if99.net

IF99 ITB

Archive for March, 2015

Jika Berkeping-keping

without comments

Share

Manakalah sedih, hatiku patah berkeping-keping, yang kadang sulit aku utarakan. Keherananku pada sodara-sodaraku seiman, yang tidak paham kondisinya, ditengah penindasan dan penistaan, malah membela penistanya, mendukung penindasnya. Astaghfirullah… kalau sudah begini, suka berkelebat dua hal ini. Pertama, ingatan seorang anak laki-laki, Prof.Tariq Ramadan kepada (perjuangan) Ayahnya, Dr.Said Ramadhan:
…………………………………… penggalan dari http://tariqramadan.com/english/2011/08/10/4th-august-presence-and-silence/

But analysis of current events was not enough for him. Everything interested him, from technology and medicine to science and ecology. He knew what was needed for a thoroughgoing reform in Islam. His curiosity, always alert, always lucid, knew no limits. He had traveled the world; henceforth the world would come into his room. Where once there had been crowds, scholars, presidents and kings, now only observation, analysis and deep sadness remained. In his solitude, though, there was the Qur’an; and in his isolation, there were invocations mingled with tears. He gave his children symbolic names, names from the history of persecution and boundless determination. A thread of complicity connected him with each one of us; we held his undivided attention, shared the sensitivity of our relationship with him, and his love. With Aymen, it was his success and wounds; with Bilal, his potential and his heartbreak; with Yasser, his presence, his generous devotion and his patience; with Arwa, his complicity and silences; with Hani, his commitment and his determination. He convinced each of us to believe in our own qualities. He reminded each of us that he had given us the best of mothers, she who is, with all the qualities of her heart, his most precious gift.

Kemudian, sepenggal puisi dari Chairil Anwar, Aku, 1943

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli  
Aku mau hidup seribu tahun lagi
................
 Wonden en gif voer ik mee op mijn vlucht
 Vlucht
 Tot de schrijnende pijn zal verdwijnen
 En ik zal er nog minder om geven
 Ik wil nog duizend jaar leven
(Avert.A. Teeuw, Amsterdam 1979)

Written by ibudidin

March 31st, 2015 at 4:22 pm

Posted in Puisi,Tafakur

Manufacturing Consent

without comments

Share

Strongly recommended to watch !!!
Tidak untuk disetujui semuanya, tapi untuk membuat kita berpikir dan berpikir dan berpikir hingga menghasilkan sikap dan tindakan (yg merupakan percampuran berbagai hal: latar belakang, pengalaman, pendidikan, lingkaran interaksi)

Written by ibudidin

March 30th, 2015 at 1:48 pm

Posted in Digital Literacy

Bedah Buku Pedagogy of the Oppressed

without comments

Share

Barangkali pendidik (orangtua, guru, pembuat kurikulum, policy maker, mahasiswa, anak muda) ingin menonton talkshow ini. Sebuah bedah buku Pedagogy of the Oppresed karya Paolo Freire (ada yg menerbitkan terjemahan bahasa Indonesianya: Pendidikan Orang Tertindas). Ga tanggung2 bedah bukunya oleh Profesor2: Noam Chomsky, Howard Gardner, dan Bruno della Chiesa

Benang merah: membangunkan ‘consciousness’ (kesadaran akan dirinya, akan haknya) dari the oppressed (kaum miskin, marjinal, yang dicuekin dalam pengambilan kebijakan, yang bisa ditakut-takuti even if you’re rich??) adalah dengan Literacy (melek, melek apa? open elaboration)

Written by ibudidin

March 30th, 2015 at 1:46 pm

Posted in Pendidikan

Tidak Suka Ahok Bukan Berarti Pro H. Lulung, Tidak Suka Jokowi Bukan Berarti Pro Prabowo

without comments

Seorang teman menulis status di akun Facebook-nya sebagai berikut:

Dalam politik, kalau kita tidak setuju Jokowi apakah artinya kita ada di pihak Prabowo? Kalau kita tidak pas dg gaya Ahok, apakah artinya kita pro H. Lulung? Padahal banyak org yg tidak percaya pada Jokowi, tapi juga tidak yakin pada Prabowo. Ada banyak yang gak suka Ahok, tapi juga eneg pada H. Lulung.

Mengkotakkan masyarakat hanya pada dua kategori (pro Jokowi vs pro Prabowo, dan pro Ahok vs pro H. Lulung) adalah cara pikir yang serampangan, seolah-olah publik dianggap sebagai bilangan biner 0 dan 1, kalau tidak hitam ya putih. Hanya itu. Kalau anda tidak setuju dengan kubu yang satu, maka anda dianggap sebagai pendukung kubu yang lain. Jika jagoannya dikecam maka si pengecam dianggap pro kubu sebelah. Ini logika yang salah, namun nyatanya inilah kondisi yang terjadi pada saat ini, khususnya bagi netizen yang aktif di dunia maya (netizen).

