if99.net

IF99 ITB

Archive for September, 2013

Berkunjung ke Jepang (Bag. 6): Jalan-Jalan di Tokyo

without comments

“Tugas negara” sudah selesai, hari ini kami punya waktu seharian untuk keliling kota Tokyo. Ini adalah hari terakhir kami di Jepang, besok kami sudah harus pulang ke tanah air.

Kawasan pertama yang “wajib” dikunjungi adalah Ginza, sebuah pusat perbelanjaan elit di Tokyo. Barang-barang merek ternama dunia ada di sini. Saya hanya cuci mata saja di sini, tidak ada niat untuk belanja-belanja di Ginza.

Kawasan Ginza

Kawasan Ginza

Pak Dekan, saya, dan Bu Hira di Ginza.

Pak Dekan, saya, dan Bu Hira di Ginza.

Label merek ternama di Ginza.

Label merek ternama di Ginza.

Mobil-mobil mewah berseliwera di Ginza. Mejeng di depan mobil Ferari.

Mobil-mobil mewah berseliwera di Ginza. Mejeng di depan mobil Ferari.

Ternyata Ginza itu nama orang Jepang yang diabadikan menjadi nama kawasan ini. Itu tuh ada prasasti yang menceritakan tentang riwayat hidupnya di jalur pedestrian di Ginza.

Prasasti tentang Ginza.

Prasasti tentang Ginza.

Dari Ginza kami naik kereta api bawah tanah menuju kawasan Akihabara. Akihabara terkenal sebagai pusat anime terbesar di Tokyo. Bagi penggemar anime, disinilah “surganya”.

Stasiun Akihabara

Stasiun Akihabara

Kawasan Akihabara. Ada kafe AKB48 lho di sini.

Kawasan Akihabara. Ada kafe AKB48 lho di sini.

Narsis di Kafe AKB48

Narsis di Kafe AKB48

Pusat perbelanjaan di Akihabara, menyatu dengan stasiun kereta.

Pusat perbelanjaan di Akihabara, menyatu dengan stasiun kereta.

Pusat anime terbesar di Tokyo ada di Akihabara ini.

Pusat anime terbesar di Tokyo ada di Akihabara ini.

DSCF1134

DSCF1135

DSCF1140

Dari Akihabara, kami menuju Akasuka. Ini adalah kawasan wisata yang menjual suvenir khas Jepang. Di sini ada rumah tradisionil Jepang yang unik.

Rumah tradisionil Jepang di Asasuka

Rumah tradisionil Jepang di Asasuka

DSCF1176

Narsis di Asasuka

Narsis di Asasuka

Becak tradisionil Jepang yang ditarik manusia di Sasuka

Becak tradisionil Jepang yang ditarik manusia di Akasuka

Becak tradisionil Jepang

Becak tradisionil Jepang

Dari Akasuka Asasuka kami diundang makan siang di masjid yang di sana tinggal keluarga seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan S3 di TIT. Bentuknya tidak seperti masjid umumnya, sebab semula adalah sebuah kantor yang dibeli oleh orang Pakistan. Wah, seminggu saya tidak menemui masakan Padang di Jepang alhamdulillah sedikit terobati. Terima kasih Mas Topan.

DSCF1185

Tanda melengkung dan tulisan MOSQUE menandaklan masjid.

Tanda melengkung dan tulisan MOSQUE menandaklan masjid.

Ruang shalat di dalam masjid

Ruang shalat di dalam masjid

Setelah sholat, makan, dan istirahat, maka tempat terakhir yang saya kunjungi adalah Shibuya. Ini adalah kawasan paling ramai di Tokyo. Jika anda sering melihat ramainya orang Tokyo berjalan bergegas seperti dikejar hantu, maka pemandangan itu kemungkinan besar di Shibuya. Di Shibuya terdapat stasiun kereta api yang sangat ramai. Orang-orang yang berjalan bergegas itu karena mereka mengejar jadwal kereta. Mereka menyeberang jalan bersama-sama laksana air bah.

Orang-orang menyeberang jakan laksana air bah di Shibuya

Orang-orang menyeberang jakan laksana air bah di Shibuya

Gedung-gedung tinggi yang dindingnya menjadi megatron di Shibuya

Gedung-gedung tinggi yang dindingnya menjadi megatron di Shibuya

Hari sudah malam, kami pulang dulu ke hotel. Besok pagi sudah harus bersiap-siap ke Bandara.


Written by rinaldimunir

September 28th, 2013 at 9:19 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Jepang (Bag. 5): Kampus Tokodai dan Keio University

without comments

TIT (Tokyo Institute of Technology) adalah perguruan tinggi teknik ternama di Jepang, bisa dianggap ITB-nya Jepang lah. Orang Jepang sering menyebutnya Tokodai (singkatan T?ky? K?gy? Daigaku) atau Tokyo Tech. Kami ke sini untuk menemui beberapa orang sensei (sebutan untuk profesor di Jepang) dari rekan kami, sekalian menemui sensei computer science (berhubung kami dari Informatika).

Kami mengunjungi kanmpus utama TIT di ?okayama (kampus TIT lainnya di Nagatsuta dan Tamachi). Kesan saya ketika masuk kampus ini adalah kondisinya mirip dengan kampus ITB. Kampus TIT terletak di tengah kota, sekelilingnya adalah pemukiman penduduk, gedung-gedung di dalam kampus saling berdekatan jaraknya, dan antar gedung dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Gerbang masuk kampus TIT.

Gerbang masuk kampus TIT.

Peta kampus TIT di dekat pintu gerbang.

Peta kampus TIT di dekat pintu gerbang.

Gedung berarsitektur posmo menyambut kita setelah memasuki gerbang kamus.

Gedung berarsitektur posmo menyambut kita setelah memasuki gerbang kamus.

Deretan pohon sakura menyambut kedatangan kami. Sayangnya sekarang bukan sedang musim semi, jadi bunga sakuranya tidak ada. Bangku-bangku di bawah pohon itu sangat cocok untuk melepaskan penat atau tempat diskusi.

Deretan pohon sakura yang rindang.

Deretan pohon sakura yang rindang.

Ini dia gedung utama kampus yang dibangun pada abad 19. Tampak sangat klasik. Saya mengambil gaya dulu di depan gedung ini.

Narsis dulu di depan gedung utama kampus Ookayama

Narsis dulu di depan gedung utama kampus Ookayama

Gedung-gedung di kampus TIT saling berdekatan (lihat foto-foto di bawah ini), sebagaimana yang saya sebutkan pada bagian awal tulisan.

