if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2014

Larangan Rapat di Hotel

without comments

Menpan yang baru, Yuddy Chrisnandi, mengeluarkan aturan berupa larangan bagi PNS melakukan rapat di hotel (baca ini). Pada prinsipnya saya setuju dengan semangat aturan tersebut. Maksudnya baik, yaitu gerakan melakukan penghematan nasional. Sudah punya ruang rapat di kantor tetapi rapat kok di hotel?

Bagi kami di ITB, rapat di hotel bukan kebiasaan, hanya sesekali saja untuk refreshing untuk mengurangi efek jenuh. Kalau mengadakan acara rapat di luar kota pasti di hotel karena sekalian menginap di sana. Tapi kalau nanti tidak boleh, ya sudah rapat di kantor saja.

Namun saya pikir aturan ini tidak bisa dipukul rata sebab bisa menjadi kontraproduktif. Kalau memang instansi memiliki ruangan pertemuan yang besar dan representatif, kenapa harus rapat di hotel? Bagaimana jika peserta rapat banyak dan tidak ada ruangan yang mencukupi. Pinjam ke instansi lain? Wah, bisa saja sih, tetapi apa memang segitunya?

Saya katakan tidak bisa dipukul rata karena persoalannya harus dilihat kasus per kasus. Bagi kami di kampus, pertemuan tidak selalu bisa dilakukan di dalam kampus, kadang-kadang harus di luar kota. Misalnya dalam penyusunan kurikulum, kami mengadakan pertemuan dengan alumni untuk mendapatkan masukan. Karena sebagian besar alumni bekerja di Jakarta dan waktu mereka terbatas, maka pertemuan dengan alumni pasti dilakukan di Jakarta. Kalau di Jakarta ya di mana lagi kalau bukan di hotel.

Jadi, jangan dilihat kemangkusannya saja (efisiensi), tetapi juga harus dilihat mana yang lebih sangkil (efektif).


Written by rinaldimunir

November 28th, 2014 at 2:15 pm

Posted in Indonesiaku

Pantai Sanur (Lagi)

without comments

Minggu lalu saya ke Pantai Sanur, Bali, lagi karena ada konferensi internasional yang diadakan di sana. Konferensi diadakan di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, dan kami panitia menginap di hotel yang sama.

Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur

Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur

Ini kali kedua saya ke Pantai Sanur. Kali pertama ketika jalan-jalan bersama keluarga tahun lalu. Menurut saya Pantai Sanur jika dilihat dari dekat biasa-biasa saja. Namun jika dilihat dari atas barulah tampak keindahannya, seperti yang saya potret dari lantai 10 hotel tersebut.

Pantai Sanur tampak dari lantai 10 hotel

Pantai Sanur tampak dari lantai 10 hotel

Pantai Sanur tampak dari sisi kiri

Pantai Sanur tampak dari sisi kiri

Pada pagi hari air laut di Pantai Sanur surut, tetapi siang hingga malam hari air laut kembali pasang. Pantai ini cocok untuk berenang karena ombaknya jauh di tengah dan pantainay dangkal. Di pinggir pantai tidak ada ombak, sehingga jika berenang di pinggir pantai serasa berenang di dalam danau.

Pantai yang nyaris tiada ombak

Pantai yang nyaris tiada ombak

Berenang di sini serasa di  danau karena tidak ada ombak di pinggir pantai

Berenang di sini serasa di danau karena tidak ada ombak di pinggir pantai

Kembali ke hotel tempat kami menginap. Hotel Inna Grand Bali Beach punya sisi cerita yang unik. Cerita tentang tingginya yang melewati tinggi pohon kelapa sudah saya ceritakan pada tulisan terdahulu. Nah, kali ini ceritanya agak mistis. Di hotel ini ada sebuah kamar yang sekarang menjadi kamar suci bagi orang Hindu, yaitu kamar nomor 327. Kamar tersebut adalah kamar yang pernah didiami oleh Bung Karno. Kamar dengan nomor 327 ini tidak disewakan untuk umum, hanya dibuka ketika hari Kamis saja dan pada jam tertentu saja untuk keperluan persembahyangan orang Hindu. Kabarnya Megawati sering mengunjungi kamara ini ketika dia mengunjungi Bali. Menurut cerita, ketika hotel Inna Grand Bali Beach terbakar (?), kamar nomor 327 luput dari amukan api. Wallahu alam. Ada kejadian anehkah di kamar tersebut? Menurut cerita pelayan hotel, sering terdengar suara ketokan dari dalam kamar, tetapi ketika kamar dibuka tidak ada orang di dalamnya. Ah, pasti itu ulah jin, kata saya dalam hati.

