if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2013

PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus

without comments

Rakyat Jawa Barat akan memilih Jabar 1 pada tanggal 4 Februari nanti. Siapa yang akan anda pilih? Menurut saya, semua calon gubernur dan wakil gubernur yang maju tidak ada yang bagus. Debat cagub-cawagub di TV isinya normatif semua, tidak ada yang memberikan langkah kongkrit yang menyentuh permasalahan rakyat Jawa Barat. Apa permasalahan warga Jawa Barat? Sebagai propinsi dengan jumlah penduduk nomor dua terbanyak setelah Jawa Timur, persoalan utama rakyat Jabar adalah kemiskinan dan pengangguran. Selama lima tahun masa jabatan gubernur yang lama memimpin, tidak banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. Rakyat Jabar tetap saja banyak yang miskin, pengangguran di mana-mana. Belum lagi ditambah dengan pencemaran alam karena limbah pabrik, banjir yang tidak pernah berhenti pada musim hujan, anak-anak putus sekolah, dan sebagainya.

pilgubjabar

Marilah kita simak para calon gubernur dan calon wakil gubernur itu satu per satu, sesuai dengan nomor urutnya.

1. Dikdik Mulyana Arief Mansur – Cecep Nana Suryana Toyib.
Ini pasangan calon yang kurang dikenal, mereka maju melalui jalur independen. Siapa mereka sebelumnya? Sebagian Anda mungkin kenal mereka, tetapi jujur saja saya tidak tahu (menurut informasi terakhir yang saya baca, Pak Dikdik dulu adalah Kapolda Sumatera Selatan, tapi Sumsel itu kan jauh dari Jabar). Ketidaktahuan kita kepada pasangan ini berpengaruh terhadap pilihan, karena dalam memilih pemimpin orang cenderung melihat figur: dikenal apa tidak? Kalau tidak dikenal ya tidak masuk hitungan pemilih. Boleh dibilang Didkdik-Cecep adalah pasangan calon penggembira saja. Memang dari hasil-hasil survey pasangan Dikdik dan Cecep selalu berada pada elektabiltas paling bawah dari lima pasang calon. Dari segi calon independen sebenarnya mereka membawa harapan sebab mereka tidak terikat kepentingan dengan parpol. Namun, citra calon jalur independen langsung rontok gara-gara kasus Aceng (Bupati Garut yang juga berasal dari jalur independen). Orang-orang gampang saja menggeneralisasi, jangan-jangan nanti gubernur dari jalur independen seperti Aceng pula. Tentu tidaklah ya. Namun jangan kaget, Dikdik adalah calon gubernur paling kaya, harta kekayaannya saja 30 milyar bo!

2. Irianto MS Syafiuddin (Yance) – Tatang Farhanul Hakim
Ini adalah pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur dari Golkar. Pak Yance pernah dua kali menjadi Bupati Indramayu dan sejak dulu punya ambisi menjadi Gubernur Jabar (dia selalu memasang iklan setengah halaman secara rutin di kotran lokal dan koran nasional untuk menjual “kebaikan” dirinya). Sebelum proses penjaringan calon gubernur, baliho Pak Yance berukuran raksasa menghiasi tempat-tempat strategis di kota Bandung. Dari segi popularitas, Pak Yance satu tingkat di atas Pak Dikdik. Kans Pak Yance dan temannya untuk menang menurut saya sangat tipis. Mungkin dia dapat meraih suara yang cukup besar di daerah basisnya yaitu kawasan Indramayu-Cirebon, tetapi di tempat lain dia tidak terlalu dikenal.

3. Dede Yusuf – Lex Laksamana.
Mereka adalah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh gabungan Partai Demokrat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Siapa yang tidak kenal Dede Yusuf? Artis iklan “Bodrex” yang menjadi idola ibu-ibu. Dede Yusuf adalah calon petahana. Dia sudah pecah kongsi dengan gubernur Ahmad Heryawan. Tanda-tanda perpecahan sudah tercium sejak dua tahun lalu, mereka terlihat seperti dalam “perang dingin”, namun tidak sampai putus di tengah jalan. Pak Aher dan Dede tetap jaim seolah-olah di antara mereka tidak ada apa-apa, namun sesungguhnya ada apa-apa, dan tanda-tanda ketidakakuran sudah terlihat sejak lama. Rupanya Aher yang terlalu dominan dalam membuat kebijakan dan tidak melibatkan Dede Yusuf telah membuat hubungan mereka tidak harmonis. Sekarang Dede maju menjadi Cagub dan ingin menunjukkan eksistensinya bahwa dia pun mampu menjadi pilihan rakyat Jabar.

