if99.net

IF99 ITB

Archive for July, 2013

W.S Rendra di Kampus ITB dan Puisinya

without comments

Almarhum WS Rendra adalah seorang penyair besar yang pernah dipunyai Indonesia setelah Khairil Anwar. Hidupnya penuh warna, pernah menjadi seorang Katolik sebelum akhirnya berpindah keyakinan menjadi seorang muslim ketika menikahi putri keturunan Kraton Yogya, Sitoresmi. Alasan dia masuk Islam, seperti dikutip dari sini adalah: “Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.”

Tahun 70-an, ketika hangat-hangatnya situasi perpolitikan maahsiswa menentang Orde Baru, WS Rendra pernah berdiri di Lapangan Basket ITB membacakan puisinya di hadapan mahasiswa. Saya menemukan foto WS Rendra sedang membaca puisi di kampus ITB itu pada buku Lustrum ITB yang ke-4 (1979) yang saya temukan di pasar buku bekas Jalan Cikapundung, Bandung. Masih muda sekali dia waktu itu. Saya pindai fotonya dan saya unggah seperti di bawah ini (meskipun hasilnya kurang tajam):

WS Rendra sedang membaca puisi di Lapangan  Basket ITB.

WS Rendra sedang membaca puisi di Lapangan Basket ITB.

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan puisi karya-karya Rendra, maklum saya tidak terlalu suka puisi. Namun, sejak dia mulai berangkat tua, puisi-puisinya lebih banyak berisi kontemplasi kehidupan, dan menurut saya bernada religius. Mungkin keislamannya itu telah banyak mengubah pandangan hidupnya.

Di bawah ini salah satu puisinya yang saya nilai menunjukkan semakin dekat pemahamannya tentang kepasrahannya kepada Allah SWT.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MAKNA SEBUAH TITIPAN
WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…


Written by rinaldimunir

July 31st, 2013 at 2:21 pm

Posted in Renunganku

CALL FOR PAPER Jurnal Cybermatika, Vol. 1 No. 2 Tahun 2013 (Edisi Desember 2013)

without comments

Jurnal Cybermatika, yang diterbitkan oleh KK-Informatika STEI-ITB, mengundang para peneliti, pengkaji, praktisi, industri, dan pemerhati bidang informatika untuk mengirimkan makalahnya untuk diterbitkan pada edisi kedua (Vol. 2) pada bulan December 2013.

Makalah dapat dikirimkan melalui email ke: cybermatika@stei.itb.ac.id atau melalui situs ini : http://cybermatika.stei.itb.ac.id. Format makalah dapat diunduh di sini. Makalah dapat dikirimkan sewaktu-waktu, penerbitan berikutnya akan dilakukan sesuai tanggal-tanggal penting Cybermatika Vol. 1 No. 2 (Edisi December 2013) berikut ini:

Batas penerimaan makalah : 1 Oktober 2013
Pengumuman penerimaan makalah: 18 November 2013.

Semua makalah yang diterima, akan melewati proses peer-review secara anonim oleh dua orang reviewer. Setelah proses review selesai, hasil review akan diinformasikan kepada penulis karya ilmiah melalui email.

Ruang lingkup makalah adalah (namun tidak terbatas pada):

Artificial Intelligence
Computer Graphics and Animation
Image Processing
Cryptography
Computer Network Security
Modelling and Simulation
Information Retrieval
Information Filtering
Multimedia
Bioinformatics and Telemedicine
Computer Architecture Design
Computer Vision and Robotics
Parallel and Distributed Computing
Operating System
Compiler and Interpreter
Information System
Game
Numerical Methods
Mobile Computing
Natural Language Processing
Data Mining
Cognitive System
Algorithm and complexity
Human computer interaction
Digital Speech Processing
Cloud Computing

Keterangan lebih lengkap silahkan klik ini: http://cybermatika.stei.itb.ac.id/. Adapun makalah yang diterbitkan pada Vol. 1 No. 1 (Edisi Juli 2013) dapat dilihat pada pranala berikut: http://cybermatika.stei.itb.ac.id/ojs/index.php/cybermatika/issue/view/1

