if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2014

Dia Bukan Presiden Saya, Pak!

without comments

Usai pengumuman kabinet Jokowi minggu lalu, saya berkomentar tentang kabinet tersebut di dalam kuliah di kelas. Ada plus minusnya, demikian simpulan saya. Seorang mahasiswa menyelutuk sambil berkata: “Dia bukan presiden saya, Pak. Saya tidak memilih dia kemarin.”.

Mendengar celutukannya itu, saya pun menjawab sambil bercanda: “Jika anda tidak menganggapnya presiden Indonesia, anda pindah saja ke negara lain.”.

Ucapan mahasiswa tadi jelas tidak benar. Demokrasi mengajarkan kita untuk menghormati hasil pilihan rakyat. Demokrasi itu adalah kata suara terbanyak. Meskipun tidak menang mutlak atau signifikan, tapi faktanya Jokowi meraih suara terbanyak dibandingkan Prabowo. Maka, suka tidak suka kita harus mengakuinya bahwa dialah presiden kita sekarang. Kita harus menghormati pilihan rakyat tersebut.

Saya juga tidak memilih Jokowi pada Pemilu kemarin dengan berbagai alasan, tetapi sekarang dia adalah presiden saya juga, maka saya wajib ikut berperan bersamanya, langsung atau tidak langsung.

Demokrasi adalah suara terbanyak, maka minoritas harus mengikuti mayoritas. Suka atau tidak suka dengan demokrasi, maka anda berada di dalamnya, anda harus mengikuti pilihan mayoritas. Prinsip ini ini juga berlaku dalam kehidupan sosial. Kita pun harus menghormati kebijakan yang diambil oleh mayoritas pemenang. Jika anda menolaknya, berarti anda tidak menghormati pilihan mayoritas.

Meskipun demikian, mayoritas tidak boleh semena-mena, yang minoritas pun tidak boleh mentang-mentang. Mayoritas merangkul minoritas, dan minoritas menghormati mayoritas. Betapa indahnya hidup ini apabila demikian yang terjadi.


Written by rinaldimunir

October 29th, 2014 at 4:19 pm

Posted in Indonesiaku

Kenapa Dikti Dipisah dari Kemendikbud?

without comments

Pak Jokowi sudah mengumumkan kabinetnya. Saya tidak mempermasalahkan siapa orang-orang yang dipilihnya sebagai menteri, tetapi saya kurang setuju dengan pemecahan Kemendikbud menjadi dua kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemndikbudikdassmen, uff… susah sekali membacanya) dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Ini berarti Pendidikan Tinggi digabung dengan Kementerian Riset dan Teknologi.

Apanya saya tidak setuju? ya, saya tidak setuju Dikti dipisah dari Dikdasmen. Pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi itu inline, segaris, satu tujuan, sehingga sebaiknya tetap dalam satu koordinasi. Menggabungkan Dikti dengan Ristek tidak pas. Tidak semua pendidikan tinggi berorientasi riset. Pendidikan vokasi (D1, D2, D3) tidak bertujuan untuk riset, tetapi pendidikan terapan yang orientasinya pasar kerja.

Kalau ingin menggabungkan Dikti dengan kementerian lain, maka kenapa hanya dengan Ristek? Pendidikan Tinggi tidak hanya didekatkan dengan dunia riset saja, tetapi juga dengan dunia industri. Nah, kalau begitu kenapa tidak digabungkan juga dengan Perindustrian?

Satu lagi, memisahkan kebudayaan dengan riset dan pendidikan tinggi juga tidak relevan, sebab riset itu juga sebuah kebudayaan. Budaya riset harus ditumbuhkan.

Sebenarnya penggabungan pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi dalam satu kementerian seperti pada kabinet-kabinet sebelumnya sudah pas dan sudah bagus. Sayang jika dirombak lagi.

Tapi ya sudahlah, Jokowi mempunyai hak perogeratif menentukan kementeriannya. Menterinya sudah dipilih lagi. Kita hanya tinggal menunggu seperti apa kebijakan Kemenristekdikti itu. Agak lama menunggu kerja nyata kementerian yang baru ini, karena pasti penggabungan ristek dan dikti itu memerlukan proses adaptasi yang cukup lama.


