if99.net

IF99 ITB

Archive for August, 2013

Senja di Masjid Jami Birugo, Bukittinggi

without comments

Ketika libur lebaran yang lalu, saya dan keluarga mudik ke rumah istri di kota Bukittinggi. Rumah orang tua istri terletak di dekat daerah Birugo. Di pinggir Jalan Sudirman di kawasan Birugo terdapat sebuah masjid yang cantik, namanya Masjid Jami Birugo. Di bawah ini foto-fotonya.

Masjid Jami Birugo dengan sebuah rumah gadang di sebelahnya.

Masjid Jami Birugo dengan sebuah rumah gadang di sebelahnya.

Anak saya di depan Masjid Jami Birugo.

Anak saya di depan Masjid Jami Birugo.

Tidak jauh dari Masjid Jami Birugo, ada sebuah surau (mushala) dengan menara mirip Jam Gadang yang menjadi landmark kota Bukittinggi.

Mushola dengan menara seperti Jam Gadang.

Mushola dengan menara seperti Jam Gadang.

Di depan mushalla ada kolam. Surau-surau di ranah Minang (terutama yang di pedalaman) selalu ada kolam di depannya. Dulu kolam itu diguakaan untuk berwudhu, sekarang fungsinya tidak lebih sebagai penampung air bekas wudhu.

Kolam di depan surau

Kolam di depan surau

Selain di masjid, masih banyak rumah-rumah penduduk di Bukittinggi dilengkapi dengan kolam, seperti foto di bawah ini.

Kolam di samping rumah penduduk.

Kolam di samping rumah penduduk.

Gunung Singgalang tampak dari rumah-rumah penduduk di Birugo.

Gunung Singgalang tampak dari rumah-rumah penduduk di Birugo.

Rumah-rumah penduduk dengan arsitektur rumah gadang masih banyak ditemukan di Bukittinggi, seperti di kawasan Birugo ini. Rumah gadang beratap seng berada di sela-sela rumah modern.

Rumah penduduk dengan arsitektur rumah gadang.

Rumah penduduk dengan arsitektur rumah gadang.

Rumah penduduk peninggalan zaman dahulu, masih eksis sampai sekarang.

Rumah penduduk peninggalan zaman dahulu, masih eksis sampai sekarang.

Satu lagi rumah penduduk peninggalan zaman dahulu di Birugo.

Satu lagi rumah penduduk peninggalan zaman dahulu di Birugo.


Written by rinaldimunir

August 30th, 2013 at 1:17 pm

Ketika Duduk Saling Berdiam Diri

without comments

Saya termasuk orang yang paling sulit memulai bicara ketika duduk bersebelahan dengan orang yang tidak dikenal. Misalnya ketika duduk bersebelahan dengan penumpang lain di atas kereta api, di atas pesawat, di atas bus, atau di atas mobil travel. Saya dan penumpang sebelah saling diam membisu, sama-sama larut dengan pikiran masing-masing. Saya tidak memulai menyapa, penumpang sebelah juga sama. Kalau orang sebelah tidak memulai pembicaraan sekedar menyapa atau bertanya mau ke mana, dan sebagainya, maka saya juga enggan untuk memulai. Mungkin Anda juga setipe dengan saya? Saya pikir diri saya mungkin termasuk orang gengsian memulai duluan.

Segan memulai menyapa bukan berarti tidak ramah. Sebenarnya ada perasaan tidak ingin mengganggu ketenangan penumpang di sebelah. Mungkin dia ingin tidur, tidak ingin diganggu, ingin melamun, atau memang tidak berminat disapa atau ditanya. Istilahnya adalah tidak ingin mengganggu privasi orang lain.

Namun, kalau ada penumpang yang memulai duluan menyapa dan bertanya sekadar basa basi, saya pun tidak menolak. Adakalanya saya dapat teman duduk di perjalanan orang yang ramah. Setelah lama berhening diri, dia memulai duluan menyapa. Pertanyaan standard adalah “mau ke mana?” Selanjutnya, “tinggal di mana?”, dan seterusnya. Bila pembicaraan berlanjut, sampai bertanya pekerjaan segala (anehnya tidak menanyakan nama hingga akhir perjalanan). Kalau dapat teman perjalanan yang enak, maka pembicaraan bisa berkembang ke mana-mana, tapi kalau hanya sekedar basa basi maka pertanyaan hanya sebatas “mau ke mana” dan “tinggal di mana”. Setelah itu saling diam lagi.

