if99.net

IF99 ITB

Archive for October, 2013

Ketika Mahasiswa ITB Menjadi Korban Kesadisan Geng Motor

without comments

Saya kira geng motor di Bandung sudah bubar, sebab tahun lalu Kapolda Jabar resmi membubarkan geng motor. Nyatanya hanya bubar sementara, geng motor masih tetap hidup secara sembunyi-sembunyi. Mereka beraksi dengan memanfaatkan kelengahan polisi ditambah situasi gelap malam yang mendukung.

Di Bandung, berkeliaran (baik jalan kaki atau dengan motor) di atas jam 12 malam sangat tidak aman. Geng motor masih ada mencari “mangsa”. Sasaran mereka adalah anggota geng motor lawan, namun seringkali mereka salah sasaran. Baru-baru ini seorang mahasiswa ITB bernama Timmy (Teknik Geofisika Angkatan 2011) menjadi korban kebrulan geng motor.

Berikut kronologi penganiayaan yang menimpa Timmy yang saya peroleh dari teman di milis dosen.

Pada hari Senin dini hari, kira-kira sekitar pukul 02.00 tanggal 7 Oktober 2013, seorang mahasiswa Teknik Geofisika ITB angkatan 2011 yang bernama Julius Timothy, telah dianiaya dan dirampok oleh sekelompok anggota geng motor. Lokasi kejadian berada di daerah Cikutra, sekitar Borma dekat Taman Makam Pahlawan.

Kejadian berawal saat Julius usai mengantar temannya pulang ke daerah Cicaheum. Setelah mengantar temannya, Julius sempat makan dahulu di daerah Cikutra. Saat makan, ternyata Julius telah diincar oleh geng motor. Setelah selesai makan, Julius hendak ingin pulang ke rumahnya di Ciheulang. Namun, tiba-tiba 2 buah motor yang berjumlah 4 orang mendekati Julius yang sedang naik motor, dan kemudian memukulinya. Karena dipukul secara tiba-tiba, Julius turun dari motor dan melawan balik ke 4 orang yang telah memukulinya tersebut. Julius berhasil mengalahkan ke 4 orang tersebut. Namun tiba-tiba, 4 motor lain yang berjumlah 8 orang datang dengan membawa linggis dan golok. Kemudian menghampiri Julius dan membantu ke empat temannya yang telah berhasil diatasi oleh Julius sebelumnya. Akhirnya 12 orang mengeroyoki Julius dan kemudian menikamnya dengan senjata-senjata yang mereka bawa.

Julius mendapat 4 tikaman di kepala, 1 tikaman di leher, 1 tikaman di tangan, dan 1 tikaman di punggung. Rata-rata tikaman mencapai 15 cm dalamnya. Selain itu, Julius mengalami cedera tendon putus dan tulang lengan bawah terkikis karena saat salah satu geng motor hendak menikam kepala Julius, Julius menangkisnya dengan tangan, dan tangannya terkena tikaman golok. Kedalaman tikaman hingga menembus tulang.
Setelah Julius mengalami luka parah karena dikeroyok dan ditikam berkali-kali, para geng motor melempar Julius ke selokan depan Taman Makam Pahlawan. Motor milik Julius, Honda CBR, berhasil dibawa oleh sekelompok anggota geng motor tersebut.

Bersyukur saat itu Julius masih ada dalam keadaan sadar, lalu dia teriak minta tolong di dalam selokan. Karena lama dan tidak ada yang mendengar, dia keluar dari selokan dengan sendirinya, lalu jalan ke bagian tengah jalan dan berbaring. Saat sedang berbaring di tengah jalan, Julius menelpon orang tua-nya, dan meminta orang-tua nya pergi ke Bandung karena Julius merasa sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya. Untungnya terdapat bapak-bapak yang melihat Julius dan langsung menghubungi polisi. Lalu, polisi datang dan menghubungi orang tuanya Julius melalui telepon. Orang tua Julius kemudian meminta polisi untuk segera membawa Julius ke RS Borromeus. Kemudian, polisi mengantar Julius ke RS Borromeus untuk menjahit dan menutup luka-luka karena tikaman. Saat orang tuanya sampai di Bandung, orang tua Julius langsung meminta pihak RS untuk memindahkan Julius ke RS di Jakarta untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Saat ini, Julius masih dirawat di RS tersebut dan kondisinya sudah semakin membaik. Cedera di badan dan di kepala sudah dijahit dan diperban. Luka-lukanya sudah kering. Tangannya sudah dioperasi, tendonnya telah dijahit.