Apa ya yang sudah dilakukan Dede Yusuf selama lima tahun menjadi Wagub? Rasanya tidak banyak kiprahnya yang saya dengar, sebab sebagai orang nomor dua itu di mana-mana statusnya hanyalah menjadi “ban serep” gubernur. Ia tidak punya kuasa yang cukup besar untuk membuat kebijakan, sebab ia akan selalu dibayang-bayangi atasannya, yaitu sang gubernur. Namun, dari segi elektabilitas Dede bersaing sangat ketat dengan Aher, dan hasil-hasil survey selalu menempatkan Dede dan Aher saling kejar mengejar. Sesungguhnya dalam Pilgub nanti yang terjadi adalah rivalitas antara Dede dan Aher. Namun, karena Dede maju dari Partai Demokrat, kisruh Partai Demokrat yang dilanda persoalan korupsi dan diramalkan akan karam cukup berpengaruh pada persepsi orang Jabar terhadap Dede Yusuf. Sejauh mana rakyat Jabar menghubungkan Partai Demokrat dengan Dede Yusuf, itu sangat menentukan keterpilihan dia nanti.

4. Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sama seperti Dede Yusuf yang dipengaruhi oleh isu Partai Demokrat, Aher juga dibayangi masalah tidak sedap yang menimpa partainya, yaitu kasus suap daging sapi yang membuat ditangkapnya LHI, Presiden PKS. Sejauh mana kasus itu berpengaruh dalam pilihan rakyat Jabar bergantung pada sejauh mana orang mempersepsikan dirinya dengan PKS. Memang hasil survey terbaru menempatkan elektabilitas dia sedikit di atas Dede Yusuf, tetapi hasil-hasil sementara bisa saja berubah: naik atau turun, bergantung pada isu daging sapi yang akan menjadi bola liar dan sejauh mana PKS bisa meredamnya.

Ahmad Heryawan pada tahun 2008 bisa menang karena faktor dominan Dede Yusuf. Dia tidak dikenal oleh mayoritas orang Jabar, namun berkat popularitas Dede Yusuflah Pak Aher bisa terpilih menjadi Gubernur. Jadi, seharusnya Pak Aher ini berterima kasih kepada Dede Yusuf (yang ini tidak pernah diakuinya sebagai faktor kemenangan), namun di tengah jalan dia meninggalkan Dede Yusuf dan meniadakan perannya. Setelah pecah kongsi dengan Dede Yusuf, Aher pun mencari artis lain untuk mengimbangi popularitas Dede Yusuf. Pilihan pun jatuh pada Deddy Mizwar, si jenderal Naga Bonar. Berkat popularitas Deddy Mizwar, elektablitas Aher tertolong kembali, naik cukup signifikan. Diperkirakan Aher akan terpilih kembali bila tidak ada isu luar biasa yang menimpa Dede Yusuf selain isu Partai Demokrat.

Sama seperti Dede Yusuf, saya juga tidak melihat apa prestasi Aher selama menjabat menjadi gubernur. Yang mengatakan Aher banyak prestasi kebanyakan dari kader-kader PKS sendiri, lengkap dengan cerita-cerita betapa randah hati dan merakyatnya sang ustad (seperti tidak ingin kalah merakyat dengan Jokowi). Prestasi yang diklaim puluhan buah itu tidak bisa dianggap sebagai kesuksesan sang gubernur, sebab bisa saja sebagian prestasi itu adalah kerja keras staf atau bawahannya tetapi diangap sebagai prestasi gubernur. Oh ya, karena media tidak banyak mempublikasikan keberhasilan Pak Aher, maka para pendukungnya mensiasati dengan membuat puluhan baligo dengan wajah Aher tersenyum mendapat penghargaan, saya sampai muak melihatnya. Baligo-baligo yang menyanjung-nyanjung personal itu terasa ironi dengan ideologi partainya yang anti dengan pengkultusan individu.

5. Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra. Sayangnya Rieke meniru mentah-mentah gaya kampanye Jokowi, terutama simbol baju kotak-kotak. Orang melihat pasangan ini tidak punya rasa percaya diri dengan melakukan copy paste gaya Jokowi-Ahok. Rieke sepertinya ingin meniru keberhasilan Jokowi dalam Pilgub DKI, tetapi dia lupa masa euforia Jokowi sudah hampir selesai. Publik belum melihat “keberhasilan” Jokowi dalam menangani persoalan besar di Jakarta yaitu banjir dan kemacetan. Banjir besar di Jakarta bulan Desember yang lalu membuka mata publik bahwa Jokowi toh masih biasa-biasa saja, dia bukan superman seperti yang dibayangkan orang. Hanya gaya blusukan Jokowi yang membuat dia masih disambut meriah dan menjadi media darling karena blusukan itu membuat dia sangat merakyat.

Lagipula harus diingat bahwa medan Jakarta tidak sama dengan medan Jabar yang sangat luas dan lebih homogen. Jakarta multikultur, rakyatnya lebih terbuka dan well-informed, sedangkan Jabar terasa sangat nyunda dan tidak bisa dipisahkan dari agama (Islam).

Nah, Rieke alias Oneng telah mengambil strategi yang salah dengan mem-foto-copy Jokowi. Baju kotak-kotak ternyata tidak laku di daerah, buktinya dalam Pilgub Sulawesi Selatan pasangan kotak-kotak kalah telak oleh petahana. Hasil-hasil survey menempatkan elektabilitas Rieke nomor 3 setelah Aher dan Dede. Status Rieke sebagai aktivis buruh tidak cukup kuat mendongkrak elektabilitasnya. Selama menjadi aktivis dan anggota DPR prestasi apa yang telah diperbuatnya? Kebanyakan yang dipersepsi publik adalah Rieke hanya bisa cuap-cuap saja tetapi action tidak ada. Dan jangan lupa, rekam jejak Rieke sebagai pengusung paham pluralisme dan liberalisme (ingat penolakannya terhadap UU Pornografi) menjadi catatan tersendiri bagi kalangan muslim kritis. Rieke juga lupa bahwa rakyat Jawa Barat terkenal agamis dan sering menghargai simbol-simbol agama, maka dengan penampilannya tanpa memakai kerudung cukup menjauhkannya dari ibu-ibu majelis taklim, kalangan santri, dan kelompok-kelompok agamis lainnya.

Jadi, siapa yang anda pilih pada tanggal 24 Februari nanti. Pilihlah yang paling bagus dari semua calon yang tidak bagus itu.


Written by rinaldimunir

February 11th, 2013 at 11:27 pm

Mari Memudahkan Urusan Orang Lain

without comments

Materi khutbah shalat Jumat di Masjid Salman ITB tadi siang bagi saya cukup berkesan. Pak Ustad membacakan sebuah Hadis Nabi yang bunyinya sebagai berikut:

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat…” (Hadis Riwayat Muslim).

Hadis tadi mengingatkan saya pada seorang teman kolegial di ITB yang sering menuliskan statusnya di fesbuk apabila dia bepergian ke luar kota untuk urusan yang terkait bidang keilmuannya. “Sedang dalam perjalanan ke kota X untuk memudahkan urusan orang lain“, begitu bunyi salah satu postingannya, atau “Alhamdulillaah, semoga hari ini niat mempermudah urusan orang lain diterima olehNya“, dan lain-lain. Memang salah satu tugasnya adalah membina, membimbing, dan memberikan kontribusi keahliannya kepada orang lain atau komunitas tertentu di tempat lain.

Mari baca lagi hadis di atas. Barang siapa yang menghilangkan kesulitan orang yang beriman, maka Allah akan membalasnya dengan menghilangkan kesulitan orang itu pada Hari Kiamat kelak, dan bagi siapa yang memudahkan urusan orang lain yang dilanda kesulitan, maka Allah menjanjikan akan memudahkan urusannya nanti di akhirat kelak.