Di dunia maya mudah sekali seorang netizen mencap seseorang sebagai fan Jokowi atau sebagai antek Prabowo. Hanya karena berbeda pendapat dalam mengkritisi presiden, maka anda langsung dianggap nyinyir, belum iklhas menerima kekalahan, belum move on, atau antek Prabowo. Kadang-kadang anda dianggap sebagai fekaes (plesetan pendukung PKS), karena simpatisan partai ini dianggap paling vokal mengkritisi Jokowi (contohnya Jonru).

Memang ada pendukung Prabowo yang masih sakit hati sejak jagoannya kalah, tetapi lebih banyak lagi yang masih berpikiran logis dengan menerima kekalahan dengan lapang dada namun tetap kritis kepada Pemerintah sekarang. Pada sisi lain, banyak juga pendukung Jokowi yang bersikap netral sejak jagoannya menang, mereka tetap mengkritisi kebijakan Jokowi, meskipun tidak dipungkiri banyak juga yang kecewa setelah melihat Jokowi sering ingkar janji.

Menariknya, medan “perang” antara pendukung Jokowi dan Prabowo sekarang beralih ke lingkup lingkup Jakarta. Perseteruan antara Ahok dengan DPRD DKI telah menghasilkan pendukung militan Ahok yang membela habis-habisan sang gubernur. Netizen yang tidak sepaham dengan tingkah polah Ahok dianggap sebagai pendukung KMP, fekaes, antek Prabowo, dan lebih parahnya disederhanakan lagi menjadi pro H. Lulung. Siapa Haji Lulung, silakan cari namanya di Internet. Dia adalah anggota DPRD dari fraksi PPP yang sejak awal menentang Ahok. Maka, jika anda mengkritisi perilaku Ahok, maka anda dianggap sebagai pendukung Haji Lulung. Ini tentu logika yang salah, sebab banyak juga pengkritik Ahok yang tidak suka dengan sikap Lulung. Tidak suka dengan perilaku Ahok bukan berarti menyetujui sikap H. Lulung.

Saya melihat fenomena seperti ini muncul dari sikap fanatisme yang berlebihan terhadap seorang tokoh. Sikap fanatisme ini terus dipelihara sejak Pilpres (Jokowi-Prabowo) sampai hubungan eksekutif-legislatif (Ahok-DPRD). Fanatisme berlebihan telah mematikan nalar dan akal sehat, sebab apa yang tampak dari sang jagoan adalah kebenaran. Sang jagoan sudah menjadi manusia setengah dewa atau nabi yang tidak pernah salah. Bagi pendukung fanatisme tersebut berlaku dua aturan. Aturan pertama adalah sang jagoan tidak pernah salah. Aturan kedua, jika jagoan salah, maka lihat kembali ke aturan pertama.

Saya teringat perkataan budayawan Sudjiwo Tedjo: “Pemimpin tangan besi mematikan nyali. Pemimpin yang dinabikan mematikan nalar”. Jika nalar sudah mati, maka jika kelak sang pemimpin berbuat salah, maka perbuatannya tetap dianggap benar.


Written by rinaldimunir

March 24th, 2015 at 4:53 pm

Posted in Indonesiaku

Berkat Ada Whatsapp

without comments

Aplikasi instant messaging dengan WhatsApp (WA) yang dipasang pada smartphone ternyata sangat membantu sekali karena mobilitas dan kemangkusannya. Suatu malam anak saya menanyakan soal matematika yang susah melalui ponsel. Dia minta tolong cara penyelesaiannya bagaimana. Wah, saya lagi di luar kota saat itu, jauh lagi di luar pulau. Saya sedang berada di dalam kendaraan yang dikemudikan teman. Soal matematika itu difoto sama dia, lalu dikirim via WA ke ponsel saya.

Dengan cepat saya ambil kertas dan pena, sret…sret..sret.., tiga menit kemudian selesai jawabannya. Langsung saya foto jawaban tersebut dan mengirimkannya langsung kepada anak saya via WA lagi sambil mendiskusikan jawabannya.

