if99.net

IF99 ITB

Archive for February, 2013

Asus MeMo Pad

without comments

Pengen Asus Transformer tapi duitnya kurang? Tenang saja, bagi pecinta Asus kini ada pilihan yang jauh lebih murah: Asus MeMo Pad.

asus_memo_pad1Tablet 7 inch ini menggunakan CPU VIA WM8950 1GHz  dan GPU Mali-400 yang sudah cukup bertenaga. Dengan harga yang tidak terpaut jauh dengan tablet merk China selundupan, Asus MeMo ini lebih cocok bagi Anda yang sering khawatir dengan garansi dan layanan purna jual produk elektronik.

asus_memo_pad2Mengusung Android JellyBean, Asus MeMo Pad dilengkapi dengan kamera depan beresolusi HD serta layar 1024 x 600, 350 nits. Memori internal sudah 8 GB, dan dapat ditambah eksternal hingga 32GB. Tersedia pula colokan MicroUSB dan kabel USB On The Go (OTG).

Fitur yang cukup keren adalah Floating App yang memungkinkan beberapa aplikasi berjalan bersamaan dan semuanya tampak di layar tanpa harus bergantian. Artinya, Anda dapat menonton video sambil browsing, atau sambil mengedit file office yang disediakan di ASUS WebStorage Online Office.

asus_memo_pad_floating

Jangan tertipu dengan daya tahan baterai yang katanya 7 jam, karena klaim 7 jam tersebut syaratnya adalah pada power saving mode: kecerahan layar hanya 100nits dan volume audio default menggunakan headphone.

Kesimpulan: Murah meriah, tapi berkualitas, Asus gitu lho!

Update 13 Maret 2013: Bagi yang tinggal di Indonesia, langsung saja pesan Asus MeMO Pad di Asus-MemoPad.com


Written by arifrahmat

February 26th, 2013 at 9:00 pm

Masyarakat Amnesia

without comments

Dalam sebuah koran lokal yang saya baca tadi pagi, Bupati Garut Aceng Fikri yang telah dimakzulkan oleh DPRD Kabupaten Garut karena kasus nikah sirinya dan cerai setelah empat hari, disambut meriah oleh ribuan warga Garut di perbatasan kota. Bupati Aceng baru saja menerima surat pemecatan dari Presiden SBY yang diserahkan langsung oleh Gubernur Jabar di Gedung Sate kemarin. Pak Bupati dijemput oleh ribuan konvoi sepeda motor lalu diarak ke rumahnya. Di rumahnya Pak Bupati dipeluk dan dicium tangannya oleh ibu-ibu.

Saya yang membaca berita tersebut menjadi terkesima. Pak Bupati yang beberapa bulan lalu menjadi pecundang tiba-tiba disambut bak pahlawan. Begitu mudahkah warga Garut melupakan kasus pelanggaran etika, pelecehan harkat perempuan, dan mempermainkan ajaran agama itu? Mungkin tidak semua warga Garut bersikap demikian, tetapi penyambutan yang meriah bak pahlawan merupakan fenomena yang menarik.

Saya masih ingat tahun lalu ketika Ariel bebas dari penjara setalah menjalani tahanan karena kasus asusila yang dilakukannya. Ariel disambut gegap gempita dan histeria oleh penggemarnya di luar penjara yang rata-rata remaja dan anak muda. Bagaikan seorang pahlawan, ratusan fans Ariel mengelu-elukannya, seakan-akan mereka sudah lupa saja dengan perbuatan Ariel yang tercela itu. Para sosiolog dan pemerhati anak mengatakan perilaku fans Ariel yang berlebihan itu itu sebagai pertanda masayarakat yang sakit.

Masyarakat kita memang mudah lupa atau melupakan suatu peristiwa. Amnesia. Mereka tidak lagi mempedulikan perilaku masa lalu seseorang. Rekam jejak tidak lagi penting, yang penting adalah kondisi saat ini. Selama orang tersebut menguntungkan atau memuaskan dirinya, maka masa lalu tidak lagi dipandang, kalau perlu orang tersebut dibela habis-habisan. Pada kasus yang berbeda, Jenderal Prabowo (juga Wiranto) yang tangannya berlumuran pelanggaran HAM pada masa lalu sekarang tampil menjadi sosok calon presiden yang melejit.

Memang kita tidak harus mengucilkan sesorang akibat perbuatan masa lalunya, namun rekam jejak itu menjadi penting ketika kita menjadikan orang tersebut sebagai panutan, apalagi sebagai calon pemimpin. Jangan sampai karena fenomena lahiriah sesorang (seperti kekayaan, ketampanan, popularitas) membuat kita terkesima dan melupakan begitu saja perilaku masa lalunya. Masa lalu seseorang dan rekam jejaknya menjadi catatan pertimbangan ketika menempatkan seeorang sebagai panutan atau pemimpin.


