if99.net

IF99 ITB

Archive for January, 2015

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi

without comments

Masjid Nabawi saat ini sangat luas, bangunan masjid saja seluas 82000 meter persegegi sedankan pelatarannya mencapai 235000 meter persegi dan dapat menampung satu juta jamaah. Padahal dulu ketika dibangun pertama kali oleh Nabi Muhammad, ukurannya hanya 30 meter x 30 meter. Ketika jumlah kaum muslim meningkat, Nabi memperluasnya pada abad 7 Hijriyah menjadi 50 meter x 50 meter. Perluasan masjid berlanjut pada masa kehalifahan Umar bin Khatab (17 Hijriyah), Usman bin Affan (29-30 H), Alwalid Alom (88-91 H), Almahdi Allabasi (161 – 165 H), Sultan Ashraf Gayetbai (888 H), Sultan Abdu Almageed dari Kesultanan Ottoman Turki (1265 – 1277 H), Raja Saudi Abdul Aziz (1372 H), Raja Fahd, dan terakhir pada masa Raja Abdullah (yang wafaat minggu lalu). Hingga sekarang proyek perluasan Masjid Nabawi masih terus dilakukan dengan menggusur bangunan hotel-hotel di seputar masjid. Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram didanai seluruhnya oleh Bakar bin Ladin, dia adalah adik Usamah bin ladin yang dicap teroris oleh Amerika. Di Arab Saudi keluarga Bin Ladin adalah keluarga kaya raya karena memiliki banyak perusahaan yang begerak dibidang konstruksi, transportasi, properti, dan lain-lain. Semua perusahaan tersebut bernama Bin Ladin Corp dengan logo pohon kurma dan dua buah pedang yang bersilangan.

Peta Masjid Nabawi yang selalu mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Kotak kecil berwarna coklat adalah bagian masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW

Peta Masjid Nabawi yang selalu mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Kotak kecil berwarna coklat adalah bagian masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW

Memasuki masjdi Nabawi berdecaklah kekaguman saya, sunggguh indah interior di dalamnya, sungguh sejuk di dalamnya, karpet-karpetnya tebal dan indah, lampu-lampu yang bergelantungan di atas sangat artistik. Interior di dalam masjid mengingatkan kita pada interior di dalam masjid Cordoba di Spanyol.

Jamaah menunggu sholat Isya di Masjid Nabawi

Jamaah menunggu sholat Isya di Masjid Nabawi

Jamaah keluar masjid usai sholat Isya

Jamaah keluar masjid usai sholat Isya

Setiap waktu sholat tiba, masjid sudah dipenuhi jamaah, baik itu jamaah umrah maupun penduduk Madinah sendiri. Di dalam masjid kita bertemu dengan jamaah umrah dari berbagai bangsa di dunia. Paling banyak adalah jamaah umrah dari Mesir, Turki, Pakistan, India, dan Indonesia sendiri. Jamaah Indonesia mudah dibedakan dari jamaah lainnya karena menggunakan peci, batik, atau sarung.

Berhubung bulan Januari Arab Saudi memasuki musim dingin, maka banyak jamaah yang terkena penyakit flu seperti flu dan bersin-bersin. Jamaah yang berada di sebelah saya beberapa kali membersihkan ingusnya. Saya yang berusaha terhindar dari flu akhirnya kena juga karena kondisi tubuh juga sedang tidak fit. Karena itu disarankan Anda mendapat vaksin flu sebelum berangkat umrah.

Satu hal fenomena menarik yang saya amati di dalam masjid Nabawi adalah sholat jenazah setiap kali usai sholat fardhu. Setiap usai sholat ada saja jenazah yang akan disholatkan, tidak hanya siang hari tetapi juga malam hari setelah sholat maghrib, Isya dan subuh. Dari Pak Ustad saya mendengar penjelasan bahwa di Madinah semua orang yang meninggal selalu disholatkan di Masjid Nabawi. Jadi masjid Nabawi adalah masjid tunggal untuk seluruh sholat jenazah di kota Madinah. Setiap usai sholat fardhu, imam sholat mengumumkan dalam Bahasa Arab akan ada sholat jenazah. Jamaah yang usai sholat langsung berdiri, dan masya Allah…ratusan ribu jamaah berdiri untuk sholat jenazah. Jenazah yang disholatkan bisa satu, dua, tiga, lima atau lebih. Usai sholat jenazah, jenazah langsung digotong ke pemakaman Baqi yang terletak di depan Masjid Nabawi. Jadi penguburan mayat tidak kenal waktu, bisa pagi usai Subuh, siang usai Dhuhur atau Ashar, atau malam usai Maghrib dan Isya. “Beruntunglah” orang yang wafat di kota Madinah karena ia disholatkan di Masjid Nabawi oleh ratusan ribu orang. Padahal jika mayat disholatkan lebih dari 40 orang saja maka dosa-dosanya akan diampuni, ini yang menyalatkan ratusan ribu orang. Fenomena sholat jenazah setiap usai sholat fardhu juga terdapat di Masjidil Haram di kota Mekah.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebuah tempat di bagian depan masjid yang selalu diincar jamaah untuk sholat dan berdoa. Tempat itu dikenal dengan Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak antara mimbar Nabi dan rumah Nabi (yang sekarang menjadi maqam Nabi). Dahulu Nabi Muhammad setelah wafat dimaqamkan di dalam rumahnya sendiri. Perluasan masjid Nabawi menyebabkan maqam Nabi berada di dalam masjid. Di dalam maqam itu tidak hanya dikuburkan Nabi Muhammad, tetapi juga dua orang sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Menurut ustad, di dalam kompleks maqam itu masih ada satu lubang maqam yang masih kosong. Maqam yang kosong itu diyakini disediakan untuk Nabi Isa a.s. Seperti keyakinan di dalam Islam, ketika hendak disalib Nabi Isa (Yesus) diselamatkan oleh Allah SWT dengan mengangkatnya ke langit. Jadi Nabi Isa sebenarnya masih hidup di sisi Allah, dan menjelang hari kiamat nanti dia akan turun kembali ke bumi sebagai Imam Mahdi untuk meluruskan ajaranya, sesudah itu dia akan wafat seperti manusia lain umumnya, dan kelak akan dimaqamkan di samping maqam Nabi Muhammad SAW. Wallahu alam bissawab.

MaqamRasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adakah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menysika beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

MaqamRasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adakah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menysika beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Raudah artinya taman. Raudhah berukuran hanya 22 meter x 15 meter(sumber: Raudhah Tempat Mustajab Berdoa Di Masjid Nabawi), sangat sempit sekali dibandingkan dengan ukuran Masjid Nabawi yang maha luas. Meskipun sempit, tetapi tempat ini selalu dipadati oleh jamaah. Raudhah tidak pernah sepi siang dan malam, selalu penuh. Untuk dapat masuk ke dalam area ini kita harus berjuang dengan ribuan jamaah lain. Kalau kita berhasil masuk ke dalam Raudhah, maka kita tidak dapat nyaman sholat seperti di luar Raudhah. Kita harus bersempit-sempit dengan jamaah lain, dan ketika hendak sujud mungkin kapala kita beradu dengan punggung jamaah lain.

Kenapa Raudhah begitu disesaki jamaah, karena Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk memenjatkan doa. Di Raudhah diyakini sebagai tempat semua doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196). Artinya, di antara mimbar dan rumah Nabi Allah SWT menurunkan rahmat, maghfirah, dan ampunan-Nya.

Raudhah yang disesaki jamaah. Tampak dari kejauhan maqam Nabi yang ditutupi pintu besi berwarna hijau

Raudhah yang disesaki jamaah. Tampak dari kejauhan maqam Nabi yang ditutupi pintu besi berwarna hijau

Raudhah dan mimbar Nabi di kejauhan

Raudhah dan mimbar Nabi di kejauhan

Mihrab Nabi di dalam Raudhah. Pintu keluar Raudhah dijaga oleh seorang askar

Mihrab Nabi di dalam Raudhah. Pintu keluar Raudhah dijaga oleh seorang askar

Area Raudhah dicirikan oleh karpet berwarna hijau yang berbeda dengan karpet lain di sekelilingnya yang berwarna merah. Untuk dapat berdiri di atas karpet hijau ini perjuangannya memang luar biasa.