Cover CYBERMATIKA


Written by rinaldimunir

July 28th, 2013 at 1:15 pm

Selamat Menjadi Walikota Bandung, Ridwan Kamil

without comments

Ini tulisan yang sempat tercecer dan belum saya tulis. Kok sampai lupa ya? Mahkamah Konstitusi akhirnya menolak permohonan penggugat hasil Pilkada Kota Bandung pada tanggal 24 Juli 2013. Dengan demikian, jika tidak ada aral melintang, maka pada bulan September 2013 nanti Ridwan Kamil akan dilantik menjadi Walikoat Bandung yang baru. Seperti yang diberitakan media, hasil pemungutan Pilkada Kota Bandung menunjukkan raihan suara pasangan Ridwan Kamil – Oded sangat tinggi, mencapai 45,24 persen atau 434.130 suara.

Inilah dosen ITB pertama yang menjadi Walikota Bandung. Pada Pilkada sebelumnya ada dosen ITB yang maju sebagai calon Walikota, yaitu Pak Taufikurrahman, dari Biologi ITB, namun dia kandas dari sang petahana, Dada Rosada. Kali ini justru istri Pak Dada yang kandas karena suaminya diterpa isu korupsi Bansos.

Malam hari setelah hasil keputusan MK keluar saya mengirim SMS ucapan selamat kepada Ridwan Kamil dengan harapan semoga dia bersama wakilnya dapat mengemban amanah warga Kota Bandung yang telah menitipkan suara kepadanya. Ridwan pun langsung membalas “Makasih bang. Doanya selalu ya bang“.

Selamat bertugas, Emil. Dengan keahlianmu sebagai arsitek dan pakar tata ruang/kota, saya yakin kamu dapat membenahi kota Bandung yang acak adut, semrawut, dan kumuh ini. Keep Bandung beautifull.


Written by rinaldimunir

July 27th, 2013 at 10:46 am

Posted in Seputar Bandung

Masalah Kemiskinan di Jawa Barat Lebih Penting daripada Soal Nama

without comments

Beberapa tokoh dan akademisi Jawa Barat mengusulkan perubahan nama Provinsi Jawa Barat dengan nama yang lebih berjati diri Sunda, misalnya Provinsi Pasundan, Provinsi Tatar Sunda, dan lain-lain. Baca berita ini deh: Nama Provinsi Jawa Barat Diusulkan Diganti.

Sebagai penduduk Jabar (meski bukan orang beretnis Sunda), saya kira usulan pergantian nama itu wajar-wajar saja. Di era globalisasi ada kekhawatiran bahwa budaya lokal kehilangan identitasnya, digerus oleh budaya global. Karena khawatir kehilangan jatidiri, maka masyarakat lokal mencoba membentengi dirinya dengan mempertahankan identitas kuluralnya.

Penamaan provinsi menjadi Pasundan (atau apapun yang berbau etnis Sunda) mungkin adalah sebuah cara membentengi budaya Sunda agar tidak hilang. Jawa Barat berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Sebagai daerah penyangga ibukota, arus perpindahan penduduk ke Jawa Barat sangat besar, para pendatang dari berbagai ragam budaya etnis dan kesukuan membanjiri provinsi ini. Lihat saja di wilayah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan lain-lain, di sana orang-orang jarang berbahasa atau berbudaya Sunda, sebab penduduknya kebanyakan adalah kaum urban dari berbagai lintas budaya nusantara.

Ekspansi pendatang yang begitu besar ke Tatar Parahyangan cepat atau lambat dapat membuat budaya Sunda terpinggirkan jika tidak mampu bertahan, mungkin karena itulah para tokoh dan akademisi itu mencoba mempertahankan jatidiri kesundaan dengan mengganti nama provinsi Jawa Barat.

