if99.net

IF99 ITB

Archive for August, 2013

Nyawa Manusia Seperti Tidak Ada Harganya

without comments

Apa yang terjadi di Mesir, Syria, Myanmar, Irak, dan belahan dunia lain sungguh memilukan. Puluhan hingga ribuan orang dibunuh oleh penguasa dan rakyat yang marah. Nyawa manusia seperti tidak ada harganya. Di Mesir ratusan pendukung Presiden terguling, Mohammad Mursi, tewas ditembak oleh tentara dengan peluru yang dibeli dari uang rakyatnya sendiri. Di Syria penguasa yang lalim membantai rakyat tak berdosa. Di Myanmar ratusan etnis Rohingya mati karena kebencian rasial. Di Irak puluhan orang tewas oleh bom bunuh diri. Masih banyak lagi di manusia mati karena dibunuh dan terbunuh oleh arogansi manusia lainnya.

Ini bukan masalah agama, tetapi lebih kepada masalah kemanusiaan. Di Mesir, orang yang saling berbunuhan itu adalah sesama muslim sendiri. Tentara dan polisi Mesir itu jelas orang Muslim juga. Jenderal dan Presiden hasil kudetanya seorang Muslim. Jadi, konflik yang terjadi antara pendukung Morsi dengan pihak oposisi (plus militer) bukan dipicu masalah agama. Di Syria juga begitu, kaum pemberontak dan penguasa sama-sama mengaku muslim (meskipun sebagian orang memandangnya sebagai pertarungan antara Syiah dan Sunni). Di Irak juga sama, yang membunuh dan terbunuh adalah saudara seiman mereka sendiri. Hanya di Myanmar konfliknya bergeser ke masalah agama, namun asal mula persoalan bukan karena masalah agama, tetapi masalah kecemburuan sosial, kebencian terhadap etnis, dan akhirnya merembet kepada kebencian kepada simbol-simbol agama.

Darah pertama tertumpah ke muka bumi ketika Qabil membunuh suadaranya Habil. Sejak itu darah manusia tidak pernah berhenti menyirami bumi karena dibunuh atau terbunuh. Rasa kemanusiaan manusia telah hilang ketika dia membunuh orang lain tanpa alasan yang haq. Menyaksikan usus yang tercerai berai, darah yang mengalir ke aspal, isi kepala yang berceceran ditembus peluru, mayat yang gosong karena dilempar ke dalam api, sungguh membuat saya bergidik ngeri. Ke manakah letak peri kemanusiaan orang-orang yang melakukan pembunuhan?

Jangankan membunuh orang, menyembelih ayam atau melihat ayam disembelih saja saya tidak tega dan tidak berani. Bahkan pada Hari Raya Idul Adha, saya tidak berani melihat penyembelihan hewan qurban. Di sisi lain, ada orang yang lebih tega dan lebih kejam daripada penyembelih ayam. Naudzubillah min dzalik.


Written by rinaldimunir

August 19th, 2013 at 8:06 am

Posted in Dunia oh Dunia

Sore di Kima Bajo, Minahasa Utara

without comments

Tidak jauh dari kota Manado, ada sebuah kawasan pantai bernama Kima Bajo. Secara adminsitratif daerah ini termasuk ke dalam kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Penduduk di kawasan itu mayoritas dari suku Bajo yang dulu berasal dari Sulawesi Selatan. Mayoritas penduduknya beragama Islam, cukup kontras dengan kampung-kampung di sekitarnya dari suku Minahasa yang beragama Kristen. Tampak sebuah masjid berkubah biru tidak jauh dari pantai. Adzan Maghrib berkumandang dari masjid, saya menyempatkan diri shalat di masjid itu.

Perkampungan Suku Bajo

Perkampungan Suku Bajo

Di kampung ini terdapat sebuah resor butik bernama CocoTinos, di sinilah saya menginap. Tamu di resor ini kebanyakan turis bule yang ingin mencari ketenangan, dan tentu saja ingin menyelam (diving) ke Pulau Bunaken. Pulau Bunaken hanya selempar batu dari resor ini.

Resor butik CocoTinos dengan dermaga kayu ke tengah laut.

Resor butik CocoTinos dengan dermaga kayu ke tengah laut.

