if99.net

IF99 ITB

Archive for April, 2014

Tampil Beda pada “Minangkabau Festival” dari UKM-ITB

without comments

Ini cerita tentang malam pagelaran kesenian Minangkabau pada Dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, hari Minggu 27 April 2014. Dengan tajuk Minangkabau Festival, mereka menampilkan acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya acara pagelaran diadakan pada ruang tertutup di dalam gedung megah Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), maka kali ini acara pagelaran didadakan di ruang terbuka, yaitu di tempat yang menjadi monumental sejak ITB dulu kala, yaitu Lapangan Basket. Dari panitia saya dengar tujuan diselenggarakan di area terbuka adalah untuk lebih mendekatkan UKM-ITB dengan masyarakat umum dan mahasiswa Minang Bandung, karena pagelaran kesenian ini tidak dipungut biaya alias gratis nontonnya. Tahun-tahun sebelumnya ketika diadakan di Sabuga penonton harus membeli tiket masuk. Masalahnya bukan pada harga tiketnya, tetapi banyak calon penonton kecewa karena tidak memperoleh tiket, mereka harus masuk waiting list. Kapasitas setengah Sabuga yang kecil tidak mampu menampung penonton lebih banyak lagi. Pertunjukan UKM-ITB memang selalu ditunggu-tunggu dan membludak penontonnya.

Pertunjukan di ruang terbuka bukannya tanpa kendala. Bulan April ini Bandung masih dalam musim hujan. Hujan yang turun pada hari minggu siang sampai sore membuat galau panitia dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Jika hujan terus turun sampai malam hari, maka acara pagelaran kesenian di lapangan basket terancam gagal. Tapi untunglah Tuhan “mendengar” kegalauan para mahasiswa itu, pukul 17 sore hujan berhenti dan setelah maghrib langit sangat cerah. Para penonton terus mengalir ke lapangan basket dan duduk di bawah tenda yang disediakan. Penonton sabana rami, tumpah ruah memenuhi lapangan basket. Penonton yang tidak dapat tempat duduk terpaksa berdri atau duduk lesehan di atas lantai lapangan. Penonton tidak hanya mahasiswa, tetapi juga bapak-bapak dan keluarganya yang merupakan perantau urang awak di Bandung. Bagi penonton yang tidak bisa hadir di sana, panitia juga menyediakan live streaming via Internet.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kesenian menampilkan drama yang diselingi tari-tarian, musik, dan lagu. Dramanya menceritakan sejarah lahirnya negeri Minangkabau dan asal mula kata Minangkabau itu. Sayang dramanya ditampilkan agak kaku dan tidak natural, jadinya kurang membekas dalam pikiran. Baiklah, ceritanya tidak terlalu penting dibahas, karena yang ditunggu-tunggu oleh para penonton sebenarnya adalah penampilan tarian, lagu minang, dan musik tradisionil.

Salah satu adegan drama

Salah satu adegan drama

Yang menarik adalah penyampaian cerita dalam bentuk kilas balik atau flashback oleh dua orang host dan dipadu dengan randai. Host pertama adalah seorang mahasiswa ITB yang diceritakan sedang menyusun Tugas Akhir tentang sejarah Minangkabau (TA yang aneh untuk keilmuan di ITB, tapi tak apa-apa namanya juga rekaan), dan host yang kedua pemandu wisata yang memerankan orang Minang kampung. Apresiasi perlu diberikan kepada dua orang host ini, karena melalui dialog-dialog segar dan celoteh-celoteh minang yang mengundang tawa, pertunjukan kesenian malam itu menjadi hidup dan membuat penonton terpingkal-pingkal. Memamg kalau acara pagelaran kesenian minang tidak ada lawaknya maka akan menjadi pertunjukan yang garing.

"Host " ciamik yang memandu acara.

“Host ” ciamik yang memandu acara.

Kalau tari-tarian yang ditampilkan tidak ada yang baru, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, meskipun demikian sungguh rancak dibawakan oleh para mahasiswa itu (sebagian masih TPB). Yang saya ingat tarian yang ditampilkan adalah Galombang Pasambahan, tari Payung, dan masih beberapa lagi, yang ditutup oleh tari maskot UKM adalah tari Piriang Manggaro. Sayang jumlah tariannya kurang banyak, sebab yang menjadi inti pertunjukan adalah tari-tarian minang itu.

Tari Galombang Pasambahan

Tari Galombang Pasambahan

Tari Payung

Tari Payung

Tari Perang

Tari Perang

Tari Piriang Manggaro

Tari Piriang Manggaro

Saran saya yang pernah saya sampaikan ke adik-adik mahasisea sebelumnya agar menampilkan juga lagu-lagu minang ternyata terealisasi juga pada pagelaran ini. Sayangnya pilihan lagunya kurang pas, yaitu Bapisah Bukannyo Bacarai. Lagu ini ditampilkan di bagian awal acara, padahal acara kan belum selesai. Masih banyak pilihan lagu lawas Minang yang bisa ditampilkan untuk membangkitkan nostalgia penonton. Satu lagi, lagu minangnya hanya sekali saja, kurang banyak menurut saya.

Duet lagu minang

Duet lagu minang

Kekurangan utama pementasan malam itu adalah sound system yang jelek. Mik sering kali mati, serta suara dengung dari feedback mengganggu kenikmatan mendengar.

Secara keseluruhan penampilan malam itu sungguh rancak. Saya merasa cukup puas, saya nilai 8 deh untuk art performance kali ini. Penonton saya lihat tidak beranjak dari tempat duduknya dari awal hingga akhir acara (pukul 11 malam), padahal hari itu minggu malam lho, dimana besoknya sudah masuk kerja dan kuliah.

Catatan: mohon maaf foto-fotonya kurang tajam karena memakai kamera ponsel yang tidak bagus untuk foto malam hari. Di bawah ini foto dari akun Reisha Humaira di Facebook.

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).


Written by rinaldimunir

April 30th, 2014 at 2:58 pm

Tampil Beda pada “Minangkabau Festival” dari UKM-ITB

without comments

Ini cerita tentang malam pagelaran kesenian Minangkabau pada Dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, hari Minggu 27 April 2014. Dengan tajuk Minangkabau Festival, mereka menampilkan acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya acara pagelaran diadakan pada ruang tertutup di dalam gedung megah Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), maka kali ini acara pagelaran didadakan di ruang terbuka, yaitu di tempat yang menjadi monumental sejak ITB dulu kala, yaitu Lapangan Basket. Dari panitia saya dengar tujuan diselenggarakan di area terbuka adalah untuk lebih mendekatkan UKM-ITB dengan masyarakat umum dan mahasiswa Minang Bandung, karena pagelaran kesenian ini tidak dipungut biaya alias gratis nontonnya. Tahun-tahun sebelumnya ketika diadakan di Sabuga penonton harus membeli tiket masuk. Masalahnya bukan pada harga tiketnya, tetapi banyak calon penonton kecewa karena tidak memperoleh tiket, mereka harus masuk waiting list. Kapasitas setengah Sabuga yang kecil tidak mampu menampung penonton lebih banyak lagi. Pertunjukan UKM-ITB memang selalu ditunggu-tunggu dan membludak penontonnya.