Ada pengalaman menarik yang saya temui selama perjalanan. Tidak jarang melalui orang tidak dikenal itu ternyata kita mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama kenal dengan seseorang. Misalnya dia bertanya saya dulu kuliah di mana, lalu saya jawab di ITB. Jurusan apa? Saya jawab Informatika. Penumpang itu semakin tertarik bertanya: “Saya juga punya saudara dulu kuliah di ITB”. Saya tanya siapa nama sudaranya yang kuliah di ITB dan masuk tahun berapa. Ketika dia menyebutkan nama dan tahun masuk… ndilalah….olala… saya kan kenal dengan nama itu. Itu kan teman segrup saya waktu di Salman dulu. Langsung saja pembicaraan kita terfokus pada nama saudaranya itu, dan saya pun mengenang masa-masa bersama saudaranya itu. Saya pun tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang sebelah yang semula tidak saya kenal, akhirnya menjadi kenal karena nama yang disebutkan tadi. Saya jadi teringat dengan penelitian seorang Indonesia di Amerika yang mencari berapa jumlah orang antara yang menghubungkan dua orang lain di dunia? Contoh pertemuan tadi menunjukkan bahwa saya mengenal orang lain melalui satu atau dua orang lain.


Written by rinaldimunir

August 30th, 2013 at 8:59 am

Posted in Pengalamanku

Sinar Matahari Laksana Air Terjun

without comments

Ketika berjalan-jalan mencari makanan untuk berbuka puasa pada awal bulan Agustus yang lalu, mata saya menangkap pemandangan yang sangat menarik di langit. Kala itu awan hitam menghiasi langit kota Bandung. Matahari tertutup oleh awan, namun ada bagian langit yang tidak tertutup awan. Dari “lubang” awan itu meluncurlah sinar matahri laksana air terjun jatuh ke bumi. Sungguh indah sekali. Subhanallah. Saya menghentikan sepeda motor. Naluri jurnalistik saya langsung muncul, dengan kamera ponsel saya potret pemandangan langit yang indah itu.

030820133427

030820133426

030820133428

Hanya beberapa menit saja langit menampakkan lukisan yang mengagumkan itu, namun saya sudah berhasil mengabadikan keagungan Tuhan tersebut.


Written by rinaldimunir

August 28th, 2013 at 1:23 pm

Posted in Gado-gado

Bahasa Inggrisnya “ITB” Apa?

without comments

Saya sering bingung dengan penamaan Bahasa Inggris untuk kampus saya, Institut Teknologi Bandung. Sebagian besar mahasiswa dan sebagian teman-teman dosen menuliskannya sebagai Bandung Institute of Technology, sebagian menuliskannya Institute of Technology Bandung, tetapi ada juga yang tetap seperti nama aslinya, Institut Teknologi Bandung. Pada surat-surat rekomendasi yang saya tulis untuk mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke jenjang S2 atau S3 di luar negeri saya sudah biasa menuliskannya sebagai Bandung Institute of Technology. Begitu juga pada makalah-makalah saya dalam Bahasa Inggris untuk konferensi internasional maupun jurnal internasional saya menuliskan nama institusi saya sebagai Bandung Institute of Technology. Bagi Civitas Academika ITB, penamaan ITB dalam Bahasa Inggris menjadi Bandung Institute of Technology biasanya terinspirasi dari perguruan tinggi teknik terkemuka di Amerika bernama Massachusetts Institute of Technology (MIT). Jadi, tinggal copy paste dan ganti kata Massachusetts menjadi Bandung, maka jadilah Bandung Institute of Technology. Sesederhana itukah?

Apakah masalah nama dalam Bahasa Inggris itu penting? Atau dalam pertanyaan lain, apakah penerjemahan nama institusi ke dalam Bahasa Inggris itu perlu? Meskipun masalah nama ini kelihatannya sepele, namun menurut saya ini adalah hal yang tidak bisa dianggap remeh, sebab nama menunjukkan identitas. Dalam konteks perangkingan perguruan tinggi dunia (world class university), yang salah satu aspek penilaiannya adalah citation index publikasi ilmiah, nama institusi yang berbeda-beda dapat membuat skor nilai terpecah karena ada beberapa nama ITB yang berbeda-beda di dalam berbagai makalah.