Dermaga ke tengah laut.

Dermaga ke tengah laut.

Kamar-kamar di resor butik CocoTinos

Kamar-kamar di resor butik CocoTinos

Matahari mulai tenggelam ke balik pulau Manado Tua, di sebelah kanannya tampak Pulau Bunaken yang terkenal.

Sunset di Kima Bajo.

Sunset di Kima Bajo.

Pagi hari kita dapat melihat Pulau Manado Tua (yang sebenarnya adalah gunung api yang muncul dari tengah laut) dan Pulau Bunaken di kanannya.

Pulau Manado Tua dan Pulau Bunaken tampak dari Kima Bajo.

Pulau Manado Tua dan Pulau Bunaken tampak dari Kima Bajo.

Sebuah perahu siap mengantar anda ke Bunaken

Sebuah perahu siap mengantar anda ke Bunaken

DSCF0794


Written by rinaldimunir

August 18th, 2013 at 9:47 am

Posted in Cerita perjalanan

Menyusuri Dasar Ngarai Sianok di Bukittinggi

without comments

Tulisan ini oleh-oleh waktu pulang kampung ke Bukittinggi minggu lalu. Siapapun orang yang berwisata ke kota Bukittinggi dipastikan akan mengunjungu dua obyek utama di kota itu, yaitu Jam Gadang dan Ngarai Sianok. Ngarai Sianok terletak di Jalan Panorama. Dari pinggir jalan Panorama kita dapat menyaksikan keindahan Ngarai Sianok.

Ngarai Sianok berpagar Gunung Singgalang.

Ngarai Sianok berpagar Gunung Singgalang.

Menikmati Ngarai Sianok dari pinggir sudah biasa, tetapi menyusuri dasarnya adalah pengalaman yang baru bagi saya. Di dasar Ngarai Sianok saat ini ada obyek wisata baru yaitu Janjang Koto Gadang. Janjang artinya tangga dan Koto Gadang adalah nama nagari yang terletak di dasar Ngarai Sianok. Janjang Koto Gadang itu dibuat berbentuk seperti Tembok Besar di Cina, meliuk-liuk mendaki dan menurun di dasar ngarai.

Pintu masuk ke Janjang Koto Gadang dengan sebuah prasasti peresmian.

Pintu masuk ke Janjang Koto Gadang dengan sebuah prasasti peresmian.

Untuk mencapai Janjang Koto Gadang itu bisa melalui dua cara. Pertama melalui jalan beraspal yang menurun dari Panorama, kedua melalui Lubang Japang (goa Jepang). Saya dan anak-anak memilih melalui Lubang Japang.

Inilah beberapa foto dasar Ngarai Sianok yang biasanya dilihat dari atas. Sawah hijau menghampar luas. Perpaduan tebing ngarai yang tinggi dan sawah-sawah yang menghijau menghasilkan pemandangan yang sangat menawan.

DSCF0752

DSCF0753

DSCF0754

Yuk jalan terus menyusuri jalan setapak yang beraspal. Janjangnya belum tampak. Sepanjang perjalanan kita dapat melihat sungai yang mengalir di lembah.

DSCF0759

Dari atas jembatan gantung yang bergoyang (yang menghubungkan dua sisi ngarai), kita dapat melihat aliran sungai yang membelah lembah ngarai. Diyakini sungai di dasar ngarai inilah yang jutaan tahun lalu membelah bukit-bukit sehingga terbentuk ngarai dengan tebing-tebing yang curam.

DSCF0760

Di seberang jembatan gantung itulah kita mulai menapaki Janjang Koto Gadang yang berkelok-kelok, mendaki dan menurun.

DSCF0763

DSCF0766

Berhubung hari itu adalah Hari Jumat dan sebentar lagi waktu shalat Jumat akan masuk, saya tidak meneruskan perjalanan sampai ke ujung janjang. Cukup sampai di sini saja.