Screenshot_2015-03-19-21-19-19[1]

Kalau mendiskusikan jawaban soal matematika tersebut memakai SMS/MMS, kebayang betapa repotnya. Bisa juga sih chatting menggunakan media sosial seperti Facebook, tetapi kurang praktis karena harus login aplikasi terlebih dahulu, dan lebih lambat. Dengan WA semuanya menjadi cepat dan biayanya murah karena menggunakan paket data internet yang sama seperti email, browsing web, dan lain-lain.

Terima kasih kepada Jan Koum, penemu aplikasi WA, temuan Anda sangat berguna dan bermanfaat bagi orangtua yang suka jalan-jalan seperti saya ini, he..he.

Sisi baik WA untuk komunikasi bisa saja digunakan untuk tujuan yang salah. Bagaimana jadinya jika peserta ujian saling berkomunikasi jawaban soal (terutama soal berupa esai atau isian) melalui WA? Misalnya seorang peserta ujian memfoto lembar jawabannya lalu mengirimkannya kepada temannya melalui WA. Untuk itulah maka selama dalam ujian peserta dilarang menggunakan kalkulator dan gawai (gadget) seperti ponsel, karena bisa disalahgunakan untuk berbuat curang.

Teknologi dapat memiliki sisi positif, tetapi sebaliknya dapat pula mmiliki sisi negatif tergantung bagaimana menggunakannya.


Written by rinaldimunir

March 19th, 2015 at 9:56 pm

Posted in Gado-gado

Demam Batu Akik, Kapan Selesainya?

without comments

Dalam dua bulan terakhir masyarakat negeri kita dilanda demam batu akik (Bahasa Sunda: batu ali) di mana-mana. Pedagang cincin batu akik marema (laris manis) karena dagangannya dikerubungi dan dibeli orang. Pameran batu akik atau gemstone diserbu ribuan pengunjung. Dua minggu lalu ada pameran batu akik di halaman RRI Bandung. Karena lahan parkir sudah terpakai untuk lapak-lapak pameran, maka pengunjung yang jumlahnya ribuan memarkir kendaraannya di sepanjang Jalan Diponegoro. Macet, ya jelas, karena separuh badan jalan sudah tersita untuk parkir motor dan mobil. Saya harus susah payah melewati kemacetan di depan RRI Bandung setiap sore pulang ke rumah.

Eh, baru saja selesai di RRI Bandung, pameran serupa akan diadakan di mal Cicadas dan Trans Studio Mall. Wah, alamat saya akan bermacet ria lagi karena jalan di depan mal adalah jalur pulang saya ke rumah. Luar biasa, belum pernah ada pameran dagang yang berturut-turut diselenggarakan di berbagai tempat dan dipenuhi ribuan pengunjung.

Fenomena batu akik umum terjadi di berbagai belahan negeri di tanah air. Tidak hanya di ibukota propinsi, tetapi juga merambah sampai ke kota kecil dan ibukota kabupaten. Entah siapa yang memulai trend batu akik sehingga menjadi fenomena begini. Menuruyt saya pedagang batu akik sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Pemandangan pedagang kaki lima yang berjualan cincin dari batu akik merupakan hal yang biasa saja kita lihat di selasar pertokoan. Pembelinya tidak banyak, umumnya penggemar cincin yang kebanyakan para pria berusia mapan. Macam-macam tujuan orang membeli cincin berbatu akik, ada yang bertujuan untuk kelihatan gagah dan lebih percaya diri, tetapi ada pula yang membelinya untuk jimat atau kesaktian. Yah, nggak tahulah, manusia itu memang macam-macam sifatnya. Kalau untuk tujuan jimat sih berarti sudah termasuk perbuatan syirik, hati-hati lho.

Dulu biasa saja, tetapi sekarang bisnis batu akik menjadi fenomena. Entah siapa yang memulainya sehingga menjadi bisnis yang sangat ramai. Orang menyebutnya sebagai bisnis monyet (monkey bussiness). Kenapa disebut bisnis monyet, silakan baca tulisan di Jawa Pos ini. Saya kutip saja sebagain dari tulisan itu agar anda tidak penasaran:

Monkey business adalah sebuah permainan yang diawali satu atau beberapa pihak pemodal besar yang mendesain agar suatu komoditas bernilai tertentu. Perlahan namun pasti, komoditas tersebut bakal mempunyai nilai yang terus bertambah, kendati komoditas itu tidak memiliki manfaat yang jelas serta ilmiah. Kemudian, dengan suatu cara, para pemodal akan mendapat keuntungan karena telah menyusun skenario. Ketika barang itu mencapai puncak booming, mereka melepas stok yang disiapkan sejak lama. Setelah itu, karena terlalu banyak suplai di pasaran dan permintaan yang tidak sebanding, perlahan harga barang tersebut otomatis turun mengikuti mekanisme pasar mencari harga yang wajar.

