if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2015

Kenangan Rendang Kurban

without comments

Dulu ketika orangtua saya masih hidup, setiap usai Hari Raya Idul Adha saya selalu mendapat kiriman randang (rendang) daging kurban dari ibu saya yang tinggal di Padang. Keluarga kami di Padang selalu mendapat daging kurban, karena ayah saya yang berprofesi sebagai penjual daging, selalu diminta bantuannya oleh panitia Iedul Adha di masjid untuk memotong-motong daging sapi. Sebagai “upahnya”, maka orang-orang yang membantu pemotongan dan pendistribusian daging kurban mendapat sebagian daging kurban. Daging sapi itulah yang dimasak menjadi rendang oleh ibu saya.

Ketika ayah saya pensiun dari pekerjaannya, maka gantian mereka yang berkurban 1/7 bagian sapi ke panitia Idul Adha di masjid. Biasanya kaum muslimin yang ikut berkurban akan mendapat sebagian dari daging sapi dari panitia, daging itulah yang dimasak ibu saya menjadi rendang. Rendang barokah, karena daging kurban itu barokah.

Randang buatan ibu saya harum baunya, homemade, buatan tangan sendiri. Ibu saya yang orang Solok pandai memasak rendang yang enak. Kelapanya ditakar sekian butir sehingga pas rasanya. Bumbu-bumbunya seperti kunyit, bawang, cabe, lengkuas, dan lain-lain dihaluskan dengan batu lado. Ibu mamasak rendang selama berjam-jam sampai berwarna hitam, dagingya empuk dengan bumbu yang meresap. Kadang-kadang ada ati sapi di antara dagingnya. Rendang itu tahan selama berbulan-bulan asal tahu cara menyimpannya.

Ibu saya selalu ingat saya dan kakak saya yang kuliah di Bandung. Maka, sebagian rendang itu dikirimnya ke Bandung. Rendang dikemas di dalam kaleng susu dan dikirim via jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Dua hari dikirim dari Padang paket rendang itu sudah sampai di Bandung.

Sesampainya randang ini langsung dipanaskan, demikian bunyi secarik kertas di dalam paket rendang. Tulisan itu ditulis tangan dengan gaya tulisan orang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah rakyat pada zaman kemerdekaan. Kadang-kadang untuk membuat paket itu terlihat besar dan padat, maka selain rendang ibu saya menyisipkan makanan lain seperti samba lado merah, karupuak jangek (kerupuk kulit), bahkan kerupuk jariang (jengkol) kesukaan saya :-).

Setiap mendengar kabar saya mendapat kiriman rendang, teman-teman saya yang satu SMA pun datang ke tempat kos untuk mencicipi rendang kurban. Saya cukup membeli nasi putih saja di warung Sunda, maka makan bersama pun menjadi hal menyenangkan. Kadang kalau mereka yang mendapat kiriman rendang, saya yang gantian datang dan makan di tempat kos mereka.

Sekarang semuanya tinggal menjadi kenangan.

Allahummaghfirlaha war hamha wa afihi wa’fuanha waj alil jannata matswaaha. Allahummaghfirlahu war hamhu wa afihi wa’fuanhu waj alil jannata matswaahu. Semoga almarhum ayah dan ibu saya bahagia di akhirat sana. Rendangnya tidak pernah tergantikan dan akan selalu teringat sepanjang hidup saya. Saya bisa berhasil saat ini salah satunya karena rendang kurban itu.


Written by rinaldimunir

September 29th, 2015 at 9:57 pm

Posted in Renunganku

Kenangan Rendang Kurban

without comments

Dulu ketika orangtua saya masih hidup, setiap usai Hari Raya Idul Adha saya selalu mendapat kiriman randang (rendang) daging kurban dari ibu saya yang tinggal di Padang. Keluarga kami di Padang selalu mendapat daging kurban, karena ayah saya yang berprofesi sebagai penjual daging, selalu diminta bantuannya oleh panitia Iedul Adha di masjid untuk memotong-motong daging sapi. Sebagai “upahnya”, maka orang-orang yang membantu pemotongan dan pendistribusian daging kurban mendapat sebagian daging kurban. Daging sapi itulah yang dimasak menjadi rendang oleh ibu saya.

