if99.net

IF99 ITB

Archive for January, 2014

Ketika Manula Butuh Teman Bicara

without comments

Ketika saya sedang duduk-duduk sore menjelang pulang kantor, ponsel saya berbunyi. Sebuah nama yang saya hafal muncul di layar ponsel, nama guru saya waktu SMP. Tumben sore-sore begin Pak Guru menelpon. Ada kabar apakah?

Setahu saya anak-anak Pak Guru semuanya sudah berkeluarga dan tinggal berpisah kota dengan dirinya. Pak Guru hanya tinggal berdua saja dengan istrinya di rumah di Padang sambil mengisi hari-harinya yang sepi.

Lama sekali guru saya ini mengobrol di ponsel, beliau menceritakan kegiatan kesehariannya di rumah, cerita tentang penyakit yang dideritanya, dan sebagainya. Saya menyimak saja dengan takzim semua ceritanya itu, sekali-kali memberi tanggapan. Saya rasa beliau sedang merasa kesepian sehingga mencari orang untuk mengobrol.

Jangan heran, kebutuhan orang-orang tua atau para manula tidak hanya soal makan dan minum, lebih dari itu yang dibutuhkan mereka sebenarnya adalah teman untuk berbicara dan bercerita. Berbagi cerita adalah obat kesepian bagi mereka. Sehari tidak ngobrol-ngobrol dapat membuat para manula galau hingga stres.

Ketika seorang manula menemukan teman bicara, maka cerita apa saja meluncur dari mulutnya. Padahal boleh jadi yang diceritakan mereka adalah hal-hal yang sudah disampaikan berulang-ulang, kadang-kadang yang mendengarkan jadi bosan. Mereka tampak merasa lega jika sudah mengobrol, seakan-akan sebuah beban yang selama ini tersumbat tersalurkan dengan mengobrol. Perhatikanlah orang-orang manula di Panti Jompo. Mereka sangat girang ketika ada yang berkunjung, meskipun yang berkunjung itu bukan anak mereka, tetapi para relawan mahasiswa yang datang untuk menemani. Para manula menemukan teman untuk berbagi cerita.

Saya tahu hal ini karena dulu saya merasakan sendiri dengan orangtua saya, terutama ibu, yang sekarang mereka sudah almarhum. Setiap kali saya menelpon ibu saya di Padang, banyak saja cerita yang disampaikannya. Padahal yang diceritakannya sudah sering diulang-ulang. Begitu juga kalau saya pulang ke Padang, ibu saya seakan-akan orang yang sudah lama tidak mengobrol, seakan-akan mulut tersumbat, dan ketika menemukan tempatnya maka keluarlah apa yang selama ini ingin dicurahkan. Sekarang setelah orangtua saya tiada kadang-kadang timbul penyesalan kenapa dulu-dulu saya jarang pulang, jarang menelpon, padahal mungkin yang dibutuhkan mereka adalah tempat untuk mengobrol.

Saya pernah dikunjungi seorang Bapak yang merupakan orangtua dari mantan mahasiswa saya. Dia dulu orang berpangkat di militer namun sekarang sudah pensiun. Kedatangannya untuk mengambil surat rekomendasi S2 dari saya buat anaknya yang tinggal di Eropa. Saya kira setelah mengambil surat rekomendasi dia permisi untuk pulang, tetapi malah mengajak saya mengobrol panjang selama hampir dua jam. Dia bericerita banyak tentang masa lalunya, tentang anak-anaknya, tentang kondisi negara, dan lain-lain. Sebagai pendengar yang baik saya mendengarkan semua ceritanya dan tidak tega untuk mengakhiri pembicaraan. Dia memang tinggal berdua saja dengan istrinya di Lembang, jadi ketika menemukan orang untuk berbicara langsung dan lepas seperti dengan saya, maka dia bisa berlama-lama untuk mengobrol.

Anda punya orangtua yang merasa sepi di rumah nun jauh di kampung? Cobalah telpon mereka, siapa tahu mereka sedang ingin berbagi cerita untuk melepaskan kejemuannya di hari tua.


Written by rinaldimunir

January 30th, 2014 at 5:21 pm

Posted in Pengalamanku

Tenda Jahit Pak Ajun (Andai Dulu Jadi Kuliah di Arsitektur ITB)

without comments

Pak Ajun namanya. Profesinya adalah sebagai tukang jahit di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Kuningan Raya, Antapani, Bandung. Dengan modal sebuah mesin jahit tua, dia menunggu pelanggan yang datang untuk mempermak pakaian. Ada pelanggan yang datang untuk memotong panjang celana, ada yang datang ingin mengecilkan ukuran pakaian yang kedodoran, ada pula yang meminta dijahitkan pakaian yang robek, menempelkan lambang sekolah dan OSIS, dan sebagainya.

Pak Ajun setia mangkal di pinggir Jalan Kuningan Raya dengan mesin jahit setianya.

Pak Ajun setia mangkal di pinggir Jalan Kuningan Raya dengan mesin jahit setianya.

Pagi itu saya mendatangi Pak Ajun untuk memotong celana yang kepanjangan. Ini kali kedua saya datang ke tenda jahitnya. Kali pertama saya datang untuk menjahitkan lambang SMP di seragam sekolah anak saya. Saya terkesan dengan cara menjahitnya yang cekatan dan hasilnya rapi. Sambil menunggui dia yang dengan gesit memotong dan menjahit, saya jadi mengetahui banyak hal. Dia bercerita bahwa dirinya baru saja pulang dari sekolahan anaknya (SMP swasta) di daerah Cicaheum. Sambil sedikit mengeluh dia menceritakan sekolah di swasta itu sering banyak pungutan. Tadi dia ke sana untuk membayar uang bangunan yang besarnya Rp15.000 per bulan. Uang sebesar itu mungkin kecil bagi kita, tapi bagi Pak Ajun nilai segitu lumayan besar.