Meskipun perubahan nama itu saya anggap wajar saja, namun menurut saya bukan kebutuhan mendesak saat ini. Masih banyak masalah penting lain di Jawa Barat yang perlu diselesaikan ketimbang nama. Masalah utama di Jawa Barat adalah kemiskinan sebagian besar penduduknya, masalah pengangguran, dan kerusakan infratruktur lingkungan. Masalah-masalah itu yang harus lebih prioritas diselesaikan ketimbang mempersoalkan nama.

Saya kira lebih banyak mudhorat daripada manfaat mengganti nama Jawa Barat dengan kata yang menonjolkan kesukuan. Mudhorat dari sisi ekonomi sudah jelas (mengganti setiap logo atau nama “Jawa Barat”, misalnya), tetapi ada mudhorat lain yang tidak kalah penting untuk dipertimbangkan, yaitu kurangnya penghargaan terhadap perbedaan pada keragaman etnis dan budaya yang beragam di Jawa Barat, karena tidak seluruh orang Jawa Barat itu beretnis Sunda (ada Cirebon yang berbeda identitas dengan Sunda).


Written by rinaldimunir

July 26th, 2013 at 2:27 pm

Posted in Seputar Bandung

Kecil-Kecil Sudah Berkacamata

without comments

Anak-anak SD zaman sekarang sudah banyak yang berkacamata. Itu saya amati di sekolah anak saya. Kebanyakan yang memakai kacamata itu siswa kelas tiga ke atas. Ini fenomena yang menarik pada zaman ini, sebab anak-anak sudah mengalami gangguan penglihatan sejak dini. Mereka terpaksa memakai kacamata karena untuk melihat jauh sudah kabur. Jadi, jenis kacamata yang dipakai umumnya kacamata dengan lensa minus. Saya sendiri memakai kacamata minus sejak kelas 1 SMA, waktu saya SD dan SMP tidak punya masalah dalam penglihatan jauh.

Saya iseng-iseng bertanya kepada anak itu kenapa sudah berkacamata. Dasar anak kecil, tentu mereka tidak paham apa sebabnya memakai kacamata, saya mendapat informasi justru dari ibu anak itu. Ooo… rupanya anak itu berkacamata karena mereka keseringan di depan layar komputer, main game-lah, apalagi. Kalau bukan game daring (online), ya main game yang tersimpan di dalam hard disk komputer. Selain main game, aktiviats di depan komputer yang sering dilakukan adalah mengakses Internet.

Dulu kita khawatir anak yang sering menonton TV maka penglihatannya akan terganggu, karena itu ada himbauan jangan menonton TV dekat-dekat dan jangan lama-lama. Namun saat ini terjadi pergeseran, justru acara TV tidak lagi menjadi daya tarik anak zaman sekarang. Mereka beralih ke depan layar komputer untuk main game. Anak-anak bisa berjam-jam terpaku di depan layar komputer, memainkan tetikus atau joystick untuk menembak musuh. Semakin seru maka semakin lama mereka di depan komputer.

Maka, tidak heran anak-anak yang sering duduk di depan layar komputer merekalah yang potensial memakai kacamata. Apa sebabnya sehingga duduk lama di depan layar komputer membuat orang berkacamata. Radiasi? Mungkin. Tetapi saat ini teknologi layar sudah sedemikian maju sehingga tingkat radiasi dari layar monitor sudah dapat ditekan seminimal mungkin.

Penyebab orang berkacamata adalah karena tidak menyeimbangkan penglihatan jauh dan penglihatan dekat. Duduk berjam-jam di depan layar komputer membuat lebih banyak penggunaan penglihatan (jarak) dekat, sementara penglihatan (jarak) jauh terabaikan. Maka, orang tersebut (dalam hal ini anak-anak) akan mengalami gangguan penglihatan jarak jauh sehingga harus memakai kacamata minus.

Selain itu, kita juga harus ingat bahwa mata kita diciptakan Tuhan untuk dapat melihat secara trimatra (tiga dimensi, 3D), sedangkan layar komputer itu dwimatra (dua dimensi, 2D). Jika mata 3D digunakan lebih banyak melihat bayangan 2D, maka yang terjadi adalah gangguan penglihatan.

