if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2014

Profesor Bukan Gelar, tetapi Jabatan

without comments

Ribut-ribut pemberitaan tentang gelar profesor di depan nama Rhoma Irama membuat saya harus menjelaskan lagi melalui tulisan ini. Di negara kita profesor bukanlah gelar akademik seperti halnya Dr, M.Sc, S.T, dan sebagainya (baca berita ini), tetapi profesor adalah sebuah jabatan akademik yang diberikan kepada Guru Besar.

Seorang akademisi mempunyai jenjang karir secara bertahap yang dinyatakan dalam bentuk jabatan akademik (dulu istilahnya jabatan fungsional), lihat Permenpan No 46 2013 (Perubahan dari Permenpan 17 2013). Jabatan akademik itu ada empat tingkat. Yang pertama Asisten Ahli, kedua Lektor, ketiga Lektor Kepala, dan yang tertinggi adalah Profesor. Untuk naik dari satu jabatan akademiki ke jabatan akademik lain harus memenuhi sejumlah angka kredit (Kum) yang telah ditetapkan oleh Dikti. Penilaian angka kredit itu dihitung dari tiga aspek tridharma, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat. Seorang sarjana atau magister yang pertama kali menjadi dosen akan mendapat jabatan akademik Asisten Ahli. Jika dia mengambil S3 dan mengurus kenaikan jabatan, jabatan akademiknya dapat ditingkatkan menjadi Lektor, selanjutnya Lektor Kepala, dan akhirnya Profesor.

Gelar akademik adalah gelar yang dicapai seseorang setelah menempuh pendidikan. Untuk orang yang telah menempuh program pendidikan S3, maka gelarnya adalah Dr atau Ph.D. Untuk orang yang telah menempuh S2, gelarnya adalah M.T, M.Sc, M.Si, MBA, M.Ag, dan lain-lain. Untuk orang yang telah lulus sarjana gelarnya macam-macam, S.T, S.Si, S.Ked., S.E, S.Sos, dan sebagainya bergantung bidang ilmu yang diambilnya.

Nah, untuk menjadi Profesor tidak ada sekolahnya, tidak ada program pendidikannya, tidak ada kursusnya, dan tidak ada pelatihannya. Pendidikan tertinggi adalah stara S3 yang merupakan puncak dari pendidikan formal. Jabatan profesor tidak otomatis diperoleh setiap akademisi, jabatan tersebut akan dicapai setelah melalui tahap pencapaian angka kredit tertentu (saya lupa angka persisnya berapa). Dia harus sering meneliti dan membuat publikasi, terutama publikasi internasional, dari hasil-hasil risetnya. Setelah angka kredit kenaikan jabatannya mencukupi, maka universitas tempat dia mengabdi melakukan review atau penilaian untuk menentukan apakah dia layak menjadi Guru Besar. Proses ini berlanjut hingga ke tingkat Kementerian sebelum akhirnya jabatan profesornya ditetapkan oleh Presiden .

Adapun jabatan itu hanya berlaku ketika dia berada di lingkungan akademik. Jika seorang profesor sudah pensiun, maka jabatan profesornya otomatis hilang. Jika dia mengundurkan diri (atau diberhentikan) dari kampus, maka dia tidak berhak lagi menyandang jabatan profesor. Contohnya Pak Amien Rais dan Pak Yusril Ihza Mahendra, keduanya dulu adalah profesor di kampusnya (UGM dan UI). Namun, ketika mereka mengundurkan diri dari kampus karena terjun ke politik praktis, maka kata Prof di depan namanya tidak boleh dipakai lagi.

Penyebutan profesor sebagai gelar memang dimungkinkan untuk profesor kehormatan (honorary professor). Beberapa perguruan tinggi di luar negeri memberi gelar honorary professor pada orang-orang terkenal seperti artis, atlit, dan orang-orang yang punya pencapaian istimewa lainnya, meskipun untuk mendapat gelar tersebut mereka tidak melakukan pekerjaan akademik (Baca di Wikipedia ini) di universitas yang memberikannya. Saya tidak tahu di mana Bang Haji Rhoma mendapat gelar profesor kehormatan (kalau memang benar), dan apakah perguruan tingginya kredibel. Jangan-jangan itu perguruan tinggi abal-abal yang memang senang memberi gelar kehormatan dengan membayar sejumlah upeti (Baca: Kampus Profesor Rhoma Tak Terakreditasi di Mana pun). Indonesia tidak ada perguruan tinggi yang memberikan gelar profesor kehormatan kepada seseorang karena memang tidak sesuai dengan aturan kenaikan jabatan akademik yang ditetapkan oleh Dikti.

Masyarakat kita sudah terlanjur salah kaprah dengan menganggap profesor adalah gelar. Barangkali ini karena warisan tradisi Belanda. Menurut seorang rekan, Belanda dan Jerman hampir mirip tradisi akademiknya. Di Jerman gelar ditulis abadi selama hidup. Di Jerman gelar profesor kehormatan ditulis di depan namanya sebagai Prof (hc), jika “hc”-nya banyak maka ditulis Prof hc (mult)badi dan ditulis di depan namanya sampai sudah mati sekalipun.


Written by rinaldimunir

February 27th, 2014 at 5:30 pm

Masakan Padang Itu Sehat (Tidak Perlu Khawatir Lagi dengan “Hantu” Kolesterol)

without comments

Hampir semua orang di Indonesia suka dengan masakan Minangkabau (yang disederhanakan dengan nama “masakan padang”). Masakannya enak dan selalu mengundang selera. Tidak heran rumah makan padang ada di mana-mana di seluruh tanah air, bahkan hingga ke luar negeri, karena penggemarnya juga ada di mana-mana.