Written by rinaldimunir

August 17th, 2013 at 9:21 am

Posted in Cerita perjalanan

Oh, Pak Rubi…

without comments

Kampusku kemarin “heboh”. Kehebohan itu tidak berlangsung dalam ruang nyata, tetapi dalam ruang maya melalui diskusi di milis-milis dan media sosial. Pasalnya, seorang profesor kami, Prof Rudi Rubiandini, yang menjadi pejabat negara sebagai Kepala SKK Migas, hari Selasa malam ditangkap oleh KPK. Pak Rubi tertangkap tangan karena diduga telah menerima uang (suap) dari seseorang. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung yaitu sekitar $400.000 atau sekitar 4 milyar rupiah. Menurut Jubir KPK, Pak Rubi telah menerima uang gratifikasi lebih dari satu kali, yang jika ditotal mencapai $700.000, sebuah jumlah yang fantastis. Hingga saat ini saya masih lebih percaya kepada KPK.

Sebagian orang berkata jangan su’udhon dulu, jangan menuduh dulu, terapkan asas praduga tak bersalah, dan sebagainya, meskipun dalam kacamata hukum kalau sudah tertangkap tangan maka sulit untuk dibantah. Di sisi lain banyak alumni ITB berharap semoga saja dugaan suap itu tidak benar atau jangan-jangan Pak Rubi sekedar dijebak. Semua orang berharap begitu, khususnya kami civitas academica dan alumni ITB. Namun semua harapan itu pupus sudah. Nyatanya setelah ditahan oleh KPK dan ditetapkan menjadi tersangka, Pak Rubi mengakui sendiri bahwa dia telah melakukan gratifikasi. Menerima uang suap termasuk ke dalam gratifikasi dan menurut UU No. 20 tahun 2001 gratifikasi dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi.

Saya tidak terlalu kenal dengan Prof Rubiandini, namun kami semua di ITB jelas sangat prihatin dengan kasus ini, karena nama ITB ikut terbawa-bawa. Menurut teman-teman dosen di milis, beliau adalah orang yang sederhana, bersahaja, dan lurus. Tetapi entah kenapa jadi begini, kok tiba-tiba berakhir buruk dengan sangkaan korupsi? Apatah yang telah membuat seseorang yang bersehaja bisa berubah begitu saja setelah mempunyai kedudukan? Dari yang tampak berlaku jujur ternyata menjadi koruptor? Oh Pak Rubi, kredibilitas yang sudah dibangun bertahun-tahun lenyap begitu saja, ditukar dengan uang senilai 7M yang kalau di Jakarta hanya cukup untuk membeli satu rumah mewah saja.

Banyak yang tidak habis pikir dengan kejadian ini. Bagi pejabat negara yang melakukan korupsi, mengapa mereka masih mau terpedaya mendapatkan uang secara tidak halal? Apakah gaji mereka sebagai pejabat masih kurang cukup besar? Setahu saya penghasilan Pak Rubi sangat lebih dari cukup. Selain mendapat gaji yang besar sebagai pejabat negara, beliau juga mendapat penghasilan sebagai konsultan. Lalu, untuk apa lagi uang korupsi bemrilyar-milyar itu? Tidak akan habis dimakan sendiri. Jika diwariskan untuk tujuh turunan pun tetap tidak berkah karena harta diperoleh dengan cara yang tidak halal.

Syaitan serkarang tidak lagi bergelantungan pada pohon beringin yang angker. Syaitan sudah pindah bergayut pada lembar-lembar uang kertas untuk menggoda iman orang-orang yang tidak kuat. Orang biasa, ustad, pejabat, hingga profesor pun bisa tergelincir karena godaan syetan yang bergelayutan pada lembar-lembar uang itu. Manusia telah menghamba kepada uang, uang sudah menjadi berhala. Naudzubillah min dzalik, mari kita berlindung kepada Allah SWT dari godaan syaitan yang terkutuk.


Written by rinaldimunir

August 16th, 2013 at 6:01 am

Posted in Indonesiaku

Pengalaman Pertama Naik Batik Air

without comments

Tertarik dengan promosi maskapai Batik Air yang mengusung layanan full service, saya mencoba naik pesawat Batik Air dalam perjalanan rutin saya setiap tahun ke Manado. Kebetulan ketika melihat harga tiketnya di Internet lebih murah daripada Lion Air (maskapai induknya) untuk rute dan tujuan yang sama (Jakarta – Manado) –mungkin masih promo– maka saya langsung membeli tiketnya. Daripada naik Lion Air yang sama sekali tidak mendapat layanan apapun di dalam pesawat (bahkan air minum segelas kecil pun tidak dikasih), maka mengapa tidak memilih Batik Air saja dengan layanan premium selama perjalanan. Yang membuat saya lebih tertarik lagi memilih Batik Air adalah layanan Internet di atas pesawat dan boleh menggunakan ponsel selama perjalanan, dua hal yang tidak ditemui pada pesawat lain.