Written by rinaldimunir

October 27th, 2014 at 4:05 pm

Posted in Pendidikan

Cara Mencatat

without comments

Share

mencatatSaya termasuk yang mempercayai ini, yaitu mencatat ‘manual’ konvensional dengan kertas dan pena.

Misalnya membaca sebuah paper atau buku (terutama yang academic product), saya sudah siapkan notes atau post it untuk mencatat, menulis ulang hal-hal yang penting (tentu bagi saya, sehingga bisa jadi beda bagi orang lain), menggunakan kata yang saya pahami. Pada saat menulis/mencatat sudah merupakan slot waktu tersendiri untuk mencerna. Di akhir bacaan setidaknya yang nyantol lebih banyak, syukur-syukur jika Dia anugrahkan kepahaman sekaligus, jadi NO STABILO. Stabilo bagi saya berlari seperti mata berlari, dan tidak menyisakan jeda bagi otak untuk memproses. Lagipula, berapa banyak dari teman-teman yang mengulang-ulang membaca hal-hal yang di stabilo? berapa kali pengulangan? atau jangan2 hampir semua paragraf distabilo

Tidak ada benar salah dalam metode, tapi yang paling berdaya guna bagi masing-masing orang. Tetapi kalau ada cara lebih efisien, barangkali bisa dicoba

Written by ibudidin

October 27th, 2014 at 10:15 am

Posted in DSM,S1/S2/S3

Selamat Hari Blogger Nasional yang ke-7 ^_^

without comments

Share

Baru tahu tanggal 27 Oktober dinyatakan sebagai Hari Blogger Nasional oleh menteri M.Nuh yang saat itu yang hadir di acara Pesta Blogger 27 Oktober 2007, berarti hari Blogger Nasional yang ke-7 ya tahun ini. Tetapi blog pribadi saya http://ibu.wanakalapa.com/ berulangtahun yang ke-10, mulai menulis sejak tahun 2004. Awalnya di jroller com, ga tau masih hidup engga itu situs. Pindah ke blogspot bentar, pindah ke multiply bentar, dimigrasi semuanya ke wordpress, dan punya hosting pribadi dengan tetap memakai wordpress.

Selamat hari Blogger Nasional ke-7 dan yang ke-10 untuk ibu.wanakalapa.com Semoga makin luas ilmu, amal, dan silaturahminya

Written by ibudidin

October 27th, 2014 at 9:50 am

Posted in Langkah,Wordpress

Kajian Relijiusitas di era post-modern

without comments

Share

Salah satu implikasi pergeseran dari era modern ke era post-modern adalah dominasi scientific inquiry dg logika positivism sebagai gold standard juga mulai bergeser. Perceraian agama dan sains juga (to some extent) mulai dipertanyakan. Kajian-kajian religiosity menjadi ‘diterima’ oleh dunia sains modern, karena keber-agama-an dianggap sebagai fenomena sosial (which is really really exist) yang bisa dikaji dengan kacamata sosiologi misalnya. Kita tidak bisa lagi pura-pura bahwa orang beragama itu tidak ada. Tidak bisa lagi pura-pura seolah relijiusitas itu non-sense.

Beberapa hari lalu sempat diskusi dg kolega yang sedang riset di bidang sosiologi-organisational behavior, tentang bagaimana religiusitas seseorang (bisa Islam, Kristen, Yahudi) mempengaruhi performansi kerjanya di organisasi. Studi (amat sangat) menarik yang mirip dengan apa yang dilakukan salah satu bapak sosiologi (Max Weber) yang mempelajari tentang bagaimana relijiusitas (protestan) berkontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi. Menarik bukan, mangga dibaca lebih lanjut jika tertarik ^_^

Kemudian saya bertanya, mungkin tidak Pak jika mengambil referensi dari ‘school of thought’ sarjana-sarjana Islam dari abad ke 7 sampai 15 misalnya kemudian dicemplungkan dalam kajian ilmu sosial modern. Bapaknya menjawab, pada masa-masa itu keilmuan juga berkembang pesat, mereka juga punya metode saintifik nya, tapi kemudian menurun dan suatu masa berhenti dialog-dialog sains nya (kekalahan peradaban). Jadi kemungkinan-kemungkinan itu terbuka lebar.