Namun sebagian orang membatasi diri mengkonsumsi masakan padang karena takut dengan “hantu” kolesterol. Masakan padang sering dianggap sumber kolesterol karena umumnya masakannya bersantan. Masakan yang bersantan itu ditemukan pada aneka gulai seperti gulai ayam, gulai tambunsu (usus), gulai tunjang, gulai otak, kalio daging, rendang, dan sebagainya. Santan pada masakan inilah yang dianggap sebagai biang kolesterol sehingga menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Tiap kali mau makan masakan padang, orang yang dihantui dengan kolesterol tinggi mencoba menahan seleranya.

Benarkah santan pada masakan padang sebagai sumber kolesterol? Hal itu dibantah oleh Guru Besar Ilmu Gizi dari Universitas Andalas Padang, Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, seperti yang diberitakan pada artikel di situs ini . Menurut hasil penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, orang Minang tahu rahasia sehat masakan padang. Bumbu-bumbu pada santan seperti jahe, kunyit, lengkuas, bawang merah, bawang putih, cabe, serai, daun salam, daun limau, dan daun-daun lainnya berfungsi sebagai antioksidan, dan antioksidan itu menetralisir lemak jenuh yang terdapat pada santan dan daging hewan.

Dikutip dari artikel tersebut:

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

(Sumber: Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang. Artikel lengkapnya saya lampirkan pada bagian bawah apabila Anda kesulitan mengakses situs tersebut.)

Setelah membaca artikel tersebut saya merasa lega, mungkin juga Anda yang sering merasa was-was bila mengkonsumsi masakan padang. Kekhawatiran bahwa masakan padang sebagai sumber kolesterol telah terpatahkan dengan penelitian profesor Unand ini. Meskipun demikian, saya tetap meyakini bahwa penyakit datang apabila kita makan secara berlebihan, tak peduli masakannya memakai santan atau tidak. Makan yang berlebih-lebihan itu adalah sumber penyakit. Di mana-mana yang berlebihan itu tidak baik. Sedikit itu baik, cukup tidak mengapa, sedangkan berlebih-lebihan adalah awal dari mala petaka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang

RANAHBERITA– Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (20/11/2013).

Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.

“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara dengan ranahberita.com, Senin (26/11/2013).

Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.

Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.

Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.

“Jadi selama ini kita melihat, kebanyak orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.

Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. “Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Amerika tidak ada makan kelapa. Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda,”

Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.

“Asalkan makannya jangan berlebihan. Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. (Arjuna/Ed1)

Sumber: http://ranahberita.com/news.php?id_news=1876#.Uwyoz_uqNdh


Written by rinaldimunir

February 25th, 2014 at 10:17 pm

Gema Adzan di Bandara Minangkabau Padang

without comments

Jika Anda bepergian dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, adakah sesuatu yang berbeda yang tidak ditemukan di bandara lain di Indonesia?

Bukan bentuk atapnya yang tradisional khas rumah gadang yang membuatnya berbeda, bukan pula karena satu-satunya bandara yang namanya diambil dari nama etnik, bukan itu maksud saya. Tapi, jika anda seorang muslim, maka Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda itu, yaitu dikumandangkannya suara adzan pertanda waktu sholat wajib. Jika anda berada di bandara ini pada waktu masuk shalat, maka jangan kaget tiba-tiba terdengar suara adzan menggema melalui pengeras suara, menembus semua sudut dan ruang-ruang di bandara, mengingatkan umat muslim bahwa waktu sholat wajib sudah tiba dan segeralah menunaikan shalat. Setahu saya baru adzan Magrib dan Dhuhur yang pernah saya dengar.

Suasana di dalam bandara

Suasana di dalam bandara

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Saya tiba di bandara ini beberapa saat sebelum masuk adzan Maghrib. Ketika sedang chek-in, bergemalah suara adzan Maghrib. Terlihat orang-orang menuju mushola kecil di lantai dua. Karena tempat wudhu kecil dan ruang sholat juga kecil, maka sholat harus bergiliran (lihat foto di atas). Bahkan, karena sempitnya mushola, maka terpaksa lorong di sebelah mushola dimanfaatkan sebagai mushola kedua.

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Sebagai daerah yang mempunyai filosofi adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah (yang artinya adat bersendikan pada syariat agama yaitu Islam, dan syariat agama bersendikan pada kitab suci Al-Quran), maka salah satu pengejawantahan filosofi itu mungkin gema adzan pada ruang publik seperti bandara ini. Meskipun filosofi Minangkabau tersebut saat ini sudah mulai terlihat luntur dan kurang dipegang teguh oleh sebagian masyarakatnya (contohnya kemaksiatan yang banyak terdapat di sepanjang Pantai Padang), tetapi masih ada usaha Pemerintah Daerah untuk tetap melestarikan filosofi tersebut, antara lain gema adzan di bandara BIM ini.

Saya katakan gema adzan di bandara hanya ada di BIM karena di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh sendiri saya tidak mendengar suara adzan melalui pengeras suara di bandara tersebut (koreksi jika saya salah). Itu pengalaman saya ketika ke Banda Aceh beberapa tahun lalu, padahal Aceh adalah daerah dengan penerapan Syariat Islam.