Jika anda tidak ingin berkacamata tetapi sering duduk di depan komputer, maka nasehat dari seorang rekan saya ini bisa anda ikuti: setiap satu jam duduk di depan komputer, maka normalkan mata dengan cara melepas pandangan ke arah yang jauh beberapa menit.

Silakan dicoba.


Written by rinaldimunir

July 23rd, 2013 at 11:11 am

Posted in Gado-gado

Berpuasa tapi Tidak Shalat

without comments

Alhamdulillah shaum Ramadhan hari ini sudah menginjak hari ke-13 (jika memulai sejak Hari Rabu 10 Juli 2013). Sampai saat ini puasa saya, keluarga, dan juga teman-teman lancar-lancar jaya saja. Semoga kita semua dapat menyelesaikan ibadah shaum Ramadhan ini sampai bertemu dengan Idul Fitri 1434 H.

Ada yang menarik setiap masuk bulan Ramadhan. Sebagian orang yang saya amati jarang melaksanakan sholat lima waktu, namun mereka tetap melaksanakan puasa Ramadhan. Sholat tidak, tetapi puasa iya. Mungkin mereka berpuasa karena segan dengan teman-teman kerjanya yang berpuasa, jadi ya ikut juga berpuasa, mungkin juga berpuasa karena sulit mencari orang yang berjualan makanan pada siang hari, entahlah, setiap orang tentu mempunyai alasannya masing-masing.

Sangat disayangkan memang, sebab secara rukun mereka tidak melaksanakan sesuai urutan. Rukun Islam itu ada lima, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Urutannya memang begitu. Untuk menjadi muslim, Anda mengucapkan kalimat shayadat terlebih dahulu. Setelah itu, mulai belajar shalat lima waktu, dilanjutkan dengan puasa. Jika anda mampu secara materi, maka anda wajib mengeluarkan zakat bagi fakir miskin dan para mustahik lainnya, dan terakhir jika anda mampu secara materi, fisik, dan mental, maka anda wajib menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Itulah rukun Islam yang sempurna. Minimal setiap muslim itu mengerjakan tiga rukun yang pertama, sedangkan dua rukun yang terakhir hanya bagi yang mampu saja.

Setiap tahun orang-orang beriman wajib melaksanakan shaum Ramadhan satu bulan lamanya. Karena sejak kecil orang Islam sudah dilatih berpuasa, maka puasa selama satu bulan tidak terlalu berat mengerjakannya. Begitu pula shalat lima waktu, jika sedari kecil sudah dilatih dan dibiasakan melaksanakannya, maka tidak mengerjakan sholat sekali saja akan meninggalkan perasaan bersalah dan berdosa bagi seseorang.

Seperti yang dikatakan oleh ulama besar Imam Al-Ghazali, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Banyak orang Islam begitu gampang tidak menunaikan sholat, terlena oleh urusan dunia yang tidak akan pernah habis-habisnya. Padahal, ibadah yang pertama akan dihisab Allah SWT pada Hari Akhir nanti adalah sholat. Sholat itu tiang agama, siapa yang mengerjakannya berarti menegakkan agama.

(Tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri agar selalu taat kepada-Nya).


Written by rinaldimunir

July 22nd, 2013 at 8:47 am

Posted in Agama

Berterimakasihlah Kepada FPI

without comments

Ada berita yang tidak terlalu menjadi perhatian media massa pada akhir Juni 2013 yang lalu. Bagi industri minuman keras (miras) dan pengguna miras tentu saja berita tersebut adalah kabar buruk. Seperti yang diberitakan di laman Detik.com ini, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan Front Pembela Islam (FPI) yang mengajukan judicial review Keppres Minuman Keras (Miras) No 3/1997. Keppres itu mengatur bahwa minuman mengandung etanol 0-5 persen boleh beredar, 5-20 persen perlu diawasi dan 20-55 persen lebih diawasi lagi.

