if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2014

Snack Singkong Rebus dan Kebijakan Pak Menteri

without comments

Sejak Menpan yang baru, Yuddi Chrisnandi, menggaungkan pola hidup sederhana bagi PNS (yang sejak dulu juga sudah banyak hidup prihatin), beberapa perubahan baru sudah terjadi di lingkungan kantor kami di kampus. Hidangan snack rapat yang biasanya kue-kue dari toko kue ternama sudah diganti dengan makanan dari singkong. Ketika rapat kerja di kampus Jatinangor minggu lalu, hidangan snack-nya adalah singkong rebus, jagung rebus dan kacang rebus. Pak Menpan memang membuat aturan agar hidangan rapat di kantor instansi Pemerintah adalah makanan yang berbahan baku negeri sendiri, ya seperti singkong itu.

Hidangan rapat berupa jagung, ubi, dan kacang rebus

Hidangan rapat berupa jagung, ubi, dan kacang rebus

Sekilas hidangan rapat tersebut tidak menarik, semua serba direbus, full karbohidrat yang membuat mata mengantuk. Kalau mau kreatif ya diolah lagi menjadi jajanan yang lebih menarik. Bukankah bisa dibuat menjadi kerupuk ubi, bolu kukus dari ubi talas, lemper jagung, dan sebagainya.

Hidangan kerupuk ubi dan kue semprong di atas meja rapat di kantor fakultas.

Hidangan kerupuk ubi dan kue semprong di atas meja rapat di kantor fakultas.

Pada prinsipnya saya setuju dengan aturan yang dibuat oleh Menpan itu. Pesannya jelas, yaitu agar hidup sederhana, mencintai produk dalam negeri, disamping itu dapat menghemat anggaran negara. Selain soal hidangan rapat, beberapa aturan lainnya adalah rapat tidak boleh dilakukan di hotel atau tempat mewah (namun dilanggar sendiri oleh Pak Menteri dengan melakukan rapat di Balai Kartini Jakarta), hidangan rapat dari bahan baku dalam negeri (meskipun sebagian singkong itu ada yang diimpor dari Thailand dan Vietnam), undangan nikah tidak boleh lebih dari 400 dan jumlah tamu tidak boleh lebih dari 1000 orang. Pak Menteri membuat aturan sampai begitu teknis dan rinci hingga ke angka-angka, yang sebenarnya bukanlah urusan menteri sampai ke level teknis. Masih banyak pekerjaan penting pemberdayaan aparatur negara (termasuk PNS) ketimbang mengurusi hidangan rapat dan jumlah undangan nikah.

Namun jika aturan itu dipaksakan strict harus demikian, maka “korban-korban” sudah mulai berjatuhan. Hotel-hotel mulai mengurangi karyawannya (PHK) karena 60% pemasukan hotel (terutama hotel-hotel di daerah) berasal dari instansi pemerintah yang melakukan acara pertemuan di hotel. Bukan tidak mungkin toko-toko kue melakukan hal yang sama (mem-PHK karyawan), karena tokonya kehilangan pendapatan dari pesanan snack rapat, sebab toko mereka menjual kue dari bahan gandum dan coklat (gandum dan coklat masih impor).

Rapat di hotel tidak selalu berarti mewah, mungkin ruangan rapat di kantor tidak mencukupi untuk peserta yang banyak. Jika bukan karena alasan ruangan yang tidak mencukupi, alasan rapat di luar kantor seperti di hotel adalah untuk penyegaran (refreshing), dan itu hanya sesekali saja supaya tidak jenuh. Rapat yang selalu di dalam kantor mungkin menimbulkan efek jenuh, maka rapat yang sesekali dilakukan di luar kantor (biasanya di hotel atau penginapan di luar kota) mungkin saja dapat lebih produktif karena ide-ide bisa lahir lebih banyak dan orisinil. Apakah Pak Menteri tidak memikirkan faktor-faktor non teknis seperti alasan refreshing itu ya? PNS itu juga manusia yang membutuhkan selingan dalam pekerjaannya.