Andai Hadis tersebut dibaca oleh orang-orang yang suka mempersulit urusan orang lain (yang seharusnya menjadi tugasnya), maka tentu kita tidak akan mendengar keluhan dan rasa kecewa orang yang dipersulit. Mengurus surat dipersulit, mengurus sertifikat dipingpong, mengurus perizinan diulur-ulur menjadi lama, dan sebagainya. Urusan yang mudah dibuat menjadi berbelit-belit, sepertinya ia belum puas kalau belum mengerjakan orang lain karena dirinya merasa punya kuasa. Sok kuasa, sok arogan, mungkin begitu istilah yang tepat bagi orang seperti itu. Mungkin saja hal ini dibuat menjadi peluang mendapat uang haram dengan menawarkan sejumlah besaran rupaih agar urusan orang lain menjadi lancar.

Saya pernah membaca sebuah surat pembaca yang isinya keluhan seorang konsumen yang membeli rumah dari sebuah developer dengan pembiayaan kredit dari bank. Setelah cicilan rumah lunas, dia menagih sertifikat rumahnya kepada bank. Namun apa mau dikata, bank melempar urusan itu ke developer. Bolak-balik dia dari bank ke developer, namun sertifikatnya masih saja ditahan dengan berbagai alasan. Sudah berulan-bulan dia menunggu janji tetapi sertifikatnya belum juga turun. Sudah mengadu kemana-mana, tapi tiada hasil. Sertifikat rumah yang seharusnya menjadi haknya tidak mudah dia dapatkan. Entah bank yang mempersulit atau developer yang lepas tangan, tak tahulah.

Dulu teman saya pernah bercerita tentang seorang temannya yang kuliah di Eropa. Dia membawa anak istrinya ikut bersamanya ke Eropa. Thesisnya dibimbing oleh seorang profesor yang kebetulan berdomisili di kota lain (masih di negara yang sama). Suatu hari dia sudah membuat janji menemui profesor itu dikotanya untuk melakukan bimbingan thesis. Namun, tiba-tiba anaknya sakit panas sehingga dia tidak bisa berangkat menemui profesornya. Jika dibatalkan dia merasa tidak enak, apalagi profesornya itu berencana akan pergi ke luar negeri beberapa hari setelah bimbingan. Jika menunggu profesor itu pulang perlu waktu yang lebih lama lagi, sebab profesor akan pergi berbulan-bulan untuk melakukan riset di universtas lain.

Nah, dia mengutarakan persoalan yang dia hadapi kepada profesornya melalui telepon. Tanpa disangka-sangka, profesor itu mengatakan bahwa dia akan mendatangi si mahasiswa tadi ke kotanya untuk memberikan bimbingan thesis. Bayangkan, seorang profesor bersedia mendatangi mahasiswanya yang tengah dilanda kesulitan, tanpa dia merasa risih dengan statusnya sebagai seorang mahaguru. Sungguh terbalik, padahal yang sering terjadi mahasiwalah yang harus mendatangi profesornya apapun masalah yang menimpanya. Tetapi, dalam cerita ini, profesor tersebut menyadari bahwa sang mahasiswa dilanda kesulitan yang membuatnya tidak dapat memilih antara pergi menemui dirinya atau meninggalkan anaknya yang sedang sakit. Profesor tidak ingin menambah kesulitan yang dihadapi mahasiswanya dengan menunggu kepergiannya ke luar negeri dalam waktu yang lama. Alangkah mulianya hati sanga profesor. Dia sudah menghilangkan kesulitan orang lain, dan dia telah mempermudah urusan mahasiswanya.

Kembali ke Hadis Nabi di atas. Menghilangkan kesulitan orang lain atau mempermudah urusannya tidak dibatasi oleh sekat-sekat agama, suku bangsa, warna kulit, atau latar belakang sosial, tetapi bersifat universal. Hadis tersebut tidak mengatakan kepada sesama orang Islam, tetapi kepada sesama orang beriman (mukmin artinya beriman) kita wajib mempermudah urusan atau menghilangkan kesulitannya. Janji Allah SWT itu pasti benar kalau kita beriman kepdana-Nya. Begitulah ajaran Islam yang mulia.

Karena itu, mari kita niatkan untuk selalu membantu orang-orang yang sedang dilanda kesulitan hidup, agar kelak Allah akan membantu memudahkan kita di akhirat kelak.