Pesawat Batik Air di Terminal 3 Bandara Soeta.

Pesawat Batik Air di Terminal 3 Bandara Soeta.

Batik Air berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Penumpang hari itu tidak terlalu banyak, kursi pesawat masih banyak yang kosong. Jadi saya bisa duduk di kursi mana saja yang nyaman tanpa ada penumpang lain di sebelah saya.

Membayangkan naik Batik Air maka pembandingnya adalah pesawat Garuda Indonesia, sebab keduanya menyediakan layanan penuh. Bayangan saya yang namanya layanan penuh itu adalah: 1) mendapat suguhan permen beraneka rasa dan aneka pilihan sebagai sambutan pertama, 2) tersedia suratkabar gratis, 3) mendapat suguhan makanan dan minuman, 4) ada sajian hiburan dengan TV layar sentuh di depan setiap kursi.

TV layar sentuh di depan setiap kursi penumpang.

TV layar sentuh di depan setiap kursi penumpang.

Baik, saya pun masuk ke dalam pesawat. Pramugarinya lumayan ramah-ramah. Setelah duduk cukup lama, kok layanan pertama tidak ada? He..he, tidak ada tawaran permen seperti di Garuda. Baiklah, tidak apa-apa, apalah artinya sebuah permen toh, ecek-ecek begitu.

Kecewa nomor dua adalah tidak tersedia surat kabar gratis untuk dibaca-baca selama perjalanan yang bete. Kalau di Garuda (lagi-lagi Garuda pembandingnya), baru saja kita masuk pintu pesawat, pramugari yang ramah menawarkan pilihan berbagai koran hari ini dari berbagai nama, ada Kompas, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, dan lain-lain. Kalau pun tidak ditawarkan, koran-koran itu ditaruh di loker depan dan penumpang bebas memilih sendiri. Wah, nggak ada koran berarti belum layak disebut full service nih.

Kecewa nomor tiga adalah sajian hiburan TV yang tidak ada earphone-nya. Memang pilihan film, lagu, dan game yang tersedia cukup lengkap, tetapi kalau suaranya tidak bisa didengar ya untuk apa? Kayak film bisu gitu. Tiba-tiba ada pengumuman dari awak pesawat bahwa earphone dapat diperoleh dengan harga Rp25.000. Ho..ho..ho, ternyata earphone tidak gratis, harus beli. Duh dasar grup Lion, apa-apa jualan di pesawat, minuman harus beli, makanan juga beli. Tetapi di batik Air, earphone harus dibeli kalau Anda ingin menikmati hiburan TV layar sentuh.

Yang cukup “menghibur” adalah adanya layanan makanan berat dan minuman aneka pilihan yang ditawarkan oleh pramugari. Kalau saya nilai sih makanan yang disajikan biasa-biasa saja. Pada penerbangan 3 jam ini penumpang mendapat satu pax bihun goreng, yoghurt, dan sepotong kue. Minumannya bisa dipilih dari jus apel, jus jeruk, air putih, atau coca-cola.

Lalu Internet dan kebolehan menggunakan ponsel itu bagaimana? Ternyata omong kosong. Tidak ada, minimal untuk saat ini. Ketika chek-in di konter Terminal 3 saya kembali memastikan kepada petugas apakah ada wi-fi di atas pesawat. Jawab petugas di loket chek-in: ada. Wah, asyik, kata saya, jadi saya bisa memutakhirkan status di fesbuk dari atas pesawat, he..he.