Karena keragu-raguan itu, maka saya mencoba menanyakan masalah nama ini kepada teman-teman di kampus melalui milis dosen. Pertanyaan saya adalah sebagai berikut (seperti soal pilihan berganda saja kayaknya, he..he :-) ) :

Manakah penamaan dalam Bahasa Inggris yang dianggap resmi oleh ITB untuk Institut Teknologi Bandung, apakah:
1. Bandung Institute of Technology (BIT)
2. Institute Technology of Bandung (ITB)
3. Institute of Technology Bandung (ITB)
4. atau tetap Institut Teknologi Bandung (ITB)

Melalui diskusi di milis tersebut saya mendapat banyak pencerahan dan masukan. Seorang rekan di milis mengatakan bahwa bila ditinjau dari kaidah bahasa Inggris, nama yang benar hanya opsi (1), yaitu Bandung Institute of Technology. Opsi (2), yaitu “Institute Technology of Bandung” tidak ada artinya (sama dengan technology of institute). Opsi (3), yaitu “Institute of Technology Bandung” sekilas benar apabila diucapkan seolah-olah tampak seperti terputus sebagai “Institute of Technology” (at) Bandung, yang dalam hal ini “at” tidak diucapkan. Rekan tersebut bercerita bahwa dia pernah menulis di dalam makalah nama afiliasinya adalah “Institute of Technology Bandung”, namun setelah dicetak tertulis menjadi “Institute of Technology, Bandung” (ditambah koma), mungkin editornya mengira dia salah ketik.

Sebagian rekan dosen ITB berpendapat bahwa nama ITB tidak perlu diterjemahkan, artinya tetap ditulis apa adanya sebagai Institut Teknologi Bandung. Alasannya karena menurut UU Bahasa Indonesia Pasal 36, nama Perguruan Tinggi di Indonesia harus menggunakan Bahasa Indonesia. Analoginya sama seperti nama diri yang tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa lain, bukan? Nama adalah unik atau berciri khas dan tiada duanya, maka nama tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Kalau istilah boleh diterjemahkan, tetapi nama tidak boleh. Tidak lucu kan menerjemahkan Garuda Indonesia menjadi Eagle Indonesian atau Indonesian Eagle? Penerjemahan yang rancu seringkali menghasilkan ketidakkonsistenan, misalnya (sebagai contoh) Institut Pertanian Bogor (IPB) di-Inggriskan oleh teman-teman IPB menjadi Bogor Agriculture University. Apakah tepat menerjemahkan kata “institut” menjadi “university”? Barangkali teman-teman di IPB bisa menjelaskan hal ini.

Seorang rekan memberikan informasi, bahwa pada zaman rektor ITB masih Pak Wiranto, nama ITB tidak diterjemahkan (ada SK nya). Bahkan, tidak banyak orang yang tahu (termasuk alumni ITB sekalipun), waktu kampus ITB diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1959, namanya adalah Institut Teknologi di Bandung, hanya kemudian kata ‘di’ itu menguap entah kemana.

Pada tugu peresmian ITB oleh Bung Karno ini, nama ITB adalah "Institut Teknologi di Kota Bandung". Sumber gambar: http://aleut.wordpress.com/2011/05/24/the-unknown-itb/

Pada tugu peresmian ITB oleh Bung Karno ini, nama ITB adalah “Institut Teknologi di Kota Bandung”. Sumber gambar: http://aleut.wordpress.com/2011/05/24/the-unknown-itb/

Bahwa nama ITB tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris ternyata ada buktinya. Dalam sebuah dokumen resmi berbahasa Inggris yang dikeluarkan oleh ITB, nama ITB tetap dituliskan sebagai Institit Teknologi Bandung. Contohnya dapat dilihat pada dokumen MOU twinning proram antara ITB dengan institusi lain: http://lp4.itb.ac.id/wp-content/uploads/TERJEMAHAN-SK-DD-Twinning-Programs-Edited.pdf. Pada dokumen tersebut tertulis:

DECREE OF RECTOR OF INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
NUMBER: 197/SK/I1.A/PP/2012
ON
GUIDELINES FOR THE IMPLEMENTATION OF TWINNING PROGRAMS
(JOINT DEGREE AND DOUBLE DEGREE) AT INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

RECTOR OF INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

Dari diskusi yang mencerahkan di milis tersebut saya cenderung lebih setuju nama ITB tidak perlu diterjemahkan, biarkan sesuai nama aslinya saja. Untuk selanjutya saya akan menuliskan nama ITB dalam dokumen berbahasa Inggris tetap Institut Teknologi Bandung. Jadi, di dalam makalah-makalah saya yang berbahasa Inggris nanti maupun dalam surat rekomendasi untuk para alumi yang akan S2 atau S3 ke luar negeri, saya akan menuliskan ITB tetap Institut Teknologi Bandung. Kalaupun memang “terpaksa” diterjemahkan dalam Bahasa Inggris (misalnya karena beranggapan nama Institut Teknologi Bandung itu bagi orang asing make no sense), maka sebagai jalan tengahnya ditulis menjadi Institute of Technology, Bandung (pakai koma) atau kalau tidak suka pakai koma ya Institute of Technology Bandung (seperti perguruan tinggi di Sydney bernama University of Technology Sydney) sehingga singkatannya tetap ITB. Atau, bila merunut pada sejarah peresmian ITB pada tahun 1959 (Institut Teknologi di Bandung), maka penerjemahannya adalah Institute of Technology at Bandung.