Baru saja saya lihat postingan di The Guardian tentang arsip dialog-dialog sains dari abad 9-19 yang menggunakan bahasa arab. Bahasa arab pada saat itu sebagai standar bahasa ‘pembicaraan ilmu’ seperti bahasa Inggris saat ini ^_^ Saya senang bahwa Inggris dan Qatar bekerjasama membangun dialog ‘sains’ dari masa ke masa, antar dua bahasa yang menjadi standar berbicara pengetahuan. Hasil arsip The British Library Qatar Foundation Partnership yang disediakan gratis dan bisa diakses secara digital, Alhamdulillah berita super ini. Mangga meluncur kesini http://qnl.qa/about-the-library/partnerships/british-library#

ttp://www.theguardian.com/higher-education-network/blog/gallery/2014/oct/23/-sp-the-importance-of-arabic-contributions-to-science-over-time-in-pictures

Written by ibudidin

October 25th, 2014 at 9:43 am

Posted in DSM,Tafakur

[Physics] Projectile Simulation

without comments

Everyone know Angry Birds for sure. This very well know game is one of the most popular game for this years. Every one knows it, every one plays it. But did we know that this game is based on a Physics concept of projectile movement/simulation? We remember that projectile simulation is one of the most [...]

Written by Petonx-Animation : Free Educational Flash Animation Download & Tutorial

October 21st, 2014 at 5:45 pm

Kurikulum 2013

without comments

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikanyang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaan di Tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah percobaan. Di Tahun 2014, Kurikulum 2013 sudah diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V sedangkan untuk SMP Kelas VII dan VIII dan SMA Kelas X dan XI. Diharapkan, pada Tahun 2015 diharapkan telah diterapkan di seluruh jenjang pendidikan. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu Aspek Pengetahuan, Aspek Ketrampilan, dan Aspek Sikap dan Perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di Materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb, sedangkan materi yang ditambahkan adalah Materi Matematika. Materi pelajaran tersebut terutama Matematika disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri.

 

Seperti biasa, sebuah program baru pasti akan menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ada pihak yang menyambut baik penerapan kurikulum ini karena dipandang dapat memberikan luaran yang lebih baik dibanding kurikulum sebelumnya. Di sisi lain, ada pihak yang merasa bahwa belum waktunya kurikulum ini diterapkan mengingat belum meratanya kualitas dan kuantitas infrastruktur maupun tenaga pendidik. Untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul, pihak-pihak terkait telah mengadakan puluhan kegiatan sosialisasi baik kepada para guru maupun para orang tua. Acara tersebut bertujuan menampung dan menjawab segala pertanyaan yang muncul terkait berlakunya kurikulum baru ini.

 

Berdasarkan pengalaman selama setahun lebih berinteraksi dengan kurikulum 2013 ini yaitu sejak Hana masuk SD pada tahun 2013 hingga kini menginjak tahun kedua, saya bisa merasakan kesulitan yang dialami oleh para guru (atau mungkin hanya gurunya Hana?). Beberapa materi, terutama Matematika, terasa terlalu dipaksakan untuk dikuasai oleh anak-anak seumuran Hana.  Dalam waktu satu bulan, anak-anak harus menghabiskan satu tema dimana satu tema rata-rata dibagi menjadi 4 sub tema. Tiap sub-tema punya kompetensi pencapaian yang terus meningkat. Kalau bidang selain Matematika, saya tidak terlalu mempermasalahkan. Yang sedikit membuat sy berpikir keras adalah materi Matematikanya. Di semester 1 ini, anak-anak mulai dikenalkan dengan perkalian. Perkalian sederhana harus dilahap hanya dalam waktu 1 minggu. Minggu berikutnya mulai belajar menebak 60 =  berapa x berapa, dsj. Belum juga paham materi tsb, anak-anak sudah masuk ke bagian pembagian dan dilanjutkan dg UTS.