Karpet berwarna hijau di dalam area Raudhah

Karpet berwarna hijau di dalam area Raudhah

Saya pertama kali mencari Raudhah ini ketika hendak sholat Ashar. Saya tanya-tanya ke jamaah lain yang sudah pernah ke Raudhah. Kita bisa memasuki Raudhah dari arah belakang, tetapi ketika selesai sholat Ashar area Raudhah sudah ditutup oleh para askar dan petugas cleaning service dengan pagar berkain plastik berwarna putih. Saya berhasil masuk dari depan dan dibiarkan oleh askar penjaga. Seorang jamaah di bagian depan mempersilakan saya sholat di tempatnya karena ia sudah selesai sholat di Raudhah. Perasaan saya berkecamuk memasuki Raudhah, hati bergetar, dan tiba-tiba saja keharuan menjalar ke seluruh tubuh saya karena inilah tempat yang saya impi-impikan untuk berdoa dan sekarang saya berada di sana. Segera saya sholat sunnah dua rakaat di dalam Raudhah, dan meanjatkan doa kepada Allah SWT. Semua doa yang sudah saya niatkan dari tanah air saya curahkan ke sana, termasuk titipan doa dari teman-teman dan suadara. Saya berdoa sambil menangis, meminta kepada Allah. Ya Allah, smeoga Engkau kabulkan semua doa dan harapan yang saya panjatkan di Raudhah.

Seperti yang saya jelaskan di atas, untuk memasuki Raudhah memang penuh perjuangan. Jamaah laki-laki dapat memasuki Raudhah pada waktu kapan saja, tetapi untuk jamaah perempuan Raudhah hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu saja yaitu pagi setelah pukul 8 dan sore setelah sholat Ashar. Maka, setelah selesai sholat Subuh dan Ashar, saya melihat pemandangan yang cukup heboh. Usai sholat, para askar dan dibantu oleh petugas cleaning service dengan sigap memasang pagar untuk menutup Raudhah. Memang, setiap usai sholat Ashar dan Subuh para jamaah yang berada di barisan belakang berlarian untuk memasuki Raudhah. Jika tidak cepat dipasang pagar, maka nanti jamaah perempuan tidak punya kesempatan memasuki Raudhah. Hanya dalam waktu beberapa menit pagar pembatas Raudhah terpasang, jamaah yang tadi berlarian dari arah belakang gagal memasuki Raudhah. Mereka hanya dapat memandang maqam Nabi dari jauh. Sambil berdiri di balik pagar pembatas, jamaah melantunkan sholawat kepada baginda Rasul. Ada yang melantunkannya sambil menangis. Umumnya mereka adalah jamaah dari Pakistan, India, dan Iran. Begitu besar dalam dan cintanya kaum muslimin kepada junjungannya, Nabi Muhammad SAW, anda dapat melihat kecintaan itu pdi Raudhah.

Di bagian depan maqan Rasulullah, barisan jamaah yang selesai sholat berebut keluar melewati maqam Nabi untuk berziarah. Para askar berdiri menjaga maqam Nabi, karena perilaku jamaah seringkali menjurus bid’ah. Ada yang berusaha mengusap-usap pintu besi, menciumnya, mengusapkan kain ke pintu itu, dan lain-lain. Para askar dan pengurus Masjid Nabawi mencegah para jamaah melakukan hal demikian, mereka berteriak-teriak melarang jamaah: “hajj…hajj, la… la.. haram..haram”, yang artinya wahai haji, jangan, jangan, haram melakukan hal tersebut. Jamaah yang tidak berhasil mendekati maqam Nabi cukup melambaikan tangan saja sambil berucap shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Seperti tadi, banyak jamaah yang menangis melewati maqam Nabi. Ya Rasulullah, begitu besar kecintaan ummatmu kepadamu, kami mengharapkan syafaat darimu pada Hari Akhir nanti.

Selesai sholat subuh, saya hendak menuju pintu keluar. Sebelum keluar saya sempatkan dulu minum akhir zam-zam yang tersedia secara gratis di dalam masjid. Baik di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram terdapat puluhan gentong air zam-zam yang dapat diminum oleh jamaah. Air zam-zam di Masjid Nabawi didatangkan dari Makkah dengan mobil-mobil tangki yang setiap hari membawanya ke Madinah. Gelas-gelasplastik yang digunakan untuk minum air zam-zam hanya sekali pakai. Gelas-gelas yang bersih terdapat pada satu selongsong atau tumpukan, dan jika sudah selesai dipakai jamaah memasukkanya ke selongsong di sebelah kiri. Air zam-zam yang disediakan ada dua macam, yang pertama air zam-zam dengan suhu biasa (not cold), yang kedua air zam-zam yang yang dingin seperti dinginnya air kulkas. Anda harus memmbaca tulisan di gentongnya, apakah NOT COLD atau tanpa tulisan. Jika NOT COLD berarti tidak dingin, jika tidak ada tulisan berarti dingin seperti air es. Anda dapat meminumnya di sana langsung atau membawa pulang dengan mengisi aiar zam-zam ke dalam botol-botol air mineral yang andabawa.

Gentong-gentong yang berisi air zam-zam. Tumpukan gelas plastik di kanan adalah gelas bersih, jiak sudah selesai memakainya anda dapat menaruhnya pada selongsong di sebelah kirnya.

Gentong-gentong yang berisi air zam-zam. Tumpukan gelas plastik di kanan adalah gelas bersih, jiak sudah selesai memakainya anda dapat menaruhnya pada selongsong di sebelah kirnya.

Selesai minum aiar zam-zam, saya didekati oleh seorang petugas cleaning service. “Assalaamu’alaikum”, katanya. “Dari Indsonesia?”, tanyanya. “Benar, saya dari Indonesia”, jawab saya. Setelah berkenalan, dia bernama Is Harianto, berasal dari Kepanjen, Malang, Jawa Timur. Dia sudah dua tahun bekerja di Masjid Nabawi. Bekerja di Masjid Nabawi selain sebagai bentuk pengabdian, juga untuk mencari nafkah untuk keluarganya di Tanah Air. Seluruh petugas cleaning service di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram digaji oleh perusahaan Bin Ladin. Petugas cleaning service kebanyakan berasal dari Pakistan, India, Yaman, dan Indonesia. Jarang orang Saudi sendiri. Menurut Pak Is, gajinya di sana tidak terlalu besar, hanya sekitar 500 riyal per bulan (sekitar Rp 1,7 juta), ditambah tunjangan seluruhnya 700 riyal. Kecil ya? Tetapi mereka banyak terbantu dari sedekah yang diberikan oleh jamaah. Jamaah sering memberikan sedekah kepada petugas cleaning service, ada yang memebri 5 riyal, 10 riyal, dan sebagainya.

Pak Is Harianto yang bertugas menjaga kebersihan Masjid Nabawi

Pak Is Harianto yang bertugas menjaga kebersihan Masjid Nabawi

Saya terharu mendengar kisah Pak Is Harianto. Jika anda nanti umrah ke Masid Nabawi, jangan lupa membawa uang pecahan kecil untuk sedekah kepada petugas cleaning service tersebut. Mereka adalah saudara-saudara sebangsa kita yang mencari nafkah hingga jauh ke Tanah Suci.

Selesai minum air zam-zam saya segera keluar masjid. Waktu yang indah untuk menikmati keyahduan Masjid Nabawi adalah setelah sholat subuh. Bulan menggantung di atas Masjid Nabawi, malam masih menyelimuti bumi, jamaah berjalan bersama-sama keluar masjid. Sungguh indah dan syahdu. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

January 30th, 2015 at 9:23 am

Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi

without comments

Perjalanan dari Bandara Madinah menuju hotel memakan waktu sekitar setengah jam. Kami sampai di hotel pukul 13.30 siang waktu setempat. Dari kejauhan menara Masjid Nabawi sudah kelihatan dari atas bis. Semakin mendekati Masjid Nabawi barulah terasa betapa ramainya kota Madinah. Ribuan orang berjalan kaki hilir mudik, ada yang masih berpakaian ihram, ada yang memakai baju batik dari Indonesia, ada yang memakai gamis, ibu-ibu yang memakai mukena, dan lain-lain aneka macam jeni pakaian setiap bangsa.

Hotel kami tempat menginap ternyata jaraknya begitu dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 50 m dari gerbang masjid, benar-benar dekat sekali, sepelemparan batu saja. Karena saya mengambil paket Shofah, maka kami mendapat hotel yang bernama Elaf Kinda Hotel.

Hotel Elaf Kinda, persis di depan Masjid Nabawi

Hotel Elaf Kinda, persis di depan Masjid Nabawi

Puluhan hotel berjejer di pinggir jalan. Hotel-hotel itu tidak punya halaman seperti di Indonesia, keluar hotel langsung berhadapan dengan jalan raya. Hampir semua bangunan, termasuk hotel, di kota Madinah berwarna seragam yaitu warna abu-abu muram atau coklat muram seperti warna padang pasir, bentuk dan tingginyapun hampir sama. Jarang sekali kita melihat bangunan warna-warni dalam bentuk yang kreatif seperti di Indonesia. Pemandangan bangunan dan warna muram seperti ini mengingatkan saya pada bangunan-bangunan hotel kuno pada kota-kota di Eropa. Hotel-hotel di Madinah umumnya digunakan untuk menampung jamaah umrah dan haji, namun bukan tidak mungkin untuk wisatawan muslim yang sekedar singgah di sana (kota Madinah dan Makkah tertutup bagi non-muslim sehingga keduanya dinamakan Tanah Haram).