Bagi kalangan civitas academica atau alumni yang tetap kukuh menerjemahkan ITB menjadi Bandung Institute of Technology, maka sebaiknya tetap mencantumkan singkatan ITB dibelakangya. Dua opsi ini bisa bisa dipertimbangkan, yaitu “Bandung Institute of Technology ITB” atau “Bandung Institute of Technology (ITB)”. Artinya, boleh saja ada banyak “Bandung Institute of Technology” tapi hanya ada satu yang ITB.

Meskipun dunia semakin meng-global dan semua nama serta istilah dimana-mana serba di-Inggris-kan, kita tidak perlu ikut-ikutan sama, melainkan harus semakin unik dan bukan makin seragam. ITB tidak perlu ikut-ikutan menerjemahkan namanya ke dalam Bahasa Inggris, tetap sesuai nama aslinya saja.


Written by rinaldimunir

August 27th, 2013 at 10:10 am

Posted in Seputar ITB

Jalan-jalan ke Bangkok (Bagian 3): Mencoba Naik Skytrain

without comments

Dalam soal transportasi massal, kota Bangkok lebih maju daripada Jakarta. Selain busway, di sini ada tiga macam kereta api, yaitu subway, kereta di atas tanah, dan kereta di jalur layang (Sytrain). Yang terakhir ini mirip dengan monorail, namun relnya masih ganda.

Saya dengan latar belakang jalan jalur layang kereta api Skytrain

Saya dengan latar belakang jalur layang kereta api Skytrain

Stasiun Siam

Stasiun Siam

Setiap stasiun Skytrain dibangun secara modern. Stasiunnya sangat luas dan nyaman. Dari bawah kita naik ke aats dengan menggunakan tangga berjalan. Berikut ini foto-fotonnya.

230820133498

230820133499

230820133495

230820133496

Kereta Skytrain mirip seperti KRL di Jakarta. Penumpang ada yang duduk dan berdiri. Kita tidak usah khawatir stasiun tujuan sudah terlewati, sebab setiap akan berhenti di stasiun antara, selalu ada pengumuman yang menyebutkan kereta akan berhenti di stasiun apa, dalam Bahasa Thai dan Bahasa Inggris. Setiap gerbong dilengkap dengan rute kereta dan titik-titik stasiun antara.

Kereta skytrain.

Kereta skytrain.

Dua kereta skytrain berpapasan.

Dua kereta skytrain berpapasan.

Suasana di dalam gerbon kereta.

Suasana di dalam gerbong kereta, saat itu bukan pada jam-jam sibuk, keretanya tidak penuh.

Untuk menaiki kereta Skytrain, kita harus membeli karcis berupa kartu magnetik dari sebuah mesin jaja (vending machine). Mesin ini menerima uang logam (2, 5, dan 10 bath), serta uang kertas.

Mesin jaja untuk membeli karcis kereta.

Mesin jaja untuk membeli karcis kereta.

Pilih sendiri rute tujuan, lalu nanti ada informasi berapa Bath ongkosnya. Masukkan uang Anda ke dalam mesin jaja, boleh uang logam atau uang kertas. Jika ada kembalian, mesin akan mengeluarkan uang kembalian Anda. Praktis dan cepat. Namun mesin jaja ini tidak bisa diguankan untuk membeli tiket secara kolektif, jadi harus satu per satu.

230820133486

Kartu magnetik tersebut digunakan untuk membuka palang masuk secara otomatis, dan juga digunakan untuk keluar palang di stasiun tujuan (awas jangan sampai hilang kartunya selama perjalanan).

Palang otomatis yang hanya dapat dibuka dengan kartu magentik.

Palang otomatis yang hanya dapat dibuka dengan kartu magnetik.

Jika anda “curang”, yaitu membeli karcis untuk tujuan tertentu tetapi turun di stasiun lain yang lebih jauh, maka ketika Anda keluar stasiun dan memasukkan kartu magnetik tersebut untuk membuka palang, palang tidak akan membuka. Anda harus membayar kekurangan ongkos dengan mengisi kartu magnetik tersebut di loket yang dilayani oleh petugas.