Pak Ajun sedang menjahit celana saya.

Pak Ajun sedang menjahit celana saya.

Saya iseng bertanya berapa penghasilannya menjadi tukang jahit pinggir jalan setiap hari. Tidak tentu, jawabnya. Setiap hari penghasilannya paling banyak 100 ribu rupiah, kadang hanya 80 ribu rupiah. Sementara kebutuhan uang setiap hari 75 ribu rupiah, itu sudah termasuk untuk biaya dapur, uang jajan dan transpor anak-anaknya yang sekolah (Pak Ajun mempunyai tiga orang anak), dan uang bensin motornya. Kalau ada kelebihan ditabung untuk kebutuhan tak terduga, kalau tidak ada ya habis hari itu juga.

Pak Ajun dan mesin jahit tuanya yang masih berfungsi baik

Pak Ajun dan mesin jahit tuanya yang masih berfungsi baik

Setiap hari dari rumahnya di Sindanglaya (jauh di daerah Bandung Timur), dia mendatangi “tempat kerjanya” di Antapani berupa tenda jahit yang Anda lihat pada foto di atas. Mesin jahit tua itu tidak dia bawa pulang pergi setiap hari, tetapi dititipkan di rumah di belakangnya, itu pun tidak gratis sebab dia harus bayar sewa 10 ribu rupiah per hari kepada pemilik rumah, jika sebulan berarti 300 ribu rupiah.

Pak Ajun sedang menerima order permak pakaian dari pelanggan

Pak Ajun sedang menerima order permak pakaian dari pelanggan

Pak Ajun sudah 25 tahun lebih menjadi tukang jahit. Dua puluh lima tahun dihabiskannnya bekerja di pabrik garmen, baru tiga tahun ini dia menjadi penjahit pinggir jalan. Bandung adalah kota garmen, di kota ini banyak pabrik garmen bertebaran. Bekerja di pabrik garmen tidak bisa leluasa katanya, sebab karyawan harus bekerja memenuhi target perusahaan. Dengan bekerja mandiri dia menjadi lebih bebas. Dia menceritakan gunting yang dia pakai ini sudah menemaninya bekerja selama 25 tahun lebih, mulai dari pabrik garmen itu hingga dia pakai sekarang. Tidak pernah sekalipun dia mengganti gunting dengan yang baru, seakan-akan gunting tersebut sudah memilikichemistry dengan dirinya.

Gunting setia Pak Ajun

Gunting setia Pak Ajun

Gunting yang telah menemaninya selama 28 tahun

Gunting yang telah menemaninya selama 28 tahun

Bekerja di pabrik garmen yang menghasilkan celana panjang merek terkenal (Card*nal) telah memberikan banyak ilmu menjahit kepada Pak Ajun. Makanya dia berani keluar dan mencoba berusaha sendiri. Satu hal yang agak disesalinya adakah kenapa dulu dia tidak jadi mendaftar ulang di ITB.

ITB? Tiba-tiba saja saya jadi ngeh ketika almamater saya, sekaligus tempat saya bekerja, disebutnya. Saya pun menjadi penasaran ingin lebih tahu. Tahun 1985 (dia agak lupa 1985 atau 1984?) Pak Ajun lulus tes Sipenmaru (sekarang SBMPTN) dan diterima di ITB di jurusan yang ada menggambarnya. Senirupa?, tanya saya. Bukan, jawabnya. Dia lupa-lupa ingat. Arsitektur?, tanya saya lagi. Ya, yang itu, katanya. Dulunya Pak Ajun sekolah di STM (sekarang SMK) jurusan gambar bangunan.

Lalu, kenapa tidak mendaftar ulang?, tanya saya penuh rasa ingin tahu. Ya itulah, orangtua tidak punya uang untuk membayar biaya daftar ulang. Saya sendiri juga angkatan 1985 di ITB yang berarti sama dengan tahun Pak Ajun diterima masuk ITB (dari ceritanya itu saya menyimpulkan usia saya tidak jauh berbeda dengan umur pak Ajun). Tahun 1985 itu biaya daftar ulang (atau uang pangkal) mahasiswa baru di ITB “hanya” sekitar 250 ribu rupiah (kalau tidak salah lho ya), sedangkan SPP per semester “hanya” Rp27.500. Nilai 250 ribu rupiah pada tahun 1985 lumayan besar, orangtua saya saja kelimpungan mencari uang 250 ribu itu untuk biaya daftar ulang di ITB. Karena orangtua pak Ajun tidak mampu menyediakan uang sebesar itu sampai hari terakhir daftar ulang, maka keinginannya kuliah pun kandas. Sebagai gantinya dia bekerja di pabrik garmen.

Dia bercerita tentang temannya yang kuliah di ITB kala itu dan sekarang hidupnya lebih baik. Temannya yang asal Subang sudah menjadi insinyur, sementara dirinya hanya menjadi tukang jahit. Andai Pak Ajun kuliah di ITB, tentu cerita perjalanan hidupnya akan jauh berbeda. Ya, nasib manusia siapa yang tahu? Hanya Tuhan yang Maha Tahu.


Written by rinaldimunir

January 28th, 2014 at 3:26 pm

Fastfood

without comments

Menurut Wikipedia, makanan cepat saji atau fastfood adalah istilah untuk makanan yang dapat disiapkan dan dilayankan dengan cepat. Sementara makanan apapun yang dapat disiapkan dengan segera dapat disebut makanan siap saji, biasanya istilah ini merujuk kepada makanan yang dijual di sebuah restoran atau toko dengan persiapan yang berkualitas rendah dan dilayankan kepada pelanggan dalam sebuah bentuk paket untuk dibawa pergi. Konsep fastfood ternyata telah dikenal sejak jaman lampau. Antara lain Romawi dengan roti dan minyak zaitunnya, Asia Timur dengan stand mie-nya, dan India dengan bhelpuri dan panipuri-nya.