Ini saja sudah membuat sy keteteran untuk menjelaskan ke Hana konsep yang dimaksud. Hal yang bagi sy mudah saja untuk dijawab menjadi sulit ketika harus dijelaskan ke anak kelas 2 SD. Misalnya, saya dengan mudah menjawab bahwa 60 itu adalah 5 x 12 atau 20 x 3, tapi bagaimana cara mengajarkan ke Hana?

Tapi, mengeluh saja tidak cukup. Sy berpikir bahwa ini waktunya untuk saya lebih serius memikirkan bagaimana mengajari Hana dan tidak menyerah dengan keadaan. Seorang teman menjelaskan, mengajarkan pembagian dan perkalian ke anak-anak harus melalui pendekatan konsep, bukan melulu hasil (sy jadi teringat postingan yang menghebohkan dumay tentang seorang kakak yang protes kepada guru adiknya). Bahwa perkalian adalah penambahan berulang sedangkan pembagian adalah pengurangan berulang. Teman tersebut tidak menyarankan menghafal perkalian atau pembagian, tp memahamkan konsep ke anak. Dan, memang itu cara yang efektif (meskipun butuh waktu lama untuk menghitung perkalian maupun pembagian).

Jika ada teman yang menyatakan bahwa kurikulum itu ibarat kendaraan dan sebagus apapun kendaraan utk sampai ke tujuan tetaplah bergantung kepada sopir. Kalau kata saya, jika kurikulum ibarat kendaraan maka dibutuhkan sopir yang handal dan menguasai kendaraan tersebut untuk sampai ke tujuan dengan selamat.

Salam hangat,


Written by indahgita

October 21st, 2014 at 12:34 pm

Posted in Bebas

Membangun Ubudiyah dalam Diri

without comments

Share

Ketika dua hari lalu menulis tentang di batas penyerahan, ternyata (selalu) ada jawabannya, yaitu nasihat dibawah ini. Tetapi semua jawaban itu memerlukan usaha, jika tidak diusahakan, barangkali kalau diberi umur setahun sepuluh tahun atau seratus tahun lagi akan mengulang menulis dengan judul yang sama di batas penyerahan. Ya Allah, mampukanlah.

====================

Dari seorang sahabat:

Sharing taujih ba’da Shubuh
Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafizh, Lc
19 oktober 2014

Mabit qur’an @ulil albab
RQ inspirasi, SQ UII, Rumah TahfizhQU
Jogjakarta

Jika kita baca Al-kahfi maka bisa terlindung dari fitnah dajjal.
Dajjal ini sudah disosialisasikan dari zaman nabi Nuh.
Fitnah dajjal adalah, fitnah tauhid, dajjal merayu dengan segala atraksinya untuk berpaling dari Allah dan Rasulullah SAW.

Allah memanggil Rasulullah dengan nama ‘abdihi
Harapannya bisa dicontoh oleh umatnya, agar bisa sebenar-benarnya sebagai ‘abdihi.

Makna dari ayat pertama surat alkahfi,
Merupakan rasa syukur atas turunnya Al-Quran
Apakah kita bersyukur dengan adanya Al-Qur’an?

Al-Qur’an ini diturunkan bukan untuk menyusahkan, tapi untuk membuat bahagia

‘Ala ‘abdihi, Alquran diturunkan kepada Rasululllah yang tingkat penghambaanya sudah sampai ‘ubudiyah

Dan kita pun bisa sampai tingkat ‘ubudiyah, untuk menjadi ahlu qur’an

Qt sudah sampai ‘ubudiyah jika kita sudah bisa melakukan ibadah taqarrub ‘iLallah yang diluar akal nalar manusia.

Misalkan: Bangun jam 2 pagi, terus terjaga sampai setelah subuh.
Ini kalau bukan karena semangat ingin dekat dengan Allah, diluar nalar manusia
tapi Allah menolongnya,
sehingga bisa dilakukan.

Inilah kenapa Fadhilah Qiyamullail, shalat Fajar, Shalat subuh, apalagi sampai menunggu syuruq, sangaaaaaaattttt tinggi Fadhilahnya,
Ini adalah ibadah Ribath.

Karena ini bukti ‘ubudhiyah kita kepada Allah, dan Allah beri apresiasi yang besar kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan ini..