Ketika ayah saya pensiun dari pekerjaannya, maka gantian mereka yang berkurban 1/7 bagian sapi ke panitia Idul Adha di masjid. Biasanya kaum muslimin yang ikut berkurban akan mendapat sebagian dari daging sapi dari panitia, daging itulah yang dimasak ibu saya menjadi rendang. Rendang barokah, karena daging kurban itu barokah.

Randang buatan ibu saya harum baunya, homemade, buatan tangan sendiri. Ibu saya yang orang Solok pandai memasak rendang yang enak. Kelapanya ditakar sekian butir sehingga pas rasanya. Bumbu-bumbunya seperti kunyit, bawang, cabe, lengkuas, dan lain-lain dihaluskan dengan batu lado. Ibu mamasak rendang selama berjam-jam sampai berwarna hitam, dagingya empuk dengan bumbu yang meresap. Kadang-kadang ada ati sapi di antara dagingnya. Rendang itu tahan selama berbulan-bulan asal tahu cara menyimpannya.

Ibu saya selalu ingat saya dan kakak saya yang kuliah di Bandung. Maka, sebagian rendang itu dikirimnya ke Bandung. Rendang dikemas di dalam kaleng susu dan dikirim via jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Dua hari dikirim dari Padang paket rendang itu sudah sampai di Bandung.

Sesampainya randang ini langsung dipanaskan, demikian bunyi secarik kertas di dalam paket rendang. Tulisan itu ditulis tangan dengan gaya tulisan orang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah rakyat pada zaman kemerdekaan. Kadang-kadang untuk membuat paket itu terlihat besar dan padat, maka selain rendang ibu saya menyisipkan makanan lain seperti samba lado merah, karupuak jangek (kerupuk kulit), bahkan kerupuk jariang (jengkol) kesukaan saya :-).

Setiap mendengar kabar saya mendapat kiriman rendang, teman-teman saya yang satu SMA pun datang ke tempat kos untuk mencicipi rendang kurban. Saya cukup membeli nasi putih saja di warung Sunda, maka makan bersama pun menjadi hal menyenangkan. Kadang kalau mereka yang mendapat kiriman rendang, saya yang gantian datang dan makan di tempat kos mereka.

Sekarang semuanya tinggal menjadi kenangan.

Allahummaghfirlaha war hamha wa afihi wa’fuanha waj alil jannata matswaaha. Allahummaghfirlahu war hamhu wa afihi wa’fuanhu waj alil jannata matswaahu. Semoga almarhum ayah dan ibu saya bahagia di akhirat sana. Rendangnya tidak pernah tergantikan dan akan selalu teringat sepanjang hidup saya. Saya bisa berhasil saat ini salah satunya karena rendang kurban itu.


Written by rinaldimunir

September 29th, 2015 at 9:57 pm

Posted in Renunganku

Mina oh Mina

without comments

Musim ibadah haji tahun ini tidak akan terlupakan oleh banyak orang karena beberapa tragedi yang mematikan. Dimulai dengan jatuhnya crane raksasa di Masjidil Haram yang menewaskan ratusan jamaah, kebakaran hotel di Mekah, dan terakhir adalah tragedi terinjak-injaknya ratusan lebih jamaah di Mina yang menewaskan lebih dari 700 jamaah haji.

Saya merinding membaca cerita jamaah haji yang selamat dari musibah Mina itu. Seorang jamaah Indonesia bercerita, di depan matanya sendiri dia melihat orangtuanya terinjak-injak oleh ratusan orang sehingga tewas seketika. Pilu saya mendengarnya. Seorang tua di Banjar, Jawa Barat, harus kehilangan dua anak dan dua menantunya sekaligus pada peristiwa yang mengerikan tersebut. Masih banyak lagi kisah-kisah sedih lainnya yang membuat hati kita menangis.