Undangan pernikahan dengan tamu yang banyak bukan berarti uangnya hasil korupsi. Orang Indonesia berbeda dengan orang Barat. Orang Barat kalau mengadakan pesta pernikahan tamunya sedikit, hanya sebatas keluarga dan teman dekat saja. Tetapi orang Indonesia lebih mementingkan hubungan kekerabatan dan silturahmi. Jika mengadakan kenduri, maka hampir semua kerabat, teman, tetangga, dan handai tolan diundang. Bahkan pada sebagian ummat Islam, mereka juga mengundang puluhan anak yatim untuk menikmati hidangan yang mungkin jarang mereka dapatkan. Jika tidak diundang semua, maka bisa timbul rasa kecewa dan mengurangi silaturahmi. Selama uang untuk acara hajatan adalah uang sendiri, bukan uang negara, maka tidak perlu harus dibatasi. Saya pikir Pak Menteri tidak perlu masuk terlalu jauh mengintervensi hak asasi manusia.

Maka, perlu win-win solution untuk mengatasi dilema ini. Penghematan negara dengan hidup sederhana perlu didukung, tetapi dampaknya terhadap industri pariwisata (hotel dan restoran) dan industri makanan juga perlu dipikirkan. Perlu dicarikan jalan keluar sehingga tidak ada yang merasa dikorbankan.


Written by rinaldimunir

December 24th, 2014 at 3:54 pm

Posted in Indonesiaku

OHP Kenangan

without comments

Ketika selesai memberikan ujian di kelas, mata saya tertumbuk pada sebuah OHP (overhead projector) yang teronggok di sudut ruangan dalam kesendiriannya. OHP tersebut sudah lama tidak pernah disentuh dan dipakai lagi, karena perannya telah diganti oleh LCD projector.

OHP di sudut ruangan kelas

OHP di sudut ruangan kelas

Ingatan saya melayang belasan tahun yang lampau ketika mengajar di kelas menggunakan OHP sebagai alat bantu presentasi. Untuk bisa menampilkan slide di OHP, saya harus mencetak slide-slide ke plastik transparansi. Tidak semua slide saya cetak, sebagian lagi saya tulis dengan tulisan tangan sendiri menggunakan spidol. Memperhatikan slide yang ditulis tangan oleh dosen lebih berkesan daripada dicetak, karena kita dapat melihat tulisan indah para dosen (tulisan saya tidak begitu indah, tetapi beberapa rekan dosen menulis begitu bagus pada plastik transparan).

Kelebihan slide yang ditayangkan dengan OHP adalah kita dapat langsung menulis pada transparansi pada saat presentasi dan langsung terlihat saat itu juga. Ini berbeda bila menggunakan PPT (Power Point), kita harus menghentikan presentasi, menjalankan PPT dalam menu edit, menyunting dokumen PPT, lalu menayangkannya kembali.

Saya masih teringat saat-saat menggunakan OHP dulu, seluruh slide transparansi kuliah saya masukkan ke dalam map, lalu dibawa ke dalam kelas. OHP sendiri sudah standby di dalam kelas, tetapi jika kelas kuliahnya jauh (semacam di Oktagon atau di TVST), maka petugas di LabTek V (Gedung tempat Prodi IF berada) yang harus menggotongnya ke sana, karena belum tentu di ruangan tersebut tersedia OHP. Saya berjalan ke kelas bersama petugas yang menjinjing OHP portabel. Jika kuliah selesai, maka saya meminta mahasiswa mengantarkan kembali OHP tersebut ke LabTek V.

Sekarang era OHP sudah berakhir di ITB, LCD Projector atau Infocus (nama merek LCD yang sudah menjadi nama barang) sudah menggantikan OHP. Infocus yang dulu harganya puluhan juta saat ini hanya beebrapa juta saja sudah dapat dimiliki. Kelebiha menggunakan infocus adalah ramah lingkungan, karena kita tidak perlu lagi menyiapkan plastik transparansi. Semua sudah serba digital. Cukup menyiapkan file presentasi, sebuah komputer laptop, dan infocus, maka presentasi sudah dapat dilakukan dengan mudah dan tidak ribet.

Meskipun demikian, OHP ini adalah saksi bisu sejarah pendidikan. Ia sudah banyak berjasa mengantarkan mahasiswa lulus ke gerbang sarjana. Sayang jika dibuang atau masuk gudang, sebaiknya dimasukkan ke dalam museum kampus, tetapi di kampus kami tidak ada museum yang merekam jejak sejarah pendidikan di ITB.


Written by rinaldimunir

December 23rd, 2014 at 1:56 pm

Posted in Gado-gado

Tidak Ikut “Mengucapkan Selamat Natal”

without comments

Menjelang tanggal 25 Desember tiba (Hari Natal), atmosfer perdebatan boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal kembali mengemuka di media massa dan media sosial. Perdebatan usang yang selalu diulang-ulang setiap tahun. Padahal saudara-saudara kita kaum kristiani tidak pernah mempersoalkan umat Islam yang mau mengucapkan selamat Natal kepada mereka atau tidak.

