if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2015

Hujan Turun pada Saat Shalat Istisqa

without comments

Linimasa pengguna fesbuk kemarin mendapat kiriman foto yang membahagiakan sekaligus menandakan kebesaran Allah SWT. Hujan yang sudah lama ditunggu untuk mengusir kabut asap yang menyelimuti Bumi Lancang Kuning (julukan Provinsi Riau) akhirnya turun tepat pada saat sholat istisqa atau sholat minta hujan. FYI, sholat istisqa adalah sholat sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk meminta kepaad Allah agar diturunkan hujan.

Bumi Indonesia dilanda kekeringan di mana-mana. Kemarau panjang yang sudah berlangsung berbulan-bulan membuat udara sangat panas, kering kerontang, dan sulit mendapatkan air. Penderitaan saudara-saudara kita di belahan propinsi lain lebih parah lagi, mereka dikepung asap pekat selama berbulan-bulan sebagai akibat kebakaran hutan yang tak kunjung padam. Hanya hujan deras yang cukup lama yang dapat mengusir asap tersebut sekaligus mamadamkan api kebakaran hutan dan lahan gambut.

Sudah banyak ummat Islam di mana-mana melaksanakan sholat minta hujan. Namun, tampaknya tidak semua sholat istisqa itu dikabulkan oleh Tuhan. Setelah sholat istisqa dan berdoa tidak ada tanda-tanda hujan bakal turun setelah ditunggu sehari, dua hari, dan seterusnya. Mungkin Allah SWT belum berkenan mengabulkan permintaan ummat-Nya, mungkin ummat-Nya banyak melakukan perbuatan maksiat sehingga doa belum dikabulkan. Wallahu alam, turunnya hujan dan rezeki adalah kehendak Allah, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.

Namun, foto yang dikirim Icoet Manessa di Riau ini sangat membahagiakan sekaligus mengharukan. Tampak murid-murid SMA Negeri Tanah Merah, Riau, sedang khusyu’ melaksanakan sholat istisqa di halaman sekolah. Dan… subhanallah, hujan pun turun tepat pada saat mereka melaksanakan sholat istisqa. Meskipun hujan turun terlihat tidak terlalu deras (tampak dari foto), namun murid-murid dan guru-guru yang sedang sholat tetap bergeming. Mereka tetap khusyu’ meneruskan sholat sampai selesai.

istisqa1

istisqa2

istisqa3

istisqa4

Semua foto di atas diunduh dari akun Icoet Manessa.

Setidaknya doa murid-murud dan guru-guru yang sedang sholat istisqa itu di-ijabah (didengar dan dikabulkan) oleh Allah SWT. Di-ijabahnya doa dan sholat istisqa tersebut bisa menjadi indikasi bahwa Allah SWT masih memperhatikan ummat-Nya. Tentu saja di-ijabahnya solat istisqa itu makin menambah ketaqwaan dan keimanan kepada-Nya.

Semoga hujan yang tutun di Bumi Lancang Kuning adalah hujan yang membawa berkah, dan menular ke daerah-daerah lainnya di Indonesia yang menanti hujan.


Written by rinaldimunir

October 28th, 2015 at 12:08 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Hujan Turun pada Saat Shalat Istisqa

without comments

Linimasa pengguna fesbuk kemarin mendapat kiriman foto yang membahagiakan sekaligus menandakan kebesaran Allah SWT. Hujan yang sudah lama ditunggu untuk mengusir kabut asap yang menyelimuti Bumi Lancang Kuning (julukan Provinsi Riau) akhirnya turun tepat pada saat sholat istisqa atau sholat minta hujan. FYI, sholat istisqa adalah sholat sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk meminta kepaad Allah agar diturunkan hujan.

Bumi Indonesia dilanda kekeringan di mana-mana. Kemarau panjang yang sudah berlangsung berbulan-bulan membuat udara sangat panas, kering kerontang, dan sulit mendapatkan air. Penderitaan saudara-saudara kita di belahan propinsi lain lebih parah lagi, mereka dikepung asap pekat selama berbulan-bulan sebagai akibat kebakaran hutan yang tak kunjung padam. Hanya hujan deras yang cukup lama yang dapat mengusir asap tersebut sekaligus mamadamkan api kebakaran hutan dan lahan gambut.

Sudah banyak ummat Islam di mana-mana melaksanakan sholat minta hujan. Namun, tampaknya tidak semua sholat istisqa itu dikabulkan oleh Tuhan. Setelah sholat istisqa dan berdoa tidak ada tanda-tanda hujan bakal turun setelah ditunggu sehari, dua hari, dan seterusnya. Mungkin Allah SWT belum berkenan mengabulkan permintaan ummat-Nya, mungkin ummat-Nya banyak melakukan perbuatan maksiat sehingga doa belum dikabulkan. Wallahu alam, turunnya hujan dan rezeki adalah kehendak Allah, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.

Namun, foto yang dikirim Icoet Manessa di Riau ini sangat membahagiakan sekaligus mengharukan. Tampak murid-murid SMA Negeri Tanah Merah, Riau, sedang khusyu’ melaksanakan sholat istisqa di halaman sekolah. Dan… subhanallah, hujan pun turun tepat pada saat mereka melaksanakan sholat istisqa. Meskipun hujan turun terlihat tidak terlalu deras (tampak dari foto), namun murid-murid dan guru-guru yang sedang sholat tetap bergeming. Mereka tetap khusyu’ meneruskan sholat sampai selesai.

istisqa1

istisqa2

istisqa3

istisqa4

Semua foto di atas diunduh dari akun Icoet Manessa.

Setidaknya doa murid-murud dan guru-guru yang sedang sholat istisqa itu di-ijabah (didengar dan dikabulkan) oleh Allah SWT. Di-ijabahnya doa dan sholat istisqa tersebut bisa menjadi indikasi bahwa Allah SWT masih memperhatikan ummat-Nya. Tentu saja di-ijabahnya solat istisqa itu makin menambah ketaqwaan dan keimanan kepada-Nya.

Semoga hujan yang tutun di Bumi Lancang Kuning adalah hujan yang membawa berkah, dan menular ke daerah-daerah lainnya di Indonesia yang menanti hujan.


Written by rinaldimunir

October 28th, 2015 at 12:08 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Ketika Hutan Berubah Menjadi Azab

without comments

Indonesia dikenal dunia memiliki banyak hutan tropis. Pulau Kalimantan dinyatakan sebagai paru-paru dunia, karena di sanalah terdapat lahan hutan tropis yang terbesar di dunia. Hutan-hutan yang masih perawan, bahkan sinar matahari saja sampai tidak bisa menembus ke dalam hutan saking lebatnya.