Saat ini, fastfood identik dengan resto-resto yang menjual makanan-makanan impor seperti burger, pizza, dan ayam crispy. Banyak orang tergoda untuk ikut menikmati sajian fastfood ini. Beberapa alasannya antara lain rasanya yang lezat dan tidak perlu berlama-lama menunggu penyiapannya. Padahal, makanan-makanan jenis ini memiliki beberapa efek samping negatif misalnya menimbulkan kanker dan obesitas. Meskipun efek negatif ini telah banyak disosialisasikan, konsumen tampaknya tidak terlalu ambil pusing. Hal ini tampak dari selalu ramainya resto-resto fastfood dan makin banyaknya cabang resto jenis ini dalam kota yang sama. Gencarnya ajakan untuk mulai meninggalkan fastfood ternyata diikuti oleh makin bersemangatnya resto-resto tsb untuk memancing konsumen.

Beberapa trik yang dilakukan antara lain memposisikan resto sebagai ajang bersosialisasi sehingga menarik banyak orang untuk sekedar bertemu atau ngobrol, sengaja menyebarkan aroma-aroma mengundang di sekitar resto, meningkatkan fasilitas dan kenyamanan resto misalnya dengan menyediakan sarana drive-through dimana konsumen tidak perlu turun dari mobil untuk memesan makanan, dan menyediakan makanan dalam porsi jumbo (kalau perlu pakai ember) sehingga pelanggan tidak cepat-cepat meninggalkan resto.

Selain itu, ada beberapa fakta tentang fastfood yang kita perlu tahu, misalnya bahwa :

1. dalam satu porsi hamburger, digunakan daging dari 100 sapi yang berbeda

2. mesin soda fountain mengandung bakteri fecal dimana hal ini ditunjukkan oleh adanya jejak bakteri pada dispenser soda

3. kentang goreng lebih buruk dari burger keju karena mengandung lebih banyak lemak dan kalori

4. milkshake strawberry mengandung lebih dari 50 bahan kimia yang berbeda.

 

Nah, setelah mencermati fakta tentang fastfood (jaman sekarang), masihkah tertarik membelinya ?

 

Sumber :

http://www.okefood.com/read/2013/12/30/299/919145/9-fakta-mengejutkan-tentang-makanan-cepat-saji http://www.beritasatu.com/kesehatan/161462-terungkap-trik-restoran-cepat-saji-agar-pelanggannya-selalu-datang.html

 


Written by indahgita

January 28th, 2014 at 12:46 pm

Posted in Bebas

Kreasi Rubik Anak saya

without comments

Di depan sekolah anak saya banyak penjual mainan yang menjajakan dagangannya. Salah satu mainan yang digandrungi anak saya adalah rubik. Rubik adalah permainan edukatif tiga dimensi yang dapat dibentuk menjadi aneka objek-objek yang menarik. Elemen-elemen rubik dapat diputar, diplintir, ditekuk, dan sebagainya, karena antara elemen-elemen itu dihubungkan dengan per atau pegas.

Rubik yang dilipat dalam bentuk memanjang

Rubik yang dilipat dalam bentuk memanjang

Dengan rubik anak saya berimajinasi membuat aneka bentuk objek seperti anjing, kucing, ikan, pizza, ular kobra, dan sebagainya. Setiap objek yang telah dibentuk saya foto. Selamat menikmati kreasi rubik!

Anjing

Anjing

Kucing

Kucing

Jerapah

Jerapah

Srigala

Srigala

Burung onta

Burung onta

Ular kobra

Ular kobra

Ikan

Ikan

Not balok

Not balok

Kreatif

Kreatif

Saya sendiri hanya bisa membuat anjing dan srigala, selebihnya tidak bisa. Anak-anak sekarang jauh lebih kreatif dibandingkan orangtuanya.


Written by rinaldimunir

January 24th, 2014 at 7:48 pm

Posted in Gado-gado

Pak Polisi dan Surat Kehilangan

without comments

Pak Polisi itu terlihat sedikit salah tingkah ketika memberikan surat kehilangan yang saya minta, sepertinya dia menunggu “sesuatu” dari saya. Di lacinya terlihat beberapa lembar uang sepuluh ribuan, mungkin dari pemberian orang sebelum saya.

Tapi, bukankah mengurus surat kehilangan di kantor polisi tidak dikenakan biaya, alias gratis, begitu aturannya kan? Cuma karena orang-orang sering memberikan uang tip sebagai “tanda ucapan terima kasih” (istilah lainnya “salam tempel”), maka hal itu menjadi kebiasaan. Padahal memberi uang tip atau salam tempel kepada polisi itu termasuk gratifikasi, perbuatan yang dilarang negara, dan bisa ditangkap KPK.

Saya menerima surat kehilangan yang selesai dia buat dan mengucapkan terima kasih banyak atas layanannya, lalu saya langsung keluar supaya beliau tidak mengharapkan sesuatu lagi.

**************

Ceritanya begini. Saya kehilangan kartu ATM di suatu tempat. Untuk mendapatkan kartu ATM yang baru pihak bank mewajibkan lampiran surat kehilangan dari kepolisian. Saya sebenarnya agak enggan mengurus surat ke kantor polisi, karena saya selalu merasa “bersalah” kalau memberikan uang terima kasih. Saya menyadari memberi uang kepada petugas tidak boleh, bisa dikategorikan sebagai suap atau gratifikasi, padahal saya selalu berusaha menghindar jangan sampai melakukan hal ini.