DSCF1051

DSCF1052

DSCF1058

Berhubung kami belum makan siang, kami mampir dulu di kantin. Semua makanan di sini sudah tertulis harganya dan sudah tersaji dalam piring-piring atau mangkok, tinggal angkat saja deh, lalu bayar. Hati-hati memilih makanan yang halal bagi muslim. Ada petunjuk makanan halal di kantin ini. Ketersediaan makanan halal di TIT adalah alasan mengapa mahasiswa dari Timur Tengah tertarik kuliah di TIT. Mahasiswa dari Timteng mengatakan (begitu yang saya dengar cerita dari teman), salah satu alasan mereka memilih TIT adalah karena mereka mendengar di TIT terdapat kantin dengan makanan halal.

Kantin di  kampus TIT

Kantin di kampus TIT

Mahasiswa sedang makan

Mahasiswa sedang makan

Setelah menemui para sensei dan meninjau pembangkit energi terbarukan yang mendapat penghargaan dunia, kami kembali ke hotel. Acara keesokan hari adalah mengunjungi kampus Keio University.

Untuk mencapai kampus Keio kita harus beberapa kali naik kereta. Keio adalah universitas swasta paling prestisius di Jepang. Universitas ini didirikan pada abad 19. Keio memiliki beberapa kampus, yaitu di Shonan Fujisawa dan di Yagami. Yang kami kunjungi adalah kampus di Fujishawa.

Bangunan utama di kampus Fujishawa.

Bangunan utama di kampus Fujishawa.

DSCF1066

DSCF1065

Gedung-gedung kuliah/lab di kampus Fujishawa

Gedung-gedung kuliah/lab di kampus Fujishawa

Kampus keio di Fujishawa ini cukup luas dan lapang, deretan pohon-pohon dan hutan kampus membuat suasananya jadi adem.

DSCF1068

Nama kotanya Fujishawa berarti ada hubungannya dengan Gunung Fuji. Ternyata kami cukup beruntung hari itu sebab dapat melihat puncak Gunung Fuji dari kejauhan. Pemandangan melihat gunung Fuji dari sini biasanya jarang terlihat. Salju di puncak gunungnya tidak ada sebab sudah mencair di musim panas.

Puncak gunung Fuji terlihat dari kampus Keio.

Puncak gunung Fuji terlihat dari kampus Keio.

Hari sudah siang, kami mau makan dulu. Kantin di Keio ini punya cara membayar yang menarik bagi saya. Semua makanan yang kita ambil ditimbang di kasir dan harga yang dibayar dihitung per gram. Mau ambil sayur, nasi, ikan, daging, buah, harga per gramnya sama (berat piring tidak dihitung).

Kantin di kampus Keio

Kantin di kampus Keio

Makanan yang kita beli ditimbang di kasir

Makanan yang kita beli ditimbang di kasir

Mahasiswa sedang makan.

Mahasiswa sedang makan.

Berhubung hari ini hari Jumat kami mau sholat Jumat dulu. Tidak ada masjid di kampus, tetapi sebuah ruang rapat kecil disulap menjadi tempat sholat Jumat. Jamaahnya hanya 10 orang, 4 orang diantaranya orang Jepang asli yang masuk Islam (3 mahasiswa dan 1 orang sensei), lima orang Indonesia (termasuk kami), dan seorang lagi tampaknya dari luar Jepang. Kahtibnya salah seorang dosen Indonesia yang mengajar di Keio, memberikan ceramah dalam Bahasa Inggris.

Shalat Jumat.

Shalat Jumat.

Bagi saya yang menarik di perguruan tinggi di Jepang adalah variasi mereka dalam membuka program graduate (S2) lintas disiplin ilmu. Jika program S2 PT di Indonesia masih tradisionil dalam pembagian bidang studi (misalnya S2 Elektro, S2 Informatika, S2 Teknik Mesin, S2 Sipil, S2 Manajemen, dan sebagainya), maka perguruan tinggi di Jepang melangkah lebih jauh. Di Keio misalnya, ada Graduate School of Media and Governance , School of Science for Open and Environmental Systems, School of Integrated Design Engineering, dan lain-lain.

Oh ya, di kampus Keio yang saya kunjungi juga ada sekolah SMA, mungkin sebagai pasokan menjadi mahasiswa Keio, maklum Jepang sekarang dilanda kekurangan mahasiswa akibat angka kelahiran yang rendah. Seperti yang diceritakan teman di sini, Jepang saat ini dilanda “paceklik penduduk”. Angka kelahiran menurun, penduduk lansia atau manula lebih banyak lalu lalang, orang-orang muda enggan menikah meskipun umur sudah di atas 30 tahun, kalau pun menikah enggan “memproduksi” anak (baca ini).

Universitas-universitas kekurangan mahasiswa, terutama untuk program master dan doktor. Jika tidak ada mahasiswa, program studi bisa kolaps (terancam ditutup). Itu artinya kondisi “membahayakan” bagi parta sensei karena tidak ada mahasiswa berarti tidak ada riset. Mereka “mengimpor” mahasiswa dari luar dengan berbagai skema program beasiswa, sekarang perguruan tinggi di Jepang lebih suka melirik mahasiswa dari Indonesia dan Vietnam ketimbang dari Korea dan China (yang dianggap sebagai saingan Jepang saat ini).

Kondisi ini sangat terbalik dengan Indonesia. Negara kita kebanjiran jumlah penduduk, masih muda sudah banyak yang menikah, angka kelahiran tinggi dan prinsip banyak anak banyak rezeki masih berlaku, dan universitas tidak pernah kekurangan mahasiswa. Maka, program beasiswa yang banyak ditawarkan oleh perguruan tinggi di Jepang adalah kesempatan emas bagi mahasiswa Indonesia untuk ramai-ramai mengambil master/doktor di sana. Anda berminat?


Written by rinaldimunir

September 28th, 2013 at 5:59 am

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Jepang (Bag. 4): Dari Kanazawa ke Tokyo

without comments

Pagi-pagi kami sudah harus bangun karena jam 6 pagi kami akan berangkat ke Tokyo. Tokyo? Ya, selama ini saya hanya sering mendengar nama dan melihat gambarnya saja. Sekarang saya akan melihat kota super metropolitan itu dengan mata kepala sendiri. Dan yang membuat saya bakal berdebar-debar adalah untuk pertama kalinya saya akan naik salah satu kereta tercepat di dunia, kereta Shinkansen, yaitu kereta peluru yang kecepatannya hampir menyamai kecepatan suara.

