if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2015

Masakan di Hotel Jarang Ada yang Enak

without comments

Saya cukup sering menginap di hotel atau mengikuti acara yang diadakan di hotel. Dari pengalaman menikmati masakan di hotel (sarapan atau jamuan makan siang), saya menyimpulkan masakan di hotel jarang sekali rasanya enak. Hambar dan kurang nendang, nggak mantap dimakan. Bumbunya mungkin hanya berbasis garam dan merica saja.

Coba saja anda lihat sepiring makan siang yang saya ambil pada jamuan makan pada acara konferensi internasional yang diadakan di sebuah hotel berbintang yang cukup ternama di Bandung. Hotel ini merupakan jaringan hotel internasional AS**N yang hotelnya ada di mana-mana. Tapi masakannya? Saya beri nilai 6 saja.

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Menu masakannya berupa fillet ikan digoreng tepung, ayam kecil-kecil goreng tepung, sayur brokoli disiram saus salad, oseng-oseng daging sapi bumbu lada hitam, sambal saos botol. Sama sekali tidak berselera. Tapi karena saya sudah membayar cukup mahal untuk konferensi itu, ya dimakan saja seadanya.

Chef hotel perlu belajar pada tukang mansak di warung-warung kakilima yang ramai pembelinya, mengapa masakan di warung kakilima jauh lebih enak dan daripada masakan hotel. Apakah chef hotel tidak pernah belajar masakan tradisionil yang bikin kangen itu? Mengapa chef harus mengikuti menu dengan bumbu minimalis?

Dulu Pak Rhenald Kasali pernah membuat tulisan yang mirip dengan keluhan saya di atas, tapi tulisannya tentang nasi goreng di hotel. Baca deh tulisannya ini: Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Memang benar sih, nasi goreng di hotel rasanya kalah jauh dengan nasi goreng masakan pedagang mie tek-tek. Nasi gorengnya saja sudah begitu, apalagi masakan untuk makan siang atau makan malam dengan bumbu yang minimalis. Menurut penilaian saya masakan di hotel mirip dengan masakan pada acara resepsi perkawinan, hambar dan tidak menggugah selera.

Memang tidak semua hotel masakannya kurang enak, ada juga beberapa hotel yang masakannya lumayan enak. Umumnya hotel yang berada di daerah dengan menu masakan tradisionil sesuai daerahnya. Tapi kalau masakan hotel di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, rasanya kurang menggugah selera.


Written by rinaldimunir

October 8th, 2015 at 4:02 pm

Posted in Pengalamanku

Masakan di Hotel Jarang Ada yang Enak

without comments

Saya cukup sering menginap di hotel atau mengikuti acara yang diadakan di hotel. Dari pengalaman menikmati masakan di hotel (sarapan atau jamuan makan siang), saya menyimpulkan masakan di hotel jarang sekali rasanya enak. Hambar dan kurang nendang, nggak mantap dimakan. Bumbunya mungkin hanya berbasis garam dan merica saja.

Coba saja anda lihat sepiring makan siang yang saya ambil pada jamuan makan pada acara konferensi internasional yang diadakan di sebuah hotel berbintang yang cukup ternama di Bandung. Hotel ini merupakan jaringan hotel internasional AS**N yang hotelnya ada di mana-mana. Tapi masakannya? Saya beri nilai 6 saja.

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Menu masakannya berupa fillet ikan digoreng tepung, ayam kecil-kecil goreng tepung, sayur brokoli disiram saus salad, oseng-oseng daging sapi bumbu lada hitam, sambal saos botol. Sama sekali tidak berselera. Tapi karena saya sudah membayar cukup mahal untuk konferensi itu, ya dimakan saja seadanya.

Chef hotel perlu belajar pada tukang mansak di warung-warung kakilima yang ramai pembelinya, mengapa masakan di warung kakilima jauh lebih enak dan daripada masakan hotel. Apakah chef hotel tidak pernah belajar masakan tradisionil yang bikin kangen itu? Mengapa chef harus mengikuti menu dengan bumbu minimalis?

