERIA bermain dengan cucu (kalau ada), bukan menjadi BABY SITTER dan bukan pula menjadi SATPAM kalau anak-anak sedang bepergian.

5. IKHLAS menerima semua kemunduran fisik, nyeri, sakit/lemah, sebagai konsekwensi logis dari proses penuaan.

6. NIKMATI kondisi yang ada sekarang, tak perlu terus menerus banting tulang lagi.

7. SYUKURI hidup dengan pasangan, anak/cucu dan teman2 yang merasa
dekat dengan Anda, bukan karena harta/kedudukan.

8. MAAF kan diri sendiri. Minta maaf dan memberi maaf kepada orang
lain. Perlu ketenangan batin dengan menghilangkan dendam dan benci.

9. BERSAHABAT dengan siapa saja sebagai bagian dari hidup yang normal. Jangan takut mati.

10. DAMAI di hati Anda. Disarankan selalu bercanda via BBM/WhatsApp atau sarana komunikasi lainnya.

Jangan mudah salah paham apalagi marah2 tanpa sebab, karena hal itu bisa bikin mati mendadak.

PERENUNGAN :
“Tua bukan tanpa arti tetapi harus makin berarti bagi diri sendiri, keluarga, teman/sahabat dan sesama, dalam setiap sudut dan tahap kehidupan”.

Nah, begitu bunyi nasehatnya. Anda, para jelita dan sulita (sudah lima puluh tahun), setujukah?

Terimakasih temanku, yang telah berbagi.

 

 


Written by rinaldimunir

November 30th, 2015 at 8:21 am

Posted in Renunganku

Jalan-jalan ke Lombok (lagi), Sebuah Itenary

without comments

Bulan Oktober yang lalu saya bersama-sama teman di kantor jalan-jalan ke Pulau Lombok, rapat kerja sekaligus rekreasi ceritanya. Tahun 2013 saya sudah pernah ke Lombok (Baca artikelnya di sini) dalam rangka konferensi nasional KNSI. Nah, kali ini dalam rangka acara fakultas di kampus saya. saya akan menceritakn jalan-jalan kali ini dalam bentuk itenary 3D2N (3 hari 2 malam), jadi kalau anda nanti punya rencana liburan ke Pulau Lombok, maka itenary ini dapat dijadikan referensi.

Hari ke-1: Bandung-Lombok

Dari Bandung ada penerbangan langsung ke Lombok yang dilayani oleh maskapai Citilink. Pesawat berangkat jam 10.45  WIB dari Bandara Husein Bandung, dan tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, Lombok Tengah, pukul 12.30 WITA. Waktu tempuh dari Bandung ke Lombok adalah 1 jam 35menit. Oh ya,selain Citilink, alternatif lainnya naik maskapai Lion Air atau Garuda Indonesia tapi transit di Surabata atau Denpasar. Ongkos pesawat Citilink dari Bandung ke Lombok normalnya 900 ribu rupiah.

Tiba di bandara BIL di Praya, kami dijemput oleh tour guide. Setelah makan siang di restoran, kami menuju desa Sukarara di Lombok Tengah. Di desa ini kita mengunjungi toko yang menjual kain songket dan tenunan Lombok. Tenunannya bagus-bagus, harganya juga tidak murah, berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, maklum tenunan tangan.

DSC_1147

Kita juga dapat menyasikan di luar toko perempuan-perempuan dari suku Sasak sedang menenun songket. Mereka adalah pegawai yang dipekerjakan oleh pemilik toko untuk menenun dengan alat tradisionil. Mereka bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 17 sore, duduk dengan posisi kaki menjulur ke depan sembari menenun sehelai demi sehelai benang.

DSC_1142

Perempuan suku Sasak sedang menenun.

Para perempuan penenun songket itu adalah tulang punggung keluarganya. Suami mereka pada musim kemarau ini (saat kami ke sana masih musim kering) sedang menganggur tidak bekerja, karena sawah-sawah sedang dilanda kekeringan, tidak bisa diolah. Sawah-sawah itu milik orang lain, suami mereka hanya buruh penggarap saja. Di Lombok Tengah tidak ada irigasi karena posisi sungai lebih rendah dari sawah. Semua sawah adalah tergolong sawah tadah hujan, sawah hanya panen sekali atau dua kali setahun. Perempuan Sasak yang menjadi penenun songket itu hanya mendapat upah Rp600 ribu per bulan  dengan makan dua kali sehari. Mereka bekerja setiap hari, dari Senin sampai Minggu, kemudian Senin sampai Minggu lagi, duduk dari jam 8 pagi sampai pukul 5 sore dengan. Begitu seterusnya. Mata saya memerah mendengar gaji yang tidak seberapa itu. Sedih. Inilah nasib bangsaku yang dup dalam kemiskinan. Makanya tidak heran jika banyak petempuan Lombok mengadu nasib dengan menjadi TKI di luar negeri, teutama ke Malaysia.

Dari Desa Sukarara, rombongan kami bertolak ke Desa wisata yang bernama desa Sade, masih di Kabupaten Lombok Tengah. Desa Sade adalah model perkampungan suku Sasak yang ditujukan untuk pariwisata.  Di perkampungan ini terdapat rumah adat Sasak dengan atapnhya dari daun-daun padi kering, sedangkanlantainya dari campuran kotoran kerbau dan tanah.

DSC_1154

Penanda Desa Sade

DSC_1158

Gapura Perkampungan Sasak

DSC_1153

Rumah Suku Sasak

Setelah melihat-lihat perkampungan suku Sasak, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Kuta di Kabupaten Lombok Selatan untuk mengejar sunset. Nama pantainya sama dengan Pantai Kuta di Bali, bedanya lebih sepi. Beberapa turis asing  terlihat berjemur.

