if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2015

Tahu Susu dari Lembang

without comments

Oleh-oleh dari Lembang, Bandung, tidak hanya ulen (ketan bakar) atau komoditas sayuran, tetapi saat ini yang dicari wisatawan di sana juga oleh-oleh tahu susu. Entah sejak kapan dimulai produksi tahu susu di Lembang, saya juga kurang tahu. Namun yang jelas, tahu susu bukan hal yang aneh di Lembang, sebab Lembang adalah gudangnya peternakan sapi perah. Produksi susu yang berlimpah di sana mengilhami produsen tahu untuk membuat jenis tahu yang tidak biasa.

Nah, apa jadinya jika dalam proses pembuatan tahu dicampur dengan susu? Tentulah diperoleh tahu yang lembut, gurih, dan bergizi. Di pasar-pasar tradisionil di kota Bandung kadang-kadang ada pedagang yang menjual tahu susu dari Lembang itu. Saya membeli tahu susu produksi Lembang di pasar tradisionil di dekat perumahan di Antapani. Saya membeli sebungkus tahu susu berisi 10 tahu, harganya hanya Rp7000. Lumayan murah.

Tahu susu dari Lembang

Tahu susu dari Lembang

Di kota Bandung sendiri juga terdapat kawasan penghasil tahu yang terkenal, yaitu daerah Cibuntu (dikenal dengan tahu cibuntu). Produsen tahu di Cibuntu pun ikut-ikutan memproduksi tahu susu. Selain tahu susu mereka juga memproduksi tahu keju. Soal kreativitas orang Bandung memang tidak ada habis-habisnya. Namun setelah saya mencoba tahu susu dari Cibuntu, menurut saya tetap lebih enak tahu susu dari Lembang. Yang enak-enak itu memang kalau berasal dari tempat aslinya.

Tahu susu ini lebih nikmat jika dimakan dalam keadaan panas, dan tentu saja pakai sambal cabe rawit yang membuat mulut hah huh hah huh…

Yuk, sarapan pagi dulu. Bismillah.


Written by rinaldimunir

February 27th, 2015 at 8:23 pm

Posted in Makanan enak

Etika Menulis Surat Anak Muda Zaman Sekarang

without comments

Kesantunan berkomunikasi tampaknya sudah mulai pudar pada anak-anak muda kita zaman sekarang. Berkomunikasi melalui surat ada etika ataiu tata kramanya. Bahasa tulisan sama pentingnya dengan bahasa lisan, di dalamnya kita seharusnya mengedepankan sopan santun dalam menulis pesan atau surat kepada orang lain. Pemilihan kata dan kalimat di dalam surat dapat menunjukkan kualitas adab seseorang.

Suatu hari saya menerima pesan yang dikirim melalui messenger dari seorang mahasiswa luar kampus yang tidak saya kenal. Ia meminta bahan suatu modul algoritma (mungkin karena terkait dengan mata kuliah yang saya ajar). Di akhir pesan dia menulis begini, “Saya minta tolong kirim ke email saya, Pak. Terima kasih“, tulisnya.

Wah, bahasanya itu lho, bernada memerintah. Sudahlah saya tidak kenal, lalu memerintahkan saya untuk mengirimkan file modul tersebut ke alamat surelnya. Hei, who are you, guy? I don’t know you but you ask me to send a file to your email address. Tidakkah bisa menuliskannya dengan bahasa yang lebih sopan sebagai berikut: “Mohon maaf, Pak. Jika bapak berkenan, saya membutuhkan bahan algoritma yang ada pada Bapak… dst. Jika tidak keberatan, dapatkah Bapak mengirimkannya kepada saya via email? Berikut email saya…… Mohon maaf bila telah merepotkan dan terima kasih banyak atas bantuannya”. Nah, kalau begini kan lebih sopan daripada pesan pertama, bukan? Surat-surat dengan bahasa memerintah seperti itu sudah sering saya terima, meskipun agak kurang sopan bahasanya namun tetap saya layani juga (sambil mengeluh prihatin dengan bahasa tulisannya).

Rekan saya di kampus pernah menerima surel dari mahasiswa walinya. Mahasiswa tersebut mengalami kehilangan dokumen penting, lalu dia bertanya kepada dosen walinya dengan menyebut kata “Anda” sebagai berikut: “Saya bernama …… dengan NIM …. Anda adalah dosen wali saya. Saya mengalami suatu masalah ….dst…dst.”

Waw, kepada gurunya (dosen) mahasiswa memanggil dengan kata “Anda”? Kalau dalam Bahasa Inggris semua kata yang menunjuk kepada kamu, Anda, kau, dan sebagainya hanya satu kata saja yaitu you. Kamu memanggil ayahmu dengan kata you, gurumu dengan kata you, itu wajar-wajar saja. Tetapi, dalam Bahasa Indonesia kata “Anda” tidaklah pantas disematkan kepada orang yang kita hormati, yaitu orangtua kitya sendiri maupun guru-guru kita. Kita dapat memanggilnya dengan kata Bapak atau Ibu, dan bukan “Anda”.

Masih tentang etika menulis, rekan saya mengeluhkan surel mahasiswanya yang memberikan pilihan waktu untuk bertemu. Begini bunyi surel tersebut: Äpakah ibu memiliki waktu kosong diantara:
– hari ini
– besok sebelum jam 10 pagi
– besok jam 2-14 siang?

Waduh, tepok jidat. Mahasiswa tersebut yang memiliki keperluan dengan dosennya, tapi dia pula yang menentukan pilihan waktu untuk bertemu, seperti menjawab soal pilihan berganda saja.

Dan yang ini lebih parah lagi: “Saya akan datang ke meja ibu pukul xxx, tolong ibu ada di tempat“.

Beginilah jadinya jika pendidikan etika diabaikan. Anak-anak muda kita sangat perlu dididik tentang etika menulis surat, termasuk etika berinternet. Setinggi apapun ilmu yang dimiliki seseorang, tidak ada artinya jika mengabaikan etika. Ingatlah bahwa di atas ilmu pengetahuan itu ada etika. Dahulukan adab sebelum ilmu, demikian kata para ulama.


Written by rinaldimunir

February 26th, 2015 at 4:09 pm

Posted in Pendidikan

Jangan Kau Bunuh Anakmu!

without comments

Beberapa hari ini saya masih shock membaca berita tentang kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Hanya karena masalah rebutan baju dengan kakaknya, Deni tega memukul anaknya, Kasih Ramadhani (7 tahun) dengan kalap menggunakan bambu berkali-kali hke kepala dan badan anaknya. Coba kamu baca, sesudah selesai memukul hingga berdarah-darah, Kasih masih sempat meminta maaf kepada pembunuhnya, yang tidak lain ayahnya sendiri.

Kasih Ramadani (7), berjalan sempoyongan mengambil air untuk membersihkan darah yang mengalir di wajahnya, di rumah Eko Hendro (40) di Dusun Buwek, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Sabtu (21/2). Lalu, ia berjalan menghampiri ayahnya, Deni (30) yang telah memukulnya hingga berdarah untuk meminta maaf.