Pertunjukan di ruang terbuka bukannya tanpa kendala. Bulan April ini Bandung masih dalam musim hujan. Hujan yang turun pada hari minggu siang sampai sore membuat galau panitia dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Jika hujan terus turun sampai malam hari, maka acara pagelaran kesenian di lapangan basket terancam gagal. Tapi untunglah Tuhan “mendengar” kegalauan para mahasiswa itu, pukul 17 sore hujan berhenti dan setelah maghrib langit sangat cerah. Para penonton terus mengalir ke lapangan basket dan duduk di bawah tenda yang disediakan. Penonton sabana rami, tumpah ruah memenuhi lapangan basket. Penonton yang tidak dapat tempat duduk terpaksa berdri atau duduk lesehan di atas lantai lapangan. Penonton tidak hanya mahasiswa, tetapi juga bapak-bapak dan keluarganya yang merupakan perantau urang awak di Bandung. Bagi penonton yang tidak bisa hadir di sana, panitia juga menyediakan live streaming via Internet.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kesenian menampilkan drama yang diselingi tari-tarian, musik, dan lagu. Dramanya menceritakan sejarah lahirnya negeri Minangkabau dan asal mula kata Minangkabau itu. Sayang dramanya ditampilkan agak kaku dan tidak natural, jadinya kurang membekas dalam pikiran. Baiklah, ceritanya tidak terlalu penting dibahas, karena yang ditunggu-tunggu oleh para penonton sebenarnya adalah penampilan tarian, lagu minang, dan musik tradisionil.

Salah satu adegan drama

Salah satu adegan drama

Yang menarik adalah penyampaian cerita dalam bentuk kilas balik atau flashback oleh dua orang host dan dipadu dengan randai. Host pertama adalah seorang mahasiswa ITB yang diceritakan sedang menyusun Tugas Akhir tentang sejarah Minangkabau (TA yang aneh untuk keilmuan di ITB, tapi tak apa-apa namanya juga rekaan), dan host yang kedua pemandu wisata yang memerankan orang Minang kampung. Apresiasi perlu diberikan kepada dua orang host ini, karena melalui dialog-dialog segar dan celoteh-celoteh minang yang mengundang tawa, pertunjukan kesenian malam itu menjadi hidup dan membuat penonton terpingkal-pingkal. Memamg kalau acara pagelaran kesenian minang tidak ada lawaknya maka akan menjadi pertunjukan yang garing.

"Host " ciamik yang memandu acara.

“Host ” ciamik yang memandu acara.

Kalau tari-tarian yang ditampilkan tidak ada yang baru, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, meskipun demikian sungguh rancak dibawakan oleh para mahasiswa itu (sebagian masih TPB). Yang saya ingat tarian yang ditampilkan adalah Galombang Pasambahan, tari Payung, dan masih beberapa lagi, yang ditutup oleh tari maskot UKM adalah tari Piriang Manggaro. Sayang jumlah tariannya kurang banyak, sebab yang menjadi inti pertunjukan adalah tari-tarian minang itu.

Tari Galombang Pasambahan

Tari Galombang Pasambahan

Tari Payung

Tari Payung

Tari Perang

Tari Perang

Tari Piriang Manggaro

Tari Piriang Manggaro

Saran saya yang pernah saya sampaikan ke adik-adik mahasisea sebelumnya agar menampilkan juga lagu-lagu minang ternyata terealisasi juga pada pagelaran ini. Sayangnya pilihan lagunya kurang pas, yaitu Bapisah Bukannyo Bacarai. Lagu ini ditampilkan di bagian awal acara, padahal acara kan belum selesai. Masih banyak pilihan lagu lawas Minang yang bisa ditampilkan untuk membangkitkan nostalgia penonton. Satu lagi, lagu minangnya hanya sekali saja, kurang banyak menurut saya.

Duet lagu minang

Duet lagu minang

Kekurangan utama pementasan malam itu adalah sound system yang jelek. Mik sering kali mati, serta suara dengung dari feedback mengganggu kenikmatan mendengar.

Secara keseluruhan penampilan malam itu sungguh rancak. Saya merasa cukup puas, saya nilai 8 deh untuk art performance kali ini. Penonton saya lihat tidak beranjak dari tempat duduknya dari awal hingga akhir acara (pukul 11 malam), padahal hari itu minggu malam lho, dimana besoknya sudah masuk kerja dan kuliah.

Catatan: mohon maaf foto-fotonya kurang tajam karena memakai kamera ponsel yang tidak bagus untuk foto malam hari. Di bawah ini foto dari akun Reisha Humaira di Facebook.

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).


Written by rinaldimunir

April 30th, 2014 at 2:58 pm

Sampai Malampun Mahasiswa Masih “Ngampus”

without comments

Satu pemandangan unik yang anda temukan di kampus ITB adalah semarak mahasiswa yang meramaikan kampus hingga malam hari. Jika di kampus-kampus lain jam 6 sore kampus sudah sepi atau tutup, sebaliknya di kampus ITB kehidupan berikutnya baru dimulai. Siang hari tentu saja kampus ramai dengan aktivitas akademik, tetapi malam hari kampus ramai dengan kegiatan unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM). Tanda-tandanya dapat anda lihat ketika memasuki kampus, areal parkir di dalam kampus dan di Jalan Ganesha masih penuh dengan mobil dan motor mahasiswa. Mereka masih kuliah? Oh tidak, kulaih sudah usai jam 18.00, tetapi mereka masih melanjutkan aktivitasnya di unit-unit kegiatan mahasiswa.

