if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2014

Sebuah Catatan Keprihatinan di Hari Jum’at 17 Oktober 2014: Anakku Sayang, Anakku Malang

without comments

Share

Adakah yang masih mengingat peristiwa disensornya lagu ‘Hati yang Luka’ Betharia Sonata, dan sempat dibredel juga kaset-kasetnya Iis Sugianto? Sebabnya adalah lagu yang terlalu melow dianggap Pak Harto (via Pak Murdiono) tidak cocok dengan alam pembangunan Indonesia yang sedang adrenalin tinggi memompa pertumbuhan ekonomi menuju era tinggal landas.

Di satu sisi memang ada sayang juga kok sampai sensor segala, tetapi ketika dipikir dari sisi lain, pada masa itu sampe-sampe hal-hal ‘soft’ kultural, olah rasa, diperhatikan sedemikian rupa. Sedang saat ini berada di bandul ekstrim seberangnya, euforia kebebasan yang serasa belum mentas-mentas, belum kelar-kelar.

Kata-kata beringas bahkan keluar dari orang-orang terdidik, bahkan dari pendidik, dari dosen, hanya sebab perbedaan pandangan politik isi kebun binatang keluar, padahal dia pendidik, dia guru. Kata-katanya berkobar-kobar dengan api kebencian dan kemarahan. Maka tidak heran, suatu hari saya di angkot mendengar sekelompok pelajar SMP, perempuan, setiap kalimat ceritanya diakhiri dengan kata b*go. Sampe-sampe saya heran, ini memang gaya bicara jaman ini begini gitu?

Belum lagi pornografi yang merenggut masa depan anak-anak, anak-anak kita yang semestinya asyik dengan kepolosannya, jauh dari kata-kata beringas dan tontonan pornografi. Anak-anak ini yang sebagiannya belajar dari postingan, komen fesbuk, komen di grup Bapaknya yang berisi kobaran umpatan dan kebencian. Ahhh sayang..sayang….. sudahlah, ayolah kita move on. Sudah dewasa, sudah harus meletakkan pewarisan satu demi satu apa yang hendak kita wariskan ke anak-anak kita? anak-anak sodara kita? anak-anak bangsa kita?

Anak-anak ini semestinya menggemaskan tanpa perlu terinfeksi pornografi. Sehingga adrenalinnya dipakai untuk menaklukkan tantangan-tantangan positif. Olahraga, membaca ribuan textbook, menghafal ayat-ayat suci, tangannya mencoba berbagai kerajinan dan permainan. Olaraga, olahrasa, olah pikir, tanpa terenggut oleh pornografi yang ahhhh.. aduh sayang…sayang….

Sementara itu, Bapak atau Ibunya ribut di sosial media, bahkan kadang, sesama ibu-ibu menjudesi ibu-ibu lain yang mencari nafkah untuk keluarganya, padahal tidak tahu bagaimana kondisi di keluarga ibu tadi. Seperti bibi yang kerja di tempat saya, dulupun sempat meninggalkan rumah bekerja sebagai pembantu, untuk biaya anaknya, sementara tidak ada penghasilan dari suaminya. Jadi perempuan, jadi ibu-ibu itu sudah capek, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, sudah ga perlu ditambah-tambah judes menjudesi lagi. Let’s move on.

Barangkali kita perlu sedikit meniru langkah ‘sensor’, kita perlu secara bersama menjatuhkan sensor lebih keras terhadap kata-kata kebun binatang yang diumbar, di komen-komen surat kabar dot com misalnya, atau di media lain. Barangkali kita perlu secara bersama, menjatuhkan himbauan dengan lebih keras, kepada Bapak-bapak teman-teman kita sendiri, yang mengumbar umpatan kebencian di forum-forum alumni kita. Barangkali juga kita perlu secara bersama demo turun ke jalan untuk televisi yang tidak mau peduli dengan petisi2 yang kita tanda-tangani, surat-surat yang kita layangkan. Barangkali untuk menarik bandul ekstrim kebablasan kita harus menariknya dengan sedikit lebih keras, secara bersama-sama, agar agak imbang ke tengah. Barangkali…. entahlah. Wallahu’alam.