“Anak saya sempat cuci muka, lalu meminta maaf ke saya. Setelah itu dia roboh. Saya sangat menyesal,” kata Deni ayah Kasih yang membunuh anaknya sendiri saat dimintai keterangan polisi, Ahad (22/2).

Usai meminta maaf, Kasih masih sempat meneguk air putih dan kemudian roboh. Napasnya tersengal-sengal. Darah terus mengalir dari kepalanya. Ayahnya panik lalu membopong Kasih ke gubuk yang ada di kebun samping rumah Hendro. Ayahnya mengikatkan baju di kepala Kasih untuk membendung darah agar tidak terus mengalir. Tapi nyawa Kasih tetap tidak tertolong.

Sumber: Sebelum Meninggal, Kasih Minta Maaf pada Pembunuhnya

Berita selengkapnya dapat dibaca di sini: Rebutan Baju dengan Kakak, Anak 7 Tahun Tewas Setelah Dipukuli Ayahnya

Hiks…hiks…hiks, saya menangis membacanya, terbayang jeritan pilu dan raungan Kasih karena dipukul bertubi-tubi oleh ayahnya yang kalap. Bayangkan anak yang masih kecil, masih berusia tujuh tahun, yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya, yang masih mknta digendong atau dipangku, sekarang dihabisi nyawanya oleh ayah kandungnya sendiri. What a humanity?

Anak-anak nakal itu kan biasa, sirik-sirikan dengan saudara kandungnya juga biasa, bertengkar dengan adik karena rebutan mainan, makanan, atau pakaian adalah hal yang lumrah, tetapi orangtua yang marah besar kepada anak-anaknya sehingga melakukan kekerasan fisik kepada anaknya yang dianggap nakal sampai anak tersebut mati, maka kejahatan yang dilakukan oleh orangtua tidak sebanding dengan kenakalan anak-anaknya. Menyesali diri setelah anak kandung yang sejak kecil diberi makan dan dibesarkan dengan susah payah itu mati sudah tiada gunanya lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

Orangtua boleh stres karena banyak masalah, tetapi otak juga harus jalan dan sadar sehingga dapat membedakan mana perbuatan yang melampaui batas. Punya masalah dengan orang lain jangan sampai anak yang menjadi pelampisan kemarahan.

Saya teringat dengan anak saya yang juga sepantaran Kasih. Meskipun saya kadang-kadang jengkel dengan ulah anak, tetapi saya selalu menahan diri untuk tidak marah secara berlebihan. Malahan saya seringkali menyesal setelah memarahi anak saya sampai-sampai saya tidak tenang bekerja di kantor. Sore hari ketika saya pulang ke rumah, saya ciumi anak saya sebagai tanda menyesal karena memarahi dia dengan berlebihan.

Nah, ini ada orang yang memarahi anaknya sampai setega itu hingga menghabisinya. What a humanity?

Selamat jalan Kasih, semoga kamu mendapat baju yang lebih baik di Taman Surga.


Written by rinaldimunir

February 24th, 2015 at 10:04 am

Posted in Renunganku

Thawaf dan Tarian Alam Semesta

without comments

Ini kenanganku ketika melaksanakan ibadah umrah bulan lalu. Masih terbayang-bayang di depan mata saat-saat aku thawaf di depan ka’bah di Masjidil Haram. Diri ini terasa begitu kecil di hadapan-Nya.

Aku berdiri di lantai dua bangunan temporary ring dan memandang ke bawah. Ratusan ribu jamaah berjalan mengitari ka’bah sejumlah tujuh putaran dalam prosesi ibadah thawaf. Tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang dibangun selama proses renovasi besar-besaran Masjidil Haram. Semua bergerak serempak dalam arah berlawanan dengan jarum jam, sambil melafalkan doa, bertasbih, menyebut Nama Allah Yang Maha Besar dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad yang dicintai jutaan muslim sedunia.

Saat aku melakukan sendiri thawaf di depan ka’bah bersama-sama ribuan jamaah lain, bulu kudukku merinding dan hati bergetar ketika berada di dalam pusaran yang berputar itu. Kau pun akan merasakan hal yang sama jika mengalaminya sendiri. Klik foto di bawah ini untuk melihat lebih jelas.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.

Tahukah kamu, sesungguhnya gerakan mengelilingi ka’bah tersebut adalah metafora dari gerakan alam semesta yang dinamakan “tarian alam semesta”. Alam pun berthawaf dengan caranya sendiri. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom, mitokondria di dalam sel makhluk hidup berputar mengelilingi inti sel, dsb. Sambil berputar sesungguhya alam ini bertasbih memuji Penciptanya.

Tarian alam semesta itu menghasilkan harmoni atau keseimbangan alam. Andai jika gerakan alam tersebut berhenti, niscaya hancurlah alam semesta ini. Apa jadinya jika bumi berhenti berputar, elektron berhenti mengelilingi inti atom? Maka binasalah alam ini. Allah menyuruh ummat-Nya berthawaf untuk merenungkan alam semesta yang luas maha luas ini.

Aku berada di dalam gelombang pusaran manusia yang berputar itu. Terombang-ambing sendiri. Kadang terombang ke kiri, kadang terambing ke kanan saking padatnya jamaah. Aku bagaikan setitik kecil di antara lautan manusia itu.

Maha Suci Allah yang menyuruh manusia belajar dari alam semesta yang diciptakan-Nya.


Written by rinaldimunir

February 16th, 2015 at 4:58 pm

Posted in Renunganku

Saus Tomat dan Sambal itu Ternyata Tidak Pakai Tomat dan Cabai Sama Sekali

without comments

Akhir bulan Januari yang lalu kepolisian Bandung menggerebek sebuah pabrik saus palsu di kawasan Caringin Bandung. Saus tomat dan sambal yang diproduksi oleh pabrik tersebut menganduung zat kimia yang berbahaya. Bahkan yang mengejutkan, saus tomat dan sambal yang dihasilkan sama sekali tidak menggunakan bahan baku tomat dan cabai sama sekali. Seperti dikutip dari berita ini:

“Sambal dan saus ini bahannya dari ampas tapioka (onggok) 27 kilogram, ekstrak bawang putih 3-4 kilogram, ekstrak cabai leoserin capsikum 0,5 ons, saksrin 50 gram, garam 4 kilogram, cuka 200 gram, pewarna sunset 1 ons, perwarna jenis poncau satu sendok, potasium fospat 50 gram, dan bibit cairan tomat 0,5 ons,” sebutnya.

POLISI memeriksa bahan baku saat melakukan penggerebekan pabrik saus sambal di Jln. Cicukang, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Senin (26/1/2015).  Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/313681

POLISI memeriksa bahan baku saat melakukan penggerebekan pabrik saus sambal di Jln. Cicukang, Kelurahan Caringin, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Senin (26/1/2015). Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/313681

Berita lainnya dapat dibaca di sini dan di sini.