Ada hampir 75 unit-unit kegiatan mahasiswa di kampus, mulai dari yang bercorak kesenian berbasis kedaerahan (seperti Unit Kesenian Minangkabau, Unit Kesenian Aceh, Unit Kesenian Sulawesi Selatan, dll), unit berbasis olahraga (karate, renang, bola voli, dll), unit musik/lagu (orkestra, PSM, Apres, angklung, marching band, dll), agama (Gamais, KMH, KMB, KMK, PMK), hingga unit berbasis pemikiran (PSIK). ITB menyediakan banyak wadah untuk mengembangkan talenta mahasiswanya. Tidak hanya otak kiri saja yang perlu diasah, otak kanan juga harus, dan itu diwadahi melalui aneka unit kegiatan tersebut. Sayang banget, atau malah rugi, jika selama kuliahnya di ITB mahasiswa tidak pernah masuk ke unit-unit kegiatan itu. Unit-unit kegiatan yang seabrek itu adalah sarana pembentukan softskill , karakter, dan sarana pengembangan diri mahasiswa. Kalau anda tanya kepada mahasiswa ITB, mereka mendapat banyak pengalaman berkesan dan pengembangan dirijustru ketika aktif di unit-unit kegiatan mahasiswa dan himpunan mahasiswa jurusan/program studi.

Saya sering pulang kampus malam hari, dan lihatlah aktivitas mahasiswa di mana-mana memanfaatkan ruang-ruang lepas, koridor, selasar, dan lain-lain. Di sana ada sekelompok mahasiswa yang berlatih menari, bernyanyi, berlatih alat musik, atau hanya sekadar berdiskusi melingkar atau kumpul-kumpul. Di sudut lain di sekitar hot spot ada sekelompok mahasiswa yang duduk serius mengerjakan tugas kuliah dengan komputer laptopnya. Kampus ITB malam hari riuh rendah dengan aneka bunyi-bunyian, suara-suara mahasiswa, dan aneka aktivitas mereka.

Gedung CC Barat (Student Center) yang setiap malam selalu ramai dengan mahasiswa yang ikut unit kegiatan atau sekadar berdiskusi.

Gedung CC Barat (Student Center) yang setiap malam selalu ramai dengan mahasiswa yang ikut unit kegiatan atau sekadar berdiskusi.

Heran deh, mereka bukannya pulang ke rumah atau ke kosan, tetapi masih betah saja sampai malam-malam di kampus. Kalau saja tidak dibatasi jam malam, tentu mereka bisa sampai larut malam di dalam kampus. Seluruh kegiatan mahasiswa itu dibatasi sampai jam 11 malam, setelah jam 11 malam bapak-bapak satpam menyuruh mahasiswa bubar dan pulang. Dulu sampai ada mahasiswa yang tidur di sekre-sekre unit atau himpunan jurusan, tetapi sejak ada kejadian kebakaran yang menghebohkan di dalam kampus, maka diberlakukan jam malam setelah pukul 23.00, dan mahasiswa dilarang menginap di dalam kampus. Tentu ada juga yang menginap sembunyi-sembunyi di dalam lab dengan dalih mengerjakan penelitian atau TA, tetapi tidur di sekre unit atau himpunan sudah dilarang. bapak-bapak Satpam akan berkeliling pada pukul 23.00 malam untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang tidur di sekre. Tetapi saat ini saya perhatikan penerapan jam malam itu sudah mulai longgar. Ketika saya pulang jam 11 malam pun kampus masih berdenyut.

Sebenarnya tidak pada malam hari saja, pada hari Sabtu, Minggu, dan tanggal-tanggal merah pun kampus ITB tetap ramai oleh mahasiswa. Anda lihat saja parkiran motor dan mobil di depan kampus, penuh pada hari Sabtu dan Minggu. Sepertinya 5 hari seminggu kuliah belum cukup bagi mahasiswa, masih ditambah dua hari lagi untuk beraktivitas di dalam kampus. Bahkan pada musim libur semester dan libur panjang pun kampus tetap semarak dengan kegiatan mahasiswa. Kampus ITB tidak ada matinya dengan kegiatan mahasiswa. Mahasiswa lah yang membuat kampus ITB ini hidup siang dan malam. Satu-satunya masa kampus ITB sunyi senyap adalah pada libur Idul Fitri, saat itu memang sebagian besar mahasiswa sudah mudik, kampus ITB benar-benar bagaikan “kampus mati” mati pada siang dan malam hari.

Seorang teman asal Korea merasa kaget melihat kampus ITB yang tetap ramai hingga malam hari. Di Korea katanya setelah pulang kuliah mahasiswa tidak di kampus lagi, tetapi berpindah ke kafe-kafe, klub malam, atau tempat lain untuk having fun. Di ITB mahasiswa nggak mau pulang-pulang, katanya geleng-geleng kepala. Saya hanya tetawa, mahasiswa ITB sudah menganggap kampusnya kosan kedua, jawab saya ngasal.

Kampus ITB itu menyenangkan, mungkin kata-kata tersebut yang tepat untuk menggambarkan semarak mahasiswa yang meramaikan kampus hingga malam dan hari-hari libur.


Written by rinaldimunir

April 27th, 2014 at 5:15 pm

Posted in Seputar ITB

Sampai Malampun Mahasiswa Masih “Ngampus”

without comments

Satu pemandangan unik yang anda temukan di kampus ITB adalah semarak mahasiswa yang meramaikan kampus hingga malam hari. Jika di kampus-kampus lain jam 6 sore kampus sudah sepi atau tutup, sebaliknya di kampus ITB kehidupan berikutnya baru dimulai. Siang hari tentu saja kampus ramai dengan aktivitas akademik, tetapi malam hari kampus ramai dengan kegiatan unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM). Tanda-tandanya dapat anda lihat ketika memasuki kampus, areal parkir di dalam kampus dan di Jalan Ganesha masih penuh dengan mobil dan motor mahasiswa. Mereka masih kuliah? Oh tidak, kulaih sudah usai jam 18.00, tetapi mereka masih melanjutkan aktivitasnya di unit-unit kegiatan mahasiswa.

Ada hampir 75 unit-unit kegiatan mahasiswa di kampus, mulai dari yang bercorak kesenian berbasis kedaerahan (seperti Unit Kesenian Minangkabau, Unit Kesenian Aceh, Unit Kesenian Sulawesi Selatan, dll), unit berbasis olahraga (karate, renang, bola voli, dll), unit musik/lagu (orkestra, PSM, Apres, angklung, marching band, dll), agama (Gamais, KMH, KMB, KMK, PMK), hingga unit berbasis pemikiran (PSIK). ITB menyediakan banyak wadah untuk mengembangkan talenta mahasiswanya. Tidak hanya otak kiri saja yang perlu diasah, otak kanan juga harus, dan itu diwadahi melalui aneka unit kegiatan tersebut. Sayang banget, atau malah rugi, jika selama kuliahnya di ITB mahasiswa tidak pernah masuk ke unit-unit kegiatan itu. Unit-unit kegiatan yang seabrek itu adalah sarana pembentukan softskill , karakter, dan sarana pengembangan diri mahasiswa. Kalau anda tanya kepada mahasiswa ITB, mereka mendapat banyak pengalaman berkesan dan pengembangan dirijustru ketika aktif di unit-unit kegiatan mahasiswa dan himpunan mahasiswa jurusan/program studi.