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Setiba di hotel kami melakukan chek-in dan pembagian kamar. Saya mendapat kamar dengan empat tempat tidur karena saya memilih paket berempat. Empat ranjang berjejer di dalam kamar yang sempit. Hotelnya lumayan bagus, kebanyakan tamunya adalah jamaah dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hotel ini tidak pernah kosong, baru saja rombongan jamaah lain chek-out, sudah langsung diisi dengan rombongan jamaah yang baru tiba di Madinah. Di sini chek-in hotel umumnya dilakukan pukul 16.00 sore, tetapi ketika kami datang sudah bisa chek-in pukul 14.00 karena kamar sudah tersedia.

Kamar hotel Elaf Kinda dengan empat tempat tidur.

Kamar hotel Elaf Kinda dengan empat tempat tidur.

Di hotel ini jamaah mendapat makan tiga kali sehari dan menunya adalah menu masakan Indonesia, meskipun tidak pas benar rasanya, tetapi lumayanlah. Selalu ada sambal terasi dalam jumlah banyak. Sesekali mereka menyediakan nasi kebuli, gulai kari, dan sebagainya. Jadwal makan di hotel disesuaikan demngan waktu sholat, yaitu sesudah sholat Dhuhur (pukul 13.00 – 15.00), sesudah sholat Isya (pukul 20.00 – 22.00), dan sesudah sholat Subuh (pukul 07.00 – 10.00). Restoran di hotel akan tutup setiap adzan bergema.

Setelah chek-in saya melihat ribuan orang keluar dari gerbang masjid. Oh, rupanya mereka adalah jamaah yang usai melaksanakan sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. Usai sholat para jamaah itu kembali ke hotel masing-masing untuk makan siang, lalu istirahat sebentar, dan kembali lagi ke masjid setengah jam sebelum adzan sholat Ashar bergema. Setiap jamaah selalu mengusahakan dirinya sholat di Masjid Nabawi dan sholat sunat sebanyak mungkin, karena sholat di Masjid Nabawi pahalanya seribu kali sholat di Masjid lain.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

??????? ??? ????????? ????? ?????? ???? ?????? ??????? ?????? ??????? ?????? ??????????? ??????????

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

??????? ??? ????????? ???????? ???? ?????? ??????? ?????? ??????? ?????? ??????????? ?????????? ????????? ??? ??????????? ?????????? ???????? ???? ??????? ?????? ??????? ?????? ???????

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

(Sumber hadis dari sini).

Jadi, pahala yang berlipat ganda inilah yang dikejar oleh jamaah umrah di Madinah. Mumpung masih berada di Madinah, maka sholatlah di sana sebanyak-banyaknya. Rugi rasanya jika melewatkan sholat lima waktu tidak di Masjid Nabawi.

Saya dan rombongan jamaah belum melaksanakan sholat Dhuhur. Kami dikumpulkan oleh ustad pembimbing dan berjalan bersama-sama menuju Masjid Nabawi. Kenapa perlu dibimbing? Karena bagi jamaah yang belum pernah umrah atau haji tentu tidak tahu liku-liku masjid. Masjid Nabawi itu sangat besar dan sangat luas, pintu-pintunya banyak sekali, jika belum hafal maka kita bisa tersesat. Jadi Pak Ustad akan menunjukkan pertama kali masuk lewat pintu mana, apa ciri-cirinya, dan keluarnya dari pintu yang sama. Selanjutnya kita dapat pergi sendiri jika sudah hafal.

Saya perkirakan luas Masjid Nabawi, termasuk pelatarannya, seluas satu kelurahan. Benar-benar luas sekali. Belum pernah saya melihat masjid sebesar dan seluas ini. Waktu saya ke sana masjid masih sedang dalam proyek perluasan. Hotel-hotel dan bangunan di seputar Masjid Nabawi sudah diruntuhkan. Setahun atau dua tahun lagi hotel tempat saya menginap kabarnya juga akan digusur. Kelak nanti hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi akan semakin jauh saja jaraknya dari masjid dan jamaah terpaksa makin jauh berjalan kaki. Raja Arab Saudi (yang ketika tulisan ini ditulis baru saja wafat beberapa hari yang lalu) memang mencanangkan kedua masjid di Tanah Haram (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di Mekah) diperluas seluas-luasnya agar dapat menampung jutaaan jamaah haji yang setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.

Masjid Nabawi (bagian depan)

Masjid Nabawi (bagian depan)

Masjid Nabawi dari sisi lainnya

Masjid Nabawi dari sisi lainnya

Pelataran Masjid Nabawi sangat luas. Pelataran ini dilengkapi dengan payung-payung raksasa buatan Jerman yang dapat membuka dan menguncup secara otomatis. Payung-payung itu berguna untuk melindungi jamaah dari panas terik dan hujan (yang jarang terjadi). Payung-payung raksasa itu menempel pada tiang-tiang lampu yang pada malam hari bersinar dengan indahnya (jika payung dalam keadaan menutup/kuncup). Di Indonesia, Masjid Agung Semarang membuat payung yang mirip dengan Masjid Nabawi tetapi hanya dapat dibuka dan ditutup secara amanual.

Payung-payung raksasa di halaman Majid Nabawi

Payung-payung raksasa di halaman Majid Nabawi

Payung-payung raksasa

Payung-payung raksasa

Tiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi, sebagian tiang menjadi menjadi payung raksasa.

Toiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi, sebagian tiang menjadi menjadi payung raksasa.

Ehm... saya berfoto narsis di pelataran Masjid Nabawi

Ehm… saya berfoto narsis di pelataran Masjid Nabawi

Ustad pembimbing kami memberikan tips agar tidak tersesat di Masjid Nabawi yang maha luas itu. Masuklah dari sebuah gerbang, lalu tandai sebuah bangunan toilet dengan nomor yang tertera di di depannya. Di pelataran Masjid Nabawi terdapat bangunan toilet yang berjejer-jejer, jumlahnya menncapai 80-an dan terpisah antara toilet pria dan wanita. Setiap toilet diberi nomor. Jadi, ketika masuk dari suatu gerbang, di sebelah kiri dan kanan kita ada bangunan toilet. Ingat-ingatlah nomor toilet tersebut. Jika keluar dari pimtu masjid (yang jumlahnya juga puluhan pintu), maka ingatlah nomor toilet tadi sebagai tanda. Jika nanti kesasar, maka berkelilinglah mencari nomor toilet tersebut dan kita pun dapat keluar ke gerbang yang benar menuju jalan ke hotel.

Selesai sholat Dhuhur kami kembali ke hotel untuk makan siang. Keluar dari gerbang masjid kami langsung disambut oleh pedagang kaki lima. Seperti di Indonesia, di mana ada keramaian maka di situ ada pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima yang semuanya adalah orang Arab menawarkan dagangannya di jalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi. Jangan heran jika mereka pandai menggunakan beberapa kata Bahasa Indonesia standard seperti “murah…murah, sepuluh tiga, dipilih… dipilih”, dan lain-lain. Maklum saja, jamaah Indonesia, terutama kaum ibu, doyan belanja. Mata mereka seperti tidak tahan melihat barang-barang berkilau yang ditawarkan pedagang kaki lima itu. Umumnya barang dagangan pedagang kaki lima itu adalah jilbab dari India/Turki, gamis, abaya, gelang dan kalung imitasi, kurma, buah-buahan, kacang arab, minyak wangi, dan lain-lain. Mereka menerima pembayaran dalam mata uang rupiah dan friyal. Jadi, jika harga barang misalnya sepuluh riyal, maka mereka menerima pembayaran Rp35.000 (1 riyal sekitar Rp3500). Pedagang itu juga pandai mengucapkan lima puluh ribu, tiga puluh lima ribu, dan sebagainya, dan mengerti jika kita meminta setengah kilo dalam Bahasa Indonesia.

Pedagang kaki lima di luar Masjid Nabawi

Pedagang kaki lima di luar Masjid Nabawi

Khusus dagangan berupa makanan seperti kurma, kacang, kismis, dan lain-lain, mereka meneriakkan kata “halal..halal..halal”, yang artinya anda boleh mencicipinya gratis meskipun tidak jadi membeli. Halal?, tanya saya. Halal, jawab pedagang itu, artinya dia menghalalkan kurma yang saya cicip. Pandai-pandailah menawar, tetapi jika anda menawar terlalu murah maka pedagang itu berteriak menunjuk kita sambil mengatakan kata “bakhil…bakhil”, yang artinya kikir atau pelit. He…he…, saya pernah kena kata bakhil karena menawar setengah harga.