Wuah…membaca kejadian yang menimpa Timmy, saya jadi ngeri kalau pulang malam hari pakai sepeda motor. Setiap melewati kumpulan remaja di pinggir jalan yang lagi nongkrong dengan motornya, saya selalu komat-komit berdoa meminta perlindungan kepada Allah. Memang tidak semuanya geng motor beneran, tetapi hanya anak-anak muda yang menghabiskan waktu malam dengan kumpul-kumpul di pinggir jalan. Pada malam minggu, seputaran Jalan Dago hingga Jalan Diponegoro banyak kumpulan klub motor (bukan geng motor) nongkrong di pinggir jalan lengkap dengan nama klubnya (Vario, Vespa, Mio, dll). Nah, kalau melewati klub motor saya agak lega sedikit, tetapi kalau kumpulan remaja yang tidak jelas identitasnya barulah jantung saya berdebar-debar.

Geng motor di Bandung ternyata tidak ada matinya. Saya sarankan Anda untuk tidak pulang sendiri di atas jam 12 malam, sebaiknya pakai kendaraan umum atau taksi saja.


Written by rinaldimunir

October 12th, 2013 at 5:37 pm

Bapak Pemotong Rumput Datang Lagi

without comments

Ketika saya akan mengantarkan anak ke sekolah, seorang mamang pemotong rumput tiba-tiba nongol dan menawarkan jasanya untuk memotong rumput halaman rumah saya. “Potong, Pak?”, tanyanya. Saya melihat sekilas ke halaman, sebenarnya rumput di halaman belum terlalu panjang, kira-kira masih sebulan lagilah baru akan dipotong dan dibersihkan. Namun, saya pikir mungkin si mamang sedang membutuhkan uang sehingga dia datang untuk menawarkan jasanya membersihkan dan memotong rumput. Tahun lalu dia juga pernah datang memotong rumput, dan sekarang dia datang lagi.

Sebenarnya yang biasa memotong rumput adalah Mang Dhana, tukang beca langganan anak saya yang menjemputnya setiap kali pulang sekolah. Tapi kali ini urusan potong rumput saya berikan kepada mamang yang barusan. Tidak apalah bagi-bagi rezeki antara Mang Dhana dan mamang yang barusan. Dua-duanya orang kecil yang mencari pekerjaan secara halal, tidak mau mengemis, tidak mau mencuri. Kalau bukan kita yang membantu dengan memberinya pekerjaan, lalu siapa lagi?

Setelah sepakat dengan harganya, dia mulai mengeluarkan sabitnya. Cret..cret…cret.. rumput di halaman rumah saya yang tidak terlalu luas itu dipotongnya dengan gunting rumput yang tajam. Lihat, bajunya sama persis seperti tahun lalu ketika dia datang memotong rumput.

Rumput 1

Dia bekerja dengan tekun dalam diam. Rumput liar yang tumbuh disela-sela rumput manila dia cabut dan dia bersihkan. Dahan pohon yang sudah layu dia potong. Bunga-bunga dia bersihkan dari tanaman pengganggu.

Rumput 2

Setelah dua jam lebih merumput, pekerjaannya selesai. Hasilnya rapi dan saya pun puas memandang rumput di halaman yang sekarang bersih dan rapi lagi.

Rumput 3

****************

Si mamang memotong rumput ketika media ramai-ramai memberitakan kasus penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang tertangkap tangan menerima uang suap. Jumlah uang suap yang diterimanya sekitar 3 milyar rupiah. Tiga milyar? Jumlah yang sangat-sangat besar bagi kebanyakan orang Indonesia. Kurang apa lagi gaji Ketua MK itu, per bulannya dia sudah mendapat gaji pokok 30-40 juta rupiah, belum lagi jika ditambah dengan tunjangan-tunjangan lain yang bila ditotal bisa mencapai 50 juta lebih per bulan. Sudah gajinya besar, korupsi lagi. Sementara orang kecil seperti Mang Dhana dan mamang pemotong rumput itu harus berkeringat luar biasa untuk mendapatkan uang tiga puluh ribu rupiah untuk memotong rumput halaman rumah saya.

Sungguh menyakitkan bagi orang kecil, mereka banting tulang siang malam untuk mencari uang yang tidak seberapa, sementara pejabat rakus mendapat uang dengan mudah dengan cara korupsi. Namun percayalah, si mamang memperoleh rezekinya dengan halal, sedangkan pejabat rakus meskipun hasil korupsinya besar namun hartanya tidak barokah karena haram cara mendapatkannya. Biarlah sedikit yang penting barokah.