Kamar nomor 327

Kamar nomor 327

Meskipun di lingkungan Hindu, hotel ini menyediakan mushola kecil di lingkungan hotel. Lumayanlah menajdi tempat sholat bagi tamu-tamu hotel yang tidak menginap di sana.

Mohola Al Ikhlas di Hotel Inna Grand Bali Beach

Mohola Al Ikhlas di Hotel Inna Grand Bali Beach

Mushola kecil tampak dari depan

Mushola kecil tampak dari depan

Di depan mushola berdiri sebuah pura yang cukup besar. Pura diguankan oleh pegawai hotel untuk bersembahyang, dan juga (mungkin) bagi tamu yang kebetulan beragama Hindu. Hmm… sebuah bentuk toleransi beragama skala kecil di Pulau Bali.

Selain mushola, juga ada pura persis di depannya.

Selain mushola, juga ada pura persis di depannya.

Begitulah catatan perjalanan saya ke Pantai Sanur (lagi).


Written by rinaldimunir

November 26th, 2014 at 2:45 pm

Posted in Cerita perjalanan

Pada Suatu Pagi Hari

without comments

Share

Mual, ketika break siang kemarin membaca berita kriminalitas. Biasanya yang kerap dibaca adalah berita ekonomi politik sosial budaya teknologi. Kisah-kisahnya tak jauh dari perempuan. Prostitusi, buruh pabrik shift-shift-an, pembantu rumah tangga… tragis.. dianiaya, dibunuh. Mereka itu perempuan, seperti aku… tapi berada dalam kehidupan yang ganas, mengerikan, tidak aman. Gentayangan sampai larut dalam keadaan yang menyedihkan, barangkali laki-laki juga menganggapnya sampah. Masuk kerja shift jam 1 malam yang sungguh….. pembantu-pembantu dengan jam kerja ga jelas, upah ga jelas, tanpa perlindungan. Mungkin kisah mereka jarang dicolek menjadi status fesbuk yang menarik. Bahkan mereka juga barangkali tidak terlintas sebagai AKTOR yang diperhitungkan dalam pengambilan keputusan/kebijakan. Mereka itu perempuan, seperti aku. Dan mereka itu sama saudara satu bangsa, bahkan, barangkali saudara satu iman. Inginnya ga mau tahu cerita-cerita begitu… tapi… who am I, to be blind, pretending not to see their needs (?)… astaghfirullahaladhiimmm

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
Sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi
Agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis
dan tak ada orang bertanya kenapa

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
Memecahkan cermin membakar tempat tidur
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi

(Sapardi Djoko Damono, 1973)
Kalpana-rainy alley way

Written by ibudidin

November 26th, 2014 at 8:01 am

Posted in Puisi,Tafakur

Ponsel Pintar 4G dari Kampus ITB

without comments

Beberapa waktu yang lalu media sosial ramai mem-posting beriuta dari sebuah media nasional tentang ponsel pintar (smart phone) dengan teknologi 4G yang dibuat oleh dosen ITB. Ponsel tersebut diberi nama Ivo. Silakan baca beritanya di sini: Keren, ITB Sukses Bikin Ponsel Lokal Berteknologi 4G.

Berita tersebut menjadi istimewa karena ada kebanggaan bangsa kita mampu memproduksi ponsel sendiri, apalagi ponsel pintar dengan teknologi terbaru 4G. Namun jika disebut ponsel buatan dalam negeri atau buatan ITB tidak benar juga, lebih tepat disebut sebagai ponsel pintar dengan tingkat komponen dalam negeri 30% dan pakar dari ITB (tepatnya dari fakultas STEI-ITB) terlibat di dalamnya. Seperti dikutip dari berita di atas, “Mayoritas komponen produk dari Cina, karena di sini masih sulit didapat,” katanya. Adapun lokasi perakitan dan pembuatannya di Batam. Lokasi itu dipilih karena pabrikan di sana sudah beroperasi selama 22 tahun dan bebas pajak”.

Sebenarnya berita peluncuran ponsel pintar tersebut bukan berita baru. Media sudah mempublikasikannya sejak bulan Juli yang lalu (baca: Smartphone 4G Lokal Didesain ITB). Spesifikasi ponsel Ivo tersebut bisa dibaca pada tulisan ini: Ivo, Smartphone 4G Buatan Indonesia yang Siap Menggebrak) dan ini.