Pengalaman saya dulu, ketika mengurus surat kehilangan SIM di kantor polisi, saya antri menunggu giliran dilayani. Orang sebelum saya terlihat memberikan sedikit uang terima kasih kepada petugas (polisi juga) setelah surat yang ia minta selesai. Ketika giliran saya tiba, saya merasa tidak enak sendiri apakah juga memberikan uang atau tidak. Sebenarnya saya tahu kalau mengurus surat di kantor publik itu tidak dikenakan biaya, namun karena kebiasaan orang-orang yang memberikan uang tip akhirnya pemberian uang itu menjadi kebiasaan. Kalau tidak diberi kok tidak enak rasanya, tidak diberi takut petugasnya marah, kalau diberi saya merasa “bersalah” telah melakukan gratifikasi. Setelah surat yang saya perlukan selesai, akhirnya saya memberanikan diri bertanya: “Berapa pak biayanya?”. Dia menjawab: “Terserah saja”. Akhirnya saya berikan juga uang tip yang dia bilang “terserah” itu.

Bukan masalah besar uang tip yang saya masalahkan, tetapi tradisi memberi uang tip itu yang menurut saya tidak baik. Sudah jelas menurut aturan job desk bahwa pelayanan surat di kantor publik itu gratis. Bukankah melayani keperluan surat menyurat itu sudah merupakan bagian dari tugasnya, petugas tersebut juga sudah menerima gaji resmi dari instansinya, jadi kenapa harus diberi uang lagi? Seperti yang saya sebutkan di atas, kebiasaan orang Indonesialah yang menyuburkan praktek pemberian uang itu. Orang kita tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih karena telah dilayani, tetapi juga memberikan sesuatu (biasanya uang) sebagai ucapan terima kasih. Karena praktek uang terima kasih itu sudah berlangsung lama, maka akhirnya seolah-olah menjadi kewajiban. Menurut saya inilah yang menyuburkan budaya gratifikasi dalam bangsa kita yang oleh KPK digolongkan sebagai tindak pidana korupsi.

Lain lagi ceritanya ketika saya mengurus surat di kantor polisi yang lain, petugas meminta biaya yang katanya sebagai biaya kertas. Hmmm… bukankah biaya untuk membeli kertas dan tinta printer sudah ada anggaran dari instansi? Kenapa harus dibebankan lagi kepada masyarakat yang meminta layanan? Menurut saya ini akal-akalan petugas saja untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Akhirnya, ketika kali ini mengurus surat kehilangan di kantor polisi, saya memantapkan hati untuk tidak memberikan uang terima kasih. Seharusnya memang tidak boleh ada biaya, dan seharusnya Pak Polisi juga tidak boleh meminta atau mengharapakan imbalan jasa. Maka, ketika surat yang saya perlukan selesai, saya tidak mau berlama-lama di dalam ruangan, saya mengucapkan terima kasih banyak lalu segera keluar. Mengucapkan terima kasih saja sudah cukup, jangan ditambahi apa-apa lagi. Kita juga harus mendidik Pak Polisi agar selalu menjunjung kode etik, tetap selalu jujur, dan tetap ramah melayani.


Written by rinaldimunir

January 23rd, 2014 at 12:44 pm

Posted in Pengalamanku

Berkunjung ke Asrama Mahasiswa di Kampus ITB Jatinangor

without comments

Ketika meninjau tahap pembangunan akhir gedung KOICA-ITB Cyber Security Center di Kampus ITB Jatinangor, saya dan teman-teman menyempatkan diri mengunjungi asrama mahasiswa di dalam kampus. Di dalam areal kampus ITB di Jatinangor terdapat empat buah gedung asrama mahasiswa (masing-masing gedung disebut tower). Asrama mahasiswa laki-laki terpisah dengan asrama mahasiswa perempuan.

Empat tower asrama

Empat tower asrama

Dengan adanya asrama mahasiswa ini, maka mahasiswa ITB yang berkuliah di Kampus Jatinangor tidak perlu repot mencari kos di luar kampus. Mau kuliah tidak perlu jauh-jauh lagi berjalan kaki ke ruang kuliah, lagipula semua kebutuhan hidup seperti kantin, minimarket, foto copy, dan lain-lain sudah terdapat di dalam asrama.

Gedung asrama dari dekat

Gedung asrama dari dekat

Ruang terbuka antara setiap tower

Ruang terbuka antara setiap tower

Pemandangan tower dengan latar belakang Gunung Manglayang (?)

Pemandangan tower dengan latar belakang Gunung Manglayang (?)

Diantar oleh petugas asrama, kami meninjau gedung asrama hingga masuk ke dalam kamar untuk melihat-lihat fasilitas di dalamnya. Wah, asrama mahasiswa ini lebih mirip apartemen dibandingkan dengan asrama mahasiswa umumnya. Ruangannya lapang, bersih, dan terang.

Ruang lepas di lantai dasar

Ruang lepas di lantai dasar

Ruang terbuka dipandang dari lantai dasar

Ruang terbuka dipandang dari lantai dasar

Ruang lepas tampak dari lantai atas

Ruang lepas tampak dari lantai atas

Kamar-kamar di setiap lantai

Kamar-kamar di setiap lantai

Lantai dasar yang adem, luas, dan nyaman untuk belajar secara lesehan

Lantai dasar yang adem, luas, dan nyaman untuk belajar secara lesehan

Di lantai dasar terdapat kantin. Mahasiswa yang malas memasak sendiri atau malas ke luar kampus dapat makan di sana. Hmmm… enak nggak sih makanan di kantin ini? Saya tidak sempat mencobanya.

Kantin di lantai dasar. Setiap tower punya kantin sendiri.

Kantin di lantai dasar. Setiap tower punya kantin sendiri.