Kalau sudah bisa seperti itu, lakukan setiap hari,
Sampai meninggal..

‘Ubudiyah : melakukan ibadah yang perjuanganya dahsyat, dan Allah pasti memberikan point sangat besar, dan membukakan pintu untuk kita bisa dekat dengan Al-Qur’an.
Semangat melakukan ibadah, semangat ‘ubudiyah, semangat penghambaan tinggi kepada Allah

Seperti sahabat Hudzaifah, menjadi ma’mum Rasulullah dalam shalat malam 1 raka’at. Baca Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa.
Walaupun ada rasa mengeluh di dalam hatinya, tetapi bisa selesai juga.
Ini karena semangat ‘ubudiyahnya Hudzaifah.

Coba cek tingkat ‘ubudiyah kita.
Apakah bisa kita tilawah satu juz perhari?
Jika diluar nalar, coba dikerjakan, jika berhasil, maka sudah masuk tingkat ‘ubudiyah
Kemudian tingkatkan lagi.

Mengafal Al-Qur’an semangatnya adalah penghambaan kita kepada Allah SWT.

Rasanya hari ini tidak masuk akal, orang bisa menghafal satu Al-Qur’an seperti membaca Alfatihah.
Ini secara akal, rasanya tidak mungkin, susah, panjang, repot,
bukan secara ‘ubudiyah.. karena jika ‘ubudiyah kuat tiada yang mustahil.Coba dilihat bagian akhir QS. Al Ankabut.

Misalkan: membaca alma’tsurat kubra tiap hari, kalau dipikir-pikir tidak mungkin, repot, harus masak, kerja, olah raga pagi dll. Ini jika kita lihat pakai akal.
Bukan pakai semangat ‘ubudiyah

Jika kita terus melihat secara akal, tidak akan bisa kita melakukan ibadah-ibadah yang menurut kita tidak bisa.
Kalau kita melihat dengan semangat ‘ubudiyah, maka Allah akan tolong, dan kita bisa melakukan ibadah-ibadah itu.

Seperti ibrah dari kisah Nabi Nuh a.s, yang sabar dan terus mendekatkan diri kepada Allah.
Allah akan dekat dengan kita jika kita berdo’a (Al-Baqarah)

Kemudian mintalah kebutuhan akhirat kita, kepada Allah agar kita bisa dekat Allah.
Minta surga, walaupun merasa tidak pantas, karena belum jadi tampang ahli surga ( sudah berjihad dan sabar), tapi Allah senang jika kita berdoa.
Dan Allah sangat senang jika kita serius minta surga.
Allah berdialog dengan malaikat.
Wahai malaikat, itu hamba-hamba-Ku belum lihat surga, kok sudah serius minta surga?
Kata malaikat, iya ya Allah, kalau mereka sudah melihat,
1000 x lagi lebih serius minta Surganya.

Begitu juga dengan dialog tentang seorang hamba yang minta dijauhkan dari neraka.

Mari Membangun ‘ubudiyah dalam diri kita.
Semoga dimudahkan untuk bisa akrab dengan Al-Qur’an. Aamiin

Written by ibudidin

October 20th, 2014 at 9:28 pm

Posted in Al-Qur'an,Tafakur

Di Batas Penyerahan Refleksi untuk Anak-anakku dan Adik-adikku

without comments

Share

Segala puji hanya pantas bagi Allah yang membukakan kepahaman demi kepahaman. Saat ini di usia 30-an, saya merasa terpaksa diperes dalam pengertian praktek-praktek amal-amal kita di berbagai bidang sedang benar-benar diminta. Dalam keprofesionalan yang kita tekuni, dalam kegiatan-kegiatan sosial yang kita ikuti, semuanya sedang meminta sejauh mana keilmuan kita, pemahaman-pemahaman terhadap masalah, terhadap lingkungan. Hari ini mengerjakan setoran untuk besok, kemarin mengerjakan persiapan untuk agenda hari ini. Bukan bermaksud menunda pekerjaan, tapi maknanya adalah bahwa pekerjaan, agenda, itu mengalir terus tak berhenti-berhenti, sehingga ritme nya sudah bukan lagi pada mengerjakan hari ini untuk agenda sebulan mendatang. Cepet sekali perputarannya. Hari cepat berganti, pekerjaan harus cepat diselesaikan. Agenda harus segera dieksekusi. Ini tentang semuanya, tentang agenda menjadi istri, ibu, anak, bagian dari masyarakat.