Tapi apa nyana? Ternyata di atas pesawat Batik tidak ada Internet. Saya tanyakan kepada pramugari kok tidak ada wi-fi. Jawabnya, belum ada saat ini. Lho, jadi kapan? Tak tahulah. Lalu kebolehan menggunakan ponsel di atas pesawat seperti yang digembar-gemborkan? Itu berbenturan dengan UU No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan Pasal 54 bahwa menyalakan telelpon genggam di atas pesawat dapat mengganggu penerbangan dan siapa pun yang melanggar (menyalakan ponsel) dapat dikenakan denda 200 juta atau kurungan 2 tahun penjara. Kesimpulannya, jika Batik Air membolehkan penggunaan ponsel selama perjalanan, maka UU tersebut harus dibatalkan atau diubah terlebih dahulu.

Jadi, menurut saya Batik Air tidak benar-benar memberikan layanan penuh, semi layanan penuhlah. Masih tetap Garuda yang nomor satu dalam hal layanan. Namun dibandingkan Lion dengan harga yang tidak jauh berbeda, naik Batik Air boleh juga sebagai pilihan.


Written by rinaldimunir

August 15th, 2013 at 9:34 pm

Posted in Pengalamanku

Ketika Istri Tertinggal di Warung (Berita Mudik yang Geli dan Haru)

without comments

Pagi-pagi membuka Internet setelah mudik dari Bukittinggi, saya disuguhi berita ini. Berita yang sungguh menggelikan sekaligus mengharukan. Ya iyalah, istri mana yang nggak akan meraung-raung ketika ditinggalkan suaminya, di warung lagi. Istri sebesar itu saja bisa ketinggalan (lihat foto di bawah), apalagi anak kecil ya?

Ngomong-ngomong, apakah ada suami yang pernah ketinggalan?

Dikutip dari sini: <http://www.kabar-priangan.com//news/detail/10200

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MUDIK Istri Ketinggalan di Warung

Ada peristiwa haru sekaligus menggelikan di tengah padatnya lalu lintas arus mudik di kawasan Lewo, Kecamatan Malangbong, Kab. Garut, Minggu (11/8) kemarin. Di tengah teriknya siang dan bisingnya deru suara kendaraan, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seorang wanita. Sambil mengenakan helm, ia berlari memanggil-manggil nama seorang pria. Setelah diselidiki ternyata, wanita tersebut ditinggal oleh suaminya pergi mengendarai sepeda motor ke arah Bandung.

Sambil terus terisak, Ny. Nur (35) —demikian nama wanita itu— mengaku warga Cilacap, Jawa Tengah. Ia baru saja pulang mudik dari kampung halamannya dengan dibonceng sepeda motor bersama anak dan suaminya, Edi Supriadi (40). Di kawasan Lewo Kecamatan Malangbong ia singgah dulu di sebuah warung pinggir jalan untuk sekedar beristirahat. Setelah cukup segar, lalu keluarga pedagang ini akan melanjutkan perjalannya menuju Tangerang, Banten.

Selain makan dan istirahat, rupanya Ny. Nur juga kebelet ingin buang hajat. Tanpa sepengetahuan suaminya, ia pun pergi ke kamar kecil tanpa bilang dulu. Begitu ke luar dari toilet, alangkah kagetnya ia saat mengetahui Edi bersama anaknya sudah tidak ada. Seketika itu juga ia meraung menangis dan berteriak-teriak memanggil suami dan anaknya sehingga mengundang perhatian para pemudik yang sedang beristirahat.

Oleh sebagian para pemudik ia disarankan untuk melapor ke petugas yang sedang melaksanakan pengamanan arus lalulintas. Beruntung, setengah jam berselang Edi muncul lagi ke tempat dimana Ny. Nur ditinggalkan.

Sambil menahan malu, Edi mengaku mengetahui istrinya ketinggalan sewaktu dia bertanya tapi tidak ada jawaban. Saat dilihat ke belakang, alangkah kagetnya, yang ada di boncengan itu hanya anak dan barang bawaannya.

“Tanpa pikir panjang, saya pun segera balik arah menuju ke warung dimana istri sayta tertinggal”, tutur Edi sambil menatap istrinya.

Diiringi senyuman para pemudik yang ada di warung, beberapa saat kemudian Ny. Nur, anaknya dan Edi suaminya, melanjutkan perjalannya menuju ke tempat mencari nafkah sebagai pedagang di kawasan Tangerang. Entahlah bagaimana cerita selanjutnya. Yang jelas, peristiwa itu pasti akan selalu dikenang oleh keduanya. (NANDANG HIDAYAT/”KP”).