Kapan ya Jakarta dan kota-kota besar di negara kita memiliki kereta modern seperti di Bangkok itu?


Written by rinaldimunir

August 25th, 2013 at 1:39 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Bangkok (Bagian 2): Menyusuri Sungai Chao Praya kala Malam

without comments

Di Bangkok saya bertemu dengan alumni Informatika ITB angkatan 1994 yang bekerja di kantor perwakilan PBB untuk Asia Pasifik. Namanya Mohamad Reza. Reza mengajak kami jalan-jalan menuju pasar malam (night market) yang bernama Asiatique di pinggir sungai Chao Praya. Pasar ini hanya buka pada waktu malam dari jam 4 sore hingga jam 12 malam. Bermacam barang suvenir, pakaian, dan restoran berada di pasar ini.

Pasar malam Asiatique di pinggir Sungai Chao Praya

Pasar malam Asiatique di pinggir Sungai Chaopraya

Bersama Mohamad Reza di pasar malam.

Bersama Mohamad Reza di pasar malam.

Pinggir sungai Chaopraya di dekat Pasar Asiatique.

Pinggir sungai Chaopraya di dekat Pasar Asiatique.

Sungai Chao Praya adalah sungai besar di kota Bangkok. Di pinggir sungai ini terdapat dermaga perahu penumpang yang mengantarkan pengunjung ke kawasan pusat kota secara gratis alias tidak membayar. Perahu ini semacam feeder ke kawasan pertokoan, hotel, dan mal di kota Bangkok.

Perahu penumpang siap mengangkut pengunjung secara gratis.

Perahu penumpang siap mengangkut pengunjung secara gratis.

Nah, kami bersama Reza menaiki perahu itu menuju dermaga di pinggir Hotel Shangrila. Kebanyakan penumpang perahu adalah para turis asing, termasuk kami, ha..ha…

Penumpang ada yang duduk dan berdiri, mirip bis kota saja.

Penumpang ada yang duduk dan berdiri, mirip bis kota saja.

Banyak perahu melewati sungai Chao Praya malam itu. Salah satunya semacam kapal pesiar (cruise) yang berukuran lebih besar yang membawa para turis. Di atas kapal pesiar itu ada restoran dan disktotik tempat para turis bule berjoged. Saya melihat kapal pesiar itu dari kejauhan. Suara musik berdentum-dentum dari atas kapal pesiar dan suara para turis yang bernyanyi dan berdansa terdengar dengan jelas.

Kapal pesiar yang bermandikan cahaya lampu.

Kapal pesiar yang bermandikan cahaya lampu.

Sepanjang sungai Chao Praya terlihat gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampu yang menawan. Umumnya gedung-gedung hotel, apartemen, dan perkantoran. Ini foto-fotonya, sayang kurang jelas karena pencahayaan yang kurang :-( .

DSCF0827

DSCF0828

Tulisan menarik lain tentang senja di Sungai Chao Praya dapat dibaca pada tulisan seorang traveller (alumni Informatika ITB juga) yang pernah berkunjung ke sini: Semburat Senja Kembali ke Chao Phraya.


Written by rinaldimunir

August 24th, 2013 at 9:46 am

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Bangkok (Bagian 1): Serasa di Jakarta Saja

without comments

Selama empat hari saya berada di kota Bangkok untuk menghadiri konferensi internasional yang diadakan oleh AUN/SEED-Net. Konferensi internasional tersebut bernama Regional Conference on Computer and Information Technology (RCCIE) 2013 AUN/SEED-Net adalah jaringan perguruan tinggi yang eligible di Asia Tenggara dan merupakan salah satu proyek yang didanai oleh JICA (Japan International Cooperation Agency). Kalau di Indonesia ada empat PTN yang termasuk jaringan AUN/SEED, yaitu UI, ITB, UGM, dan ITS. Semua biaya akomodasi dan perjalanan pp ke Bangkok ditanggung oleh JICA. Enak ya. Saya belum pernah mengunjungi Bangkok, jadi ini adalah kesempatan pertama saya ke kota yang ramai menjadi tujuan wisata itu.

Saya berdua ke Bangkok dengan teman dari Prodi Telekomunikasi ITB. Kami naik pesawat Thai Airways dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat Thai hanya terbang satu kali sehari dari Jakarta ke Bangkok. Selain Thai Airways, Garuda Indonesia, Mandala Tiger Airways, dan Air Asia juga terbang ke Bangkok dari Jakarta.