Semoga gema adzan di BIM tetap lestari dan dipertahankan oleh pengelola bandara sebagai salah satu ciri khas bandara ini.


Written by rinaldimunir

February 23rd, 2014 at 8:03 pm

Mang Tata Pengasah Gunting dan Pisau

without comments

Rumah saya hampir setiap hari didatangi orang-orang kecil yang mencari nafkah. Ada tukang sabit rumput, pedagang lauk impun, pedagang tahu, pedagang stroberi, ibu penjual ubi cilembu, pengamen, tukang rongsok, dan lain-lain. Selagi ada uang di rumah, saya beli dagangan mereka sekedar membantu melariskan dagangan, atau saya iyakan tawaran jasa yang mereka tawarkan.

Salah satu dari mereka adalah Mang Tata, yang secara rutin setiap tiga bulan datang ke rumah menawarkan jasa asah gunting dan pisau. Seperti kemarin pagi, dia datang menanyakan apakah akan mengasah gunting dan pisau lagi. Sebenarnya pisau dan gunting di rumah masih tajam-tajam, belum perlu diasah lagi, tetapi saya tidak tega untuk menolaknya. Mungkin Mang Tata sedang butuh uang, kata saya dalam hati.

Saya berikan benda-benda tajam di rumah, dua buah pisau dapur dan sebuah gunting rumput. Muka Mang Tata berbinar-binar menerimanya, dengan sigap dia putar batu gerinda, yaitu alat pengasah benda-benda tajam. Mulailah dia mengasah pisau dan gunting satu per satu-satu.

Mang Tata sedang mengasah pisau pertama

Mang Tata sedang mengasah pisau pertama

Mang Tata sedang tekun mengasah psiau dengan batu gerinda yang berputar

Mang Tata sedang tekun mengasah psiau dengan batu gerinda yang berputar

Sambil memperhatikannya mengasah pisau, seperti biasa naluri rasa ingin tahu saya pun muncul untuk sekedar tahu tentang dirinya. Dia berasal dari Sindanglaya di daerah Bandung Timur (satu daerah dengan Pak Ajun, tukang jahit yang saya ceritakan pada tulisan terdahulu). Setiap hari dia ngider dengan sepeda kecilnya berkeliling perumahan dan perkampungan penduduk untuk menawarkan jasa mengasah gunting dan pisau. Asah guntiiiiing…. asah pisaaaaauuu, teriaknya menawarkan jasa.

Sepeda kecil Mang Tata

Sepeda kecil Mang Tata

Lumayan jauh juga dia berkeliling setiap hari dengan sepeda. Mulai dari Arcamanik, Antapani, Cicadas, hingga sampai ke kawasan Sadang Serang di Bandung Utara. Paling jauh dia menyusuri hingga ke Jalan Pasteur. Lumayan capek juga berkeliling dengan sepeda hingga ke Pasteur.

Penghasilannya setiap hari tidak banyak. Paling tinggi hanya mendapat Rp30.000 kalau lagi banyak orang yang membutuhkan jasanya mengasah pisau, kadang-kadang 20 ribu atau kurang dari itu. Jika dikali sebulan maka totalnya paling banyak 900 ribu rupiah saja, jauh dari UMR Kota Bandung. Oh Allah, hanya untuk mendapatkan uang 30 ribu itu Mang Tata harus memeras keringat setiap hari menawarkan jasa mengasah pisau dan gunting. Bagi sebagian orang uang 30 ribu itu begitu mudah dihabiskan, tetapi bagi Mang Tata mendapatkan 30 ribu rupiah itu sangat tidak mudah. Dengan pendapatan per hari 30 ribu rupiah Mang Tata harus menghidupi seorang istri dan dua orang anaknya yang masih sekolah.

Batu gerinda, sumber penghidupan Mang Tata dan keluarganya

Batu gerinda, sumber penghidupan Mang Tata dan keluarganya

Berkeliling menawarkan jasa asah gunting dan pisau dilakoninya setiap hari. Hanya itu saja pekerjaan tetap Mang Tata. Sekali-sekali dia bekerja sebagai tukang bangunan jika ada yang meminta bantuannya untuk bekerja membangun rumah orang.

Selesai mengasah pisau pertama, sekarang Mang Tata mengasah pisau saya yang kedua, lalu diakhiri dengan mengasah gunting rumput yang ukurannya besar.

Mengasah pisau kedua

Mengasah pisau kedua

Mengasah gunting rumput

Mengasah gunting rumput

Masih mengasah gunting rumput

Masih mengasah gunting rumput

Berapakah ongkos mengasah pisau dan gunting? Dari tukang asah lain yang pernah datang ke rumah saya mengetahui tarif mengasah hanya Rp2000 per pisau/gunting. Jika untuk mencapai pendapatan 30 ribu rupiah per hari, berarti tukang asah harus mengasah sedikitnya 15 buah pisau atau gunting. Namun, tentu tidak setiap hari ada pisau dan gunting perlu diasah, dan tidak semua orang memerlukan jasanya. Jadi, peluang menemukan rumah yang memerlukan jasa mengasah pisau atau gunting sangatlah kecil.

Mang Tata tidak menetapkan tarif, dia menyerahkan bayaran “terserah” pemilik pisau/gunting. Itu berarti ongkos tergantung kerelaan kita saja, hitung-hitung membantu orang kecil seperti Mang Tata. Semoga barokah ya Mang Tata, biar kecil tetapi halal, ketimbang para pejabat yang korupsi milyaran rupiah namun uangnya haram.