DSC_1161

Narsis di Pantai Kuta, Lombok

Senja di Pantai Kuta,Lombok

Senja di Pantai Kuta,Lombok

Puas berfoto-foto di Pantai Kuta, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel di Pantai Senggigi, Lombok Barat. Wah, ternyata kami sudah menngunjungi tiga kabupaten di Pulau Lombok, yaitu Kabupaten Lombok tengah, Lombok Selatan, dan sekarang Lombok Barat. Kami check-in di Hotel Holiday Resort yang terletak persis di pinggir pantai Senggigi. OK, selamat malam, kami mau beristirahat dulu setelah lelal berjalan-jalan pada hari pertama.

Salah satu cottage di Hotel Holiday Resort

Salah satu cottage di Hotel Holiday Resort

Catur seukuran anak-anak di kawasan hotel

Catur seukuran anak-anak di kawasan hotel

Hari Kedua: Pulau Gili Terawangan

Pariwisata di Pulau Lombok kebanyakan wisata pantai saja. Tujuan wisatawan ke sini adalah Pantai Senggigi, lalu rute selanjutnya adalah ke Gili Terawangan. Belum lengkap ke Senggigi jika tidak terus ke Gili Terawangan.

Jam 9 pagi bis sudah menjemput rombongan untuk menuju pulau Gili Terawangan di Lombok Utara. Gili artinya pulau, sedangkan terawangan artinya terowongan. Sepanjang perjalanan dari Senggigi menuju pelabuhan penyeberangan, kita disungguhi pemandangan yang sangat indah, Sebelah kiri jurang dengan lautan luas di bawahnya, sedangkan di sebelah kanan adalah bukit batu. Dari atas jurang kita dapat menyaksikan garis pantai yang indah, salah satunya Pantai Malimbu.

Pantai yang indah sepanjang Senggigi hingga ke Lombok Utara.

Pantai yang indah sepanjang Senggigi hingga ke Lombok Utara.

Pantai Malimbu

Pantai Malimbu

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, sampailah kita di pelabuhan penyeberangan menuju Gili Terawangan. Untuk menuju ke Gili Terawangan, kita bisa naik perahu shuttle yang berangkat tiap satu jam sekali. Ongkosnya Rp75.000, namun shuttle hanya berangkat jika jumlah penumpang sudah mencapai 20 orang. Jika belum mencapai 20 orang, kita harus menunggu dulu. Jika tidak mau menunggu, kita bisa menyewa perahu yang mengantar kita ergi dan pulang. Ongkosnya sekita Rp 1,2 juta. Oh iya, jika naik perahu shuttle, jadwal shuttle dari Gili Terawangan ke Lombokterakhir pukul 16.00.

Pelabuhan penyeberangan ke Gili Terawangan

Pelabuhan penyeberangan ke Gili Terawangan

Perjalanan menuju Gili Terawangan sekitar 40 menit. Air lautnya sangat jernih. Selain Gili Terawangan, masih terdapat dua pulau lagi di sekitarnya yaitu Gili Meno dan Gili Air.

Perjalanan menuju Gili Terawangan.  Tampak Gili Terawangan di kejauhan.

Perjalanan menuju Gili Terawangan. Tampak Gili Terawangan di kejauhan.

Apa yang menarik turis ke Gili Terawangan? Pertamanya pasir pantainya putih, kedua di sekitarnya terdapat taman laut yang indah. Wisatawan bisa melakukan snorkeling ke taman laut itu. Jika tidak mau menyelam, wisatawan bisa melihat pemandangan taman laut dnegan menaiki perahu dengan dasarnya berupa kaca, ongkosnya Rp75.000. Sayangnya ukuran kacanya hanya satu meter dengan lebar, kurang puas melihat taman laut yang indah itu. Kekhasan taman laut di Gili Terawangan adalah terdapat kerang berwran biru yang katanya di malama hari terlihat bercahaya.

Pulau Gili Terawangan adalah pulau kecil dengan pasir putih. Udara di sini sangat panas. Tidak ada sumber air tawar di sini. Air di pulau rasanya payau. Kebutuhan air tawar dan bahan makanan didatangkan dari daratan Pulau Lombok. Tentu saja harga makanan di pulau ini dua kali lipat.

Pantai Gili Terawangan

Pantai Gili Terawangan

Pantai Gili Terawangan

Pantai Gili Terawangan

Banyak turis asing berseliweran di Gili Terawangan dengan memakai pakaian ala kadarnya (bikini). Berada di Gili Terawangan serasa berada di Pantai Kuta. Banyak penginapan dan hotel berjajar di sepanjang pantai, lalu pemanandangan bule berjemur di pantai.

Penginapan turis di sepanjang pantai Gili Terawangan, mirip di Kuta Bali.

Penginapan turis di sepanjang pantai Gili Terawangan, mirip di Kuta Bali.

Di Gili Terawangan juga terdapat tempat konservasi penyu (Turtle Conservation). Di sini kita bisa melihat tukik (bayi penyu) ditangkar di dalam sebuah akuarium besar.