Oh iya, saya belum menceritakan suasana di dalam Masjid Nabawi, di mana Roudhah, siapa saja yang saya jumpai di dalam, apa saja di dalam masjid, dan sebagainya. Saya akan menceritakan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

January 28th, 2015 at 8:47 am

Perjalanan Umrah (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Madinah

without comments

Bagi seorang muslim, tempat apa di muka bumi yang selalu dirindukan untuk selalu dikunjungi dan ingin dikunjungi lagi? Jawabannya adalah Tanah Suci Makkah dan Madinah di negara Saudi Arabia. Menunaikan Haji sebagai rukun Islam yang kelima adalah impian setiap muslim, namun saat ini keinginan menunaikan Haji terhalang oleh keterbatasan kuota. Kuota haji untuk Indonesia biasanya lebih dari 200 ribu orang per tahun sesuai dengan jumlah penduduk muslim (untuk setiap 1000 orang penduduk muslim di suatu negara, kuota hajinya hanya 1 orang), tetapi sejak dua tahun lalu kuota itu dikurangi lagi karena proyek perluasan besar-besaran Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Saat ini untuk mendapat kuota haji seorang muslim Indonesia harus menunggu 10 hingga 15 tahun. Jika anda mendaftar tahun ini, maka anda baru bisa berangkat ke Tanah Suci 10 sampai 15 tahun lagi. Siapa yang tahu umur manusia apalah masih hidup 10 hingga 15 tahun mendatang?

Karena ketidapastian mendapat kuota haji, akhirnya pilihan banyak muslim di seluruh dunia adalah melaksanakan ibadah Umrah. Umrah adalah haji kecil karena tidak ada ibadah wukuf di Arafah dan bermalam di Mina. Padahal haji itu adalah wukuf di Arafah. Umrah dapat dilaksanakan sepanjang waktu kecuali pada bulan-bulan Haji (Zulhijah). Minat melaksanakan umrah bagi muslim Indonesia sangatlah tinggi, apalagi ditunjang banyaknya frekuensi penerbangan dari beberapa maskapai kota di tanah air langsung ke Makkah/Madinah. Biro-biro perjalanan Umrah selalu dipenuhi permintaan jamaah yang ingin melaksanakan umrah. Sebenarnya bisa saja pergi umrah sendiri tanpa ikut rombongan tur, tetapi ikut rombongan tur dari biro perjalanan umrah lebih mangkus karena selain ada ustad pembimbing ibadah yang selalu mendampingi, kita juga tidak perlu repot soal makanan dan kendaraan selama di Tanah Suci. Pada hakekatnya pergi melaksanakan umrah sama dengan wisata rohani, karena selain beribadah di sana (thawaf dan sai) kita juga mengunjungi beberapa tempat yang bersejarah di kota suci Makkah dan Madinah.

Saya yang belum pernah ke Tanah Suci dan mendapat waktu tunggu ibadah haji selama enam tahun, sudah lama merindukan pergi ke sana. Akhirnya setelah mencari waktu yang tepat, yaitu masa liburan semester, akhirnya saya memutuskan melaksanakan ibadah umrah pada awal Januari 2015. Bulan Desember dan Januari adalah masa-masa yang padat dengan jamaah umrah dari seluruh dunia. Banyak orang yang ingin melaksanakan ibadah umrah pada pergantian tahun, selain itu Maulid Nabi juga bertepatan dengan awal tahun baru, maka terbayanglah betapa ramainya jamaah umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Dalam memilih biro perjalanan umrah, seorang jamaah hendaklah memilih dengan berhati-hati. Banyak biro perjalanan umrah yang menawarkan ongkos umrah yang murah di bawah 20 juta rupiah. Ada yang berani memberikan harga 15 hingga 18 juta rupiah. Murah-mahalnya biaya umrah yang ditawarkan biro perjalanan bergantung pada maskapai pesawat yang digunakan, jarak dari hotel penginapan ke Masjid Nabawi (di Madinah) dan Masjidil Haram (di Makkah), dan menu makanan yang terdapat di hotel (menu Indonesia atau menu Arab). Semakin murah biaya umrahnya, maka semakin jauh jarak hotel/penginapan ke dua masjid tadi (yang biasanya dicapai dengan jalan kaki). Bagi jamaah yang masih muda tentu tidak masalah berjalan kaki ratusan meter hingga lebih dari satu kilometer setiap kali hendak pergi sholat ke masjid Nabawi/Masjidil Haram, tetapi bagi jamaah yang sudah tua dan berusia lanjut tentu sangat kasihan harus selalu berjalan kaki. Padahal inti pergi umrah adalah selalu sholat lima waktu dan sholat sunat sebanyak-banyaknya di kedua masjid tadi karena pahalanya sangat besar. Jika selama di Tanah Suci hanya sesekali saja ke masjid dan memilih sholat di hotel tentu sangat disayangkan, jauh-jauh pergi ke Tanah Suci hanya untuk tidur dan berdiam di penginapan.

Selain jarak dari hotel ke masjid haram, mahal murahnya ongkos umrah juga bergantung maskapai pesawat yang digunakan. Ongkos umrah bisa ditekan murah karena menggunakan pesawat low cost carrier yang rutenya transit di beberapa kota di Asia. Jadi, jamaah misalnya naik Air Asia dulu ke Bangkok, di Bangkok transit beberapa jam, lalu disambung lagi dengan pesawat lokal yang mempunyai kerjasama dengan maskapai di Saudi Arabia. Jika semuanya lancar tentu tidak masalah, tetapi tidak jarang jamaah umrah terlantar berhari-hari atau bahkan gagal berangkat ketika maskapai lokal yang akan membawa ke Jeddah tiba-tiba ditolak masuk ke Saudi. Ketika saya akan berangkat umrah bulan lalu, saya membaca di media ratusan jamaah umrah terlantar berhari-hari di Bandara Don Muang di Bangkok karena Pemerintah Arab Saudi menolak maskapai lokal Thailand yang akan membawa jamaah. Rupanya ada persaingan bisnis antara beberapa maskapai lokal di Tahiland dalam merebut pangsa pasar penumpang ke Arab Saudi, celakanya yang menjadi korban adalah jamaah umrah dari Indonesia yang tidak tahu apa-apa.

Ada pula biro perjalanan yang menggunakan maskapai di Bangladesh. Dari Jakarta naik pesawat ke Bangkok, lalu ke Dhaka (ibukota Bangladesh), kemudian dari Dhaka naik pesawat lokal ke Jeddah (mungkin transit dulu di Dubai). Sambung menyambung dan melelahkan, dan seperti kasus Bangkok di atas, maka kemungkinan terlantar juga masih ada jika ada masalah dengan pesawat yang digunakan. Bahkan naik pesawat Emirates pun belum tentu ada jaminan bisa sampai ke Tanah Suci sesuai rencana. Masih dari media, saya membaca ratusan jamaah umrah dari Indonesia terlantar di bandara Dubai karena pesawat Emirates yang akan membawa ke Jeddah menelantarkan penumpang di sana (yang akhirnya diurus oleh Konjen RI di Dubai).

Karena itu saya lebih percaya jika maskapai yang digunakan ke Tanah Suci adalah Saudi Arabia Airlines dan Garuda Indonesia. Yang pertama adalah maskapai milik Pemerintah Saudi, maka sebagai maskapai milik negaranya sendiri, tentu mereka lebih leluasa keluar masuk negaranya. Sedangkan Garuda Indonesia kita sudah sama-sama tahu kualitas dan reputasinya. Soal makanan nasi Arab yang bikin nek (karena berminyak samin) seperti yang dikhawatirkan orang-orang di pesawat Saudi ternyata tidak sepenuhnya benar, mereka menyajikan hidangan Indonesia selama perjalanan, karena mereka tahu hampir seratus persen penumpang pesawat mereka adalah orang Indonesia. Pramugarinya juga ada orang Indonesia selain orang Arab tentu saja.

Jadi memang ketenangan dan kenyamanan dalam memilih biro perjalanan umrah adalah awal yang sangat menentukan. Tentu kualitas ibadah umrah tidak ditentukan oleh mahalnya ongkos umrah, Tuhan tentu tidak menilai ummat-Nya berdasarkan kategori mahal murahnya ongkos umrah, bukan? Semua berpulang pada kebijaksanaan kita dalam memilih.