Dengan dihapuskannya Keppres ini, maka peredaran minuman keras sekarang diatur oleh Perda, bukan lagi oleh Pemerintah Pusat. Setiap daerah berhak membuat peraturan sendiri yang mengatur peredaran minuman keras (miras) di daerahnya. Baru-baru ini saya baca di koran lokal bahwa Kota Cirebon membuat Perda yang melarang peredaran miras sama sekali (termasuk yang mengandung etanol 0-5 persen). Kota Bandung pun juga mempunyai Perdas miras, meski tidak melarang sama sekali, namun mengendalikan peredaran miras supaya tidak mudah didapat terutama oleh remaja atau anak muda.

Tentang miras di kota Bandung sudah pernah saya tulis dalam tulisan terdahulu berjudul Mudahnya Membeli Miras di Bandung. Miras adalah kekhawatiran banyak orang, terutama dampak buruknya. Sudah banyak ditulis tentang mudharat mengkonsumsi miras, oleh karena itu tulisan ini tidak membahas tentang pro kontra mengkonsumsi miras.

Selama ini penentang miras kebanyakan adalah dari kelompok Islam. Namun, kelompok lain pun mulai bersuara terkait dampak buruk miras. Ribuan warga di kota Jayapura (yang kebanyakan bukan orang Islam) melakukan protes peredaran miras. Seperti dikutip dari situs MetroTV tersebut, massa pendemo marah lantaran aksi kriminal dan pembunuhan kian marak akibat pengaruh miras. Pengunjuk rasa menuntut pemerintah daerah bersikap tegas. Mereka mendesak pemerintah menutup seluruh toko yang menjual miras. Tidak hanya di Jayapura, ibu-ibu di Timika (masih di Papua) pun demo ke Kantor DPRD Mimika untuk mendesak Pemda dan aparat keamanan setempat segera menutup tempat penjualan minuman keras (miras). Mahasiswa di Papua juga demo menuntut legislatif segera mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan minuman keras (miras) di Papua. Sebagaimana dikutip dari Situs Berita Papua, dalam orasinya Tanius Gomba (perwakialn mahasiswa Papua) mengklaim jika miras bukan budaya orang Papua sehingga DPR Papua perlu membuat Perda miras dan tidak mendengar intervensi dari pihak manapun. “Sudah banyak masyarakat Papua yang korban karena miras. Tidak ada untungnya miras beredar karena banyak menimbulkan dampak negatif,” kata Tanius Gomba.

Nampaknya banyak pihak mulai menyadari bahwa miras perlu disingkirkan dari kehidupan masyarakat karena dampak buruknya itu. Salah satu gerakan anti miras yang gencar di jejaring sosial dipimpin oleh Fahira Idris (putri pengusaha dan mantan menteri, Fahmi Idris).

Kelompok Islam yang paling vokal menentang peredaran miras adalah Front Pembela Islam (FPI). FPI sudah terlanjur mendapat stigma buruk dari media dan kelompok liberal karena kerap melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang dinilai keras. Media dan kelompok liberal memberi bermacam-macam sebutan kepada FPI, seperti preman berjubah, kelompok intoleran, kelompok anarki, kelompok wahabi, dan sebagainya. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI di-blow-up habis-habisan oleh media dan ditayangkan berulang-ulang sehingga terbentuk opini buruk kepada ormas ini. Masyarakat yang tidak paham duduk perkaranya terpengaruh dan antipati kepada FPI (baca tulisan saya terdahulu: Bersikap Adil kepada FPI).