Written by rinaldimunir

February 20th, 2014 at 12:05 pm

Merindukan Ustad yang Santun dan Tawadhu

without comments

Zaman sekarang gampang saja bagi masyarakat dan media menggelari orang yang sedikit pandai berceramah agama dengan sebutan ustad. Dengan modal hafal satu dua ayat atau hadis, lalu berbicara banyak hal sambil sekali-kali mengutip satu dua ayat supaya ceramahnya terkesan berisi, maka dia dijuluki ustad. Apalagi kalau dia punya wajah dan paras lumayan, maka sang ustad didaulat menjadi pengisi ceramah agama di TV. Dalam waktu tidak perlu lama, ustad pun menjelma menjadi ustad seleb dan menjadi idola kaum wanita khususnya ibu-ibu. Kehidupan pribadi ustad-ustad itu, termasuk kisah asmaranya dengan sejumlah wanita, masuk hingga ke kamar-kamar kita melalui media televisi.

Inilah fenomena yang kita saksikan saat ini. Ustad seleb yang sebenarnya minim pengetahuan agama telah “mengalahkan” “ustad-ustad kampung” yang ilmunya lebih mumpuni. Ustad-ustad kampung ini mungkin wajahnya tidak tampan, hidupnya mungkin pas-pasan, tetapi mereka menjalani tugas sebagai dai dengan ikhlas. Tidak terbersit dalam benak mereka menjadikan sebutan ustad sebagai profesi untuk mencari uang. Menjadi penceramah hanyalah pekerjaan sampingan, pekerjaan utama mereka mungkin guru agama, guru mengaji, pedagang buku pinggir jalan, atau petani.

Tetapi bagi para ustad seleb, menjadi ustad adalah profesi yang menggiurkan. Mereka memasang tarif tinggi untuk ceramahnya. Mereka juga mempunyai manager yang mengatur jadwal ceramah termasuk menetapkan tarif. Celakanya, masyarakat kita merasa bangga jika mampu mendatangkan ustad mahal. Semakin mahal sang ustad dan semakin mampu mendatangkannya, semakin banggalah pengundangnya.

Saya pernah menyimak ceramah agama beberapa ustad seleb tersebut di televisi. Menurut saya isi ceramahnya terkesan dangkal. Kebanyakan berisi hal-hal yang bersifat normatif, bersifat umum atau berisikan kalimat-kalimat motivasi. Misalnya imbauan agar kita harus selalu berbuat baik, tidak boleh iri, saling menolong, dan sebagainya. Hanya karena ada taburan satu dua ayat suci dan hadis Nabi yang difasih-fasihkan, maka ceramah yang dibawakannya disebut ceramah agama. Jengah dibuatnya.

Jika ustad sudah memasang tarif dalam berceramah, maka yang kita saksikan adalah bisnis. Agama dibisniskan untuk memperkaya diri. Kita menjadi masygul melihat ada ustad yang pamer mobil Ferrari ketika mengunjungi masyarakat untuk berbagi. Kita juga muak mendengar ada ustad yang memasang tarif tinggi plus disediakan hotel berbintang lima ketika diundang berceramah di luar negeri. Bukannya ustad tidak boleh menerima honor berceramah, tetapi ketika ia menetapkan tarif, apalagi tarif yang wah, maka tidak ada bedanya dia dengan artis yang memasang tarif.

Masyarakat kita terlalu terpesona pada tampilan luar. Mereka mengagumi ustad dari ukuran sorbannya yang besar, berbaju gamis, dan tasbih yang tidak lepas dalam genggaman. Maka, ketika ustad semacam itu men-smack-down orang lain saat berceramah, apakah masih pantas dia disebut ustad?

Tiba-tiba saja saya rindu pada ustad-ustad di kampung yang sederhana, yang selalu rendah hati, dan bersikap santun. Mereka rela jauh-jauh mengunjungi jamaahnya untuk menerangi mereka dengan ilmu agama. Mereka rela dibayar seadanya, bahkan tidak ada sama sekali. Mereka jebolan pesanten, sekolah thawalib, atau sekolah agama lainnya. Penampilan boleh sederhana, tetapi ilmu mereka sangat dalam dan ceramah agama mereka bernas.


Written by rinaldimunir

February 17th, 2014 at 5:18 pm

Posted in Indonesiaku

Sarapan Gratis Buat Mahasiswa dari Koperasi ITB

without comments

Minggu lalu Koperasi Keluarga Pegawai (KKP)-ITB membuat gebrakan yang membuat seisi kampus heboh, yaitu paket sarapan pagi gratis untuk mahasiswa dan karyawan. Paket sarapan gratis itu pada tahap pertama berlangsung setiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Setiap hari disediakan 250 pack paket sarapan. Menu yang disediakan bervariasi setiap hari, hari Selasa nasi uduk, hari Rabu nasi kuning, dan hari Jumat nasi goreng. Paket sarapan gratis itu dibagikan di dekat jajaran ATM di pintu gerbang kampus. Cukup dengan memperlihatkan KTM mereka mendapat paket sarapan.

Sarapan gratis ini disambut meriah oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa kosan. Sebelum menuju ke ruang kuliah mereka mampir dulu di koridor gerbang untuk mengambil paket sarapan, makan, lalu siap kuliah pagi. Sehat dan yang paling penting gratis :-).

Berikut penampakan foto-foto paket sarapan gratis yang dikirim oleh seorang dosen ITB, Pak Andi Oetomo.