Untunglah hotel kami persis di depan stasiun Kanazawa, jadi kami tidak khawatir ditinggal kereta. Dari Kanazawa kami tidak langsung naik Shinkansen, tetapi naik kereta cepat yang lain terlebih dahulu, seperti foto di bawah ini.

DSCF1006

Setelah satu jam lebih naik kereta ini, kami turun di stasiun (stasiun apa gitu, sayang tidak saya catat namanya). Nah, di sini yang membuat jantung sempoyongan. Begitu turun kami harus cepat berlari ke lantai atas untuk mengejar naik Shinkansen, sebab Shinkansen hanya berhenti selama 4 menit. Harus rebutan cepat dengan penumpang lain yang juga berlarian mengejar naik Shinkansen. Saya membawa tiga tas, salah satunya koper besar, harus ekstra berjuang mengejar Shinaksen. Untung saja semua stasiun di Jepang dilengkapi lift dan eskaloator, jadi saya tidak harus naik turun tangga dengan barang-barang yang berat itu. Alhamdulillah kami berhasil naik Shinkansen tepat setengah menit sebelum pintu gerbong ditutup secara otomatis. Kereta Shinkansen yang saya naiki itu dua lantai bo!, ck…ck..ck. Ini fotonya yang saya jepret setelah sampai di Tokyo.

Kereta Shinkansen yang saya naiki, dua lantai.

Kereta Shinkansen yang saya naiki, dua lantai.

Narsis dulu di depan Shinkansen.

Narsis dulu di depan Shinkansen.

Tangga ke lantai dua

Tangga ke lantai dua

Suasana di dalam gerbong Shinkansen lantai dua.

Suasana di dalam gerbong Shinkansen lantai dua.

Kereta Shinkansen tidak berjalan di atas rel di permukaan tanah, tetapi di jalur rel layang yang tampak seperti jalan layang tol seperti foto di bawah ini.

Jalur layang khusus kereta Shinkansen.

Jalur layang khusus kereta Shinkansen.

Kereta Shinkansen ada beberapa macam, ada yang dua lantai dan ada yang satu lantai saja, bentuknya seperti kapsul seperti yang saya potret di jalur satunya lagi.

Kereta Shinkansen lainnya.

Kereta Shinkansen lainnya.

Gerbong kereta Shinkansen yang berwarna putih.

Gerbong kereta Shinkansen yang berwarna putih.

Ramai sekali penumpang turun naik kereta Shinkansen di Tokyo.

Ramai sekali penumpang turun naik kereta Shinkansen di Tokyo.

Kereta bertingkat lainnya yang saya temui di stasiun ini.

Kereta bertingkat lainnya yang saya temui di stasiun ini.

Bagi saya selalu ada pengalaman baru di Jepang, salah duanya tentang budaya tertib dan antri. Orang Jepang memang juara teladan soal tertib dan antri. Kereta api belum datang saja mereka sudah berbaris antri dengan tertib pada setiap posisi masuk gerbong (diberi nomor di atasnya) seperti dua foto di bawah ini. Ketika mau naik kereta juga begitu, naik sesuai antrian dan tidak ada desak-desakan atau orang menyerobot. Di negara kita perlu berapa generasi ya menjadi orang tertib seperti mereka?

Antri dengan tertib menunggu kereta.

Antri dengan tertib menunggu kereta.

Antri dengan tertib menunggu kereta

Antri dengan tertib menunggu kereta

Setelah turun dari Shinkansen, kami menyambung dengan kereta yang lain lagi menuju stasiun berikutnya. Di stasiun perhentian terakhir ini kami turun lalu mencari pintu masuk ke kereta api bawah tanah (subway). Naik subway adalah pengalaman pertama bagi saya, dan saya pikir ini sangat mengayikkan.

Pintu masuk ke bawah tanah menuju jalur subway.

Pintu masuk ke bawah tanah menuju jalur subway.

Anak tangga ke bawah dari atas permukaan tanah.

Anak tangga ke bawah dari atas permukaan tanah.

Sungguh hebat teknologi manusia yang membuat jalur kereta api di bawah tanah, seperti lorong-lorong tikus saja. Jalur kereta subway di Tokyo bercabang-cabang seperti labirin. Kalau tidak bisa membaca peta subway alamat bakal tersesat kita naik kereta.

Suasana di dalam subway, terang benderang seperti bukan di bawah tanah saja.

Suasana di dalam subway, terang benderang seperti bukan di bawah tanah saja.

Peta subway

Peta subway

Jalur rel kereta subway

Jalur rel kereta subway

Ke arah sana sana sangat gelap.

Ke arah sana sana sangat gelap.

Kereta subway baru datang.

Kereta subway baru datang.

Suasana di dalam gerbong subway.

Suasana di dalam gerbong subway.

Berhenti di sini.

Berhenti di sini.

Tokyo, ini saya datang!

DSCF1028


Written by rinaldimunir

September 26th, 2013 at 8:10 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Jepang (Bag. 3): Dari Komatsu ke Kanazawa

without comments

Dua hari di kampus JAIST di Nomi, kami kembali ke kota Kanazawa untuk melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Dari kampus JAIST kami menuju stasiun kota Komatsu. Kota Komatsu adalah kota yang lebih besar dari Nomi. Tidak terlihat orang di luar, suasananya sangat sepi. Otrang-orang berada di dalam bangunan untuk bekerja atau sekolah.

Kota Komatsu dekat stasiun KA

Kota Komatsu dekat stasiun KA

Sudut jalan kota Komatsu

Sudut jalan kota Komatsu

Kami naik kereta api ke Kanazawa. Naik kereta api adalah pilihan yang terbaik di Jepang, sebab sistem kereta api di sana sudah sangat mapan, modern, dan stasiunnya terintegrasi dengan pusat perbelanjaan dan pusat keramaian.

Stasiun Komatsu tergolong stasiun berskala menengah. Meskipun kelas menenengah, namun stasiun ini sangat bagus, bersih, lapang, dan nyaman.

Stasiun Komatsu

Stasiun Komatsu

Lapaaaanggg bener stasiun Komatsu ini, sangat ramah dengan pejalan kaki.

Lapaaaanggg benar stasiun Komatsu ini, sangat ramah dengan pejalan kaki.