Mengerikan, bukan? Saus semacam inilah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat bawah karena harganya murah. Para pedagang kaki lima yang menjual bakso, mie ayam, nasi goreng, dan lain-lain adalah konsumen utama saus tomat dan sambal yang berbahaya itu. Di pasar-pasar tradisionil banyak kedai yang menjual saus dan sambal isi ulang dalam kemasan plastik berkapasitas 1 kg. Pedagang kaki lima yang membelinya lalu memindahkannya ke dalam botol. Warnanya yang merah meriah menggoda konsumen untuk mencampurkannya ke dalam bakso atau mie ayam.

Dikonsumsi satu kali atau dua kali mungkin tidak terlihat efeknya, tetapi jika dikonsumsi dalam frekuensi yang sering dan dalam waktu yang lama, maka efeknya tentu sangat berbahaya bagi tubuh. Salah satu penyakit yang mungkin timbul dari konsumsi zat kimia berbahaya adalah kanker.

Saos-TomatSejak dulu saya selalu menghindari memakai saus tomat dan sambal dari pedagang bakso atau mie ayam kaki lima. Saya tidak percaya itu saus tomat asli atau sambal asli. Saya sudah lama tahu bahwa bahan baku utamanya adalah tepung singkong/tapioka. Mungkin saja ada pabrik yang menggunakan tomat dan cabai beneran, tetapi proporsinya tentu sangat kecil. Rasa tomat dan rasa pedas lebih banyak diperoleh dari penggunaan essens (perasa buatan). Tapi ini masih mendingan daripada pabrik di atas yang sama sekali tidak menggunakan tomat dan sambal, semuanya dalam bentuk ekstrak dan essens, sudah itu lalu ditambah lagi dengan bahan kimia berbahaya.

Kalau saya membeli bakso atau mie ayam dari pedagang kaki lima, biasanya saus dan sambalnya tidak saya pakai. Jika saya membelinya untuk dibawa pulang, maka setiba di rumah saya memakai saus tomat dan sambal botol dari merek yang sudah dikenal di pasaran.

Pengusaha yang memproduksi saus tomat dan sambal palsu mungkin hanya memikirkan untung besar saja, mereka tidak memikirkan (atau tidak peduli) dari bahaya penggunaan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh. Di sisi lain masyarakat kita tidak aware dengan dampak buruk makanan yang mengandung zat kimia berbahaya. Mereka hanya mementingkan harga murah semata. Sudah saatnya masyarakat kita dieduksi untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.


Written by rinaldimunir

February 12th, 2015 at 3:12 pm

Posted in Seputar Bandung

Pelajaran Berharga dari Penjual Nasi Kuning

without comments

Nasi kuning merupakan sarapan pagi orang Bandung. Nasi kuning adalah semacam nasi uduk tetapi berwarna kuning karena memakai kunyit (bahasa Sunda: koneng). Rasanya gurih karena dimasak dengan santan dan aneka daun rempah-rempah. Hampir setiap pekan saya membeli nasi kuning, karena anak saya suka sekali memakannya. Salah satu penjual nasi kuning langganan saya adalah seorang ibu yang membuka warung di pinggir jalan di kawasan perumahan. Sejak dulu harga sebungkus nasi kuningnya cuma Rp5000. Murah sekali, bukan? Seporsi nasi kuning terdiri atas nasi kuning, irisan telur dadar, oseng-oseng tempe, sambal oncom, dan kerupuk. Harga Rp5000 itu bertahan selama bertahun-tahun. Barulah setahun lalu terpaksa dinaikkan menjadi 6000. Saya katakan “terpaksa” karena si ibu penjual nasi kuning melakukannya dengan berat hati. Banyak pelanggan setianya protes karena harganya dinaikkan seribu. Pelanggan setia penjual nasi kuning adalah mamang-mamang penarik beca, tukang ojeg, pedagang sayur keliling, yang penghasilannya memang pas-pasan.

Sejak kenaikan harga BBM awal tahun yang lalu, harga barang-barang kebutuhan lainpun ikut naik sebagai efek domino dari kenaikan BBM, termasuk harga bahan baku pembuatan nasi kuning, terutama sekali beras. Kenaikan harga BBM telah menyengsarakan rakyat kecil. Sekarang, meskipun harga BBM sudah diturunkan, namun harga barang kebutuhan tidak mau turun. Saya menyarankan kepada si ibu penjual nasi kuning untuk menaikkan harga dagangannya menjadi Rp7000. Saya kira para pembeli pasti bisa memakluminya. Di pedagang lain harga seporsi nasi kuning rata-rata sudah Rp7000, bahkan ada yang seporsi delapan ribu hingga sepuluh ribu. Masa si ibu nggak ikut menaikkannya? Apa dia tidak rugi nanti?

Apa jawab si ibu? “Ah enggaklah den, kasihan yang beli, nanti pada lari. Biar harganya 6000 tetapi yang penting tetap ada yang beli. Biar (untung) sedikit tetapi langgeng”.

Sederhana sekali pikiran si ibu. Ia lebih memperhatikan kelestarian pelanggan ketimbang mencari untung lebih besar. Apa gunanya menaikkan harga tetapi pelanggan menjauh dan akhirnya usahanya tutup. Maka, yang dilakukannya adalah mengurangi sedikit porsi nasi kuning namun harga tetap. Prinsip ini banyak dianut pedagang kecil, mereka lebih mempertahankan pelanggan ketimbang tergoda untung yang lebih besar.

Begitu juga seorang hamba dalam beramal sholeh, biar amalan kecil tetapi terus menerus (langgeng) alias istiqamah. Biar sedekah cuma seribu tetapi rutin setiap hari, biar sibuk bekerja tetapi sholat Dhuha dan sholat malam rutin dikerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai amalan yang sedikit namun terus menerus (langgeng/lestari).

Dikutip hadis dari sini, dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”

Pelajaran berharga dari penjual nasi kuning, biar sedikit tetapi terus menerus.


Written by rinaldimunir

February 11th, 2015 at 11:47 am

Posted in Agama,Kisah Hikmah

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

without comments

Rasanya empat hari di kota Makkah masih kurang, masih belum puas beribadah di Masjidil Haram. Ingin sekali selalu berada di sana, beri’tikaf, sholat, thawaf, sa’i, dan lain-lain. Namun karena ini program paket umrah, maka selalu ada wisata ziarah menuju tempat-tempat bersejarah.

Selama satu hari kami mengunjungi banyak tempat di kota Makkah dan sekitarnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur, sekitar 6 km dari kota Makkah. Jabal Tsur adalah sebuah bukit yang di atasnya terdapat sebuah gua. Di sinilah Rasulullah bersembunyi di dalam sebuah gua bersama sahabatnya, Abu Bakar, dari kejaran pemuda-pemuda Quraisy. Ketika para pemuda Quraisy sampai di bukit itu, Allah SWT menurunkan pertolongannya. Mulut gua itu ditutupi sarang laba-laba dan di dekatanay ada sarang burung merpati. Para pemuda Quraisy menyangka bahwa tidak mungkin Rasulullah berada di dalam gua itu, sebab jika orang masuk ke dalamnya pasti rusaklah sarang laba-laba tersebut. Selamatlah Rasululullah dan shabatnya dari kejaran kaum Quraisy.