Dahulu kita begitu bangga memiliki negara dengan hutan yang luas dengan keanekaragaman fauna dan flora di dalamnya, tetapi kebangggan itu sebentar lagi akan redup, karena hutan-hutan telah digunduli oleh manusia rakus. Tidak hanya ditebang pohonnya, tetapi dibakar! Hutan dibakar supaya lebih banyak mendapat lahan untuk dijadikan perkebunan, utamanya kebun sawit. Ajaib, habis bakar terbitlah sawit.

Habis bakar, terbitlah sawit. (Sumber; @Sutopp_BNPB)

Habis bakar, terbitlah sawit. (Sumber; @Sutopp_BNPB)

Sekarang alam menunjukkan azabnya kepada manusia Indonesia akibat ulah kerakusan sebagian manusianya. Indonesia saat ini dikepung oleh asap kebakaran hutan. Jutaan orang di Sumatera dan Kalimantan terpapar asap. Kota-kota dan kabupaten di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, sudah berbulan-bulan ditutup asap yang semakin pekat. Sekolah diliburkan sudah lebih dari sebulan lamanya, bandara ditutup karena pesawat tidak bisa mendarat. Tidak hanya itu, sudah puluhan balita meninggal karena paru-parunya menjadi hitam dipenuhi asap. Sementara ratusan ribu orang terkena ISPA.

Foto satelit, penampakan asap di atas Pulau Sumatera dan Kalimantan. Mengerikan!

Foto satelit, penampakan asap di atas Pulau Sumatera dan Kalimantan. Mengerikan!

Lihatlah video di Youtube yang memperlihatkan dampak fatal kabut asap pada anak-anak di Palangkaraya.

Meskipun sudah dicoba dipadamkan dengan ribuan ton air, kebakaran hutan tidak juga bisa dipadamkan dengan tuntas. Kalau hanya pohon-pohon yang terbakar tentu tidak terlalu sukar dipadamkan, tetapi jika yang terbakar adalah lahan gambut, maka pemadamannya sangat sulit. Tanah gambut itu tebalnya lebih dari enam meter. Lahan paling atas boleh saja sudah padam, tetapi enam meter ke bawah masih membara. Maka, bagaimana api akan bisa padam jika kondisinya demikian?

Menembus asap (Sumber foto: grup WA)

Menembus asap (Sumber foto: grup WA)

Hutan telah berubah menjadi azab kepada manusia Indonesia. Keserakahan sebagian manusia Indonesia telah membuat jutaan orang lain menderita. Hutan yang hijau yang menjadi penopang kehidupan sudah berubah menjadi penghasil asap yang mematikan. Entah sampai kapan bencana asap ini akan berakhir, hanya hujan deras berhari-hari yang bisa memdamkannya, tetapi hujan belum juga datang. Sementara pemimpin bangsa ini tidak terlihat begitu serius menangani bencana asap. Apakah harus menunggu jatuhnya korban yang lebih banyak supaya bencana asap ini baru bisa dijadikan bencana nasional?


Written by rinaldimunir

October 24th, 2015 at 2:56 pm

Posted in Indonesiaku

Ketika Hutan Berubah Menjadi Azab

without comments

Indonesia dikenal dunia memiliki banyak hutan tropis. Pulau Kalimantan dinyatakan sebagai paru-paru dunia, karena di sanalah terdapat lahan hutan tropis yang terbesar di dunia. Hutan-hutan yang masih perawan, bahkan sinar matahari saja sampai tidak bisa menembus ke dalam hutan saking lebatnya.

Dahulu kita begitu bangga memiliki negara dengan hutan yang luas. tetapi kebangggan itu sebentar lagi akan redup, karena hutan-hutan telah digunduli oleh manusia rakus. Tidak hanya ditebang pohonnya, tetapi dibakar! Hutan dibakar supaya lebih banyak mendapat lahan untuk dijadikan perkebunan, utamanya kebun sawit. Ajaib, habis bakar terbitlah sawit.

Habis bakar, terbitlah sawit. (Sumber; @Sutopp_BNPB)

Habis bakar, terbitlah sawit. (Sumber; @Sutopp_BNPB)

Sekarang alam menunjukkan azabnya kepada manusia Indonesia akibat ulah kerakusan sebagian manusianya. Indonesia saat ini dikepung oleh asap kebakaran hutan. Jutaan orang di Sumatera dan Kalimantan terpapar asap. Kota-kota dan kabupaten di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, sudah berbulan-bulan ditutup asap yang semakin pekat. Sekolah diliburkan sudah lebih dari sebulan lamanya, bandara ditutup karena pesawat tidak bisa mendarat. Tidak hanya itu, sudah puluhan balita meninggal karena paru-parunya menjadi hitam dipenuhi asap. Sementara ratusan ribu orang terkena ISPA.

Foto satelit, penampakan asap di atas Pulau Sumatera dan Kalimantan. Mengerikan!

Foto satelit, penampakan asap di atas Pulau Sumatera dan Kalimantan. Mengerikan!

Lihatlah video di Youtube yang memperlihatkan dampak fatal kabut asap pada anak-anak di Palangkaraya.

Meskipun sudah dicoba dipadamkan dengan ribuan ton air, kebakaran hutan tidak juga bisa dipadamkan dengan tuntas. Kalau hanya pohon-pohon yang terbakar tentu tidak terlalu sukar dipadamkan, tetapi jika yang terbakar adalah lahan gambut, maka pemadamannya sangat sulit. Tanah gambut itu tebalnya lebih dari enam meter. Lahan paling atas boleh saja sudah padam, tetapi enam meter ke bawah masih membara. Maka, bagaimana api akan bsia padam jika kondisinya demikian?

Hutan telah berubah menjadi azab kepada manusia Indonesia. Keserakahan sebagian manusia Indonesia telah membuat jutaan orang lain menderita. Hutan yang hijau yang menjadi penopang kehidupan sudah berubah menjadi penghasil asap yang mematikan. Entah sampai kapan bencana asap ini akan berakhir, hanya hujan deras berhari-hari yang bisa memdamkannya, tetapi hujan belum juga datang. Sementara pemimpin bangsa ini tidak terlihat begitu serius menangani bencana asap. Apakah harus menunggu jatuhnya korban yang lebih banyak supaya bencana asap ini baru bisa dijadikan bencana nasional?