Musibah di Mina sudah seringkali terjadi, semua kejadian adalah sebelum atau sesudah pelemparan jumrah. Dan ini adalah kejadian yang kesekian kalinya. Yang pasti ini semua takdir dari Allah SWT, musibah yang tidak diinginkan siapapun, namun bagaimanapun sebab musababnya tetap harus diusut. Kelalaian apakah gerangan sehingga terjadi musibah yang memilukan ini.

Insya Allah jamaah haji yg wafat di Mina itu tidak mati sia-sia, mereka syahid ketika menjadi tamu-tamu Allah SWT. Kain ihram yg melekat di badan mereka ketika tewas terinjak-injak kelak akan menjadi saksi di akhirat nanti.

Banyak di antara jamaah haji yang punya keinginan meninggal di tanah suci. Jika diniatkan dari tanah air ingin mati di sana jelas tidak boleh, hukumnya haram. Ke tanah suci adalah dengan niat untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima, bukan untuk mintya mati. Namun jika akhirnya mati juga di sana ketika menjalankan ibadah haji, maka mungkin sudah suratan takdirnya demikian.

Lain di tanah Suci, lain pula reaksi di tanah air. Berita-berita tentang tragedi Mina berseliweran di berbagai media dan media sosial. Ada yang mengambil sumber dari media pro Iran, ada yang mengambil sumber dari Arab Saudi. Sebab musabab musibah Mina belum jelas, eh sudah ada yang menyebarkan berita bahwa peristiwa tersebut disebabkan ada pangeran Saudi Arabia lewat menerobos jamaah. Wallahu alam. Yang jelas suatu berita dibuat mungkin mengandung unsur kepentingan dan kebencian. Astaghfirullah.

Di sisi lain, ada pula yang menyebarkan peristiwa Mina terjadi karena jamaah Iran membuat kekacauan. Lalu berita 30 orang petugas Saudi dipancung karena lalai, dan terakhir penyebaran video pangeran Saudi yang ternyata hoax. Media di sini pun begitu mudah memberitakan hal-hal yang belum jelas, dan kita di sini pun begitu cepat percaya bahkan ikut-ikutanan menghujat sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Sikap yang lebih bijak adalah menunggu hasil investigasi dari Saudi sampai diperoleh sebab musabab yg jelas.

Siapapun pasti memahami memenej dua juta orang dalam rentang waktu yg pendek dan area yang terbatas bukanlah pekerjaan yang mudah. Belum tentu juga kalau urusan haji ini diserahkan ke negara lain mereka akan mampu.

Marilah kita mendoakan para jamaah haji yang syahid itu semoga mendapat tempat terbaik di surga, dan keluarga yang ditinggalkan menerima takdir tersebut dengan ikhlas. Marilah kita tunggu hasil investigasi dari Pemerintah Arab Saudi penyebab musibah tersebut.


Written by rinaldimunir

September 28th, 2015 at 4:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Mina oh Mina

without comments

Musim ibadah haji tahun ini tidak akan terlupakan oleh banyak orang karena beberapa tragedi yang mematikan. Dimulai dengan jatuhnya crane raksasa di Masjidil Haram yang menewaskan ratusan jamaah, kebakaran hotel di Mekah, dan terakhir adalah tragedi terinjak-injaknya ratusan lebih jamaah di Mina yang menewaskan lebih dari 700 jamaah haji.

Saya merinding membaca cerita jamaah haji yang selamat dari musibah Mina itu. Seorang jamaah Indonesia bercerita, di depan matanya sendiri dia melihat orangtuanya terinjak-injak oleh ratusan orang sehingga tewas seketika. Pilu saya mendengarnya. Seorang tua di Banjar, Jawa Barat, harus kehilangan dua anak dan dua menantunya sekaligus pada peristiwa yang mengerikan tersebut. Masih banyak lagi kisah-kisah sedih lainnya yang membuat hati kita menangis.