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Di Jabal Tsur kami hanya singgah sebentar. Mari lanjutkan perjalanan menuju tempat wukuf di Arafah. Padang Arafah saat ini tidak gersang lagi, sudah banyak pepohonan yang ditanam di sana. Pohon-pohon itu tidak pernah bisa tinggi, mungkin memang jenisnya demikian. Di Padang Arafah ada pohon yang dinamakan Pohon Soekarno, karena dulu Presiden Soekarno pernah menaman beberapa pohon di sana.

Di dekat Padang Arafah ada bukit yang sangat terkenal, yaitu Jabal Rahmah. Inilah bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa yang terpisah selama ratusan tahun setelah terusir dari Surga akibat memakan buah larangan. Jabal Rahmah teletak di dekat Padang Arafah. Di atas bukit ini terdapat sebuah tugu untuk mengenang pertemuan Adam dan Hawa.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Mendaki Jabal Rahmah tidak sulit-sulit amat. Para aki-aki dan nini-nini yang sudah sepuh pun masih kuat untuk mendakinya. Maklum saja ini bukit batu dan banyak tempat untuk berpijak ketika mendaki. Kalau mau lebih aman, jamaah bisa naik tangga yang sudah dibuat oleh Pemerintah Arab Saudi. Tangga menuju Jabal Rahmah terletak di sisi timur. Antusiasme jamaah umrah untuk mendaki bukit ini luar biasa. Tak henti-hentinya jamaah mengalir mendaki bukit batu ini.

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Dari Arafah kita menuju Mina. Inilah tempat di mana para jamaah haji bermalam sebelum melontar jumrah. Di Mina sudah terpasang ribuan tenda tempat jamaah haji menginap. Meskipun bukan bulan haji, tenda-tenda itu tidak pernah dibongkar, dan kita dapat menyaksikannya sepanjang perjalanan.

Tenda-tenda di Mina

Tenda-tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Selesai melewati Mina, jamaah umrah kembali ke kota Makkah. Sebelum memasuki pusat kota Makkah, kami singgah terlebih dahulu di sebuah museum eksibisi arsitektur dua masjid suci, yaitu Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di museum ini kiat dapat melihat sejarah elemen-elemen arsitektur kedua masjid suci tersebut.

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Di museum ini kita dapat melihat:
1. Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

2. Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Nabi Ibrahim yang terletak di depan ka’bah)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

3. Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

4. Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

5. Kunci pintu ka’bah

Kunci pintu ka'bah

Kunci pintu ka’bah

6. Tangga kayu ka’bah yang dibuat tahun 1420 H

Tangga ka'bah yang terbuat dari kayu jati

Tangga ka’bah yang terbuat dari kayu jati

7. Pintu Masjid Nabawi

Pintu  Masjid Nabawi

Pintu Masjid Nabawi

8. Dan lain-lain, masih banyak lagi yang bisa dilihat, sayang sekali waktunya hanya sebentar, kami sudah dipanggil untuk naik ke bis, sebab waktu sholat Dhuhur hampir tiba. Kami para jamaah akan segera menuju Masjidil Haram untuk sholat. Sebelum pergi, saya sempatkan dulu berfoto dulu di dalam museum ini. Sebelum pulang, setiap pengunjung mendapat oleh-oleh sebuah Al-Quran gratis dari pengelola museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

Sehari sebelum pulang ke tanah air, para jamaah jalan-jalan di kota Jeddah untuk membeli oleh-oleh yang masih kurang. Perjalanan dari Makkah ke Jeddah hanya sekitar dua jam. Kota Jeddah adalah kota pelabuhan karena letaknya di pinggir laut. Di sini juga terdapat bandara internasional untuk kedatangan jamaah haji. Sepanjang perjalanan dari Makkah ke Jeddah kita disuguhi pemandangan yang kering dan tandus. Sekali-sekali kita melihat tenda suku badui dan untanya.

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Di Jeddah para jamaah berbelanja di pusat perbelanjaan ‘yang katanya’ murah. Toko-toko di sini ‘ramah’ dengan orang Indonesia. Maksudnya ramah adalah pegawai tokonya bisa berbahasa Indonesia. Uang rupaih berlaku di sini selain riyal tentunya. Berada di sini serasa tidak berada di Arab Saudi, karena kita mudah menemukan kedai bakso, kedai soto, kedai siomay, orang Indonesia, dan tentu saja tulisan-tulisan berbahas Indonesia.

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Jamaah umrah atau haji yang berada di Jeddah pasti tidak lupa untuk mengunjungi masjid terapung. Dalam perjalanan menuju bandara Jeddah, kami menyempatkan diri untuk sholat Subuh di masjid terapung. Masjid yang terletak di pinggir Laut Merah ini sebenarnya tidak terapung, hanya sebagian badan masjid terletak di atas laut. Sayangnya masjid ini kurang terawat, toiletnya tampak kurang dibersihkan, bau pesing di mana-mana.

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung

Masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Akhirnya, kisah perjalanan umrah ke Tanah Suci harus berakhir. Sedih rasanya ketika melaksanakan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan semalam sebelum kami berangkat ke Jeddah. Saya akan berpisah dengan Masjidil Haram. Ketika berdoa pada akhir thawaf wada’, maka mintalah agar kelak suatu saat kita diberi kesempatan untuk mengunjungi Baitullah dan Masjid Nabawi kembali.

Sesampai di terminal haji Bandara Jeddah, saya merenung. Semoga saya bisa ke Tanah Suci kelak beberapa tahun lagi untuk menunaikan ibadah haji. Saya mendapat kuota haji pada tahun 2018 yang berarti tiga tahun lagi. Rasanya sudah tidak sabar ingin kembali ke Tanah Suci. Rasanya begitu sebentar. Bahkan baru beberapa hari saya berada di tanah air, saya merasa kangen dan rindu untuk kembali ke sana.

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz,  Jeddah

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Pesawat Saudi Arabian sudah menunggu di landasan. Satu persatu para jamaah umrah memasuki badan pesawat. Tidak ada isak tangis atau air mata, yanga ada adalah perasaan bahagia karena sudah berkunjung ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah.

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Selamat tinggal kota suci Makkahh dan Madinah, semoga kami dapat mengunjungimu kembali suatu hari nanti. (TAMAT)


Written by rinaldimunir

February 10th, 2015 at 4:02 pm

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 6): Masjidil Haram pada Waktu Siang

without comments

Pada siang hari kita dapat menyaksikan Masjidil Haram lebih jelas dan lebih terang, termasuk pemandangan di sekelilingnya. Titik sentral Masjidil Haram tentulah bangunan ka’bah yang berbentuk kubus dan berselimut kain hitam bernama kiswah. Inilah pusat kiblat shalat ummat Islam di seluruh dunia. Jika di Indonesia kita sholat dengan menghadap ke arah barat dan serong sedikit ke kanan, maka di Masjidil Haram kita dapat menghadap ke arah mana saja asalkan menghadap ke ka’bah.