Sudut lain kantin asrama

Sudut lain kantin asrama

Saya diajak masuk ke dalam kamar mahasiswa. Setiap kamar sudah mempunyai furnitur lengkap (tempat tidur, kasur busa, lemari gantung, kursi, dan meja belajar) dan setiap kamar diisi dua orang. Menariknya lagi, di dalam kamar terdapat kamar mandi/toilet, ruang kecil yang dapat digunakan sebagai pantry (dapur), dan tempat untuk menjemur pakaian. Dengan kamar mandi yang terdapat di dalam kamar, maka mahasiswa tidak perlu lagi antri untuk mandi atau buang hajat bila kamar mandinya berada di luar yang digunakan untuk bersama, sebagaimana asrama lain umumnya.

Atas seizin penghuni kamar ini, saya memotret kondisi di dalam kamar.

Atas seizin penghuni kamar ini, saya memotret kondisi di dalam kamar.

Satu kamar pada setiap lantai disediakans ebagai ruang "common", dapat dipakai untuk tempat belajar bersama atau untuk diskusi/rapat

Satu kamar pada setiap lantai disediakans ebagai ruang “common”, dapat dipakai untuk tempat belajar bersama atau untuk diskusi/rapat

Dapur di dalam ruang "common"

Dapur di dalam ruang “common”

Rupanya asrama ini tidak hanya untuk mahasiswa saja. Beberapa kamar dicadangkan khusus bagi tamu yang menginap, misalnya dosen, orangtua mahasiswa, atau untuk mahasiswa yang mempunyai keterbatasan fisik (tidak bisa naik ke lantai atas). Kamar khusus untuk tamu/orangtua ini sedikit lebih “mewah” daripada kamar mahasiswa umumnya, sebab di dalamnya terdapat pantry (dapur) lengkap dengan perabotan memasak seperti foto di bawah ini.

Kamar untuk tamu

Kamar untuk tamu

Kamar mandi di dalam kamar dan di sebelahnya pantry.

Kamar mandi di dalam kamar dan di sebelahnya pantry.

Ruang pantry di dalam kamar

Ruang pantry di dalam kamar

Sungguh indah pemandangan terlihat dari gedung asrama. Dari sisi depan tower kita dapat melihat pemandangan gedung-gedung di dalam kampus ITB Jatinangor, salah satunya amphitheater yang luas dan megah.

Amphitheater tampak dari lantai atas tower asrama.

Amphitheater tampak dari lantai atas tower asrama.

Sudut foto amphitheater

Sudut foto amphitheater

Amphitheater

Amphitheater

Hmmm…. sunguh nyaman rasanya tinggal di asrama kampus ITB Jatinangor. Sudah nyaman dan luas, murah lagi. Saya tanya ke petugas asrama berapa sewa asrama per bulan untuk setiap mahasiswa. Saya kaget ketika dia menjawab “hanya” Rp250.000 per bulan. Haa..! Dengan fasilitas yang all-in seperti itu kalau kos di kota Bandung mungkin harganya sudah di atas 1 juta rupiah per bulan.

Semoga mahasiswa yang tinggal di asrama ITB Jatinangor itu menjadi lebih nyaman belajar di kampus ITB yang baru itu, dan semakin semangat untuk berprestasi.


Written by rinaldimunir

January 17th, 2014 at 5:31 pm

Posted in Seputar ITB

Ketika Jumlah Teman di Facebook Sudah Mencapai 5000 Orang

without comments

Saya menghadapi sedikit masalah dengan akun di Facebook (FB) saya. Jumlah teman (friend) di akun saya sudah mencapai hampir 5000 orang. Facebook membatasi jumlah teman maksimal 5000 orang saja. Jika lebih dari 5000 orang maka pemilik akun tidak bisa menambah teman baru lagi. Saya pernah baca bahwa Facebook akan mem-banned (apa ya terjemahan yang pas) akun yang memiliki teman lebih dari 5000.

Masalahnya jumlah orang yang ingin berteman dengan saya di FB selalu bertambah setiap hari. Saat ini saja ada 500 orang lebih yang menunggu persetujuan saya untuk menjadi teman, namun saya belum bisa menyetujui pertemanan karena dibatasi oleh aturan Facebook tersebut. Sebagian besar dari mereka yang ingin berteman tidak saya kenal, mereka mungkin mengenal saya dari buku-buku karangan saya, atau dari blog saya ini, atau dari situs web kuliah yang saya buat.

Dulu ketika jumlah teman masih di bawah 5000 orang, semua yang meminta pertemanan langsung saya setujui, karena saya pikir siapa pun yang ingin berteman masa harus saya tolak, hitung-hitung menambah jumlah suadara dan memperpanjang silaturahmi. Namun ketika jumlah teman di FB semakin hari semakin bertambah, saya mulai kewalahan ketika jumlahnya hampir mencapai 5000. Akhirnya saya belum menyetujui semua permintaan teman baru yang selalu datang setiap hari hingga hari ini.

Ada yang menyarankan kepada saya untuk membuka fanpage saja di Facebook, sebab fanpage tidak membatasi jumlah teman. Namun saya belum sreg dengan usulan itu, rasanya agak gimana gitu punya fanpage, seperti orang beken saja, padahal saya ingin menjadi orang biasa-biasa saja.

Saya mohon maaf kepada Anda yang kebetulan membaca tulisan ini dan pernah meminta pertemanan di Facebook namun belum saya setujui. Saya mencoba mencari-cari teman-teman yang jarang atau lama tidak aktif sehingga (mohon maaf) terpaksa saya hapus agar dapat menambahkan teman baru yang sudah lama “antri”.

Saya berharap Facebook seperti Twitter yang tidak perlu harus konfirmasi pertemanan dulu agar dapat mengikuti sebuah akun FB orang lain. Saya sendiri tidak (atau belum) memiliki akun Twitter, bagi saya akun jejaring sosial cukup satu buah saja, jika terlalu banyak mengikuti jejaring sosial saya khawatir akan menyita waktu.