Written by rinaldimunir

October 24th, 2015 at 2:56 pm

Posted in Indonesiaku

Topi Wisuda dan Lagu “Gaudeamus Igitur”

without comments

Baru saja saya membaca sebuah berita tentang mahasiswa Universitas Batam (Uniba) menolak rencana wisuda menggunakan peci sebaga pengganti topi toga (Baca: Mahasiswa Uniba Tolak Wisuda Berpeci). Alasannya, menggunakan peci tidak lazim pada acara wisuda, yang lazim adalah topi toga seperti gambar di bawah ini.

Sekilas penolakan ini terdengar kekanakan, tetapi dapat dimaklumi sebab sesuatu yang sudah pakem jika diubah pastilah menimbulkan pro dan kontra. Saya paham dengan aspirasi mahasiswa Uniba tersebut, mereka tidak ingin tradisi yang sudah berurat berakar selama berabad-abad dalam sejarah wisuda perguruan tinggi tiba-tiba diubah begitu saja. Semoga saja masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Saya teringat kasus yang mirip di ITB pada akhir tahun 1990-an. Di ITB juga pernah terjadi perubahan tradisi wisuda, namun berlangsung mulus tanpa penolakan. Perubahan itu terletak pada lagu “Gaudeamus Igitur” yang digunakan untuk mengiringi masuknya para Guru Besar ke ruang wisuda diganti dengan lagu “Mars ITB”.

Selama bertahun-tahun lagu Gaudeamus Igitur selalu dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB pada setiap acara formal yang menghadirkan para guru besar, seperti pada acara wisuda sarjana, sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru, atau acara Dies ITB. Ketika Rektor dan para Gurubesar berjalan masuk ke ruangan acara, maka paduan suara mahasiswa menyanyikan lagu Gaudeamus tersebut. Saya sendiri pernah menjadi anggota paduan suara mahasiswa ITB ketika menjadi mahasiswa baru dulu. Kami dipilih oleh kakak-kakak senior, lalu selama berhari-hari kami dilatih untuk menyanyikan beberapa lagu, termasuk lagu Gaudeamus yang sakral itu. Pada acara sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru di kampus, kami tampil di depan menyanyikan lagu Gaudeamus dengan bangga.

Seperti apa lagu Gaudeamus itu, silakan klik video Youtube yang memperlihatkan prosesi rektor dan Gurubesar di UI masuk ke ruangan acara wisuda dan disambut dengan lagu Gaudeamus yang dinyanyikan oleh paduan suara mahasiswa baru UI.

Anda juga bisa mendengarkan lagu Gaudeamus Igitur yang pernah dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB dengan mengklik tautan ini.

Saya dan banyak orang saat itu mungkin tidak terlalu mengerti arti lagu Gaudeamus karena liriknya dalam bahasa latin. Namun, jika kita membaca sejarah ternyata lagu Gaudeamus dipakai untuk banyak tujuan, salah satunya sebagai lagu pembuka untuk bersulang minuman wiski/bir/anggur dalam sebuah pesta perayaan. Arti lirik-lirik lagu tersebut cukup mengejutkan. Begini bunyi lirik lagu yang lengkap beserta terjemahannya:

Gaudeamus igitur – Mari kita bersenang-senang
Uvenes dum sumus – Selagi masih muda
Post icundum iuventutem – Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Post molestam senectutem – Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Nos habebit humus – Tanah akan menguasai kita
Vita nostra brevis est – Hidup kita sangatlah singkat
Brevi finietur – Berakhir dengan segera
Venit mors velociter – Maut datang dengan cepat
Rapit nos atrociter – Merenggut kita dengan ganas
Nemini parcetur – Tak seorang pun mampu menghindar
Ubi sint qui ante nos – Kemana orang-orang sebelum kita
In mundo fuere? – Yang pernah hidup di dunia ini?
Vadite ad superos – Terbanglah ke kahyangan
Transite in inferos – Terjunlah ke kawah candradimuka
Hos si vis videre – Bila kau ingin menjumpai mereka
Vivat academia! – Hidup kampusku!
Vivant professores! – Hidup para dosen!
Vivat membrum quodlibet! – Hidup seluruh mahasiswa!
Vivat membra quaelibet! – Hidup seluruh mahasiswi!
Semper sint in flore – Semoga kalian semua akan terus maju
Vivat et republica! – Hidup negaraku!
Et qui illam regit – Dan pemerintahannya
Vivat nostra civitas! – Hidup kota kami!
Maecenatum caritas – Dan kemurahan hati para dermawan
Quae nos hic protegit – Yang telah melindungi kami
Vivant omnes virgines! – Hidup para gadis!
Faciles, formosae – Yang sederhana dan elok
Vivant et mulieres! – Hidup para wanita!
Tenerae, amabiles – Yang lembut dan penuh cinta
Bonae, laboriosae – Jujur, pekerja keras
Pereat tristitia – Enyahlah kesedihan
Pereant osores – Enyahlah kebencian
Pereat diabolus – Enyahlah kejahatan
Quivis antiburschius – Dan siapa pun yg anti perkumpulan mahasiswa
Atque irrisores – Juga mereka yang mencemoh kami
Quis confluxus hodie – Siapa yang sekarang telah berkumpul
Academicorum? – di universitas ini?
E longinquo convenerunt – Sejak lama mereka telah berkumpul
Protinusque successerunt – Dan kemudian bersatu
In commune forum – dalam forum bersama
Vivat nostra societas! – Hidup persahabatan kita!
Vivant studiosi! – Hidup studio!
Crescat una veritas – Semoga kebenaran dan kejujuran tercapai
Floreat fraternitas – Tumbuh bersama perkumpulan kita
Patriae prosperitas – Dan tanah air kita akan sejahtera
Alma Mater floreat – Majulah almamater
Quae nos educavit – Yang telah mendidik kami
Caros et commilitones – Kepada sahabat dan kawan-kawan
Dissitas in regiones – Yang terpisah di berbagai wilayah
Sparsos, congregavit – Mari kita berkumpul

Makna lagu Gaudeamus sendiri sebenarnya cukup dalam, ia berbicara tentang kehidupan hingga kematian. Namun, jika dinyanyikan pada acara wisuda yang formal dan sakral, dan semua yang hadir tidak mengerti artinya, tentu kurang pas juga rasanya. Apalagi ada kesan negatif lagu itu digunakan untuk pengantar bersulang meminum bir, sesuatu yang bukan budaya orang Indonesia.