Rumah penangkaran penyu

Rumah penangkaran penyu

Rumah konservasi penyu

Rumah konservasi penyu

Tukik (bayi penyu)

Tukik (bayi penyu)

Setelah puas di Gili Terawangan, saatnya kembali ke Pulau Lombok. Pukul 14 siang kami kembali naik perahu ke Pulau Lombok. Agenda berikutnya adalah wisata belanja mutiara di Senggigi. Lombok terkenal sebagai tempat penghasil mutiara air tawar dan mutiara air laut. FYI, di manapun kita berhenti di rumah makan, tempat wisata, pantai, dan-lain, kita akan ditawari mutiara oleh padagang asongan. Harus hati-hati memilih mutiara, karena belum tentu semuanya asli. Tidak semua mutiara di Lombok berasal dari Lombok, ada juga mutiara (entah asli entah palsu) yang berasal dari Tiongkok. Mutiara harganya bernacam-macam bergantung kualitasnya, mulai dari harag puluhan ribu hingga ratuan ribu. Kami berbelanja mutiara di sebuah toko yang khusus menjual mutiara. Bermacam-macam perhiasan mutiara ada di sana, mulai dari cincin, gelang, kalung, bros, hingga tasbih dan rosario. Semua mutiara terlihat menarik hati dan begitu menggoda, terutama menggoda isi dompet. Para wanita terlihat begitu antusias dan bernafsu memborong mutiara-mutiara itu.

DSC_1219

DSC_1212

DSC_1214

DSC_1216

DSC_1217

DSC_1218

DSC_1213

Hari sudah sore. Sekarang saatnya untuk mengejar sunset di Pantai Senggigi, dari pinggir hotel tempat kami menginap. Kita dapat menyaksikan pergerakan matahari hingga terbenam di laut dari Senggigi. Pangtai Senggigi pada sore hari sangat ramai, banyak orang duduk-duduk menunggu sunset.

Sunset di Senggigi

Sunset di Senggigi

Sunset di Senggigi

Sunset di Senggigi

Hari ketiga: Mataram – Bandung

Hari terkahir Lombok. Setelah checkout dari hotel, maka saatnya berjalan-jalan melihat kota Mataram dan belanja kaos atau batik di Cakrenegara. Kota Mataram cukup besar. Di kota ini terdapat kawasan yang isinya penduduk dari suku Bali yang beragama Hindu. Orang Bali didatangkan dari daerah Karangasem oleh Raja Karangasem pada zaman dulu. Meskipun mayoritas orang Lombok beragama Islam dan Pulau Lombok mendapat julukan pulau seribu masjid, tetapi sepuluh persen lainnya beragama Hindu. Mayoritas orang Hindu berada di Mataram, tepatnya di daerah Cakranegara. Jadi, tidak heran kita juga menemukan banyak pura di kota Mataram.

Kawasan Cakranegara terkenal dengan pusat penualan busana khas Lombok, seperti kaso, batik dan tenunan.

Sebuah toko kaos dan batik di Cakranegara.

Sebuah toko kaos dan batik di Cakranegara.

Sebenarnya masih banyak tempat yang perlu dikunjungi di Mataram, misalnya Taman Narmada, kawasan Jalan Nusa Cendana yang terkenal dengan sate khas Lombok yaitu sate bulayak, dan lain-lain, namun karena waktu yang terbatas, maka tujuan ke sana tidak sempat dilakukan. Tentang Taman Narmada dan sate bulayak sudah saya tulis pada tulisan tahun 2013.

Setelah membeli oleh-oleh lain seperti makanan (dodol rumput laut, madu Sumbawa, sambal taliwang, dl), kami bersiap-siap kembali ke Bandara. Sebelum ke Bandara, kita bisa makan dulu menikmati ayam taliwang di sebuah restoran. Selanjutnya ke bandara karena pesawat Citilink menuju Bandung berangkat pukul 13.30.

OK deh, kapan-kapan saya jalan-jalan ke Lombok lagi bersama keluarga.


Written by rinaldimunir

November 28th, 2015 at 12:44 pm

Posted in Uncategorized

Jalan-jalan ke Lombok (lagi), Sebuah Itenary

without comments

Bulan Oktober yang lalu saya bersama-sama teman di kantor jalan-jalan ke Pulau Lombok, rapat kerja sekaligus rekreasi ceritanya. Tahun 2013 saya sudah pernah ke Lombok (Baca artikelnya di sini) dalam rangka konferensi nasional KNSI. Nah, kali ini dalam rangka acara fakultas di kampus saya. saya akan menceritakn jalan-jalan kali ini dalam bentuk itenary 3D2N (3 hari 2 malam), jadi kalau anda nanti punya rencana liburan ke Pulau Lombok, maka itenary ini dapat dijadikan referensi.

Hari ke-1: Bandung-Lombok

Dari Bandung ada penerbangan langsung ke Lombok yang dilayani oleh maskapai Citilink. Pesawat berangkat jam 10.45  WIB dari Bandara Husein Bandung, dan tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, Lombok Tengah, pukul 12.30 WITA. Waktu tempuh dari Bandung ke Lombok adalah 1 jam 35menit. Oh ya,selain Citilink, alternatif lainnya naik maskapai Lion Air atau Garuda Indonesia tapi transit di Surabata atau Denpasar. Ongkos pesawat Citilink dari Bandung ke Lombok normalnya 900 ribu rupiah.

Tiba di bandara BIL di Praya, kami dijemput oleh tour guide. Setelah makan siang di restoran, kami menuju desa Sukarara di Lombok Tengah. Di desa ini kita mengunjungi toko yang menjual kain songket dan tenunan Lombok. Tenunannya bagus-bagus, harganya juga tidak murah, berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, maklum tenunan tangan.

DSC_1147

Kita juga dapat menyasikan di luar toko perempuan-perempuan dari suku Sasak sedang menenun songket. Mereka adalah pegawai yang dipekerjakan oleh pemilik toko untuk menenun dengan alat tradisionil. Mereka bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 17 sore, duduk dengan posisi kaki menjulur ke depan sembari menenun sehelai demi sehelai benang.

DSC_1142

Perempuan suku Sasak sedang menenun.