Perjalanan dari Jakarta ke Bangkok ditempuh selama 3 jam dan 5 menit, kira-kira sama dengan lama perjalanan Jakarta-Manado yang saya tempuh minggu lalu. Kami mendarat di Bandara Suvarnabhumi yang megah.

Terminal kedatangan di Bandara Suvannabhumi yang megah.

Terminal kedatangan di Bandara Suvarnabhumi yang megah.

Mau keluar Bandara

Mau keluar Bandara

Di bawah ini foto Bandara Suvarnabhumi yang besar, luas, dan megah. Mirip Bandara Kuala Namu di Medan. Bandara Suvannabhumi ini menjadi salah satu bandara hub di Asia, yang menghubungkan dengan banyak bandara besar lain di dunia.

Setelah proses imigrasi yang cepat dan simpel, kami keluar bandara. Kami dijemput pegawai hotel The Sukosol Hotel tempat kami menginap nanti. Konferensi diadakan di hotel itu juga.

Selama dalam perjalanan dari Bandara ke hotel saya mengamati banyak hal. Pertama, orang Bangkok dan orang Thailand umumnya mirip seperti orang Indonesia karena dari ras Melayu. Ada juga sebagian yang mirip-mirip chinese karena pencampuran dengan ras mongoloid.

Kedua, kota Bangkok mirip sekali dengan Jakarta, ya macetnya, ya padatnya, ya gedung-gedung pencakar langitnya. Bedanya kota Bangkok lebih teratur dan warganya lebih tertib dibandingkan orang kita (salah satunya dalam hal mengantri).

Pemandangan kota Bangkok dari lantai 14 The Sukosol Hotel.

Pemandangan kota Bangkok dari lantai 14 The Sukosol Hotel.

Saya juga menemukan tukang ojeg berseragan yang mangkal di pinggir jalan. Tidak ada bajaj di Bangkok, tetapi ada kendaraan yang mirip bajaj yag disebut tuk-tuk. Dengan orang-orangnya yang mirip dengan orang kita dan nuansa kotanya yang mirip Jakarta, saya merasa tidak sedang berada di luar negeri nih, tetapi serasa di Jakarta saja layaknya.

Tuk-tuk sedang mangkal menunggu penumpang.

Tuk-tuk sedang mangkal menunggu penumpang.

Foto narsis di depan tuk-tuk

Foto narsis di depan tuk-tuk

Meskipun masyarakat Thailand mayoritas beragama Budha, namun di Bangkok mudah ditemukan masjid. Dalam perjalanan dari Bandara ke hotel saya menghitung ada lima mesjid besar yang saya temui di pinggir jalan. Sayangnya saya tidak sempat sholat di masjid karena jaraknya dari hotel cukup jauh.

Aksara Bahasa Thai mirip seperti tulisan Sanskerta atau aksara Jawa kalau di negara kita. Saya tidak mengerti dengan aksara keriting itu, ha..ha..ha. Hampir semua nama gedung dan nama jalan memakai aksara Thai. Nama-nama jalan yang memakai aksara Thai itu mengingatkan saya pada nama-nama jalan di kota Yogyakarta yang memakai huruf Jawa. Satu hal lagi, orang Thai agak sulit berbahasa Inggris, jadi komunikasi kadang-kadang pakai bahasa isyarat dan main tunjuk gambar saja. (Bersambung ke Bagian 2)


Written by rinaldimunir

August 24th, 2013 at 6:56 am

Posted in Cerita perjalanan

Anak-Anak Suriah yang Malang

without comments

Ketika saya berada di Bangkok, saya melihat tayangan berita dari TV Aljazeera kemarin sore yang mengabarkan ratusan (atau mungkin ribuan) warga di pinggir kota Damaskus, Suriah (Syria), mati bergelimpangan setelah menghirup gas beracun mematikan dari bom senjata kimia yang dimuntahkan oleh tentara Presiden Bashar Al-Assad. Sebagian besar korban itu adalah wanita dan anak-anak.

Saya melihat foto anak-anak Suriah yang tewas setelah menghirup gas beracun yang mematikan itu. Mayat-mayat mereka digeletakkan di lantai sebuah ruangan klinik. Foto tersebut saya dapat dari akun ustad Felix Siauw di Fesbuk. Wajah anak-anak yang polos dan tanpa dosa itu diam tak bernyawa. Sama sekali tidak ada luka-luka pada tubuh anak-anak itu, yang membuktikan bahwa mereka mati akibat senjata kimia berupa gas beracun. Foto-foto lainnya yang mengenaskan hati dan tidak sanggup saya tayangkan di sini dapat dilihat pada situs Arrahmah ini.