Written by rinaldimunir

February 8th, 2013 at 11:54 pm

Posted in Renunganku

Mahasiswa Baru PTN 2013 Bebas Uang Pangkal???

without comments

Ini kabar gembira bagi mahasiswa baru PTN tahun 2013. Universitas Indonesia (UI) tahun ini membebaskan uang pangkal bagi mahasiwa baru (Baca ini: Tahun Ini Universitas Indonesia Bebas Uang Pangkal). Saya tidak tahu berapa uang pangkal bagi mahasiswa baru UI tahun lalu (sebagai perbandingan, uang pangkal bagi mahasiswa baru ITB tahun lalu maksimal Rp45 juta, sebelumnya pernah mencapai maksimal Rp55 juta). Soal uang pangkal yang besar itu selalu menjadi kegelisahan banyak orang tentang mahalnya biaya masuk kuliah di PTN. Yang jelas, uang pangkal itu nilainya sangat besar dan sangat berat bagi mahasiwa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Kesannya hanya orang kaya saja yang bisa kuliah di PTN, sedangkan orang miskin jangan harap bisa merasakan kuliah di PTN, begitu kritikan dari berbagai pihak tentang fenomena tingginya uang masuk kuliah di PTN.

Untunglah Pemerintah mendengar keluh kesah dan berbagai kritikan terseut. Pemerintah melalui Kemendiknas menghimbau PTN menghapuskan biaya masuk bagi mahasiswa baru. Sejauh ini baru UI yang sudah mengumumkan akan menghapuskan uang pangkal masuk UI, sedangkan perguruan tinggi yang lain belum terdengar melakukan hal yang serupa.

Bagaimana dengan ITB? ITB pun berencana menghapuskan uang pangkal itu mulai tahun ini (Baca: ITB Siap Hapuskan Uang Pangkal). ITB memang masih menunggu surat resmi dari Mendiknas tentang himbauan penghapusan uang pangkal tersebut, sambil menghitung-hitung pengeluaran setiap semester.

Jika uang pangkal dihapus, PTN tidak perlu takut kekurangan dana, sebab setiap PTN mendapat BOPTN (semacam BOS kalau di SD/SMP). BOPTN adalah singkatan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri). Dana BOPTN itu selalu meningkat setiap tahun dan nilainya cukup besar.

Uang pangkal hilang bukan berarti SPP setiap semester juga hilang. SPP tetap ada yang jumlahnya ditentukan oleh setiap PTN bersangkutan. Nah, disinilah yang harus dikritisi, sebab jangan sampai uang pangkal yang ditiadakan itu ternyata dialihkan dalam bentuk peningkatan SPP per semester. Jika itu terjadi ya sama saja bohong, hanya berganti baju saja. Sebagai contoh, SPP bagi mahasiswa di ITB saat ini (mulai angkatan 2009 kalau nggak salah) adalah Rp5 juta per semester, tidak tergantung berapapun jumlah SKS yang diambil per semester.

Saya sih berharap jangan sampai penghapusan uang pangkal 45 juta di ITB malah memberatkan mahasiswa baru dengan peningkatan SPP per semesternya (begitu juga harapan saya di PTN lain). Jangan sampailah ya, kasihan anak negeri ini yang punya harapan besar berkuliah di kampus Ganesha (khususnya) atau PTN (umumnya) namun tidak punya biaya. Kalau dapat SPP Rp5 juta per semester itu diturunkan lagi (mungkin nggak sih?) sehingga memberi akses seluas-luasnya bagi orang miskin untuk memperleh pendidikan tinggi. Itulah harapan saya kepada alamamater saya, tempat saya mengabdi saat ini.


Written by rinaldimunir

February 6th, 2013 at 6:29 pm

Nasib PKS, Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

without comments

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat ini sedang mengalami masalah yang sangat dahsyat. Presidennya, Luthfi Hasan Ishaq (LHI), ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap dari PT Indoguna terkait impor daging sapi. Memang baru “diduga” dan belum terbukti bersalah, namun di era media sosial yang masif seperti saat ini, berita besar penangkapan pucuk pimpinan partai Islam –yang selama ini dikesankan bersih dari korupsi– dengan cepat menyebar dan menimbulkan reaksi yang beragam. Umumnya reaksi mayarakat yang muncul di media adalah hujatan dan kecaman kepada partai ini. Bagaimana tidak, sebagai parpol berbasis agama yang seharusnya mengedepankan moralitas, ternyata para politisinya terjerat sangkaan melakukan perbuatan yang dibenci rakyat Indonesia: yaitu korupsi.