Narsis dulu di depan stasiun.

Narsis dulu di depan stasiun.

DSCF0971

Kami masuk ke dalam stasiun. Tiket dibeli melalui mesin tiket yang terdapat di dinding stasiun. Lihat peta di atas mesin tiket, tentukan rute tujuan, lalu masukkan uang sejumlah ongkos tiket. Ongkos tiket ke Kanazawa sekitar 400 Yen (saya lupa persisnya berapa).

Mesin tiket kereta

Mesin tiket kereta

Kereta masih setengah jam lagi. Kami duduk-duduk saja dulu. Kereta terdapat di kantai atas. Untuk menuju lantai atas kita bisa naik lift. Benar-benar nyaman.

Menunggu kereta datang

Menunggu kereta datang

Kereta yang kami naiki adalah kerete biasa, yaitu kereta jenis lambat (di sini ada kereta cepat dan kereta lambat, ongkosnya berbeda). Meskipun lambat tetapi menurut saya cepat untuk ukuran kita di Indonesia, secepat kereta Argo lah. Kursi-kursi di dalamnya empuk. Para penumpang berdiam diri, kalau tidak membaca, bermain gadget, ya melamun. Orang Jepang termasuk orang bertipe pemalu dan jarang bicara. Mereka tidak suka ngerumpi atau ngobrol dan tertawa lepas seperti penumpang di Indonesia.

Suasana di dalam kereta.

Suasana di dalam kereta.

Kereta melewati lima sgtasiun antara sebelum akhirnya sampai ke kota Kanazawa. Tidak lama waktu tempuhnya, hanya 20 menit saja.

Suasana di dalam stasiun Kanazawa.

Suasana di dalam stasiun Kanazawa.

Hall stasiun Kanigawa

Hall stasiun Kanazawa

Mesin penjual tiket kereta api di satsiun Kanigawa

Mesin penjual tiket kereta api di satsiun Kanazawa

Hampir semua tulisan di Jepang ditulis dalam huruf kanji. Sangat sedikit petunjuk dalam Bahasa Inggris. Kalau tidak bisa berbahasa Jepang bakal sulit juga berada di negeri ini, karena kebanyakan orang Jepang tidak bisa berbahasa Inggris. Kebetulan dua orang rekan kami adalah alumni Jepang, jadi aman deh kalau jalan-jalan ke sana kemari, nggak khawatir tersesat di Jepang atau menjadi orang bingung sendiri.

Kami menginap di hotel di depan stasiun, namanya Hotel Apa. Apa nama hotelnya? Iya, Hotel Apa. Tampak pemandangan kota Kanagawa dari lantai 13 hotel. Stasiun Kanigawa terlihat dari atas.

DSCF0990

DSCF0991

DSCF0993


Written by rinaldimunir

September 25th, 2013 at 8:43 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Jepang (Bag. 2): Ke JAIST Merajut Kolaborasi

without comments

Jadi, tujuan utama kami ke Jepang adalah untuk membalas kunjungan rombongan fakultas School of Information Science JAIST (Japan Advanced Institute of Science and Technology) bulan April yang lalu. JAIST mengajak fakultas STEI-ITB untuk membangun kerjasama dalam bidang penelitian dan pendidikan. Dalam bidang pendidikan antara lain pertukaran mahasiswa antara ITB dengan JAIST (mahasiswa S2/S3 STEI-ITB dapat mengambil dual-degree di JAIST, begitu pula sebaliknya). Dalam bidang penelitian antara lain kerjasama riset antara kedua institusi, visiting professor, dan kerjasama konferensi ilmiah internasional.

Kampus JAIST (Sumber: www.jaist.ac.jp)

Kampus JAIST (Sumber: http://www.jaist.ac.jp)

FYI, JAIST itu sebenarnya perguruan tinggi yang relatif baru, dibangun pada tahun 1990. JAIST sering dianggap sebagai cara Jepang untuk “menyaingi” Korea dalam bidang pendidikan berbasis riset S2 dan S3. Ingat JAIST ingat KAIST (hanya beda J dan K). Ya, di Korea Selatan terdapat perguruan tinggi sains dan teknik ternama yaitu Korean Adcanced Institute of Science and Technology (KAIST). Saya dan rombongan dari ITB sudah berkunjung ke KAIST pada tahun lalu dalam rangka studi banding program S2 Keamanan Informasi di ITB (baca pengalaman saya berkunjung ke Korea University dan KAIST).

JAIST terletak di perfektur (semacam Propinsi) Ishikawa. Ibukota perfektur Ishikawa adakah Kanazawa. Nah, kampus JAIST terletak di kota kecil bernama Nomi, di selatan kota Kanazawa. Dari stasiun Komatsu kami naik taksi ke kampus JAIST. Ongkos taksinya (pakai argometer) adalah sekitar 6000 Yen (hi..hi..hi, mahal juga ya), padahal jarak tempuh stasiun Komatsu dengan Nomi hanya sekitar setengah jam. Kami sampai di JAIST pada sore hari. Lihat, daun-daun pohon maple dan pohon sakura sudah mulai memerah, pertanda musim gugur (autumn) sudah dimulai di Jepang.

Awal musim gugur (autumn) di Jepang. Daun-daun pohon maple dan  sakura sudah mulai memerah di kampus JAIST

Awal musim gugur (autumn) di Jepang. Daun-daun pohon maple dan sakura sudah mulai memerah di kampus JAIST

Foto narsis dengan Bu Hira dan Prof. Suwarno (Dekan STEI-ITB)

Foto narsis dengan Bu Hira dan Prof. Suwarno (Dekan STEI-ITB)

Fakultas di JAIST yang bersesuaian dengan kami di STEI adalah School of Information Science. Ke fakultas inilah kami berkunjung dan diterima oleh Dekannya bernama Prof. Tetsuo Asano.

School of Information Science, JAIST.

School of Information Science, JAIST.

Beberapa mahsisiswa JAIST sedang berjalan.

Beberapa mahsisiswa JAIST sedang berjalan.

Dekan STEI-ITB dan Prof Tetsuo Asano sedang berbincang.

Dekan STEI-ITB dan Prof Tetsuo Asano sedang berbincang.