Para perempuan penenun songket itu adalah tulang punggung keluarganya. Suami mereka pada musim kemarau ini (saat kami ke sana masih musim kering) sedang menganggur tidak bekerja, karena sawah-sawah sedang dilanda kekeringan, tidak bisa diolah. Sawah-sawah itu milik orang lain, suami mereka hanya buruh penggarap saja. Di Lombok Tengah tidak ada irigasi karena posisi sungai lebih rendah dari sawah. Semua sawah adalah tergolong sawah tadah hujan, sawah hanya panen sekali atau dua kali setahun. Perempuan Sasak yang menjadi penenun songket itu hanya mendapat upah Rp600 ribu per bulan  dengan makan dua kali sehari. Mereka bekerja setiap hari, dari Senin sampai Minggu, kemudian Senin sampai Minggu lagi, duduk dari jam 8 pagi sampai pukul 5 sore dengan. Begitu seterusnya. Mata saya memerah mendengar gaji yang tidak seberapa itu. Sedih. Inilah nasib bangsaku yang dup dalam kemiskinan. Makanya tidak heran jika banyak petempuan Lombok mengadu nasib dengan menjadi TKI di luar negeri, teutama ke Malaysia.

Dari Desa Sukarara, rombongan kami bertolak ke Desa wisata yang bernama desa Sade, masih di Kabupaten Lombok Tengah. Desa Sade adalah model perkampungan suku Sasak yang ditujukan untuk pariwisata.  Di perkampungan ini terdapat rumah adat Sasak dengan atapnhya dari daun-daun padi kering, sedangkanlantainya dari campuran kotoran kerbau dan tanah.

DSC_1154

Penanda Desa Sade

DSC_1158

Gapura Perkampungan Sasak

DSC_1153

Rumah Suku Sasak

Setelah melihat-lihat perkampungan suku Sasak, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Kuta di Kabupaten Lombok Selatan untuk mengejar sunset. Nama pantainya sama dengan Pantai Kuta di Bali, bedanya lebih sepi. Beberapa turis asing  terlihat berjemur.

DSC_1161

Narsis di Pantai Kuta, Lombok

Senja di Pantai Kuta,Lombok

Senja di Pantai Kuta,Lombok

Puas berfoto-foto di Pantai Kuta, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel di Pantai Senggigi, Lombok Barat. Wah, ternyata kami sudah menngunjungi tiga kabupaten di Pulau Lombok, yaitu Kabupaten Lombok tengah, Lombok Selatan, dan sekarang Lombok Barat. Kami check-in di Hotel Holiday Resort yang terletak persis di pinggir pantai Senggigi. OK, selamat malam, kami mau beristirahat dulu setelah lelal berjalan-jalan pada hari pertama.

Salah satu cottage di Hotel Holiday Resort

Salah satu cottage di Hotel Holiday Resort

Catur seukuran anak-anak di kawasan hotel

Catur seukuran anak-anak di kawasan hotel

Hari Kedua: Pulau Gili Terawangan

Pariwisata di Pulau Lombok kebanyakan wisata pantai saja. Tujuan wisatawan ke sini adalah Pantai Senggigi, lalu rute selanjutnya adalah ke Gili Terawangan. Belum lengkap ke Senggigi jika tidak terus ke Gili Terawangan.

Jam 9 pagi bis sudah menjemput rombongan untuk menuju pulau Gili Terawangan di Lombok Utara. Gili artinya pulau, sedangkan terawangan artinya terowongan. Sepanjang perjalanan dari Senggigi menuju pelabuhan penyeberangan, kita disungguhi pemandangan yang sangat indah, Sebelah kiri jurang dengan lautan luas di bawahnya, sedangkan di sebelah kanan adalah bukit batu. Dari atas jurang kita dapat menyaksikan garis pantai yang indah, salah satunya Pantai Malimbu.

Pantai yang indah sepanjang Senggigi hingga ke Lombok Utara.

Pantai yang indah sepanjang Senggigi hingga ke Lombok Utara.

Pantai Malimbu

Pantai Malimbu

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, sampailah kita di pelabuhan penyeberangan menuju Gili Terawangan. Untuk menuju ke Gili Terawangan, kita bisa naik perahu shuttle yang berangkat tiap satu jam sekali. Ongkosnya Rp75.000, namun shuttle hanya berangkat jika jumlah penumpang sudah mencapai 20 orang. Jika belum mencapai 20 orang, kita harus menunggu dulu. Jika tidak mau menunggu, kita bisa menyewa perahu yang mengantar kita ergi dan pulang. Ongkosnya sekita Rp 1,2 juta. Oh iya, jika naik perahu shuttle, jadwal shuttle dari Gili Terawangan ke Lombokterakhir pukul 16.00.

Pelabuhan penyeberangan ke Gili Terawangan

Pelabuhan penyeberangan ke Gili Terawangan

Perjalanan menuju Gili Terawangan sekitar 40 menit. Air lautnya sangat jernih. Selain Gili Terawangan, masih terdapat dua pulau lagi di sekitarnya yaitu Gili Meno dan Gili Air.

Perjalanan menuju Gili Terawangan.  Tampak Gili Terawangan di kejauhan.

Perjalanan menuju Gili Terawangan. Tampak Gili Terawangan di kejauhan.

Apa yang menarik turis ke Gili Terawangan? Pertamanya pasir pantainya putih, kedua di sekitarnya terdapat taman laut yang indah. Wisatawan bisa melakukan snorkeling ke taman laut itu. Jika tidak mau menyelam, wisatawan bisa melihat pemandangan taman laut dnegan menaiki perahu dengan dasarnya berupa kaca, ongkosnya Rp75.000. Sayangnya ukuran kacanya hanya satu meter dengan lebar, kurang puas melihat taman laut yang indah itu. Kekhasan taman laut di Gili Terawangan adalah terdapat kerang berwran biru yang katanya di malama hari terlihat bercahaya.