Saya sering pulang kampus malam hari, dan lihatlah aktivitas mahasiswa di mana-mana memanfaatkan ruang-ruang lepas, koridor, selasar, dan lain-lain. Di sana ada sekelompok mahasiswa yang berlatih menari, bernyanyi, berlatih alat musik, atau hanya sekadar berdiskusi melingkar atau kumpul-kumpul. Di sudut lain di sekitar hot spot ada sekelompok mahasiswa yang duduk serius mengerjakan tugas kuliah dengan komputer laptopnya. Kampus ITB malam hari riuh rendah dengan aneka bunyi-bunyian, suara-suara mahasiswa, dan aneka aktivitas mereka.

Gedung CC Barat (Student Center) yang setiap malam selalu ramai dengan mahasiswa yang ikut unit kegiatan atau sekadar berdiskusi.

Gedung CC Barat (Student Center) yang setiap malam selalu ramai dengan mahasiswa yang ikut unit kegiatan atau sekadar berdiskusi.

Heran deh, mereka bukannya pulang ke rumah atau ke kosan, tetapi masih betah saja sampai malam-malam di kampus. Kalau saja tidak dibatasi jam malam, tentu mereka bisa sampai larut malam di dalam kampus. Seluruh kegiatan mahasiswa itu dibatasi sampai jam 11 malam, setelah jam 11 malam bapak-bapak satpam menyuruh mahasiswa bubar dan pulang. Dulu sampai ada mahasiswa yang tidur di sekre-sekre unit atau himpunan jurusan, tetapi sejak ada kejadian kebakaran yang menghebohkan di dalam kampus, maka diberlakukan jam malam setelah pukul 23.00, dan mahasiswa dilarang menginap di dalam kampus. Tentu ada juga yang menginap sembunyi-sembunyi di dalam lab dengan dalih mengerjakan penelitian atau TA, tetapi tidur di sekre unit atau himpunan sudah dilarang. bapak-bapak Satpam akan berkeliling pada pukul 23.00 malam untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang tidur di sekre. Tetapi saat ini saya perhatikan penerapan jam malam itu sudah mulai longgar. Ketika saya pulang jam 11 malam pun kampus masih berdenyut.

Sebenarnya tidak pada malam hari saja, pada hari Sabtu, Minggu, dan tanggal-tanggal merah pun kampus ITB tetap ramai oleh mahasiswa. Anda lihat saja parkiran motor dan mobil di depan kampus, penuh pada hari Sabtu dan Minggu. Sepertinya 5 hari seminggu kuliah belum cukup bagi mahasiswa, masih ditambah dua hari lagi untuk beraktivitas di dalam kampus. Bahkan pada musim libur semester dan libur panjang pun kampus tetap semarak dengan kegiatan mahasiswa. Kampus ITB tidak ada matinya dengan kegiatan mahasiswa. Mahasiswa lah yang membuat kampus ITB ini hidup siang dan malam. Satu-satunya masa kampus ITB sunyi senyap adalah pada libur Idul Fitri, saat itu memang sebagian besar mahasiswa sudah mudik, kampus ITB benar-benar bagaikan “kampus mati” mati pada siang dan malam hari.

Seorang teman asal Korea merasa kaget melihat kampus ITB yang tetap ramai hingga malam hari. Di Korea katanya setelah pulang kuliah mahasiswa tidak di kampus lagi, tetapi berpindah ke kafe-kafe, klub malam, atau tempat lain untuk having fun. Di ITB mahasiswa nggak mau pulang-pulang, katanya geleng-geleng kepala. Saya hanya tetawa, mahasiswa ITB sudah menganggap kampusnya kosan kedua, jawab saya ngasal.

Kampus ITB itu menyenangkan, mungkin kata-kata tersebut yang tepat untuk menggambarkan semarak mahasiswa yang meramaikan kampus hingga malam dan hari-hari libur.


Written by rinaldimunir

April 27th, 2014 at 5:15 pm

Posted in Seputar ITB

Duku Palembang atau Duku Baturaja?

without comments

Habis musim rambutan terbitlah duku. :-)

Sewaktu melewati daerah Arcamanik kemarin, ada pedagang buah duku palembang yang menggelar dagangannya di dalam mobil bak terbuka. Pemandangan mobil bak terbuka penjual buah duku jamak ditemukan di Bandung saat ini. Melihat buah dukunya yang ranum-ranum, saya pun tertarik untuk membelinya.

duku palembang

Sekedar basa-basi saya bertanya apakah buah duku tersebut benar duku palembang (maklum ada juga buah duku lokal dari Ciamis yang bentuk dan tampilannya mirip dengan duku palembang, tetapi rasanya agak masam).

Saya: “Ini asli duku palembang, Bu?”
Pedagang: “Ini duku dari Baturaja, Pak”

Dalam hati saya berkata, bukankah Baturaja itu di Sumatera Selatan juga. Apa bedanya?

Ups, saya tersadar. Ya benar, buah duku tersebut tidak berasal dari Palembang (Sumsel), setahu saya tidak ada pohon duku di Palembang (CMIIW). Buah duku berasal dari daerah pedalaman Sumsel seperti Baturaja, Muaraenim, Ogan Komering, dsb. Namun orang awam kan tidak tahu Baturaja itu di mana, Muaraenim di mana, Ogan Komering di mana, tahunya cuma Palembang, jadi ya sudah disebut saja duku palembang saja (p kecil, bukan P besar).

Saya pernah melewati daerah pedalaman Sumatera Selatan, itu dulu zaman saya masih mahasiswa ketika pulang kampung dengan bus ke Padang. Sekarang sudah jarang orang pulang kampung dengan bus, biasanya ya naik pesawat saja yang ongkosnya tidak jauh berbeda bila naik bus. Nah, selepas Provinsi Lampung bus memasuki daerah Sumatera Selatan. Ketika melewati daerah Baturaja dan Muaraenim, banyak sekali pedagang buah duku di pinggir jalan Lintas Sumatera. Jalan Lintas Sumatera itu melewati hutan-hutan dan perkampungan dengan rumah yang jarang-jarang. Pohon-pohon duku yang berbuah sesekali terlihat di pinggir hutan. Pohon duku yang batangnya tinggi itu terlihat sudah berusia tua. Entah siapa yang menanam pohon duku itu, mungkin kakek moyang mereka, yang diwariskan turun temurun ke anak cucu mereka dan memberi manfaat (rezeki) hingga sekarang.