Written by ibudidin

October 17th, 2014 at 3:45 pm

Gagal “Move on”

without comments

Meskipun Pilpres sudah lama berlalu dan pemenangnya sudah kita ketahui dan akan segera dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014 besok, tetapi “perseteruan” antara kubu Pro Jokowi (disebut KIH – Koalisi Indonesia Hebat) dan kubu Pro Prabowo (disebut KMP – Koalisi Merah Putih) masih terus berlangsung hingga sekarang. Setelah gagal dalam Pilpres, kubu KMP memenangkan pertandingan di parlemen. Mereka menang voting RUU MD3 di DPR, memenangkan voting RUU Pilkada, menyapu habis pimpinan DPR dan MPR, dan memenangkan perseteruan judical review UU MD3 di MK. Pertandingan akan berlanjut lagi dengan pemilihan pimpinan komisi-komisi di DPR yang pemilihannya tetap dalam satu paket.

Disatu sisi persaingan kedua kubu tersebut ada positifnya, yaitu menghadirkan keseimbangan yang kuat antara Pemerintah (eksekutif) dan Parlemen (legislatif). Pemerintah tidak akan bisa semena-mena karena kebijakan mereka akan dikontrol ketat oleh barisan oposisi (KMP). Dalam hal ini akan tercipta pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Positif kan? Kalau untuk kemaslahatan rakyat maka fenomena keseimbangan antara Pemerintah dan Parlemen ini saya pikir bagus-bagus saja.

Namun negatifnya tentu ada. Kita akan menyaksikan kebisingan politik yang melelahkan hingga tahun 2019 ke depan. Pemerintah dan DPR akan sama-sama ngotot, adu kuat, dan tarik ulur tentang kebijakan. Maka, media kita selama 5 tahun ke depan diprediksi akan dihiasi lebih banyak berita perseteruan antara parlemen dan Pemerintah.

Ada yang mengatakan perseteruan antara KIH dan KMP merupakan kelanjutan dari Pilpres. KMP dituding masih sakit hati, sedangkan KIH dianggap terlalu percaya diri namun akhirnya kalah dalam pertandingan di parlemen. Politisi dari kedua kubu melangsungkan perang opini di media. Celakanya, media arus utama yang selama Pilpres menjadi partisan, hingga Pilpres usai dan pelantikan presiden terpilih akan dilangsungkan segera, media-media tersebut tetap saja partisan dan menjadi tukang kompor untuk mendukung masing-masing kubu. Dengan kekuatan dan jaringan media yang dimilikinya, mereka menghadirkan opini negatif terhadap kubu lawan sembari memberi pembenaran untuk kubunya sendiri. Saya sendiri sudah malas membaca atau memirsa media-media tersebut karena isinya menyebarkan kebencian kepada pendukung kubu lawan. Yang paling terasa sekali menjadi media komprador adalah media pendukung kubu KIH. Sungguh menyedihkan melihat media yang sejatinya independen ternyata menjadi tukang kompor di tengah masyarakat yang sudah terbelah selama Pilpres kemarin.

Parahnya lagi, perseteruan tidak hanya di kalangan politisi dan media pendukung, tetapi juga merambah hingga ke pendukung di kalamgan masyarakat terpelajar. Lihat saja diskusi di media sosial, isinya kebanyakan kata-kata kasar, pelecehan, perendahan martabat, dan penghinaan ke pendukung kubu sebelah. Seakan belum puas untuk membuli selama Pilpres, setelah Pilpres pun masih tetap menjelek-jelekkan. Grup di Facebook yang saya ikuti isinya sampah, membicarakan hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya lagi.

Menurut saya, kedua kubu –termasuk media pendukung dan kaum terpelajar pendukung masing-masong kubu– gagal move on. Mereka gagal berpindah ke status nromal. Mereka gagal untuk memberikan ketenangan dan kedamaian setelah Pilpres. Tetapi, mereka tetap terus menghidupkan api permusuhan yang entah sampai kapan berakhir. Buat apa sih jelek menjelekkan kubu lawan, tidak ada manfaatnya. Masyarakat awam sudah melupakan perbedaan selama Pilpres sudah kembali ke kehidupan normal, tetapi mereka yang katanya terpelajar tetap saja gagal move on.