Kampus JAIST terlihat sangat sepi, jarang terlihat mahasiswa lalu lalang seperti di kampus tanah air. Mungkin karena di sana tidak ada mahasiswa program S1 di JAIST, semuanya adalah mahasiswa S2 dan S3 dari berbagai negara (80% asal Jepang, selebihnya dari berbagai negara di dunia). Kalau ada mahasiswa S1 pasti ramai ya. Oh ya, kalau sudah berada di JAIST ya harus siap hidup menyepi jauh dari keramaian kota karena kampusnya terletak di pinggir hutan sub-tropis

Ini beberapa sudut lain kampus JAIST:

DSCF0917

Pohon-pohon maple dan sakura sepanjang jalan kampus yang sedang memerah daunnya di awal musim gugur.

Pohon-pohon maple dan sakura sepanjang jalan kampus yang sedang memerah daunnya di awal musim gugur.

Kantin Yu Yu di dalam kampus.

Kantin Yu Yu di dalam kampus.

Makan siang dulu di kantin Yu Yu dengan menu Jepang. Nasinya enak seperti di restoran HHB di Indonesia.

Makan siang dulu di kantin Yu Yu dengan menu Jepang. Nasinya enak seperti di restoran HHB di Indonesia.

Pemandangan kampus JAIST dari atas.

Pemandangan kampus JAIST dari atas gedung fakuktas Information Science.

Di dalam kampus terdapat asrama mahasiswa dan flat (apartemen) tempat tinggal para dosen serta keluarganya. Mobil-mobil mereka diparkir berjajar di luar.

Flat tempat tinggal dosen. Tampak di latar belakang hutan. Katanya beruang hitam pernah keluar hutan dan masuk ke kampus JAIST

Flat tempat tinggal dosen. Tampak di latar belakang hutan. Katanya beruang hitam pernah keluar hutan dan masuk ke kampus JAIST

Flat dosen JAIST

Flat dosen JAIST

Di fakultas School of Information Science itu saya berjumpa dengan orang hebat Indonesia yang menjadi Associate Assistant Professor di sana. Siapa lagi kalau bukan Dr. Khoirul Anwar, si penemu teknologi 4G. Khoirul pernah muncul dalam acara Kick Andy di Metro TV beberapa waktu yang lalu. Dia adalah alumni Teknik Elektro ITB. S2 dan S3-nya di Nara Institute of Technology (NAIST), di Jepang juga.

Kami bertemu Khoirul di labnya (Computer Systems and Networks Group). Di bawah ini beberapa fotonya.

Foto bersama di dalam lab-nya pak Khoirul Anwar.

Foto bersama di dalam lab-nya pak Khoirul Anwar.

Sudut-sudut lab Pak Khoirul. Mahasiswa S2 dan S3 mendapat ruangan sendiri.

Sudut-sudut lab Pak Khoirul. Mahasiswa S2 dan S3 mendapat ruangan sendiri.

Bertemu Rahmi Youwan (mahasiswa Informatika ITB angkatan 2010) dan Ridwan (S2 IF-ITB) yang mendapat kesempatan magang di JAIST selama 1 bulan dan 2 bulan.

Bertemu Rahmi Youwan (mahasiswa Informatika ITB angkatan 2010) dan Ridwan (S2 IF-ITB) yang mendapat kesempatan magang di JAIST selama 1 bulan dan 2 bulan.

Hari sudah menjelang sore, kami pun pamit dari lab Pak Khoirul. Tulisan selanjutnya dilanjutkan besok.


Written by rinaldimunir

September 24th, 2013 at 10:18 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Jepang (Bag. 1): Naik Kereta dari Osaka ke Kanazawa

without comments

Seminggu ini saya dan beberapa teman dosen dari STEI-ITB berkunjung ke Jepang untuk melakukan visitasi ke beberapa universitas di sana. Universitas yang dikunjungi antara lain JAIST (Japan Advanced Institute od Science and Technology) di Kanazawa, Tokodai (Tokyo Institute of Technology) di Tokyo, dan Keio University, juga di Tokyo. Tulisan ini saya buat ketika masih berada di Jepang, dan akan saya bagi menjadi beberapa bagian.

Waaah, akhirnya impian saya berkunjung ke negeri matahari terbit itu kesampaian juga. Kami berangkat dengan pesawat Garuda dari Jakarta ke Osaka. Mengapa Osaka dan bukan ke Tokyo? Karena kota Osaka yang terdekat dengan Kanazawa (tempat perguruan tinggi JAIST). Pesawat Garuda dari Jakarta tidak langsung terbang ke Osaka, tetapi transit dulu di Denpasar, Bali. Jadilah kami menunggu di Bandara Ngurah Rai selama 3 jam lebih sebab pesawat berangkat dari Bali ke Osaka pada pukul 00.25 dinihari. Sebagian besar penumpang pesawat ke Osaka adalah turis Jepang yang habis berlibur di Bali.

Waktu tempuh dari Denpasar ke Osaka sekitar 6 jam 50 menit. Pesawat tiba di bandara Kansai Airport (he..he.., kalau di Indonesia Kansai itu nama salah satu merek cat, yaitu Kansai Paint) pukul 9 pagi waktu setempat (waktu di jepang dua jam lebih cepat daripada Jakarta). Bandara Kansai sangat megah, besar, dan modern. Uniknya, Bandara Kansai terletak di pulau buatan, 50 km dari kota Osaka.

Terminal kedatangan di Kansai Airport

Terminal kedatangan di Kansai Airport

Bandara Kansai menyatu dengan stasiun kereta api. Dari stasiun ini kita bisa naik kereta ke kota mana saja di Jepang. Untuk ke pergi ke Kanazawa, kami harus dua kali berganti kereta. Pertama dari Kansai Airport ke stasiun Shin-Osaka dengan kereta ekspres bernama Haruka. Kereta Haruka ini sangat bagus dan nyaman buat wisatawan dadakan kayak saya ini.

Kereta ekspres Haruka

Kereta ekspres Haruka

Narsis di depan KA Haruka di stasiun Kansai.

Narsis di depan KA Haruka di stasiun Kansai.

Stasiun Kansai Airport yang bersih dan nyaman.

Stasiun Kansai Airport yang bersih dan nyaman.