Di dalam Islam sendiri duduk perkara ini sudah jelas, yaitu ada dua pendapat ulama terkait mengucapkan selamat Natal kepada saudara kita umat Kristen. Pendapat pertama membolehkan, pendapat kedua mengharamkan. Semua pendapat memiliki dasar dan alasan masing-masing. Tinggal kita meyakini pendapat mana yang diikuti, mau mengucapkan Natal silakan, tidak mengucapkan Natal juga silakan. Semua pilihan memiliki konsekuensi masing-masing yang ditanggung oleh masing-masing individu di akhirat kelak.

Pendapat yang mengharamkan sudah diwakili oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan bahwa mengucapkan selamat Natal berarti secara tidak langsung mengakui kelahiran Isa Al-Masih sebagai anak Tuhan. Di dalam Islam dan Kristen kedudukan Isa sangat berbeda, dan ini adalah masalah akidah yang fundamental. Isa dalam keyakinan Islam hanyalah seorang nabi yang membawa wahyu dari Allah, sedangkan dalam keyakinan Kristen Isa (Yesus) adalah anak-Nya yang Tunggal, atau Isa sendiri adalah Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu wajar jika para ulama di dalam MUI mengingatkan ummat untuk berhati-hati dalam masalah ini, supaya tidak tergelincir ke dalam kemusyrikan. Para ulama memiliki tanggung jawab moral dalam membimbing ummat, dan itulah tugas ulama untuk mengawal akidah ummat.

Adapan pendapat yang membolehkan dikemukakan oleh beberapa ulama dan tokoh Islam, seperti Quraish Shihah, Syafiie Maarif (dari Muhammadiyah), beberapa tiooh NU, dan sebagainya. Alasan yang dikemukakan beragam, mulai dari yang beranggapan bahwa mengucapkan selamat Natal sama seperti mengucapkan selamat pagi, jadi Selamat Natal adalah ucapan basa-basi kepada teman-teman dan saudara kita yang merayakan Natal. Alasan yang lain adalah mengucapkan Natal saja tetapi tidak diikuti dengan keyakinan bahwa Isa adalah anak Tuhan maka tidak apa-apa.

Nah, silakan anda memilih sikap yang mana. Kalau saya sendiri memilih mengikuti fatwa MUI saja, karena MUI adalah representasi dari seluruh ulama di tanah air, maka fatwanya mengikat secara pribadi bagi yang meyakini. Bagi saya ulama itu adalah sami’na wa ata’na, yaitu saya dengar dan saya ikuti. Bagi yang tidak meyakini fatwa ulama ya tidak apa-apa, kembali kepada iman kita masing-masing.

Teman-teman saya dan para mahasiswa saya banyak yang beragama Kristen/Katolik. Hubungan saya dengan meraka sangat baik, bahkan saya sudah bertahun-tahun membantu pembimbingan Tugas Akhir mahasiswa sebuah perguruan tinggi Katolik. Hubungan saya dengan teman-teman Kristen sudah sangat akrab dan mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Mereka tidak pernah menghidangkan saya makanan yang tidak halal, bahkan mereka sering menanyakan apakah saya mau sholat dulu dan mau sholat di mana. Sebatas itu muamalah, yaitu hubungan dengan sesama manusia, maka tidak ada larangan kita berbuat baik kepada sesama manusia apapun agama dan suku bangsanya. Alangkah indahnya pertemanan itu meskipun kita berbeda keyakinan. Hanya ketika sudah menyangkut akidah atau hablun minnallah, atau hubungan dengan Allah/Tuhan, maka disanalah kita harus tegas dan berbeda.

Teman-teman Kristiani saya yang baik itu selalu mengirimkan ucapan selamat Idul Fitri setiap lebaran tiba. Bahkan, ada yang mengirimkan selamat memasuki bulan suci Ramadhan dan selamat Idul Adha ketika lebaran haji tiba. Saya begitu terharu dengan perhatian itu. Namun saya tidak dapat membalas perhatian yang sama dengan memberikan ucapan selamat Natal ketika bulan Desember tiba, karena hal ini masalah keyakinan saja. Alhamdulillah, teman-teman kristiani saya itu tidak pernah mempermasalahkannya. Buktinya kami sampai saat ini baik-baik saja dan tetap berteman akrab. Apakah mereka tahu alasan saya atau tidak, wallahu alam, mudah-mudahan saja mereka bisa mengerti.