Written by rinaldimunir

October 16th, 2014 at 11:45 am

Posted in Indonesiaku

Bermain dengan Anak 3-5 Tahun Sambil Berhitung

without comments

family_together

oleh Arif Rahmat, 2014
DMR.ID

(1) Kenalkan bilangan sebagai urutan dalam perhitungan.
Ortu: Ayah/Ibu nyebut satu, nanti dilanjutkan ya!
Ortu: Satu
Anak: Dua
Ortu: Tiga
Anak: Empat
….. (dst sampai 10 atau 20)
Ortu: Nah sekarang gantian…
Anak: Satu
Ortu: Dua
Anak: Tiga
Ortu: Empat
….. (dst sampai 10 atau 20)

(2) Kenalkan konsep lebih besar, lebih kecil dan sama dengan.
Ortu: Mana yang lebih banyak, 1 atau 2?
Anak: Dua
Ortu: Mana yang lebih sedikit, 2 atau 3?
Anak: Dua
[Latihan ini cukup menggunakan soal bilangan s/d 20]

(3) Gunakan konsep besar kecil sebelum menjumlahkan.
Ortu: 3 + 5 berapa? Mana yang lebih besar, 3 atau 5?
Anak: Yang lebih besar 5.
Ortu: Yang lebih besar di simpan di mana?
Anak: Di hati (sambil tangan kiri memegang dada)
Ortu: Yang kecil berapa?
Anak: Tiga (sambil tangan kanan menunjukkan 3 jari)
Ortu: Ayo, mulai berhitung dari hati…
Anak: Lima, … (sambil menepuk pelan dada dengan tangan kiri)
Anak: Enam, Tujuh, Delapan (sambil mengurangi jari tangan kanan yang terbuka,
satu per satu hingga tertutup semuanya)
[Latihan ini cukup menggunakan soal bilangan s/d 20 untuk disimpan di hati
dan s/d 10 untuk bilangan di jari, misal 14+5, 13+9, 17+1]

(4) Kenalkan angka 0 dengan menghitung mundur dari besar ke kecil.
Ortu: Ayah/Ibu nyebut 10, kita berhitung mundur sampai 0, nanti dilanjutkan ya!
Ortu: Sepuluh
Anak: Sembilan
Ortu: Delapan
Anak: Tujuh
….. (dst sampai 0)
Ortu: Nah sekarang gantian…
Anak: Sepuluh
Ortu: Sembilan
Anak: Delapan
Ortu: Tujuh
….. (dst sampai 0)

(5) Kenalkan pengurangan sebagai penghitungan mundur.
Ortu: 10-3 berapa? Yang di depan disimpan di hati. 10 disimpan di mana?
Anak: Di hati!
Ortu: Yang di belakang angka berapa?
Anak: Tiga (sambil tangan kanan menunjukkan 3 jari)
Ortu: Ayo, mulai berhitung mundur dimulai dari yang di hati…
Anak: Sepuluh, … (sambil menepuk pelan dada dengan tangan kiri)
Anak: Sembilan, Delapan, Tujuh (sambil mengurangi jari tangan kanan yang terbuka,
satu per satu hingga tertutup semuanya)
[Latihan ini cukup menggunakan soal bilangan s/d 20 untuk disimpan di hati
dan s/d 10 untuk bilangan di jari, misal 14-5, 13-9, 17-1. Hasil pengurangan jangan minus]


Written by arifrahmat

October 15th, 2014 at 5:01 pm

Rayuan Gula Kelapa

without comments

Share

gula arensegala rasa tentang Indonesia
terangkum dalam rayuan gula kelapa

Bandung, 14 Oktober ’14

Written by ibudidin

October 14th, 2014 at 12:45 pm

Posted in Puisi

Perkedel Kacang Merah

without comments

Share

perkedel kacang merahPerkedel/mendol kacang merah terfavorit anak-anak, lauk sekaligus bisa sebagai snack. Bikinnya gampaannnngggg ^_^
Rebus kacang merah sampe lunak, buang airnya/tiriskan, biasanya sy mah di pancinya air dibuang, terus ditekan2 pake ulekan jadi halus. 