Kereta berjalan sangat cepat melewati pinggiran kota Osaka menuju stasiun Shin-Osaka. Yang “aneh” bagi saya adalah sepanjang jalan yang saya lalui saya jarang sekali melihat penduduk Jepang lalu lalang di luar. Jalanan sepi, jarang terlihat orang, juga tidak terlihat anak-anak bermain. Apa karena hari ini adalah hari libur menyambut festival musim gugur? Tapi kata teman saya yang lama tinggal di Jeoang, suasana sepi seperti ini memang tampak setiap hari, tidak hanya di Osaka tetapi juga di Tokyo. Tidak seperti di negara kita di mana orang-orang berlalu lalang atau duduk-duduk di warung atau nongkrong di pinggir jalan. Di Jepang orang-orang kalau tidak berada di dalam rumah ya bekerja di kantor/pabrik atau belajar di sekolah. Sepeda adalah alat transpor yang sangat banyak saya lihat. Sepeda diparkir di mana-mana tanpa takut dicuri orang.

Saya tidak menemukan warung atau pedagang kaki lima di sepanjang jalan, tetapi yang banyak ditemukan di setiap sudut jalan di Osaka adalah mesin jaja (vending machine) yang menjual minuman tanpa perlu dijaga. Cukup masukkan uang ke dalam mesin, pilih minuman, dan tekan tombol minuman yang kita inginkan.

Mesin jaja yang menjual minuman.

Mesin jaja yang menjual minuman.

Mesin jaja lainnya

Mesin jaja lainnya

Kami sampai di stasiun Shin-Osaka tiga jam kemudian. Di stasiun ini ramai dengan orang yang berdatangan dari mana-mana dengan kereta yang lain. Berhubung hari sudah siang, kami membeli nasi kotak yang disebut bento di sebuah kedai di dalam stasiun.

Kedai yang menjual bento.

Kedai yang menjual bento.

Duhhh… nasi kotak yang dijual di kedai ini sangat menawan dan sedap dipandang mata, penuh warna-warni. Kotaknya saja sudah bagus dan artistik, apalagi isinya. Aneka macam nasi, lauk pauk, dan sayur disusun dengan cita rasa seni yang tinggi. Bagi anda yang muslim harus hati-hati memilih menu bento, sebab ada menu bento yang mengandung pork. Untuk amannya, saya memilih nasi kotak bento yang lauknya sea food. Nasi kotak bento itu harganya tidak murah juga. Yang saya beli harganya 800 Yen atau hampir seratus ribu rupiah kalau di-kurs (1 Yen = Rp114).

Menu nasi bento yang saya beli.

Menu nasi bento yang saya beli.

Nasi bento yang ini sungguh sehat sebab tanpa minyak goreng (semua sayuran dan lauk serba dikukus). Setelah membeli bento, kami menunggu kedatangan kereta Thunderbird. Kereta ini yang akan membawa kami ke stasiun Komatsu di Kanazawa.

Kereta Thunderbird

Kereta Thunderbird

Semua tiket kereta api itu kami beli di stasiun Kansai Airport. Total harga tiket dua kereta api itu adalah 9500 yen, atau sejuta rupiah lebih. Bagi orang Jepang harga tiket kereta itu tergolong mahal, apalagi bagi saya sangat sangat mahal. Masa naik kereta api saja sejuta rupiah? Ha..ha..ha…

Setelah melewati sawah-sawah, desa-desa, dan menyusuri terowongan di bukit-bukit kami pun sampai di stasiun Komatsu di Kanazawa. Cerita selanjutnya akan diteruskan pada Bagian kedua.


Written by rinaldimunir

September 23rd, 2013 at 6:30 pm

Posted in Cerita perjalanan

Kuda Renggong Pengantin Sunat di Jalan

without comments

Selalu saja ada pemandangan menarik di jalanan umum kota Bandung, khususnya yang agak jauh dari pusat kota. Kesenian rakyat tetap hidup dengan mempertontonkan aksinya di depan orang banyak. Seperti yang saya temui di jalan Terusan Jakarta, dekat daerah Arcamanik dan Antapani. Suatu siang ketika lewat di sana, ada rombongan pengantin sunat yang diarak dengan kesenian Kuda Renggong.

300620133356

Kuda renggong adalah kesenian dari daerah Pantura (Subang, Karawang, dsk). Rombongan kuda renggong terdiri dari beberapa ekor kuda yang sudah dihias, personil pemusik, dan penyanyi wanita dengan suara sembreng.

300620133362

300620133363

300620133361

300620133360

Menariknya adalah, di depan kuda renggong yang berjalan itu sekumpulan orang menari-nari mengikuti irama musik Pantura. Siapa mereka? Mereka adalah keluarga dan tetangga bocah yang menjadi pengantin sunat.

300620133357

300620133358

Rombongan kuda renggong itu memang memacetkan jalan, tetapi orang-orang memaklumi saja. Tidak apa-apalah melihat rombongan kuda renggong lewat, sekali-sekali macet tidak masalah.


Written by rinaldimunir

September 20th, 2013 at 4:42 pm

Posted in Gado-gado

50% Kuota Mahasiswa ITB untuk Jawa Barat?

without comments

Pernyataan Pak Aher tentang kuota 50% mahasiswa baru untuk mahasiswa asal Jawa Barat menimbulkan diskusi yang hangat di kalangan internal kami di ITB. FYI, seperti dikutip dari koran lokal Pikiran Rakyat, Gubernur Jawa Barat meminta kepada tiga perguruan tinggi unggul di jawa Barat (ITB, Unpad, dan IPB), bahwa mulai tahun 2014 kuota mahasiswa asal Jabar harus 50% di ketiga PTN itu.

“Sebanyak 50 persen mahasiswa yang ada di tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Barat (Jabar) harus berasal atau diisi oleh warga Jabar. Cara ini merupakan intervensi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar untuk meningkatkan angka partisipasi perguruan tinggi (PT) Jabar yang terendah secara nasional. Angka partisipasi PT di Jabar saat ini baru mencapai 15,19 persen saat target nasional 25 persen.

Pemberlakuan kuota khusus Jabar yang didorong pemprov ini akan berlaku mulai 2014. Tiga universitas yang harus diisi 50 persen oleh warga Jabar yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), dan Intitut Pertanian Bogor (IPB). Pernyataan ini dikemukakan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Kota Bandung, Rabu (12/9/2013).

“Selama ini, meski universitas world class (kelas dunia) seperti ITB, Unpad, dan IPB ada di Jabar tetapi angka partisipasi PT di Jabar masih terendah secara nasional,” kata Heryawan.
(Baca berita selanjutnya di sini).