Written by rinaldimunir

August 13th, 2013 at 4:56 pm

Posted in Gado-gado

Irasional Mudik Idul Fitri (Warna-Warni Iring-Iringan di Jalan)

without comments

Saya sungguh terharu membaca berita ini (videonya bisa dilihat di sini): seorang bapak, Pak Toni namanya, mengayuh becak dari Malang ke Semarang demi mudik. Dia membawa istri dan tiga orang anak kembarnya di dalam beca itu. Sudah seminggu mengayuh baru sampai di Yogya. Tawaran naik armada dari kepolisian ditolaknya, katanya dia tidak ingin merepotkan orang lain. Hebatnya lagi, dia tetap teguh menjalankan ibadah puasanya selama perjalanan.

Sumber: jelajah-nesia.blogspot.com

Sumber: jelajah-nesia.blogspot.com

Kalau membaca perjuangan rakyat kecil di negeri ini, demi berlebaran ke kampung halaman, sungguh membuat kita terharu. Mereka rela bersusah payah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, berhari-hari, sekaligus membahayakan. Tidak punya biaya atau untuk menghemat biaya adalah alasan yang paling umum kita dengar. Apapun mereka lakukan agar bisa dapat berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Sementara sebagian orang bisa duduk nyaman pulang mudik dengan pesawat, kereta api, bus ber-AC, atau mobil pribadi, mereka rela dengan alat transportasi seadanya.

Pernah melihat jalur Pantura pada saat mudik? Jalur ini dikuasai pemudik dengan kendaraan bermotor. Jumlahnya tidak hanya ratusan, tetapi ribuan bahkan puluhan ribu motor.

Satu kendaraan motor diisi oleh tiga, empat, bahkan sampai lima orang penumpang: suami, istri, dan dua anak. Satu anak duduk di depan, satu anak lagi diapit oleh ayah dan ibunya.

Sumber:  Detik.com

Sumber: Detik.com

Ada pula yang ditambah dengan tas dan dus barang di belakang motor:

Sumber: Antarafoto.com

Sumber: Antarafoto.com

Sumber: koranjakarta.com

Sumber: koranjakarta.com

Sangat berbahaya, tetapi mereka berani menempuh resiko!

Tidak hanya motor, bus, dan mobil, bahkan tukang bajaj pun ikut menyemarakkan jalur Pantura dengan membawa bajajnya ke kampung halaman di Jawa. Iring-iringan bajaj melewati jalur Pantura, ikut memeriahkan jalur yang sudah padat dengan pemudik motor, bus, dan mobil pribadi.

Sumber: Solopos.com

Sumber: Solopos.com

Sumber: Pikiranrakyat.com

Sumber: Pikiranrakyat.com

Satu bajaj disesaki keluarga si tukang bajaj plus dus-dus barang berisi oleh-oleh buat saudara di kampung.

Sumber: mediaviva.co,id

Sumber: mediaviva.co,id

Sumber: pasarkreasi.com

Sumber: pasarkreasi.com

Sumber: forum Kompas.com

Sumber: forum Kompas.com

Iring-iringan konvoi di jalan raya (terutama di jalur Pantura) menciptakan sisi lain warna Idul Fitri. Semua kisah para pemudik yang notabene rakyat kecil negeri kita itu sungguh membuat terharu. Idul Fitri bagaikan magnet besar yang membuat orang berani menempuh perjalanan jauh yang resiko untuk merayakan Hari yang Agung itu di kampung halaman. Keinginan yang kuat untuk bertemu sanak saudara di kampung telah mengalahkan rasionalitas. Mudik Idul Fitri itu ternyata irasional, tidak dapat dicerna dengan akal, hanya dapat dipahami dengan rasa.