Bumbu minimalis: 

untuk setengah kilo kacang merah saya ‘cuman’ pake 3-4 siung bawang putih, ga pake bawang merah, pake gula merah (sesuka manisnya), garam, dan kencurrrr (ini jg berkhasiat melegakan tenggorokan, klo saya suka kerasa banget kencurnya bisa 2 kencur yg segeda dua ruas jari, disesuaikan selera aja ya) udah sama garem, klo yg suka gurih masako biasanya ditambahin, engga ditambahin juga enak, klo untuk orang dewasa suka dipedesin rawit, saya mah engga anak sy blm bisa makan pedes.. udah gitu aja tambahkan tepung terigu segenggam besar biar klo digoreng tetep utuh/ga ambyar.. mangga lama kelamaan akan makin tahu sela2nya harus segimana2

Written by ibudidin

October 13th, 2014 at 10:41 am

Posted in Masakan Ibu

Manfaatkan Waktu dalam Menuntut Ilmu

without comments

Share

masyaAllah… cerita yang menarik dan indah…..
sebagaimana halnya yang saya alami, saya menyesali tahun-tahun di sekitar 1999-2003, pada tahun-tahun bujangan, ga ngasuh anak, ga kerja nyari uang, uang bulanan lancar, nge-kos di tempat yang bagus, kuliah dan hanya kuliah, dan saya………………………… menyedihkan, sedikit sekali buku teks yang dilahap, ga prestatif, ngapain aja? disamping memang ada faktor dari saya sendiri salah pilih jurusan, tetapi memang tidak banyak membaca/melahap teks itu berlangsung sekitar 4 tahun, berarti masa SD saya jauh-jauh lebih baik, hampir 1 hari 1 buku. Tetapi Alhamdulillah kesalahan itu terbayar dengan kesempatan yang Allah hadirkan untuk S2 yang mengubah jalan hidup saya saat ini, Alhamdulillah.

Nah sekarang ini, masyaAllah… hal-hal yang dari dulu tahu tapi ga paham maknanya, konteksnya, maksudnya, sekarang ini terbuka, dikasih-Nya pemahaman… memang ilmu itu dicari tetapi pemahaman itu dimintakan pada-Nya, kalau sudah cling disetrumkan, maka bisa paham, bisa ngerti.

Tetapi, sekarang ini waktu-waktu bekerjaran dengan sempit, hari ini saya mengerjakan setoran untuk esok hari, bukan menunda-nunda, tapi kemarin mengerjakan setoran untuk hari ini, esok mengerjakan setoran untuk esoknya, nyaris tak ada waktu mengerjakan hari ini untuk dikumpulkan seminggu lagi, artinya memang waktu yang cepat sekali berlalu dan kewajiban yang ga berhenti-henti.

Maka dari itu, anak-anakku, adik-adikku yang masih muda, masih ada orangtua yang membiayai, aduh waktu itu sayanggg banget kalau tidak dimaknai/bermakna, berisi hal-hal yang berguna. Nanti giliran pengen melakukan hal yang baik, waktunya terbatas, nyesel, nangis. Terutama masih muda, kuat, sehat, tenaga full, lahaplah itu teks-teks, tidur 4-6 jam saja, yang sehat olahraga, waktu itu berharga

**** antara penyesalan dan kesyukuran

Secuil Pengalaman dalam Menuntut Ilmu

Bicara pengorbanan dan kesulitan dalam menuntut ilmu, kita belum ada apa-apanya bila dibandingkan ulama-ulama dulu. Tapi sekedar berbagi pengalaman, dan memenuhi permintaan sebagian teman, saya akan berbagi satu cuplikan cerita pengalaman saya yang sangat sederhana dalam menuntut ilmu.

Alhamdulillah, sekalipun tidak bisa dikatakan mewah, saya tidak pernah mengalami kekurangan biaya dalam menuntut ilmu, karena saya selalu dapat beasiswa dan kiriman dari orang tua walau tidak banyak.