Korupsi di Indonesia memang sudah menjadi perbuatan yang sistemik. Kalau yang melakukan korupsi itu politisi dari partai nasionalis masyarakat masih bisa memaklumi, tetapi jika yang melakukan parpol berbasis agama (Islam) maka masyarakat tidak bisa menerimanya. Jelas masyarakat menjadi jengkel dan marah sebab ajaran agama yang seharusnya suci menjadi ternoda karena ulah oknum politisi partai tersebut. Masyarakat menilai partai yang membawa embel-embel agama ternyata sama saja dengan partai yang non-agama. Akhirnya masyarakat menjadi apatis dengan parpol termasuk partai yang membawa nama agama, toh perilaku elitenya sama buruknya dengan koruptor dari parpol lain.

Sayangnya reaksi politisi PKS justru menimbulkan masalah baru. Anis Matta, Presiden PKS yang baru, malah menuding penangkapan LHI itu sebagai bagian dari konspirasi untuk menghancurkan PKS. Padahal publik, termasuk saya, masih lebih percaya kepada KPK daripada tuduhan PKS, publik masih yakin bahwa KPK tetap independen dalam bekerja. Karena itu, alih-alih membantu KPK dalam menyelesaikan kasus LHI, PKS malah membuat blunder dengan pernyataannya sendiri tentang tuduhan konspirasi dan keterlibatan zionis. Saran saya, orang-orang PKS sebaiknya lebih banyak diam, tidak usah memberikan komentar yang menimbulkan masyarakat menjadi antipati.

Hari-hari ini PKS menjadi sasaran empuk media massa. Tahukah anda bahwa penghakiman oleh media justru lebih “kejam” daripada diadili oleh pengadilan resmi. Media, terutama media elektronik dan media online, dapat mengubah persepsi publik terhadap PKS. Partai yang selama ini dicitrakan sebagai partai dakwah dan bersih ternyata tidak seperti yang dikesankan. Masyarakat dibuat menjadi antipati dengan partai ini, dan jika benar terbukti LHI menerima suap maka hancurlah kepercayaan masyarakat khususnya umat Islam kepada PKS.

Saya yakin kasus penangkapan LHI akan berpengaruh terhadap raihan suara PKS pada pemilu 2014. Kalau para kader partainya (yang militan) mungkin tidak akan lari meninggalkan PKS, tetapi para voters PKS, yaitu massa mengambang yang selama ini menjadi simpatisan dan memilih PKS karena reputasinya yang baik, saya yakin akan meninggalkan PKS. Mereka akan menjadi goncang setelah melihat PKS sudah ternoda. Sungguh kasihan para kader PKS yang bekerja secara ikhlas di tataran akar rumput, namun perilaku elit partainya telah merusak perjuangan mereka.

Menurut saya, yang rugi tidak hanya PKS sendiri, tetapi parpol berbasis Islam seperti PPP, PKB, dan PAN akan terkena getahnya. Masyarakat menjadi tidak percaya lagi kepada parpol Islam, dan kemungkinan yang terjadi hanya ada dua: mereka akan golput atau memilih partai nasionalis. Jika itu yang terjadi, maka kerugian juga buat umat Islam sendiri, sebab aspirasi mereka tidak terwakili lagi di parlemen oleh parpol berbasis agama, disebabkan para calon legislatifnya banyak yang gagal masuk parlemen. Memang dilematis, tetapi masyarakat tidak bisa juga disalahkan dikarenakan tidak memilih parpol berbasis Islam, yang perlu disalahkan adalah perilaku elit parpol tersebut yang tidak bisa menjaga perbuatan dengan ideologi yang mereka anut. Benar kata sebuah peribahasa, karena nilai setitik rusak susu sebelanga.