Kembali ke buah duku di Bandung tadi. Berton-ton buah duku palembang dari Sumatera Selatan menyerbu kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Mereka menjajakannya pada lapak-lapak buah dan mobil bak terbuka di pinggir jalan. Ketika saya beli kemaren harganya sudah turun Rp15.000/kg, beberapa minggu lalu masih Rp25.000/kg. Kalau mau lebih turun lagi, tunggu dua minggu hingga satu bulan lagi, harganya akan menjadi Rp15.000 per 2 kg seperti foto tahun lalu di bawah ini.

duku palembang 2

Orang Sunda menyebutnya buah dukuh (ada tambahan huruf “h” di belakang seperti halnya orang Sunda menyebut sepeda dengan sepedah, mama dengan mamah, dsb). Karena buah duku yang terkenal adalah duku palembang, maka kita harus jeli sebelum membeli. Banyak varian buah duku lokal dari daerah-daerah lain di Jawa Barat, tapi soal rasa jelas jauh berbeda dengan duku palembang. Pedagang yang tidak mau tahu tetap menyebutnya duku palembang meskipun buah dukunya tidak berasal dari Sumsel. Pedagang yang nakal mencampurkan buah duku palembang dengan buah duku lokal, hasilnya buah duku palembang yang sudah tidak murni lagi. Pedagang pada foto di atas menuliskan “Dukuh Asli Palembang” pada selembar karton untuk meyakinkan pembeli, sementara pedagang lain menuliskan “Dukuh Palembang asli Komering”. He..he, sudah Palembang pakai Komering lagi. Duku komering, duku baturaja, duku muaraenim, ya sama saja semuanya, tetap disebut duku palembang.


Written by rinaldimunir

April 21st, 2014 at 11:54 am

Posted in Gado-gado

Duku Palembang atau Duku Baturaja?

without comments

Habis musim rambutan terbitlah duku. :-)

Sewaktu melewati daerah Arcamanik kemarin, ada pedagang buah duku palembang yang menggelar dagangannya di dalam mobil bak terbuka. Pemandangan mobil bak terbuka penjual buah duku jamak ditemukan di Bandung saat ini. Melihat buah dukunya yang ranum-ranum, saya pun tertarik untuk membelinya.

duku palembang

Sekedar basa-basi saya bertanya apakah buah duku tersebut benar duku palembang (maklum ada juga buah duku lokal dari Ciamis yang bentuk dan tampilannya mirip dengan duku palembang, tetapi rasanya agak masam).

Saya: “Ini asli duku palembang, Bu?”
Pedagang: “Ini duku dari Baturaja, Pak”

Dalam hati saya berkata, bukankah Baturaja itu di Sumatera Selatan juga. Apa bedanya?

Ups, saya tersadar. Ya benar, buah duku tersebut tidak berasal dari Palembang (Sumsel), setahu saya tidak ada pohon duku di Palembang (CMIIW). Buah duku berasal dari daerah pedalaman Sumsel seperti Baturaja, Muaraenim, Ogan Komering, dsb. Namun orang awam kan tidak tahu Baturaja itu di mana, Muaraenim di mana, Ogan Komering di mana, tahunya cuma Palembang, jadi ya sudah disebut saja duku palembang saja (p kecil, bukan P besar).

Saya pernah melewati daerah pedalaman Sumatera Selatan, itu dulu zaman saya masih mahasiswa ketika pulang kampung dengan bus ke Padang. Sekarang sudah jarang orang pulang kampung dengan bus, biasanya ya naik pesawat saja yang ongkosnya tidak jauh berbeda bila naik bus. Nah, selepas Provinsi Lampung bus memasuki daerah Sumatera Selatan. Ketika melewati daerah Baturaja dan Muaraenim, banyak sekali pedagang buah duku di pinggir jalan Lintas Sumatera. Jalan Lintas Sumatera itu melewati hutan-hutan dan perkampungan dengan rumah yang jarang-jarang. Pohon-pohon duku yang berbuah sesekali terlihat di pinggir hutan. Pohon duku yang batangnya tinggi itu terlihat sudah berusia tua. Entah siapa yang menanam pohon duku itu, mungkin kakek moyang mereka, yang diwariskan turun temurun ke anak cucu mereka dan memberi manfaat (rezeki) hingga sekarang.

Kembali ke buah duku di Bandung tadi. Berton-ton buah duku palembang dari Sumatera Selatan menyerbu kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Mereka menjajakannya pada lapak-lapak buah dan mobil bak terbuka di pinggir jalan. Ketika saya beli kemaren harganya sudah turun Rp15.000/kg, beberapa minggu lalu masih Rp25.000/kg. Kalau mau lebih turun lagi, tunggu dua minggu hingga satu bulan lagi, harganya akan menjadi Rp15.000 per 2 kg seperti foto tahun lalu di bawah ini.

duku palembang 2

Orang Sunda menyebutnya buah dukuh (ada tambahan huruf “h” di belakang seperti halnya orang Sunda menyebut sepeda dengan sepedah, mama dengan mamah, dsb). Karena buah duku yang terkenal adalah duku palembang, maka kita harus jeli sebelum membeli. Banyak varian buah duku lokal dari daerah-daerah lain di Jawa Barat, tapi soal rasa jelas jauh berbeda dengan duku palembang. Pedagang yang tidak mau tahu tetap menyebutnya duku palembang meskipun buah dukunya tidak berasal dari Sumsel. Pedagang yang nakal mencampurkan buah duku palembang dengan buah duku lokal, hasilnya buah duku palembang yang sudah tidak murni lagi. Pedagang pada foto di atas menuliskan “Dukuh Asli Palembang” pada selembar karton untuk meyakinkan pembeli, sementara pedagang lain menuliskan “Dukuh Palembang asli Komering”. He..he, sudah Palembang pakai Komering lagi. Duku komering, duku baturaja, duku muaraenim, ya sama saja semuanya, tetap disebut duku palembang.


Written by rinaldimunir

April 21st, 2014 at 11:54 am

Posted in Gado-gado

Jokowi dan Mahasiswa ITB

without comments

Aksi demo mahasiswa ITB yang menolak kehadiran Pak Jok(owi) yang akan mengisi kuliah umum di Kampus ITB pada hari Kamis yang lalu masih menyisakan polemik di milis-milis, media sosial, dan media daring. Di milis dosen ITB aksi mahasiswa tersebut menimbulkan diskusi dan perdebatan hangat hingga tulisan ini dibuat. Saya tegaskan bahwa ini adalah aksi mahasiswa ITB sebagai sebuah komunitas, bukan aksi sebagian mahasiswa, karena yang melakukan aksi demo tersebut adalah atas nama Keluarga Mahasisa (KM) ITB. Karena KM merepresentasikan atau mewakili mahasiswa ITB, maka aksi tersebut dapat disebut sebagai aksi mahasiswa ITB keseluruhan, terlepas ada yang tidak setuju, tidak mau, atau tidak mau tahu (apatis).