Stigma buruk terus dilekatkan setiap kali FPI melakukan aksi demo atau razia (sweeping). Salah satu razia yang dilakukan FPI adalah razia anti miras dengan mendatangi tempat-tempat hiburan malam. Seringkali aksi razia FPI berakhir ricuh disertai perusakan, nah peristiwa perusakan inilah yang lebih banyak diberitakan media. Namun media seringkali tidak berimbang dan tidak jujur dalam memberitakan aksi FPI tersebut, mereka tidak menjelaskan sebab musababnya. FPI sebelum memulai aksinya mengirimkan peringatan tertulis kepada pengusaha hiburan malam untuk tidak menjual miras, namun pengusaha tidak menggubris surat FPI tersebut. FPI juga meminta aparat hukum untuk menindak tegas tempat hiburan malam yang menjadi sarang peredaran miras dan narkoba. Namun, aparat penegak hukum yang seharusnya menindak pengusaha hiburan malam itu juga tidak berbuat apa-apa (sudah menjadi rahasia umum aparat menjadi beking tempat hiburan malam). Jika polisi tidak bertindak, maka yang terjadi adalah kontrol dari masyarakat yang melakukan dengan caranya sendiri, salah satunya FPI itu.

Meskipun saya tidak setuju seratus persen terhadap cara ‘kekerasan’ yang ditempuh oleh FPI itu dan tetap mengkritisinya, namun saya menganggap keberadaanya masih dibutuhkan sebagai kelompok penyeimbang dan pemberi pressure, khususnya terhadap kelompok liberal dan pengusung paham kebebasan berkeskpresi yang kebablasan. Bagi masyarakat yang kecewa dengan aparat penegak hukum yang terlihat diam atau tidak berdaya dalam memberantas penyakit masyarakat (perjudian, miras, pornografi, pelacuran, dll), apa yang dilakukan oleh FPI itu merupakan jawaban dari kekecewaan mereka. Jika aparat mau menegakkan hukum dengan adil maka saya kira FPI tidak akan melakukan aksinya dengan caranya sendiri. Pelik memang, tapi itulah kondisi penegakan hukum di negara kita yang amburadul.

Saya melihat FPI sekarang mulai mencoba melakukan aksinya dengan jalan konstitusional. Judical review terhadap Kepres miras itu adalah contohnya. Cara-cara yang elegan seperti itu harus diteruskan dan saya yakin akan mendapat dukungan luas dari masyarakat dan juga wakil rakyat di parlemen. Saya kira masyarakat yang selama ini tidak setuju dengan miras perlu berterima kasih kepada FPI, karena berkat FPI maka Keppres tentang peredaran minuman keras batal demi hukum. Wakil rakyat di parlemen perlu didukung untuk menggolkan RUU ANTI MIRAS, sehingga miras dilarang oleh UU secara nasional.


Written by rinaldimunir

July 18th, 2013 at 4:24 pm

Posted in Indonesiaku

Sukses Masuk PTN Karena Bimbel?

without comments

Minggu lalu di dalam sebuah suratkabar lokal Bandung ada iklan dua halaman penuh dari sebuah Bimbingan Belajar ternama. Iklan itu berisi daftar nama 20.300 orang siswa Bimbel tersebut yang diterima di berbagai PTN di seluruh Indonesia dengan ITB sebagai daftar paling depan. Ada 768 orang siswa Bimbel tersebut yang diterima di ITB. Mungkin kita perlu mengucapkan “Selamat datang putera-puteri terbaik Bimbel!”.

Benarkah mereka berhasil lulus masuk PTN karena Bimbel? Saya tidak yakin. Saya lebih percaya mereka bisa lulus masuk perguruan tinggi, khususnya masuk ITB, karena pada dasarnya mereka memang sudah pintar sejak di bangku sekolah. Saya malah yakin yang tidak lulus masuk PTN mungkin lebih besar dari angka 20 ribuan itu.

Menurut saya Bimbel tidak terlalu banyak memberikan dampak terhadap keberhasilan seorang siswa. Anak saya sendiri contohnya, karena terpengaruh teman-temannya, akhirnya ikut Bimbel beberapa bulan menjelang UN SD. Dari beberapa kali hasil try out di Bimbel itu, nilai ujiannya tidak jauh beda dengan hasil try out yang dilaksanakan di sekolahnya. Prediksi nilai UN-nya juga tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Jadi, tiga bulan ikut Bimbel hasilnya tidak terlalu berpengaruh. Malahan temannya yang ikut Bimbel selama satu tahun mendapat nilai UN yang rendah. Kalau pada dasarnya kemampuan akademiknya biasa-biasa saja, ikut Bimbel atau tidak ternyata tidak signifikan.