Padahal, dalam ajaran Islam, tidak ada kewajiban pulang kampung pada saat idul Fitri. Pulang kampung dapat dilakukan kapan saja, tidak harus pada Hari Raya, namun masyarakat kita menemukan momentum pulang kampung yang paling pas justru pada saat Idul Fitri. Pulang kampung pada saat Hari Raya berbeda nuansa dan rasanya dengan pulang kampung pada hari yang lain. Ada kesyahduan, ada tangis haru, dan ada tawa. Spiritualitas seperti itu tidak ditemukan pada hari yang lain. Bahkan, penghasilan yang diperoleh selama setahun dibawa pulang untuk dihabsikan dan dibagikan kepada sanak saudara di kampung.

Iring-iringan pemudik di jalan raya itu mengingatkan saya pada orang-orang yang menempuh perjalanan jauh untuk berhaji ke Tanah Suci, Mekkah. Banyak cara yang ditempuh orang Islam dimuka bumi ini untuk menuju Tanah Suci. Ada yang naik pesawat, ada yang naik kapal laut, ada yang naik mobil, unta, kuda, bahkan berjalan kaki. Semuanya datang memenuhi panggilan Allah, labbaikallahumma labbaik, labbaikallah la syarika labbaik.

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus* yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”
(al-Hajj: 27)

Jika orang berhaji menuju satu titik yaitu Tanah Suci, maka orang yang mudik juga menuju satu titik yaitu kampung halaman. Ini sejalan dengan makna Idul Fitri yaitu kembali ke fitrah, artinya kembali ke asal. Dan asal kehidupan manusia itu memang bermula dari kampung halaman, sebelum merantau ke negeri yang jauh.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, minal ‘aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.


Written by rinaldimunir

August 5th, 2013 at 12:01 pm

Kalau Ingin Masuk ITB, Persiapkan Diri Mulai dari SMP!

without comments

Tulisan ini saya tujukan kepada orangtua yang punya anak masih SMP, juga bagi siswa SMP yang kebetulan membacanya. Jika anak Anda ingin kuliah di ITB, maka persiapkanlah mulai dari bangku SMP. Apa tidak terlalu lama? Tidak. Bila sistem penerimaan mahasiswa baru tetap seperti sekarang (ada jalur undangan dan ada jalur ujian tulis), maka persiapan dari SMP bukan lagi syarat cukup, tetapi syarat perlu.

Saat ini persaingan memperebutkan bangku perguruan tinggi negeri semakin ketat. Porsi jalur undangan di ITB lumayan besar jumlahnya, yaitu 60% dari jumlah mahasiswa baru. Jalur undangan mendasarkan seleksinya pada rekam jejak prestasi akademik selama di SMA. Rekam jejak akademik itu tercermin pada nilai rapor. Untuk memperoleh nilai rapor yang bagus (tanpa rekayasa tentunya), maka perlu belajar yang rajin dan intens.

Perguruan tinggi di tempat saya (ITB) memiliki rekam jejak sekolah-sekolah SMA yang unggul kualitas akademik siswanya. Ada daftar sekolahnya, namun saya sendiri tidak mengetahui daftar tersebut. Siswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang berkualitas bagus itu mempunyai peluang lebih besar lulus lewat jalur undangan. Contohnya SMA Negeri 3 Bandung, sebuah sekolah terbaik di Bandung, tahun 2013 ini ada 95 orang yang masuk ITB saja dari 101 orang yang diterima dari jalur undangan. Jika dihitung dengan jumlah yang diterima dari jalur ujian tulis, maka jumlah yang masuk ITB tentu lebih besar lagi, seperti pindah kelas saja dari SMA ke ITB.

Untuk bisa masuk ke SMA bereputasi baik tentu harus dimulai dari SMP. Jadi jalurnya begitu: dari SMP masuk SMA yang sudah terbukti unggul secara akademik, lalu dari SMA yang bereputasi bagus itu peluangnya lebih mudah diterima di ITB. Makanya tidak heran banyak siswa-siswa dari seluruh Indonesia yang mempunayi nilai UN (atau NEM) yang tinggi pindah sekolah ke Bandung dan masuk ke SMA yang bagus-bagus itu karena sejak awal mereka sudah mentargetkan masuk ITB. Saat ini fenomenanya sudah mulai berubah, yaitu setelah lulus SD banyak siswa pindah ke Bandung agar dapat diterima di SMP negeri yang bagus-bagus itu (seperti SMPN 2 atau SMPN 5). Targetnya adalah dari SMP yang favorit itu bisa masuk SMA yang favorit tadi (SMA 3 atau SMA 5), lalu sasaran akhirnya adalah masuk ITB.