Hanya ketika memasuki tahun baru masehilah saya mengirimkan ucapan selamat memasuki tahun baru kepada teman-teman saya itu, karena tahun baru adalah tahun kita semua dan tidak ada hubungannya dengan kelahiran nabi/anak Tuhan. Penanggalan di negara kita menggunakan dua sistem, yaitu sistem matahari (tahun masehi) dan sistem bulan (tahun hijriyah). Keduanya kita pakai baik di dalam urusan ibadah maupun di dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, ketika Natal tiba apakah saya berdiam saja tanpa mengucapkan perkataan tentang Natal kepada teman-teman kristiani saya itu? Oh, sama sekali tidak. Saya sering say hello kepada teman saya dengan bertanya “bagaimana suasana Natalnya? meriah nggak?” atau “nanti malam kebaktian Natal di mana?” atau “merayakan Natal di mana?” atau “sudah beli pohon terang apa belum?”, dan sebagainya. Nah, menurut saya itu sudah merupakan bentuk perhatian tanpa ikut-ikutan mengorbankan akidah.

Menurut saya meskipun kita tidak ikut mengucapkan selamat Natal bukan berarti kita todal bertoleransi. Toleransi yang sesungguhnya adalah dengan tidak mengganggu saudara-suadara kita yang beribadah merayakan Natal, serta ikut memberikan suasana tenang, aman, dan damai kepada mereka. Dan hal ini sudah berlangsung sejak dulu, bukan?

Semoga teman-teman saya yang membaca tulisan saya ini dapat lebih memahami pilihan saya. Jika ada yang mengecam saya karena pilihan saya ini, saya terima dengan lapang dada. Kita tetap bersaudara, sebangsa dan setanah air, seperti ungkapan orang-orang di Indonesia Timur yang sangat terkenal: torang samua basudara, kita semua bersaudara.


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2014 at 8:23 am

Posted in Agama,Indonesiaku

Bukan Urusan Saya

without comments

Seorang teman mempublikasikan status yang menunjuk sebuah gambar. Di gambar itu dijajarkan 4 hasil pencarian di Google dengan kata kunci “bukan urusan saya” yang subjeknya adalah 4 selebriti termasuk presiden RI yang sekarang. Dan berdasarkan gambar tersebut, terlihat bahwa hasil pencarian yang relevan dengan kata kunci ditemukan terbanyak pada subjek Pak Jokowi. Ini menunjukkan bahwa di antara keempat orang itu topik “bukan urusan saya” paling dekat dengan beliau. Tentu saja hasilnya bisa berbeda jika diterapkan ke orang yang berbeda.

Frase “bukan urusan saya” memang sedang naik daun. Yang menaikkannya ya pak Jokowi sendiri. Berawal ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI hingga kini sebagai Presiden RI. Beberapa pernyataan memang tidak berbungi persis seperti itu, namun secara tersirat punya makna yang berdekatan (http://news.okezone.com/read/2014/12/05/337/1074939/seberapa-sering-jokowi-bilang-bukan-urusan-saya). Hahaha… ada-ada saja yang iseng menghitung frekuensinya.

Jika frase itu diucapkan oleh saya, maka efeknya tidak sedahsyat jika yang mengatakan adalah seorang presiden. Mengapa? Presiden itu pimpinan rakyat. Rakyat dapat mengacu, mengikuti, atau meniru sikap dan perilaku dari pemimpin. Apa jadinya jika frase itu tidak hanya ditiru pengucapannya saja namun telah masuk ke pemikiran dan menjadi kerangka berpikir? Mungkin saja kan jika terjadi perulangan yang berasal dari apa yang selalu didengar dan dilihat.

Dulu saja, sebelum frase ini populer, orang masih buang sampah sembarangan, merokok tak kenal tempat, sindir menyindir di media sosial, hingga perilaku mengambil hak orang lain. Sekarang, saya rasa diperparah dengan beredarnya frase ini. Orang dengan mudahnya melanggar peraturan yang tidak merugikan dirinya secara langsung namun bisa saja merugikan orang lain dengan alasan “bukan urusan saya kok”. “Memangnya kenapa kalau saya buang sampah di sungai? Toh yang banjir di hilir sana, jadi bukan urusan saya kaannn”, padahal yang tinggal di hilir-lah yang merasakan akibatnya. “Memangnya kenapa kalau saya perempuan dan merokok di tempat umum? Kalau perbuatan saya menurut anda tidak beretika, bukan urusan saya kan”. Dan kalimat-kalimat sejenis yang dilontarkan sebagai pembenaran dari sebuah tindakan melanggar aturan, norma, dan etika.