Musibah di Mina sudah seringkali terjadi, semua kejadian adalah sebelum atau sesudah pelemparan jumrah. Dan ini adalah kejadian yang kesekian kalinya. Yang pasti ini semua takdir dari Allah SWT, musibah yang tidak diinginkan siapapun, namun bagaimanapun sebab musababnya tetap harus diusut. Kelalaian apakah gerangan sehingga terjadi musibah yang memilukan ini.

Insya Allah jamaah haji yg wafat di Mina itu tidak mati sia-sia, mereka syahid ketika menjadi tamu-tamu Allah SWT. Kain ihram yg melekat di badan mereka ketika tewas terinjak-injak kelak akan menjadi saksi di akhirat nanti.

Banyak di antara jamaah haji yang punya keinginan meninggal di tanah suci. Jika diniatkan dari tanah air ingin mati di sana jelas tidak boleh, hukumnya haram. Ke tanah suci adalah dengan niat untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima, bukan untuk mintya mati. Namun jika akhirnya mati juga di sana ketika menjalankan ibadah haji, maka mungkin sudah suratan takdirnya demikian.

Lain di tanah Suci, lain pula reaksi di tanah air. Berita-berita tentang tragedi Mina berseliweran di berbagai media dan media sosial. Ada yang mengambil sumber dari media pro Iran, ada yang mengambil sumber dari Arab Saudi. Sebab musabab musibah Mina belum jelas, eh sudah ada yang menyebarkan berita bahwa peristiwa tersebut disebabkan ada pangeran Saudi Arabia lewat menerobos jamaah. Wallahu alam. Yang jelas suatu berita dibuat mungkin mengandung unsur kepentingan dan kebencian. Astaghfirullah.

Di sisi lain, ada pula yang menyebarkan peristiwa Mina terjadi berita karena jamaah Iran membuat kekacauan. Lalu berita 30 orang petugas Saudi dipancung karena lalai, dan terakhir penyebaran video pangeran Saudi yang ternyata hoax. Media di sini pun begitu mudah memberitakan hal-hal yang belum jelas, dan kita di sini pun begitu cepat percaya bahkan ikut-ikutanan menghujat sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Sikap yang lebih bijak adalah menunggu hasil investigasi dari Saudi sampai diperoleh sebab musabab yg jelas.

Siapapun pasti memahami memenej dua juta orang dalam rentang waktu yg pendek dan area yang terbatas bukanlah pekerjaan yang mudah. Belum tentu juga kalau urusan haji ini diserahkan ke negara lain mereka akan mampu.

Marilah kita mendoakan para jamaah haji yang syahid itu semoga mendapat tempat terbaik di surga, dan keluarga yang ditinggalkan menerima takdir tersebut dengan ikhlas. Marilah kita tunggu hasil investigasi dari Pemerintah Arab Saudi penyebab musibah tersebut.


Written by rinaldimunir

September 28th, 2015 at 4:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Idul Adha 2015 dan Muhammadiyah

without comments

Tahun ini Hari Raya Idul Adha dirayakan secara tidak serempak di tanah air. Warga Muhammadiyah telah lebih dahulu melaksanakan sholat Ied kemarin, sementara Pemerintah dan Ormas Islam lainnya sepakat Idul Adha jatuh pada hari Kamis ini, sama dengan di Arab Saudi di mana hari raya Idul Adha juga jatuh pada hari Kamis. Sebelumnya kemarin para jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

Saya dan keluarga baru saja sholat Ied tadi pagi. Kemarin saya sempatkan puasa sunnah yang bernama puasa Arafah, tepat pada hari yang bersamaan dengan hari wukuf di Padang Arafah.

Memang agak terlihat “aneh” juga jika warga Muhammadiyah puasa sunnah Arafah pada hari Selasa kemarin karena hari tersebut jamaah haji belum wukuf di Arafah, lalu sholat Ied pada hari Rabu kemarin pada saat jamaah haji masih wukuf di Arafah. Biasanya penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 10 Zulhijjah (Idul Adha) oleh Ormas Muhammadiyah sebagian besar selalu sama dengan penetapan di Arab Saudi. Yang sering berselisih satu hari biasanya penetapan oleh NU atau Pemerintah. Namun Hari Raya Idul Adha tahun ini Muhammadiyah berbeda dengan di Saudi.