Di Bandung, dari sekian banyak biro perjalanan umrah yang ada, saya memilih yang tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Biro perjalanan yang tergolong mahal misalnya Safari Suci di belakang Gedung Sate, ongkos umrahnya bahkan lebih mahal dari ONH (di atas 30 juta). Di belakang Gedung Sate dekat Masjid Istiqamah memang banyak biro perjalanan haji/umrah bertebaran, antara lain Percikan Iman Tour, Khalifah Tour, Amwa Tour, Safari Suci, Mega Citra, dan lain-lain. Namun semuanya termasuk kelas elit alias muahal pisaan (bagi saya). Mahal atau murah memang relatif bagi setiap orang. Selain itu, ongkos umrah bergantung pada kurs dollar saat itu, karena biaya ditetapkan dalam dollar, namun setelah dirupiahkan tetap saja terasa mahal. Ketika saya berangkat awal Januari lalu dan melakukan pelunasan biaya pada akhir Desember, nilai rupiah sedang anjlok terhadap dollar. Satu dollar pernah mencapai Rp13.000 pada bulan Desember. Saya tahan dulu pelunasan selama dua minggu menunggu dollar turun, akhirnya setelah dollar mencapai Rp12.500-an, barulah saya lunasi. Jika dipikir-pikir memilki tabungan dalam mata uang dollar itu ternyata perlu juga, baru terasa manfaatnya ketika kita ingin pergi ke Tanah Suci.

Saya memilih biro perjalanan Qiblat Tour di Jalan Taman Cibeunying Selatan. Ongkos umrahnya di bawah biro-biro yang saya sebutkan tadi namun kulitasnya tidak diragukan lagi. Hampir setiap minggu Qiblat Tour memmberangkatkan jamaah umrah, terbayang kan betapa besarnya peminat umrah dan amanah jamaaah melalui biro ino. Qiblat Tour juga memiliki kelas-kelas paket yang harganya berbeda-beda, mulai dari paket yang lebih mahal karena hotelnya hanya 50 meter dari Masjidil Haram, hingga yang paling murah karena hotelnya berjarak 300 meter dari Masjidl Haram. Kita bisa memilih paket yang sesuai kantong. Meski berbeda paket, namun maskapai, makanan, dana layanan selama di Tanah Suci adalah sama. Kita mendapat bimbingan umrah selama satu kali (boleh lebih kalau mau), paket perlengkapan umrah (kain ihram, batik seragam, buku-buku, syal, koper).

Jika biro perjalanan lain memulai umrah dari Makkah, maka kami memulainya dari Madinah. Pesawat Saudi Arabia Airlines yang membawa rombongan jamaah adalah satu-satunya maskapai yang berangkat dari Tanah Air yang boleh langsung terbang ke bandara Madinah. Garuda hanya bisa sampai Jeddah, dari Jeddah jamaah dibawa dengan bis ke Makkah (waktu perjalanan dari Jeddah ke Makkah sekitar dua jam).

Rombongan jamaah berkumpul dari kantor Qiblat pada waktu tengah malam karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 06 pagi. Kami berangkat tepat pukul 12 malam menggunakan dua buah bis. Selama perjalanan ke bandara kami melafalkan kalimat talbiyah. Labbaika allahumma labbaik, labaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak. Kami (datang) memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu. sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Mata saya basah membaca kalimat talbiyah tadi. Terharu, karena sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di Tanah Suci, sebentar lagi saya akan datang ke Rumah Allah di Tanah Suci, saya akan datang menumpahkan keharuan dan segala niat serta doa yang selama ini ingin saya curahkan di Rumah-Nya di Baitullah, saya akan berdoa di Multazam di depan pintu Ka’bah. Saya akan mengunjungi Rumah Nabi di Masjid Nabawi, berdoa di Raudah di mana semua doa dikabulkan. Semua itu membayang-bayang di dalam kepala saya sehingga membuat saya tidak bisa tidur selama di dalam bis. Wajah-wajah anak saya yang terbaring tidur malam itu dan saya tinggalkan di rumah terbayang-bayang, terutama wajah putra saya yang sulung yang merupakan salah satu alasan saya pergi umrah tahun ini juga. Air mata menitik membayangkan itu semua, meninggalkan sementara urusan dunia yang fana ini, pergi memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci.

Jam enam pagi pesawat Saudi Arabia Airlines lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat berbadan lebar ini mengangkut sekitar 400 lebih penumpang yang sebagian besar jamaah umrah dari berbagai biro perjalanan di tanah air. Ada dari Bandung, Jakarta, Jambi, Kalimantan, Jawa Timur, dan lain-lain. Mereka mudah dikenali dari seragam batiknya karena setiap jamaah umrah dari biro perjalanan yang berbeda menggunakan seragam batik yang berlainan. Lucu juga ya jika diatur dengan seragam batik, seperti anak sekolah saja, tetapi mungkin maksudnya untuk kemudahan identifikasi antara satu jamaah biro tur dengan jamaah biro tur yang lain.

Saya amati wajah-wajah jamaah yang kelelahan di dalam pesawat. Rata-rata jamaah umrah adalah orang-orang tua, wanita paruh baya, aki-aki yang sudah pensiun, dan sebagainya. Sebagian lagi keluarga yang membawa lengkap anak-anaknya, mungkin karena masih libur sekolah. Jamaah yang sudah berusia lanjut ini mungkin sudah pernah melaksanakan ibadah haji, tetapi mau pergi haji lagi terbentur masalah kuota tadi dan adanya semacam aturan ibadah haji itu cukup satu kali, tidak perlu berkali-kali. Mereka mungkin pergi umrah dengan gaji pensiun mereka yang dikumpulkan bertahun-tahun, atau diberangkatkan oleh anak menantu mereka sebagai bentuk bakti anak kepada orangtua. Sehari-harinya orang-orang tua tadi mungkin hanya menghabiskan waktu hari tua di rumah dan pergi ke masjid ketika waktu sholat tiba. Orientasi orang-orang tua itu hanyalah ibadah dan ibadah saja. Anak-anak mereka sudah besar dan sudah hidup terpisah dengan mereka karena sudah berkeluarga. Tapi anak-anak itu tetaplah anak yang berbakti dan memperhatikan kebutuhan orangtua mereka. Mereka berinisiatif memberangkatkan orangtua mereka ke Tanah Suci sebagai bentuk “hiburan rohani”. Orangtua mana yang akan menolak menolak ketika anak-anak mereka yang sudah besar memberangkatkan mereka pergi umrah ke Tanah Suci. Naik haji lagi tentu harus menunggu puluhan tahun, mungkin tidak sampai lagi nyawa yang dikandung badan menunggunya, maka pergi umrah adalah keinginan besar bagi kebanyakan orangtua. Saya membayangkan, suatu hari nanti ketika saya sudah tua, anak-anak saya memberangkatkan orangtuanya pergi umrah ke Tanah Suci.

Selain orangtua yang sudah pergi berhaji, banyak pula jamaah umrah yang memang belum pernah naik haji karena terbentur aturan kuota. Menunggu pergi haji seperti tidak mungkin karena harius menunggu belasan tahun, maka pergi umrah adalah jalan keluarnya. Wajah-wajah jamaah menyiratkan mereka adalah orang yang lugu, berasal dari kampung-kampung, belum pernah naik pesawat, belum pernah ke luar negeri. Mereka mungkin telah menngumpulkan uangnya bertahun-tahun untuk pergi haji, tetapi karena kondisi yang saya ceritakan di atas, maka tabungan mereka bertahun-tahun itu dialihkan untuk ongkos umrah. Niatnya beda, namun Insya Allah di mata Allah SWT tentu pahalanya sama seperti orang pergi berhaji. Mereka, jamaah yang sudah tua-tua itu, memendam hasrat kerinduan yang mendalam memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci pergi berhaji, tetapi apa daya kuota memupus impian itu. Maka, umrah adalah pilihan jika berhaji tidak mungkin lagi.

Ah, saya terlalu banyak melamun di dalam pesawat. Sembilan hingga sepuluh jam di dalam pesawat adalah waktu yang membosankan. Saya mencoba mengaji di dalam pesaswat, membaca kembali buku bimbingan ibadah umrah, membaca majalah bertulisan arab yang saya tidak mengerti, namun saya susah untuk bisa tidur. Di layar monitor di dalam pesawat terpampang posisi pesawat sedang di atas mana, waktu Saudi dan waktu Jakarta, berapa jam lagi sampai, suhu di udara dan lain-lain. Oh, terasa begitu lama. Belum pernah saya menempuh perjalanan yang lama ini. Paling lama naik pesawat adalah ketika ke Korea dan Jepang selama enam jam, tetapi ke Madianh adalah sembilan hingga sepuluh jam.