Nah, ternyata demam batu akik itu hanya jebakan orang sesaat saja. Kalau sudah mencapai puncak booming dan over suplly, bisnis ini akan merosot kembali. Demam batu akik yang temporer ini mengingatkan kita pada fenomena trend tanaman anthuarium yang pernah ramai beberapa tahun lalu. Sekarang apakah terdengar lagi orang menggilai tanaman anthuarium? Sepertinya sudah berlalu, dan sekarang diganti dengan fenomena batu akik.

Tentu saja demam batu akik membawa berkah bagi pedagang batu akik yang selama ini tampak luput dari perhatian orang. Tetapi, di sisi lain demam batu akik menimbulkan dampak yang tidak dapat dianggap remeh. Permintaan batu akik menggerakkan banyak orang untuk berburu batu akik hingga ke daerah pedalaman. Salah satu “korbannya” adalah situs sejarah yang terdapat di pinggir sungai. Seperti dilaporkan oleh koran lokal di Bandung, di kawasan Curug Dago Bandung terdapat situs sejarah berupa batu yang menjadi petilasan Prabu Siliwangi dan Raja Chulalangkorn dari Thailand. Para pemburu batu akik mencongkel batu-batu yang ada di situs sejarah tersebut. Hal serupa juga melanda situs-situs peninggalan sejarah di tempat lain yang berada di bukit, gunung, sungai, dan lain-lain.

Saya berharap demam batu akik ini segera berlalu. Saya khawatir orang menjadi tidak produktif karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengamat-amati batu. Seorang bapak di warung kaki lima mengatakan tidak tertarik membeli batu akik. Bikin malas, jawabnya.


Written by rinaldimunir

March 16th, 2015 at 7:55 am

Posted in Indonesiaku

Hikmah Air Ledeng “Ngocor” pada Dini Hari

without comments

Kalau air ledeng di rumah anda mati karena pompa rusak atau saluran PDAM di rumah ngadat, bagaimana sikap anda? Tentu anda kesal dan uring-uringan, bukan? Satu keluarga butuh air untuk mandi, BAB, mencuci, dan sebagainya, lalu ketika air di rumah tidak mengalir semua menjadi repot. Alternatifnya adalah meminta air ke rumah tetangga, atau menunggu pedagang air yang menjual air pakai jerigen lewat. Tetapi, tentu cara ini tidak bisa terus diandalkan. Malu juga jika setiap hari minta air ke rumah tetangga.

Satu hari air ledeng tidak mengalir masih bisa menahan diri, tetapi dua hari atau tiga hari tentu hilang kesabaran. Ini beda sekali jika sehari tidak menggunakan ponsel atau menggunakan internet. Sehari, sebulan, atau bahkan bertahun-tahun tidak menggunakan ponsel atau internet kita toh masih bisa hidup. Sehari tidak chatting atauk ber-sosmed kita masih bisa haha-hihi. Lihatlah para petani di desa-desa, mereka tetap nyaman meskipun tidak pernah memakai ponsel atau mengakses internet. Tetapi, kalau air tidak ada, kita bisa mati.

Itu pula yang pernah saya alami ketika air di rumah tidak ngocor. Pusing deh tujuh keliling. Kalau hanya saya sendiri yang merasakan tentu tidak masalah, saya bisa mandi di kantor atau numpang di masjid, tetapi kalau anak-anak tentu tidak bisa demikian. Menurut saya air adalah kebutuhan paling vital di rumah. Ketika saya dulu membeli rumah (rumah seken sih), hal pertama yang saya tanyakan adalah kondisi sumber airnya. Air tanahkah atau air ledeng? Jika air ledeng, apakah air ledengnya lancar? Kalau kondisi sumber air tidak memuaskan, maka rumah tersebut saya buang dari daftar peminatan. Apa jadinya punya tetapi airnya susah.

Dulu ketika saya membeli rumah di Antapani Bandung pada tahun 2005, air ledeng di rumah mengalir cukup lancar. Air hanya mati dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang, setelah itu pasokan air ledeng lancar siang malam. Saya tidak pernah kekurangan air, padahal di jalan sebelah -masih dalam satu RT- air ledengnya tidak selancar saya, hanya ngocor pada waktu lewat tengah malam. Tetapi saat ini saya tidak bisa lagi menikmati air ledeng melimpah siang malam seperti dulu. Kawasan Antapani sudah berkembang luar biasa, kompleks perumahan baru bermunculan di mana-mana. Sudah habis tanah di sana, sawah-sawah sudah tidak ada bersisa, bahkan balong pun diuruk menjadi kompleks perumahan.