Pada tahun 1990-an (saya lupa persisnya), ITB mengadakan lomba membuat lagu Mars ITB dan Hymne ITB. ITB belum mempunyai lagu-lagu resmi seperti mars dan hymne. Kelak kedua lagu tersebut akan diperdengarkan pada acara-acara resmi ITB. Lomba lagu terbuka untuk umum. Pemenang lagu “Mars ITB” adalah Yudia Pancaputra, seorang alumnus Teknik Sipil ITB angkatan 1985, teman seangkatan saya juga. Sedangkan pemenang lagu “Hymne ITB” adalah Ibenzani Usman, seorang alumnus Senirupa FSRD ITB (kebetulan putrinya teman satu SMA di Padang).

Begini syair lagu kedua lagu tersebut.

Mars ITB

Derapkan langkah tatap ke depan
ITB citra Ganesha
Curahkan daya kejarlah cita
Bakti pada negara

Siapkan diri, teguhkan hati
Tegarkan tekad pribadi
Langkah dan karya, nyatakan pasti
Dambaan Ibu Pertiwi

Hai putra bangsa insan persada
Tugas mulia menantimu
S’mangat dan tekad kembangkan s’lalu
Sinar terang pasti datang

Kajilah ilmu dan teknologi
Seni dan budaya bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
Capai masa gemilang

Rentangkan sayap, pancarkan cita
Cerdaskan putra negara
Hantarkan bangsa Indonesia
Adil makmur sejahtera

Majulah maju pandu sejati
Almamater yang tercinta
S’moga semakin kukuh dewasa
Tetap jaya dan abadi

Di bawah ini syair lagu “Hymne ITB”

Hymne ITB

Dengan bangga kami seru namamu
Almamater nan jaya ITB tercinta
Besar nian sumbangsihmu bagi negri
Bagi cita nan mulia masyarakat sejahtera

Oh, Tuhan kami mohon
Restu dan petunjukMu
Dalam tugas dan bakti
Pada nusa dan bangsa

Anda dapat mengunduh MP3 lagu “Mars ITB” dan MP3 lagu “Hymne ITB” dengan mengklik tautan pada laman ini, atau bisa juga mendengarkan langsung lagunya di sini dan di sini

Lalu, entah kapan dimulainya (saya lupa tahunnya), akhirnya lagu Gaudeamus Igitur yang selama bertahun-tahun dinyanyikan pada acara wisuda, diganti dengan lagu “Mars ITB”. Klik video Youtube di bawah ini untuk melihat salah satu acara wisuda dengan lagu “Mars ITB” untuk menyambut Rektor dan para Gurubesar masuk ke ruangan wisuda di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB.

Apa alasan penggantian itu, saya kurang tahu persis, tetapi tentu bukan karena alasan lagu Gaudeamus adalah lagu pengantar bersulang minum bir, namun saya pikir karena kampus kami ingin punya ciri khas sendiri dengan lagu karya anak bangsa sendiri yang lebih dipahami artinya, ketimbang menyanyikan lagu asing yang hampir semua orang tidak paham artinya.

Saya suka dengan lagu Mars ITB itu. Lagunya menyiratkan semangat ke depan untuk melangkah dengan pasti memajjukan bangsa Indonesia, sesuai dengan bunyi lirik lagu di atas. Setiap mendengar lagu Mars ITB pada acara-acara resmi ITB, tiba-tiba saja bulu ramang saya berdiri.


Written by rinaldimunir

October 20th, 2015 at 2:39 pm

Posted in Seputar ITB

Topi Wisuda dan Lagu “”Gaudeamus Igitur”

without comments

Baru saja saya membaca sebuah berita tentang mahasiswa Universitas Batam (Uniba) menolak rencana wisuda menggunakan peci sebaga pengganti topi toga (Baca: Mahasiswa Uniba Tolak Wisuda Berpeci). Alasannya, menggunakan peci tidak lazim pada acara wisuda, yang lazim adalah topi toga seperti gambar di bawah ini.

Sekilas penolakan ini terdengar klise, tetapi sesuatu yang sudah pakem jika diubah pastilah menimbulkan pro dan kontra. Saya paham dengan aspirasi mahasiswa Uniba tersebut, mereka tidak ingin tradisi yang sudah berurat berakar selama berabad-abad dalam sejarah wisuda perguruan tinggi tiba-tiba diubah begitu saja. Semoga saja masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Saya teringat kasus yang mirip di ITB pada akhir tahun 1990-an. Di ITB juga pernah terjadi perubahan tradisi wisuda, namun berlangsung mulus tanpa penolakan. Perubahan itu terletak pada “Gaudeamus Igitur” yang digunakan untuk mengiringi masuknya para Guru Besar ke ruang wisuda diganti dengan lagu “Mars ITB”.

Selama bertahun-tahun lagu Gaudeamus Igitur selalu dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB pada setiap acara formal yang menghadirkan para guru besar, seperti pada acara wisuda sarjana, sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru, atau acara Dies ITB. Ketika Rektor dan para Gurubesar masuk ruangan acara, maka paduan suara mahasiswa menyanyikan lagu Gaudeamus tersebut. Saya sendiri pernah menjadi anggota paduan suara mahasiswa ITB ketika menjadi mahasiswa baru dulu. Kami dipilih oleh kakak-kakak senior, lalu selama berhari-hari kami dilatih untuk menyanyikan beberapa lagu, termasuk lagu Gaudeamus yang sakral itu. Pada acara sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru di kampus, kami tampil di depan menyanyikan lagu Gaudeamus dengan bangga.

Seperti apa lagu Gaudeamus itu, silakan klik video Youtube yang memperlihatkan prosesi rektor dan Gurubesar di UI masuk ke ruangan acara wisuda dan disambut dengan lagu Gaudeamus yang dinyanyikan oleh paduan suara mahasiswa baru UI.

Anda juga bisa mendengarkan lagu Gaudeamus Igitur yang pernah dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB dengan mengklik tautan ini.