Memasuki wilayah udara Saudi saya melihat pemandangan yang berbeda. Di bawah sana saya hanya melihat warna coklat, warna khas gurun pasir. Kering dan tandus. Hanya terlihat coklat keemasan di mana-mana, hampir tidak pernah saya melihat hutan yang hijau atau gunung-gunung yang menjulang sebagaimana kalau kita akan mendarat di bandara tanah air. Alam yang kering dan tandus inilah yang mungkin membuat orang Saudi dikesankan berwatak keras, agak kasar, tertutup, dan (katanya) kurang ramah seperti bangsa kita. Alam telah menempa karakter orang Arab seperti itu selama ribuan tahun. Mungkin karena alasan itulah Allah menurunkan nabi-nabi di sana, termasuk Nabi Muhammad SAW, untuk mendidik bangsa Arab yang sangat jahiliyah menjadi bangsa hyang beradab dan bertauhid. Sisa-sisa jahiliyah tentu masih ada, tidak hilang seratus persen, buktinya kita sering mendengar kasus-kasus TKW Indonesia disiksa dan dianiaya oleh majikannya di sana. Ah, omongan saya kok ngelantur membahas tipikal orang Saudi.

Jam 11.30 siang waktu Saudi (yang berarti pukul 15.30 WIB waktu Bandung), pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Madinah. Ketika memasuki kota Madinah yang terlihat adalah pemandangan yang gersang. Bandara Madinah bukan bandara yang besar bahkan termasuk sepi. Tidak semua pesawat boleh masuk ke sana. Selain pesawat Saudi Arabia Airlines, saya melihat sebuah pesaswat Egypt Air dari Mesir yang membawa rombongan jamaah pulang umrah. Hanya itu pesawat yang saya lihat, selain itu benar-benar sepi.

Rombongan jamaah umrah turun di Bandara Madinah.

Rombongan jamaah umrah turun di Bandara Madinah.

Keluar dari pesawat kami disambut angin dingin. Bulan Desember dan Januari negara-negara Arab memasuki musim dingin. Tidak ada salju di musim dingin, kecuali di negara-negara seperti Palestina, Libanon, Suriah, namun angin begitu dingin. Jamaah sudah diinbatkan untuk membawa jakeyt yang tebal. Kota Madinah siang hari cukup dingin, seperti dinginnya daerah Ciwidey di Bandung Selatan, tentu malam hari lebih dingin lagi.

Pemeriksaan imigrasi di bandara tidak terlalu sukar dan lama. Kesan saya, petugas bandara di Madinah tidak sesangar yang saya kira. Sebagian petugas imigrasi itu bisa sedikit berbahasa Indonesia, maklum saja karena jamaah umrah ratusan ribu dari Indonesia setiap tahun. Koper-koper jamaah sudah ada yang mengurusnya. Biro perjalanan umfrah menjalin kerjasama dengan orang lokal Saudi untuk mengurus barang jamaah. Indonesia, Indonesia, kata porter di bandara. Mereka hafal Indonesia, mereka tahu orang Indonesia.

Dari Bandara kami langsung dibawa oleh bis menuju hotel. Sepanjang perjalanan yang tampak adalah suasana sepi. Jarang terlihat orang di luar. Toko-toko dan ruko-ruko nyaris tidak ada orang. Oh, mungkin ini masih di luar kota Madinah. Tetapi di jalan-jalan raya, mobil-mobil sedan mewah berkeliaran di jalan. Orang-orang Saudi tetap setia memakai pakaian tradisionil mereka, yaitu baju gamis dan kain penutup kapala semacam kafiyeh. Jalan-jalan layang terdapat di luar kota. Pohon-pohon kurma berjejer di pinggir jalan tetapi sedang tidak berbuah. Selain itu yang saya lihat hanyalah suasana gersang. Saya akan menceritakan kisah selanjutnya pada bagian kedua (BERSAMBUNG).


Written by rinaldimunir

January 27th, 2015 at 10:36 am

Cacar Air

without comments

Minggu lalu, Fajar, anak bungsu saya, terkena penyakit cacar air. Sedih rasanya karena dia harus “diasingkan” dari lingkungan, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh main di luar, dan terutama tidak boleh sekolah. Cacar air adalah penyakit yang menular. Seorang anak yang terkena cacar air dapat menularkan virus cacar kepada anak lain yang kondisi kesehatannya kurang fit melalui sentuhan kulit atau melalui udara.

Selama seminggu anak saya harus mendekam di rumah. Dia kehilangan kegiatan sehari-hari yang menyenangkan yaitu bermain bersama teman-temannya di sekolah dan di TPA. Hanya di rumah dan di rumah. Membosankan bagi seorang anak kecil. Kerjanya hanya nonton TV, main game, dan main sendiri. Saya pun “terpaksa” tidak ke kampus selama satu hari karena menemaninya di rumah (kebetulan hari itu pembantu tidak masuk kerja).

Berhubung dua orang kakaknya sudah pernah kena cacar, maka saya sudah bepengalaman menangani anak yang terkena cacar air. Jadi saya tidak terlalu khawatir tentang penyakit ini karena akan sembuh sendiri dalam waktu 7 hingga 10 hari. Yang saya pikirkan hanya masalah sekolahnya saja, pasti dia ketinggalan pelajaran. Namun untunglah wali kelasnya baik dan hampir semua orangtua murid terhubung dengan guru melalui komunikasi dengan whatsapp atau BBM, maka informasi pelajaran sekolah masih bisa ditanya kepada gurunya. Anak saya mengerjakan latihan yang ada di dalam buku di rumah, meskipun dia terlihat ogah-ogahan, mungkin sakit mempengaruhi semangat belajarnya.

Setiap anak pasti pernah terkena cacar airm, jadi kita sebagai orangtua tidak perlu panik. Cacar air adalah penyakit yang umum dan selalu berjangkit pada kondisi udara yabng buruk dan musim pancaroba. Ciri-cirinya, mula-mula anak mengalami demam, badannya panas. Disangka anak demam biasa, rupanya keesokan harinya tampak bercak-bercak merah pada dada atau punggungnya. Beberapa jam kemudian bercak merah itu menggembung berisi air sehingga dinamakan cacar air. Pada hari ketiga jumlah bintik-bintik air mulai bertambah banyak dan rasa gatal mulai muncul. Sebenarnya cacar air bisa diobati sendiri, namun anda boleh membawanya ke dokter untuk menenangkan hati. Dokter akan memberi tiga macam obat, yang pertama obat penurun panas, kedua antibiotik, dan ketiga salep aciclovir yang dioleskan pada bintik-bintik cacar air tadi. Dokter berpesan begini: jangan diberi bedak talc karena dapat menyebarkan cacar ke bagian kulit yang lain (jika pecah). Kedua, anak harus dimandikan pagi dan sore dengan air hangat (padahal mitos selama ini anak yang terkena cacar tidak boleh mandi, ternyata mitos itu salah). Mandi berfungsi membersihkan kulit dari kuman-kuman cacar. Setelah mandi, barulah dioleskan salep aciclovir tadi dua kali sehari.

Sebenarnya anak yang terkena cacar tidak dilarang bermain di luar rumah, juga tidak dilarang terkena angin. Tetapi, nasehat orang-orang tua agar anak yang menderita cacar tidak boleh terkena angin mungkin ada benarnya. Angin tidak membuat cacar bertambah banyak, tetapi angin dapat menerbangkan virus cacar sehingga menempel pada anak lainnya. Begitulah kearifan orang tua kkta zaman dulu, yang tetap dipatuhi oleh orangtua zaman sekarang demi alasan kebaikan.

Jika perawatan anak yang terkena cacar dilakukan dengan benar, obat yang diberikan dokter diterapkan secara disiplin, dan makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak, maka penyakit cacar air dapat sembuh lebih cepat. Anak-anak yang terkena cacar lebih cepat sembuh daripada orang dewasa yang mengalaminya. Jadi, lebih baik terkena cacar air pada waktu kecil daripada mengalaminya pada saat dewasa. Hebatnya lagi, sekali anak terkena cacar, maka tubuhnya membuat sistem imun yang membuatnya kebal terhadap virus cacar air. Anak yang sudah pernah terkena cacar tidak akan pernah kena cacar lagi.

Pada hari kelima, bintik-bintik air cacar anak saya sudah tidak tumbuh lagi. Iseng-iseng saya membawanya kontrol ke dokter untuk lebih yakin apakah anak saya sudah boleh sekolah beberapa hari lagi. Dokter melihat perkembangan yang bagus, bintik cacar air terlihat sudah mengering dan tidak bertambah. Anak saya lebih banyak terkena cacar pada punggung damn dadanya, sementara pada muka hanya satu dua. Suhu tubuh sudah normal. Dokter hanya memberi vitamin dan antibiotik tambahan (yang sebelumnya sudah habis, namun sebenarnya tidak terlalu diperlukan). Dokter mengizinkan anak saya sudah bisa masuk sekolah pada hari Senin, yaitu hari ke delapan sejak terkena cacar (mulai teridentifikasi cacar pada hari minggu sebelumnya).