Bertambahnya perumahan baru berarti bertambah permintaan sambungan baru air PDAM. Alhasil, air ledeng harus dibagi-bagi ke perumahan baru tersebut. Dampaknya sudah terasa, pasokan air ledeng ke rumah sudah tidak selancar dulu lagi. Biasanya dulu jam 12 siang air sudah mengalir, sekarang air baru ngocor lewat jam 12 malam. Saya bangun jam 3 pagi, menyalakan pompa dari pipa PDAM, mengisi toren air selama satu jam lebih, dan mengisi bak mandi penuh-penuh.

Namun ada hikmahnya air ledeng ngocor pada waktu dinihari. Saya jadi punya kesempatan untuk sholat malam (tahajud) setiap malam. Sambil menunggu air di toren penuh, saya bisa menunaikan sholat tahajud pada keheningan malam. Dibalik kesempitan ternyata ada kelapangan. Alhamdulillah.


Written by rinaldimunir

March 12th, 2015 at 12:15 pm

Logika Berpikir yang Menyesatkan

without comments

Kekisruhan antara DPRD DKI dan Gubernur DKI, Ahok, menarik perhatian saya. Bukan pada substansi yang diperselisihkan oleh mereka, tetapi bagaimana komentar dari netizen menanggapi “pertengkaran” antara kedua pihak tersebut. Ahok digambarkan sebagai tokoh yang anti korupsi, sedangkan DPRD -malangnya- digambarkan sebagai lembaga korup. Citra lembaga legislatif di negara kita memang sudah terlanjur buruk di mata rakyat, yaitu sarang KKN (Korupsi, Kolusi, damn Nepotisme) dan konkalingkong yang tidak berpihak kepada rakyat. Namun, saya yakin tidak semua anggota DPR/DPRD itu buruk, pasti lebih banyak orang baik di antara orang (oknum) yang berperilalku buruk. Yang baik itu banyak, yang buruk itu sedikit.

Saya tidak akan membahas siapa yang benar dan siapa yang salah dalam pertengkaran antara legislatif dan eksekutif di DKI. Meminjam hastag Presiden Jokowi, itu #bukanurusansaya, he..he. Biarkan mereka menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Yang saya amati adalah bahwa banyak netizen membela Ahok dan menyerang DPRD. Kita tentu tidak suka korupsi, namun di tengah arus pemberitaan yang berat sebelah yang cenderung membela Ahok dan memojokkan DPRD seperti saat ini, kita belum dapat menentukan siapa yang salah dan benar dalam kasus ini.

Ada yang menarik dari kisrih Ahok-DPRD. Selain dianggap melanggar undang-undang karena Ahok mengajukan RAPBD 2015 ke Kemendagri tanpa persetujuan DPRD, pihak DPRD juga mempersoalkan etika Ahok yang kasar, main labrak sana sini, temparemantal, ngomong asal njeplak, main tuduh, dan lain-lain. Semua orang tahu sifat Ahok yang demikian, namun nyatanya netizen tidak mempersoalkan cara komunikasi Ahok yang tidak santun tersebut. Muncullah ungkapan-ungkapan seperti “Buat apa santun tapi korupsi“, atau “Ahok memang kasar tetapi tidak mencuri“, “Ahok kasar tapi jujur, daripada alim tapi begal“, dan lain-lain.

Fenomena merendahkan perilaku yang baik (santun, alim, sholeh, beretika) dan membandingkannya dengan perilaku buruk (korupsi, mencuri, begal) menginghatkan saya pada situasi ketika Presiden Jokowi mengangkat Susi Pujiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan tahun lalu. Dengan cepat Bu Susi menjadi pusat perhatian media dan sosoknya menjadi terkenal karena perilakunya yang unik (bertato, suka merokok di depan umum, tampil adanya tanpa basa-basi). Ditunjang oleh reputasinya yang sukses membangun bisnis perikanan dan transportasi, masa lalunya yang tidak lulus SMP namujn bisa menjadi menteri, dan ketegasannya terhadap nelayan asing yang mencuri ikan di perairan negara kita, tiba-tiba Bu Susi menjadi idola baru. Media pun memberitakan sisi baik Bu Susi yang suka membantu orang miskin, bahkan fotonya yang menggendong ibunya yang sudah tua menjadi gambar yang banyak disebar melalui media sosial. Tentu saja ini berita yang bagus dan inspiratif, bukan?