Written by rinaldimunir

February 4th, 2013 at 10:53 am

Posted in Indonesiaku

Kecanduan “Game Online” Bagaikan Narkoba

without comments

Artis dan para pesohor memakai narkoba mungkin sudah biasa. Mereka seperti orang yang bingung menghabiskan uangnya untuk apalagi, lalu dicarilah kebahagiaan semu dengan mengkonsumsi narkoba. Mula-mula ikut-ikutan akhirnya ketagihan karena kecanduan. Maka, jika para artis atau orang terkenal sering digerebek karena mengkonsumsi serta memperjualbelikan narkoba (seperti kasus penangkapan Raffi Ahmad cs baru-baru ini), itu berita yang sudah basi.

Jika para artis dan orang terkenal kecanduan narkoba, maka kalangan pelajar dan mahasiswa saat ini kecanduan game online. Mereka tahan duduk berjam-jam di depan komputer bermain game yang terhubung dengan internet. Kalau sudah main mereka sering lupa segala-galanya, lupa belajar, lupa tidur, dan mungkin lupa sekolah/kuliah. Padahal bermain game online tidak hanya melelahkan stamina, tetapi juga menguras uang (untuk membayar akses internet).

Pengaruh buruk bermain game online (termasuk video games yang tidak menggunakan internet seperti PS2) pada anak sudah banyak dibahas di berbagai media, misalnya anak menjadi agresif, berbicara kasar, kurang bersosialisasi, mengganggu pertumbuhan, dan sebagainya (baca tulisan ini: Efek Bahaya Dari Kecanduan Games Online). Namun tidak hanya itu saja, anak bahkan sampai nekat mencuri agar bisa terus bermain game online di warnet. Sudah banyak berita atau tulisan yang membahas kecanduan game online ini dapat membuat anak berperilaku kriminal (baca ini: Kecanduan-Game-Online-Anak-Bisa-Kriminal). Di Bandung baru-baru ini ada seorang anak mencuri motor agar dapat memperoleh uang untuk bermain game online di warnet (baca berita ini). Kasus terbaru adalah sekumpulan bocah SD yang membobol rumah dan mencuri barang di dalamnya untuk dijual sebagai biaya bermain game online (Baca: 7-siswa-dibawah-umur-nekat-mencuri-karena-kecanduan-game-online).

Contoh sebuah game online

Contoh sebuah game online

Anda jangan kaget jika game online tidak hanya membuat candu anak-anak, bahkan mahasiswa pun ada yang “terjerumus” kecanduan game online. Kasusnya terjadi pada mahasiswa ITB, kebetulan mahasiswa di lingkungan fakultas saya. Nilai-nilai kuliahnya anjlok.. jlok..jlok, bahkan terancam drop out (DO), setelah ybs kecanduan game online. Bisa dimengerti kenapa anjlok sebab ia jarang kuliah, tidak ikut ujian, dan tidak membuat tugas kuliah. Untung saja kasus ini dapat diketahui oleh dosen walinya sehingga orangtuanya dipanggil ke kampus. Namun untuk melepaskan si mahasiswa dari kecanduan game online rupanya tidak mudah, dia perlu didampingi dua orang piskolog sekaligus untuk melepaskan ketergantungannya pada game online. Seperti apa terapinya saya kurang tahu. Yang jelas dukungan dan perhatian dari orangtua, teman, dan lingkungan sangat dibutuhkan dalam proses melepaskan ketergantungan game online tersebut.

Saya tidak mendengar kabar selanjutnya tentang mahasiswa yang kecanduan game online tersebut, namun sekarang ganti mahasiswa di bawah perwalian saya sendiri yang terkena candu game online. Program TPB-nya (tingkat 1 di ITB) sangat kritis, dia terancam D.O sebab sebagian besar mata kuliah TPB-nya tidak lulus. Kesempatan terakhir tinggal pada semester ini saja untuk menyelamatkan nasibnya di ITB. Parah, parah, parah!

Mungkin anda berpikir bahwa mahasiswa pecandu game online tersebut jika diarahkan dengan baik dapat menjadi game developer kelak. Sepertinya logikanya gampang, orang yang maniak game tentu dapat menjadi pembuat game. Namun saya sangsi, bagaimana dia dapat menjadi pembuat game jika sebagain besar waktunya habis untuk bermain game. Kapan berpikirnya? Harus dihentikan dulu maniaknya bermain game, baru dia bisa diarahkan menjadi seorang pengembang game.


Written by rinaldimunir

February 1st, 2013 at 10:57 am

Posted in Pendidikan