Ka'bah, titik sentral Masjidil Haram dan pusat kiblat ummat Islam sedunia

Ka’bah, titik sentral Masjidil Haram dan pusat kiblat ummat Islam sedunia

Ka’bah tidak pernah sepi dari jamaah yang sholat dan jamaah yang thawaf. Ketika kita sedang sholat di dekat ka’bah mungkin di depan kita lalu lalang jamaah yang berjalan melakukan thawaf. Jamaah yang melakukan thawaf tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang mengitari ka’bah. Semua bergerak dalam arah yang sama menghasilkan ritme yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Crnae-crane proyek perluasan masjid tampak menyembul dari luar masjid seakan-akan mengamati para jamaah yang melaksanakan thawaf.

Bergerak serentak melaksanakan thawaf, baik di lantai dasar did epan ka'bah maupun di temporary ring di lantai satu dan lantai dua.

Bergerak serentak melaksanakan thawaf, baik di lantai dasar di depan ka’bah maupun di temporary ring di lantai satu dan lantai dua.

Di Masjidil Haram kita disunnahkan sering melaksanakan thawaf, tidak hanya pada prosesi umrah saja. Selama di Makkah, saya alhamdulillah telah lima kali melakukan thawaf, baik sebelum sholat wajib atau sesudahnya. Melakukan thawaf tujuh putaran memakan waktu 30 menit hingga 40 menit. Menjelang dimulainya sholat fardhu, para askar dan petugas Masjidil Haram menghimbau jamaah menghentikan thawafnya karena sholat fardhu atau sholat wajib akan dimulai. Setelah selesai sholat, kita dapat melanjutkan putaran thawaf sisanya.

Ka'bah dengan latar belakang Menara Zam-zam

Ka’bah dengan latar belakang Menara Zam-zam

Ada satu titik di ka’bah yang menjadi rebutan jamaah untuk menjamah dan menciumnya. Itulah hajar aswad atau batu hitam. Batu yang diyakini berasal dari syurga itu selalu diimpikan para jamaah untuk sekedar memegang atau menciumnya. Pada mulanya batu tersebut berwarna putih, namun karena dosa-dosa mansuialah maka ia berubah menjadi hitam.

???? ????? ???????? ????? ????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- « ?????? ????????? ?????????? ???? ?????????? ?????? ??????? ???????? ???? ????????? ????????????? ???????? ????? ????? »

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)

???? ????? ???????? ????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ????? « ????????? ?????????? ???? ?????????? ??????? ??????? ???????? ???? ????????? ?????? ??????????? ???????? ?????? ?????????.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam.” (HR. Ahmad 1: 307.

(Sumber hadis dari sini)

Kenapa kita ummat Islam disunnahkan mencium batu tersebut padahal ia tidak mendatangkan manfaat maupun mudhorat apa-apa? Jawabannya adalah karena Rasululah pernah menciumnya, maka ummatpun mencontoh Rasulnya dengan ikut menciumnya pula.

???? ??????? ???? ????????? ????? ???????? ?????? ????????? ????????? ????????? ?????? ???????????? ?????????? ??????? ?????? ????????? ?????? ???????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ??????????? ???? ???????????

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

?????? ???????????? ???????? ???????? ??????? ?????? ????????? ??? ??????? ????? ???????? ????????? ?????? ???????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ????????? ??? ???????????

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).

Hajar aswad letaknya di sudut ka’bah. Untuk bisa mencapai batu itu perjuangannya sungguh luar biasa. Semua jamaah berebut untuk sekedar memegang atau menciumnya. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Banyak yang sudah hampir mencapai batu tersebut, namun kemudian tubuhnya terlempar lagi keluar karena dorongan yang kuat dari jamaah asal Turki dan Mesir yang badan-badannya besar-besar. Saya sudah beberapa kali mencoba mendekati hajar aswad, namun selalu gagal karena tidak kuat menahan dorongan jamaah yang berdesak-desakan. Daripada badan saya hancur terjepit atau patah, biarlah saya mengalah dan tidak jadi mencapainya. Saya hanya bisa melambaikan tangan dan mengecup dari jauh kepada hajar aswad sebagai simbol saya memegang dan menciumnya. Sedih.

Satu pemandangan yang mungkin tidak pernah terbayangkan terjadi beberapa tahun lampau adalah fenomena jamaah berfoto-foto di depan ka’bah. Dulu, setahu saya, membawa kamera ke dalam Masjidil Haram adalah tindakan terlarang, apalagi memotret ka’bah atau berfoto di depannya. Para askar yang bertugas di Masjidil Haram akan merebut kamera kita dan tidak akan pernah mengembalikannya lagi. Namun saat ini, sejak kamera menyatu dengan ponsel, maka larangan itu sekarang sudah longgar. Para jamaah tampak memotret selfie atau saling memotret dengan kamera ponselnya. Saya pun meminta bantuan seorang jamaah Indonesia untuk memotret saya dengan latar belakang ka’bah sebagai kenang-kenangan.

Saya dengan latar belakang ka'bah

Saya dengan latar belakang ka’bah

Tidak henti-hentinya jamaah mengalir memasuki masjid. Semakin siang semakin ramai jamaah berdatangan menuju ke depan ka’bah. Saya begitu terharu menyaksikan antusiasme umat Islam dari berbagai bangsa untuk sholat dan thawaf di depan ka’bah.

Jamaah yang terus mengalir memasuki pelataran ka'bah

Jamaah yang terus mengalir memasuki pelataran ka’bah

Di sekeliling Masjidil Haram terdapat pelataran yang luas dan masih terus dibangun dengan latar belakang hotel-hotel yang menjulang. Raja Arab Saudi terus memperluas Masjidil Haram untuk menampung jamaah haji dan umrah yang selalu bertambah setiap tahun. Jamah yang tidak dapat masuk mendekati ka’bah bisanya sudah cukup puas bisa sholat di pelataran ini. Kebanyakan jamaah perempuan yang memilih sholat di pelataran di luar Masjidil Haram.

Pelataran Masjidil Haram dengan latar belakang hotel-hotel.

Pelataran Masjidil Haram dengan latar belakang hotel-hotel.

Pelataran Masjidil Haram

Pelataran Masjidil Haram

Pelataran di luar Masjidil Haram

Pelataran di luar Masjidil Haram

<img src="https://rinaldimunir.files.wordpress.com/2015/02/dsc_0793.jpg?w=640" alt="Pelataran Masjdil Haram dan hotel-hotel di sekelilingnya. Menara-menara crane tegak berdiri menandakan proyek perluasan Masjidil Haram secara besar-besaran” width=”640″ height=”480″ class=”size-large wp-image-10006″ /> Pelataran Masjdil Haram dan hotel-hotel di sekelilingnya. Menara-menara crane tegak berdiri menandakan proyek perluasan Masjidil Haram secara besar-besaran
Pertokoan di sekitar Masjidil Haram

Pertokoan di sekitar Masjidil Haram

Menara Zam-zam diwaktu pagi usai sholat Shubuh

Menara Zam-zam diwaktu pagi usai sholat Shubuh

Hotel Elaf El Mashaer tempat kami menginap, 300 meter dari Masjidil Haram

Hotel Elaf El Mashaer tempat kami menginap, 300 meter dari Masjidil Haram

Setiap waktu sholat tiba, jamaah berduyun-duyun memasuki kompleks Masjidil Haram. Jika kita datang setengah jam sebelum adzan, maka jangan harap kita dapat memasuki Masjidil Haram. Pelataran masjdi saja sudah penuh dengan manusia. Maka, jika di pelataran masjid saja tidak ada tempat, maka jamaah sudah puas sholat di atas trotoar di pinggir jalan atau trotoar di depan pertokoan. Setiap adzan berkumandang, pemilik toko di Mekkah menutup tokonya, jadi tidak ada lagi lalu lalang pembeli, dan jamah dapat dengan tennang sholat di selasar atau di atas trotoar di depan toko.