Saya dan banyak orang saat itu mungkin tidak terlalu mengerti arti lagu Gaudeamus karena liriknya dalam bahasa latin. Namun, jika kita membaca sejarah ternyata lagu Gaudeamus dipakai untuk banyak tujuan, salah satunya sebagai lagu pembuka untuk bersulang minuman wiski/bir/anggur dalam sebuah pesta perayaan. Arti lirik-lirik lagu tersebut cukup mengejutkan. Begini bunyi lirik lagu yang lengkap beserta terjemahannya:

Gaudeamus igitur – Mari kita bersenang-senang
Uvenes dum sumus – Selagi masih muda
Post icundum iuventutem – Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Post molestam senectutem – Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Nos habebit humus – Tanah akan menguasai kita
Vita nostra brevis est – Hidup kita sangatlah singkat
Brevi finietur – Berakhir dengan segera
Venit mors velociter – Maut datang dengan cepat
Rapit nos atrociter – Merenggut kita dengan ganas
Nemini parcetur – Tak seorang pun mampu menghindar
Ubi sint qui ante nos – Kemana orang-orang sebelum kita
In mundo fuere? – Yang pernah hidup di dunia ini?
Vadite ad superos – Terbanglah ke kahyangan
Transite in inferos – Terjunlah ke kawah candradimuka
Hos si vis videre – Bila kau ingin menjumpai mereka
Vivat academia! – Hidup kampusku!
Vivant professores! – Hidup para dosen!
Vivat membrum quodlibet! – Hidup seluruh mahasiswa!
Vivat membra quaelibet! – Hidup seluruh mahasiswi!
Semper sint in flore – Semoga kalian semua akan terus maju
Vivat et republica! – Hidup negaraku!
Et qui illam regit – Dan pemerintahannya
Vivat nostra civitas! – Hidup kota kami!
Maecenatum caritas – Dan kemurahan hati para dermawan
Quae nos hic protegit – Yang telah melindungi kami
Vivant omnes virgines! – Hidup para gadis!
Faciles, formosae – Yang sederhana dan elok
Vivant et mulieres! – Hidup para wanita!
Tenerae, amabiles – Yang lembut dan penuh cinta
Bonae, laboriosae – Jujur, pekerja keras
Pereat tristitia – Enyahlah kesedihan
Pereant osores – Enyahlah kebencian
Pereat diabolus – Enyahlah kejahatan
Quivis antiburschius – Dan siapa pun yg anti perkumpulan mahasiswa
Atque irrisores – Juga mereka yang mencemoh kami
Quis confluxus hodie – Siapa yang sekarang telah berkumpul
Academicorum? – di universitas ini?
E longinquo convenerunt – Sejak lama mereka telah berkumpul
Protinusque successerunt – Dan kemudian bersatu
In commune forum – dalam forum bersama
Vivat nostra societas! – Hidup persahabatan kita!
Vivant studiosi! – Hidup studio!
Crescat una veritas – Semoga kebenaran dan kejujuran tercapai
Floreat fraternitas – Tumbuh bersama perkumpulan kita
Patriae prosperitas – Dan tanah air kita akan sejahtera
Alma Mater floreat – Majulah almamater
Quae nos educavit – Yang telah mendidik kami
Caros et commilitones – Kepada sahabat dan kawan-kawan
Dissitas in regiones – Yang terpisah di berbagai wilayah
Sparsos, congregavit – Mari kita berkumpul

Makna lagu Gaudeamus terasa cukup dalam, ia berbicara tentang kehidupan hingga kematian. Namun, jika dinyanyikan pada acara wisuda yang formal dan sakral, dan semua yang hadir tidak mengerti artinya, tentu kurang pas juga rasanya. Apalagi ada kesan negatif lagu itu digunakan untuk pengantar bersulang meminum bir, sesuatu yang bukan budaya orang Indonesia.

Pada tahun 1990-an (saya lupa persisnya), ITB mengadakan lomba membuat lagu Mars ITB dan Hymne ITB. ITB belum mempunyai lagu-lagu resmi seperti mars dan hymne. Kelak kedua lagu tersebut akan diperdengarkan pada acara-acara resmi ITB. Lomba lagu terbuka untuk umum. Pemenang lagu “Mars ITB” adalah Yudia Prapanca, seorang alumnus Teknik Sipil ITB angkatan 1985, teman seangkatan saya juga. Sedangkan pememang lagu “Hymne ITB” adalah Ibenzani Usman, seorang alumnus Senirupa FSRD ITB (kebetulan putrinya teman satu SMA di Padang).

Begini syair lagu kedua lagu tersebut.

Mars ITB

Derapkan langkah tatap ke depan
ITB citra Ganesha
Curahkan daya kejarlah cita
Bakti pada negara

Siapkan diri, teguhkan hati
Tegarkan tekad pribadi
Langkah dan karya, nyatakan pasti
Dambaan Ibu Pertiwi

Hai putra bangsa insan persada
Tugas mulia menantimu
S’mangat dan tekad kembangkan s’lalu
Sinar terang pasti datang

Kajilah ilmu dan teknologi
Seni dan budaya bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
Capai masa gemilang

Rentangkan sayap, pancarkan cita
Cerdaskan putra negara
Hantarkan bangsa Indonesia
Adil makmur sejahtera

Majulah maju pandu sejati
Almamater yang tercinta
S’moga semakin kukuh dewasa
Tetap jaya dan abadi

Di bawah ini syair lagu “Hymne ITB”

Hymne ITB

Dengan bangga kami seru namamu
Almamater nan jaya ITB tercinta
Besar nian sumbangsihmu bagi negri
Bagi cita nan mulia masyarakat sejahtera

Oh, Tuhan kami mohon
Restu dan petunjukMu
Dalam tugas dan bakti
Pada nusa dan bangsa

Anda dapat mengunduh MP3 lagu “Mars ITB” dan MP3 lagu “Hymne ITB” dengan mengklik tautan pada laman ini, atau bisa juga mendengarkan langsung lagunya di sini dan di sini

Lalu, entah kapan dimulainya (saya lupa tahunnya), akhirnya lagu Gaudeamus Igitur yang selama bertahun-tahun dinyanyikan pada acara wisuda, diganti dengan lagu “Mars ITB”. Klik video Youtube di bawah ini untuk melihat salah satu acara wisuda dengan lagu “Mars ITB” untuk menyambut Rektor dan para Gurubesar masuk ke ruangan wisuda di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB.

Apa alasan penggantian itu, saya kurang tahu persis, tetapi tentu bukan karena alasan lagu Gaudeamus adalah lagu pengantar bersulang minum bir, namun saya pikir karena kampus kami ingin punya ciri khas sendiri dengan lagu karya anak bangsa sendiri yang lebih dipahami artinya, ketimbang menyanyikan lagu asing yang hampir semua orang tidak paham artinya.

Saya suka dengan lagu Mars ITB itu. Lagunya menyiratkan semangat ke depan untuk melangkah dengan pasti memajjukan bangsa Indonesia, sesuai dengan bunyi lirik lagu di atas. Setiap mendengar lagu Mars ITB pada acara-acara resmi ITB, tiba-tiba saja bulu ramang saya berdiri.


Written by rinaldimunir

October 20th, 2015 at 2:39 pm

Posted in Seputar ITB

Hampir Semua Partai itu Korup

without comments

Pepatah yang mengatakan bahwa kekuasaan itu cenderung korup sukar untuk dibantah. Penetapan tersangka korupsi oleh KPK kepada Sekjen Partai Nasdem, Rio Patrice Capella, salah satu partai yang berkuasa saat ini, membuktikan pepatah tadi. Godaan uang membuat politisi gelap mata, dan akhirnya silap.