Alhamdulillah lagi, saya tidak pernah kekurangan makan, sekalipun dengan lauk yang sangat sederhana. Tapi tidaklah sampai makan hanya pakai garam. Akibatnya, ilmu yang saya dapatkan juga hanya amat secuil.

Namun, untuk membeli buku tidaklah bisa seenaknya. Harus menahan perut untuk tidak jajan dan makan mewah. Demi memiliki buku, selama S 1 dan S 2 saya tidak kenal dengan yang namanya rumah makan, apalagi restauran. Kecuali restauran kusyari dan ful. Kalau ada yang traktir baru saya bisa mencoba makan enak di tempat itu. Kalau tidak seperti itu saya tidak akan mungkin punya buku banyak. Sementara saya adalah “hantu” buku semenjak kecil.

Pada suatu kali, saya pergi belanja kebutuhan harian ke pasar Madrasah. Di sana saya menemukan orang menjual buah tin yang sangat ranum. Mekar-mekar dan bersih, serta besar-besar. Harganya 8 pound sekilo. Kebetulan saya sangat suka makan buah tin.

Ketika saya akan membelinya, saya ingat bahwa uang jajan bulan itu harus dihemat untuk beli salah satu buku yang ditulis oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Semua buku yang beliau tulis atau beliau tahqiq harganya mahal-mahal. Maklum, isinya memang luar biasa dan cetakannya selalu lux.

Akhirnya saya urungkan niat membeli buah tin, dari pada uang saya kurang untuk beli buku. Saat itu saya tiba-tiba ingat hadits dari Rasulullah yang berbunyi:

“???? ?????: ????????? ??????? ????????? ???????????? ???????? ???? ???????? ??? ?????????”

Siapa yang mengucapkan: Subhanallahil ‘Azhimi wa bihamdihi, ditanamkan untuknya sebatang kurma di surga”. (HR. Turmudzi)

Lalu hati saya berkata, lebih baik baca saja zikir ini sebanyak-banyaknya, kalau pun tidak bisa makan buah tin di dunia, semoga dapat buah tin yang lebih banyak dan lebih nikmat di akhiarat nanti. Lidah sayapun segera mengucapkannya berulang kali dengan khusyu’.

Tanpa saya sadari, tiba-tiba ada rasa gembira dan haru luar biasa yang menjalar keseluruh pori-pori tubuh saya. Akibatnya sampai kemata, yang membuat butiran air mendesak untuk keluar. Allah mengganti nikmat buah tin dengan nikmat lain. Tanpa bisa ditahan, sayapun menangis haru di tengah pasar.

Saya berharap, sekalipun sekarang tidak mesti seperti itu lagi, Allah tetap memberi saya nikmat buah tin di akhirat nanti. Kalau dulu finansial terbatas untuk beli buku, tapi waktu membaca terhampar seluas-luasnya, tanpa ada gangguan dan batasan. Adapun sekarang, bisa beli buku apa saja, kapan saja dan berapa saja, tapi tidak punya waktu seluas dulu lagi untuk membaca. Hanya lebih-lebih waktu bisa digunakan untuk “bermesraan” dengan buku-buku. Waktu libur betul-betul nikmat digunakan untuk itu.

Demikian lah kehidupan dunia, dilebihkan di sini dikurangi di sana. Dikurangi biaya, dihamparkan kesempatan. Hanya di akhiratlah semuanya terhampar seluas-luasnya, semaunya kita.

Tiadalah kehidupan sebenarnya selain kehidupan akhirat.

Ya Rabbi, selamatkan kami dari neraka dan masukkan kami bersama hamba-hamba-Mu yang shaleh ke surga-Mu.

Written by ibudidin

October 12th, 2014 at 8:35 am

Posted in Tafakur,Taujih

Mengkapitalisasi kreatifitas menjadi inovasi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi*** — Technology/Innovation Policy

without comments

Share

creativity to innovation 2 - smallMengkapitalisasi kreatifitas menjadi inovasi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi*** — Technology/Innovation Policy

– Bukti empiris Inovasi berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi: read total factor productivity Solow, Joel Mockyr, Bart Verspagen, dll

– Kreatifitas, secara kasar, masukannya adalah knowledge. Tinggi/rendah daya kreatifitas tergantung pada kualitas Human Capital. Kualitas Human Capital dipengaruhi oleh faktor2 fisik, psikis, intelejensi diantaranya: kecukupan gizi dari sejak kandungan, usia anak tumbuh kembang; literasi baca tulis hitung terstandar; kesehatan raga olahraga; kesehatan jiwa happiness? pada pokoknya bagaimana sebuah bangsa menata/membibit/mengembangkan human capital.