Pulau Gili Terawangan adalah pulau kecil dengan pasir putih. Udara di sini sangat panas. Tidak ada sumber air tawar di sini. Air di pulau rasanya payau. Kebutuhan air tawar dan bahan makanan didatangkan dari daratan Pulau Lombok. Tentu saja harga makanan di pulau ini dua kali lipat.

Pantai Gili Terawangan

Pantai Gili Terawangan

Pantai Gili Terawangan

Pantai Gili Terawangan

Banyak turis asing berseliweran di Gili Terawangan dengan memakai pakaian ala kadarnya (bikini). Berada di Gili Terawangan serasa berada di Pantai Kuta. Banyak penginapan dan hotel berjajar di sepanjang pantai, lalu pemanandangan bule berjemur di pantai.

Penginapan turis di sepanjang pantai Gili Terawangan, mirip di Kuta Bali.

Penginapan turis di sepanjang pantai Gili Terawangan, mirip di Kuta Bali.

Di Gili Terawangan juga terdapat tempat konservasi penyu (Turtle Conservation). Di sini kita bisa melihat tukik (bayi penyu) ditangkar di dalam sebuah akuarium besar.

Rumah penangkaran penyu

Rumah penangkaran penyu

Rumah konservasi penyu

Rumah konservasi penyu

Tukik (bayi penyu)

Tukik (bayi penyu)

Setelah puas di Gili Terawangan, saatnya kembali ke Pulau Lombok. Pukul 14 siang kami kembali naik perahu ke Pulau Lombok. Agenda berikutnya adalah wisata belanja mutiara di Senggigi. Lombok terkenal sebagai tempat penghasil mutiara air tawar dan mutiara air laut. FYI, di manapun kita berhenti di rumah makan, tempat wisata, pantai, dan-lain, kita akan ditawari mutiara oleh padagang asongan. Harus hati-hati memilih mutiara, karena belum tentu semuanya asli. Tidak semua mutiara di Lombok berasal dari Lombok, ada juga mutiara (entah asli entah palsu) yang berasal dari Tiongkok. Mutiara harganya bernacam-macam bergantung kualitasnya, mulai dari harag puluhan ribu hingga ratuan ribu. Kami berbelanja mutiara di sebuah toko yang khusus menjual mutiara. Bermacam-macam perhiasan mutiara ada di sana, mulai dari cincin, gelang, kalung, bros, hingga tasbih dan rosario. Semua mutiara terlihat menarik hati dan begitu menggoda, terutama menggoda isi dompet. Para wanita terlihat begitu antusias dan bernafsu memborong mutiara-mutiara itu.

DSC_1219

DSC_1212

DSC_1214

DSC_1216

DSC_1217

DSC_1218

DSC_1213

Hari sudah sore. Sekarang saatnya untuk mengejar sunset di Pantai Senggigi, dari pinggir hotel tempat kami menginap. Kita dapat menyaksikan pergerakan matahari hingga terbenam di laut dari Senggigi. Pangtai Senggigi pada sore hari sangat ramai, banyak orang duduk-duduk menunggu sunset.

Sunset di Senggigi

Sunset di Senggigi

Sunset di Senggigi

Sunset di Senggigi

Hari ketiga: Mataram – Bandung

Hari terkahir Lombok. Setelah checkout dari hotel, maka saatnya berjalan-jalan melihat kota Mataram dan belanja kaos atau batik di Cakrenegara. Kota Mataram cukup besar. Di kota ini terdapat kawasan yang isinya penduduk dari suku Bali yang beragama Hindu. Orang Bali didatangkan dari daerah Karangasem oleh Raja Karangasem pada zaman dulu. Meskipun mayoritas orang Lombok beragama Islam dan Pulau Lombok mendapat julukan pulau seribu masjid, tetapi sepuluh persen lainnya beragama Hindu. Mayoritas orang Hindu berada di Mataram, tepatnya di daerah Cakranegara. Jadi, tidak heran kita juga menemukan banyak pura di kota Mataram.

Kawasan Cakranegara terkenal dengan pusat penualan busana khas Lombok, seperti kaso, batik dan tenunan.

Sebuah toko kaos dan batik di Cakranegara.

Sebuah toko kaos dan batik di Cakranegara.

Sebenarnya masih banyak tempat yang perlu dikunjungi di Mataram, misalnya Taman Narmada, kawasan Jalan Nusa Cendana yang terkenal dengan sate khas Lombok yaitu sate bulayak, dan lain-lain, namun karena waktu yang terbatas, maka tujuan ke sana tidak sempat dilakukan. Tentang Taman Narmada dan sate bulayak sudah saya tulis pada tulisan tahun 2013.

Setelah membeli oleh-oleh lain seperti makanan (dodol rumput laut, madu Sumbawa, sambal taliwang, dl), kami bersiap-siap kembali ke Bandara. Sebelum ke Bandara, kita bisa makan dulu menikmati ayam taliwang di sebuah restoran. Selanjutnya ke bandara karena pesawat Citilink menuju Bandung berangkat pukul 13.30.

OK deh, kapan-kapan saya jalan-jalan ke Lombok lagi bersama keluarga.


Written by rinaldimunir

November 28th, 2015 at 12:44 pm

Posted in Uncategorized

Allah Menjawab Al-Fatihah yang Kita Baca

without comments

(Ini masih lanjutan posting saya sebelumnya)

Pak Prof bertanya kepada kami, pernahkah terpikirkan bahwa Allah SWT selalu menjawab setiap bacaan Al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat? Hal itu ditemukan penjelasannya dalam sebuah hadis qudsi, kata Pak Prof.