Ibu-ibu KKP siap membagikan paket sarapan gratis (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Ibu-ibu KKP siap membagikan paket sarapan gratis (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Paket nasi goreng (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Paket nasi goreng (Photo by Andi Oetomo, dosen ITB)

Pertanyaannya, bagaimana KKP bisa memberikan paket sarapan gratis? Dari mana dananya? Apakah mereka tidak rugi? Dikutip dari rekan kolega saya, Pak Nana Syambas (Ketua KKP-ITB), ini penjelasannya:

“Inilah salah satu bentuk “perniagaan yang tak pernah rugi”. Secara matematika (hal ini) mungkin tidak akan masuk akal. Biaya (sarapan gratis) disisihkan dari sebagian keuntungan divisi Pujasera dan tidak tertutup kemungkinan para donatur.”

Andai saja banyak pelaku usaha yang menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan sosial seperti yang dilakukan KKP-ITB ini, kita mungkin tidak akan mendengar lagi ada warga masyarakat kita yang kekurangan biaya untuk makan, untuk biaya sekolah, dan lain-lain. Sharing is caring, hidup itu indah jika kita bisa berbagi.


Written by rinaldimunir

February 14th, 2014 at 3:36 pm

Posted in Seputar ITB

Layanan “Excellent” dari Maskapai Asing

without comments

Seorang teman mengirimkan tulisan seseorang bernama Mardigu Wowiek dari Facebook. Tulisan tersebut berkisah pengalaman Mardigu mendapatkan layanan yang luar biasa dari Singapore Airlines (SQ) hanya gara-gara ketumpahan sedikit air teh hangat ke jasnya.