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Menurut yang saya simak dari berbagai pemberitaan, mahasiswa ITB tidak menolak kehadiran Pak Jok sebagai personil, tetapi mereka menolak politisasi kampus. Meskipun kehadiran Pak Jok adalah sebagai Gubernur DKI, namun sukar membedakan Pak Jok sebagai kader PDIP, Gubernur DKI, dan Calon Presiden (capres) dari PDIP. (Baca: Jokowi Didemo Saat Akan Kuliah Umum, Ini Sikap Keluarga Mahasiswa ITB). Walaupun KM-ITB sudah melakukan klarifikasi, namun pemberitaan di media daring dan diskusi di media sosial berkembang ke arah yang liar dan tidak terkendali. Mahasiswa ITB dibuli-buli di media sosial. Ada yang curiga bahwa aksi menolak Pak Jok didalangi oleh partai tertentu, atau mahasiswa-mahasiswa yang demo tersebut terkontaminasi politik partisan, demo bayaran, bahkan Masjid Salman yang tidak ada hubungannya dengan demo tersebut ikut dibawa-bawa dalam persoalan ini. Karena ini tahun politik, maka apapun bisa dipolitisasi dan berkembang menjadi teori konspirasi.

Aksi demo mahasiswa ITB itu menurut saya cukup mengagetkan, sebab sudah cukup lama mahasiswa ITB berada dalam diam. Sikap mahasiswa yang apatis terhadap politik dan lebih menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan aktivitas kampus telah membuat kampus ITB tidak lekat lagi dengan aksi-aksi demonstrasi seperti romantisme mahasiswa sebelum tahun 1998. Tiba-tiba saja mereka melakukan aksi demo yang tergolong besar, bersatu padu, membuat tameng, sampai-sampai adu ngotot dan tarik-tarikan dengan pihak keamanan. Ini artinya mahasiswa ITB sudah mulai aware dengan persoalan bangsa. Baguslah kalau sudah mulai peduli.

Dalam pandangan saya kehadiran Pak Jok ke kampus ITB momen waktunya memang tidak pas, yaitu menjelang masa Pilpres, karena itu wajar jika mahasiswa ITB menolak karena dikhawatirkan membawa kampanye terselubung. Jika dia datang seusai Pilpres tentu ceritanya akan lain. Meskipun demikian, bukan berarti aksi demo itu tanpa kritik. Walaupun dalam beberapa tulisan saya sering mengkritisi Pak Jok, namun cara-cara yang ditempuh oleh para mahasiswa tersebut menurut saya kurang elegan kalau tidak bisa dibilang berlebihan. Kenapa harus pakai adu otot segala? Kenapa tidak pakai otak? Bukankah mahasiswa itu kaum intelek yang dapat berpikir dengan rasio dan nalar. Pak Jok diundang oleh ITB, maka seharusnya pihak pengundanglah yang harus didemo dan diprotes, bukan Pak Jok nya. Begitupun dalam melakukan protes ada cara yang lebih intelek. Kalau anda tetap menolak politisasi kampus oleh Pak Jok, anda tidak perlu menghadang Pak Jok memasuki kampus dengan otot. Anda cukup berbaris di depan gerbang membawa poster dan spanduk penolakan politisasi kampus, nanti ketika Pak Jok masuk dia akan membacanya. Cara demo seperti ini sering saya lihat di TV yang dilakukan oleh masyarakat Eropa ketika mereka melakukan demo dengan cara damai. Toh menurut saya Pak Jok bakal tahu diri bahwa dia diundang memberi kuliah umum, bukan berbicara masalah copras capres. Kita belum mendengar apa yang dia sampaikan, maka kita belum dapat menyimpulkan dia melakukan kampanye terselubung, bukan?

Netralitas kampus sih saya setuju jika itu diartikan kampus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Tetapi, politisasi kampus menurut saya istilah yang absurd. Apa artinya? Politik masuk kampus? Politisi masuk kampus? Menjadikan kampus untuk tujuan politik? Beberapa bulan lalu Pak Aburizal Bakrie dan Partai Golkar pernah datang ke kampus ITB Jatinangor untuk melakukan diskusi, tetapi saya tidak mendengar ada aksi demo/penolakan dari mahasiswa (mahasiswa tidak tahu atau karena Ical alumni ITB?). Pak Hatta Radjasa pun sudah beberapa kali ke kampus, toh adem-adem saja. Dalam pandangan saya silakan saja para politisi masuk ke kampus dan melakukan diskusi, silakan saja mereka memaparkan pandangan-pandangannya. Kalau perlu undang semuanya, tidak hanya satu orang. Toh mahasiswa (ITB) cukup cerdas untuk menilai dan memilah, mereka tidak akan menelan bulat-bulat begitu saja pandangan-pandangan tersebut. Mereka dapat mengritisi, mencecar, dan beradu argumentasi dengan para politisi itu. Kalau ini yang terjadi maka terciptalah mimbar akademis yang sehat. Mahasiswa tidak anti politik, mereka perlu tahu politik, toh ini negara milik mereka juga.


Written by rinaldimunir

April 20th, 2014 at 11:30 am

Jokowi dan Mahasiswa ITB

without comments

Aksi demo mahasiswa ITB yang menolak kehadiran Pak Jok(owi) yang akan mengisi kuliah umum di Kampus ITB pada hari Kamis yang lalu masih menyisakan polemik di milis-milis, media sosial, dan media daring. Di milis dosen ITB aksi mahasiswa tersebut menimbulkan diskusi dan perdebatan hangat hingga tulisan ini dibuat. Saya tegaskan bahwa ini adalah aksi mahasiswa ITB sebagai sebuah komunitas, bukan aksi sebagian mahasiswa, karena yang melakukan aksi demo tersebut adalah atas nama Keluarga Mahasisa (KM) ITB. Karena KM merepresentasikan atau mewakili mahasiswa ITB, maka aksi tersebut dapat disebut sebagai aksi mahasiswa ITB keseluruhan, terlepas ada yang tidak setuju, tidak mau, atau tidak mau tahu (apatis).