Saya jadi tidak habis pikir, apakah bapak presiden tidak menyadari betapa penting posisinya saat ini? Betapa kata-kata dan tindakan seremeh apapun akan disorot bahkan bisa ditirukan oleh bawahan dan rakyatnya. Menurut saya, sebagai seorang pemimpin harusnya lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan bersikap. Nasehat ini sebenarnya juga berlaku umum. Apalagi bagi seorang muslim yang meyakini bahwa semua kata-kata dan perbuatannya akan dicatat dan jika itu membawa kebaikan bagi orang lain maka akan juga baik untuk dirinya dan jika sebaliknya maka dia juga turut mendapatkan dosanya.

Wallahu’alam

 

Salam hangat,


Written by indahgita

December 19th, 2014 at 12:32 pm

Posted in Bebas

Ke Tangkubanperahu Tidak Lagi Murah

without comments

Minggu lalu ada tamu dari Malaysia datang ke kampus kami. Selesai acara presentasi saya menanyakan kepada pemandu mereka (orang Indonesia), apakah dia sudah membawa tamu Malaysia ini jalan-jalan ke Tangkubanperahu. Karena, bagi saya Gunung Tangkubanperahu adalah gunung api yang unik, kita bisa langsung mendekat ke bibir kawah (Kawah Ratu), bahkan bisa turun ke kawah lainnya (Kawah Domas). Berkunjung ke Bandung tanpa melihat kawah Gunung Tangkubanperahu rasanya ada yang kurang selain untuk sekedar wisata belanja dan kuliner. Tangkubanperahu sangat dekat dengan kota Bandung. Bandung mungkin salah satu kota yang berada dekat dengan gunung api yang masih aktif.

tangkuban_perahu2

Apa jawab pemandu tamu dari Malaysia tersebut? Mereka tidak jadi ke sana karena tiket masuk bagi turis asing mahal sekali. Satu orang Rp200.000 (kalau weekend Rp300.000/orang), sedangkan mobil Rp25.000. Jika ingin turun ke Kawah Domas maka biayanya (harus pakai pemandu) adalah Rp300.000 untuk satu jam. Anda bisa hitung jika tamu yang dibawa 10 orang, berapa biaya yang harus dikeluarkan mereka.

Saya dengar banyak turis Malaysia membatalkan agenda kunjungan ke Tangkubanperahu gara-gara tiket yang mahal tersebut. Sejak obyek wisata Tangkubanperahu dikelola oleh pihak swasta harga tiket masuk melambung tinggi (kenapa sih harus dikelola swasta?). Padahal tidak ada yang berubah dari kawasan wisata itu dari dulu sampai sekarang, tidak ada penambahan infrastruktur, gitu-gitu saja, tetapi ongkos masuknya ditarik luar biasa mahalnya. Sebagai perbandingan, masuk Trans Studio saja tiketnya hampir sama (Rp200.000/orang), tetapi itu sebanding dengan wahana yang dinikmati pengunjung.

Saya heran Pemda yang terkait dengan obyek wisata Gunung Tangkubanperahu diam saja. Padahal, jika kondisi ini terus berlangusng, maka turis asing jadi enggan datang ke Tangkubanperahu. Imej wisatawan adalah Tangkubanperahu itu mahal, jadi tidak usah ke sana. Nah, jika yang berkunjung sedikit, siapa yang rugi?

Saya heran dengan pola pikir bangsa kita yang diskriminatif dan “aji mumpung” dalam memberlakukan tiket masuk bagi wisatawan lokal maupun asing. Waktu saya jalan-jalan ke Candi Borobudur tiket masuknya juga berbeda antara wisatawan lokal dan wisatawan asing. Bahkan nonton angkung di saung Udjo pun harga tiket buat turis asing hampir dua kali lipat daripada pendatang lokal. Semangat aji mumpung itu dipelihara untuk mengeruk duit dari turis asing. Ah, semangat yang jelek karena memberikan kesan negatif. Jika memang harus memberlakukan dua tarif berbeda, kenapa harus sedemikian jauh bedanya?

Saya jadi malu kalau membuat agenda membawa tamu mancanegara ke Tangkubanperahu. Ya sudah dicoret saja dari agenda kunjungan.