Written by rinaldimunir

February 26th, 2013 at 3:16 pm

Posted in Indonesiaku

Bekunjung ke Kota Mataram di Pulau Lombok (Bagian 1): Dari Taman Narmada Hingga Pantai Senggigi

without comments

Saya jalan-jalan lagi nih, kali ini saya ke kota Mataram di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka menyajikan makalah saya dalam sebuah konferensi nasional di sana. Sebelumnya saya belum pernah ke Pulau Lombok, jadi kesempatan konferensi ini sekaligus sebagai jalan-jalan ke sana. Ibaratnya sambil menyelam minum air. Saya memang sudah lama ingin jalan-jalan ke Pulau Lombok. Lombok sering dijadikan alternatif wisata selain Bali. Bagi turis asing yang tidak suka dengan suasana Bali yang sudah crowded, maka Lombok sering dijadikan sebagai pilihan tempat wisata.

NTB

Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Mataram, tetapi harus transit dulu di Surabaya atau Denpasar. Saya naik pesawat Lion Air bersama rekan-rekan dosen lainnya. Di Denpasar kami transit selama satu jam, lalu berganti pesawat kecil berbaling-baling (Wings Air) ke Mataram. Dari Bandara Ngurah Rai ke Bandara Lombok International Airport (LIA) hanya membutuhkan waktu 25 menit saja.

Pesawat kecil Wings Air yang melayani Denpasar-Lombok pp.

Pesawat kecil Wings Air yang melayani Denpasar-Lombok pp.

Bandara LIA adalah bandara yang relatif baru, menggantikan Bandara Selaparang di Mataram. Letak bandara ini di daerah Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Bandara baru ini tampaknya belum teratur dan kurang terawat, parkir kendaraan tidak tertib, dan yang mengagetkan adalah pedagang asongan bebas berjualan di selasar bandara, mirip seperti terminal bus saja. Penduduk lokal yang lugu tampak merubung bandara sambil melihat-lihat penumpang yang datang dan pergi.

Bandara Internasional Lombok di Praya

Bandara Internasional Lombok di Praya

Bandara LIA tampak dari dalam

Bandara LIA tampak dari dalam

Bandara LIA dari arah samping

Bandara LIA dari arah samping

CMIIW, kota Mataram merupakan gabungan dua kota lama yang saling berdekatan, yaitu Ampenan dan Cakranegara. Penduduk kota Mataram mayoritas orang dari suku Sasak dan suku Bali. Perpaduan budaya Sasak dan budaya Bali menghasilkan budaya yang unik. Pengaruh Bali di kota Mataram cukup terasa, di dalam kota kita menemukan banyak pura atau rumah-rumah orang Bali yang ada puranya. Di kota Mataram tersebar kawasan yang menjadi tempat pemukiman orang Bali. Penduduk etnis Bali terkonsentrasi di wilayah Cakranegara.

Seusai acara konferensi yang berlangsung dua hari, saya diajak Ario, alumnus IF’2007 yang menjadi dosen di Universitas Mataram (Unram) untuk berkeliling kota Mataram dan melihat tempat-tempat wisata di sana.

Kunjungan pertama adalah melihat kampus Univeristas Mataram (Unram), kebetulan Ario baru menjadi dosen PNS di Unram. Sebagai seoarang akademisi saya memang suka melihat kampus perguruan tinggi di daerah.

Narsis di depan kampus Unram

Narsis di depan kampus Unram

Rektorat Unram

Rektorat Unram

Kata Ario, hari kuliah di Unram dari Senin sampai Sabtu, jam 07.00 pagi sampai jam 14.00 siang. Setelah jam 14.00 tidak ada lagi aktivitas belajar mengajar, jam 14.00 dosen dan pegawai sudah pulang. Pantesan saja ketika saya ke sana jam 15.00 siang kampusnya sudah sepi.

Dari kampus Unram kita melewati kantor DPRD NTB. Seperti di propinsi lainnya, kantor DPRD menampilkan ciri khas rumah adat setempat. Kantor DPRD NTB mengambil bentuk rumah tradisionil Lombok dengan bagian depan yang disebut blumbung (tempat menyimpan padi) yang terdapat pada rumah adat Sasak.

Gedung DPRD Propinsi NTB

Gedung DPRD Propinsi NTB

Pulau Lombok sering disebut pulau seribu masjid. Wajar saja karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Ulama Islam di Lombok disebut Tuanku Guru. Saya mengamati masjid-masid di sana, mulai dari Bandara LIA di Lombok Tengah hingga masuk kota Mataram, ternyata kubahnya sangat khas. Jika di tempat lain di tanah air kubah masjid berbentuk agak bulat seperti umumnya masjid-masjid di Timur-Tengah, tetapi di Lombok kubah masjid berbentuk lonjong, seperti foto di bawah ini:

Masjid di kota Mataram dengan kubah berbentuk lonjong

Masjid di kota Mataram dengan kubah berbentuk lonjong

Lanjut ya. Dari kantor DPRD kita terus ke luar kota menuju satu tempat peninggalan kuno yang terkenal, yaitu Taman Narmada. Taman ini terletak di daerah Narmada, Lombok Barat. Taman Narmada adalah sebuah taman lengkap dengan kolam dan bangunan pura peninggalan Kerajaan Mataram Lombok. Taman ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Matarama Lombok bernama Anak Agung Ngurah Karang Asem.