Memang tidak ada hadis atau ayat yang mengatakan penetapan tanggal-tanggal penting tersebut harus sama dengan di Arab Saudi. Bumi ini tidak datar, tetapi bulat. Terlihatnya bulan baru belum tentu sama di setiap negara. Namun untuk Idul Adha menurut pandangan saya seharusnya mengikuti ketetapan waktu wukuf di Saudi. Tentu terlihat aneh jika di Saudi jamaah haji sudah wukuf tetapi di sini orang sudah sholat Ied. Namun karena ini soal keyakinan dan prinsip Muhammadiyah, maka soal perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan atau dibesar-besarkan. Untungnya saja orang Indonesia sudah biasa dengan perbedaan ini, sudah sering terjadi perbedaan hari raya di antara umat Islam sendiri. Jadi sudah sama-sama maklum dan saling memaklumi.

Meskipun saya dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah dan pernah bersekolah di Muhammadiyah, dan dua anak saya juga bersekolah di Perguruan Muhammadiyah, namun saya tidak selalu terikat dengan ketetapan Muhammadiyah. Fleksibel saja, kadang-kadang mengikuti dan kadang-kadang tidak, tergantung situasi dan kondisi. Pernah dulu saya sholat Iedul Fitri lebih dahulu daripada mayoritas warga di kompleks perumahan karena saya mengikuti ketetapan Muhammadiyah. Namun sesudah itu saya merasa janggal sendiri, sebab saya sudah makan minum sementara tetangga masih berpuasa. Jadi, kadang-kadang saya mempertimbangkan juga solidaritas warga satu kompleks untuk berlebaran bersama-sama dan memilih untuk mengikuti ketetapan Pemerintah saja.

Meskipun warga Muhammadiyah sudah melaksanakan sholat Ied kemarin, namun mereka baru memotong hewan qurban pada hari ini, sama dengan warga lain yang sholat Ied hari ini. Saya pikir ini adalah salah satu bentuk kerukunan yang ditunjukkan oleh warga Muhammadiyah dengan menjaga perasaan warga non-Muhammdiyah. Saya tetap cinta menjadi simpatisan Muhammadiyah.

Perbedaan hari raya yang kesekian kali ini seharusnya menjadi pelajaran agar ketua-ketua ormas itu duduk bersama dan menyepakati hari-hari besar secara tunggal, sehingga tidak lagi berbeda-beda. Ummat yang di bawah merindukan persatuan, tetapi para pemimpinnya masih sibuk beretorika mempertahankan prinsipnya masing-masing.


Written by rinaldimunir

September 24th, 2015 at 8:12 am

Posted in Agama,Indonesiaku

Idul Adha 2015 dan Muhammadiyah

without comments

Tahun ini Hari Raya Idul Adha dirayakan secara tidak serempak di tanah air. Warga Muhammadiyah telah lebih dahulu melaksanakan sholat Ied kemarin, sementara Pemerintah dan Ormas Islam lainnya sepakat Idul Adha jatuh pada hari Kamis ini, sama dengan di Arab Saudi di mana hari raya Idul Adha juga jatuh pada hari Kamis. Sebelumnya kemarin para jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

Saya dan keluarga baru saja sholat Ied tadi pagi. Kemarin saya sempatkan puasa sunnah yang bernama puasa Arafah, tepat pada hari yang bersamaan dengan hari wukuf di Padang Arafah.

Memang agak “aneh” juga jika warga Muhammadiyah puasa sunnah Arafah pada hari Selasa kemarin karena hari tersebut jamaah haji belum wukuf di Arafah, lalu sholat Ied pada hari Rabu kemarin pada saat jamaah haji masih wukuf di Arafah. Biasanya penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 10 Zulhijjah (Idul Adha) oleh Ormas Muhammadiyah sebagian besar selalu sama dengan penetapan di Arab Saudi. Yang sering berselisih satu hari biasanya penetapan oleh NU atau Pemerintah. Namun Hari Raya Idul Adha tahun ini Muhammadiyah berbeda dengan di Saudi.