Written by rinaldimunir

December 16th, 2014 at 5:03 pm

Posted in Seputar Bandung

Selamat Jalan Bu Een

without comments

Hari Jumat dua hari yang lalu, guru inspiratif yang mengajar anak-anak tanpa pamrih itu sudah berpulang. Een Sukaesih dipanggil kembali ke haribaan Ilahi setelah penyakit akut yang sudah lama dideritanya merenggut nyawanya. Saya pernah menulis tentang Bu Een pada posting tahun 2013: Een Sukaesih, Pejuang Guru dari Sumedang (Meskipun Lumpuh Tetap Mengajar Tanpa Pamrih.

Selama hidupnya dia telah menanam amal jariyah dengan memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak sekolah yang datang berkunjung ke rumahnya. Dengan segala keterbatasan fisik yang dimilikinya, Bu Een mampu menjelaskan aneka pelajaran seperti matematika, Bahasa Inggris, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, PKN, dan sebagainya. Semua itu dilakukannya tanpa pamrih dan dalam keadaan berbaring di tempat tidur.

Pasti di sana para malaikat menyambut arwahnya dengan tersenyum. Bu Een, pejuang pendidikan yang dijuluki Guru Qolbu, telah mendarmabaktikan seuruh hidupnya untuk pendidikan. Meskipun cita-citanya untuk menjadi guru formal tidak kesampaian, namun Bu Een sudah menjadi guru bagi anak-anak di lingkungannya. Selamat jalan Bu Een, semoga Allah SWT menerima amalan sholehmu dan menempatkanmu di tempat yang layak di sisi-Nya.


Written by rinaldimunir

December 13th, 2014 at 9:40 am

Posted in Pendidikan

Ayahku

without comments

Saya dapat tulisan bagus dari grup diskusi di media sosial. Tulisan yang mencerahkan ini dibagikan oleh Ustadz Musyafa Ad Dariny, MA. Saya bagikan lagi kepada anda semoga bermanfaat, khususnya kenangan kepada (alm) ayahanda (jika ia sudah tiada)

~~~~~~~~~~~~~~

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah oracng yang paling hebat”.

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang”.

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah”.

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil”.

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif”.

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini”.

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah”.

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya”.

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan”.

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda”.

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama”.

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua?”.

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita?”.

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang”.

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.

Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermuamalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orang tua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya.

~~~~~~~~~~~~~~

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. [Al-Isro': 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orang tua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu. (133)


Written by rinaldimunir

December 12th, 2014 at 1:23 pm

Posted in Renunganku

Jonru

without comments

Ada satu nama di jagad maya yang mendadak populer sejak Pilpres 2014 kemarin, yaitu Jonru. Namanya diperbincangkan di media sosial karena posting-posting-nya yang selalu mengkritik dan (seringkali) menyerang Jokowi dan Pemerintahannya. Jonru memiliki fanpage di Facebook yang di-follow dan di-like oleh ratusan ribu orang. Artinya Jonru memiliki penggemar yang luar biasa jumlahnya. Hampir setiap posting-nya di Facebook di-like oleh ribuan orang dan dibagikan ke akun-akun lain di Facebook.

Saya tidak kenal dengan Jonru dan saya tidak pernah menjadi follower maupun me-like statusnya di Facebook. Hanya sesekali saja saya membacanya karena kebetulan muncul di status orang lain di akun facebook-nya. Yang sedikit saya tahu Jonru itu adalah seorang penulis buku dan menjadi pengisi materi acara workshop menulis.

Dari beberapa posting-posting-nya yang saya baca, saya menyimpulkan Jonru seringkali menulis posting asal njeplak dan dangkal. Dia terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian sebelum melakukan tabayyun (cek dan ricek). Akibatnya posting-posting-nya di laman akun Facebook-nya itu menjurus pada fitnah. Yang saya ingat adalah posting tentang Quraish Shihab dan posting tentang asal usul ayah kandung Jokowi. Kedua posting ini membuat heboh dunia maya karena tidaklah pantas seseorang menelusuri ayah kandung orang lain yang tidak disukainya karena kita tidak lebih tahu tentang ayah kandung dan ibu kandung dari orang yang kita bicarakan. Pada akhirnya posting tentang ayah kandung Jokowi itu isinya ghibah belaka alias fitnah.

Media sosial bagaikan pedang, ia dapat membawa kebajikan jika digunakan semestinya, namun ia juga dapat menjadi ajang penyebar fitnah jika diguankan untuk menyebarkan tulisan yang tidak benar. Pada titik ini Jonru bisa terperosok melakukan ghibah yang dilarang agama.