Mari kita baca tulisannya di bawah ini, setelah itu saya akan bercerita tentang layanan pramugari di maskapai kita.

~~~~~~~~~~~~

“Kedipan Mata Pramugari SQ”
Oleh: Mardigu Wowiek

Dalam sebuah perjalanan panjang beberapa tahun yang lalu. Saya kelelahan teramat sangat. Duduk di bangku pesawat senyaman apapun kalau lama pegel juga. Di tengah pekerjaan menumpuk, ditengah kelelahan perjalanan panjang tersebut, ada cerita menarik yang saya dapat dipesawat SQ yang saya naiki waktu itu.

Karena mendapat fasilitas dari klien maka saya mendapat tiket business class untuk penerbangan menggunakan Singapore Airline. Perjalanan Bangkok- Singapore menjadi sangat nyaman. Ruang lapang di business class Boing terbaru, makanan yang tak pernah berhenti belum lagi pelayanan lainnya. Namun karena deadline pekerjaan harus selesai. Laptop di meja belakang kursi pesawat tersebut tak pernah berhenti dipergunakan.

Tanpa terasa mata saya perih dan mengantuk. saya lelah sekali. Saya pun terlelap.

“aduh!”,Tiba-tiba saya terbangun karena ada siraman air kebaju saya. saat itu saya mengenakan jas overcoat karena dingin.

“Please forgive me sir..I’ m so sorry!”,seorang pramugari SQ tertunduk-tunduk sambil sibuk menyeka pakaian saya yang tersiram air. Teh hangat. Tepat di dekat pundak kiri.

Karena kaget, saya tak banyak bicara. Tangan saya pun sibuk menyeka tumpahan tersebut. terlihat pramugari tersebut sangat panik. “I’m sorry sir, my mistake..please apologize..”, katanya berulang ulang dan bolak balik dari pantry ke tempat saya duduk.

Setelah saya lihat-lihat kondisi jas tersebut, Saya merasa tidak masalah karena setelah saya perhatikan tak ada bercak pada coat tersebut. Saya pun memilih tidak mempermasalahkan. Lelah tubuh masih mendominasi badan saya jadi saya memilih melanjutkan tidur istirahat saya. Tak lama pramugari itu muncul lagi. Membawa teh hangat. Sambil berkata,” do you want something to drink? Or is there anything you need sir? “

Saya yang lelah memilih sesuatu yang cepat yaitu meng iya kana pa yang di bawa di baki nya tersebut, “tea should be find…”kata saya separoh tidur. Saya letakkan teh panas tersebut di meja depan, lalu bersiap merebahkan kepala kesamping untuk bisa tidur. Wajah pramugari tersebut masih gusar, saya menyadarinya walau sekilas melihat dari sudut mata yang mengantuk tersebut. Dia pasti merasa bersalah terbaca benar dari gerakan tersebut. Dan menurut saya, karena saya sudah tidak mempermasalahkan singkatnya saya mau istirahat sekarang.

Ternyata tak lama setelah gerakan galaunya dia ke dalam, muncullah seorang pramugari menghampiri tempat duduk saya. Ah..dia pramugari senior. Terlihat ada pin dibawah namanya, “Chatrine Tan” lalu dia berkata, . “Sir..?!”,dengan nada sopan..”we made terible mistake, our staff spilll over tea to your lovely coat. Please accept our apology”.

Saya tersenyum. “No problem..it’s nothing..”kata saya..”it didn’t make any stain at all on it though”.

“Well sir, we hope you could accept this..this is a voucher for loundry. You could do anywhere in the world on SQ expenses. Please accept it..”,dia membungkuk sambil memberikan amplop berlogo voucher laundry dari sebuah perusahaan laundry kenamaan. Saya bisa mencuci dimanapun dengan biaya di tanggung SQ.

“Waduh baik amat”, kata saya dalam hati. Selembar voucher dalam amplop dia serahkan dengan santun dan senyum. Badannya membungkuk dan memberi salam khas SQ, tangan dikatupkan didepan muka sambil setengah mengangguk dan bergerak melangkah mundur.

”Well thank you..”,saya menjawab

“Enjoy your rest sir”..katanya lagi mempersilahkan saya melanjutkan istirahat saya.

Saya tidak tahu berapa lama saya terlelap, seketika mendengar pengumuman di load speaker yang menyatakan pesawat akan mendarat. saya pun segera bersiap-siap. 10 menit kemudian, kapal mendarat, taxing beberapa saat kemudian terdengar announcement door may be open, pintu sudah boleh di buka.

Saya pun berkemas berdiri. Tanpa tahu dari mana kehadirnanya sang pramugari senior tadi, mrs Tan, sudah muncul di depan saya dan berkata..”Sir..could you please walk this way”. Dia menunjuk kesebuah arah jalan dengan santun.

Seperti domba di giring gembala saya mengikuti gerakan tangan dan ajakan tersebut. Saat itu saya merasa heran mengapa semua orang berhenti berjalan dan membuka jalan buat saya. Saya melewati beberapa orang yang duduk di depan saya . Hingga sampai ke dekat pintu kokpit dan pintu keluar paling depan dimana seakan seluruh pramugari berbaris kiri kanan saya.

Arahan jalan tersebut mengarah kesatu tujuan, dimana saya melihat tepat lurus dihadapan saya berdiri tegap seorang pria berwibawa berusia 50 tahunan dengan pakaian seragam biru tua jas baju putih didalamnya dengan lengkap tanda kepangkatan. Topi, jas, dengan 4 garis kuning di ujung lengan jas nya. Tangannya menjulur ke arahku.pastinya dia kapten pesawat ini. itu perkataan saya dalam hati.

“Mr Mardigu, i m Henry Chow, i m captain pilot of this plane, on behalf of my crew, my plane and my organization Singapore Airline please accept our deepest apology on what just happen to you”. Kalimat setelahnya saya lupa namun rasanya seperti seseorang yang sedang mendapatkan sebuah award. Atau kalau saya membayangkan jangan-jangan mendapatkan piala Oscar begini nih rasanya, agak ge er.

Wah..saya merasa melayang. Mendapat permohonan maaf secara formal dan santun begini. Gila…menurut saya, peristiwa tumpahnya sedikit teh adalah hal kecil yang terjadi namun mengapa sampai kaptennya turun tangan?!

Apapun itu, peristiwa permohonan maaf seperti ini bagi saya itu adalah sebuah service kepada pelanggan yang luar biasa. Bagi pelanggan seperti saya hal itu adalah sebuah penghargaan dan penghormatan yang luar biasa. Dalam hati saya berkali kali mengatakan, salut SQ.

dia pun melanjutkan perkataannya ,“Here are two ticket SQ with your name on it from singapore to jakarta roung trip valid for 1 year. Just to show you how sorry we are , please accept it,” katanya sambil membungkuk,

Wah..saya tergagap tidak bisa ngomong. Gerakan saya asli kikuk. Sambil mengambil tiket tersebut menjabat tangannya erat-erat dan mata saya kesana kemari mencari pegangan, tanda saya overwhelm.

Tanpa sengaja mata saya menatap mata pramugari yang menjatuhkan air teh tadi. mata ketemu mata tersebut membuat saya menangkap sebuah arti dari gerak mata dan gerak wajahnya. Karena aslim saya melihat pancaran tulus dimatanya. Dua telapak tangannya menutup didepan wajahnya memberi hormat. Kemudian dia mengedipkan mata kirinya sambil wajahnya dimiringkan ke kiri sedkit mengangguk dan memberi senyum dalam. saya mengangkap pesan itu. Kira-kira, ambillah..dan maafkan saya ya..

Tak terasa saya menetes air mata, dalam hati, saya ikhlas kok, gak marah, dan gak masalah. Eh diperlakukan seperti raja begini, jadi malu tapi tersanjung. Salut buat SQ, salut buat pramugari yang asaya lupa namanya, chief pramugari mrs Tan, dan kapten Henry Chow. All the best for SQ.Salut !# may peace be upon us

~~~~~~~~~~~~~~

Pengalaman terbang yang luar biasa bagi Mardigu karena mendapatkan layanan terhormat bagai raja. Apakah karena dia penumpang bussines class sehingga mendapat layanan excellent seperti itu? Kalau dia penumpang kelas ekonomi apakah akan mengalami perlakuan yang sama? Hmmm…well, terlepas dari kelas di dalam pesawwat, saya memang pernah mendengar SQ sering mendapat award karena pelayanannya yang memuaskan di atas pesawat.

Saya baru dua kali naik pesawat maskapai asing, pertama dengan Korean Air ketika ada tugas ke Seoul pada akhir tahun 2012, dan kedua dengan Thai Airways ketika pergi ke Bangkok pada Agustus 2013 yang lalu. Keduanya menurut saya memiliki pelayanan di udara yang ramah dan memuaskan. Khusus Korean Air layanan pramugarinya lebih mengesankan saya, mereka tidak henti-hentinya hilir mudik membawa makanan dari awal penerbangan hingga akhir penerbangan. Maklum ini penerbangan panjang selama enam jam, maka layanan dan senyum ramah yang hangat membuat perjalanan panjang itu menjadi ringan.