– Kreatifitas juga semakin mekar melalui jejaring pengetahuan, network, atau yang diistilahkan wikicapital. Dengan demikian akses, kemudahan, infrastruktur network/internet menjadi penting.

– Tetapi, akumulasi kreatifitas tersebut memerlukan katalis, pemicu, atau ‘iklim’ yang kondusif yang disebut ‘productive behaviour’. Yaitu peran-peran negara dalam hal:
— menumbuhkan suasana ‘easy going’, ‘entrepreneur’ activity yaitu salah satunya keberanian dalam mengambil dan mengelola resiko. Dalam skala mikro, mendorong orang-orang yang sudah kreatif untuk berani mencoba, berani gagal, berani mengambil resiko. Dalam skala lebih mikro lagi, bagaimana menumbuhkan budaya ‘berjiwa besar’ dan tidak mengejek ‘kegagalan’
— Productive behavior juga terfasiliasi dengan mekanisme rewarding, seperti pengakuan intellectual property, bagaimana menangani pembajakan.
– Productive behavior juga memerlukan peran pemerintah dan legislator dalam mengurusi hal-hal yang berkenaan dengan trade policy, market competition, yang fair, yang memicu gairah untuk mencoba, enterpreneurship

Model yang ‘sederhana’, dan agaknya sedari dulu juga kita tahu. Tinggal bagaimana implementasinya, secara simultan mengurus human capital yaitu dari anak-anak dalam kandungan, gizi mereka, pendidikan mereka, sampai membangun institusi (yaitu peran negara) untuk memberikan iklim yang sesuai bagi mengkristalnya daya kreatifitas menjadi inovasi barang atau jasa yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. (Catatan Minggu Pagi, 12 Oktober 2014. Bahan awal untuk riset Innovation & Growth)

*** Shahid Yusuf, “From Creativity to Innovation” .World Bank 2007

Written by ibudidin

October 12th, 2014 at 6:53 am

Posted in KM Tech Policy

Randang Kurban

without comments

Setiap Hari Raya Idul Adha tiba, saya selalu teringat alamarhumah ibu saya. Ibu kami di Padang selalu mendapat pembagian daging qurban dari masjid, karena ibu ikut kurban di masjid dengan 1/7 sapi. Ditambah dengan ayah (alm) saya yang juga ikut kurban 1/7 sapi, maka daging kurban yang diterima alhamdulillah lebih dari cukup.

Daging qurban itu dimasak oleh ibu menjadi randang (rendang) hitam yang enak. Sebagian randang itu dimasukkan ke kaleng susu lalu di kirim ke saya di Bandung lewat paket Titipan Kilat (sekarang Tiki). Ini randang kurban, katanya via secarik kertas di dalam paket. Setelah dibuka harap dipanaskan, bunyi isi surat tersebut selanjutnya. Randang qurban itu barokah, karena daging kurban itu juga berkah sebagai wujud ketaqwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Randang kurban dari ibu tahan selama sebulan, lumayan menghemat pengeluaran makan saya sebagai mahasiswa kos saat itu. Saya tidak perlu lagi membeli makan di warung, saya cukup membeli nasi putih saja atau memasaknya sendiri di rumah, lalu lauknya adalah randang kiriman ibu. Rendangnya dihemat-hemat agar lama habisnya hingga tinggal dedaknya saja. Bahkan makan nasi dengan dedaknya saja sudah enak, apalagi kalau ada dagingnya.

Kebiasaan mengirim randang kurban itu selalu dilakukan ibu hampir setiap tahun, bahkan setelah saya menikah dan punya anak ibu masih mengirim saya randang kurban. Tidak hanya saya yang dikirimnya randang, kakak saya yang bekerja di Jakarta juga mendapat kiriman randang kurban dari Padang.