Namun Jonru tetaplah Jonru, dia tetap aktif mem-posting tulisan yang mengkritisi kebijakan Jokowi dan para menterinya. Saya bukan pendukung Jokowi saat Pilpres, namun saya tidak anti dengan Jokowi. Nah, kalau Jonru terkesan sekali begitu antipati dengan Jokowi. Posting dia di Facebook selalu mendapat banyak like dari fesbuker. Menurut saya Jonru telah dimabukkan oleh ribuan like pada setiap posting-nya, dan ini membuatnya semakin bersemangat untuk menulis posting-posting baru yang bernada menyerang Jokowi. Ya, Jonru mabuk kepayang karena ratusan ribu follower/likes yang membaca dan membagikan posting-nya setiap hari. Sebagaimana kita sendiri pemilik akun di Facebook, kita merasa senang jika posting kita di Facebook disukai (di-like) oleh banyak orang, apalagi oleh ratusan atau ribuan orang.

Di sisi lain, efek Jonru juga berdampak kepada PKS, karena Jonru sering diidentikkan dengan partai dakwah tersebut. Jonru sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah simpatisan PKS. Maka, perilaku Jonru dapat membuat orang anti dengan PKS.

Banyak netizen yang mengecam Jonru namun saya tidak mau ikut-ikutan pula mengecamnya. Semoga saja Jonru tersadar akan bahaya ghibah yang dapat menjurus pada fitnah. Dia masih dapat memperbaiki posting-nya untuk masa-masa yang akan datang dengan menulis lebih dalam dan dengan mengguankan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.


Written by rinaldimunir

December 11th, 2014 at 10:54 am

Posted in Indonesiaku

Opini : Demo Buruh Hari Ini

without comments

Beberapa stasiun televisi menyiarkan aksi demonstrasi buruh yang berlangsung hari ini (10 Des 2014). Aksi ini diikuti oleh sekitar 15 elemen massa buruh di wilayah Jabotabek. Aksi dipusatkan di bundaran Hotel Indonesia dan di jalan MH. Thamrin. Sebanyak 50 ribu buruh terjun ke lapangan untuk menyuarakan tuntutan mereka. Poin-poin yang mereka tuntut antara lain penurunan harga BBM dan penolakan Upah Minimum Provinsi (UMP). Para pengunjuk rasa melakukan long march dari bundaran HI ke Monas menuju ke Istana Presiden. Seperti biasa, untuk menjaga keamanan aparat kepolisian telah menugaskan anggota-anggotanya mengawal demo tersebut.

Komentar positif dan negatif tentang demo ini bermunculan tentang demo buruh ini. Sebagian menempatkan diri sebagai pengusaha yang tentunya akan kerepotan jika tuntutan kenaikan UMP dipenuhi. Sebagian lain menempatkan diri sebagai pengguna jalan yang merasa hak pengguna jalannya diambil oleh para demonstran. Komentar positif datang dari orang-orang yang menempatkan diri sebagai para buruh yang butuh dipenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Yang lain datang dari mereka yang menempatkan diri sebagai warga negara yang baik dan beranggapan bahwa menyuarakan pendapat adalah hak warga negara di era demokrasi.

Menurut saya, salah satu pemicu aksi buruh dan tuntutannya itu adalah kenaikan harga BBM per 18 Nopember 2014. Pemerintah beralasan menaikkan harga BBM dalam rangka meningkatkan anggaran sektor produktif (infrastruktur) dan mengurangi subsidi di sektor konsumtif (BBM). Meskipun banyak menuai kritik karena kenaikan BBM bertepatan dengan turunnya harga minyak dunia, namun pemerintah punya alasan jitu untuk mengelak kritik ini. Pemerintah beralasan bahwa tidak mungkin untuk menetapkan harga BBM hanya berdasarkan harga sementara minyak dunia yang bisa jadi akan naik lagi setahun ke depan. Namun, alibi pemerintah dibantah oleh Revrisond Baswir yang merupakan Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beliau menyatakan bahwa alasan pemerintah menaikkan harga BBM adalah terlalu mengada-ada (http://www.tempo.co/read/news/2014/11/18/173622725/Ekonom-UGM-Alasan-Kenaikan-Harga-BBM-Mengada-ada). Meski demikian, sampai saat ini pemerintah tidak bergeming dengan keputusannya.