Saya berkesemmpatan melihat ponsel tersebut. Beberapa ponsel Ivo dibagikan kepada beberapa orang di fakultas saya. Di bawah ini beberapa foto ponsel Ivo yang saya jepret dari ponsel rekan saya. Menurut yang memakainya, ponsel Ivo rancangan Mikroelektronika ITB tersebut kencang sekali operasinya, mungkin karena kecepatan prosesornya yang bagus.

Tamapk depan ponsel Ivo dengan sistem operasi Android

Tamapk depan ponsel Ivo dengan sistem operasi Android

Tampak belakang ponsel Ivo

Tampak belakang ponsel Ivo

Dengan harga sekitar dua juta ke bawah, apakah ponsel buatan dalam negeri ini akan merebut hati pengguna ponsel di tanah air? Wallaahu alam.


Written by rinaldimunir

November 25th, 2014 at 7:25 pm

Posted in Seputar ITB

Syiah-Sunni, Interfaith Dialog

without comments

Share

ini drop komen di teh Cher Husty yang layak juga saya jadikan setatus, tentang Syiah tea:

Ini tentang lebih luas dari syiah-sunni, yaitu dialog antar agama, di Memphis diadakan dialog antar agama Yahudi, Kristen, Islam, di akhir ketika hendak ditutup, sang Pastor maju ke mimbar, dlm situasi yg canggung sang Pastor berpidato, katanya, ini kalau saya ga bilang maka saya tidak jujur kepada apa yang saya percayai. Berdasarkan iman saya, nanti, di akherat, kalian semua selain umat Kristen akan masuk neraka. Awkward situation. Keesokannya, sang Rabi Yahudi menelpon Imam nya muslim, apology minta maaf atas situasi yang sangat tidak mengenakkan di akhir jamuan. Sang Imam bilang that’s okay, dengan kejujuran itu aku melihat beban yang berat lepas dari pundak sang Pastor.

Maka peristiwa itu jg menjadi bahan canda, ada seorang Rabi Yahudi menelepon Imam umat Islam untuk meminta maaf atas tindakan sang Pastor. Kata Imam, sejak peristiwa itu hubunganku dengan pastor makin baik, kita makin bisa bicara dengan enak, ngobrol asyik, karena menaruh kejujuran tadi. Sehingga obrolan-obrolan kita lebih maju, regardless, kita nanti berantem di akherat tentang siapa yang masuk neraka, tapi di dunia ini, disini, di dunia ini, adalah sebuah tragedi jika penganut agama2 itu membiarkan ada orang miskin tak bisa makan, orang muda kesulitan lapangan kerja, anak-anak tak bisa sekolah dengan layak, dan hal-hal lainya. Got the point??? be honest dan jangan mbulet, lepaskan beban di pundakmu dengan jujur dengan imanmu. Itu bukan cerita rekayasa, go to youtube dan ketik yasir qadhi interfaith dialog

Jadi political & religious leader Syiah, jujurlah, lepaskan beban di pundakmu, gw dan orang2 tahu kok loe ngimanin Al Qur’an yg ga sama dg Al Quran kita… jujurlah, deklarasikan agama baru dan berjuang cari legitimasi publik secara hukum.. jangan menusuk2 dan mengobrak-abrik agama Islam dong

Written by ibudidin

November 24th, 2014 at 5:55 pm

Posted in Tafakur

Syiah-Sunni, Interfaith Dialog

without comments

Share

ini drop komen di teh Cher Husty yang layak juga saya jadikan setatus, tentang Syiah tea:

Ini tentang lebih luas dari syiah-sunni, yaitu dialog antar agama, di Memphis diadakan dialog antar agama Yahudi, Kristen, Islam, di akhir ketika hendak ditutup, sang Pastor maju ke mimbar, dlm situasi yg canggung sang Pastor berpidato, katanya, ini kalau saya ga bilang maka saya tidak jujur kepada apa yang saya percayai. Berdasarkan iman saya, nanti, di akherat, kalian semua selain umat Kristen akan masuk neraka. Awkward situation. Keesokannya, sang Rabi Yahudi menelpon Imam nya muslim, apology minta maaf atas situasi yang sangat tidak mengenakkan di akhir jamuan. Sang Imam bilang that’s okay, dengan kejujuran itu aku melihat beban yang berat lepas dari pundak sang Pastor.