Memang tidak ada hadis atau ayat yang mengatakan penetapan tanggal-tanggal penting tersebut harus sama dengan di Arab Saudi. Namun untuk Idul Adha menurut pandangan saya seharusnya mengikuti ketetapan waktu wukuf di Saudi. Tentu terlihat aneh jika di Saudi jamaah haji sudah wukuf tetapi di sini orang suda sholat Ied. Namun karena ini soal keyakinan dan prinsip Muhammadiyah, maka soal perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan atau dibesar-besarkan. Untungnya saja orang Indonesia sudah biasa dengan perbedaan ini, sudah sering terjadi perbedaan hari raya di antara umat Islam sendiri. Jadi sudah sama-sama maklum dan saling memaklumi.

Meskipun saya dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah dan pernah bersekolah di Muhammadiyah, dan dua anak saya juga bersekolah di Perguruan Muhammadiyah, namun saya tidak selalu terikat dengan ketetapan Muhammadiyah. Fleksibel saja, kadang-kadang mengikuti dan kadang-kadang tidak, tergantung situasi dan kondisi. Pernah dulu saya sholat Iedul Fitri lebih dahulu daripada mayoritas warga di kompleks perumahan karena saya mengikuti ketetapan Muhammadiyah. Namun sesudah itu saya merasa janggal sendiri, sebab saya sudah makan minum sementara tetangga masih berpuasa. Jadi, kadang-kadang saya mempertimbangkan juga solidaritas warga satu kompleks untuk berlebaran bersama-sama dan memilih untuk mengikuti ketetapan Pemerintah saja.

Meskipun warga Muhammadiyah sudah melaksanakan sholat Ied kemarin, namun mereka baru memotong hewan qurban pada hari ini, sama dengan warga lain yang sholat Ied hari ini. Saya pikir ini adalah salah satu bentuk kerukunan yang ditunjukkan oleh warga Muhammadiyah dengan menjaga perasaan warga non-Muhammdiyah. Saya tetap cinta menjadi warga Muhammadiyah.


Written by rinaldimunir

September 24th, 2015 at 8:12 am

Posted in Agama,Indonesiaku

Apa yang Ditanyakan pada Reuni Sekolah?

without comments

Bulan-bulan pada pertengahan tahun (liburan panjang) seperti Juli-Agustus adalah masanya mengadakan reuni dengan teman-teman satu perguruan, baik teman satu sekolah (SD, SMP, atau SMA), maupun teman-teman satu perguruan tinggi. Bahagia rasanya bertemu kembali dengan teman lama setelah cukup lama tidak bertemu.

Apa yang ditanyakan kepadamu pada saat reuni sekolah? Jawabannya bergantung pada umur anda.

Ketika reuni sekolah pada umur 30-an, maka pertanyaan standard adalah “Kerja di mana?”.

Ketika reuni pada umur 40-an, maka pertanyaan yang umum adalah “Anak sudah berapa?”

Ketika reuni pada umur 50-an, maka pertanyaannya pun berganti. “Cucu sudah berapa?”

Ketika reuni pada umur 60-an, maka pertanyaan membuat hati sedih. “Teman kita yang sudah meninggal siapa saja?”

Dan ketika reuni pada umur 70-an, maka pertanyaannya lebih mengenaskan lagi. “Teman kita yang masih hidup siapa?”

Dan, apa yang ditanyakan ketika reunbi pada umur 80-an? “Kamu siapa?” :-)

Sumber: gambar yang saya peroleh di FB

Sumber gambar: Facebook

Sumber gambar: Facebook


Written by rinaldimunir

September 12th, 2015 at 3:40 pm

Posted in Uncategorized

Apa yang Ditanyakan pada Reuni Sekolah?

without comments

Bulan-bulan pada pertengahan tahun (liburan panjang) seperti Juli-Agustus adalah masanya mengadakan reuni dengan teman-teman satu perguruan, baik teman satu sekolah (SD, SMP, atau SMA), maupun teman-teman satu perguruan tinggi. Bahagia rasanya bertemu kembali dengan teman lama setelah cukup lama tidak bertemu.