Sebuah kolam di Taman Narmada

Sebuah kolam di Taman Narmada

Kolam lainnya yang lebih luas

Kolam lainnya yang lebih luas

Di dalam kompleks Taman Narmada terdapat dua buah pura, yaitu Pura Kelasa dan Pura Lingsar. Pura-pura ini digunakan sebagai tempat persembahyangan ummat Hindu di Mataram.

Pura Kelasa di dalam Taman Narmada

Pura di dalam Taman Narmada

Di bawah ini foto-foto objek lain yang terdapat di dalam Taman Narmada:

Bangunan loji tempat menginap raja

Bangunan tempat menginap raja

Pendopo

Bale Loji

Tangga berundak

Tangga berundak

Gapura yang sudah berusia berabad-abad

Gapura yang sudah berusia berabad-abad

Peta Taman Narmada

Peta Taman Narmada

Sayangnya Taman Narmada ini dijadikan tempat pasangan yang berpacaran. Mungkin karena tempatnya yang sepi sehingga, adem, dan banyak pepohonan, sehingga pasangan muda-mudi terlihat bebas berpacaran hingga kelewat batas.

Selesai mengelilingi Taman Narmada, rute wisata selanjutnya adalah menuju Pantai Senggigi. Pantai ini mungkin sudah seterkenal Pantai Kuta. Saya masih penasaran apa sih yang menjadi daya tarik Pantai Senggigi. Dari Taman Narmada kita memutar lagi memasuki kota Mataram (kaena jalan satu arah), lalu bergerak ke arah barat.

Memasuki kawasan pantai Senggigi kita menemui banyak hotel dan restoran betebaran sepanjang jalan. Turis bule yang rata-rata berusia mapan tampak berseliweran. Pantai Senggigi merupakan tujuan turis bule yang ingin mencari suasana mirip Bali tetapi dengan nuansa lebih tenang. Kalau turis berusia muda biasanya memilih Pantai Kuta di Bali, maka turi bule berusia mapan atau yang sudah tua memilih Senggigi untuk menikmati laut.

Setelah sampai ke Senggigi, menurut saya pantai Sengiggi itu biasa-biasa. Pasirnya berwarna kecoklatan, ombaknya tidak besar sehingga tidak cocok buat bermain ski. Karena letaknya di barat maka Senggigi merupakan tempat yang tepat untuk melihat matahari terbenam.

Pantai Senggigi

Pantai Senggigi

Melihat suasana pantai yang sepi, jauh dari hiruk pikuk Pantai Kuta Bali yang bising, Senggigi memang cocok bagi turis yang pensiun untuk menenangkan diri, atau bagi pengantin baru yang berbulan madu. Menurut saya Senggigi kurang cocok buat keluarga yang membawa anak-anak karena di sekitar Senggigi tidak ada arena permainan anak, mal, dan sejenisnya.

Pantai Senggigi ke arah utara

Pantai Senggigi ke arah utara

Narsis di Senggigi

Narsis di Senggigi

Menjelang sunset di Senggigi. Di kejauhan tampaklah Pulau Bali dan Nusa Penida

Menjelang sunset di Senggigi. Di kejauhan tampaklah Pulau Bali dan Nusa Penida

Pedagang mutiara di pantai. Lombok terkenal dengan tempat budidaya mutiara air tawar dan mutiara air laut.

Pedagang mutiara di pantai. Lombok terkenal dengan tempat budidaya mutiara air tawar dan mutiara air laut.

Kalung dan tasbih dari mutiara

Kalung dan tasbih dari mutiara

Sebuah resort yang nyaman di pinggir pantai

Sebuah resort yang nyaman di pinggir pantai

Hari sudah memasuki waktu maghrib, sayapun bersiap kembali ke hotel. Pada tulisan berikutnya saya akan bercerita mengenai perkampungan suku Sasak.

(Update: lanjutan seri kedua tentang jalan-jalan di Mataram dapat dibaca pada tulisan ini).


Written by rinaldimunir

February 25th, 2013 at 7:37 am

Posted in Cerita perjalanan

Prediksi Hasil Pemilihan Gubernur (PilGub) Jawa Barat 2013

without comments

Besok, 24 Februari 2013, Jabar Memilih. Penduduk Jawa Barat yang mempunyai hak pilih akan menentukan siapa yang akan menjadi gubernur baru Jabar periode 2013-2018.

Kampanye masing-masing calon gubernur dan wakil gubernur yang diadakan selama dua minggu yang lalu tidak terlalu disambut antusias oleh masyarakat, khususnya di perkotaan. Masyarakat kota yang lebih intelek lebih suka memperbincangkan cagub-cawagub melalui jejaring sosial di Internet. Kampanye juga tidak penting lagi mempengaruhi pilihan orang, sebab satu bulan sebelum kampanye pemilih sudah punya pilihan sendiri. Begitu juga jajak pendapat yang dilakukan berbagai lembaga juga tidak mempengaruhi pemilih. Artinya, kampanye atau jajak pendapat hanya asesori demokrasi saja.