Kebanyakan Bimbel mengajarkan cara menjawab ujian dengan cepat ketimbang mengajarkan konsep dan pemahaman. Mereka mengembangkan teknik-teknik rumus cepat dengan nama yang gagah. Oleh karena itu, namanya kurang tepat disebut Bimbingan Belajar, tetapi mungkin Bimbingan Test. Adanya Bimbel menurut saya menunjukkan ada ketidakpercayaan terhadap sistem pendidikan di sekolah.

Jika mereka menganggap metode pengajaran di Bimbel akan berhasil ketika mereka kuliah di ITB, saya yakin akan banyak yang gagal pada tahap TPB (tingkat 1 di ITB). Sudah banyak contoh kasusnya berdasarkan cerita teman-teman yang mengajar kuliah Fisika Dasar, Kimia Dasar, dan Kalkulus. Karena tidak percaya diri, akhirnya ketika TPB mahasiswa ikut Bimbel lagi (lihat foto di bawah).

Iklan les privat buat mahasiswa TPB (Photo by Eko Purwono)

Iklan les privat buat mahasiswa TPB (Photo by Eko Purwono)


Written by rinaldimunir

July 17th, 2013 at 11:56 am

Posted in Pendidikan

SMP Baru dan Kurikulum Baru 2013

without comments

Anak saya yang nomor dua masuk SMP negeri tahun ini. Dia diterima di SMP Negeri 4 Bandung, sebuah SMP negeri yang termasuk ke dalam kluster 1 pada PPDB 2013 yang lalu. SMP Negeri 4 itu di Jalan Samoja No. 5, dekat jalan Malabar atau daerah Kosambi sana. Adakah diantara pembaca alumni SMP Negri 4 Bandung? Kalau ada, sealmamater dengan anak saya.

Gerbang SMP Negeri 4 Bandung.

Gerbang SMP Negeri 4 Bandung.

Ini pertama kalinya anak saya bersekolah di negeri. Adik dan kakaknya bersekolah di sekolah swasta. Enaknya (kalau dibilang “enak”) di sekolah negeri itu adalah tidak perlu bayar uang pendaftaran, uang pangkal, uang registrasi setiap tahun, uang SPP, dan lain-lain (seperti di sekolah anak saya yang sulung, uang registrasi yang dinamakan uang kegiatan per tahun jumlahnya tidak kira-kira, seolah-olah gampang saja orangtua itu mendapatkan uang).

Memang bukan SMP ex RSBI, tetapi SMP berstandar nasional.

Memang bukan SMP ex RSBI, tetapi SMP berstandar nasional.

Hari ini anak saya mulai menjalani MOS (Masa Orientasi Sekolah). Tadi saya sempatkan datang ke sekolahnya untuk melihat-lihat MOS. Di halaman sekolahnya terpampang sebuah spanduk launching kurikulum baru 2013. Kata anak saya, sekolahnya terpilih untuk menerapkan kurikulum baru 2013. CMIIW, selain SMP 4, hanya ada dua SMP negeri lain di Bandung (yaitu SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 5) yang dipilih sebagai uji coba penerapan kurikulum yang sempat ramai pro dan kontra di media, padahal banyak sekolah yang meminta sebagai peenerapan kurikulum baru 2013 itu.

Spanduk peluncuran kurikulum baru 2013.

Spanduk peluncuran kurikulum baru 2013.

Kurikulum 2013 memang sarat kontroversi memang, tetapi mari kita persilakan untuk memulainya dengan harapan anak-anak kita menjadi generasi yang lebih baik.