Sholat di atas trotoar di depan pertokoan.

Sholat di atas trotoar di depan pertokoan.

(BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

February 6th, 2015 at 2:57 pm

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 5): Ibadah Umrah ke Kota Makkah

without comments

Tibalah hari yang dinanti-nanti yaitu bersiap menuju kota Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Ibadah sholat di Masjid Nabawi tidak termasuk ke dalam rangkaian ibadah umrah. Ibadah umrah itu intinya adalah thawaf, sa’i, dan tahalul. Jika pada ibadah haji ada wukuf di arafah, melontar jumrah di Mina, dan bermalam di Muzdalifah, maka ibadah umrah hanya terdiri atas tiga rangkaian ibadah itu saja, sehingga umrah dinamakan juga haji kecil. Sebenarnya ibadah umrah bisa diselesaikan selama satu hari saja karena prosesi thawaf, sa’i, dan tahalul paling lama memakan waktu lima jam. Selesai ibadah umrah kita bisa langsung pulang ke tanah air (setelah sebelumnya melakukan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan). Saya teringat peristiwa pada Pilpres 2014 yang lalu, banyak orang Indonesia mencemooh Capres Jokowi yang pergi melaksanakan umrah demikian cepat, hari ini sampai di Makkah lalu besoknya sudah pulang lagi ke tanah air. Orang-orang mencemooh kok singkat sekali umrahnya, umrah apaan itu? Selama ini publik beranggapan bahwa umrah itu setidaknya dilaksanakan selama satu minggu, tetapi kalau kita mengetahui bahwa ibadah umrah hanyalah tiga rangkaian ibadah tadi, maka kita seharusnya paham dan tidak mencela orang lain yang melaksankan umrah selama satu hari terlepas preferensi politik yang kita miliki.

Namun, kalau kita hanya melaksanakan umrah selama satu hari saja lalu pulang lagi ke tanah air tentu sangat disayangkan. Rugi ‘menambang’ pahala, karena kita tidak dapat meraih pahala sholat sebanyak-banyaknya di Masjid Nabawi dan di Masjidil Haram. Jamaah umrah bermukim agak lama di Madinah agar dapat sholat di Masjid Nabawi sebanyak mungkin, begitu juga bermukim agak lama di Makkah agar dapat melaksanakan sholat dan thawaf sesering mungkin di depan ka’bah. Program paket umrah yang saya ambil adalah selama 9 hari, yaitu 4 hari di Madinah (termasuk keberangkatan dari tanah air), empat hari di Makkah, dan satu hari kepulangan ke tanah air.

Hari Jumat sesudah sholat Jumat dan makan siang, kami segera memakai baju ihram. Baju ihram bagi laki-laki adalah dua lembar kain putih yang tidak berjahit, sedangkan bagi perempuan cukup menggunakan mukena atau pakaian yang menutup aurat kecuali muka dan telapak tangan. Pakaian ihram yang dua lembar itu hikmahnya adalah untuk mengingatkan kita pada kematian. Nanti kalau kita mati, maka kita tidak membawa apa-apa keceuali dua lembar kain kafan yang membungkus jenazah kita.

Memakai kain ihram adalah hal yang baru bagi saya. Kita tidak boleh memakai apa-apa lagi kecuali dua lembar kain ihram itu. Tidak bole memakai celana dalam, singlet, topi/kopiah, dan busana lainnya. Namun kalau memakai jam tangan, tas selempang, ikat pinggang, kacamata, masih diperbolehkan. Kain ihram terdiri dari dua lembar, kain yang pertama sebagai penutup aurat dari pusar hingga lutut, sedangkan kain ihram yang kedua untuk menutup badan dari bahu hingga perut. Bahan kain ihram terbuat dari jenis kain handuk sehingga cukup tebal untuk menghangatkan badan di tengah hawa dingin saat itu. Rasanya gimana gitu ya berpakaian tanpa menggunakan pakaian dalam, hi…hi..hi, sambil berjalan-jalan lagi. Agar kain ihram tidak melorot, maka sebaiknya kita memakai ikat pinggang.

Selesai makan siang dan memakai baju ihram, kami pun chek-out dari hotel Dar el Thaibah, lalu menaiki bis menuju Masjid Bir Ali di luar kota Madinah. Karena kita berangkat dari Madinah, maka kita memulai miqat (batas tempat memulai niat umrah) di Masjid Bir Ali ini. Di Masjid Bir Ali sudah terlihat banyak rombomgan jamaah umrah dari berbagai negara untuk memulai niat umrah. Dengan mengucapkan Labbaika Allahumma umratan di Masjid Bir Ali, maka ibadah umrah dimulai, dan sejak saat itu berlakulah larangan-larangan selama berihram. Larangan-larangan tersebut adalah tidak boleh memotong kuku atau memotong rambut, mencabut bulu/rambut, membunuh hewan buruan, mencabut tanaman, menikah atau menjadi menikahkan, menampakkan aurat, berhubungan suami istri, dan sebagainya. Jika dilanggar maka umrahnya batal kecuali membayar dam atau denda yang jumlahnya bergantung berat ringannya pelanggaran.

Perjalanan dari Masjid Bir Ali menuju kota Makkah memakan waktu empat jam. Selama di dalam perjalanan jamaah umrah lebih banyak berdiam diri atau merenung, mungkin khawatir melanggar larangan selama berihram. Sebentar lagi kami akan menjadi tamu-tamu Allah karena akan berkunjung ke rumah-Nya di Baitullah.

Jam satu dinihari kami sampai di kota Makkah. Hotel yang kami tempati jaraknya 300 meter dari Masjidil Haram, lumayan jauh karena harus berjalan memutar disebabkan proyek perluasan Masjidil Haram membuat akses menuju masjid banyak yang ditutup. Setelah chek-in di hotel, malam itu juga kami bersama-sama berjalan menuju Masjidil Haram. Meskipun sudah waktu dinihari, tetapi suasana di sekitar Masjidil Haram tetap ramai dengan lalu lalang jamaah yang pergi dan pulang. Ada yang masih berpakain ihram, ada pula yang sudah memakai pakaian biasa.