Namun, entah siapa yang memulai, sosok Susi lantas dibandingkan dengan Ratu Atut (ex Gubernur Banten) yang terkena kasus korupsi dan sekarang mendekam di penjara. Bu Atut adalah sosok muslimah, dia memakai jilbab, dikenal santun, namun sayangnya dia dipidana korupsi. Lalu, bermunculanlah meme (gambar) yang membandingkan kedua perempuan ini dengan kata-kata yang bertolak belakang satu sama lain, serta ungkapan “lebih baik bertato dan merokok daripada berjilbab tapi korupsi”..

Meme Susi vs Atut

Meme Susi vs Atut

Berbagai meme lain tentang Susi dan Atut dapat anda lihat di sini.

Baiklah, Atut memang salah, tetapi kenapa jilbabnya yang dipersoalkan? Dalam kacamata ajaran agama, Ratu Atut sudah menjalankan perintah agama dengan menutup aurat. Perkara jilbabnya tidak sejalan dengan perilakunya yang berbuat korupsi itu hal yang lain lagi. Sedangkan dalam kacamata netizen, perempuan yang bertato, merokok, namun memiliki sikap tegas dan suka membantu orang lain dipandang lebih baik daripada perempuan berjilbab tapi korupsi.

Dalam konteks yang lain, kita sering pula mendengar ungkapan yang mirip seperti di atas, misalnya ungkapan biar tidak sholat tetapi tidak mencuri, lebih baik tidak berjilbab namun sopan, daripada berjilbab tetapi suka pelukan sama pacar, atau biar dicap sesat tetapi baik hati, dan sebagainya. Pada kasus Ahok, netizen mangatakan biar Ahok suka ngomong kasar tetapi jujur, daripada santun tetapi korupsi.

Tentu saja kita tidak bisa serta merta menyalahkan netizen yang membanding-bandingkan perilaku baik dan buruk dengan melihat contoh segelintir. Masyarakat kita sudah gemas dan muak dengan perilaku oknum manusia yang bak musang berbulu ayam, di depan tampak baik, tetapi di belakang menyambar. Di hadapan publik memperlihatkan perilaku alim, tetapi tidak tahunya diam-diam melakukan perbuatan tercela seperti korupsi. Masyarakat melihat atribut yang disandang (jilbab, simbol-simbol agama, kesalehan, dsb) bertolak belakang dengan perilaku seseorang. Akhirnya muncul ungkapan alim tidak penting, yang penting tidak korupsi. Buat apa santun, tetapi korupsi. Maka, dengan argumen seperti ini kita bisa memahami mengapa banyak netizen membela Ahok yang didentikkan kasar daripada DPRD DKI yang diidentikkan korup (meskipun belum dapat dibuktikan kebenarannya).

Namun, logika berpikir seperti ini menurut saya bisa menyesatkan jika lama-lama dianggap sebuah kebenaran. Keliru. Fenomena masyarakat yang memandang etika dan keberagamaan bukan hal yang penting ketimbang perbuatan korupsi dapat membuat orang menafikan etika dan ajaran agama. Kesalehan, kesantunan, kealiman tidak lebih berharga daripada perbuatan korupsi atau mencuri. Seakan-akan mengajarkan etika sudah tidak perlu lagi dengan melihat contoh Ahok. Berjilbab tidak perlu lagi dengan melihat kasus Ratu Atut. Sholeh dan alim tidak penting lagi dengan melihat kasus LHI. Untuk apa sholat tetapi nantinya mengambil uang rakyat. Dan sebagainya, dan sebagainya. Jika demikian logika berpikirnya, maka pelajaran budi pekerti mungkin perlu dihapus dari sekolah karena tidak ada gunanya lagi. Pendidikan agama pun tidak diperlukan lagi karena alim dan sholeh nanti toh dianggap tameng semata.

Saya katakan logika berpikir yang keliru dan menyesatkan karena perbuatan segelintir orang menjadi penghakiman bagi orang lain yang tidak terlibat. Kata orang Jawa itu namanya menggebyah ubyah. Kalau perempuan berjilbab korupsi, maka yang salah bukan jilbabnya, tetapi orangnya. Salah dia kenapa tidak menyesuaikan perilakunya dengan jilbabnya. Kalau orang yang dianggap sholeh dan alim (seperti kyai dan ustad) melakukan korupsi atau memperkosa santri, maka yang salah bukan sholatnya, bukan ajaran agamanya, tetapi yang salah orangnya karena tidak mengaktualisasikan ajaran agama dengan perilaku sehari-hari, tidak sinkron antara yang dibaca di dalam sholat dengan tindak-tanduk.