Kepercayaan rakyat kepada partai politik sebenarnya sudah memasuki titik terendah. partai politik tidak dapat dipercaya, karena partai politik tidak bebas dari perilaku korupsi, tidak peduli itu partai berlandaskan agama maupun partai nasionalis. Sama saja kelakuan kadernya, mudah tergoda untuk melakukan perbuatan korupsi. Ada dugaan bahwa koruptor berlindung pada parpol untuk menutupi perilakunya. Indikasinya, parpol-parpol yang mendukung revisi UU KPK adalah parpol-parpol yang kadernya melakukan korupsi (PDIP, Nasdem, Hanura, dll).

Padahal partai-partai itu selama ini mendengung-dengungkan slogan yang terdengar indah dibaca. Ingat slogan “Katakan tidak pada korupsi”? Itu adalah bunyi slogan Partai Demokrat. Faktanya? Kader-kader partainya ternyata terlibat korupsi. “Restorasi Indonesia”, ingat slogan itu? Ya, itu adalah slogan Partai yang baru berumur setahun jagung, Partai Nasdem. Faktanya? Kadernya korupsi juga. Ah, barangkali sebelum merestorasi Indonesia, partai tersebut sebaiknya merestorasi kadernya terlebih dulu.

Slogan-slogan partai politik adalah slogan kosong yang tak bermakna, termasuk juga slogan revolusi mental dari Pemerintahan Jokowi. Tujuannya cuma untuk menarik simpati massa, seakan-akan mereka partai yang bersih dan peduli rakyat, tetapi nyatanya slogan-slogan itu hampa belaka, manis di mulut tetapi busuk di dalam. Akhirnya rakyat juga yang tertipu.

Jadi, bagaimana bangsa ini mau bangkit dari keterpurukan jika perilaku para elitnya ternyata masih jauh dari harapan.


Written by rinaldimunir

October 18th, 2015 at 8:09 pm

Posted in Indonesiaku

Hampir Semua Partai itu Korup

without comments

Pepatanh yang mengatakan bahwa kekuasan itu cenderung korup sukar untuk dibantah. Penetapan tersangka korupsi kepada Sekjen Partai Nasdem, Rio Patrice Capella, salah satu partai yang berkuasa saat ini, membuktikan pepatah tadi. Godaan uang membuat politisi gelap mata, dan akhirnya silap.

Kepercayaan rakyat kepada partai politik sudah memasuki titik terendah. Partai politik tidak bebas dari perilaku korupsi, tidak peduli itu partai berlandaskan agama maupun partai nasionalis. Sama saja kelakuan kadernya, mudah tergoda untuk melakukan perbuatan korupsi.

Padahal partai-partai itu mendengung-dengungkan slogan yang terdengar indah. Katakan tidak pada korupsi, itu bunyi slogan Partai Demokrat. Faktanya? Kader partainya ternyata terlibat korupsi. Restorasi Indonesia, itu slogan Partai yang baru berumur setahun jagung, Partai Nasdem. Faktanya? Kadernya korupsi juga. Barangkali sebelum merestorasi Indonesia, partai tersebut sebaiksnya merestorasi kadernya terlebih dulu.

Slogan-slogan partai politik adalah slogan kosong tak bermakna. Tujuannya cuma untuk menarik simpati massa, tetapi seperti yang saya katakan semuanya slogan kosong belaka, manis di mulut tetapi busuk di dalam. Akhirnya rakyat juga yang tertipu.

Jadi, bagaimana bangsa ini mau bangkit dari keterpurukan jika perilaku para elitnya ternyata masih jauh dari harapan.


Written by rinaldimunir

October 18th, 2015 at 8:09 pm

Posted in Indonesiaku

Jokowers vs Haters

without comments

Pilpres 2014 sudah lama berlalu, tetapi “perang dingin” antara kelompok pendukung Jokowi dan kelompok yang dulu mendukung Prabowo tampaknya masih belum padam. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari komentar-komentar di media sosial atau media daring setiap kali ada isu atau berita yang menyangkut kinerja Presiden RI, Joko Widodo. Dari komentar-komentar itu kita dapat membaca apakah seorang netizen merupakan pendukung Jokowi atau tidak-penyuka Jokowi.

Netizen yang sering atau selalu membela Jokowi, baik membela kinerja maupun kebijakannya, diistilahkan dengan sebutan Jokower. Jokower ini ada pula kelas-kelasnya, baik pendukung yang membabi buta (fanatik) yang selalu mendukung apapun yang dilakukan Jokowi, tak peduli kebijakan itu berlawanan dengan opini umum seperti kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM, keputusan Jokowi mengangkat pejabat Polri yang terindikasi korupsi, dan lain-lain. Tetapi ada pula Jokower yang moderat yang dulu pendukung Jokowi ketika Pilpres, tetapi saat ini tetap memiliki sisi obyektifitas untuk selalu kritis jika kebijakan Jokowi dianggap kurang elegan. Selain kedua kelas tadi ada pula kelompok Jokower yang dulu memilih Jokowi ketika Pilpres namun sekarang lebih banyak memilih diam atau tidak berkomentar ketika kinerja Jokowi tampak mengecewakan.

Para netizen yang dulu mendukung Prabowo dan sekarang selalu memandang negatif Jokowi diistilahkan oleh netizen dengan sebutan haters. Istilah haters ini sebenarnya kurang tepat karena terlalu menyederhanakan, namun sudah terlanjur dipakai kepada pihak yang mengkritisi Jokowi. Padahal, netizen yang mengkritisi Jokowi belum tentu seorang pembenci (haters) pak Jokowi, atau belum tentu juga dulu ketika Pilpres dia pemilih Prabowo. Boleh jadi dia melihat ada kebijakan Jokowi yang salah atau kurang tepat, lalu mengomentari dengan pendapatnya. Tapi naas, para Jokower yang fanatik dengan cepat melabeli si pengkritik ini sebagai haters, lengkap dengan tudingan seperti “belum move on“, “belum ikhlas”, atau yang paling menyebalkan “jika tidak mau dipimpin oleh Jokowi, pindah saja ke negara lain”.