Untuk diketahui, sebenarnya tanpa kebijakan affirmative dari pak Aher itu jumlah mahasiwa baru ITB asal Jawa Barat saja sudah termasuk sangat tinggi. Untuk angkatan 2012, jumlah mahasiswa asal Jawa Barat (SMA-nya di Jawa Barat) mencapai 40% (baca http://www.itb.ac.id/about-itb/Data_dan_Informasi_ITB_2012.pdf), atau baca tulisan saya ini tentang profil mahasiswa baru 2012: Membicarakan Hasil SNMPTN 2012. Memang tidak semua dari 40% itu orang Sunda, ada juga yang merupakan siswa pendatang dari daerah lain yang ketika SMA memilih SMA di Bandung agar bisa masuk ITB atau Unpad.

Kembali ke soal kuota 50% asal Jabar, di satu sisi permintaan 50% kuota untuk Jabar saya nilai wajar saja, sebab ITB, IPB, dan Unpad berada di bumi Parahyangan. Pemerintah Daerah di manapun juga pasti berusaha meningkatkan kuantitas putra-puteri dari daerahnya sendiri yang masuk perguruan tingi di daerahnya. Semakin banyak putera-puteri daerahnya bisa masuk perguruan tinggi yang unggul, maka dianggap semakin tinggi pencapaian kinerja Pemda di bidang pendidikan. Sah-sah saja memang target 50%, bahkan kalau bisa lebih besar lagi.

Tetapi, jika kuota 50% itu dijadikan “keharusan” bagi ITB, IPB, dan Unpad, disinilah masalahnya. Independensi dan otonomi perguran tinggi menjadi tidak ada artinya lagi karena ada intervensi dari luar dengan “keharusan” yang wajib ditaati. Btw, sebenarnya ITB, IPB, dan Unpad itu milik Pemda Jabar atau milik Pemerintah RI? Di bawah Pemda atau di bawah Kemendiknas? Saya kira dalam hal ini Pak Aher tidak memiliki etika.

Sebagian besar rekan-rekan dosen ITB di milis kami menanggapi negatif permintaan Gubernur Jabar itu (begitu kesan yang saya tangkap). ITB, Unpad, dan IPB memang ada tanah Jawa Barat (sebenarnya ada satu lagi kalau mau ditambah, yaitu UI, kampus UI letaknya di Depok, dan Depok itu masuk Jawa Barat), tetapi memaksakan menerima 50% mahasiswanya dari Jawa Barat dapat membuat ketiga perguruan tinggi itu tidak lagi menjadi perguruan tinggi nasional bahkan internasional (world class university), tetapi perguruan tinggi yang bersifat kedaerahan. Aneh saja, di saat kita berfikir global kita malah mundur dengan cara pandang lokal.

Keharusan kuota 50% asal Jabar dapat menimbulkan persaingan yang tidak adil bagi putera-puteri dari daerah lain. Peluang mereka untuk kuliah di ITB atau IPB menjadi makin kecil karena mereka hanya “kalah” dari sisi domisili. Artinya, jika ada dua orang calon mahasiswa yang masing-masing memperoleh nilai ujian masuk yang tidak jauh bedanya, tetapi yang satu dari Jabar dan yang satu lagi dari daerah lain, maka calon yang dari daerah lain itu akan tersingkir hanya karena dia bukan orang Jawa Barat.

Selain itu, kuota 50% asal Jabar dapat menyebabkan kualitas perguruan tinggi unggul itu akan turun sebab mahasiswa yang unggul gagal masuk ITB karena alasan kedaerahan, sementara mahasiswa yang (maaf) kurang berkualitas namun berasal dari Jawa Barat bisa masuk karena kebijakan affirmative itu.

Kalau memang ingin meningkatkan partisipasi mahasiswa asal Jabar masuk ketiga perguruan tinggi tadi, maka caranya bukan dengan kebijakan afirmativ yang bersifat kedaerahan seperti ini. Yang harus ditingkatkan justru kualitas pendidikan di tingkat dasar dan menengah di Jawa Barat. Dengan peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah itu, nanti siswa-siswinya dapat bersaing masuk ketiga perguruan tinggi unggul tadi secara fair dengan peserta dari daerah lain di luar Jawa Barat sehingga kuota 50% itu akan terpenuhi dengan sendirinya, bahkan bisa saja lebih.

Di ITB sendiri mahasiswanya sangat heterogen. Hampir semua putra daerah dari 33 provinsi ada di sini, meskipun bila ditotal tetap yang paling banyak berasal dari Jawa Barat sendiri. Tidak hanya mahasiswa, dosen ITB pun berasal dari berbagai daerah di tanah air.

Kolam "Indonesia Tenggelam" di Kampus ITB yang merefleksikan mahasiswa ITB berasal dari berbagai daerah di nusantara. (Sumber foto: http://www.damniloveindonesia.com/articles.php?id=269)

Kolam “Indonesia Tenggelam” di Kampus ITB yang merefleksikan mahasiswa ITB berasal dari berbagai daerah di nusantara. (Sumber foto: http://www.damniloveindonesia.com/articles.php?id=269)

Heterogenitas mahasiswa ITB adalah salah satu aset ITB yang berharga. Dengan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang suku bangsa, daerah, dan agama, dapat membuat cara pandang kita terhadap bangsa ini menjadi lebih terbuka. Apa jadinya jika nanti satu kampus dominan diisi mahasiswa asal satu daerah saja, cara pandang kita pun akan bersifat kedaerahan.

Jadi, biarkan asal daerah mahasiswa baru di ITB berkembang secara alami saja seperti yang selama ini berjalan. Semua calon mahasiswa dari manapun dipersilakan bersaing secara fair untuk masuk ITB (dan perguruan tinggi lain manapun di negeri ini) tanpa memandang identitas daerah, suku bangsa, atau agama. Saya kira ITB tidak akan bersedia memenuhi keharusan dari Gubernur Jabar itu.


Written by rinaldimunir

September 18th, 2013 at 2:25 pm

Iklan 3 Menit yang Mengharukan

without comments

Saya mendapat tautan video di Internet dari seorang teman. Kisah di dalam video itu sangat mengharukan -bahkan bikin mata jadi mewek alias nangis. Iklan yang dibuat sebuah perusahaan telekomunikasi Thailand itu menceritakan the power of giving (pinjam istilahnya Ustad Yusuf Mansur), bahwa kekuatan memberi itu tidak mengharapkan kembali atau balas jasa. Video iklan ini mendapat apresiasi yang luas di seluruh dunia, karena bahasa visualnya mampu menyentuh lubuk hati yang terdalam.