SMP 4 Bandung (4)

Alhamdulillah, seperti yang Anda lihat pada foto terakhir, di SMP ini semua murid laki-laki sudah memakai celana panjang sedangkan murid perempuan memakai rok panjang hingga semata kaki. Memang sudah masanya siswa SMP zaman sekarang tidak memakai celana pendek lagi. Mereka sudah remaja, mau masuk tahap akil baliq, yang berarti sudah mulai terkena hukum-hukum agama. Selamat datang tahun ajaran baru 2013/2014, selamat datang kurikulum baru 2013.


Written by rinaldimunir

July 15th, 2013 at 3:57 pm

Posted in Pendidikan

Ponsel Jadul

without comments

Saya suka mengamati ponsel teman-teman saya di kampus (sesama kolega dosen). Rata-rata usia mereka di atas empat puluh tahun, beberapa berusia kepala lima dan kepala enam . Ada yang menarik dari ponsel teman-teman saya itu. Ponsel mereka kebanyakan ponsel biasa-biasa saja, bukan ponsel jenis smartphone atau ponsel pintar. Kebanyakan ponsel teman-teman saya itu masih memakai keypad, bukan ponsel yang bertipe layar sentuh (touch screen). Sebagian sudah menggunakan keypad dengan layout qwerty, tetapi beberapa teman masih menggunakan ponsel jadul yaitu ponsel dengan satu tombol keypad untuk tiga karakter.

Saat ini iklan aneka gadget dan ponsel pintar (smartphone) berseliweran di sekeliling kita. Komputer tablet yang tipis dan mungil, ponsel layar sentuh (touch-screen), ponsel android, iPhone, iPad, dan masih banyak lagi jenis lainnya menyerbu kehidupan kita. Semuanya serba sentuh dengan jari, sangat jarang yang memakai keypad secara fisik. Semuanya tampak menggiurkan bagi penggila barang elektronik meskipun harganya juga tidak murah. Sasarannya adalah masyarakat yang gemar gonta ganti gadget, terutama kaum muda dan wanita aktif.

Namun, teman-teman saya, termasuk saya sendiri, rupanya tidak terlalu tertarik dengan barang elektronik yang mutakhir itu. Buktinya ponsel yang mereka dan saya miliki mungkin dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal, secara materi teman-teman saya itu mampu membeli perangkat gadget, utamanya ponsel smartphone, yang mahal sekalipun, namun mereka tidak melakukannya. Mereka masih tetap setia menggunakan ponsel yang digolongkan jadul itu.

Saya sendiri juga tidak tertarik mengganti ponsel dengan yang bertipe mutakhir. Alasannya sederhana. Bagi saya, dan mungkin juga teman-teman saya itu, ponsel bukan untuk gaya-gayaan. Selagi bisa untuk kirim SMS, nelpon, dan mengakses internet, itu sudah cukup (kalau untuk saya pribadi ditambah fitur kamera, karena saya suka memotret untuk bahan tulisan blog atau diunggah ke fesbuk). Sehingga, tidak ada alasan untuk menggantinya dengan ponsel teranyar. Anak saya sudah sering bertanya kenapa saya tidak membeli ponsel pintar layar sentuh dari merek Korea Sam*ung seperti yang sering diiklankan di TV dan surat kabar. Secara keuangan saya sangat mampu membelinya, tetapi saya tetap bergeming dengan ponsel lama.

Bagi orang seusia saya (40 tahunan ke atas), usia di atas 40 sudah digolongkan usia mapan. Pada kelompok usia ini orang dianggap berada pada area nyaman (comfort zone). Kalau sudah berada pada area nyaman, orang enggan berpindah atau mencoba hal-hal yang baru. Apa yang mereka miliki dan tempati sudah memberikan kepuasan, sehingga tidak ada alasan yang kuat dan luar biasa untuk mengubahnya. Biarlah anak-anak muda yang senang berpetualang dan mencoba hal-hal yang baru melakukannya. Suatu saat nanti mereka akan memasuki zona nyaman dan sejarah kembali berulang.


Written by rinaldimunir

July 12th, 2013 at 3:35 pm

Posted in Gado-gado