.


Written by rinaldimunir

October 9th, 2013 at 4:17 pm

Pak Rasidi dan Purnabaktinya

without comments

Akhir bulan Oktober 2013 ini Pak Rasidi akan memasuki masa purnabakti di Informatika ITB, setelah mengabdi selama 23 tahun di Informatika (mulai ditugaskan di TU-IF sejak tahun 1990). Siapa mahasiswa Informatika ITB (IF-ITB) yang tidak kenal dengan pegawai Tata Usaha Informatika yang satu ini? Hampir semua mahasiswa IF-ITB pernah berurusan dengan beliau, terutama urusan surat menyurat. Mulai dari surat pengantar kerja praktek, surat keterangan sebagai mahasiswa IF-ITB, sampai urusan seminar dan sidang Tugas Akhir.

Pak Rasidi di depan meja kerjanya.

Pak Rasidi di depan meja kerjanya.

Pak Rasidi bukan sembarang pegawai TU, dia sangat baik bahkan terlalu baik kepada mahasiswa. Saking baiknya sehingga seringkali dia yang menelpon mahasiswa bila ada surat yang masuk untuk mahasiswa tersebut. Dia tidak pernah marah dan selalu sabar melayani permintaan mahasiswa yang malah tidak sabaran dan terkadang menganggap remeh pegawai TU. Kita semua membutuhkan pegawai TU. Tanpa kehadiran pegawai TU, mahasiswa tidak mungkin bisa menjadi sarjana. Siapa yang akan mengurus urusan adminstratif Anda di kampus? Begitu juga, tanpa pegawai TU urusan perkuliahan dan kenaikan pangkat dosen tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik. Kita manusia semua saling membutuhkan satu sama lain.

Kembali ke cerita tentang Pak Rasidi. Satu kata untuk Pak Rasidi adalah: dedikasi. Dedikasi, kesabaran dan kebaikannya tidak akan pernah dilupakan mahasiswa kami. Masa-masa peak season adalah menjelang seminar dan sidang Tugas Akhir. Jika masuk peak season, Pak Rasidi sampai perlu lembur hingga pukul 12 malam di kampus untuk menyiapkan semua berkas untuk sidang. Sendirian di kantor. Kadang-kadang dosen penguji memberitahukan secara mendadak kalau tidak bisa menguji, maka Pak Rasidi harus menelpon malam-malam itu mencari dosen pengganti. Kadang-kadang jadwal sidang yang harus diubah karena permintaan dosen, maka Pak Rasidi menelpon mahasiswa memberitahukan perubahan itu.

Pernah suatu waktu setelah peak season Pak Rasidi tidak masuk beberapa hari. Sakit. Karena sering duduk dan menahan buang air kecil (toilet di kampus dikunci pada malam hari), maka Pak Rasidi mengalami encok dan saraf kejepit. Dia sampai susah untuk duduk dan harus diterapi beberapa kali sampai pulih kembali.

Namun alam tetaplah fana. Sebagaimana manusia lain umumnya, Pak Rasidi tidak bisa melawan kehendak alam. Setiap orang akan menua dan pada waktunya tiba ia harus menyingkir dari panggung kehidupan, digantikan oleh tenaga yang lebih muda. Pak Rasidi akan memasuki masa purnabakti dari kampus ITB, menikmati hidup barunya dengan tenang dan jauh dari rutinitas kampus yang tidak pernah berhenti beraktivitas.

Klik video di Youtube yang berisi penuturan Pak Rasidi ketika diwawancarai satu tahun menjelang masa purnabaktinya.


Written by rinaldimunir

October 7th, 2013 at 8:40 pm

Trias Corruptica = Execu-thieves + Legisla-thieves + Judica-thieves

without comments

Judul tulisan di atas adalah lontaran Budiarto Shambazy, seorang wartawan harian nasional, yang merupakan plesetan dari asas pemisahan kekuasaan yang sangat terkenal, trias politica. Trias politica itu ada tiga unsur, yaitu kekuasaan eksekutif (executives), kekuasaan legislatif (legislatives), dan kekuasaan yudikatif (judicatives).

Saat ini Indonesia mengalami krisis moral pada ketiga pemegang kekuasaan tadi. Pemegang kekuasaan eksekutif seperti bupati, walikota, gubernur, bahkan juga menteri sudah banyak terlibat kasus korupsi. Anggota DPR atau DPRD yang duduk di lembaga lesgislatif sudah tidak terbilang ditangkap lalu diadili karena kasus korupsi. Sudah berapa banyak para hakim dan jaksa –yang dianggap sebagai “wakil Tuhan” di bumi dalam menegakkan keadilan– dari lembaga yudikatif yang harus masuk bui karena menerima uang suap dari pihak yang terlibat perkara. Kasus terakhir yang mengguncang negeri ini adalah penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mokhtar, yang tertangkap tangan menerima uang suap dari peserta Pemilukada.