Jenazah anak-anak Suriah yang menjadi korban bom senjata kimia.

Jenazah anak-anak Suriah yang menjadi korban bom senjata kimia.

Saya menangis melihat foto yang sangat memilukan hati itu. Saya memiliki 3 orang anak sebesar anak-anak Suriah dalam foto di atas. Anda baru merasakan kesedihan yang sangat mendalam jika Anda memiliki anak-anak seusia mereka. Terbayang kan anak-anak kita di rumah yang bermain dengan ceria atau berlari-lari menyambut kita pulang dari kantor. Senyum mereka dan tawa mereka adalah obat kepenatan kita setelah seharian bekerja. Ketika senyum dan tawa itu direnggut oleh kematian akibat pertikaian orang-orang dewasa, betapa hancur lebur hati kita, perih tak terperikan. Barangkali itulah yang dirasakan orang-orang Suriah saat ini, yang mengalami duka sangat mendalam karena sanak keluarganya (termasuk anak-anak mereka) mati mengenaskan akibat perang antara pihak-pihak yang bertikai memperebutkan kekuasaan.

Dalam perang apapun anak-anak yang tidak berdosa selalu menjadi korban. Mereka korban dari perang orang-orang dewasa. Sungguh malang nasibmu anak-anak Suriah. Saya di sini tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menuliskan kepedihan hati melalui blog ini. Saya berharap negeri Suriah, yang merupakan negeri para Nabi pada zaman duu, kembali damai seperti dulu dan anak-anak Suriah bisa hidup dengan riang gembira seperti anak-anak lainnya di muka bumi.

Wahai anak-anak Suriah yang telah suhada, kalian saat ini mungkin sudah berlari-lari di Taman Surga. Orangtua kalian mungkin sudah tiada atau masih ada yang selamat di bumi meratapi nasib kehilangan buah hati tersayang. Hidup itu sangat ganas buatmu, maka Tuhan mengambilmu kembali ke pangkuann-Nya.

“Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka TIDAK mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rizki” (QS: Ali Imran:169)


Written by rinaldimunir

August 23rd, 2013 at 8:05 am

Posted in Dunia oh Dunia

Pakai “Kacamata Kuda” Agar Tidak Menyontek Saat Ujian

without comments

Hari ini masih ada mahasiswa ITB yang nyontek saat ujian? Saya kira masih ada, namun di Program Studi tempat saya mengajar, saya yakin hampir tidak ada mahasiswa Informatika yang melakukan kecurangan dengan menyontek. Malu. Harga diri, gitu lho. Sebagai mahasiswa Informatika ITB yang rata-rata pintar itu tentu tidak mau merasa harga dirinya “digadaikan” dengan melakukan nyontek. Saya sudah membuktikannya sendiri (baca tulisan saya ini, Mencoba Ujian Tanpa Diawasi).

Tapi, di Kasetsart University Bangkok ini, semua mahasiswa dipasang penutup mata kertas (paper blinker) supaya tidak mencontek (larak-lirik ke kiri dan ke kanan) seperti foto di bawah ini.

Mahasiswa pakai penutup mata kertas --mirip kacamata kuda-- saat ujian

Mahasiswa pakai penutup mata kertas –mirip kacamata kuda– saat ujian

Sumber foto dan penjelasannya ada di situs ini.

Sepintas penutup mata dari kertas itu mirip seperti perangkat kacamata kuda di Indonesia. Anda pernah melihat kuda yang menarik delman, andong, atau bendi? Kedua matanya diberi penutup kiri dan kanan, maksudnya agar kuda selalu melihat lurus ke depan, tidak bisa melihat benda di samping kiri dan kanan. Makanya orang yang wawasannya sempit sering disebut memakai kacamata kuda.

Kacamata kuda

Kacamata kuda

Sumber foto kacamata kuda: Wikipedia

Menurut pihak Kasetsart University, pemakaiaan penutup mata kertas itu tidak dimaksudkan untuk mempermalukan mahasiswa. Namun sekarang foto tersebut sudah dihapus di Fesbuk universitas tersebut. Penggunaan penutup mata itu hanya sekali saja, sebab muncul banyak kritik setelah pemuatan foto tersebut di Facebook.

Kalau penutup mata kertas itu diterapkan di Indonesia, dimana nyontek saat ujian sudah hal yang biasa terjadi, mungkin beritanya akan seheboh di Thailand juga kali ya.