Alhamdulillah hari Senin anak saya sudah masuk sekolah. Sudah sembuh dan sudah ceria lagi bertemu teman-temannya yang seminggu tidak ditemuinya, dan saya pun sudah tenang kembali bekerja.


Written by rinaldimunir

January 26th, 2015 at 4:26 pm

Posted in Gado-gado

Jokowi yang Makin Kehilangan Kilau

without comments

Belum seratus hari menjabat, Presiden Jokowi melakukan blunder yang makin menghilangkan kilaunya sebagai presiden yang bersinar. Dia telah banyak melanggar janji-janjinya sendiri selama masa kampanye. Janjinya bahwa kabinetnya akan diisi oleh kalangan profesional ternyata tidak terbukti. Kabinet justru diisi bagi-bagi kursi dengan partai pendukungnya, bahkan anak Megawati dijadikan menteri koordinator. Janji bahwa Jaksa Agung akan disi oleh orang yang bebas partai politik ternyata tidak terbukti, Jaksa Agung disi oleh politisi dari Partai Nasdem. Tidak sampai di situ, semua orang-orang yang berkontribusi mendukungnya di dalam Pilpres diberikan jabatan-jabatan mentereng, bahkan jabatan yang tidak dikenal sama sekali di dalam kabinet-kabinet sebelumnya seperti Kepala Staf Kepresidenan yang diberikan kepada Luhut Panjaitan. Sekiranya masih ada lagi orang-orang yang belum diberi jabatan, maka cepat atau lambat nanti pasti diberi sebagai utang balas budi.

Puncak dari blunder Pak Jokowi adalah ketika mengusulkan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Sudah jelas-jelas Pak BG ini distabilo merah oleh KPK karena masalah rekening gendut, namun Jokowi masih tetap ngotot mencalonkannya sebagai Kapolri. Maka yang terjadi adalah polemik di seluruh negeri, yang menunjukkan bahwa rakyat menolak calon Kapolri dari Jokowi, namun Jokowi tetap tidak menariknya. Janji pemberantasan korupsi selama kampanye seakan-akan pepesan kosong belaka. Pencalonan BG sebagai Kapolri tidak sejalan dengan janji memberantas korupsi.

Kuat dugaan bahwa Jokowi berada di bawah bayang-bayang Megawati dan Surya Paloh. Pengusulan BG sebagai Kapolri adalah titipan Megawati. BG pernah menjadi ajudan Bu Mega selama menjadi Presiden. Makanya tidak heran PDIP sangat ngotot mendukung BG, dan ketika BG ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, partai ini pula yang langsung bereaksi keras dengan menyerang KPK.

Saya jadi teringat dengan perkataan Bu Mega dulu ketika Jokowi dicalonkan menjadi Capres. Ingat, anda adalah petugas partai, begitu kata Bu Mega. Dan sekarang ungkapan “sebagai petugas partai” atau “presiden boneka” mulai menunjukkan kebenaran. Jokowi lebih mendengarkan titah Bu Mega ketimbang rakyatnya sendiri. Jokowi presiden yang tidak berdaya karena didikte oleh Megawati.

Jadi, sebenarnya yang menjadi Presiden itu Jokowi atau Megawati (dan Paloh)?


Written by rinaldimunir

January 23rd, 2015 at 2:09 pm

Posted in Indonesiaku

Apa Perlunya Menghina Rasulullah?

without comments

Kasus teror terhadap media Charlie Hebdo sekali lagi mengingatkan kita bahwa di dunia Barat kebebasan berekspresi digunakan tanpa batas sehingga menghina atau menjelekkan tokoh yang dihormati oleh milyaran ummat Islam sedunia dianggap hal yang sah-sah saja. Kita tidak akan pernah bisa mencari titik temu antara kebebasan berekspresi yang dianut oleh orang Barat dengan keyakinan yang dianut oleh umat muslim. Bagi orang Barat, kebebasan berekspresi adalah hak yang tidak boleh dilarang, sedangkan dalam keyakinan kaum muslim memvisualisasikan Nabi, apalagi dalam bentuk yang melecehkan/menghina, adalah hal yang terlarang. Visualisasi Nabi, sebagus apapun itu, tidak akan dapat merepresentasikan sosok Nabi sesungguhnya.

Rasulullah itu sangat mulia dan dicintai oleh umat Islam. Namanya disebut siang dan malam oleh seorang muslim setiap kali melaksanakan sholat, yaitu ketika pembacaan tahyat (membaca shalawat Nabi). Ada dua duduk tahyat dalam sholat, dan setiap duduk tahyat seorang muslim membaca sholawat Nabi, maka jika mengerjakan sholat lima waktu saja maka minimal 10 kali nama Nabi disebut, dimuliakan, dan dikirim salam. Tidak ada cinta yang melebihi kecintaan kepada Rasulullah SAW. Meskipun dirinya dihina, dilecehkan, direndahkan, dan diejek, semua itu tidak akan dapat membuat kecintaan itu semakin berkurang, malah semakin bertambah.

Ketika saya melaksanakan umrah minggu lalu, saya menyaksikan ribuan orang berjuang, termasuk saya sendiri, memasuki sebuah tempat sempit di Masjid Nabawi yang disebut raudhoh. Raudhoh adalah sebuah tempat yang terletak antara mihrab Nabi dengan rumahnya (yang sekarang menjadi maqamnya). Tempat ini diyakini sebagai tempat dimana semua doa akan di-ijabah oleh Alalh SWT, karena Rasulullah sendiri pernah menyebutkannya. Selesai sholat, ribuan orang berdesakan melewati maqam Nabi. Mereka memberi salam kepada Nabi, bahkan ada yang menangis berlinangan air mata.

Begitu besar kecintaan umat Muslim kepada Nabinya, maka ketika Nabi yang dijunjung tinggi itu dihina, maka tidak dapat dibayangkan betapa sakit hatinya perasaan mereka. Tetapi membalas sakit hati itu dengan melakukan aksi teror hingga membunuh pihak yang menghina jelas tidak dapat dibenarkan, karena itu bukan ajaran Rasulullah SAW. Ingatlah ketika Rasulullah dilempar dengan batu oleh penduduk kota Thaif, atau disiram air comberan oleh seorang wanita Quraish, beliau tidak membalas penghinaan itu, beliau malah mendokan mereka. Ajaran Nabi Muhammad itu lemah lembut dan sangat penyayang. Radikalisme mempunyai akar permasalahan sendiri yang sangat kompleks namun tidak ada hubungannya dengan ajaran agama.

Kembali ke karikatur di koran Charlie Hebdo dan juga kartun serupa dan film-film yang pernah melecehkan Rasulullah. Saya tidak habis pikir, apa perlunya mereka itu menghina Rasulullah? Apa kesalahan Rasulullah kepada mereka sehingga dirinya dihina dalam bentuk kartun atau film? Apakah Rasulullah pernah menghina mereka? Apakah Rasulullah pernah melecehkan mereka? Apakah mereka sudah pernah membaca sejarah Nabi Muhammad secara utuh? Jika saja mereka pernah membaca sejarah Nabi, maka mereka mungkin akan menangis karena Rasulullah tidak seburuk yang mereka bayangkan. Andai Rasulullah masih hidup, tentu beliau akan memaafkan para kartunis itu.


Written by rinaldimunir

January 15th, 2015 at 12:19 pm

Posted in Agama

Lihat Positifnya

without comments

Bermula dari rasa penasaran…ada apa dengan ODOJ sehingga menjadikannya topik hangat di dunia maya, saya kemudian secara sengaja tapi tanpa sadar (alias iseng saja) bergabung di sana. Sebelum  memutuskan bergabung, saya pikir ini komunitas biasa yang berisi ajakan tilawah sehari 1 juz. Tilawah 1 juz sehari pada saat itu adalah sebuah hal luar biasa mengingat kebiasaan saya hanya separoh juz saja sehari. Tapi, karena dilakukan tanpa sadar, saya tidak memikirkan kesulitannya toh nanti kalau tak sanggup saya bisa ungroup. Lalu dimulailah tarbiyah itu.