Apa yang ditanyakan kepadamu pada saat reuni sekolah? Jawabannya bergantung pada umur anda.

Ketika reuni sekolah pada umur 30-an, maka pertanyaan standard adalah “Kerja di mana?”.

Ketika reuni pada umur 40-an, maka pertanyaan yang umum adalah “Anak sudah berapa?”

Ketika reuni pada umur 50-an, maka pertanyaannya pun berganti. “Cucu sudah berapa?”

Ketika reuni pada umur 60-an, maka pertanyaan membuat hati sedih. “Teman kita yang sudah meninggal siapa saja?”

Dan ketika reuni pada umur 70-an, maka pertanyaannya lebih mengenaskan lagi. “Teman kita yang masih hidup siapa?”

Dan, apa yang ditanyakan ketika reunbi pada umur 80-an? “Kamu siapa?” :-)

Sumber: gambar yang saya peroleh di FB

Sumber gambar: Facebook

Sumber gambar: Facebook


Written by rinaldimunir

September 12th, 2015 at 3:40 pm

Posted in Uncategorized

Kemarau

without comments

Hujan belum juga turun sejak bulan Juni yang lalu. Sudah empat bulan lebih musim kemarau melanda negeri-negeri di Pulau Jawa. Kata orang ini dampak El Nino. Entahlah, mungkin musim hujan akan datang lebih lambat daripada seharusnya.

Kering kerontang, begitulah kalau kita melihat pemandangan sepanjang jalan. Rumput mati, sawah berubah menjadi bongkahan lumpur yang mengeras, sungai mengering, danau dan telaga sudah menyusut airnya. Di Sumatera dan Kalimantan hutan-hutan terbakar dan mengirimkan asapnya ke berbagai kota hingga ke negera tetangga. Hujan yang didamba dan dirindu oleh makhluk hidup belum juga diturunkan dari langit oleh Tuhan. Mungkin kemarau panjang ini peringatan dari Tuhan bagi ummat-Nya. Marilah kita beristighfar.

Rumput yang telah menguning di samping Aula Barat ITB

Rumput yang telah menguning di samping Aula Barat ITB

Kemarau panjang ini mengingatkan saya pada sebuah lagu akhir tahun 70-an. Judulnya sama, Kemarau. Lagu ini finalis Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang diadakan oleh Radio Prambors.

Begini lirik lagunya:

Kemarau

Tiada ranting yang rimbun
Daun pun berguguran
Mata airpun kering
Tiada titik embun turun
Saat itu kemarau yang datang
Hati gersang dan berdebu
Curah hujan tiada turun
Membasahi jiwa ini

*
Tiada pohon yang rindang
Tempat berteduh diri
Air matapun kering
Suara hatipun membisu
Saat itu kemarau yang datang
Cita hati trasa sendu
Cahya mentari trasa panas
Menyinari jiwa ini

**
(kapankah mendung datang
mengalun, mengusir kemarau
kali ini)
Tapi sabarlah diri menanti
Pasti kemarau pergi berganti

(ulangi *,**)

Klik video di YouTube di bawah ini untuk mendengarkan lagu Kemarau yang enak didengar. Jarang lagu-lagu Indonesia saat ini yang membekas di hati serta membawa pesan yang baik buat pendengarnya.

Semoga musim kemarau segera berlalu.


Written by rinaldimunir

September 10th, 2015 at 1:34 pm

Seberapa Mahal Tarif Dokter Gigi?

without comments

Jika berobat ke dokter gigi, saya pasti membawa uang lebih banyak daripada mengunjungi dokter umum atau dokter spesialis. Tahu sendiri kan, tarif dokter gigi terkenal mahal. Mungkin zat/obatnya yang mahal atau alatnya yang mahal, tak tahulah mana yang lebih dulu, atau dua-duanya?