Sekarang, setelah ibu dan ayah saya tiada, setiap mendapat daging kurban dari masjid, saya selalu mengolahnya menjadi randang kurban. Randang kurban itu barokah. Randang kurban tidak hanya sekedar masakan, tetapi wujud kecintaan seorang ibu kepada anaknya di perantauan (ketika mengetikkan kalimat ini mata saya sembab berkaca-kaca, terkenang akan kasih sayangnya dulu). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ayah dan ibu serta melapangkan kuburnya di alam barzah. Amiin.


Written by rinaldimunir

October 7th, 2014 at 4:12 pm

Posted in Renunganku

Dari Ayunan Hingga ke Liang Lahat

without comments

Sebuah foto kiriman dari seorang teman di Facebook memmbuat saya merenung cukup lama. Hidup kita ini bagaikan sebuah perjalanan waktu. Dari lahir sebagai bayi, lalu tumbuh sebagai anak-anak, bersekolah, tumbuh remaja, kuliah, bekerja, dewasa, tua, renta, terbaring sakit, dan berakhir di liang lahat. Perjalanan waktu seorang anak manusia itu bagaikan sebuah siklus yang dimulai dari bayi, muda, tua, mati, lalu tumbuh lagi generasi baru berikutnya yang akan menjalani siklus yang sama.

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Hampir semua kita tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Cara paling mudah memperhatikan berlalunya waktu itu adalah dengan mengamati pertumbuhan anak-anak kita. Kemarin dia masih bayi, digendong-gendong, ditimang-timang, tiba-tiba saja sekarang kita melihatnya sudah menjadi remaja yang aktif. Tiba-tiba saja dia akan segera wisuda sarjana. Tiba-tiba saja dia akan menjadi seorang suami/istri, dan kita akan segera menimang cucu. Begitu cepat waktu berlalu, kita menua bersamaan dengan bertambahnya usia anak-anak kita.

Sebagian orang ada yang “tidak beruntung” karena tidak dapat menjalani siklus tersebut secara penuh, karena di tengah perjalanan hidup tiba-tiba Sang Maha Pencipta memanggilnya kembali ke haribaan-Nya. Ada yang kembali ke Maha Pencipta akibat sakit, ada yang karena kecelakaan, bahkan ada yang mati tidak wajar karena bunuh diri akibat tidak kuat menanggung derita yang amat sangat.

Bersyukurlah kita yang masih diberi hidup hingga saat ini dari Allah SWT. Setiap orang tentu berharap dia mencapai usia sampai hari tua, hingga dapat melihat anak-anaknya menikah, lalu melahirkan cucu-cucu hingga cicit-cicit. Oleh karena itu, kesehatan jiwa dan raga adalah aset yang paling utama di dalam hidup ini agar kita dapat terus menyaksikan anak-anak tumbuh berkembang hingga mereka dewasa, berkeluarga, dan akhirnya kita menjadi aki-aki dan nini-nini yang bahagia.

Menjaga kesehatan saja tidaklah cukup. Sebagai seorang yang beriman dan mempercayai kehidupan akhirat sesudah mati, maka yang harus selalu diingat adalah bekal amal sholeh selama hidup di dunia. Harta yang dibawa mati hanyalah tiga lembar kain kafan, tidak lebih. Tetapi yang menjadi ‘harta” kita menghadap Allah SWT annti adalah amal pahala selama hidup di dunia. Apa guna umur panjang tetapi banyak berbuat dosa. Apa guna punya badan bagus tetapi banyak melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, perbanyaklah berbuat kebajikan, banyak-banyaklah beramal sholeh, banyak-banyaklah menimba pahala sebagai bekal ke akhirat.

Sudahkah anda beramal sholeh hari ini?