Mengapa kenaikan harga BBM juga turut memicu tuntutan buruh di demo hari ini? Jawabannya adalah KHL atau Kebutuhan Hidup Layak. Menurut Peraturan Menakertrans No. 13 Th. 2012, KHL adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak baik secara fisik, non fisik dan sosial, untuk kebutuhan 1 (satu) bulan. Permen ini merevisi Permen sebelumnya yaitu Permen No. 17 Th. 2005. Ada 60 kebutuhan hidup yang termasuk dalam KHL dan dikelompokkan menjadi mamin, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Selanjutnya, KHL akan menjadi salah satu acuan dalam penentuan upah per bulannya. Harga tiap jenis kebutuhan akan disurvey oleh tim khusus dan hasilnya diserahkan ke gubernur. Survey dilakukan satu bulan sekali mulai Januari hingga September. Nah, karena harga-harga dipastikan naik pasca kenaikan harga BBM, maka dapat dipastikan KHL juga akan naik. Dan inilah yang memicu terjadinya aksi buruh tersebut.

Namun, survey KHL bukanlah satu-satunya acuan penentuan upah oleh Dewan Pengupahan. Ada beberapa faktor lain yang turut dipertimbangkan yaitu : produktivitas, pertumbuhan ekonomi, usaha yang paling tidak mampu, kondisi pasar kerja dan saran/pertimbangan dari Dewan Pengupahan Provinsi/Kabupaten/Kotamadya. Oleh karena itu, tidak ada kewajiban bagi pemerintah untuk menentukan besaran upah sesuai dengan tuntutan para buruh. Para buruh juga harusnya paham bahwa tidak semata-mata kenaikan KHL yang menentukan besaran UMP. Adalah tugas pemerintah untuk memutuskan dengan adil dan menentramkan baik bagi buruh, pengusaha, maupun pemerintah. See, tidak pernah mudah tugas seorang pemimpin, bukan berarti saya menyetujui rencana kenaikan gaji pemimpin daerah yaa.

Salam hangat,


Written by indahgita

December 10th, 2014 at 4:09 pm

Posted in Bebas

Pemandangan Gunung Bromo dari Atas Pesawat

without comments

Dalam perjalanan dengan pesawat dari Bandung ke Denpasar, saya sangat beruntung menyaksikan pemandangan alam Gunung Bromo dan sekitarnya dari udara. Jika anda bepergian pada pagi hari dengan pesawat dari Bandung, maka pesawat akan mengambil rute menyusuri selatan pulau Jawa. Jika kebetulan cuaca sangat cerah dan anda dapat seat di sebelah kanan pesawat, maka bersiaplah menyaksikan pemandangan alam yang mempesona. Ada puluhan gunung berserakan di Pulau Jawa yang tampak dari atas pesawat, namun karena saya sudah jalan-jalan ke Gunung Bromo satu bulan sebelumnya, maka saya dapat mengidentifikasi mana yang Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Lihatlah foto di bawah ini. Gunung terkiri yang paling kiri dan mengeluarkan asap itulah Gunung Semeru. Selanjutnya di latar depan adalah sebuah kawah raksasa yang disebut kaldera. Itulah kaldera Gunung Tengger yang pernah meletus ratusan atau jutaan tahun yang lalu. Kaldera ini berisi pasir sehingga dinamakan lautan pasir. Di atas lautan pasir itu tampak Gunung Batok dan di belakangnya adalah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap.

Gunung Semeru (kiri), Gunung Bromo (berasap), dan Gunung Batok di depannya.

Gunung Semeru (kiri), Gunung Bromo (berasap), dan Gunung Batok di depannya.

Saya memotretnya dengan kamera ponsel (yang diaktifkan dengan mode pesawat sehingga tidak ada sinyal dan tidak mengganggu penerbangan). Kualitas gambarnya mungkin tidak terlalu bagus karena obyek yang sangat jauh jaraknya, tetapi jika anda menyaksikannya sendiri dari atas pesawat anda akan mengucapkan Masya Allah, duhai begitu indahnya ciptaan Allah SWT. Mata saya agak basah karena begitu terharu melihatnya.

Beberapa detik kemudian pesawat sudah hampir meninggalkan Gunung Bromo, dan saya masih sempat memotretnya dua kali lagi sebagai kenang-kenangan.

DSC_0273

DSC_0274

Kelak jika ada waktu saya ingin jalan-jalan ke Gunung Bromo lagi.


Written by rinaldimunir

December 10th, 2014 at 9:57 am

Posted in Cerita perjalanan