Maka peristiwa itu jg menjadi bahan canda, ada seorang Rabi Yahudi menelepon Imam umat Islam untuk meminta maaf atas tindakan sang Pastor. Kata Imam, sejak peristiwa itu hubunganku dengan pastor makin baik, kita makin bisa bicara dengan enak, ngobrol asyik, karena menaruh kejujuran tadi. Sehingga obrolan-obrolan kita lebih maju, regardless, kita nanti berantem di akherat tentang siapa yang masuk neraka, tapi di dunia ini, disini, di dunia ini, adalah sebuah tragedi jika penganut agama2 itu membiarkan ada orang miskin tak bisa makan, orang muda kesulitan lapangan kerja, anak-anak tak bisa sekolah dengan layak, dan hal-hal lainya. Got the point??? be honest dan jangan mbulet, lepaskan beban di pundakmu dengan jujur dengan imanmu. Itu bukan cerita rekayasa, go to youtube dan ketik yasir qadhi interfaith dialog

Jadi political & religious leader Syiah, jujurlah, lepaskan beban di pundakmu, gw dan orang2 tahu kok loe ngimanin Al Qur’an yg ga sama dg Al Quran kita… jujurlah, deklarasikan agama baru dan berjuang cari legitimasi publik secara hukum.. jangan menusuk2 dan mengobrak-abrik agama Islam dong

Written by ibudidin

November 24th, 2014 at 5:55 pm

Posted in Tafakur

Sholat Jumat di Masjid Al-Amanah, Hotel Holiday Inn Bandung

without comments

Beberapa hari ini saya ada kegiatan mengisi acara workshop di sebuah hotel di Jalan Dago, Bandung. Ketika Hari Jumat tiba, saya memutuskan sholat Jumat di dekat hotel saja. Tahu sendiri kan tidak ada masjid di pinggir Jalan Dago. Kalau mencari masjid yang terdekat adalah masjid Salman ITB di Jalan Ganesha. Berhubung hotel saya cukup jauh dari Masjdi Salman, saya bertanya kepada teman mau sholat Jumat di mana. Ternyata ada masjid yang dekat dengan hotel saya. Masjid tersebut terletak di dalam lingkungan Hotel Holiday Inn, sebuah hotel bintang empat yang megah di Jalan Dago.

Hotel Holiday Inn, Dago.

Hotel Holiday Inn, Dago.

Saya dan teman berjalan masuk ke halaman hotel Holiday Inn. Masjid di hotel ini terletak di basement dekat parkiran mobil. Meskipun terletak di lantai basement, tetapi pihak hotel begitu menghormati keberadaan masjid dan memang ‘niat’ untuk mengadakannya. Masjid di basement tersebut sangat luas dan lapang, aliran udaranya pun terjaga dengan baik dan segar. Saya sebut memang ‘niat’ karena masjid tersebut diberi nama Masjid Al-Amanah. Nama itu dapat kita baca pada pintu masuknya.

Masjdi Al-Amanah, Holiday Inn

Masjdi Al-Amanah, Holiday Inn

Sajadah karpet yang tebal menghiasi lantai basement. Keberadaan karpet hijau ini membuat suasana di dalam masjid terasa adem dan lapang. Tempat sholat untuk perempuan dibatasi dengan sebuah tabir di area belakang.

Suasana di dalam masjid.

Suasana di dalam masjid.

Sholat Jumat hari itu penuh dengan jamaah. Jamaah masjid tidak hanya karyawan hotel dan tamu-tamunya saja, tetapi juga para karyawan dan tamu hotel lain di dekat situ, termasuk karyawan dan pekerja kantor yang berada di sekitar hotel. Selesai sholat saya meninggalkan masjid dengan rasa syukur. Saya hampir tidak percaya ada hotel yang menyediakan masjid yang luas dan bagus buat jamaahnya. Hotel tempat saya memberikan workshop “hanya” menyediakan sebuah ruang kecil untuk mushola di lantai basement yang agak sulit dicapai oleh para tamu.

Saya berdoa semoga hotel-hotel yang memuliakan masjid di dalamnya diberi keberkahan oleh Allah SWT, semoga tamu-tamu yang menginap bertambah banyak dan masjid yang dibangunnya semakin dimakmurkan dan selalu disebut Asma Allah di dalamnya.