Written by rinaldimunir

October 6th, 2014 at 4:17 pm

Posted in Renunganku

Gaji Habis Setelah Dua Minggu

without comments

Seorang teman, dosen juga, sedikit curhat kepada saya. Dia “mengeluhkan” kondisinya. Dengan gaji dosen, insentif fakultas, dan tunjangan yang dia terima per bulan, dalam waktu dua minggu atau lebih gajinya sudah habis untuk kebutuhan pribadi dan rumah tangganya. Sangat jarang dia memperoleh penghasilan tambahan sebagai dosen peneliti riset, apalagi dari proyek-proyek. Hidupnya hanya mengandalkan dari makan gaji saja. Setelah gaji habis selama dua minggu, dia pusing memikirkan bagaimana menutupi kekurangan selama minggu selanjutnya menjelang jatuh tanggal satu bulan baru.

Curhat teman saya tersebut mungkin dialami oleh banyak orang lain mengandalkan gaji dari Pemerintah atau kantor untuk menopang kehidupannya. Mereka harus mengakali bagaimana cara bertahan menjelang datang bulan baru (yang berarti memeproleh gaji bulan berikutnya). Ada yang meminjam dari temannya, ada yang menjual barang, atau ada yang berusaha mencari pekerjaan sampingan. tentu saja pusing kepala memikirkan kondisi galau seperti ini. Namun, sepahit-pahitnya hidup tetap harus dijalani, yang penting tidak mencuri atau korupsi.

Sebenarnya saya pun mempunyai kondisi yang hampir sama dengan teman saya itu. Setelah dua atau tiga minggu seluruh gaji saya pun sudah habis. Namun untunglah saya mempunyai jurus “penolong” yaitu tabungan. Sejak kecil saya sudah diajarkan hidup hemat dan sederhana. Untunglah saya bukan orang yang suka royal, suka kemewahan, dan konsumtif. Saya tidak merokok, tidak punya kebiasaan mencari hiburan (nonton bioskop, jalan-jalan ke mal), dan lain-lain yang menguras uang. Sejak saya lulus kuliah dan mempunyai penghasilan sendiri, saya sudah terbiasa menabung sebagian penghasilan yang saya peroleh. Setiap mendapat gaji, sebagian saya sisihkan untuk masa depan. Jika tidak menabung mana mungkin saya bisa membeli rumah, mana mungkin saya bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak yang besar. Apalagi saya ditipkan amanah memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), maka pengeluaran semakin besar lagi.

Sekarang, setelah menjadi dosen, kebiasaan menyimpan uang itu selalu saya teruskan. Setiap mendapat penghasilan tambahan di luar gaji sebagai dosen PNS, selalu saya simpan. Kadang-kadang saya mendapat honor riset, kadang-kadang mendapat insentif dari kantor, kadang-kadang mendapat royalti dari penerbit buku dari buku saya yang terjual, kadang-kadang mendapat undangan dari kampus lain atau dari instansi lain sebagai narasumber, dan lain-lain. Semuanya itu serba kadang-kadang, tidak menentu, dan tidak setiap bulan ada. Nah, semua rezeki dari Allah tersebut saya simpan. Ketika minggu kedua atau minggu ketiga setelah gaji sebagai PNS sudah habis, maka barulah saya mengambil simpanan tersebut. Jadi jika dua atau tiga minggu pertama saya makan gaji PNS, maka pada minggu ketiga dan seterusnya, saya terpaksa “makan tabungan”, he..he. Tabungan itulah yang menyelamatkan hidup saya dan keluarga. Andai saya tidak mempunyai simpanan uang, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi kebutuhan hidup yang yang semakin besar dan semakin mahal ini.

Mungkin Anda berpikir saya beruntung masih bisa menabung, sedangkan banyak orang yang jangankan untuk menabung, untuk sehari-hari saja sudah susah. Ya betul, kondisi setiap orang tidak sama. Namun, jika anda berpikir bahwa kunci semua itu adalah hidup sederhana, maka kesusahan menjelang akhir bulan itu dapat diatasi. Sedapat mungkin anda menyisihkan sebagian penghasilan yang anda peroleh, berapapun besarnya. Sedikit tidak mengapa, banyak lebih baik. Meskpun Anda pikir tidak mungkin, namun cara ini harus dicoba. Kita tidak hidup hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk hari esok.


Written by rinaldimunir

October 1st, 2014 at 5:48 pm

Posted in Pengalamanku