Di Indonesia hanya maskapai Garuda Indonesia yang memiliki pelayanan yang memuaskan di atas pesawat. Maskapai lain memang tidak bisa dibandingkan dengan Garuda karena hampir seluruhnya low cost carrier, jadi tidak ada layanan makanan dan bacaan di dalam pesawat. Namun, penumpang kan tidak mencari makanan ketika naik pesawat, tetapi layanan ramah pramugari dari pramugari sudah lebih dari cukup.

Maskapai swasta yang umumnya low cost carrier itu tentu sudah mendidik pramugarinya dengan standard tertentu ketika melayani penumpang, namun tetap saja kita bisa melihat kadang-kadang sikap pramugari membuat penumpang kesal. Misalnya ada pramugari yang berkata keras menegur penumpang yang tidak membuka jendela ketika pesawat akan landing atau take off. Omong baik-baik kek kenapa, mungkin penumpang tersebut baru pertama naik pesawat sehingga dia tidak tahu. Itu baru satu contoh, masih banyak beberapa perilaku lainnya yang tidak mereka sadari telah melukai hati penumpang.

Yah begitulah, kalau membandingkan dengan kasus di SQ di atas mungkin masih sangat jauh bisa terwujud pada maskapai di tanah air.


Written by rinaldimunir

February 13th, 2014 at 4:37 pm

Posted in Gado-gado

Stereotip Orang Indonesia Menurut Orang Asing

without comments

Seperti apa stereotip orang Indonesia menurut orang asing dapat kita baca dari sebuah artikel berjudul 55 National Stereotypes that will Ruin or Make your Day.

Penulisnya mendefinisikan stereotip suatu bangsa sebagai berikut: National Stereotype is a system of culture-specific beliefs connected with the nationality of a person. This system includes beliefs concerning those properties of human beings that may vary across nations, such as appearance, language, food, habits, psychological traits, attitudes, values etc, yang jika diartikan secara bebas adalah Stereotip Nasional adalah sistem keyakinan khusus tentang budaya yang dihubungkan dengan kewarganegaraan seseorang. Sistem ini mencakup keyakinan tentang sifat-sifat manusia yang mungkin berbeda-beda di negara-negara, seperti penampilan, bahasa, makanan, kebiasaan, sifat-sifat psikologis, sikap, nilai dll.

Terlepas dari apakah penulisnya benar atau salah, setidaknya ada beberapa stereotip yang mungkin bersesuaian dengan sifat bangsa kita. Berikut stereotip orang Indonesia yang saya kutip dari tulisan di atas:

Indonesians – fearful; neurotic; extroverted; conscientious; warm and
friendly people; lazy; live for today – who cares about tomorrow; no
planners; religious; family-oriented; supportive; invented the
rubber-time/rarely on time; corrupt; superstitious; slow; inferior;
polite; lacking discipline; use feeling not logic; do not follow rules;
hypocritical; resistant to change; tolerant; low profile; unwilling to
confront or give ‘bad news’; silent in meetings; can’t swim

yang artinya:

Orang Indonesia – takut; neurotik; ekstrovert; teliti; hangat dan
orang yang ramah; malas; hidup untuk hari ini – yang peduli hari esok; tidak ada
perencana; agamis; berorientasi keluarga; mendukung; menemukan
jam karet/jarang tepat waktu; korup; takhayul; lambat; rendah diri;
sopan; kurang disiplin; menggunakan perasaan bukan logika; tidak mengikuti aturan;
munafik; tahan terhadap perubahan;toleran; low profile; tidak ingin berkonfrontasi
atau memberikan ‘kabar buruk’; diam dalam pertemuan, tidak bisa berenang.

Anda setuju atau tidak setuju dengan beberapa stereotip di atas?

Stereotip orang Indonesia yang ditulis penulis asing tersebut pernah juga dikemukakan oleh wartawan Mochtar Lubis di dalam bukunya yang berjudul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban). Buku tersebut berisi pidato kebudayaan dari Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 16 April 1977. Isi pidatonya menyebutkan sifat-sifat negatif orang Indonesia. Menurut Mochtar Lubis ada dua belas ciri orang Indonesia:
1. Hipokrit atau munafik
2. Segan dan enggan bertanggung jawab
3. Berjiwa feodal
4. Masih percaya pada takhayul
5. Artistik
6. Watak yang lemah
7. Tidak Hemat, Dia Bukan “Economic Animal”:
8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa:
9. Manusia Indonesia tukang menggerutu.:
10. Cepat cemburu dan dengki.:
11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok.:
12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru atau plagiat.:

(Sumber: http://fakta-ilmu.blogspot.com/2013/04/12-sifat-negatif-mayoritas-orang.html#.UaLZOJzAGfM dan https://www.facebook.com/permalink.php?id=110184965682263&story_fbid=588703121163776)

Namanya juga stereotip, tentu saja bisa benar seluruhnya atau tidak salah seluruhnya, karena stereotip diperoleh dari hasil pengamatan, pengalaman, penilaian dan pemikiran kritis tentang bangsa Indonesia. Jadi kita boleh saja setuju atau tidak setuju dengan penilaian stereotip yang disebutkan oleh orang asing atau oleh Mochtar Lubis di atas.