Benar, saya baru tahu jika Allah selalu menjawab setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Fatihah di dalam sholat. Maklum, ilmu saya masih dangkal sekali.

Lanjut Pak Prof, ketika kita membaca “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin“, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memujiKu”

Ketika kita membaca “Arrahmaanirrahim“, maka Allah menjawab, “HambaKu telah mengagungkan-Ku”

Ketika kiita membaca “Maalikiyaumiddin“, maka Allah menjawab, “Hambaku telah memuliakan-KU”

Ketika kita membaca “Iyyakana’budu waiyyakanasta’in“, maka Allah menjawab, “Ini adalah untuk hamba-Ku dan untuk Aku setengahnya”

Lalu, ketika kita membaca “Ihdinasshiratol mustaqiim shirootalladziina an’amta alaihim ghoiril maghduubi alaihim waladhdhoolliin“, maka Allah menjawab ini adalah milik hambaKU dan bagi hambaKU apa yang hamba minta akan KUberikan.

~~~~~~~

Subhanallah, Maha Suci Allah Yang Maha Agung.  Makanya kita tidak perlu membaca surat Al-Fatihah terburu-buru, sebab Allah menjawab setiap apa yang kita ucapkan di dalam Al-Fatihah itu.

Hikmah hadis itu adalah, hendaklah kita meyakini bahwa  Allah selalu menjawab permintaan kita, karena setiap ayat di dalam surat Al-Fatihah itu pada dasarnya adalah permintaan.

Saya pun mencari-cari hadis qudsi yang dimaksudkan Pak Prof di Google, lalu ketemulah hadis tersebut, yang bunyinya begini:

“Disebutkan dalam shohih Muslim yakni hadits qudsi, Allah SWT berfirman yaitu AKU membagi Al-Fatihah dalam sholat antara AKU dan hambaKU menjadi dua bagian dan bagi HambaKU apa yang dia minta akan KU berikan. Ketika hamba mengatakan alhamdulillahirabbil aalamiin maka Allah menjawab: Hamba-KU Memuji AKU;  Ketika hamba mengucapkan arrahmaanirrahim maka Allah menjawab: Hamba-KU menyanjung-nyanjung AKU;  Ketika hamba mengucapkan maaliki yaumiddin, maka Allah menjawab: Hamba-KU mengagung-agungkan AKU; Ketika hamba mengucapkan iyyakana’budu wa iyya ka nastaiin Allah menjawab ini adalah pertengahan antara AKU dan hamba-KU dan bagi hamba-KU apa yang ia minta akan KU-berikan; Ketika hamba mengucapkan ihdinasshiratol mustaqiim shirootalladziina an’amta alaihim ghoiril maghduubi alaihim waladhdhoolliin maka Allah menjawab ini adalah milik hambaKU dan bagi hambaKU apa yang hamba minta akan KUberikan.”

~~~~~~

Maha Suci Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia begitu menyayangi ummat-Nya, Dia selalu menjawab apapun yang kita minta. Air mata pun membasahi pelupuk mata ini….


Written by rinaldimunir

November 23rd, 2015 at 3:49 pm

Posted in Agama,Renunganku

Sedang Apa Allah Sekarang?

without comments

Setelah sholat Dhuhur berjamaah dengan seorang  profesor di kampus saya, beliau mengajukan pertanyaan kepada kami (jamaah sholat): “Pernahkah terpikir, sedang apa Allah sekarang?”

Hmmm…pertanyaan sederhana, namun sulit juga menjawabnya. Selama ini saya atau kita tidak pernah terpikir Tuhan itu sedang melakukan apa.  Tidak terpikir sampai ke situ. Sedang melihatkah? Sedang mendengarkah? Sedang mengamati makhluk-Nya kah?

Pak Prof menunjukkan jawabannya. Coba buka Surat Ar-Rahman ayat 29 katanya, di sana ada jawabannya. Saya bukalah Al-Quran, dan ketemulah ayat 29 pada Surat Ar-Rahman yang artinya sbb:

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. (Q.S. Ar-Rahman:29)

Subhanallah, Maha Suci Allah SWT. Ternyata, pada setiap waktu Dia selalu dalam kesibukan. Allah tidak pernah diam, Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Allah selalu mengurus mahkhlu-Nya, hal ini dikuatkan dengan Firman-Nya di dalam ASurat Al-Baqaqarah ayat 255:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Baqarah : 255)

Allah yang selalu sibuk dan  terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia sibuk melayani permintaan (doa) yang kita panjatkan kepada-Nya. Ibaratnya seperti sebuah komputer server yang selalu sibuk mengurus semua permintaan komputer client. Client dalam hal ini adalah manusia, kita, sedangkah yang menjadi Maha Server adalah Allah SWT.

Maha Suci Allah Yang Maha Agung.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2015 at 3:21 pm

Posted in Agama,Renunganku

Jika Katasandi WiFi Mengundang Senyum

without comments

Banyak tempat publik (kafe, restoran, hotel, lounge, dll) saat ini yang telah menyediakan perangkat WiFi sehingga pelanggannya dapat menikmati internet dengan gratis.  Keberadaan WiFi merupakan nilai tambah untuk menarik pelanggan agar mau bertransaksi di tempat itu.

Ada WiFi yang pakai katasandi (password) dan ada pula tidak. Katasandi bisa dinoanaktifkan oleh admin, namun pada kebanyakan tempat publik katasandi harus dimasukkan jika pelanggan ingin menikmati internet di tempat itu. Jadi, sebenarnya pelanggan ‘membayar’ penggunaan internet melalui makan dan minum di sana.