Hati saya bergetar memasuki kompleks Masjidil Haram, sebab sebentar lagi saya akan melihat sendiri ka’bah yang selama ini hanya saya lihat gambarnya saja. Bangunan pertama yang menyambut kami adalah bangunan Menara Zam-Zam (Zam-zam Tower) tepat di depan Masjidil Haram. Ini bangunan tetinggi kedua di dunia setelah Burj Dubai (tingginya sekitar 600 meter). Menara Zam-Zam berisi sejumlah hotel, mal-mal yang menawarkan kesenangan duniawi, dan pertokoan mewah. Di puncaknya terdapat jam raksasa yang dijadikan acuan waktu di Saudi (fungsinya seperti jam Menara Big-Ben di London). Rasanya tidak elok ada bangunan yang menyiratkan hedonisme berada di depan Masjidil Haram, sangat kontras dengan kehusyukan jamaah yang melaksanakan ibadah sholat, umrah, dan sa’i di depannya. Saya masih belum bisa mengerti mengapa Raja Arab Saudi mengizinkan ada bangunan bernuansa “Las Vegas” berada tepat di depan Masjidil Haram.

Zam-zam Tower di depan Masjidl Haram

Zam-zam Tower di depan Masjidl Haram

Kami berjalan memasuki Masjidil Haram. Pelataran masjid sangat luas, namun kenyamanan agak terganggu karena deru mesin dan menara-menara crane menjulang di sana-sini sebagai bagian dari proyek perluasan Masjidil Haram. Di pelataran masjid banyak jamaah yang duduk-duduk, tidur, atau sholat, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 2 dinihari.

Kami memasuki pintu King Fahd dan berjalan ke dalam. Karena kami belum melaksanakan sholat Maghrib dan Isya, maka kami sholat jama’ dulu di di dalam area masjid. Bangunan Masjidil Haram memiliki banyak pintu masuk. Kita harus hafal pintu yang kita masuki supaya tidak tersesat.

Menjama' sholat Maghrib dan Isya di dalam Masjidil Haram

Menjama’ sholat Maghrib dan Isya di dalam Masjidil Haram

Selesai sholat jama’, kami berjalan mendekati ka’bah, dan….tampaklah bangunan ka’bah yang menjadi kiblat sholat ummat Islam di seluruh dunia. Perasaan saya tidak menentu, bercampur aduk antara gembira, terharu, dan terkesima. Allahu akbar!

Ka'bah di Masjidil Haram. Menara-menara crane beriiri di sekelilingnya karena ada proyek perluasan masjid.

Ka’bah di Masjidil Haram. Menara-menara crane beriiri di sekelilingnya karena ada proyek perluasan masjid.

Ustad pembimbing umrah membawa kami semakin dekat ke ka’bah. Kami memulai ibadah thawah bersama-sama. Saat itu jamaah thawah sangat padat meskipun ini waktu dinihari. Semua orang dari berbagai bangsa di dunia melebur menjadi satu. Tidak ada lagi perbedaan si kaya dan si miskin, berpangkat atau tidak, jenderal atau rakyat biasa, semua sama di hadapan Allah, sama-sama berputar mengelilingi ka’bah. Kami mengelilingi ka’bah selama tujuh kali dengan arah berlawanan pergerakan jarum jam.

Saat ini bangunan ka’bah dikelilingi oleh sebuah banguan bertingkat dua untuk menampung jamaah yang tidak dapat melakukan thawaf di lantai dasar. Bangunan ini ‘merusak’ pemandangan ke ka’bah, namun untunglah bangunan ini sifatnya sementara saja dan akan dibongkar lagi setelah proyek perluasan Masjidil Haram selesai pada tahun 2016.

Bangunan dua lantai yang bersifat tenporer untuk menampung jamaah yang melaksanakan thawaf

Bangunan dua lantai yang bersifat tenporer untuk menampung jamaah yang melaksanakan thawaf

Setelah melaksanakan thawaf, kami sholat sunat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Maqam Nabi Ibrahim bukanlah kuburan, tetapi berupa cetakan telapak kaki Nabi Ibrahim di tempat dia berpijak ketika membangun ka’bah. FYI, ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk membangun Rumah-Nya di Baitullah. Usai melaksanakan sholat sunat, kami meminum air zam-zama yang gentong-gentongnya bertebaran di seluruh areal masjid, persis seperti di Masjid Nabawi.

Prosesi ibadah umrah berikutnya adalah melaksanakan sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Kedua bukit ini terletak di dekat bangunan ka’bah tetapi sekarang sudah tidak ada lagi sejak Masjidil Haram mengalami perluasan besar-besaran. Yang ada hanyalah tanda situsnya saja, dan di antara kedua <a href="“>bukit Shofa dan Marwah itu dibangun tempat melaksanakan ibadah sa’i. Jadi, tempat melakukan sa’i saat ini berada di dalam kompleks Masjidil Haram.

Area anatra Shofa dan Marwah untuk melakukan sa'i.

Area anatra Shofa dan Marwah untuk melakukan sa’i.

Jamaah umrah melakukan sa’i di tempat ini. Di antara dua tempat yang ditandai dengan lampu-lanmpu berwarna hijau jamaah laki-laki berlari-lari kecil, sedangkan di luar tanda itu jamaah cukup berjalan cepat saja. Prosesi sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali, dan setiap perjalanan dari Shofa ke Marwah dihitung satu kali, begitu juga sebaliknya perjalanan dari Marwah ke Shofa dihitung satu kali. Ibadah sa’i ini untuk meneladani kisah Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) yang ketika itu mencari air di antara bukit Shafa dan bukit Marwah guna memberi minum anaknya yang masih bayi, Ismail, yang kehausan. Dia berlari-lari di antara kedua bukit itu untuk menemukan air. Setelah lelah berlari sebanyak tujuh kali ia tidak juga berhasil menemukan air. Yang dilihatnya berupa air ternyata fatamorgana di padang pasir. Akhirnya Allah SWT menurunkan mu’jizat-Nya. Ismail yang terbaring di atas pasir menangis kehausan, dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, dan ajaib….di bawah kaki Ismail keluarlah mata air yang sekarang bernama air zam-zam. Sumber mata air zam-zam tidak pernah kering hingga sekarang, dan air zam-zam selalu menjadi oleh-oleh utama bagi jamaah haji dan umrah.

Foto Penulis sebelum melakukan sa'i.

Foto Penulis sebelum melakukan sa’i.

Setelah melakukan sa’i, maka rangkaian ibadah umrah ditutup dengan melakukan tahalul, yaitu memotong beberapa helai rambut. Dengan melakukan tahalul, maka selesailah sudah semua rangkaian ibadah umrah tepat sebelum adzan subuh berkumandang, dan sejak saat itu maka semua larangan selama berihram menjadi tidak berlaku lagi. Jamaah sudah boleh memakai pakaian biasa. Kami sholat subuh dulu di Masjdiil Haram, selanjutnya pulang ke hotel untuk berganti pakaian dan …. tidur. Rangkaian ibadah umrah sejak berangkat dari Madinah sangat melelahkan dan kita kurang tidur. Kami diminta ustad pembimbing untuk tidur cukup lama untuk menghilangkan lelah. Siang hari nanti kami bersiap kembali untuk menunaikan sholat Dhuhur dan melihat suasana Masjidil Haram pada siang hari. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

February 4th, 2015 at 3:31 pm

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 4): Wisata Ziarah di Madinah

without comments

Selama tinggal di Madinah kami mengunjungi beberapa situs sejarah Islam. Acara wisata ziarah didesain selalu berakhir sebelum waktu Dhuhur, sebab lebih utama selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi karena pahalanya sama dengan 1000 kali sholat di masjid lain. Jalan-jalan hanyalah pelengkap umrah saja, namun sayang juga jika tidak sempat mengunjungi tempat-tempat bersejarah untuk melakukan napak tilas sejarah Islam, mumpung masih di Madinah. Diperlukan waktu dua hari untuk mengunjungi semua situs bersejarah di Madinah, yang dalam tulisan ini saya rangkai menjadi satu.