Menurut saya kesopanan itu penting, kesantunan itu penting, ajaran agama itu penting. Kita semua tentu anti terhadap perbuatan korupsi, anti terhadap perilaku mencuri, anti terhadap perilaku membegal. Salah besar jika menganggap kesantunan berkomunikasi itu tidak lebih penting daripada sikap anti korupsi. Etika dan sikap anti korupsi sama-sama pentingnya dan tidak bisa dipertentangkan.


Written by rinaldimunir

March 10th, 2015 at 6:16 pm

Menikmati Es Krim di Toko “Oen” Malang

without comments

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke kota Malang, namun ada satu tempat di kota ini yang ingin saya kunjungi namun belum pernah kesampaian, yaitu toko Oen. Toko Oen adalah sebuah restoran yang sudah berdiri sejak tahun 1930. Toko Oen terkenal dengan es krimnya yang khas. Selain es krim, toko Oen juga menjual masakan Indo-Belanda dengan nuansa tempo doeloe seperti nasi goreng, gado-gado, beef steak, dan lain-lain. Dulu saya pernah membaca artikel tentang toko Oen di sebuah harian nasional. Karena tertarik dengan nuansa tempo doeloe yang masih dipertahankan toko ini, maka saya memasang niat jika ke Malang lagi maka saya ingin mencoba es krim di toko Oen.

Akhir tahun yang lalu saya liburan ke kota Malang bersama keluarga. Wisata ke Malang identik dengan mengunjungi kawasan wisata di kota Batu, karena di kota Malang sendiri tidak ada obyek wisata yang menarik untuk anak-anak. Jadi, kita menginap di hotel di kota Malang, tapi jalan-jalannya ke kota Batu. FYI, hotel-hotel di kota Batu jauh lebih mahal daripada hotel di kota Malang, jadi banyak wisatawan memilih menginap di kota Malang saja. Jarak dari Malang ke Batu hanya sekitar 30 menit dan dapat ditempuh dengan taksi argo yang melayani penumpang hingga ke Batu dengan tarif biasa (bukan tarif luar kota). Sangat mudah memanggil taksi di kota Malang. Cukup menelpon dari tempat kita berdiri di pinggir jalan, maka taksi datang dalam waktu 10 hingga 15 menit.

Pada hari terakhir sebelum kembali ke Bandung, kami menyempatkan diri menikmati es krim di toko Oen. Toko Oen terletak di dekat alun-alun kota Malang. Patokannya adalah Gereja Katedral. Gereja Katedral adalah gereja tua berarsitekur gothic yang terletak di seberang toko Oen.

Toko Oen, Malang

Toko Oen, Malang

Tokoe Oen tampak dari seberang jalan

Tokoe Oen tampak dari seberang jalan

Gereja Katedral di seberang toko Oen

Gereja Katedral di seberang toko Oen

Memasuki toko Oen kita disambut dengan spanduk ucapan selamat datang di Malang dalam bahasa Belanda. Di bawahnya ada tulisan tahun dibukanya toko ini, yaitu tahun 1930. Nuansa tempo doeloe langsung kita rasakan setelah berada di dalam. Kursi-kursi rotan yang rendah dengan meja bundar dan bertaplak kotak-kotak adalah peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan pemilik toko Oen. Tamu-tamu restoran duduk di kursi-kursi rotan ini. Sebagian tamu tampak turis asing yang kemungkinan berasal dari Belanda. Mereka mungkin mengenang nostalgia masa lalu ketika kakek buyutnya pernah berdinas di kota Malang.

Welkom in Malang dan kursi-kursi rotan rendah di dalam toko Oen

Welkom in Malang dan kursi-kursi rotan rendah di dalam toko Oen

Sudut lain di dalam toko Oen

Sudut lain di dalam toko Oen

Seperti yang saya sebutkan tadi, hidangan favorit di toko Oen adalah es krim. Saya memesan menu es krim tutti frutty. Cukup lama juga pesanan saya datang, maklum pengunjung restoran cukup banyak saat itu. Pelayan restoran memakai seragam seperti pakaian kaum pribumi zaman Hindia-belanda, yaitu putih-putih dan berpeci. Saya tidak tertarik dengan hidangan makanannya, sebab selain harganya yang mahal, saya memang tidak niat makan. Saya hanya ingin mencicipi es krimnya saja yang sering disebut orang khas dan enak. Oh iya, harga makanan dan minuman di Toko Oen lumayan mahal, tidak heran pengunjung toko ini kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Sebagai gambaran, satu sendok bulat es krim di dalam gelas seperti pada gambar di bawah harganya Rp35.000, cukup mahal untuk ukuran saya :-).

Es krim tutti frutty.