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Menurut yang saya simak dari berbagai pemberitaan, mahasiswa ITB tidak menolak kehadiran Pak Jok sebagai personil, tetapi mereka menolak politisasi kampus. Meskipun kehadiran Pak Jok adalah sebagai Gubernur DKI, namun sukar membedakan Pak Jok sebagai kader PDIP, Gubernur DKI, dan Calon Presiden (capres) dari PDIP. (Baca: Jokowi Didemo Saat Akan Kuliah Umum, Ini Sikap Keluarga Mahasiswa ITB). Walaupun KM-ITB sudah melakukan klarifikasi, namun pemberitaan di media daring dan diskusi di media sosial berkembang ke arah yang liar dan tidak terkendali. Mahasiswa ITB dibuli-buli di media sosial. Ada yang curiga bahwa aksi menolak Pak Jok didalangi oleh partai tertentu, atau mahasiswa-mahasiswa yang demo tersebut terkontaminasi politik partisan, demo bayaran, bahkan Masjid Salman yang tidak ada hubungannya dengan demo tersebut ikut dibawa-bawa dalam persoalan ini. Karena ini tahun politik, maka apapun bisa dipolitisasi dan berkembang menjadi teori konspirasi.

Aksi demo mahasiswa ITB itu menurut saya cukup mengagetkan, sebab sudah cukup lama mahasiswa ITB berada dalam diam. Sikap mahasiswa yang apatis terhadap politik dan lebih menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan aktivitas kampus telah membuat kampus ITB tidak lekat lagi dengan aksi-aksi demonstrasi seperti romantisme mahasiswa sebelum tahun 1998. Tiba-tiba saja mereka melakukan aksi demo yang tergolong besar, bersatu padu, membuat tameng, sampai-sampai adu ngotot dan tarik-tarikan dengan pihak keamanan. Ini artinya mahasiswa ITB sudah mulai aware dengan persoalan bangsa. Baguslah kalau sudah mulai peduli.

Dalam pandangan saya kehadiran Pak Jok ke kampus ITB momen waktunya memang tidak pas, yaitu menjelang masa Pilpres, karena itu wajar jika mahasiswa ITB menolak karena dikhawatirkan membawa kampanye terselubung. Jika dia datang seusai Pilpres tentu ceritanya akan lain. Meskipun demikian, bukan berarti aksi demo itu tanpa kritik. Walaupun dalam beberapa tulisan saya sering mengkritisi Pak Jok, namun cara-cara yang ditempuh oleh para mahasiswa tersebut menurut saya kurang elegan kalau tidak bisa dibilang berlebihan. Kenapa harus pakai adu otot segala? Kenapa tidak pakai otak? Bukankah mahasiswa itu kaum intelek yang dapat berpikir dengan rasio dan nalar. Pak Jok diundang oleh ITB, maka seharusnya pihak pengundanglah yang harus didemo dan diprotes, bukan Pak Jok nya. Begitupun dalam melakukan protes ada cara yang lebih intelek. Kalau anda tetap menolak politisasi kampus oleh Pak Jok, anda tidak perlu menghadang Pak Jok memasuki kampus dengan otot. Anda cukup berbaris di depan gerbang membawa poster dan spanduk penolakan politisasi kampus, nanti ketika Pak Jok masuk dia akan membacanya. Cara demo seperti ini sering saya lihat di TV yang dilakukan oleh masyarakat Eropa ketika mereka melakukan demo dengan cara damai. Toh menurut saya Pak Jok bakal tahu diri bahwa dia diundang memberi kuliah umum, bukan berbicara masalah copras capres. Kita belum mendengar apa yang dia sampaikan, maka kita belum dapat menyimpulkan dia melakukan kampanye terselubung, bukan?

Netralitas kampus sih saya setuju jika itu diartikan kampus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Tetapi, politisasi kampus menurut saya istilah yang absurd. Apa artinya? Politik masuk kampus? Politisi masuk kampus? Menjadikan kampus untuk tujuan politik? Beberapa bulan lalu Pak Aburizal Bakrie dan Partai Golkar pernah datang ke kampus ITB Jatinangor untuk melakukan diskusi, tetapi saya tidak mendengar ada aksi demo/penolakan dari mahasiswa (mahasiswa tidak tahu atau karena Ical alumni ITB?). Pak Hatta Radjasa pun sudah beberapa kali ke kampus, toh adem-adem saja. Dalam pandangan saya silakan saja para politisi masuk ke kampus dan melakukan diskusi, silakan saja mereka memaparkan pandangan-pandangannya. Kalau perlu undang semuanya, tidak hanya satu orang. Toh mahasiswa (ITB) cukup cerdas untuk menilai dan memilah, mereka tidak akan menelan bulat-bulat begitu saja pandangan-pandangan tersebut. Mereka dapat mengritisi, mencecar, dan beradu argumentasi dengan para politisi itu. Kalau ini yang terjadi maka terciptalah mimbar akademis yang sehat. Mahasiswa tidak anti politik, mereka perlu tahu politik, toh ini negara milik mereka juga.


Written by rinaldimunir

April 20th, 2014 at 11:30 am

Lembaga Survey Menjadi Alat Propaganda?

without comments

Pemilu 2014 telah menjatuhkan kredibilitas lembaga-lembaga survey. Prediksi mereka sebagian besar salah dan memang sering salah dalam berbagai Pemilu dan Pilkada. Partai yang diklaim mendapat suara kecil dan tidak lolos ambang parlemen (umumnya partai-partai berbasis Islam seperti PKB, PAN, PPP, dan PKS) ternyata mendapat suara signifikan, kecuali untuk PKS yang mengalami penurunan sedikit. Partai yang diprediksi menang tebal (PDIP) dan dominan ternyata tidak terbukti. Efek Jokowi yang digembar-gemborkan oleh lembaga-lemabga survey tersebut ternyata hanya pepesan kosong. Demokrat tidak jatuh-jatuh amat, Gerinda melesat dua kali lipat, dan Golkar tetap stagnan. Hasil-hasil ini sangat jauh berbeda dari prediksi lembaga-lembaga survey yang digaungkan sejakk jauh hari hingga memasuki masa tenang.

Lembaga survey boleh saja berkilah bahwa ada sekian puluh persen responden yang belum menentukan pilihan partai, karena itu hasilnya boleh saja meleset. Namun dengan gembar-gembor margin eror 1% hingga 1,5% (sehingga dikesankan hasil surveynya sangat akurat) mengapa deviasinya begitu jomplang?

Saya menangkap kesan banyak lembaga survey tersebut yang tidak netral dalam melakukan survey. Menurut saya survey yang mereka lakukan adalah pesanan partai atau lembaga tertentu dan karena itu hasilnya cenderung bias. Coba periksa, apakah ada lembaga survey yang menyebutkan sumber pendanaannya? Pasti tidak mau, bukan? Melakukan survey itu biayanya mahal, tidak mungkin lembaga survey itu mendanai sendiri surveynya, mereka pasti ingin mencari duit juga. Sumber penghidupan mereka adalah dari si pemberi dana. Maka, sumber dana dari partai atau kelompok tertentu adalah sebuah keniscayaan, dan hasil surveynya tentu seharusnya “memuaskan” pemberi dana tadi. Ah, nggak tahulah, apakah hasil survey tersebut dimanipulasi oleh lembaga-lembaga tadi untuk menampilkan hasil yang diinginkan oleh sumber dana.