Saya sudah menulis tentang masing-masing calon pada tulisan terdahulu (Baca: PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus). Dari pengamatan saya selama ini, hanya ada dua pasang calon yang bersaing sangat ketat, baik dalam jajak pendapat maupun dalam perbincangan di jejaring sosial. Keduanya adalah masing-masing petahana gubernur dan wakil gubernur. Persaingan yahng terjadi dalam merebut juara 1 hanya antara pasangan Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar dan pasangan Dede Yusuf – Lex Laksamaman. Pasangan lain seperti Rieke-Teten, Yance – Tatang, dan Dikdik – Cecep tidak pernah mencapai posisi 1 dan 2 dalam berbagai jajak pendapat.

Pemilihan gubernur Jabar kali ini cukup dramatis ditengah isu korupsi partai pengusung kedua calon pasang tersebut. Aher diusung oleh PKS, dan kita semuat sudah tahu Presiden partai ini ditangkap oleh KPK atas dugaan kasus suap daging sapi. Sementara Dede Yusuf diusung oleh Partai Demokrat, dan tadi malam Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, juga dijadikan tersangka oleh KPK atas dugaan kasus korupsi Proyek Hambalang.

Sedikit banyaknya referensi pemilih pasti juga dipengaruhi oleh kasus korupsi di partai pengusung. Jika melihat dari kedua partai itu (PKS dan PD), baik Aher maupun Dede sama-sama memikul beban moral dan kepercayaan yang berat. Namun, memilih tiga pasang calon sisanya juga cukup pelik karena elektabilitasnya kurang.

Jadi, tetap saja pasangan yang mungkin banyak dipilih masyarakat Jabar berkutat antara Aher-Deddy Mizwar dan Dede-Lex. Aher tertolong oleh popularitas Deddy Mizwar, tanpa Deddy mungkin dia tidak akan memperoleh raihan suara yang tinggi, sedangkan Dede – Lex sepenuhnya disokong oleh popularitas Dede Yusuf yang tampan.

Mengingat pemilihan gubernur tidak sama dengan memilih partai, maka menurut jajak pendapat kasus daging sapi dan korupsi dari parrtai pengusung (PKS dan PD) tidak signifikan mempengauhi pilihan pemilih.

Oleh karena itu, tanpa bermaksud mendahului takdir, maka berdasarkan analisis saya, pasangan Aher – Deddy tetap akan mendapat suara yang paling tinggi, namun bedanya sangat tipis dengan Dede – Lex. Jadi, saya memperkirakan susunan hasil PilGub Jawa Barat adalah sebagai berikut:
1. Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar
2. Dede Yusuf – Lex Laksmana
3. Rieke Dyah Pitaloka – Teten Masduki
4. Irianto MS Syafiuddin (Yance) – Tatang Farhanul Hakim
5. Dikdik Mulyana Arief Mansur – Cecep Nana Suryana Toyib.

Kalaupun ada perbedaan hasil, yang berbeda hanya posisi 1 dan 2 saja, kalau tidak Aher – Deddy ya Dede Yusuf – Lex. Jadi, gubernur Jabar yang baru kalau nggak Aher ya Dede Yusuf. Siapa yang akan terpilih menjadi Gubernur Jabar akan ditentukan besok.


Written by rinaldimunir

February 23rd, 2013 at 11:59 am

Posted in Seputar Bandung

Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung

without comments

Hari ini saya datang ke kampus agak siang. Seperti biasa saya selalu melewati jalan Ciung Wanara yang rindang selepas keluar dari bawah jembatan layang Cikapayang. Berhubung waktu sudah mendekati shalat Jumat, saya memutuskan berhenti di masjid PDAM yang terletak di dalam kompleks PDAM Tirta Wening Bandung di Jalan Ciung Wanara itu.

Kompleks PDAM Tirta Wening Bandung

Kompleks PDAM Tirta Wening Bandung

Masjid PDAM Bandung sudah lama dikenal oleh mahasiswa dan karyawan ITB sebagai masjid dengan kecepatan “turbo”. Disebut demikian karena shalat Jumatnya singkat dan cepat bubaran. Jarak masjid ini dari Masjid Salman ITB hanya sepelemparan batu, sekitar 100 meter saja. Tidak semua mahasiswa dan karyawan “suka” shalat Jumat di Masjid Salman. Mungkin karena ibadah shalat Jumat di Salman durasi waktunya (khutbah + shalat) cukup lama sehingga bagi orang yang tidak ingin berlama-lama, mereka memilih shalat Jumat di Masjid PDAM saja. Atau, mungkin juga karena “keformalan” masjid Salman kurang cocok bagi mahasiswa yang senang kumpul-kumpul namun merasa biasa-biasa saja dalam agama, entahlah saya kurang tahu alasannya, karena itu soal pilihan saja.

Jamaah shalat Jumat di Masjid PDAM

Jamaah shalat Jumat di Masjid PDAM

Memang harus diakui shalat Jumat di Salman tergolong cukup lama, padahal shalat Jumat itu idealnya tidak perlu terlalu lama (ada hadisnya kalau tidak salah). Kumandang adzan di Salman dimulai lebih telat dari masjid lain. Khutbah Jumat di Salman memakan waktu 20 hingga 25 menit. Jadi, jika ibadah shalat Jumat dimulai pukul 12 siang, maka selesainya pukul 12.40.