Dulu Pak Rhenald Kasali pernah membuat tulisan yang mirip dengan keluhan saya di atas, tapi tulisannya tentang nasi goreng di hotel. Baca deh tulisannya ini: Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Memang benar sih, nasi goreng di hotel rasanya kalah jauh dengan nasi goreng masakan pedagang mie tek-tek. Nasi gorengnya saja sudah begitu, apalagi masakan untuk makan siang atau makan mala dengan bumbu yang minimalis. Menurut penilaian saya masakan di hotel mirip dengan masakan pada acara resepsi perkawinan, hambar dan tidak menggugah selera.

Memang tidak semua hotel masakannya kurang enak, ada juga beberapa hotel yang masakannya lumayan enak. Umumnya hotel yang berada di daerah dengan menu masakan tradisionil sesuai daerahnya. Tapi kalau masakan hotel di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, rasanya kurang menggugah selera.


Written by rinaldimunir

October 8th, 2015 at 4:02 pm

Posted in Pengalamanku

Kisah Hikmah: Delapan Jam PP Setiap Hari Untuk Mencium Tangan Ibunya

without comments

Tulisan di bawah ini saya dapat dari media sosial. Penulisnya adalah Nasir Azzaini. Isinya membuat saya sungguh terharu. Ini kisah seorang supir taksi yang rela bolak-balik pulang ke rumahnya yang berjarak empat jam perjalanan pergi dan empat jam perjalanan pulang. Pulang hanya untuk menemui ibunya agar ketika pergi bekerja bisa selalu mencium tangan ibunya. Worth it!

Dan dia ingin mengumrohkan ibunya…

Mari muliakan orangtua kita, selagi mereka masih hidup.

~~~~~~~~~~~~~~

(TANPA JUDUL)
Oleh: Jamil Azzaini

Saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.” Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya. (Tulisan Jamil Azzaini, Saturday, 19 September 2015


Written by rinaldimunir

October 6th, 2015 at 11:25 am

Posted in Kisah Hikmah

Kisah Hikmah: Delapan Jam PP Setiap Hari Untuk Mencium Tangan Ibunya

without comments

Tulisan di bawah ini saya dapat dari media sosial. Penulisnya adalah Nasir Azzaini. Isinya membuat saya sungguh terharu. Ini kisah seorang supir taksi yang rela bolak-balik pulang ke rumahnya yang berjarak empat jam perjalanan pergi dan empat jam perjalanan pulang. Pulang hanya untuk menemui ibunya agar ketika pergi bekerja bisa selalu mencium tangan ibunya. Worth it!

Dan dia ingin mengumrohkan ibunya…

Mari muliakan orangtua kita, selagi mereka masih hidup.

~~~~~~~~~~~~~~

(TANPA JUDUL)
Oleh: Jamil Azzaini

Saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.” Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya. (Tulisan Jamil Azzaini, Saturday, 19 September 2015


Written by rinaldimunir

October 6th, 2015 at 11:25 am

Posted in Kisah Hikmah

Menggendong Ibunya Kemana-mana Selama Ibadah Haji Tahun 2015

without comments

Haji Badri (53 tahun) mungkin tipikal anak yang sholeh dan berbakti pada orangtuanya. Pada musim haji tahun 2015 ini, dia menggendong ibunya kemana-mana selama di Tanah Suci. Tak pernah sekalipun dia merasa lelah baik di Madinah, Mekah, maupun di Arafah, Mina , dan Mudzdalifah (beritanya baca di sini).

Haji Badri (53 tahun) menggendong ibunya kemana-mana selama musim haji tahun 2015

Haji Badri (53 tahun) menggendong ibunya kemana-mana selama musim haji tahun 2015

Sebenarnya bisa saja Badri menggunakan kursi roda untuk ibunya, namun dia tidak mau. Dia ingin menggendong ibunya terus, mungkin sebagai bentuk sayang dan bentuk bakti kepada ibunya yang sudah sepuh.