Written by rinaldimunir

January 16th, 2014 at 4:23 pm

Posted in Gado-gado

Cooking for a Working Mom

without comments

Bagi sebagian suami, memasak merupakan salah satu ketrampilan wajib bagi seorang wanita terutama bila dia sudah berstatus istri. Tak terkecuali bagi seorang working mother seperti saya. Banyak kaum wanita yang setuju dengan hal ini, namun ada juga yang menolaknya. Kaum yang menolak, salah satunya sahabat saya yang juga bekerja, beranggapan bahwa memasak merupakan salah satu aktivitas yang ‘membuang-buang waktu’ mengingat saat di rumah merupakan momen yang berharga dan sayang kalau hanya dipakai untuk memasak.

Saya, sebelum menikah, termasuk yang sedikit menolak juga karena dulu saya tidak suka dan tidak pandai memasak (meskipun sekarang juga). Namun, setelah menikah anggapan saya berubah. Saya jadi suka masak. Memasak untuk keluarga, meskipun dg resep yang sederhana, memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Melihat anak-anak dan suami menyantap dengan lahap kreasi masakan saya membuat saya merasa diterima dan dicintai. Hahaha…. lebay ah.

Memasak bagi saya bukanlah aktivitas yang membuang-buang waktu meskipun memang banyak waktu tersita untuk menyiapkan bahan2 dan mengolahnya. Saya paling suka mencoba resep2 baru terutama menu yang direkomendasikan oleh teman. Mungkin ini memang karakter saya yang suka melakukan hal-hal baru, salah satunya mencoba resep2 baru. Salah satu poin yang turut andil dalam merubah persepsi saya adalah bahwa memasak itu ibadah juga. Ibadah karena memasak merupakan bagian dari pelayanan saya kepada keluarga yang siapa tahu bisa menjadi sarana turunnya ridho suami. Jadi, kalau diniatkan ibadah, maka waktu yang terpakai pun akan dihitung pahala, insyaAllah.

Saya tidak menyalahkan para istri yang tidak suka dan tidak mau memasak. Bisa jadi memang para suaminya tidak mewajibkan itu atau para suaminya lah yang meminta istrinya untuk fokus pada hal lain, misalnya merawat dan mendidik anak atau aktivitas sosial kemasyarakatan, atau alasan-alasan lainnya. Yang jelas, apapun aktivitasnya, selama mendukung seorang wanita menjadi istri dan ibu salihah, maka tak ada salahnya untuk dilakukan.

Bagaimana pendapat anda?

Salam,


Written by indahgita

January 16th, 2014 at 8:46 am

Posted in Keluarga

Munculkanlah Banyak Capres (Muda), Tidak Hanya Jokowi

without comments

Tahun 2014 ini energi bangsa kita akan terkuras dengan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Piplres). Dari kedua Pemilu tersebut, ajang Pilpres yang paling menarik. Siapa yang akan menjadi orang nomor satu di negeri ini akan ditentukan pada Pilpres. Beberapa nama sudah dimunculkan untuk menjadi Capres oleh Parpol pendukungnya, namun kebanyakan calon tersebut adalah stok lama yang kebanyakan sudah tua-tua. Mereka adalah Aburizal Bakrie (dari Golkar), Prabowo Subianto (dari Gerindra), Wiranto (dari Hanura), dan Surya Paloh (dari Nasdem).

Yang masih malu-malu kucing dalam menentukan Capres adalah PDIP. Partai ini belum menyebut nama. Namun, si Mbak alias Megawati, tampaknya masih ingin maju lagi, padahal beliau sudah kalah berkali-kali. Di sisi lain para pendukung PDIP sudah tidak sabar untuk mengusung Gubernur DKI, Joko Widodo (Jokowi), sebagai Capres PDIP. Jokowi sendiri juga tidak tegas mengiyakan atau menolak dicalonkan sebagai Capres, namun menilik dari gaya bahasa diplomatisnya terkesan beliau juga ingin maju sebagai Capres.

Dari semua Capres yang stok lama, tidak ada satupun yang mendapat dukungan tinggi dari berbagai survei. Jokowi, meskipun belum resmi menjadi Capres PDIP, namun elektabilitasnya melejit dengan pesat melampaui para Capres stok lama itu. Jokowi begitu populer di tengah masyarakat saat ini. Sejak masa kampanye Pilgub DKI hingga sekarang, Jokowi menjadi kesayangan media (media darling), kemana dia pergi selalu ada saja wartawan yang meliput. Hampir setiap hari ada saja berita tentang Jokowi di media, terlepas berita tersebut merupakan bagian dari pencitraan dirinya, dibayar kah, atau memang tulus, wallahu alam. Media terkesan berada di belakang Jokowi.

Mengapa Jokowi begitu populer saat ini hingga ke daerah-daerah yang jauh dari Jakarta? Kata kuncinya adalah blusukan. Gaya Jokowi yang gemar blusukan ke berbagai tempat di Jakarta sejak era kepemimpinannya dianggap sebagai gaya baru pemimpin. Hampir tiap hari dia blusukan keliling Jakarta dan menyerahkan urusan administratif kepada wakilnya, Ahok. Setiap kali blusukan dia menyapa rakyatnya, berdialog, dan sebagainya. Sebelum ini jarang ada pemimpin yang gemar turun hingga ke wilayah kumuh sekalipun. Kebanyakan pemimpin duduk enak di belakang meja, menikmati berbagai fasilitas mewah, sementara Jokowi tidak. Sosoknya yang sederhana, bersahaja, dan merakyat membuat banyak orang terkesan dan terpesona. Dengan dukungan media yang meliputnya setiap hari, Jokowi menjadi amat populer, maka tidaklah heran elektabilitasnya meningkat terus, mengalahkan para Capres tua stok lama.