Nah, di masjid PDAM memang super kilat. Shalat Jumat yang saya ikuti tadi khutbahnya tidak sampai 10 menit, shalatnya pun tidak sampai lima menit. Pukul 12.15 ibadah shalat sudah selesai dan jamaah pun berhamburan keluar. Benar-benar kecepatan turbo, pantesan jamaah masjid ini membludak hingga meluber ke jalan raya. Ketika saya keluar dan melewati masjid Salman, di sana masih sedang berlangsung khutbah.

Jamaah shalat Jumat meluber ke luar hingga ke jalan raya.

Jamaah shalat Jumat meluber ke luar hingga ke jalan raya.

Menurut saya, apapun alasan orang memilih shalat di Masjid PDAM, keberadaan Masjid PDAM menurut saya memang diperlukan. Melihat jumlah jamaah yang melimpah sampai ke jalan raya tadi, nggak kebayang deh kalau semuanya bakal tertampung di Masjid Salman. Areal masjid Salman saat ini sudah tidak dapat menampung lebih banyak lagi jamaah shalat Jumat. Jumlah mahasiswa ITB saat ini selalu bertambah setiap tahun. Di sekitar ITB juga terdapat sejumlah perguruan tinggi lain yang tidak mempunyai masjid kampus, plus banyak perusahaan, hotel dan FO di kawasan Dago yang karyawannya tentu perlu masid terdekat untuk shalat Jumat. Jadi, masjid PDAM dan masjid Salman saya kira saling melengkapi.

Begitulah pengalaman saya pertama kali shalat di Masjid PDAM yang karena kebetulan lewat saja.


Written by rinaldimunir

February 22nd, 2013 at 2:03 pm

Posted in Agama,Seputar ITB

Tidak Ada Lagi Mobil yang Parkir di Sini

without comments

Masih ingat dengan tulisan saya yang lalu berjudul Peraturan Untuk Dilanggar (Potret Calon pemimpin Bangsa. Tadi pagi saya lihat tidak ada lagi mobil-mobil mahasiswa ITB yang melanggar larangan parlir di Jalan Ganesha. Sudah bersih. Pihak ITB akhirnya bertindak juga meskipun sadar bahwa wilayah di luar pagar kampus bukan wilayah hukum ITB lagi. Di sepanjang Jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir sekarang dipasang tali rafia dan Pak Satpam ditugaskan untuk melarang mahasiswa parkir di sana.

Sudah tidak ada lagi mobil yang parkir di sepanjang ruas jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir.

Sudah tidak ada lagi mobil yang parkir di sepanjang ruas jalan Ganesha yang ada rambu larangan parkir.

Bandingkan dengan foto beberapa minggu sebelumnya seperti di bawah ini:

Kondisi Jalan Ganesha dengan parkiran mobil-mobil mahasiswa di areal rambu larangan parkir.

Kondisi Jalan Ganesha dengan parkiran mobil-mobil mahasiswa di areal rambu larangan parkir.

Mudah-mudahan saja kondisi hari ini bertahan sampai seterusnya. Mahasiswa seharusnya sadar bahwa mereka melakukan pelanggaran aturan meskipun termasuk pelanggaran “kecil”. Pelanggaran besar bermula dari pelanggaran kecil.


Written by rinaldimunir

February 21st, 2013 at 12:23 pm

Posted in Seputar ITB

Meskipun Empat Orang Tetap Jalan Terus

without comments

Semester ini ada yang unik dalam kuliah yang saya ampu. Saya mengajar mata kuliah pilihan (electives) yang berjudul Topik Khusus Informatika. Ini mata kuliah sejenis kapita selekta yang isinya dapat berubah-ubah setiap tahun. Dua tahun ini saya yang mengisi kuliah tersebut, topiknya adalah Metode Numerik dan Fuzzy Logic. Pada awal semester jumlah peserta kuliah sekitar 12 orang, tetapi setelah masa PRS (Perbaikan Rencana Studi) dilaksanakan minggu lalu, jumlah pesertanya menyusut menjadi empat orang saja. Mungkin setelah melihat daftar tugas kuliahnya (tugas programming dengan berbagai bahasa dan kakas) yang seabreg-abreg (karena kuliah ini full tugas sampai akhir semester), banyak mahasiswa yang mengundurkan diri.

Tahun lalu jumlah pesertanya masih lumayan bertahan hingga akhir semester, yaitu 12 orang, tetapi tahun ini hanya empat orang. Menurut aturan di ITB, jika jumlah peserta kuliah pilihan kurang dari lima orang, maka kuliah pilihan tersebut ditutup. Seharusnya saya menutup kuliah tersebut, dan seharusnya saya senang kuliah tersebut ditutup saja, sehingga beban mengajar saya berkurang (asyiiik kan?).