Written by rinaldimunir

August 21st, 2013 at 6:46 am

Posted in Pendidikan

Meski Dosen ITB, Tidak Ada Jaminan Anaknya Bisa Lulus Masuk ITB

without comments

Hari-hari ini mahasiswa baru ITB Angkatan 2013 menjalani masa orientasi studi (bukan perploncoan lho). Mereka dikenalkan dengan sistem pendidikan di ITB, selanjutnya diajak mengenal fasilitas kampus ITB yang akan mereka jalani nanti. Ada sekitar 3500 orang mahasiswa baru ITB, mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara, berbeda suku bangsa dan agama, berbeda status ekonomi, dan berbeda latar belakang sosial. Namun mereka menjadi satu di ITB, yaitu mahasiswa ITB. Kebhinekaan yang ada di kampus ITB adalah kekayaan ITB itu sendiri.

Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu seorang rekan (sesama dosen ITB, calon profesor) menuliskan status di fesbuk bahwa akhirnya anaknya memantapkan hati menerima pilihan diterima di sebuah PTN di ujung timur Pulau Jawa, bukan di ITB seperti yang didambakannya. Kecewa? Pasti ada lah ya. Pilihan pertamanya kan di ITB, tetapi sayang tidak diterima, tetapi dia diterima pada pilihan kedua di tempat yang cukup jauh dari Bandung. Adalah hal yang wajar jika dosen-dosen ITB ingin anaknya kuliah di ITB juga, dan sejauh yang saya ketahui memang banyak dosen ITB yang anak-anaknya kuliah di ITB.

Namun, sebenarnya anak dosen di atas masih “lebih beruntung” dibandingkan anak dosen yang satu lagi (masih rekan saya satu fakultas). Anak rekan saya yang ini sama sekali tidak lulus SNMPTN maupun SBMPTN. Kecewa, sudah pasti. Shock, sudah jelas. Tidak hanya sang anak yang shock, bapaknya (yang dosen itu) juga sama-sama shock. Sedih.

Memangnya kalau anak dosen ada jaminan bisa masuk ITB? No way! ITB memperlakukan sama terhadap semua calon mahasiswa, baik anak orang kaya, anak orang miskin, anak pejabat, anak jenderal, anak dosen, atau anak rektor ITB sekalipun. Semuanya sama kedudukannya, tidak ada yang istimewa, yang dilihat adalah otaknya, bukan uangnya atau anak siapanya. Juga tidak ada mahasiswa titipan anak pejabat atau masuk lewat “pintu belakang”.

Saya masih ingat, putra Pak Wiranto (mantan Rektor ITB) pun anaknya tidak lulus masuk ITB dan akhirnya kuliah di jurusan teknik di sebuah PTS di Bandung. Anak Rektor ITB lho itu. Anak rektor ITB pun tidak ada jaminan bisa melenggang masuk ITB dengan mudah.

Orang luar seringkali salah menilai kami bahwa dikiranya dosen itu punya “jatah” memasukkan satu orang mahasiswa ke ITB. Kalau bukan anaknya, ya anak saudaranya. Kalau bukan anak saudaranya, ya anak orang lain (mungkin pakai transaksi “jual beli”). Itu sama sekali tidak benar. Kalau di PT lain mungkin ada jatah-jatahan seperti itu, tetapi hal semacam itu di kampus kami tidak ada.

Dulu teman saya pernah secara halus meminta tolong memasukkan anak bosnya masuk ITB (kala itu masih ada seleksi lewat jalur mandiri). Katanya kepada saya, kan dosen punya “jatah” mahasiswa, jadi tolonglah memasukkan anak bosnya (jenderal di TNI) ke ITB. Tidak bisa jawab saya, bahkan saya sendiri pun tidak bisa memasukkan anak saya ke ITB, apalagi anak orang lain. Yang bisa memasukkan seorang anak ke ITB adalah anak itu sendiri berdasarkan kemampuan otaknya. Saya pikir inilah tradisi kampus saya yang selalu dipelihara sejak dulu, yaitu menerima mahasiswa murni melalui potensi akademik semata.

Anak dosen itu sama saja dengan anak orang lain, ada yang cerdas, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang kurang. Kalau kemampuan otaknya tidak memadai ya tidak bisa lulus masuk kampus orangtuanya. Kalau dia bisa lulus masuk ITB, itu adalah karena kemampuannya sendiri, bukan karena hal yang lain.


Written by rinaldimunir

August 20th, 2013 at 3:25 pm

Posted in Seputar ITB