Sayang beribu sayang penyesalan, pada saat dituntut mateng, berisi, ibarat pohon tinggal dipetik buah-buahnya yang manis ranum. Disaat-saat seperti ini masih sibuk mengumpulkan ilmunya, ada problem A sibuk nyari referensi penyelesaian problemnya. Masih sibuk menyempurnakan bahasa Inggris. Ga bisa bahasa Arab. Makin menyadari ini harus dipelajari, ini harus dibaca, aduh yang itu belum dibaca, aduh aduh…. Menyesal sungguh menyesal, pada tahun-tahun yang bahkan tidak sanggup melahap buku-buku teks, tahun-tahun bablas ga jelas, tahun-tahun yang mengerikan dan sekarang menyakitkan adalah tahun-tahun dimana tidak banyak mengakuisisi ilmu. Ngapain aja siy? belajar bahasa engga, belajar keahlian engga, mediocre, pas-pasan kurang mutu. Dan penyesalan terbesar adalah, ga paham Qur’an. See, ga paham agama sendiri, bencana ini bencana. Mengais sana sini kebingungan. Istighfar.

Sampe ketika di hari-hari ini, ketika menyadari Ya Salammm hanya butiran debu dibelantara dunia yang luas.. aku ingin belajar ini, ingin belajar itu, aku harus berbekal ini, berbekal itu, tapi waktu..waktu..waktu… hingga di batas: Ya Allah aku menyerah, ampuunn, tolong beritahu caranya, tolong ilhamkan caranya. Agar aku sanggup menjalani prioritas-prioritas dalam program pedekate mencari perhatian-Mu.

?#?istighfar?
Refleksi untuk Anak-anakku dan Adik-adikku: Pergunakan masa kecil, masa muda, masa perkasa untuk seoptimalnya mengakuisisi ilmu

Written by ibudidin

October 18th, 2014 at 6:39 pm

Peristiwa Paling Damai Hari Ini (Jokowi – Prabowo)

without comments

Inilah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Dua orang Capres yang selama ini dikesankan berseteru, pagi ini bertemu dalam suasana yang sejuk. Jokowi datang menemui Prabowo di kediamannya. Keduanya saling bersalaman, berpelukan, saling hormat, ketawa-ketawa dan senyum-senyum.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di kediaman Prabowo di Kebayoran Baru hari ini. (Sumber.detik.com)

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di kediaman Prabowo di Kebayoran Baru hari ini. (Sumber.detik.com)

Prabowo sudah menunjukkan jiwa besarnya sebagai negarawan, Jokowi sudah menunjukkan kesantunannya sebagai orang yang lebih muda yang mengunjungi orang yang lebih tua, sekaligus seterunya dalam Pilpres.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) memberi salam hormat kepada Presiden terpilih Joko Widodo usai melakukan pertemuan tertutup di Rumah Kertanegara, Kebayoran Baru,Jakarta (17/10/2014). Sumber foto: Republika.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) memberi salam hormat kepada Presiden terpilih Joko Widodo usai melakukan pertemuan tertutup di Rumah Kertanegara, Kebayoran Baru,Jakarta (17/10/2014). Sumber foto: Republika.

Dengan melihat peristiwa yang menyejukkan hari ini, maka tidak perlu lagilah para pendukung keduanya saling buli membuli dan olok mengolok lagi. Selama ini yang terus membuli dan mengolok-olok adalah para pendukung kedua capres tersebut yang umumnya orang terpelajar. Mereka, para pembuli itu, memperlihatkan sifat yang bertolak belakang dengan kecendekiaannya yaitu merendahkan dan menghina orang lain. Mereka adalah orang-orang yang gagal move on.

Barangkali kedua foto di atas adalah foto yang paling adem hari ini. Damailah Indonesiaku.


Written by rinaldimunir

October 17th, 2014 at 4:32 pm

Posted in Indonesiaku