Tetapi, setelah ngobrol-ngobrol dengan empat orang mahasiswa yang tersisa itu, mereka rupanya ingin tetap meneruskan kuliah pilihan tersebut. Saya tidak tega juga menutup kuliah ini, jika ditutup tentu mereka kesulitan mencari kuliah pilihan pengganti, karena semester genap sudah berjalan selama empat minggu. Jika saya menuruti egoisme saya, tentu saya tutup saja, tetapi hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk tetap meneruskan kuliah pilihan ini sampai akhir semester. Setelah berkonsultasi dengan pegawai akademik, keputusan menutup atau meneruskan kuliah pilihan tersebut ada pada tangan saya, meskipun secara aturan boleh ditutup. Karena tanggung jawab secara moral dan tanggung jawab secara keilmuan akhirnya membuat saya memutuskan untuk melanjutkan perkuliahan sampai akhir semester.

Memberi kuliah kepada hanya empat orang mahasiswa rupanya asyik juga, serasa seperti memberi les privat saja. Ruang kuliah tenang. Tidak ada mahasiswa yang ribut atau mengobrol, konsentrasi menajdi fokus. Secara materi saya tidak perlu bersusah payah karena materi kuliah sudah saya buat sejak tahun lalu, tinggal sedikit perbaikan di sana-sini.

Saya terbayang teman-teman dosen di Program Studi Astronomi. Jumlah mahasiswanya termasuk paling sedikit di antara Prodi lain di ITB. Zaman saya kuliah misalnya, teman seangkatan saya di Astronomi hanya 11 orang. Dengan jumlah mahasiswa hanya sedikit, bagaimana suasana perkuliahan pada mata kuliah pilihannya ya? Tentu pesertanya ada yang hanya 2 orang, tiga orang, atau lebih. Kalau kuliah pilihan ditutup sesuai aturan ITB (karena tidak memenuhi kuota lima orang), tentu tidak ada orang yang akan mendalami bidang spesifik di Astronomi (melalui kuliah pilihan). Jadi, memang kembali kepada kesediaan dosennya saja. Mau lanjut silakan, mau ditutup silakan. Begitu pula dalam kasus saya sekarang.


Written by rinaldimunir

February 19th, 2013 at 5:44 pm

Posted in Seputar ITB

Tata Krama dan Etika itu Perlu Dipelajari

without comments

Keluhan yang sering dilontarkan orang-orang: anak-anak zaman sekarang kurang sekali dalam menjaga tata krama atau sopan santun. Cuek, kurang peduli aturan, kurang menghargai etika, dan kurang tahu berterima kasih.

Keluhan tersebut sudah biasa kita dengar, saya atau anda mungkin pernah merasakannya. Di negara Timur yang mengedepankan sopan santun, memang nilai-nilai etika adalah hal yang utama, sebelum menginjak ke substansi permasalahan. Sebab, seringkali tujuan atau maksud yang ingin diutarakan tidak tercapai karena ada etika yang dilabrak.

Dulu zaman saya sekolah dasar, pendidikan budi pekerti adalah bagian dari pelajaran wajib. Bagaimana menghormati guru, menghormati orang yang lebih tua, menghormati tamu, semua diajarkan dengan dengan detil. Murid-murud menyimak dengan seksama pelajaran dari guru. Kalau tidak mau mengikuti, hukuman dipukul dengan rotan pun siap menunggu.

Sekarang, dalam kurikulum pendidikan nasional, pelajaran budi pekerti tidak ada lagi, karena dianggap dapat dititipkan dalam pelajaran seperti Agama atau PKN. Tugas guru agama atau guru PKN lah yang mengajarkan murid budi pekerti, nilai-nilai moral, dan etika.

Tetapi, dengan pelajaran agama yang hanya 2 jam di sekolah umum (kecuali di sekolah bernuansa agama), menurut saya itu tidak cukup. Yang penting adalah prakteknya, memberi contoh langsung, tidak hanya sekadar pelajaran teori. Bagaimana anak didik bersikap sopan santun bila tidak dicontohkan sebagai sebuah aksi?

Namun, kita tidak boleh hanya menyalahkan anak-anak generasi sekarang dengan menuduh mereka tidak punya tata krama atau sopan santun, lalu membandingkannya dengan generasi zaman kita. Itu sungguh tidak fair. Anak-anak zaman sekarang tidak mengalami masa lalu kita sehingga mereka tidak mempunyai pembanding, sedangkan kita orang dewasa (baca: para orangtua) telah melewati dua zaman, yaitu masa lalu dan masa sekarang.

Kesalahan kita sebagai orang dewasa (atau orangtua) adalah tidak memberi contoh teladan kepada anak-anak generasi sekarang. Kita tidak memperagakan kepada anak bagaimana mengucapkan terima kasih, namun kita menuntut anak berterima kasih setiap ada pemberian. Orangtua meminta anak duduk sopan ketika makan, namun kita sendiri sering tidak sopan di hadapan mereka (misalnya makan atau minum sambil berdiri). Kita menuntut anak berpakaian sopan, tetapi kita sendiri sering hanya memakai singlet atau bertelanjang dada di rumah. Masih banyak contoh lainnya, semua itu karena kita alpa kepada anak sendiri tetapi lebih memperhatikan sikap di hadapan orang lain.