Meskipun kinerja Jokowi dalam membereskan Jakarta belum terlihat hasilnya, terutama dalam urusan macet dan banjir di Jakarta, namun ada faktor lain yang membuat Jokowi begitu populer selain gaya blusukannya itu. Di tengah isu korupsi dan berbagai persoalan yang membelit bangsa ini, rakyat mendambakan sosok pemimpin yang jujur, bersih, dan merakyat. Partai dan pimpinannya terlibat korupsi, anggota dewan terlibat korupsi, gubernur hingga bupati terlibat korupsi, jaksa hingga hakim terlibat kasus suap. Semua berita negatif itu membuat rakyat kita sudah muak dengan pemimpin yang awalnya tampak baik tetapi akhirnya korup. Di tengah kasus-kasus yang tidak enak itu muncullah Jokowi. Mereka melihat semua sifat pemimpin yang didambakan tadi ada pada diri Jokowi, maka desakan agar Jokowi dideklarasikan menjadi Capres terus mengemuka.

Jika elektabilitas Jokowi terus naik melampaui Capres yang lain, maka bukan tidak mungkin jika Pilpres diadakan pada hari ini Jokowi yang akan menang menjadi presiden. Apabila elektabilitas itu semakin tidak terbendung hingga Pemilu mendatang, maka diperkirakan Jokowi yang akan menang menjadi Presiden pada Pilpres 2014 nanti. Jika ini yang terjadi, maka Pilpres 2014 sudah tidak menarik lagi, sudah selesai, oleh karena itu saya pikir tidak perlu diadakan saja sebab pemenangnya sudah diketahui.

Lalu bagaimana seharusnya? Jika hanya Jokowi saja yang melejit sendirian meninggalkan Capres lainnya, maka menurut saya itu bukan demokrasi yang sehat. Jokowi seolah-olah tidak punya lawan tangguh. Menurut saya hal ini juga “kesalahan” media yang terlalu banyak memberitakan Jokowi secara berlebihan sehingga Jokowi masuk sampai ke alam bawah sadar bangsa ini. Media adalah salah satu pilar dalam demokrasi, dan media mempunyai pengaruh besar untuk membentuk opini publik. Siapa yang menguasai media dia akan menguasai dunia. Opini baik dan opini buruk tentang seseorang atau partai/golongan dapat dibentuk oleh media. Dengan kekuasaannya sebagai pembentuk opini, media dapat mengarahkan opini publik untuk menyukai atau membenci sesuatu. Apalagi dengan tingkat pendidikan bangsa kita yang masih rendah, tidak banyak oranng yang kritis terhadap pemberitaan pada media.

Tokoh-tokoh yang bagus tidak hanya Jokowi saja, masih banyak tokoh-tokoh daerah yang hebat, tetapi sayangnya mereka tidak banyak memperoleh pemberitaan oleh media. Ada Bu Risma, Walikota Surabaya, yang dengan gebrakannya diam-diam berhasil mengubah Surabaya menjadi lebih bermartabat. Ada Ridwan Kamil, walikota Bandung yang kreatif. Ada Anies Baswedan yang mempunyai idealisme yang mengesankan dalam bidang pendidikan. Kalau mau disebut masih banyak lagi tokoh-tokoh muda yang perlu ditampilkan dan dipopulerkan oleh media, misalnya Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar), Gatot (Gubernur Sumut), dan lain-lain. Mereka merupakan aset-aset pemimpin bangsa. Mereka-mereka ini perlu lebih banyak dimunculkan dan diberi ruang oleh oleh media, tidak hanya Jokowi saja, sehingga publik dapat lebih mengenal tokoh-tokoh selain Jokowi.

Jika tokoh-tokoh selain Jokowi ini dimajukan sebagai Capres, maka Jokowi akan mendapat lawan yang agak berimbang, sehingga Pilpres 2014 akan terlihat lebih fair dan lebih menarik. Mari kita dorong media untuk lebih banyak memberikan ruang pemberitaan kepada tokoh muda pemimpin bangsa. Mari kita dorong bangsa ini untuk memunculkan tokoh-tokoh (muda) dari daerah yang punya prestasi.


Written by rinaldimunir

January 15th, 2014 at 5:39 pm

Posted in Indonesiaku

Tidak Perlulah Sampai Mogok Mengajar Segala

without comments

Saya mengerinyitkan dahi ketika membaca wacana dosen PNS akan mogok mengajar secara nasional sebagai bentuk protes terhadap Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 88 tahun 2013 yang tidak memberikan tunjangan kinerja kepasa Guru dan Dosen (baca ini: Dosen Indonesia Ancam Mogok Mengajar Nasional. Saya lampirkan isi beritanya pada bagian akhir tulisan).

Saya akui kesejahteraan Guru dan Dosen di negara kita memang masih memprihatinkan. Apresiasi negara terhadap profesi kami jauh dari harapan. Bagi sebagian besar Guru dan Dosen PNS di negeri ini, gaji dari Pemerintah sangat diandalkan buat menopang kebutuhan hidup. Maka, ketika Perpres itu mengatur tidak ada tunjangan kinerja bagi tenaga kependidikan di Kemendikbud, maka sebagian dosen-dosen itu bereaksi dengan membuat petisi yang mendesak pemerintah untuk merevisi Perpres 88/2013 yang dianggap tidak adil. Jika petisi tersebut ditolak oleh Pemerintah, maka sebagian dosen tersebut memunculkan wacana untuk melakukan mogok mengajar.

Saya mendukung perjuangan untuk memperoleh hak (tunjangan kinerja) tersebut, namun saya tidak mendukung wacana mogok mengajar nasional dan tidak mau ikut-ikutan mogok segala. Menurut saya agak kurang pas dan terkesan kekanak-kanakan jika sampai mogok mengajar karena masalah uang. Seperti anak kecil saja, jika permintaannya tidak dipenuhi lalu ngambek. Boleh saja kita kecewa kepada Pemerintah karena tidak mendapatkan hak yang seharusnya, tetapi jangan pula kita sampai merugikan hak orang lain, yaitu para mahasiswa kita.