Katasandi yang disetel oleh admin bisa apa saja, suka-suka mereka membuatnya. Pada aplikasi WiFi, katasandi adalah berupa string (rangkaian karakater) yang dapat dibangkitkan secara acak. Katasandinya tidak memiliki arti apa-apa. Namun, admin dapat mengganti katasandi acak itu dengan katasandi yang memiliki arti. Nah, di sinilah lucunya, katasandi bisa dibuat sesuka hati dan seringkali menimbulkan persepsi yang keliru.

Seperti kisah seorang pelanggan di bawah ini:

Barusan saya nongkrong siang di restoran yg ada wifi. Sambil pesan minum saya minta password wifi.

Pelayan bilang makan dulu. Pelangan lain juga dijawab makan dulu ketika minta password.

Karena lagi perlu akhirnya saya pesan bakso, setelah ngebakso, minta lagi password dan masih dibilang …makan dulu.

Sebel tapi masih sabar, akhirnya saya pesan makanan lain. Setelah makan, minta lagi password dan masih dibilang …makan dulu.

Jengkelnya waduh nggak ketulungan dan marah sama pelayannya.

Akhirnya ditenangkan oleh bos restoran sambil dibisikin .. password wifi adalah “makandulu”…..

Gombal !! .. apa ngak ada password lain ya .. wkwkwk

Hahaha jangan lupa man teman,…makan dulu

Ha..ha..ha, lucu, jadi salah paham dengan katasandi yang menimbulkan salah paham itu.

Seorang teman lain bercerita, di kantornya katasandi WiFi adalah  “tanyayudhi”. Yudhi ini nama salah satu staf TI, jadilah jadilah setiap hari Yudhi sibuk menerangkan password wifi :-)

Bagaimana jika katasandinya “adedeh” atau “langsungajapakesudahopenkok”. Ha..ha..ha.., bikin jengkel penggunanya.


Written by rinaldimunir

November 19th, 2015 at 11:58 am

Posted in Gado-gado

Jika Anakmu Begini, itu Karena Begitu (Sebuah Nasehat)

without comments

Sebuah nasehat buat orangtua atau calon orangtua yang saya copas dari whatsapp. Bagus nasehatnya, mudah-mudahan menyadarkan kita yang mungkin sering salah dalam mendidik anak.