Jadi, yang utama dari semua pelajaran bukanlah aspek teoritis, tetapi prakteknya dalam kehidupan langsung. Teori hanya disimpan di dalam kepala, sedangkan praktek lebih riil dan aktual.


Written by rinaldimunir

February 18th, 2013 at 10:12 am

Posted in Budi Pekerti

Memulai Pertama Kali Itu Sulit?

without comments

Setiap orang tentu pernah punya perasaan malas memulai sesuatu. Bagi mahasiswa, memulai untuk menulis TA itu kadangkala terasa berat: darimana memulainya? Apa yang harus ditulis? Dan sebagainya. Akibatnya pekerjaan menulis laporan TA terpaksa ditunda-tunda. Karena sering ditunda-tunda akhirnya berlarut berlama-lama.

Saya juga begitu, ketika memulai menulis buku atau bahan kuliah, seringkali juga menunda, ah nantilah, ah santai dululah, dan sebagainya. Sebenarnya menunda-nunda pekerjaan itu tidak baik, sebab hal itu pertanda malas. Malas adalah penyakit mental. Malas timbul karena kita cenderung memandang negatif ke arah masa depan, kita merasa pekerjaan yang dihadapi itu berat dan membebani pikiran, akibatnya kita tidak mempunyai semangat untuk memulainya.

Malas harus dilawan. Cara melawannya sederhana saja: kalau bukan saya yang mengerjakannya, lalu siapa lagi? Masa depan hanya saya sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Kalau saya tidak memulainya, kapan akan selesainya? Jadi, saya harus mengerjakannya sekarang juga!

Biasanya kalau sebuah pekerjaan yang menjadi tugas kita sudah berhasil dimulai, maka semua inspirasi mengalir deras begitu saja, bahkan tidak bisa dihentikan karena keasyikan. Aneh ya? Padahal tadi memulainya sungguh sulit luar biasa.


Written by rinaldimunir

February 16th, 2013 at 3:42 pm

Posted in Renunganku

Sudah Menginjakkan Kaki ke Beberapa Pulau?

without comments

Saat ini saya sedang berada di Pulau Lombok, NTB, dalam rangka menyajikan makalah pada sebuah konferensi nasional. Asyik juga saya sudah mengunjungi pulau yang populer sebagai alternatif wisata selain Bali. Nah, di sela-sela seminar saya sempatkan mengisi blog ini.

Jika dipikir-pikir saya sudah mengunjungi banyak pulau di Indonesia. Negara kita adalah negara yang luas, pulau-pulaunya bagaikan ratna mutu manikam permata yang berserakan di atas lautan. Sewaktu saya sekolah dasar saya mengetahui jumlah pulau di Indonesia asalah 13.677 buah pulau. Hasil perhitungan terbaru menunjukkan jumlah pulau seluruhnya 18.306 (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_di_Indonesia) dan hanya sepertiga dari pulau-pulau itu yang mempunyai nama.

Peta Indonesia (Sumber gambar: http://ksbdsi.wordpress.com/peta/peta-indonesia/)

Peta Indonesia (Sumber gambar: http://ksbdsi.wordpress.com/peta/peta-indonesia/)

Impian saya sejak dulu adalah mengunjungi seluruh pulau di tanah air, melihat keindahan alam, budaya, dan hal-hal unik di setiap pulau. Jika dihitung-hitung ternyata saya baru menjejakkan kaki pada sebelas pulau saja. Berikut daftarnya:

1. Pulau Sumatera
Ya, di sinilah saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah melihat hampir semua kota di propinsi saya sendiri (Sumatera Barat). Namun anehnya, saya sama sekali belum pernah mengunjungi pulau-pulau kecil yang terdapat di propinsi tersebut. Di Pulau Sumatera saya sudah mengunjungi kota-kota: Medan, Banda Aceh, Pekanbaru, dan Bandar Lampung (yang terakhir ini hanya sekedar dilewati saja ketika pulang kampung dengan bus dari Jawa). Saya belum pernah ke Bengkulu, Jambi, dan Palembang. Mudah-mudahan nanti saya ada urusan ke sana, entah seminar atau urusan pekerjaan.

2. Pulau Jawa
Usai tamat SMA, saya kuliah di Bandung, Jawa Barat. Pulau Jawa adalah pulau kedua yang saya jejaki. Selama di Pulau Jawa saya sudah mengunjungi kota-kota: Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Malang, Magelang, Muntilan, Jember, dan kota-kota lain di Propinsi Jawa Barat. Selain kota-kota itu, saya juga sudah mengunjungi daerah-daerah kecamatan atau kabupaten.

3. Pulau Bali
Pulau ketiga yang saya kunjungi adalah Pulau Bali pada acara jalan-jalan yang diadakan oleh Jurusan saya dulu. Pulau Bali adalah pulau tersering kedua yang didatangi penduduk Indonesia setelah Pulau Jawa untuk berwisata. Maklumlah Bali adalah pulau wisata yang mejadi magnet turis domestik dan asing datang ke sana. Selain Denpasar dan Kuta, saya sudah menyinggahi kota Singaraja yang terletak di Bali utara.