Mereka-mereka yang terlibat korupsi itu pantas disebut pencuri (mencuri = thieve). Mereka memperkaya diri sendiri dengan mengambil uang negara (yang notabene uang rakyat) atau menyalahgunakan wewenang dan kedudukannya dengan menerima uang sehingga berlaku tidak adil dalam megambil keputusan yang terkait dengan jabatannya. Maka, plesetan trias politica menjadi trias corruptica adalah sebuah ironi yang ada benarnya. Executive diplesetkan menjadi execu-thieves, legislative menjadi legisla-thieves, judicative menjadi yudica-thieves.

Sungguh, kepercayaan masyarakat kepada ketiga lembaga pemegang kekuasaan itu mencapai titik nadir. Kita kehabisan kata-kata untuk berbicara setelah lembaga peradilan sebagai sandaran terahkir untuk mencari keadilan dan penegakan hukum ternyata bagian dari masalah korupsi itu sendiri.

Entah mau dibawa kemana negeri ini dengan banyaknya kasus korupsi yang sudah mendarah daging. Untung saja masih lebih banyak orang yang baik dan bersih di negeri. Masih ada harapan.


Written by rinaldimunir

October 4th, 2013 at 11:19 am

Posted in Indonesiaku

Antara Gaji Dosen dan Gaji Pengemis

without comments

Pengemis di Bandung membuat berita heboh. Mereka ditawari pekerjaan oleh Walikota yang baru, Ridwan Kamil, sebagai penyapu jalan. Namun, mereka sepertinya kurang antusias, bahkan agak ngelunjak, mereka minta gaji Rp4 juta hingga Rp10 juta per bulan sebagai penyapu jalan.

“Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah bapak siap menggaji sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah bapak bisa menggaji mereka Rp 4 juta sampai Rp 10 juta. Kalau hanya gaji Rp 700 ribu tidak akan cukup,” ujar Priston salah seorang orator dari Gerakan Masyarakat Djalanan (GMD). (Sumber: Ditawari Kerja Jadi Penyapu Jalan, Pengemis Bandung Minta Gaji Rp 10 Juta).

Minta 10 juta? Wah, gaji kami dosen ITB yang bergelar master dan doktor saja tidak sampai setengahnya. Gaji saya per bulan (sudah termasuk tunjangan fungsional, tunjangan anak, tunjangan istri) hanya sekitar empat juta lebih sedikit. Kurang? ya pasti kurang, tetapi yang namanya dosen PNS itu gaji dicukup-cukupkan saja. Alhamdulillah, untung saja ada tambahan insentif dan tunjangan profesi dari negara karena sudah lulus sertifikasi dosen sehingga “agak tertolong” lah sedikit.

Bagi dosen yang belum mendapat tunjangan profesi, maka gaji PNS yang kecil itu harus disiasati. Bagi dosen yang punya proyek, kerma, penelitian, atau merangkap sebagai konsultan, maka honor dari proyek/kerma/penelitian/konsultan itu lumayan sangat membantu kebutuhan keluarganya. Jadi, gaji boleh kecil, tetapi take home pay nya itu lho, besar, demikian seloroh orang-orang. Namun, dosen yang “makmur” seperti itu tidak banyak jumlahnya. Bagi dosen yang tidak punya proyekan dan hidup hanya mengandalkan dari gaji saja, ya harus pandai-pandai menghadapi kondisi “labil ekonomi” (meminjam istilah Vicky :-) ). Bulan masih muda tetapi uang gaji sudah habis, bulan tua mulai mencari pinjaman.

Meskipun gaji kecil tetapi saya tidak pernah mendengar ada dosen yang resign karena tertarik tawaran bekerja di tempat lain dengan gaji yang menggiurkan. Jika anda bertanya, dengan gaji dosen yang kecil itu, kenapa kami masih tetap bertahan di sini? Jawabannya adalah karena kami mencintai mahasiswa kami.

Jadi, kalau pengemis saja berani meminta gaji 10 juta per bulan sebagai penyapu jalan, maka saya pribadi tidak menuntut banyak. Uang bukan segala-galanya dalam hidup ini.


Written by rinaldimunir

October 2nd, 2013 at 5:35 pm