Di musim asap kebakaran hutan yang melanda Sumatera dan Kalimantan saat ini, Jokowi menjadi sasaran tumpahan amarah dan kekesalan orang-orang yang tidak menyukainya. Bagi haters, Jokowi dianggap hanya bisa blusukan melihat-lihat kebakaran hutan, difoto lalu disebarkan oleh media pendukung, tanpa ada solusi yang konkrit bagaimana memadamkan kebakaran yanga asapnya telah membuat tepar warga di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Jokowi dianggap hanya melakukan pencitraan semata, begitu kata kelompok yang disebut haters itu. Jokower yang marah dengan komentar haters tersebut langsung memberi tanggapan yang beragam yang sifatnya membela tindakan Jokowi.

Selain keprihatinan tentang asap, femonena terpuruknya rupiah terhadap dolar juga menjadi amunisi untuk “menyerang” Jokowi. Perlambatan ekonomi yang diakibatkan keterpurukan rupiah dianggap sebagai kegagalan Jokowi. Bisa ditebak bahwa meroketnya dolar itu menjadi ajang perseteruan berikutnya antara Jokower dan haters. Sebagian haters yang ekstrim mungkin ada yang berharap rupiah semakin terus terpuruk sehingga krisis ekonomi yang membayang menjadi kejatuhan Pemerintah (seperti kejatuhan Soeharto tahun 1998) akan terulang kembali. Tentu kekacauan yang timbul akibat krisis ekonomi ini sama sekali tidak kita inginkan. Haters yang model begini tidak diharapkan, sebab keinginanya hanya menyengsarakan rakyat saja.

Sekarang rupiah sudah mulai membaik terhadap dolar, para Jokower tentu gembira, rakyat juga gembira, namun sebagian haters mengatakan bahwa membaiknya rupiah adalah karena faktor eksternal, bukan karena kebijakan Jokowi. Haters yang lain memilih diam saja. Menurut saya, suka atau tidak, membaiknya nilai rupiah adalah karena sentimen positif yang disebabkan faktor eksternal dan faktor internal. Harus diakui ada faktor kebijakan Pemerintah Jokowi di dalamnya, selain peran Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter .

Dikaitkan dengan peta politik di DKI, pendukung Jokowi umumnya juga adalah Ahoker alias pendukung Ahok yang sekarang menjadi Gubernur DKI. Jokowi dan Ahok dulu ketika Pilkada DKI memang satu paket, maka pendukung Jokowi secara implisit juga adalah pendukung Ahok (yang akan mencalonkan diri lagi menjadi Gubernur DKI). Sebaliknya, kelompok yang disebut haters itu pada umumnya juga tidak menyukai Ahok. Jadi, makin serulah perang dingin antara Jokower (dan juga Ahoker) dengan haters di dunia maya.

Namun, kita juga tidak boleh melupakan silent majority, yaitu kelompok masyarakat yang tidak mau diidentifikasi sebagai Jokower atau haters. Mereka adalah kelompok yang di tengah-tengah yang lebih banyak diam tak bersuara, tidak peduli, tidak suka politik, atau tidak mau ambil pusing. Mereka ini jumlah suaranya sangat besar, dan nanti akan diperebutkan setiap ada Pilkada atau Pemilihan Umum.

Fenomena Jokower vs haters akan selalu kita rasakan sampai akhir kepemimpinan Jokowi. Mereka akan selalu ada dan meramaikan lalu lintas silang sengketa di dunia maya. Baik Jokower maupun haters memiliki media pendukung masing-masing. Sebagian media arus utama cenderung menjadi bumper Jokowi, baik disampaikan secara mulu-malu atau terang-terangan. Sebagian media arus utama yang lain menjadi media rujukan para haters karena sifat pemberitaanya yang cenderung kritis terhadap Jokowi, namun tetap malu-malu atau terang-terangan menampakkan diri sebagai media penentang Jokowi, karena terlalu beresiko.

Apakah fenomena Jokower vs haters ini baik? Jawabannya bergantung pada cara melihatnya. Bisa baik jika perbedaan pendapat itu dianggap wajar saja sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. Baik Jokower maupun haters anggap saja sebagai dua kelompok yang saling menyeimbang. Mendiamkan saja atau mengaminkan saja terhadap semua yang dilakukan Jokowi jelas kondisi tidak baik, ada sesuatu yang salah jika semua orang diam saja pertanda setuju. Dengan adanya suara haters maka Jokowi bisa menjadikan pendapat haters sebagai cermin untuk memperbaiki kinerja, melecut diri untuk lebih baik lagi melayani rakyat negeri ini. Menjadi tokoh publik memang harus siap dikritisi dan dinilai segala gerak geriknya. Itu sudah resiko. Sebaliknya keberadaan Jokower juga menjadi semacam dukungan bahwa Jokowi tidak sendirian. Dia masih punya pendukung setia.

Di sisi lain, perseteruan antara Jokower dengan haters bisa menjadi pertanda tidak baik jika menjurus pada fitnah. Menyebarkan berita yang tanpa dasar, hoax, atau berita yang mengandung ketidakbenaran oleh masing-masing kedua kubu hanya akan memperkeruh suasana dan membuat perpecahan bangsa ini pasca Pilpres makin parah.

Sikap terbaik bagi kita adalah menyikapi dengan bijak apapun yang dilakukan Pemerintah. Jika baik ya didukung, jika tidak baik ya disampaikan saja uneg-unegnya. Jokowi adalah presiden RI yang sah, maka kita punya kewajiban mendukungnya dan mengkritisnya, terlepas kita dulu memilihnya atau tidak. Baik Jokower maupun haters seharusnya tidak perlu sampai buta mata dan buta hati. Lihatlah dengan kacamata yang obyektif dan adil.


Written by rinaldimunir

October 12th, 2015 at 10:11 am

Posted in Indonesiaku

Jokowers vs Haters

without comments

Pilpres 2014 sudah lama berlalu, tetapi api perseteruan antara kelompok pendukung Jokowi dan kelompok yang dulu mendukung Prabowo tampaknya masih belum padam. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari komentar-komentar di media sosial atau media daring setiap kali ada isu atau berita yang menyangkut kinerja Presiden RI, Joko Widodo. Dari komentar-komentar itu kita dapat membaca apakah seorang netizen merupakan pendukung Jokowi atau dia adalah para tidak penyuka Jokowi.

Netizen yang sering atau selalu membela Jokowi, baik membela kinerja maupun kebijakannya, diistilahkan dengan Jokower. Jokower ini ada pula kelas-kelasnya, baik pendukung yang membabi buta (fanatik) yang selalu mendukung apapun yang dilakukan Jokowi, tak peduli kebijakan itu berlawanan dengan opini umum seperti kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM, keputusan Jokowi mengangkat pejabat Polri yang terindikasi korupsi, dan lain-lain. Tetapi ada pula Jokower yang moderat yang memang pendukung Jokowi ketika Pilpres, tetapi tetap memiliki sisi obyektifitas untuk selalu kritis jika kebijakan Jokowi dianggap kurang elegan. Selain kedua kelas tadi ada pula kelompok Jokower yang dulu memilih Jokowi ketika Pilpres namun sekarang lebih banyak memilih diam atau tidak berkomentar ketika kinerja Jokowi tampak mengecewakan.