Saya juga mempertanyakan metodologi yang mereka gunakan dalam melakukan survey. Mosok untuk 250 juta lebih penduduk Indonesia hanya diambil sampel 1000 hingga 3000 orang saja? Dalam teori statistik saya pelajari jika ukuran sampelnya sangat sedikit dibandingkan dengan ukuran populasi maka eror estimasinya akan sangat besar.

Dalam Pemilu tahun 2014 ini lembaga-lembaga survey telah berperan sebagai alat untuk menggiring opini publik ke partai tertentu. Tokoh atau partai tertentu diagung-agungkan, sementara partai-partai lain dipojokkan. Lembaga-lembaga survey berkali-kali memprediksi Pemilu 2014 adalah kuburan bagi partai-partai Islam. Dengan dukungan media yang menjadi corongnya, partai-partai Islam itu diprediksi akan tamat riwayatnya. Lihatlah hasil survey yang diberitakan di dalam media ini: Survei: Partai Islam Tak Diminati Pemilih Pemula, atau berita ini: Pemilih Partai Islam ‘Mengungsi’ ke PDI Perjuangan. Dengan memaparkan hasil-hasil survey tersebut mereka menggiring opini publik untuk menjauhi partai-partai Islam dan mengarahkan ke partai tertentu.

Pertanyaannya, kenapa justru partai-partai islam yang dizalimi? Entah skenario apa yang diinginkan oleh lembaga-lembaga atau orang dibalik lembaga tersebut. Saya menduga lembaga-lembaga survey tersebut telah menjadi alat propaganda politik. Mereka tidak lagi berdiri di atas obyektivitas ilmu, tetapi mereka telah menyalaghunakan ilmunya untuk kepentingan yang tidak berdasar.

Kesalahan kita adalah mempercayai hasil-hasil lembaga survey tersebut. Pesan moralnya janganlah mempercayai hasil-hasil lembaga survey. Lembaga-lembaga survey telah gagal menangkap realita yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia.


Written by rinaldimunir

April 16th, 2014 at 5:30 pm

Posted in Indonesiaku

Lembaga Survey Menjadi Alat Propaganda?

without comments

Pemilu 2014 telah menjatuhkan kredibilitas lembaga-lembaga survey. Prediksi mereka sebagian besar salah dan memang sering salah dalam berbagai Pemilu dan Pilkada. Partai yang diklaim mendapat suara kecil dan tidak lolos ambang parlemen (umumnya partai-partai berbasis Islam seperti PKB, PAN, PPP, dan PKS) ternyata mendapat suara signifikan, kecuali untuk PKS yang mengalami penurunan sedikit. Partai yang diprediksi menang tebal (PDIP) dan dominan ternyata tidak terbukti. Efek Jokowi yang digembar-gemborkan oleh lembaga-lemabga survey tersebut ternyata hanya pepesan kosong. Demokrat tidak jatuh-jatuh amat, Gerinda melesat dua kali lipat, dan Golkar tetap stagnan. Hasil-hasil ini sangat jauh berbeda dari prediksi lembaga-lembaga survey yang digaungkan sejakk jauh hari hingga memasuki masa tenang.

Lembaga survey boleh saja berkilah bahwa ada sekian puluh persen responden yang belum menentukan pilihan partai, karena itu hasilnya boleh saja meleset. Namun dengan gembar-gembor margin eror 1% hingga 1,5% (sehingga dikesankan hasil surveynya sangat akurat) mengapa deviasinya begitu jomplang?

Saya menangkap kesan banyak lembaga survey tersebut yang tidak netral dalam melakukan survey. Menurut saya survey yang mereka lakukan adalah pesanan partai atau lembaga tertentu dan karena itu hasilnya cenderung bias. Coba periksa, apakah ada lembaga survey yang menyebutkan sumber pendanaannya? Pasti tidak mau, bukan? Melakukan survey itu biayanya mahal, tidak mungkin lembaga survey itu mendanai sendiri surveynya, mereka pasti ingin mencari duit juga. Sumber penghidupan mereka adalah dari si pemberi dana. Maka, sumber dana dari partai atau kelompok tertentu adalah sebuah keniscayaan, dan hasil surveynya tentu seharusnya “memuaskan” pemberi dana tadi. Ah, nggak tahulah, apakah hasil survey tersebut dimanipulasi oleh lembaga-lembaga tadi untuk menampilkan hasil yang diinginkan oleh sumber dana.

Saya juga mempertanyakan metodologi yang mereka gunakan dalam melakukan survey. Mosok untuk 250 juta lebih penduduk Indonesia hanya diambil sampel 1000 hingga 3000 orang saja? Dalam teori statistik saya pelajari jika ukuran sampelnya sangat sedikit dibandingkan dengan ukuran populasi maka eror estimasinya akan sangat besar.

Dalam Pemilu tahun 2014 ini lembaga-lembaga survey telah berperan sebagai alat untuk menggiring opini publik ke partai tertentu. Tokoh atau partai tertentu diagung-agungkan, sementara partai-partai lain dipojokkan. Lembaga-lembaga survey berkali-kali memprediksi Pemilu 2014 adalah kuburan bagi partai-partai Islam. Dengan dukungan media yang menjadi corongnya, partai-partai Islam itu diprediksi akan tamat riwayatnya. Lihatlah hasil survey yang diberitakan di dalam media ini: Survei: Partai Islam Tak Diminati Pemilih Pemula, atau berita ini: Pemilih Partai Islam ‘Mengungsi’ ke PDI Perjuangan. Dengan memaparkan hasil-hasil survey tersebut mereka menggiring opini publik untuk menjauhi partai-partai Islam dan mengarahkan ke partai tertentu.

Pertanyaannya, kenapa justru partai-partai islam yang dizalimi? Entah skenario apa yang diinginkan oleh lembaga-lembaga atau orang dibalik lembaga tersebut. Saya menduga lembaga-lembaga survey tersebut telah menjadi alat propaganda politik. Mereka tidak lagi berdiri di atas obyektivitas ilmu, tetapi mereka telah menyalaghunakan ilmunya untuk kepentingan yang tidak berdasar.

Kesalahan kita adalah mempercayai hasil-hasil lembaga survey tersebut. Pesan moralnya janganlah mempercayai hasil-hasil lembaga survey. Lembaga-lembaga survey telah gagal menangkap realita yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia.


Written by rinaldimunir

April 16th, 2014 at 5:30 pm

Posted in Indonesiaku