Written by rinaldimunir

February 9th, 2014 at 5:29 pm

Posted in Indonesiaku

Peringatan pada Papan Iklan: “Merokok Membunuhmu”

without comments

Ketika melewati jalan raya mata saya membaca kalimat yang berbeda pada bunyi peringatan bahaya merokok di sebuah papan iklan (billboard). Dalam iklan rokok –yang tidak pernah menampilkan gambar rokoknya– biasanya ada gambar lelaki macho, lalu di bawahnya ada peringatan yang berbunyi Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Tetapi sekarang bunyi peringatan di bawahnya sudah diganti dengan kata-kata Rokok Membunuhmu atau dalam beberapa iklan yang lain berbunyi Merokok Membunuhmu, lengkap dengan gambar lelaki yang menghisap rokok dan beberapa tengkorak di latar belakangnya. Saya baru ngeh melihat bunyi peringatan itu sekarang, meskipun kabarnya sudah diganti sejak Desember 2013 yang lalu (baca berita ini).

Saya tidak akan membahas efek negatif rokok, sudah banyak tulisan yang membahas hal ini. Yang menjadi keheranan saya adalah konsistensi Pemerintah tentang rokok. Bunyi peringatan yang baru tersebut dengan tegas menyatakan bahwa rokok adalah alat pembunuh, namun anehnya keberadaanya tetap dilegalkan. Ini tidak konsisten menurut saya, sebab di satu sisi mengetahui rokok adalah alat pembunuh nyawa, tetapi di sisi lain membiarkannya.

Rokok akan tetap selamanya menjadi pro kontra. Selama perekenomian rakyat di beberapa daerah masih bergantung pada industri rokok, maka rokok akan sulit dilarang karena berhubungan dengan masalah sosial dan kultural. Selama rokok masih merupakan penyumbang bea cukai yang sangat besar bagi Pemerintah, maka industri rokok tetap akan dipertahankan. Pelik memang masalahnya, tidak suka tetapi butuh, tidak butuh tetapi ia tetap ada.

Bunyi peringatan Rokok Membunuhmu pada papan iklan rokok itu tinggal menjadi slogan kosong belaka. Menurut saya tidak akan berpengaruh banyak terhadap perubahan perilaku orang yang gemar merokok. Gambar lelaki gagah pemberani di atasnya lebih menarik perhatian ketimbang slogan hampa tersebut. Dalam benak orang yang merokok, gambaran kehebatan lelaki gagah pemberani tersebut menghapuskan imaji horor rokok sebagai alat pembunuh.


Written by rinaldimunir

February 6th, 2014 at 3:52 pm

Posted in Gado-gado

Lagi, Mahasiswa Korban Kecanduan “Game Online”

without comments

Setelah satu orang mahasiswa saya terpaksa DO karena tidak lulus tahap TPB gara-gara kecanduan game online (baca tulisan saya sebelum ini: Kecanduan Game Online Bagaikan Narkoba), sekarang saya menemui kasus yang hampir mirip yang juga menimpa seorang mahasiswa saya lainnya.

Sungguh saya kaget melihat jebloknya prestasi mahasiswa saya ini, dari yang semester-semester sebelumnya memiliki IP lebih dari tiga, semester kemarin jatuh drastis menjadi hanya nol koma sekian. Dari the best menjadi the worst, dari pemenang menjadi pecundang.

Setelah saya tanya secara intensif kepada mahasiswa ini, ternyata penyebabnya karena kecanduan game online . Akibat kecanduan game online yang sudah akut akhirnya ia bolos kuliah. Bolosnya tidak hanya sekali, tetapi seterusnya. Tidak hanya bolos, tetapi juga tidak ikut ujian, tidak membuat tugas kuliah, dan sebagainya. Pantesan saja IP nya hancur-hancuran.

Saya sudah menduga kalau penyebabnya adalah game online. Terjebak pada aliran sesat dan kecanduan game online adalah dua dari banyak masalah kemahasiswaan di kampus saya. Aliran sesat seperti NII sudah kurang terdengar lagi kabarnya, tetapi wabah game online sudah banyak korbannya akhir-akhir ini.

Dari ceritanya saya menjadi tahu awal mulanya. Pertama kali kecanduan game onlineadalah ketika ia sudah terlambat kuliah pagi. Karena sudah terlambat untuk datang ke kampus, akhirnya main game online saja di kamar kosan. Sebagaimana sebuah iklan di TV berbunyi kesan pertama begitu menggoda, akhirnya tergodalah ia setiap hari bermain game online sampai tidak kenal waktu, dari pagi sampai malam, hingga sampai pagi lagi.

Sebenarnya bermain game itu tidak buruk. Game juga mempunyai sisi positif, antara lain melatih kecepatan berpikir, mengasah ketajaman otak, melatih motorik halus, dan merangsang kreativitas. Namun, jika kontrol dari diri sendiri dan dari lingkungan tidak ada, maka yang terjadi adalah kebablasan. Hidup sendiri di kamar kos, jauh dari orangtua dan keluarga, teman sebelah kamar yang kurang peduli (karena tidak mau mencampuri urusan orang lain), membuat pemain game (online) seperti mahasiswa kosan menjadi lupa diri.

Main game itu cukup seperlunya saja, tidak perlu berlebihan. Di mana-mana yang berlebih-lebihan itu tidak baik karena dapat merusak, ya merusak fisik, mental, dan sebagainya. Kunci dari semua ini adalah kemampuan mengendalikan diri. Kontrol dari lingkungan juga perlu sebagai pengingat. Jika tidak, maka hanya penyesalan pada kemudian harilah yang akan didapat.


Written by rinaldimunir

February 4th, 2014 at 5:27 pm