Para netizen yang dulu pendukung Prabowo dan sekarang selalu memandang negatif tentang Jokowi diistilahkan oleh netizen dengan sebutan haters. Istilah haters ini sebenarnya kurang tepat karena terlalu menyederhanakan. Orang yang sering atau mengkritisi Jokowi belum tentu seorang pembenci (haters) pak Jokowi, atau belum tentu juga dulu ketika Pilpres dia pemilih Prabowo. Boleh jadi dia melihat ada kebijakan Jokowi yang salah atau kurang tepat, lalu mengomentari dengan pendapatnya. Tapi naas, para Jokower yang fanatik dengan cepat melabeli si pengkritik ini sebagai haters, lengkap dengan tudingan seperti “belum move on“, “belum ikhlas”, atau yang paling menyebalkan “jika tidak mau dipimpin oleh Jokowi, pindah saja ke negara lain”.

Di musim asap kebakaran hutan yang melanda Sumatera dan Kalimantan saat ini, Jokowi menjadi sasaran tumpahan amarah dan kekesalan orang-orang yang tidak menyukainya. Bagi haters, Jokowi dianggap hanya bisa blusukan melihat-lihat kebakaran hutan, lalu difoto dan disebarkan ke media, tanpa ada solusi yang konkrit bagaimana memadamkan kebakaran yanga sapnya telah membuat tepar warga di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Jokowi dianggap hanya melakukan pencitraan semata. Jokower yang marah dengan komentar haters tersebut langsung memberi tanggapan yang beragam yang sifatnya membela tindakan Jokowi.

Selain keprihatinan tentang asap, femonena terpuruknya rupiah terhadap dolar juga menjadi isu untuk “menyerang” Jokowi. Perlambatan ekonomi yang diakibatkan keterpurukan rupiah dianggap sebagai kegagalan Jokowi. Bisa ditebak bahwa meroketnya dolar itu menjadi ajang perseteruan berikutnya antara Jokower dan haters. Sebagian haters yang ekstrim mungkin ada yang berharap rupiah semakin terus terpuruk sehingga krisis ekonomi yang membayang menjadi kejatuhan Pemerintah (seperti kejatuhan Soeharto tahun 1998) akan terulang kembali. Tentu kekacauan yang timbul akibat krisis ekonomi ini sama sekali tidak kita harapkan. Haters yang model begini tidak diharapkan, sebab keinginanya hanya menyengsarakan rakyat saja.

Sekarang rupiah sudah mulai membaik terhadap dolar, para Jokower tentu gembira, tentu rakyat juga gembira, namun sebagian haters mengatakan bahwa membaiknya rupiah adalah karena faktor eksternal, bukan karena kebijakan Jokowi. Haters yang lain memilih diam saja. Suka atau tidak, membaiknya nilai rupiah karena sentimen positif akibat faktor eksternal dan faktor internal. Harus diakui ada faktor kebijakan Pemerintah Jokowi di dalamnya.

Dikaitkan dengan peta politik di DKI, pendukung Jokowi umumnya juga adalah Ahoker alias pendukung Ahok yang sekarang menjadi Gubernur DKI. Jokowi dan Ahok dulu ketika Pilkada DKI memang satu paket, maka pendukung Jokowi secara implisit juga adalah pendukung Ahok (yang akan mencalonkan diri lagi menjadi Gubernur DKI). Sebaliknya, haters umumnya juga tidak menyukai Ahok. Jadi, makin serulah pertikaian antara Jokower (dan juga Ahoker) dengan haters di dunia maya.

Namun, kita juga tidak boleh melupakan silent majority, yaitu kelompok masyarakat yang tidak mau diidentifikasi sebagai Jokower atau haters. Mereka adalah kelompok yang di tengah-tengah yang lebih banyak diam tak bersuara, tidak peduli, tidak suka politik, atau tidak mau ambil pusing. Mereka ini jumalah suaranya sangat besar, dan nanti akan diperebutkan setiap ada Pilkada atau Pemilihan Umum.

Fenomena Jokower vs haters akan selalu kita rasakan sampai akhir kepemimpinan Jokowi. Mereka akan selalu ada dan meramaikan lalu lintas silang sengketa di dunia maya. Baik Jokower maupun haters memiliki media pendukung masing-masing. Sebagian media arus utama cenderung menjadi bumper Jokowi, baik disampaikan secara mulu-malu atau terang-terangan. Sebagian media arusnutama menjadi media rujukan para em>haters karena sifat pemberitaanya yang cenderung kritis terhadap Jokowi, namun tetap malu-malu atau terang-terangan menampakkan diri sebagai media penentang Jokowi, karena terlalu beresiko.

Apakah fenomena Jokower vs haters ini baik? Tergantung cara melihatnya. Bisa baik jika perbedaan pendapat itu dianggap wajar sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. Dengan adanya suara haters maka Jokowi bisa menjadikan pendapat haters sebagai cermin untuk memperbaiki kinerja, melecut diri untuk lebih baik lagi melayani rakyat negeri ini. Menjadi tokoh publik memang harus siap dikritisi dan dinilai segala gerak geriknya. Itu sudah resiko. Sebaliknya keberadaan Jokower juga menjadi semacam dukungan bahwa dia tidak sendirian. Dia masih punya pendukung setia.

Sebaliknya, perseteruan antara Jokower dengan haters bisa menjadi keadaan tidak baik jika menjurus pada fitnah. Menyebarkan berita yang tanpa dasar, hoax, atau berita dengan unsur fitnah lainnya dari masing-masing kedua kubu hanya akan memperkeruh suasana dan membuat perpecahan bangsa ini pasca Pilpres makin parah.

Sikap terbaik bagi kita adalah menyikapi dengan bijak apapun yang dilakukan Pemerintah. Jika baik ya didukung, jika tidak baik ya disampaikan saja uneg-unegnya. Jokowi adalah presiden RI yang sah, maka kita punya kewajiban mendukungnya dan mengkritisnya, terlepas kita dulu memilihnya atau tidak. Baik Jokower maupun haters seharusnya tidak perlu sampai buta mata dan buta hati. Lihatlah dengan kacamata yang obyektif dan adil.


Written by rinaldimunir

October 12th, 2015 at 10:11 am

Posted in Indonesiaku