4. Pulau Madura
Ketika saya masih bujangan dan baru saja mejadi dosen di ITB, saya jalan-jalan ke Surabaya. Ke Surabaya tanpa mengunjungi Pulau Madura rasanya kurang lengkap, karena Pulau Madura hanya sepelemparan batu dari Surabaya. Dulu saya naik feri dari Pelabuhan Perak Surabaya ke Pulau Madura. Naik feri hanya perlu waktu 15 hingga 20 menit saja, maklum selat yang memisahkan Jawa dan Madura tidak lebar. Sekarang Pulau Madura bisa dicapai melalui jembatan Suramadu. Di Madura saya hanya keliling-keliling saja di sekitar kota Bangkalan dan tidak menginap, yang penting saya sudah menjejakkan kaki ke pulau garam itu.

5. Pulau Sulawesi
Saya pertama kali ke Pulau Sulawesi ketika ada tugas seleksi mahasiswa D3 Pos-Informatika ITB di Manado. Sekarang hampir setiap tahun saya ke Pulau Sulawesi karena saya membimbing TA jarak jauh di sebuah universitas swasta di Manado. Selain Manado, saya sudah mengunjungi kota Makassar, kota terbesar di Pulau Sulawesi dan kota terbesar di kawasan Indonesia Bagian Timur. Yang belum kesampaian adalah mengunjungi propinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat.

6. Pulau Bunaken
Ke kota Manado tanpa mengunjungi Pulau Bunaken rasanya kurang lengkap. Pulau Bunaken terletak di seberang kota Manado. Dibutuhkan waktu setengah jam naik speed boat ke sana. Di Pulau Bunaken terdapat taman laut yang terkenal di seluruh dunia. Saya hanya jalan-jalan saja di pantai Bunaken dan tidak menginap di sana, memang ke Bunaken tidak untuk menginap tetapi untuk menyelam melihat taman laut.

7. Pulau Kalimantan
Saya pertama kali ke Pulau Kalimantan ketika ada tugas ke kota Bontang. Dari Jakarta tidak ada penerbangan langsung ke Bontang, tetapi ke Balikpapan dulu. Dari Balikpapan ada pesawat carteran Pelita Air yang melayani kebutuhan transportasi bagi karyawan perusahaan industri di sana (Kaltim Prima Coal, Pupuk Kaltim, dan sebagainya), namun juga dapat digunakan oleh penduduk dengan prioritas terakhir. Kalmantan adalah pulau terbesar di Indonesia, penduduknya jarang, infrastruktur jalan raya antar kota di sana belum sebaik di pulau Sumatera dan Jawa. Karena itu, transportasi udara memegang peranan penting di Kalimantan. Bahkan, kota-kota dalam satu propinsi saja ditempuh dengan pesawat, seperti Balikpapan-Bontang atau Balikpapan-Tarakan. Kota yang baru saya kunjungi ya baru Bontang saja, sedangkan Balikpapan hanya sebagai kota transit saja. Saya belum pernah ke Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, atau Palangkaraya.

8. Pulau Penyu
Pulau Penyu terletak di Tanjung Benoa, Bali. Saya ke pulau ini ketika membawa keluarga jalan-jalan ke Bali. Dinamakan Pulau Penyu karena di sana terdapat penangkaran hewan penyu yang sudah langka. Pulau ini tidak berpenghuni dan untuk ke sana ditempuh dengan speed boat dalam waktu dua puluh menit dari Benoa.

9. Pulau Belitung
Pulau Belitung saya kunjungi dalam rangka jalan-jalan dosen fakultas pada bulan Januari yang lalu. Pulau Belitung menjadi terkenal sejak film Laskar Pelangi menjadi box-office empat tahun lalu. Di Belitung saya menginap di kota Tanjungpandan.

10. Palau Lengkuas
Belum ke Belitung kalau tidak menyempatkan berkunjung ke Pulau Lengkuas yang terletak di barat daya Pulau Belitung. Di Pulau Lengkuas terdapat menara mercu suar yang dibangun pada tahun 1828. Saya hanya berjalan-jalan saja di Pulau Lengkuas dan tidak menginap.

11. Pulau Lombok
Ini adalah pulau yang sedang saya kunjungi sekarang. Pulau Lombok adalah alternatif wisatawan yang sudah bosan dengan Bali yang sudah crowded. Saya belum menjelajahi Pulau Lombok, nanti akan saya tuliskan pengalaman di pulau ini. Di Pulau Lombok saya menginap di kota Mataram.

Nah, baru segitu pulau yang saya singgahi, masih sangat sedikit dibandingkan 18.306 pulau di tanah air. Pada dasarnya saya menyukai travelling, jadi saya masih memendam impian mengunjungi pulau-pulau indah lainnya seperti Flores, Sumbawa, Komodo, Timor, Halmahera, Banda, Ternate, dan sebagainya. Semoga.


Written by rinaldimunir

February 15th, 2013 at 8:55 am

Posted in Uncategorized