Itulah yang saya katakan pada judul di atas bahwa jika ingin kuliah di ITB, anda harus memikirkannya sejak SMP. Kalau dulu zaman saya mau kuliah, saya mulai menargetkan masuk ITB ketika kelas 2 SMA (sekarang kelas 11), maka sekarang tidak cukup lagi menargetkan dari SMA, tetapi harus mulai menargetkan sejak kelas 7 SMP!


Written by rinaldimunir

August 2nd, 2013 at 3:16 pm

Keselamatan Kampus Menjelang Libur Hari Raya

without comments

Lebaran Idul Fitri 1434 H sudah diambang pintu, jatuhnya diperkirakan tanggal 8 Agustus 2013 minggu depan. Cuti bersama libur Lebaran Idul Fitri akan dimulai hari Senin tanggal 5 Agustus sampai tanggal 11 Agustus. Selama libur cuti bersama itu kampus ITB ditutup dan tidak seorangpun diperbolehkan masuk kecuali ada izin. Kampus benar-benar akan sepi selama seminggu ke depan.

Sepi dan tidak ada aktivitas bukan berarti tidak ada ancaman keselamatan. Ancaman yang ditakuti sekarang ini adalah insiden kebakaran. Belajar dari kasus kebakaran gedung Teknik Industri ITB pada tanggal 30 Juni 2013 yang lalu, ITB menjadi lebih aware dengan bahaya yang satu ini. Kebakaran gedung TI disebabkan korsleting listrik, apalagi akir-akhir ini listrik di ITB sering hidup dan mati tanpa pemberitahuan, sehingga peluang timbulnya korsleting listrik makin besar. Kita sudah sering mendengar peristiwa kebakaran rumah atau bangunan lain yang disebabkan hubungan arus pendek. Nah, ITB tidak ingin peritiwa kebakaran itu terjadi kembali, apalagi di ITB banyak terdapat gedung-gedung heritage seperti Aula Barat, Aual Timur, gedung teknik Sipil, gedung Fisika. Kalau gedung-gedung itu terbakar maka nilai sejarahnya tidak bisa tergantikan meskipun dengan bangunan yang baru yang lebih modern sekalipun.

Selama libur yang lama ini tidak ada orang yang beraktivitas di gedung-gedung kampus. Kampus ITB seperti kampus “mati”. Jadi, sebelum meninggalkan kampus kosong tak berpenghuni selama satu minggu, maka Tim Safety ITB mengeluarkan himbauan sebagai berikut (saya copas dari surel teman yang menjadi Tim Safety Gedung LabTek V):

Pada saat liburan Hari Raya Idul Fitri 1434 H, aktivitas di dalam kampus akan sangat sepi mulai tanggal 3 Agustus 2013 s.d. 11 Agustus 2013. Oleh karena itu, tim safety meminta staf pengajar, karyawan, dan
mahasiswa untuk:
1. mematikan seluruh peralatan yang menggunakan listrik (AC, komputer, alat percobaan, dll.)
2. mencabut steker listrik jika memang tidak diperlukan
3. menutup keran air
4. menutup keran gas pada tabung gas

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan dalam berbagai bentuk (ledakan, kebakaran, kebocoran gas da air, dll.), tim safety meminta kerjasama dan kesadaran kepada seluruh staf pengajar, karyawan, dan mahasiswa agar:

1. selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk kegiatan dan kondisi yang dapat memicu terjadinya kecelakaan dan petaka tersebut,
2. mematuhi segala peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab, dan
3. ikut mengawasi perilaku orang lain dan kondisi di Gedung Labtek V,

Mari kita selalu bersama-sama untuk menjaga keselamatan dan keamanan bersama, khususnya di lingkungan Gedung Labtek V.

Ayo mari kita jaga kampus ITB dari bahaya kebakaran dan bahaya lainnya (pencurian, pembongkaran, dll).


Written by rinaldimunir

August 1st, 2013 at 3:21 pm

Posted in Seputar ITB