Apa yang dilakukan Haji Badri ini mengingatkan kita pada apa yang dilakukan oleh seorang pemuda pada zaman Nabi Muhammad yang bernama Uwais. Uwais adalah seorang seorang penduduk desa Al-qarni di Yaman yang menggendong ibunya selama melaksanakan rukun haji pada zaman itu.

Dikutip dari akun facebook Oki Murazza, Uwais Al Qarni sendiri adalah seseorang yang tidak dikenal di desanya, desa Qarn dari Suku Murad di Yaman. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri tidak pernah bertemu beliau. Tapi menariknya, Rasul berpesan kepada Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu bahwa jika nanti Umar bertemu Uwais, maka mintalah didoakan sebab ia adalah hamba Allah yang makbul doanya.

Bisa dibayangkan tingginya derajat Uwais, seorang yang tidak dikenal di bumi, tapi namanya harum di langit. Bahkan kemudian, Umar, pemimpin besar penakluk dua imperium besar; Ar Rum dan Parsi, merasa perlu untuk didoakan.

Semoga Haji Badri menjadi haji yang mabrur dan kesholehannya dibalas dengan syurga jannatun naim. Amin.

Moral dari cerita ini adalah selama orangtua anda masih hidup, berbaktilah kepada mereka. Setelah mereka tidak ada lagi di dunia ini, barulah timbul rasa penyesalan kenapa dulu sibuk sehingga kurang memperhatikan dan berbakti kepada mereka.


Written by rinaldimunir

October 1st, 2015 at 4:44 pm

Posted in Agama

Menggendong Ibunya Kemana-mana Selama Musim Haji Tahun 2015

without comments

Haji Badri (53 tahun) mungkin tipikal anak yang sholeh dan berbakti pada orangtuanya. Pada musim haji tahun 2015 ini, dia menggendong ibunya kemana-mana selama di Tanah Suci. Tak pernah sekalipun dia merasa lelah baik di Madinah, Mekah, maupun di Arafah, Mina , dan Mudzdalifah (beritanya baca di sini).

Haji Badri (53 tahun) menggendong ibunya kemana-mana selama musim haji tahun 2015

Haji Badri (53 tahun) menggendong ibunya kemana-mana selama musim haji tahun 2015

Sebenarnya bisa saja Badri menggunakan kursi roda untuk ibunya, namun dia tidak mau. Dia ingin menggendong ibunya terus, mungkin sebagai bentuk sayang dan bentuk bakti kepada ibunya yang sudah sepuh.

Apa yang dilakukan Haji Badri ini mengingatkan kita pada apa yang dilakukan oleh seorang pemuda pada zaman Nabi Muhammad yang bernama Uwais. Uwais adalah seorang seorang penduduk desa Al-qarni di Yaman yang menggendong ibunya selama melaksanakan rukun haji pada zaman itu.

Dikutip dari akun facebook Oki Murazza, Uwais Al Qarni sendiri adalah seseorang yang tidak dikenal di desanya, desa Qarn dari Suku Murad di Yaman. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri tidak pernah bertemu beliau. Tapi menariknya, Rasul berpesan kepada Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu bahwa jika nanti Umar bertemu Uwais, maka mintalah didoakan sebab ia adalah hamba Allah yang makbul doanya.

Bisa dibayangkan tingginya derajat Uwais, seorang yang tidak dikenal di bumi, tapi namanya harum di langit. Bahkan kemudian, Umar, pemimpin besar penakluk dua imperium besar; Ar Rum dan Parsi, merasa perlu untuk didoakan.

Semoga Haji Badri menjadi haji yang mabrur dan kesholehannya dibalas dengan syurga jannatun naim. Amin.

Moral dari cerita ini adalah selama orangtua anda masih hidup, berbaktilah kepada mereka. Setelah mereka tidak ada lagi di dunia ini, barulah timbul rasa penyesalan kenapa dulu sibuk sehingga kurang memperhatikan dan berbakti kepada mereka.


Written by rinaldimunir

October 1st, 2015 at 4:44 pm

Posted in Agama