Menjadi dosen atau guru itu adalah panggilan jiwa, panggilan nurani. Bukan uang yang menjadi tujuan menekuni profesi ini melainkan kepuasan jiwa. Melihat anak didik kita berhasil, kita pun ikut berbahagia. Namun bukan berarti uang tidak penting, uang tetap penting namun uang bukan segala-galanya dalam hidup ini. Bagi saya pribadi, rezeki itu ada saja dari Tuhan, kadangkala ia datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Meskipun Pemerintah belum bisa memberi gaji yang layak buat guru dan dosen, para dosen perlu kreatif mencari tambahan penghasilan selama tidak mengganggu tugas utamanya di kampus. Banyak cara yang dapat dilakukan, misalnya menjadi pembicara seminar, menulis buku, mengajar di tempat lain, menjadi konsultan, dan lain-lain. Rezeki mah ada saja nanti, selama masih mau berusaha.

Bagi Pemerintah, janganlah keikhlasan para Guru/Dosen sebagai pendidik itu “dimanfaatkan” sebagai pembenaran untuk tidak memberikan hak-hak mereka. Negeri ini hanya bisa maju apabila pendidikan maju, dan di tangan para pendidik itulah masa depan bangsa ditentukan.

~~~~~~~~~~~
Lampiran:

08 Januari 2014 | 05:45 wib | Nasional
Dosen Indonesia Ancam Mogok Mengajar Nasional
Share :Facebook Twitter Email

JAKARTA, suaramerdeka.com – Kebijakan Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 88 tahun 2013 tentang tunjangan kinerja pegawai di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), dinilai sangat diskriminatif. Bunyi pasal 3 ayat (1) poin (f) dijelaskan bahwa, Guru dan Dosen dikecualikan untuk mendapatkan tunjangan kinerja.

Pemerintah dianggap tidak serius memikirkan kesejahteraan dosen. Tanggung-jawab yang besar karena harus melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan kualifikasi akademik minimal S2, tidak menjadi acuan yang sepadan dalam penentuan hak-hak dosen. Ironisnya, hak-hak yang diperoleh PNS di luar Kemendikbud jauh lebih besar.

Diskriminasi ini memicu ribuan Dosen Indonesia menggalang Petisi yang mendesak pemerintah untuk merevisi Perpres 88/2013 yang dianggap tidak adil. Berbagai perhimpunan profesi dosen di Indonesia seperti, Forum Akademisi Informasi dan Teknologi (FAIT), Grup Dosen Indonesia (GDI), Forum Dosen Indonesia (FDI) dan Forum Asosiasi Dosen (FAD) mendukung langkah penggalangan petisi.

“Kami menolak Perpres No. 88/2013 karena telah mendiskriminasi dosen untuk tidak mendapatkan haknya. Pemerintah harus merevisi perpres tersebut,” ujar Abdul Hamid, penggagas petisi yang juga Dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.

Masih lanjut Abdul Hamid, “Kami telah menggalang Petisi sebagai reaksi atas ketidakadilan terhadap profesi Dosen yang tidak mendapatkan tunjangan kinerja, padahal tunjangan kinerja seharusnya otomatis melekat pada status PNS.”

Senada dengan Abdul Hamid, Sekjen FAIT, Janner Simarmata menegaskan, penggalangan petisi adalah langkah awal yang dilakukan Dosen Indonesia untuk menuntut haknya. “Petisi adalah langkah awal Dosen di seluruh Indonesia menuntut haknya. Kita akan melihat respon pemerintah,” tegas Janner Simarmata yang juga dosen di Universitas Negeri Medan.

“Pemerintah sepatutnya mengetahui, tunjangan kinerja dan tunjangan profesi adalah dua hal yang berbeda. Tunjangan kinerja mengacu pada pekerjaan, perilaku dan hasil yang otomatis melekat pada PNS. Sedangkan tunjangan profesi (serdos) mengacu pada pengakuan terhadap dosen sebagai tenaga professional melalui persyaratan seperti, pendidikan, kepangkatan, nilai TOEFL dan TPA,” lanjut Janner Simarmata.

“Jika dosen tidak berhak menerima tunjangan kinerja, lantas tunjangan apa yang didapatkan seorang dosen apabila dia juga belum memperoleh tunjangan profesi (serdos)?” tanya Janner Simarmata.

Senada dengan rekannya, pengurus GDI, Ranny Emilia, mempertanyakan penghentian tunjangan fungsional dan tunjangan profesi ketika seorang dosen sedang tugas belajar.

“Dosen diperlakukan tidak adil dan ketidakpastian hukum terjadi di Kemendikbud. Buktinya, tunjangan fungsional dan tunjangan profesi dihentikan ketika seorang dosen sedang tugas belajar. Bukankah tugas belajar bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi,” sebut Ranny Emilia yang juga dosen di Universitas Andalas Padang.

Sementara itu, Ketua Umum FAIT, Hotland Sitorus menghimbau Mendikbud agar segera mengusulkan revisi terhadap Perpres No. 88/2013 kepada Presiden. “Petisi ini hal yang serius untuk dipikirkan Mendikbud. Ribuan Dosen di seluruh Indonesia berharap memperoleh haknya. Kenapa justru dipersulit. Mendikbud harus bertanggungjawab,” tegas Hotland Sitorus.

“Apabila petisi ini tidak ditanggapi pemerintah, bukan tidak mungkin Dosen di Seluruh Indonesia akan melakukan mogok mengajar nasional,” pungkas Hotland Sitorus.


Written by rinaldimunir

January 13th, 2014 at 4:18 pm

Posted in Pendidikan