Kalau mau ongkos yang agak murah bisa saja saya pergi ke Puskesmas atau ke klinik medika kampus, atau ada yang menyarankan ke klinik dokter koas (calon dokter gigi) dekat kamus Unpad. Tapi karena ini sudah sore/malam hari maka tidak ada pilihan lain kecuali ke klinik dokter swasta. Puskesmas dan medika kampus sudah tutup.

Ceritanya begini, suatu sore menjelang malam saya membawa anak saya yang giginya berlubang ke klinik dokter swasta di kompleks perumahan. Sebelumnya sama dokter ini juga sih, dan sekarang disuruh datang lagi untuk memeriksa gigi lain yang disinyalir pada pemeriksaan terdahulu sudah berlubang. Saya sudah tahu tarifnya lebih mahal daripada tarif dokter gigi yang lain, tetapi karena sudah kadung sama dokter ini sebelumnya, maka dilanjutkan saja.

Dokter bilang bahwa di satu gigi anak saya ada tiga lubang, lalu di gigi lain satu lubang. Jadi ada empat lubang, dan dia menyarankan untuk ditambal. Langsung saya iyakan saja. Kesalahan saya adalah tidak menanyakan berapa ongkos semuanya, dan kesalahan dokter adalah tidak menyebutkan berapa ongkosnya sebelum minta persetujuan orangtua.

Tidak lama proses menambal lubang di dua gigi tersebut, hanya sekitar 20 menit sudah selesai. Setelah beres, saya tanya berapa (ongkosnya)?

“Sembilan ratus ribu”, jawab dokter itu tenang.

Ha? Saya nyaris tidak percaya, saya tanya lagi mungkin saya salah dengar. Jawabannya sama. Saya minta penjelasannya kenapa besar sekali.

“Semua ada empat lubang, pak, satu lubang tarifnya Rp225.000”, jelasnya tanpa rasa “bersalah”.

Saya tidak enak berdebat lama-lama. Saya tidak membawa uang sebanyak itu, tidak menyangka ongkosnya hampir mencapai sampai satu juta rupiah. Setengah berlari saya menuju ke ATM terdekat untuk mengambil uang tunai sambil tetap tidak percaya kok semahal itu. Biasanya tarif pengobatan gigi kan dihitung per gigi, jadi satu gigi ongkosnya sudah jelas. Ini yang ditambal dua gigi tapi tarifnya bujubune. Memang di satu gigi ada tiga lubang dan di gigi lain satu lubang. Jadi, si dokter menghitung tarifnya berdasarkan jumlah lubang, bukan jumlah gigi yang ditambal.

Bagi saya yang PNS ongkos sebesar itu jelas tidak sedikit. Mahal pisan. Saya menyerahkan uang tersebut agak kurang ikhlas, agak keberatan gitu, tapi enggan mau protes lagi. Cepat-cepat saya keluar. Kata-kata si dokter untuk kontrol lagi minggu depan tidak saya gubris, sudah terlanjur mangkel, lebih baik cari dokter gigi yang lain saja nanti.

Dokter gigi memang suka-sukanya mereka menetapkan tarif. Tidak ada standardnya. Mungkin biaya kuliah kedokteran gigi yang mahal membuat dokter gigi ingin cepat “balik modal” dengan menetapkan tarif sesuka hati? Entahlah.

Mungkin benar juga mahal murah itu relatif bagi setiap orang. Di Jakarta seorang teman bilang ada dokter gigi yang tarif prakteknya satu juta per gigi, tetapi tetap saja banyak pasiennya. Mungkin faktor kepuasan kali, sehingga mereka tidak mempermasalahkan tarif yang semahal itu.

Namun bagi saya yang gajinya tidak besar, tetap saja ongkos periksa gigi yang barusan terasa sangat mahal. Untung sekarang ada BPJS sehingga nanti kapan-kapan saya pakai BPJS saja. Tapi, apa klinik dokter swasta mau menerima BPJS? Entahlah.


Written by rinaldimunir

September 8th, 2015 at 9:48 am

Posted in Pengalamanku