Dikisahhan dalam video iklan tersebut tentang seorang anak yang kedapatan mencuri obat dari sebuah toko di sebuah pasar yang ramai. Pemilik toko mengejar anak itu dan memintanya untuk mengembalikan obat tadi. Melihat keributan kecil di depan toko obat, seorang bapak penjual makanan (mie ramen) merasa iba. Dia menghampiri anak dan pemilik toko tadi, lalu menanyakan apakah ibunya sakit sehingga dia mencuri obat dari toko. Anak itu mengangguk pelan. Bapak penjual mie ramen lalu membayar obat yang diambil anak tadi. Tidak hanya itu, dia juga meminta anak perempuannya membungkuskan sop ramen dan memberikannya kepada anak tersebut untuk ibunya yang sakit.

Tiga puluh tahun kemudian, ketika sedang melayani pembeli, bapak yang dermawan tersebut tiba-tiba pingsan karena menderita penyakit radang otak. Dia dibawa ke rumah sakit dan harus dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya. Namun ongkos operasi sangatlah besar, anak perempuannya tidak sanggup untuk membayar biaya operasi itu. Hampir saja dia menggadaikan warung ramennya untuk membayar ongkos operasi bapaknya.

Di tengah keputus-asaan, sesaat terbangun di samping ayahnya di rumah sakit, anak perempuan itu menemukan secarik kertas yang menyatakan bahwa biaya operasi sudah ditanggung seseorang. Ternyata seseorang yang dermawan itu adalah dokter rumah sakit yang menangani operasi ayahnya. Dokter tersebut merasa kenal dengan bapak yang sakit dan anak perempuannya itu, merekalah yang dulu pernah menolong dirinya ketika dia mencuri obat untuk ibunya sakit. Katanya di dalam surat itu, biaya operasi si bapak sudah dibayar 30 tahun yang lalu, oleh sebotol obat dan sebungkus sop ramen.

Sungguh mengharukan melihat video iklan yang sederhana ini, sarat makna dan sangat menyentuh perasaan. Anda dapat menontonnya di Youtube dengan meng-klik video di bawah ini. Saya suka dengan tagline dalam iklan itu: giving is the best communication.


Written by rinaldimunir

September 16th, 2013 at 10:03 pm

Posted in Kisah Hikmah

Si Dul dan Anak-Anak yang Membawa Motor

without comments

Kasus si Dul, putra musisi Ahmad Dhani, yang menabrak mobil di jalan tol hingga menewaskan 6 orang, belum termasuk yang luka berat, menyadarkan kita bahwa anak dibawah umur memang harus dilarang membawa kendaraan bermotor. Belum punya SIM, belum berumur 17 tahun, tetapi sudah membawa kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor ke jalan raya. Anak-anak di bawah umur emosinya belum stabil, sehingga jika membawa kendaraan bermotor mereka belum bisa membawanya dengan tenang. Kalau tidak menabrak orang lain, ya ditabrak oleh kendaraan lain.

Anak saya yang nomor dua, sekarang kelas 1 SMP, ketika kelas 6 SD merengek-rengek minta diajarkan membawa motor. Motor matik satu-satunya yang selalu saya bawa ke kantor ingin pula dijajalnya. Pengaruh teman-teman sebaya sangat kuat mendorongnya untuk bisa membawa motor. Sehari-hari di kompleks kami anak-anak yang masih SD sekalipun sudah berkeliling-keliling membawa motor. Motor matik memang mudah dikendarai, asal sudah bisa memakai sepeda maka memakai motor matik pun tidak sulit, cukup mengkombinasikan gas dan rem saja.

Akhirnya saya pun mengajarkan anak saya membawa motor. Dua jam belajar dengan dipandu oleh saya dari belakang sadel (dia di depan, saya di belakang, tandem), dia sudah bisa membawa motor matik itu. Mula-mula keliling satu putaran dekat rumah, makin hari ke hari dia sudah berani mebawanya ke jalan yang lain. Sekali-sekali dia mencuri-curi larangan dengan membawa motor ke jalan raya. Kadang-kadang membawa motor bersama-sama temannya, kadang dia membonceng adik dan kakaknya.

Dalam hati saya sebenarnya belum berani melepas anak membawa motor. Ada perasaan was-was gitu. Maklumlah anak-anak, jiwa mereka belum stabil. Jalan yang sepi dapat menggoda mereka memainkan gas, ngebut di jalan. Yang saya takutkan hanya tiga hal: kalau tidak menabrak, ditabrak, atau jatuh.

Akhirnya kehawatiran saya suatu hari terbukti. Dia memacu gas cukup tinggi, dan ketika ada batu di depan dia ingin menghindar. Motor tidak bisa dikendalikan dalam keadaan gas yang cukup tinggi itu. Terpelesetlah dia, dan jatuh ke aspal. Motor matik menimpa dirinya, lutut dan tangannya robek kena aspal hingga terlihat dagingnya. Tidak cukup diobati di rumah, maka saya harus membawanya ke dokter karena lukanya cukup dalam.

Sejak itu dia kapok tidak mau membawa motor lagi. Trauma. Biasanya kalau motor saya lagi nganggur di rumah, langsung dia sambar dan bawa keliling-keliling kompleks. Sekarang tidak mau lagi, bahkan sekedar menghidupkannya sekalipun. Kata dia, nantilah bawa motor kalau sudah besar, kalau sudah kuliah. Ini pelajaran bagi dirinya bahwa dia masih terlalu kecil untuk membawa motor. Kalau belum mengalami kecelakaan sendiri mungkin dia belum sadar betapa besar bahaya yang mengintai anak di bawah umur yang membawa kendaraan bermotor sendiri.

Itu baru motor, bagaimana pula kalau mobil, tentu kompleksitasnya lebih besar daripada motor. Sekarang banyak orang tua yang membelikan anaknya kendaraan bermotor seperti mobil atau motor meskipun anaknya belum cukup umur. SIM pun diperoleh dengan cara yang tidak jujur, yaitu dengan jalan pintas melalui biro jasa (tanpa ikut tes di kantor polis).

Sayang anak sih boleh, tetapi jika terlalu berlebihan dengan membiarkan dia membawa kendaraan bermotor meskipun belum cukup umur, maka bahaya di depan mata siap mengintai. Kita tidak perlu menuggu kasus Dul-Dul yang lain terjadi, cukup sudah si Dul menjadi pelajaran buat kita semua.


Written by rinaldimunir

September 12th, 2013 at 10:12 am

Posted in Pendidikan