Written by rinaldimunir

November 21st, 2014 at 4:27 pm

Posted in Seputar Bandung

Menjelang Pasar Seni ITB 2014

without comments

Hari Minggu Tanggal 23 November nanti Fakultas Senirupa dan Desain (FSRD) ITB mengadakan hajatan empat tahun sekali, yaitu Pasar Seni ITB 2014. Pasar Seni ITB adalah sebuah ajang yang memeprtemukan pelaku seni dengan masyarakat sehingga masyarakat dapat berinteraksi dengan seniman.

Pasar Seni yang terakhir kali diadakan adalah pada tahun 2010, tepatnya tanggal 10-10-10. Silakan baca tulisan saya tentang Pasar Seni ITB 2010 dan suasana menjelang Pasar Seni tersebut.

Seperti biasa menjelang Pasar Seni, kampus ITB semarak dengan berbagai atribut dan hiasan yang dibuat oleh para mahasiswa Senirupa ITB. Stand-stand bazar telah berdiri demikian banyaknya di dalam kampus.

Di bawah ini beberapa foto yang saya jepret beberapa hari menjelang hari ‘H’.

Dinosaurus dari kaleng bekas

Dinosaurus dari kaleng bekas

Menara bambu di tengah kampus.

Menara bambu di tengah kampus.

Bandul-bandul unik bergelantungan di pepohonan

Bandul-bandul unik bergelantungan di pepohonan

Rangka-rangka 'aneh'

Rangka-rangka ‘aneh’

Hiasan-hiasan kreatif

Hiasan-hiasan kreatif

Stand-stand bazar

Stand-stand bazar

Selamat mengunjungi Pasar Seni ITB tanggal 23 November yang hanya sehari saja, dari pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore. Sayang untuk dilewatkan karena hanya empat tahun sekali.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2014 at 4:56 pm

Posted in Seputar ITB

Mengapa Belajar Inovasi

without comments

Share

Seperti pertanyaan Muhammad Yorga Permana, mba kita kan masih negara berkembang, untuk apa belajar inovasi? apakah tidak mengawang-awang? ……………………….saya percaya, bahwa inovasi itulah justru jawaban untuk bisa ‘mencuri’ keunggulan. The way of doing things sudah ‘lock-in’ sudah terkunci kita dengan segala keunggulan negara-negara yang sudah maju, kalau berpikir linear sekuensial, akan terus mengikuti berarti terus dibelakang negara-negara yang sudah maju yang menjadi patron selama ini, path dependency, terkunci kita. Maka justru itulah inovasi, yang mengakomodasi nilai-nilai lokal, atau bahkan berangkat dari nilai-nilai lokal, sebuah jalan lain yang kita cari untuk mengorganisasikan kehidupan bangsa kita, yang mempertimbangkan segala aspek tentang siapa kita, apa yang kita punya, apa yang bisa kita daya gunakan untuk meraih tujuan (kesejahteraan) itulah (bagian dari) inovasi. Kemakmuran yang dicapai Korea Selatan dapat menjadi bahan pelajaran dan refleksi yang bagus tentang inovasi dan pencapaian kemakmuran ekonomi

Written by ibudidin

November 13th, 2014 at 1:10 pm

Posted in S1/S2/S3

Mengapa Belajar Inovasi

without comments

Share

Seperti pertanyaan Muhammad Yorga Permana, mba kita kan masih negara berkembang, untuk apa belajar inovasi? apakah tidak mengawang-awang? ……………………….saya percaya, bahwa inovasi itulah justru jawaban untuk bisa ‘mencuri’ keunggulan. The way of doing things sudah ‘lock-in’ sudah terkunci kita dengan segala keunggulan negara-negara yang sudah maju, kalau berpikir linear sekuensial, akan terus mengikuti berarti terus dibelakang negara-negara yang sudah maju yang menjadi patron selama ini, path dependency, terkunci kita. Maka justru itulah inovasi, yang mengakomodasi nilai-nilai lokal, atau bahkan berangkat dari nilai-nilai lokal, sebuah jalan lain yang kita cari untuk mengorganisasikan kehidupan bangsa kita, yang mempertimbangkan segala aspek tentang siapa kita, apa yang kita punya, apa yang bisa kita daya gunakan untuk meraih tujuan (kesejahteraan) itulah (bagian dari) inovasi. Kemakmuran yang dicapai Korea Selatan dapat menjadi bahan pelajaran dan refleksi yang bagus tentang inovasi dan pencapaian kemakmuran ekonomi

Written by ibudidin

November 13th, 2014 at 1:10 pm

Posted in S1/S2/S3