Saya sendiri belum merasa menjadi orangtua yang baik, entah apakah yang saya lakukan selama ini sudah benar atau ternyata salah.

~~~~~~~~

DEAR PARA ORANG TUA…
ANAKMU MENGENALKAN SIAPA DIRIMU…
1. Jika anakmu BERBOHONG, 
itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT.

2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,
itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT

3. Jika anakmu KURANG BERBICARA,
itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA

4. Jika anakmu MENCURI,
itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.

5. Jika anakmu PENGECUT,
itu karena engkau selalu MEMBELANYA.

6. Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,
itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA.

7. Jika anakmu MARAH,
itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.

8. Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS,
itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.

9. Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,
itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.

10. Jika anakmu LEMAH,
itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.

11. Jika anakmu CEMBURU,
itu karena engkau MENELANTARKANNYA.

12. Jika anakmu MENGANGGUMU,
itu karena engkau KURANG MENCIUM & MEMELUKNYA

13. Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,
itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya.

14. Jika anakmu TERTUTUP,
itu karena engkau TERLALU SIBUK.


Written by rinaldimunir

November 18th, 2015 at 11:36 am

Teror di Paris dan Citra Islam di Mata Dunia

without comments

Kota Paris di Perancis beberapa hari yang lalu diserang oleh aksi terorisme yang mematikan.  Dunia mengutuk aksi teroris yang membunuh lebih dari 130 orang. Meskipun pelaku teror belum dapat dipastikan dari kelompok mana, namun sudah mengarah pelakunya ada kaitannya dengan Islam. Apalagi sebelum melakukan aksi terornya pelaku berteriak “ini untuk Suriah” dan teriakan “Allahu Akbar.” Apakah kelompok ISIS pelakunya? Wallahalam.  Mungkinkah ISIS balas dendam karena Perancis ikut dalam pasukan sekutu untuk menghancurkan ISIS di Suriah. Entahlah, apapun motifnya yang jelas aksi teror ini sungguh keji dan biadab.

peace

Jika memang pelakunya beragama Islam atau membawa simbol-simbol Islam, maka aksi kejinya itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam. Namun, media sudah terlanjur mengait-ngaitkan aksi terorisme dengan Islam, seakan-akan Islam identik dengan kekerasan. Berbagai sikap, tudingan, dan komentar muncul dari berbagai pihak yang mengaitkan aksi teror di Paris dengan ajaran Nabi Muhammad. Sudah susah payah para ulama kita, para ilmuawan muslim, dan tokoh-tokoh muslim mengklarifikasi serta meluruskan bahwa aksi terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dan bahwa teroris tidak mewakili umat Islam, namun sikap dunia sudah kadung mencap Islam itu buruk.

Ya sudahlah, jika media dan penduduk dunia tetap ngotot berpandangan Islam itu identik dengan kekerasan, mau bagaimana lagi. Silakan saja mereka berpendapat begitu, kami juga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya. Yang jelas kami  tetap istiqamah dengan agama kami, agama yang mengajarkan kebajikan, kasih sayang, dan cinta damai. Terorisme adalah perilaku yang sangat kompleks dan rumit, namun sayangnya agama dibawa-bawa ke dalamnya.

Pelaku terorisme yang membawa-bawa simbol agama di dalam aksinya sungguh merusak citra Islam. Karena aksi segelintir orang yang mengatasnamakan agama atau membawa simbol-simbol agama dalam melancarkan aksi terornya, seluruh umat Islam di dunia terkena getahnya. Mungkin sesudah peristiwa di Paris ini, kebencian warga Perancis khususnya dan Eropa umumnya terhadap agama Islam dan penganutnya akan semakin bertambah. Islamophobia yang sudah akut di Eropa maupun di dunia Barat akan menemukan pembenaran dengan kejadian ini.

Anggap saja sikap Islamophobia itu sebagai sebuah cobaan dan ujian dalam mempertahankan keyakinan. Tetap saja menjalankan kesalehan dalam beragama dan kesalehan dalam sosial seperti yang selama ini dipraktekkan. Masih lebih banyak orang Islam yang baik dan hanif dalam menjalankan agamanya, daripada segelintir orang yang mengaku Islam tetapi perilakunya jauh menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad. Menunjukkan Islam itu  identik dengan ajaran cinta damai adalah dengan amal kebajikan, bukan dengan gembar-gembor melalui kata-kata. Jika sudah begitu masih juga dicap miring oleh non muslim, ya sudah, terserah mereka menilai. Hidup itu singkat, dan kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan amalan kita di hadapan Allah SWT nanti.


Written by rinaldimunir

November 17th, 2015 at 1:41 pm

Posted in Agama,Dunia oh Dunia

Khawatir dengan Crane yang Menggantung di Atas Jalan

without comments

Setiap kali saya melihat crane pembangunan gedung malang melintang di atas jalan umum, saya seringkali merasa khawatir sekaligus takut. Khawatir jika crane tersebut rubuh menimpa apapun yang di bawahnya, takut jika yang terkena rubuhan itu adalah saya sendiri.  Saya berlindung kepada Allah SWT.

Saya masih ingat dengan musibah crane yang jatuh di Masjidil Haram pada musim haji yang lalu. Ratusan jamaah haji gugur syahid karena tertimpa bangunan masjid yang rubuh akibat ambruknya crane.  Saya juga pernah membaca di Jakarta beberapa kali crane rubuh menimpa bangunan dan menewaskan pekerja.

Ketika melewati perempatan Jalan Dago, saya melihat sebuah crane melintang di atas Jalan Sulanjana seperti foto jepretan saya di bawah ini. Wuss..saya ngeri melihatnya. Kok boleh sih diberikan izin memasang crane yang melintang di atas jalan raya? Seharusnya crane itu melintang secara diagonal di atas tanah gedung yang sedang dibangun agar tidak membahayakan.

Crane yang melintang di atas Jalan Sulanjana, Bandung

Crane yang melintang di atas Jalan Sulanjana, Bandung

Seberapa bagus daya tahan crane itu?  Di salah satu ujung belalainya diberi beban pemberat berupa batu-batu beton yang beratnya mungkin dalam satuan ton. Wah, jika pemberat itu lepas dan jatuh ke bawah, tamatlah riwayat orang yang melintas di bawahnya.  Mudah-mudahan kekhawatiran saya tidak berdasar, mudah-mudahan crane yang melintang di atas jalan itu telah teruji keamanannya.


Written by rinaldimunir

November 12th, 2015 at 1:09 pm

Posted in Seputar Bandung

Gaya Pengamen Anak Jalanan

without comments

Banyak pengamen dan anak jalanan di setiap perempatan jalan itu adalah hal yang biasa. Bermacam cara mengamen dilakukan anak jalanan untuk memperoleh uang receh. Ada yang mengamen dengan gitar, gendang dari botol aqua, atau cuma kincring-kincring dari kaleng bekas tutup botol.

Suatu hari di perempatan Jalan Jakarta dan Jalan Ahmad Yani Bandung, sepeda motor saya berhenti pada saat lampu merah. Seorang bocah pengamen berbaju merah tampil berjalan di depan para pengendara yang berhenti. Dia tidak membawa alat musik apapun. Namun tidak punya alat musik bukan berarti tidak bisa mengamen. Dia ‘kan punya tubuh untuk digerakkan. Dengan membuang rasa malu, jadilah bagi bocah pengamen ini cukup jumpalitan di depan pengendara. Sambil meliuk-liukkan badannya seperti orang menari, dia menyanyi tak jelas. Hampir semua pengendara tampak tidak mempedulikan kehadirannya.

Bocah pengamen

Bocah pengamen

Setelah satu menit beraksi, dia menyodorkan botol bekas aqua mengharap sereceh dua receh dari pengendara. Saya perhatikan tidak ada seorangpun pengendara yang memberi uang. Kasihan dia, sudah beraksi seperti seorang penari, tak ada uang receh yang diperoleh.

Kasihan? Ya, antara kasihan dan tidak. Ada himbauan dari Pemkot Bandung agar tidak memberi pengamen uang. Semakin diberi, semakin betah anak-anak jalanan itu ‘mengemis’ dengan cara mengamen. Namun ada juga yang tidak setuju dengan himbauan itu. Anak-anak itu mencari uang untuk membantu orangtuanya yang miskin. Benarkah demikian? Wallahualam. Ada laporan yang menyatakan bahwa uang mengamen itu digunakan untuk membeli rokok, ngelem, dan hal yang tidak baik lainnya.

Seharusnya bocah berbaju merah di atas sedang berada di sekolah. Kehidupan jalanan yang keras dan kejam tidak cocok baginya. Dia akan kehilangan masa depan. Dinas Sosial kota harus membina anak-anak jalanan seperti ini.


Written by rinaldimunir

November 9th, 2015 at 12:22 pm

Posted in Seputar Bandung