Es krim tutti frutty.

Sembari menunggu pesanan datang, saya melihat foto-foto lama kota Malang yang dipasang di didinding toko. Ada foto Gereja Katedral tahun 1920-an, foto toko Oen jadul, foto Bung Karno yang mengunjungi kota Malang, foto stasiun kereta api Malang, dan lain-lain. Melihat foto-foto tersebut kita dapat membayangkan suasana kota Malang pada zaman Belanda dulu.

Foto lama di dinding toko.

Foto lama di dinding toko.

Selain di Malang, toko Oen juga terdapat di kota Semarang dan Jakarta. Anda dapat membaca atikel yang lebih lengkap tentang toko Oen pada blog ini. Selamat mencoba es krim di toko Oen.


Written by rinaldimunir

March 9th, 2015 at 11:35 am

Posted in Cerita perjalanan

Peta Daerah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

without comments

Pada acara Dies Natalis ITB ke-56 kemarin, kami diberi Data dan Informasi Mahsiswa ITB Angkatan 2014. Hmmm….menarik juga melihat peta daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014. Hampir semua propinsi di tanah air terwakili di ITB, sehingga ITB sebagai kampus nusantara adalah julukan yang layak.

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Urutan 33 Propinsi daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014 adalah sebagai beriku:
1. Jabar, 1104 orang
2. DKI, 728 orang
3. Jatim, 370 orang
4. Jateng, 367 orang
5. Sumut, 212 orang
6. Banten, 179 orang
7. Sumbar, 135 orang
8. Lampung, 54 orang
9. Sumsel, 49 orang
10. Riau, 48 orang
11. DIY, 46 orang
12. Bali, 46 orang
13. Jambi, 28 orang
14. Sulsel, 22 orang
15. Kepri, 20 orang
16. Kalbar, 16 orang
17. Aceh, 15 orang
18. Kaltim, 14 orang
19. Gorontalo, 12 orang
20. Bengkulu, 7 orang
21. NTB, 6 orang
22. Sulteng, 4 orang
23. Bangka dan Belitung, 3 orang
24. Sultra, 3 orang
25. Kalsel, 2 orang
26. Maluku, 2 orang
27. Papua, 2 orang
28. Papua Barat, 2 orang
29. NTT, 1 orang
30. Maluku Utara, 1 orang
31. Sulbar, 1 orang
32. Kalteng, 1 orang
33. Sulut, 1 orang

Distribusi daerah tersebut memang belum merata. Jawa Barat dan DKI adalah propinsi penyumbang terbesar mahasiswa ITB. Untuk luar Jawa, mahasiswa asal Sumatera Utara dan Sumatera Barat adalah dua propinsi yang terbanyak mahasiswanya di ITB. Dari tujuh besar urutan propinsi yang mengirimkan mahasiswa terbanyak, lima diantaranya dari Pulau Jawa. Data ini berbicara banyak hal. Pertama, kita dapat melihat bahwa kantung0kantung daerah dengan kualitas pendidikan yang bagus masih berkutat di Pulau Jawa, sedangkan di luar Jawa adalah Sumut, Sumbar, Bali, Riau, Sumsel, Lampung, dan Sulsel. Namun, itu bukan berarti di daerah luar Jawa tidak ada bibit yang bagus. Sulawesi Utara misalnya, kualitas pendidikan di sana terkenal bagus, tetapi minat siswa SMA untuk kuliah di ITB minim. Mereka mungkin enggan memilih ITB dengan berbagai alasan seperti faktor ekonomi, jarak yang jauh, dan kesan kuliah di ITB itu mahal. Bisa juga karena informasi tentang kampus ITB ini masih relatif kurang sehingga tidak banyak diketahui.

Kedua, dulu zaman saya kuliah mahasiswa asal Jawa (Jateng, DIY, dan Jatim) di ITB jumlahnya lumayan banyak, kalau sekarang agak berkurang. Mungkin karena di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur memiliki perguruan tinggi yang tidak kalah dengan ITB, sehingga calon mahasiswa memilih kuliah di propinsi mereka saja. Selain itu mungkin kesan biaya hidup di Bandung mahal sehingga mengurangi minat lulusan SMA kuliah di ITB.

Ke depan saya berharap lebih banyak lagi calon mahasiswa dari luar Jawa kuliah di ITB. Kebhinnekaan mahasiswa di ITB adalah aset yang berharga, sehingga nanti kalau anda ingin melihat Indonesia mini, maka datanglah ke ITB.


Written by rinaldimunir

March 3rd, 2015 at 1:33 pm

Posted in Seputar ITB