Situs pertama yang dikunjungi adalah Maqam Baqi. Ini adalah kompleks pemakaman yang sudah ada sejak zaman Rasulullah. Di sini dimakamkan para sahabat Nabi, juga para jamaah haji yang meninggal dunia, termasuk penduduk kota Madinah sendiri. Maqam Baqi terletak di samping Masjdi Nabawi. Kami hanya dapat melihat pintunya dari pelataran Masjid Nabawi dan tidak dapat masuk ke dalamnya. Saya tidak memiliki fotonya, namun saya memperoleh foto Maqam Baqi dari Internet. Kuburan di sini tidak memiliki nisan, hanya sekedar batu penanda maqam.

Setelah berdoa di depan Maqam Baqi, kami diajak mengunjungi museum Masjid Nabawi yang terletak di bawah tanah (di bawah Masjdi nabawi). Untuk mencapai museum ini terdapat lift yang dapat digunakan turun ke bawah. Ruang bawah tanah di Masjid Nabawi berisi museum, tempat parkir, dan ruang kendali semua peralatan di Masjid Nabawi (termasuk kendali payung raksasa).

Di Museum Masjdi Nabawi kami mendapat penjelasan dari petugas museum (orang Indonesia rupanya) tentang sejarah pembangunan Masjid. Di museum ini kita dapat melihat foto-foto proyek perluasan Masjid Nabawi.

Foto-foto pembangunan Masjid Nabawi

Foto-foto pembangunan Masjid Nabawi

Foto Masjid Nabawi

Foto Masjid Nabawi

Ruang audio visual

Ruang audio visual

Ehmm... narsis dulu di sini, sebentar

Ehmm… narsis dulu di sini, sebentar

Di belakang Masjid Nabawi terdapat masjid bersejarah yang bernama Masjid Al-Ghamamah. Masjid yang bersejarah ini pernah diguankan Rasulullah untuk sholat Ied pada tahun 631 H. Ghamamah artinya awan, karena di tempat inilah Allah memayungi Nabi Muhammad dengan awan ketika sedang sholat di sini sehingga Nabi tidak merasa kepanasan. Kami mengunjungi masjid ini sambil melepaskan penat setelah berjalan kaki mengelilingi Masjdi Nabawi yang luas itu.

Masjid Al-Ghamamah tidak pernah dipakai lagi sebagai tempat sholat berjamaah karena sudah ada Masjid Nabawi di depannya.

Masjid Al-Ghamamah tidak pernah dipakai lagi sebagai tempat sholat berjamaah karena sudah ada Masjid Nabawi di depannya.

Setelah mengunjungi museum Masjid Al-Ghamamah, maka kunjungan selanjutnya adalah Masjid Quba. Ini adalah masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah. Masjid Quba terletak ke arah luar kota Madinah. Pengunjung jamaah umrah sangat padat hari itu. Kita disarankan sudah berwudhu sebelum ke sini, lalu sholat dua rakaat di Masjid Quba.

Masjid Quba tampak dari luar

Masjid Quba tampak dari luar

Masjdi Quba dengan air mancur di luarnya. Air begitu berharga di negeri padang tandus seperti Saudi Arabia

Masjdi Quba dengan air mancur di luarnya. Air begitu berharga di negeri padang tandus seperti Saudi Arabia

Di dalam Masjid Quba

Di dalam Masjid Quba

Mihrab Masjid Quba

Mihrab Masjid Quba

Sholat sunat di Masjid Quba

Sholat sunat di Masjid Quba

Selesai mengunjungi Masjid Quba, maka kunjungan berikutnya adalah Bukit Uhud di luar kota Madinag, tempat berlangsungnya Perang Uhud, yaitu perang antara kaum muslimin dengan tentara kafir Quraisy. Bukit Uhud berwarna merah, kering kerontang, berpanas, sama sekali tidak ada pepohonan yang tumbuh di sana.

Bukit Uhud yang berwarna merah

Bukit Uhud yang berwarna merah

Berdiri di sini saya membayangkan Perang Uhud yang dipimpin oleh Rasulullah. Di sini Rasulullah membuat strategi perang dengan mengatur para pemanah. Namun karena beberapa sahabat tidak mematuhi perintah Rasulullah disebabkan tergoda harta pampasan perang, maka kaum muslimin kalah dalam perang tersebut.

Narsis did epan Bukit Uhud

Narsis did epan Bukit Uhud

Di Uhud saya menemukan pedagang kurma muda yang dibekukan di dalam freezer. Katanya bagus dimakan oleh wanita yang susah hamil.

Di Uhud saya menemukan pedagang kurma muda yang dibekukan di dalam freezer. Katanya bagus dimakan oleh wanita yang susah hamil.

Selama acara tur kami sempat mengunjungi perkebunan kurma milik seorang kaya di Madinah. Sayang sekali saat itu kurma sedang tidak berbuah sehingga saya tidak dapat melihat dengan mata sendiri tandan-tandan kurma. Kalau sedang berbuah maka kita boleh memetik sendiri dan makan di sana. Di kebun kurma ini terdapat toko kurma yang pegawainya orang Indonesia. Berbagai jenis kurma ada di sini, termasuk kurma yang selalu dicari orang yaitu kurma ajwa, karena kurma inilah yang dimakan oleh Rasulullah. Kurma ajwa adalah kurma yang paling mahal, karena sekilo hargnaya 80 riyal (yang berkualitas bagus) atau 70 riyal (yang berkualitas sedang). Madinah adalah tempat terbaik untuk membeli kurma karena kurmanya bagus-bagus dan segar.

Kebun kurma di kota Madinah

Kebun kurma di kota Madinah

Di dalam perjalana pulang ke Madinah, kami melewati Masjid Qiblatain. Ini adalah masjid yang pernah mempunyai dua kiblat. Mula-mula kiblatnya ke Masjidil Aqsa di Palestina, lalu ketika sedang memimpin sholat turun wahyu yang meemrintahkan arah kiblat diubah ke ka’bah di Masjidil Haram.

Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain

Sayang karena waktu sholat Dhuhur hampir tiba dan kami segera mengejar sholat Dhuhur di Masjdi Nabawi, maka Masjid Qiblatain tidapt bisa kami masuki untuk melihat perubahan kiblat tersebut.

Beberapa situs penting tidak dapat kami kunjungi seperti tempat percetakan Al-Quran karena waktu Dhuhur segera tiba dan kami harsu mengejar sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

February 3rd, 2015 at 2:51 pm