 

Tarbiyah paling awal adalah menumbuhkan kebiasaan ber-ODOJ. Di sini saya belajar lagi tentang manajemen waktu dan disiplin. Karena niat saya adalah istiqomah ber-ODOJ, maka saya harus sungguh-sungguh menerapkan kedua hal tsb. Tanpa manajemen waktu yang baik, meski hanya 1 jam, tilawah tidak akan selesai. Dan tanpa disiplin, maka kebiasaan baik yang baru tumbuh akan cepat luruh. Alhamdulillah, di ODOJ banyak saudara seperjuangan yang juga masih sama-sama belajar. Tak ada yang merasa paling hebat meskipun ternyata sebelumnya sudah rutin ber-ODOJ. Oh ya, di sini kami juga belajar utk selalu mengikhlaskan niat dan menekan rasa ujub dan riya’. Ini juga sebuah bentuk pembelajaran buatku. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa bergabung di ODOJ itu menimbulkan riya’ dan ujub, bisa jadi memang, tapi rasanya apapun amalan yang kita rasa baik bisa berpotensi memunculkan kedua rasa itu, tak hanya di ODOJ.

 

Bentuk-bentuk tarbiyah lainnya saya dapatkan ketika mendapat tugas sebagai PJH alias penanggung jawab harian. PJH bertugas memonitor tilawah grup dan memberikan semangat kepada sesama member. Untungnya, saat itu ada admin yang meringankan tugas itu dan membantu tugas PJH. Menjadi PJH membuat saya mendapatkan pengalaman manajerial. PJH harus selalu online untuk memperbarui laporan dan aktif mengingatkan member yang belum laporan. Di sini juga saya belajar berkorban, selain korban pulsa, juga berkorban waktu dan pikiran. Tidak masalah karena semua bisa diatasi insyaAllah.

 

Ternyata ODOJ lebih dari itu. Setelah bergabung lebih dari 1 tahun saya mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman. Setelah saya diberi amanah menjadi admin grup, pembelajaran baru pun dimulai. Mulai dari pelajaran tentang menjalin persaudaraan, berbaik sangka, berpikir positif, menumbuhkan dan membagikan semangat, bersabar, mengalah, berkorban, hingga kepemimpinan. Tugas sebagai admin tidaklah mudah dan menyita waktu. Jadi, saya harus pandai mengatur prioritas dengan tetap menyelesaikan semua kewajiban saya yang lain. Adakalanya saya ingin melepas amanah ini apalagi jika grup sedang dalam kondisi tidak baik misalnya karena tidak seluruhnya selesai 1 juz, member yang tiba-tiba menghilang, member yang acuh dengan grup, dsb. Kalau saja bukan karena diniatkan sebagai ladang amal, amanah ini akan saya tinggalkan. Saya tetap berada di posisi ini karena saya ingin ada yang bisa jadi pemberat amalan saya di akhirat nanti, juga karena saya merasa masih dibutuhkan. Tekad saya adalah menjadi orang terakhir yang ada di grup apapun kondisinya.

 

Salam ukhuwah,

 

 


Written by indahgita

January 9th, 2015 at 2:02 pm

Posted in Bebas

Tertipu Spesifikasi TP-LINK CPE210

without comments

panjat-tower-tp-link-cpe210TP-LINK CPE 210 adalah Wireless Access Point Outdoor 300Mbps yang beroperasi di frekuensi 2,4GHz dilengkapi dengan dua antena 9dBi. Tipe ini diperkenalkan pada akhir tahun 2014. Pada spesifikasi di Internet maupun di buku manual, tertulis bahwa adaptor PoE-nya sanggup untuk kabel LAN sepanjang 60 meter.

Setelah 2 hari mencoba 2 unit TP-LINK CPE210, kami memperoleh kesimpulan bahwa spesifikasi tersebut sangat tidak benar. Dari ratusan meter kabel dan puluhan korban konektor RJ45 yang digunakan untuk percobaan, ternyata TP-LINK CPE210 tidak akan bekerja apabila panjang kabel lebih dari 30 meter!

Gejala yang terjadi adalah radio outdoor TP-LINK CPE210 akan restart terus menerus, dan kabel LAN yang dipasang pada PC maupun router atau switch tampak tidak aktif, lampunya tidak menyala, seakan-akan tidak ada sambungan sama sekali.

Informasi ini semoga bermanfaat bagi Anda yang mungkin sedang merencanakan untuk upgrade radio pemancar Internet alias access point outdoor yang murah meriah dari TP-LINK. Apabila ketinggian tower lebih dari 20 meter, harap diingat dan dipertimbangkan bahwa TP-LINK CPE210 hanya bekerja dengan panjang kabel maksimum 25 hingga 30 meter, setidaknya demikianlah yang terjadi pada 2 unit TP-LINK CPE210 yang kami miliki. Hal ini tidak pernah ditemukan pada TP-LINK WA7510N, Wireless Access Point Outdoor 150Mbps 5GHz.

Ujicoba dan pemasangan dilakukan di kantor Codena Bandung, prinsipal produk DMR dan pengelola JualScanner.com


Written by arifrahmat

January 8th, 2015 at 10:05 pm

Awan Cumulonimbus, Al-Quran, dan Pesawat Air Asia

without comments

Nama awan cumulonimbus (CB) hari-hari ini menjadi terkenal sejak kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata pada tanggal 28 Desember 2014. Diduga pesawat Air Asia terjebak di dalam awan tersebut atau gagal menghindarinya. Awan CB adalah awan yang ditakuti oleh para pilot, karena di dalam awan ini mengalir butiran-butiran es. Butiran es dapat membuat mesin pesawat mati sehingga pesawat bisa jatuh ke bawah. Karena itu, seorang pilot sangat menghindari awan ini, kalau perlu berbalik arah demi keselamatan penumpang.

Awan CB adalah awan yang padat, bentuknya bertumpuk-tumpuk secara vertikal, mirip seperti gunung. Diameternya bsia mencapai 10 km, sedangkan tingginya bisa mencapai puluhan kilometer. Selain mengandung es, awan CB mengandung muatan listrik yang besar yang menghasilkan badai petir di dalamnya. Pesawat yang masuk ke dalamnya niscaya akan mengalami turbulensi yang hebat yang dapat membahayakan keselamatan pesawat maupun penumpang di dalamnya.

Ribuan tahun yang lalu Allah SWT sudah berfirman di dalam Al-Quran tentang awan (termasuk awan cumulonimbus) agar menjadi pelajaran dan pengetahuan bagi manusia. Di dalam Surat An-Nur ayat 43 Allah SWT berfirman:

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan lalu mengumpulkannya. Allah kemudian menjadikan awan-awan tersebut bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia juga menurunkan butiran-butiran es dari gumpalan-gumpalan awan yang besarnya bagaikan gunung-gunung.

Maka, ditimpakan-Nya butiran-butiran es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatannya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

Awan cumulonimbus lainnya (Sumber: Wikipedia)

Awan cumulonimbus lainnya (Sumber: Wikipedia)

Dari wawancara para mantan pilot yang bercerita tentang awan CB ini, keterangan mereka persis seperti bunyi ayat ini. Subhanallah, Maha Benar Allah SWT.

Bila anda pernah naik pesawat lalu pesawat memasuki awan (yang agak gelap) maka kita merasakan adanya goncangan yang menimbulkan rasa takut. Ketika terjadi goncangan, biasanya pramugari mengumumkan kepada para penumpang yang berjalan-jalan untuk kembali ke tempat duduk dan mengencangkan seat belt. Itu baru awan biasa, nah bagaimana jika yang dimasuki pesawat adalah awan CB, tentu goncangan akibat turbulensinya jauh lebih hebat lagi dan sangat berbahaya. Jika sudah demikain, maka tinggal memasrahkan diri kepada Allah SWT saja, kita manusia begitu kecil dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan kekuatan alam.

Hanya kepada Allah saja kita berserah diri. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini.


Written by rinaldimunir

January 3rd, 2015 at 12:34 pm

Resolusi 2015

without comments

Setiap awal tahun baru banyak orang membuat resolusi yaitu rencana-rencana yang akan dilakukannya pada tahun baru tersebut. Beberapa resolusi yang umum dibuat orang adalah rencana melakukan diet untuk mengurangi/menambah berat badan, menikah, naik haji/umrah, dan sebagainya. Semua resolusi adalah harapan, soal terlaksana atau tidak wallahu alam. Manusia hanya berencana, Tuhan jua yang akhirnya menentukan, bukan? Kalau tidak terlaksana tahun ini, ya tahun selanjutnya, seperti gambar yang mengundang senyum yang saya dapat dari kiriman di Facebook di bawah ini:

Resolusi yang rekursif (Sumber: kiriman dari Facebook)

Resolusi yang rekursif (Sumber: kiriman dari Facebook)

Hmm….apa ya resolusi saya tahun ini? Jujur saja saya tidak pernah membuat resolusi setiap awal tahun baru. Namun tahun ini saya akan coba membuatnya. Resolusi saya tidak banyak, saya ingin lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT, ingin memperbanyak ibadah sunnah, dan ingin selalu dapat berbuat baik kepada sesama manusia. Itu saja.


Written by rinaldimunir

January 2nd, 2015 at 11:20 am

Posted in Renunganku